Anda di halaman 1dari 17

UPAYA MEMPERPANJANG UMUR SIMPAN BENIH KACANG

PANJANG (Vigna sinensisL.)DENGAN COATING KITOSAN


Penelitian

Disusun oleh:
Fatia Mahdi Ibnu S.S.

20120210087

Imanudin

20120210096

Riska Sukmawati

20120210085

Ika Wiraningsih

20120210092

Nofison Kurwasit

20120210108

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2015

Usulan Penelitian
UPAYA MEMPERPANJANG UMUR SIMPAN BENIH KACANG PANJANG
(Vigna sinensis L.) DENGAN COATING KITOSAN
Yang Diajukan Oleh :
Fatia Mahdi Ibnu S.S.

20120210087

Imanudin

20120210096

Riska Sukmawati

20120210085

Ika Wiraningsih

20120210092

Nofison Kurwasit

20120210108

Program Studi Agroteknologi


telah disetujui/disahkan oleh :
Pembimbing,

Ir. Sarjiyah, MS
NIK. 19610918 1991032001

Tanggal ...........................

Mengetahui :
Koordinator Mata Kuliah

Ir. Agus Nugroho Setiawan, MP


NIK. 133 012

Tanggal .......................

I.

PENDAHULUAN
A. Latar belakang

Kacang panjang (Vigna sinensis L.) merupakan tanaman sayuran penting


dari golongan kacang-kacangan, karena mengandung nutrisi yang relatif lengkap
dan cukup tinggi, terutama protein nabati. Bagian tanaman kacang panjang yang
biasa digunakan sebagai sayuran adalah polong muda, biji, dan daun muda (Irfan
1993). Berdasarkan data BPS (2012), produksi kacang panjang selama lima tahun
terakhir cenderung meningkat dari tahun sebelumnya. Produksi tanaman kacang
panjang dari tahun 2008 sampai dengan 2012 berturut-turut yaitu 367,111
ton/tahun, 358,014 ton/tahun, 403,827 ton/tahun, 526,917 ton/tahun dan 458,392
ton/tahun.
Benih kacang panjang adalah salah satu benih ortodoks yang memiliki
kandungan lemak dan protein yang tinggi, sehingga benih ini tidak dapat disimpan
dalam jangka waktu yang lama. Benih yang termasuk benih ortodoks bersifat
higroskopis dimana mampu menyerap uap air dalam jumlah yang banyak
(Tatipata, 2010). Di daerah tropis seperti di Indonesia, benih ortodoks khususnya
aneka kacang memiliki daya simpan yang rendah. Benih ortodok yang disimpan
dengan kadar air lebih dari 12% pada suhu lebih dari 25 oC selama 3 bulan,
viabilitasnya turun menjadi 60%.Oleh karena itu diperlukan perlakuan untuk
memperpanjang umur simpan benih kacang panjang. Salah satu metode
memperpanjang umur simpan adalah dengan pelapisan benih.
Pelapisan benih (seed coating) adalah salah satu metode untuk menjaga
mutu benih menjadi lebih baik dengan menambahkan suatu zat pada benih
sehingga zat tersebut dapat melapisi permukaan benih. Kitosan menjadi alternatif
bahan yang digunakan sebagai pelapis benih. Kitosan termasuk salah satu jenis
polisakarida yang dapat bersifat sebagai penghalang (barrier) yang baik karena
pelapis polisakarida dapat membentuk matrik yang kuat dan kompak (Grenner
dan Fennema dalam Susanto, 1998). Kitosan dapat digunakan sebagai pengawet
karena sifat-sifat yang dimilikinya yaitu dapat melapisi produk yang diawetkan
sehingga terjadi interaksi yang minimal antara produk dan lingkungannya dan
1

sekaligus menghambat pertumbuhan mikroorganisme perusak. Dengan demikian


dapat diharapkan pelapisan kitosan terhadap benih kacang panjang dapat
memperpanjang umur simpan dan menjaga kualitas benih.
B. Rumusan Masalah
Berapakahkonsentrasicoating kitosan yang efektif untuk memperpanjang
umur simpan benih kacang panjang?

C. Tujuan Penelitian
Menentukankonsentrasicoating

kitosan

yang

memperpanjang umur simpan benih kacang panjang.

paling

efektif

untuk

II.

TINJAUAN PUSTAKA
A Benih Kacang Panjang

Tanaman kacang panjang diperbanyak secara generatif dengan biji-bijian


(benih),dalam pemilihan bahan tanaman yang baik salah satu faktor terpenting
dalam keberhasilan usahatani yaitu menentukan jenis varietas dan kriteria
benih,benih yang tidak memenuhi persyaratan adalah biji yang memiliki warna
dan bentuk tidak sama,biji yang cacat,luka atau bekas terserang hama dan
penyakit.
Benih kacang panjang merupakan jenis benih ortodok. Sehingga, benih
kacang panjang dapat disimpan lama pada kadar air 6-10% atau dibawahnya.
Penyimpanan dapat dilakukan dengan menggunakan wadah seperti : karung kain,
toples kaca/ plastik, plastik, kaleng, dll. Setelah itu benih dapat di simpan pada
suhu kamar atau pada temperature rendah cold storage umumnya pada suhu 25C.
D. Penyimpanan Benih
Penggunaan benih bermutu mempunyai peran penting dalam peningkatan
produktivitas tanaman kacang panjang, kualitas benih mempunyai kaitan yang
erat dengan viabilitas dan vigor benih. Benih sendiri mempunyai pengertian ialah
merupakan biji tanaman yang dipergunakan untuk keperluan dan pengembangan
usaha tani serta memiliki fungsi agronomis (Kartasapoetra, 2003).. Menurut
Direktorat Jendral Pertanian Tanaman Pangan (1991), nilai SNI yang ditetapkan
untuk kualitas benih dalam kemasan berlabel adalah 70 80% tergantung pada
jenis tanaman, tetapi menurut Kartasapoetra (2003), benih yang berkualitas tinggi
itu memiliki viabilitas lebih dari 90%.
Menurut

Sutopo

(2002),

penyimpanan

benih

adalah

untuk

mempertahankan viabilitas yang maksimum selama mungkin, sehingga simpanan


energi yang dimiliki benih tidak menjadi bocor dan benih mempunyai cukup
energi untuk tumbuh pada saat ditanam. Maksud dari penyimpanan benih di

waktu tertentu adalah agar benih dapat ditanam pada waktu yang diperlukan dan
untuk tujuan pelestarian benih dari sesuatu jenis tanaman.
Tujuan utama penyimpanan benih menurut Sutopo (2002) adalah untuk
mempertahankan viabilitas benih dalam periode simpan yang sepanjang mungkin.
Untuk tujuan ini, diperlukan suatu periode simpan dari hanya beberapa hari,
semusim, setahun bahkan sampai beberapa puluh tahun bila ditujukan untuk
pelestarian jenis. Bila ditinjau dari viabilitasnya secara umum benih dibedakan
antara berdaya simpan baik, sedang dan jelek. Agar benih memiliki daya simpan
yang baik maka benih harus memiliki kekuatan tumbuh dan daya kecambah yang
semaksimal mungkin.
Viabilitas benih dapat diperpanjang bila benih disimpan pada kondisi yang
terlindung dari panas, uap, air dan oksigen (Aug Pyr de Candolle, 1832 dalam
Justice and Bass, 2002). Justice and Bass (2002) juga mengatakan bahwa tujuan
utama penyimpanan benih tanaman bernilai ekonomi ialah untuk mengawetkan
cadangan bahan tanam dari satu musim ke musim berikutnya.
Menurut King dan Roberts (1979) dalam Anggraini (2000), berdasarkan
kadar air dan suhu, benih dapat dikelompokkan menjadi dua kelas yaitu benih
ortodok dan benih rekalsitran. Benih ortodok yaitu benih yang dapat disimpan
pada kadar air rendah sekitar 5% dan suhu di bawah titik beku, pada kelembaban
relatif 15% - 20% untuk periode simpan lama. Benih rekalsitran yaitu benih yang
dapat disimpan pada kadar air yang tinggi (20% - 50%) dan suhu 20 C 30 C
pada kelembaban relatif 50% dan tidak dapat disimpan pada waktu yang lama.
E. Metode Coating
Pelapisan benih (seed coating) merupakan salah satu metode seed
enhancement, yakni metode untuk memperbaiki mutu benih menjadi lebih baik
dengan menambahkan suatu zatpada benih seperti insektisida, fungisida, hara
mikro, dan komponen lainnya yang dapat membantu mengoptimumkan
perkecambahan benih di semua kondisi lingkungan (Copeland dan McDonald,
2001). Menurut Ilyas (2003) penggunaan seed coating dalam industri benih sangat
efektif karena dapat memperbaiki penampilan benih, meningkatkan daya simpan,
mengurangi tertular penyakit dari benih disekitarnya dan dapat digunakan sebagai

pembawa zat aditif, misalnya: antioksidan, antimikroba, repellent, mikroba dan


antagonis. Coating dilakukan untuk melindungi kualitas fisik benih serta
melindungi benih dari pengaruh lingkungan saat proses penyimpanan.
F. Kitosan
Kitosan merupakan senyawa yang tidak larut dalam air, larutan basa kuat,
sedikit larut dalam HCl dan HNO3 dan tidak larut dalam H2SO4. Kitosan mudah
mengalami degradasi. Kitosan dapat dengan mudah berinteraksi dengan zat-zat
organik seperti protein. Oleh sebab itu kitosan lebih banyak ada bidang industri
terapan dan industri kesehatan (Purwantingsih, 1992). Pelarut kitosan yang baik
adalah asam asetat (Widodo dkk, 2006).
Sifat-sifat kitosan dihubungkan dengan adanya gugus-gugus fungsi amina,
gugus hidroksi primer dan hidroksi sekunder. Adanya gugus ini menyebabkan
kitosan mempunyai kereaktifan kimia yang tinggi dibandingkan kitin. Kitin
merupakan polimer alam terbanyak di dunia setelah selulosa (Yanming, et al.
2001). Gugus-gugus fungsi tersebut menyebabkan kitosan dapat berinteraksi
dengan zat-zat organik seperti protein, sehingga kitosan relatif lebih banyak
digunakan pada berbagai bidang industri terapan dan kesehatan (Purwantiningsih,
1992). Selain itu kitosan dapat dimodifikasi strukturnya melalui gugus-gugus
fungsi tersebut.
Secara umum, pelapis yang tersusun dari polisakarida dan turunannya
hanya sedikit menahan penguapan air tetapi efektif untuk mengontrol difusi dari
berbagai gas, seperti CO2 dan O2 (Nisperoscarriendo dalam Anityoningrum,
2005). Kitosan menginduksi tanaman untuk meningkatkan biosintesis lignin dan
lignifikasi dinding sel tanaman sehingga menjadi lebih kuat dan menghambat
penetrasi cendawan pengganggu (Reddy et al., 1999). Kitosan selain berperan
khusus sebagai anti jamur juga dapat memperkuat sistem akar dan batang
berperan

sebagai

pupuk

yang

dapat

memperkuat

perkecambahan

dan

pertumbuhan (Wulandini, 2002). Pelapisan benih gandum dengan kitosan (2-8


mg/ml) secara nyata meningkatkan daya berkecambah diatas 85 % dan vigor
benih terhadap infeksi patogen Fusarium graminearum (Reddy et al., 1999).

Kitosan digunakan sebagai agen pengikat untuk melapisi benih pinus dengan
conidia cendawan T. pseudokoningii.
Oleh karena itu, pemberian pengawet alami kitosan diperkirakan mampu
meningkatkan mutu simpan benih. Salah satu yang mendasari hal ini karena
kitosan menginduksi benih tanaman untuk meningkatkan biosintesis lignin dan
lignifikasi dinding sel tanaman sehingga menjadi lebih kuat dan menghambat
penetrasi cendawan pengganggu. Selain itu, kelebihan kitosan dibandingkan lilin
biasa antara lain sifatnya yang ramah lingkungan dan mudah terdegradasi di alam.
Selain itu tidak membahayakan kesehatan manusia. Kitosan dengan konsentrasi
1% sebagai perlakuan benih lebih efektif dalam mengendalikan BCMV. Kitosan
konsentrasi 1% menunjukkan kejadian dan keparahan penyakit, aktivitas enzim
peroksidase serta titer BCMV nyata lebih rendah bila dibandingkan dengan
kitosan konsentrasi 0,1% (Damayanti dkk, 2013).
G. Hipotesis
Perlakuan coating kitosan konsentrasi 1% efektif untuk memperpanjang
umur simpan benih kacang panjang.

III.

TATA CARA PENELITIAN


A Waktu dan Tempat

Penelitian akan dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Juni 2015.
Tempat penelitian adalah di Laboratorium Produksi dan Laboratorium
Agrobioteknologi Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
H. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih kacang panjang
yang berasal dari Balai Pengembangan Perbenihan Tanaman Pangan dan
Hortikultura,pasir, kertas merang,plastik, kitosan, CH3COOH 100%, gliserol, dan
aquades.
Alat yang digunakan adalah sebagai berikut: Nampan sebagai wadah
dalam pengujian vigor benih, petridish sebagai wadah dalam pengujian viabilitas,
timbangan analitik untuk menimbang berat benih,Balance Moisture Tester, cawan
timbang, kain kasa, beaker glass, pengaduk, stirrer, mikropipet dan pinset.
I. Metode Penelitian
Penelitian dilakukan dengan metode eksperimen rancangan faktor tunggal
yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan sebagai
berikut:
A = Kitosan 0,5%
B = Kitosan 1%
C = Kitosan 1,5%
K = Tidak diberi kitosan (kontrol)
Dengan demikian diperoleh 4 perlakuan yang diulang sebanyak 4 kali sehingga
diperoleh 16 unit perlakuan. Setiap perlakuan terdiri dari 150 biji benih kacang
panjang sehingga dibutuhkan 2400 sampel benih kacang panjang.

J. Tata Laksana
1

Pembuatan larutan kitosan


Larutan kitosan yang dibuat adalah 250 ml dengan konsentrasi yang

berbeda-beda yaitu 0,5%, 1%, dan 1,5%. Pembuatannya dilakukan di


Laboratorium Agrobioteknologi Fakultas Pertannian, Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta. Tahap pembuatannya adalah masukkan CH3COOH 100% pada
beaker glass, lalu di-stirrer dengan kecepatan sedang sambil dimasukkan aquades
dan kitosan sedikit demi sedikit secara perlahan hingga terbentuk larutan
tersuspensi. Kemudian gliserol kemudian aduk hingga homogen. Adapun
komposisi pembuatan larutan kitosan pada berbagai konsentrasi yaitu :
Konsentras

CH3COO

0,5 %

Aquades

Kitosan

Gliserol

2,5 ml

246,25 ml

1,25 g

0,5 ml

1%

2,5 ml

245 ml

2,5 g

0,5 ml

1,5 %

2,5 ml

243,75 ml

3,75 g

0,5 ml

1. Aplikasi kitosan
Metode pengaplikasian kitosan yang digunakan adalah dengan metode
celup. Sejumlah 1.000 butir benih kacang panjang dimasukkan kedalam kain kasa
yang kemudian diikat seperti membungkus benih kacang panjang. Celupkan benih
tersebut kedalam larutan kitosan sampai seluruh permukaan benih kacang panjang
tertutupi oleh larutan kitosan kemudian kering anginkan sampai kitosan yang
melapisi benih telah kering seluruhnya.
2. Pengemasan
Bahan pengemas yang digunakan adalah plastik polypropilen. Benih
kacang panjang dimasukkan kedalam plastik lalu plastik direkatkan menggunakan
sealer.
3. Penyimpanan

Penyimpanan dilakukan selama 2 bulan pada suhu ruang (25 o C) di


Laboratorium

Produksi

Fakultas

Pertanian,

Universitas

Muhammadiyah

Yogyakarta. Peletakkan tiap-tiap kemasan disusun berdasarkan Rancangan Acak


Lengkap.
4. Pengamatan
Pengamatan kadar air dilakukan setiap sebulan sekali sedangkan
pengamatan viabilitas dan index vigor dilakukan pada minggu ke-8.
K. Parameter Pengamatan
1

Viabilitas benih (%)


Viabilitas benih yang digunakan adalah persentase perkecambahan yang
cepat dan pertumbuhan perkecambahan kuat dalam hal ini mencerminkan
kekuatan tumbuh yang dinyatakan sebagai laju perkecambahan. Penilaiaan
dilakukan dengan membandingkan kecambah satu dengan kecambah
lainnya sesuai kriteria kecambah normal, abnormal dan mati. Pengamatan
viabilitas

dilakukan pada bulan ke-2 setelah perlakuan dengan

menumbuhkan 15 sampel benih. Benih yang sudah ditumbuhkan diamati


sampai hari ke-7. Adapun perhitungannya adalah sebagai berikut:
Jumlah Kecambah Normal
DK

X 100 %
Jumlah Benih yang dikecambahkan

Keterangan:
a) Kecambah normal

: Kecambah memiliki perkembangan sistem

perakaran yang baik, terutama akar primer dan akar seminal paling
sedikit dua.perkembangan hipokotil baik dan sempurna tanpa ada
kerusakan pada jaringan.Pertumbuhan plumula sempurna dengan daun
hijau tumbuh baik.

Epikotil tumbuh sempurna dengan kuncup

normal.Memiliki satu kotiledon untuk kecambah dari monokotil dan


dua bagi dikotil.
b) Kecambah abnormal

: Kecambah rusak tanpa kotiledon, embrio

pecah, dan akar primer pendek.Bentuk kecambah cacat, perkembangan

bagian-bagian penting lemah dan kurang seimbang. Plumula terputar,


hipokotil, epikotil, kotiledon membengkok, akar pendek, kecambah
kerdil.Kecambah tidak membentuk klorofil dan kecambah lunak.
5. Index vigor
Pengujian viabilitas benih meliputi metode uji secara langsung dan tidak
langsung. Dalam metode uji secara langsung kita dapat mengetahui dan
menilai struktur-struktur penting kecambah secara langsung. Sedangkan
metode uji secara tidak langsung dapat diketahui mutu hidup benih yang
ditunjukkan melalui gejala metabolisme.Pengamatan dilakukan pada bulan
ke-2 setelah perlakuan. Pengamatan menggunakan metode pasir dengan
menumbuhkan sebanyak 30 benih. Benih yang sudah ditumbuhkan
diamati sampai hari ke-7. Adapun perhitungannya adalah sebagai berikut:
G1
IV =

G2
+

D1
Keterangan:

+
D2

G3
+
D3

Gn
Dn

IV

= Index vigor

= Jumlah benih yang berkecambah pada hari tertentu

= Waktu / hari yang berkorespondensi dengan jumlah G

= Jumlah hari pada perhitungan akhir pengamatan

6. Coeficient Germination
Pengujian koefisien perkecambahan dilakukan bersamaan dengan index
vigor dan first count. Pengujian dilakukan selama 7 hari dan di hitung
berdasarkan perhitungan berikut :
100 (A1 + A2 + A3 + .... +An)
CG =
A1T1 + A2T2 + A3T3 + .... + AnTn
Keterangan:
CG

= Coefisient Germination

= Jumlah benih yang berecambah pada waktu/hari tertentu

= Waktu yang berkorespondensi dengan A

= Jumlah hari pada perhitungan terakhir

10

7. Kecepatan Berkecambah
Untuk

menentukan

kecepatan

berkecambah

suatu

benih,

dapat

dievaluasikan dengan first count. First count merupakan cara evaluasi


persentase benih yang berkecambah pada hari tertentu (lebih awal dari uji
viabilitas) setelah tanam. Kecepatan berkecambah dikatakan lebih tinggi
bila pada hari tersebut terdapat lebih dari 75% benih yang berkecambah.

L. Analisis Data
Setelah data hasil penelitian diperoleh, analisis data dilakukan dengan
pengujian menggunakan sidik ragam (Analisys of variance), bila ada beda nyata
antar perlakuan maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan uji DMRT
(Duncans Multiple Range Test). Untuk hasil pengamatan periodik maka dianalisis
menggunakan grafik dan histogram.

11

M. Rencana Kegiatan

April minggu ke-

Kegiatan
1

Juni minggu
ke-

Mei minggu ke4

Pengadaan alat dan bahan


Pembuatan kitosan
Aplikasi kitosan pada benih
Pengemasan benih
Penyimpanan benih
Pengamatan viabilitas benih
Pengamatan index vigor
Penyusunan laporan

12

DAFTAR PUSTAKA
B

Copeland, L. O. and M. B. McDonald. 2001. Seed Science and


Technology 4th edition. Kluwer Academic Publisher. London. 425p.

Damayanti, T.A., Haryanto, dan Wiyono, S. 2013. Pemanfaatan Kitosan


Untuk Pengendalian Bean Common Mosaic Virus (BCMV) Pada Kacang
Panjang. Jurnal HPT Tropika. Vol.13. No.2: 110-116

Hendarto, K. 2005. Dasar-dasar Teknologi dan Sertifikasi Benih. Andi


Offset. Yogyakarta

Ilyas, S. 2003. Teknologi Pelapisan Benih. Makalah Seminar Benih


Pellet. Departemen Budidaya Pertanian, Faperta IPB. Pp.16.

Indaryani, Suriany, dan Arman W. 2012. Pengaruh Jenis Kemasan dan


Periode Simpan Terhadap Viabilitas Benih Beberapa Varietas Kacang
panjang. Jurnal Agrisistem Vol.8.No.4: 87-97

JIBI. 2011. Swasembada Pangan Indonesia Butuh 514.000 Ton Benih


Pangan.
http://bandung.bisnis.com/read/20111011/1/100213/swasembada-panganindonesia-butuh-514-000-ton-benih-pangan. Akses 8 maret 2015.

Justice, O.L., L.N. Bass. 1979. Principles And Practices Of Seed Storage.
Castle House Publicatins Ltd, London.

Kartasapoetra A.G., 2003. Teknologi Benih : Pengolahan Benih dan


Tuntunan Praktikum. Rineka Cipta. Jakarta. Hal : 108-112.

Nanda, O. 2013. Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Kacang panjang


(Oryza

sativa).

http://www.petanihebat.com/2013/09/klasifikasi-dan-

morfologi-tanaman-kacang panjang.html. Akses 8 Maret 2015.


K

NIsperos-Carriedo, M.O., 1994, Edible Penyaluts and films Based


Onpolysaccharides, In J. M. Krochta, E. A. Baldwin, & M. O.
NisperosCarriedo (Eds.),Edible Penyaluts and films To Improve Food
Quality (Pp. 305335), Technomic Publishing Co, Switzerland

Prasetiyo. Y., T. 2006. Budidaya Kacang panjang Sawah TOT. Kanisius.


Yogyakarta.

Purwaningsih, S. 2000. Teknologi Pembekuan Udang. Penebar Swadaya.


Jakarta.

Reddy, G.V., Reiter, C., Shanbhag, S., Fischbach, K.F., Rodrigues, V.


(1999). Irregular chiasm-C-roughest, a member of the immunoglobulin
superfamily, affects sense organ spacing on the Drosophila antenna by
influencing the positioning of founder cells on the disc ectoderm. Dev.
Genes Evol. 209(10): 581591

Sadjad, S. 1994. Kuantifikasi Metabo-lisme Benih. PT Widiasarana


Indonesia. Jakarta.

Suparyono dan Agus Setyono, 1993. Kacang panjang. Penebar Swadaya.


Jakarta.

Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Wahyu, A.W. 2014. Cara Penyimpanan Gabah dan Benih Secara Aman.
https://multimeter-digital.com/cara-penyimpanan-gabah-dan-benih.html.
Akses 8 Maret 2015.

Widodo, A., Mardiah, dan Prasetyo, A. 2006. Potensi kitosan dari sisa
udang sebagai koagulan logam berat limbah cair industri tekstil. ITS
Surabaya.

Wulandini, R. 2002. Pemanfaatan Chitosan dan Trichoderma harzianum


untuk Peningkatan Mutu Benih Pinus merkusii. Tesis. Institut Pertanian
Bogor

Yanming, D., Congyi, X.U., Jianwei, W., Mian,W., Yusong, W.U.,


Yonghong, R. 2001. Determination of degree of substitution for Nacylated chitosan using IR spectra. Science in Chine. Vol.44.No.2: 216224.

LAMPIRAN
Lay Out Penelitian

B1

C1

K1

A3

B3

C3

K3

C2

A1

B2

K2

A2

Keterangan:

= Kitosan 0,5%

= Kitosan 1%

= Kitosan 1,5%

= Tidak diberi kitosan

1, 2, 3 = Ulangan perlakuan