Anda di halaman 1dari 22

RINGKASAN PRAKTIKUM

Produksi Benih Tanaman Tahunan


(PBT 153)

Oleh :
Agung setia
13713001

JURUSAN BUDIDAYA TANAMAN PANGAN


PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PERBENIHAN
POLITEKNIK NEGERI LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2016

Produksi Benih Tanaman Tahunan (PBT 153). 1

RANGKUMAN KEGIATAN PRAKTIKUM PRODUKSI BENIH


TANAMAN TAHUNAN (PBT 153)

Pertemuan Ke

:1

Unit Kompetensi

: Memahami Bunga Tanaman Kelapa Sawit

Waktu Dan Tanggal

: Hari Rabu Dari Pukul 08:00-12:00, Tanggal 16


Sebtember 2015.

Tempat

: Lahan Praktikum Politeknik Negeri Lampung

1) Elemen kompetensi :
Memahami bagian bunga dan buah tanaman kelapa sawit
2) Kriteria kerja
a. Mengidentifikasi bunga jantan dan betina tanaman kelapa sawit
b. Menggambar bunga jantan dan bunga betina tanaman kelapa sawit
c. Mengamati pollen/serbuk sari tanaman kelapa sawit
d. Menggambarkan bagian-bagian buah kelapa sawit
3) Teori
Sejak pertengahan 2000, kelapa sawit telah menyusul kacang kedelai
menjadi tanaman minyak yang paling penting di dunia. Produksi minyak sawit
terutama didukung oleh penanaman intensif selama dua dekade terakhir di
Malaysia dan Indonesia yang sejauh dua utama produsen minyak sawit
(Frank,2013).

Produksi minyak sawit telah terbukti menjadi kuat mesin

pertumbuhan ekonomi ( Lane,2012).


Tanaman kelapa sawit yang dibudidayakan saat ini terdiri dari dua jenis
yang umum di tanam yaitu E. guineensis dan E. oleifera. Antara 2 jenis tersebut
mempunyai fungsi dan keunggulan di dalamnya. Jenis E. guineensis memiliki
produksi yang sangat tinggi sedangkan E. oleifera memiliki tinggi tanaman yang
rendah. banyak orang sedang menyilangkan kedua species ini untuk mendapatkan

Produksi Benih Tanaman Tahunan (PBT 153). 2

species

yang

tinggi

produksi

dan

gampang

dipanen.

Jenis E.

oleifera sekarang mulai dibudidayakan pula untuk menambah keanekaragaman


sumber daya genetik yang ada. Kelapa sawit Elaeis guinensis Jacq merupakan
tumbuhan tropis yang berasal dari Afrika Barat. Tanaman ini dapat tumbuh di luar
daerah asalnya, termasuk Indonesia. Tanaman kelapa sawit memiliki arti penting
bagi pembangunan nasional (Syahputra,2011).
Masa umur ekonomis kelapa sawit yang cukup lama sejak mulai tanaman
mulai menghasilkan, yaitu sekitar 25 tahun menjadikan jangka waktu perolehan
manfaat dari investasi di sektor ini menjadi salah satu pertimbangan yang ikut
menentukan bagi kalangan dunia (Krisnohardi,2011). Untuk mendapatkan
tanaman kelapa sawit yang baik dan produksi yang maksimal, maka sebelum
melakukan budidaya maka harus mengetahui klasifikasi dan morfologi dari
tanaman sawit begitu pula syarat tumbuh tanaman kelapa sawit yang benar.
Dengan mengetahui klasifikasi tanaman kelapa sawit maka dapat memahami
macam-macam jenis kelapa sawit dari varietas unggul yang dapat dibudidayakan.
Dengan mengetahui morfologi tanamann kelapa sawit maka dapat memahami
spesifikasi setiap bagian yang dimiliki tanaman kelapa sawit. Untuk tanaman
kelapa sawit memiliki klasifikasi sebagai berikut:
Divisi

: Embryophyta Siphonagama

Kelas

: Angiospermae

Ordo

: Monocotyledonae

Famili

: Arecaceae

Sub family

: Cocoideae

Genus

: Elaeis

Spesies

: E.guineensis. Jacq, E.oleifera (HBK) Cortes, E.odora.

Produksi Benih Tanaman Tahunan (PBT 153). 3

3.1. Bunga Tanaman Kelapasawit


Kelapa sawit merupakan tanaman berumah satu (monoecious), artinya bunga
jantan dan bunga betina terdapat dalam satu tanaman dan masing-masing
terangkai dalam satu tandan. Rangkaian bunga jantan terpisah dengan bunga
betina. Setiap rangkian bunga muncul dari pangkal pelepah daun. Sebelum bunga
mekar dan masih diselubungi seludang, bunga dapat dibedakan antara bunga
jantan dan bunga betina dengan melihat bentuknya (Lubis. 1992).
Tanaman kelapa sawit akan berbunga pada umur 14-18 bulan. Pada mulanya
keluar bunga jantan kemudian secara bertahap akan muncul bunga betina.
Terkadang ditemui bunga banci yaitu bunga jantan dan bunga betina ada pada satu
rangkain(Tim Pengembangan Materi LPP. 2004). Tandan bunga betina dibungkus
oleh seludang yang akan pecah 1530 hari sebelum anthesis. Satu tandan bunga
betina memiliki 100200 spikelet dan setiap spikelet 1520 bunga betina dan
yang akan diserbuki tepung sari. Pada tandan tanaman dewasa dapat diperoleh
6002000 buah tergantung pada besarnya tandan dan setiap pokok dapat
menghasilkan 1525 tandan/pokok/tahun(Tim Pengembangan Materi LPP. 2004).
Bunga jantan bentuknya lonjong memanjang dengan ujung kelopak agak
meruncing dan garis tengah bunga lebih kecil. Letak bunga jantan yang satu
dengan yang lainnya sangat rapat dan membentuk cabang bunga yang panjangnya
antara 1012 cm. Pada tanaman dewasa satu tandan mempunyai 200 cabang
bunga. Setiap cabang bunga mengandung 7001200 bunga jantan. Bunga jantan
terdiri dari 6 helai benang sari dan 6 perhiasan bunga. Hari pertama kelopak
terbuka dan mengeluarkan tepung sari dari ujung tandan bunga, pada hari kedua
bagian tengah dan hari ketiga di bagian bawah tandan yang akan keluar serbuk
sari. Serbuk sari berwarna kuning pucat dan berbau spesifik. Satu tandan bunga
jantan dapat menghasilkan 2550 gram tepung sari. Setiap bunga akan dibuahi
dengan serbuk sari yang menghasilkan buah tersusun pada tandan (Sastrosayono.
2003). Untuk lebih jelasnya perbedaan bunga jantan dan bunga betina dapat di
lihat pada Gambar di bawah ini.

Produksi Benih Tanaman Tahunan (PBT 153). 4

gambar : bunga jantan dan bunga betina tanaman kelapasawit

3.2.Buah ( Fructus )
Buah kelapa sawit termasuk jenis buah keras (drupe), menempel dan
bergerombol pada tandan buah. Jumlah per tandan dapat mencapai 1.600,
berbentuk lonjong sampai membulat. Panjang buah 2-5 cm, beratnya 15-30 gram.
Bagian-bagian buah terdiri atas kulit buah (exocarp), sabut dan biji (mesocarp).
Eksokarp dan mesokarp disebut perikarp (pericarp). Biji terdiri atas cangkang
(endocarp) dan inti (kernel), sedangkan untuk inti sendiri terdiri atas endosperm
atau putih lembaga dan embrio. Dalam embrio terdapat bakal daun (plumula),
bakal akar (radicula) dan haustorium (Mangoensoekarjo dan Semangun. 2005).
Buah yang ditanam umumnya adalah varietas nigrescens dengan warna
buah ungu kehitaman saat mentah dan buah akan matang 5-6 bulan setelah
penyerbukan. Buah yang matang dibedakan atas matang morfologis yaitu buah
telah sempurna bentuknya serta kandungan minyaknya sudah optimal sedangkan
matangfisiologis adalah buah yang sudah matang sempurna yaitu telah siap untuk
tumbuh dan berkembang (Sastrosayono. 2003).
Untuk lebih jelasnya bagian buah kelapa sawit dapat di lihat pada Gambar
dibawah ini.

Produksi Benih Tanaman Tahunan (PBT 153). 5

Gambar : bentuk penampang melintangdan membujur buah kelapasawit


4) Bahan Dan Alat
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu bunga jantan dan betina
tanaman kelapa sawit, buku gambar, alat tulis.

Sedangkan alat yang digunakan

adalah golok.
5) Prosedur kerja
a. Mahasiswa mendengarkan penjelasan dari teknisi
b. Pemotongan tandan bunga jantan, kemudian

gambar

secara

keseluruhan dan gambarkan pula tangkai bunga jantan serta sebutkan


bagian-bagian bunga tersebut.
c. Potong tandan bunga betina, kemudian gambar secara keseluruhan.
d. Gambar setangkai bunga betina serta sebutkan bagian-bagian bunga
tersebut.
e. Potong tandan buah kelapa sawit kemudian gambar secara
keseluruhan.
f. Pembelahan buah kelapa

sawit kemudian belah dan gambar serta

sebutkan bagian-bagian buah tersebut.


6) Pustaka
Arsyad, A., dkk.2012. Pemupukan Kelapa Sawit Berdasarkan Potensi
Produksi Untuk Meningkatkan Hasil Tandan Buah Segar (Tbs) Pada
Lahan Marginal Kumpeh.Penelitian Universitas Jambi Seri Sains 14 (1):
29-36.
http://repository.politanipyk.ac.id
RANGKUMAN KEGIATAN PRAKTIKUM PRODUKSI BENIH
TANAMAN TAHUNAN (PBT 153)

Produksi Benih Tanaman Tahunan (PBT 153). 6

Pertemuan Ke

:2

Unit Kompetensi

: Perbanyakan Vegetative Dengan Cara Setek


Pada Tanaman Lada (Piper Ningrum. L).

Waktu Dan Tanggal

: Hari Rabu Dari Pukul 08:00-12:00, Tanggal 23


Sebtember 2015.

Tempat

: Lahan Praktikum Politeknik Negeri Lampung

1. Elemen kompetensi :
Memahami cara perbanyakan secara vegetative secara setek pata
tanaman lada
2. Kriteria kerja
a. Mengetahui syrat tanaman induk
b. Mengetahui teknik setek yang baik untuk tanaman lada
c. Mengetahui bahan stek yang baik untuk tanaman lada
3.

Teori
Lada (Piper nigrum Linn.) merupakan tanaman rempah-rempah yang

memiliki peran dalam meningkatkan perekonomian Indonesia. Budidaya lada di


Indonesia dilakukan dalam skala kecil hingga besar.
Lada memiliki banyak manfaat sebagai bahan baku dalam sektor industri
makanan, minuman ringan dan industri wangi-wangian. Lada digunakan dalam 2
pembuatan sosis, asinan kol, dan lain-lain. Minyak lada digunakan dalam industri
wangi-wangian, industri parfum, dan kosmetik serta industri flavor (Balai
Penelitian Rempah dan Obat, 1996). Setek merupakan perbanyakan tanaman yang
efektif dan efisien dalam budidaya tanaman lada. Perbanyakan lada dengan setek
lebih menguntungkan karena menghasilkan populasi tanaman yang
homogen dan memiliki sifat yang sama dengan induknya (Balai Informasi
Pertanian Irian Jaya, 1994).
Salah satu kendala dalam perbanyakan tanaman dengan setek yaitu
sulitnya mendapatkan bahan tanaman dalam jumlah yang banyak dan berkualitas.

Produksi Benih Tanaman Tahunan (PBT 153). 7

Menurut Badan Litbang Pertanian (2013), harga bibit lada yang mahal merupakan
salah satu faktor sulitnya mendapatkan bahan tanaman dalam jumlah banyak dan
berkualitas. Faktor faktor yang menyebabkan harga bibit lada mahal yaitu luas
kebun penghasil bibit lada kecil, petani tidak melakukan pemangkasan karena
lebih mengutamakan untuk memproduksi buah dan umur bahan tanaman yang
tidak sesuai.
Perbanyakan tanaman lada dilakukan dengan 2 (dua) cara yaitu
perbanyakan secara generatif dan perbanyakan secara vegetative
1. Perbanyakan secara generatif
Perbanyakan tanaman lada berasal dari biji tidak dianjurkan karena lada
relatif cepat berkurang daya tumbuhnya serta hasil semaian beraneka ragam
bentuk dan sifat
2. Perbanyakan secara vegetatif
Perbanyakan vegetatif dengan menggunakan stek batang atau sulur panjat
merupakan metode yang direkomendasikan karena efisien dalam menggunakan
stek dan menghasilkan benih yang baik dan seragam.
3.1. Teknologi Pemilihan Benih Stek lada
diambil dari sulur panjat yang sudah berkayu tetapi tidak terlalu tua
berasal dari pohon induk varietas unggul belum/tidak berproduksi, sehat, tanpa
gejala serangan hama dan penyakit, kemudian dicuci dengan air mengalir. Untuk
memperbanyak lada dapat menggunakan stek 5 7 atau 1 buku, penentuan jumlah
stek yang akan digunakan disesuaikan dengan ketersediaan sulur panjat untuk
benih, jika sulur panjat tersedia cukup banyak maka dianjurkan menggunakan stek
5 7 buku. Namun jika ketersediaannya terbatas dapat menggunakan stek 1 buku
yang dapat dipelihara terlebih dahulu di persemaian.
1. Cara membuat stek 5 7 buku
a) Sulur panjat dipotong potong menjadi stek 5 7 buku
b) Stek dicelupkan kedalam larutan fungisida sekitar 2 g/l air selama kurang
5 menit untuk mengurangi kemungkinan terinfeksi penyakit
c) Stek 5 7 buku dapat langsung ditanam di lapangan
2. Cara membuat stek 1 buku

Produksi Benih Tanaman Tahunan (PBT 153). 8

a) Penggunaan stek satu buku berdaun tunggal harus disemaikan terlebih


dahulu pada polibag berukuran 12 x 15 cm sampai tumbuh menjadi 5 7
buku.
b) Setek panjang dipotong menjadi stek satu buku berdaun tunggal.
c) Kemudian direndam dalam larutan gula ( 1 - 2 % atau 10 20 g/l air )
selama 1 /2 - 1 jam.
d) Stek disemai dalam polibag berukuran 12 x 15 cm yang berisi media
tanam campuran tanah atas (top soil) dengan pupuk kandang dan pasir
kasar atau sekam padi dengan perbandingan 2:1:1 atau 1:1:1
e) Benih yang sudah ditanam dalam polibag disimpam ditempat persemaian
yang ternaungi (intensitas sinar matahari 50 75 %)
f) Naungan persemaian dapat terbuat dari daun kelapa, alang alang atau
paranet.
g) Untuk mempertahankan kelembaban lingkungan maka diperlukan
sungkup plastik dengan keran gka bambu setinggi lebih kurang 1 m.
Penyinaran dilakukan 2 hari sekali dengan menggunakan ember/gembor.
Sungkup dibuka setiap pagi ( jam 09,00 10.00 ) selama 1 jam.
h) Apabila telah tumbuh 2 3 daun baru, setiap benih harus diberi tegakan
dari bambu agar tumbuh akar lekat disetiap bukunya, sungkup plastik
i)

kemudian dibuka.
Benih siap ditanam apabila stek telah mencapai 5 -7 buku.

Produksi Benih Tanaman Tahunan (PBT 153). 9

Gambar : stek 1 buku dan 7 buku tanaman lada.


4. Bahan Dan Alat
Bahan yang digunakan pada praktikum ini ialah stek lada,polibag, air
sedangkanalat yang digunakan yaitu cangkol ember, kater, gunting stek dll.
5. Prosedur kerja
1. Mahasiswa mendengarkan penjelasan dari teknisi
2. Mahasiswa melakukan perempelan stek satu buku dengan cara
memotong satu buku sulur lada dan merempel daunnya, lalu
masukkan kedalam ember yang berisi air.
3. Perendaman bahan stek dengan ZPT dan fungisida 2 gr/l, selama 5
menit. Penanaman pada polibeg. Mahasiswa membuat laporan
kegiaatan.
6. Pustaka
Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balitro), Bogor. Brosur BIP
Irian Jaya
http://ditjenbun.pertanian.go.id/bbpptpsurabaya/tinymcpuk/gambar/file/Tu
lisan%20lada.pdf
RANGKUMAN KEGIATAN PRAKTIKUM PRODUKSI BENIH
TANAMAN TAHUNAN (PBT 153)

Pertemuan Ke

:3

Unit Kompetensi

: Perkecambahan Tanam Kelapa Sawit

Waktu Dan Tanggal

: Hari Rabu Dari Pukul 08:00-12:00, Tanggal 30


Sebtember 2015.

Tempat

: Lahan Praktikum Politeknik Negeri Lampung

1. Elemen kompetensi :
Melakukan penyerbukan tanaman kelapasawit untuk benih
2. Kriteria kinerja

Produksi Benih Tanaman Tahunan (PBT 153). 10

a. Melakukan perkecambahan kelapa sawit


b. Melakukan sleksi kecambah kelapa sawit
3. Teori
3.1.

Perkecambahan Benih Kelapa Sawit


Perkecambahan benih kelapa sawit merupakan suatu rangkaian kompleks

dari perubahan-perubahan morfologi, fisiologi dan biokimia. Copeland (1976)


Universitas Sumatera Utara menyatakan bahwa pada proses perkecambahan
terjadi proses imbibisi, aktivasi enzim, inisiasi pertumbuhan embrio, retaknya
kulit benih dan munculnya kecambah. Menurut Sadjad (1975), faktor genetik dan
lingkungan menentukan proses metabolisme perkecambahan. Faktor genetik yang
berpengaruh adalah komposisi kimia, kadar air, enzim dalam benih dan susunan
fisik atau kimia dari kulit benih. Adapun faktor lingkungan yang berpengaruh
terhadap proses perkecambahan adalah air, gas, suhu, dan cahaya. Benih kelapa
sawit sangat sulit untuk berkecambah dan tidak dapat tumbuh serempak, hal ini
disebabkan oleh karena benih mempunyai sifat dormansi akibat
endokarpnya yang tebal dan keras, bukan disebabkan oleh embrionya yang
dorman (Hartley, 1977). Kekedapan kulit benih terhadap air atau gas dapat
disebabkan oleh tiap lapisan kulit benih. Dalam banyak kasus misalnya pada
leguminosa, kulit luar benih menyebabkan kekedapan. Pada Semangka dan
Mentimun kekedapan terjadi pada membrane nucellus. Pada benih Kopi
endokarpnya menyebabkan 02 sulit masuk kedalam benih (Copeland, 1976 dan
Pian, 1987).
Kekedapan dapat juga disebabkan oleh tertimbunnya berbagai senyawa
kedap pada testa, perikarp atau membrane nucellus. Timbunan suberin, liginin
atau kutin yang tebal banyak terjadi pada kulit benih leguminosa sebagaimana
terjadi pada biji tanaman keras lainnya. Timbunan kutin terdapat pada membrane
nucellus pada benih family graminae. Pada benih kacang kutikula kedap terhadap
air (Copeland, 1976). Selain itu menurut penelitian Nurmaila (1999), pada
tempurung benih kelapa sawit mengandung kadar lignin yang cukup tinggi yaitu

Produksi Benih Tanaman Tahunan (PBT 153). 11

65.70%. Adanya inhibitor tersebut dapat menjadi Universitas Sumatera Utara


salah satu penyebab lamanya benih kelapa sawit berkecambah. Zat penghambat
dapat berada dalam kulit benih dan juga di bagian-bagian benih yang lebih dalam,
karena sebelumnya zat penghambat tersebut berada dalam daging buah (Sudikno,
1977).
Inhibitor tidak mempengaruhi proses respirasi, tetapi secara tidak langsung
mencegah perkecambahan dengan memblocking produksi bahan-bahan yang
diperlukan untuk respirasi. Hidrolisis (perombakan) pati dikatalisir oleh enzim
amylase. Akibatnya hambatan aktivitas atau ketersediaan enzim amylase
menghambat perkecambahan. Perombakan protein di katalisir oleh enzim
protease. Perombakan menghasilkan larutan asam amino dan amida. Jika ini
dicegah oleh inhibitor seperti coumarin, larutan sumber nitrogen ini tidak terjadi
dan mencegah perkecambahan benih. Perombakan lemak menjadi gliserol dan
asam lemak pada benih berlemak oleh kerja enzim lipase. Coumarin dapat
menghambat perombakan phytin oleh enzim phytiase sebagai sumber fosfor
inorganic yang menyediakan energy untuk proses perkecambahan benih

(Copeland, 1976 dalam Pian 1990). Jika zat penghambat (inhibitor)


terdapat dalam kulit benih, maka untuk menghilangkan zat penghambat tersebut ,
kulit benih dihilangkan. Menghilangkan zat penghambat dapat juga dengan
merendam benih dalam air yang secara periodik air perendaman diganti atau benih
ditempatkan pada tempat yang airnya mengalir (Sudikno, 1971).
Benih dapat juga direndam dalam air panas (180o 200o F) dan dibiarkan
sampai dingin (Sutopo, 1988). Kelapa sawit memiliki tipe perkecambahan
hypogeal (Chin dan Robert, 1980), yaitu kotiledon tetap berada di permukaan
tanah setelah benih berkecambah. Menurut Adiguno (1998), kriteria kecambah
normal adalah kecambah yang tumbuh Universitas Sumatera Utara sempurna dan
secara jelas dapat dibedakan antara radikula dan plumula, tidak patah, tumbuh
lurus, panjang plumula dan radikula kurang lebih 1-1.5 cm, sedangkan kecambah
abnormal mempunyai ciri-ciri tumbuh bengkok, plumula dan radikula tumbuh

Produksi Benih Tanaman Tahunan (PBT 153). 12

searah, kecambah kerdil, hanya memiliki radikula atau plumula saja dan terserang
penyakit.
Kriteria kecambah normal yang diterapkan di Pusat Penelitian Kelapa
sawit Medan (PPKS) adalah sbb: 1. Kecambah normal adalah : Kecambah yang
sudah dapat dibedakan antara radikula dan plumula. 2. Kecambah yang normal
berwarna putih kekuning-kuningan dimana radikula (bakal akar) berwarna
kekuning-kuningan dan plumula (bakal batang) keputihputihan. 3. Radikula dan
plumula tumbuhan lurus serta berlawanan arah. 4. Panjang maksimum plmula
dan radikula adalah < 2 cm. 5. Kecambah yang memiliki sudut antara radikula
dengan plumula tidak kurang dari 90 derajat. 6. Kecambah sehat dan utuh atau
mengalami sedikit kerusakan Pengecambahan benih kelapa sawit terjadi setelah
terlebih dahulu diberi perlakuan pemanasan di ruang pemanas selama 60 hari pada
suhu 39o -40o C dengan kadar air tidak kurang dari 18%, kemudian
dikecambahkan dalam germinator yang bersuhu 27o C dengan kadar air benih
dinaikkan menjadi 22-24% (Adiguno, 1998). Daya berkecambah benih kelapa
sawit dapat dihitung pada pengamatan hari ke-20 dan ke-40 setelah
dikecambahkan (Chin dalam Chin dan Robert, 1980).

4. Bahan dan Alat


Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu benih kelapa sawit
kantung plastic tebal kertas lebel air dan fungisida. Sedangkan alat yang
digunakan : oven, kipas angin dan golok.
5. Prosedur kerja
Menyiapkan bahan-bahan yang digunakan
Benih diseleksidengan cara memantulkan ke lantai
Benih Hasil seleksi direndam dengan baskom yang dialiri air keran
selama 3 hari.
Rendam benih ke dalam larutan fungisida ( Dithane-M45 dengan
konsentrasi 0,2 % selama 10 %) tiriskan dan kering anginkan selama
20-24 jam.
Kecambahkan benih ke dalam media pasir yang sudah disediakan
dengan cara menenggelamkan setengah dari benih kelapa sawit
Siram dengan merata.

Produksi Benih Tanaman Tahunan (PBT 153). 13

6. Pustaka
Utoyo Bambang dan M. Tahir.2015. Buku Panduan Praktikum, produksi
Benih Tanaman Tahunan. Politeknik Negeri Lampung. Bandar
Lampung.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/32911/4/Chapter%20II.pdf

RANGKUMAN KEGIATAN PRAKTIKUM PRODUKSI BENIH


TANAMAN TAHUNAN (PBT 153)

Pertemuan Ke

:4

Unit Kompetensi

: Penanaman Kecambah Tanam Kelapa Sawit

Waktu Dan Tanggal

: Hari Rabu Dari Pukul 08:00-12:00, Tanggal 07


Oktober 2015.

Tempat

: Lahan Praktikum Politeknik Negeri Lampung

1. Elemen kompetensi :
Menanam kecambah dengan benar.
2. Kriteria kinerja
a. Mengetahui dan mampu menyeleksi kecambah abnormal
b. Mampu menanam kecambah dengan baik yaitu posisi radikula
(bakal akar) dibawah dan plumula ( bakal tunas)diatas.
c. Mampu menanam kecambah 100 kecambah per jam
3. Teori

Produksi Benih Tanaman Tahunan (PBT 153). 14

Proses pembibitan tanaman kelapa sawit pada umumnya dilakukan dalam 2


tahap yaitu pembibitan awal (pre nursery) dan pembibitan utama (main nursery).
Hal ini bertujuan agar pengelolaan yang lebih intensif dan efektif, seperti mulai
pada pre nursery di mana umur dan ukuran bibit masih kecil sehingga ditanam
pada polibeg berukuran kecil kemudian berlanjut kepada main nursery pada
polibeg besar sebelum menuju proses penanaman langsung di lapangan. Untuk
memperoleh bahan tanaman yang dapat menunjang hasil produksi kelak, perlu
dilakukan pengamatan dan perlakuan yang lebih baik pada tahap main nursery
karena pada tahap pre nursery, unsur hara maupun bahan makanan lebih banyak
berasal dari kotiledon kecambah yang digunakan.

Kelapa sawit merupakan salah satu komoditi yang menyumbang devisa paling
besar bagi Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari data BPS (Badan Pusat Statistik),
dimana jumlah total ekspor Indonesia pada bulan Januari 2009 adalah sebesar
US$ 7.280.109.646, jika dibandingkan dengan jumlah yang disumbangkan oleh
Crude Palm Oil (CPO) yang merupakan salah satu hasil pengolahan Tandan Buah
Segar (TBS) kelapa sawit adalah sebesar US$ 339.483.757 atau 4,46% dari total
nilai ekspor Indonesia pada bulan Januari 2009. Menurut data statistik Pusat
Penelitian Kelapa Sawit, perkiraan luas areal penanaman kelapa sawit di
Indonesia pada tahun 2009 adalah sebesar 7.125.331 ha dengan pembagian luas
kebun rakyat sebesar 3.300.481 ha, luas areal PTP sebesar 760.010 ha dan luas
areal milik swasta sebesar 3.064.840 ha, dan terus mengalami peningkatan setiap
tahunnya.
Pembibitan pendahuluan dapat dilakukan menanam kecambah di atas
bedengan atau di dalam kantong plastic kecil. Penggunaan bedengan tidak
dianjurkan karena pemeliharaan lebih sulit dan seleksi bibit tidak bisa intensif
serta banyak bibit yang rusak pada saat pemindahan ke kantong plastik besar.
Persiapan untuk pembibitan pendahuluan Bedengan dibuat dengan cara
meninggikan permukaan tanah atau membuat parit drainase pembatas selebar 50
cm dan dalam 15 20 cm sedemikian rupa sehingga terbentuk bedengan

Produksi Benih Tanaman Tahunan (PBT 153). 15

berukuran lebar yang dapat memuat 12 kantong plastik dan panjang 10 - 12 m.


Dalam Gambar dibawah disajikan contoh bedengan untuk menyusun kantong
plastik kecil.
Selanjutnya, diberi naungan dengan tiang 2 m dan atap dari pelepah daun
kelapa atau kelapa sawit sedemikian rupa hingga intensitas cahaya sekitar 40%.
Dapat juga menggunakan paranet yang meloloskan cahaya 40 % tetapi biayanya
menjadi mahal. Siapkan kantong plastik berukuran 15 x 20 cm dengan lobang di
bidang alas dan keliling sisi bagian bawah, lalu isi dengan tanah lapisan atas (top
soil), kemudian susun rapat di bedengan. Agar kantong plastik tidak rebah, diberi
penahan dari papan atau belahan bambu lihat gambar dibawah. Siram tanah dalam
kantong palstik setiap hari selama 2 3 hari sebelum penanaman kecambah supaya
tanah agak memadat.

Gambar polibeg untuk media tanam pre-nurseri


4. Bahan Dan Alat
Bahan yang digunakan adalah kecambah kelapa sawit, dithane m-45,
furadan.
Alat yang digunakan : tugal yang digunakan untuk membuat lubang
tanam, ember untuk menampung kecambah, gembor untuk menyiram
persemaiaan.
5. Prosedur kerja
Siapkan bahan dan alat yang akan digunakan

Produksi Benih Tanaman Tahunan (PBT 153). 16

Hitung jumlah polibag yang telah disusun didalam bedengan dan


disiram
Buat lubang tanam dengan jari tangan atau tugal (kayu), pada
bagian tengah media tanam
Tanam kecambah pada cubing tanam, dan tutup dengan tanah,
sekeliling lubang ditekan dengan jari
Taburkan furadan 3G pada permukaan media
6. Pustaka
Djudawi, S.D. 2006. Pedoman Pengendalian OPT Tanaman
Kelapa Sawit (Elais guineensis Jack).Direktorat Jenderal
Perkebunan.Jakarta.51 hal.

RANGKUMAN KEGIATAN PRAKTIKUM PRODUKSI BENIH


TANAMAN TAHUNAN (PBT 153)

Pertemuan Ke

:5

Unit Kompetensi

: Perawatan

Main-Nursery

Diluar

Jam

Praktikum
WaktuDan Tanggal

: Rabu 14 0ktober 2015

Tempat

: Lahan Praktikum Politeknik negeri lampung

1. Elemen kompetensi :
Mampu merawat bibit di main-nursery dengan baik
2. Teori
Pemeliharaan tanaman dimaksudkan untuk menciptakan kondisi lingkungan
tumbuh optimal bagi tercapainya pertumbuhan dan produksi optimal tanaman
yang dibudidayakan. Tindakan pemeliharaan kelapa swit meliputi penyiangan
gulma, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, serta penataan tajuk.
A. Penyiangan
Pengendalian gulma dalam pertanaman sawit mencakup areal sekitar piringan
dan gawangan (antar barisan tanaman). Tujuan pengendalian gulma di daerah
piringan adalah untuk mengurangi persaingan unsur hara, memudahkan

Produksi Benih Tanaman Tahunan (PBT 153). 17

pengawasan pemupukan, memudahkan pengumpulan brondolan, dan menekan


populasi

hama

tertentu.

Sedangkan

pengendalian

gulma

di

gawangan

dimaksudkan untuk menekan persaingan unsur hara dan air, memudahkan


pengawasan, dan jalan untuk pengangkutan saprodi dan panen. Pengendalian
gulma tidak dimaksudkan untuk membuat permukaan tanah bebas sama sekali
dari rumput (clean weeding), karena dapat menyebabkan erosi tanah. Tanaman
muda yang mempunyai tanaman penutup tanah yang baik praktis tidak
memerlukan penyiangan, hanya pada pinggiran atau tempat-tempat tertentu dan

tanaman perdu yang tumbuh liar. Dalam prakteknya, untuk kepentingan


pemilihan teknik pengendalian yang sesuai, gulma digolongkan atas empat
kelompok yaitu (a) paku-pakuan, (b) rumput-rumputan, (c) teki-tekian, dan
berdaun lebar.
B. Pemupukan
Waktu Pemupukan

Pemupukan dilakukan pada waktu hujan kecil, namun > 60 mm/bulan.

Pemupukan ditunda jika curah hujan kurang dari 60 mm per bulan.


Pupuk Dolomit dan Rock Phosphate diusahakan diaplikasikan lebih dulu
untuk memperbaiki kemasaman tanah dan merangsang perakaran, diikuti

oleh MOP (KCl) dan Urea/ZA.


Jarak waktu penaburan Dolomit/Rock Phosphate dengan Urea/ZA minimal

2 minggu.
Seluruh pupuk agar diaplikasikan dalam waktu 2 (dua) bulan. Frekuensi

pemupukan
Pemupukan dilakukan 2 3 kali tergantung pada kondisi lahan, jumlah

pupuk, dan umur kondisi tanaman.


Pemupukan pada tanah pasir dan gambut perlu dilakukan dengan frekuensi

yang lebih banyak.


Frekuensi pemupukan yang tinggi mungkin baik bagi tanaman, namun
tidak ekonomis dan mengganggu kegiatan kebun lainnya

3. Bahan dan alat

Produksi Benih Tanaman Tahunan (PBT 153). 18

Pada praktikumini bahan yang digunakan yaitu pupuk uria, bibit


kelapasawit
Alat yang digunakan yaitu cangkul, tugal arit.

4. Prosedur kerja
Setiap mahasiswa memiliki tanggung jawab merawat 9 tanaman

kelapa sawit yang ada di pembibitan main-nursery


Dilakukan pembersihan gulma jika gulma sudah mulai tumbuh
Dilakukan pemupukan sebanyak 5 gr/tanaman
Pemupukan 2 minggu sekali

5. Pustaka
Pahan, I.2010. Panduan lengkap Kelapa sawit. Managemen
Agribisnis dari hulu hingga hilir.Penebar Swadaya,
Jakarta. 403 hal.

Produksi Benih Tanaman Tahunan (PBT 153). 19

RANGKUMAN KEGIATAN PRAKTIKUM PRODUKSI BENIH


TANAMAN TAHUNAN (PBT 153)

Pertemuan Ke

:6

Unit Kompetensi

: pengajiran

Waktu Dan Tanggal

: Rabu Tanggal 21 oktober 2015

Tempat

: Lahan Praktikum Politeknik Negeri Lampung

1. Elemen kompetensi :
Mampu melakukan pengajiran dengan baik dan benar untuk menanam
sawit dilapang.
2. Teori
a. Jarak tanam.
Jarak tanam yang digunakan menentukan jumlah tanaman setiap satuan
luas (ha). Jarak tanam dipengaruhi oleh jenis tanah dan kesuburannya, kemiringan
lereng, dan varietas tanaman. Jarak tanam di tanah kurang subur lebih rapat
dibandingkan tanah subur, begitu pula jarak tanam di lahan gambut lebih rapat
dibandingkan di tanah mineral. Jarak tanam baku yang dianggap optimal adalah 9
x 9 m pada topografi datar. Jika digunakan system tanam bujur sangkar akan
dihasilkan populasi tanaman sebanyak 121 pohon, tetapi jika segitiga sama sisi
akan diperoleh 142 143 pohon/ha.
Sistem tanam segitiga dipandang lebih efisien dalam pemanfaatan ruang
dan sumberdaya lahan sehingga hasilnya lebih optimal. Hasil penelitian mutahir
para pemulia telah menghasilkan varietas kelapa sawit Dampi dengan susunan

Produksi Benih Tanaman Tahunan (PBT 153). 20

daun lebih rapat dan lebih pendek sehingga dapat ditanam lebih rapat. Jarak tanam
yang direkomendasikan adalah 8,5 x 8,5 m segitiga sama sisi. Akan tetapi, pada
lahan berlereng yang memerlukan terasering, tidak bisa lagi diterapkan sistem segi
tiga, tetapi mengarah ke empat persegi panjang. Di samping itu, ada juga yang
menyarankan jarak tanam 9,2 x 9,2 hingga 9,5 x 9,5 m dalam sistem tanam
segitiga sama sisi yang akan menghasilkan populasi tanaman antara 128 136
pohon/ha dan untuk lahan gambut dengan jarak tanam lebih rapat 8,8 x 8,8 m
segitiga (150 pohon/ha). Di lahan berlereng curam, jarak antar baris lebih besar,
tetapi varietas dengan pelepah lebih pendek dapat ditanam lebih rapat. Dalam
Tabel 5 disajikan beberapa contoh populasi tanaman/ha pada berbagai jarak
tanam.

Gambar : sketsa ukuran pengajiran sederhana

Produksi Benih Tanaman Tahunan (PBT 153). 21

Gambar : sket jarak tanam 9 x 9 m sama sisi

3. Prosedur kerja

Tentukan ajir induk


Tarik garis luar antara selatan ke utara
Jarak tanam di buat 90 cm
Tandai setiap titik
Tandai sudut 90 untuk baris kearah timur ke barat dengan rumus

A=B+C
Cari sudut 90 untuk arah berlawanan timur ke barat nya
4. Pustaka
http://perkebunan.litbang.pertanian.go.id/wpcontent/uploads/2011/01/perkebunan_budidaya_sawit.pdf

Produksi Benih Tanaman Tahunan (PBT 153). 22