Anda di halaman 1dari 3

1.

Rumah Sakit Nirmala Suri menerapakan langkah-langkah Profilaksis


Pasca Pajanan (PPP) atau Post Exposure Prophylaxis (PEP) untuk
petugas yang terpajan subtansi berbahaya yang bersifat infeksius,
dan pajanan luka tusuk benda tajam.
2. Langkah Profilaksis Pasca Pajanan (PPP) atau Post Exposure
Prophylaxis (PEP) pada kejadian luka tusuk adalah sebagai berikut:
1) segera lakukan desinfeksi usap dengan alkohol 70%;
2) cuci luka dengan sabun dan air mengalir, biarkan darah mengalir
keluar dengan sendirinya, dan tidak boleh menekan luka;
3) segera laporkan pada ketua tim perawat atau bidan yang
bertugas.
3. Langkah Profilaksis Pasca Pajanan (PPP) atau Post Exposure
Prophylaxis (PEP) pada kejadian percikan pada kulit non intak (kulit
tidak utuh) adalah sebagai berikut:
1) segera cuci area yang terkena percikan dengan sabun dan air
mengalir;
2) jangan memberikan desinfektan alhokol;
3) jangan menggosok kulit yang tidak intak/tidak utuh.
4. Langkah Profilaksis Pasca Pajanan (PPP) atau Post Exposure
Prophylaxis (PEP) pada kejadian percikan ke dalam mata adalah
sebagai berikut:
1) basuh mata secara hati-hati menggunakan air mengalir selama
minimal 15 menit;
2) mata harus dalam kondisi terbuka, dan diusahakan untuk
membalik kelopak mata bagian atas.
5. Langkah Profilaksis Pasca Pajanan (PPP) atau Post Exposure
Prophylaxis (PEP) pada kejadian percikan ke dalam mulut atau
hidung adalah sebagai berikut:
1) apabila percikan masuk ke mulut, segera ludahkan, lalu
berkumurlah beberapa kali selama satu menit;
2) apabila percikan masuk ke dalam hidung, segera hembuskan
udara kuat kuat melalui lubang hidung yang dimasukki cairan,
lalu bersihkan daerah yang terkena menggunakan air.
6. Langkah Profilaksis Pasca Pajanan (PPP) atau Post Exposure
Prophylaxis (PEP) pada kejadian percikan pada kulit yang intak
adalah sebagai berikut:
1) segera cuci daerah yang terkena dengan air mengalir dan sabun
selama satu menit;
2) hindari menggosok kulit dengan keras.
7. Langkah lanjutan apabila petugas terpajan cairan tubuh pasien pada
mukosa petugas atau kulit yang tidak intak, atau benda tajam bekas
pakai adalah sebagai berikut:
1) petugas yang terkena harus segera melapor kepada kepala tim
keperawatan atau kepala tim kebidanan yang sedang bertugas;
2) kepala tim bertugas sebagai koordinator untuk penatalaksanaan
pasca pajanan, segera pada saat kejadian;

3) kepala tim menghubungi Ketua Komite PPI dan Ketua tim


PPI/IPCN RS Nirmala Suri memberitahukan bahwa ada petugas
yang terkenan pajanan cairan tubuh pasien atau benda tajam
bekas pakai;
4) segera periksa status kesehatan sumber pajanan, setelah ada
petugas yang terpajan, meliputi riwayat penyakit Hepatitis B,
Hepatitis C, dan HIV pada jaman dahulu (melalui rekam medis),
dan apabila kesemuanya negatif, maka diperiksa ulang pada hari
pajanan untuk HbsAg, AntiHCV, dan HIV Rapid Test pada pasien
yang menjadi sumber pajanan;
5) disarankan, apabila test HIV Rapid Test pada sumber pajanan
ternyata positif, maka secepat-cepatnya, petugas yang terpajan
harus meminum obat antiretroviral, dengan dosis yang telah
ditetapkan dan disandardkan oleh Staf Medis Fungsional yang
sesuai, misalnya SMF Penyakit Dalam, kemudian petugas yang
terpajan segera dijadwalkan untuk dilakukan konseling dan
pemeriksaan oleh SMF Penyakit Dalam;
6) bila status pasien sebagai sumber pajanan ternyata bebas HIV,
Hepatitis B, dan Hepatitis C, dan bukan dalam masa inkubasi,
maka tidak perlu adanya tindakan khusus yang segera, tetapi
apabila petugas khawatir dapat dilakukan konseling kepada SMF
terkait (SMF Penyakit Dalam);
7) apabila hasil tes HbsAg, atau Anti HCV sumber pajanan positif,
maka petugas yang terpajan harus dijadwalkan untuk segera
bertemu dengan SMF Penyakit Dalam di RS Nirmala Suri untuk
penanganan selanjutnya, dan petugas yang terpajan wajib
didampingi, diberikan support, serta konseling oleh petugas yang
mampu memberikan konseling;
8) apabila hasil tes yang dilakukan pada petugas yang terpajan
segera sesudah pajanan menunjukkan hasil yang positif, maka
tidak perlu diambil langkah cepat dan darurat pada kasus yang
positif, namun untuk kasus yang negatif pada petugas terpajan,
tetap harus siaga hingga seluruh hasil tes pada sumber pajanan
menunjukkan hasil yang negatif;
9) khusus untuk tes HbsAg, apabila sumber pajanan terbukti positif
mengidap hepatitis B, dan petugas tidak terbukti mengidap
hepatitis B, maka sebaiknya segera diberikan imunisasi hepatitis
B kepada petugas yang terpajan.
8. Dukungan dan langkah lanjutan yang diberikan terhadap petugas
yang terpajan pasien yang terbukti mengidap HIV antara lain
sebagai berikut;
1) atasan langsung dan tidak langsung wajib memberikan dukungan
moril kepada petugas yang terpapar;

2) atasan langsung dan tidak langsung segera melaporkan kasus


kepada tim PPI RS Nirmala Suri untuk dilakukan investigasi kasus;
3) atasan langsung dan tidak langsung memberikan bantuan
berupa mengupayakan untuk memberikan jalan dan kemudahan
kepada petugas yang terpapar untuk segera mendapatkan obat
antiretroviral, serta membantu untuk dapat segera dijadwalkan
bertemu dan mendapatkan konseling serta pemeriksaan oleh
SMF Penyakit Dalam;
4) biaya pemeriksaan dan pengobatan ditanggung sebagian, atau
seluruhnya oleh Rumah Sakit Nirmala Suri, dan dapat
bekerjasama dengan pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional oleh
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan;
5) atasan langsung dan tidak langsung wajib memberikan edukasi
yang dibutuhkan terkait penatalaksanaan pasca pajanan,
khususnya pejabat manajer mengupayakan untuk memberikan
edukasi dan informasi terkait penggunaan obat antiretoviral
(ARV).
9. Monitoring Profilaksis Pasca Pajanan untuk HIV antara lain sebagai
berikut:
1) profilaksi harus diberikan selama 28 hari;
2) wajib dilakukan pemeriksaan laboratorium secara periodik untuk
mengetahui proses infeksi dan memonitor efek toksik obat ARV;
3) dilakukan pengulangan tes HIV setelah 6 minggu, 3 bulan dan 6
bulan pasca pajanan.
10.
Kewajiban Tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) RS
Nirmala Suri pada kejadian pajanan adalah sebagai berikut:
1) IPCN dibantu IPCLN segera secepatnya menjalankan investigasi
lapangan yang dibutuhkan untuk menentukan langkah-langkah
selanjutnya yang tepat untuk dilaksanakan;
2) IPCN dibantu IPCLN ikut mendampingi petugas yang terkena
pajanan;
3) IPCN, beserta IPCLN berkoordinasi dengan unit-unit terkait untuk
menjalankan tata laksana pasca pajanan pada petugas yang
terkena pajanan;
4) IPCN dibantu IPCLN memimpin tata laksana pasca pajanan sejak
profilaksis awal hingga penanganan dinyatakan selesai kepada
petugas yang terpajan.