Anda di halaman 1dari 10

I.

JUDUL
II.

:
Golongan Darah pada Manusia

TUJUAN
:
Setelah selesai praktikum ini mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan
penggolongan darah manusia.

III.

DASAR TEORI :
Darah merupakan suatu suspensi sel dan fragmen sitoplasma da dalam cairan
yang disebut plasma. Secara keseluruhan darah dapat dianggap sebagai jaringan pengikat
dalam arti luas, karena pada dasarnya terdiri atas unsur-unsur sel dan substansi interseluler
yang berbentuk plasma. Secara fungsional pun darah merupakan jaringan pengikat dalam
tubuh sehingga merupakan integritas. Apabila darah dikeluarkan dari tubuh maka segera
terjadi bekuan yang terdiri atas unsur berbentuk dan cairan kuning jernih yang disebut
serum. Serum sebenarnya merupakan plasma tanpa fibrinogen (protein). Apabila
pembekuan dicegah maka perbandingan antara unsur berbentuk yang sebagian besar
merupakan sel-sel darah merah dan plasma darah adalah 40%-50% pada lelaki dewasa.
Perbandingan ini tergantung pada jenis kelamin dan umur individu. (Subowo,1992:101)
Fungsi utama darah adalah sebagai berikut :
a) Sebagai alat pengangkut sari-sari makanan dan oksigen ke seluruh tubuh, dan
sebaliknya mangangkut sisa-sisa oksidasi dari jaringan tubuh ke alat-alat pengeluaran
b) Turut menjaga agar suhu tubuh tetap yaitu dengan memindahkan panas dari bagaian
c)
d)
e)
f)

tubuh yang aktif ke bagian yang kurang aktif


Mengedarkan air ke seluruh tubuh
Mengedarkan getah hormon dari kelenjar tubuh
Mengatur keseimbangan antara asam dan basa untuk menghindari kerusakan jaringan
Dapat mencegah infeksi benih penyakit karena kemampuan dari serum yang
mengandung zat penolak bibit penyakit.
Darah mempunyai susunan sebagai berikut: darah mempunyai jaringan cair yang

terdiri atas dua bagian. Bahan interseluler adalah cairan yang disebut plasma dan di
dalamnya terdapat unsur-unsur padat yairu sel darah. Serum darah atau plasma terdiri atas:
air 91%, protein 8% (albimun, globulin, protombin dan fibrinogen), mineral 0,9% selain itu
berisi pula oksigen dan karbindioksid, hormon, enzim dan antigen. Sisanya diisi oleh
sejumlah bahan organik seperti glukose, lemak, urea, asam amino, kolesterol..

Sel (butir) darah terdiri atas :


Sel darah merah atau eritrosit
Sel darah putih atau leukosit dan butir pembeku atau trombosit
(Suhargono,dkk.1986:13)
Volume darah manusia adalah sekitar 8% dari berat tubuhnya. Di dalam tubuh,
sel-sel darah tidak dapat memisah dari plasma darah karena teradu selama proses sirkulasi.
Sel-sel darah dan keping-keping darah dapat dipisahkan dari plasma darah dengan melalui
proses sentrifugasi.
a. Plasma darah
Plasma darah cairan yang berwarna kekuning-kuningan, tersusun atas air, dan bahn
terlarut yaitu protein, lemak, asam lemak, asam amino, glikosa, hormone, enzim,
antibody, garam mineral.
Fungsi plasma darah adalah :
Sebagai pelarut bahan-bahan kimia
Membawa mineral-mineral terlarut, glukosa, asam amino,, vitamin, karbondioksida
dan bahan-bahan buangan
Menyebarkan dari organ yang lebih panas ke organ yang lebih dingin
Menjaga keseimbangan antara cairan di dalam sel dan cairan di luar sel.
(Joko Waluyo,2010:175)
b. Eritrosit (sel darah merah)
3
Dalam setiap 1 mm
darah terdapat sekitar 5 juta eritrosit, oleh karena itu pada
sediaan darah yang tampak paling menonjol adalah sel-sel tersebut. Komposisi
molekuler eritrosit menunjukkan bahwa lebih dari separuhnya terdiri adri air (60%) dan
sisanya berbentuk substansi padat. Secara keseluruhan isi eritrosit merupakan substansi
koloidal yang homogen, sehingga sel ini bersifat elastis dan lunak.
Eritrosit mengandung protein yang sangat penting bagi fungsinya yaitu globin yang
dikonjugasi dengan pigmen hem membentuk hemoglobin untuk mengikat oksigen.
Seperti halnya sel-sel lain, eritrosit pun dibatasi oleh membran plasma yang bersifat
semipermiabel dan berfungsi untuk mencegahagar koloid yang dikandungnya tetap di
dalam. (Subowo,1992:103)
c. Leukosit (sel darah putih)
Sel darah putih jumlahnya kira-kira antara 6000-8000 per

mm

darah. Disebut

leukosit atau sel darah putih karena tidak mempunyai pigmen (zat warna). Pada keadaan
tidak normal sel darah putih bisa berkurang disebut lekopenia dan bisa bertambah

banyak disebut leukimia. Sel darah putih mempunyai fungsi untuk alat pertahanan tubuh
dengan tiga cara yaitu :
1. Fagisitosis
2. Menghasilkan antibodi
3. Menghancurkan atau menetralkan toksin (detoksifikasi).
(Winatasasmita,1985:137)
d. Trombosit (sel darah pembeku)
Teombosit berbentuk tidak teratur dan kecil, sehingga sering disebut pula keping-keping
darah, serta tidak berinti. Pada umumnya 1

mm

darah orang dewasa mengandung

200.000-300.000 butir. Sel ini dibuat dalam sumsum tulang dan mempunyai peranan
penting dalam pembekuan darah. Pembekuan darah merupakan rangkaian proses yang
terjadi pada jaringan tubuh, plasma darah dan trombosit. Peristiwa pembekuan darah
dimulai bila terjadi luka pada salah satu jaringan tubuh, trombosit yang menyentuh
permukaan luka yang kasar akan pecah dan mengeluarkan enzim trombokinase yang
dikandungnya. Trombokinase yang sekarang ada di plasma darah akan merubah
protombin menjadi trombin. Protombin adalah senyawa globulin yang larut dan
dihasilkan di hati dengan pertolongan vitamin K. Ion kalsium (Ca) merupakan zat yang
dapat mempercepatperubahan tersebut. Trombin merubah fibrinogen menjadi fibrin
yang berbentuk benang. Timbulnya benang-benang fibrin inilah yang menyebabkan
darah menjadi beku. (Suhargono,dkk.1986:15)
Karl Landsteiner (1900) menemukan golongan darah pada manusia. Karena itu
dikenal ada 4 golongan darah yaitu :
a. Golongan darah A mempunyai antigen atau aglutinogen A pada eritrositnya dan
mempunyai antibodi atau aglutinin atau anti B pada plasma darahnya.
b. Golongan darah B mempunyai antigen atau aglutinogen B pada eritrositnya dan
mempunyai antibodi atau aglutinin atau anti A pada plasma darahnya.
c. Golongan darah AB mempunyai antigen atau aglutinogen AB pada eritrositnya dan tidak
mempunyai antibodi atau aglutinin pada plasma darahnya.
d. Golongan darah O tidak mempunyai antigen atau aglutinogen pada eritrositnya dan
mempunyai antigen atau aglutinin dan pada plasma darahnya.
Golongan darah perlu diperhatikan jika akan diadakan tranpusi darah. Jika golongan
darah A ditranspusikan pada orang yang golongan darah B reaksinya sebagai berikut :
Golongan darah A mempunyai antigen a sedang di dalam golongan darah B ada antibodi
anti A atau . Antigen A akan bereaksi dengan antibodi (anti A) dan akan terjadi
penggumpalan. (Winatasasmita,1985:140)

Seperti juga golongan darah berdasarkan sistem ABO, golongan darah Rhesus juga
didasarkan pada jenis aglutinogen pada eritrosit dan aglutinin pada plasma darah. Golongan
darah Rhesus ini juga ditemukan oleh Landsteiner. Penamaan golongan Rhesus ini diambil
dari nama kera yang diteliti Landsteiner, namanya Macacus rhesus. Pada kera ini didapati
antigen dan antibodi yang sama dengan manusia. Ada dua jenis golongan Rhesus, yaitu
Rhesus (+) dan Rhesus (-). Orang bergolongan Rhesus + memiliki antigen Rhesus (antigen
Rh) pada eritrositnya dan tidak memiliki antibodi. Golongan Rhesus memiliki antibodi
Rhesus (anti Rh) pada plasma darahnya dan tidak memiliki antigen. Orang bergolongan
Rhesus bisa menjadi donor terhadap golongan Rhesus maupun Rhesus + (dalam kondisi
darurat). Tetapi orang Rhesus + hanya diperbolehkan mendonorkan darahnya kepada
Rhesus + saja, dan tidak boleh ke Rhesus . Alasannya sama seperti golongan darah ABO,
yaitu karena Rhesus + sebagai donor memiliki antigen (antigen Rhesus) dan Rhesus sebagai resipien memiliki antibodi (anti Rhesus). Inkompatibilitas ini akan menyebabkan
penggumpalan (aglutinasi) antigen Rhesus oleh anti Rhesus, dan bisa menyebabkan
kematian sang resipien. (biologimediacentre.com)
Orang yang mendapat darah disebut penerima darah atau resipien sedangkan orang
yang memberikan darah disebut donor. Jika dipandang dari donor, maka :
Golongan A dapat memberi darah pada A dan AB.
Golongan AB dapat memberi darah pada AB.
Golongan B dapat memberi darah pada B dan AB.
Golongan O adalah donor umum (donor universal) untuk semua golongan.
Resipien :
Golongan A dapat menerima dari golongan A dan O.
Golongan AB merupakan resipien umum.
Golongan B dapat menerima dari golongan B dan O.
Golongan O dapat menerima dari golongan O.
Sebaiknya transfusi dilakukan dengan golongan darah yang sama dan hanya dalam
keadaan terpaksa dapat diberikan darah donor universal. (Suhargono,dkk.1986:17)
IV.

METODE PENELITIAN
:
1.a) Alat
: a. lanset/ jarum steril
b. jarum pentul
c. spidol
d. gelas obyek
e. kertas putih

b) Bahan

: a. serum A dan B
b. alkohol 70 %
c. kapas
d. darah segar manusia
2.) Langkah kerja :
1. Dengan menggunakan spidol, garis tengah ditarik lurus pada sisi
panjang yang membagi sisi gelas obyek menjadi dua bagian yang sama.
Di pojok kiri atas gelas obyek dituliskan huruf A dan di pojok kanan atas
dituliskan huruf B. Gelas obyek diletakkan pada selembar kertas putih.

2. Tangan dicuci sampai bersih, segumpal kapas diambil dengan pinset,


kemudian dicelupkan ke dalam alkohol dan digosokkan pada ujung jari
manis. Alkohol dibiarkan mengering, bagian tersebut ditusuk dengan
menggunakan lanset yang telah disterilkan. Setetes darah ditempatkan
pada bagian A dan B gelas obyek.

1. Bekas tusukan ditutup dengan kapas yang telah deicelupkan ke dalam

alkohol.

3. Segera meneteskan serum anti A pada bagian A gelas obyek, diaduk


sampai merata dengan tusuk gigi.

4. Meletakkan setetes anti B pada darah di bagian B gelas obyek.

5. Tetesan tersebut diaduk sampai merata dengan tusuk gigi.

6. Kedua bagian A dan B pada gelas obyek dibandingkan, jika


a. Terjadi penggumpalan pada bagian A, maka bergolongan darah A
b. Terjadi penggumpalan pada bagian B, maka bergolongan darah B
c. Terjadi penggumpalan pada bagian A dan B, maka bergolongan darah
AB
d. Tidak terjadi penggumpalan, maka bergolongan darah O

(ditetesi dengan serum A)

V.

HASIL PENGAMATAN
Ke
l

VI.

(ditetesi dengan serum B)

Nama Probandus

Golongan Darah

1.

Yuli Nur Azizah

2.

Tiofani Indraswari A

3.

M. Dodik Kurniawan

4.

Irma Khoirul Ummah

5.

Cici Fitri Lestari

6.

Soleh Chudin

PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini , kami melakukan praktik golongan darah. Yang menjadi
probandus atau orang yang diperiksa golongan darahnya adalah Yuli Nur Azizah, Tiofani
Indraswari A, M. Dodik Kurniawan, Irma Khoirul Ummah, Cici Fitri Lestari, dan Soleh

Chudin. Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh dapat diketahui bahwa golongan
darah Yuli Nur Azizah dan Tiofani Indraswari A adalah B, M. Dodik Kurniawan dan Cici
Fitri Lestari bergolongan darah O, sedangkan Irma Khoirul Ummah dan Soleh Chudin
memiliki golongan darah A. Golongan darah A mempunyai antigen atau aglutinogen A
pada eritrositnya dan mempunyai antibodi atau aglutinin atau anti B pada plasma
darahnya. Pada pengujian menggunakan serum anti A dan anti B , golongan darah A akan
menggumpal apabila ditetesi dengan serum anti A. Golongan darah B mempunyai antigen
atau aglutinogen B pada eritrositnya dan mempunyai antibodi atau aglutinin atau anti A
pada plasma darahnya. Jika diuji menggunakan serum anti A dan anti B, darah B akan
menggumpal apabila ditetesi dengan serum anti B. Golongan darah O tidak mempunyai
antigen atau aglutinogen pada eritrositnya dan mempunyai antigen atau aglutinin dan
pada plasma darahnya. Pada uji golongan darah, golongan darah O tidak akan menggumpal
apabila ditetesi dengan serum anti A maupun anti B.
Golongan darah A akan menggumpal jika ditetesi dengan serum anti A, hal
tersebut dikarenakan darah A hanya mempunyai antigen atau aglutinogen A tetapi tidak
mempunyai anti A melainkan mempunyai anti B. Darah B akan menggumpal jika ditetesi
dengan serum anti B karena darah B tidak memiliki anti B melainkan memiliki anti A. Pada
golongan darah AB jika ditetesi anti A maupun anti B akan terjadi penggumpalan di
keduanya karena darah AB tidak memiliki anti A maupun anti B. Sedangkan pada golongan
darah O jika ditetesi anti A dan anti B akan terjadi penggumpalan dikeduanya, karena darah
O mempunyai anti A dan anti B. Dalam suatu golongan darah antigen tidak boleh bertemu
dengan antibodinya. Jika sampai bertemu maka akan terjadi penggumpalan di darah. jika
diapliaksikan dalam transfusi darah, ketika darah menggumpal maka fungsi darah jadi tidak
berfungsi dan akibatnya pasien akan meninggal dunia. Pada darah setiap manusia tidak
akan dijumpai aglutinogen atau antigen dan zat antinya(zat yang dapat menggumpalkan
antigen). Jadi jika seseorang memiliki aglutinin A maka dalam darahnya tidak akan
dijumpai aglutinin yang dapat menggumpalkannya. Sama halnya dengan orang yang
memiliki antigen B, maka di dalam darahnya tidak akan dijumpai zat penggumpalnya.
Demikian juga dengan orang yang memiliki aglutinin A dan B, maka di dalam darahnya
tidak akan ada aglutinin sama sekali. berbeda dengan orang yang tidak memiliki

aglutinogen, di dalam darahnya akan dijumpai 2 macam aglutinin yaitu aglutinin dan
aglutinin .
Menurut sistem ABO, golongan darah manusia dibedakan menjadi empat, yaitu
sebagai berikut :
1. Golongan darah A mempunyai antigen atau aglutinogen A pada eritrositnya dan
mempunyai antibodi atau aglutinin atau anti B pada plasma darahnya.
2. Golongan darah B mempunyai antigen atau aglutinogen B pada eritrositnya dan
mempunyai antibodi atau aglutinin atau anti A pada plasma darahnya.
3. Golongan darah AB mempunyai antigen atau aglutinogen AB pada eritrositnya dan tidak
mempunyai antibodi atau aglutinin pada plasma darahnya.
4. Golongan darah O tidak mempunyai antigen atau aglutinogen pada eritrositnya dan
mempunyai antigen atau aglutinin dan pada plasma darahnya.
Dalam kegiatan transfusi darah dikenal istilah donor dan resipien. Donor adalah
orang yang memberikan darahnya kepada orang lain. Donor universal adalah golongan
darah yang dapat memberikan darahnya ke golongan darah lain, dalam hal ini adalah
golongan darah O Resipien adalah orang yang menerima

transfusi darah. Resipien

universal adalah golongan darah y ang dapat menerima darah dari golongan d arah
manapun, yaitu golongan darah AB.
VII.

KESIMPULAN

Penggolongan darah pada manusia dapat dijelaskan dengan dua sistem, yaitu
sistem ABO dan faktor reshus.
Menurut sistem ABO, golongan darah manusia dibedakan menjadi empat, yaitu
sebagai berikut :
1. Golongan darah A mempunyai antigen atau aglutinogen A pada eritrositnya dan
mempunyai antibodi atau aglutinin atau anti B pada plasma darahnya.
2. Golongan darah B mempunyai antigen atau aglutinogen B pada eritrositnya dan
mempunyai antibodi atau aglutinin atau anti A pada plasma darahnya.
3. Golongan darah AB mempunyai antigen atau aglutinogen AB pada eritrositnya dan tidak
mempunyai antibodi atau aglutinin pada plasma darahnya.
4. Golongan darah O tidak mempunyai antigen atau aglutinogen pada eritrositnya dan
mempunyai antigen atau aglutinin dan pada plasma darahnya.
Pada sistem rhesus , golongan darah Rhesus juga didasarkan pada jenis
aglutinogen pada eritrosit dan aglutinin pada plasma darah. Golongan darah Rhesus ini juga
ditemukan oleh Landsteiner. Penamaan golongan Rhesus ini diambil dari nama kera yang
diteliti Landsteiner, namanya Macacus rhesus. Pada kera ini didapati antigen dan antibodi

yang sama dengan manusia. Ada dua jenis golongan Rhesus, yaitu Rhesus (+) dan Rhesus
(-). Orang bergolongan Rhesus (+) memiliki antigen Rhesus (antigen Rh) pada eritrositnya
dan tidak memiliki antibodi. Golongan Rhesus () memiliki antibodi Rhesus (anti Rh) pada
plasma darahnya dan tidak memiliki antigen. Orang bergolongan Rhesus () bisa menjadi
donor terhadap golongan Rhesus (-) maupun Rhesus (+) (dalam kondisi darurat). Tetapi
orang Rhesus (+) hanya diperbolehkan mendonorkan darahnya kepada Rhesus (+ )saja, dan
tidak boleh ke Rhesus (-). Alasannya sama seperti golongan darah ABO, yaitu karena
Rhesus (+) sebagai donor memiliki antigen (antigen Rhesus) dan Rhesus (-) sebagai
resipien memiliki antibodi (anti Rhesus).

VIII.

DAFTAR PUSTAKA

Subowo.1992. Histologi Umum. Jakarta: Bumi Aksara

Hadisumarto, Suhargono, dkk. 1986. Buku Materi Pokok Biologi II. Jakarta:
Universitas Terbuka

Winatasasmita, Djamhur. 1985. Buku Materi Pokok Fisiologi Hewan Dan


Tumbuhan. Jakarta: Universitas Terbuka

Waluyo, Joko. 2010. Biologi Umum. Jember: Universitas Jember

Anonim.

Sistem

transportasi

http://biologimediacentre.com/ [13 April 2013]

golongan

darah

rhesus.