Anda di halaman 1dari 18

Diet lambung dapat juga diberikan kepada pasien dengan gangguan saluran

cerna seperti radang lambung (gastritis) radang oesopagus, radang usus besar,
thypus abdominalis, dan setelah operasi saluran cerna.
Tujuan Diet : Memberikan makanan dan cairan secukupnya, mencegah dan
menetralkan pembentukan asam lambung yang berlebihan.
Syarat Diet : Makanan dalam bentuk lunak dan mudah dicerna, porsi kecil tapi
sering Hindari mengkonsumsi makanan yang merangsang lambung seperti
asam, pedas, terlalu panas/dingin Cara pengolahan makanan direbus, kukus,
panggang dan tumis
http://gizi.depkes.go.id/download/Makalah%20Dan%20Artikel/Brosur
%20Lambung%20dan%20BB%20Anak%20Kurang_REV.pdf
Tujuan diet pada penyakit lambung adalah memberikan makanan adekuat (cukup), tidak
merangsang, dapat mengurangi pengeluaran cairan lambung, dan menetralkan kelebihan asam
lambung. Syarat diet ini adalah mudah dicerna, porsi makanan kecil dan diberikan sering, protein
cukup untuk mengganti jaringan yang rusak, serta makanan secara berangsur harus memenuhi
kebutuhan gizi normal.
Diet penyakit lambung ini terbagi :
1.

Diet Lambung I, diberikan kepada pasien ulkus peptikum akut, ulkus peptikum dengan
perdarahan, esofagitis, gastritis akut, dan tifus abdominalis berat. Makanan diberikan berupa susu
dan bubur susu, hanya diberikan selama 2 hari dalam porsi kecil tiap 3 jam. Nilai gizi makanan ini
adalah 1.630 kalori, 58 gr protein, 63 gr lemak dan 213 gr karbohidrat.

2.

Diet Lambung II, diberikan sebagai perpindahan diet lambung I setelah fase akut dapat
diatasi, pada tifus abdominalis dengan suhu tubuh tinggi, dan sesudah operasi saluran cerna
tertentu. Makanan diberikan selama beberapa hari saja, berbentuk saring atau cincang tiap 3 jam.
Nilai gizi makanan ini adalah 1.990 kalori, 73 gr protein, 84 gr lemak dan 236 gr karbohidrat.

3.

Diet Lambung III, diberikan sebagai perpindahan dari diet lambung II atau pada pasien
ulkus peptikum ringan, tifus abdominalis yang suhu tubuhnya sudah kembali normal. Makanan
Berbentuk lunak, diberikan 6 kali sehari dalam porsi kecil. Makanan ini cukup kalori, protein,
mineral, vitamin C dan kurang tiamin. Makanan ini mengandung 1.921 kalori, 61 gr protein, 74 gr
lemak dan 257 gr karbohidrat.

4.

Diet Lambung IV, diberikan sebagai makanan perpindahan dari diet lambung III atau
kepada pasien ulkus peptikum ringan, gastritis ringan, esofagus ringan, serta tifus abdominalis
yang hampir sembuh. Makanan diberikan dalam bentuk lunak dan biasa, tergantung toleransi
pasien. Makanan ini cukup kalori dan semua zat gizi. Nilai gizi makanan ini adalah 2.080 kalori,
74 gr protein, 65 gr lemak dan 303 gr karbohidrat.
(Sumber : Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga jilid 1, Media Aesculapius)
http://yuheldi-cendra.blogspot.co.id/2012/11/diet-pada-penyakit-lambung-penyakit.html

BAHAN MAKANAN

DIANJURKAN

DIBATASI/DIHINDARI

SUMBER KARBOHIDRAT

Nasi, nasi tim, bubur, roti

Ketan, jagung, ubi,

putih, macaroni, biskuit,

singkong, talas, cake,

crakers, mie, bihun,

dodol dan berbagai kue

tepung yang dibuat

yang terlalu manis dan

bubur/pudding,

berlemak tingg

havermout, sereal, roti


gandum
SUMBER PROTEIN

Daging, hati, ikan ayam

Daging, ikan dan ayam

HEWANI

yang diolah dengan cara

yang digoreng, dikaleng,

direbus, dikukus, ditim,

dikeringkan dan di asap,

dipanggang, susu, telur

diberi bumbu-bumbu

(didadar, diceplok air dan

merangsang

dicampur di dalam
makanan)
SUMBER PROTEIN NABATI

Tahu, tempe yang

Tahu, tempe, kacang

direbus, ditim, ditumis,

merah, kacang tanah

susu kedelai yang

yang digoreng

direbus, kacang hijau


direbus
SAYURAN

Sayuran yang tidak

Sayuran mentah, daun

banyak serat dan tidak

singkong, lobak, sawi,

menimbulkan gas :

kol, nangka muda, daun

bayam, buncis, labu

pepaya

siam, wortel, kacang


panjang, oyong tomat,
labu kuning yang direbus,
ditumis, disetup dan
diberi santan
BUAH-BUAHAN

Pepaya, jeruk manis, apel

Buah yang tinggi serat

tanpa kulit, pepaya,

dan atau menimbulkan

melon, pisang, alpukat,

gas seperti jambu biji,

semangka, belimbing

nangka, nanas,

manis

kedondong, dukuh,
durian, salak, buah yang
dikeringkan

SUMBER LEMAK

Margarin, minyak, santan

Santan kental, lemak

encer

hewan, minyak untuk


menggoreng

MINUMAN

Sirup dan teh encer

Kopi, teh kental,

minuman yang
mengndung soda dan
alkohol, es krim
BUMBU

Garam, gula, kunyit, jahe,

Cabe, lada, cuka

kunci, lengkuas, kencur,


terasi, daun salam

Indikasi:
Diberikankepadapenderitatukaklambung(sakitmaag).Dapatjugadiberikanpada
penderitaradanglambung(gastritis),diare,typhusabdominalis
TujuanDiet:

1.menetralkankelebihanasamlambung
2.memberikanmakananyangcukup
3.meringankanfungsilambung
PrinsipDiet:

1.Mudahcerna,makananlunakataucair
2.Tidakmerangsang
3.Porsikecildandiberikansering

Bahanmakananyangdiperbolehkan:

1.SumberKarbohidrat:berasdibuatbuburataunasitim,kentangdirebusatau
dipure,macaronibiskuitdantepungtepunganyangdibuatbuburatautepung.
2.Sumberprotein:
a.Nabati:tempe,tahu,oncomdipotongkecilkecil,dihaluskanataudilumatkan,
kacangkacangan(kacangijo,kacangkedeledirebussampailunak).
b.Hewani:dagingsapitakberlemak,hati,ikan,ayamdicincang
3.Susudanhasilolahannya:sususegar,susu
fullcream,sususkim,keju
4.Sayuryangtakberseratdantidakmenimbulkangas:bayam,buncis,labukuning,
labusiam,wortel,tauge,kacangpanjang
5.Buahbuahanyangtidakasamdantidakberalkohol:pisang,pepaya,alpukat
6.Lemak:gunakansantanencerdanminyakuntukmenumis
7.Minumanyangtidakasam,tidakmengandungsodadanalkohol:saribuahyang
tidakasam

Bahanmakananyangdihindari:

1.Sumberkarbohidrat:nasikeras,ketan,bulgurjagung,cantel,ubi
talas
2.SumberproteinHewani:dagingberlemak,ikanasin,ikan
pindang
3.Sayuranyangbanyakmengandungseratdangas:kol,sawidan
nagka
4.Buahyangdikeringkandanbuahbuahanasamdanmengandungalkohol:kurma,
kismis,pisangsale,asinanbuah,asam,jeruksiam,nanas,duku,rambutandan
durian
5.Lemak:santankentaldangorenggorengan
6.Minumanyangmengandungsodadanalkohol:kopidansoftdrink,
tape
7.Bumbuyangtajam:cuka,cabe,mericayangyangterlalu
banyak

Caramengaturdiet:
1.Kurangimakananpedas,asam,mengandunggasterlalu
panas/dingin
2.Sumberkarbohidrat:nasikeras,ketan,bulgur,jagung,cantel,ubi
talas
3.Makanharusteratur,lambungtidakbolehkosonglebihdari3
jam
4.Makandalamporsikeciltetapisedikitdanfrekuensisering.Dianjurkan6kaliatau
lebihdalamsehari
5.Makansecaraperlahandengancarayangsantai
6.Caramemasaksebaiknyadirebus,dikukus,ditim,atau
dipanggang/bakar

Halhalyangperludiperhatikan:
1.Hindarimerokok(perokokpasif)
2.Hindaristress
3.Hatihatimemberikanobat/suplemenyangbersifatasamdanmerangsangkeluarnya
asamlambung:vitaminC,Zatbesai,asamsalisilat,acetosal,kortikosteroiddanobat
obatantirematik.
Pram Pramono, http://giziwebster.blogspot.co.id/2012/07/diet-penyakitlambung.html.

Diet Penyakit Usus Inflamatorik (Inflammatory Bowel Disease)


Penyakit usus inflamatorik adalah peradangan terutama pada ileum dan
usus besar dengan gejala diare, disertai darah, lendir, nyeri abdomen, berat
badan berkurang, demam dan kemungkinan terjadi streatorea (adanya lemak
dalam feses). Penyakit ini dapat berupa Kolitis Ulseratif dan Chrons Disease.
Tujuan diet penyakit inflamatorik adalah:
(1) Memperbaiki ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.
(2) Mengganti kehilangan zat gizi dan memperbaiki status gizi kurang.
(3) Mencegah iritasi dan inflamasi lebih lanjut.
(4) Mengistirahatkan usus pada masa akut.
Syarat-syarat diet penyakit usus inflamatorik adalah:
(1)

Pada feses akut dipuasakan dan diberi makanan secara parenteral saja.

(2)

Bila fase akut teratasi, pasien diberi makanan secara bertahap, mulai dari

bentuk cair (peroral maupun enteral), kemudian meningkat menjadi siet sisa
rendah dan serat rendah.
(3)

Bila gejal ahilang dapat diberikan makanan biasa.

(4)

Kebutuhan gizi, tyaitu :

(a)

Energi dan protein tinggi.

(b) Suplemen vitamin dan mineral antara lain vitamin A, C, D asm folat, vitamin
B12, kalsium, zat besi, magnesium dan seng.
(5) Makanan enteral rendah atau bebas laktosa dan mengandung asam lemak
rantai sedang (medium chain trygliceride = MTC) dapat diberikan karena sering
terjadi intoleransi laktosa dan malabsorpsi lemak.

(6) Cukup cairan dan elektrolit.


(7) Menghindari makanan yang mengandung gas.
(8) Sisa rendah dan secara bertahap kembali ke makanan biasa
Diet Penyakit Divertikular
Penyakit divertikular terdiri atas penyakit Divertikulosis dan
Divertikulitis. Penyakit Divertikulosis yaitu adanya kantong-kantong kecil yang
terbentuk pada dinding kolon yang terjadi akibat tekanan intrakolon yang tinggi
pada konstipasi kronik. Hal ini terutama terjadi pada usia lanjut yang
makanannya rendah serat. Penyakit Divertikulitis terjadi bila penumpukan sisa
makanan pada divertikular menyebabkan peradangan. Gejala-gjalanya antar
alain kram pada bagian kiri bawah perut, mual, kembung, muntah, konstipase
atau diare, menggigil dan demam.
Tujuan Diet Penyakit Divertikulosis
(1) Meningkatkan volume dan konsistensi fees.
(2) Menurunkan tekanan intra luminal.
(3) Mencegah infeksi.
Syarat-syarat Diet Penyakit Divertikulosis
(1)

Kebutuhan energi dan zat-zat gizi normal.

(2)

Cairan tinggi, yaitu 2-2,5 liter sehari.

(3)

Serat tinggi.

Tujuan Diet Penyakit Divertikulitis


(1) Mengistirahatkan usus untuk mencegah perforasi.
(2) Mencegah akibat laksatif dari makanan berserat tinggi.

Syarat-syarat Diet Penyakit Divertikulitis


(1) Mengusahakan asupan energi dan zat-zat gizi cukup sesuai dengan batasan
diet yang ditetapkan.
(2) Bila ada pendarahan, dimuali dengan makanan cair jernih.
(3) Makanan diberikan secara bertahap, dimulai dari diet sisa rendah I kediet
sisa rendah II dengan konsistensi yang sesuai.
(4) Hindari makanan yang abanyak mengandung biji-biji kecil, seperti tomat,
jambu biji dan stroberi yang dapat menumpuk dalam divertikular.
(5) Bila perlu diberi makanan enteral rendah atau bebas laktosa.
(6) Untuk mencegah konstipasi, minum minimal 8 gelas sehari.
2.5

Pencegahan Gangguan Traktus Gastrointestinal

Sayur dan buah memegang peranan yang penting dalam tubuh manusia. Karena
itu, orang yang sering mengonsumsi keduanya, khususnya kaum vegetarian,
memiliki prevalensi terkena penyakit lebih kecil dibandingkan mereka yang tidak
suka mengonsumsi sayur dan buah.
Sayur merupakan sumber serat, vitamin, dan mineral. Juga mengandung zat
yang bukan gizi tapi sangat dibutuhkan bagi kesehatan tubuh manusia. Karena
itu, mengonsumsi sayur dan buah sangat penting. Dengan rajin mengonsumsi
sayur dan buah, buang air besar (BAB) menjadi lancar. Serat yang terdapat di
dalam keduanya bisa mendorong tinja untuk keluar. Karena itu, anak atau orang
dewasa yang kurang mengonsumsi buah dan sayur biasanya akan mengalami
kesulitan dalam buang air besar.

Daftar Pustaka

Almatsier, Sunita. 2004. Penuntun Diet Edisi Baru Cetakan kedua.


Jakarta: PT

Gramedia Pustaka Utama.

http://www.f-buzz.com/2008/08/12/gangguan-saluran-pencernaan-danpengaruh-dari-faktor-psikologis/

Sumber: http://www.republika.co.id (Dikutip tgl 2 Mei 2006)

http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi?newsid1146649854,75536,

J. Corwin, Elizabeth. 2001. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.

https://azurama.wordpress.com/all-about-nurse/ilmu-gizi/diet-penyakit-salurancerna/

BAB II PEMBAHASAN
A . Gambaran hati secara umum
A 1. Pengertian Tentang Hati
Hati (liver) merupakan organ terbesar dalam tubuh manusia. Di dalam hati
terjadi proses-proses penting bagi kehidupan yaitu proses penyimpanan energi,
pembentukan protein dan asam empedu, pengaturan metabolisme kolesterol,
dan penetralan racun/obat yang masuk dalm tubuh . Hati yang sehat bisa
menyaring racun dan melakukan proses detoksifikasi secara optimal. Bila hati
sakit, otomatis racun bakal tertumpuk dan tubuh rentan terkena penyakit serius.
Hati atau lever merupakan organ paling besar dan paling berat yang ada di
dalam tubuh. Beratnya se r 3 pound atau 1,3 kg. Letaknya berada di bagian atas
sebelah kanan abdomen dan di bawah tulang rusuk. Organ hati yang cukup
besar ini setara dengan fungsinya yang cukup berat. Setidaknya lebih dari 500
pekerjaan dilakukan oleh lever. Hati menjadi tempat menyaring segala sesuatu
yang dikonsumsi maupun dihirup manusia, termasuk yang diserap dari
permukaan kulit.
Dalam situs Hepatitis Foundation International disebutkan, lever bertindak
sebagai mesin tubuh, dapur, penyaring, pengolah makanan, pembuangan
sampah, dan malaikat pelindung. Masalahnya, hati merupakan teman yang
pendiam. Manakala ada sesuatu yang salah, ia tidak mengeluh hingga terjadi
kerusakan lebih jauh.
Hati juga menyimpan beberapa vitamin, mineral (termasuk zat besi), dan gula,
mengatur penyimpanan lemak dan mengontrol produksi serta ekskresi
kolesterol. Empedu yang dihasilkan oleh sel hati membantu mencerna makanan
dan menyerap zat gizi penting. Juga menetralkan dan menghancurkan substansi
beracun serta memetabolisme alkohol, membantu menghambat infeksi, dan
mengeluarkan bakteri dari aliran darah. Sehinga dapat dibayangkan akibat yang
akan timbul apabila terjadi kerusakan pada hati.

A. 2 Fungsi Hati dalam Peredaran makanan

a.

Membersihkan unsure unsure gizi dari unsur unsure yang membahayakan


tubuh

b.

Mengatur pembagian unsure unsure gizi ke bagian bagian tubuh yang


memerlukannya

c.

Menyimpan kelebihan unsure-unsur gizi untuk cadangan

d.

Mengatur pembuangan beberapa zat sisa

B. Diet Penyakit Hati


B. 1. Tujuan diet pada penyakit hati
a.

b.

Memberikan makanan secukupnya guna mempercepat perbaikan hati tanpa


memberatkan pekerjaan hati.
Mempertahankan status gizi optimal
c. Meningkatkan regenerasi jaringan hati dan mencegah kerusakan lebih

lanjut
d. Mencegah katabolisme protein
e. Mencegah penurunan berat badan
f.

Mencegah / mengurangi asites,


portalmencegah koma hepatik

varises

esofagus,

dan

hipertensi

B. 2. Syarat Diet penyakit Hati


1.Energi Tinggi, untuk mencegah oemecahan protein, yang diberikan bertahap
sesuai dengan kemampuan pasien, ayitu 40 45 kkal.kgbb.
2. Lemak Cukup, yaitu 20 25% dari kebutuhan energi total, dalam bentuk yang
mudah dicerna atau dalam bentuk emulsi. Bila pasien mengalami steatorea,
gunakan lemak dengan asam lemak rantai sedang (medium chain triglyceride /
MCT). Jenis lemak ini tidak membutuhkan aktifitas lipase dan asam empedu
dalam proses absorbsinya. Pemberian lemak sebanyak 45 gram dapat
mempertehankan fungsi imun dan proses sintesis lemak.
3. Protein Agak Tinggi, yaitu 1,25 1,5 g/kg BB agar terjadi anabolisme protein.
Pada kasusu hipatitis Fulminan dengan nekrosis dan gejala ensefalopati yang
disertai peningkatan amoniak dalam darah, pemberian priteian harus dibatasi
untuk mencagah koma, yaitu sebanyak 30 40 g/hari. Pada sirosis hati
terkompensasi, proteian diberikan sebanyak 1,25 g/kg BB. Proteian nabati
memberikan keuntungan karena kandungan serat yang dapat mempercepat
pengeluaran amoniak mellaui fesis. Namun, sering timbul keluhan berupa rasa

kembung dan penuh. Diet ini dapat mengurangi status ensefalopi, tetapi tidak
dapat memperbaiki keseimbangan nitrogen.
4. Vitamin dan Mineral, diberikan sesuai dengan tingkat defisiensi. Bila perlu,
diberikan suplemen vitamin B kompleks, C, dan K serta mineral seng dan zat besi
bila ada anemia.
5. Natrium, diberikan rendah tergantung tingkat edema dan asites. Bila pasien
mendapat diuretika, garam natrium dapat diberikan labih luas.
6. Cairan, diberikan labih dari baisa kecuali bila ada kontraindikasi.

B.3. Jenis Diet Hati dan Indikasi


Menurut Atmarita (2005), terdapat 3 jenis diet khusus penyakit hati. Hal ini
didasarkan pada gejala dan keadaan penyakit pasien. Jenis diet penyakit hati
tersebut adalah Diet Hati I (DH I), Diet Hati II (DH II), dan Diet Hati III (DH III).
Selain itu pada diet penyakit hati ini juga menyertakan Diet Garam Rendah I.
Diet Garam Rendah I (DGR I)
Diet garam rendah I diberikan kepada pasien dengan edema, asites dan atau
atau hipertensi berat. Pada pengolahan makanannya tidak menambahkan garam
dapur. Dihindari bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya. Kadar Natrium
pada Diet garam rendah I ini adalah 200-400 mg Na.

a.Diet Hati I (DH I)


Diet Hati I diberikan bila pasien dala keadaan akut atau bila prekoma sudah
dapat diatasi dan pasien sudah mulai mempunyai nafsu makan. Melihat keadaan
pasien, makanan diberikan dalam bentuk cincang atau lunak. Pemberian protein
dibatasi (30 g/hari) dan lemak diberikan dalam bentuk mudah dicerna. Formula
enteral dengan asam amino rantai cabang (Branched Chain Amino Acid /BCAA)
yaitu leusin, isoleusin, dan valin dapat digunakan. Bila ada asites dan diuresis
belum sempurna, pemberian cairan maksimal 1 L/hari.

Makanan ini rendah energi, protein, kalsium, zat besi, dan tiamin; karena itu
sebaiknya diberikan selama beberapa hari saja. Menurut beratnya retensi garam
atau air, makanan diberikan sebagai Diet Hati I Garam rendah. Bila ada asites
hebat dan tanda-tanda diuresis belum membaik, diberikan Diet Garam Rendah I.
Untuk menambah kandungan energi, selain makanan per oral juga diberikan
makanan parenteral berupa cairan gluko
b.

Diet Hati II (DH II)


Diet hati II diberikan sebagai makanan perpindahan dari diet hati II kepada
pasien dengan nafsu makannya cukup. Menurut keadaan pasien, makanan
diberikan dalam bentuk lunak / biasa. Protein diberikan 1 g/Kg berat badan dan

lemak sedang (20-25% dari kebutuhan energi total) dalam bentuk yang mudah
dicerna. Makanan ini cukup mengandung energi, zat besi, vitamin A & C, tetapi
kurang kalsium dan tiamin. Menurut beratnya retensi garam atau air, makanan
diberikan sebagai diet hati II rendah garam. Bila asites hebat dan diuresis belum
baik, diet mengikuti pola Diet Rendah garam I.

c.Diet Hati III (DH III)


Diet Hati III diberikan sebagai makanan perpindahan dari Diet Hati II atau kepada
pasien hepatitis akut (Hepatitis Infeksiosa/A dan Hepatitis Serum/B) dan sirosis
hati yang nafsu makannya telah baik, telah dapat menerima protein, lemak,
mi9neral dan vitamin tapi tinggi karbohidrat. Menurut beratnya tetensi garam
atau air, makanan diberikan sebagai Diet Hati III Garam Rendah I.

B. 4 . Bahan Makanan yang Dianjurkan

1.

Sumber Karbohidrat
Nasi, mie, kentang, bihun, havermout, gula, sirup, madu

2.

Protein Hewani
Telur, susu, daging sapi tanpa lemak, ayam tanpa kulit, ikan, yogurt

3.

Protein Nabati
Tahu, tempe, kacang hijau, tofu

4.

Sayur
Semua sayuran kecuali yang terdapat pada daftar makanan yang tidak
dianjurkan

5.

Buah
Semua buah kecuali yang terdapat pada daftar bahan makanan yang tidak
dianjurkan

6.

Bumbu
Bawang merah, putih, lada, kunyit, jahe, salam, sereh, kayu manis, ketumbar
Bahan Makanan yang Tidak Dianjurkan

1.

Sumber karbohidrat
Beras ketan, ubi, singkong

2.

Protein Hewani
Daging berlemak, daging kambing, daging babi, daging yang diawetkan seperti
ham, sosis, kornet,sarden, dll

3.

Protein Nabati
Kacanng merah, kacang tanah

4.

Sayuran
Sayuran bergas seperti kol, sawi, lobak
Sayuran berserat tinggi seperti daun singkong, daun katuk, lembayung, nangka
muda
Sayuran yang diawetkan seperti asinan sayuran, sayur kalengan

5.

Buah
Durian, salak, nangka, alpukat, nanas

6.

Bumbu Cabe, terasi, petis, tauco, vetsin, kecap asin, saus.


BAB III PENUTUPAN

A . Kesimpulan
Untuk mengatasi penyakit hati, pasien perlu mengatur pola dietnya. Adapun
tujuan dalam diet penyakit hati yaitu untuk mencapai dan mempertahankan
status gizi optimal tanpa memberatkan fungsi hati. Dalam diet penyakit hati ada
beberapa syarat yang harus dipenuhi, sedangkan untuk jenis diet itu sendiri
dibagi menjadi 3 yaitu Diet Hati I, Diet Hati II, Diet Hati III. Dimana masingmasing jenis memiliki indikasi pola diet tersendiri.

B . Saran
Hati merupakan organ yang penting dalam system pencernaan,untuk itu
pentingnya kita menjaga pola makan maupun diet yang sehat bagi
penderita penyakit hati.

Daftar Pustaka
Almatsier, Sunita. 2005, Penuntun Diet, Jakarta: Gramedia.
www.info-sehat.com
dewansfamily.multiply.com
Sumber : Tuti Sunardi, Susirah Soetardjo. Terapi Makanan dengan Gangguan
Autisme. PT Penerbit Sarana Bobo.
2007
Sjahmien Moehji B.Sc.,1979,Ilmu Gizi Jilid I,Jakarta:Bhratara Karya
Aksara.
http://anggyariestyyy.blogspot.co.id/2013/12/diet-dengan-penyakit-hati.html
Diet Penyakit Hati

Menurut Atmarita (2005), terdapat 3 jenis diet khusus penyakit hati. Hal ini didasarkan
pada gejala dan keadaan penyakit pasien. Jenis diet penyakit hati tersebut adalah Diet
Hati I (DH I), Diet Hati II (DH II), dan Diet Hati III (DH III). Selain itu pada diet penyakit hati
ini juga menyertakan Diet Garam Rendah I.

1.

Diet Garam Rendah I (DGR I)


Diet garam rendah I diberikan kepada pasien dengan edema, asites dan atau atau
hipertensi berat. Pada pengolahan makanannya tidak menambahkan garam dapur.
Dihindari bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya. Kadar Natrium pada Diet garam
rendah I ini adalah 200-400 mg Na.

1.

Diet Hati I (DH I)


Diet Hati I diberikan bila pasien dala keadaan akut atau bila prekoma sudah dapat diatasi
dan pasien sudah mulai mempunyai nafsu makan. Melihat keadaan pasien, makanan
diberikan dalam bentuk cincang atau lunak. Pemberian protein dibatasi (30 g/hari) dan
lemak diberikan dalam bentuk mudah dicerna. Formula enteral dengan asam amino
rantai cabang (Branched Chain Amino Acid /BCAA) yaitu leusin, isoleusin, dan valin dapat
digunakan. Bila ada asites dan diuresis belum sempurna, pemberian cairan maksimal 1
L/hari.

Makanan ini rendah energi, protein, kalsium, zat besi, dan tiamin; karena itu sebaiknya
diberikan selama beberapa hari saja. Menurut beratnya retensi garam atau air, makanan
diberikan sebagai Diet Hati I Garam rendah. Bila ada asites hebat dan tanda-tanda

diuresis belum membaik, diberikan Diet Garam Rendah I. Untuk menambah kandungan
energi, selain makanan per oral juga diberikan makanan parenteral berupa cairan
glukosa.

1.

Diet Hati II (DH II)


Diet hati II diberikan sebagai makanan perpindahan dari diet hati II kepada pasien
dengan nafsu makannya cukup. Menurut keadaan pasien, makanan diberikan dalam
bentuk lunak / biasa. Protein diberikan 1 g/Kg berat badan dan lemak sedang (20-25%
dari kebutuhan energi total) dalam bentuk yang mudah dicerna. Makanan ini cukup
mengandung energi, zat besi, vitamin A & C, tetapi kurang kalsium dan tiamin. Menurut
beratnya retensi garam atau air, makanan diberikan sebagai diet hati II rendah garam.
Bila asites hebat dan diuresis belum baik, diet mengikuti pola Diet Rendah garam I.

1.

Diet Hati III (DH III)


Diet Hati III diberikan sebagai makanan perpindahan dari Diet Hati II atau kepada pasien
hepatitis akut (Hepatitis Infeksiosa/A dan Hepatitis Serum/B) dan sirosis hati yang nafsu
makannya telah baik, telah dapat menerima protein, lemak, mi9neral dan vitamin tapi
tinggi karbohidrat. Menurut beratnya tetensi garam atau air, makanan diberikan sebagai
Diet Hati III Garam Rendah I.

Tujuan Diet

Adapun tujuan Diet Hati secara umum antara lain:

1.

Mencapai dan mempertahankan status gizi optimal tanpa memberatkan fungsi


hati, dengan cara:

2.

Meningkatkan regenerasi jaringan hati dan mencegah kerusakan lebih lanjut


dan/atau meningkatkan fungsi jaringan hati yang tersisa.

3.

Mencegah katabolisme protein.

4.

Mencegah penurunan BB atau meningkatkan BB bila kurang.

5.

Mencegah atau mengurangi asites, varises esophagus, dan hipertensi portal.

6.

Mencegah koma hepatik.


Syarat Diet

1.

Energi tinggi untuk mencegah pemecahan protein, yang diberikan bertahap


sesuai kemampuan pasien, yaitu 40-45 kkal/Kg BB.

2.

Lemak cukup, yaitu 20-25% dari kebutuhan energo total, dalam bentuk yang
mudah dicerna atau dalam bentuk emulsi. Bila pasien mengalami steatorea, gunakan
lemak dengan asam lemak rantai sedang. Pemberian lemak sebanyak 45 Kg dapat
mempertahankan fungsi imun dan proses sintesis lemak.

3.

Protein agak tinggi, yaitu 1.25-1.5 g/Kg BB agar terjadi anabolisme protein.
Asupan minimal protein 0.8-1g/Kg BB, protein nabati memberikan keuntungan karena
kandungan serat yang dapat mempercepat pengeluaran amoniak melalui feses.

4.

Vitamin dan mineral diberikan sesuai dengan tingkat defisiensi. Bila perlu,
diberikan suplemen vitamin B kompleks, C, dan K serta mineral Zn dan Fe bila ada
anemia.

5.

Natrium diberikan rendah, tergantung tingkat edema dan asites. Bila pasien
mendapat diuretika, garam natrium dapat diberikan lebih leluasa.

6.

Cairan diberikan lebih dari biasa, kecuali bila ada kontraindikasi.

7.

Bentuk makanan lunak bila ada keluhan mual dan muntah, atau makanan biasa
sesuai kemampuan saluran cerna.
Bahan Makanan yang Dibatasi:

Bahan makanan yang dibatasi untuk Diet Hati I, II, dan III adalaha dari sumber lemak,
yaitu semua makanan dan daging yang banyak mengandung lemak dan santan serta
bahan makanan yang menimbulkan gas seperti ubi, kacang merah, kol, sawi, lobak,
ketimun, durian, dan nangka.

Bahan Makanan yang tidak dianjurkan:

Bahan makanan yang tidak dianjurkan untuk Diet Hati I, II, III adalah makanan yang
mengandung alkohol, teh atau kopi kental.

https://gizisehat.wordpress.com/2010/07/18/diet-pada-penyakit-hati/

DIET PENYAKIT SALURAN CERNA BAWAH

Diet penyakit radang usus

Radang ileum dan usus besar ditandai dengan gejala diare, disertai darah, lendir,
nyeri abdomen, berat badan berkurang, nafsu makan berkurang, demam, dan
kemungkinan adanya lemak dalam feses. Penyakit ini dapat berupa kolitis ulseratif
dan chrons disease. Hindari makanan yang mengandung sisa yang banyak seperti
susu dan makanan yang tinggi serat serta makanan yang menimbulkan gas.
Dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung rendah serat dalam
bentuk makanan lunak serta suplementasi vitamin dan mineral antara lain vitamin
A,C,D, asam folat, vitamin B12, kalsium, zat besi, magnesium, dan seng.

Diet Penyakit Divertikular

Penyakit divertikular terdiri atas penyakit divertikulosis dan divertikulitis. Penyakit


divertikulosis yaitu adanya kantong-kantong kecil yang terbentuk pada dinding kolon
yang terjadi akibat tekanan intrakolon yang tinggi pada konstipasi kronik. Hal ini
terutama terjadi pada usia lanjut yang makanannya rendah serat. Diet yang harus
dilalukan adalah meningkatkan asupan serat penderita dan hindari makanan yang
mengandung rendah serat seperti makanan junkfood. Penyakit divertikulosis ini
terjadi bila penumpukan sisa makanan pada kolon yang menyebabkan peradangan.
Gejala-gejalanya antara lain kram pada bagian kiri bawah perut, mual, kembung,
muntah, konstipasi atau diare, menggigil dan demam. Hindari makanan yang
mengandung sisa yang tinggi dalam saluran pencernaan seperti susu dan
dianjurkan untuk minum 8 gelas sehari.
Sumber : Buku penuntun diet edisi baru
http://www.mausehat.com/diet-atasi-masalah-saluran-cerna/