Anda di halaman 1dari 26

REFERAT

INVAGINASI

REFERAT INVAGINASI Lewi Martha Furi Ressi Ana Maisuri Rosdiana Elizabeth Tri Agung Sanjaya 0918011056 0918011131 0918011075

Lewi Martha Furi Ressi Ana Maisuri Rosdiana Elizabeth Tri Agung Sanjaya

0918011056

0918011131

0918011075

0918011100

KEPANITERAAN KLINIK BEDAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. Hi. ABDUL MOELOEK

BANDAR LAMPUNG

2013

BAB I PENDAHULUAN

Invaginasi atau intususepsi yang merupakan keadaan masuknya suatu bagi usus ke bagian usus lainnya merupakan suatu keadaan gawat darurat yang jika tidak ditangani dengan segera dapat mengakibatkan mortalitas.

Dari penelitian didapatkan jumlah mortalitas pada pasien yang mendapat penanganan 10 jam setelah gejala timbul adalah sebanyak 10%, sedangkan penanganan yang dilakukan 72 jam setelah gejala timbul dapat menyebabkan mortalitas sebanyak 60 %.

Anatomi

Usus Halus

Secara anatomi usus halus dibagi menjadi tiga bagian yaitu duodenum, jejenum, dan ileum. Panjang duodenum kira-kira 20 cm, jejenum 100-110 cm, sedangkan ileum 150-160 cm. Jejunoileum memanjang dari ligamentum Treitz ke katup ileosekal. Jejenum lebih besar dan lebih tebal jika dibandingkan dengan ileum

darah ke jejunum dan ileum melalui arteri mesenterika superior, yang juga melanjutkan pasokan sampai kolon transversal proksimal. Drainase vena sejajar dengan pasokan arteri, membawa ke vena mesenterika superior, bergabung dengan vena splenika di belakang pancreas untuk membentuk vena porta.

Persarafannya adalah parasimpatis dan mempengaruhi sekresi serta motilitas . Simpatik berasal dari nervus splanikus melalui pleksus seliaka, mempengaruhi sekresi dan motalitas usus serta vascular dan membawa aferen rasa nyeri. 1

Anatomi usus halus

Anatomi usus halus

Usus Besar

Usus besar terdiri dari sekum, kolon dan rectum, panjangnya sekitar 1,5 meter, terbentang dari ileum terminalis sampai anus. Pada sekum terdapat katup ileosekal dan apendiks yang melekat pada ujung sekum.Katup ileosekal mengendalikan aliran kimus dari ileum ke dalam sekum dan mencegah terjadinya aliran balik bahan fekal dari usus besar ke usus halus.

Kolon dibagi lagi menjadi kolon ascenden, tranversum, descenden dan sigmoid.Tempat kolon membentuk kelokan tajam pada abdomen kanan

disebut fleksura hepatica dan kiri disebut fleksura lienalis.

Anatomi usus besar

Anatomi usus besar

Usus besar secara klinis dibagi menjadi belahan kiri dan kanan berdasarkan suplai darah yang diterimanya.Arteri mesenterika superior memperdarahi belahan kanan yaitu sekum, kolon ascenden dan duapertiga proximal kolon transversum.Sedang arteri mesenterika inferior memperdarahi sepertiga kolon transversum, kolon descenden, sigmoid dan bagian proximal rectum.

Rektum disuplai oleh a.hemoroidalis superior (cabang dari a.mesenterika inferior) dan a.hemoroidalis inferior (cabang dari a.pudenda interna).Sedang aliran venanya yaitu v.hemoroidalis superior dan inferior.

Usus besar diperarafi oleh sistem otonom kecuali sfingter externa diatur secara volunter.Kolon dipersarafi oleh system parasimpatis yang berasal dari n.splannikus dan pleksus presakralis serta serabut yang berasal dari n.vagus.Sedangkan rectum dipersarafi oleh serabut simpatis yang berasal dari plexus mesenterikus inferior dan dari system parasakral yang terbentuk dari ganglion simpatis L 2-4 serta serabut simpatis yangberasal dari S 2-4.

BAB II PEMBAHASAN

. Invaginasi

Invaginasi atau yang juga dikenal sebagai intususepsi adalah suatu keadaan gawat darurat akut dimana segmen usus masuk ke dalam segmen lainnya sehingga dapatmenyebabkan obstruksi yang disusul dengan strangulasi usus.Umumnya bagian usus yang proksimal masuk ke bagian distal.

Bagian segmen usus yang masuk ke bagian distal disebut intususeptum, sedangkan bagian usus yang membungkus intususeptum disebut intususipien.

Invaginasi

Invaginasi

ETIOLOGI

PATOFISIOLOGI

Klasifikasi

Berdasarkan letaknya invaginasi dibagi menjadi:

Enterica atau masuknya segmen usus halus yang satu ke usus halus lainnya.

Enterocolica dimana ileum masuk ke dalam kolon atau sekum Colica dimana kolon masuk ke kolon Prolapsus ani atau keluarnya rektum melalui anus

Gejala Klinis

Diagnosis

Terdapat gejala khas yang biasa disebut sebagai trias gejala, yaitu:

  • 1. Nyeri perut tiba-tiba, yang hilang timbul dengan periode serangan setiap 10 sampai 20 menit.

  • 2. Teraba masa tumor di daerah hipokondrium kanan dan membentang sepanjang colon transversum yang dapat teraba saat pasien dalam keadaan tenang.

  • 3. Buang air besar bercampur darah dan lendir.

. Namun ada pula yang mengganti terabanya massa dengan muntah yang berwarna kehijauan, karena sulitnya meraba massa tumor saat penderita terlambat memeriksakan diri.

Pemeriksaan Penunjang

lab

Gambaran cupping dan coiled spring appearance

Gambaran cupping dan coiled spring appearance
Gambaran cupping dan coiled spring appearance

Tanda invaginasi yang dapat terlihat pada USG berupa target lesion atau bisa juga disebut doughnut sign.

Tanda invaginasi yang dapat terlihat pada USG berupa target lesion atau bisa juga disebut doughnut sign
Tanda invaginasi yang dapat terlihat pada USG berupa target lesion atau bisa juga disebut doughnut sign

Penatalaksanaan

Invaginasi termasuk dalam kasus gawat darurat, sehinga diperlukan tindakan secara cepat berupa:

  • 1. Perbaiki keadaan umum pasien

  • 2. Pemasangan sonde lambung untuk dekompresi & mencegah aspirasi.

  • 3. Rehidrasi

  • 4. Obat-obat penenang untuk penahan rasa sakit.

. Setelah keadaan umum baik dilakukan tindakan pembedahan, bila jelas telah tampak tanda-tanda obstruksi usus. Atau dilakukan tindakan reposisi bila tidak terdapat kontraindikasi.

. Dasar pengobatan pada invaginasi ialah reposisi usus yang masuk ke lumen usus lainnya.Reposisi dapat dicapai dengan barium enema, reposisi pneumostatik atau melalui pembedahan.

Reduksi Hidrostatik

Metode ini dengan cara memasukkan barium melalui anus menggunakan kateter dengan tekanan tertentu dengan diikuti oleh X-ray.

Mula-mula tampak bayangan barium bergerak berbentukcupping pada tempat invaginasi, dengan tekanan hidrostatik sebesar ¾ sampai 1 meter air, barium didorong ke arah proksimal. Tekanan hidrostatik tidak boleh melewati 1 meter air agar tidak terjadi perforasi selain itu tidak boleh dilakukan penekanan manual di perut sewaktu dilakukan reposisis hidrostatik.

Pengobatan dianggap berhasil bila barium sudah mencapai ileum terminalis, serta pada saat itu, pasase usus kembali

Therapi dengan menggunakan barium enema

Therapi dengan menggunakan barium enema

Reduksi Manual dan Reseksi Usus

Indikasi reduksi manual adalah pada pasien dengan keadaan tidak stabil, didapatkan peningkatan suhu serta angka lekosit, mengalami gejala berkepanjangan atau ditemukan penyakit sudah lanjut yang ditandai dengan distensi abdomen, feces berdarah, gangguan sistem usus yang berat sampai timbul shock atau peritonitis.

Pasien segera dipersiapkan untuk suatu operasi Laparotomi dengan incisi transversal interspina Jika ditemukan kelainan telah mengalami nekrose, reduksi tidak perlu dikerjakan dan reseksi segera dilakukan (Ellis, 1990).

Diagnosa Banding

Ada beberapa penyakit yang perlu dibedakan dengan invaginasi, antara lain:

  • 1. Gastroenteritis

  • 2. Enterocolitis

  • 3. Diverticulum Meckel

  • 4. Henoch-Schönlein purpura

Prognosis

Invaginasi pada anak yang tidak diterapi selalu berakibat fatal, karena kesempatan sembuh tergantung dari lamanya gejala sebelum dilakukan terapi. Angka mortalitas meningkat khususnya setelah 48 jam setelah gejala muncul

Angka kekambuhan setelah terapi barium enema adalah sebesar 10 % dan setelah reduksi manual sebesar 2-5%, namun tidak ada kekambuhan setelah dilakukan reseksi.

Dengan penanganan yang adekuat serta cepat tingkat mortalitas dapat menjadi sangat rendah.

BAB III KESIMPULAN

Invaginasi yang merupakan suatu kedaruratan medis biasa terjadi pada anak kecil berusia kurang dari satu tahun, yang biasanya belum diketahui penyebabnya, namun pada orang dewasa biasanya merupakan akibat dari suatu penyakit tertentu.

Diagnosa dapat ditegakkan dengan melihat dari anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.Dari anamnesa dapat diketahui adanya riwayat nyeri abdomen yang hilang timbul dan berulang setiap 10 sampai 20 menit.

Dari pemeriksaan fisik dapat ditemukan adanya suatu massa pada daerah hipogastrium kanan, yang berjalan sepanjang kolon transversum, selain itu dapat juga teraba ‘dance’s sign’ pada daerah invaginasi. Feses penderita cenderung bercampur dengan darah dan lendir yang jika sudah terjadi obstruksi total akan kehilangan massa feses.

Dari foto polos abdomen dapat dilihat adanya air fluid level jika terjadi perforasi akibat invaginasi, dari pemeriksaan barium enema dapat terlihat adanya cupping pada daerah invaginasi, sedangkan pada pemeriksaan USG dapat dilihat adanya target sign.

Terapi dapat dilakukan dengan melakukan reduksi hidrostatik yag menggunakan tekanan hidrostatik untuk melepaskan ikatan yang terbentuk, atau dengan reduksi secara manual yaitu dengan operasi baik dengan reseksi ataupun tidak.

DAFTAR PUSTAKA

Schwartz. Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah Edisi 6. EGC. Jakarta: 2000. Behrman, Kliegman, Arvin.NELSON Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15. EGC.

Jakarta:2000,

Hirmawan, Sutisna (Editor). Patologi. Universitas Indonesia. Jakarta. R.Sjamsuhidajat, Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 3. EGC. Jakarta:2007 Pascoe DJ and Crosman M. Quick Reference to Pediatric Emergencies. Philadelphia, Toronto: JB Lippincott Co. 1973; pp 142.

Ling JT. Intussusception in Infants and With Emphasis on The Recognition of Cases with Complications. Radiology. 1954; 62:505—10.

Gierup J, Jorulf H and Livadities A. Management of ilntussusceptum in Infants and Children: A Survey Based on 288 Consecutive Cases. Pediatr. 1972; 50:535—40.

Schapiro. Clinical Radiology of The Pediatric Abdominal and Gastrointestinal Tract. Baltimor-Tokyo—London: University Park Press. 1976; pp 242—3.

Jennings C and Kellaher J. Intussusception: Influence of Age on Reducibility. Pediatric Radiology. 1984; 14:292‚4.

Black JA. Pediatric Emergencies 1st ed. London‚Boston‚Sydney Wellington‚Durban‚Toronto: Butterworth& 1979; pp 381‚2.

Dejong, W. Sjamsuhidajat, R. (2005). Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta 2005:penerbit buku kedokterean ECG.