Anda di halaman 1dari 5

Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi 2012 (SENTIKA 2012)

Yogyakarta, 10 Maret 2012

ISSN: 2089-9815

PENGEMBANGAN APLIKASI MOBILE PEMBELAJARAN


MITIGASI BENCANA GEMPA BUMI BERBASIS MULTIMEDIA
Arief Budiman1, Tomy Dwi Dayanto2 ,Lantik3
Program Studi D3 Manajemen Informatika, Fakultas Teknik,Universitas Merdeka Madiun
Jl. Serayu 79 Madiun 63133
Telp. (0351) 464427
2
Program Studi Magister Teknik Informatika, Fakultas Teknik,Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Jln. Babarsari 43 Yogyakarta 55281
3
Program Studi Magister Teknik Informatika, Fakultas Teknik,Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Jln. Babarsari 43 Yogyakarta 55281
E-mail: arief@unmer-madiun.ac.id, chubee12002@yahoo.com, lantik_smksentani@yahoo.co.id
1

ABSTRAKS
Indonesia merupakan sebuah negara yang cukup berpotensi mengalami bencana gempa bumi, seperti yang
terjadi beberapa tahun lalu di Daerah Istimewa Aceh dan Kota Yogyakarta. Bencana gempa bumi tersebut
tentunya dapat menelan korban jiwa yang tidak sedikit, dan dapat saja terjadi pada anak-anak ataupun orang
dewasa. Hal ini disebabkan karena minimnya pengetahuan masyarakat Indonesia tentang cara mitigasi yang
benar. Oleh karena itu dikembangkan sebuah media edukasi sebagai upaya untuk menumbuhkan Budaya
Keselamatan sehingga dapat mendukung upaya mitigasi terhadap bencana gempa bumi yang rawan terjadi di
Indonesia. Hasil akhir dari penelitian ini adalah sebuah aplikasi yang dapat di jalankan pada perangkat telepon
seluler, dan berisi mengenai bagaimana mitigasi bencana gempa bumi yang benar. Salah satu kelebihan dari
aplikasi ini adalah tidak harus menggunakan akses internet untuk mengakses informasi di dalamnya, sehingga
dapat digunakan setiap saat. Pengujian dari 20 responden diperoleh hasil 90% setuju bahwa aplikasi dapat
membantu memberikan pengetahuan terhadap cara mitigasi bencana gempa bumi yang benar.
Kata Kunci: Media edukasi, Mitigasi, Gempa Bumi, Multimedia, Mobile
informasi yang saat ini sedang populer dan banyak
digunakan oleh masyarakat, seperti komunikasi
mobile dan ponsel, terutama pada penerapan J2ME,
GPRS, dan teknologi lainnya (Winardo, 2010). Oleh
karena ada penelitian ini dikembangkan sebuah
aplikasi berbasis mobile yang dapat membantu
masyarakat dalam memperoleh pengetahuan
mengenai mitigasi gempa bumi. Aplikasi ini dapat
dijalankan pada perangkat telepon seluler berbasis
symbian atau android, dan dapat diakses setiap saat
tanpa harus membutuhkan koneksi internet,
sehingga hal ini akan mengurangi ketergantungan
pengguna aplikasi terhadap akses internet seperti
yang ditunjukkan oleh Fitrianes dkk (2009). Aplikasi
dikembangkan dengan menggunakan QT, dimana
QT merupakan sebuah framework yang dirancang
untuk mempermudah dalam proses pembuatan
aplikasi berbasis mobile pada ponsel berbasis
Symbian,
Maemo,
dan
MeeGo,
(qt.nokia.com/products). Dan untuk data-data
mengenai mitigasi bencana alam gempa bumi akan
dilakukan dengan metode studi pustaka pada situssitus pemerintah yang berwenang menangani
permasalahan mitigasi bencana alam dan literatur
lain, kemudian data-data yang diperoleh akan
disimpan di dalam aplikasi dan dapat diakses oleh
pengguna melalui ponsel. Diharapkan dengan
aplikasi tersebut dapat menumbuhkan Budaya
Keselamatan pada masyarakat sehingga dapat dapat
mengurangi besarnya angka korban apabila terjadi

1.

LATAR BELAKANG
Bencana alam merupakan sebuah peristiwa yang
dapat mengancam setiap saat dan menimbulkan
kerusakan terhadap lingkungan. Bencana alam dapat
terjadi di seluruh belahan dunia, akan tetapi dampak
yang ditimbulkan akan sangat terasa apabila terjadi
di sebuah negara berkembang seperti di Indonesia,
dimana bencana alam gempa bumi cukup sering
terjadi. Indonesia merupakan negara yang rentan
mengalami bencana alam gempa bumi hal ini
disebabkan karena Indonesia berada di dalam zona
tumbukkan tiga lempeng tektonik yaitu Eurasia,
India-Australia dan lempeng Pasifik, (Marfai
dkk,2008). Salah satu bencana alam gempa bumi
besar yang pernah terjadi adalah di kota Yogyakarta
pada tanggal 27 Mei 2006 dengan kekuatan sebesar
6,3 skala richter, dan menelan korban jiwa sebanyak
5716 jiwa, dan 50.000 jiwa terluka, (Leitmann,
2007). Dampak dari bencana gempa bumi membawa
kerugian yang besar bagi masyarakat oleh karena itu
perlu adanya upaya untuk memberikan pengetahuan
mengenai mitigasi bencana alam khususnya gempa
bumi pada masyarakat umum, dan menumbuhkan
Budaya Keselamatan, sehingga masyarakat umum
sadar akan bahaya yang akan dihadapi dan memiliki
pengetahuan untuk dapat melindungi diri mereka
sendiri.
Pencegahan terhadap terjadinya korban dan
kerugian akibat bencana gempa bumi dapat
dilakukan lebih awal melalui penggunaan media

36

Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi 2012 (SENTIKA 2012)


Yogyakarta, 10 Maret 2012

ISSN: 2089-9815

(Setiawan dkk, 2010). Pengembangan aplikasi


mobile learning sendiri tidak lepas dari suksesnya
implementasi teknologi General Packet Radio
Service (GPRS) dan 3G sebagai layanan komunikasi
data berkecepatan tinggi pada telepon selular, dan
pada akhirnya mengubah paradigma pada
masyarakat pengguna telepon selular yang
sebelumnya hanya berorientasi pada komunikasi
berbasis suara dan pesan pendek atau short message
service (SMS) menjadi kearah komunikasi berbasis
data multimedia dan web content. Semakin
banyaknya jenis mobile communication device
seperti misalnya PDA phone dan smartphone
berteknologi GPRS dan 3G juga mendukung
pergeseran paradigma tersebut, (Munif, 2007).
Berkaitan dengan teknologi ini sebelumnya pernah
dikembangkan aplikasi m-learning untuk organizer
mahasiswa yang dapat dimanfaatkan untuk mengatur
segala kegiatan yang direncanakan dengan
memberikan fitur-fitur seperti time manager, course
manager, dan communication center, (Sarwosri,
2010). Layanan di bidang kesehatan juga telah
memanfaatkan dan mengembangkan aplikasi
mobile, salah satunya adalah mobile-doctor (mdoctor). M-doctor sendiri merupakan pengembangan
dari e-doctor dan mengacu pada penggunaan
perangkat telekomunikasi genggam dan bergerak
seperti PDA, telepon seluler, laptop, dan tablet PC,
(Memon dkk, 2007). Dengan aplikasi m-doctor ini
memungkinkan bagi dokter untuk memantau
keadaan seorang korban dari jauh dalam kondisi
bencana, dan untuk situasi darurat m-doctor dapat
memberikan informasi layanan medis secara efektif
dan efisien kepada pasien, (Santoso dkk, 2011).
Untuk menambah daya tarik pada aplikasi
Mobile tersebut, dapat dilakukan dengan
mengintegrasikan beberapa elemen multimedia
seperti gambar, teks, dan suara, seperti yang
ditunjukkan oleh Mulyadi dkk (2011). Penambahan
elemen multimedia tersebut juga diterapkan pada
aplikasi pembelajaran melafalkan Bahasa Inggris
dimana aplikasi tersebut dapat melakukan
pencocokan data dengan cara melakukan streaming
pada server google, (Pratama, unpublished).
Perancangan konten m-learning dengan sistem live
multimedia berbasis mobile dapat membuat konten
materi pembelajaran tampil cukup interaktif dengan
memadukan sistem website dan WAP-site, sehingga
dapat terjadi umpan balik pembelajaran yang baik,
(Santoso dkk, 2009). Setyono dkk (2010) dan Chu
dkk (2007) juga menambahkan komponen
multimedia
pada
pengembangan
aplikasi
telemedicine, sehingga dokter, perawat, atau pasien
dapat menampilkan informasi dalam bentuk gambar,
suara, atau video mengenai penyakit yang diderita.
Selain itu aplikasi mobile juga dapat dikembangkan
sebagai alat peringatan dini terhadap kemungkinan
terjadinya bencana (Utami dkk, 2008).

bencana alam gempa bumi.


2.

TINJAUAN PUSTAKA
Penelitian di bidang mitigasi bencana alam
khususnya gempa bumi juga telah banyak dilakukan
sebelumnya, seperti penelitian yang dilakukan oleh
Coburn dkk (2002), dimana mereka menjelaskan
bahwa untuk mengurangi resiko terjadinya korban
jiwa dan kerusakan maka diperlukan respon yang
terkoordinasi dengan baik ketika terjadi bencana.
Selain itu perlu dilakukan perluasan sistem dengan
membentuk kelompok-kelompok masyarakat atau
organisasi
tertentu,
dimana
masing-masing
kelompok masyarakat dan organisasi tersebut
nantinya dapat mengandalkan sumber daya dan
kemampuan mereka sendiri pada saat terjadi
bencana. Dan hal ini memerlukan susunan organisasi
yang efisien baik sumber daya, staf dan prioritas
tindakan berhubungan dengan waktu dan
pemahaman tentang konsekuensi kemungkinan
terjadinya bencana. Haifani (2008) merumuskan
beberapa hal mengenai manajemen resiko bencana
bumi pada kasus gempa bumi Yogyakarta 27 Mei
2006, salah satunya adalah pendidikan dan pelatihan
kebencanaan perlu segera diimplementasikan dan
secara periodik dilakukan penyegaran, disampaikan
pula mengenai pemahaman akan sumber bahaya dan
potensinya kepada masyarakat. Hal tersebut dapat
dilakukan dengan menyelenggarakan diklat,
penyebaran brosur, dan pamflet. Dengan maksud
untuk
menumbuhkan
dan
meningkatkan
pemahaman,
kesadaran
dan
kesiapsiagaan
masyarakat akan bahaya gempa bumi, sehingga
kerugian dan korban dapat dikurangi pada saat
kejadian. Menurut Nur (2010), pencegahan dan
mitigasi adalah langkah-langkah yang diperlukan
untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan.
Oleh karena itu hal ini perlu dikembangkan mulai
dari tingkat sekolah, rumah dan masyarakat secara
umum. Kesiapan perencanaan gempa juga harus
bertujuan
untuk
mengembangkan
"Budaya
Keselamatan" di masyarakat umum, sehingga
masyarakat sadar akan bahaya yang mereka hadapi
dan dengan pengetahuan mereka masyarakat dapat
melindungi diri mereka sendiri, (Hosseini, 2006).
Seiring dengan itu perkembangan teknologi telah
banyak menciptakan terobosan baru di dalam hal
penyampaian informasi kepada masyarakat, dan saat
ini media edukasi akan bersinggungan dengan
perangkat-perangkat teknologi komunikasi mobile
dan teknologi internet. Sehingga telah menjadi
kecenderungan baru yang memungkinkan terjadinya
kegiatan pembelajaran secara mobile atau dikenal
sebagai mobile learning (m-learning), yang
merupakan
kombinasi
antara
teknologi
telekomunikasi dan internet, (Riyanto dkk, 2010).
Beberapa layanan telah dikembangkan untuk
memberikan kesempatan kepada masyarakat agar
dapat mengakses konten dan layanan kapan saja,
dimana saja dengan menggunakan telepon selular
37

Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi 2012 (SENTIKA 2012)


Yogyakarta, 10 Maret 2012

ISSN: 2089-9815

dibangun. Storyboard membantu penulis dalam


membuat ilustrasi mengenai bentuk tampilan
aplikasi, dan bagaimana bentuk interaktifitas antara
pengguna dengan aplikasi yang akan dibangun. Pada
gambar 1, ditampilkan bentuk dari struktur
antarmuka aplikasi.

2.1

Multimedia
Multimedia adalah pemanfaatan komputer untuk
membuat dan menggabungan teks, grafik, audio,
gambar bergerak (video dan animasi) dengan
menggabungkan link dan tool yang memungkinkan
user melakukan navigasi, berinteraksi, berkreasi,
dan berkomunikasi. Multimedia menjadikan
kegiatan itu dinamis dengan memberi dimensi baru
pada kata-kata, kata-kata dalam aplikasi multimedia
bisa menjadi pemicu yang dapat digunakan
memperluas cakupan teks untuk memeriksa suatu
topik tertentu secara lebih luas. Multimedia juga
menghidupkan teks dengan menyertakan bunyi,
gambar, musik, animasi, dan video (Suyanto, 2005).

Gambar 1. Hirarki struktur antarmuka aplikasi


Dari hirarki struktur antarmuka tersebut dapat
dilihat bahwa pada awal ketika aplikasi dijalankan,
pengguna akan langsung dihadapkan pada menu
utama, dan pada menu utama tersebut terdapat
beberapa sub menu, ketika sub menu tersebut dipilih
kemudian pengguna akan dibawa masuk kedalam
konten isi dari sub menu tersebut, dan pada saat
proses transisi masuk kedalam konten tersebut akan
menggunakan bentuk animasi zoom in. Dan pada
tampilan konten akan disediakan tombol untuk
kembali ke menu utama, transisi ketika kembali ke
menu utama akan menggunakan bentuk animasi
zoom out.
Ilustrasi dari bentuk tampilan-tampilan menu
aplikasi ditunjukkan pada storyboard seperti pada
gambar 2 dan 3.

2.2

Mobile Multimedia
Multimedia on Mobile adalah teknologi data
yang berupa file multimedia, dimana file tersebut
dapat dijalankan pada sebuah perangkat mobile, baik
berupa video, audio, dan animation. Data file bisa
dijalankan langsung dengan menunggu proses akses
download selesai terlebih dulu (Santoso, 2011).

2.3

Aplikasi Mobile QT Creator


Qt pada mulanya berasal dari ide pembuatnya
yaitu Haavard Nord dan Eirik Chambe-Eng yang
berkeinginan untuk membuat sebuah objectoriented display system, yang akhirnya mereka
mengimplementasikannya menjadi sebuah produk
pengembangan software dengan performansi tinggi
dan bersifat cross platform yang merupakan sebuah
framework C++ GUI yang banyak digunakan saat
ini baik didunia komersil maupun opensource
software development. Produk Qt ini sekarang
dihandle oleh Qt Software yang awalnya bernama
Trolltech Inc. sebelum dibeli oleh Nokia untuk
menjadi bagian divisi softwarenya pada perangkat
produk embedded mobile, (Hasan, 2009). Dan Qt
mempunyai kemampuan untuk dapat digunakan
pada sistem operasi Windows, Mac, Linux, dan
sistem operasi berbasis Unix lainnya dengan
menggunakan pendekatan write once, compile
anywhere, (Trolltech Developer, 2005).

Gambar 2. Storyboard menu utama

3.

PERANCANGAN APLIKASI MOBILE


PEMBELAJARAN MITIGASI BENCANA
GEMPA BUMI BERBASIS MULTIMEDIA
Pada perancangan aplikasi ini peneliti
menggunakan beberapa software dan alat bantu
storyboard untuk mengilustrasikan bentuk tampilan
antarmuka aplikasi. Software yang digunakan untuk
membangun aplikasi ini adalah QT Creator, QT
Creator digunakan mulai dari pembuatan antar muka
hingga konten isi pada aplikasi. Dan untuk
pengujian program menggunakan tool emulator yang
telah disertakan di dalam software QT Creator.

Gambar 3. Storyboard sub menu


Dan kemudian ilustrasi mengenai bentuk desain
antarmuka pada storyboard ini akan dijadikan acuan
untuk membangun aplikasi menggunakan software
QT Creator.
4. IMPLEMENTASI APLIKASI MOBILE
PEMBELAJARAN
MITIGASI
BENCANA
GEMPA BUMI BERBASIS MULTIMEDIA
Dari desain storyboard kemudian diterjemahkan

3.1

Perancangan Storyboard
Storyboard digunakan sebagai alat bantu dalam
proses perancangan antarmuka aplikasi yang akan
38

Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi 2012 (SENTIKA 2012)


Yogyakarta, 10 Maret 2012

ISSN: 2089-9815

kedalam bentuk yang sebenarnya pada aplikasi,


bentuk hasil implementasi tampilan menu utama
sesuai dengan storyboard dapat dilihat pada Gambar
4 dan Gambar 5.

Gambar 7. Tampilan sub menu Di


Mall,Bioskop,dan Tempat Umum
Pada antarmuka sub menu ditampilkan 2
komponen multimedia yaitu gambar dan text,
antarmuka terbagi menjadi 3 kolom, pada kolom
pertama berisi gambar yang mengilustrasikan isi,
pada kolom kedua ditampilkan penjelasan singkat
mengenai apa yang harus dilakukan oleh pengguna
ketika terjadi bencana gempa bumi sesuai dengan
topik judul pada sub menu tersebut, dan pada kolom
ketiga ditampilkan mengenai penjelasan yang lebih
detil.
Selanjutnya, hasil implementasi tersebut dipublish menjadi sebuah file aplikasi yang
berekstensi SIS, dan file tersebut diuji oleh dua
puluh responden yang dipilih secara acak dan
kemudian responden memberikan feedback dengan
mengisi form kuisioner.

Gambar 4. Tampilan menu utama

Gambar 5. Penjelasan mengenai program ketika


judul aplikasi diakses

5.

KESIMPULAN
Pada penelitian ini telah berhasil dikembangkan
sebuah aplikasi berbasis mobile untuk pembelajaran
mitigasi bencana gempa bumi berbasis mobile,
dimana aplikasi tersebut dapat dijalankan pada
perangkat telepon seluler berbasis Symbian dan
android, aplikasi ini dapat digunakan tanpa harus
menggunakan akses internet, sehingga aplikasi ini
dapat tetap dijalankan ketika dalam kondisi dimana
perangkat telepon seluler tidak mendapatkan sinyal
operator selular ataupun koneksi internet. Aplikasi
ini dapat menjadi solusi yang cukup murah dalam
upaya menumbuhkan Budaya Keselamatan pada
masyarakat.
Dari hasil pengujian aplikasi melalui dua puluh
orang reponden diperoleh data seperti pada Gambar
8.

Pada tampilan menu utama akan ditampilkan


sepuluh menu, dimana masing-masing menu
tersebut memiliki konten isi masing-masing. Sesuai
dengan desain storyboard yang telan disusun
sebelumnya maka tampilan konten isi dari masingmasing sub menu dapat dilihat pada Gambar 6 dan
Gambar 7.

Gambar 6. Tampilan sub menu Di Dalam Rumah

Gambar 8. Hasil pengujian sistem terhadap


pengguna.
Pada gambar 8 dapat dilihat bahwa 75% responden
menilai sangat baik, 20% menilai baik, dan 5%
39

Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi 2012 (SENTIKA 2012)


Yogyakarta, 10 Maret 2012

ISSN: 2089-9815

Santoso, G., Susanto, A., Wardani, M, B. 2009.


Perancangan Konten M-learning dengan Sistem
Live Multimedia Berbasis Selular, Jurnal
Teknologi, Volume 2 Nomor 2, Institut Sains &
Teknologi AKPRIND Yogyakarta.
Santoso, G., Sutanta, E., Wibowo, S. 2011. Aplikasi
Mobile Doctor Untuk Meningkatkan Efektifitas
dan
Efisiensi
Layanan
Medis
Dalam
Penanggulangan Bencana Alam, Seminar
Nasional Informatika 2011 (semnasIF 2011).
Sarwosri., Basori, A, H., Prihastomo, J. 2010.
Aplikasi Mobile Learning Organizer Mahasiswa,
Seminar Nasional Informatika 2010 (semnasIF
2010).
Setyono, A., Alam, M, J., Al-Saqour, R, A. 2010.
Design of Multimedia Messaging Service for
Mobile Telemedicine System, International
Journal of Network and Mobile Technologies.
Setiawan, E., Yeliana. 2010. Aplikasi Mobile
Pembelian Handphone, Aksesoris Handphone
dan Voucher Elektronik dengan Penggunaan
GPRS dengan Studi Kasus Pada Toko
Handphone
dan
Aksesoris
XSIST
COMMUNICATION, Jurnal Sistem Informasi
Vol. 2 No. 2 , Universitas Maranatha Bandung.
Suyanto, M. 2005. Multimedia Alat Untuk
Meningkatkan Keunggulan Bersaing, ANDI
Offset, Yogyakarta.
Trolltech
Developer.
2005.
About
Qt,
(http://doc.trolltech.com/4.0/aboutqt.html,
diakses 24 Januari 2012).
Utami, E., Cahyanto, A, D. 2008. Sistem Peringatan
Dini Pada Bencana Banjir Berbasis SMS
Gateway Di GNU/Linux Merupakan Alternatif
yang Sederhana Dan Menarik Dalam
Meningkatkan Pelayanan Badan Meteorologi
dan
Geofisika
Alokasi
Dana
Yang
Rendah,Seminar Nasional Aplikasi Teknologi
Informasi 2008 (SNATI 2008) ISSN: 1907-5022,
Yogyakarta.
Winardo, A, B., Fariza, A., Setiowati, Y. 2010.
Investigasi Daerah Rawan Banjir di Kota
Surabaya Dengan Menggunakan Metode Fuzzy,
EEPIS Final Project.

netral, hal ini berarti bahwa aplikasi tersebut dapat


membantu pengguna memperoleh pengetahuan
mengenai bagaimana mitigasi bencana gempa bumi
yang benar.
PUSTAKA
Coburn, A., Spence, R. 2002. Earthquake
Protection, 2nd ed Wiley New York.
Chu, Y., Ganz, A. 2007. WISTA: AWireless
Telemedicine System for Disaster Patient Care,
Published online: 26 July 2007, Mobile Netw
Appl (2007) 12:201214.
Fitrianes, A., Abdiwijaya, E ., Andhika, M. 2009.
Analisis dan Perancangan Bina Nusantara
Offline Learning Management System, Unkown.
Haifani, A, M. 2008. Manajemen Resiko Bencana
Gempa Bumi (Studi Kasus Gempa Bumi
Yogyakarta 27 mei 2006), Seminar Nasional IV
SDM Teknologi Nuklir.
Hasan, M, F. 2009. Software Factory dengan
Module Qt. Institut Teknologi TELKOM.
Hosseini, M., Izadkhah, Y, O. 2006. Earthquake
disaster risk management planning in schools,
Disaster Prevention and Management Vol. 15
No. 4.
Leitmann J. 2007. Cities and calamities: learning
from post-disaster response in Indonesia. J
Urban Health Bull N Y Acad Med 84(1):i144
i153.
Marfai, M, A., King, L., Singh, L, P., Mardiatno, D.,
Sartohadi, J., Hadmoko, D, S., Dewi, A. 2008.
Natural hazards in Central Java Province,
Indonesia: an overview, Environ Geol 56:335
351, Springer-Verlag.
Memon, T, D., Chowdhry, B, S., Memon, M, S.
2007. The Potential of Telemedicine System: An
Approach Toward a Mobile Doctor, MUET,
Research Jurnal.
Mulyadi, A, W., Nurdin, E, A., Waslaluddin. 2011.
Pengembangan
Multimedia
Pembelajaran
Interaktif CAI Model Instructional Games Untuk
Meningkatkan
Motivasi
BElajar
Siswa,
Unknown.
Munif, A., Kuswinardi, W. 2007. Pemanfaatan
Online Geographic Information Pada Sistem
Mobile Resto Reservation Berbasis GPRS dan
3G, Seminar Nasional Aplikasi Teknologi
Informasi 2007 (SNATI 2007).
Nur, A, M. 2010. Gempa Bumi, Tsunami dan
Mitigasinya, Balai Informasi dan Konservasi
Kebumian Karangsambung LIPI Volume 7 No.
1, Kebumen.
Pratama, I, B., Sutanto, T., Sutomo, E.. Aplikasi
Mobile Belajar Melafalkan Bahasa Inggris,
Tugas Akhir tidak diterbitkan. STIKOM
Surabaya.
Riyanto, B., Tamimuddin, M, H., Widayati, S.,
2010, Perancangan dan Implementasi Aplikasi
Mobile Learning Berbasis Java.
40