Anda di halaman 1dari 25

Laporan Studi Kasus Balita Gizi Kurang

Oleh : Emily Nadya Akman


10 2010 115
Dosen Pembimbing : Dr. Danny Hermawan

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


2010

Bab I
Latar Belakang
Pembangunan kesehatan adalah bagian dari pembangunan nasional yang
bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat
bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat setinggi tingginya.
Pembangunan kesehatan tersebut merupakan upaya seluruh potensi bangsa
Indonesia, baik masyarakat, swasta maupun pemerintah.
Keadaan gizi yang tidak seimbang dapat mempengaruhi status gizi dan
pada akhirnya menimbulkan masalah gizi. Sampai saat ini ada 4 masalah gizi
utama yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat yaitu kurang energy protein
(KEP), anemia gizi besi, kurang vitamin A (KVA), dan gangguan akibat
kekurangan yodium (GAKY).
Masalah gizi terbagi menjadi masalah gizi makro dan mikro. Masalah gizi
makro

adalah

masalah

yang

utamanya

disebabkan

kekurangan

atau

ketidakseimbangan asupan energi dan protein. Manifestasi dari masalah gizi


makro bila terjadi pada wanita usia subur dan ibu hamil yang Kurang Energi
Kronis (KEK) adalah berat badan bayi baru lahir yang rendah (BBLR). Bila
terjadi pada anak balita akan mengakibatkan marasmus, kwashiorkor atau
marasmic-kwashiorkor dan selanjutnya akan terjadi gangguan pertumbuhan pada
anak usia sekolah.
Dalam hal ini seorang manajer program kesehatan masyarakat dituntut
untuk memiliki keterampilan mengkaji dan merumuskan masalah kesehatan
masyarakat dan masalah program yang berkaitan dengan kejadian kekurangan
gizi. Untuk menghadapi tuntunan perkembangan program di era otonomi daerah,
petugas kesehatan yang bekerja di Dinas Kesehatan dan Propinsi harus
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan manajerialnya agar tugas-tugas
pokoknya dapat dilaksanakan lebih efisien, lebih efektif, dan produktif.

Di Indonesia, gizi kurang dan gizi buruk masih merupakan masalah


kesehatan masyarakat di Indonesia. Tingginya angka kesakitan dan kematian
anak balita di Indonesia sangat berkaitan dengan buruknya status gizi. Prevalensi
gizi buruk di desa pada tahun 1998 ada 28,6 % dari tahun 1999 ada 24,6 % (FKM
UI, 2008). Data susenas menunjukkan bahwa prevalensi gizi buruk meningkat
terus yaitu dari 1,10 % (2001), dan 2,18 % (2004). Prevalensi gizi kurang 12,66
% (2001), 14,28 % dan 14,33 % (2004) (Dinkes RI, 2004).
Tujuan umum
Meningkatkan status gizi dan menurunkan angka kematian anak gizi buruk.
Tujuan khusus
1. Dilakukannya penapisan anak gizi buruk.
2. Terselenggaranya kegiatan perawatan anak gizi buruk sesuai standar.
3. Tercapainya peningkatan status izi anak.
4. Dilakukannya pendampingan anak gizi buruk pazca rawat indap dan rawat
jalan.
5. Dilakukannya pemantauan dan evaluasi pelayanan anak gizi buruk.
Metode
Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode
wawancara dengan pasien serta melihat keadaan rumah dan lingkungan sekitar tempat
tinggal pasien.

BAB II
Laporan kasus

Puskesmas

: Puskesmas Kelurahan Grogol III, Kecamatan Grogol


Petamburan

Data riwayat keluarga :


I.

Identitas pasien :
Nama

: Silvia Alifatu Zakiyah

Tempat/Tgl. Lahir : 14 - 11 2011


Umur

: 20 bulan

Jenis kelamin

: Perempuan

Berat Badan

: 8,1 Kg

Tinggi Badan

: 74,9 Cm

Berat Badan/Umur : Gizi Kurang


Pendidikan

: Belum Sekolah

Alamat

:Kampung Kramat RT 003 / RW 009, Kelurahan Grogol,


Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat

II.

Riwayat biologis keluarga :


a.

Keadaan kesehatan sekarang

b.

Kebersihan perorangan

c.

Penyakit yang sering diderita

: Common Cold

d.

Penyakit keturunan

: Tidak ada

e.

Penyakit kronis/ menular

: Tidak ada

f.

Kecacatan anggota keluarga

: Tidak ada

g.

Pola makan

: Baik

h.

Pola istirahat

: Sedang

i.

Jumlah anggota keluarga

: 3 orang

III.

: Baik
: Buruk

Psikologis keluarga
a.

Kebiasaan buruk

: Ada (Merokok)

b.

Pengambilan keputusan

: Bapak

c.

Ketergantungan obat

: Tidak ada

d.

Tempat mencari pelayanan kesehatan: Puskesmas Grogol III

e.

Pola rekreasi

: Kurang

IV.

Keadaan rumah/ lingkungan


a.

Jenis bangunan

: Permanen

b.

Lantai rumah

: Keramik dan Semen

c.

Luas rumah

:-

d.

Penerangan

: Baik

e.

Kebersihan

: Buruk

f.

Ventilasi

: Sedang

g.

Dapur

: Ada

h.

Jamban keluarga

: Ada

i.

Sumber air minum

: Ledeng

j.

Sumber pencemaran air

: Ada

k.

Pemanfaatan pekarangan

: Tidak ada

l.

Sistem pembuangan air limbah

: Ada

m.

Tempat pembuangan sampah

: Ada

n.

Sanitasi lingkungan

: Kurang

V.

Spiritual keluarga
a.

Ketaatan beribadah

: Baik

b.

Keyakinan tentang kesehatan

: Cukup

VI.

Keadaan sosial keluarga


a.

Tingkat pendidikan

: Rendah

b.

Hubungan antar anggota keluarga

: Baik

c.

Hubungan dengan orang lain

: Baik

d.

Kegiatan organisasi sosial

: Sedang

e.

Keadaan ekonomi

: Kurang

VII.

VIII.

Kultural keluarga
a.

Adat yang berpengaruh

: Betawi

b.

Lain-lain

: Tidak ada

Anggota keluarga :

Nama

Hub

Umur

dgn

Pendidika

Pekerja Aga

an

ma

Keadaan
kesehatan

Keadaan

Imu

Ke

gizi

nisas

Tata suganda

KK
KK

26 th

SLTP/sede

Pekerja

Islam

Sehat

Cukup

i
-

Tasiyah

Isteri

33 th

rajat
Tamat

Pabrik
Ibu

Islam

Sehat

Cukup

Ti

SD

rumah

da

/sederajat

tangga

k
ad

Silvia Alifatu Anak 20 bln


Zakiyah

Belum

sekolah
Keluhan utama :

IX.

Tidak

Islam

Sehat

Kurang

bekerja

Leng
kap

Batuk dan pilek


X.

Keluhan tambahan :
-

XI.

Riwayat penyakit sekarang :


Gizi Kurang

XII.

Riwayat penyakit dahulu


Common Cold, Muntaber

XIII.

Pemeriksaan fisik
Suhu : 36.6C , Frekuensi Nadi : 50x/menit, Frekuensi Nafas : 30x/menit

XIV.

Diagnosis penyakit
Gizi Kurang

XV.

Diagnosis keluarga
-

XVI.

Anjuran penatalaksanaan penyakit

a
-

a.

Promotif : Meningkatkan pemahaman ibu tentang pemenuhan


kebutuhan nutrisi gizi seimbang pada balita. Meningkatkan
perilaku ibu untuk berperilaku memperhatikan kecukupan gizi
balita.

b.

Preventif : Meningkatkan pengetahuan ibu mengenai penanganan


rawat jalan balita dengan keadaan kekurangan gizi, menjelaskan
pentingnya diagnosis dini pada balita agar balita dapat diberi
penanganan yang tepat secepat mungkin sehingga kedisplinan sang
ibu dalam membawa balita untuk kontrol ke posyandu/puskesmas
dangat penting.

c.

Kuratif

Terapi medika mentosa : -

Terapi non medika mentosa : Menjelaskan kepada ibu pentingnya


Pemberian Makanan Tambahan (PMT). PMT pemulihan hanya sebagai
tambahan terhadap makanan yang dikonsumsi oleh balita sasaran
sehari-hari, bukan sebagai pengganti makanan utama.

d.

Rehabilitatif

: Menjelaskan kepada ibu mengenai PMT

pemulihan, yaitu kegiatan yang diadakan oleh pukesmas, PMT


pemulihan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan gizi balita
sasaran sekaligus sebagai proses pembelajaran dan sarana
komunikasi antar ibu dari balita sasaran.

XVII. Prognosis
Penyakit
Keluarga
Masyarakat

: Dubia ad bonam
: Dubia ad bonam
: Dubia ad bonam

XVIII. Resume

Dari hasil pemeriksaan melalui aloanamnesis saat kunjungan rumah pada


hari kamis 10 Juli 2013, didapatkan bahwa pasien adalah penderita Gizi kurang.
Ibu dari pasien kurang memperhatikan kesehatan makanan yang dikonsumsi dari
balita dan pengetahuan ibu mengenai makanan-makanan yang bergizi pun minim.
Meskipun demikian, imunisasi balita sasaran tersebut lengkap hingga umurnya
sekarang. Melalui anamnesis diketahui bahwa balita tersebut termasuk dalam
kelompok rentan gizi karena termasuk dalam berat badan lahir rendah yang dapat
juga diakibatkan oleh minimnya Antenatal Care pada ibu semasa hamil, salah
satunya adalah kurangnya gizi saat hamil. Pemeriksaan fisik yang seharusnya
dilakukan adalah tanda-tanda vital dan pengukuran antropometri balita seperti
lingkar kepala, lingkar lengan atas dan sebagainya, namun karena terbatasnya
ketersediaan peralatan, pemeriksaan tidak dapat dilakukan, jadi diagnosis gizi
kurang didapatkan dengan menggunakan indikator Berat Badan/Umur. Namun,
saya menyarankan pada ibu untuk membawa balita secara rutin ke posyandu
sebulan sekali untuk dilakukan pengukuran lingkar lengan dan sebagainya dalam
usaha perbaikan gizi agar keadaan balita terkontrol secara lebih baik. Dengan
harapan kedisplinan ibu dalam membawa balita ke posyandu dapat menunjukkan
perbaikan yang signifikan dalam usaha perbaikan gizi balita.
Promosi kesehatan yang saya berikan adalah mencoba meningkatkan
pemahaman ibu tentang pemenuhan kebutuhan nutrisi gizi seimbang pada balita.
Makanan balita harus terdiri dari karbohidrat, lemak dan protein, dengan proporsi
karbohidrat paling banyak. Konsumsi susu sapi juga disarankan sebagai
pemenuhan kebutuhan kalsium dan fosfor yang baik karena balita juga sudah
tidak mengkonsumi ASI. Lalu melalui anamnesis juga diketahui bahwa balita
sering mengkonsumsi makanan ringan seperti chiki , oleh karena itu saya

menyarankan kepada ibu untuk mengganti makanan cemilan balita tersebut


dengan buah-buahan untuk mendidik kebiasaan makanan makanan yang baik bagi
kesehatan. Selain itu saya juga meningkatkan pengetahuan ibu mengenai
Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pemulihan. PMT pemulihan diberikan
dalam bentuk makanan atau bahan makanan lokal dan tidak diberikan dalam
bentuk uang. PMT pemulihan hanya sebagai tambahan terhadap makanan yang
dikonsumsi oleh balita sasaran sehari-hari, bukan sebagai pengganti makanan
utama. PMT pemulihan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan gizi balita
sasaran sekaligus sebagai proses pembelajaran dan sarana komunikasi antar ibu
dari balita sasaran. Bila terdapat perburukan selama pengamatan dan perawatan
status gizi, maka perlu dilakukan rujukan.

Bab III
Tinjauan Pustaka

Pendahuluan
Masalah gizi di Indonesia yang terbanyak meliputi gizi kurang atau yang
mencakup susunan hidangan yang tidak seimbang maupun konsumsi keseluruhan
yang tidak mencukupi kebutuhan badan. Anak balita(dibawah usia 5 tahun) dan ibu
hamil serta menyusui merupakan termasuk salah satu kelompok masyarakat yang
rentan gizi. Anak-anak biasanya menderita bermacam-macam infeksi serta berada
dalam status gizi rendah.
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan
penggunaan zat-zat gizi. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi status gizi adalah
penyakit yang sering diderita oleh balita,frekuensi terserang penyakit, jumlah anggota
keluarga, pemberian ASI, kelengkapan imunisasi, pola asuh balita, dan asupan
makanan.
Gizi Buruk merupakan suatu kondisi dimana seseorang dinyatakan
kekurangan nutrisi, atau dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah
9

standar rata-rata. Nutrisi yang dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori.
Di Indonesia, kasus KEP (Kurang Energi Protein) adalah salah satu masalah gizi
utama yang banyak dijumpai.
Upaya penanggulangan masalah gizi terutama difokuskan pada ibu hamil,
bayi, dan anak balita, karena mereka ini adalah golongan rawan yang paling rentan
terhadap kekurangan gizi serta besarnya dampak yang dapat ditimbulkan. Masalah
gizi bukan hanya masalah kesehatan, tetapi menyangkut masalah sosial ekonomi, dan
perilaku masyarakat.
Dengan demikian, upaya penanggulangan masalah gizi harus dilakukan
secara sinergis meliputi berbagai bidang seperti pertanian, pendidikan dan ekonomi
dengan fokus pada kelompok miskin.
Epidemiologi
Kesepakatan global yang dituangkan dalam Millenium Development Goals
(MDGs) yang terdiri dari 8 tujuan, 18 target dan 48 indikator, menegaskan bahwa
tahun 2015 setiap negara menurunkan kemiskinan dan kelaparan separuh dari kondisi
pada tahun 1990. Dua dari lima indikator sebagai penjabaran tujuan pertama MDGs
adalah menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita (indikator keempat) dan
menurunnya jumlah penduduk dengan defisit energi (indikator kelima).
Sejalan dengan upaya mencapai kesepakatan global tersebut dan didasari
oleh perkembangan masalah dan penyebab masalah serta lingkungan strategis,
pemerintah telah menyusun Rancana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN) 2005-2009 Bidang Kesehatan, yang menckup program-program prioritas
yaitu: program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat; program
Lingkungan Sehat; program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit; dan program
Perbaikan Gizi Masyarakat. Salah satu sasarannya adalah menurunnya prevalensi gizi
kurang menjadi setinggi-tingginya 20% (termasuk penurunan prevalensi gizi buruk
menjadi 5%) pada tahun 2009.
Berdasarkan data Departemen Kesehatan , pada tahun 1998 prevalensi gizi
kurang balita sebesar 29,5% dan 10,1% diantaranya menderita gizi buruk. Selanjutnya
terjadi penurunan prevalensi gizi kurang menjadi 24,7% dan gizi buruk 7,5% pada
tahun 2000. Terjadi peningkatan pada tahun 2003 dimana prevalensi gizi kurang
menjadi 27,5% dan 8,3% diantaranya gizi buruk, kemudian pada tahun 2005 terjadi

10

sedikit kenaikan prevalensi gizi kurang menjadi 28,0% dan 8,5% diantaranya gizi
buruk.
Gizi Masyarakat
Gizi masyarakat adalah gizi yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat.
Gizi masyarakat berkaitan dengan gangguan gizi pada kelompok masyarakat yang
lebih ditekankan pada pencegahan(preventif) dan peningkatan(promosi). Gizi
masyarakat yang berurutan gangguan gizi pada masyarakat, di mana masyarakat
mempunyai aspek sangat luas, maka penanganannya harus secara multisektor dan
multidisiplin.1
Penanganan gizi masyarakat tidak cukup dengan upaya terapi para penderita
saja, karena apabila setelah mereka sembuh mereka akan kembali ke masyarakat.
Oleh karena itu terapi penderita gangguan gizi masyarakat harus ditujukan kepada
seluruh masyarakat.1 Masalah gizi masyarakat bukan menyangkut aspek kesehatan
saja, melainkan aspek-aspek terkait yang lain, seperti ekonomi, sosial-budaya,
pendidikan, kependudukan, dan sebagainya. Oleh sebab itu penanganan atau
perbaikan gizi tidak hanya diarahkan kepada gangguan gizi atau kesehatan saja,
melainkan juga ke arah bidang-bidang yang lain. Misalnya penyakit gizi
KKP(Kekurangan Kalori dan Protein) pada anak-anak balita, tidak cukup dengan
hanya pemberian makanan tambahan saja(PMT) tetapi juga dilakukan perbaikan
ekonomi keluarga, peningkatan pengetahuan, dan sebagainya.1
Faktor Penyebab Masalah Gizi
Ada dua faktor penyebab terjadinya gizi buruk, yaitu:2
1. Penyebab langsung
a. Anak tidak cukup mendapat makanan bergizi seimbang. Makanan alamiah terbaik
bagi bayi yaitu ASI, dan sesudah usia 6 bulan anak tidak mendapat makanan
pendamping ASI(MP-ASI) yang tepat, baik jumlah dan kualitasnya akan berakibat
terhadap status gizi bayi. MP-ASI yang baik tidak hanya cukup mengandung energi
dan protein, tetapi juga mengandung zat besi, vitamin A, asam folat, vitamin B serta
vitamin dan mineral lainnya. MP-ASI yang tepat dan baik dapat disiapkan sendiri di
rumah. Pada keluarga dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang rendah
seringkali anaknya harus puas dengan makanan seadanya yang tidak memenuhi

11

kebutuhan gizi balita karena ketidaktahuan. Faktor sosial: yang dimaksud disini
adalah rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya makanan bergizi bagi
pertumbuhan anak. Sehingga banyak balita yang diberi makan sekedarnya atau asal
kenyang padahal miskin gizi.
b. Sering sakit menjadi penyebab terpenting kekurangan gizi, apalagi di negara-negara
terbelakang dan yang sedang berkembang seperti Indonesia, dimana kesadaran akan
kebersihan/personal hygine yang masih kurang, serta ancaman endemisitas penyakit
tertentu, khususnya infeksi kronik seperti TBC masih sangat tinggi.
Kaitan infeksi dan kurang gizi seperti layaknya lingkaran setan yang sukar
diputuskan, karena keduanya saling terkait dan saling memperberat. Kondisi infeksi
kronik akan menyebabkan kurang gizi dan kondisi malnutrisi sendiri akan
memberikan dampak buruk pada sistem pertahanan sehingga memudahkan terjadinya
infeksi. Tak dapat dipungkiri memang ada hubungan erat antara infeksi dengan
malnutrisi. Infeksi sekecil apapun berpengaruh pada tubuh. Sedangkan kondisi
malnutrisi akan semakin memperlemah daya tahan tubuh yang pada giliran berikutnya
akan mempermudah masuknya beragam penyakit.3
2. Penyebab tidak langsung
a. Ketersediaan pangan rumah tangga
Tidak tersedianya makanan secara adekuat terkait langsung dengan kondisi
sosial ekonomi. Kadang-kadang bencana alam, perang maupun kebijakan politik
maupun ekonomi yang memberatkan rakyat akan menyebabkan hal ini. Kemiskinan
sangat identik dengan tersedianya makan yang adekuat. Data Indonesia dan negara
lain menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara kurang gizi dengan
kemiskinan.
Kemiskinan merupakan penyebab pokok atau akar masalah gizi buruk.
Proporsi anak malnutrisi berbanding terbalik dengan pendapatan. Makin kecil
pendapatan penduduk, makin tinggi persentasi anak yang kekurangan gizi.
Kemiskinan sering dituding sebagai biang keladi munculnya penyakit ini di negaranegara berkembang. Rendahnya pendapatan masyarakat menyebabkan kebutuhan
paling mendasar yaitu pangan pun sering tidak bisa terpenuhi. Laju pertambahan
penduduk yang tidak diimbangi dengan bertambahnya ketersediaan bahan pangan
akan menyebabkan krisis pangan. Inipun menjadi penyebab munculnya penyakit
kurang gizi.4
b. Pola pengasuhan anak

12

Berpengaruh pada timbulnya gizi buruk. Anak yang diasuh ibunya sendiri
dengan kasih sayang, apalagi ibunya berpendidikan, mengerti soal pentingnya ASI,
manfaat posyandu dan kebersihan, meskipun sama-sama miskin, ternyata anaknya
lebih sehat. Unsur pendidikan perempuan berpengaruh pada kualitas pengasuhan
anak.
Sebaliknya sebagian anak yang gizinya buruk ternyata diasuh oleh nenek
atau pengasuh yang juga miskin dan tidak berpendidikan. Banyaknya perempuan
yang meninggalkan desa untuk mencari kerja di kota bahkan menjadi TKI,
kemungkinan juga dapat menyebabkan anak menderita gizi buruk.
Kebiasaan, mitos ataupun kepercayaan/ adat istiadat masyarakat tertentu
yang tidak benar dalam pemberian makan akan sangat merugikan anak. Misalnya
kebiasaan memberi minum bayi hanya dengan air putih, memberikan makanan padat
terlalu dini, berpantang pada makanan tertentu (misalnya tidak memberikan anakanak daging, telur, santan dll), hal ini menghilangkan kesempatan anak untuk
mendapatkan asupan lemak, protein maupun kalori yang cukup.
Gizi buruk sendiri bisa di klasifikasikan menjadi tiga tipe yaitu marasmus,
kwashiorkor, dan marasmus-kwashiorkor, berikut penjelasan lebih lanjut:
1. Marasmus adalah gangguan gizi karena kekurangan karbohidrat. Gejala yang timbul
diantaranya muka seperti orang tua (berkerut), tidak terlihat lemak dan otot di bawah
kulit (kelihatan tulang di bawah kulit), rambut mudah patah dan kemerahan, gangguan
kulit, gangguan pencernaan, (sering diare), pembesaran hati dan sebagainya. Anak
tampak sering rewel dan banyak menangis meskipun setelah makan, karena masih
merasa lapar.
2. Kwashiorkor, penampilannya seperti anak gemuk (suger baby), bilamana dietnya
mengandung cukup energi disamping kekurangan protein, walaupun dibagian tubuh
lainnya terutama dipantatnya terlihat adanya atrofi. Tampak sangat kurus dan atau
edema pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh. Gejala yang tampak adalah:
a. Perubahan status mental: cengeng, rewel, kadang apatis
b. Rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung dan mudah dicabut, pada
penyakit kwashiorkor yang lanjut dapat terlihat rambut kepala yang kusam.
c. Wajah membulat dan sembab.
d. Pandangan mata anak sayu.
e. Pembesaran hati sehingga mudah teraba dan terasa kenyal, permukaan licin dan
pinggir tajam.
f. Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah menjadi coklat
kehitaman dan terkelupas.
13

3. Marasmus-kwashiorkor, gejala klinisnya merupakan campuran dari beberapa gejala


klinis kwashiorkor dan marasmus. Makanan sehari-hari tidak cukup mengandung
protein dan juga energy untuk pertumbuhan yang normal. Pada penderita demikian,
disamping menurunnya berat badan < 60% dari normal memperlihatkan tanda-tanda
kwashiorkor seperti edema, kelainan rambut, kelainan kulit, dan kelainan biokimiawi.

Indikator status gizi


Menurut Gibson, untuk pengukuran status gizi dengan indikator berat badan
menurut umur(BB/U) merupakan salah satu indeks antropometri yang memberikan
gambaran massa tubuh seseorang. Massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan
yang mendadak seperti terkena penyakit infeksi, menurunnya nafsu makan atau
menurunnya jumlah makanan yang dikonsumsi. 5,6
Indikator berat badan sering digunakan untuk menentukan status gizi karena
caranya mudah, sehingga dapat dikerjakan oleh orang tua atau anak, tidak harus oleh
tenaga kesehatan. Pengukuran berat badan yang dilakukan berulang-ulang dapat
menggambarkan pertumbuhan anak. Alat yang digunakan tidak selalu mudah karena
harus memenuhi syarat, kokoh, kuat, murah, mudah dibawa.5,6
Sedangkan Depkes RI mengatakan bahwa dalam keadaan normal dan keadaan
kesehatan baik, keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan zat gizi terjamin maka
berat badan berkembang mengikuti bertambahnya umur. Dalam keadaan abnormal
ada dua kemungkinan perkembangan berat badan, yaitu berkembang cepat atau lebih
lambat dari keadaan normal. Berdasarkan karakteristik berat badan ini menurut umur
dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk mengukur status gizi saat ini.5,6
Selain BB/U ada indikator status gizi yang juga sering digunakan, yaitu
indikator berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB). Indikator BB/TB adalah
merupakan indikator yang terbaik digunakan untuk menggambarkan status gizi saat
kini jika umur yang akurat sulit diperoleh dan lebih sensitif serta spesifik sebagai
indikator defisit massa tubuh yang dapat terjadi dalam waktu singkat atau dalam
periode waktu yang cukup lama sebagai akibat kekurangan makan atau terserang
penyakit infeksi.7
Pemantauan status gizi
Terdapat metode

pemantauan

status

gizi,

diantaranya

menggunakan

antropometri. Antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran


dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.
Ukuran tubuh seperti berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas dan tebal lemak di
14

bawah kulit. Sementara Soekirman, mengatakan bahwa interpretasi dari keadaan gizi
anak dengan indikator BB/U, TB/U dan BB/TB yang digunakan pada survei khusus,
akan menjadikan kesimpulan lebih tajam. Beberapa indikator status gizi sebagai hasil
kesimpulan dari penilaian status gizi tersebut dikategorian sebagai berikut: 8
1. BB/U, TB/U rendah, BB/TB normal; kesimpulannya keadaan gizi anak saat ini
baik, tetapi anak tersebut mengalami masalah gizi kronis.
2. BB/U normal; TB/U rendah; BB/TB lebih; kesimpulannya anak mengalami
masalah gizi kronis dan pada saat ini menderita kegemukan (overweight) karena
berat badan lebih dari proporsional terhadap tinggi badan.
3. BB/U, TB/U, BB/TB rendah ; anak mengalami kurang gizi berat dan kronis.
Artinya pada saat ini keadaan gizi anak tidak baik dan riwayat masa lalunya juga
tidak baik
4. BB/U, TB/U, BB/TB normal ; kesimpulannya keadaan gizi anak pada saat ini dan
masa lalu baik.
5. BB/U rendah; TB/U normal; BB/TB rendah; kesimpulannya anak mengalami
kurang gizi yang berat (kurus), keadaan gizi anak secara umum baik tetapi berat
badannya kurang proporsional terhadap tinggi badannya karena tubuh anak tinggi.

Kartu Menuju Sehat (KMS)


KMS adalah suatu pencatatan lengkap tentang kesehatan seorang anak.
KMS harus dibawa ibu setiap kali ibu menimbang anaknya atau memeriksa kesehatan
anak dengan demikian pada tingkat keluarga KMS merupakan laporan lengkap bagi
anak yang bersangkutan, sedangkan pada lingkungan kelurahan bentuk pelaporan
tersebut dikenal dengan SKDN. SKDN adalah data untuk memantau pertumbuhan
balita SKDN sendiri mempunyai singkatan yaitu sebagai berikut:7
S= adalah jumlah balita yang ada diwilayah Posyandu
K =jumlah balita yang terdaftar dan yang memiliki KMS
D= jumlah balita yang datang ditimbang bulan ini
N= jumlah balita yang naik berat badannya
Pencatatan dan pelaporan data SKDN untuk melihat kinerja output disini
meliputi cakupan hasil program gizi di Posyandu yang dapat dilihat dalam bentuk
persentase cakupan yang berhasil dicapai oleh suatu Posyandu, yaitu cakupan
15

kegiatan penimbangan(K/S), kesinambungan kegiatan penimbangan posyandu(D/K),


tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan(D/S), kecenderungan status gizi(N/D),
efektifitas kegiatan(N/S). Adapun cakupan hasil program gizi di Posyandu tersebut
adalah sebagai berikut:7
Cakupan Program (K/S)
Cakupan program (K/S) adalah Jumlah Balita yang memiliki Kartu
Menuju Sehat (KMS) dibagi dengan jumlah balita yang ada di wilayah Posyandu
kemudian dikali 100%. Persentase K/S disini, menggambarkan berapa jumlah balita
diwilayah tersebut yang telah memiliki KMS atau berapa besar cakupan program di
daerah tersebut telah tercapai.
Cakupan Partisipasi Masyarakat (D/S)
Cakupan partisipasi masyarakat (D/S) adalah Jumlah Balita yang
ditimbang di Posyandu dibagi dengan jumlah balita yang ada di wilayah kerja
Posyandu kemudian dikali 100 %. Persentase D/S disini, menggambarkan berapa
besar jumlah partisipasi masyarakat di dareah tersebut yang telah tercapai.
Cakupan Kelangsungan Penimbangan (D/K)
Cakupan kelangsungan penimbangan (D/K) adalah Jumlah Balita yang
ditimbang di Posyandu dalam dibagi dengan jumlah balita yang telah memiliki KMS
kemudian dikali 100%. Persentase D/K disini, menggambarkan berapa besar
kelangsungan penimbangan di daerah tersebut yang telah tercapai.
Cakupan Hasil Penimbangan (N/D)
Cakupan Hasil Penimbangan (N/D) adalah : Rata rata jumlah Balita
yang naik berat badan (BB) nya dibagi dengan jumlah balita yang ditimbang di
Posyandu kemudian dikali 100%. Persentase N/D disini, menggambarkan berapa
besar hasil penimbangan di daerah tersebut yang telah tercapai.
Pengolahan data
Grafik pertumbuhan yang optimal adalah apabila dari pencatatan setiap
bulan diperoleh berat badan yang terus meningkat dan tetap berada dalam zona hijau.
Zona kuning menandakan orang tua harus waspada dengan pertumbuhan balitanya.
Zona kuning yang di bawah menunjukkan berat badan anak kurang dari berat badan
rata-rata anak seusianya. Sedangkan zona kuning yang di atas menunjukkan berat
badan anak lebih dari berat badan rata-rata anak seusianya. Berat anak yang terlalu

16

rendah sampai memotong garis merah (BGM = bawah garis merah) harus
dikonsultasikan ke petugas kesehatan. Demikian pula dengan anak yang berat
badannya tidak naik dalam kurun waktu 2 bulan. Berat badan yang melampaui zona
kuning atas juga tidak baik karena hal ini dapat menunjukkan anak mengalami
obesitas atau mengindikasikan gangguan kecepatan pertumbuhan.
Salah satu penanggulangan yang dapat dilakukan oleh Puskesmas dalam menangani
gizi buruk pada balita adalah pemberian makanan tambahan (PMT) pemulihan. PMT
pemulihan bagi anak usia 6-59 bulan dimaksudkan sebagai tambahan, bukan sebagai
pengganti makanan utama sehari-hari. Sasaran prioritas dari PMT pemulihan ini
adalah balita gizi kurang atau kurus usia 6-59 bulan termasuk balita dengan Bawah
Garis Merah (BGM) dari keluarga miskin. Sasaran dipilih melalui hasil penimbangan
bulanan di Posyandu dengan urutan prioritas dan kriteria sebagai berikut:9
1. Balita yang dalam pemulihan pasca perawatan gizi buruk di TFC/Pusat Pemulihan
Gizi/ Puskesmas Perawatan atau Rumah Sakit.
2. Balita kurus dan berat badannya tidak naik dua kali berturut-turut (2 T).
3. Balita kurus.
4. Balita Bawah Garis Merah (BGM).
Pemberian Makanan Tambahan
Prinsip dasar dari PMT pemulihan adalah:10
1. PMT pemulihan diberikan dalam bentuk makanan atau bahan makanan lokal
dan tidak diberikan dalam bentuk uang.
2. PMT pemulihan hanya sebagai tambahan terhadap makanan yang dikonsumsi
oleh balita sasaran sehari-hari, bukan sebagai pengganti makanan utama.
3. PMT pemulihan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan gizi balita sasaran
sekaligus sebagai proses pembelajaran dan sarana komunikasi antar ibu dari
balita sasaran.
4. PMT pemulihan merupakan kegiatan di luar gedung puskesmas dengan
pendekatan pemberdayaan masyarakat yang dapat diintegrasikan dengan
kegiatan lintas program dan sektor terkait lainnya.
5. PMT pemulihan dibiayai dari dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK).
Selain itu PMT pemulihan dapat dibiayai dari bantuan lainnya seperti
partisipasi masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah daerah.
Persyaratan jenis dan bentuk makanan yang diberikan adalah:10

17

1. Makanan tambahan pemulihan diutamakan berbasis bahan makanan atau


makanan lokal. Jika bahan makanan lokal terbatas, dapat digunakan makanan
pabrikan yang tersedia di wilayah setempat dengan memperhatikan kemasan,
label dan masa kadaluarsa untuk keamanan pangan.
2. Makanan tambahan pemulihan diberikan untuk memenuhi kebutuhan gizi
balita sasaran.
3. PMT Pemulihan merupakan tambahan makanan untuk memenuhi kebutuhan
gizi balita dari makanan keluarga.
4. Makanan tambahan balita ini diutamakan berupa sumber protein hewani
maupun nabati (misalnya telur/ikan/daging/ayam, kacang-kacangan atau
penukar) serta sumber vitamin dan mineral yang terutama berasal dari sayursayuran dan buah-buahan setempat.
5. Makanan tambahan diberikan sekali sehari selama 90 hari berturut-turut.
6. Makanan tambahan pemulihan berbasis bahan makanan/makanan lokal ada 2
jenis yaitu berupa:
MP-ASI (untuk bayi dan anak berusia 6-23 bulan)
Makanan tambahan untuk pemulihan anak balita usia 24-59 bulan berupa
makanan keluarga.
Bentuk makanan tambahan pemulihan yang diberikan kepada balita dapat
disesuaikan dengan pola makanan. Bila terdapat perburukan selama pengamatan dan
perawatan status gizi, maka perlu dilakukan rujukan, sebagai berikut:10
1. Gizi buruk tanpa komplikasi dengan rawat jalan, rujukan dilakukan apabila:
Anak dengan komplikasi medis atau penyakit penyerta,
Sampai kunjungan ketiga berat badan anak tidak naik (kecuali anak dengan

edema),
Timbul edema baru.

2. Gizi buruk dengan komplikasi dengan rawat inap, rujukan dilakukan apabila:
Rujukan ke rumah sakit dilakukan bila terdapat tanda kegawatan/kesakitan
yang tidak dapat diatasi dan memerlukan penanganan lebih lanjut oleh
dokter spesialis anak.

Promosi Kesehatan
Promosi kesehatan menurut WHO adalah proses untuk meningkatkan
kemampuan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Selain
itu, untuk mencapai derajat kesehatan yang sempurna, baik fisik, mental, dan sosial,
maka

masyarakat

harus

mampu

mengenal

dan

mewujudkan

aspirasinya,

kebutuhannya, dan mampu mengubah atau mengatasi lingkungannya.


18

Promosi kesehatan tidak hanya mengaitkan diri pada peningkatan, pengetahuan,


sikap, dan praktik kesehatan saja, tetapi juga meningkatkan atau memperbaiki
lingkungan dalam rangka memelihara dan meningkatkan kesehatan.
Promosi kesehatan merupakan penunjang bagi program-program kesehatan lain.
Artinya setiap program kesehatan, misalnya pemberantasan penyakit, perbaikan gizi
masyarakat, sanitasi lingkungan, kesehatan ibu dan anak, program pelayanan
kesehatan, dan sebagainya, perlu ditunjang atau dibantu oleh promosi kesehatan.
Konferensi Internasional Promosi Kesehatan di Ottawa-Canada tahun 1986
menghasilkan Piagam Ottawa (Ottawa Charter), dan salah satunya rumusan strategi
promosi kesehatan yang dikelompokkan menjadi 5 butir: 11
1. Kebijakan berwawasan kesehatan (Healthy public policy)
Kebijakan ini ditunjukkan kepada para pembuat keputusan atau penentu kebijakan,
sehingga dikeluarkan kebijakan-kebijakan pembangunan yang berwawasan kesehatan.
Setiap kebijakan pembangunan di bidang apa saja harus mempertimbangkan dampak
kesehatan masyarakat.
2. Lingkungan yang mendukung (Supportive environment)
Kegiatan ini ditunjukkan kepad para pemimpin organisasi masyarakat serta pengelola
tempat umum. Mereka diharapkan memperhatikan dampak lingkungan, baik fisik
maupun nonfisik yang mendukung kondusif terhadap kesehatan masyarakat.
3. Reorientasi pelayanan kesehatan (Reorient health service)
Kesehatan masyarakat bukan hanya masalah pihak pemberi pelayanan, baik
pemerintah maupun swasta saja, melainkan juga masalah masyarakat sendiri.
Melibatkan masyarakat dalam pelayanan kesehatan berarti memberdayakan
masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya sendiri. Bentuk
pemberdayaan masyarakat dalam pemeliharaan dan peningkatan kesehatan ini
bervariasi mulai dari terbentuknya lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang perduli
terhadap kesehatan, baik dalam bentuk pelayanan maupun bantuan teknis (pelatihan),
sampai dengan upaya-upaya swadaya masyarakat sendiri.
4. Keterampilan individu (Personal skill)
Kesehatan masyarakat terwujud apabila kesehatan kelompok, kesehatan masingmasing keluarga, dan kesehatan individu terwujud. Masing-masing masyarakat
seyogianya mempunyai pengetahuan dan kemampuan yang baik terhadap cara-cara
memelihara kesehatannya, mengenal penyakit-penyakit, mampu meningkatkan
kesehatannya, dan mampu mencari pengobatan yang layak bilamana mereka atau
anggota keluarganya sakit.

19

5. Gerakan masyarakat (Community action)


Mewujudkan derajat kesehatan masyarakat akan efektif bila unsur-unsur yang ada di
masyarakat tersebut bergerak bersama-sama. Dengan kata lain meningkatkan
kegiatan-kegiatan masyarakat dalam mengupayakan peningkatan kesehatan mereka
sendiri adalah wujud dari gerakan masyarakat (community action).
Tujuan akhir promosi kesehatan adalah kemampuan masyarakat untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri. Berdasarkan pentahapan
upaya promosi kesehatan ini, maka sasaran dibagi dalam tiga kelompok sasaran: 1
1. Sasaran primer (Primary target)
Masyarakat pada umumnya menjadi sasaran langsung segala upaya pendidikan atau
promosi kesehatan. Sesuai dengan permasalahan kesehatan, maka sasaran ini dapat
dikelompokkan menjadi: kepala keluarga untuk masalah kesehatan umum, hamil dan
menyusui untuk masalah KIA, anak sekolah untuk keseh atan remaja, dan sebagainya.
2. Sasaran sekunder (Secondary target)
Para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat disebut sasaran sekunder, karena
dengan memberikan pendidikan kepada kelompok ini diharapkan kelompok ini akan
memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat disekitarnya. Perilaku sehat
tokoh masyarakat juga diharapkan akan memberikan contoh atau acuan perilaku sehat
bagi masyarakat sekitarnya.
3. Sasaran tersier (Tertiary target)
Para pembuat keputusan atau penentu kebijakan baik di tingkat pusat maupun daerah
adalah sasaran tersier promosi kesehatan. Dengan kebijakan atau keputusan yang
dikeluarkan oleh kelompok ini akan mempunyai dampak terhadap sasaran sekunder
dan sasaran primer.
Telah menjadi kesepakatan umum bahwa kesehatan masyarakat itu mencakup 4 aspek
pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Sejalan dengan uraian ini,
maka ruang lingkup pendidikan/promosi kesehatan dikelompokkan menjadi dua,
yaitu: 1
1. Promosi kesehatan pada aspek promotif
Promosi kesehatan pada aspek prommotif terkait dengan pencegahan tingkat pertama
(Primary prevention). Pencegahan tingkat pertaman ini terdiri dari promosi kesehatan
(health promotion) dan perlindungan khusus (specific protection). Tujuan upaya
promosi kesehatan pada kelompok ini adalah agar mereka tidak jatuh sakit atau
terkena penyakit. Sasaran promosi kesehatan pada aspek promotif adalah kelompok
orang sehat. Pendidikan pada kelompok ini perlu ditingkatkan atau dibina agar tetap
sehat, atau lebih meningkat lagi. Derajat kesehatan adalah dinamis, oleh sebab itu

20

meskipun seseorang sudah dalam kondisi sehat, tetap perlu ditingkatkan dan dibina
kesehatannya.
2. Promosi kesehatan pada aspek preventif dan kuratif
Upaya promosi kesehatan ini mencakup 2 upaya atau kegiatan, yakni:
a. Pencegahan tingkat kedua (Secondary prevention)
Pencegahan tingkat kedua ini berupa diagnosis dini dan pengobatan
segera(early

diagnosis

and

prompt

treatment)

dan

pembatasan

cacat(disability limitation). Diagnosis dini dan pengobatan cacat diperlukan


karena rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap
kesehatan dan penyakit, dan kadang-kadang masyarakat tidak mau
diperiksa dan diobati penyakitnya. Pembatasan cacat juga diperlukan
karena kurangnya pengertian dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan
dan penyakit sering mengakibatkan masyarakat tidak melanjutkan
pengobatannya sampai tuntas. Pengobatan yang tidak layak dan sempurna
dapat mengakibatkan yang bersangkutan menjadi cacat atau memiliki
ketidakmampuan untuk melaksanakan sesuatu. Sasaran pada aspek ini
adalah para penderita penyakit kronis (diabetes melitus, TBC). Tujuan
upaya pada kelompok ini adalah agar penderita mampu mencegah
penyakitnya menjadi lebih parah.
b. Pencegahan tingkat tiga (Tertiary prevention)
Pencegahan tingkat tiga berupa rehabilitasi (rehabilitation). Sasaran pada
aspek ini adalah kelompok pasien yang baru sembuh (recovery) dari suatu
penyakit.

Tujuannya

adalah

agar

mereka

segera

pulih

kembali

kesehatannya. Dengan kata lain menolong para penderita yang baru sembuh
dari penyakitnya ini agar tidak menjadi cacat atau mengurangi kecacatan
seminimal mungkin.
Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil pembahasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa gizi sangat berperan penting salam kehidupan masyarakat. Terutama pada
seorang anak dan ibu hamil serta menyusui, hal ini berkaitan dengan berbagai kondisi
yang ada di Negara Indonesia, mulai dari masalah ekonomi, budaya, dan politik. Gizi
pada saat hamil perlu diperhatikan agar bayi yang lahir sehat dan tidak kurang gizi.
Imunisasi dan gizi merupakan dua hal yang penting diperhatikan pada golongan anakanak dan ibu hamil. Oleh sebab itu, hal ini menjadi tanggung jawab masyarakat.
Dengan Puskesmas berperan sebagai pusat pelayanan kesehatan masyarakat untuk

21

menanggulangi masalah-masalah kesehatan yang ada. Termasuk Posyandu yang juga


dapat membantu Puskesmas dalam menjangkau kesehatan masyarakat.
Daftar Pustaka
1. Notoatmodjo S. Ilmu kesehatan masyarakat. Edisi ke-2. Jakarta: Rineka Cipta,2009.
h.223;30.246-59;282-4.
2. Widyastuti P, Hardiyanti E.A. Gizi kesehatan masyarakat. Jakarta: EGC, 2005.h.120150.
3. Behrman RE, Kliegman RM, Arvin AM. Ilmu kesehatan anak Nelson.15 th ed (1).
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.2000.h.1688-712.
4. Kumar V, Cotran RS, Robbins SL. Anemia defisiensi zat besi dan anemia pada
penyakit kronik. Dalam : Buku ajar patologi Robbins. Jakarta : EGC; 2007.h.459-461
5. Pengertian

dan

alat

ukur

pemantauan

status

gizi.2013.

Diunduh

dari:

http://www.indonesian-publichealth.com/2013/03/pemantauan-status-gizi.html,

30

Juni 2013.
6. Mubarak WI, Chayatin N. Ilmu kesehatan masyarakat: teori dan aplikasi. Jakarta:
Salemba Medika, 2009.h.98-106.
7. Departemen Kesehatan RI.Pedoman umum pengelolaan posyandu.Departemen
Kesehatan RI, Jakarta 2006.h.1-59.
8. Departemen Kesehatan RI.Penggunaan KMS balita dalam pemantauan ertumbuhan
balita.Departemen Kesehatan RI, Jakarta.2009.
9. Ditjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan RI.Paduan
penyelenggaraan pemberian makanan tambahan pemulihan bagi balita gizi kurang
(bantuan operasional). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI, 2011.h.1-8.
10. Departemen Kesehatan RI. Buku kesehatan ibu dan anak. Departemen Kesehatan RI
dan Japan International Cooperation Agency, Jakarta 2009.h.1-47.
11. Kementerian Kesehatan RI. Buku kesehatan ibu dan anak. Jakarta: Kementerian
Kesehatan RI, 2011.h.20-3.

22

Lampiran

Lampiran 1
Contoh Frekuensi Pemberian Makanan per hari
Tabel 1: Anak gizi buruk tanpa tanda klinis.
Minggu Ke

Formula 100

Makanan Utama + Makanan


Buah
Selingan

5 kali

1 kali

1 kali

II

4 kali

2 kali

1 kali

III

4 kali

2 kali

1 kali

IV

3 kali

3 kali

2 kali

3 kali

3 kali

2 kali

Sumber : Pedoman Pelayanan Anak Gizi Buruk, 2005.

Lampiran 2
Tabel 2 : Kebutuhan energi dan protein sehari-hari anak umur 1-12 tahun.

Umur
(tahun)

Berat
badan
(Kg)

Energi

Protein

Kkal/kg/hari

Kkal/org/hari

Gr/kg/hr

Gr/org/hr

2,5

22

8,9

105

900

11,2

100

1100

28

13,1

100

1300

33

14,8

98

1500

16,5

91

1500

50

19,4

86

1700

59

3,0

44

23

2,8

21,7

82

1800

61

24,1

78

1900

67

26,5

75

2000

74

10

29,3

74

2200

11

31,7

71

2300

63

12

34,5

67

2300

69

10

28,7

68

2000

11

32,2

62

2000

64

12

35,5

57

2000

70

Laki-laki
2,0

59

Perempuan
2,0

57

Sumber : Pedoman Pelayanan Anak Gizi Buruk, 2005.

Lampiran 3

24

Gambar 1. Alur Pelayanan Anak Gizi buruk di Puskesmas.


Sumber : Pedoman Pelayanan Anak Gizi Buruk, 2005.

Lampiran 4

Gambar 2. Kartu Menuju Sehat.

25