Anda di halaman 1dari 8

A.

Definisi
Perdarahan uterus disfungsional adalah perdarahan uterus abnormal (jumlah,
frekuensi, atau lamanya) yang terjadi baik di dalam maupun diluar siklus haid, yang
semata mata disebabkan gangguan fungsional mekanisme kerja poros hipotalamus
hipofisis ovarium endometrium tanpa adanya kelainan organik alat reproduksi (Robe,
2002).
B. Klasifikasi
Klasifikasi perdarahan uterus disfungsional menurut Chalik :
1. Perdarahan Uterus Disfungsional pada usia remaja
Etiologi diperkirakan karena disfungsi dari sumbu hipotalamus hipofisis yang
mengakibatkan anovulasi sekunder. Pada masa ini ovarium masih belum berfungsi
dengan baik (disfungsi ovarium) pada remaja yang mengalami perdarahan
disfungsional sistem mekanisme siklus feedback yang normal belum mencapai
kemantangan (delayed maturation).
2. Perdarahan Uterus Disfungsional pada masa reproduksi
Pada usia reproduksi perdarahan yang tidak teratur umumnya terjadi akibat
kelainan organik, namun perdarahan uterus disfungsional juga bisa terjadi. Selain itu
harus pula dipikirkan akan kemungkinan wanita itu mengalami perdarahan akibat
penggunaan alat kontrasepsi. Oleh karena itu perlu sekali dilakukan pemeriksaan
yang lengkap sebelum diagnosis perdarahan uterus disfungsional ditegakkan.
3. Perdarahan Uterus Disfungsional pada masa premenopause
Beberapa tahun menjelang menopause fungsi ovarium mengalami kemunduran
karena secara histologis di dalam korteks ovarium hanya tersisa sedikit jumlah folikel
primordial yang resisten terhadap gonadotropin. Sekalipun terus terangsang oleh
gonadotropin akan tetapi folikel tersebut tidak akan mampu menghasilkan jumlah
estrogen yang cukup. Kekurangan estrogen eperti ovulasi, menstruasi, kekuatan
jaringan vagina dan vulva. Nammun demikian tidak semua wanita akan mengalami
kekurangan estrogen dalam masa ini bahkan sebaliknya dapat juga mengalami
kelebihan estrogen bebas yang beredar, karena dalam masa ini terjadi kekurangan
globulin pengikat hormon kelamin (sex hormone binding globulin = SHBG)
sementara kelenjar adrenal masih tetap menghasilkan estrogen disamping sedikit

estrogen yang masih dihasilkan folikel yang tersisa. Dengan begitu dalam masa
perimenopause dapat juga terjadi perdarahan uterus disfungsional baik akibat
kekurangan maupun oleh karena relatif kelebihan estrogen.
C. Etiologi
Perdarahan uterus disfungsional umumnya disebabkan oleh gangguan fungsi
ovarium sekunder yang berpuncak pada kelainan fungsi pada salah satu tempat dari
sistem sumbu hipotalamus hipofisis ovarium, dan jarang karena gangguan fungsi
korteks anak ginjal atau kelenjar tiroid (Chalik, 2000).
Perdarahan uterus disfungsional terjadi akibat gangguan (endokrin) pada sistem
hipothalamus, hipofisis, ovarium dan endometrium dan (non endokrin) psikogenik,
neuropenik, nutrisi yang kurang & penyakit sistemik (Robe , 2002)
Perdarahan uterus disfungsional murni disebabkan oleh perdarahan uterus
anovulasi, perdarahan uterus dengan ovulasi (persisten atau disfungsi korpus luteum) dan
perdarahan uterus karena atropi endometrium (Manuaba, 2004)
D. Gambaran Klinik
Tanda klinis yang menonjol pada perdarahan uterus disfungsional adalah
pengeluaran darah dari rahim yang menyalahi ciri ciri haid yang normal, terjadi pada
wanita yang bukan akseptor kontrasepsi dan pada pemeriksaan dalam dari wanita tersebut
tidak ditemukan suatu lesi yang dapat menyebabkan perdarahan seperti infeksi, tumor,
septum dan sebagainya (Chalik, 2000). Perdarahan uterus disfungsional dapat terjadi
dalam dua bentuk, yaitu:
1. Perdarahan uterus disfungsional tipe anovulasi
Pada

perdarahan

uterus

disfungsional

tipe

anovulasi,

tidak

terdapat

pembentukan progesteron sehingga hanya terdapat satu komponen hormonal, yaitu


estrogen sehingga pertumbuhan endometrium berlajut terus tanpa batas. Perdarahan
yang terjadi karena kemapuan Art spiralis untuk memberikan nutrisi sudah tidak
mungkin sehingga dapat berakhir dengan perdarahan. Dimana dari delapan puluh
persen dari semua perdarahan uterus disfungsional adalah perdarahan uterus
disfungsional tipe anovulasi.

Oleh karena itu, perdarahan uterus disfungsional tipe anovulasi mempunyai


manifestasi klinik sebagai berikut :
a)
b)
c)
d)

Jumlah dan lamanya tidak dapat diduga.


Datangnya tidak dapat diduga.
Tidak terdapat kontraksi otot rahim sehingga tidak terdapat rasa nyeri.
Intervalnya tidak sesuai dengan siklus menstruasi
Perdarahan ynag banyak pada perdarahan uterus disfungsional tipe anovulasi

disebabkan oleh :
a) Tidak terbentuknya thrombus pada pembuluh darah superfisialis
b) Tidak terdapat vasokonstriksi pembuluh darah arterial spinalis, yang mempunyai
reseptor untuk PGF2 alfa.
Kejadian perdarahan uterus disfungsional tipe anovulasi sebagian besar terjadi
pada perimenarche, artinya sekitar 1-2 tahun setelah menarche dan perimenopause.
Pada kejadian perimenopause perlu diperhatikan ada kemungkinan rangsangan
estrogen yang kuat dan terlalu lama akan menimbulkan mammae karsinoma,
hiperplasia endometrium edematosa atau atipik, yang keduanya dianggap sebagai
batu loncatan menuju karsinoma endometrium. Pada beberapa ahli, tipe hiperplasia
sudah dianggap sebagai endometrial karsinoma in situ.
Pada masa klimakterium dan menopause banyak terjadi perdarahan uterus
disfungsional yang disebabkan oleh rangsangan estrogen, sekalipun pengeluaran dari
ovarium tidak terlalu banyak. Sumber estrogen pada masa klimakterium dan
menopause adalah ovarium (korteks) sisa sel theka, stroma ovarium karena
rangsangan LH mengeluarkan androstenedion dikonversi lemak menjadi estron
(6,5%) dan testosterone dikonversi menjadi estradiol (1%). Kedua derivate estrogen
rangsang endometrium sehingga dapat menimbulkan perdarahan uterus disfungsional
(Manuaba, 2004).
2. Perdarahan uterus disfungsional tipe ovulasi
Kejadian perdarahan uterus disfungsional tipe ovulasi dapat diterangkan karena
terjadi korpus luteum persisten atau defisiensi sehingga pengeluaran progesteron
tidak adekuat. Dari seluruh kejadian perdarahan uterus disfungsional hampir 20%
kejadian perdarahan uterus disfungsional bertipe ovulasi. Progesteron yang
merupakan pemicu terjadinya pembentukan prostaglandin menyebabkan terjadi

berbagai bentuk perbandingan antara PGF2 alfa dan prostasiklin. Di samping itu, ada
kemungkinan pembentukan tromboksan konsentrasinya kurang tinggi sehingga
pembentukan thrombus pada pembuluh darah tidak sempurna. Dengan demikian,
bentuk perdarahan uterus disfungsional tipe ovulasi mempunyai manifestasi klinik
sebagai berikut :
a)
b)
c)
d)
e)

Terdapat gejala sindrom premenstrual, yaitu: mamae tegang dan mungkin depresi.
Berat badan dapat bertambah.
Terdapat dismenorhoe.
Perdarahan yang terjadi tidak teratur.
Jumlahnya bervariasi.
Perdarahan uterus disfungsional tipe ovulasi terjadi sekitar 20% dan sebagian

besar terjadi pada masa reproduksi aktif (Manuaba, 2004).


E. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan

perdarahan

uterus

disfungsional

secara

umum

perlu

memperhatikan faktor-faktor berikut:


1. Umur, status pernikahan, fertilitas
Hal ini dihubungkan dengan penanganan pada tingkatan perimenarche
reproduksi dan perimenopause. Penanganan juga seringkali berbeda antara penderita
yang telah dan belum menikah atau yang tidak dan yang ingin punya anak.
2. Berat, jenis dan lama perdarahan
Keadaan ini akan mempengaruhi keputusan pengambilan tindakan mendesak
atau tidak mendesak.
3. Kelainan dasar dan prognosisnya
Pengobatan kausal dan tindakan yang lebih radikal sejak awal telah dipikirkan
jika dasar kelainan dan prognosis telah diketahui sejak dini (Kahn, 2000).
Pada perdarahan uterus disfungsional langkah pertama yang harus dikerjakan
adalah memperbaiki keadaan umum, termasuk pengatasan anemia. Langkah kedua adalah
menghentikan perdarahan, baik secara hormonal maupun operatif. Setelah keadaan akut
teratasi, sebagai langkah ketiga, dilakukan upaya pengembalian fungsi normal siklus haid
dengan cara mengembalikan keseimbangan fungsi hormon reproduksi. Untuk ini dapat
dilakukan pengobatan hormonal selama 3 siklus berturut-turut. Bilamana upaya ini gagal,
maka diperlukan tindakan untuk meniadakan patologi yang ada guna mencegah

berulangnya perdarahan uterus disfungsional. Secara singkat langkah-langkah tersebut


dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Perbaikan keadaan umum
Pada perdarahan yang banyak sering ditemukan keadaan umum yang
buruk, pada keadaan perdarahan uterus disfungsional akut anemia yang terjadi
harus segera diatasi dengan transfusi darah. Pada perdarahan uterus
disfungsional kronis keadaan anemia ringan seringkali dapat diatasi dengan
diberikan sediaan besi, sedangkan anemia berat membutuhkan transfusi darah
(Kahn, 2000).
2. Penghentian perdarahan
a) Pemakaian hormon steroid seks
(1) Estrogen
Digunakan

pada

perdarahan

uterus

disfungsional

untuk

menghentikan perdarahan karena memiliki berbagai khasiat yaitu:


(a)
(b)
(c)
(d)

Penyembuhan luka (healing effect)


Pembentukan mukopolisakarida pada dinding pembuluh darah
Vasokonstriksi, karena merangsang pembentukan prostaglandin
Meningkatkan pembentukan trombin dan fibrin serta menghambat

proses fibrinolisis
(2) Progestin
Berbagai

jenis

progestin

sintetik

telah

dilaporkan

dapat

menghentikan perdarahan. Beberapa sediaan tersebut antara lain


adalah noretisteron, MPA, megestrol asetat, didrogesteron dan
linestrenol.
Noretisteron dapat menghentikan perdarahan setalh 24-48 jam
dengan dosisi 20-30 mg/hari, medroksiprogesteron asesat dengan
dosisi 10-20 mg/hari selama 10 hari, megestrol asetat dengan
didrogesteron dengan dosis 10-20 mg/hari selama 10 hari, serta
linestrenol dengan dosis 15 mg/hari selama 10 hari.
(3) Androgen
Merupakan pilihan lain bagi penderita yang tidak cocok dengan
estrogen dan progesteron. Sediaan yang dapat dipakai antara lain
adalah isoksasol (danazol) dan metil testosteron (danazol merupakan

suatu turunan 17-a- etinil-testosteron). Dosis yang diberikan adalah


200 mg/hari selama 12 minggu. Perlu diingat bahwa pemakaian jangka
panjang sediaan androgen akan berakibat maskulinisasi.
b) Pemakaian penghambat sintesis prostaglandin
Pada peristiwa perdarahan, prostaglandin penting peranannya pada
vaskularisasi endometrium. Dalam hal ini PgE2 dan PgE2a meningkat
secara bermakna. Dengan dasar itu, penghambat sintesis prostaglandin atau
obat anti inflamasi non steroid telah dipakai untuk pengobatan perdarahan
uterus disfungsional, terutama perdarahan uterus disfungsional anovulatorik.
Untuk itu asam mefenamat dan naproksen seringkali dipakai dosis 3x500
mg/hari selama 3-5 hari terbukti mampu mengurangi perdarahan.
c) Pemakaian antifibrinolitik
Sistem pembekuan darah juga ikut berperan secara local pada
perdarahan uterus disfungsional. Peran ini tampil melalui aktivitas
fibrinolitik yang diakibatkan oleh kerja enzimatik. Proses ini berfungsi
sebagai mekanisme pertahanan dasar untuk mengatasi penumpukan fibrin.
Unsur utama pada system fibrinolitik adalah plasminogen, yang bila
diaktifkan akan mengeluarkan protase plasmin. Enzim tersebut akan
menghambat aktivasi plasminogen menjadi plasmin, sehingga proses
fibrinoisis akhirnya akan terhambat pula. Sedian yang ada untuk keperluan
ini adalah asam amino kaproat (dosis yang diberikan adalah 4 x 1-1,5 gr/hari
selama 4-7 hari).
d) Pengobatan operatif
Jenis pengobatan ini mencakup : dilatasi dan kuretase, ablasi laser dan
histerktomi. Dilatasi dan kuretase merupakan tahap yang ringan dari jenis
pengobatan operatif pada perdarahan uterus disfungsional. Tujuan pokok
dari kuretase pada perdarahan uterus disfungsional adalah untuk diagnostik,
terutama pada umur diatas 35 tahun atau perimenopause. Hal ini
berhubungan dengan meningkatnya frekuensi keganasan pada usia tersebut.
Tindakan ini dapat menghentikan perdarahan karena menghilangkan daerah
nekrotik pada endometrium. Persiapan sebelum kuretase diantaranya USG,

mengukur tensi dan hemoglobin darah, memeriksa sistem pernafasan,


mengatasi perdarahan dan memastikan pasien dalam kondisi baik (Kahn,
2000).
Namun

demikian

tindakan

kuretase

pada

perdarahan

uterus

disfungsional masih diperdebatkan, karena yang diselesaikan hanyalah


masalah pada organ sasaran tanpa menghilangkan kausa. Oleh karena itu
kemungkinan kambuhnya cukup tinggi (30-40%) sehingga acapkali
diperlukan kuretase berulang. Beberapa ahli bahkan tidak menganjurkan
kuretase sebagai pilihan utama untuk menghentikan perdarahan pda
perdarahan uterus disfungsional, kecuali jika pengobatan hormonal gagal
menghentikan perdarahan. Pada ablasi endometrium dengan lasser ketiga
lapisan endometrium diablasikan dengan cara vaporasi neodymium YAG
laser. Endometrium akan hilang permanen, sehingga penderita akan
mengalami henti haid yang permanen pula. Cara ini dipilih untuk penderita
yang punya kontraindikasi pembedahan dan tampak cukup efektif sebagai
pilihan lain dari histerektomi, tetapi bukan sebagai pengganti histerektomi
(Manuaba, 2004).
Tindakan histerektomi pada penderita perdarahan uterus disfungsional
harus memperhatikan usia dan paritas penderita. Pada penderita muda
tindakan ini merupakan pilihan terakhir. Sebaliknya pada penderita
perimenopause atau menopause, histerektomi harus dipertimbangkan bagi
semua kasus perdarahan yang menetap atau berulang. Selain itu
histerektomi juga dilakukan untuk perdarahan uterus disfungsional dengan
gambaran histologis endometrium hyperplasia atipik dan kegagalan
pengobatan hormonal maupun dilatasi dan kuterasse (Manuaba, 2004).

3. Mengembalikan keseimbangan fungsi hormon reproduksi


Usaha ini meliputi pengembalian siklus haid abnormal menjadi normal,
pengubahan siklus anovulatorik menjadi ovulatorik atau perbaikan suasana
sehingga terpenuhi persyaratan untuk pemicuan ovulasi. Tampil sebagai

poimenorea, oligomenorea, menorargia, dan perdarhan pertengahan siklus,


perdarahan bercak prahaid, atau pasca haid. Perdarahan pertengahan siklus
dilatasi dengan estrogen konjugasi 0,65-1,25 mg/hari atau etinilestradiol 50
mikogram/hari dari hari ke 10 hingga hari ke 15. Perdarahan bercak prahaid
diobati dengan progesterone (medroksi progestron asetat atau didrogestron)
dengan dosis 10 mg/hari dari hari ke 17 hingga ari ke 26 (Achadiat, 2004).
Beberapa penulis menggunakan progesterone dan estrogen pada poimenorea
dan menorargia dengan dosisi yang sesuai dengan kontrasepsi oral, muai hari ke
5 hingga hari ke 25 siklus haid.
Perdarahan uterus disfungsional anovulatorik mempunyai dasar kelainan
kekurangan progesteron. Oleh karena itu pengobatan untuk mengembalikan
fungsi hormon reproduksi dilakukan dengan pemberian progesteron, seperti
medroksi progesteron asetat dengan dosis 10-20 mg/hari mulai hari ke 16-25
siklus haid. Dapat pula digunakan didrogesteron dengan dosis 10-20 mg/hari
dari hari 16-25 siklus haid, linestrenol. dengan dosis 5-15 mg/hari selama 10
hari mulai hari hari ke 16-25 siklus haid. Pengobatan hormonal ini diberikan
untuk 3 siklus haid. Jika gagal setelah pemberian 3 siklus dan ovulasi tetap tak
terjadi, dilakukan pemicuan ovulasi. Pada penderita yang tidak menginginkan
anak keadaan ini diatur dengan penambahan estrogen dosis 0,625- 1,25 mg/hari
atau kontrasepsi oral selama 10 hari, dari hari ke 5 sampai hari ke 25 (Achadiat,
2004).
F. Prognosis
Hasil pengobatan bergantung kepada proses perjalanan penyakit (patofisiologi).
Penegakan diagnosa yang tepat dan regulasi hormonal secara dini dapat memberikan
angka kesembuhan hingga 90 %. Pada wanita muda, yang sebagian besar terjadi dalam
siklus anovulasi, dapat diobati dengan hasil baik.