Anda di halaman 1dari 20

BAB I

LATAR BELAKANG
A. Latar Belakang
Tengkorak merupakan jaringan tulang yang berfungsi sebagai pelindung jaringan
otak mempunyai daya elastisitas untuk mengatasi trauma bila dipukul atau terbentur
benda tumpul. Namun pada benturan, beberapa mili detik akan terjadi depresi
maksimal dan diikuti osilasi. Trauma pada kepala dapat menyebabkan fraktur pada
tengkorak dan trauma jaringan otak atau kulit seperti kontusio atau memar otak,
oedem otak, perdarahan dengan derajat yang bervariasi tergantung pada luas daerah
trauma.
Trauma kepala yaitu adanya deformitas berupa penyimpangan bentuk atau
penyimpangan garis pada tulang tengkorak, percepatan dan perlambatan (accelerasi
descelarasi) yang merupakan perubahan bentuk dipengaruhi oleh perubahan
peningkatan pada percepatan faktor dan penurunan percepatan, serta rotasi yaitu
pergerakan pada kepala dirasakan juga oleh otak sebagai akibat perputaran pada
tindakan pencegahan. Side effect dari kontusio akibat trauma kepala tergantung dari
bagian mana yang mengalami trauma dan sejauh mana luas kontusio dan perdarahan
yang meluas atau tidak.
B. Tujuan
Tujuan umum :
Mengetahui pengkajian pasien gawat darurat dan asuhan keperawatan pasien
Contusio serebral
Tujuan khusus :
1. Mengetahui dan memahami pengertian contusio serebral
2. Mengetahui dan memahami etiologi contusio serebral
3. Mengetahui dan memahami manifestasi klinis contusio serebral
4. Mengetahui dan memahami pathofisiologi contusio serebral
5. Mengetahui dan memahami pemeriksaan diagnostik contusio serebral
6. Mengetahui dan memahami penatalaksanaan medis contusio serebral

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian
Contusio serebral merupakan cedera kepala berat, dimana otak
mengalami memar, dengan kemungkinan adanya daerah hemoragi (Smeltzer
and Bare, 2006).
Kontusio serebri (cerebral contussion) adalah luka memar pada
otak. Memar yang disebabkan oleh trauma dapat membuat jaringan menjadi
rusak dan bengkak dan pembuluh darah dalam jaringan pecah, menyebabkan
darah mengalir ke dalam jaringan disebut hematoma (kamus besar bahasa
Indonesia)
Memar otak atau kontusio

serebri (contusio

cerebri,

cerebral

contusion) adalah perdarahan di dalam jaringan otak yang tidak disertai oleh
robekan jaringan yang terlihat, meskipun sejumlah neuron mengalami
kerusakan atau terputus. Memar otak disebabkan oleh akselerasi kepala tibatiba yang menimbulkan pergeseran otak dan kompresi yang merusak, yang
membuat pingsan sementara (kamus besar bahasa Indonesia).
Secara definisi Contusio Cerebri didefinisikan sebagai gangguan
fungsi otak akibat adanya kerusakan jaringan otak disertai perdarahan yang
secara makroskopis tidak mengganggu jaringan (Corwin, 2000).
Pada kontusio atau memar otak terjadi perdarahan-perdarahan di dalam
jaringan otak tanpa adanya robekan jaringan yang kasat mata, meskipun
neuron-neuron mengalami kerusakan atau terputus (Harsono, 2010)

B. Klasifikasi
Trauma kepala atau cedera kepala meliputi trauma kulit kepala, tengkorak dan
otak. Cedera otak terdapat dibagi dalam dua macam yaitu :
1. Cidera otak primer
Adalah kelainan patologi otak yang timbul segera akibat langsung dari
trauma. Pada cidera primer dapat terjadi: memar otak, laserasi.
2. Cidera otak sekunder
Adalah kelainan patologi otak disebabkan kelainan biokimia,
metabolisme, fisiologi yang timbul setelah trauma.
3

Berat ringannya cedera kepala bukan didasarkan berat ringanya gejala yang
muncul setelah cedera kepala (Alexander PM, 1995). Ada berbagai klasifikasi
yang dipakai dalam penentuan derajat cedera kepala. The Traumatic Coma
Data Bank mendifinisikan berdasarkan skor Skala Koma Glasgow (Glasgow
coma scale).
Kategori Penentuan Keparahan cedera kepala berdasarkan Glasgow coma
scale (GCS)

Penentuan Keparahan
Minor/ Ringan

Deskripsi
GCS 13 15
Dapat terjadi kehilangan kesadaran atau amnesia
tetapi
kurang dari 30 menit. Tidak ada fraktur tengkorak,

Sedang

tidak ada kontusia cerebral, hematoma


GCS 9 12
Kehilangan kesadaran dan atau amnesia lebih dari
30
menit tetapi kurang dari 24 jam. Dapat mengalami

Berat

fraktur tengkorak.
GCS 3 8
Kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih
dari 24 jam. Juga meliputi kontusia serebral, laserasi
atau hematoma intrakranial

C. Etiologi
Penyebab contusio cerebri atau memar otak adalah adanya akselerasi
kepala tiba-tiba yang menimbulkan pergeseran otak dan kompresi yang
merusak akibat dari kecelakaan, jatuh atau trauma akibat persalinan.

Kontusio dapat pula terjadi akibat adanya gaya yang dikembangkan


oleh mekanisme-mekanisme yang beroperasi pada trauma kapitis, sehingga
terdapat vasoparalisis.
D. Manifestasi klinis
Timbulnya

lesi

kontusio

di

daerah-daerah

dampak

(coup)

countrecoup dan intermediated, menimbulkan gejala defisit neurologik,


yang bisa berupa refleks babinski yang positif dan kelumpuhan. Pada
pemeriksaan neurologik pada kontusio ringan mungkin tidak dijumpai
kelainan neurologik yang jelas kecuali kesadaran yang menurun. Pada
kontusio serebri dengan penurunan kesadaran berlangsung berjam-jam pada
pemeriksaan dapat atau tidak dijumpai defisit neurologik. Pada kontusio
serebri yang berlangsung lebih dari enam jam penurunan kesadarannya
biasanya selalu dijumpai defisit neurologis yang jelas. Gejala-gejalanya
bergantung pada lokasi dan luasnya daerah lesi. Keadaan klinis yang berat
terjadi pada perdarahan besar atau tersebar di dalam jaringan otak, sering pula
disertai perdarahan subaraknoid atau kontusio pada batang otak. Edema otak
yang menyertainya tidak jarang berat dan dapat menyebabkan meningkatnya
tekanan intrakranial.
Tekanan intrakranial

yang

meninggi

menimbulkan

gangguan

mikrosirkulasi otak dengan akibat menghebatnya edema. Dengan demikian


timbullah lingkaran setan yang akan berakhir dengan kematian bila tidak
dapat diputus.
Pada perdarahan dan edema di daerah diensefalon pernapasan biasa
atau bersifat Cheyne Stokes, pupil mengecil, reaksi cahaya baik. Mungkin
terjadi rigiditas dekortikasi yaitu kedua tungkai kaku dalam sikap ekstensi dan
kedua lengan kaku dalam sikap fleksi pada sendi siku.
Pada gangguan di daerah mesensefalon dan pons bagian atas,
kesadaran menurun hingga koma, pupil melebar, refleks cahaya tidak ada,
gerakan mata diskonjugat, tidak teratur, pernapasan hiperventilasi, motorik
menunjukkan rigiditas deserebrasi dengan keempat ekstremitas kaku dalam
sikap ekstensi.

Pada lesi pons bagian bawah bila nuklei vestibularis terganggu


bilateral, gerakan kompensasi bola mata pada gerakan kepala menghilang.
Pernapasan tidak teratur. Bila oblongata terganggu, pernapasan melambat tak
teratur, tersengal-sengal menjelang kematian (Harsono, 2010).
Gejala lain yang sering muncul pada contusion serebri menurut
Smeltzer and Bare (2006) yaitu :
a. Pasien berada pada periode tidak sadarkan diri
b. Kehilangan gerakan
c. Denyut nadi lemah
d. Pernapasan dangkal
e. Kulit dingin dan pucat
f. Sering defekasi dan berkemih tanpa disadari
g. Pasien dapat diusahakan untuk bangun/sadar tetapi segera kembali
kedalam keadaan tidak sadarkan diri
h. Tekanan darah dan suhu abnormal
Umumnya, individu yang mengalami cedera luas mengalami fungsi
motorik abnormal, gerakan mata abnormal, dan peningkatan TIK mempunyai
prognosis buruk. Sebaliknya pasien mengalami pemulihan kesadaran komplet
dan mungkin melewati tahap peka rangsang serebral.
Dalam tahap peka rangsang serebral, pasien sadar tetapi sebaliknya
mudah terganggu oleh suatu bentuk stimulasi, suara, cahaya, dan bunyibunyian dan menjadi hiperaktif sewaktu. Berangsur-angsur denyut nadi,
pernapasan, suhu dan fungsi tubuh lain kembali normal. Walaupun pemulihan
sering terlihat lambat. sakt kepala dan sisa vertigo dan gangguan fungsi
mental atau kejang sering terjadi sebagai akibat kerusakan serebral yang tidak
dapat diperbaiki (Smeltzer and Bare, 2006).
Tekanan darah menjadi rendah dan nadi menjadi lambat, atau menjadi
cepat dan lemah. Juga karena pusat vegetatif ikut terlibat, maka rasa mual,
muntah dan gangguan pernapasan bisa terjadi.
Menurut Corwin (2000) manifestasi yang muncul pada pasien dengan
contusion cerebri adalah defisit neurologis jika mengenai daerah motorik atau
sensorik otak., secara klinis didapatkan penderita pernah atau sedang tidak
sadar selama lebih dari 15 menit atau didapatkan adanya kelainan neurologis

akibat kerusakan jaringan otak. Pada pemerikasaan CT Scan didapatkan


daerah hiperdens di jaringan otak.
E. Pathofisologi
Pada contusio cerebri (memar otak) terjadi perdarahan-perdarahan di
dalam jaringan otak tanpa adanya robekan jaringanyang kasat mata, meskipun
neuron-neuron mengalami kerusakan atau terputus. Yang penting untuk
terjadinya lesi contusio ialah adanya akselerasi kepala yang seketika itu juga
menimbulkan pergeseran otak serta pengembangan gaya kompresi yang
destruktif. Akselerasi yang kuat berarti pula hiperekstensi kepala. Oleh karena
itu, otak membentang batang otak terlalu kuat, sehingga menimbulkan
blockade reversible terhadap lintasan asendens retikularis difus.
Akibat blockade itu, otak tidak mendapat input aferen dan karena itu,
kesadaran hilang selama blockade reversible berlangsung. Timbulnya lesi
contusio di daerah coup, contrecoup, dan intermediate menimbulkan gejala
deficit neurologik yang bisa berupa refleks babinsky yang positif dan
kelumpuhan.

Setelah

kesadaran

pulih

kembali,

penderita

biasanya

menunjukkan organic brain syndrome. Lesi akselerasi-deselerasi, gaya tidak


langsung bekerja pada kepala tetapi mengenai bagian tubuh yang lain, tetapi
kepala tetap ikut bergerak akibat adanya perbedaan densitas tulang kepala
dengan densitas yang tinggi dan jaringan otot yang densitas yang lebih rendah,
maka terjadi gaya tidak langsung maka tulang kepala akan bergerak lebih dulu
sedangkan jaringan otak dan isinya tetap berhenti, pada dasar tengkorak
terdapat tonjolan-tonjolan maka akan terjadi gesekan antara jaringan otak dan
tonjolan tulang kepala tersebut akibatnya terjadi lesi intrakranial berupa
hematom subdural, hematom intra serebral, hematom intravertikal, kontra
coup kontusio. Selain itu gaya akselerasi dan deselarasi akan menyebabkan
gaya tarik atau robekan yang menyebabkan lesi diffuse berupa komosio
serebri, diffuse axonal injuri. Akibat gaya yang dikembangkan oleh
mekanisme-mekanisme yang beroperasi pada trauma kapitis tersebut di atas,
autoregulasi

pembuluh

darah

cerebral

terganggu,

sehingga

terjadi

vasoparalitis. Tekanan darah menjadi rendah dan nadi menjadi lambat, atau
menjadi cepat dan lemah. Juga karena pusat vegetatif terlibat, maka rasa mual,
muntah dan gangguan pernafasan bisa timbul (Corwin, 2010).
F. Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan penunjang seperti CT-Scan berguna untuk melihat letak
lesi dan adanya kemungkinan komplikasi jangka pendek. Pemeriksaan
tambahan yang perlu dilakukan ialah foto rontgen polos, bila perlu scan
tomografik, EEG dan pungsi lumbal.

G. Penatalaksaan medic
Penatalaksaan umum
a) Observasi GCS dan tanda vital (TD, nadi, suhu, RR dann saturasi O2)
b) Head Up 30
c) Oksigen lembab 4-6 lpm
d) IVFD NaCl 0.9 % (30-40 cc/Kg BB/ Perhari
e) Antibiotik
f) Analgesik
g) Antagonis H2 reseptor
h) Manitol, antikonvulsan (K/P)
i) Pasang NGT dan Folley cateter
Terapi konservatif untuk penatalaksanaan peningkatan TIK :
a) Head Up 30
b) Hiperventilasi ringan 15-30 menit
c) Manitol 20% dosis 0.2 2 gr/ Kg BB/kali pemberian tiap 4-6 jam
Tindakan yang diambil pada kontusio berat ditujukan untuk mencegah
meningginya tekanan intrakranial.
a. Usahakan jalan napas yang lapang dengan :
1) Membersihkan hidung dan mulut dari darah dan muntahan
2) Melonggarkan pakaian yang ketat
3) Menghisap lendir dari mulut, tenggorok dan hidung
4) Untuk amannya gigi palsu perlu dikeluarkan

5) Bila perlu pasang pipa endotrakea atau lakukan trakeotomi


6) O2 diberikan bila tidak ada hiperventilasi
b. Hentikan perdarahan
c. Bila ada fraktur pasang bidai untuk fiksasi
d. Letakkan pasien dalam posisi miring hingga bila muntah dapat bebas
keluar dan tidak mengganggu jalan napas.
e. Berikan profilaksis antibiotika bila ada luka-luka yang berat.
f. Bila ada syok, infus dipasang untuk memberikan cairan yang sesuai. Bila
tidak ada syok, pemasangan infus tidak perlu dilakukan dengan segera
dan dapat menunggu hingga keesokan harinya. Pada hari pertama
pemberian infus berikan 1,5 liter cairan perhari, dimana 0,5 liternya
adalah NaCl 0,9%. Bila digunakan glukosa pakailah yang 10% untuk
mencegah edema otak dan kemungkinan timbulnya edema pulmonum.
Setelah hari keempat jumlah cairan perlu ditambah hingga 2,5 liter
per 24 jam. Bila bising usus sudah terdengar, baik diberi makanan cair per
sonde. Mula-mula dimasukkan glukosa 10% 100 cm3 tiap 2 jam untuk
menambah kekurangan cairan yang telah masuk dengan infus. Pada hari
berikutnya diberi susu dan pada hari berikutnya lagi, makanan cair
lengkap 2-3 kali perhari, 2000 kalori, kemudian infus dicabut.
g. Pada keadaan edema otak yang hebat diberikan manitol 20% dalam infus
sebanyak 250 cm3 dalam waktu 30 menit yang dapat diulang tiap 12-24
jam.
h. Furosemid intramuskuler 20 mg/24 jam, selain meningkatkan diuresis
berkhasiat mengurangi pembentukan cairan otak.
i. Untuk menghambat pembentukan edema serebri diberikan deksametason
dalam rangkaian pengobatan sebagai berikut :
a) Hari I : 10 mg intravena diikuti 5 mg tiap 4 jam
b) Hari II : 5 mg intravena tiap 6 jam
c) Hari III : 5 mg intravena tiap 8 jam
d) Hari IV-V : 5 mg intramuskular tiap 12 jam
e) Hari IV : 5 mg intramuskular
j. Pemantauan keadaan penderita selain keadaan umumnya perlu diperiksa
secara teratur

PCO2 dan PO2 darah. Keadaan yang normal adalah

PCO2 sekitar 42 mmHg dan PO2 di atas 70 mmHg.

k. Pada pasien yang koma (Skor GCS < 8) atau pasien dengan tanda-tanda
herniasi, lakukan tindakan berikut ini:
a) Elevasi kepala 30
b) Hiperventilasi: intubasi dan berikan ventilasi mandatorik intermitten
c) Pasang kateter Folley
H. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengumpulan data pasien baik subyektif atau obyektif pada gangguan
sistem persyarafan sehubungan dengan trauma kepala adalah sebagi
berikut:
a. Identitas pasien dan keluarga (penanggung jawab)
b. Riwayat Kesehatan
c. Riwayat penyakit dahulu
d. Riwayat penyakit keluarga
e. Pemeriksaan Fisik
1) Aspek Neurologis :
Yang dikaji adalah Tingkat kesadaran, biasanya GCS kurang dari 15,
disorentasi orang/tempat dan waktu, adanya refleks babinski yang positif,
perubahan nilai tanda-tanda vital, adanya gerakan decebrasi atau
dekortikasi dan kemungkinan didapatkan kaku kuduk dengan brudzinski
positif. Adanya hemiparese.
Pada

pasien

sadar, dia

tidak

dapat

membedakan

berb

agai

rangsangan/stimulus rasa, raba, suhu dan getaran. Terjadi gerakan-gerakan


involunter, kejang dan ataksia, karena gangguan koordinasi. Pasien juga
tidak dapat mengingat kejadian sebelum dan sesuadah trauma. Gangguan
keseimbangan dimana pasien sadar, dapat terlihat limbung atau tidak dapat
mempertahankana keseimabangan tubuh.

10

Nervus kranialis dapat terganggu bila trauma kepala meluas sampai batang
otak karena edema otak atau pendarahan otak.
Kerusakan nervus I (Olfaktorius) : memperlihatkan gejala penur unan daya
penciuman dan anosmia bilateral.
Nervus II (Optikus), pada trauma frontalis : memperlihatkan gejala berupa
penurunan gejala penglihatan.
Nervus III (Okulomotorius), Nervus IV (Trokhlearis) dan Nervus VI
(Abducens), kerusakannya akan menyebabkan penurunan lapang pandang,
refleks cahaya ,menurun, perubahan ukuran pupil, bola mata tidak dapat
mengikuti perintah, anisokor.
Nervus V (Trigeminus), gangguannya ditandai ; adanya anestesi daerah
dahi. Nervus VII (Fasialis), pada trauma kapitis yang mengena i neuron
motorik atas unilateral dapat menurunkan fungsinya, tidak adanya lipatan
nasolabial, melemahnya penutupan kelopak mata dan hilangnya rasa pada 2/3
bagian lidah anterior lidah.
Nervus VIII (Akustikus), pada pasien sadar gejalanya berupa menurunnya
daya pendengaran dan kesimbangan tubuh. Nervus IX (Glosofaringeus).
Nervus X (Vagus), dan Nervus XI (Assesorius), gejala jarang ditemukan
karena penderita akan meninggal apabila trauma mengenai saraf tersebut.
Adanya Hiccuping (cekungan) karena kompresi p ada nervus vagus, yang
menyebabkan kompresi spasmodik dan diafragma. Hal ini terjadi karena
kompresi batang otak. Cekungan yang terjadi, biasanya yang berisiko
peningkatan tekanan intrakranial.
Nervus XII (hipoglosus), gejala yang biasa timbul, adalah jatuhnya lidah
kesalah satu sisi, disfagia dan disartria. Hal ini menyebabkan adanya kesulitan
menelan.

11

2) Aspek Kardiovaskuler :
Didapat perubahan tekanan darah menurun, kecuali apabila terjadi
peningkatan intrakranial maka tekanan darah meningkat, denyut nadi b
radikardi, kemudian takhikardia, atau iramanya tidak teratur. Selain itu
pengkajian lain yang perlu dikumpulkan adalah adanya perdarahan atau cairan
yang keluar dari mulut, hidung, telinga, mata. Adanya hipereskresi pada
rongga mulut. Adanya perdarahan te rbuka/hematoma pada bagian tubuh
lainnya. Hal ini perlu pengkajian dari kepalal hingga kaki.
3) Aspek sistem pernapasan :
Terjadi perubahan pola napas, baik irama, kedalaman maupun frekuensi
yaitu cepat dan dangkal, irama tidak teratur (chyne stokes, ataxia br ething),
bunyi napas ronchi, wheezing atau stridor. Adanya sekret pada tracheo
brokhiolus. Peningkatan suhu tubuh dapat terjadi karena adanya infeksi atau
rangsangan terhadap hipotalamus sebagai pusat pengatur suhu tubuh.
4) Aspek sistem eliminasi :
Akan dida patkan retensi/inkontinen dalam hal buang air besar atau kecil.
Terdapat

ketidakseimbangan

cairan

dan

elektrolit,

dimana

terdapat

hiponatremia atau hipokalemia. Pada sistem gastro-intestinal perlu dikaji


tanda-tanda penurunan fungsi saluran pencernaan sep erti bising usus yang
tidak terdengar atau lemah, aanya mual dan muntah. Hal ini menjadi dasar
dalam pemberian makanan.

12

2. Diagnosa Keperawatan Yang Muncul


1. Nyeri akut (nyeri kepala, pusing) berhubungan dengan agen injuri fisik,
biologis, psikologis
2. Pola Nafas tidak efektif berhubungan dengan disfungsi neuromuskuler
3. Perfusi jaringan tidak efektif berhubungan dengan menurunnya curah jantung,
hipoksemia jaringan, asidosis dan kemungkinan thrombus atau emboli
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
faktor biologis, fisiologis
5. Potensial terjadinya TIK berhubungan dengan adanya proses desak akibat
cairan dalam otak

3. Intervensi
Diagnosa

: nyeri pada kepala berhubungan dengan peningkatan TIK

Tujuan

: nyeri dapat berkurang / hilang dalam waktu 1 x 24 jam

Kriteria Hasil

: nyeri kepala berkurang / hilang, px tenang, tidak gelisah, dapat

istirahat dengan tenang.


Intervensi
1. Kaji mengenai lokasi, intensitas, penyebaran, tingkat kegawatan dan
keluhan-keluhan Kx : Untuk memudahkan membuat intervensi.
2. Ajarkan latihan tehnik relaksasi seperti latihan nafas dalam dan
relaksasi otot-otot : Dapat mengurangi ketegangan saraf sehingga px
merasa lebih rileks dan dapat mengurangi nyeri kepala.

13

3. Kurangi stimulus yang tidak menyenangkan dari luar dan berikan


tindakan yang menyenangkan px seperti pijat di daerah punggung,
kaki dan lain-lain : Responden yang tidak menyenangkan menambah
ketegangan saraf dan dapat mengalihkan rangsangan nyeri dan dapat
mengurangi / menghilangkan rasa nyeri.
Diagnosa : Pola Nafas tidak efektif berhubungan dengan disfungsi
neuromuskuler
Kriteria Hasil :
a. Pola nafas pasien kembali teratur.
b. Respirasi rate pasien kembali normal.
c. Pasien mudah untuk bernafas.
Intervensi :
a. Kaji status pernafasan dengan mendeteksi pulmonal.
b. Berikan fisioterapi dada termasuk drainase postural.
c. Penghisapan untuk pembuangan lendir.
d. Identifikasi kemampuan dan berikan keyakinan dalam bernafas.
e. Kolaborasi dalam pemberian therapi medis

4. Implementasi
Implementasi merupakan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah di
tentukan meliputi tindakan independent dan kolaborasi usaha tersebut
dilakukan untuk membantu kita dan menentukan kebutuhannya.

14

5. Evaluasi
Evaluasi merupakan keberhasilan dari rencana keperawatan yang telah di
susun dalam memenuhi kebutuhan kita. Tahap evaluasi merupakan kunci
keberhasilan dalam menggunakan dan menentukan proses keperawatan.
BAB III
PEMBAHASAN
FORMAT PENGKAJIAN
KEPERAWATAN GAWAT DARURAT
PSIK-STIKES HANGTUAH
A. INFORMASI UMUM
Nama
: Ny. Kartini
Tanggal lahir
: 2-6-1959
Suku bangsa
:
Tanggal pengkajian : 26 november 2015

Umur
: 85 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Tanggal masuk :23-11-2015
Rujukan
:

B. KELUHAN UTAMA
- Jalan nafas terdapat sekret
- Datang dengan perdarahan kepala karena terjatuh/ memar
PENGKAJIAN PRIMER
Airway (A)

Suara nafas gurgling


Tidak menggunakan otot bantu pernafasan
Pasien dilakukan suction
Breating (B) :
RR : 19 x/m
Terpasang NGT, bunyi nafas di paru-paru kiri Ronki

15

Circulation (C) :
TD : 110/51 x/m
HR : 157x/m
Nadi radialis lemah, cepat
CVP : 15.5
Disability (D) :
GCS : 2 ETT (E: 1, V: ETT, M: 1)
Pupil 2/2
C. RIWAYAT KESEHATAN SEBELUMNYA
Tidak terkaji
D. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA
Tidak terkaji
E. PEMERIKSAAN FISIK
Tanda-tanda vital
TD : 110/51 mmHg
S
: 38,4 0C
N : 157 x/menit
RR
: 19 x/menit
TB : cm
BB
: 60 kg
1. Kepala
Rambut
Jelaskan : luka, bekas terjatuh dibalut dengan kasa
Mata
Jelaskan : kotor konjungtiva anemis
Hidung
Jelaskan : hidung kotor, bekas darah kering, terpasangNGT
Mulut
Jelaskan : kotor, terpasang ETT
Gigi
Jelaskan : -Telinga
Jelaskan : -2. Leher
Jelaskan : -3. Dada
16

Inspeksi : terpasang CVP


Palpasi : tidak ada krepitasi
Perkusi : sonor
Auskultasi : suara nafas ronki, bunyi jantung s1s2
4.

Tangan
Jelaskan : CRT 2 detik, Infus 1 jalur, teraba hangat

5.

Abdomen
Inspeksi
: terpasang diapers, tidak ada luka
Palpasi
: -Perkusi
: -Auskultasi
: 33x/m
Genitalia
Jelaskan : terpasang kateter
Kaki
Jelaskan : ada jaringan nekrotik, akral dingin
Punggung
Jelaskan : --

6.
7.
8.

F. AKTIVITAS DAN ISTIRAHAT


Berada di tempat tidur
G. NUTRISI, CAIRAN DAN ELIMINASI
nutrisi 3 jam sekali
H. HASIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM DAN DIAGNOSTIK
AGD = PH : 7,32 , PCO 2 : 29 , PO2 : 141 , HCO3 : 14,9 , TCO2 : 15,8 , BE :
-10,3
SO2C :99
Hematologi = leukosit : 25,45 , N. Segmen : 80,50 , limfosit : 11,70
Kimia klinik = SGOT : 38 , gula sewaktu : 166
I. MEDIKASI/OBAT-OBATAN YANG DIBERIKAN SAAT INI
--J. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Bersihan jalan nafas
2. Gangguan perfusi jaringan serebral
FORMAT ANALISA DATA

No
1

Data penunjang
DO :
-

Etiologi

Masalah keperawatan

Jalan nafas terdapat sekret


Suara nafas gurgling
17

Bunyi nafas ronki


Pasien dilakukan suction

DS : --

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPILAN
Contusio serebral merupakan cedera kepala berat, dimana otak
mengalami

memar,

dengan

kemungkinan

adanya

daerah

hemoragi.

perdarahan di dalam jaringan otak yang tidak disertai oleh robekan jaringan
yang

terlihat,

meskipun

sejumlah neuron mengalami

kerusakan

atau

terputus. Memar otak disebabkan oleh akselerasi kepala tiba-tiba yang


menimbulkan pergeseran otak dan kompresi yang merusak, yang membuat
pingsan sementara.
Diagnosa yang mungkin muncul pada pasien kontusio serebri adalah
Nyeri akut (nyeri kepala, pusing) berhubungan dengan agen injuri fisik,
biologis, psikologis, Pola Nafas tidak efektif berhubungan dengan disfungsi
neuromuskuler,

Perfusi

jaringan

tidak

efektif

berhubungan

dengan

menurunnya curah jantung, hipoksemia jaringan, asidosis dan kemungkinan


thrombus atau emboli, Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan faktor biologis, fisiologis.
Pengkajian yang didapatkan pada pasien gawat darurat dengan
diagnosa kontusio serebri adalah airway : tidak paten (suara nafas gargling,
tidak menggunakan otot bantu pernafasan, pasien dilakukan suction ).
Breathing : terpasang NGT, bunyi nafas ronki di paru-paru kiri dan kanan.
Circulation : CRT = 2 detik, nadi = 157 x / menit, nadi radialis lemah dan
cepat, CVP = 15,5. Disability : GCS = 2 ETT. Pupil 2/2. Diagnosa utama yang

18

muncul pada pasien ini adalah bersihan jalan nafas tidak efektif obstruksi
jalan nafas ( sekret/ sputum ).

B. SARAN
Sebagai tenaga kesehatan yang lebih tau tentang kesehatan, perawat
dapat menerapkan prilaku yang lebih berhati-hati dalam melakukan tindakan
terhadap pasien dengan kontusio serebri karena tindakan yang di perlukan
sangat cepat dan sigap. Perawat harus memahami konsep dasar dari kontusio
serebri dan ruang lingkup nya sehingga dalam proses pemberian asuhan
keperawatan terhadap pasien kontusio serebri dapat terlaksana dengan baik.

19

Daftar Pustaka
Corwin. (2010). Hand Book Of Pathofisiologi. EGC : Jakarta
Doenges,M.E & Geissler, A.C., (2006). Rencana Asuhan Keperawatan untuk
perencanaan dan pendokumentasian perawatan Pasien, Edisi-3, Alih bahasa;
Kariasa,I.M., Sumarwati,N.M. EGC: Jakarta
Harsono. (2010). Kapita Selekta Neurologi. Gadjah Mada University Press :
Yogyakarta
Herdman, T. Heater. (2012). NANDA International Diagnosis keperawatan definisi
dan klasifikasi 2012-2014. EGC : Jakarta.
http://kamuskesehatan.com/arti/kontusio-serebri/di unduh tgl 23 Oktober 2013.
Mansjoer, A. (2002). Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius FK-UI : Jakarta
Mardjono M., Sidharta P., Neurologi Klinis Dasar, Dian Rakyat, Jakarta, 2000
Smeltzer, S. C & Bare, G. B. (2006) Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner
and Suddart, Edisi 8. Vol 3 EGC, Jakarta.
Wilkinson, Judith, 2007, Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC
dan Kriteria Hasil NOC. EGC : Jakarta.

20