Anda di halaman 1dari 8

BAB II

TINJAUAN TEORI
A. Pengertian Pola Makan Sehat dan Seimbang
Menurut Harper (1986), pola makan (dietary pattern) adalah cara yang
ditempuh seseorang atau sekelompok untuk memilih makanan dan mengkonsumsinya
sebagai reaksi terhadap pengaruh fisiologis, psikologis, budaya dan sosial. Menu
seimbang adalah menu yang terdiri dari beraneka ragam makanan dalam jumlah dan
proporsi yang sesuai, sehingga memenuhi kebutuhan gizi seseorang guna
pemeliharaan dan perbaikan sel-sel tubuh dan proses kehidupan serta pertumbuhan
dan perkembangan (Almatsier, 2004). Ilmuwan memperkirakan 75% kanker bisa
dicegah melalui diet yang lebih baik. Konsumsi makanan yang salah dapat membuat
tubuh

kekurangan nutrisi-nutrisi vital yang diperlukan agar tubuh dapat bekerja

dengan baik. Kunci menuju kesehatan yang baik adalah diet yang seimbang dan
bervariasi (Weekes, 2008).
B. Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS)
Menurut Almatsier (2004), PUGS disusun untuk mencapai dan memelihara
kesehatan dan kesejahteraan gizi (nutritional well-being) semua yang merupakan
prasyarat untuk pembangunan sumber daya manusia. Dalam PUGS, susunan makanan
yang dianjurkan adalah yang menjamin keseimbangan zat-zat gizi. Hal ini dapat
dicapai dengan mengkonsumsi beraneka ragam makanan tiap hari. Tiap makanan
dapat saling melengkapi dalam zat-zat gizi yang dikandungnya. PUGS merupakan
penjabaran lebih lanjut dari pedoman 4 Sehat 5 Sempurna yang memuat pesan-pesan
yang berkaitan dengan pencegahan baik masalah gizi kurang maupun masalah gizi
lebih. Pengelompokan makanan didasarkan pada tiga fungsi utama zat-zat gizi, yaitu
sumber zat energi/tenaga yang dapat berupa padi-padian, tepung-tepungan, umbiumbian, sagu, dan pisang yang dibeberapa bagian di Indonesia juga dimakan sebagai
makanan pokok. Sebagai sumber zat pembangun berupa sayuran dan buah, serta
sumber zat pengatur berupa ikan, ayam, telur, daging, susu, kacang-kacangan dan
hasil olahannya, seperti tempe, tahu dan oncom. Untuk mencapai gizi seimbang
hendaknya susunan makanan sehari terdiri dari campuran ketiga kelompok bahan
makanan tersebut. Dari tiap kelompok dipilih salah satu atau lebih jenis bahan
makanan sesuai dengan ketersediaan bahan makanan tersebut di pasar, keadaan sosial

ekonomi, nilai gizi, dan kebiasaan makanan (Almatsier, 2004). Menurut Baliwati
(2004), PUGS memuat tiga belas pesan dasar yang diharapkan dapat digunakan
masyarakat luas sebagai pedomanpraktis untuk mengatur makanan sehari-hari yang
seimbang dan aman guna mencapai dan mempertahankan status gizi dan kesehatan
yang optimal. Ketiga belas pesan dasar tersebut adalah sebagai berikut:
1. Makanlah aneka ragam makanan.
2. Makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi.
3. Makanlah makanan sumber karbohidrat, setengah dari kebutuhan energi.
4. Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kebutuhan energi.
5. Gunakan garam beryodium.
6. Makanlah makanan sumber zat besi.
7. Berikan ASI saja kepada bayi sampai umur empat bulan.
8. Biasakan makan pagi.
9. Minumlah air bersih, aman yang cukup jumlahnya.
10. Lakukan kegiatan fisik dan olahraga secara teratur.
11. Hindari minum minuman beralkohol.
12. Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan.
13. Bacalah label pada makanan yang dikemas.
C. Makanan Jajanan
1. Pengertian Makanan Jajanan
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
942/Menkes/SK/VII/2003, makanan jajanan adalah makanan dan minuman yang
diolah oleh pengrajin makanan di tempat penjualan dan atau disajikan sebagai
makanan siap santap untuk dijual bagi umum selain yang disajikan jasa boga,
rumah makan/restoran, dan hotel. Sedangkan Menurut Winarno (1987), makanan
jajanan adalah makanan jadi yang sudah siap dikonsumsi dan tidak memerlukan
pengolahan lagi, yang di jual di kaki lima, pinggir jalan, di stasiun, di pasar dan
tempat-tempat umum yang strategis lainnya.
2. Manfaat Makanan Jajanan
Kebiasaan jajan di sekolah sangat bermanfaat jika makanan yang dibeli itu
sudah memenuhi syarat-syarat kesehatan, sehingga dapat melengkapi atau
menambah kebutuhan gizi anak. Disamping itu juga untuk mengisi kekosongan
lambung, karena setiap 3-4 jam sesudah makan, lambung mulai kosong. Akhirnya
apabila tidak beri jajan, si anak tidak dapat memusatkan kembali pikirannya
kepada pelajaran yang diberikan oleh guru dikelasnya. Jajan juga dapat
dipergunakan untuk mendidik anak dalam memilih jajan menurut 4 sehat 5

sempurna (Yusuf, dkk, 2008). Namun, jajan yang terlalu sering dan menjadi
kebiasaan akan berakibat negatif, antara lain nafsu makan menurun, makanan
yang tidak higienis akan menimbulkan berbagai penyakit, dapat menyebabkan
obesitas pada anak, kurang gizi karena kandungan gizi pada jajanan belum tentu
terjamin dan pemborosan. Permen yang menjadi kesukaan anak-anak bukanlah
sumber energi yang baik sebab hanya mengandung karbohidrat. Terlalu sering
makan permen dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan gigi (Irianto, 2007).
3. Jenis Makanan Jajanan
Menurut Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (2004), jenis makanan
jajanan dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) golongam, yaitu makanan jajanan
yang berbentuk panganan, misalnya kue-kue kecil, pisang goreng, kue putu, kue
bugis dan sebagainya. Makanan jajanan yang diporsikan (menu utama), seperti
pecal, mie bakso, nasi goreng, mie goreng, mie rebus dan sebagainya. Dan
makanan jajanan yang berbentuk minuman, seperti es krem, es campur, jus buah
dan sebagainya. Selain itu penjualan dan penjaja makanan jajanan dapat
digolongkan menjadi 3 (tiga) golongan, antara lain penjaja diam, yaitu makanan
yang di jual sepanjang hari pada warung-warung yang lokasinya tetap di satu
tempat. Penjaja setengah diam, yaitu mereka yang berjualan dengan menetap di
satu tempat pada waktu-waktu tertentu. Dan penjaja keliling, yaitu mereka yang
berjualan keliling dan tidak mempunyai tempat mangkal tertentu. Menurut
Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

942/MENKES/SK/VII/2003, pada pasal 2 disebutkan penjamah makanan jajanan


adalah orang yang secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan
makanan dan peralatannya sejak dari tahap persiapan, pembersihan, pengolahan,
pengangkutan sampai dengan penyajian. Penjamah makanan jajanan dalam
melakukan kegiatan pelayanan penanganan makanan jajanan harus memenuhi
persyaratan antara lain: tidak menderita penyakit mudah menular misalnya batuk,
pilek, influenza, diare, penyakit perut sejenisnya; menutup luka (pada luka
terbuka/ bisul atau luka lainnya); menjaga kebersihan tangan, rambut, kuku, dan
pakaian; memakai celemek, dan tutup kepala; mencuci tangan setiap kali hendak
menangani makanan; menjamah makanan harus memakai alat/ perlengkapan,
atau dengan alas tangan; tidak sambil merokok, menggaruk anggota badan
(telinga, hidung, mulut atau bagian lainnya); tidak batuk atau bersin di hadapan

makanan jajanan yang disajikan dan atau tanpa menutup mulut atau hidung. Pada
pasal 9 juga disebutkan bahwa makanan jajanan yang dijajakan harus dalam
keadaan terbungkus dan atau tertutup. Pembungkus yang digunakan dan atau
tutup makanan jajanan harus dalam keadaan bersih dan tidak mencemari
makanan.
4. Pengertian Jajanan Sehat
Menurut FAO makanan jajanan didefenisikan sebagai makanan dan minuman
yang dipersiapkan dan dijual oleh pedagang kaki lima di jalanan dan ditempattempat keramaian yang langsung dimakan atau dikonsumsi tanpa pengolahan atau
persiapan lebih lanjut.
Sedangkan jajanan sehat dapat diartikan jajanan yang bersih, aman, sehat,
bergizi dan tidak mengandung zat-zat berbahaya.
5. Fungsi Jajanan
Jajanan bagi anak sekolah dapat berfungsi sebagai upaya untuk memenuhi
kebutuhan energi karena aktivitas fisik yang tinggi (apalagi anak yang tidak
sarapan pagi). Disamping itu juga makanan jajanan dapat mengenyangkan perut
untuk sementara.
6. Jenis Jajanan
1. Jajanan Sehat
Janan sehat contohnya yaitu : susu, roti, biskuit, buah-buahan, gado-gado,
lemper, tahu isi dan lain-lain.
2. Jajanan Tidak Sehat
a. Es mambo
Berwarna mencolok dan terlalu manis
Mengandung pemanis buatan dan pewarna pakaian
b. Permen
Mengandung pemanis buatan dan pewarna pakaian
c. Bakso
Bahan pengenyal
d. Chiki/ makanan ringan
Menggunakan MSG sebagai penambah rasa, zat pewarna dan pemanis
buatan
e. Gorengan
Memakai minyak goreng bekas dipakai berkali-kali sehingga minyak
sudah berwarna sangat keruh
f. Siomyay, cilok dan bakso goreng yang pakai saus/ sambal berwarna merah
cerah dan terbuat dari bahan-bahan yang telah busuk
g. Kue berwarna mencolok

Pewarna pakaian
h. Es sirup/ minuman berwarna mencolok
Tidak hygienis
Memakai air mentah
Terdapat zat pewarna pakaian
7. Cara Memilih jajanan Sehat
a. Bersih dan tertutup
b. Jauh dari tempat sampah, got, debu dan asap kendaraan bermotor
c. Tidak bekas dipegang-pegang orang
d. Tidak terlalu manis dan berwarna mencolok
e. Masih segar
f. Tidak digoreng dengan minyak goreng yang sudah keruh
g. Tidak mengandung zat pemanis, zat pengawet, zat penyedap dan zat pewarna
h.
i.
j.
k.

buatan
Bau tidak apek atau tengik
Tidak dibungkus dengan kertas bekas atau koran
Dikemas dengan plastik atau kemasan lain yang bersih dan aman
Lihat tanggal kadaluarsa

8. Pencegahan Agar Tidak Jajan Sembarangan


a. Sarapan pagi
Sarapan pagi adalah makanan yang paling penting dalam aktivitas harian.
Sebab waktu sekolah penuh dengan aktivitas yang membutuhkan energi atau
kalori yang cukup besar. Misalnya sarapan dengan mengkonsumsi 2 potong
roti dan telur, satu porsi bubur ayam, satu gelas susu atau buah.
b. Membawa makanan atau bekal makan siang
Hal ini dilakukan untuk mencegah dan menjamin supaya anak tidak
sembarangan membeli jajanan.
9. Bahaya Makanan Jajanan Tidak Sehat
a. Jajanan makanan anak sekolah seringkali ditemukan menggunakan Bahan
Tambahan Pangan Berbahaya (BTP). Kandungan tersebut dari mulai formalin,
boraks, pewarna tekstil, hingga bakteri makanan.
b. Zat tersebut dapat mengakibatkan kerusakan hati, ginjal, kanker kandung
kemih dan gangguan hati. Sedangkan formalin, biasa disusupi ke makanan
agar menjadi lebih keras atau kenyal.
c. Kadang, makanan berformalin berbau menyengat. Padahal, formalin dipakai
untuk mengawetkan mayat, membunuh kuman, perekat kayu lapis dan sebagai
desinfektan. Contoh makanan yang berpotensi disusupi zat ini misalnya bakso,
tahu, dan mi.

d. Zat berbahaya lainnya adalah boraks. Makanan yang disusupi zat berbahaya
ini biasanya agar menjadi sangat kenyal, renyah, dan getir di lidah. Ini biasa
disusupi pada makanan seperti ketupat, cone es, bakso dan lain-lain
e. Boraks juga dapat mengakibatkan gatal kulit. Sementara untuk jangka
menengah bisa mengakibatkan gangguan syaraf. Untuk jangka panjang, dapat
menyebabkan kerusakan hati, ginjal dan organ tubuh lainnya.
f. Dampak pengaruh akibat makanan jajanan anak sekolah yang tidak sehat
adalah bahwa anak usia sekolah rentan mengalami berbagai masalah
Secara prinsip, pada umumnya makanan jajanan terbagi menjadi empat
kelompok yaitu :
1. Makanan utama atau main dish seperti bakso, mie ayam.
2. Penganan atau snack seperti makanan kemasan, kue-kue.
3. Minuman seperti berbagai macam es dan minuman kemasan.
4. Buah-buahan segar seperti mangga, melon.
Kita mengenal kehadiran makanan jajanan ini lebih dominan di sekolah. Bagi
anak sekolah, makanan jajanan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan
sehari-hari mereka. Makanan jajanan digunakan sebagai alternatif untuk memenuhi
kebutuhan gizi anak sekolah karena keterbatasan waktu orang tua mengolah makanan
di rumah. Selain murah makanan jajanan juga mudah didapat. Berdasarkan kondisi ini
seharusnya makanan jajanan dapat dikelola menjadi produk sehat yang aman
dikonsumsi. Makanan jajanan sehat adalah makanan yang memiliki ciri sebagai
berikut:
1. Bebas dari lalat, semut, kecoa dan binatang lain yang dapat membawa kuman
penyakit.
2. Bebas dari kotoran dan debu lain.
3. Makanan yang dikukus, direbus, atau digoreng menggunakan panas yang cukup
artinya tidak setengah matang.

4. Disajikan dengan menggunakan alas yang bersih dan sudah dicuci lebih dahulu
dengan air bersih.
5. Kecuali makanan jajanan yang di bungkus plastik atau daun, maka pengambilan
makanan lain yang terbuka hendaklah dilakukan dengan menggunakan sendok,
garpu atau alat lain yang bersih, jangan mengambil makanan dengan tangan.
6. Menggunakan makanan yang bersih, demikian pula lap kain yang digunakan
untuk mengeringkan alat-alat itu supaya selalu bersih.
Sedangkan makanan jajanan yang aman merupakan makanan yang mempunyai
syarat-syarat sebagai berikut:
1. Tidak menggunakan bahan kimia yang dilarang.
2. Tidak menggunakan bahan pengawet yang dilarang.
3. Tidak menggunakan bahan pengganti rasa manis atau pengganti gula.
4. Tidak menggunakan bahan pewarna yang dilarang.
5. Tidak menggunakan bumbu penyedap masakan atau vetsin yang berlebihan.
6. Tidak menggunakan air yang dimasak dengan tidak matang.
7. Tidak menggunakan bahan makanan yang sudah busuk, atau yang sebenarnya
tidak boleh diolah, misalnya telah tercemari oleh obat serangga atau zat kimia
yang berbahaya.
8. Tidak menggunakan bahan makanan yang tidak dihalalkan oleh agama.
9. Tidak menggunakan bahan makanan atau bahan lain yang belum dikenal. oleh
masyarakat.
Masalah utama yang harus kita diperhatikan terkait dengan makanan jajanan
adalah buruknya sanitasi dan tidak terjaminnya kebersihan dalam mengolah dan
menyajikan makanan sehingga dapat mengakibatkan masalah kesehatan masyarakat.

REFERENSI :
http://www.indonesian-publichealth.com/2013/07/makanan-jajanan.html,

diakses

tanggal 18 Desember 2015, jam 10.45 wib.


http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25162/4/Chapter%20II.pdf,

diakses

tanggal 18 Desember 2015, jam 10.20 wib.


Sihadi, 2004, Makanan Jajanan Bagi Anak Sekolah, Jurnal Kedokteran, diakses
tanggal 18 Desember 2015, jam 11.05 wib.