Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN KASUS BANGSAL

SEMARANG

Disusun Oleh :

Pengesahan:

I. DATA PRIBADI
I.

IDENTITAS
A. Identitas Penderita
Nama

: Ny. F

Jenis Kelamin

: Perempuan

Usia

: 30 tahun

Agama

: Islam

Pendidikan

: Tidak tamat SD

Suku/Warga Negara

: Jawa/Indonesia

Alamat

: Ds. Kajen Tegal

Status Perkawinan

: Janda cerai

Pekerjaan

: Tidak bekerja

Tanggal Pemeriksaan

: 18 September 2012

Tanggal Masuk RSJ

: 3 September 2012

II. RIWAYAT PSIKIATRI


Alloanamnesis diperoleh melalui telepon tanggal 19 September 2012 dari :
Nama
Alamat
Pekerjaan
Pendidikan
Umur
Agama
Hubungan
Lama Kenal
Sifat Perkenalan

1
Tn. AH
Ds.Kajen Tegal
Wiraswasta
SMP
40 tahun
Islam
Kakak Kandung
Sejak pasien lahir
Keluarga

2
Tn. AF
Ds.Kajen Tegal
Wiraswasta
SD
70 tahun
Islam
Ayah
Sejak pasien lahir
Keluarga

3
Ny.S
Ds.Kajen Tegal
Ibu rumah tangga
SD
70 tahun
Islam
Ibu
Sejak pasien lahir
Keluarga

A. Sebab Dibawa ke Rumah Sakit


1. Alloanamnesis

: Marah-marah tanpa sebab

2. Autoanamnesis

: Memukul keluarga

B. Riwayat Penyakit Sekarang


Enam bulan yang lalu, pasien putus obat karena oleh keluarga pasien
dipondokkan di pesantren dengan harapan sembuh. Keadaan pasien di pesantren
semakin memburuk. Pasien kembali sering mengamuk, memukul anak sendiri, marahmarah tanpa sebab.Pasien menolak bicara dengan teman-teman di pesantren, tidak mau
mengerjakan tugas yang ada di pesantren, waktu luang digunakan untuk melamun dan
bicara sendiri serta tidak melakukan perawatan diri. Kemudian pasien dipulangkan ke
rumah. (GAF = 40).
Satu bulan yang lalu di rumah, pasien makin sering marah-marah sendiri tanpa
sebab, berbicara kacau, memukul keluarga dan mengamuk. Saat memukul keluarga,
pasien mengaku mendapat bisikan yang memerintahkan pasien untuk memukul
keluarganya. Pasien mengaku melihat bayangan. Pasien lebih sering menghabiskan
waktu luang untuk melamun dan berbicara sendiri. Pasien tidak mau mandi. Makan dan
minum harus disuruh. Akhirnya, keluarga memutuskan untuk membawa pasien ke
Rumah Sakit Jiwa Daerah Amino Gondohutomo. (GAF = 20).
Selama perawatan di rumah sakit, pasien mengaku melihat bayangan-bayangan,
mendengar ada bisikan-bisikan berupa kalimat perintah dari seseorang. Pasien dalam
keadaan bingung, sering cekikikan sendiri, berbicara tidak jelas, irrelevant, merasa kaki
dan tangannya diguna-guna. Kadang-kadang pasien menceritakan hal sedih dengan raut
muka tidak sedih. Mood pasien berubah-ubah. Saat pemeriksaan, pasien sadar, bisa

diajak berkomunikasi, kooperatif, bisa makan sendiri. Pasien dapat berinteraksi dengan
teman sebangsal, sering mengisi waktu luang dengan menonton televisi, mampu
merawat diri sendiri seperti cuci muka, mandi, makan dan minum. (GAF = 40).
C. Riwayat Sebelumnya
1. Riwayat Psikiatrik
10 tahun yang lalu saat pasien berumur 20 tahun, pasien rutin mengikuti
pengajian, mulai terlihat perubahan sikap dimana pasien tidak mau makan, suka
menyendiri di kamar mandi dan mulai tidak bisa tidur. Ketika pasien mengikuti
pengajian, pasien mengalami kesurupan. Selama kurang lebih 5-7 hari pasien tidak
makan dan minum, sering minta yang aneh-aneh dan keinginannya harus terpenuhi,
bila tidak dipenuhi pasien akan mengamuk. Pasien sering melukai keluarga, marahmarah tanpa sebab dan bicara sendiri. Sehingga keluarga membawa pasien ke
dokter spesialis jiwa. Pasien diberi obat tetapi keadaannya tidak membaik.
Hubungan pasien dengan keluarga memburuk, tidak bisa mengerjakan kegiatan
sehari-hari, waktu luang digunakan untuk bicara sendiri, serta makan dan minum
harus disuruh, mandi masih dengan inisiatif sendiri. (GAF = 40)
Pada tahun 2008, karena pasien makin sering marah-marah tanpa sebab,
memukul, melamun dan bicara sendiri, keluarga memutuskan untuk membawa
pasien ke Rumah Sakit Jiwa Daerah Amino GondoHutomo. Pasien dirawat selama 1
bulan dan kondisi pasien kembali seperti semula. Pasien tidak lagi marah-marah,
memukul, melamun dan bicara sendiri. Pasien mampu mengerjakan tugas seharihari, makan dan minum atas keinginan sendiri. Perawatan diri menjadi baik. (GAF
= 70)
2 minggu setelah dipulangkan ke rumah, pasien mulai menunjukkan tanda-tanda
kekambuhan yaitu marah-marah tanpa sebab, memukuli keluarga, mengamuk,
melamun dan bicara sendiri. Pasien tidak mampu mengerjakan kegiatan sehari-hari
lagi, suka melamun dan bicara sendiri. Meskipun sudah mengonsumsi obat dan
kontrol secara teratur keadaan pasien tidak membaik. Hubungan pasien dengan
keluarga memburuk, tidak bisa mengerjakan kegiatan sehari-hari, waktu luang
digunakan untuk bicara sendiri, serta makan dan minum harus disuruh. (GAF = 40).
Pada tahun 2010, pasien kembali dirawat di Rumah Sakit Jiwa Daerah Amino
GondoHutomo selama 1 bulan. Saat dirawat, keadaan pasien kembali membaik
seperti di saat sebelum sakit. Pasien tidak lagi marah-marah dan mengamuk. Pasien

mampu mengerjakan tugas sehari-hari, tidak lagi sering melamun dan bicara
sendiri. Perawatan diri menjadi baik, makan dan minum atas keinginan sendiri.
(GAF = 70).
2. Riwayat penyakit medis umum
Riwayat kejang demam (-),
Riwayat epilepsi (-),
Riwayat trauma kepala(-),
Riwayat hipertensi(-),
Riwayat diabetes mellitus(-),
Riwayat nyeri ulu hati / sakit maag (+),
Riwayat nyeri dada/sakit jantung(-),
Riwayat pingsan/kehilangan kesadaran(-),
Riwayat asma (-).
3. Penggunaan Obat-obatan dan NAPZA
Pasien tidak pernah minum alkohol dan menggunakan NAPZA

10-1

20-11

30-21
40-31
50-41

60-51
70-61

80-71
90-81
100-

2002

2008

2010

1 bulan
6 bulan

D. Riwayat Pribadi / Pramorbid


1. Masa Prenatal dan Perinatal

2 hari

Pasien lahir dengan bantuan bidan secara normal, aterm, berat lahir 3000 gram,
langsung menangis. Ibu ANC di bidan sebanyak 3 kali. Pasien tidak memiliki masalah
kelainan bawaan. Imunisasi lengkap hingga usia 9 bulan.
2. Masa Kanak Awal (Sampai usia 3 Tahun)
Pasien termasuk anak yang aktif dan nakal. Namun sifat nakal pasien masih dalam
batas normal anak-anak seusianya. Pasien cenderung ingin memegang semua yang
dilihat.
3. Masa anak-anak pertengahan (3 7 Tahun)
Pasien mengikuti pendidikan di Taman Kanak-kanak selama dua tahun saat usia 6
tahun. Pasien dapat mengikuti pelajaran dengan cukup baik, aktif, namun termasuk
tertutup dengan anak seusianya.
4. Masa anak akhir dan remaja (7 11 tahun)
Pasien masuk ke SD pada usia 8 tahun. Pasien mengikuti alur pendidikan sesuai
dengan tingkatan kelasnya. Namun ketika kelas 4 SD, pasien mengalami kesulitan
dalam menghapal karena daya ingatnya yang kurang. Pasien tidak dapat naik ke kelas
5 selama 2 kali berturut-turut.
5. Masa remaja (12 18 tahun )
Karena tidak naik kelas 2 kali dan terlambat lulus, pasien sering diejek oleh temantemannya. Pasien merasa malu dan akhirnya pindah ke pondok pesantren pada usia
14 tahun. Di pondok pesantren, tidak pernah ada keluhan yang berarti mengenai
perilaku pasien. Pasien beberapa kali berganti pondok pesantren. Pasien
meninggalkan pondok pesantren pada usia 16 tahun. Setelah keluar dari pondok
pesantren, pasien hanya di rumah membantu keluarga mengerjakan pekerjaan rumah
tangga. Pasien tetap aktif mengikuti pengajian.
6. Masa Dewasa
a. Riwayat Pendidikan
Pasien bersekolah tidak lulus SD. Pasien berhenti sekolah dikarenakan malu
tidak naik kelas sehingga pindah ke pondok pesantren. Selama sekolah pasien
dua kali tinggal kelas. Menurut keluarga pasien prestasinya biasa saja dan tidak
pernah mengalami permasalahan dengan teman dan guru, tetapi memiliki
kesulitan dalam menghapal.
b. Riwayat Pekerjaan
Sebelum sakit pasien tidak bekerja.
c. Riwayat Keagamaan

Dididik dalam ajaran agama Islam. Pasien saat sakit tidak sholat 5 waktu.
d. Riwayat Perkawinan
Pasien menikah pada umur 23 tahun, atas kemauan keluarga dengan harapan
kondisi pasien membaik, dikaruniai 1 orang anak, bercerai dengan suami pada
tahun 2006.
e. Riwayat Kemiliteran :
Pasien belum pernah melihat suatu peperangan ataupun mengikuti kegiatan
militer.
f. Riwayat Pelanggaran Hukum
Pasien tidak pernah terlibat masalah hukum.
g. Riwayat Sosial
Sebelum sakit, hubungan dengan tetangga baik, menyapa dan membantu
tetangga,

pasien

sering

mengikuti

acara-acara

pengajian

dan

arisan

dilingkungannya.

h. Riwayat Hidup Sekarang


Pasien tinggal bersama orangtua dan adik-adik selama 5 tahun terakhir. Biaya
hidup

sehari-hari

ditanggung

oleh

kakak

kandungnya.

Pengobatan

menggunakan biaya jamkesda.


Kesan: ekonomi kurang.
7. Riwayat Psikoseksual
Riwayat penyiksaan seksual pada masa anak & remaja tidak diketahui. Tidak
pernah mengalami kekerasan seksual saat usia dewasa.
8. Riwayat keluarga
Pasien adalah anak keempat dari sembilan berasudara. Pasien menikah dan
memiliki 1 orang anak. Pasien telah bercerai pada tahun 2006. Di keluarga tidak ada
yang mengalami gangguan jiwa.

Silsilah keluarga :

9. Mimpi, Fantasi dan Nilai-nilai


Pasien bermimpi tentang anaknya. Pasien berkeinginan berkumpul dengan anaknya dan
keluarga.
III.

STATUS MENTAL
Autoanamnesis dilakukan pada tanggal 20 September 2012 di bangsal 2 RSJD Amino
Gondohutomo Semarang.
A Deskripsi Umum
1

Penampilan

: seorang wanita usia 30 tahun, tampak sesuai dengan umurnya.

Kulit sawo matang. Rambut pendek. Berperawakan normal. Pada saat pemeriksaan
pasien tampak bersih. Pada ekstremitas atas dan bawah terlihat banyak bekas luka.

Perilaku dan aktivitas psikomotor :


Tingkah laku
Hiperaktif
(-)
Hipoaktif
(-)
Normoaktif
(+)
Stupor
(-)
Gelisah
(-)
Agresif
(-)
Befehls automatism
(-)
Perseverasi
(-)
Verbigerasi
(-)
Echolalia
(-)
Echopraxia
(-)
Sikap
Indifferent
(-)
Apatis
Kooperatif
Negativise pasif
Dependent

Kleptomania
Streotipi
Maniceren
Grimaseren
Ambivalensi
Gerakan autochlon
Gerakan impulsive
Gerakan kompulsif
Gerakan automatism
Pyromania

Curiga
(-)
(+)
(-)
(-)

(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

(-)
Berubah-ubah
Tegang
Pasif
Aktif

(-)
(-)
(-)
(-)

Infantile
Rigid
3

(+)
(-)

Sikap tehadap pemeriksa


Kontak psikis

Katalepsi
Bermusuhan

(-)
(-)

: kooperatif
: ada, tidak wajar dan dapat dipertahankan.

4 Mood dan Afek


a. Mood
Disforik
Euthymi
Hiperthymi
Hipothymi
Eksaltase
Irritable
Ambivalensi

(-)
(+)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

Poikilothymi
Parathymi
Tension
Cemas
Panik
Euphoria
Depersonalisasi

(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

b. Afek
Sesuai
Tidak sesuai
Terbatas

(+)
(-)
(-)

Datar
Tumpul
Labil

(-)
(-)
(-)

Ilusi gustatorik
Ilusi taktil

(-)
(-)

B Pembicaraan
Kuantitas
: cukup
Kualitas
: cukup
C Gangguan Persepsi
1. Halusinasi
Halusinasi visual
Halusinasi taktil
Halusinasi akustik
Halusinasi haptik
Halusinasi olfaktorik
Halusinasi kinestetik
Halusinasi gustatorik
Halusinasi autoskopi
2. Ilusi
Ilusi visual
Ilusi akustik
Ilusi olfaktorik
D Pikiran
1 Bentuk pikir
2 Arus pikir

(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

(-)
(-)
(-)

: tidak realistik

Flight of ideas
(-)
Asosiasi longgar
(-)
Inkoherensi
(-)
Tangensial
(-)
Sirkumstansiality
(-)
Neologisme
(-)
Jawaban irrelevant (-)
Isi pikiran
Waham kebesaran (-)
Waham hipokondri (-)
Waham berdosa
(+)
Waham magicmistic (-)
Waham kejar
(-)
Waham sistematis (-)
Waham curiga
(-)
Waham cemburu
(-)
Waham somatic
(-)
Waham nihilistic
(-)
Fobia
(-)
Preokupasi
(-)
Obsesif kompulsif
Gagasan bunuh diri
Kemiskinan isi pikir
Thought echo
Thought insertion
Thought withdrawal
Thought broadcasting
Delusion of reference
Delusion of control
Delusion of influense
Delusion of passivity
Delusion of perception
Over valued idea

E Sensorium dan Kognitif


1 Kesadaran
2 Orientasi
Tempat
Waktu
Personal
Situasional
3 Daya ingat
Segera
Jangka pendek

Retardasi
Asosiasi bunyi
Asosiasi pengertian
Blocking
Preserverasi
Verbigerasi
Lancar

(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

: jernih
: baik
: baik
: baik
: baik
: baik
: baik

(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)

4
5
6
7
8

Jangka sedang
Jangka panjang
Konsentrasi
Perhatian
Kemampuan baca dan tulis
Kemampuan visuospasial
Pikiran abstrak

: baik
: cukup
: cukup
: normovigilitas
: cukup
: cukup
: cukup

F Pengendalian Impuls

: cukup

G Tilikan
1 Penyangkalan penyakit sama sekali.
2 Agak menyadari bahwa dirinya sakit dan membutuhkan bantuan tapi dalam waktu
bersamaan menyangkal penyakitnya.
3 Sadar bahwa merasa sakit tapi melampiaskan pada orang lain, pada faktor eksternal
dan organik.
4 Sadar bahwa penyakitnya disebabkan oleh sesuatu yang tidak diketahui pada diri
pasien.
5 Tilikan intelektual : menerima bahwa pasien sakit dan bahwa gejala atau kegagalan
dalam penyesuaian sosial disebabkan oleh perasaan irrasional atau gangguan
tertentu dalam diri pasien sendiri tanpa menerapkan pengetahuan tersebut untuk
pengalaman masa depan.
6 Tilikan emosional sesungguhnya: kesadaran emosional tentang motif dan perasaan
didalam diri pasien dan orang yang dapat menyebabkan perubahan dalam perilaku.
H Pertimbangan
: cukup
I

IV.

Taraf Dapat Dipercaya

: kurang dapat dipercaya

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT


A. Status Internus
Keadaan umum
: baik
Tekanan darah
: 110 / 60 mmHg
Nadi
: 76 kali/menit
RR
: 20 kali/menit
Suhu
: afebris
Status internum
:
Kepala
: Sklera ikterik (-/-), konjungtiva palpebra pucat (-/-)
Leher

: pembesaran nnll (-/-)

Toraks

: Cor

: SI-SII murni, suara tambahan (-)

Pulmo : suara vesikuler, ronkhi (-), wheezing (-)


Abdomen

: Supel, nyeri tekan (-), peristaltik (+) normal

Ekstremitas

superior

inferior

Edema

Status neurologis

-/-

-/-

Capp refill

<2/<2

<2/<2

Nyeri sendi

-/-

-/-

Pembengkakan sendi -/-

-/-

Tremor

-/-

-/-

: dalam batas normal

B. Pemeriksaan penunjang :
EKG : Normal kardiak elektrik axis II III aVF V4 V5 V6 Abnormal T wave.
Irama : sinus
Frekuensi : normoaksis
Deviasi sumbu : 129x1
Zone transisi : V3-V4
Inverted di II, III, IV, VI
Kesimpulan : sinus takikardi iskemik miokard
Laboratorium darah : Pemeriksaan tanggal 3 September 2012, jam 07:36
WBC : 9,2 x 103

/l

: 3,6 x 103

/l

RBC

HGB : 9,4

g/dl

HCT

: 29,10

MCV : 80,2

fl

MCH : 25,9

pg

MCHC: 32

g/dl

PLT

: 329 x 103

/l

PDW : 10,1

fl

MPV : 8,5

fl

P-LCR: 14,4

LYM%: 29,3

MXD%: 12,7

NEUT%: 58

LYM#

2,7 x 103

/l

MXD#

1,2 x 103

/l

NEUT#

5,3 x 103

/l

RDW-CV 13,8 %

Laboratorium Urin : Pemeriksaan tanggal 3 September 2012


UREA

30,7

mg/dl

Creatinin

1,19

mg/dl

GOT

22,11 U/L

GPT

14,52 U/L

Glukosa Sewaktu

81,36 mg/dl

C. Pemeriksaan Psikometri
PANSS (Positive and Negative Syndrome Scale)
Tanggal 20 September 2012
Tidak Min Ringan
ada

P1
P2
P3
P4
P5
P6
P7

Simptom positif
Waham
Kekacauan proses pikir
Perilaku halusinansi
Gaduh gelisah
Waham kebesaran
Waham kejar
Permusuhan

N7

Simptom Negatif
Afek tumpul
Penarikan emosional
Kemiskinan raport
Penarikan diri dari hubungan
Sosial secara pasif/apatis
Kesulitan berfikir abstrak
Kurangnya spontanitas dan
arus percakapan
Pemikiran stereotipik

G1
G2
G3
G4
G5
G6
G7
G8
G9
G10

Skala Psikopatologi Umum


Kekhawatiran somatik
Anxietas
Rasa bersalah
Ketegangan
Mannerisme & posturing
Depresi
Retradarsi motorik
Ketidakkooperatifan
Isi pikiran tidak biasa
Disorientasi

N1
N2
N3
N4
N5
N6

Sedang

Agak
berat

Berat

Sangat
berat

1
1
1
1
1
1
1

2
2
2
2
2
2
2

3
3
3
3
3
3
3

4
4
4
4
4
4
4

5
5
5
5
5
5
5

6
6
6
6
6
6
6

7
7
7
7
7
7
7

1
1
1
1

2
2
2
2

3
3
3
3

4
4
4
4

5
5
5
5

6
6
6
6

7
7
7
7

1
1

2
2

3
3

4
4

5
5

6
6

7
7

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

2
2
2
2
2
2
2
2
2
2

3
3
3
3
3
3
3
3
3
3

4
4
4
4
4
4
4
4
4
4

5
5
5
5
5
5
5
5
5
5

6
6
6
6
6
6
6
6
6
6

7
7
7
7
7
7
7
7
7
7

G11
G12
G13
G14
G15
G16

Perhatian yang buruk


Kurang daya nilai dan tilikan
Gangguan
dorongan
kehendak
Pengendalian impuls yang
buruk
Preokupasi
Penghindaran sosial secara
aktif
Jumlah

1
1
1

2
2
2

3
3
3

4
4
4

5
5
5

6
6
6

7
7
7

1
1

2
2

3
3

4
4

5
5

6
6

7
7

41

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA (FORMULASI DIAGNOSTIK)


Berdasarkan riwayat penyakit pasien, ditemukan adanya pola perilaku dan psikologis
yang secara klinis bermakna dan secara khas berkaitan dengan gejala yang menimbulkan suatu
penderitaan (distress) maupun hendaya (disability) pada berbagai fungsi peran, sosial,
penggunaan waktu luang, dan perawatan diri sehingga dapat disimpulkan pasien ini menderita
gangguan jiwa.
Axis I : Pada pemeriksaan fisik dan neurologis tidak ditemukan kelainan yang
mengindikasikan gangguan medis umum yang secara fisiologis menimbulkan disfungsi otak
serta mengakibatkan gangguan jiwa yang diderita saat ini, sehingga gangguan mental organik
dapat disingkirkan. Pada pasien tidak ditemukan adanya ketergantungan penggunaan NAPZA
sehingga gangguan mental akibat penggunaan zat dapat disingkirkan.
Dari alloanamnesis didapatkan beberapa gejala yang bermakna seperti : pasien menjadi
pendiam, sering melamun, suka menyendiri di kamar, sering berbicara sendiri, suka memukul
keluarga, suka melukai keluarga, sering marah-marah tanpa sebab, sulit diajak berkomunikasi,
mudah lelah saat melakukan pekerjaan rumah dan tidak suka diperintah untuk mengerjakan
pekerjaan rumah. Terdapat manifestasi penurunan hendaya berupa waktu luang digunakan
untuk bicara sendiri, melamun, marah-marah tanpa sebab, menarik diri dari pergaulan di
masyarakat, sulit berkomunikasi dengan keluarga, jarang tidur, tidak mandi serta makan dan
minum bila dipaksa oleh keluarga. Penurunan hendaya mulai terjadi sepuluh tahun terakhir dan
menghilang setelah dirawat di rumah sakit tetapi kembali timbul setengah bulan setelah pulang
dari rumah sakit. Pada pemeriksaan status mental didapatkan: kontak psikis ada, tidak wajar
dan dapat dipertahankan, sikap kooperatif terhadap pemeriksa, mood poikilothymia, afek
serasi, adanya gangguan persepsi berupa halusinasi auditorik. Pada pemeriksaan bentuk pikir
non realistik, arus pikir inkoherensi, isi pikir didapatkan: waham berdosa, waham kejar, waham
magic mistik dan delution of influence.
Axis I
: F06.7 Gangguan Kognitif Ringan

DD/ F 25 Gangguan Skizoafektif


Axis II
Axis III
Axis IV
Axis V

VI.

: F.70 Retardasi Mental Ringan


: Z03.2 Tidak ada diagnosis
: stressor tidak diketahui
: Pada skala penilaian fungsi secara global pasien saat pemeriksaan dilakukan
adalah terdapat hendaya pada penggunaan waktu luang, pekerjaan dan hubungan
sosial (menyendiri) namun perawatan diri masih baik. Maka pada Axis V GAF
saat masuk RSJ 20, saat diperiksa 40 dan GAF tertinggi 1 tahun terakhir 70

DIAGNOSIS MULTI AXIAL


Menurut PPDGJ III
Axis I
: F06.7 Gangguan Kognitif Ringan
DD/ F 25 Gangguan Skizoafektif
Axis II
Axis III
Axis IV
Axis V

: F.70 Retardasi Mental Ringan


: Z03.2 Tidak ada diagnosis
: stressor tidak diketahui
:
GAF = 40 (mutakhir)
GAF = 20 (masuk rumah sakit jiwa)
GAF = 60 (tertinggi 1 tahun terakhir)

VII. PENATALAKSANAAN
A. ECT konvensional : sudah dilakukan 4 kali
B. Psikoterapi

Terapi kelompok :
Diadakan kegiatan dimana tiap 2 hari sekali setiap jam 10 pagi, pasien diajak

mengobrol atau berbincang-bincang dan permainan kelompok, olahraga bersama


dengan perawat atau dengan pasien lain sehingga solusi-solusi cara menghilangkan
keluhan, gejala atau penyakit pasien dapat ditemukan.
Terapi Keluarga :
Seminggu sekali (biasanya tiap hari sabtu), pasien dikumpulkan bersama
keluarganya, psikiater, psikolog, perawat sehingga bisa dilakukan sharing tentang
solusi dari penyakit, gejala atau keluhan pasien. Memberi pengertian kepada
keluarga tentang penyakit pasien yang butuh dukungan dan pengawasan minum obat.
Terapi supportif :

Yang diinginkan oleh pasien setelah keluar dari RSJ adalah berkumpul bersama
keluarga sehingga dapat diinformasikan kepada keluarga agar pasien dirawat
bersama keluarga dan tidak tinggal sendiri.

Terapi Okupasional :
Apabila kondisi pasien sudah membaik, mulai direncanakan untuk dapat

mengikuti program rehabilitasi sesuai dengan kegemaran dan keahlian pasien.


IX.PROGNOSIS
Prognosis arah baik
1. late onset

Prognosis arah buruk


1. onset usia muda

2. onset akut

2. onset kronik

3. faktor pencetus jelas

3. tidak ada faktor pencetus

4. usia 15 25 tahun

4. usia < 15 tahun atau > 25 tahun

5. gejala positif menonjol

5. gejala negatif menonjol

6. riwayat seksual, sosial, premorbid baik

6. riwayat seksual, sosial, premorbid buruk

7. menikah

7. belum menikah/telah bercerai

8. sistem sosial baik

8. sistem pendukung sosial buruk

9. status ekonomi baik

9. status ekonomi buruk

10. memiliki riwayat keluarga dengan

10. kekambuhan

gangguan mood

11. faktor genetik (keluarga yang sakit)


12.dijumpai perilaku menarik diri/autistik
13.memiliki riwayat trauma masa perinatal
14.tidak ada remisi selama 3 tahun
pengobatan
15. terjadi banyak relaps
16.memiliki

riwayat

skizofrenia

sebelumnya
-

Dubia ad malam : karena pasien menunjukkan tanda-tanda perbaikan setelah terapi,


tetapi masih lebih banyak faktor-faktor prognosis ke arah lebih buruk.

X. SARAN-SARAN
1. Keluarga Pasien:

Menyarankan agar keluarga menjenguk pasien selama dirawat.

Mendukung pasien secara moral, tidak dikucilkan, memberi pekerjaan yang dapat
dilakukan oleh pasien untuk mengisi waktu luang.

Mengedukasikan untuk rajin kontrol di poli jiwa bila sudah keluar.

Mengedukasikan tentang efek samping obat.

2.

Pasien :
Memberi nasehat kepada pasien untuk rajin minum obat agar tidak memukul
keluarganya lagi.

3.

Lingkungan sekitar :

Mensupport pasien dan keluarga dengan tidak mengucilkan dan menghina mereka.

Membantu memulangkan jika pasien ditemukan keluyuran.

Ikut menjaga keselamatan diri pasien karena pasien tersebut rawan untuk cidera,
kecelakaan, percobaan bunuh diri dan lain-lain.