Anda di halaman 1dari 7

Pertanyaan

1. Tanda tangan kontrak dilakukan antara :

a. PPK dan Penyedia Barang dan Jasa


b. PPK dan Penyedia Barang / Jasa + PA/KPA
2. Bagaimana cara menentukan billing rate konsultan
3. Mencari contoh/ studi kasus buat alat pengendalian pekerjaan berupa barchart dan
4.
5.
6.

7.

Network Planning. Tentukan lintasan kritisnya dan plot dalam barchart


Temukan permasalahan tentang pengadaan barang / jasa 2 saja
Apakah penawar terendah selalu menang?
Apakah yang saudara ketahui tentang
a. Jenis kontrak?
b. Kapan menggunakan kontrak LS/Unit price/Gabungan?
c. Apakah resiko menggunakan kontrak tersebut?
Apakah mungkin terjadi perubahan kontrak? kalau ada perubahan < 10% dana

darimana?
Penyelesaian
1. Didalam kontrak konstruksi yang dilaksanakan oleh Kementerian PUPR maka acuan
dipakai adalah sesuai dengan dokumen pengadaan dimana dokumen tersebut sesuai
dengan diambil dari Perka LKPP No. 14,15, dan 18 Tahun 2012 tentang standar
dokumen pengadaan.
Dalam hal ini penandatanganan kontrak dilakukan oleh Penyedia Barang dan Jasa
dengan PPK dan dalam pasal 38.3 yaitu :
38.3 PPK dan Penyedia tidak diperkenankan mengubah substansi Dokumen
Pengadaan sampai dengan penandatanganan Kontrak, kecuali mempersingkat
waktu pelaksanaan pekerjaan dikarenakan jadwal pelaksanaan pekerjaan yang
ditetapkan sebelumnya akan melewati batas tahun anggaran.
Dalam peraturan Perka tersebut pada BAB IX tentang Bentuk Kontrak yang menjadi
acuan dalam penandatangani adalah :

Dalam Perpres No. 70 Tahun 2012 tentang PERUBAHAN KEDUA ATAS


PERATURAN PRESIDEN NOMOR 54 TAHUN 2010 tentang Pengadaan Barang dan
Jasa Pemerintah dimana yang disebut dalam kontrak pasal 1 yaitu :

Jadi dari uraian diatas maka dapat disimpulkan yang berhak melakukan penandatanganan
kontrak adalah PPK dan Penyedia Barang dan Jasa saja
.
2.

Menentukan billing rate yang dipakai adalah sesuai dengan standar billing rate dipakai
pada provinsi setempat pada skala provinsi sedangkan pada Kementerian PUPR
berdasarkan SE Menteri PU No.03 tahun 2013 tentang Pedoman Besaran Biaya
Langsung Personil / Renemurasi Dalam Perhitungan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) Jasa
Konsultasi di Lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum.
3.
4.
5.

Untuk studi kasus maka pada:


Studi kasus permasalahan
Penawar paling rendah belum tentu menang perlu adanya beberapa tahapan evaluasi
dan pembuktian, menurut Perka LKPP Perka LKPP No. 14,15, dan 18 Tahun 2012
tahapan-tahapan yang harus dilalui antara lain
a. Evaluasi Administrasi
b. Evaluasi Teknis
c. Evaluasi Harga terlebih dahulu harus melakukan koreksi aritmatik sedangkan
evaluasi kewajaran harga dilakukan apabila harga penawar > 80 % terhadap HPS
(Harga Perkiraan Sendiri)/ Pagu Lelang.

d. Evaluasi Kualifikasi dengan menghadiri klarifikasi dan pembuktian kualifikasi.


6. Definisi Kontrak menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perjanjian (secara
tertulis) antara dua pihak dalam perdagangan, sewa-menyewa, dan sebagainya; 2
persetujuan yang bersanksi hukum antara dua pihak atau lebih untuk melakukan atau
tidak melakukan kegiatan.
a. Menurut (Yasin, 2006) jenis kontrak dibagi menjadi beberapa aspek yaitu :
i.
Didasarkan pada aspek biaya
- Fixed Lump Sum price
- Unit Price
ii.
Didasarkan pada Perhitungan Jasa
- Biaya Tanpa Jasa
- Biaya Ditambah Jasa
- Biaya Ditambah Jasa Pasti
iii.
Didasarkan pada cara pembayaran
- Monthly payment
- Stage payment
- Contractors full prefinanced
iv. Didasarkan pembagian tugas
- Kontrak biasa / konvensional
- Kontrak spesialis
- Rancang bangun
- BOT/BLT
- Swakelola
b. Menggunakan kontrak LS/Unit Price/Gabungan, ada beberapa rekomendasi pada
pemilihan proyek paling sering terjadi :
Kondisi Proyek

Jenis Proyek

1. Penentuan Desain berdasarkan

kondisi proyek :
- Desain adalah perkiraan
-

Desain
sudah
dipastikan

dapat

Unit price
Lump Sum

2. Kelengkapan Gambar
-

Lengkap

Lump sum

Kurang Lengkap

Unit Price

3. Akurasi gambar
-

Umumnya akurat

Lump Sum

Banyaknya

Unit Price

ketidaksesuaian
4. Waktu untuk melakukan tender
-

Terbatas

Unit Price

Cukup lama

Lump Sum

Menurut Perpres No. 70 Tahun 2012 pasal 51 ayat 3


Penggunaan kontrak gabungan yaitu Kontrak gabungan Lump Sum dan Harga
Satuan adalah Kontrak yang merupakan gabungan Lump Sum dan Harga Satuan
dalam 1 (satu) pekerjaan yang diperjanjikan
Contoh penggunaan :
Ayat (3) Untuk pekerjaan yang sebagian bisa mempergunakan Lumpsum kemudian
untuk bagian yang lain harus menggunakan Harga Satuan, misalnya pengadaan
bangunan yang menggunakan pondasi pancang (bangunan atas menggunakan
Lumpsum, pondasi mempergunakan Harga Satuan).
Pemilihan jenis kontrak adalah penentuan besaran risiko yang dialokasikan ke
masing-masing pihak. Jenis kontrak tertentu memberikan besaran risiko yang
tertentu pula pada masing-masing pihak dalam proyek. Pada jenis kontrak lump sum,
kontraktor akan menanggung lebih banyak risiko dibandingkan dengan kontrak unit
price.
Berikut peta resiko terhadap type of contract

Perlu
diperhatikan
karena
banyak yang tidak tahu bahwa pemilihan jenis kontrak yang baik pada dasarnya
adalah penentuan alokasi risiko berdasarkan kondisi proyek yang diberikan secara
tepat kepada masing-masing pihak (yang terikat dalam kontrak) dimana dianggap
paling mampu untuk mengatasi alokasi risiko tersebut.
c. Resiko dari menggunakan kontrak diatas :

Resiko rincian harga penawaran tidak wajar, dalam arti terdapat bagian yang
ditawar sangat rendah namun juga terdapat bagian yang ditawar sangat tinggi,
dalam kondisi total penawaran tidak melebihi HPS.

Resiko penyedia gagal menyediakan seluruh barang dalam jangka waktu yang
ditentukan, padahal sebagian barang yang sudah diterima dapat dimanfaatkan.

Untuk meminimalkan resiko tersebut di atas, maka langkah antisipasi di bawah ini
dapat digunakan oleh PPK dan Pokja ULP dalam pelaksanaan pengadaan.
KONTRAK LUMP SUM
Untuk mengantisipasi resiko tersebut di atas dalam Kontrak Lump sum, langkah yang
dapat ditempuh adalah:
a. Dalam

Dokumen

Penawaran

TIDAK

diwajibkan

melampirkan

DAFTAR

KUANTITAS DAN HARGA. Apabila Pokja ULP ingin mengetahui jenis barang
yang ditawarkan oleh peserta sebagai bahan evaluasi teknis, maka yang wajib
dilampirkan adalah DAFTAR KUANTITAS yang berisi jenis barang beserta
spesifikasinya dan jumlah masing-masing jenis barang.
b. Keseluruhan Output dibagi menjadi bagian-bagian pekerjaan dengan kriteria bahwa
untuk masing-masing bagian pekerjaan bisa berfungsi sendiri dan tidak tergantung
kinerjanya satu sama lain. Setelah dapat menentukan bagian-bagian pekerjaan, PPK
membagi bobot masing-masing bagian pekerjaan ini berdasarkan data HPS.
Prosentasi bagian pekerjaan ini harus dirahasiakan sampai dengan penandatanganan
Kontrak. Dalam masa pelaksanaan, prosentasi ini digunakan untuk menentukan
prestasi pekerjaan yang sudah dilaksankan Penyedia.
c. Dalam Syarat-syatat Khusus Kontrak, PPK harus mencantumkan Daftar Bagian
Pekerjaan dan klausula pengenaan denda berdasarkan bagian pekerjaan yang belum
dapat diselesaikan.
d. Pembayaran dilakukan dengan sistem bulanan berdasarkan prestasi pekerjaan yang
dicapai setiap bulan.
KONTRAK HARGA SATUAN
Pelaksanaan Kontrak Harga Satuan dalam pengadaan barang sebagai berikut:

a. Penetapan pemenang berdasarkan harga penawaran terkoreksi, oleh karena itu


terdapat resiko adanya barang tertentu ditawar sangat murah dan barang lain ditawar
sangat tinggi, bahkan mungkin melebihi rincian HPS untuk barang bersangkutan.
Untuk mencegah resiko tersebut, dapat digunakan pelelangan itemized dimana
penetapan pemenang dilakukan untuk masing-masing jenis barang.
b. Harga satuan timpang hanya digunakan sebagai pertimbangan apabila terjadi
perubahan kontrak karena adanya perubahan jumlah barang. Dalam hal terjadi harga
satuan timpang, maka saat perubahan kontrak digunakan harga sesuai HPS.
c. Dalam Syarat-syarat Khusus Kontrak, PPK mencantumkan klausula pengenaan denda
berdasarkan bagian pekerjaan yang belum dapat diselesaikan. Dalam kontrak harga
satuan, masing-masing jenis barang adalah bagian pekerjaan.
7. Perubahan Kontrak
a. Perubahan kontrak berdasarkan SE Dirjen Bina Marga No. 3/SE/Db/2012 tentang
Tata cara Perubahan Kontrak Konstruksibisa terjadi yang disebabkan oleh :
- Perbedaan signifikan kondisi lapangan dengan gambar/spesifikasi dalam

b.

dokumen kontrak atau Contract Change Order (CCO)


- Pekerjaan tambah adalah pertambahan nilai kontrak
- Perpanjangan waktu pelaksanaan atau tambah waktu
Menurut Perpres No. 70 Tahun 2012, kalau ada perubahan < 10% maka dana
yang diambil dari dana sisa lelang apabila tersedia anggaran.

4. Contoh permasalahan tentang pengadaan barang / jasa :


Kasus I
Kasus Rehabilitasi Jalan secara Swakelola Dinas Bina Marga Kota X melakukan
kegiatan swakelola pembangunan jalan dengan total proyek sebesar Rp.2.300.000.000,-.
Pekerjaan dilakukan secara swakelola berdasarkan permohonan Kepala Dinas Bina
Marga kepada Bupati
Permasalahan Kasus I :
Pekerjaan tersebut seharusnya tidak dilakukan secara swakelola karena tidak sesuai
dengan alasan dibolehkannya swakelola menurut Kepres 80/2003. Di samping itu,
pelaksanaan pekerjaan dengan swakelola yang seharusnya memberikan harga yang lebih
murah (karena tidak perlu dibebankannya laba perusahaan), pada kenyataannya beberapa

item pekerjaan atau harga beli bahan lebih tinggi dari standar. Bahkan untuk beberapa
bahan, harga yang ditetapkan jauh lebih tinggi dari harga barang yang diajukan oleh
kontraktor yang melaksanakan pekerjaan sejenis pada periode yang sama. Seluruh bahan
bangunan (aspal, batu pecah, dan pasir) dibeli dari PD Damar Mulia dan solar yang dibeli
di Depot Minyak Pembantu yang ternyata harganya juga lebih tinggi dari harga standar.
Pekerjaan lapis rekat pengikat seluas 29.000m2 menurut analisa Kepala Dinas PU
dibutuhkan aspal sebanyak 144 drum, ternyata bukti pembelian aspal sebanyak 290 drum
senilai Rp139,20 juta (Rp480.000,00 per drum) sehingga kelebihan sebanyak 146 drum
senilai Rp70,08 juta
Kasus II
Perbaikan alat berat di Dinas Bina Marga kota Y sebesar Rp 1.325.000.000,dilaksanakan dengan penunjukkan langsung kepada CV Maju Sentosa
Permasalahan Kasus II :
Perbaikan alat berat di Dinas Bina Marga kota Y sebesar Rp 1.325.000.000,dilaksanakan dengan penunjukkan langsung kepada CV Maju Sentosa, seharusnya
dengan pelelangan terbatas. Berdasarkan konfirmasi ternyata diketahui bahwa perbaikan
tidak dilaksanakan oleh CV Maju Sentosa melainkan oleh Bengkel Bahrun dengan harga
seluruhnya sebesar Rp. 750.000.000,-. Apabila harga tersebut ditambahkan handling cost
(PPN, keuntungan, dan lain-lain) sebesar 25% maka harga jasa perbaikan tersebut hanya
sebesar Rp.1.081.250.000,- juta sehingga terjadi kemahalan sebesar Rp.243.750.000,Pembahasan hal yang berkaitan dengan kasus I dan kasus II :
Ada tiga masalah besar seputar pengaturan metode penunjukan langsung itu, yaitu :
Pertama, dalam Keppres No. 80/2003 itu tidak jelas apakah pejabat yang
memiliki kewenangan tertinggi di suatu instansi pemerintah berwenang untuk
menentukan apakah suatu pengadaan barang/jasa dapat dilakukan dengan metode

penunjukan langsung.
Kedua, tidak jelas kriteria keadaan tertentu yang diatur dalam Keppres No.
80/2003. Misalnya, seberapa darurat suatu keadaan sehingga dapat masuk dalam

kriteria keadaan tertentu.


Ketiga, penunjukan langsung rentan terhadap isu mark-up harga karena tidak ada

pembanding langsung terhadap penyedia barang/jasa yang ditunjuk.


Kasus III
Dalam sebuah lelang pekerjaan jalan di Kabupaten Z, CV. X dinyatakan menang lelang.
Kemudian CV.Y kurang puas dan melakukan sanggah dengan alasan, kenapa kontraktor
dengan kualifikasi K1 bisa menang lelang padahal nilai proyek itu sebesar
Rp.2.400.000.000,Permasalahan Kasus III :