Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Zakat adalah merupakan rukun islam ke lima. Dalam al-Quran banyak sekali ayatayat tentang zakat. Ayat tersebut selalu beriringan dengan shalat. Banyak para ahli tafsir
berpendapat Ibadah zakat apabila ditunaikan dengan baik maka akan meningkatkan kualitas
keimanan, membersihkan dan mensucikan jiwa, dan mengembangkan serta memberkahkan
harta yang dimiliki. Karena dalam hidup ini, ada hubungan vertikal (hablun min Allah) dan
hubungan horisontal (hablun min an-nas). Dimana antara keduanya harus seimbang.
Di Balik keindahan dan kecanggihan konsep zakat sebagai salah satu pilar tegaknya
agama Islam, zakat juga merupakan bagian dari sistem ekonomi Islam. Perintah zakat
bertujuan untuk keseimbangan ekonomi, yang mampu menggerakkan seluruh potensi dan
optimalisasi kekuatan ekonomi umat. Diwajibkannya zakat bukan sekadar ibadah. Dalam
konteks ekonomi, zakat merupakan salah satu bentuk distribusi kekayaan (tauziu altsarwah) di antara manusia.
Zakat bukan pula sekadar realisasi kepedulian seorang Muslim terhadap orang
miskin. Tapi, lebih dari itu, zakat ternyata memiliki fungsi yang sangat strategis dalam sistem
ekonomi, yaitu sebagai salah satu instrumen distribusi kekayaan.
Dengan latar belakang itulah penulis sangat antusias sekali untuk mengetahui
seberapa jauh pendistribusian zakat yang selama ini terjadi di masyarakat. Dan bagaimana
upaya-upaya peng-optimal-an dari distribusi Zakat tersebut.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas dapat pemakalah rumuskan beberapa rumusan sebagai
berikut:
1. Apa dan bagaimanan Zakat itu didistribusikan?
2. Seperti apakah pendistribusian konsumtif, produktif dan Investasi zakat itu?

11

BAB II
PEMBAHASAN
A. Model Distribusi Zakat
Islam adalah ajaran yang komprehensif yang mengakui hak individu dan hak kolektif
masyarakat secara bersamaan. Sistem Ekonomi Syariah mengakui adanya perbedaan
pendapatan (penghasilan) dan kekayaan pada setiap orang dengan syarat bahwa perbedaan
tersebut diakibatkan karena setiap orang mempunyai perbedaan keterampilan, inisiatif,
usaha, dan resiko.
Namun perbedaan itu tidak boleh menimbulkan kesenjangan yang terlalu dalam
antara yang kaya dengan yang miskin sebab kesenjangan yang terlalu dalam tersebut tidak
sesuai dengan syariah Islam yang menekankan sumbersumber daya bukan saja karunia
Allah, melainkan juga merupakan suatu amanah. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk
mengkonsentrasikan sumbersumber daya di tangan segelintir orang.
Kurangnya program yang efektif untuk mereduksi kesenjangan sosial yang terjadi
selama ini, jika tidak diantisipasi, maka akan mengakibatkan kehancuran umat yang lebih
parah. Syariah Islam sangat menekankan adanya suatu distribusi kekayaan dan pendapatan
yang merata sebagaimana yang tercantum dalam Al Quran Surah Al Hasyr ayat 7.
Salah satu cara yang dituntut oleh Syariah Islam atas kewajiban kolektif
perekonomian umat Islam adalah "lembaga zakat". Secara teknik, zakat adalah kewajiban
financial seorang muslim untuk membayar sebagian kekayaan bersihnya atau hasil usahanya
apabila kekayaan yang dimilikinya telah melebihi nishab (kadar tertentu yang telah
ditetapkan).
Zakat merupakan refleksi tekad untuk mensucikan masyarakat dari penyakit
kemiskinan, harta benda orang kaya, dan pelanggaran terhadap ajaranajaran Islam yang
terjadi karena tidak terpenuhinya kebutuhan pokok bagi setiap orang tanpa membedakan
suku, ras, dan kelompok. Zakat merupakan komitmen seorang Muslim dalam bidang
sosioekonomi yang tidak terhindarkan untuk memenuhi kebutuhan pokok bagi semua
orang, tanpa harus meletakkan beban pada kas negara semata, seperti yang dilakukan oleh
sistem sosialisme dan negara kesejahteraan modern

11

Dalam kenyataan yang terjadi saat ini di Indonesia, zakat yang diterima oleh Badan
atau Lembaga Amil Zakat tidak signifikan dengan jumlah penduduk muslim yang ada.
Kecilnya penerimaan zakat oleh Amil Zakat bukan hanya disebabkan oleh rendahnya
pengetahuan agama masyarakat, tetapi juga disebabkan oleh rendahnya kepercayaan
masyarakat terhadap lembaga tersebut.
Hal itu mengakibatkan masyarakat condong menyalurkan zakat secara langsung
kepada orang, yang menurut mereka, berhak menerimanya. Sehingga tujuan dari zakat
sebagai dana pengembangan ekonomi tidak terwujud, tetapi tidak lebih hanya sebagai dana
sumbangan konsumtif yang sifatnya sangat temporer.
Seperti halnya contoh, hampir setiap menjelang Idul Fitri kita mendengar, membaca,
dan melihat pemandangan yang menyedihkan. Ribuan orang berdesak-desakan sampai
beberapa orang pingsan untuk berebut zakat mal dari seorang pengusaha dan atau pejabat
publik. Tentu kita tidak menginginkan peristiwa itu terulang. Warga miskin mempertaruhkan
jiwanya untuk mendapatkan sedikit uang (antara 10 ribu sampai 25 ribu rupiah).
Ada beberapa ketentuan dalam mendistribusikan dana zakat kepada mustahiq:1
1. Mengutamakan distribusi domestik, dengan melakukan distribusi lokal atau lebih
mengutamakan penerima zakat yang berada dalam lingkungan terdekat dengan lembaga
zakat (wilayah muzakki) dibandingkan pendistribusiannya untuk wilayah lain.
2. Pendistribusian yang merata dengan kaidah-kaidah sebagai berikut:
a. Bila zakat yang dihasilkan banyak, seyogyanya setiap golongan mendapat bagiannya
sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
b. Pendistribusiannya haruslah menyeluruh kepada delapan golongan yang telah
ditetapkan.
c. Diperbolehkan untuk memberikan semua bagian zakat kepada beberapa golongan
penerima zakat saja, apabila didapati bahwa kebutuhan yang ada pada golongan
tersebut memerlukan penanganan secara khusus.
d. Menjadikan golongan fakir miskin sebagai golongan pertama yang menerima zakat,
karena memenuhi kebutuhan mereka dan membuatnya tidak bergantung kepada
golongan lain adalah maksud dan tujuan diwajibkannya zakat.
1

Dewi Laela Khilyatin. Teori Umum Tentang Manajemen Zakat. http://pondokdarussalam.blogspot.com/2009/07/teori-umum-tentang-manajemen-zakat.html. 30 Juli 2009. Diakses tanggal 25
Mei 2010

11

e. Seyogyanya mengambil pendapat Imam Syafii sebagai kebijakan umum dalam


menentukan bagian maksimal untuk diberikan kepada petugas zakat, baik yang
bertugas dalam mengumpulkan maupun yang mendistribusikannya.
3. Membangun kepercayaan antara pemberi dan penerima zakat. Zakat baru bisa diberikan
setelah adanya keyakinan dan juga kepercayaan bahwa si penerima adalah orang yang
berhak dengan cara mengetahui atau menanyakan hal tersebut kepada orang-orang adil
yang tinggal di lingkungannya, ataupun yang mengetahui keadaannya yang sebenarnya.
Intermediary sistem yang mengelola investasi dan zakat seperti perbankan Islam dan
lembaga pengelola zakat dewasa ini lahir secara masif. Di Indonesia sendiri, dunia perbankan
Islam dan lembaga pengumpul zakat menunjukan perkembangan yang cukup pesat. Mereka
berusaha untuk berkomitmen mempertemukan pihak surplus muslim dan pihak defisit
muslim. Dengan harapan terjadi proyeksi pemerataan pendapatan antara surplus dan defisit
muslim atau bahkan menjadikan kelompok defisit (mustahiq) menjadi surplus (muzakki) 48.
Dalam kaitan hal tersebut, Agar dana zakat yang disalurkan itu dapat berdaya guna
dan berhasil guna, maka pemanfaatannya harus selektif untuk kebutuhan konsumtif atau
produktif. Mekanisme distribusi zakat kepada mustahiq bersifat konsumtif dan juga
produktif. Menurut Mufraini distribusi zakat tidak hanya dengan dua cara akan tetapi ada tiga
yaitu: distribusi konsumtif, distribusi produktif, dan investasi 2. berikut akan pemakalah
jelaskan mengenai pola pendistribusian tersebut:
B. Distribusi Konsumtif, Produktif dan Investasi Dana Zakat
1. Distribusi Konsumtif Dana Zakat
Dalam distribusi konsumtif disini dapat diklarifikasi menjadi dua, yaitu: 3
a. Tradisional
Zakat dibagikan kepada mustahiq dengan secara langsung untuk kebutuhan
konsumsi sehari-hari. Misalnya pembagian zakat fitrah berupa beras dan uang kepada
fakir miskin setiap idul fitri. Pola ini merupakan program jangka pendek dalam
mengatasi permasalahan umat.
b. Kreatif
Zakat yang diwujudkan dalam bentuk barang konsumtif dan digunakan untuk
membantu orang miskin dalam mengatasi permasalahan sosial dan ekonomi yang
2
3

Arief Mufraini, Akuntansi & Manajemen Zakat (Jakarta: Kencana, 2008), 154.
Fachruddin, Fiqh dan Manajemen Zakat di Indonesia (Yogyakarta: Sukses Offset, 2008), 314.

11

dihadapi. Proses pengkonsumsian dalam bentuk lain dari barangnya semula4.


Misalnya diberikan dalam bentuk bea siswa untuk pelajar.
Pola pendistribusian dana zakat secara konsumtif diarahkan kepada:
a. Upaya pemenuhan kebutuhan konsumsi dasar dari para mustahiq.
Sama halnya dengan pola distribusi konsumtif tradisional yang realisasinya
tidak jauh pada pemenuhan sembako bagi kelompok delapan asnaf. Yang menjadi
persoalan kemudian adalah seberapa besar volume zakat, apakah untuk kebutuhan
konsumtif sepanjang tahun, atau hanya untuk memenuhi kebutuhan makan satu hari
satu malam.
Pendistribusian yang seperti ini sangat tidak mendidik jika diberikan sepanjang
tahun dan tidak berarti apa-apa jika untuk satu hari satu malam saja.
b. Upaya pemenuhan kebutuhan yang berkaitan dengan tingkat kesejahteraan sosial dan
psikologis.
Diarahkan kepada pendistribusian konsumtif non makanan, walaupun untuk
keperluan konsumsi mustahiq. Misalnya untuk peningkatan kesejahteraan social yaitu
pengupayaan renovasi tempat-tempat pemukiman. Sedangkan untuk kesejahteraan
psikologis adalah dengan Lembaga Zakat menyalurkan dalam bentuk bantuan
pembiayaan. Misal nikah masal, sunat masal bagi anak-anak mustahiq.
c. Upaya pemenuhan kebutuhan yang berkaitan dengan peningkatan SDM agar dapat
bersaing hidup di alam transisi ekonomi dan demokrasi Indonesia.
Peningkatan kualitas pendidikan mustahiq. Baik berupa beasiswa sekolah,
pelatihan-pelatihan dan peningkatan keterampilan non formal. Yang dapat
dimanfaatkan

untuk

kelanjutan

menjalani

kehidupan

kesejahteraannya.

Amiruddin, dkk. Anatomi Fiqh Zakat (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), 3.

11

dan

menggapai

2. Distribusi Produktif Dana Zakat


Pola distribusi dana zakat produktif menjadi menarik untuk dibahas mengingat
statement syariah menegaskan bahwa dana zakat yang terkumpul sepenuhnya adalah hak
milik dari mustahiq delapan asnaf. Konsep distribusi produktif yang dikedepankan oleh
sejumlah lembaga pengumpul zakat, biasanya dipadukan dengan dana lain yang
terkumpul, misal infaq dan sadaqah.
Dalam Pendistribusian Zakat Produktif disini dapat diklarifikasikan menjadi dua
bagian yaitu antara lain:5
a. Tradisional/konvensional
Zakat yang diberikan dalam bentuk barang-barang produktif, dimana dengan
menggunakan barang-barang tersebut, para mustahiq dapat menciptakan suatu usaha.
Misalnya pemberian bantuan ternak kambing, sapi.
b. Kreatif
Zakat yang diwujudkan dalam bentuk pemberian modal bergulir, baik untuk
permodalan proyek sosial seperti membangun sekolah, tempat ibadah, maupun sebagai
modal usaha untuk membantu mengembangkan usaha para pedagang atau pengusaha
kecil6.
Zakat secara produktif ini bukan tanpa dasar, zakat ini pernah terjadi di zaman
Rasulullah dikemukakan dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim dari Salim Bin
Abdillah Bin Umar dari ayahnya, bahwa Rasulullah telah memberikan kepadanya zakat
lalu menyuruhnya untuk dikembangkan atau disedekahkan lagi.
Dalam kaitan dengan penyaluran zakat yang bersifat produktif, ada pendapat
menarik yang dikemukakan oleh Syekh Yusuf Qardhawi, dalam bukunya yang
fenomenal, yaitu Fiqh Zakat, bahwa pemerintah Islam diperbolehkan membangun
pabrik-pabrik atau perusahaan-perusahaan dari uang zakat untuk kemudian kepemilikan
dan keuntungannya bagi kepentingan fakir miskin, sehingga akan terpenuhi kebutuhan
hidup mereka sepanjang masa. Dan untuk saat ini peranan pemerintah dalam
pengelolaan zakat digantikan oleh Badan Amil Zakat atau Lembaga Amil Zakat7.
5
6

Ibid
Departemen Agama, Manajemen Pengelolaan Zakat (Depok: Direktorat Pengembangan Zakat dan Wakaf, 2005),
35-36.
Yusuf Al-Qardawi. Hukum Zakat, Edisi terjemahan (Bogor: Litera AntarNusa, . 1997)

11

Menurut K.H. Didin Hafidhuddin,M.Sc. BAZ ataupun LAZ, jika memberikan


zakat yang bersifat produktif, harus pula melakukan pembinaan dan pendampingan
kepada para mustahik agar kegiatan usahanya dapat berjalan dengan baik. Disamping
melakukan pembinaan dan pendampingan kepada para mustahik dalam kegiatan
usahanya, BAZ dan LAZ juga harus memberikan pembinaan ruhani dan intelektual
keagamaannya agar semakin meningkat kualitas keimanan dan keIslamanannya8.
Selain sebagai modal usaha, penyaluran zakat produktif juga dapat berupa
penyediaan sarana kesehatan gratis dan sekolah gratis untuk anak keluarga miskin.
Tetapi sekali lagi, pendataan keluarga miskin ini harus dilakukan dengan ketat agar zakat
tidak terdistribusi kepada golongan yang tidak berhak.
Pola distribusi zakat produktif yang dikembangkan pada umunya mengambil
skema qardul hasan. Yaitu salah satu bentuk pinjaman yang menetapkan tidak adanya
tingkat pengembalian tertentu dari pokok pinjaman. Namun bila ternyata si peminjam
dana tersebut tidak mampu mengembalikan pokok tersebut, maka hukum zakat
mengidentifikasikan

bahwa

si

peminjam

tersebut

tidak

dapat

dituntut

atas

ketidakmampuannya tersebut, karena pada dasarnya dana tersebut adalah hak mereka.
Pola distribusi produktif yang mengedepankan pola qardul hasan dapat diilustrasikan
sbb:

Ada juga penyaluran dana zakat produktif yang memanfaatkan skema


mudharabah. Lembaga BAZIS membuat inovasi dimana lembaga amil tersenut berlaku
sebagai investor (mudharib) yang menginvestasikan dana hasil pengumpulan ZIS
kepada mustahiq sendiri, sebagai peminjam dana yang dituntut tingkat pengembalian
tertentu khusus bagi para pedagang kecil di pasar tradisional, dengan angsuran pinjaman
8

Susilo Ady Saputro. Zakat Produktif sebagai Upaya Mengurangi Kemiskinan di Indonesia
http://anakbanyumas.wordpress.com/2010/04/23/zakat-produktif-sebagai-upaya-mengurangi-kemiskinandi-indonesia/#more-159. Diakses 24 Mei 2010

11

dan tingkat pengembalian dibayarkan per hari. Berikut skema penyaluran produktif
dana zakat dengan pola mudharabah:

antara pola mudharabah dan qardul hasan hampir sama. Namun yang
membedakan adalah apabila usaha tersebut untung, maka mustahiq dan BAZ/LAZ saling
membagi hasil keuntungan. Mustahiq mengambil sejumlah persen laba dan sejumlah
persen dikembalikan kepada BAZ/LAZ berikut modalnya. BAZ/LAZ menerima modal
kembali berikut persentase keuntungan usaha. Untuk selanjutnya sama.
Langkah-langkah Pendistribusian Zakat9
Adapun langkah-langkah pendistribusian zakat produktif tersebut berupa sebagai
berikut:
a. Pendataan yang akurat sehingga yang menerima benar-benar orang yang tepat.
b. Pengelompokkan peserta ke dalam kelompok kecil, homogen baik dari sisi gender,
pendidikan, ekonomi dan usia dan kemudian dipilih ketua kelompok, diberi
pembimbing dan pelatih.
c. Pemberian pelatihan dasar, pada pendidikan dalam pelatihan harus berfokus untuk
melahirkan pembuatan usaha produktif, manajemen usaha, pengelolaan keuangan
usaha dan lain-lain. Pad pelatihan ini juga diberi penguatan secara agama sehingga
melahirkan anggota yang berkarakter dan bertanggung jawab.
d. Pemberian dana, dana diberikan setelah materi tercapai, dan peserta dirasa telah dapat
menerima materi dengan baik. Usaha yang telah direncanakan pun dapat diambil.
Anggota akan dibimbing oleh pembimbing dan mentor secara intensif sampai
anggota tersebut mandiri untuk menjalankan usaha sendiri.
9

Zakat Konsumtif dan Produktif


produktif.html. Di akses 24 Mei 2010.

http://makalah-ibnu.blogspot.com/2009/09/zakat-konsumtif-dan-zakat-

11

3. Investasi Dana Zakat


Menurut Dr. Umer Chapra, zakat mempunyai dampak positif dalam meningkatkan
ketersediaan dana bagi investasi sebab pembayaran zakat pada kekayaan dan harta yang
tersimpan akan mendorong para pembayar zakat untuk mencari pendapatan dari kekayaan
mereka, sehingga mampu membayar zakat tanpa mengurangi kekayaannya.
Dengan demikian, dalam sebuah masyarakat yang nilai-nilai Islam-nya telah
terinternalisasi, simpanan emas dan perak serta kekayaan yang tidak produktif cenderung
akan berkurang, sehingga meningkatkan investasi dan menimbulkan kemakmuran yang
lebih besar.
Pendapat senada juga dikemukakan oleh Neal Robinson, Guru Besar pada Universty
of Leeds, yang mengatakan bahwa zakat mempunyai fungsi sosial ekonomi yang sangat
tinggi, dan berhubungan dengan adanya larangan riba, zakat mengarahkan kita untuk tidak
menumpuk harta namun malahan merangsang investasi untuk alat produksi atau
perdagangan.
Namun

persolalan

yang

sangat

akan

muncul

adalah

siapa

yang

akan

menginvestasikan dana tersebut?. Dalam kajian fiqh klasik, pembahasan yang sudah akrab
berkisar pada kemungkinan mustahiq sendiri yang menginvestasikan dana tersebut atau si
muzakki yang menginvestasikannya. Para ahli fiqh klasik menyebutkan bahwa: 10
1. Bila mustahiq yang menginvestasikan dana zakat
Seorang mustahiq dapat menginvestasikan dana zakatnya setelah mustahiq menerima
dana zakatnya. Ketika zakat diserahkan maka otomatis akan jadi milik sepenuhnya. Ada
empat golongan dari delapan asnaf yang diperbolehkan untuk menginvestasikan dana
zakatnya, yaitu fakir, miskin, amil dan muallaf. Namun jika melihat asnaf versi
Indonesia maka kemungkinannya adalah:
a. Sulit bagi fakir miskin untuk menginvestasikan dana zakatnya. Karena kebutuhan
primer mereka adalah pemenuhan sandang, pangan, papan yang harus segera
dikonsumsi.
b. Ada kemungkinan bagi amil dan muallaf untuk menginvestasikan dana zakatnya.
Namun untuk muallaf mungkin akan sulit karena ketidakadaan karakteristik muallaf
Indonesia pada umumnya. Berbeda dengan amil, yang dapat menjadi peluang
tersendiri bagi seseorang yang sudah cukup mapan taraf hidupnya untuk berinvestasi.
Lalu untuk empat golongan sisanya (riqab, gharim, fisabilillah, dan ibnu sabil) ialah
untuk menginvestasikan dana zakatnya adalah tindakan yang sangat cerdas. Kecuali bagi
10

Arief, Akuntansi, 177-178.

11

gharim, karena kelompok ini punya kewajiban terlebih dahulu yang harus dipenuhi yaitu
membayar hutangnya sendiri.
2. Bila muzakki yang menginvestasikan dana zakat
Menurut ahli fiqh klasik terdapat perdebatan dalam hal ini. Namun dalam konteks
kekinian, sangat mungkin seorang muzakki berada pada tingkat kesejahteraan yang luar
biasa. Tarif zakat dari asetnya yang sudah cukup untuk diinvestasikan pada saham
perusahaan. Saat pembelian saham, muzakki hanya sebagai wakil dari mustahiq untuk
menginvestasikan dana zakatnya. Jadi saham tersebut atas nama mustahiq. Mustahiq
harus mampu menangguhkan haknya untuk mengkonsumsi dana zakat tersebut. Namun
tahun depan, mustahiq dapat mencicipi dana dari deviden saham perusahaan tersebut.
3. Bila pemerintah atau yang mewakilinya (amil) yang menginvestasikan dana zakat
Dalam kajian fiqh klasik, pembahasan ini belum banyak dibahas. Terlepas dari
perbedaan pendapat para ulama, yang terpenting adalah mencari pola pendistribusian
yang paling efektif secara ekonomi, namun tetap tidak jauh dari pendapat madzab yang
tervalid. Dari sudut pandang para ulama, memang pada hukum asalnya, dana zakat yang
diterima pemerintah ataupun yang mewakili harus segera mendistribusikannya kepada
para mustahiq dan tidak dibenarkan untuk menundanya, maka hal itu dapat dibenarkan,
sedang untuk menginvestasikannya, hal ini dapat dibenarkan jika ada alas an yang kuat
dari kepentingan menginvestasikannya, seperti untuk menjamin adanya sumber-sumber
keuangan yang relative permanen atau untuk mengurangi pengangguran dari pihak
delapan asnaf.
Jika pendapat ini dijadikan acuan, kepentingan selanjutnya adalah bagaimana dana
zakat yang diinvestasikan tersebut tidak habis karena adanya kerugian investasi. Hal ini
mengharuskan pihak-pihak yang menginvestasikan dana zakat harus benar-benar
mempelajari prospek dan fisibilitas dari setiap bidang usaha yang akan menjadi objek
investasi.

11

BAB III
PENUTUP
Dari Paparan Pemakalah diatas, dapat disimpulkan, bahwa pola pendistribusian zakat ada
tiga pola pendistribusian, yaitu; pola distribusi Konsumtif, Produktif dan investasi.
Dari ketiga pola tersebut mempunyai cara yang berbeda dalam pendistribusiannya. Kalau
pola pendistribusian konsumtif hanya sebatas penyaluran harta kekayaan dari muzakki kepada
mustahiq dengan langsung memberikannnya untuk dikonsumsi tanpa memproduktifkan dan
membuat nilai lebih terhadap harta yang diberikan tersebut.
Sedangkan pola pendistribusian produktif, harta yang diberikan muzakki kepada
mustahiq bagaimana di produktifkan dan hasil dari kproduktifan tersebut digunakan untuk
kesejahteraan hidup mustahiq.
Lebih jauh lagi dengan pola pendistribusian dana Zakat, bahwa dana zakat disini di
investasikan ke perusahaan-perusahaan guna mustahiq dapat mengambil dividen dari saham
yang ditanamkan.

11

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qardawi, Yusuf. Hukum Zakat, Edisi terjemahan. Bogor: Litera AntarNusa . 1997.
Amiruddin, dkk. Anatomi Fiqh Zakat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2005.
Departemen Agama, Manajemen Pengelolaan Zakat. Depok: Direktorat Pengembangan Zakat
dan Wakaf. 2005.
Fachruddin. Fiqh dan Manajemen Zakat di Indonesia. Yogyakarta: Sukses Offset. 2008.
Khilyatin, Dewi Laela. Teori Umum Tentang Manajemen Zakat. http://pondokdarussalam.blogspot.com/2009/07/teori-umum-tentang-manajemen-zakat.html. 30 Juli 2009.
Diakses tanggal 25 Mei 2010
Mufraini, Arief. Akuntansi & Manajemen Zakat. Jakarta: Kencana. 2008
Saputro, Susilo Ady. Zakat Produktif sebagai Upaya Mengurangi Kemiskinan di Indonesia
http://anakbanyumas.wordpress.com/2010/04/23/zakat-produktif-sebagai-upayamengurangi-kemiskinan-di-indonesia/#more-159. Diakses 24 Mei 2010
Zakat Konsumtif dan Produktif http://makalah-ibnu.blogspot.com/2009/09/zakat-konsumtifdan-zakat-produktif.html. Di akses 24 Mei 2010.

11