Anda di halaman 1dari 8

Laporan Praktikum Fisika

Kisi Difraksi

Disusun oleh :
Nicholas R.P (XIIA1/19)
Untoro Samsul (XIIA1/ )
Albert William (XIIA1/1)
Stevian Kevianto (XIIA1/ )
William Hartoko (XIIA1/30)
Michelle Octaviani (XIIA1/18)
Phan, Cindy Amelia (XIIA1/20)
Yosephine Natashya (XIIA1/31)

SMA Karangturi
Jalan Raden Patah 182 192 Semarang
2015

Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat dan anugerahNya kepada kami. Terima kasih kami sampaikan kepada Bapak Guru,
teman-teman, dan semua pihak yang telah membantu melancarkan pembuatan Laporan
Praktikum kisi difraksi cahaya.
Pembuatan laporan merupakan salah satu tugas siswa setelah melaksanakan suatu
kegiatan. Laporan ini dibuat setelah melaksanakan kegiatan praktikum. Kegiatan tersebut
dilaksanakan di kelas XII ipa 1 SMA Karangturi. Banyak hal yang kami peroleh setelah
melaksanakan kegiatan tersebut. Hal-hal yang saya peroleh tersebut dapat kami jadikan bahan
dalam menyusun laporan ini. Jadi laporan ini didasarkan atas hasil pengamatan selama
melakukan praktikum.
Kerjasama dibutuhkan dalam menentukan kelancaran suatu kegiatan. Oleh karena itu
kami berusaha bekerjasama dengan semua anggota kelompok untuk kelancaran dan
keberhasilan kegiatan praktikum. Selain itu, kami juga mendapat beberapa kendala saat
melakukan praktikum maupun pada waktu penyusunan laporan.
Kami juga mengharap kritik dan saran dari semua pihak yang dapat kami jadikan
koreksi dalam pembuatan laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat dan dapat
digunakan dengan sebaik mungkin sehingga akan menghasilkan hasil yang memuaskan dan
sesuai keinginan.

Semarang, 24 Oktober 2015

Penyusun

Daftar Isi
Kata Pengantar
Daftar Isi

Bab I 3
Latar Belakang
Tujuan

Bab II 4
Dasar Teori 4
Alat dan Bahan

Cara Kerja 6
Bab III

Data Percobaan

Pembahasan 7
Kesimpulan 8

Bab I

I.

Latar Belakang
Semenjak masuknya kita ke jenjang sma, pengertian mengenai cahaya yang
merupakan sebuah gelombang telah diberikan. Cahaya merupakan gelombang yang
tampak. Dengan demikian, cahaya juga dapat bersifat sama danmengalami hal yang
sama dengan gelombang lainnya.
Cahaya sebagai gelombang diketahui mengalami difraksi, dengan cara
melewatkan cahaya pada celah kisi difraksi. Cahaya yang terdifraksi oleh kisi
membentuk garis-garis cahaya terang dan gelap secara berseling. Setiap celah pada
kisi menghasilkan difraksi yang berbeda ukuran.
Namun mengetahui hal itu tidaklah cukup. Rasa ingin tahu yang tinggi tentu
membuat kami bertanya. Di sini kami ingin mengetahui, variabel apa saja kah yang
berpengaruh terhadap difraksi cahaya, bagaimana difraksi tersebut terbentuk. Dengan
demikian pengukuran kami lakukan.

II.

Tujuan
Menentukan Panjang gelombang cahaya warna merah

Bab II
I.

Dasar Teori
Kisi difraksi merupakan suatu piranti untuk menganalisis sumber cahaya. Alat ini terdiri

dari sejumlah besar slit-slit paralel yang berjarak sama. Suatu kisi dapat dibuat dengan cara
memotong garis-garis paralel di atas permukaan plat gelas dengan mesin terukur berpresisi
tinggi. celah diantara goresan-goresan adalah transparan terhadap cahaya dan arena itu
bertindak sebagai celah-celah yang terpisah. Sebuah kisi dapat mempunyai ribuan garis per
sentimeter. Difraksi adalah penyebaran gelombang, contohnya cahaya, karena adanya
halangan. Semakin kecil halangan, penyebaran gelombang semakin besar. Pembelokan
gelombang yang disebabkan oleh adanya penghalang berupa celah disebut difraksi
gelombang (Anonim, 2012).
Kisi difraksi terdiri atas sebaris celah sempit yang saling berdekatan dalam jumlah
banyak. Jika seberkas sinar dilewatkan kisi difraksi akan terdifraksi dan dapat menghasilkan
suatu pola difraksi di layar. Jarak antara celah yang berurutan (d) disebut tetapan kisi. Jika
jumlah celah atau goresan tiap satuan panjang (cm) dinyatakan dengan N, maka : d = 1/N.
Menurut

Soekarno,

(1996:

150-155)

dalam

situs Firarizqy

Candradari

Agfa

mengatakan seberkas sinar tegak lurus kisi dan sebuah lensa konvergen digunakan untuk
mengumpulkan sinar-sinar tersebut ke titik P yang dikehendaki pada layar. Distribusi
intensitas yang diamati pada layar merupakan gabungan dari efek interferensi dan difraksi.
Setiap celah menghasilkan difraksi seperti yang telah diuraikan sebelumnya, dan sinar-sinar
yang terdifraksi sebelumnya tersebut berinterferensi pada layar yang menghasilkan pola
akhir.
Suatu celah yang dikenai cahaya dari arah depan akan memproyeksikan bayangan terang
yang sebentuk dengan celah tersebut di belakangnya. Tetapi di samping itu, terbentuk juga
bayangan-bayangan terang yang lain dari celah tersebut di sebelah menyebelah bayangn
aslinya, dan yang semakin ke tepi, terangnya semakin merosot. Jadi seolah-olah sinar cahaya
yang lolos lawat celah itu ada yang dilenturkan atau didifraksikan kearah menyamping.
Gejala difraksi demikian tak lain ialah interferensi sinar-sinar gelmbang elektromagnetik
cahaya dari masing-masing bagian medan gelombang sebagai sumber gelombang cahaya
(Soedojo,2004 : 123).
4

Kisi dapat dibuat dengan mesin presisi berupa garis-garis pararel yang sangat halus dan
teliti di atas pelat kaca. Jarak yang tidak tergores di antara garis-garis tersebut berfungsi
sebagai celah. Transparansi fotografis dari kisi yang asli bisa digunakan sebagai kisi yang
murah. Kisi yang berisi 10.000 garis per sentimeter adalah umum saat ini dan sangat berguna
untuk pengukuran panjang gelombang dengan tepat. Kisi difraksi yang berisi celah-celah
disebut kisi transmisi. Berkas cahaya yang melalui setiap celah tanpa pembelokkan (=0
derajat) berinteferensi konstruktif untuk menghasilkan garis terang di tengah layar.
Inteferensi konstruktif juga dapat terjadi pada sudut sedemikian rupa sehingga berkas dari
celah yang bersisian menempun jarak ekstra sejauh selisih l=perkallian orde dengan panjang
gelombangnya, di mana m marupakan bilangan bulat.
Jika d adalah jarak antara celah, maka selisih l adalah perkalian jarak lebar antara celah
dengan sin = mD/ adalah kriteria untuk mendapatkan maksimum terang di mana m = 0, 1,
2, dan seterusnya. Persamaan ini sama dengan situasi persamaan ganda, dan kembali m
disebut orde dari pola tersebut (Giancoli, 2001).
Cahaya yang keluar dari dua celah kisi yang berurutan memenuhi persamaan:
n= d sin
atau
d.Y/L = n
Di mana:
n = orde pola difraksi (0, 1, 2, ...)
d = jarak antara dua garis kisi ( konstanta kisi)
= panjang gelombang cahaya yang digunakan
= sudut lenturan (difraksi)
Y= jarak terang pusat dengan orde ke-n

II.

Alat dan Bahan


5

Rel
Lensa
Penggaris
Catu daya
Kabel
Layar
Kisi difraksi
Sinar Kuning
Celah

III. Cara Kerja


1.
Merangkai alat-alat percobaan seperti gambar berikut

2.

Menyalakan laser dan mengarahkan ke kisi difraksi sehingga pada layar tampak

3.

cahaya berwarna-warni
Mengukur besaran-besaran yang diperlukan dalam pengambilan data untuk

4.
5.
6.

menghitung panjang gelombang sinar kuning


Memasukkan data dalam tabel
Menghitung besar panjang gelombang sinar kuning
Mengulangi langkah ke 3 hingga 5 untuk ukuran kisi berbeda

Bab III

I.

Data Percobaan

Kisi Difraksi

Warna

100
300

Merah

600

II.

d (cm)

y (cm)

L (cm)

(m)

0.001

16

6.25 x 10 7

0.003

4.5

23.5

6.38 x 10 7

0.006

2.3

5.9

6.49 x 10 7

Pembahasan

y 0.001 x 1
7
1= d L = 16 =6.25 x 10
y 0.003 x 4.5
7
2= d L = 23.5 =6.38 x 10
y 0.006 x 2.3
7
=6.49 x 10
3= d L =
5.9
7

Rata-Rata =

(6.25 x 1 0 +6.38 x 10 +6.49 x 10 )


7
=6.37 x 10
3

(1.2 x 108 +1.0 x 109 +1.2 x 108 )


=8.33 x 109
Simpangan Rerata =
3
9

8.33 x 10
Ralat Nisbi = 6.37 x 107 x 100=1.31
Ketelitian = 100% - 1.31 % = 98.69 %
Jadi, didapatkan bahwa tidak terjadi perubahan nilai yang signifikan dimana Rerata
7
merah = 6 .37 x 10 m dengan ketelitian sebesar 98.69 %

III.

Kesimpulan
1. Tidak ada perubahan nilai merah yang signifikan pada percobaan, sehingga dapat
disimpulkan bahwa nilai merah tidak dipengaruhi oleh jenis kisi difraksi, jarak
layar dengan celah, lebar celah, juga jarak antar garis terang (Nilai merah tetap).
2. Nilai merah yang kami dapatkan dari hasil percobaan adalah 6.37 x 10 -7 m dengan
ketelitian 98.69 %