Anda di halaman 1dari 6

Rayya, FFI, dan Mripat Ndonya CakNun.

com

1 of 6

https://www.caknun.com/2012/rayya-ffi-dan-mripat-ndonya/

Rayya, FFI, dan Mripat Ndonya


Oleh SARATRI WILONOYUDHO 5 Desember 2012
Dipublikasikan dengan tag Esai, Film, Khasanah

Panitia Festival Film Indonesia (FFI) 2012 baru saja mengumumkan para nominator
(nominee?) calon pemenang dari berbagai kategori, dan Film Rayya Cahaya di Atas Cahaya
masuk diantaranya, yakni untuk kategori aktor terbaik (Tio Pakusadewo) dan penulis cerita
terbaik (Emha Ainun Nadjib). Para Jamaah Maiyah tentu beragam menanggapi berita ini, ada
yang bilang: Alhamdulillah, syukur, hebat, asyik, biasa saja, bahkan mungkin ada yang
Astag rullah. Ya, semua tergantung cara pandang masing-masing.

Share:
Facebook
Twitter
Google+

Yang jelas Rayya bersaing dengan lm dengan cerita dan skenario


kelas berat. Dari judulnya saja nampak: Tanah Surga, Demi Ucok, Lovely
Man, dan Garuda di Dadaku, semuanya tentu ditulis tidak sembarangan,
namun dengan loso dan estetika sastra yang sangat tinggi. Mereka
pasti bercerita tentang nasionalisme, kebanggaan di tanah surga,
Indonesia, dengan lambang Garuda di dadanya, dan bukan Burung
Emprit misalnya. Tema ini tentu relevan dengan situasi sekarang,

terutama jika melihat semangat nasionalisme yang sangat tinggi diantara para pemimpin kita.
Di berbagai tempat dapat kita lihat, betapa mereka sangat bersemangat menawarkan diri
untuk memimpin sebuah kabupaten, kota, provinsi, bahkan negara, dengan cara memasang
foto dan janji-janji untuk memperbaiki Indonesia. Hanya orang dengan nasionalisme yang
tinggi saja mau menjadi pemimpin atau pejabat, apalagi dengan mengeluarkan dana yang
banyak. Sungguh beruntung bangsa kita yang memiliki stok pemimpin dan pejabat yang
melimpah.

Pelajaran Ibu Penjual Karak


Sebaliknya cerita di lm Rayya nampaknya hanya biasa-biasa saja, bahkan malah ada adegan

04/12/2015 14:00

Rayya, FFI, dan Mripat Ndonya CakNun.com

2 of 6

https://www.caknun.com/2012/rayya-ffi-dan-mripat-ndonya/

yang remeh seperti seorang ibu penjual karak (sejenis krupuk dari nasi yang diolah khusus),
yang menolak dikasih kelebihan pembelian dari si tokoh lm, Rayya. Alkisah, tokoh Rayya
ditawari membeli karak dari seorang ibu. Biasa, karena artis ternama ia lantas mengeluarkan
uang 50 ribuan. Tentu saja, si ibu kaget karena harga karak hanya 5 ribuan. Karena tidak ada
jujul atau kembalian, maka dengan gagah berani Rayya bilang: Ya sisa kembaliannya untuk
ibu saja. Rayya mengira si ibu akan kegirangan menerima rejeki nomplok ini. Namun yang
terjadi diluar dugaan. Si ibu marah dan berkata: Mbak ini bagaimana to, saya ini berjualan
dan bukan mengemis. Kalau mbak tidak ada uang kecil, ya sudah kita nggak jadi bertransaksi.
Lalu dikembalikan uang itu dan demikian pula karak-nya. Rayya tentu saja KO, karena dalam
dunianya yang ia pelajari ada rumus bahwa kesempatan itu harus diburu!
Sebaliknya, ibu penjual karak tadi adalah orang yang tidak rasional, tidak kreatif, apalagi
produktif. Ia tipe manusia yang tidak cocok untuk menyongsong era tinggal landas
pembangunan bangsa dalam kompetisi global, sebagaimana banyak ditemui dalam
tema-tema seminar para pejabat kita. Untuk menyongsong era perdagangan bebas, para
motivator ekonomi banyak yang menjadi guru bangsa dengan mengajarkan berburu uang di
berbagai pelatihan bagi kaum muda yang kreatif dan produktif.
Orang berdagang mestinya yang dicari ya keuntungan sebesar-besarnya. Hukum ekonomi
mengatakan: dengan modal sekecil-kecilnya, raihlah untung sebesar-besarnya. Kalau perlu
berdagang itu mengelabuhi (kalau tidak boleh dikatakan menipu). Jangan bilang: Ini lho
kulakannya sekian, silakan mau beli berapa, yang penting saya untung dan penjenengan tidak
rugi. Dalam ekonomi kreatif mestinya, beli grabah dari pengrajin seharga 10 ribu rupiah,
lantas dipoles dengan seni yang tinggi, maka laku dijual satu hingga puluhan juta rupiah, dan
menjadi koleksi para artis atau pengusaha misalnya.
Ibu penjual karak ternyata tidak sedang berdagang. Ia mengalir saja menjalani kehidupan.
Berjualan karak hanyalah metoda dan bukan tujuan untuk mengarungi hidup dan menjaga
silaturahmi dengan sesamanya. Untung pasti ia cari, namun itu bukan untuk ditumpuk menjadi
modal segunung dan nanti akan digunakan untuk keperluan apa saja. Berjualan bagi ia
hanyalah sebuah laku kehidupan, dan itu bukan intinya. Ibu ini memiliki kepekaan yang tinggi
dalam memandang dunia. Mripat yang ia gunakan bukan mripat ndonya, namun makrifat yang
sangat tinggi, meski barangkali ia tidak menyadarinya.
Hidup adalah melayani, kata saudara kita Nasrani, dan ibu ini lebih dari melayani karena
menggunakan metode Rasulullah SAW, yakni untuk bertemu Allah SWT. Berjualan adalah
bentuk kesetiaan terhadap perintah Allah bahwa hidup itu harus bekerja. Namun bekerja yang
baik adalah yang dilandasi oleh niat ibadah, menghamba kepada Allah, dan caranya adalah
tidak menyakiti sesamanya atau menipu. Berjualan adalah kepuasan mencari kebahagiaan

04/12/2015 14:00

Rayya, FFI, dan Mripat Ndonya CakNun.com

3 of 6

https://www.caknun.com/2012/rayya-ffi-dan-mripat-ndonya/

bersama. Orang Jawa sudah paham biarlah Tuna sathak, bathi sanak. Ibu ini sedang
berusaha menjadi manusia sejati, meski ia, sekali lagi, tidak menyadarinya, karena tujuan dan
jalan itu terpusat dalam diri sejatinya. Ia berusaha merubah rahmat dari Allah untuk menjadi
barokah.
Barangkali secara nansial ia hanya mendapat keuntungan tidak seberapa, namun kepuasan
batin bertemu banyak manusia, misalnya, adalah satu barokah keuntungan yang tidak dapat
dihitung secara materi. Mripat ndonya-nya tidak ia gunakan, karena mripat itu hanya
tergantung pada egonya sendiri, dan itu sering menjerumuskannya.
Barangkali ibu ini juga berfalsafah urip mung mampir ngombe. Sebuah ungkapan puncak
kesu an Orang Jawa. Urip mung mampir ngombe membawa satu dimensi religiusitas, bahwa
orang Jawa itu mestinya akan selalu semeleh atau dalam bahasa lainnya tawakal, karena
mereka tidak sempat kawin dengan dunia. Jangankan kawin, pacaran saja tidak, karena ia
hanya mampir untuk menuju kampung sejatinya kelak, yakni kampung akherat. Ajaran
membelakangi dunia ini sudah amat jelas dan tegas yakni adanya tradisi puasa di Jawa
misalnya: puasa mutih (hanya makan nasi putih tanpa garam dan minuman air putih), patigeni
(tidak menyalakan api), ngrowot (hanya makan umbi-umbian), dst, dan puncaknya (bagi yang
beragama Islam) ada puasa di bulan Ramadhan.
Puasa apapun bentuknya adalah upaya memanajemen nafsu atau menahan diri.
Kerusakan-kerusakan di dunia, mulai dari saling gosip, menghina, mem tnah, membunuh,
perang, penindasan, korupsi, dan sebagainya itu terjadi hanya oleh satu sebab, yakni karena
manusia tidak dapat menahan diri. Manusia yang sudah sampai pada tataran menghayati
urip mung mampir ngombe, Insya Allah sudah sampai pada tataran khalifatullah.
Ungkapan urip mung mampir ngombe, mestinya sanggup menyatukan kita dengan Tuhan.
Yang benar ini inti ajaran bagaimana kita mampu memanajemen dunia. Ajaran urip mung
mampir ngombe adalah ketika dunia ada di hadapannya kita tidak serta merta
mengenyamnya. Kalau ajaran ini berhasil diserap umat manusia, maka ia akan menuju posisi
pembebasan dari sisi-sisi keduniawian dan dilepaskan di hadapan Tuhan. Ini adalah proses
dematerialisasi atau deindividualisasi, karena yang penting adalah Tuhan. Dunia dan isinya
hanyalah sarana atau metoda dan dimanajemen sepenuhnya untuk menuju Tuhan. Dengan
kata lain, produk-produk duniawi tetap penting bahkan dianjurkan untuk dicari mati-matian
secara halal dan toyib, namun harus dimanajemen untuk menuju Tuhan! Dengan kata lain,
manusia yang berhasil mengamalkan ajaran urip mung mampir ngombe adalah manusia tidak
anti materi atau duniawi, namun mentransformasikan apa yang ia miliki (harta, kekayaan,
kekuasaan, tenaga, pikiran, dst) untuk menjadi nur atau cahaya yang bermakna akherat.

04/12/2015 14:00

Rayya, FFI, dan Mripat Ndonya CakNun.com

4 of 6

https://www.caknun.com/2012/rayya-ffi-dan-mripat-ndonya/

FFI dan Mripat Ndonya?


Kembali kepada FFI. Kita juga tidak tahu, seberapa jauh para juri, dan insan per- lm-an lainnya
memandang festival ini. Apakah mereka juga sudah belajar pada ibu penjual karak tadi?
Apakah selama ini para insan per- lm-an dalam berkreasi benar-benar tertuju kepada pusat
semesta ini, ataukah hanya sekadar untuk mencari kepuasan duniawi? Menjadi artis dan aktor
glamour? Menjadi orang yang sukses memiliki popularitas, fans, dan harta yang melimpah
untuk kemudian berfoya-foya menghabiskan dunia?
Apakah lm yang mereka buat dan festival yang mereka gelar hanyalah metoda untuk
mendekatkan kepada Allah SWT sang pencipta? Atau yang lebih konkret lm yang mereka
buat, cerita yang mereka tulis, keaktoran yang mereka jalani adalah wujud dari kesetiaannya
kepada Allah, melayani sesama, menjaga keseimbangan, membentuk karakter bangsa?
Syukur sebagai sarana untuk ikut memperbarui akhlak bangsa ini?
Tentu hanya mereka yang dapat menjawab. Mestinya lm adalah bagai kitab suci karena
dilihat dan dibaca jutaan orang. Cerita dan skenarionya mestinya juga ditujukan untuk
pencerahan bangsa, bukan untuk sekadar mencari laba dan popularitas, atau kesuksesan
duniawi lainnya. Tidak ada yang namanya lm atau lagu yang religius hanya karena dilihat
dari judulnya saja. Membuat lm mestinya juga bukan dalam rangka kejar tayang, mencari
rating atau jumlah penonton saja. Para insan lm mestinya bisa menggabungkan tiga rumus
dasar : baik, indah dan benar. Membuat lm mestinya tidak saja hanya berbekal keahlian
estetika atau keindahan, namun juga kebenaran dan kebaikan. Estetika seni tidak sekadar
untuk seni itu sendiri, namun untuk tema kemanusiaan dalam rangka menghamba kepada
Allah SWT.
Karenanya membuat lm juga tidak seperti orang yang dipaksakan, namun harus tahu kapan
sedang mood untuk meluruskan niat. Apapun perbuatan, pasti niat itu yang menjadi
sandaran utamanya. Karenanya, para nominator (nominee?) mestinya tidak perlu berharap
cemas terhadap hasil pengumuman pemenangnya. Sederhana saja, karena yang mereka cari
mestinya bukan menang kalah, namun sebuah totalitas pengabdian kepada alam semesta ini,
terutama kepada Allah dan Rasulullah.

Tentang Penulis:

Saratri Wilonoyudho
Aktif Menemani Jamaah Maiyah Gambang Syafaat. Esais. Peneliti dan Dosen Teknik
Sipil Universitas Negeri Semarang. Anggota Dewan Riset Daerah Jawa Tengah. Ketua

04/12/2015 14:00

Rayya, FFI, dan Mripat Ndonya CakNun.com

5 of 6

https://www.caknun.com/2012/rayya-ffi-dan-mripat-ndonya/

Koalisi Indonesia untuk Kependudukan dan Pembangunan Jawa Tengah.


Lihat semua tulisan dari Saratri Wilonoyudho

Esai Film Khasanah

Lainnya
Kemarahan Global dan Ngamuk Lokal
Seorang pakar mengemukakan pendapat dan harapan yang dilandasi oleh budi lembut dan kemuliaan
sosial: Kenaikan harga BBM....

Kaum Muda Masa Depan Bangsa


Negara Indonesia disangga oleh lima pilar, bangsa Indonesia memiliki alam takdir, watak khas
kemanusiaan dan kekayaan budaya....

Hal Tajdid: Dari Bedug sampai Anjing


Seorang Muballigh muda Muhammadiyah pernah datang ke desaku untuk tampil secara mengagumkan
dan mempesona dalam suatu pengajian.....

Blogroll Tentang Website Design History Kontak


Newsletter RSS Twitter Facebook Google+ Youtube

Perpustakaan EAN
Dibuka untuk umum. Lebih dari 3000 judul buku, arsip dan dokumentasi sejak era 70an buah
karya ratusan penulis. Tersedia juga internet gratis.

Original Merchandise
Dapatkan produk dan merchandise kami! Kaos, CD, DVD dan Buku. Penjualan online dan of ine.
Silakan hubungi kami atau agen-agen kami.

04/12/2015 14:00

Rayya, FFI, dan Mripat Ndonya CakNun.com

6 of 6

https://www.caknun.com/2012/rayya-ffi-dan-mripat-ndonya/

2011 - 2015. CakNun.com dikelola oleh


Progress Jogja (Sekretariat Emha Ainun Nadjib dan KiaiKanjeng)

04/12/2015 14:00