Anda di halaman 1dari 20

STATUS UJIAN PSIKIATRI

SKIZOFRENIA TAK TERINCI (UNDIFFERENTIATED)

Disusun Oleh: Kashwiniy Naidu Sathupathy Naidu


NIM: 11.2014.347

Dr Penguji :
dr. Suzy Yusna Dewi , Sp.KJ (K)
dr, Ayesha Devina, Sp. KJ

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEJIWAAN


RUMAH SAKIT JIWA SOEHARTO HEERDJAN
PERIODE 9 NOVEMBER 2015 12 DESEMBER 2015
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
JAKARTA 2015

Status Psikiatri
Nama : Kashwiniy Naidu
FK UKRIDA
Dokter Penguji: 1) dr. Suzy Yusna Dewi, Sp.KJ (K)
2) dr. Ayesha Devina, Sp.KJ

I. IDENTITAS PASIEN
1. Nama Lengkap

: Tn. TM

2. Tempat dan Tanggal Lahir

: Jakarta, 14 Juli 1977

3. Umur

: 38 tahun

4. Jenis Kelamin

: Laki - laki

5. Status Perkawinan

: Belum Menikah

6. Pendidikan Terakhir

: SMP

7. Pekerjaan

: Tidak Berkerja

8. Bangsa/ Suku

: Indonesia/Jawa

9. Agama

: Islam

10. Alamat

: Bekasi

11. Dokter yang Merawat

: dr. Ismoyo, SpKJ

12. Tanggal Masuk RSJSH

: 22 Oktober 2015

13. Ruang Perawatan

: Ruang Nuri

14. Rujukan/ Datang sendiri/ Keluarga

: Diantar Keluarga

II. RIWAYAT PSIKIATRIK


Autoanamnesis

Tanggal 04 Desember 2015, pukul 11.00 WIB di Ruang Nuri

Tanggal 04 Desember 2015, pukul 17.00 WIB di Ruang Nuri

Tanggal 05 Desember 2015, pukul 10.15 WIB di Ruang Nuri

Tanggal 06 Desember 2015, pukul 10.30 WIB di Ruang Nuri

Nim : 11.2014.347
Tanda Tangan

Alloanamnesis

Tanggal 05 Desember 2015, pukul 17.50 via telepon. Alloanamnesis dilakukan kepada ibu
pasien.

A. Keluhan Utama
Pasien marah marah dan memukul ibunya 4 jam SMRS
B. Riwayat Gangguan Sekarang
Pasien datang ke IGD RSJSH diantar oleh keluarganya karena marah marah
sejak 4 jam SMRS. Ketika memasuki IGD, pasien sedang tidak mengamuk dan tampak
tenang. 4 jam sebelumnya, pasien marah marah, membanting piring, menonjok lemari
pakaian dan memukul ibunya. Pasien mengatakan bahwa ia mendengar suara suara
bisikan di telinganya yang mengeledek tetapi pasien tidak ingat kalimat yang persis.
Namun orang lain tidak ada yang mendengarkan bisikan tersebut. Pasien mengatakan dia
menjadi sangat emosional karena suara bisikan tersebut lalu memukul ibunya. Pasien
menyangkal adanya rasa curiga atau ketakutan terhadap orang atau hal-hal yang tertentu.
Pasien juga tidak pernah merasakan orang-orang di sekeliling ingin menjahati dia.
Pasien juga menceritakan bahwa 1 bulan SMRS suara-suara bisikan tersebut
bertambah sering dan sangat menganggu pasien sehingga kadang-kadang pasien sulit
tidur. Suara bisikan tersebut adalah suara seorang cewe yang sering mengeledeknya dan
kadang-kadang menyuruhnya melakukan hal-hal yang baik. Namun, sewaktu ditanyakan
tentang hal-hal baik yang dimaksudkan, pasien mengatakan dia kurang tahu.
Menurut keluarga pasien, sudah hampir satu minggu ini pasien selalu telihat
mengelamun sendiri dan tidak banyak berbicara. Pasien yang tidak bekerja dan dirumah
saja menjadi uring uringan terus tanpa sebab yang jela. Pasien pernah dirawat di RSJSH
sebanyak 1 kali dengan alasan yang sama. Perawatan yang terakhir adalah pada tahun
2003. Pasien menjadi lebih baik, jika mengkonsumsi obat yang diberikan dokter, dan
pasien rajin kontrol secara rutin ke puskesmas terdekat.
Saat ini pasien berada dalam perawatan di RSJSH dan pasien mengatakan suarasuara bisikan tersebut kadang-kadang masih suka ada.

C. Riwayat Gangguan Sebelumnya


1. Riwayat Gangguan Psikiatrik
Riwayat Perawatan
Tahun 2003, pasien pertama kali berobat ke RSJSH dengan keluhan marah marah tanpa
sebab, mendengar bisikan, dan berbicara kacau. Keluarga dan pasien lupa dirawat berapa
lama dan setelah itu pasien rutin kontrol ke puskesmas terdekat.
2. Riwayat Gangguan Medik
Pasien menyangkal pernah mengalami kejang, nyeri kepala, atau trauma kepala.
Riwayat DM, asma, dan hipertensi disangkal.

3. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif


Pasien memiliki riwayat merokok sejak SMP kelas 3 dan pertama kali dikenalkan oleh
teman-temannya dan sampai sekarang pasien masih merokok, pemakaian sehari-hari
kurang lebih setengah bungkus rokok atau 8 batang sehari. Pasien tidak mempunyai
kebiasaan meminum alkohol dan tidak menggunakan narkoba.

4. Riwayat Gangguan Sebelumnya

Pasien kontrol
secara rutin ke
puskesmas

Pasien saat ini

2003

Keluhan 2003:
Pasien marah-marah,
berbicara kacau,
mendengar bisikan
Gejala:
Halusinasi auditorik
(+)

2015

Keluhan2015:
Pasienkembalimarahmarah
tanpasebabyangjelas,mendengar
bisikan,danberbicarakacau
Gejala:Halusinasiauditorik(+)

D. Riwayat Kehidupan Pribadi


1. Riwayat Prenatal dan Perinatal
Pasien merupakan anak ketiga dari lima anak yang tidak direncanakan tetapi
diinginkan oleh orang tuanya. Pasien lahir spontan dan dilahirkan secara normal dengan
ditolong bidan. Pasien lahir dalam keadaan sehat dan langsung menangis dengan berat
Riwayat penyulit atau komplikasi, trauma saat lahir, cacat bawaan, pemakaian alat bantu
lahir seperti forceps disangkal. Pada saat mengandung, ibu pasien tidak pernah mengalami
sakit dan tidak terdapat riwayat mengkonsumsi obat obat pada masa kehamilan.
2. Riwayat Perkembangan Kepribadian
a. Masa kanak-kanak awal ( 0 3 tahun )
Proses tumbuh kembang sesuai dengan usianya. Tidak ada keterlambatan atau
abnormalitas dalam tumbuh kembang pada pasien. Pasien sudah bisa berjalan tanpa
dipegang pada usia kira kira 1 tahun.
b. Masa kanak-kanak pertengahan ( 3 11 tahun )
Pasien merupakan anak yang ceria, tidak cengeng, dan mudah bergaul dengan teman
temannya di sekolah ataupun di lingkungan rumah. Pasien mempunyai banyak teman.
Pasien selalu naik kelas. Pasien jarang menyendiri dan pasien merupakan anak yang
ramah.
c. Masa pubertas dan remaja (11- 18 tahun )
Pasien memiliki banyak teman. Pasien mempunyai hubungan yang akrab dengan
keluarga. Pasien bekerja menjual teka-teki silang untuk mebantu keluarga dan pasien tidak
merasa bekerja itu suatu beban
d. Masa dewasa ( > 18 tahun )
Pasien sering nongkrong di luar rumah. Pasien sangat senang berteman dengan orangorang di lingkungan rumah. Pasien jarang menyendiri. Hubungan pasien dengan keluarga
masih tetap akrab.

3. Riwayat Pendidikan
SD (6-12 tahun) : tidak pernah tinggal kelas dan termasuk siswa yang pandai bergaul di
sekolah.
SMP (13-15 tahun) : tidak pernah tinggal kelas.
Selama bersekolah pasien tidak pernah berasa sulit dan malas untuk belajar. Pasieb tidak
pernah tidak naik kelas. Setelahnya, pasien tidak melanjutkan SMA kerana keluarga
pasien tidak mampu untuk membiayai pendidikan pasien.
4. Riwayat Pekerjaan
Pasien sempat bekerja sebagai tukang jualan TTS pada usia 15 tahun selama satu
tahun. Setelah itu pasien bekerja sebagai tukang ojek sehingga umur 23 tahun.
5. Kehidupan Beragama
Pasien seorang pemeluk agama islam, tetapi tidak rajin sholat 5 waktu, karena
pasien malas.
6. Kehidupan Perkawinan/ Psikoseksual
Pasien belum menikah. Pasien mengaku tidak pernah melakukan seks bebas.
7. Riwayat Pelanggaran Hukum
Pasien mengaku tidak pernah berurusan dengan aparat penegak hukum, dan tidak
pernah terlibat dalam proses peradilan yang terkait dengan hokum.

E. Riwayat Keluarga

Genogram Keluarga:

Keterangan :
: laki-laki
: perempuan
: pasien
: meninggal dunia

F. Persepsi Pasien Tentang Diri dan Kehidupannya


Pasien tidak menyadari dirinya sakit jiwa. Menurut pasien, dia tidak megerti
kenapa dia mendengar suara bisikan yang tidak didengarkan oleh orang lain. Pasien
menurut untuk makan obat karena anjuran dari dokter dan diminta oleh ibunya. Pasien
ingin pulang karena merasakan dirinya tidak sakit.

III. STATUS MENTAL (Tanggal 05 Desember 2015, pukul 10.15 WIB)


A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Pasien seorang laki-laki, berusia 38 tahun, tampak sesuai umur. Pasien mengenakan baju
dari RSJSH dengan alas kaki berupa sandal jepit. Pasien berkulit sawo matang dan rambut
berwarna hitam pendek. Tinggi pasien berkisar 165 cm. Pasien tampak terawat.
2. Kesadaran
Kesadaran : compos mentis, pasien tampak sadar penuh saat dilakukan wawancara.
3. Perilaku dan Aktivitas Motorik
a. Sebelum Wawancara
Pasien sedang sendirian dan duduk di kursi meja makan.
b. Selama Wawancara
Pasien duduk dengan tenang di samping pemeriksa, dan menatap wajah pemeriksa saat
diajak berbicara. Tidak terdapat perlambatan gerakan, kejang, maupun kekakuan
gerakan. Semua pertanyaan dapat dijawab dengan baik oleh pasien.
c. Sesudah Wawancara
Pasien menjabat tangan pemeriksa saat diminta bersalaman untuk mengakhiri
percakapan dan mengucapkan terima kasih serta melambaikan tangan ke arah
pemeriksa. Pasien tidak menunjukkan perilaku atau gerakan yang tidak lazim.
4. Sikap Terhadap Pemeriksa
Pasien bersikap kooperatif dan sopan.

5. Pembicaraan
a. Cara berbicara : Lancar, pasien menjawab semua pertanyaan yang diajukan dengan
baik. Bicara pasien spontan, artikulasi jelas, intonasi dan volume sedang.
b. Gangguan berbicara : Tidak terdapat hendaya atau gangguan berbicara.
B. Alam Perasaan (Emosi)
1. Mood

: Disforik

2. Afek

: Terbatas

3. Keserasian

: Serasi

C. Gangguan Persepsi
a) Halusinasi

: Ada (auditorik)

b) Ilusi

: Tidak ada

c) Depersonalisasi

: Tidak ada

d) Derealisasi

: Tidak ada

D. Proses Pikir
1. Arus Pikir
a. Produktifitas

: Cukup ide

b. Kontinuitas

: Koheren, Blocking

2. Isi Pikir
a. Preokupasi
b. Waham

: Tidak ada
: Tidak ada

c. Obsesi

: Tidak ada

d. Fobia

: Tidak ada

E. Fungsi Intelektual
1.

Taraf Pendidikan

SMP

2.

Pengetahuan Umum

Baik (pasien mengetahui nama presiden saat ini)

3.

Kecerdasan

Perlu dilakukan test IQ

4.

Konsentrasi dan

Konsentrasi kurang baik (saat diajak berhitung 100

Perhatian

dikurangi 7, pasien dapat menjawab dengan benar namun


pasien tidak dapat menjawab ketika 93 dikurangi 7; saat
diminta mengeja kata BUMI, SUSU dan AWAN secara
terbalik, pasien juga dapat menjawab dengan tepat).
Perhatian baik (pasien tidak mudah teralih perhatiannya
terhadap kegiatan atau orang yang lewat didepannya, atau
terhadap benda yang menarik perhatiannya)

5.

Orientasi
-

Waktu

Baik (pasien dapat membedakan pagi, siang dan malam

Tempat

hari).
Baik (pasien mengetahui dirinya sekarang berada di RSJ
Soeharto Heerdjan Grogol).

Orang

Baik (pasien mengetahui sedang diwawancara oleh dokter


muda dan mengenal pasien lain yang berada di satu
ruangan dengan pasien).

6.

Daya Ingat
-

Jangka

Baik (pasien dapat mengingat tempat sekolah pasien; SD

Panjang

dan SMP).

Jangka

Baik (pasien mengingat menu makan pagi dan kegiatan

Pendek

yang yang dilakukannya pagi tadi di RS).

Segera

Baik (pasien dapat mengingat nama dokter muda yang


mewawancarai dan mengulang 4 angka yang disebutkan

7.

Pikiran Abstrak

pemeriksa : 4,6,8,10).
Baik (pasien dapat menyebutkan arti dari peribahasa bagai
telur diujung tanduk)

8.

Visuospasial

Baik (pasien dapat menggambar jam yang waktunya

9.

Kemampuan

ditentukan oleh pemeriksa : jam 09.00).


Baik (pasien bisa makan, mandi, dan berpakaian sendiri).

Menolong Diri

F. Pengendalian Impuls
Baik (saat diwawancara pasien tampak tenang, sopan, dan bersikap kooperatif).
G. Daya Nilai

Daya Nilai Sosial


Baik (Pasien tidak pernah melakukan kekerasan kepada teman-temannya selama di
ruangan, pasien juga bersikap baik kepada perawat dan dokter, dan mengetahui bahwa
mencuri adalah perbuatan yang tidak baik).

Uji Daya Nilai


Baik (pasien mengatakan bila ia menemukan amplop di jalan yang sudah ada meterai dan
alamatnya, pasien akan membawa surat tersebut ke kantor pos terdekat).

Daya Nilai Realita


Terganggu (terdapat halusinasi auditorik)
H.

Tilikan

Derajat 1
I. Reliabilitas

IV. STATUS FISIK

: Dapat dipercaya

A. Status Internus
Keadaan Umum

: Baik, tampak tenang

Kesadaran

: Compos Mentis

Tanda Vital
Tekanan Darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 84x/ menit

Suhu

: 36,7 oC

Pernafasan

: 24 x/ menit

Kulit

: kecoklatan, ikterik (-), sianosis (-), turgor baik,


kelembaban normal. Tiga buah vulnus excoriatum berjajar
secara vertikal, masing-masing berukuran 3 cm x 1 cm; 8 cm x 1
cm dan 4 cm x 1 cm pada sisi antero-medial cruris sinistra.

Kepala

: Normocephali, rambut warna hitam, pendek dan lurus, distribusi


merata.

Mata

: Pupil bulat isokor, refleks cahaya langsung +/+, refleks cahaya


tidak ...langsung +/+, konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-,

Hidung

: Bentuk normal, septum deviasi (-), nafas cuping hidung (-), sekret
-/-.

Telinga

: Sekret -/-, membran timpani intak +/+, nyeri tekan -/-.

Mulut

: Bibir kecoklatan, agak kering, sianosis (-), trismus (-),

Lidah

: Normoglossia, warna merah muda, lidah kotor (-).

Gigi geligi

: dalam batas normal

Uvula

: Letak di tengah, hiperemis (-)

Tonsil

: T1/T1, tidak hiperemis

Tenggorokan

: Faring tidak hiperemis

Leher

: KGB tidak teraba membesar, kelenjar tiroid tidak teraba .


Membesar.

Thorax
Paru
Inspeksi

: Bentuk dada normal, simetris dalam keadaan statis


maupun dinamis, efloresensi primer/sekunder dinding dada (-),
pulsasi abnormal (-), gerak napas simetris, irama teratur, retraksi
suprasternal (-).

Palpasi

: Gerak napas simetris, vocal fremitus simetris

Perkusi

: Sonor pada semua lapangan paru

Auskultasi

: Suara nafas vesikuler pada seluruh lapang paru

Jantung

Inspeksi

: Ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: Ictus cordis teraba

Perkusi

: Tidak dilakukan

Auskultasi

: S1 S2 reguler, murmur -, gallop

Abdomen
Inspeks

: Bentuk agak cembung, efloresensi (-)

Auskultasi

: Bising usus (+)

Perkusi

: Timpani pada keempat kuadran abdomen, shifting


dullness (-), nyeri ketok CVA (-)

Palpasi

: Supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba


membesar, balotemen (-)

Ekstremitas
-

Atas

: Akral hangat, CRT < 2 detik, sianosis (-), edema (-)

Bawah

: Akral hangat, CRT < 2 detik, sianosis (-), edema (-)

Genitalia : Tidak diperiksa karena tidak ada indikasi

B. Status Neurologis
1. Saraf kranial (I-XII)

: Baik

2. Tanda rangsang meningeal

: Tidak ada

3. Refleks fisiologis

: (+) normal

4. Refleks patologis

: Tidak ada

5. Motorik

: Baik

6. Sensorik

: Baik

7. Fungsi luhur

: Baik

8. Gangguan khusus

: Tidak ada

9. Gejala EPS

: Akatisia (-), bradikinesia (-), rigiditas (-),


tonus otot (N), tremor (-), distonia (-),
disdiadokokinesis (-)

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tes darah rutin, fungsi hati (nilai SGOT dan SGPT), fungsi ginjal (Creatinine clearence)

VI. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Pasien seorang laki laki, berusia 38 tahun, dan tampak terawat. Dari anamnesis
didapatkan pasien datang ke IGD RSJSH diantar oleh keluarganya karena marah marah dam
memukul ibunya sejak 4 jam SMRS.. Pasien mengatakan bahwa ia mendengar suara suara
bisikan di telinganya yang mengeledek. Pasien mengatakan dia menjadi sangat emosional
karena suara bisikan tersebut lalu memukul ibunya. Pasien menyangkal adanya rasa curiga
atau ketakutan terhadap orang atau hal-hal yang tertentu. Pasien juga tidak pernah merasakan
orang-orang di sekeliling ingin menjahati dia.
Menurut keluarga pasien, sudah hampir satu minggu ini pasien selalu telihat
mengelamun sendiri dan tidak banyak berbicara. Pasien yang tidak bekerja dan dirumah saja
menjadi uring uringan terus tanpa sebab yang jelas. Pasien pernah dirawat di RSJSH
sebanyak 1 kali dengan alasan yang sama. Perawatan yang terakhir adalah pada tahun 2003.

Pasien menjadi lebih baik, jika mengkonsumsi obat. Pasien kontrol secaara rutin sejak tahun
2003.
Dari pemeriksaan psikiatri didapatkan : Kesadaran neurologisnya compos mentis,
motorik tenang, suasana perasaan (mood) disforik, afek terbatas, halusinasi auditorik, tidak
ada waham, fungsi intelektual baik, daya nilai sosial belum dapat dinilai, uji daya nilai tidak
terganggu, daya nilai realitas terganggu, tilikannya derajat 1. Pemeriksaan status internus dan
neurologis dalam batas normal. Pemeriksaan laboratorium dalam batas normal.
VII. FORMULASI DIAGNOSTIK
Aksis I: Gangguan Klinis dan Kondisi Klinis yang Menjadi Fokus Perhatian Khusus

Berdasarkan ikhtisar penemuan bermakna, maka kasus ini dapat digolongkan kedalam:
1. Gangguan kejiwaan karena adanya:

Hendaya sosial, hendaya fungsi sehari-hari

Distress / penderitaan: marah-marah, bicara kacau dan memukul ibunya

2. Gangguan merupakan gangguan non-organik karena :

Tidak ada gangguan kesadaran neurologic

Tidak disebabkan oleh gangguan medik umum/stressor organobiologik (penyakit


metabolic, infeksi, penyakit vaskuler, neoplasma, dan usia pasien belum
menunjukkan adanya tanda-tanda degeneratif)

Tidak terdapat penggunaan zat psikoaktif.

3. Gangguan merupakan gangguan non-organik dengan gejala psikotik karena:

Ditemukan RTA terganggu yang ditandai dengan adanya halusinasi tipe auditorik.

4. Gangguan Skizofrenia karena:

Onset lebih dari 1 bulan

Halusinasi auditorik

Tidak ada gangguan afek seperti manik atau depresi

5. Gangguan Skizofrenia Tipe Tak Terinci karena:

Adanya halusinasi auditorik, pasien mengatakan bahwa ia mendengar suara yang


berkata kepadanya, tetapi pasien tidak dapat melihat wujudnya.

Waham tidak dapat dinilai.

Pasien tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia paranoid, skizofrenia


herbefrenik, skizofrenia katatonik, skizofrenia residual dan depresi pasca
skizofrenia.

Aksis II : Gangguan Kepribadian dan Retardasi Mental


Dari anamnesa, tidak dapat ditentukan pasien termasuk ciri atau gangguan kepribadian
yang mana, sehingga axis II tidak ada diagnosis.
Aksis III : Kondisi Medis Umum
Dari anamnesa, pemeriksaan fisik dan neurologis tidak ditemukan kelainan sehingga aksis
III tidak ada diagnosis
Aksis IV: Problem Psikososisal dan Lingkungan
Dari anamnesa, pasien tidak memiliki masalah dengan keluarga atau lingkungan sekitar.
Stressor tidak dapat ditentukan karena tidak ada data yang mencukupi.
Aksis V: Penilaian Fungsi Secara Global
GAF saat penilaian: 40-31
GAF HLPY : 60-51
VIII. EVALUASI MULTIAKSIAL
Aksis I

: F20.3 Skizofrenia Tak Terinci

Aksis II

: Tidak ada diagnosis

Aksis III

: Tidak ada diagnosis

Aksis IV

: Tidak ada diagnosis

Aksis V

: GAF current = 50-41

GAF HLPY = 70-61


IX. DAFTAR MASALAH
A. Organobiologi
: Tidak ada
B. Psikologik

: Marah-marah, violence, halusinasi

auditorik,
C. Sosiobudaya
: Tidak ada
X. PROGNOSIS
Quo ad vitam

: Dubia (tidak ada tanda gangguan mental organic, tidak terdapat ide
menyakiti diri sendiri, dan tidak ada perilaku agresif atau membayakan
yang ditunjukkan pasien saat ini)

Quo ad functionam

: Dubia (selama minum obat, gejala terkontrol sehingga pasien dapat


melakukan kegiatan sehari-hari, namun karena pasien tidak bekerja)

Quo ad sanationam

: Dubia (pasien tidak sadar dirinya sakit dan tidsk mengerti kenapa dia
dalam pengobatan)

Faktor-faktor yang mempengaruhi


a. Faktor Yang Memperingan:

Terdapat gejala positif.

Pasien rajin kontrol dan compliance terhadap obat-obatan sangat baik.

Mendapat dukungan yang sangat cukup dari keluarga.

b. Faktor Yang Memperberat:

Laki laki dan pasien tidak bekerja

Tilikan pasien buruk, pasien tidak minum obat atas kemauan sendiri

Tidak ditemukan faktor pencetus yang jelas

Belum menikah

XI. PENATALAKSANAAN
1. Rawat Inap
2. Psikofarmaka
Risperidon tab 2 mg
S 2 dd tab 1
Risperidon dipilih karena selain dapat menurunkan gejala positif juga dapat menurunkan
gejala negative pada psikotik, juga efek samping EPS yang tidak sedominan seperti anti
psikotik tipikal.
THP tab 2 mg (kalau perlu)
S 2 dd tab 1
THP diminum apabila muncul gejala efek samping akibat penggunanaan anti psikotik,
seperti badan terasa kaku, mulut kering, penglihatan kabur, cemas, TIO meningkat, dan
lain lain.
3. Psikoterapi
Berupa psikoterapi suportif, dengan melakukan pendekatan kepada pasien agar pasien
terus minum obatnya, bila ada isi hati yang mengganjal, maka pasien harus
mengungkapkan isi hatinya dan melatih emosinya
Edukasi keluarga yang bertujuan agar keluarga pasien dapat membantu pasien
mendapatkan obatnya secara teratur.
4. Sosioterapi
Melibatkan pasien dalam kegiatan di Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan dalam
pekerjaan sehari-hari seperti membantu menyapu, merapihkan tempat tidur sendiri
Mengikutsertakan pasien dalam kegiatan rohani.