Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

LATAR BELAKANG
Salah satu tujuan pembangunan di Indonesia termasuk di Jawa Timur adalah untuk

meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat tidak terkecuali pada


kelompok lanjut usia (lansia). Peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup pada
kelompok lansia tercermin dari meningkatnya usia harapan hidup penduduk yang tidak
lepas dari keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan dan pendidikan. Bertambahnya
sarana kesehatan yang dibarengi oleh peningkatan pelayanan dan ketersediaan obat-obatan
secara signifikan akan meningkatkan peluang masyarakat untuk senantiasa dalam kondisi
sehat sehingga peluang untuk hidup lebih lama pun akan semakin meningkat. Di sisi lain,
pendidikan juga sangat mempengaruhi pola pikir masyarakat untuk hidup lebih sehat dan
menambah wawasan masyarakat akan pilihan-pilihan baik untuk hidup sehat ataupun
pilihan-pilihan pengobatan atas penyakit yang diderita sehingga akan memperpanjang
peluang mereka untuk hidup, atau dengan kata lain akan meningkatkan angka harapan
hidup masyarakat secara umum. Lanjut usia adalah bagian dari proses tumbuh kembang.
Manusia tidak secara tiba-tiba menjadi tua, tetapi berkembang dari bayi, anak-anak,
dewasa dan akhirnya menjadi tua. Hal ini normal, dengan perubahan fisik dan tingkah laku
yang dapat diramalkan yang terjadi pada semua orang pada saat mereka mencapai usia
tahap perkembangan kronologis tertentu. Lansia merupakan suatu proses yang alami dan
menjadi bagian dari proses kehidupan yang tak dapat dihindarkan dan akan dialami oleh
setiap individu. Masa tua inilah yang menjadi masa hidup manusia yang terakhir. Dimasa
ini seseorang mengalami kemunduran fisik, mental dan sosial secara bertahap
(Azizah,2011; h.1)
Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010, secara umum jumlah penduduk lansia
di Indonesia sebanyak 18,04 juta orang atau 7,59 persen dari keseluruhan penduduk.
Jumlah penduduk lansia perempuan (9,75 juta orang) lebih banyak dari jumlah penduduk
lansia laki-laki (8,29 juta orang). Sebarannya jauh lebih banyak di daerah perdesaan (10,36
juta orang) dibandingkan di daerah perkotaan (7,69 juta orang). Jika dilihat menurut
kelompok umur, jumlah penduduk lansia terbagi menjadi lansia muda (60-69 tahun)

sebanyak 10,75 juta orang, lansia menengah (70-79 tahun) sebanyak 5,43 juta orang, dan
lansia tua (80 tahun ke atas) sebanyak 1,86 juta orang. (BPS, 2013)
Menurut (Jubaidi, 2008), perubahan fisik pada lansia yang dapat menjadi suatu
kondisi lansia terserang penyakit, seperti perubahan kardiovaskuler yaitu menurunnya
elastisitas pembuluh darah, perubahan pada respirasi yaitu menurunnya kekuatan otot-otot
pernafasan, serta perubahan pada pendengaran dan perubahan pada penglihatan. Terdapat
beberapa macam penyakit yang biasa menimpa para lansia antara lain hipertensi, diabetes
mellitus, jatung koroner, stroke, katarak, dan lain sebagainya.
Berdasarkan penelitian (Pepin Nahariani dkk, 2012) Aktifitas fisik/bergerak adalah
setiap gerakan tubuh yang meningkatkan pengeluaran tenaga dan energi (pembakaran
Kalori). Aktivitas fisik adalah pergerakan anggota tubuh yang menyebabkan pengeluaran
tenaga yang sangat penting bagi pemeliharaan kesehatan fisik dan mental, serta
mempertahankan kualitas hidup agar tetap sehat dan bugar sepanjang hari. Tetap aktif,
artinya diharapkan lansia hidup sederhana, santai, aktif dalam berorganisasi, aktif dalam
kegiatan sosial, berkarya, selalu mengembangkan hobi dan berolahraga, dalam
melaksanakan aktivitas harus disesuaikan dengan kemampuan, serta bergerak secara
teratur atau kontinu.
Masalah kesehatan yang sering menimpa lansia yaitu hipertensi yang bisa menjadi awitan
dari berbagai masalah kardiovaskuler lainnya yang lebih gawat. Prevalensi kejadian
hipertensi sangat tinggi pada lansia, yaitu 60%-80% pada usia diatas 65 tahun. Tidak
sedikit orang yang menganggap penyakit hipertensi pada lansia adalah hal biasa. Sehingga
mayoritas masyarakat menganggap remeh penyakit ini. Hipertensi dapat menyebabkan
berbagai macam komplikasi antara lain gagal jantung dan stroke (Muhammad, 2010).
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya
diatas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg (Smeltzer & Bare, 2002).
Berdsarkan penelitian (Vendyik Fhajar Pranama, 2012) Perbedaan Tekanan Darah Usia
Lanjut Yang Mengikuti Senam Lanjut Usia Dan tidak Mengikuti Senam Lanjut Usia,
dengan hasil penelitian, aktivitas fisik pada usia lanjut yang dilakukan secar rutin akan
mengurangi resiko penumpukan lemak pada dinding pembuluh darah yang akhirnya akan
menjaga elastisitasnya. Kesimpulannya, bahwa ada kecenderungan tekanan darah lebih
tinggi dan frekuensi denyut nadi lebih cepat pada usia lanjut yang tidak mengikuti senam
dibanding dengan usia lanjut yang mengikuti senam dimana perbedaan secara statistik

cukup bermakna. Dalam penelitian (Iksan Ismanto, 2013) juga menyebutkan Olahraga
juga dapat menurunkan risiko penyakit jantung koroner yang melalui mekanisme;
penurunan denyut jantung dan tekanan darah, penurunan tonus simpatik, meningkatkan
diameter arteri koroner, dan sistem kolateralisasi pembuluh darah, meningkatkan HDL dan
menurunkan LDL darah. Melalui kegiatan olahraga, jantung dapat bekerja secara lebih
efisien, frekuensi denyut nadi berkurang, namun kekuatan memompa jantung semakin
kuat, penurunan kebutuhan oksigen jantung pada intensitas tertentu, penurunan lemak
badan dan berat badan serta menurunkan tekanan darah (Cahyono, 2008).
Berdasarkan studi pendahuluan yang di lakukan peneliti pada tanggaltahun 2016
didapati hasil, jumlah Lanjut usia di posyandu lansia desa banjarejo sebanyak .orang.
dengan jumlah laki-laki orang dan jumlah perempuan. Orang. Yang menderita
hipertensi orang serta berdasarkan uraian pada pendahuluan yang telah di jelaskan
diatas maka penulis bermaksud untuk meneliti Hubungan Aktivitas Fisik Dengan
Stabilitas Tekanan Darah Pada Lanjut Usia di posyandu lansia Desa Banjarejo Kabupaten
Malang.
1.2

RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian diatas rumusan masalah yang menjadi acuan dalam penelitian
ini adalah bagaimana hubungan aktivitas fisik lansia dengan stabilitas tekanan
darah pada lanjut usia di Desa Banjarejo Kecematan Ngantang Kabupaten Malang?

1.3

TUJUAN PENELITIAN

1.3.1

Tujuan Umum

Mengetahui bagaimana hubungan aktivitas fisik dengan stabilitas tekanan darah


pada lansia di Desa Banjarejo Kecematan Ngantang Kabupaten Malang.
1.3.2

Tujuan Khusus
1.

Mengidentifikasi aktivitas fisik lanjut usia di posyandu Lansia Desa


Banjarejo Kecematan Ngantang Kabupaten Malang

2.

Mengidentifikasi tekanan darah lanjut usia di posyandu Lansia Desa


Banjarejo Kecematan Ngantang Kabupaten Malang

3.

Menganalisa hubungan aktifitas fisik dengan stabilitas tekanan darah lanjut


usia di posyandu Lansia Desa Banjarejo Kecematan Ngantang Kabupaten
Malang

1.4

MANFAAT PENELITIAN

1.4.1

Bagi Masyarakat
Menambah pengetahuan bagi masyarakat pada umumnya dan khususnya bagi
keluarga yang memiliki anggota lanjut usia agar dapat membantu lanjut usia
dalam melakukan aktifitas dalam kedidupan sehari-hari.

1.4.2

Bagi Institusi Kesehatan


Dapat digunakan sebagai acuan dalam penyusunan program dalam bidang
pendidikan kesehatan tentang pengaruh aktifitas fisik terhadap tekanan darah
pada kelompok lanjut usia.

1.4.3

Bagi Profesi Keperawatan


Sebagai bahan tambahan wawasan pengetahuan tentang hubungan aktifitas fisik
dengan tekanan darah pada kelompok lanjur usia

1.4.4

Bagi Peneliti
Sebagai bentuk proposal serta karya ilmiah dalam merealisasikan teori yang
telah di dapat di bangku kuliah dengan kenyataan yang terjadi di masyarakat