Anda di halaman 1dari 20

RISK FACTOR OF MALARIA INCIDENCE

WITH SPACIAL APPROACHING


(FAKTOR RISIKO INSIDENSI MALARIA
DENGAN PENDEKATAN SPASIAL)
OLEH: DWI ASIH RAMADHANI
PENULIS :
M A S R I Z A L D T. M A N G G U A N G

P U B L I C H E A LT H FA C U LT Y , U N I V E R S I T Y O F
ANDALAS, JANUARI 2015
SUMBER :
HTTP://JOURNAL.UNNES.AC.ID/NJU/INDEX.PHP/
KEMAS

PENDAHULUAN
Malaria adalah penyakit menular, yang sangat dipengaruhi oleh
interaksi antara agen, host, dan lingkungan.
faktor hospes dipengaruhi oleh : usia, jenis kelamin, faktor
keturunan, keadaan fisiologi, kekebalan, penyakit sebelumnya,
dan kebersihan pribadi.
Faktor agen terdiri dari elemen kehidupan seperti : virus,
bakteri, jamur, protozoa, jamur, dan cacing juga elemen mati
seperti

obat-obatan,

pestisida, bahan kimia dan sinar radioaktif.


Faktor lingkungan merupakan faktor ekstrinsik yang mendukung
terjadinya penyakit, bisa berupa lingkungan fisik (geografis
dan musiman), suhu, curah hujan, kelembaban, lingkungan,
biologi (flora dan fauna) dan lingkungan sosial budaya (Babba
2008. Kritsiriwuthin K, 2011).

MASALAH PENELITIAN INI ADALAH


"APA SAJA FAKTOR
RISIKO YANG
MEMPENGARUHI KEJADIAN MALARIA
DAN MENYEBAR DI KOTA PADANG
PADA TAHUN 2012?"
Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif
analitik observasional dengan desain studi kasus kontrol, yang
mempelajari hubungan antara exposure comparing kelompok kasus
dengan kelompok kontrol berdasarkan eksposur.

TABEL 1. KORELASI PENGGUNAAN


KELAMBU, PENGGUNAAN ANTI
NYAMUK (REPELLENT), KEBIASAAN
KELUAR RUMAH MALAM HARI, RAWA,
TAMAN DENGAN INSIDEN MALARIA DI
KOTA PADANG PADA TAHUN 2012

Variable

Case
f

1.Penggunaan
kelambu
a. Tidak
menggunakan
(beresiko)
b. Menggunakan
(tiak beresiko)
2.Penggunaan anti
nyamuk (repellent)
a. Tidak
menggunakan
(beresiko)
b. Menggunakan
(tiak beresiko)
3. Kebiasaan keluar
malam hari
a. Sering
(beresiko)

Control
%

Malaria
Total

OR

CI
-95%

24

82.8

15

51.7

39

0.025

4.48

1.339-14.991

17.2

14

48.3

19

20

69

10

34.5

30

0.018

4.222

1.409-12.657

31

19

65.5

28

15

51.7

20.7

21

0.029

4.107

1.292-13.057

b. Kadang-kadang
(tidak beresiko)
4. Rawa

14

48.3

23

79.3

37

a. Ada (beresiko)
b. Tidak ada (tidak
beresiko)

17

58.6

10

34,5

27

0.114

2.692

0.929-7.801

12

41.4

19

65,5

31

5. Taman
a. Ada (beresiko)
b. tidak ada (tidak
beresiko)
Constant

19

65.5

24,1

26

0.004

5.971

1.901-18.754

10

34.5

22

75,9

32

29

100

29

100

58

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat


bahwa responden tidak menggunakan obat
nyamuk saat malam hari tidur lebih tinggi
pada kelompok kasus ini sebanyak 69%
dibandingkan dengan kelompok kontrol
dengan 34,5%. Hasil uji statistik chi square
nilai p = 0,018 yang berarti bahwa ada
hubungan yang signifikan.

TABEL 2. FAKTOR-FAKTOR DOMINAN YANG MEMPENGARUHI MALARIA


INCIDENCE DI KOTA PADANG TAHUN 2012

P-VALUE

Variable

CI
OR

(SIG)

1. Menggunakan
kelambu
2. Menggunakan
anti nyamuk
(repellent)
3. Kebiasaan
keluar malam hari

95%

1.278

0.025

4.48

1.339-14.991

1.765

0.018

4.222

1.409-12.657

1.444

0.029

4.107

1.292-13.057

4. Adanya Rawa

1.187

0.114

2.692

0.929-7.801

5. Adanya Taman

2.165

0.004

5.971

1.901-18.754

Persentase dari rumah pada malam hari lebih


tinggi pada kelompok kasus adalah adalah
51,7%, lebih tinggi dibandingkan kelompok
kontrol (20,7%) menunjukkan kebiasaan atau
sejumlah kegiatan yang dilakukan pada malam
hari sehingga risiko datang ke dalam kontak
dengan nyamuk.
Berdasarkan tabel tersebut dapat dilihat bahwa
responden yang tinggal di rawa-rawa sekitar
lebih pada kelompok kasus dengan 58,6%
dibandingkan
dengan
kelompok
kontrol
(34,5%). Hasil uji statistik chi square nilai p =
0,114, p-value 0,05, yang berarti bahwa tidak
ada
hubungan
yang
signifikan
antara
keberadaan rawa dengan kejadian malaria.

TABEL 3. HASIL ANALISIS REGRESI LOGISTIK

CI

Variable

P-VALUE

Exp. B

95%

Menggunakan
kelambu

1.847

0.025

6.343

1.329-30.281

Menggunakan
anti nyamuk
(repellent)

1.913

0.018

6.777

1.636-28.063

Keberadaan
Taman

2.153

0.004

8.614

2.102-35.304

Constant

-3.292

Berdasarkan tabel, dapat dilihat bahwa


variabel
dominan
yang
mempengaruhi
kejadian
malaria
adalah
penggunaan
kelambu, penggunaan anti nyamuk, dan
kebun.
Faktor risiko yang paling dominan yang dapat
menyebabkan
kejadian
malaria
adalah
adanya kebun, dengan p = 0,004, CI (95%)
= 2,102-35,304. Jumlah kasus malaria di
Kota Padang dari Januari sampai Juni 2012
sebanyak 89 kasus

58,6% kasus malaria sekitar rawarawa, dan 65,5% dicampur di sekitar


taman. Kehadiran rawa dan kebun di
lingkungan Anda adalah salah satu
kasus dari faktor lingkungan yang
mendukung pertumbuhan nyamuk
Anopheles yang juga mempengaruhi
penyebaran
malaria
(Nurbayanti,
2013; Pubianti, 2009).

KESIMPULAN
Ada hubungan yang signifikan antara penggunaan kelambu,
penggunaan anti nyamuk, keluar pada malam hari,
kehadiran kebun dengan malaria kejadian Kota Padang.
Tidak ada hubungan yang signifikan antara keberadaan rawarawa dengan kejadian malaria. Faktor risiko yang dominan
terkait dengan kejadian malaria seperti: penggunaan
kelambu, kebiasaan penggunaan obat nyamuk dan adanya
kebun di sekitar tempat tinggal.

RESPON IMUN TERHADAP INFEKSI PARASIT MALARIA

Rais Yunarko
Loka

Litbang

P2B2

Waikabubak,Badan

Litbang

Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI Jl. Basuki Rahmat


Km 5 Puu Weri, Waikabubak, Nusa Tenggara Timur,
Indonesia

PENDAHULUAN
Malaria

disebabkan

oleh

parasit

Plasmodium yang hidup dan berkembang


biak

dalam

sel

darah

manusia

yang

ditularkan oleh nyamuk malaria (Anopheles


spp.) betina. Malaria telah menjadi salah
satu penyakit infeksi tertua yang memiliki
penyebaran cukup luas di daerah beriklim
tropis

BAHAN DAN METODE


Bahan

yang

diperoleh

melalui

browsing

internet diupayakan untuk memperoleh naskah


lengkapnya. Umumnya bahan yang diperoleh
dari hasil browsing internet berbentuk abstrak
penelitian. Bahan atau artikel yang diperoleh dari
hasil studi kepustakaan dan browsing internet
dilakukan kajian melalui metode review artikel,
yang

bertujuan

untuk

mengkaji

tentang

kelebalan tubuh yang diakibatkan infeksi parasit


malaria.

HASIL
Antibodi

merupakan

pertahanan

tubuh

hospes

pada

stimulasi antigenik menghasilkan pembentukan kompleks imun


terhadap infeksi malaria. Selain antibodi mekanisme pertahanan
memerlukan sel T dan magrofag yang efektif menghancurkan
Plasmodium. Sporozoit yang masuk darah segera dihadapi oleh
respon imun nonspesifik yang terutama dilakukan oleh makrofag
dan monosit, yang menghasilkan sitokin-sitokin, secara langsung
menghambat

pertumbuhan

parasit

(sitostatik),

membunuh

parasit (sitotoksik). Kekebalan pada malaria merupakan suatu


keadaan kebal terhadap infeksi dan berhubungan dengan proses
proses penghancuran parasit atau terbatasnya pertumbuhan
dan

perkembangbiakan.

Pada

malaria

terdapat

kekebalan

Mekanisme respon imun yang didapat berlangsung sangat


kompleks dan belum sepenuhnya dimengerti. Namun secara
kronologis, imunitas yang didapat ini berlangsung dalam dua tahap:
1. Tahap pertama
Menghasilkan kemampuan untuk membatasi kelainan klinis,
walaupun jumlah parasit di dalam darah masih tinggi.
2. Tahap kedua
Menghasilkan kemampuan untuk menekan jumlah parasit di dalam
darah. Tahap kedua ini bersifat spesifik untuk spesies dan stadium
parasit malaria tertentu, dan terutama bekerja terhadap stadium
aseksual dalam sel darah merah. Namun ternyata kemudian stadium
lain juga bersifat imunogenik sehingga infeksi yang alami terjadi juga
antibodi terhadap sporozoit dan bentuk-bentuk lain dalam stadium
seksual.

Pembahasan
Kekebalan Bawaan
Kekebalan

bawaan pada malaria merupakan suatu sifat

genetik yang sudah ada pada hospes, tidak berhubungan dengan


infeksi sebelumnya, misalnya :
1) Manusia tidak dapat diinfeksi oleh parasit malaria pada burung
atau binatang pengerat;2
2) Orang Negro di Afrika Barat relatif kebal terhadap P. vivax oleh
karena mempunyai golongan darah Duffy (-) ditandai sebagai
Fy (a-b-), mungkin Duffy (+) merupakan reseptor untuk P.
Vivax.
3) Orang yang mengandung Hb S

heterozigot lebih kebal

terhadap infeksi P. falciparum oleh karena pada tekanan O2


yang lebih rendah dalam kapiler alat-alat dalam Hb S dapat

Pembahasan

munitas didapat (Acquired immunity)


Imunitas terhadap stadium siklus hidup parasit (stage specific),
dibagi menjadi:
a. Imunitas pada stadium eksoeritrositer.
Eksoeritrositer ekstrahepatal (stadium sporozoit), respon imun
pada stadium ini berupa antibodi yang menghambat masuknya
sporozoit ke hepatosit dan antibodi yang membunuh sporozoit
melalui opsonisasi.
b. Imunitas pada stadium aseksual eritrosit
Berupa antibodi yang mengaglutinasi merozoit, antibodi yang
menghambat cytoadherance , antibodiyang menghambat
pelepasan atau menetralkan toksin-toksin parasit.
c. Imunitas pada stadium seksual
Antibodi yang membunuh gametosit, antibodi yang menghambat
fertilisasi,
antibodi yang menghambat transformasi zigot
menjadi ookinet, antigen/antibodi pada stadium seksual

KESIMPULAN

Respon imun terhadap malaria dapat diperoleh


dengan dua cara yaitu kekebalan bawaan berupa sifat
genetik pada hospes dan kekebalan didapat melalui
pemberian suntikan atau vaksin.

SARAN

Untuk menentukan pengendalian dan pengobatan


yang tepat perlu dilakukan penelitian respon imun
terhadap malaria di daerah endemis malaria.