Anda di halaman 1dari 11

SCHOOL OF ENGINEERING

JURUSAN TEKNIK SIPIL

KELOMPOK D / 03 PAS

OKT 2011

BINUS UNIVERSITY

BAB 7
COMPACTION
7.1. PENDAHULUAN
7.1.1. Maksud dan Tujuan
Mencari berat jenis kering( dry ) maksimum pada kadar air( )
optimum dari suatu contoh tanah yang dipadatkan.
7.1.2. Alat-alat dan bahan yang digunakan
Mold, silinder pencetak tanah lengkap dengan collar dan base plate.
Hammer seberat 5,5 lb dengan tinggi jatuh 12 inci.
Hidrolik extruder.
Plat baja pemotong.
Gelas ukur.
Tempat untuk mencampur tanah dan air.
Plat besi atau penggaris untuk mengukur tinggi tanah.
Neraca Digital.
Oven dengan temperatur 105 derajat 110 derajat celcius.
Jangka sorong.
7.1.3. Teori dan persamaan yang digunakan
Pemadatan adalah suatu proses dimana pori-pori tanah dikurangi dan udara
dikeluarkan secara mekanis. Suatu pemadatan juga merupakan suatu usaha
(energi) yang dilakukan pada massa tanah. Suatu pemadatan (compactive
effort) yang dilakukan tersebut adalah merupakan fungsi dari variabelvariabel berikut:

C . E=

W . H. L.B
V
Dimana:

C.E = Compactive Effort (ft.lb/ft3).

L = Jumlah lapisan per layer.

W = Berat hammer (lb).

V = Volume tanah (ft3).


LABORATORIUM MEKANIKA TANAH
BINUS UNIVERSITY

SCHOOL OF ENGINEERING
JURUSAN TEKNIK SIPIL

KELOMPOK D / 03 PAS

OKT 2011

BINUS UNIVERSITY

= Tinggi jatuh (layer).

Pemadatan tanah yang dilakukan di laboratorium pada umumnya terdiri


dari 2 macam yaitu:
a.
b.

Standard proctor AASHTO T 99 (ASTM D 698).


Modified proctor AASHTO T 180 G (ASTM D 1557).

Gambaran mengenai kedua cara tersebut adalah sebagai berikut:


Tabel 7.1. Keterangan Standar Pengujian Compaction.
Test Identification
Diameter Mold [in]
Berat hammer (W) [lb]
Tinggi Jatuh (H) [in]
Jumlah lapisan (L)
Pukulan per layer (B)
C.E [ft. lb/ft3]
Ukuran butiran

AASHTO T 99
ASTM D 698
4"
6"
5,5
5,5
12
12
3
3
25
56
12.375
12.375
No.
No.4

AASHTO T 180 G
ASTM D 1557
4"
6"
10
10
18
18
5
5
25
56
56.250
56.250
No. 4
No. 4

maksimum terlewati

4(3/4")

(3/4")

(3/4")

(3/4")

Hasil dari suatu kepadatan tanah bergantung kepada kadar airnya. Untuk
membuat suatu hubungan tersebut dibuat beberapa sampel tanah minimal 4
sampel dengan kadar air yang berbeda-beda, dengan perbandingan 4%.
Dari percobaan tersebut dibuat grafik yang menggambarkan hubungan
antara kepadatan dan kadar air, sehingga dari grafik tersebut dapat
diperoleh

dry

maksimum pada kadar air optimum. Dengan demikian

dapat diperoleh petunjuk bahwa suatu tanah yang dipadatkan dengan kadar
air tanah lebih dari Woptimal, akan diperoleh nilai kepadatan yang lebih kecil
dari

dry

maksimum.

Persamaan yang digunakan:


a. Menghitung kadar air

LABORATORIUM MEKANIKA TANAH


BINUS UNIVERSITY

SCHOOL OF ENGINEERING
JURUSAN TEKNIK SIPIL

KELOMPOK D / 03 PAS

OKT 2011

BINUS UNIVERSITY

Ww
x 100
Wk

Wb = W k (1+ )
Wk =

Wb
( 1+ )

Dimana:
Wk = Berat tanah kering (g).

Ww = Berat air (g).

Wb = Berat tanah basah (g).

= Kadar air (%).

b. Menentukan penambahan volume air


V =

x - k
W
1+ k

Di mana:
V = Volume air (ml).

k = Kadar air awal (%).

W = Berat tanah (g).

c.

Mencari harga

wet

dry

wet

x = Kadar air akhir (%).


&

dry

W
V
Wk W

=
= dry
V
( 1+ ) Vt (1+)

Di mana:
W

= Berat tanah (g).

Vt

= Volume total (cm3).

Wk

= Berat tanah kering (g).

= Kadar air (%).

wet

= Kerapatan basah (g/cm3).

dry

Rapat

kering

(g/cm3).
d. Mencari Zero Air Void Line (ZAV line)
ZAV line adalah garis yang menggambarkan hubungan antara berat isi
kering dengan kadar air dalam kondisi derajat kejenuhan (Sr) 100%.
3

LABORATORIUM MEKANIKA TANAH


BINUS UNIVERSITY

SCHOOL OF ENGINEERING
JURUSAN TEKNIK SIPIL

KELOMPOK D / 03 PAS

OKT 2011

BINUS UNIVERSITY

dry =

Gs . w
1+( . Gs)/Sr

Di mana:

Gs = Specific Gravity tanah.


= Kadar air tanah (%).

Sr

dry

= Kerapatan kering (g/cm3).

= Derajat kejenuhan (=100%).

e. Menghitung Compactive Effort


C . E=

W . H. L.B
V

Dimana:
W = Berat hammer (2500 g).
H = Tinggi jatuh (30 cm).
L = Jumlah lapisan (3).
B = Jumlah pukulan per layer (x).
V = Volume tanah (1000 cm3).
7.2. PRAKTIKUM
7.2.1. Persiapan Percobaan
Menyiapkan 4 sampel tanah masing-masing 2 kg.
Mencari kadar air sampel tanah.
Mencampur sampel tanah dengan air hingga mencapai kadar air yang

dibutuhkan: 36%, 41%, 42%, dan 47%.


Memasukkan sampek tanah ke dalam kantong plastik dan dibiarkan
selama 18-24 jam agar campuran air merata.

7.2.2. Jalannya Percobaan


Menyiapkan mold.
Menimbang dan mengukur dimensi mold.
Memasukkan tanah dengan water content() 36% ke dalam mold, lalu
tingginya diukur sehingga setiap hasil pemadatan adalah 1/3 dari tinggi
mold (total lapisan sebanyak 3 lapis).
4

LABORATORIUM MEKANIKA TANAH


BINUS UNIVERSITY

SCHOOL OF ENGINEERING
JURUSAN TEKNIK SIPIL

KELOMPOK D / 03 PAS

OKT 2011

BINUS UNIVERSITY

Setiap lapisan ditumbuk 25 kali merata dengan hammer 5,5 lb dan tinggi

jatuh 12 inci.
Setelah pemadatan lapis ketiga selesai, collar dibuka. Kelebihan tanah

pada mold dibuang dengan pelat pemotong.


Tanah beserta mold ditimbang.
Mengeluarkan sampel tanah dengan bantuan extruder.
Mengambil bagian atas, tengah, dan bawah dari contoh tanah tersebut
untuk diperiksa kadar airnya. Dengan demikian akan didapat kadar air

rata-rata dari sampel tanah setelah dipadatkan.


Mengulang percobaan sebanyak 3 kali, dengan water content 41%,
42%, lalu 47%.

7.3. HASIL PRAKTIKUM


7.3.1. Data
Terlampir.
7.3.2. Perhitungan
Ukuran mold:

= 10,15 cm

Tinggi

= 11,63 cm

Berat

= 1740,6 g

Volume

= 941,03 cm3

a. Penentuan kadar air awal

W wet+can =655,8 g
W dry+can =612,2 g
Wcan =429,2 g
W w = W wet+can - W dry+can =655,8-612,2=43,6 g
W dry = W dry+can - W can =612,2-429,2=183 g
k =
5

W w 43,6
=
100%=23,8%
W dry 183
LABORATORIUM MEKANIKA TANAH
BINUS UNIVERSITY

SCHOOL OF ENGINEERING
JURUSAN TEKNIK SIPIL

KELOMPOK D / 03 PAS

OKT 2011

BINUS UNIVERSITY

b. Penambahan volume air

Berat tanah(W) = 2000 g


k= 23,8%
x= 36,00%
V=
V=

x k
W
1+ k

0,36-23,8
2000
1+0,238

V=197,09 ml

x= 41,00%
V=

0,41- 0,238
2000
1+0,238

V=277,86 ml

Tabel 7.2. Penambahan Air ke Sampel Tanah.


Sampel
1
2
3
4

k
23,8%

x
36%
41%
42%
47%

V(ml)
197,09
277,86

Penentuan kadar air setelah pemadatan :

V = 197,09 ml
Lapisan atas
=

Ww
( Wt. can+wet soil ) - ( Wt.can+dry soil )
100%=
100%
Ws
Wt.can+dry soil-Wt. of can

45,214-36,327
100%=32,37%
36,327-8,881

Lapisan tengah
=

54,26443,198
100%=32,71%
43,189,373

Lapisan bawah
=

33,49827,537
100%=32,63%
27,5379,269

Kadar air rata-rata

LABORATORIUM MEKANIKA TANAH


BINUS UNIVERSITY

SCHOOL OF ENGINEERING
JURUSAN TEKNIK SIPIL

KELOMPOK D / 03 PAS

OKT 2011

BINUS UNIVERSITY

avg. =

32,37%+32,71%+32,63%
=32,57%
3

Tabel 7.3. Kadar Air yang Terukur dari Sampel Tanah setelah kompaksi.
A
45,21

S1
T
54,26

B
33,49

A
46,19

Wt. can + wet soil(g)

4
36,32

4
43,19

8
27,53

Wt. can + dry soil(g)


Wt. of water(g)
Wt. of can(g)
Wt. of dry soil(g)
Water content(%)
Water content avg(%)

8,881

9,373

9,269

S3
T

Sampel no.

Sample no.

S2
T

4
36,49

49,010

58,785

38,179

45,246

8,964

8,858

9,406

S4
T

Wt. can + wet soil(g)


Wt. can + dry soil(g)
Wt. of water(g)
Wt. of can(g)
Wt. of dry soil(g)
Water content(%)
Water content avg(%)

c. Perhitungan Dry Density:

Volume Mold: 941,03 cm3

= 39,98%

wet

W t 3600
=
=1,70 g/ cm 3
V t 2122,34

dry

wet
1,70
=
=1,21 g/ cm3
1+ 1+0.3998

LABORATORIUM MEKANIKA TANAH


BINUS UNIVERSITY

SCHOOL OF ENGINEERING
JURUSAN TEKNIK SIPIL

KELOMPOK D / 03 PAS

OKT 2011

BINUS UNIVERSITY

Tabel 7.4. Perhitungan Berat Jenis Kering( dry ).


Density Determination
Assumed
34% 38% 42%
35,2
Water content(%)
Wt. of soil + mold
Wt. of mold
Wt. of soil in mold
wet (g/cm3)
dry (g/cm3)

33,53
6068
2775
3293
1,55
1,16

46%

9 39,98 44,34
6289 6375 6354
2775 2775 2775
3514 3600 3579
1,66 1,70 1,69
1,22 1,21 1,17

a. Penentuan ZAV Line:


Gs

= 2,65

dry

Sr = 100%

= 1 g/cm3
Gs w
1+( Gs)/ Sr

2,65 1
1+(33,53 2,65)/1

= 1,40

g/cm3
Tabel 7.5. Nilai ZAV-line.
(%)
34
38
42
46
1.50
1.45

dry

1.39

1,32
1,25
0,98

Dry density - Water content

1.40

Dry Density- Water Content Line

1.35

95% Tolerance

1.30
1.25

95% Tolerance
1.22

1.20

ZAV

1.15
1.10
1.05
1.00
25.00%

1.16

1.23

1.21
1.17

ZAV Line
Dry Density Max
Water content optimal
30.00%
35.00%
40.00%

45.00%

LABORATORIUM MEKANIKA TANAH


BINUS UNIVERSITY

SCHOOL OF ENGINEERING
JURUSAN TEKNIK SIPIL

KELOMPOK D / 03 PAS

OKT 2011

BINUS UNIVERSITY

Grafik 7.1. ZAV-Line dan Berat Jenis Kering Maksimum


b. Perhitungan Compactive Effort
SI:
W = 2,495 kg

= 0,3048 m

V = 2,12210-3 m3

= 3 lapis

B = 25 kali

= 9,8 m/s2

E =

2,495 9,8 0,3048 3 56


=590,03 kJ /m3
2,122 103

British:
W = 5,5 lbf

= 1 ft

V = 0,075 ft3

= 3 lapis

B = 25 kali
E =

5,5 1 3 56
=12.320 ft .lbf /ft 3
0,075

7.4. KESIMPULAN
7.4.1. Hasil Praktikum
Dari hasil percobaan didapat:
opt = 38,71%

max = 1,23 g/cm3

dry

Kadar air sampel tanah didapat dari rata-rata 3 lapisan tanah agar
didapat nilai kadar air yang mewakili sampel tanah secara keseluruhan

Karena:
a. Pencampuran tanah kurang merata.
b. Tumbukan hammer di setiap layer tidak benar-benar sama.
Data yang diperoleh tidak melewati ataupun menyinggung garis ZAV

Line, dikarenakan tidak semua udara keluar akibat proses penumbukan.


Energi tumbukan akibat Proctor Test adalah sebesar 590,03 kJ/m3.

7.4.2. Analisis Kesalahan


Terdapat perbedaan antara kadar air yang diasumsikan dengan kadar air
yang terukur. Hal ini bisa disebabkan:

Adanya air yang menguap selama proses percobaan setelah penambahan


LABORATORIUM MEKANIKA TANAH
BINUS UNIVERSITY

SCHOOL OF ENGINEERING
JURUSAN TEKNIK SIPIL

KELOMPOK D / 03 PAS

OKT 2011

BINUS UNIVERSITY

air.
Masuknya air dari udara sesaat setelah tanah dikeluarkan dari oven.
Saat pencampuran air kurang merata.

7.5. FOTO FOTO ALAT DAN BAHAN

10

LABORATORIUM MEKANIKA TANAH


BINUS UNIVERSITY

SCHOOL OF ENGINEERING
JURUSAN TEKNIK SIPIL

KELOMPOK D / 03 PAS

OKT 2011

BINUS UNIVERSITY

7.6. REFERENSI
Holtz, Rober D. and Kovacs, William D. 1981. An Introduction to Geotechnical

11

Engineering. London:Prentice-Hall.
Punmia, B.C. 1981. Soil Mechanics and Foundation. Delhie:Standard Book

House.
Wesley, L.D. 1977. Mekanika Tanah. Badan Penerbit Pekerjaan Umum.

LABORATORIUM MEKANIKA TANAH


BINUS UNIVERSITY