Anda di halaman 1dari 23

Modul Psikodiagnostik I

Pertemuan III
TES INTELEGENSI

A. Pengertian Intelegensi
Intelegensi berasal dari bahasa Latin kuno, Intelligence yang digunakan
untuk menunjukkan adanya perbedaan individual dalam hal kemampuan atau
kecakapan mental (mental ability). Kecerdasan (intelegensi) merupakan istilah
yang hampir tidak dikenal pada percakapan sehari-hari seabad lalu. Selama
setengah terakhir abad ke-19, para cendekiawan dan ilmuwan tertarik pada teori
Charles Darwin bahwa perbedaan spesies terjadi karena seleksi alam. Dua dari
mereka, filosof Herbert Spencer dan keponakan Darwin, Francis Galton, tertarik
pada perbedaan intraspesies dalam hal karakteristik mental dan perilaku.Orangorang ini dan pengikutnya mengatakan bahwa dalam diri manusia terdapat
tingkat kemampuan mental umum (general intelligence) bawaan-lahir yang
mereka katakan sebagai kecerdasan.
Tidak seperti Spencer, Galton tidak hanya berspekulasi dan berpendapat
tentang sifat alami kecerdasan. Ia berusaha menunjukkan sifat-sifat keturunan
kecerdasan dengan mempelajari pohon keluarga dan mnegadakan berbagai tes
diskriminasi sensori dan waktu reaksi untuk mengukur komponennya. Tes
sensorimotor ini dan yang lainnya (tes kecepatan gerakan, kekuatan otot,
kepekaan otot, kepekaan rasa sakit, perbedaan berat badan, dan lain-lain)
dipelajari secara ekstensif oleh psikolog Amerika, J.McKeen Cattell. Sayangnya,
tes ini terbukti relatif tidak bermanfaat sebagai prediktor pencapaian pada tugas
sekolah dan tugas lain yang barangkali membutuhkan kecerdasan.
Perbedaan

mencolok

dari

prosedur

analitis

mencoba

mengukur

komponen kecerdasan ini adalah pendekatan yang dilakukan oleh Psikolog


Perancis, Alfred Binet. Ia mengatakan bahwa kecerdasan dimanifestasikan ke
kinerja pada berbagai tugas, dan bahwa kecerdasan ini dapat diukur dengan
melihat respons terhadap sampel berbagai tugas.
Pada tahun 1905, Binet dan rekannya Theodore Simon, menerbitkan satu
set tes kecerdasan, 30 tes pendek yang disusun berurutan dari yan termudah ke
tersulit. Pekerjaan penelitian lainnya mengarah pada publikasi pada 1908
tentang skala revisi Binet-Simon yang terdiri dari 58 tugas yang disusun untuk
level usia 3-13 tahun. Tugas dikelompokkan berdasar usia kronologis menurut
penelitian yang menunjukkan apa yang dapat dikerjakan anak normal pada usia

12

Psikodiagnostik 1
Rizky Putri Asridha Sriemadingin,
M.Ps

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Modul Psikodiagnostik I
Pertemuan III
tertentu. Usia mental (mental age, MA) anak ditentukan dengan sejumlah subtes
yang dilakukan pada setiap level, dan usia mental yang sangat rendah
dibandingkan dengan usia kronologis anak dianggap merupakan indikasi
keterbelakangan mental. Revisi terakhir skala ini diterbitkan pada 1911, tetapi
setelah kematian Binet selama tahun yang sama, tempat perkembangan tes
kecerdasan berikutnya bergeser ke Amerika Serikat dan Inggris.
Soetarlinah Sukadji (1998) menjelaskan bahwa tes yang sampai kini
paling banyak oleh psikolog sekolah, konselor maupun psikolog klinis, yaitu
Skala-Skala Wechsler yang menyarankan tes intelegensi yang sarat dengan
faktor g (general), yaitu faktor umum yang mewakili berbagai tes intelegensi.
David Wechsler mendefinisikan intelegensi sebagai kapasitas terpadu atau
global yang dimiliki individu untuk bertindak dengan tujuan, berpikir secara
rasional, dan berinteraksi dengan lingkungan secara efektif. Dapat dikatakan
bahwa Intelegensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses
berpikir secara rasional. Oleh karena itu, Intelegensi tidak dapat diamati secara
langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang
merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional.
Sedangkan Marnat (1984) mengutip pendapat beberapa orang ahli
tentang istilah Intelegensi sebagai berikut:

Stoddard, mengemukakan bahwa Intelegensi merupakan kemampuan untuk


melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat sukar, rumit/kompleks, abstrak,
efisien, beradaptasi untuk mencapai tujuan, mempunyai nilai sosial, orisinal.
Dan berusaha mempertahankan kegiatan-kegiatan tersebut pada situasisituasi yang membutuhkan konsentrasi, energi, serta bersifat resisten
terhadap emosi.

Freeman, Intelegensi merupakan kemampuan adaptasi individu terhadap


lingkungan secara keseluruhan ataupun aspek lingkungan yang terbatas,
kemampuan mengorganisasikan pola tingkahlaku agar dapat bertindak lebih
efektif pada situasi baru, sejauh mana seseorang dapat di didik, kemampuan
untuk belajar, berpikir abstrak, penggunaan konsep dan simbol secara efektif
dalam rangka memecahkan problema.
Gregory (1996) mencoba menghimpun beberapa definisi yang telah

dikemukakan oleh para ahli sebagai berikut:

12

Psikodiagnostik 1
Rizky Putri Asridha Sriemadingin,
M.Ps

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Modul Psikodiagnostik I
Pertemuan III

Spearman (1904), Intelegensi merupakan suatu kemampuan umum individu


yang melibatkan sebagian besar pendidikan yang dimilikinya dimana terkait
satu dengan yang lainnya.

Binet dan Simon (1905), Intelegensi adalah kemampuan untuk menilai,


mengerti, dan menalar dengan baik.

Terman (1916), Intelegensi merupakan kapasitas untuk membentuk konsepkonsep dan memahami artinya

Thorndike (1921), Intelegensi merupakan suatu kekuatan respon-respon


individu yang dianggap baik dari sudut pandang yang benar dan nyata.

Humphreys (1971), Intelegensi adalah semua keterampilan yang diperoleh,


pengetahuan dan kecenderungan pertimbangan intelektual sebagai sifat
dasar yang dimiliki seseorang dalam periode waktu tertentu
Beberapa definisi telah dikemukakan oleh para ahli tetapi tampaknya

belum ada definisi yang dianggap lengkap dan dapat diterima secara pasti.
Namun demikian dari berbagai perbedaan sudut pandang tersebut, ada dua
tema yang selalu muncul dalam definisi tersebut, di mana para ahli cenderung
sepakat menyatakan bahwa Intelegensi merupakan (1) kapasitas untuk belajar
dari pengalaman, (2) kapasitas seseorang untuk beradaptasi terhadap
lingkungan.
Sternberg (dalam Gregory, 1996) memberikan gambaran faktor-faktor dan
item-item yang mendasari konsep tentang Intelegensi menurut para ahli dan
orang awam, ditunjukkan dalam tabel berikut:
Orang awam (laypersons)
Practical Problem-Solving Ability
Berpikir secara logis dan baik

Mengidentifikasi saling hubungan di


antara berbagai gagasan
Melihat seluruh aspek suatu
permasalahan
Berpikir terbuka

Verbal Ability
Berbicara dengan jelas

Apakah secara lisan lancar


Sebaliknya baik

12

Psikodiagnostik 1
Rizky Putri Asridha Sriemadingin,
M.Ps

Para ahli (experts)


Verbal Intelligence
Menunjukkan perbendaharaan kata
yang baik
Membaca dengan tingkat
pemahaman yang tinggi
Menunjukkan rasa ingin tahu

Apakah dengan beralasan ingin


tahu
Problem-Solving Ability
Dapat menggunakan pengetahuan
untuk memecahkan permasalahan
Membuat keputusan dengan baik
Memproses permasalahan secara
optimal

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Modul Psikodiagnostik I
Pertemuan III

Apakah menguasai bidang


pengetahuan tertentu
Social Competence
Menerima orang lain seperti apa
adanya
Mengakui kesalahan

Menunjukkan minat dalam lingkup


pergaulan yang lebih luas
Apakah menepati waktu bila buat
janji

Menunjukkan akal sehat

Practical Intelligence
Menciptakan situasi yang kondusif

Menentukan bagaimana mencapai


tujuan
Menunjukkan kepedulian/ kesadara
terhadap dunia
Menunjukkan minat yang lebih luas
terhadap dunia

Maka dapat disimpulkan bahwa di dalam Intelegensi terdapat hal-hal


berikut ini:

Berpikir abstrak.

Belajar dari pengalaman.

Memecahkan persoalan lewat insight.

Penyesuaian terhadap situasi-situasi baru.

Memusatkan dan mempertahankan kemampuan untuk mencapai tujuan.


Keuntungan di dalam tes Intelegensi, antara lain:

Dapat meramalkan prestasi belajar dalam jangka pendek.

Memberikan suatu cara untuk menegtahui kekuatan dan kelemahan individu.

Mengungkap variabel penting dari kepribadian.

Memungkinkan para peneliti, pendidik dan praktisi klinis melacak perubahanperubahan yang mungkin terjadi pada individu.
Kelemahan tes Intelegensi, antara lain:

Adanya keterbatasan dalam meramalkan keberhasilan karier pekerjaan.

Keterbatasan kemampuan untuk meramalkan keterampilan non-akademis


(seperti krativitas, tingkat motivasi, ketajaman pemahaman atau penilaian
sosial, dan hubungan interpersonal).

Bukan mengukur kemampuan innate dan menetap, sering tidak valid untuk
digunakan pada kelompok minoritas.

Penekanan terlalu banyak pada hasil akhir kerja fungsi kognitif, cenderung
mengabaikan prose yang berlangsung di dalamnya.

Tidak bebas budaya (beberapa tes Intelegensi tertentu)

12

Psikodiagnostik 1
Rizky Putri Asridha Sriemadingin,
M.Ps

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Modul Psikodiagnostik I
Pertemuan III

B. Faktor faktor yang mempengaruhi Intelegensi


a. Faktor bawaan atau keturunan
Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga
sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat
tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka
berkorelasi sekitar 0,40 - 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya
0,10 - 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar
yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi,
walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal.
b. Faktor lingkungan
Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir,
ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti.
Intelegensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat
dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang
bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat
penting.
C.Pendekatan Teoritis mengenai Intelegensi
Maloney & Ward sebagaimana dikutip oleh Marnat (1984) mengajukan
empat jenis pendekatan bila ingin memahami sifat-sifat Intelegensi. Yaitu
pendekatan teor belajar, neurobiologis/ neuro-sosiologis, teori psikometri, teori
perkembangan, dan teori pemrosesan informasi.
1. Pendekatan Teori Belajar
Individu memperoleh pengalaman baru, dan tingkah laku Intelegensia
merupakan suatu perilaku di mana proses belajar terjadi (pada tingkat fungsional
yang tingi) dan merupakan respon individu terhadap situasi eksternal. Dalam
kondisi kelahiran yang normal, semua orang mempunyai potensi belajar yang
sama, perbedaan terletak pada pengalaman-pengalaman belajar. Ahli teori ini
menyatakan bahwa Intelegensi bukanlah traits, tetapi merupakan kualitas belajar
pada masa sebelumnya.
2. Pendekatan Neurobiologis
Halstead mengemukakan teori Intelegensi biologis, dimana ia percaya
bahwa ada sejumlah fungsi otak yang berhubungan dengan Intelegensi, yang

12

Psikodiagnostik 1
Rizky Putri Asridha Sriemadingin,
M.Ps

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Modul Psikodiagnostik I
Pertemuan III
relatif tidak tergantung pada pertimbangan budaya. Fungsi-fungsi otak tersebut
didasarkan pada fungsi biologis dan ada pada setiap individu. Lebih lanjut
menurut Helstead ada empat faktor di dalam fungsi-fungsi tersebut:
1. The central integrative (C), merupakan kemampuan seseorang utuk
mengorganisasikan

pengalaman-pengalamannya;

fungsi

utamanya

dimaksudkan untuk melakukan adaptasi.


2. The abstraction (A), merupakan faktor yang berkaitan dengan kemampuan
untuk menggolongkan segala sesuatu dalam bernagai kategori, dan untuk
mengenal persamaan serta perbedaan di antara obyek-obyek yang lain, juga
berkenaan dengan konsep-konsep dan peristiwa.
3. The power (P), faktor ini berkenaan dengan kekuatan serebral/ otak,
termasuk kemampuan menahan afeksi sehingga rationalitas dan intelektual
tumbuh dan berkembang.
4. The directional (D), merupakan faktor yang memberi arah bagi kemampuankemampuan individu, menentukan bagaimana cara intelek dan perilaku
diekspresikan.
Dua kontributor lainya untuk pendekatan biologis ini adalah Cattel dan
Hebb (1972). Cattel mengemukakan bahwa terdapat dua jenis Intelegensi, yaitu
Fluid Intelligence (Gf) dan Crystallized Intelligence (Cc)
Gf berkenaan dengan:

Kemampuan

mengekspresikan

hubungan

kesamaan

dan

paralelitas/

kesejajaran

Tergantung dari efisiensi otak dan peka terhadap pengaruh kerusakan otak

Terutama bersifat non-verbal culture free

Dapat diukur dengan tes-tes matriks, misalnya lewat tes SPM (Standard
Progressive Matrices)

Gf ini berkembang meningkat sampai usia 14 tahun, mendatar sampai usia


20 tahun dan bergerak menurun secara gradual di usia 20 tahun

Ditentukan secara biologis

Cc berkenaan dengan:

Jumlah pengetahuan akumulatif

Relatif permanen

Umumnya kurang terpengaruh oleh kerusakan otak

12

Psikodiagnostik 1
Rizky Putri Asridha Sriemadingin,
M.Ps

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Modul Psikodiagnostik I
Pertemuan III

Intelegensi ini berkembang dari interaksi antara fluid bawaan individu dan
faktor lingkungan seperti budaya dan pendidikan

Tumbuh dan berkembang sampai usia 40 tahun, setelah itu mulai menurun
secara perlahan

Diukur melalui keterampilan dan pengetahuan yang di dapatkan seperti


vocabulary dan general information
Hebb menyebut fluid intelligence sebagai Intelegensi A, dan crystallized

intelligence dengan Intelegensi B. Adapun beda pendapat antara kedua tokoh


terakhir ini terletak pada, bila Cattel beranggapan bahwa fluid intelligence dapat
diukur, sementara Hebb beranggapan Intelegensi A tidak dapat diukur.
Pendekatan biologis ini memiliki beberapa kelemahan metodologi dan
teoritis, antara lain:

Sampai saat ini belum ditemukan dasar yang berhubungan jelas dengan
Intelegensi

Sukar sekali memisahkan hasil belajar dan budaya dari struktur biologis yang
di duga mempengaruhinya.

3. Pendekatan Psikometris (Psychometric Approaches)


Pendekatan iniberasumsi bahwa Intelegensi adalah sesuatu konstruk
atau traits, dimana dapat ditemukan perbedaan individual. Pada mulanya para
ahli psikometri tidak banyak mengenal atau berhubungan dengan sifat dasar
Intelegensi. Umumnya setelah mereka menyusun tes Intelegensi baru kemudian
ditetapkan konstruk/ konsep yang diukur. Kelemahan pendekatan psikometri:

Terkonsentrasi pada nilai kuantitatif

Ada jarak antara teori dan tes Intelegensi

Bagus untuk memprediksi academic performance (keberhasilan dalam


proses belajar) tetapi tidak mengukur Intelegensi

4. Pendekatan Teori Perkembangan (Developmental Theory)


Piaget sebagai salah seorang tokoh pendekatan ini mengemukakan
bahwa Intelegensi merupakan bentuk khusus adaptasi biologis antara individu
dengan

lingkungan.

Melibatkan

interaksi

dimana

individu

mencocokkan

kebutuhannya dengan tuntutan lingkungan.

Perkembangan individu lebih lanjut menunjukkan adanya proses reorganisasi


struktur psikologis secara terus menerus untuk mampu dengan efektif
menghadapi lingkungan

12

Psikodiagnostik 1
Rizky Putri Asridha Sriemadingin,
M.Ps

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Modul Psikodiagnostik I
Pertemuan III

Proses reorganisasi tersebut terjadi melalui proses asimilasi dan akomodasi


Asimilasi: suatu pemikiran di mana seseorang mempersatukan
masukan (input) dari lingkungannya ke dalam beberapa jenis struktur
organisasi internal merupakan proses aktif di balik proses
penyesuaian diri dengan lingkungan. Asimilasi juga mempunyai
tingkat

ketergantungan

dengan

lingkungan

yang

mana

mempertimbangkan pertumbuhan dan perkembangan dari Struktur


kognitif internal.
Akomodasi: merupakan proses yang diarahkan ke luar, dalam usaha
individu untuk menyesuaikan diri merubah struktur kognitif dalam
berhubungan

dengan

tuntutan

lingkungan.

Oleh

karena

itu

perubahan atau akomodasi konstruksi mental harus mempunyai


hubungan langsung dengan dunia nyata.

Piaget menekankan bahwa kedua proses tersebut (asimilasi dan akomodasi)


terjadi serentak dan tidak tergantung usia, tetapi juga ada perbedaanperbedaan dalam kelompok usia tertentu.

Menurut Piaget, ada empat (4) tahap utama perkembangan kognitif, yaitu:
Periode sensorimotor (lahir-2 tahun), perkembangan dimulai dari
gerakan reflek sederhana sampai terlihat tanda-tanda terbentuknya
konstruk/ konsep internal atau simbolis
Periode pre-operasional (2 tahun-7 tahun), anak mengembangkan
bahasa dan konstruk simbolis dasar. Mulai dapat berpikir secara
internal, dapat membedakan masa lalu, kini dan akan datang, dapat
menemukan obyek yang disembunyikan dan dapat membuat imitasi
walaupun pada saat yang tertunda.
Periode operasional-kongkrit (7 tahun-11 tahun), anak mendapat
keterampilan menyimpan konsep dan idea. Anak mampu menjumlah,
mengurangkan, menggolongkan dan mengurutkan. Egosentrisitas
mulai berkurang dan lebih sosiabel.
Periode operasional-formal (11 tahun-ke atas), kemampuan berpikir
seperti layaknya orag dewasa, anak dapat berpikir abstrak, membuat
hipotesa dan mengujinya, menggunakan penalaran deduktif dan
menimbang-nimbang hasilnya.

Piaget membuat suatu kesimpulan umum tentang kemampuan kognitif:

12

Psikodiagnostik 1
Rizky Putri Asridha Sriemadingin,
M.Ps

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Modul Psikodiagnostik I
Pertemuan III
Pertumbuhan mental mengikuti pola-pola tertentu dan bersifat nonrandom.
Terdapat perbedaan kualitatif dalam cara berpikir pada anak yang
lebih muda dibandingkan dengan anak yang lebih tua.
Terdapat perkembangan pada struktur dan keampuan kognitif yang
berhubungan dengan perkembangan individu.
Pertumbuhan mental sempurna atau berakhir di masa remaja akhir.
5. Pendekatan Teori Pemrosesan Informasi
Teori atau model pemrosesan informasi untuk penyelesaian masalah dan
penalaran berkaitan dengan pengidentifikasian proses atau operasi kognitif pada
otak yang menangani informasi. Sternberg (1986,1994) mengemukakan triarchic
theory yang meliputi tiga kategori: subteori komponensial, subteori eksperiential,
dan subteori kontekstual.

Subteori komponensial terdiri dari: metakomponen, komponen kinerja, dan


komponen penguasaan pengetahuan (knowledge-acquisition component)

Subteori eksperiential berkaitan dengan: kemampuan merumuskan ide baru


dengan mengkombinasikan faktor atau informasi yang tampaknya tidak
berkaitan

Subteori kontekstual berkaitan dengan: kemampuan beradaptasi dengan


perubahan kondisi lingkungan dan membentuk lingkungan dengan cara
tertentu

yang

dengannya

kekuatan

seseorang

dimaksimalkan

dan

kelemahannya dikompensasikan.
Lebih lanjut Sternberg (1988) mengemukakan konsep swa-kelola mental
(mental self-government), yang merupakan upaya mengkombinasikan konsep
kecerdasan dengan konsep kepribadian. Arti penting ciri tiga jenis kecerdasan
yang digambarkan dalam triarchic theory-komponensial, eksperiential, dan
kontekstual-yang

digunakan

dalam

menyelesaikan

masalah

sehari-hari

digolongkan sebagai gaya intelektual (intelectual style). Efektivitas gaya


intelektual tertentu tergantung pada seberapa jauh gaya itu sesuai dengan
kemampuan intelektual seseorang, gaya yang disukainya dan masalah yang
harus segera diatasi.
Menurut teori kecerdasan ganda Howard Gardner, kesadaran dan
pemrosesan informasi manusia melibatkan penyebaran berbagai sistem simbol
yang merupakan bentuk karakteristik persepsi, memori, dan pembelajaran.
Howard Gardner mengemukakan bahwa ada tujuh bentuk kecerdasan: linguistik,

12

Psikodiagnostik 1
Rizky Putri Asridha Sriemadingin,
M.Ps

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Modul Psikodiagnostik I
Pertemuan III
logika-matematika, ruang (spatial), musik, kinestetik tubuh, dan dua bentuk
kecerdasan pribadi, yaitu intrapersonal (dalam-pribadi) dan interpersonal (antarpribadi). Howard Gardner berpendapat bahwa hanya tiga bentuk pertama diukur
dengan tes kecerdasan konvensional dan bahwa budaya barat sangat
menekankan dua bentuk yang pertama. Akan tetapi Howard Gardner melihat
bahwa bentuk lain kecerdasan lebih dinilai di banyak masyarakat dan keadaan.
Ia baru-baru ini mengemukakan bentuk kecerdasan berorientasi alam dan
kecerdasan eksistensial.
D. Aplikasi Pengetesan Intelegensi
Berkebalikan dengan lebih banyak definisi teoritis, definisi operasional
mengenai Intelegensi atau kecerdasan berfokus pada pengukuran dan aplikasi
yang berkaitan. Definisi semacam itu yang paling operasional disarankan oleh
Boring (1923), yang mengemukakan agar mendefinisikan Intelegensi atau
kecerdasan sebagai apa pun yang diukur dengan tes kecerdasan. Apapun yang
diukur oleh tes kecerdasan, tes ini telah digunakan untuk sejumlah tujuan praktis,
yang mencakup berikut ini:
1. Diagnosis keberadaan dan sifat kerusakan otak; mengevaluasi kemampuan
mental rendah dan tinggi, serta tugas bagi anak-anak terbelakang mental dan
anak-anak berbakat menyangkut program atau kelas khusus.
2. Penyeleksian (penyaringan), penempatan, dan klasifikasi siswa di institusi
pendidikan menengah, karyawan, di organisasi bisnis dan industri, personalia
di departemen militer dan pemerintahan.
3. Ketentuan dan diagnosis kecatatan berkaitan dengan kecelakaan pekerjaan
untuk tuntutan asuransi.
4. Konseling dan rehabilitas kejuruan (vokasional) dan pendidikan.
5. Psikodiagnosis anak dan orang dewasa dalam konteks klinis atau psikiatri.
6. Evaluasi efektivitas perawatan psikologi dan intervensi lingkungan.
7. Penelitian di bidang kemampuan kognitif dan kepribadian.
E. Tes Individu dan Kelompok
Format tes Intelegensi umum tidak identik. Pada beberapa tes, item pada
jenis berbeda dicampur atau digantikan, yang semakin meningkat kesulitannya
sepanjang tes. Item pada tes kecerdasan lain dikelompokkan sebagai kumpulan
subtes yang dipisah-pisah menurut waktu.

12

10

Psikodiagnostik 1
Rizky Putri Asridha Sriemadingin,
M.Ps

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Modul Psikodiagnostik I
Pertemuan III
Cara paling umum pengelompokan tes Intelegensi adalah dengan
dikotomi individu versus kelompok. Tes Intelegensi individu, yang dikelola untuk
satu orang pada satu waktu, memiliki fokus agak berbeda daripada tes
Intelegensi kelompok, yang dapat dilakukan untuk banyak orang secara
serempak. Penekanan tes individual adalah untuk memahami kekuatan dan
kelemahan kognitif seseorang. Lalu informasi ini digunakan untuk membantu
pengambilan keputusan. Bidang keputusan ini meliputi penempatan akademis,
kompetensi untuk membuat keputusan hukum, penyusunan perencanaan
perawatan optimal, atau kemampuan melakukan pekerjaan yang kompleks.
Sebaliknya, fokus tes kelompok cenderung lebih sempit untuk membuat
prediksi kinerja akademis atau kerja. Penyelenggaraan tes Intelegensi individu
biasanya lebih banyak membutuhkan waktu daripada penyelenggaraan tes
kelompok. Keunggulan tes individu adalah bahwa para penguji dapat
memberikan lebih banyak perhatian pada para peserta tes. Perhatian ini meliputi
tingkat kegugupan, ras percaya diri, strategi penyelesaian masalah, tingkat
frustasi, ganguan, dan motivasi peserta tes. Selain itu, kinerja dapat di dukung
dan dihargai secara lebih efektif. Skor tes individu tidak tergantung pada
kemampuan membaca sebesar pada skor tes kelompok.
Semakin besarnya penghematan dalam mengelola tes kelompok pada
situasi tertentu, maka berakibat pada semakin banyak tes kelompok daripada tes
individu. Meskipun anjuran tes individu kadangkala dipertimbangkan, tes
Intelegensi kelompok tertentu bahkan memiliki koefisien validitas lebih tinggi
daripada tes individu.
Tes Intelegensi tertentu lebih sering digunakan untuk penyaringan awal
pada situasi pendidikan dan kerja, diikuti dengan pengetesan individu jika
peserta tes membuat skor rendah pada tes kelompok dan atau jika lebih banyak
informasi kekuatan dan kelemahan kognitif diperlukan. Tes Intelegensi kelompok
juga sering digunakan di klinik, rumah sakit, industri, tempat diagnosis klinis
dilakukan. Di tempat ini, tes semacam itu berfungsi tidak hanya sebagai ukuran
kemampuan mental umum, tetapi juga sebagai sarana memperoleh wawasan
mengenai berfungsinya kepribadian dan kemampuan kognitif khusus.
Intelegensi dengan IQ, mempunyai perbedaan arti yang sangat
mendasar. Arti Intelegensi sudah dijelaskan di pada bahasan sebelumnya,
sedangkan IQ atau singkatan dari Intelligence Quotient, adalah skor yang
diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian, IQ hanya

12

11

Psikodiagnostik 1
Rizky Putri Asridha Sriemadingin,
M.Ps

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Modul Psikodiagnostik I
Pertemuan III
memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak
menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.
Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental
atau MA (Mental Age) dengan umur kronologik atau CA (Chronological Age).
Bila kemampuan individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang
disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan
kemampuan yang seharusnya ada pada individu seumur dia pada saat itu (umur
kronologis), maka akan diperoleh skor 1. Skor ini kemudian dikalikan 100 dan
dipakai sebagai dasar perhitungan IQ. Tetapi kemudian timbul masalah karena
setelah otak mencapai kemasakan, tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan
pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan. Dalam simbol, rasio IQ
dihitung sebagai berikut:
1. Tes Intelegensi Individu
Tes yang berasal dari kerja penelitian Lewis Terman dan David Wechsler
telah menjadi ukuran Intelegensi paling populer yang diadakan secara individu.
Selama

bertahun-tahun,

tes

ini

telah

digunakan

untuk

mengevaluasi

kemampuan intelektual anak-anak dan orang dewasa di banyak negara dan


konteks yang berbeda. Tes individu lainnya, beberapa tes menyajikan variasi
atau perluasan tes yang berasal dari Terman dan Wechsler, dirancang secara
khusus untuk menilai kemampuan mental anak-anak kecil dan orang dewasa
yang cacat bahasa atau fisik.
Jenis-jenis Tes Intelegensi Individu
a. Stanford-Binet Intelligence Scale (Tes Binet)
Berupa sebuah kotak berisi bermacam benda mainan yang disajikan
pada anak-anak, mulai usia 2-23 tahun. Secara terperinci, isi masing-masing
subtes dalam skala verbal adalah sebagai berikut :

Informasi (mengenai pengetahuan umum)

Rentang angka (terdiri dari 3 sampai 9 angka yang disebutkan kemudian


diulangi testi)

Kosa kata (berisi 40 kata yang harus didefinisikan)

Hitungan

Pemahaman (berisisi pemahaman umum tentang suatu hal yang harus


dilakukan testi dalam situasi tertentu)

12

12

Psikodiagnostik 1
Rizky Putri Asridha Sriemadingin,
M.Ps

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Modul Psikodiagnostik I
Pertemuan III

Kesamaan (persamaan 2 macam benda)

Untuk skala performance, terdiri dari sub tes:


Kelengkapan gambar susunan gambar
Rancangan balok
Perakitan objek
Simbol angka

Seri Binet banyak mendapat kritik, karena:

Terlalu menekankan pada tes verbal dan memori

Tes g terlalu sedikit

Hanya ada 1 skor (IQ) untuk menunjukkan kompleksitas fungsi kognitif

Tidak dapat mengukur kemampuan kreatif

Tidak cocok untuk orang dewasa

Seri Binet juga memiliki kelebihan, yaitu :

Dibuat berdasarkan teori kecerdasan modern

Mengukur beragam area kecerdasan

Dapat diaplikasikan pada rentang usia yang luas, yaitu usia 2 tahun ke
atas

Reliabilitas dan validitas kuat

Dapat mengukur kemampuan seseorang sampai titik tertinggi dapat


digunakan untuk membedakan anak gifted

Mengukur Short Term Memory secara eksplisit

b. Skala Wechsler
34 tahun setelah diterbitkannya tes Intelegensi yang pertama oleh
Binet-Simon atau 2 tahun setelah munculnya revisi Stanford-Binet, David
Wechsler memperkenalkan versi 1 tes Intelegensi yang dirancang khusus
untuk digunakan orang dewasa. Tes tersebut terbit pada tahun 1939 dan
dinamai Wechsler-Bellevue Intelegent Scale (WBIS), disebut juga skala W-B.
Alasan Wechsler mengembangkan Skala W-B adalah kenyataan bahwa tes
Intelegensi yang digunakan untuk orang dewasa saat itu hanya merupakan
perluasan dari tes Intelegensi untuk anak-anak- dengan menambahkan soal

12

13

Psikodiagnostik 1
Rizky Putri Asridha Sriemadingin,
M.Ps

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Modul Psikodiagnostik I
Pertemuan III
yang sejenis yang lebih sukar. Isi tes yang seperti itu, menurut Wechsler
seringkali tidak menarik minat dan perhatian orang dewasa.
Pada tahun 1949 wechsler menerbitkan skala Intelegensi untuk digunakan
pada anak-anak. Tes tersebut mencakup Wechsler Preschool and Primary
Scale of Intelligence III (WPPSI III) untuk mengetes anak-anak berusia 4
sampai 6 tahun; Wechsler Intelligence Scale for Children-IV Integrated
(WISC-IV Integrated) untuk anak-anak dan para remaja berusia 6 sampai 16
tahun; dan Wechsler Adult Intelligence Scale Revised (WAIS-III) untuk usia
16-64 tahun.
Selain secara keseluruhan, skala Wechsler juga menghasilkan IQ verbal dan
IQ kinerja (berdasarkan soal-soal yang tidak membutuhkan respons verbal).
Soal IQ verbal di dasarkan pada 6 subskala kinerja. Skala tersebut
memungkinkan penguji dapat dengan cepat melihat pola kekuatan dan
kelemahan dalam area Intelegensi siswa yang berbeda-beda. Tes seri
Weschler terbagi ke dalam:

Tes verbal :
Information (informasi)
Comprehension (komprehensif)
Digit span (deret angka)
Arithmetic (aritmatika)
Similarities (kesamaan)
Vocabulary (perbendaharaan kata)

Tes performance:
Picture arrangement (menyusun gambar)
Picture completion (melengkapi gambar)
Block design (desain balok)
Object assembly (merakit obyek)
Digit symbol (deret simbol)
Maze (WBIS tidak ada)

Cara menghitung IQ:


Raw score verbal norma verbal scale
Raw score performance norma performance scale
Verbal scale + performance scale full scale
Lihat norma IQ verbal, IQ performance

12

14

Psikodiagnostik 1
Rizky Putri Asridha Sriemadingin,
M.Ps

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Modul Psikodiagnostik I
Pertemuan III
Full scale IQ
c. The Kaufman Assessment Battery for Children (K-ABC)
Kumpulan Soal Pemeriksaan Anak dari Kaufman atau Kaufman
Assessment Battery for Children (K-ABC) dirancang oleh Alan S. Kaufman
dan Nadeen L. Kaufman untuk memeriksa anak usia 2,5-12,5 tahun dalam
ememcahkan masalah yang mengharuskan pemrosesan mental secara
serempak dan berurutan. Skala K-ABC juga meliputi Achievement scale
(Skala pencapaian), untuk mengukur keterampilan yang diharapkan dalam
membaca dan aritmatika.Berdasarkan penelitian pada neuropskologi dan
psikologi kognitif, skala ini dirancang khusus bagi anak prasekolah, minoritas,
dan luar biasa. Skor dalam skala K-ABC diperoleh dalam empat bidang,
meliputi:

Sequential processing scale; mengungkap kemampuan memecahkan


masalah secara bertahap/seri.

Simultaneous

processing

scale;

mengungkap

kemampuan

dalam

memecahkan masalah dengan cara mengorganisasikan dan memadukan


banyak stimulus dalam waktu yang sama.

Mental processing composite (sequential plus simultaneous)

Achievement

d. Tes Kemampuan Kognisi Woodcock-Johnson


Woodcock-Johnson III (WJ-III) dibuat dari dua kumpulan soal conormed untuk mengukur kemampuan intelektual umum, kemampuan kognisi
khusus, dan pencapaian akademi. Salah satu kumpulan soal, Tes
Kemampuan kognisi Cattell-Horn-Caroll (CHC). Pada gilirannya, kumpulan
soal ini terdiri dari Kumpulan Soal Standar 10 tes (Standard Battery of 10
test) dan Kumpulan Soal Tambahan 10 tes tambahan (Extended Battery 10 of
additional test). Tes tersebut memiliki kisaran tingkat usia yang luas (2 hingga
10 tahun, taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi) dan waktu
pengetesan yang relative singkat (sekitar 5 menit per tes).
Skor pada tes ini diperoleh dari enam kelompok ditentukan dengan Standard
Battery, yaitu:

Verbal Ability-Standard

Thinking Ability-Standard

12

15

Psikodiagnostik 1
Rizky Putri Asridha Sriemadingin,
M.Ps

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Modul Psikodiagnostik I
Pertemuan III

Cognitive Efficiency-Standard

Kesadaran terhadap fonem atau Phonemic Awareness

Ingatan kerja atau Working memory

Ingatan tertunda atau Delayed recall

Skor pada pada 14 kelompok tambahan ini diperoleh ketika Extended battery
digunakan. Disamping skor pada kelompok terpisah ini, skor Kemampuan
Intelektual

Umum

(General

Intellectual

Ability=GIA)

dihitung

dengan

mengombinasikan skor pada tujuh tes pertama atau skor GIA dengan
mengadakan 14 tes kognisi. Skor Kemampuan Intelektual Singkat (Brief
Intellectaul Ability=BIA) dihitung dengan mengombinasikan skor pada tes
Verbal Comprehension, Concept Formation, dan Visual Matching. Skor juga
dapat ditentukan berdasarkan pada tujuh faktor CHC luas: Comprehensionknowledge (Gc), Long-term retrieval (Glr), Visual-Spatial Thinking (Gv),
Auditory Processing (Ga), Fluid reasoning (Gf), Processing speed (Gs), dan
Short-term memory (Gsm).
e. Tes Kemampuan Non-verbal Individu
Pemeriksaan

psikometri

yang

mengharuskan

menunjuk,

memanipulasi obyek, atau respons non-verbal lain, bukannya berbicara atau


menulis, disebut tes non-verbal. Kinerja pada tugas tertentu pada tes ini
dipermudah dengan bahasa verbal, namun penggunaannya diminimalkan.
Tes semacam ini seringkali dibunakan terhadap orang dengan jenis cacat
tertentu atau karena latar belakang budaya berbeda.
Ketika mengetes orang tunanetra, serangkaian enam tes kinerja yang
dirancang khusus, yang dikenal sebagai Skala Kecerdasan Haptik bagi
Orang Dewasa Tunanetra (Haptic Intelligence Scale for Adult Blind). Tes ini
kadangkala diselenggarakan bersama dengan Skala Verbal-WAIS sebagai
ukuran kecerdasan orang dewasa tunanetra dan sedikit bermasalah dengan
penglihatan.
f.

Tes Kecerdasan Non-Verbal Menyeluruh


Comprehensive Test of Non-verbal Intelligence (CTONI) merupakan
salah satu tes non-verbal terbaru bagi orang cacat. Tes ini memiliki rentang
usia luas (6 90 tahun) da dapat diselenggarakan sekitar 1 jam. CTONI
terutama sesuai untuk mengestimasi kecerdasan anak dan orang dewasa

12

16

Psikodiagnostik 1
Rizky Putri Asridha Sriemadingin,
M.Ps

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Modul Psikodiagnostik I
Pertemuan III
yang memiliki masalah keterampilan bahasa dan motorik dalam tingkat
ringan. Mereka mungkin orang yang berbicara bahasa non Inggris, yang
secara sosial ekonomi kekurangan atau tunarungu, atau emiliki gangguan
bahasa ketidakmampuan motorik, atau gangguan neurologi.
Enam subtes CTONI meliputi Analogi foto (Pictorial analogies),
Geometric analogies, Pictorial catagories, Geometric categories, Pictorial
sequences, dan Geometric sequences. Subtes tersebut dirancang untuk
mengukur penalaran analogi, klasifikasi kategori, dan kemampuan penalaran
berurutan, seperti yang dinyatakan ke dalam respons terhadap gambar obyek
yang biasa dilihat (binatang, orang, mainan, dan lain-lain). Respons yang
diberikan oleh peserta tes tersebut kemudian di skor dan skor tersebut
dikombinasikan untuk memberikan 3 (tiga) composite quotients; Non-verbal
Intelligence Quotient (NIQ), Pictorial Intelligence Quotient (PNIQ), dan
Geometric Non-verbal Intelligence Quotient (GNIQ).
g. Tes Kecerdasan Non-verbal Universal
Universal Non-verbal Intelligence Test (UNIT) dirancang untuk
memberikan ukuran kecerdasan pada individu dengan gangguan bicara,
bahasa,

atau

pendengaran,

dan

pada

orang

yang

tidak

mampu

berkomunikasi secara verbal atau memiliki latar belakang budaya atau


bahasa yang berbeda. Untuk meyakinkan keadilan tanpa memperhatikan
budaya, etnik, gender, atau pendengaran, UNIT dikembangkan baik untuk
penyelenggaraan non-verbal maupun format respons. Penyelenggaraan
kumpulan soal tes ini juga memasukkan berbagai cara merespons, yang
mencakup penggunaan manipulasi (pengubah-ubahan), kertas, dan pensil,
dan penunjukan (pointing). Delapan isyarat tangan dan tubuh universal
digunakan untuk menjelaskan tugas tes bagi peserta tes. Disamping isyarat
tersebut, penyelenggaraan tes memuat demonstrasi oleh peserta tes, sampel
item, respons pembetulan (corrective reponse), item pemeriksaan peralihan
(transitional checkpoint items), dan item yang tidak memperbolehkan peserta
tes melakukan umpan balik.
Ada enam subtes pada Kumpulan Soal Luas (Extended Battery)
UNIT, yaitu: Ingatan simbol (Symbolic Memory), Object Memory, Spatial
Memory, Analogic Reasoning, Cube Design, dan Mazes. Skor mentah pada
subtes tersebut dikonversi ke skor berskala yang memiliki mean sepuluh (10)

12

17

Psikodiagnostik 1
Rizky Putri Asridha Sriemadingin,
M.Ps

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Modul Psikodiagnostik I
Pertemuan III
dan deviasi standar tiga (3). Lima (5) quotient berikut ini juga ditentukan
dengan kombinasi skor pada enam subtes Kumpulan Soal Perluasan
(Extended battery) atau empat subtes Standard Battery: Full Scale
Intelligence (FSIQ), Memory Quotient (MQ), Reasoning Quotient (RQ),
Symbolic Quotient (SQ), dan Non-symbolic Quotient (NSQ). Extended
Battery membutuhkan waktu pengerjaan 45 menit, sedangkan Kumpulan
Soal Standar membutuhkan 30 menit.
2. Tes Intelegensi Kelompok
Army Alpha dan Army Beta, yakni tes non-bahasa bagi para pembicara
non Inggris dan orang buta ini, diselenggarakan bagi hampir 2 juta perekrutan
tentara AS selama dan setelah Perang Dunia I dengan dengan tujuan
penyeleksian militer dan pengklasifikasian pekerjaan. Army Alpha terdiri dari
item yang memuat analogi, masalah aritmatika, sejumlah penyelesaian soal,
sinonim dan antonim, analisis kubus, symbol digit, informasi, dan penilaian
(judgement) praktis. Army Alpha dimunculkan dan difungsikan sebagai model
bagi

penyusunan

tes

kelompok

lain

mengenai

kecerdasan

aptitude

(kemampuan alami) akademis setelah perang. Arthur Otis dan para psikolog
mulai menerbitkan tes Intelegensi kelompok secara sendiri, dan pada 1930-an
beberapa instrumen semacam itu tersedia secara komersial.
a. Penyelenggaraan, Pemberian Skor, dan Pelaporan
Tes Intelegensi yang

diselenggarakan

pada kelompok dapat

diselenggarakan bagi kelompok kecil anak seumuran 5 atau 6 tahun atau


bagi kelompok besar orang dewasa. Ketika mengetes anak kecil, perhatian
harus diutamakan untuk meyakinkan bahwa para peserta tes memahami
petunjuk, membalik halaman yang teepat, mulai dan selesai tepat waktu, dan
lain sebagainya. Dalam memberikan skor tes Intelegensi pada kelompok,
skor mentah, baik sebagian ataupun global, dapat dikonversi ke peringkat
persentil, skor standar, atau unit numerik lain.
Skor pada tes kelompok, bahkan lebih daripada tes individu harus
diinterpretasikan dengan teliti, dan dibandingkan terhadap latar belakang
informasi lain (nilai sekolah dan data wawancara-observasi) tentang peserta
tes. Profil interpretasi skor dapat juga dipersiapkan dengan pelayanan
pemberian skor tes. Para peserta tes dengan skor sangat rendah diberi

12

18

Psikodiagnostik 1
Rizky Putri Asridha Sriemadingin,
M.Ps

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Modul Psikodiagnostik I
Pertemuan III
tambahan, lebih disukai secara individu, sebelum dilakukan keputusan
diagnostik atau penempatan.

Jenis Tes-tes Intelegensi Kelompok

Raven Progressive Matrices .


Seri tes Raven terdiri dari 3 macam, yaitu :
Standard Progressive Matrices (SPM)

Aspek yang diukur : Tes SPM mengukur kecerdasan orang


dewasa, yang paling banyak diungkap adalah faktor general ("G"
Faktor).

Tujuan : Tes SPM untuk mengukur dan menggolongkan tingkat


kecerdasan umum dari subyek.

Penyajian : Penyajian tes dapat secara individual maupun secara


kelompok. Dalam penyajian kelompok sebaiknya setiap 1 tester
maksimum menangani 30 orang.

Bentuk yang tersedia : Bentuk buku dengan ukuran kuarto di


mana masing-masing lembar (halaman) memuat satu butir soal
dan kemungkinan jawaban yang benar.

Tes ini terdiri atas 5 kelompok yaitu A, B, C, D dan E masingmasing memuat 12 butir soal, jadi seluruhnya 60 butir soal.

Coloured Progressive Matrices (CPM)


Aspek yang diukur : Raven
dimaksudkan

untuk

berpendapat

bahwa

tes

CPM

hubungan

antara

mengungkap aspek-aspek:

Berpikir logis.
Kecakapan pengamatan ruang.
Kemampuan

untuk

mencari

dan

mengerti

keseluruhan dan bagian - bagian, jadi termasuk kemampuan analisa


dan kemampuan integrasi.

12

19

Psikodiagnostik 1
Rizky Putri Asridha Sriemadingin,
M.Ps

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Modul Psikodiagnostik I
Pertemuan III
Kemampuan berpikir secara analogi.
Tes CPM dapat dipergunakan untuk mengungkap taraf kecerdasan bagi
anak-anak yang berusia 5 sampai 11 tahun. Di samping itu juga
digunakan untuk orang-orang yang lanjut usia dan bahkan untuk anakanak "defective".
Bentuk tes CPM ada 2 macam yaitu berbentuk cetakan buku dan yang
lainnya berbentuk papan dan gambar-gambarnya tidak berbeda dengan
yang di buku cetak. Keduanya dicetak berwarna. Materi tes terdiri dari 36
item/ gambar. Item ini dikelompokkan menjadi 3 kelompok atau 3 set
yaitu set A, set Ab, dan set B.
Item disusun bertingkat dari item yang mudah ke item yang sukar. Tiap
item terdiri dari sebuah gambar besar yang berlobang dan di bawahnya
terdapat 6 gambar penutup. Tugas testi adalah memilih salah satu di
antara gambar ini yang tepat untuk menutupi kekosongan pada gambar
besar.

Advanced Progressive Matrices (APM)


Advanced Progressive Matrices (APM) merupakan salah satu alat tes
non-verbal yang digunakan untuk mengukur kemampuan dalam hal
pengertian dan melihat hubungan-hubungan bagian gambar yang tersaji
serta mengembangkan pola pikir yang sistematis. Penyajian tes ini dapat
dilakukan secara klasikal dan individu. Tes ini mengukur general factor
dari Spearman dan sebagian kecil spatial aptitude, inductive reasoning,
dan perceptual accuracy. Tes ini disusun oleh J.C Raven pada tahun
1943. Tes APM terdiri dari dua set dan bentuknya non-verbal. Set pertama
disajikan dalam buku tes yang berisikan 12 butir soal. Set kedua berisikan
36 butir soal tes. Untuk mengungkap kemampuan efisiensi intelektual.
Tes APM ini sesungguhnya untuk membedakan secara jelas antara
individu-individu yang berkemampuan intelektual lebih dari normal bahkan
yang berkemampuan intelektual superior. Digunakan untuk orang normal
tanpa batasan waktu. Untuk mengukur kemampuan observasi dan clear
thinking. Jika tes ini dipergunakan dengan batasan waktu tertentu selama
40 menit misalnya, berarti tes ini dapat diketahui untuk kecepatan dan
ketepatan kemampuan intelektual. Tujuan tes ini adalah untuk mengatur
tingkat Intelegensi, di samping untuk tujuan analisis klinis.

12

20

Psikodiagnostik 1
Rizky Putri Asridha Sriemadingin,
M.Ps

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Modul Psikodiagnostik I
Pertemuan III
Tes APM dapat disajikan secara individual maupun secara klasikal. Dalam
hal penyajian secara klasikal, harap diperhatikan jumlah testi yang
ditangani oleh seorang tester.

CFIT (Culture Fair Intelligenge Test)


Menurut manual aslinya, Tes Intelegensi Culture Fair dirancang
sedemikian rupa, sehingga pengaruh kelancaran verbal, kondisi budaya,
dan tingkat pendidikan terhadap hasil tes diperkecil (Cattell, 1973). CFIT
adalah tes yang mengukur tingkat Intelegensi seseorang. Secara umum
tingkat intelegensia dapat mempengaruhi bagaimana daya tangkap dan
sensitivitas seseorang dalam mengatasi sebuah masalah yang dihadapi.
Tes Intelegensi Culture Fair berusaha menghindari antara lain: unsurunsur bahasa, kecepatan, dan isi yang terikat budaya. Tes ini diciptakan
oleh Cattell pada ahun 1920-an, mengalami beberapa kali revisi dan
penelitian untuk mengetahui tingkat validasi. Dalam tahun 1949, skala
culture fair mengalami revisi, dan hasilnya tetap dipakai sampai sekarang,
mengalami sedikit revisi pada tahun 1961.
Tujuan utama rancangan dan susunan tes ini adalah :
Menciptakan instrumen yang secara psikometria sehat, berdasar teori
yang komperehensif, dengan validitas dan reliabilitas semaksimal
mungkin.
Memperkecil pengaruh budaya-budaya dan kondisi masyarakat yang
tidak relevan, tetapi tetap mempergunakan atau mempertahankan
kegunaan prediktif untuk berbagai tingkah laku kongkrit.
Pelaksanaan penyajian dan penyekoran yang sangat mudah dan
penggunaan waktu tes yang relatif ekonomis.
Tes ini dipergunakan untuk keperluan yang berkaitan dengan faktor
kemampuan mental umum atau kecerdasan.
Skala 1 = untuk anak usia 4 8 tahun, dan individu yang lebih tua
yang mengalami cacat mental.
Skala 2 = untuk anak usia 8 14 tahun dan untuk orang dewasa yang
memiliki kecerdasan dibawah normal.

12

21

Psikodiagnostik 1
Rizky Putri Asridha Sriemadingin,
M.Ps

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Modul Psikodiagnostik I
Pertemuan III
Skala 3 = untuk usia sekolah lanjutan atas dan orang dewasa dengan
kecerdasan tinggi.

IST (Intelligence Structure Test)


Tes IST digunakan untuk mengungkap kecerdasan sebagai kepandaian
atau

kemampuan

untuk

memecahkan

persoalan

yang

dihadapi.

Intelegensi terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan secara


bermakna dan sebagai suatu gestalt. Struktur Intelegensi tertentu
menggambarkan pola bekerja yang tertentu yang akan cocok dengan
tuntutan pekerjaan atau profesi tertentu. Adapun tes yang digunakan akan
meliputi sembilan faktor Intelegensi yang terdapat dalam IST yaitu :
Common Sense
merupakan kemampuan berpikir konkret praktis sehingga memperoleh
pandangan yang bersifat umum dan realistis.
Verbalisasi Ide
merupakan kecakapan dalam mengolah dan mengintegrasikan suatu
gagasan pemikiran yang bersifat verbal.
Sistematika Berpikir
merupakan kelincahan berpikir dalam menangkap suatu hubungan
asosiasi antara gejala satu dengan gejala lain dengan logika yang
sistematis.
Penalaran dan Solusi Real
merupakan kecakapan dalam memahami suatu inti persoalan secara
mendalam dari dua gejala, sehingga mampu melakukan penalaran
secara logis dan merumuskan suatu hasil yang realistis.
Konsentrasi
merupakan

kemantapan

dalam

memusatkan

perhatian

dalam

mencamkan suatu persoalan.


Logika Praktis
merupakan kecakapan dalam memecahkan masalah secara logis dan
runtut dengan cara praktis dan sederhana.
Fleksibilitas Berpikir

12

22

Psikodiagnostik 1
Rizky Putri Asridha Sriemadingin,
M.Ps

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Modul Psikodiagnostik I
Pertemuan III
merupakan cara pendekatan berpikir yang bervariasi, tidak terpaku
pada satu metode saja, dan cakap menganalisis informasi secara
faktual.
Imajinasi Kreatif
merupakan kecakapan mencari alternatif pemecahan masalah secara
kreatif melalui upaya membayangkan hubungan gejala secara
menyeluruh.
Antisipasi
merupakan kecakapan dalam memprediksi suatu kejadian (akibat) dan
mampu mengenali akan adanya gejala-gejala perubahan.

DAFTAR PUSTAKA
Anastasia, A & Urbina S. (1998). Tes Psikologi (edisi Bahasa Indonesia). Jakarta:
PT.Prenhallindo
Aiken, L.R & Marnat, G.G. (2008). Pengetesan dan Pemeriksaan Psikologi, Jilid
1. (Terjemahan). Jakarta: PT Indeks
Zubaidi, A. (2009). Tes Intelegensi. Jakarta: Mitra Wacana Media
Dandy. (2010). Tes Intelegensi.
http://dandy.student.fkip.uns.ac.id/2010/06/28/tes-intelligensi/

12

23

Psikodiagnostik 1
Rizky Putri Asridha Sriemadingin,
M.Ps

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana