Anda di halaman 1dari 21

KATA PENGANTAR

Puji syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Taufik dan Hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan Makalah Tentang Mineral Diamond.

Makalah ini merupakan salah tugas pada Matakuliah Mineral Industri dan menjadi salah Syarat akademik untuk melulusi Matakuliah Mineral Industri.

Semoga Makalah Ini dapat menjadi Sumber Informasi baik bagi Penyusun maupun bagi para pembaca yang membutuhkan sumber referensi sesuai dengan tema tersebut diatas. Semoga Makalah ini senantiasa memberikan manfaat untuk kita semua. Terima kasih

Kendari, 23 Januari2 016

Ahsan Hidayat

DAFTAR ISI

Kata Pengantar...............................................................................................i Daftar isi.........................................................................................................ii

BAB I

DIAMOND DALAM ILMU GEOLOGI.................................................1

1.1

Fakta tentang Diamond.....................................................................1

1.2

Sifat Fisik dan Kimia Diamond............................................................2

BAB 2 PROSES PEMBENTUKAN MINERAL DIAMOND.............................3

2.1

Lingkungan Tektonik Pembentukan Diamond....................................3

1)

Deposit Diamond di Mantel...............................................................3

2)

Deposit Diamond Pada Zona Subduksi..............................................4

3)

Deposit Diamond Pada Zona Impact (Tabrakan)................................5

4)

Diamond di Luar Angkasa..................................................................7

2.2

Batuan Host Mineralisasi Diamond....................................................7

  • 2.3 Batubara dan Diamond....................................................................14

BAB 3 KETERDAPATAN SERTA MANFAAT MINERAL DIAMOND............15

  • 3.1 Contoh Keterdapatan Diamond di Dunia.........................................15

  • 3.2 Manfaat Mineral Diamond...............................................................17

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

DIAMOND DALAM ILMU GEOLOGI

Diamond/Intan adalah mineral yang paling sulit terbentuk secara alami, diamond dalam Skala Mohs merupakan mineral dengan Kekerasan relatif dari 10. Diamond adalah mineral polimorf yang tersusun atas unsur karbon, selain itu juga mineral grafit, keduanya memiliki unsur kimia yang sama, C (carbon), akan tetapi memiliki struktur dan sifat yang sangat berbeda adapun perbedaan antara keduanya adalah sebagai berikut :

  • - Mineral diamond sangat keras dan padat sedangkan mineral Grafit lembut.

  • - Diamond adalah isolator listrik yang baik, sedangkan grafit adalah konduktor listrik yang baik.

  • - Diamond sangat kasar dan sifatnya abrasive (penggunaannya penting dalam bidang industri), sedangkan grafit memiliki sifat lembut yang digunakan sebagai pelumas yang sangat baik dalam bidang industri.

  • - Diamond transparan, grafit buram.

  • - Diamond memiliki sistem kristl isometric sedangkan grafitmemiliki system kristal heksagonal.

  • - Pada suhu permukaan dan tekanan grafit adalah bentuk stabil dari karbon. Bahkan, semua Diamond yang berada dekat permukaan bumi akan mengalami transformasi menjadi grafit, meskipun reaksi ini sangat lambat dan memakan waktu yang sangat lama.

  • 1.1 Fakta tentang Diamond

    • - Diamond adalah transparan pada rentang yang lebih besar dari panjang gelombang dari zat lain, dari ultra violet ke dalam infra- merah

    • - Diamond dapat menghantarkan panas lebih baik dari mineral lain, dimana Diamond lima (5) kali lebih baik.

    • - Diamond memiliki titik leleh paling tinggi dari mineral apapun (3820 derajat Kelvin).

    • - Susunan atom Diamond lebih dikemas lebih dekat dan padat dibandingkan dengan mineral substansi.

    • - Diamond hanya terbentuk pada tekanan tinggi. Seperti yang ditemukan pada batuan kimberlite yang merupakan jenis batuan beku

ultrabasa yang terbentuk pada tekanan yang tinggi serta pada

 

kedalaman > 150 km.

1.2

Sifat Fisik dan Kimia Diamond

 

Tabel 2.1

Deskripsi sifat Fisika dan Kimia Diamond

Komposisi Kimia

C (Carbon)

 

Kekerasan

10

 

Berat Jenis

3.5

 

Transparansi

Transparant

 
 

Cenderung ke arah kuning pucat, cokelat, abu-

 

Warna

abu, dan juga putih, biru, hitam, kemerahan,

 

kehijauan

Cerat

Putih

Kilap

Adamantine berminyak

 

Sempurna di 4 arah berbentuk octahedrons/

 

Belahan/Fracture

Conchoidal

 

Prismatic (bentuk isometrik

seperti kubus dan

Habbit/Perawakan

octahedrons)

(B)

(A) (C)

Gambar 1.1 Diamond Yang dijumpai Pada Batuan Kimberlit (A dan B),

Kenampakan

Native Diamond dengan bentuk yang bervariasi (C)

BAB 2

PROSES PEMBENTUKAN MINERAL DIAMOND

Banyak orang percaya bahwa Diamond terbentuk dari hasil

metamorfosis batubara. Hal ini masih menjadi perdebatan dikalangan setiap

orang. Batubara tidak berhubungan dengan pembentukan Diamond.

Bahkan, hal ini terbukti dari informasi bahwa sebagian besar Diamond yang

dijumpai memiliki umur lebih tua dari tanaman darat pertama Bumi sebagai

bahan sumber batubara. Itulah alasan yang membuktikan bahwa Diamond

tidak berhubungan dengan Batubara. Selain itu Batubara merupakan batuan

sedimen terendapkan secara horizontal atau hampir horizontal sedangkan

2

Diamond umumnya selalu dijumpai pada Dike (Vertical pipe) yang diisi

dengan batuan beku.

Diamond umumnya selalu dijumpai pada Dike (Vertical pipe) yang diisi dengan batuan beku. Gambar 2.1 Kontrollamproite yang dicari oleh prospectors Diamond, serta pada batuan kimberlit yang telah mengalami pelapukan dan terkikis dapat dijumpai dalam sedimen (placer) dan deposit sungai serta garis pantai. Pembentukan Diamond membutuhkan suhu dan tekanan yang sangat tinggi. Kondisi ini terjadi di zona mantel sekitar 90 mil (150 kilometer) di bawah permukaan di mana derajat Celsius). suhu setidaknya 2.000 derajat Fahrenheit (1.050 3 " id="pdf-obj-4-6" src="pdf-obj-4-6.jpg">

Gambar 2.1 Kontrol Tektonik Pada Proses Pembentukan Diamond

Empat lokasi tektonik Pembantukan mineral Diamond hampir semua

telah ditemukan di dekat permukaan bumi. Yang disebabkan oleh letusan

gunung berapi yang membawa material dari mantel ke permukaan akibat

proses eksplosive dari magma yang kaya akan gas. Material eksplosive hasil

erupsi gunung api terdiri dari fragmen batuan yang berasal dari mantel

yang mengandung Xenolith yaitu Diamond kemudian terendapkan di

permukaan.

  • 2.1 Lingkungan Tektonik Pembentukan Diamond

1) Deposit Diamond di Mantel

Ahli

geologi

percaya

bahwa

semua

deposit

Diamond

di

bumi

terbentuk di

mantel dan sampai ke permukaan melalui erupsi letusan

gunung berapi. Letusan ini menghasilkan kimberlite dan pipa lamproite

yang dicari oleh prospectors Diamond, serta pada batuan kimberlit yang

telah mengalami pelapukan dan terkikis dapat dijumpai dalam sedimen

(placer) dan deposit sungai serta garis pantai.

Pembentukan Diamond membutuhkan suhu dan tekanan yang sangat tinggi.

Kondisi ini terjadi di zona mantel sekitar 90 mil (150 kilometer) di bawah

permukaan

di

mana

derajat Celsius).

suhu setidaknya 2.000 derajat

Fahrenheit (1.050

Gambar 2.2 Proses Pembentukan Diamond di mantel dan terdepositkan kepermukaan Diamonds terbentuk dan disimpan dalam "zona

Gambar 2.2 Proses Pembentukan Diamond di mantel dan terdepositkan

kepermukaan

Diamonds terbentuk dan disimpan dalam "zona stabilitas diamond"

yang dikirim ke permukaan bumi melalui Erupsi letusan gunung berapi.

Letusan ini merobek potongan mantel dan membawa Batuan di mantel

dengan cepat ke permukaan (3), Lihat Lokasi 1 dalam gambar di atas dan

adalah Jenis letusan gunung berapi yang sangat langka dan belum terjadi

sejak para ilmuwan telah mampu mengenali jenis letusan tersebut.

2) Deposit Diamond Pada Zona Subduksi

Zona subduksi terjadi pada batas lempeng Convergen dimana salah

satu lempeng menunjang ke dalam mantel. Bagian yang menunjam turun

akan mengalami peningkatan suhu dan tekanan. Diamond telah ditemukan

pada batuan yang diperkirakan telah ter-subduksi dan kemudian kembali ke

permukaan. Jenis batuan yang mengandung diamond sudah sangat langka

dijumpai pada proses ini dan tidak cocok untuk penggunaan komersial

Sebagian kecil Diamond telah ditemukan di bebatuan yang

diperkirakan telah menunjam jauh ke mantel oleh proses Subduksi

Kemudian kembali ke permukaan Diamond diperkirakan terbentuk pada

zona subduksi pada kedalaman 50 mil (80 kilometer) di bawah permukaan

dan pada temperatur serendah 390 derajat Fahrenheit (200 derajat Celsius).

Dalam studi lain, Diamond dari Brazil ditemukan mengandung inklusi

mineral kecil konsisten dan berasosiasi dengan mineralogi kerak samudera

(8). Lainnya memiliki inklusi yang menunjukkan bahwa air laut pada zona

subduksi terlibat dalam pembentukan Diamond (9).

mineral kecil konsisten dan berasosiasi dengan mineralogi kerak samudera (8). Lainnya memiliki inklusi yang menunjukkan bahwaasteroid yang jatuh, Ketika asteroid ini jatuh ke bumi suhu ekstrim dan tekanan yang dihasilkan. Sebagai contoh: ketika asteroid dengan lebar 6 mil (10 kilometer) menghantam bumi, dengan kecepatan sampai dengan 9-12 mil per detik (15 sampai 20 kilometer per detik). Setelah tabrakan, batuan pada kerak akan mengalami hypervelocity dan menghasilkan energi 5 " id="pdf-obj-6-8" src="pdf-obj-6-8.jpg">

Gambar 2.3 Zona subduksi terjadi pada batas lempeng Convergen

Apakah batubara yang terlibat? Batubara adalah sumber karbon yang

mungkin dapat mmbentuk diamond. Namun, lempeng samudera lebih

mungkin sebagai batuan sumber pada proses subduksi dari lempeng benua

karena memiliki densitas yang lebih tinggi. Sumber karbon yang paling

mungkin dari subduksi dari lempeng samudera adalah batuan karbonat

seperti batu gamping, marmer dan dolomit dan mungkin partikel sisa-sisa

tanaman dalam sedimen lepas pantai.

3) Deposit Diamond Pada Zona Impact (Tabrakan)

Sepanjang sejarahnya, Bumi telah berulang kali mengalami tabrakan

dengan .asteroid yang jatuh, Ketika asteroid ini jatuh ke bumi suhu ekstrim

dan tekanan yang dihasilkan. Sebagai contoh: ketika asteroid dengan lebar

6 mil (10 kilometer) menghantam bumi, dengan kecepatan sampai dengan

9-12 mil per detik (15 sampai 20 kilometer per detik). Setelah tabrakan,

batuan pada kerak akan mengalami hypervelocity dan menghasilkan energi

dan terjadi ledakan yang setara dengan jutaan senjata nuklir dan suhu lebih

panas dari permukaan matahari (5).

kondisi Suhu dan tekanan tinggi dari dampak yang ditimbulkan lebih

dari cukup untuk membentuk Diamond. Teori pembentukan Diamond telah

didukung oleh penemuan Diamond kecil di sekitar beberapa situs dampak

tabrakan asteroid. Lihat Lokasi 3 Pada Gambar dibawah ini

dan terjadi ledakan yang setara dengan jutaan senjata nuklir dan suhu lebih panas dari permukaan matahariPopigai Kawah di Siberia Utara, Rusia. Bumi telah berulang kali dilanda asteroid sepanjang sejarahnya. asteroid ini memukul dengan sangat keras yang menyebabkan kondisi hampir sama pada mantel yaitu memiliki tekanan dan suhu yang cukup tinggi untuk membentuk Diamond. Jika target batu mengandung karbon kondisi yang diperlukan untuk membentuk Diamond mungkin terjadi dalam wilayah dampak. Jenis Diamond yang langka dan tidak memainkan peran penting dalam penambangan Diamond komersial. Diamond dengan ukuran kecil telah ditemukan pada lokasi tabrakan asteroid di Arizona. Industri Diamond polikristalin hingga dalam ukuran 13 milimeter telah ditambang di Popigai Kawah di utara Siberia, Rusia. Apakah batubara yang terlibat? Batubara bisa hadir di daerah sasaran dari dampak tersebut dan bisa dijadikan sebagai sumber karbon Diamond. Batugamping, dolomit dan batuan yang mengandung unsur karbon lainnya juga merupakan sumber karbon potensial untuk membentuk diamond. 6 " id="pdf-obj-7-14" src="pdf-obj-7-14.jpg">

Gambar 2.4 Pembentukan Diamond pada Zona Impact

Diamond telah ditemukan di dalam dan sekitar kawah dari banyak

tempat-tempat yang terkena dampak tabrakan asteroid. Sebuah contoh

yang baik adalah Popigai Kawahdi Siberia Utara, Rusia. Bumi telah berulang

kali dilanda asteroid sepanjang sejarahnya. asteroid ini memukul dengan

sangat keras yang menyebabkan kondisi hampir sama pada mantel yaitu

memiliki tekanan dan suhu yang cukup tinggi untuk membentuk Diamond.

Jika target batu mengandung karbon kondisi yang diperlukan untuk

membentuk Diamond mungkin terjadi dalam wilayah dampak. Jenis

Diamond yang langka dan tidak memainkan peran penting dalam

penambangan Diamond komersial.

Diamond dengan ukuran kecil telah ditemukan pada lokasi tabrakan

asteroid di Arizona. Industri Diamond polikristalin hingga dalam ukuran 13

milimeter telah ditambang di Popigai Kawah di utara Siberia, Rusia.

Apakah batubara yang terlibat? Batubara bisa hadir di daerah sasaran

dari dampak tersebut dan bisa dijadikan sebagai sumber karbon Diamond.

Batugamping, dolomit dan batuan yang mengandung unsur karbon lainnya

juga merupakan sumber karbon potensial untuk membentuk diamond.

4) Diamond di Luar Angkasa

Peneliti NASA telah mendeteksi sejumlah besar nano-diamond di

beberapa meteorit (nanodiamonds adalah Diamond yang memiliki ukuran

diameter beberapa nanometer- billionths meter). Sekitar tiga persen dari

karbon dalam meteorit tersebut mengandung beberapa bentuk

nanodiamonds. Diamond ini terlalu kecil untuk digunakan sebagai permata

atau industry lain,

Peneliti Smithsonian juga menemukan sejumlah besar Diamond kecil

ketika mereka memotong sampel meteorit dari Allen Hills (7). Diamond di

meteorit diperkirakan telah terbentuk di ruang angkasa melalui kecepatan

tinggi tabrakan mirip dengan bagaimana Diamond terbentuk di Bumi.

Apakah

batubara

yang

terlibat?

Batubara

tidak

terlibat

dalam

penciptaan Diamond tersebut. Sumber karbon bukan berasal dari bumi.

  • 2.2 Batuan Host Mineralisasi Diamond

- Kimberlit

Kimberlit

adalah

batuan

beku

yang

dikenal

dalam dunia

pertambangan dan geologi sebagai batuan yang mengandung berlian.

Namanya sendiri berasal dari nama

sebuah

kota

di

Afrika Selatan,

Kimberley, di mana pada tahun 1871 di kota tersebut ditemukan berlian

dengan kadar 83.5 karat(16.70 g).

4) Diamond di Luar Angkasa Peneliti NASA telah mendeteksi sejumlah besar nano-diamond di beberapa <a href=meteorit (nanodiamonds adalah Diamond yang memiliki ukuran diameter beberapa nanometer- billionths meter). Sekitar tiga persen dari karbon dalam meteorit tersebut mengandung beberapa bentuk nanodiamonds. Diamond ini terlalu kecil untuk digunakan sebagai permata atau industry lain, Peneliti Smithsonian juga menemukan sejumlah besar Diamond kecil ketika mereka memotong sampel meteorit dari Allen Hills (7). Diamond di meteorit diperkirakan telah terbentuk di ruang angkasa melalui kecepatan tinggi tabrakan mirip dengan bagaimana Diamond terbentuk di Bumi. Apakah batubara yang terlibat? Batubara tidak terlibat dalam penciptaan Diamond tersebut. Sumber karbon bukan berasal dari bumi. 2.2 Batuan Host Mineralisasi Diamond - Kimberlit Kimberlit adalah batuan beku yang dikenal dalam dunia pertambangan dan geologi sebagai batuan yang mengandung berlian. Namanya sendiri berasal dari nama sebuah kota di Afrika Selatan, Kimberley, di mana pada tahun 1871 di kota tersebut ditemukan berlian dengan kadar 83.5 karat(16.70 g). Gambar 2.5 Sampel batuan Kimberlit. Kimberlit biasanya hadir pada kerak bumi dalam struktur vertikal yang dikenal sebagai kimberlites pipes, dan juga 7 " id="pdf-obj-8-95" src="pdf-obj-8-95.jpg">

Gambar 2.5 Sampel batuan Kimberlit.

Kimberlit biasanya hadir pada kerak bumi dalam struktur vertikal

yang

dikenal

sebagai kimberlites

pipes,

dan

juga

berupa dyke dan sills. Kimberlit terbentuk pada bagian mantel bumi pada

kedalaman sekitar 150 dan 450 km(93 dan 280 mil), secara potensial

terbentuk dari komposisi mantel bumi yang bersifat eksotik, dan dierupsikan

secara berulang-ulang dan terus-menerus, seringkali disertai dengan

kehadiran komponen karbon dioksida dan material volatil. Faktor kedalaman

dari zona peleburan dan pembentukannyalah yang mengakibatkan kimberlit

sangat potensial untuk menjadi batuan yang

mengandung xenochrist berlian.

berupa dyke dan sills. Kimberlit terbentuk pada bagian mantel bumi pada kedalaman sekitar 150 dan 450

Gambar 2.6 Model keterdapatan kimberlite pipes.

Proses pergerakan erupsi magma kimberlitik dari mantel bumi bagian

dalam hingga menuju ke dekat permukaan masih merupakan topik yang

banyak diperbincangkan para geologis. Penelitian pada tahun 2012 yang

dilakukan oleh Profesor Donald Dingwell, Direktur Departemen Geologi dan

Lingkungan LMU, akhir-akhir sedikit member titik terang bagaimana magma

kimberlitik mendapatkan sifat mengapungnya(buoyancy). Model

percobaannya menjelaskan bahwa mineral yang berasimilasi dengan

magma dari mantel bagian dalam yang bergerak ke atas adalah yang

bertanggung jawab dalam memberikan impetus yang dibutuhkan. Magma

primordialnya pada awalnya bersifat basa, namun dengan adanya

inkorporasi dari mineral silikat yang ditemui selama proses pergerakan ke

atasnya menyebabkan peleburan lebih bersifat asam. Hal ini menyebabkan

pelepasan karbon dioksida dalam bentuk gelembung-gelembung, yang

mereduksi densitas peleburan, yang secara esensial menyebabkannya

berbuih. Hasilnya adalah meningkatnya kemampuan magma untuk

mengapung, yang mendukung pergerakannya ke arah atas.

Kebanyakan kimberlit yang telah ditemukan memiliki umur 70 hingga

150 juta tahun yang lalu, namun beberapa di antaranya ada yang berumur

hingga 1.200 juta tahun yang lalu. Pada umumnya, kimberlit ditemukan

hanya di daerah kratonik, kerak benua tertua yang masih terjaga, yang

membentuk nukleus tubuh daratan benua yang tetap tidak terubah secara

virtual sejak pembentukannya. Magma kimberlitik seperti yang telah

dijelaskan sebelumnya terbentuk pada kedalaman lebih dari 150 km, suatu

kedalaman yang relatif lebih besar dari pada kebanyakan batuan vulkanik

lainnya. Temperatur dan tekanan yang ada di zona tersebut sangat tinggi

sehingga karbon dapat terkristalisasi membentuk berlian. Saat magma

kimberlitik ini didorong melalui corong panjang seperti pipa oleh proses

vulkanisme, seperti air di dalam selang yang ujungnya dipersempit,

velositasnya akan meningkat secara signifikan dan berlian yang terbentuk

akan tertransportasi ke arah atas seakan-akan dibawa oleh elevator. Itu

sebabnya kimberlite pipes adalah lokasi ekstraksi berlian yang paling utama

di dunia. Namun berlian bukan satu-satunya penumpang pada magma

kimberlitik. Kimberlit juga akan membawa banyak jenis lain dari batuan

yang dijumpainya selama perjalan menuju ke arah permukaan.

Meskipun terdapat ”beban ekstra” magma kimberlit tertransport

secara cepat, dan naik ke permukaan melalui erupsi eksplosif. Menurut

Profesor Dingwell gas volatil seperti karbon dioksida dan uap air memainkan

peran utama dalam memberikan sifat apung yang memungkinkan magma

kimberlitik untuk terus bergerak ke arah atas. Namun asal-usul dari gas

volatil ini di dalam magma, masih menurut Profesor Dingwell, belum begitu

jelas. Melalui percobaan laboraterium yang dikondisikan pada suhu tinggi

yang sesuai dengan keadaan pembentukan magma kimberlitik, tim peneliti

yang dipimpin Profesor Dingwell dapat mendemonstrasikan pentingnya

proses asimilasi xenoliths dalam proses tersebut. Magma primordial yang

ditemukan pada interior bumi bagian dalam dianggap bersifat basa karena

pada umumnya ia terdiri dari komponen pembawa karbonat, yang juga

dapat memiliki proporsi air yang relatif tinggi. Saat magma mengalami

kontak dengan batuan kaya silika, mereka secara efektif terlarutkan dalam

fase cair, yang mengakibatkan pengasaman proses peleburan. Seiring

dengan makin meningkatnya jumlah silika yang terinkorporasi, level saturasi

karbon dioksida yang terlarut di dalam cairan secara progresif akan

meningkat seiring dengan solubilitas karbon dioksida yang menurun. Saat

cairan bersaturasi tinggi, kelebihan unsur karbon dioksida akan membentuk

gelembung-gelembung. Hasilnya proses pembuihan magma yang berlanjut,

yang dapat mengurangi viskositas dan secara komprehensif meningkatkan

kemampuan mengapung memberikan tenaga untuk erupsi yang sangat

intensif sehingga memungkinkan magma kimberlitik mencapai permukaan.

Semakin cepat magma bergerak ke arah atas, semakin banyak silikat yang

terikut dalam aliran, dan semakin tinggi konsentrasi silikat yang terlarut,

sehingga pada akhirnya jumlah karbon dioksida dan uap air yang terlepas

mendorong cairan panas ke atas dengan tenaga yang besar, seperti roket.

  • - Morfologi & Vulkanologi Banyak kimberlit tergenerasikan dengan bentuk menyerupai wortel,

berupa intrusi vertical yang disebut pipes. Bentuk klasik kimberlit yang

menyerupai bentuk wortel ini dapat terbentuk oleh karena proses intrusi

kompleks dari magma kimberlitik yang mewarisi proporsi besar dari

CO2(jumlah H20 yang lebih kecil) pada sistem pembentukannya, yang

memproduksi fase-fase peleburan eksplosif dalam yang menyebabkan

jumlah signifikan dari intrusi vertical(Bergman, 1987). Klasifikasi kimberlit

didasarkan pada pengenalan fasies batuan yang berbeda. Fasies-fasies yang

berbeda ini diasosiasikan dengan aktivitas magmatic tertentu, yang

didefiniskan antara lain sebagai crater, diatremem, dan

batuan hypabyssal(Clement dan Skinner 1985, dan Clement, 1982).

terikut dalam aliran, dan semakin tinggi konsentrasi silikat yang terlarut, sehingga pada akhirnya jumlah karbon dioksida

Gambar 2.7 Penjelasan skema fasies diatremei pada kimberlite pipes.

Morfologi

dari kimberlite

pipes,

dan

bentuk

klasiknya

yang

menyerupai wortel, adalah hasil vulkanisme eksplosif diatreme dari sumber

mantel bumi yang sangat dalam. Eksplosi vulkanik ini menghasilkan kolom

batuan yang bergerak ke atas dari sumbernya yang berupa magma pada

bagian mantel dalam. Morfologi kimberlite pipes bervariasi namun secara

umum termasuk mencakup komplek dykes sheeteddari tubuh batuan

berbentuk tabular. Pada kedalaman 1.5-2 km(0.93-1.24 mil) dari permukaan,

magma bertekanan tinggi ini akan tereksplosi ke arah atas dan

mengembang membentuk diatremei yang berdimensi menyerupai konikal

atas silinder, yang kemudian akan terus dierupsikan ke permukaan. Ekspresi

permukaan akibat fenomena yang dijabarkan sebelumnya ini sangat jarang

terawetkan, sebaliknya apa yang banyak dijumpai dari sisa fenomena

tersebut adalah gunung api maar. Diameter kimberlite pipes pada

permukaan biasanya bisa mencapai ratusan meter hingga beberapa

kilometer(mencapai hingga 0.6 mil).

Dua dykes kimberlit berumur jura

ditemukan di daerah Pensylvania. Salah satunya, dykes Gates-Adah,

tersingkap di sekitar Sungai Monongahela pada perbatasan antara Daerah

Fayette dan Greene. Dykes Kimberlit lainnya, Dixonville-Tanoma di Daerah

Indiana tengah, tidak tersingkap ke permukaan dan ditemukan oleh para

penambang.

-

Petrologi

Baik lokasi dan proses pembentukan dari magma kimberlitic masih

menjadi penelaahan yang terus berlanjut. Pengayaan unsur ekstrem dan

aspek geokimianya telah mengundang spekulasi besar mengenai proses

pembentukannya, dengan variasi model pembentukan yang menempatkan

area generasi kimberlit di mantel litosfer sub-kontinen(sub-continental

lithospheric mantle, SCLM) atau hingga sedalam zona transisi. Mekanisme

pengayaan unsur yang dijumpai pada kimberlit juga menjadi topik yang

menarik perhatian yang mencakup model peleburan parsial, asimilasi

sedimen tersubduksi atau asal usul sumber magma primer.

Secara historis, kimberlit dibagi menjadi dua varietas berbeda yang

diberi terminologi basaltik atau micaceous yang didasarkan pada

pengamatan petrografi(Wagner, 1914). Di kemudian hari ini direvisi oleh

Smith(1983) yang menamakannya ulang menjadi kimberlit Grup 1 dan Grup

2 berdasarkan afinitas isotopik dari batuan-batuan ini menggunakan sistem

Nd, Sr, dan PB. Mitchell(1995) kemudian mengajukan pandangan bahwa

kimberlit grup 1 dan grup 2 memperlihatkan perbedaan yang sangat

kentara, sehingga keduanya sepertinya tidak berelasi secara dekat seperti

yang telah dipertimbangkan sebelumnya. Dia menunjukkan jika kimberlit

grup 2 memperlihatkan affnitas yang lebih dekat ke lamproites dari pada ke

kimberlit grup 1. Oleh karenanya, Ia mereklasifikasi kimberlit grup 2 menjadi

orangeites untuk mencegah kebingungan.

  • a. Kimberlite Grup 1

Kimberlit grup 1 adalah batuan beuka potasik ultramafik yang kaya

akan CO2 dan didominasi oleh susunan mineral olivine forsteritik, ilmenit

magnesian, kromium pyrope, alamandine-pyrope, chromium diopside(pada

beberapa kasus subcalcik), phlogopite, enstatite, dan chromit yang miskin

unsur Ti. Kimberlit grup 1 mempertunjukkan tekstur inequigranular khas

yang disebabkan kehadiran fenokris olivine, pyrope, chromian diopside,

ilmenit magnesian dan phlogopite dengan ukuran makrokristik(0.5-10 mm)

hingga megakristik(10-200 mm) pada masa dasar dengan ukuran halus

hingga medium. Mineralogi masa dasar, yang lebih menyerupai komposisi

asli batuan beku, mengandung olivine forsteritik, pyrope garnet, Cr-diopside,

ilmenit magnesian dan spinel.

  • b. Lamproite Olivine

Olivine lamproite sebelumnya diberi nama kimberlit grup 2 atau

orangeites setelah sebelumnya secara salah dianggap hanya hadir di Afrika

Selatan. Kehadiran dan aspek petrologinya, kendati demikian, secara global

identik dan seharusnya tidak direferensi secara salah sebagai kimberlit.

Olivin lamproites adalah batuan peralkalin ultrapotasik yang kaya akan

unsur volatile(dominan H20). Karakteristik yang berbeda dari olivine

lamproites adalah phlogophite makrokris dan mikrophenocris, bersama

masa dasar mika yang bervariasi komposisinya dari phlogopit hingga

tetraferiphlogopit(anomaly phlogopit yang miskin AI sehingga

membutuhkan Fe untuk mesuk ke system tetrahedral). Olivin makrokris dan

Kristal primer euhedral dari masa dasar olivine bersifat umum namun bukan

konstituen esensial.

Fase karakteristik primer yang ada pada masa dasar mencakup:

pirokesen yang terzonasi(inti dari diopside yang dikelilingi Ti-aegirin);

mineral grup spinel(chromite magnesian hingga magnetit titaniferus);

perovskit kaya Sr dan REE, apatit kaya SR, phosphate kaya REE(monazite,

daqingshanenite), grup mineral potasian barian holandit, rutile pembawa Nb

dan ilmenit pembawa Mn.

  • - Mineral Indikator Kimberlit Kimberlit adalah batuan beku unik karena mengandung varietas

spesies mineral dengan komposisi kimia yang mengindikasikan bahwa ia

terbentuk pada keadaan tekanan dan temperatur tinggi di dalam mantel.

Mineral-mineral ini antara lain adalah diopside chromium(piroksen), spinel

chromium, ilmenit magnesian, dan garnet pyrope yang kaya akan

chromium. Pada umumnya mineral-mineral yang disebutkan ini tidak

dijumpai pada kebanyakan batuan beku, membuatnya menjadi indikator

yang berguna untuk kimberlit. Mineral-mineral indikator ini pada umumnya

akan dicari pada sedimen modern di endapan alluvial. Kehadirannya dapat

mengindikasikan kehadiran kimberlit.

  • - Geokimia

Aspek geokimia dari kimberlit didefinisikan dengan parameter-parameter

berikut:

Ultramafik

MgO > 12 % dan pada umumnya > 15 %

Ultrapotasik

Molar K2O/Al2O3 > 3

Pengayaan REE

dari unsur LILE,ΣLILE

LILE

Ni(>400 ppm), Cr(>1000 ppm), Co(>150

ppm)

Pengayaan menengah hingga tinggi

= >1,000 ppm

=Large ion lithopolite elements

Kaya kandungan H20 dan CO2

2.3

Batubara dan Diamond

Bukti paling meyakinkan bahwa batubara tidak memainkan peran

dalam pembentukan paling Diamond adalah perbandingan antara usia

Diamond Bumi dan usia tanaman darat awal.

Hampir setiap Diamond yang telah tertanggal terbentuk selama Masa

Prakambrium (sekitar 4.600 juta tahun yang lalu) dan awal periode

Kambrium (sekitar 542 juta tahun yang lalu). Sebaliknya, tanaman darat

awal tidak muncul di Bumi sampai sekitar 450 juta tahun yang lalu - hampir

100 juta tahun setelah pembentukan hampir semua Diamond.

BAB 3

KETERDAPATAN SERTA MANFAAT MINERAL DIAMOND

  • 3.1 Contoh Keterdapatan Diamond di Dunia

    • 1. Crater of Diamonds State Park Tambang Diamond ini terletak dekat Murfreesboro, Diamond

Umumnya dijumpai berasosiasi dengan mineral Amethyst, Jasper, Garnet,

Peridotit, Hematit. Diamond dijumpai sebagai native elemen pada endapan

sedimenter/Residual.

BAB 3 KETERDAPATAN SERTA MANFAAT MINERAL DIAMOND 3.1 Contoh Keterdapatan Diamond di Dunia 1. Crater ofHematit . Diamond dijumpai sebagai native elemen pada endapan sedimenter/Residual. Gambar 3.1 Peta Lokasi Tambang Diamond Creater Diamond State Park, Arkansas USA (Citra Google Earth,2016) Diamonds pertama kali ditemukan di lokasi ini pada tahun 1906 ketika John Huddlestone menemukan dua kristal aneh di tanah pertaniannya. Dia tidak menyadari bahwa lahan tempat pertanianya berada tepat di atas Pipa vulkanik (Vulcanic Pipe) yang terdiri dari batuan Kimberlit yaitu jenis batuan beku Plutonik ultrabasa. Keterdapatan mineral Diamond adalah sebagai Xenolith atau Accesory mineral pada batuan Kimberlit. ahli geologi dari Survei Geologi Arkansas (Arkansas State Geological Survey) menduga bahwa Diamond mungkin tebentuk pada batuan Peridotit yang terletak pada tanah daerah dekat Murfreesboro karena sangat mirip dengan tanah di atas Afrika. 15 " id="pdf-obj-16-20" src="pdf-obj-16-20.jpg">

Gambar 3.1 Peta Lokasi Tambang Diamond Creater Diamond State Park,

Arkansas USA (Citra

Google Earth,2016)

Diamonds pertama kali ditemukan di lokasi ini pada tahun 1906

ketika John Huddlestone menemukan dua kristal aneh di tanah

pertaniannya. Dia tidak menyadari bahwa lahan tempat pertanianya berada

tepat di atas Pipa vulkanik (Vulcanic Pipe) yang terdiri dari batuan Kimberlit

yaitu jenis batuan beku Plutonik ultrabasa. Keterdapatan mineral Diamond

adalah sebagai Xenolith atau Accesory mineral pada batuan Kimberlit. ahli

geologi dari Survei Geologi Arkansas (Arkansas State Geological Survey)

menduga bahwa Diamond mungkin tebentuk pada batuan Peridotit yang

terletak pada tanah daerah dekat Murfreesboro karena sangat mirip dengan

tanah di atas Afrika.

(A)

(B)

Gambar 3.2 (A) Aktivitas Tambang Diamond Creater Diamond, (B) Conto

Asosiasi

Keterdapatan Diamond, State Park Arkansas USA

Genesa Diamond di Arkansas Menjadi perhatian ahli geologi. Dimana

dari hasil survey yang dilakukan dijelaskan bahwa pada Sekitar 100 juta

tahun yang lalu terjadi letusan gunung berapi di daerah Murfreesboro yang

membawa material dari mantel cepat ke permukaan akibat proses

eksplosive dari magma yang kaya akan gas. Material eksplosive hasil erupsi

gunung api terdiri dari fragmen batuan yang berasal dari mantel yang

mengandung Xenolith yaitu Diamond kemudian terendapkan di permukaan.

2. The Big Hole Kimberley (Afrika Selatan)

The Big Hole atau Kimberley Mine, awalnya disebut sebagai

Colesberg. Dimana tambang terbuka di Kimberley, Afrika Selatan ini diklaim

sebagai lubang terbesar yang pernah digali dengan tangan. Berlian pertama

di sini adalah ditemukan oleh anggota-anggota "Partai Cap Merah" dari

Colesberg, dan selanjutnya klaim perebutan menuju ke tempat yang disebut

New Rush, kemudian berganti nama menjadi Kimberley. Dari pertengahan

Juli 1871-1914 hingga 50.000 penambang menggali lubang dengan

menggunakan sekop dan menghasilkan 2.720 kilogram (6.000 lb) berlian.

Big Hole memiliki permukaan seluas 17 hektar (42 hektar) dan 463

meter (1.520 kaki) lebar. Digali hingga kedalaman 240 meter (790 kaki),

sebagian puing-puing infilled telah mengurangi kedalaman sekitar 215

meter (710 kaki) sejak saat itu telah mengumpulkan air ke tingkat 40 meter

(130 kaki) di bawah permukaan tanah sekitarnya. Saat ini sedang

berlangsung upaya untuk mendaftarkan Big Hole sebagai Situs Warisan

Dunia.

Gambar 3.3 Kawah Hasil Bukaan Aktivitas Penambangan Diamond di Afrika Selatan Lubang itu awalnya digali sedalam

Gambar 3.3 Kawah Hasil Bukaan Aktivitas Penambangan Diamond di Afrika

Selatan

Lubang itu awalnya digali sedalam 1.097 meter yang akan

membuatnya menjadi lubang terbesar dalam sejarah. Karena cuaca alam,

lubang itu ditutupi oleh batu-batu dan hujan sampai dengan kedalaman

hanya 215 meter, sehingga memicu kontroversi tentang statusnya sebagai

lubang terbesar. Pada tahun 2005, sejarawan Steve Lunderstedt melaporkan

bahwa saat ini lubang terbesar faktanya adalah tambang berlian yang di

Afrika Selatan: Jagersfontein Mine.

Diamond dari Negara ini dihasilkan dari ekstraksi kimberlite, batuan

ultrabasa yang tidak lazim dijumpai dan hadir sebagai volcanic

pipe kecil, dykes dan sills. Hampir semua kimberlite di Afrika Selatan

berumur Jurrasik sampai Kapur. Daerah-daerah yang memproduksi permata

bisa dijumpai di seluruh provinsi di Afrika Selatan, kecuali KwaZulu-Natal.

Afrika Selatan ada di peringkat lima Negara penghasil permata di dunia

berdasarkan volume, namun berdasarkan nilai ada di peringkat ke tiga.

  • 3.2 Manfaat Mineral Diamond Diamond (Intan) memiliki Manfaat diantaranya Bidang industri

diantaranya :

  • - Sebagai alat pemotong kaca

  • - Pengasah

  • - Mata bor untuk eksplorasi

-

perhiasan.

- perhiasan. Gambar 3.4 Diamond yang digunakan Untuk Perhiasan Gambar 3.5 Diamond yang digunakan Sebagai Mata

Gambar 3.4 Diamond yang digunakan Untuk Perhiasan

- perhiasan. Gambar 3.4 Diamond yang digunakan Untuk Perhiasan Gambar 3.5 Diamond yang digunakan Sebagai Mata

Gambar 3.5 Diamond yang digunakan Sebagai Mata bor untuk Kegiatan

Eksplorasi