Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

(KONSEP MEDIS DAN PROSES KEPERAWATAN)


HIPERTENSI PADA LANSIA

OLEH :
KELOMPOK IV
DIRMAWATI. B

153010026

RISMUNANDAR TRISAPUTRA AR

153010028

SYAHRUL HIDAYAT

153010033

ASTUTI

1530100

S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS PATRIA ARTHA
GOWA
2015

LAPORAN PENDAHULUAN
HIPERTENSI PADA LANSIA

A. Konsep Medis
1. Definisi Hipertensi
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan
sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg.
Pada populasi lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160
mmHg dan tekanan diastolic 90 mmHg. (Smeltzer,2001).
Menurut WHO ( 1978 ), tekanan darah sama dengan atau diatas 160 / 95 mmHg
dinyatakan sebagai hipertensi.
2. Klasifikasi Hipertensi

a. klasifikasi hipertensi menurut WHO( World Health Organization ) dalam Roehandi


(2008)
1. Tekanan darah normal, yakni tekanan sistolik kurang atau sama dengan 140
mmhg dan tekanan diastoliknya kurang atau sama dengan 90 mmhg.
2. Tekanan darah borderline ( perbatasan ), yakni tekanan sistolik 140- 159 mmhg
dan tekaanan diastoliknya 90-94 mmhg.
3. Tekanan darah tinggi atau hipertensi, yakni sistolik lebih besar atau sama
dengan 160 mmhg dan tekanan diastoliknya lebih besar atau sama dengan 95
mmhg.

b. Hipertensi pada usia lanjut dibedakan atas (Darmojo, 1999):


1.

Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140 mmHg
dan / atau tekanan diastolik sama atau lebih besar dari 90 mmHg.

2.

Hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik lebih besar dari 160
mmHg dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmHg.

c. Klasifikasi hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2


golongan besar yaitu :
1.

Hipertensi essensial ( hipertensi primer ) yaitu hipertensi yang tidak


diketahui penyebabnya
2.
Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit lain
3. Etiologi
Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya
perubahan-perubahan pada :
1.
Elastisitas dinding aorta menurun
2.
Katub jantung menebal dan menjadi kaku
3.
Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah
berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah menurun
menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
4.
Kehilangan elastisitas pembuluh darah Hal ini terjadi karena kurangnya
efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi
5.
Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer

1.

2.
a.
b.
c.
d.

a.
b.
c.
d.
e.
f.

Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya,


data-data penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering
menyebabkan terjadinya hipertensi. Faktor tersebut adalah sebagai berikut :
Faktor keturunan
Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki
kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya
adalah penderita hipertensi
Ciri perseorangan
Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah:
Umur ( jika umur bertambah maka TD meningkat )
Jenis kelamin ( laki-laki lebih tinggi dari perempuan )
Ras ( ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih )
Kebiasaan hidup
Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi
adalah :
Konsumsi garam yang tinggi (melebihi dari 30 gr)
Kegemukan atau makan berlebihan
Stress
Merokok
Minum alcohol
Minum obat-obatan ( ephedrine, prednison, epineprin )

Sedangkan penyebab hipertensi sekunder adalah penyakit-penyakit


seperti Ginjal, Glomerulonefritis, Pielonefritis, Nekrosis tubular akut, Tumor,
Vascular, Aterosklerosis, Hiperplasia, Trombosis, Aneurisma, Emboli kolestrol,

Vaskulitis, Kelainan endokrin, DM, Hipertiroidisme, Hipotiroidisme, Saraf,


Stroke, Ensepalitis. Selain itu dapat juga diakibatkan karena Obatobatan
Kontrasepsi oral, Kortikosteroid.
4. Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah
terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini
bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan
keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen.
Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke
bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron
preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca
ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin
mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan
dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang
vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitiv terhadap norepinefrin,
meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh
darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang,
mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi
epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi
kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor
pembuluh darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal,
menyebabkan pelepasan rennin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I
yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang
pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini
menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan
peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung mencetuskan
keadaan hipertensi.
Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan
fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan
tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi
aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi
otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan
distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar
berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa
oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan penurunan curang jantung dan
peningkatan tahanan perifer (Smeltzer, 2001).
Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya hipertensi palsu
disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh cuff
sphygmomanometer (Darmojo, 1999).

Menurunnya tonus vaskuler merangsang saraf simpatis yang diteruskan


ke sel jugularis. Dari sel jugularis ini bisa meningkatkan tekanan darah. Dan
apabila diteruskan pada ginjal, maka akan mempengaruhi eksresi pada rennin
yang berkaitan dengan Angiotensinogen. Dengan adanya perubahan pada
angiotensinogen II berakibat pada terjadinya vasokontriksi pada pembuluh darah,
sehingga terjadi kenaikan tekanan darah.Selain itu juga dapat meningkatkan
hormone aldosteron yang menyebabkan retensi natrium. Hal tersebut akan
berakibat pada peningkatan tekanan darah. Dengan peningkatan tekanan darah
maka akan menimbulkan kerusakan pada organ-organ seperti jantung. ( Suyono,
Slamet. 1996 ).
5. Manifestasi klinis
Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi :
1.

Tidak ada gejala


Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan
peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang
memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa
jika tekanan arteri tidak terukur.

2.

Gejala yang lazim


Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi
meliputi:.
Peningkatan tekanan darah > 140/90 mmHg
Kelelahan , letih
Nafas pendek
Sakit kepala, pusing
Mual, muntah
Gemetar
Nadi cepat setelah aktivitas
Sulit bernafas saat aktivitas
Gangguan penglihatan
Sering marah
Mimisan
Kaku pada leher atau bahu.

6. Pemeriksaan penunjang
1.

Hemoglobin / hematokrit
Untuk mengkaji hubungan dari sel sel terhadap volume cairan
( viskositas ) dan dapat mengindikasikan factor factor resiko seperti
hiperkoagulabilitas, anemia.

2.

BUN
Memberikan informasi tentang perfusi ginjal Glukosa Hiperglikemi
(diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi) dapat diakibatkan oleh
peningkatan katekolamin (meningkatkan hipertensi)
3.
Kalium serum
Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama
( penyebab ) atau menjadi efek samping terapi diuretik.
4.
Kalsium serum
ingkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi
5.
Kolesterol dan trigliserid serum
Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk / adanya
pembentukan plak ateromatosa ( efek kardiovaskuler ).
6.
Pemeriksaan tiroid
Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi
7.
Kadar aldosteron urin/serum
Untuk mengkaji aldosteronisme primer ( penyebab )
8. Urinalisa
Darah, protein, glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau adanya
diabetes.
9.
Asam urat
Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi
10. Steroid urin
Kenaikan dapat mengindikasikan hiperadrenalisme
11. EKG
Dapat menunjukkan pembesaran jantung, pola regangan, gangguan konduksi,
peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung.
7. Penalaksanaan

1.

a.
1)
2)
3)
4)
5)
b.

Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan


mortalitas akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan
pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg.
Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi :
Terapi tanpa Obat
Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi
ringan dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat.
Terapi tanpa obat ini meliputi :
Diet
Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah :
Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr
Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh
Penurunan berat badan
Penurunan asupan etanol
Menghentikan merokok
Latihan Fisik

1)
2)
3)
4)

Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang
dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah olah raga yang mempunyai
empat prinsip yaitu:
Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari, jogging,
bersepeda, berenang dan lain-lain.
Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari kapasitas aerobik
atau 72-87 % dari denyut nadi maksimal yang disebut zona latihan.
Lamanya latihan berkisar antara 20 25 menit berada dalam zona
latihan
Frekuensi latihan sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5 x
perminggu

c.

Edukasi Psikologis
Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi :
1)
Tehnik Biofeedback
Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk
menunjukkan pada subyek tanda-tanda mengenai keadaan tubuh yang
secara sadar oleh subyek dianggap tidak normal.
Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi
gangguan somatik seperti nyeri kepala dan migrain, juga untuk gangguan
psikologis seperti kecemasan dan ketegangan.
2)
Tehnik relaksasi
Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan untuk
mengurangi ketegangan atau kecemasan, dengan cara melatih penderita
untuk dapat belajar membuat otot-otot dalam tubuh menjadi rileks
3)
Pendidikan Kesehatan ( Penyuluhan )
Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan
pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya
sehingga pasien dapat mempertahankan hidupnya dan mencegah
komplikasi lebih lanjut.
2.

Terapi dengan Obat


Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan
darah saja tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat
hipertensi agar penderita dapat bertambah kuat. Pengobatan hipertensi
umumnya perlu dilakukan seumur hidup penderita.
Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli
Hipertensi ( JOINT NATIONAL COMMITTEE ON DETECTION,
EVALUATION AND TREATMENT OF HIGH BLOOD PRESSURE,
USA, 1988 ) menyimpulkan bahwa obat diuretika, penyekat beta,
antagonis kalsium, atau penghambat ACE dapat digunakan sebagai obat
tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan penderita dan penyakit
lain yang ada pada penderita.
Pengobatannya meliputi :
1.
Step 1: Obat pilihan pertama : diuretika, beta blocker, Ca antagonis,
ACE inhibitor

2.

Step 2: Alternatif yang bisa diberikan :


Dosis obat pertama dinaikkan Diganti jenis lain dari obat pilihan
pertama
Ditambah obat ke 2 jenis lain, dapat berupa diuretika , beta blocker, Ca
antagonis, Alpa blocker, clonidin, reserphin, vasodilator.
3.
Step 3: Alternatif yang bisa ditempuh Obat ke-2 diganti Ditambah obat
ke-3 jenis lain
4.
Step 4 : Alternatif pemberian obatnya Ditambah obat ke-3 dan ke-4
Re-evaluasi dan konsultasi Follow Up untuk mempertahankan terapi
Untuk mempertahankan terapi jangka panjang memerlukan interaksi dan
komunikasi yang baik antara pasien dan petugas kesehatan ( perawat,
dokter ) dengan cara pemberian pendidikan kesehatan
8. Komplikasi
a. penyakit jantung koroner dan arteri
b. payah jantung
c. stroke
d. kerusakan ginjal
e. kerusakan penglihatan
9. Insiden
Hipertensi sering kali di sebut sebagai pembunuh gelap ( silentkiller ), karena
termasuk penyakit yang mematikan ,tanpa di sertai dengan gejala-gejalanya lebih
dahulu sebagai peringatan bagi korbannya.
Data WHO tahun 2000 menunjukkan, di seluruh dunia, sekitar 972 juta orang
atau 26,4% penghuni bumi mengidap hipertensi dengan perbandingan26,6% pria
dan 26,1% wanita. Angka ini kemungkinan akan meningkat menjadi 29,2% di
tahun 2025. Dari 972 juta pengidap hipertensi 333 juta berada di Negara maju
dan 639 sisanya berada di Negara sedang berkembang, termasuk Indonesia
(Andra,2007)
Menurut WHO, dijawa tengah penderita hipertensi pada lansia terdapat 15,2%
dan perempuan lebih banyak ditemui menderita hipertensi dari pada laki-laki.

B. Proses Keperawatan
1. Pengkajian

Pengkajian secara Umum:


1.

2.
3.

4.

5.

Identitas Pasien
Hal -hal yang perlu dikaji pada bagian ini yaitu antara lain: Nama, Umur,
Jenis Kelamin, Pendidikan, Pekerjaan, Agama, Status Mental, Suku,
Keluarga/orang terdekat, alamat, nomor registrasi.
Riwayat atau adanya factor resiko
a.
Riwayat garis keluarga tentang hipertensi
b.
Penggunaan obat yang memicu hipertensi
Aktivitas / istirahat
a.
Kelemahan,letih,napas pendek,gaya hidup monoton.
b.
Frekuensi jantung meningkat
c.
Perubahan irama jantung
d. Takipnea
Integritas ego
a.
Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria atau marah
kronik.
b.
Faktor faktor stress multiple (hubungan, keuangan yang berkaitan dengan
pekerjaan).
Makanan dan cairan
Makanan yang disukai, dapat mencakup makanan tinggi garam, tinggi lemak,
tinggi kolesterol (seperti makanan yang digoreng,keju,telur)gula-gula yang
berwarna hitam, kandungan tinggi kalori.
a.
Mual, muntah.
b.
Perubahan berat badan akhir-akhir ini (meningkat atau menurun).
6.
Nyeri atau ketidak nyamanan :
a.
Angina (penyakit arteri koroner /keterlibatan jantung
b.
Nyeri hilang timbul pada tungkai.
c.
Sakit kepala oksipital berat seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
d.
Nyeri abdomen.

Pengkajian Persistem :
1.
Sirkulasi
a.
Riwayat hipertensi, ateroskleorosis, penyakit jantung koroner atau katup
dan penyakit cerebro vaskuler.
b.
Episode palpitasi,perspirasi.
2.
Eleminasi : Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu seperti infeksi atau obtruksi
atau riwayat penyakit ginjal masa lalu.
3.

Neurosensori :
a.
Keluhan pusing.
b.
Berdenyut, sakit kepala subokspital (terjadi saat bangun dan menghilang
secara spontan setelah beberapa jam).
4.
Pernapasan
a.
Dispnea yang berkaitan dengan aktifitas/kerja
b. Takipnea, ortopnea, dispnea noroktunal paroksimal.
c.
Batuk dengan/tanpa pembentukan sputum.
d.
Riwayat merokok

2. Penyimpangan KDM

3. Diagnosa keperawatan
a. penurunan curah jantung
b. intoleransi aktivitas
c. nyeri
d. ketidaksembangan nutrisi
e. resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak

4. Intervensi

N
o
1

Diagnosa
Keperawatan

Penurunan curah
jantung

Tujuan dan Kriteria


Hasil

NOC :
Cardiac Pump
effectiveness
Circulation Status
Vital Sign Status

Intervensi

NIC :
Cardiac Care

Evaluasi adanya nyeri dada


( intensitas,lokasi, durasi)
Catat adanya disritmia jantung
Catat adanya tanda dan gejala
penurunan cardiac putput
Kriteria hasil :
Monitor status kardiovaskuler
-ttv dalam rentang Monitor status pernafasan yang
normal
menandakan gagal jantung
-dapat mentoleransi Monitor abdomen sebagai
aktivitas , tidak ada
indicator penurunan perfusi
kelelahan
Monitor balance cairan
-tidak ada penurunan Monitor adanya perubahan
kesadaran.
tekanan darah
Monitor respon pasien terhadap
efek pengobatan antiaritmia
Atur periode latihan dan istirahat
untuk menghindari kelelahan
Monitor toleransi aktivitas pasien
Monitor adanya dyspneu, fatigue,
tekipneu dan ortopneu
Anjurkan untuk menurunkan
stress

Vital Sign Monitoring


Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
Catat adanya fluktuasi tekanan
darah
Monitor VS saat pasien
berbaring, duduk, atau berdiri
Auskultasi TD pada kedua
lengan dan bandingkan
Monitor TD, nadi, RR, sebelum,
selama, dan setelah aktivitas
Monitor kualitas dari nadi

Monitor
adanya
pulsus
paradoksus
Monitor adanya pulsus alterans

Monitor jumlah dan irama jantung


Monitor bunyi jantung
Monitor frekuensi dan irama
pernapasan
Monitor suara paru
Monitor pola pernapasan
abnormal
Monitor suhu, warna, dan
kelembaban kulit
Monitor sianosis perifer
Monitor adanya cushing triad
(tekanan nadi yang melebar,
bradikardi, peningkatan sistolik)
Identifikasi penyebab dari
perubahan vital sign
2

NOC :
NIC :
Activity Therapy
Energy conservation
Kolaborasikan dengan Tenaga
Activity tolerance
Definisi :
Rehabilitasi Medik
Ketidakcukupan energu Self Care : ADLs
Intoleransi aktivitas

dalammerencanakan progran

secara fisiologis maupun


terapi yang tepat.
Kriteria Hasil :
psikologis untuk
Bantu klien untuk
Berpartisipasi dalam
meneruskan atau
mengidentifikasi aktivitas
aktivitas fisik tanpa
menyelesaikan aktifitas
yang mampu dilakukan
disertai peningkatan Bantu untuk memilih aktivitas
yang diminta atau
tekanan darah, nadi
aktifitas sehari hari.
konsisten yangsesuai dengan
dan RR
kemampuan fisik, psikologi
Mampu melakukan
dan social
Batasan karakteristik :
a. melaporkan secara verbal aktivitas sehari hari Bantu untuk mengidentifikasi
(ADLs) secara mandiri dan mendapatkan sumber
adanya kelelahan atau
kelemahan.
b. Respon abnormal dari
tekanan darah atau nadi
terhadap aktifitas
c. Perubahan EKG yang
menunjukkan aritmia atau
iskemia
d. Adanya dyspneu atau
ketidaknyamanan saat
beraktivitas.
Faktor factor yang

yang diperlukan untuk


aktivitas yang diinginkan
Bantu untuk mendpatkan alat
bantuan aktivitas seperti
kursi roda, krek
Bantu untu mengidentifikasi
aktivitas yang disukai
Bantu klien untuk membuat
jadwal latihan diwaktu luang
Bantu pasien/keluarga untuk
mengidentifikasi kekurangan
dalam beraktivitas

berhubungan :
Tirah Baring atau
imobilisasi
Kelemahan menyeluruh

Ketidakseimbangan
antara suplei oksigen
dengan kebutuhan
Gaya hidup yang
dipertahankan.

Sediakan penguatan positif


bagi yang aktif beraktivitas
Bantu pasien untuk
mengembangkan motivasi
diri dan penguatan
Monitor respon fisik, emoi,
social dan spiritual

NOC :
Pain Level,
Definisi :
Pain control,
Sensori yang tidak
Comfort level
menyenangkan dan
Kriteria Hasil :
pengalaman emosional
Mampu mengontrol
yang muncul secara aktual
nyeri (tahu penyebab
atau potensial kerusakan
nyeri,
mampu
jaringan atau
menggunakan tehnik
menggambarkan adanya

kerusakan (Asosiasi Studi nonfarmakologi untuk


mengurangi
nyeri,
Nyeri Internasional):
serangan mendadak atau
mencari bantuan)
pelan intensitasnya dari Melaporkan bahwa

ringan sampai berat yang


nyeri
berkurang
dapat diantisipasi dengan
dengan menggunakan

akhir yang dapat diprediksi


manajemen nyeri
dan dengan durasi kurang
Mampu mengenali
dari 6 bulan.

nyeri
(skala,
intensitas, frekuensi
Batasan karakteristik :

dan tanda nyeri)


Laporan secara verbal
Menyatakan rasa
atau non verbal

nyaman setelah nyeri


Fakta dari observasi
berkurang
Posisi antalgic untuk
menghindari nyeri
Tanda vital dalam
Gerakan melindungi
rentang normal

Nyeri

Tingkah laku berhati-hati


Muka topeng
Gangguan tidur (mata
sayu, tampak capek, sulit
atau gerakan kacau,
menyeringai)
Terfokus pada diri sendiri

NIC :

Pain
Managemen
t

Lakukan pengkajian nyeri secara


komprehensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi,
kualitas dan faktor presipitasi
Observasi reaksi nonverbal dari
ketidaknyamanan
Gunakan teknik komunikasi
terapeutik untuk mengetahui
pengalaman nyeri pasien
Kaji kultur yang mempengaruhi
respon nyeri
Evaluasi pengalaman nyeri masa
lampau
Evaluasi bersama pasien dan tim
kesehatan
lain
tentang
ketidakefektifan kontrol nyeri
masa lampau
Bantu pasien dan keluarga untuk
mencari
dan
menemukan
dukungan
Kontrol lingkungan yang dapat
mempengaruhi nyeri seperti
suhu ruangan, pencahayaan
dan kebisingan

Fokus menyempit
(penurunan persepsi
waktu, kerusakan proses
berpikir, penurunan
interaksi dengan orang
dan lingkungan)
Tingkah laku distraksi,
contoh : jalan-jalan,
menemui orang lain
dan/atau aktivitas, aktivitas
berulang-ulang)
Respon autonom (seperti
diaphoresis, perubahan
tekanan darah, perubahan
nafas, nadi dan dilatasi
pupil)
Perubahan autonomic
dalam tonus otot (mungkin
dalam rentang dari lemah
ke kaku)
Tingkah laku ekspresif
(contoh : gelisah, merintih,
menangis, waspada,
iritabel, nafas
panjang/berkeluh kesah)
Perubahan dalam nafsu
makan dan minum
Faktor yang berhubungan :
Agen injuri (biologi, kimia,
fisik, psikologis)

Kurangi faktor presipitasi nyeri


Pilih dan lakukan penanganan
nyeri
(farmakologi,
non
farmakologi dan inter personal)
Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
menentukan intervensi
Ajarkan tentang teknik non
farmakologi

Berikan analgetik untuk


mengurangi nyeri
Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
Tingkatkan istirahat
Kolaborasikan dengan dokter jika
ada keluhan dan tindakan nyeri
tidak berhasil
Monitor penerimaan pasien
tentang manajemen nyeri

Analgesic Administration
Tentukan lokasi, karakteristik,
kualitas, dan derajat nyeri
sebelum pemberian obat
Cek instruksi dokter tentang jenis
obat, dosis, dan frekuensi
Cek riwayat alergi
Pilih analgesik yang diperlukan
atau kombinasi dari analgesik
ketika pemberian lebih dari satu
Tentukan pilihan analgesik
tergantung tipe dan beratnya
nyeri
Tentukan analgesik pilihan, rute
pemberian, dan dosis optimal
Pilih rute pemberian secara IV,
IM untuk pengobatan nyeri
secara teratur
Monitor vital sign sebelum dan
sesudah pemberian analgesik
pertama kali
Berikan analgesik tepat waktu
terutama saat nyeri hebat
Evaluasi efektivitas analgesik,
tanda dan gejala (efek samping)

Ketidakseimbangan
NOC :
nutrisi
Nutritional Status : food

NIC :
Weight Management

Diskusikan bersama pasien


and Fluid Intake
Definisi : Intake nutrisi Nutritional Status :
mengenai hubungan antara
melebihi kebutuhan
intake makanan, latihan,
nutrient Intake
peningkatan BB dan
metabolik tubuh
Weight control
penurunan BB
Kriteria Hasil :
Batasan karakteristik : Mengerti factor yang Diskusikan bersama pasien
mengani kondisi medis yang
Lipatan kulit tricep > 25
meningkatkan berat
dapat mempengaruhi BB
mm untuk wanita dan > 15
badan
Diskusikan bersama pasien
mm untuk pria

Mengidentfifikasi
mengenai kebiasaan, gaya
BB 20 % di atas ideal
tingkah laku dibawah
hidup dan factor herediter
untuk tinggi dan kerangka
kontrol
klien
yang dapat mempengaruhi
tubuh ideal

Memodifikasi
diet
BB
Makan dengan respon
eksternal (misalnya :
dalam waktu yang Diskusikan bersama pasien
situasi sosial, sepanjang
mengenai risiko yang
lama untuk
hari)
berhubungan dengan BB
mengontrol berat
Dilaporkan atau
berlebih dan penurunan BB
badan
diobservasi adanya
Dorong pasien untuk
Penurunan berat
disfungsi pola makan
merubah kebiasaan makan
badan 1-2
(misal : memasangkan
Perkirakan BB badan ideal
pounds/mgg
makanan dengan aktivitas
pasien
Menggunakan energy
yang lain)
untuk aktivitas sehari
Tingkat aktivitas yang
Nutrition Management
hari
menetap
Konsentrasi intake
makanan pada menjelang
malam
Faktor yang berhubungan :
Intake yang berlebihan
dalam hubungannya
terhadap kebutuhan
metabolisme tubuh

Kaji adanya alergi makanan


Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
menentukan jumlah kalori dan
nutrisi yang dibutuhkan pasien.

Anjurkan
pasien
untuk
meningkatkan intake Fe

Anjurkan
pasien
untuk
meningkatkan protein dan
vitamin C
Berikan substansi gula
Yakinkan diet yang dimakan
mengandung tinggi serat untuk
mencegah konstipasi
Berikan makanan yang terpilih
( sudah dikonsultasikan dengan
ahli gizi)
Ajarkan pasien bagaimana

membuat catatan makanan


harian.
Monitor jumlah nutrisi dan
kandungan kalori
Berikan informasi tentang
kebutuhan nutrisi
Kaji kemampuan pasien untuk
mendapatkan nutrisi yang
dibutuhkan

Weight reduction
Assistance

Resiko ketidakefektifan
perfusi jaringan otak
Definisi : Beresiko
mengalami penurunan
sirkulasi jaringan otak
yang dapat mengganggu
kesehatan.
Batasan karakteristik
-Massa tromboplastin
parsial abnormal
-Massa protrombin
abnormal
-ateroklerosis aerotik
-diseksi arteri
-fibrilasi atrium
-miksoma atrium
-tumor otak
-stenosis carotid
-aneurisme serebri
-embolisme
-

Fasilitasi keinginan pasien untuk


menurunkan BB
Perkirakan bersama pasien
mengenai penurunan BB
Tentukan tujuan penurunan BB
Beri pujian/reward saat pasien
berhasil mencapai tujuan
Ajarkan pemilihan makanan
NOC :
NIC
1.Circulation status
Manajemen sensori perifer
2.Tissue perfusion :
-monitor adanya daerah
cerebral
tertentu yang hanya peka
Kriteria hasil
terhadap
mendemontrasikan
panas/dingin/tajam/tumpul
status sirkulasi yang
-monitor adanya paretese
di tandai dengan :
-gunakan sarung tangan
-tekanan systole dan
untuk proteksi
diastole dalam rentang -batasi gerakan pada kepala,
yang di harapkan
leher dan punggung
-tidak ada tanda-tanda -monitor kemampuan BAB
- kolaborasi pemberian
peningkatan tekanan
analgesic
itrakrinial.
-diskusikan mengenai
Mendemontrasikan
penyebab perubahan sensasi.
kemampuan kognitif
yang ditandai
dengan :
-berkomunikasi
dengan jelas dan
sesuai dengan
kemampuan.
-menunjukkan

perhatian , konsentrasi
dan orientasi.
Menunjukkan fungsi
sensori motori cranial
yang utuh
5. Evaluasi
a. Diagnosa 1 : penurunan curah jantung
- tekanan darah klien dalam keadaan normal
- klien dalam keadaan yang baik
b. Diagnosa 2 : Intoleransi aktivitas
- klien mampu melakukan aktivitas sehari-hari
c. Diagnosa 3 : Nyeri
- nyeri berkurang
-k
d. Diagnosa 4 : ketidakseimbangan nurtisi
- asupan nutrisi seimbang, BB ideal.
e. Diagnosa 5 : Resiko ketidakefektifan perfusi jatingan otak
- tekanan darah dalam keadaan normal

DAFTAR PUSTAKA
Asuhan keperawatan NANDA NIC-NOC 2013
http://jatiarsoeko.blogspot.co.id/2013/04/makalah-askep-hipertensipada-lansia.html (Diakses pada tanggal 19 desember 2015)
https://id.scribd.com/doc/145465187/LAPORAN-PENDAHULUANHIPERTENSI-PADA-LANSIA-docx# (diakses pada tanggal 19 desember
2015)

https://nurse87.wordpress.com/2009/06/17/empat-belas-masalahkesehatan-utama-pada-lansia/ (diakses pada tanggal 19 desember


2015)
http://askep-poltekesjyp.blogspot.co.id/2013/12/askep-hipertensi-padalansia.html
(diakses pada tanggal 19 desember 2015)