Anda di halaman 1dari 27

II

TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS


A. Tinjauan Pustaka
1.

Metode Pembelajaran Pemecahan Masalah (Problem Solving)


a. Pengertian Metode Pembelajaran Problem Solving
Sebagian besar siswa hanya menghafal konsep matematika dan kurang
mampu menggunakan konsep tersebut jika menemui masalah dalam
kehidupan nyata. Penumpukan konsep pada siswa kurang bermanfaat jika
dikomunikasikan oleh guru hanya dengan satu arah kepada siswa. Cara
terbaik untuk mnyampaikan konsep yang diajarkan sehingga siswa dapat
menggunakan dan mengingat konsep matematika adalah menggunakan
metode problem solving (pemecahan masalah). Menurut Sriyono (2003:118)
metode problem solving adalah suatu cara mengajar dengan menghadapkan
siswa kepada suatu masalah agar dipecahkan atau diselesaikan. Sedangkan
Sanjaya (2010:214) Menyatakan bahwa:
Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving) adalah rangkaian
aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian
masalah dihadapi secara ilmiah, lalu peserta didik diharapkan dapat
aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data dan
akhirnya menyimpulkan.
Berdasarkan penjelasan beberapa ahli, pembelajaran dengan pemecahan
masalah (problem solving) tidak dirancang untuk membantu guru
9

memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. Pembelajaran ini


bertujuan

membantu

siswa

mengembangkan

kemampuan

berfikir,

memecahkan masalah, dan keterampilan intelektual. Pemecahan masalah


yaitu suatu kegiatan yang didesain oleh guru dalam rangka memberi
tantangan kepada siswa melalui penugasan atau
sebagai bahan latihan siswa. Fungsi guru

pertanyaan matematika

dalam kegiatan ini adalah

membimbing dan memotivasi siswa agar mau menerima tantangan dalam


proses pemecahannya. Menurut Winkel (2009:501) Taraf kemahiran dalam
memecahkan suatu problem dapat ditingkatkan dengan memberikan latihan
kepada orang. Lebih lanjut Dahar (dalam Made Wena. 2011:63) Untuk
memperoleh pengetahuan prosedural pemecahan masalah dibutuhkan
latihan-latihan dan umpan balik.
Berdasarkan uraian di atas, Metode Pembelajaran Pemecahan Masalah
(Problem Solving) adalah proses pembelajaran yang dirancang agar siswa
aktif berpikir secara sistematis dan empiris, berkomunikasi, mencari. Selain
itu juga dapat mengelola data menekankan kepada proses penyelesaian
masalah yang dihadapi secara ilmiah dalam suatu kelompok, dimana siswa
saling memberi ide-ide dalam mempertimbangkan penyelesaian masalah.
b. Indikator Penyelesaian Masalah Pembelajaran Problem Solving
Dalam metode pembelajaran Pemecahan Masalah (Problem Solving)
terdapat indikator-indikator penyelesaian masalah, menurut kramers (dalam
10

Made Wena 2011:60) terdapat empat indikator penyelesaian masalah


pembelajaran problem solving antara lain: (1) memahami masalah, (2)
membuat rencana penyelesaian, (3) melaksanakan rencana penyelesaian, (4)
memeriksa kembali, (5) mengecek hasilnya.
c. Sintaks Pembelajaran Problem Solving
Dalam metode problem solving terdapat langkah-langkah pembelajaran yang
harus dilakukan, Dewey (dalam Slameto, 2010:145) berpendapat bahwa:
Langkah-langkah dalam metode Pemecahan Masalah (Problem
Solving) adalah sebagai berikut:
1) Kesadaran akan adanya masalah
2) Merumuskan masalah
3) Mencari data dan merumuskan hipotesis-hipotesis
4) Menguji hipotesis-hipotesis
5) Menerima hipotesis yang benar
Berdasarkan

pendapat ahli terkait indikator dan sintak pembelajaran

problem solving, maka dapat disimpulkan langkah-langkah dalam metode


Pemecahan Masalah (Problem Solving) antara lain:
1) Guru mengarahkan siswa mengenal masalah-masalah yang akan
dipecahkan
2) Guru mengarahkan siswa mencari informasi, pengertian, asas-asas dan
metode-metode yang perlu untuk memecahkan masalah
3) Guru mengelompokkan siswa kedalam kelompok-kelompok kecil
memberi peluang bagi mereka untuk mendiskusikan masalah yang
dihadapi saling tukar ide antar siswa dan memperdebatkan alternatif
pemecahan masalah
11

4) Guru merumuskan dan membatasi masalah-masalah


5) Guru mengolah dan menerapkan informasi, pengertian, asas-asas serta
metode-metode

itu

pada

masalah

tersebut

untuk

memperoleh

kemungkinan pemecahan masalah yang dibatasi oleh waktu.


6) Guru membimbing siswa merumuskan dan menguji hipotesis untuk
memperoleh pemecahan masalah
7) Guru menerima hipotesis yang benar dari siswa
8) Guru dan siswa memeriksa kembali pemecahan masalah yang dihasilkan
d. Kelebihan dan Kelemahan Metode Pembelajaran Problem Solving
1) Kelebihan Metode Pembelajaran Problem Solving
Sanjaya (2010:220) mengatakan bahwa:
Kelebihan metode Problem solving sebagai berikut:
a. Merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi
pelajaran.
b. Menantang kemampuan siswa serta member kepuasan untuk
menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
c. Meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.
d. Membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka
untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
e. Membantu siswa mengembangkan pengetahuan barunya dan
bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan.
f. Dapat memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata
pelajaran (matematika, IPA, dan lain sebagainya) pada dasarnya
merupakan cara berpikir dan sesuatu yang harus dimengerti oleh
siswa, bukan sekedar belajar bagi guru dan buku saja.
g. Lebih menyenangkan dan disukai siswa.
h. Mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan
mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan
dengan pengetahuan baru.
i. Memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan
pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
j. Mengembangkan minat siswa untuk terus menerus belajar
sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.
2) Kelemahan Metode Pembelajaran Problem Solving

12

Menurut Sriyono (2003:119) Kelemahan metode problem solving


memerlukan waktu yang cukup banyak, bisa menjadikan pelajaran
tertinggal, dan masalah sulit dipecahkan akan memakan waktu yang tidak
sedikit. Sedangkan menurut Sanjaya (2010:221) kelemahan metode
Problem Solving diantaranya:
a) Siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan
bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka
mereka enggan untuk mencoba.
b) Membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.
c) Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk
memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak
akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.
2.

Strategi College Ball


a. Pengertian Strategi College Ball
Strategi College Ball merupakan cara-cara untuk membantu siswa
mengingat apa yang telah mereka pelajari dan menguji pengetahuan dan
kemampuan mereka yang sekarang. Menurut Silberman (2005:251) :
Strategi peninjauan ulang tipe permainan bola guling (College Ball)
adalah satu putaran pengulangan yang standar terhadap materi pelajaran.
Ia memperbolehkan pengajar untuk mengevaluasi keluasan materi yang
telah dikuasai peserta didik, dan berfungsi untuk menguatkan kembali,
mengklasifikasi, dan meringkas poin-poin kunci.
Berpijak pada argumen Gordon dkk (2000:173) bahwa memori bekerja
paling baik dengan menggunakan asosiasi, kemudian cantolkan memori
anda. Hal tersebut dimaksudkan bahwa sangat penting untuk belajar dengan
cara melibatkan indera pendengaran, penglihatan, berbicara dan bekerja serta

13

melibatkan emosi-emosi positif, tatkala saat belajar kelompok semua hal


tersebut membuat memori menjadi tahan lama. Berdasarkan uraian di atas
dapat disimpulkan bahwa strategi College Ball adalah cara-cara pendidik
untuk membantu siswa agar pembelajaran yang diterima dapat dikuasai
secara tuntas diliputi ingatan yang lebih

tinggi dengan suasana yang

menyenangkan serta memungkinkan guru untuk mengevaluasi sejauh mana


siswa telah menguasai materi, dan bertugas menguatkan, menjelaskan, dan
mengikhtisarkan poin-poin utamanya. Strategi College Ball dapat digunakan
sebagai alternatif dalam pembelajaran karena strategi ini lebih mengacu pada
keaktifan belajar siswa, siswa juga dituntut untuk belajar mandiri, siswa
akan lebih bersemangat dalam mengikuti pelajaran dan tidak merasa bosan
ketika pembelajaran berlangsung di kelas.

b. Sintaks Strategi College Ball


Silberman (2005:251) mengemukakan bahwa ada beberapa langkah dalam
strategi College Ball :
1) Kelompokkan peserta didik kedalam tim yang terdiri atas tiga atau
empat kelompok.Masing-masing tim dimohon memilih nama sebuah
lembaga (atau tim olahraga, perusahaan,mobil dan lain-lain) yang
mereka wakili.
2) Berilah setiap peserta didik kartu indeks. Peserta didik akan memegang
kartunya untuk menunjukkan bahwa mereka menginginkan
kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan. Format permainan

14

adalah undian: Setiap kali anda menyampaikan pertanyaan, setiap


anggota tim dapat menunjukkan keinginannya untuk menjawab.
3) Jelaskan aturan-aturan berikut ini:
a. Untuk menjawab pertanyaan angkat kartu
b. Kamu dapat mengangkat kartumu sebelum pertanyaan secara penuh
disampaikan jika kamu merasa mengetahui jawabannya.
Segera setelah anda menginterupsi, pertanyaan dihentikan.
c. Tim memberikan skor satu point untuk setiap respons anggota yang
benar
d. Ketika seseorang menjawab dengan salah, tim yang lain menjawab
(mereka dapat mendengarkan seluruh pertanyaan jika tim yang lain
menginterupsi bacaan)
4) Setelah semua pertanyaan dilontarkan, hitunglah skor keseluruhan dan
umumkan pemenangnya.
5) Berdasarkan respons atas permainan, lakukan peninjauan ulang materi
yang tidak jelas atau yang memerlukan penguat kembali.
c. Kelebihan dan Kelemahan Strategi College Ball
Kelebihan pembelajaran dengan menggunakan strategi College Ball adalah
untuk:
a. Memudahkan peserta didik dalam mengingat kembali suatu materi yang
diajarkan juga menciptakan suasana belajar yang variatif sehingga peserta
didik tidak mengalami kejenuhan dalam proses belajar, yang pada
akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik
b. Dapat membangkitkan minat belajar peserta didik.
c. Memupuk dan mengembangkan sikap mandiri di kalangan peserta didik
d. Menumbuhkan kesadaran dan kekreatifan peserta didik.
Kelemahan pembelajaran menggunakan strategi College Ball adalah :

15

a. Tidak dapat dilakukan secara terus menerus dalam pembelajaran


matematika, karena permainan merupakan suatu pembelajaran yang
hanya dilakukan untuk mengubah suasana agar tidak bosan dalam
pembelajaran matematika
b. Memerlukan

penanganan

khusus

dalam

mempersiapkan

rencana

pembelajarannya, agar dalam proses belajar mengajar situasi kelas tidak


terlalu gaduh
c. Tidak dapat dilakukan di kelas besar sebab memerlukan waktu yang
cukup banyak.
3.

Sintaks Metode Problem Solving dengan Strategi College Ball


Pembelajaran dengan menggunakan memetode
strategi College Ball adalah

problem solving dengan

cara belajar berkelompok dimana dapat

membangkitkan motivasi, nyaman, kreatif, dan menyenangkan bagi siswa


untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain.
Selain itu siswa dapat belajar dengan siswa yang lain, untuk itu dapat
memberikan peluang yang banyak bagi mereka, yakni saling berpendapat dan
bertanya sesamanya. Adapun sintaks metode problem solving dengan strategi
college ball adalah sebagai berikut :
1) Guru memberikan informasi, pengertian, asas-asas dan metode-metode
yang perlu untuk memecahkan masalah
2) Guru mengelompokkan siswa kedalam tim/kelompok yang terdiri atas tiga
atau empat orang. Masing-masing tim dimohon memilih nama sebuah
16

lembaga (atau tim olahraga, perusahaan,mobil dan lain-lain) yang mereka


wakili.
3) Guru memberikan setiap peserta didik kartu indeks.
4) Guru menjelaskan aturan-aturan berikut ini:
a. Untuk menjawab pertanyaan angkat kartu
b. Siswa dapat mengangkat kartu sebelum pertanyaan secara penuh
c.
d.

disampaikan jika siswa merasa mengetahui jawabannya.


Segera setelah siswa menginterupsi, pertanyaan dihentikan.
Tim memberikan skor satu point untuk setiap respons anggota yang

e.

benar
Ketika seseorang siswa menjawab dengan salah, tim yang lain
menjawab (mereka dapat mendengarkan seluruh pertanyaan jika tim

yang lain menginterupsi bacaan)


5) Guru memberikan masalah-masalah untuk dipecahkan oleh siswa
6) Guru mengolah dan menerapkan informasi, pengertian, asas-asas serta
metode-metode itu pada masalah tersebut untuk memperoleh kemungkinan
pemecahan masalah yang dibatasi oleh waktu.
7) Guru menerima hipotesis yang benar dari siswa
8) Guru dan siswa memeriksa kembali pemecahan masalah yang dihasilkan
9) Setelah semua pertanyaan dilontarkan, hitunglah skor keseluruhan dan
umumkan pemenangnya.
10) Berdasarkan respons atas permainan, lakukan peninjauan ulang materi
yang tidak jelas atau yang memerlukan penguat kembali.
4.

Metode Ceramah
a. Pengertian Metode Ceramah
Salah satu metode pembelajaan yang masih berlaku dan sangat banyak
digunakan oleh guru adalah metode ceramah. Sagala (2010:201) berpendapat
bahwa Ceramah adalah sebuah bentuk interaksi melalui penerangan dan
17

penuturan lisan dari guru kepada peserta didik. Metode ceramah adalah
metode yang boleh dikatakan metode tradisional, karena sejak dulu metode
ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan
anak didik dalam proses pembelajaran. Hal ini diperkuat oleh

Sanjaya

(2010:147) memberikan arti metode ceramah sebagai cara menyajikan


pembelajaran melalui penuturan lisan atau penjelasan secara langsung
kepada siswa. Pemilihan metode ceramah pada umumnya digunakan karena
sudah menjadi kebiasaan dalam suatu kegiatan pembelajaran. Di samping itu
juga, metode ceramah digunakan karena guru biasanya belum puas kalau
dalam kegiatan pembelajaran tidak melakukan ceramah. Hal ini didukung
oleh pernyataan Dasim dkk (2008:41) bahwa:
Paradigma pembelajaran di Indonesia dewasa ini masih belum
bergerak dari dominasi metode ceramah dan tanya jawab dengan
proses pembelajaran yang cenderung monoton. Ada kesan kuat bahwa
pendidik belum merasa melakukan tugasnya mengajar dengan
sempurna, jika pendidik tersebut belum berceramah didalam kelas.
Berdasarkan penjelasan di atas, metode ceramah dapat dimaknai sebagai
metode yang lebih banyak bepusat pada guru, komunikasi lebih banyak satu
arah dari guru ke siswa.
b. Langkah-langkah metode ceramah
Dalam Sagala (2010:201) Langkahlangkah dalam Metode Ceramah yaitu:
Pertama :
1.
Menjelaskan tujuan lebih dulu kepada peserta didik
dengan maksud agar peserta didik mengetahui arah kegiatananya

18

dalam belajar, bahkan tujuan itu dapat membangkitkan motivasi


belajar jika bertalian dengan kebutuhan mereka
2.
Kemukakan pokok-pokok materi yang akan dibahas.
3.
Memancing pengalaman peserta didik yang cocok
dengan materi yang akan dipelajari
Kedua:
1. Perhatian peserta didik dari awal sampai akhir pelajaran harus tetap
terpelihara
2. Menyajikan pelajaran secara sistematis, tidak berbelit-belit dan
tidak meloncat-loncat
3. Kegiatan pembelajaran diciptakan secara variatif, jangan
membiarkan peserta didik hanya duduk dan mendengarkan, tetapi
memberi kesempatan untuk berpikir
4. Memberi ulangan pelajaran kepada responsi
5. Membangkitkan motivasi belajar secara terus menerus selama
pembelajaran berlangsung
6. Menggunakan media pelajaran secara variatif yang sesuai dengan
tujuan pembelajaran
Ketiga :
1.
Mengambil kesimpulan dari semua pelajaran yang
telah diberikan
2.
Memberi kesempatan pada peserta didik untuk
menanggapi materi pelajaran yang telah dinerikan terutama
mengenai hubungan dengan pelajaran lain
3.
Melaksanakan penilaian secara komprehensif untuk
mengukur perubahan tingkah laku.
c. Kelebihan dan Kelemahan Metode Ceramah
1) Kelebihan Metode Ceramah
Menurut Suryosubroto (2002:166) bahwa Keuntungan Metode Ceramah
adalah guru dapat menguasai seluruh arah kelas dan organisasi kelas sederhana. Menurut Suryosubroto (2002:166) bahwa Keuntungan Metode
Ceramah adalah guru dapat menguasai seluruh arah kelas dan organisasi
kelas sederhana. Adesanjaya (2011) mengatakan bahwa:

19

Kelebihan-kelebihan metode ceramah adalah:


1. Guru mudah menguasai kelas.
2. Mudah mengorganisasikan tempat duduk/kelas.
3. Dapat diikuti oleh jumlah siswa yang besar.
4. Mudah mempersiapkan dan melaksanakannya.
5. Guru mudah menerangkan pelajaran dengan baik
2) Kelemahan Metode Ceramah
Adesanjaya (2011) mengatakan bahwa:
Kelemahan-kelemahannya metode ceramah adalah :
1) Tidak semua siswa memiliki cara belajar terbaik dengan
mendengarkan
2) Sering terjadi kesulitan untuk menjaga agar siswa tetap tertarik
dengan apa yang dipelajari
3) Pendekatan tersebut cenderung tidak memerlukan pemikiran yang
kritis
4) Pendekatan tersebut mengasumsikan bahwa cara belajar siswa itu
sama dan tidak bersifat pribadi
5) Kurang menekankan pada pemberian keterampilan proses (hands
on activities)
6) Para siswa tidak mengetahui apa tujuan mereka belajar pada hari itu
7) Penekanan sering hanya pada penyelesaian tugas
8) Daya serapnya rendah dan cepat hilang karena bersifat menghafal
5.

Pengertian Belajar, Pembelajaran dan Hasil Belajar


a. Pengertian Belajar
Belajar sebagai aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan
manusia, bukan hanya berasal dari hasil renungan manusia semata. Ajaran
agama islam sebagai pedoman hidup manusia juga menganjurkan manusia
untuk selalu melakukan kegiatan belajar. Islam pun mewajibkan setiap
penganutnya untuk menuntut ilmu, sebagimana sabda Nabi Muhammad
SAW:



20

Artinya: Menuntut ilmu wajib atas tiap-tiap muslim laki-laki dan muslim
perempuan. (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan
Ibnu Majah).
Belajar adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga
menyebabkan munculnya perubahan perilaku yaitu perubahan tingkah laku
sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi
kebutuhan

hidupnya.

Sejalan

dengan

pendapat

Slameto

(2010:2)

mengemukakan bahwa:
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi
dengan lingkungannya.
Menurut Sardiman (2006:21) belajar merupakan perubahan tingkah laku
atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya membaca,
mengamati, mendengar, meniru, dan lain sebagainya. Pendapat lain tentang
belajar dikemukakan oleh Lewin (dalam Sanjaya 2010:122) bahwa belajar
adalah proses pemecahan masalah. Untuk memperoleh gambaran yang
lebih jelas tentang teori belajar, ada beberapa prinsip penerapannya antara
lain:
1) Belajar itu berdasarkan keseluruhan yaitu pembelajaran itu
bukanlah berangkat dari fakta-fakta, akan tetapi harus berangkat
dari suatu masalah. Melalui permasalahan itu siswa dapat
mempelajari fakta.
2) Anak yang belajar merupakan keseluruhan yaitu membelajarkan
anak bukanlah hanya mengembangkan intelektualnya saja, akan
tetapi mengembangkan pribadi anak seutuhnya.
21

3) Belajar berkat pemahaman terhadap hubungan antarbagian didalam


suatu situasi permasalahan (insight) yaitu belajar akan terjadi
manakala dihadapkan kepada suatu persoalan yang harus
dipecahkan. Belajar bukan menghafal fakta, melalui persoalan yang
dihadapi, anak akan mendapat insight yang berguna untuk
menghadapi masalah.
4) Belajar berdasarkan pengalaman yaitu belajar dengan melakukan
reorganisasi kejadian-kejadian yang dapat memberikan arti dan
makna kehidupan setiap perilaku individu masa lalu yang secara
terus menerus disempurnakan.
(Sanjaya 2010:121).
Berdasarkan pada pengertian belajar yang dikemukakan para ahli tersebut,
dapat disimpulkan bahwa belajar akan membawa suatu perubahan tingkah
laku pada individu yang disebabkan oleh pengalaman dalam interaksi
dengan lingkungannya.
b.

Pengertian Pembelajaran Matematika


Pembelajaran merupakan jantung dari proses pendidikan dalam suatu institusi pendidikan. Pembelajaran merupakan suatu proses yang dilakukan oleh
guru

untuk

membelajarkan

siswanya

dalam

belajar,

sebagaimana

dikemukakan oleh Dimyati dan Mujiono (2006:157) Pembelajaran adalah


proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswanya
dalam belajar bagaimana belajar memperoleh dan memproses pengetahuan
keterampilan dan sikap. Selanjutnya KBBI (2002:17) menyatakan bahwa
pembelajaran merupakan proses, perbuatan menjadikan orang atau mahluk
hidup belajar. Sedangkan Sagala (2010:64) mengatakan bahwa:

22

Pembelajaran adalah setiap kegiatan yang dirancang oleh guru untuk


membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan atau nilai yang
baru dalam suatu proses yang sistematis melalui tahap rancangan,
pelaksanaan, dan evaluasi dalam konteks kegiatan belajar mengajar.
Berdasarkan berbagai pengertian yang dikemukakan para ahli

dapat

disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan setiap kegiatan yang dilakukan


oleh guru sebagai pendidik untuk membantu siswanya dalam memperoleh
pengetahuan, keterampilan, dan sikap pada suatu proses yang sistematis
melalui tahap rancangan pelaksanaan dan evaluasi.
c.

Pengertian Hasil Belajar


Manusia mempunyai kemampuan untuk hidup dan beradaptasi dengan
lingkungannya. Kemampuan itu dapat diambil dengan proses pengalaman
atau pengamatan terhadap sekelilingnya. Dari hasil pengamatan tersebut akan
mempengaruhi perilakunya untuk mempertahankan hidup. Perilaku yang
berubah ini merupakan salah satu hasil dari proses belajar. Dalam setiap
kegiatan pembelajaran yang dilakukan peserta didik tentunya akan terjadi
perubahan dalam diri peserta didik, baik perilaku maupun dalam hasil belajar.
Hasil belajar merupakan suatu indikator terhadap kemampuan peserta didik
dalam menyerap atau memahami suatu mata pelajaran yang telah dipelajari.
Hasil belajar siswa berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menyerap
atau memahami suatu bahan yang

telah diajarkan. Islam sendiri

menempatkan orang yang berilmu dalam kedudukan yang istimewa,


sebagaimana sabda Nabi SAW:
23


Artinya: Kelebihan orang yang berilmu dari orang yang beribadah (yang
bodoh) bagaikan kelebihan bulan pada malam purnama dan semua bintangbintang yang lain. (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai,
dan Ibnu Majah).
Dari sisi guru tindakan belajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar,
dari sisi siswa hasil belajar merupakan puncak proses belaja, Dimyati dan
Mujdiono (2006:30) menyatakan bahwa :
Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan
tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan
proses evaluasi hasil belajar dari sisi siswa hasil belajar merupakan
berakhirnya penggal atau puncak proses belajar.
Hasil belajar
menerima

merupakan

hasil

pengetahuan sehingga

yang telah

diperoleh siswa

terjadi perubahan tingkah

setelah
laku dan

diwujudkan dalam bentuk nilai setelah mengikuti tes. Diungkapkan juga


oleh Oemar Hamalik (2003:154) hasil belajar tampak sebagai terjadinya
perubahan tingkah laku pada diri siswa, yang dapat diamati dan diukur
dalam bentuk perubahan pengetahuan sikap dan ketrampilan. Sebagai
hasil belajar adalah perubahan yang berupa peningkatan prestasi
kemampuan yang lebih baik dari sebelum belajar.

24

atau

Berdasarkan hal tersebut, guru dituntut untuk memberikan bimbingan


kepada siswa dalam belajar dan harus

mampu merancang serta

melaksanakan program pengalaman belajar dengan tepat sehingga akan


memberikan hasil yang baik pula bagi siswa. Dengan demikian, inti dari
hasil belajar adalah suatu proses dalam pembelajaran dengan adanya sebuah
interaksi antara guru dan siswa yang dapat meningkatkan kemampuan
mental siswa menuju lebih baik yang dituangkan dalam suatu angka berupa
nilai atau skor sehingga berguna sebagai sumber informasi bagi guru dan
orang tua untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan kemampuan
peserta didik dan tanggung jawab peserta dalam belajar.
6.

Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar


Menurut Oemar Hamalik (2003:83) mengemukakan bahwa ada beberapa
faktorfaktor yang mempengaruhi hasil belajar antara lain:
1. Faktor yang bersumber dari siswa
Yang termasuk faktor dalam diri siswa antara lain siswa tidak memiliki
tujuan yang jelas, kurang berminat dalam pelajaran, kesehatan siswa,
kecakapan siswa, kebiasaan belajar dan kurangnya siswa dalam
penguasaan materi.
2. Faktor bersumber dari lingkungan sekolah
Faktor dari lingkungan sekolah meliputi cara guru memberikan materi
pelajaran, kurangnya bahan pelajaran, kurangnya alat penunjang
pelajaranmateri yang tidak sesuai dengan kemampuan, penyelenggaraan
pelajaran yang terlalu padat.
3. Faktor yang bersumber dari lingkungan atau keluarga
Fakto ini meliputi masalah ekonomi , kurangnya control orang tua,
broken home, dan adat istisdat yang masih mengekang.

7.

Materi Luas Permukaan dan Volume Kubus dan Balok


25

a. Luas Permukaan Kubus dan Balok


1) Luas Permukaan Kubus
Sebuah kubus bila kita buka sepanjang

rusuknya maka akan

terjadilah sebuah jarring-jaring kubus.

Seperti contoh pada gambar 2.1 dan 2.2 di bawah ini :

Gambar 2.2
Jaring-jaring Kubus

Gambar 2.1
Kubus
Kubus terdiri dari 6 persegi, sehingga :
Luas Kubus = 6 x L persegi
=6xsxs
Contoh :

Sebuah kubus panjang setiap rusuknya 8 cm. Tentukan luas permukaan


kubus tersebut
Penyelesaian:

Luas permukaan kubus = 6 x s2


26

= 6 64
= 384
Jadi luas kubus adalah 384 cm

3) Luas Permukaan Balok


Luas permukaan balok adalah jumlah seluruh sisi balok tersebut. Balok
pada gambar dibawah ini mempunyai tiga pasang sisi yang tiap
pasangnya sama dan sebangun, yaitu:
a) Sisi ABCD sama dan sebangun dengan sisi EFGH.
b) Sisi ADHE sama dan sebangun dengan sisi BCGF.
c) Sisi ABFE sama dan sebangun dengan sisi DCGH.
Akibatnya diperoleh:
luas permukaan ABCD = luas permukaan EFGH = p x l
luas permukaan ADHE = luas permukaan BCGF = l x t
luas permukaan ABFE = luas permukaan DCGH = p x t

27

Gambar 2.3 Balok


Dengan demikian, luas permukaan balok sama dengan jumlah ketiga
pasang sisi yang saling kongruen pada balok tersebut. Jila L adalah luas
permukaan balok,

adalah panjang balok,

adalah lebar balok,

adalah

panjang balok, maka luas permukaan balok dirumuskan sebagai berikut.


L = 2 (p x l) + 2(l x t) + 2(p x t)

= 2 {(p x l) + (l x t) + (p x t)}
Contoh :
Sebuah balok berukuran (8x5x4) cm. Tentukan luas permukaan balok.
Penyelesaian:
Balok berukuran (8 x 5 x 4 ) cm artinya panjang = 6 cm, lebar = 5 cm,
dan tinggi 4cm.
Luas permukaan balok

= 2{(p l) + (l t) + (p t)}
= 2{(6 5) + (5 4) + (6 4)}
= 2(30 + 20 + 24)
= 148

Jadi luas balok adalah 148 cm


b. Volume Kubus dan Balok
1) Volume Kubus
Perhatikan Gambar 2.4 kubus mainan (rubiks) berikut.

28

Gambar 2.4

Ada berapa banyak kubus kecil yang tersusun sehingga menjadi kubus
besar?. Bisakah kalian menghitungnya?. Perhatikan barapa jumlah kubus
yang tersusun sehingga terbentuk kubus besar yang bersisi 3 satuan?
Marilah kita hitung bersama.
Lapisan teratas ada 9 kubus kecil, lapisan tengah ada 9 kubus kecil , dan
pada lapisan bawah ada 9 kubus kecil sehingga banyak semua kubus yang
tersusun ada 27 kubus kecil. Volume Kubus besar = 3 satuan x 3 satuan x
3 satuan = 27 satuan kubik.
Jadi , Volum Kubus = sisi x sisi x sisi
= Luas alas x tinggi
Volum Kubus = Luas alas x tinggi
2) Volume Balok
Untuk menentukan volume sebuah balok dapat digunakan gambar
dibawah ini merupakan sebuah balok satuan dengan ukuran panjang = 4
satuan panjang, lebar = 2 satuan panjang, dan tinggi = 2 satuan panjang.

29

Gambar 2.5 Balok satuan.

Volume balok tersebut

= panjang kubus satuan

lebar kubus satuan

tinggi kubus satuan


= (4

2) satuan volume

= 16 satuan volume
Jadi, diperoleh rumus volume balok (V) dengan ukuran (p x l x t) sebagai
berikut.
V = panjang x lebar x tinggi
=pxlxt

B. Kerangka Pikir
Pembelajaran merupakan upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap
kemampuan, potensi, minat, bakat dan kebutuhan siswa yang beragam agar terjadi
interaksi optimal antara guru dengan siswa serta siswa dengan siswa.
Pembelajaran matematika di SMP bertujuan untuk membentuk siswa agar
memiliki keterampilan matematika sebagai peningkatan dan perluasan dari
30

matematika sekolah dasar untuk dapat digunakan dalam kehidupan seharihari.


Dari tujuan pembelajaran matematika tersebut, ada beberapa hal penting yang
merupakan tujuan dari pembelajaran matematika diantaranya pembentukan sifat
dengan berfikir kritis dan kreatif. Untuk membentuk sifat tersebut, siswa perlu
dilibatkan langsung dalam proses pembelajaran. Dalam arti lain siswa harus aktif
dalam proses pembelajaran, tidak hanya mengandalkan guru melainkan belajar
sendiri bersama temantemannnya dan saling berbagi pengetahuan satu sama yang
lain sehingga ilmu yang mereka dapatkan menjadi lebih berkembang.
Dalam kegiatan pembelajaran matematika di MTs Al-Hidayat Gerning, diduga
guru cenderung menggunakan metode ceramah. Metode ceramah boleh dikatakan
metode tradisional, karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat
komunikasi lisan antara guru dengan anak didik dalam proses pembelajaran.
Pembelajaran ini berlangsung satu arah yang terpusat pada guru sebagai pemberi
informasi (bahan pelajaran) sehingga terkesan monoton. Guru belum mampu
mengaktifkan siswa dengan optimal yang mengakibatkan minat belajar
matematika siswa menurun. Selama ini, aktivitas yang dilakukan siswa dalam
proses pembelajaran hanya

mendengar dan menghafal. Sebagian besar dari

mereka hanya mengandalkan orang lain ketika menghadapi kesulitan tanpa


berusaha untuk belajar mandiri mencari sebuah pemecahan masalah dalam
pembelajaran matematika sehingga menjadikan siswa tidak dapat berpikir kritis
dan kreatif. Mereka cepat lupa atau sedikit sekali untuk mengingat apa yang

31

seharusnya di ingat, sehingga hal ini dapat menyebabkan rendahnya hasil belajar
matematika siswa.
Pada dasarnya ceramah merupakan metode pembelajaran dimana guru dapat
menguasai seluruh arah kelas, mudah untuk mengorganisasikan tempat duduk dan
menerangkan materi ajar secara runtun dan lengkap, tetapi kendala yang sering
terjadi didalam kelas yakni tidak semua siswa memiliki cara belajar terbaik dengan
mendengarkan, sering terjadi kesulitan untuk menjaga agar siswa tetap tertarik
dengan apa yang dipelajari, dan siswa kurang aktif di dalam kelas serta pendekatan
tersebut cenderung tidak memerlukan pemikiran yang kritis.
Kegiatan pembelajaran yang masih berpusat pada guru sebaiknya harus diubah.
Dalam proses pembelajaran hendaknya siswa diberi kesempatan sebanyak
banyaknya untuk aktif saat proses pembelajaran sehingga belajar akan terasa
menyenangkan dan jika siswa belajar dengan mendengar, melihat, bertanya,
berdiskusi dengan orang lain, menerapkan dan mengajarkan kepada orang lain,
mereka dapat memahami pengatahuan dan keterampilan serta dapat menguasai apa
yang disampaikan saat proses pembelajaran. Sejalan dengan Melvin (2006:90)
menyatakan: Siswa belajar aktif, dengan cara menggunakan otak, mengkaji
gagasan, serta memecahkan suatu masalah, belajar akan terasa menyenangkan,
bersemangat dan penuh gairah.

32

Salah satu alternatif yang diduga dapat menyelesaikan masalah siswa yang kurang
aktif dalam kegiatan pembelajaran yaitu metode problem solving dan menyertakan
strategi College Ball. akhirnya menyimpulkan. Guru sebagai motivator bagi siswa
agar mau menerima tantangan. Strategi College Ball dapat membantu untuk
memahami jalan pikiran peserta didik. Strategi College Ball merupakan bagian
dari ice breaker yang membuat proses pertemuan kelompok menjadi lebih
menyenangkan. Strategi College Ball dapat menjadi sarana bagi pemimpin antar
kelompok dalam hal ini tenaga pengajar (Pendidik) untuk mendorong terjadinya
interaksi, merangsang pikiran kreatif, menantang asumsi dasar, dan mengingat
ulang apa yang telah dipelajari untuk menguatkan pemahaman materi.

Oleh

karena itu, dengan menerapkan metode pembelajaran problem solving dengan


strategi College Ball dalam pembelajaran matematika khususnya materi pokok
Mencari Luas Permukaan dan Volume Kubus dan Balok memungkinkan siswa
untuk mengembangkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, keuletan serta
berkembangnya daya pikir siswa sehingga terbentuknya kemandirian pada diri
siswa saat proses pembelajaran.
Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian yang penulis lakukan berbentuk
komparatif dua sampel dengan satu variabel. Sampel tersebut yaitu kelas
eksperimen yang menggunakan metode Problem solving dengan strategi College
Ball

dan

kelas

kontrol

yang

menggunakan

metode

Ceramah.

Dalam

pembelajarannya, untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol mempelajari materi

33

sub pokok bahasan yang sama. Adapun variabelnya adalah hasil belajar siswa
setelah diberikan pembelajaran dengan menggunakan kedua metode tersebut
dikelas yang berbeda. Untuk memperoleh data, diberikan teknik tes. Tes tersebut
diberikan kepada kedua sampel dengan soal yang sama dan diberikan setelah
selesai dilaksanakannnya pembelajaran.
Dari hasil belajar selanjutnya dianalisis dengan menggunakan uji-t. Untuk melihat
perbedaan hasil belajar matematika siswa yang menggunakan metode Problem
solving dengan strategi College Ball dengan hasil belajar model pembelajaran
metode Ceramah dan apakah hasil belajar matematika yang menggunakan metode
Problem solving dengan strategi College Ball lebih tinggi dari pada hasil belajar
matematika yang menggunakan metode Ceramah. Dua asumsi dasar yang harus
dipenuhi dalam pelaksanaan uji-t yaitu normalitas dan homogenitas data. Oleh
karena itu, sebelum uji-t dilakukan, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan
homogenitas data sampel. Selanjutnya apabila asumsi normalitas data sampel tidak
terpenuhi maka digunakan uji non parametrik yaitu dengan uji Mann Whitney UMateri Pokok Luas Permukaan dan
Volumepikir
Kubus
dan Balok
Test. Untuk memperjelas kerangka
dalam
penelitian ini, maka penulis
gambarkan kerangka pikir dalam diagram
langkah-langkah pembelajaran sebagai
Proses Pembelajaran
berikut :
Pembelajaran Menggunakan
Metode Problem Solving
dengan Strategi College Ball
(kelas eksperimen)

Pembelajaran Menggunakan
Metode Ceramah
(kelas kontrol)
Evaluasi

Hasil belajar
(1)

Hasil belajar
(2)

34
1 2
1 > 2

Gambar 3. Diagram langkah-langkah pembelajaran

C. Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah dan kerangka pikir maka penulis merumuskan
hipotesis bahwa:
1. Ada perbedaan rata-rata hasil belajar matematika siswa yang menggunakan
metode pembelajaran Problem Solving dengan strategi College Ball dengan
rata-rata hasil belajar matematika siswa yang menggunakan metode
pembelajaran Ceramah

2. Rata-rata hasil belajar matematika siswa yang menggunakan metode


pembelajaran Problem Solving dengan

strategi College Ball

lebih baik

daripada rata-rata hasil belajar siswa yang menggunakan metode pembelajaran


Ceramah

35