Anda di halaman 1dari 6

Kebahasaan Indonesia

Seri Rangkuman Persiapan Ulangan Harian Bahasa Indonesia


1. Wacana
Wacana adalah sebuah tulisan yang memiliki urutan yang teratur
dan logis, serta di dalamnya mengandung unsur-unsur yang saling
terpadu dan bersatu. Jenis-jenis wacana antara lain :
Eksposisi : wacana yang menerangkan sesuatu hal dengan
terperinci, bertujuan untuk memaparkan informasi-informasi penting
tentang suatu hal.
Narasi : wacana yang berisi kronologisasi atau urutan kejadian atau
peristiwa yang disusun dengan runtut dan memiliki alur atau jalan
cerita.
Argumentasi : wacana yang berisikan pendapat atau argumen
seserang yang dapat diterima oleh akal (logis) dan diperkuat oleh
bukti-bukti otentik untuk meyakinkan pembaca terhadap pola pikir
dari penulis.
Persuasi : wacana yang berisi himbauan, bujukan, atau ajakan dari
penulis kepada pembaca untuk melakukan tindakan tertentu atau
mengikuti pola pikir tertentu.
Deskripsi : wacana yang berisi gambaran akan suatu objek yang
didasarkan pada pengamatan oleh panca indra manusia.

2. Paragraf
Paragraf adalah bagian bab dalam satu wacana yang mengandung 1
ide pokok yang terbungkus dalam kalimat utama, dan dilengkapi dengan
beberapa kalimat penjelas. Berdasarkan letak kalimat utamanya, paragraf
dibagi menjadi antara lain :
Deduktif : KU terletak di awal paragraf, terdapat 2 macam pola
pengembangan dalam paragraf deduktif yaitu :
Silogisme : premis umum, premis khusus, dan kesimpulan.
Contoh :
PU : Semua guru belum tentu pandai.
PK : Bu Dewi adalah seorang guru.
K : Bu Dewi belum tentu pandai.
Entimem : penyederhanaan silogisme, terdiri dari premis
khusus, kesimpulan, dan entimem itu sendiri. Contoh :
PK : Bu Dewi adalah seorang guru.
K : Bu Dewi belum tentu pandai.

E : Bu Dewi belum tentu pandai meskipun seorang guru.


Induktif : KU terletak di akhir paragraf, terdapat 4 macam pola
pengembangan dalam paragraf induktif yaitu :
Sebab-Akibat : banyak sebab yang menyebabkan suatu
akibat.
Akibat-Sebab : banyak akibat yang diakibatkan oleh suatu
sebab.
Generalisasi : banyak contoh kemudian disimpulkan di akhir
paragraf.
Analogi : membandingkan 2 hal yang berbeda namun memiliki
kesamaan dalam beberapa aspek, kemudian disimpulkan di
akhir paragraf.
Ineratif : KU terletak di tengah paragraf.
Campuran : KU terletak di awal dan akhir kalimat, KU di akhir tidak
boleh menambah informasi lagi dan hanya bersifat penegasan saja.
Deskriptif/naratif : KU adalah seluruh paragraf (karena hanya 1
kalimat) atau bersifat implisit/disimpulkan sendiri dari 1 paragraf
tersebut.

3. Kalimat
Kalimat merupakan satuan bahasa yang mengungkapkan pikiran
utuh, yang mana di dalamnya mengandung beberapa kedudukan atau
satuan fungsi yakni Subjek, Predikat, Objek, Keterangan, dan Pelengkap.
Secara umum kalimat dibagi menjadi 2, yaitu :
Kalimat mayor : kalimat yang memiliki pola yang jelas. Contoh :
Ibu Adni menerangkan pelajaran matematika kepada siswa kelas
XIIA3.
Kalimat minor : kalimat yang tidak memiliki pola yang jelas dan
dalam pembacaannya perlu didukung dengan intonasi yang tepat.
Contoh :
Pergi sana!
Sementara itu, kalimat mayor dibagi menjadi 2 jenis lagi berdasarkan
jumlah klausa pembentuknya, yaitu :
Kalimat tunggal : hanya memiliki 1 klausa / 1 pola saja. Contoh :
Budi membeli lima ekor sapi di Pasar Suka Jati.
Kalimat majemuk : memiliki 2 atau lebih klausa / pola. Terdiri dari :
a) Kalimat majemuk setara , terdiri dari hubungan :

Penggabungan

Pemilihan

Pertentangan

b) Kalimat majemuk bertingkat, terdiri dari hubungan :

Waktu
Syarat
Pengandaian
Tujuan
Konsensif
Pembandingan

c) Kalimat majemuk campuran, merupakan campuran dari


kalimat majemuk setara dan bertingkat di dalam 1 kalimat. Contoh :

Bapak Cahyo masuk ke kelas ketika Budi sedang berdiri di atas meja
dan Rudi sedang membaca puisi di depan kelas.

Sebab
Akibat/hasil
Cara
Alat
Penjelasan/isi
Penegasan

4. Klausa

Klausa merupakan anak kalimat atau kalimat yang belum


selesai, yang setidaknya memiliki subjek dan predikat, dan tidak
memperhatikan intonasi atau tanda baca akhir.

5. Frasa

Frasa merupakan gabungan atau kelompok kata yang


menduduki satu fungsi dalam kalimat. Berdasarkan distribusu unsurunsurnya, frasa dibedakan menjadi 2, yakni :

Frasa endosentrik, terbagi menjadi :


Endosentrik setara : kedudukan kedua unsur sama, sama-sama
saling menerangkan (MM atau DD), contoh : ayah ibu, sendok
garpu, meja kursi, dsb.
Endosentrik bertingkat : salah satu unsur menerangkan unsur
yang lain (MD atau DM), contoh : buku gambar, tempat pensil,
tas sekolah, dsb.
Frasa eksosentrik, terbagi menjadi :
Eksosentrik preposisional : mengandung unsur preposisi (di, ke,
dari, pada, kepada), contoh : di Jakarta, ke Bandung, dari
Semarang, dsb.
Eksosentrik sandang : mengandung kata sandang (si, sang),
contoh : si pemakan segala, sang fajar, dsb.

Selain itu, berdasarkan maknanya frasa dibedakan menjadi 2,


yakni :

Frasa idiomatikal (konotasi) : Kenny diseret ke meja hijau karena


kasus penculikan anak di bawah umur. (meja hijau : pengadilan)
Frasa biasa (denotasi) : Sinta membeli dua buah meja hijau untuk
ruang tamunya. (meja hijau : meja berwarna hijau)

6. Fakta dan Opini

Fakta : sesuatu yang telah terbukti kebenarannya, sudah terjadi,


ada bukti otentik.
Opini : pendapat atau persepsi pribadi seseorang, belum terbukti
kebenarannya, masih prediksi, tidak ada bukti otentik.

7. Kata Penghubung

a) Kata penghubung koordinatif : membentuk kalimat majemuk


SETARA

Penggabungan : dan , serta


Pemilihan : atau
Pertentangan : tetapi

b) Kata penghubung subordinatif : membentuk kalimat majemuk


BERTINGKAT

Waktu : saat, ketika, sejak, sedari, waktu, selagi, setelah, sebelum


Syarat : kalau, jika, apabila, asalkan, bilamana
Pengandaian : andaikata, seandainya, andaikan, sekiranya
Tujuan : agar, supaya, untuk, biar
Konsensif : walaupun, meskipun, sekalipun, biarpun
Pembandingan : seperti, bagaikan, laksana, ibarat, daripada
Sebab : sebab, karena, akibat, oleh karena
Akibat/hasil : sehingga, maka, sampai-sampai
Cara : dengan, tanpa
Alat : dengan, tanpa
Penjelasan/isi : bahwa
Penegasan : bahkan

c) Kata penghubung korelatif : 2 kata penghubung yang


menghubungkan 2 bagian dalam kalimat (bisa kata, frasa, ataupun
klausa). Contoh :

tidak
hanya
...,
juga ...
baik ... maupun ...
jangankan ..., ... pun
entah ... entah ...

tetapi

bukan hanya ..., melainkan


juga ...
apa(kah) ..., atau ...
sedemikian
rupa
...
sehingga ...

demikian ... sehingga ...

bukannya ..., melainkan ...

d) Kata penghubung antar kalimat : menghubungkan kalimat yang 1


dengan kalimat sebelumnya dalam 1 paragraf, terletak di awal
kalimat.

e) Kata penghubung antar paragraf : menghubungkan paragraf


yang 1 dengan paragraf sebelumnya dalam 1 wacana, terletak di
awal paragraf.

8. Imbuhan

a) Awalan (prefiks) : ber- (be-, bel-); per- (pe-, pel-); meng- (me-,
men-, mem-, menge-); peng- (pem-, pe-); di-, ter-, ke-, se-.

b) Sisipan (infiks) : -el- (gelembung, telunjuk, telapak); -em(kemelut, kemilau, jemari); -er- (gerigi, seruling); -in- (kinerja).

c) Akhiran (sufiks) : -i, -kan, -an.

d) Imbuhan gabung (konfiks) : 2 imbuhan (awalan dan akhiran) yang


melekat bersama-sama pada kata dasar dan tidak dapat berdiri
sendiri. Contoh : pe+gunung+an = pegunungan (tidak ada kata
gunung+an atau gunungan).

e) Imbuhan gabungan : 2 imbuhan (awalan dan akhiran) yang


melekat secara bertahap (akhiran dulu baru awalan) pada kata
dasar dan dapat berdiri sendiri. Contoh : pe+[timbang+an] =
pe+timbangan = pertimbangan (ada kata timbang+an atau
timbangan).

f) Simorfiks : lebih dari 2 imbuhan melekat pada 1 kata dasar.


Contoh
:
mempertanggung
jawabkan,
dipertanyakan,
semenakutkan, dsb.