Anda di halaman 1dari 18

http://perbedaanterbaru.blogspot.co.

id/2015/08/perbedaan-kualitatif-dan-kuantitatif

Dalam sebuah penelitian memiliki dua buah metode yakni kualitatif dan juga kuantitatif. Apakah
perbedaan kualitatif dan kuantitatif dalam sebuah metode penelitian tersebut. Kedua metode penelitian
tersebut pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, yakni sama-sama digunakan untuk mengumpulkan
data. Selain itu dengan metode tersebut, peneliti juga bisa mempertanggung jawabkan datanya karena
langsung melakukan penelitian dan observasi. Lalu, jika sama-sama memiliki tujuan akhir yang sama
dimanakah perbedaan keduanya? Agar lebih jelas mengenai perbedaan kedua metode penelitian
tersebut, Anda bisa langsung simak ulasannya berikut ini. Dari segi data yang diambil kedua hal ini
memiliki perbedaan pada hasil data yang didapatkan. Pada metode kualitatif hasil yang didapat berupa
penjelasan, catatan observasi, dokumen, dan juga wawancara atau angket. Sedangkan jika melakukan
penelitian menggunakan metode kuantitatif data yang didapat biasanya berupa angka, koding,
perhitungan, pemetaan dan lainnya. Tujuan dari kedua metode ini tentu saja untuk mendapatkan data
yang valid untuk melakukan pengkajian terhadap beberapa hal dengan observasi secara langsung.
Dengan data yang valid dan pasti, maka bisa dihasilkan sebuah penelitian yang baik dan juga bisa
dipertanggungjawabkan. Dari segi tujuan penelitiannya, kedua metode ini juga memiliki perbedaan, pada
metode kualitatif sebuah penelitian dilakukan untuk mengembangkan sebuah konsep yang sebelumnya
sudah ada. Selain itu, penelitian kualitatif juga bertujuan untuk membuat orang lebih paham akan sebuah
teori dan juga mengembangkan teori yang sudah ada. Sedangkan untuk penelitian kuantitatif memiliki
tujuan untuk melakukan pengujian akan sebuah teori. Selain itu, dengan penelitian kuantitatif juga bisa
dihasilkan pemetaan untuk memberikan gambaran berupa angka dan juga statistik. Metode kuantitatif
juga bisa digunakan untuk meyakinkan sebuah fakta atau juga membuat prediksi akan sebuah teori yang
dikeluarkan. Dari segi sampling antara dua metode ini memiliki perbedaan yang cukup jelas pula. Jika
pada metode kualitatif sampling dilakukan dengan metode non representatif jadi peneliti bisa langsung
observasi bisa juga lewat telepon atau hal lainnya. Responden untuk penelitian kualitatif biasanya juga
lebih sedikit sehingga tidak terlalu repot dalam melakukan penelitian. Sedangkan untuk penelitian
kuantitatif sampling dilakukan dengan metode representatif yakni peneliti langsung datang untuk
melakukan observasi. Cakupan penelitian kuantitatif juga lebih luas dengan jumlah responden yang jauh
lebih banyak. Dengan demikian bisa dihasilkan data yang valid untuk melakukan sebuah pemetaan.
Perbedaan kualitatif dan kuantitatif terakhir bisa dilihat dari segi pengumpulan data yang dilakukan.
Karena metode penelitian kualitatif lebih bersifat pengujian dan pengembangan maka pengumpulan data
bisa dengan melakukan wawancara. Selain itu metode kualitatif juga memungkinkan kita melakukan
observasi partisipatif. Sedangkan untuk metode penelitian kuantitatif karena bersifat pembuktian metode
pengumpulan data biasanya menggunakan eksperimen. Selain itu, survey juga sangat tepat digunakan
dalam sebuah penelitian kuantitatif.

Penelitian dilakukan oleh orang-orang yang sedang mengamati atau meneliti sebuah peristiwa untuk mendapatkan
informasi. Metode penelitian ini berfungsi sebagai pengamat, proses, cara, serta prosedur untuk mendapatkan
sebuah karya ilmiah yang bermanfaat. Penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif ini bersifat ilmiah.
Penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang lebih difokuskan pada pemahaman fenomena-fenomena
sosial dari perspektif partisipan dengan lebih menitikberatkan pada gambaran yang lengkap daripada merinci
menjadi variabel yang saling terkait.penelitian kualitatif bertujuan memperoleh pemahaman makna verstehen,
mengembangkan teori dan menggambarkan realita yang kompleks. Pada penelitian kualitatif tidak bisa di peroleh
atau diukur menggunakan prosedur-prosedur statistik. Penelitian kualitatif sering digunakan sebagai penelitian
tentang kehidupan suatu masyarakat.

Data yang dihasilkan pada penelitian kualitatif adalahdata yang deskriptifberupa kata-kata tertulis atau ucapan
pelaku yang sedang diamati. Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman tentang hal yang di
amati serta memperoleh teori baru untuk dijadikan sebagai karya ilmiah. Paradigma yang dipakai pada penelitian
kualitatif adalah paradigma alamiah yang berdasarkan pada pandangan fenomenalogis.
Sebagai contoh : kondisi barang (jelek,sedang,bagus), pekerjaan ( petani, pengusaha, pedagang), tingkat kepuasan
( tidak puas, puas, sangat puas) ,dll
Data kualitatif terdiri dari data nominal dan ordinal.
Penelitian kuantitatif adalah metode penelitan yang bersifat deskriptif dan lebih banyak menggunakan
analisis.penelitan kuantitatif bertujuan mencari hubungan yang menjelaskan sebab - sebab dalam fakta - fakta sosial
yang terukur, menunjukan hubungan variabel serta menganalisa. Penelitian kuantitatif ini dilakukan dengan
mengumpulkan data dan hasil analisis untuk mendapatkan informasi yang harus disimpulkan. Paradigma yang
digunakan pada penelitian kuantitatif adalah paradigma yang berasal dari pandangan positivism. Dan juga bisa di
lihat dari maksud sebuah penelitian itu sendiri. Sebagai contoh : tinggi badan, umur, jumlah benda, penghasilan
seseorang,dll.
Data kuantitatif terdiri dari data interval dan rasio
Perbedaan Metode Kualitatif dengan metode kuantitatif :
a. Bedasarkan jenis data

Metode kulitatif jenis datanya adalah data kualitatif sedangkan metode kuantitatif jenis datanya adlah data
kuantitatif. Data (yang bersifat) Kualitatif merupakan data yang dihasilkan dari cara pandang yang menekankan pada
ciri-ciri, sifat dan mutu obyek (subyek) yang bersangkutan. Berbeda dari data kuantitatif yang bersifat numerik, data
kualitatif bersifat non-numerik (kata-kata deskriptif), seperti cantik, tampan, gagap, tampak kurang berpendidikan,
reponsif, bagus sekali, lincah, mewakili anak muda zaman sekarang, dan lain-lain.
b. Berdasarkan Tujuan
Penelitian kualitatif bertujuan untuk melakukan penafsiran terhadap fenomena sosial. Metodologi penelitian yang
dipakai adalah multi metodologi, sehingga sebenarnya tidak ada metodologi yang khusus. Tujuan Penelitian
Kuantitatif adalah mengembangkan dan menggunakan model-model matematis, teori-teori dan hipotesis yang
dikaitkan denganfenomena alam. Penelitian kuantitatif banyak digunakan untuk menguji suatu teori, untuk
menyajikan suatu fakta atau mendeskripsikan statistik, untuk menunjukkan hubungan antarvariabel, dan ada pula
yang bersifat mengembangkan konsep, mengembangkan pemahaman atau mendeskripsikan banyak hal, baik itu
dalam ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial.
c. Berasarkan Obyek penelitian
Metode kualitatif lebih berfokus pada satu obyek penelitian saja sedangkan metode kuantitatif bisa lebih dari satu
obyek penelitian.
d. Berdasarkan Instrumen yang digunakan
Pada metode kuantitatif instrument penelitian yang biasa digunakan adalah angket, kuesioner, atau instrument yang
lain. Namun pada metode kualitatif instrument yang digunakan adalah peneliti itu sendiri artinya peneliti sendiri lah
yang harus terjun langsung kedalam penelitian agar bisa melihat dan merasakan fakta yang sebenarnya.
e. Berdasarkan orientasi
Penelitian kualitatif lebih beroreintasi pada proses penelitian sedangkan penelitian kuantitatif lebih berorientasi pada
hasil penelitian.
f. Berdasarkan Proses
Metode kuantitatif mengunakan proses deduktif-induktif. sedangkan metode kualitatif adalah induktif
g. Berdasarkan sifat realitas
Dalam metode kuantitatif yang berlandaskan pada filsafat positivism, realitas dipandang sebagai suatu yang kongkrit,
dapat diamati dengan panca indera, dapat dikategorikan menurut jenis, bentuk, warna, dan perilaku, tidak berubah,
dapat diukur dan diverivikasi. Dengan demikian dalam metode ini, peneliti dapat menentukan hanya beberapa
variabel saja dari objek yang diteliti, dan kemudian dapat membuat instrument untuk mengukurnya. Dalam
penelitian kualitatif yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme atau paradigma interpretive, suatu realitas atau
objek tidak dapat dilihat secara parsial dan dipecah kedalam variabel.
h. Berdasarkan hubungan Variabel
Pada netode kualitatif hubungan antara variabel adalah timbal balik atau interaksi. Pada metode kauntitatif lebih
kepada sebab akibat.
i. Berdasarkan penggunaan
Metode kuantitatif digunakan apabila :

Bila masalah yang merupakan titik tolak penelitian sudah jelas.

Bila peneliti ingin mendapatkan informasi yang luas dari suatu populasi.

Bila ingin diketahui pengaruh perlakuan/ treatment tertentu terhadap yang lain.

Bila peneliti bermaksud menguji hipotesis penelitian.

Bila peneliti ingin mendapatkan data yang akurat, berdasarkan fenomena yang empiris dan dapat diukur.

Bila ingin menguji terhadap adanya keragu- raguan tentang validitas pengetahuan, teori dan produk
tertentu.

Metode Kualitatif digunakan apabila :

Bila masalah penelitian belum jelas

Untuk memahami makna dibalik data yang tampak.

Untuk memahami interaksi sosial.

Memahami perasaan orang.

Untuk mengembangkan teori.

Untuk memastikan kebenaran data.

Meneliti sejarah perkembangan.

Persamaan Metode Kualitatif dan Metode Kuantitatif


1.

Merupakan sebuah metode yang digunakan dalam penelitian guna memecahkan sebuah masalah

2.

Memiliki obyek dan subyek

3.

Memiliki variabel

4.

Menerapkan metode pengumpulan data yang sistematis dan terbuka hingga bisa dinilai pihak lain.

5.

Melibatkan inferensi (simpulan) detil-detil pengamatan empiris ke suatu kesimpulan umum.

6.

Membandingkan data, mencari kesamaan dan perbedaan untuk menemukan pola tertentu pada data.

7.

Menggunakan prosedur untuk menghindari kesalahan analisis dan penarikan inferensi.

Bismillaah,
Pada kesempatan kali ini, saya akan sedikit membahas tentang pendidikan karakter sesuai dengan
tahapan perkembangan anak. Dalam Islam, istilah karakter dikenal dengan akhlak (mulia). Dalam
teori psikologi karakter dikenal dengan sebutan Emotional Quotient (EQ) atau Character Quotient .
Tentunya, saya akan menjelaskan terlebih dahulu, apakah karakter itu =)

Apakah Karakter?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Karakter memiliki arti:
1.

Sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain.

2.

Karakter juga bisa bermakna huruf. Terkait hal yang kita bahas, tentunya definisi pertama
yang kita gunakan.
Menurut (Ditjen Kementerian Pendidikan Nasional), Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku
yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga,
masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat
keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.
W.B. Saunders (1977) menjelaskan bahwa karakter adalah sifat nyata dan berbeda yang ditunjukkan
oleh individu, sejumlah atribut yang dapat diamati pada individu.
Gulo W (1982) menjabarkan bahwa karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau
moral, misalnya kejujuran seseorang, biasanya mempunyai kaitan dengan sifat-sifat yang relatif
tetap.
Kamisa (1997), mengungkapkan bahwa karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti
yang membedakan seseorang dari yang lain, tabiat, watak.
Dari berbagai definisi di atas, saya definisikan karakter sebagai
cara berpikir dan berperilaku baik yang dimiliki oleh individu untuk bisa diterima dalam menjalankan
peran bermasyarakat yang sesuai dengan standar norma yang berlaku.
Apakah Pendidikan karakter ?
Pendidikan yang ditujukan untuk membantu mengembangkan (moral) anak sehingga anak bisa
diterima secara sosial, dalam menjalankan peran bermasyarakat dan berperilaku sesuai dengan
standar moral.
Dan sama seperti karakter yang dikenal dengan berbagai istilah, Untuk istilah pendidikan karakter
pun ada bemacam-macam, misalnya pendidikan akhlak, social and emotional learning, life skills
education, ethical reasoning and emotional quotient (E.Q.) teaching Apa pentingnya pendidikan
karakter ?
Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan
akhlak yang mulia. (Al Bukhari)
Akhlak (Mulia) adalah perhiasan yang paling utama karena orang mukmin yang paling sempurna
imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dengan akhlak yang baik, seorang mukmin dapat
mencapai derajat seperti orang yang siang harinya selalu berpuasa dan dimalam hari selalu shalat
malam.
Tidak ada sesuatupun yang lebih berat dalam timbangan daripada akhlak yang baik.(HR. Abu
Dawud dan at-Tirmidzi),

Nabi shallallahu alaih wa sallam bersabda, Sesungguhnya orang yang terbaik dari kalian adalah
orang yang paling baik akhlaknya.(Muttafaqun alaih)
Rasulullaah shallallahu alaih wa sallam pernah bertanya kepada para sahabat, Maukah aku
kabarkan kepada kalian siapa yang tempat duduknya paling dekat denganku pada hari kiamat?
orang-orang pun terdiam, maka Rasulullah shallallahu alaih wa sallam pun mengulangnya dua atau
tiga kali. Lantas mereka pun menjawab, Ya, wahai Rasulullah. Maka beliau bersabda, Yang paling
baik akhlaknya.(HR. Ahmad dan al-Bukhari)
Oleh karena itu, para ulama terdahulu selalu mengajarkan anak-anak mereka mempelajari adab dan
akhlak terlebih dahulu sebelum mereka menuntut ilmu. Berikut perkataan beberapa imam terdahulu
yang menyatakan tentang pentingnya mempelajari adab menuntut ilmu.
1.

Imam Sufyan ats-Tsauri (wafat th, 161 H) berkata Mereka tidak menyuruh/mengirimkan anak-

anak mereka untuk menuntut ilmu, hingga mereka mempelajari adab dan beribadah selama 20
tahun
Beliau juga mengatakan, Adab itu 2/3 ilmu.
2.

Imam Muhammad bin Sirin (wafat th.110 H) berkata, Mereka (Salafush Shalih) mempelajari

petunjuk Nabi ( tentang Adab) sebagaimana mereka belajar ilmu.


Dalam ilmu psikologi, Daniel Goleman menjelaskan dalam bukunya Emotional Intelligence bahwa
jika kita tidak mampu mengelola aspek perasaan atau emosi kita dengan baik, maka kita tidak akan
mampu menggunakan aspek kecerdasan konvensional/ kognitif kita (IQ) secara efektif.
Ia juga mengatakan bahwa kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20 % dan 80 %
sisanya ditentukan oleh faktor-faktor kecerdasan emosional. Pada akhirnya, memang banyak sekali
penelitian terkait EQ yang menunjukkan bahwa EQ berperan sangat penting dalam keberhasilan
hidup seseorang, baik dalam pekerjaan, pendidikan, dan dalam mengatasi masalah-masalah yang
dihadapi sehari-hari.
Penelitian lain menyebutkan bahwa anak-anak yang mampu mengendalikan dirinya untuk menunda
mendapatkan suatu hal yang menyenangkan (postponement of pleasure or gratification) akan lebih
baik dalam menyesuaikan diri ketika dewasa, berprestasi lebih baik di sekolah, dan menjalani hidup
yang baik ketika dewasa.
Penelitian Martin Seligman tentang optimisme pada pekerja menunjukkan bahwa orang-orang yang
memiliki skor optimis lebih tinggi menunjukkan kinerja yang lebih baik.
Orang-orang yang memiliki skor kepekaan non verbal yang baik (empati) lebih sukses dalam
pekerjaan dan hubungan sosial.
Orang-orang yang memiliki kecerdasan spiritual yang baik memiliki EQ yang baik pula.
Sekolah yang menerapkan program emotion learning untuk membantu siswa melakukan
manajemen marah, grustasi, kesendirian, dalam beberapa hari mengalami penurunan jumlah siswa
yang berkelahi di waktu istirahat siang.

Daniel Goleman memformulasikan gagasannya dalam kerangka kecakapan emosi yang meliputi
kecakapan Intrapersonal intelligence dan kecakapan interpersonal intelligence.
1. Intrapersonal intelligence merupakan kecakapan mengenali perasaan dalam diri kita sendiri
yang terdiri dari:
1.

Kesadaran diri (self awareness) : memahami emosi diri, penilaian pribadi dan percaya diri.

2.

Pengaturan diri meliputi (self regulation) : pengendalian diri (emosi), dapat dipercaya,
waspada adaptif

3.

dan inovatif.

Motivasi diri (self motivation): dorongan berprestasi, komitmen, inisiatif dan optimis.
Orang-orang dengan kemampuan interpersonal yang baik akan mampi melewati masa-masa yang
sulit seperti depresi, perasaan tidak berdaya, moody, cemburu, penyesalan, yang memnuatnya tidak
bahagia. Orang dengan EQ yang baik akan menjalani hidup yang bahagia sebagai individu.
2. Interpersonal intelligence merupakan kecakapan dalam berhubungan dengan orang lain yang
terdiri dari :

1.

Empati (empathy): memahami orang lain, pelayanan, mengembangkan orang

lain,

mengatasi keragaman dan kesadaran politis


2.

Kemampuan Sosial (social skill): pengaruh, komunikasi, kepemimpinan, katalisator


perubahan, manajemen konflik, pengikat jaringan, kolaborasi dan koperasi serta kerjasama tim.
Orang-orang dengan kemampuan interpersonal yang baik akan lebih efektif dalam berhubungan dan
bekerjasama dengan orang lain meskipun melewati hal-hal yang sulit. Lebih sukses dalam karier
baik di kantor maupun di rumah.
Bagaimana agar kita dapat menjadi pribadi yang berkarakter atau memiliki akhlak yang mulia?
Sebagai muslim, jalan atau cara yang termudah dan paling utama untuk bisa berakhlak mulia adalah
dengan meneladani Rasulullah shallallahu alaih wa sallam, karena akhlak beliau adalah Al-Quran.
Beliau adalah manusia yang memiliki akhlak yang terbaik. Beliau memberi orang yang menghalanghalanginya, memaafkan orang-orang yang menzaliminya, menyambung tali silaturahim kepada
keluarga yang memutuskan hubungan dengannya, dan berbuat baik kepada orang yang berbuat
jahat kepadanya. Ini semua adalah dasar-dasar akhlak.
Allah Taala berfirman, Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia
banyak menyebut Allah.(al-Ahzaab : 21) dan Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang
mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. Dan jika kamu
ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah.(al-Araaf : 199-200) Siapa Yang
Mengajarkan Pendidikan Karakter?

Ajaran agama kita dan semua teori Psikologi menjelaskan bahwa orang tua (care giver) yang
merupakan sumber pertama dan utama bagi anak untuk tumbuh dalam hidupnya bertanggung
jawab dan berperan penting dalam mengajarkan pendidikan karakter ini.
Bagaimana Tahapan perkembangan anak dan Pendidikan Karakternya?
Menurut Erik Erikson(1963), ada 8 tahap perkembangan psikosial manusia. Sejak usia bayi hingga
usia remaja ada 5 tahap, yaitu:
1. Trust vs Mistrus
Tahap ini berlangsung pada masa oral, pada umur 0-1 tahun atau 1,5 tahun (infancy).Poin
pembentukan karakter yang harus diperhatikan pada masa ini adalah MEMBUAT BAYI PERCAYA
KEPADA LINGKUNGAN, karena :

bayi sepenuhnya bergantung pada kualitas dan kesungguhancaregiver-nya.

butuh kepekaan caregiver untuk mengetahui kebutuhan-kebutuhan bayi karena bayi belum
mampu mengungkapkan kebutuhannya kecuali dengan menangis yang tentunya banyak
penyebabnya.

bila bayi telah berhasil membangun rasa percaya terhadap si penjaga, bayi akan merasa
nyaman & terlindungi di dalam kehidupannya.

bila penjagaannya tidak stabil & emosi terganggu, bayi akan merasa tidak nyaman dan tidak
percaya pada lingkungan sekitar.

kegagalan mengembangkan rasa percaya, menyebabkan bayi akan merasa takut dan yakin
bahwa lingkungan tidak akan memberikan kenyamanan bagi bayi tersebut, sehingga bayi tersebut
akan selalu curiga pada orang lain.
Dalam Islam, fase ini adalah masa bayi (0 hingga 2 tahun)
Pada fase ini orang tua anak perlu untuk mengembangkan kasih sayang secara dua arah dimana
ibu memberikan kasih sayangnya dan dalam waktu bersamaan juga menstimulus/ mengembangkan
kemampuan anak memberikan respon terhadap kita.
Caranya?
a. Caregiver SIAP untuk SELALU bersikap penuh kasih sayang, lembut dan sabar kepada anak.
bagaimana anak bisa percaya sama dunia nya sedangkan ortunya udah stress duluan repot segala
macam punya anak.. dan marah2 ? =)
b. Peka kebutuhan bayi. Tetap sabar, penuh kasih sayang, dan lembut dalam menstimulusfisik anak,
menerima perasaan-perasaan bayi dan tidak membiarkan bayi menangis terlalu lama.
c Tidak membandingkan-bandingkan perkembangan bayi karena tiap bayi punya perkembangan
unik masing-masing. Minimal sekali, orang tua mengetahui milestone perkembangan fisik anak
sehingga tau kapan masa aman dan tidak aman untuk setiap perkembangan fisik anak.

d. Komunikatif dengan bayi. Banyak orang tua yang tidak mengobrol atau malas mengobrol dengan
bayinya.
Alasannya ? karena anaknya juga belum bisa ngomong.. ngga ngerti ngga ngerespon juga..
ngapain diajak ngomong
Lho.. kalau bayinya ngga diajak-ajak ngomong, kapan bisa bicaranya karena kemampuan verbal
kan ngga datang dengan sendirinya, butuh distimulus..
e. Perbanyak sentuhan fisik yang penuh kasih sayang pelukan, ciuman, usapan, belaian, dll
f. Perbanyak juga kata-kata positif, misalnya
ayah bunda sayang kamu
masya Allaah cantiknya, pintarnya, kuatnya, hebatnya..
Menyemangati anak setiap kali anak berhasil melakukan gerakan tertentu, ntah itu ketika anak mulai
miring-miring, tengkurap, membolik balik badan, dll..
Selalu berikan masukan positif, STOP untuk ragu memuji anak, mengatakan bahwa kita bangga
padanya..!
Saat ini, seharusnya tidak ada lagi orang tua- orang tua yang berpikir bahwa memberikan kasih
sayang cukup lewat perilaku, apalagi uang Padahal salah satu kebutuhan penting manusia adalah
perasaan yakin bahwa dirinya baik, berarti, dicintai oleh orang tuanya, keluarganya, gurunya,
lingkungannya, dll.. dan itu didapatkan lewat kata-kata verbal yang dengan sangat jelas diterima oleh
anak. Karena seperti manusia normal, anak tidak dapat membaca pikiran orang lain.
g. Yakinkan anak bahwa ia tidak sendirian.
Hingga usia sekitar 8-9 bulan, bayi hanya paham bahwa sesuatu yang ada jika terlihat olehnya. Jika
tidak terlihat maka objek itu tidak ada atau hilang (object permanence). Oleh karena itu jika ingin
meninggalkan bayi, mulai dengan mengatakan padanya/izin (walau bayi mungkin belum paham) dan
usahakan tetap memperdengarkan suara kita hingga terdengar oleh bayi agar bayi merasa aman
dan nyaman, bahwa caregiver-nya tidak meninggalkannya. Ajarkan bayi permainan cilukba/peek a
boo sejak usia 7-8 bulan agar bayi dapat mulai paham bahwa sesuatu yang tidak terlihat di matanya
sebenarnya tetap ada dan tidak menghilang. Pada usia yang lebih besar lagi, ajak bermain
permainan menyembunyikan barang, mainan atau semacamnya untuk dicari oleh bayi.
Setelah anak merasa percaya pada dunianya, anak akan merasa aman, diterima seutuhnya
sehingga ia akan merasa yakin untuk melakukan dan meminta sesuatu yang dibutuhkannya.
Dengan demikian karakter Percaya Diri yang insya Allah akan terbentuk. Percaya diri inilah yang
menjadi fokus kita selanjutnya dan akan sangat membantu anak menghadapi kehidupannya. 2.
Otonomy vs shame and doubt (Otonomi vs perasaan malu dan ragu-ragu)
Tahap ini merupakan tahap anus-otot (anal/mascular stages), masa ini disebut masa batita yang
berlangsung mulai usia 1-3 tahun (early childhood). Saat ini, bayi sudah disebut dengan anak (di
atas 1 tahun, bukan bayi lagi =)) .

Dalam Islam, masa anak-anak (2-7 tahun atau disebut dengan fase thufulah)
Pada fase inilah merupakan fase penting memberikan pondasi dasar tauhid pada anak melalui cara
aktif agar anak terdorong dan memiliki tauhid aktif dimana anak mau melakukan sesuatu yang baik
semata menurut Allah.
Fase ini fase penting penanaman pondasi bagi anak. Tinggal cari cara nih bagaimana
menerapkannya.
Poin pembentukan karakter yang harus diperhatikan pada masa ini adalah MEMBUAT ANAK
PERCAYA DIRI, karena :
Pada masa ini anak cenderung aktif mencoba-coba dalam segala hal, baik eksplorasi fisiknya
maupun lingkungan, sehingga orang tua dianjurkan untuk tidak terlalu membatasi ruang gerak serta
kemandirian anak.
Pembatasan ruang gerak pada anak dapat menyebabkan anak akan mudah menyerah dan tidak
dapat melakukan segala sesuatu tanpa bantuan orang lain.
Kebebasan tersebut tentunya berbatas agar anak tidak semau-maunya.
Anak yang terlalu diberi kebebasan akan cenderung bertindak sesuai yang dia inginkan tanpa
memperhatikan baik buruk tindakan tersebut.
Penting bagi anak untuk dapat belajar tentang kontrol diri dan harga diri.
Caranya? a. Caregiver selalu berkata- kata positif, siap untuk menyemangati anak ketika melakukan
sesuatu, memberikan pujian, bersyukur, berterimakasih untuk anak.. dan tentunya, penting
bagi caregiver untuk punya stok perbendaharaan kata yang tepat untuk setiap situasi.
>jangan cuma pinter, hebat nanti anak malah bingung kok aku dibilang hebat dan pinter mulu
sih.
Misalnya, bangganya bunda sama kamu.. masya Allah, mandirinya mau makan sendiri, lincahnya
larinya, Nak.. Gesitnya ambi barang-barangnya Sabarnya, mau nungguin bunda selesai mandi..
sopannya, berbicara dengan lemah lembut.. Terimakasih anak penolong, mau bantuin bunda
beresin mainannya.. dll
b. Menyiapkan rumah yang aman agar anak mendapatkan kesempatan yang seluas-luasnya untuk
bereksplorasi.
c. Berempati dan melatih anak2 untuk mengenali emosinya.. apakah ia sedang marah, kesal,
senang, sedih, bahagia, dll
Ketika anak bermasalah, orang tua nomor 1 harus melakukan empati! bayangkan bagaimana
rasanya menjadi anak tanyakan dulu apa emosi yang dirasakannya bantu anak untuk tahu apa
yang ia rasakan.. karena mengenali emosi ini akan sangat membantu anak untuk merasa dipahami
dan dterima oleh orang tua..
d. Sejak anak memasuki usia 2 tahun, fase ini adalah waktunya bagi ortu mengenalkan peraturan
tegas dan konsisten namun tetap dengan penuh kelembutan dan kasih sayang karena masa-

masa ini apalagi setelah fisik nya lebih sempurna, anak akan akan semakin giat mengeksplorasi ini
itu dan kita akan mulai mengalami sendiri bagaimana tantrum pada anak =))
Mengapa sejak awal kita harus lembut?
Karena harapannya, sejak awal kita ingin memiliki anak yang berhati LEMBUT. sehingga kalau anak
macem2 di usia ini dan ke depannya, kita ngga perlu ngomel2 luar biasa untuk mengingatkannya..
=) e. Orang tua terus berlatih untu berpikir positif..! tidak judging apalagi labelling
Misalnya, kalau anak susah diingatkan, berarti anak kita persisten, berpendirian teguh, gigih.. ini
adalah modal yang baik untuk seeemua anak
Kalau anak semau2 nya, ngga ikut aturan?
Berpikirlah bahwa berarti anak kita kreatif dan masih belajar untuk mengenali peraturan yang kita
ajarkan =)
Kalau anak manjat-manjat lari kesana kesini
Berpikirlah bahwa anak kita aktif, sehat, lincah
Orang tua harus pintar membuat label positif untuk anak agar anak terus percaya diri. Karena pada
masa selanjutnya, kita berharap bahwa anak kita memiliki kemandirian, percaya pada
kemampuannya sendiri, merasa disayangi orang tua, merasa ia mampu melakukan sesuatu, merasa
bangga bahwa ia dapat melakukan hal yang baik, berani mengungkapkan yang diinginkannya,
merasa bahagia, sehingga ketika di dalam lingkungannya pun ia tidak akan ragu-ragu, mau
berpartisipasi dalam berbagai kegiatan dan MENGAMBIL INISIATIF untuk suatu tindakan yang akan
dilakukan. Inisiatif inilah yang menjadi fokus perkembangan karakter di tahap selanjutnya.
3. Inisiatif vs Guilt ( Inisiatif vs rasa bersalah)
Tahap ini dialami pada anak saat usia 4-5 tahun (preschool age).
Poin pembentukan karakter yang harus diperhatikan pada masa ini adalah penanaman semua nilainilai/karakter baik dalam berbagai situasi dengan cara yang baik pula, karena:
Anak-anak pada usia ini mulai berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya sehingga menimbulkan
rasa ingin tahu terhadap segala hal yang dilihatnya
Mereka mencoba mengambil banyak inisiatif dari rasa ingin tahu yang mereka alami.
-Akan tetapi bila anak-anak pada masa ini mendapatkan pola asuh yang salah, mereka cenderung
merasa bersalah dan akhirnya hanya berdiam diri.
Sikap berdiam diri yang mereka lakukan bertujuan untuk menghindari suatu kesalahan-kesalahan
dalam sikap maupun perbuatan.
Oleh karena itu, orang tua harus sangat cerdas dalam memanfaatkan kesempatan dalam setiap
situasi kehidupan yang dihadapi oleh anak. Tentunya tetap dengan menyesuaikan perkembangan
kognitif anak yang belum sempurna sehingga harus melakukannya berulang-ulang karena anak
tidak akan langsung dapat memahami apa yang kita ajarkan.
Caranya?

a. Dengan mengajarkan dan menjadi contoh (uswah/keteladanan) dalam mengerjakan amalan


-amalan utama, yaitu bertauhid pada Allah, sholat tepat waktu, berbakti pada orang tua
b. Mengajarkan bagaimana memenuhi kebutuhan fisiologis diri dan menjaga diri, seperti- makan dan
minum tepat waktu
tidur dan bangun tepat waktu
menyemangati anak untuk tidur sendiri
menjaga aurat (mandi terpisah dengan anak, buka baju di kamar mandi, menunjukkan aurat hanya
pada orang-orang tertentu, dan yang boleh memegang aurat hanya orang-orang tertentu, dll)
berolahraga, bermain dan melakukan aktivitas lainnya
c. Mengajarkan anak-anak untuk mengenali fungsi nya dalam lingkungan, misalnya- memberikan
tugas di rumah untuk bertanggung jawab, misalnya membereskan mainannya sendiri,
membereskan tempat tidur, dll yang tentunya tetap dengan bimbingan dan ditemani orang tua
membantu ibu mengerjakan pekerjaan rumah yang sangat ringan
mengenalkan sekolah dan tata tertib nya (bagi yang ingin menyekolahkan)
mengenalkan sholat di mesjid, namun jika anak belum mampu untuk tertib boleh ditunda dulu,
sesuai kesiapan anak
mengajarkan dan mengaplikasikan nilai-nilai baik lainnya seperti bersilaturahim, memuliakan
tetangga, berbuat baik pada teman, bersedekah, bergaul dan bersabar, menjaga persaudaraan,
berbicara yang baik, berbuat jujur, berlaku adil, penyayang, cinta kebersihan
d. Terus berikan kebebasan dan arahan pada anak untuk bereksperimen dalam
lingkungannya, Pada fase ini anak akan memberikan kita banyakk pertanyaan- pertanyaan dan
sebisa mungkin kita harus memberikan waktu untuk menjawab pertanyaan anak. Agar maka anak
cenderung akan lebih banyak mempunyai inisiatif dalam menghadapi masalah yang ada di
sekitarnya. Sebaliknya apabila anak selalu dihalangi keinginannya, dan dianggap pertanyaan atau
apa saja yang dilakukan tidak ada artinya, maka anak akan selalu merasa bersalah.
e. Aturan terus berikan dengan konsisten.
Perlu dipahami bahwa pada masa ini semua aturan-aturan tersebut masih dalam proses belajar bagi
anak.. yang tentunya akan dilewati dengan jatuh bangun. Jika masa-masa sebelumnya dilewati
dengan baik, insya Allah pada masa ini sebenarnya anak sudah mulai dapat memilah milih mana hal
yang baik mana yang buruk. Nilai-nilai agama, norma sosial sudah mulai ditangkap anak dengan
keterbatasannya.
Keterbatasan kognitif anak membuat anak tidak bisa langsung mencerna dan mengaplikasikan nilai2
baik yang kita ajarkan benar-benara butuh kesbaran dan pengulangan-pengulangan.. agar
mereka dapat deal dengan aturan lingkungan.. dapat mulai mampu untuk mengontrol dan
menguasai diri ketika ingin sesuatu.. ingin melanggar aturan.. atau menahan diri ketika ada masalah
dengan temannya..dll.Bagaimanapun secara kognitif, cara berpikir anak masih egosentris. Yaitu

hanya mampu memandang sesuatu dari satu sudut pandang, yaitu dirinya sendiri. Di bawah ini ada
beberapa karakter lain dengan hadits yang mendukung, yang dapat kita tanamkan untuk anak-anak
kita:
Berkata-kata baik, berempati
Allah Taala berfirman, Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.(alQolam : 4) Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma mengatakan, Nabi shallallahu alaih wa sallam
bukanlah orang yang kasar dan suka berkata-kata kotor.
Anas bin Malik radhiyallahu ahu mengatakan, Aku telah melayani Rasulullah shallallahu alaih wa
sallam selama sepuluh tahun, tidak pernah aku mendengar beliau mengatakan ah kepadaku, atau
kenapa sih kamu mengerjakannya? atau ayo kerjakan!(Muttafaqun alaih)
Dermawan, mau berbagi, meminjamkan mainan
Jabir radhiyallahu anhuma mengatakan, Rasulullah shallallahu alaih wa sallam adalah orang yang
paling dermawan. Dan sifat dermawan beliau akan lebih lagi pada bulan Ramadhan, ketika Jibril
menemuinya. Biasanya Jibril menemui beliau pada tiap malam di bulan Ramadhan untuk
mengajarkan Al-Quran kepada beliau. Maka sungguh, Rasulullah shallallahu alaih wa sallam adalah
orang yang lebih dermawan dalam menyebarakan kebaikan daripada angin yang
berhembus.(Muttafaqun alaih)
Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaih wa sallam tidak pernah
diminta apapun untuk kepentingan Islam kecuali pasti beliau berikan. Anas melanjutkan, Pernah
seorang laki-laki datang dan diberi banyak sekali kambing oleh Nabi shallallahu alaih wa sallam.
Kemudian orang itu pun pulang ke kaumnya dan berkata, Wahai kaumku, masuk Islamlah kalian
karena Muhammad adalah orang yang suka memberi pemberian yang tidak takut miskin.(HR.
Muslim)
Pemalu, menjaga aurat
Abu Said al-Khudri radhiyallahu anhu mengatakan, Nabi shallallahu alaih wa sallam adalah
seorang yang lebih pemalu daripada gadis dalam pingitan. Apabila melihat sesuatu yang tidak beliau
senangi, maka kami akan mengetahuinya dari raut wajah beliau.(Muttafaqun alaih)
Rendah hati, tidak sombong, berkata benar
Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu mengatakan, Aku mendengar Nabi shallallahu alaih wa
sallam bersabda, Janganlah kalian menyanjungku sebagaimana orang-orang Nashara menyanjung
putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba dan utusan-Nya.(HR. al-Bukhari)
Pemberani, percaya diri, optimis, kepemimpinan
Anas bin Malik radhiyallahu anhu mengatakan, Rasulullah shallallahu alaih wa sallam adalah orang
yang paling baik, paling dermawan, dan paling berani. Pernah pada suatu malam penduduk
Madinah dikejutkan dengan sebuah suara. Maka orang-orang pun pergi ke arah suara itu. Namun
ternyata mereka berjumpa dengan Rasulullah shallallahu alaih wa sallam sedang kembali dan telah

mendahului mereka menghampiri suara tersebut. Beliau menunggangi kuda milik Abu Talhah sambil
memikul pedang dipundaknya. Beliau pun berkata, Jangan khawatir, jangan khawatir.. !(Muttafaqun
alaih)
Ali radhiyallahu anhu berkata, Sungguh, ketika perang Badr, kami berlindung disisi Rasulullah
shallallahu alaih wa sallam, sedangkan beliau adalah orang yang paling dekat dengan musuh dan
paling banyak mendapat kesulitan.(HR. Ahmad)
Lemah lembut
Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Pernah seorang arab badui datang dan kencing di Masjid.
Maka orang-orang segera mencela dan ingin memukulinya. Melihat hal itu Nabi shallallahu alaih wa
sallam pun berkata kepada mereka, Biarkan dia, siramlah air kencingnya itu dengan setimba atau
seember air. Sesungguhnya kalian diutus untuk memudahkan bukan menyulitkan.(Muttafaqun
alaih) dan beliau pernah bersabda, Mudahkanlah, jangan menyulitkan, dan tenangkanlah, jangan
membuat orang lari!(Muttafaqun alaih)
Aisyah radhiyallahu anha mengatakan, Rasulullah shallallahu alaih wa sallam pernah berkata,
Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah adalah Zat Yang Maha lembut, yang suka dengan kelembutan.
Dia memberi atas kelembutan itu sesuatu yang tidak diberikan atas kekasaran atau yang
selainnya.(Muttafaqun alaih)
Pemaaf, mampu mengendalikan diri
Allah Taala berfirman, (Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami
jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempattempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan
dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali
sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka,
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.(al-Maaidah : 13)
Aisyah radhiyallahu anha mengatakan, Tidak pernah Rasulullah shallallahu alaih wa sallam diberi
dua pilihan kecuali beliau memilih yang paling mudahnya, selama perkara itu bukan suatu dosa. Jika
perkaranya adalah dosa, maka beliau adalah orang yang paling menjauhinya. Beliau tidak pernah
murka karena dirinya sendiri. Hanya saja beliau murka ketika kehormatan Allah terlanggar, beliau
murka karena Allah.(Muttafaqun alaih)
Masa-masa lima tahun pertama anak atau yang sering disebut dengan golden age, sangat penting
sekali bagi anak untuk kita optimalkan. Karakter-karakter yang sudah kita tanamkan di masa ini
insya Allah akan sangat membantu anak dan terlihat pada masa-masa setelahnya, ketika anak-anak
terjun ke lingkungannya, wallohu alam.. =)
4. Industrial vs Inferioritas
Tahap ini merupakan tahap usia 6-12 tahun (school age).
Dalam Islam, fase ini disebut masa tamyiz (7-10 tahun).

Di fase ini anak sudah mulai mampu membedakan baik dan buruk berdasarkan nalarnya sendiri
sehingga di fase inilah kita sudah mulai mempertegas pendidikan pokok syariat.
Poin pembentukan karakter yang harus diperhatikan pada masa ini adalah keuletan/kegigihan/
kerajinan dalam melakukan tugas-tugasnya serta anak bangga pada dirinya sendiri (menghargai
dirinya sendiri, serta merasa dirinya berhasil menjalankan peran-perannya), karena:
Pada fase ini anak mulai keluar dari lingkungan keluarga ke lingkungan sekolah sehingga semua
aspek memiliki peran misal orang tua harus selalu mendorong, guru harus memberi perhatian,
teman harus menerima kehadirannya
Namun anak tidak selalu mendapatkan itu semua dalam lingkungan sehingga orang tua harus
paham tentang kondisi sekolah anak, teman sepermainanya, dlsb.
Pada usia ini anak dituntut untuk dapat merasakan bagaimana rasanya berhasil memenuhi
tuntutan lingkungan sehingga anak mengembangkan sikap rajin.
Jika anak tidak dapat meraih sukses karena mereka merasa tidak mampu (inferioritas), anak dapat
mengembangkan sikap rendah diri.
Pada tahap ini, anak akan punya keinginan untuk menghasilkan sesuatu yang bersifat intelektual
dan diterima lingkungan anak sudah mulai masuk ke lingkungan yang lebih luas, anak menyadari
kebutuhan untuk mendapat tempat dalam kelompok seumurnya. Anak harus berjuang untuk
mencapai hal tersebut. Bila dalam kenyataannya ia masih dianggap sebagai anak yang lebih kecil
baik di mata orang tua maupun gurunya, maka akan berkembang perasaan rendah diri. Anak yang
berkembang sebagai anak yang rendah diri, tidak akan pernah menyukai belajar atau melakukan
tugas-tugas yang bersifat intelektual. Yang lebih parah, anak tidak akan percaya bahwa ia akan
mampu mengatasi masalah yang dihadapinya.
Dengan demikian peranan orang tua maupun guru sangat penting dalam memperhatikan kebutuhan
dan kemampuan anak. Orang tua dan guru harus mampu menemukan nilai positif dan kompetensi
unik yang dimiliki oleh anak.
Caranya ?
1.

Dukung anak dalam menyiapkan keperluannya, berupa pengawasan dan menyediakan


media-media pembelajaran

2.

Semangati anak bahwa ia mampu menyelesaikan tugas-tugasnya

3.

Komunikatif dengan anak tentang hal-hal apa saja yang terjadi dalam kesehariannya

4.

Tetap membuat anak produktif dalam melakukan tugas-tugas di rumah

5.

Berikan motivasi untuk anak agar terus lebih baik

6.

Melakukan penerimaan dan menghargai atas setiap usaha yang telah anak lakukan.
>jangan hanya memberikan kritik atau kata-kata seharusnya.. seharusnya lebih baik lagi kalau
atau semacamnya.

7.

Terus gali minat anak

8.

Jangan mempercayakan pendidikan anak pada sekolah sepenuhnya. Aktif cari tahu
bagaimana kondisi sekolah anak, teman-teman dlsb

9.

Bersahabat dengan teman-teman anak. Jangan hanya menjadi orang tua yang protektif/
malah overprotektif

10.

Tetap pantau kegiatan-kegiatan anak, lindungi anak dari kejahatan seksual, pornografi,
pornoaksi, atau semacamnya.

11.

Buat kegiatan rutin keluarga yang menggembirakan, dengan ide/usul/masukan-masukan dari


anak

12.

Ajak anak berpendapat, bermusyawarah tentang suatu hal dll


Kembali ke teori EQ sebelumnya, dengan demikian, kita berharap di masa mendatang anak akan
memiliki kemampuan intrapersonal dan interpersonal dalam menjalani kehidupannya. Ini adalah
modal dasar yang penting bagi anak, terutama ketika anak memasuki masa remaja dan setelahnya.
5. Identitas vs kekacauan identitas
Tahap ini merupakan tahap remaja, dimulai pada saat masa puber dan berakhir pada usia 12-18
tahun/anak.
-Di dalam tahap ini lingkup lingkungan anak semakin luas, tidak hanya di lingkungan keluarga atau
sekolah, namun juga di masyarakat
Pencarian jati diri mulai terjadi dalam tahap ini.
Apabila seorang remaja dalam mencari jati dirinya bergaul dengan lingkungan yang baik maka
akan tercipta identitas yang baik.
Jika remaja bergaul dalam lingkungan yang kurang baik maka akan timbul kekacauan identitas
pada diri remaja tersebut.
Dalam Islam fase ini disebut dengan Masa Amrad (10-15 tahun)
Fase ini adalah fase dimana anak mulai mengembangkan potensi dirinya guna mencapai
kedewasaan dan memiliki kemampuan bertanggung jawab secara penuh. Dalam islam, fase ini juga
merupakan fase dimana anak mencapai aqil baligh sehingga sudah semakin pandai menggunakan
akalnya secara penuh. Salah satu yang menjadi tuntutan bagi anak kemudian adalah
kepandaiannya dalam mengatur harta yang dimulai dengan kemampuan mengatur anggaran untuk
dirinya sendiri.Setelah anak memasuki usia 15 tahun, dalam Islam, berarti anak telah masuk pada
Masa Taklif (15-18 tahun). Pada masa ini anak seharusnya sudah sampai pada titik bernama taklif
atau bertanggung jawab. Bagi lelaki setidaknya fase ini paling lambat dicapai di usia 18 tahun dan
bagi anak perempuan paling lambat dicapai di usia 17 tahun. Tanggung jawab yang dimaksud selain
pada diri sendiri juga tanggung jawab terhadap keluarga, masyarakat sekitar dan masyarakat secara
keseluruhan.

Pada fase ini, yang menjadi fokus perkembangan karakter anak adalah anak memiliki kemampuan
intrapersonal dan interpersonal yang baik dan bertanggung jawab.
Caranya? 1. Bantu anak untuk meningkatkan kemampuan intrapersonalnya denganterus
memahami dirinya, yang meliputi apa yang ia rasakan, ia inginkan, apa yang ingin dicapainyadan
bimbing anak dalam mencapai hal-yang diinginkannya tersebut. Pancing anak untu terus memotivasi
dirinya ketika menghadapi masalah/kegagalan. Yakinkan anak bahwa setiap masalah yang terjadi
diberikan Allah hanya sesuai dengan kemampuannya,
2. Bantu anak meningkatkan kemampuan interpersonalnya dengan aktif mendukung anak untuk
masuk ke organisasi atau kegiatan-kegiatan bermanfaat. Sehingga anak dapat mengembangkan
sikap empati dan sosialisasinya (bagaimana mendukung orang lain, mengatasi masalah, bekerja
sama, berkomunikasi, dlsb.
3. Dukung anak untuk menentukan minat, mengembangkan bakat, dan fokus dalam mengejar citacitanya.
4. Menjadi sahabat bagi anak dalam mengatasi konflik-konflik remajanya, seperti pubertas yang
dihadapi, ketertarikan terhadap lawan jenis, jerawat, berpenampilan yang menarik, dll
5. Terus ingatkan anak untuk bertanggung jawab terhadap ibadah-ibadah wajibnya
6. Terus dukung anak untuk bertanggung jawab terhadap kebutuhan materinya. Bagaimana
menabung, jajan, membayar uang sekolah, hang out dengan teman-teman, dll.
(Ditulis oleh Innu Virgiani, salah satu penulis di forum Ibu di facebook, FOCER)