Anda di halaman 1dari 5

Pengertian Murjiah

Nama murjiah berasal dari kata arjaa artinya menunda ( menangguhkan ). Kemudian
di berikan kepada nama suatu aliran ( golongan ), karena suatu terjadi kasus pembunuhan atas
diri kholifah usman bin affan ra terjadi dua pendapat.
Pertama : golongan yang mengatakan , bahwa kematian usman bin affan adalah secara
sadis , adalah perbuatan yang terkutuk. Mereka membela kematian usman bin affani, karena
beliau lah yang benar.
Kedua : golongan yang mengatakan, bahwa ali bin abi tholib sebagai pengganti
usman sebagai kholifah ke empat adalah benar dan paling tepat.
Di antara kedua golongan yang saling berbeda faham ini , maka munculah golongan
yang ke tiga, yang mengatakan banwa, baik usman atau pun ali, kedua duanya benar.
Mereka tidak mau mengambil resiko, tapi menunda, penentuan hukuman dan menyerahkan
keputusannya kepada hukum allah SWT dihari kemudian nanti. Oleh karena itu golongan ini
diberi nama dengan murjiah.

Prinsip Prinsip Dari Ajaran Murjiah


a. Masalah Iman Dan Aman
Golongan murjiah mengajarkan tidak ada pengaruhnya bagi seseorang yang
telah mengakui beriman kepada allah SWT dan Rasul Nya , seandainya dia
melakukan dosa besar maupun meninggalkan kewajiban sebagai seorang muslim.
Sholat bukan ibadah kepada allah SWT. Yang di namakan ibadah hanyalah
iman kepada allah SWT saja. Jelas sekali bahwa ajaran murjiah ini lebih
mementingkan iman dan mengabaikan amal serta larangan agama . Sedangkan dalam
akidah ahlus sunnah , keduanya adalah sama pentingnya

b. Masalah Iman Dan Syirik


Golongan murjiah yang ekstrim berpendapat bahwa , iman merupakan itikat hati
semata mata . Kalau sudah mengakui allah SWT sebagai tuhan dan muhammad
sebagai Rasul , walaupun secara terang terangan menyembah berhala, atau salib, dia
tetap berstatus sebagai mukmin yang sempurna, dan nanti ia akan masuk surga .

c. Masalah Syurga
Golongan murjiah ini beranggapan bahwa iman itu terletak dalam hati dan
ucapan . Ketaatan mengerjakan segala kewajiban dan menjauhi larangan , bukan lah
merupakan rangkaian iman . seorang mukmin masuk syurga bukan karna amalan
ketaatannya, melainkan karna ikhlas, iman dan cintanya kepada allah SWT.1

1 Drs. Al. Noor Alatdawam, Aqidah dan ilmu pengetahuan, Yayasan BINA
KARIER (Yogyakarta, 1995) 77.

Pendapat Murjiah mengenai pelaku dosa besar sama seperti pendapat penguasa yaitu
bahwa orang islam melakukan dosa besar tidak membuat mereka keluar dri iman (kafir) dan
tidak boleh dibunuh. Orang yang beriman kemudian jatuh kedalam dosa besar mereka masih
tetap mengakui Tidak ada tuhan selain allah dan muhammad rasulullah. Kedua kalimat itu
masih tertanam dalam hati mereka. Jika yang terpenting bagi orang murjiah adalah iman
yang ada dalam hati bukan perbuatan. Bagi pelaku dosa besar masih ada harapan mendapat
ampunan dari allah SWT dan masuk surga.

Pemuka-pemuka murjiah dan pendapatnya


1. Kelompok yang mengikuti paham Jabariyah yang dibawa oleh Jahm bin Sofwan
dengan pendapatnya Iman dan kufur terletak dalam hati bukan dalam perbuatan
manusia, oleh karena itu seorang muslim menyembah patung atau salib ia tidak
dihukumi kafir tapi orang ini masih dianggap beriman.
2. Kelompok yunusiyah yang di pimpin oleh yunus bin Ain Al-Numairi dengan
pendapatnya bahwa Iman itu adalah marifah kepada allah, tunduk dan cinta kepada
allah. Orang yang melakukan dosa besar tidaklah merusak iman.
3. Kelompok Ghassaniyah dipimpin oleh Ghassan Al-Murji dengan pendapatnya bahwa
Iman adalah ikrar, iman tidak berkurang dan tidak berlebih. Masalah di luar iman
tiadaklah mempengaruhi iman seseorang.
4. Kelompok Tsaubaniyah dipimpin oleh Abi Tsauban Al-Murji dengan pendapatnya
Iman adalah marifah dan ikrar atas Rasul-Nya sedang amal adalah masalah kedua.
5. Kelompok Al-Tsumaniyah dipimpin oleh Abi Muaz al-Tsumani dengan pendapatnya
Iman adalah berintikan marifah, membenarkan, cinta, ikhlas dan ikrar segala apa
yang dibawa Rasul. Selain itu, tidak membawa kepada kekafiran. Seseorang yang
menyembah matahari atau bulan pada dasarnya bukan kafir tetapi mengandung benih
kekafiran.
6. Kelompok Marisiyah yang dipimpin oleh Bisyir al-Murisy dengan pendapatnya
Iman adalah membenarkan dalam hati dan ikrar dengan lisan, kekafiran terjadi

karena menentang allah SWT dan mengingkari-Nya. Seseorang sujud kepada


berhala, matahari atau bulan dia bukan kafir tetapi dia hanyan menyandang tandatanda kekafiran.
7. Kelompok Al-Shalihiyah dipimpin oleh Abu hasan Al-Shalihi dengan pendapatnya
Iman adalah mengetahui tuhan dan kafir adalah tidak mengetahui tuhan. Iman adalah
ibadah sedangkan shalat, zakat, puasa dan haji adalah gambaran kepatuhan bukan
merupakan ibadah kepada allah.2
Kaum Murjiah muncul akibat adanya bertentangan politik dalam islam. Dalam
suasana demikian, kaum murjiah muncul dengan gaya dan corak tersendiri. Merka
bersikap netral, tidak berkomentar dalam praktek kafir atau tidak bagi golongan yang
bertentangan. Mereka tidak berpendapat, siapa yang salah dan benar tetapi memandang
lebih baik menunda (arjaa). Maksudnya persoalan tersebut dapat diselesaikan pada hari
perhitungan, sehingga sikapnya, menyerahkan penentuan hukum kafir dan tidak kafirnya
seseorang kepada allah SWT.
Dalam teologi mengenai dosa besar, kaum murjiah berpendapat bahwa orang
islam yang melakukan dosa besar masih mukmin, tetapi soal dosa besar masih ditunda
penyelesaiannya di hari perhitungan, sehingga berbeda dengan pendapat kaum khawarij
yang mengatakan hal itu kafir.
Alasan murjiah menganggapnya tetap mukmin, sebab orang islam yang
berbuat dosa besar tetap mengakui bahwa tiada tuhan melainkan allah SWt dan nabi
Muhammad adalah Rasul-Nya. Sahadat inilah sebagai dasar utama apakah kafir atau
mukmin, sehingga dalam persoalan ini yang diutamakan iman. Perbuatan adalah
persoalan kedua. Jadi, Murjiah berpendapat apakah mukmin atau kafir karena
kepercayaan/iman bukan perbuatan.
2 Drs. H. Latief Mahmud, M.Ag, Buku Ajar Ilmu Kalam, Stain Pamekasan Press.

Kaum Murjiah menekankan pemikirannya pada siapa yang masih mukmin


dan tidak keluar dari islam (soal iman). Juga membahas jabariyah dan kodariyah (free
will) pada umumnya, murjiah dibagi dua golongan :
1. Golongan Ekstrim
Golongan ini dipimpin oleh Al-jahamiyah (pengikut jaham ibn safwan)
pahamnya berpendapat, bahwa orang islam yang percaya pada tuhan dan kemudian
menyatakan kekufuran secara lisan tidaklah kafir. Dengan alasan, iman dan kafir
bertempat dihati lebih lanjut umpamanya ia menyembah salib, percaya pada trinitas
dan kemudian meninggal, orang ini tetap mukmin tidak menjadi kafir. Dan orang
tersebut tetap memiliki orang yang sempurna.
2. Golongan Murjiah Moderat
Golongan ini berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukanlah kafir dan
tidak kekal dalam neraka. Ia mendapat hukuman dalam neraka sesuai dengan
besarnya dosa yang dilakukannya. Kemungkinan tuhan akan memberi ampunan
terhadap dosanya. Oleh sebab itu, golongan ini meyakini bahwa orang tersebut tidak
akan masuk neraka selamanya.3

3 Hasbi al-Siddiqi, sejarah dan Pengantar Ilmu Tauhid