Anda di halaman 1dari 8

Pendahuluan

Politik saat ini semakin menasibkan dirinya selalu berperan atas nama
kepentingan. Sebuah drama politik luar biasa hebat. Bias, kacau dan
membingungkan rakyat awam. Kebimbangan opini terhadap realitas yang beredar
di media televisi, cetak ataupun online makin menjadi-jadi. Polemik dan intrik
tidak berhenti disitu tetapi terus berlanjut dengan berbegai tuduhan dan sanggahan
dari masing-masing pihak. Sebenarnya apa yang mereka cari?
Pemandangan itu nampaknya tak akan usai dalam waktu dekat. Akhirnya
kita sebagai masyarakat hanya menunggu episode terakhir babak kehidup politik
ini. Apakah berakhir bahagia atau para tokoh utama sama-sama terhempas dan
akhirnya muncul tokoh baru. Menunggu yang tidak pasti tentunya karena ini
bukan skenarion sederhana seperti sebuah sinetron yang sangat mudah ditebak
alur dan akhir ceritanya.

Pembahasan
Dalam proses pencalonan nama calon Kapolri, Komjen Pol Budi Gunawan
sebagai calon tunggal, KPK justru menetapkan Komjen Pol Budi Gunawan
sebagai tersangka, dalam dugaan kasus penerimaan janji atau hadiah dan transaksi
mencurigakan. Namun demikian, meskipun KPK telah menetapkan calon Kapolri
sebagai tersangka oleh KPK, namun Komisi III DPR RI tetap melanjutkan proses
fit and proper test Komjen (Pol) Budi Gunawan sebagai calon Kapolri.

Terjadinya polemik akan pencalonan Komjen Budi Gunawan sebagai Kapolri dan
ketegangan antara KPK-Polri berikut kronologinya :
10 Januari 2015
Presiden Joko Widodo memilih Budi Gunawan sebagai kandidat tunggal Kapolri
menggantikan

Sutarman.

Keputusan

Jokowi mengundang

kritik karena

keterkaitan Budi dengan kasus rekening gendut pejabat Polri serta pengaruh
Megawati Sukarnoputri, karena Budi pernah menjadi ajudan Megawati saat ia
menjadi presiden.
13 Januari 2015
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengumumkan Budi Gunawan sebagai
tersangka korupsi saat ia menjabat Kepala Biro Pembinaan Karier Deputi Sumber
Daya Manusia Polri periode 2003-2006 dan jabatan lainnya di kepolisian. Ketua
KPK Abraham Samad mengatakan Komjen BG sejak lama sudah mendapatkan
catatan merah dari KPK.
14 Januari 2015
Budi Gunawan dinyatakan lulus uji kelayakan dan kepatutan oleh Komisi III
DPR.
15 Januari 2015
Rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menetapkan Komisaris
Jenderal Komjen Budi Gunawan sebagai calon kapolri menggantikan Jenderal
Sutarman, pada Kamis (15/01) siang. Keputusan sidang paripurna itu didukung
oleh delapan fraksi yaitu PDI-P, Golkar, Gerindra, PKS, PKB, Nasdem, Hanura,

dan PPP. Sementara Fraksi Demokrat dan PAN meminta DPR menunda
persetujuan dengan sejumlah pertimbangan, antara lain adanya penetapan
tersangka Budi Gunawan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
Pada periode ini, beredar foto-foto mesra yang diduga sebagai sebagai Ketua KPK
Abraham Samad dan Putri Indonesia 2014 Elvira Devinamira. Baik Elvira mau
pun Samad menyatakan foto-foto itu palsu.
19 Januari 2015
Budi Gunawan mendaftarkan gugatan pra peradilan terkait penetapan tersangka
atas dirinya oleh KPK ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
22 Januari 2015
Kuasa hukum Budi Gunawan melaporkan para komisioner KPK ke Badan
Reserse Kriminal Mabes Polri dengan tuduhan membocorkan rahasia negara
berupa laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK )
terhadap rekening Budi Gunawan dan keluarganya.
Pada hari yang sama, PLT Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto memberikan
pernyataan publik bahwa Abraham Samad pernah mengutarakan ambisi menjadi
calon wakil presiden dan bahwa Samad menuduh Budi Gunawan menggagalkan
ambisinya.
23 Januari 2015
Bareskrim Polri menangkap wakil ketua KPK Bambang Widjojanto dengan
tuduhan memerintahkan saksi sengketa pilkada Kotawaringin Barat bersumpah
palsu. Penangkapan dilakukan petugas bersenjata di hadapan anak Bambang.

Ratusan orang berdatangan ke gedung KPK untuk memberikan dukungan kepada


KPK. Pada malam harinya, Samad serta sejumlah tokoh masyarakat mendatangi
Bareskrim Mabes Polri menuntut pembebasan Bambang Widjojanto.
Pada hari yang sama, Presiden Joko Widodo menyatakan sikapnya terkait konflik
ini. Namun pernyataan Jokowi disambut kekecewaan oleh sebagian publik karena
dianggap tidak menyelesaikan masalah.
"Memastikan bahwa proses hukum yang ada harus obyektif dan sesuai aturan
Undang-Undang yang ada. Saya meminta sebagai kepala negara agar institusi
Polri dan KPK tidak terjadi gesekan dalam menjalankan tugas masing-masing,"
kata Jokowi saat itu.
Para pengamat bahkan mengkritik bahwa Jokowi tidak bertindak sebagai kepala
negara melainkan petugas partai.
24 Januari 2015
Wakil Ketua KPK Adnan Pandu Praja diadukan ke Bareskrim Polri atas dugaan
pemalsuan surat notaris dan penghilangan saham PT Desy Timber.
25 Januari 2015
Jokowi membentuk tim 9 untuk membantu mencarikan solusi ketegangan KPKPolri.
28 Januari 2015
Tim 9 mengusulkan kepada Presiden Joko Widodo untuk mencabut pencalonan
Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai Kapolri karena Budi sudah ditetapkan
KPK sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi.

"Kita harapkan tidak dilantik dan kemudian diajukan calon baru. Alasannya
karena dia telah berstatus tersangka sehingga bukan hanya rule of law tetapi
juga rule of ethics yang harus dijadikan pegangan, "kata Wakil Ketua Tim 9, Jimly
Asshidiqie, kepada Nuraki Aziz dari BBC Indonesia.
Tim bentukan presiden ini memberikan usulannya untuk mendesak Jokowi agar
segera bertindak agar keadaan negara tidak terombang-ambing.
26 Januari 2015
Wakil Ketua KPK Zulkarnaen dilaporkan ke Mabes Polri dengan tuduhan korupsi
dana hibah Program Penanganan Sosial Ekonomi Masyarakat (P2SEM) Jawa
Timur pada 2008.
2 Februari 2015
Sidang gugatan pra peradilan Budi Gunawan dimulai di Pengadilan Negeri Jakarta
Selatan.
16 Februari 2015
Majelis Hakim PN Jakarta Selatan mengabulkan gugatan Budi Gunawan dan
menyatakan penetapannya sebagai tersangka tidak sah dan tidak bersifat mengikat
secara hukum.

KESIMPULAN

Berdasarkan kasus diatas, dapat dikatakan bahwa pihak KPK pada dasar
hukumnya benar dapat menetapkan seseorang menjadi tersangka jika adanya bukti
yang kuat tetapi secara etika tidak seharusnya mengumbar berita tersebut kepada
media pers. KPK seharusnya terlebih dahulu menyerahkan semua bukti-bukti
tersebut kepada pengadilan. Dan pengadilan yang dapat memutuskan apakah Budi
Gunawan dapat ditetapkan sebagai tersangka dengan bukti yang dituduhkan oleh
KPK. Menjadikan media pers sebagai media pengumuman KPK tentunya salah
karena dalam hal ini Budi Gunawan ditetapkan KPK sebagai tersangka tanpa ada
bukti yang cukup sehingga Budi Gunawan mengajukan Pra-Peradilan.
Majelis

Dan

hakim mengabulkan gugatan Budi Gunawan dan menyatakan

penetapannya sebagi tersangka tidak sah.


Masyarakat umumnya telah dibuat bingung dengan keadaan ini. Seseorang
ditetapkan sebagai tersangka tanpa ada bukti yang kuat tetapi langsung dibeberkan
di pers. KPK merupakan komisi yang dipercaya Negara dan masyarakat untuk
memberantas korupsi. Kasus Budi Gunawan hendaknya menjadi pelajaran untuk
mengungkapkan seseorang itu sebagai tersangka hendaknya dibutuhkan bukti
yang kuat dan jelas. Jika orang tersebut terbukti benar tidak bersalah apa yang
harus diperbuat KPK ke depannya. Tentunya sebaiknya harus lebih berhati-hati.
Hukum dan etika hendaknya berjalan dengan sesuai.

Sumber :
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/02/150216_kronologi_bg_k
pk
http://nasional.tempo.co/read/news/2015/02/26/078645501/bertemu-bareskrimruki-diingatkan-kode-etik-kpk

Etika Profesi Dan Tata Kelola Korporat

Tugas Individu

Disusun oleh :
Peggy Anna Theodora Ambarita
(PPAk-0118-13)
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2015