Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Tonsil atau yang lebih sering dikenal dengan amandel adalah massa yang terdiri dari
jaringan limfoid dan ditunjang oleh jaringan ikat dengan kriptus didalamnya, bagian organ
tubuh yang berbentuk bulat lonjong melekat pada kanan dan kiri tenggorok. Terdapat 3
macam tonsil yaitu tonsil faringal (adenoid), tonsil palatina, dan tonsil faringal yang
membentuk lingkaran yang disebut cincin Waldeyer. Tonsil terletak dalam sinus tonsilaris
diantara kedua pilar fausium dan berasal dari invaginasi hipoblas di tempat ini.
Tonsillitis sendiri adalah inflamasi pada tonsila palatine yang disebabkan oleh infeki
virus atau bakteri. Saat bakteri dan virus masuk ke dalam tubuh melalui hidung atau mulut,
tonsil berfungsi sebagai filter/ penyaring menyelimuti organisme yang berbahaya tersebut
dengan sel-sel darah putih. Hal ini akan memicu sistem kekebalan tubuh untuk membentuk
antibody terhadap infeksi yang akan datang. Tetapi bila tonsil sudah tidak dapat menahan
infeksi dari bakteri atau virus tersebut maka akan timbul tonsillitis. Dalam beberapa kasus
ditemukan 3 macam tonsillitis, yaitu tonsillitis akut, tonsillitis membranosa, dan tonsillitis
kronis. Oleh karena itu penting bagi perawat untuk mempelajari patofisiologi, manifestasi
klinis, prosedur diagnostik dan asuhan keperawatan yang komprehensif pada klien tonsilitis
beserta keluarganya.

B. RUMUSAN MASALAH
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Apa pengertian dari tonsilitis ?


Apa etiologi dari tonsilitis ?
Bagaimana menifestasi dari tonsilitis ?
Bagaimana patofisiologi dari tonsilitis ?
Bagaimana penatalaksanaan dan pencegahan dari tonsilitis ?
Bagaimana asuhan keperawatan dari tonsilitis ?

C. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat secara nyata dalam memberikan asuhan
keperawatan pada klien dengan tonsilitis secara komprehensif.
2. Tujuan khusus
1

a. Mampu melaksanakan pengkajian secara menyeluruh pada klien tonsillitis


b. Mampu menganalisa dan menentukan masalah keperawatan pada klien tonsillitis
c. Mampu melakukan intervensi dan implementasi untuk mengatasi masalah
keperawatan yang timbul pada klien tonsillitis
d. Mampu mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan pada
kliendengan tonsilitis

BAB II
KONSEP DASAR
A. ANATOMI FISIOLOGI
Tonsil terbentuk oval dengan panjang 2-5 cm, masing-masing tonsil mempunyai 10-30
kriptus yang meluas ke dalam yang meluas ke jaringan tonsil. Tonsil tidak mengisi seluruh
fosa tonsilaris, daerah kosong diatasnya dikenal sebagai fosa supratonsilaris. Bagian luar
tonsil terikat longgar pada muskulus konstriktor faring superior, sehingga tertekan setiap kali
2

makan.Walaupun tonsil terletak di orofaring karena perkembangan yang berlebih tonsil dapat
meluas ke arah nasofaring sehingga dapat menimbulkan insufisiensi velofaring atau obstruksi
hidung walau jarang ditemukan. Arah perkembangan tonsil tersering adalah ke arah
hipofaring, sehingga sering menyebabkan terjaganya anak saat tidur karena gangguan pada
jalan nafas. Secara mikroskopik mengandung 3 unsur utama:
1. Jaringan ikat/trabekula sebagai rangka penunjang pembuluh darah saraf.
2. Folikel germinativum dan sebagai pusat pembentukan sel limfoid muda.
3. Jaringan interfolikuler yang terdiri dari jaringan limfoid dalam berbagai stadium

Tabel 1:Gambar Tonsil


Tonsil (amandel) dan adenoid merupakan jaringan limfoid yang terdapat pada daerah
faring atau tenggorokan. Keduanya sudah ada sejak anak dilahirkan dan mulai berfungsi
sebagai bagian dari sistem imunitas tubuh setelah imunitas warisan dari ibu mulai
menghilang dari tubuh anak. Pada saat itu (usia lebih kurang 1 tahun) tonsil dan adenoid
merupakan organimunitas utama pada anak, karena jaringan limfoid lain yang ada di seluruh
tubuh belum bekerja secara optimal. Sistem imunitas ada 2 macam yaitu imunitas seluler dan
humoral.
Abses peri tonsil terjadi setalah serangan akut tonsilitis. Kira-kira seminggu setelah
permulaan sakit, penderita mulai merasa tidak sehat dan demam, serta disfagia timbul
kembali. Gejala karakteristik abses peri tonsil ialah adanya trimus, tanpa gejala ini diagnosis
abses peri tonsil mungkin salah.
Tonsil (amandel) dan adenoid merupakan jaringan limfoid yang terdapat pada daerah
faring atau tenggorokan. Keduanya sudah ada sejak lahirkan dan mulai berfungsi sebagai
bagian dari sistem imunitas tubuh setelah imunitas warisan dari ibu mulai menghilang dari
3

tubuh. Tonsil dan adenoid merupakan organ imunitas utama. Sistem imunitas ada 2 macam
yaitu imunitas seluler dan humoral. Imunitas seluler bekerja dengan membuat sel (limfoid T)
yang dapat memakan kuman dan virus serta membunuhnya. Sedangakan imunitas humoral
bekerja karena adanya sel (limfoid B) yang dapat menghasilkan zat immunoglobulin yang
dapat membunuh kuman dan virus. Kuman yang dimakan oleh imunitas seluler tonsil dan
adenoid terkadang tidak mati dan tetap bersarang disana serta menyebabklan infeksi amandel
yang kronis dan berulang (Tonsilitis kronis). Infeksi yang berulan ini akan menyebabkan
tonsil dan adenoid bekerja terus dengan memproduksi sel-sel imun yang banyak sehingga
ukuran tonsil dan adenoid akan membesar dengan cepat melebihi ukuran yang normal. Tonsil
dan adenoid yang demikian sering dikenal sebagai amandel yang dapat menjadi sumber
infeksi (fokal infeksi).
Imunitas seluler bekerja dengan membuat sel (limfoid T) yang dapatmemakan
kuman dan virus serta membunuhnya. Sedangakan imunitashumoral bekerja karena adanya
sel (limfoid B) yang dapat menghasilkan zatimmunoglobulin yang dapat membunuh kuman
dan virus. Kuman yang dimakan oleh imunitas seluler tonsil dan adenoid terkadang tidak
mati dan tetap bersarang disana serta menyebabkan infeksi amandel yang kronis dan berulang
(Tonsilitis kronis). Infeksi yang berulang ini akan menyebabkan tonsil dan adenoid bekerja
terus dengan memproduksi sel-sel imun yang banyak sehingga ukuran tonsil dan adenoid
akan membesar dengan cepat melebihi ukuran yang normal. Tonsil dan adenoid yang
demikian sering dikenal sebagai amandel yang dapat menjadi sumber infeksi (fokal infeksi)
sehingga anak menjadi sering sakit demam dan batuk pilek. Selain itu folikel infeksi pada
amandel dapat menyebab kanpenyakit pada ginjal (Glomerulonefritis), katup jantung
(Endokarditis), sendi (Rhematoid Artritis) dan kulit. (Dermatitis). Penyakit sinusitis dan
otitismedia pada anak sering kali juga disebabkan adanya infeksi kronis padaamandel dan
adenoid.
(http: klikharry.wordpress.com 2007/09/05)

B. PENGERTIAN
Tonsilitis adalah radang yang disebabkan oleh infeksi bakteri kelompok A
streptococcus beta hemolitik, namun dapat juga disebabkan oleh bakteri jenis lain atau oleh
infeksi virus (Hembing, 2004).
4

Tonsilitis adalah peradangan pada tonsil palatine yang merupakan bagian dari cincin
waldeyer. Cincin palatin ini terdiri dari susunan kelenjarlimfa yang terdapat dalam rongga
mulut yaitu tonsil Faringeal (Adenoid),tonsil palatin (tonsil faucial), tonsil lingual (tonsil
pangkal lidah), tonsil TubaEustachius (lateral band dinding faring atau gerlachs tonsil).
(Soepardi,Efiary Arsyad, dkk. 2007),
Tonsilitis kronik merupakan hasil dari serangan tonsillitis akut yang berulang. Tonsil
tidak mampu untuk mengalami resolusi lengkap dari suatu serangan akut kripta
mempertahankan bahan purulenta dan kelenjar regional tetap membesar akhirnya tonsil
memperlihatkan pembesaran permanen dan gambaran karet busa, bentuk jaringan fibrosa,
mencegah pelepasan bahan infeksi (Sacharin, R.M. 1993).
Tonsilitis adalah radang yang disebabkan oleh infeksi bakteri kelompok A
streptococcus beta hemolitik, namun dapat juga disebabkan oleh bakteri jenis lain atau oleh
infeksi virus (Hembing, 2004).
Tonsilitis adalah suatu peradangan pada hasil tonsil (amandel), yang sangat sering
ditemukan, terutama pada anak-anak (Firman sriyono, 2006, 2006).
Tonsilitis adalah inflamasi dari tonsil yang disebabkan oleh infeksi (Harnawatiaj,
2006).
Tonsilitis akut adalah radang akut yang disebabkan oleh kuman streptococcus beta
hemolyticus, streptococcus viridons dan streptococcuspygenes, dapat juga disebabkan oleh
virus. (Mansjoer,A. 2000)
Tonsilektomi adalah suatu tindakan pembedahan dengan mengambilatau mengangkat
tonsil. (Arsyad Soepardi,1995)

Tabel 2 : Gambar Tonsilitis

C. KLASIFIKASI
1. Tonsillitis akut
5

Dibagi lagi menjadi 2, yaitu :


a. Tonsilitis viral
Ini lebih menyerupai common cold yang disertai rasa nyeritenggorok. Penyebab paling
tersering adalah virus Epstein Barr.
b. Tonsilitis Bakterial
c. Radang akut tonsil dapat disebabkan kuman grup Astereptococcus beta hemoliticus
yang dikenal sebagai strept throat,pneumococcus, streptococcus viridian dan
streptococcus piogenes.Detritus merupakan kumpulan leukosit, bakteri yang mulai
mati.
2. Tonsilitis membranosa
a. Tonsilitis Difteri
Penyebabnya yaitu oleh kuman Coryne bacterium diphteriae,kuman yang termasuk
Gram positif dan hidung di saluran napasbagian atas yaitu hidung, faring dan laring.
b. Tonsilitis Septik
Penyebab streptococcus hemoliticus yang terdapat dalam sususapi sehingga
menimbulkan epidemi. Oleh karena di Indonesia sususapi dimasak dulu dengan cara
pasteurisasi sebelum diminum makapenyakit ini jarang ditemukan.

3. Angina Plout Vincent


Penyebab penyakit ini adalah bakteri spirochaeta atau triponemayang didapatkan pada
penderita dengan higiene mulut yang kurang dandefisiensi vitamin C. Gejala berupa
demam sampai 39 C, nyeri kepala,badan lemah dan kadang gangguan pecernaan.
a. Tonsilitis kronik
Faktor predisposisi timbulnya tonsilitis kronis ialah rangsanganyang menahun dari
rokok, beberapa jenis makanan, higiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca kelemahan
fisik dan pengobatan tonsilitis yang tidak adekuat kuman penyebabnya sama dengan
tonsilitis akut tetapi kadang-kadang kuman berubah menjadi kuman golongan gram
negatif.(Soepardi,Efiary Arsyad,dkk 2007)

D. ETIOLOGI/PREDISPOSISI
Penyebab utama tonsilitis adalah kuman golongan streptokokus (streptokus
streptokokus hemolycitus, viridians dan pyogeneses), penyebab yang lain yaitu infeksi virus
influenza, serta herpes (Nanda, 2008). Infeksi ini terjadi pada hidung / faring menyebar
melalui sistem limpa ke tonsil hiperthropi yang disebabkan oleh infeksi bisa menyebabkan
tonsil membengkak sehingga bisa menghambat keluar masuk udara. Tonsil bisa dikalahkan
6

oleh bakteri maupun virus, sehingga membengkak dan meradang, dan juga menyebabkan
tonsilitis (Reeves, 2001).
Tonsillitis bakterialis supuralis akut paling sering disebabkan oleh streptokokus beta
hemolitikus group A, Misalnya: Pneumococcus, staphylococcus, Haemalphilus influenza,
sterptoccoccus nonhemoliticus atau streptoccus viridens. Bakteri merupakan penyebab pada
50% kasus. Antara lain streptococuss B Hemoliticus grup A, Pneumoccoccus,Virus,
Adenovirus, Virus influenza serta herpes.Penyebabnya infeksi bakteri streptococcus atau
infeksi virus.
Tonsil berfungsi membantu menyerang bakteri dan mikroorganisme lainnya sebagai
tindakan pencegahan terhadap infeksi. Tonsil bisa dikalahkan oleh bakteri maupun virus,
sehingga membengkak dan meradang, menyebabkan tonsillitis.
(Adam,1999; Iskandar,1993; Firman,2006)

E. MANIFESTASI KLINIK
1. Gejala berupa nyeri tenggorokan (yang semakin parah jika penderit amenelan) nyeri
seringkali dirasakan di telinga (karena tenggorokan dan telinga memiliki persyarafan yang
sama ). Gejala lain: Demam, tidak enak badan, sakit kepala, muntah.
2. Gejala tonsillitis antara lain : pasien mengeluh ada penghalang ditenggorokan,
tenggorokan terasa kering, pernafasan bau, pada pemeriksaan tonsil membesar dengan
permukaan tidak rata, kriptus membesar dan terisi detritus, tidak nafsu makan, mudah
lelah, nyeri abdomen, pucat, letargi, nyeri kepala, disfagia (sakit saat menelan), mualdan
muntah.
3. Gejala pada tonsillitis akut : rasa gatal/kering ditenggorokan, lesu, nyeri sendi odinafagia,
anoreksia, otalgia, suara serak (bila laring terkena),tonsil membengkakDimulai dengan
sakit tenggorokan yang ringan hingga menjadi parah, sakit menelan, kadang kadang
muntah. Tonsil kepala dan sakit pada bengkak, panas, gatal, sakit pada otot dan sendi,
nyeri pada seluruh badan, kedinginan, sakit telinga. Pada tonsillitis dapat mengakibatkan
kekambuhan sakit tenggorokan dan keluar nanah pada lekukan tonsil.(Megantara, 2006;
Mansjoer, 1999; Hembing, 2002)

F. PATOFISIOLOGI

Saat bakteri atau virus memasuki tubuh melalui hidung ataumulut,tonsil berperan
sebagai filter, menyelimuti organisme yangberbahaya tersebut sel-sel darah putih ini akan
menyebabkan infeksi ringanpada amandel.Hal ini akan memicu tubuh untuk membentuk
antibodyterhadap infeksi yang akan datang akan tetapi kadang-kadang tonsil sudahkelelahan
menahan infeksi atau virus.Infeksi bakteri dari virus inilah yangmenyebabkan tonsillitis.
Bakteri atau virus menginfeksi lapisan epitel tonsil-tonsil epitel menjadikan terkikis
dan terjadi peradangan serta infeksi pada tonsil. Infeksitonsil jarang menampilkan gejala
tetapi dalam kasus yang ekstrimpembesaran ini dapat menimbulkan gejala menelan.Infeksi
tonsil yang iniadalah peradangan di tenggorokan terutama dengan tonsil yang abses
(absesperitonsiler). Abses besar yang terbentuk dibelakang tonsil menimbulkan rasasakit yang
intens dan demam tinggi (39C-40C). Abses secara perlahan-lahan mendorong tonsil
menyeberang ke tengah tenggorokan.
Dimulai dengan sakit tenggorokan ringan sehingga menjadi parah.Pasienhanya
mengeluh

merasa

sakit

tenggorokannya

sehingga

berhenti

makan.Tonsilitis

dapat

menyebabkan kesukaran menelan, panas, bengkak, dan kelenjar getah bening melemah
didalam daerah submandibuler, sakit pada sendi dan otot, kedinginan, seluruh tubuh
sakit,sakit kepala dan biasanya sakitpada telinga.Sekresi yang berlebih membuat pasien
mengeluh sukarmenelan,belakang tenggorokan akan terasa mengental. Hal-hal yang tidak
menyenangkan tersebut biasanya berakhir setelah 72 jam.
(Edward,2001 Reeves,Charlene J.Roux,Gayle dkk,2001 )
Bakteri atau virus memasuki tubuh melalui hidung atau mulut. Amandel atau tonsil
berperan sebagai filter, menyelimuti organisme yang berbahaya tersebut. Hal ini akan
memicu tubuh untuk membentuk antibody terhadap infeksi yang akan datang akan tetapi
kadang-kadang amandel sudah kelelahan menahan infeksi atau virus.
Kuman menginfiltrasi lapisan epitel, bila epitel terkikis maka jaringan limfoid
superficial mengadakan reaksi. Terdapat pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit
poli morfonuklear. Proses ini secara klinik tampak pada korpus tonsil yang berisi bercak
kuning yang disebut detritus. Detritus merupakan kumpulan leukosit, bakteri dan epitel yang
terlepas, suatu tonsillitis akut dengan detritus disebut tonsillitis falikularis, bila bercak
detritus berdekatan menjadi satu maka terjadi tonsillitis lakunaris. Tonsilitis dimulai dengan
gejala sakit tenggorokan ringan hingga menjadi parah. Pasien hanya mengeluh merasa sakit
tenggorokannya sehingga berhenti makan. Tonsilitis dapat menyebabkan kesukaran
8

menelan, panas, bengkak, dan kelenjar getah bening melemah didalam daerah sub
mandibuler, sakit pada sendi dan otot, kedinginan, seluruh tubuh sakit, sakit kepala dan
biasanya sakit pada telinga. Sekresi yang berlebih membuat pasien mengeluh sukar menelan,
belakang tenggorokan akan terasa mengental. Hal-hal yang tidak menyenangkan tersebut
biasanya berakhir setelah 72 jam.
Bila bercak melebar, lebih besar lagi sehingga terbentuk membran semu
(Pseudomembran), sedangkan pada tonsillitis kronik terjadi karena proses radang berulang
maka epitel mukosa dan jaringan limfoid terkikis. Sehingga pada proses penyembuhan,
jaringan limfoid diganti jaringan parut. Jaringan ini akan mengkerut sehingga ruang antara
kelompok melebar (kriptus) yang akan diisi oleh detritus, proses ini meluas sehingga
menembus kapsul dan akhirnya timbul perlengketan dengan jaringan sekitar fosa tonsilaris.
Pada anak proses ini disertai dengan pembesaran kelenjar limfe submandibula

Pathway Keperawatan
Streptococcus hemolitikus tipe A
Virus hemolitikus influenza
Reaksi antigen dan antibody dalam tubuh
Antibody dalam tubuh tidak dapat melawan antigen kuman
Virus dan bakteri menginfeksi tonsil
Epitel terkikis
Inflamasi tonsil
Nyeri saat menelan
Anoreksia

Respon inflamasi

Pembengkakan tonsi

Rangsang

Sumbatan jalan

termoregulasi
hipotalamus

Intake tidak

Suhu tubuh

Mulut
bau,suara parau

napas dan cerna

Nyer
i
9

Fungsi tubuh

Tindakan
tonsilektomi

Cemas

Harga
diri
rendah

Adekuat
Hiperemi
Resiko
Kurang

G. KOMPLIKASI
Komplikasi tonsillitis akut dan kronik menurut Mansjoer, A (1999), yaitu:
1. Abses pertosil
Terjadi diatas tonsil dalam jaringan pilar anterior dan palatum mole,abses ini terjadi
beberapa hari setelah infeksi akut dan biasanyadisebabkan oleh streptococcus group A.
2. Otitis media akut
Infeksis dapat menyebar ke telinga tengah melalui tuba auditorius(eustachi) dan dapat
mengakibatkan otitis media yang dapatmengakibatkan otitis media yang dapat mengarah
pada rupture spontangendang telinga.
3. Mastoiditis akut
Ruptur spontan gendang telinga lebih jauh menyebar infeksi kedalam sel-sel mastoid.
4. Laringitis
Merupakn proses peradangan dari membran mukosa yang membentuk larynx.
Peradangan ini mungkin akut atau kronis yang disebabkan bisa karena virus, bakter,
lingkungan, maupunmkarena alergi ( Reeves, Roux, Lockhart, 2001 ).
5. Sinusitis
Merupakan suatu penyakit inflamasi atau peradangan pada satua atau lebih dari sinus
paranasal. Sinus adalah merupakan suatu rongga atau ruangan berisi udara dari dinding
yang terdiri dari membran mukosa ( Reeves, Roux, Lockhart, 2001 ).
6. Rhinitis
Merupakan penyakit inflamasi membran mukosa dari cavum nasal dan nasopharynx
( Reeves, Roux, Lockhart, 2001 ).

10

H. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan tonsillitis secara umum:
1. Jika penyebab bakteri, diberikan antibiotik peroral (melalui mulut )selama 10 hari, jika
mengalami kesulitan menelan, bisa diberikan dalambentuk suntikan.
2. Pengangkatan tonsil (Tonsilektomi ) dilakukan jika:
a. Tonsilitis terjadi sebanyak 7 kali atau lebih /tahun.
b. Tonsilitis terjadi sebanyak 5 kali atau lebih / tahun dalam kurunwaktu 2 tahun.
c. Tonsilitis terjadi sebanyak 3 kali atau lebih / tahun dalam kurunwaktu 3 tahun.
3. Tonsilitis tidak memberikan respon terhadap pemberian antibiotik.Penatalaksanaan
tonsillitis adalah:
a. Penatalaksanaan tonsillitis akut :
1) Antibiotik golongan penelitian atau sulfanamid selama 5 hari danobat kumur atau
obat isap dengan desinfektan, bila alergi dengandiberikan eritromisin atau
klidomisin.
2) Antibiotik yang adekuat untuk mencegah infeksi sekunder,kortikosteroid untuk
mengurangi edema pada laring dan obatsimptomatik.
3) Pasien diisolasi karena menular, tirah baring, untuk menghindarikomplikasi
kantung selama 2-3 minggu atau sampai hasil usapantenggorok 3 kali negative
4) Pemberian antipiretik
b. Penatalaksanaan tonsillitis kronik
1) Terapi lokal untuk hygiene mulut dengan obat kumur / hisap.
2) Terapi radikal dengan tonsilektomi bila terapi medikamentosa atauterapi
konservatif tidak berhasil.
c. Tonsilektomi menurut Firman S (2006), yaitu :
1) Perawatan Prabedah
Diberikan sedasi dan premedikasi, selain itu pasien juga harusdipuasakan,
membebaskan anak dari infeksi pernafasan bagian atas.
2) Teknik pembedahan
Anestesi umum selalu diberikan sebelum pembedahan,pasiendiposisikan
terlentang dengan kepala sedikit direndahkan dan leherdalam keadaan ekstensi
mulut ditahan terbuka dengan suatu penutup danlidah didorong keluar dari jalan.
Penyedotan harus dapat diperoleh untuk mencegah inflamasi dari darah. Tonsil
diangkat dengan diseksi /quillotine.
Metode apapun yang digunakan penting untuk mengangkat tonsilsecara
lengkap. Perdarahan dikendalikan dengan menginsersi suatu pakkasa ke dalam
ruang post nasal yang harus diangkat setelah pembedahan. Perdarahan yang

11

berlanjut dapat ditangani dengan mengadakan ligasi pembuluh darah pada dasar
tonsil.
3) Perawatan paska-bedah :
a) Berbaring kesamping sampai bangun kemudian posisi mid fowler.
b) Memantau tanda-tanda perdarahan:
(1) Menelan berulang
(2) Muntah darah segar
(3) Peningkatan denyut nadi pada saat tidur
4) Diet
a) Memberikan cairan bila muntah telah reda.
(1) Mendukung posisi untuk menelan potongan makanan yangbesar (lebih
nyaman dari adanya kepingan kecil)
(2) Hindari pemakaian sedotan (suction dapat menyebabkanperdarahan)
b) Menawarkan makanan
(1) Es cream, crustard dingin, sup krim, dan jus.
(2) Refined sereal dan telur setengah matang biasanya lebihdapat dinikmati
pada pagi hari setelah perdarahaan.Hindari jus jeruk,minuman panas,
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

makanan kasar ataubanyak bumbu selama 1 minggu


Mengatasi ketidaknyamanan pada tenggorokan
Menggunakan ice color (kompres es) bila mau
Memberikan analgesik (hindari aspirin)
Melaporkan segera tanda-tanda perdarahan.
Minum 2-3 liter / hari sampai bau mulut hilang.

5) Mengajari pasien mengenal hal berikut


a) Hindari latihan berlebihan, batuk, bersin, berdahak danmenyisi hidung segera
selama 1-2 minggu
b) Tinja mungkin seperti teh dalam beberapa hari karenadarah yang tertelan.
c) Tenggorokan tidak nyaman dapat sedikit bertambah antarahari ke-4 dan ke-8
setelah operasi.(Firman,2006; Mansjoer,1999)

I. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Dilakukan pemeriksaan fisik menyeluruh, dan pengumpulan riwayat kesehatan yang
cermat untuk menyingkirkan kondisi sistemik atau kondisi yang berkaitan. Usap tonsilar
dikultur untuk menentukan adanya infeksi bakteri. Jika tonsil adenoid ikut terinfeksi maka
dapat menyebabkan otitis media supuratif yang mengakibatkan kehilangan pendengaran,
12

pasien harus diberikan pemeriksaan audiometik secara menyeluruh sensitivitas/ resistensi


dapat dapat dilakukan jika diperlukan.

J. PENCEGAHAN
1. Seringlah cuci tangan anda, dan beri dorongan pada anak-anak anda untuk melakukan hal
yang sama.
2. Bila anda menggunakan sabun dan air:
a. Basahi tangan anda dengan air hangat yang mengalir dan gunakan sabun cair atau
sabun batangan yang bersih. Gosok hingga berbusa.
b. Gosok dengan kuat selama setidaknya 15 detik. Ajarkan pada anak-anak anda untuk
mencuci tangannya selama mereka menyanyi lagu ABS, Row, Row, Row Your Boat
atau Selamat ulang tahun hingga selesai.
c. Gosok semua permukaan tangan, termasuk bagian belakang tangan, pergelangan
tangan, diantara jari-jari dan dibawah kuku jari anda.
d. Bilas dengan bersih.
e. Keringkan tangan dengan menggunakan handuk yang bersih.
f. Gunakan handuk tersebut untuk mematikan keran air.
3. Bila sabun dan air tidak tersedia, gunakan pembersih tangan yang berbahan dasar alkohol.
Tuang sekitar sendok teh bahan pembersih tersebut ke tangan anda. Gosok-gosok kedua
tangan anda, sehingga cairan pembersih tersebut melumuri permukaan tangan anda,
hingga cairan tersebut kering.
4. Pencegahan lain yang menggunakan logika juga dapat digunakan. Pada saat batuk atau
bersin gunakan tisu atau lengan anda. Jangan menggunakan gelas minum dan peralatan
makan untuk bersama-sama. Hindari berada dekat dengan orang yang sedang sakit. Cari
tempat penitipan anak yang mempraktekkan kebijakan soal kebersihan dan meminta agar
anak-anak yang sakit tetap berada di rumah

13

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TONSILITIS
A. PENGKAJIAN FOKUS DAN PEMERIKSAANPENUNJANG
1. Pengkajian focus
a. Wawancara
1) Kaji adanya riwayat penyakit sebelumnya (tonsillitis)
2) Apakah pengobatan adekuat
3) Kapan gejala itu muncul
4) Apakah mempunyai kebiasaan merokok
5) Bagaimana pola makannya
6) Apakah rutin / rajin membersihkan mulut
b. Pengkajian Pola
1) Data dasar pengkajian
a) Integritas Ego
Gejala : perasaan takut, khawatir bila pembedahan mempengaruhihubungan
keluarga, kemampuan kerja, dankeuangan.
Tanda : ansietas, depresi, menolak.
14

2. Makanan / Cairan
Gejala : Kesulitan menelan
Tanda : Kesulitan menelan, mudah tersedak, inflamasi,kebersihan gigi buruk/kurang.
3. Hygiene
Tanda : kesulitan menelan
4. Nyeri/ Keamanan
Gejala : Sakit tenggorokan kronis, penyebaran nyeri ketelinga
Tanda : Gelisah, perilaku berhati-hati.
5. Pernafasan
Gejala : Riwayat merokok / mengunyah tembakau, bekerja dengan serbuk kayu, debu.
(Firman,2006;Doenges,1999)

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Prioritas ke :
1
2
3

Diagnosa Keperawatan
Nyeri akut berhubungan dengan pembengkakan jaringan tonsil.
Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan anoreksia.

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

(NOC)
Nyeri akut berhubungan Setelah dilakukan tindakan
manejemen
dengan
pembengkakan keperawatan
nyeri selama 3 x 24 jam
jaringan tonsil.
diharapkan
tidak
ada
masalah dalam nyeri dengan
skala 4 sehingga nyeri dapat
hilang atau berkurang
Kriteria hasil :
- Mengenali
faktor
penyebab.
- Mengenali
serangan
nyeri
- Tindakan
pertolongan
non Analgeki
- Mengenali gejala nyeri
- Melaporkan
kontrol
15

Intervensi (NIC)
-

Lakukan
pengkajian
nyeri
secara
komprehensif termasuk
lokasi,
karakteristik,
durasi,
frekuensi,
kualitas
dan
faktor
presipitasi.
Ajarkan teknik non
farmakologi
dengan
distraksi / latihan nafas
dalam.
Berikan analgesik yang
sesuai.
Observasi reaksi non
verbal
dari
ketidanyamanan.

nyeri
a.
b.
c.
d.
e.
f.
Hipertermi

Skala
Ekstream
Berat
Sedang
Ringan
Tidak Ada

berhubungan Setelah dilakukan tindakan -

dengan proses penyakit

diharapkan

24

tidak

ada

kulit

suhu tubuh kembali normal


atau turun.
Kriteria hasil :
dalam

Suhu kulit dalam batas


normal

Nadi

dan

pernafasan

dalam batas normal


-

Monitor

Tidak ada tanda-tanda


malnutrisi.

16

tekanan

darah,

nadi, dan pernafasan.


-

Monitor intake dan output


Berikan pengobatan untuk
demam

rentang normal
-

mengatasi

tubuh

sesering

Monitor warna, dan suhu

dengan skala 4 sehingga

Suhu

suhu

jam -

masalah dalam suhu tubuh

Monitor
mungkin

keperawatan fever treatment


selama

Anjurkan pasien untuk


istirahat.

penyebab

Ketidakseimbangan

nutrisi

Setelah dilakukan tindakan


kurang dari kebutuhan tubuh keperawatan
manejemen
berhubungan
dengan nutrisi selama 3 x 24 jam
diharapkan
tidak
ada
anoreksia.
masalah nutrisi sehingga
ketidak seimbangan nutrisi
dapat teratasi
Kriteria hasil :
- Adanya
peningkatan
BB sesuai tujuan
- BB ideal sesuai tinggi
badan
- Mampu
mengidentifikasi
kebutuhan nutrisi

17

Berikan makanan yang

terpilih
Kaji kemampuan klien
untuk

mendapatkan

nutrisi yang dibutuhkan


Berikan makanan sedikit

tapi sering
Berikan makanan selagi
hangat dan dalam bentuk
menarik.

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Tonsil terbentuk oval dengan panjang 2-5 cm, masing-masing tonsilmempunyai 10-30
kriptus yang meluas ke dalam yang meluas ke jaringantonsil. Tonsil tidak mengisi seluruh
fosa tonsilaris, daerah kosong diatasnya dikenal sebagai fosa supratonsilaris.
Tonsilitis adalah radang yang disebabkan oleh infeksi bakteri kelompok A
streptococcus beta hemolitik, namun dapat juga disebabkan oleh bakteri jenis lain atau oleh
infeksi virus (Hembing, 2004).
Ciri-ciri atau dengan tanda dan gejala :
1.
2.
3.
4.

Demam
Tidak enak badan, mual, muntah
Tonsil membesar dengan permukaan tidak rata
Dengan pengobatan / therapi-therapi dari dokter dan insisi bedah, dapat menyembuhkan
tonsillitis.

B. SARAN
1. Penulis berharap agar pembaca dapat mengerti tentang penyakit Tonsilitis mulai dari
definisi sampai dengan hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam penyakit Ablasio
Retina.
2. Mahasiswa selaku calon perawat dapat lebih mengenal tentang pembahasan ini, dan dapat
mensosialisasikan kepada masyarakat luas dan sekitarnya
3. Penulis berharap agar tenaga kesehatan baik medis maupun paramedik dapat memberikan
asuhan keperawatan kepada klien ablasio retina sesuai dengan ilmu dan kiat keperawatan
yang seharusnya.

18