Anda di halaman 1dari 13

Presentasi Kasus dan Portofolio

Konjungtivitis ec suspek Bakteri

Oleh:
Dr. Fenny Pranandita

Pendamping:
Dr. Leni Kopen

Wahana:
Puskesmas Tanjung Enim

KOMITE INTERNSIP DOKTER INDONESIA


PUSAT PERENCANAAN DAN PENDAYAGUNAAN SDM KESEHATAN
BADAN PPSDM KESEHATAN
KEMENTRIAN KESEHATAN RI
2015

HALAMAN PENGESAHAN

Presentasi Kasus dan Portofolio yang Berjudul:

Konjungtivitis ec suspek Bakteri


Oleh:
dr. Fenny Pranandita

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat guna menyelesaikan
program internship dokter Indonesia di wahana Puskesmas Enim periode 13 Juni
13 September 2015
Muara Enim,

Juli 2015

Pembimbing,

dr. Leni Kopen

PORTOFOLIO
Kasus-1

Topik: Konjunctivitis ec Susp. bakteri


Tanggal (Kasus): 27 Juli 2015
Presenter: dr. Fenny Pranandita
Tanggal Presentasi: Juli 2015
Pendamping: dr. Leni Kopen
Tempat Presentasi: Puskesmas Tanjung Enim
Objektif presentasi :
Keilmuan
Ketrampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Manajemen
M
asalah
Istimewa
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja Dewasa Lansia
Bumil
Deskripsi : Dewasa, Laki-laki, usia 28 tahun, Konjungtivitis suspek Bakterial
Tujuan :
1. Penegakkan Diagnosa
2. Penatalaksanaan
Bahan bahasan:
Tinjauan Pustaka Riset
Kasus
A
udit
Presentasi dan
Cara membahas:
Diskusi
diskusi
E-mail
Pos
Data pasien :
Nama: Tn. B
No registrasi: Alamat: Talang Rejo, Tanjung
Usia: 28 tahun
Enim
Agama: Islam
Bangsa: Indonesia
Data utama untuk bahan diskusi:
Diagnosis/Gambaran Klinis:
1. Diagnosis/Gambaran Klinis:
Keadaan umum tampak sakit sedang, dengan keluhan utama mata merah pada
kedua mata sejak 4 hari sebelum ke Puskesmas. Pasien juga mengeluh matanya
terasa perih.
2. Riwayat Pengobatan:
Pasien belum berobat sebelumnya.
3. Riwayat Kesehatan/Penyakit
4 hari sebelum ke Puskesmas, pasien mengeluh mata merah sebelah kanan
tanpa disertai pandangan kabur. Mata merah merata. Pasien juga mengeluhkan
adanya rasa mengganjal pada mata sehingga mata kanannya terasa perih. Pasien
juga mengaku matanya berair-air, dengan belekan berwarna putih sedikit kental
yang terasa lengket terutama pada saat bangun tidur. Rasa gatal pada mata tidak
ada, kelopak mata bengkak tidak ada, silau tidak ada, nyeri kepala tidak ada, mual
muntah tidak ada. Pasien tidak berobat dan hanya mengelap matanya
menggunakan sapu tangan.
1 hari sebelum ke Puskesmas, keluhan yang sama terjadi pada kedua mata
pasien. Mata merah masih ada, pandangan kabur tidak ada, rasa perih pada mata
ada, mata berair-air dengan belekan ada. Keluhan terasa semakin berat dan
mengganggu sehingga pasien berobat ke Poliklinik Puskesmas Tanjung Enim.
4. Riwayat Keluarga
- Riwayat dengan keluhan yang sama pada keluarga disangkal

- Riwayat alergi pada keluarga disangkal


5. Riwayat Pekerjaan: Tukang Ojek
6. Lain-lain
- Riwayat orang sekitar yang menderita keluhan yang sama ada, yaitu
tetangganya.
- Riwayat terkena benturan pada mata sebelumnya disangkal.
- Riwayat kemasukan debu sebelumnya disangkal.
- Riwayat menggunakan obat tetes mata atau lensa kontak sebelumnya
disangkal.
- Riwayat alergi pada pasien disangkal
Daftar Pustaka
1. Ilyas, Sidarta. Ilmu Penyakit Mata, edisi ketiga. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. 2009
2. Garcia-Ferrer, Fransisco J. et al. Konjungtiva. Dalam: Oftalmologi Umum
Vaughan dan Asbury, Edisi 17. Jakarta: EGC. 2009
3. Kanski, JJ. Bowling B. Clinical Ophtalmology: A systemic Approach Seventh
Edition. Eddinburgh: Butterworth Heinemann.2012
4. Van Hauven, WAJ. Zwaan J. Decision Making in Ophtalmology, An Algoritmic
Approach, Second Edition. Mosby Inc. 2000.
5. Khaw, PT. et al. ABC of Eyes, Fourth Edition. London: BMJ Books. 2004
Hasil Pembelajaran:
1. Diagnosis Konjungtivitis
2. Tatalaksana Konjungtivitis
RANGKUMAN PEMBELAJARAN
1. Subjektif :
4 hari sebelum ke Puskesmas, pasien mengeluh mata merah sebelah
kanan tanpa disertai pandangan kabur. Mata merah merata. Pasien juga
mengeluhkan adanya rasa mengganjal pada mata sehingga mata kanannya
terasa perih. Pasien juga mengaku matanya berair-air, dengan belekan
berwarna putih sedikit kental yang terasa lengket terutama pada saat
bangun tidur. Rasa gatal pada mata tidak ada, kelopak mata bengkak tidak
ada, silau tidak ada, nyeri kepala tidak ada, mual muntah tidak ada. Pasien
tidak berobat dan hanya mengelap matanya menggunakan sapu tangan.
1 hari sebelum ke Puskesmas, keluhan yang sama terjadi pada kedua
mata pasien. Mata merah masih ada, pandangan kabur tidak ada, rasa perih
pada mata ada, mata berair-air dengan belekan masih ada. Keluhan terasa
semakin berat dan mengganggu sehingga pasien berobat ke Poliklinik
Puskesmas Tanjung Enim.

2. Objektif :
Hasil pemeriksaan fisik:
Keadaan umum
Kesadaran
Nadi
Pernafasan
Suhu
Status Generalis
Kepala
- Bentuk
- Mata
- Telinga
- Hidung
- Mulut

: tampak sakit sedang


: Compos Mentis
: 88x/menit
: 20x/menit
: 36,9oC

: Normosefali, simetris
: (lihat status oftalmologikus)
: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: Mukosa mulut dan bibir kering (-),
sianosis (-).

Leher
- Pembesaran KGB (-), JVP tidak meningkat

Thorax
Paru-paru
- Inspeksi : Statis dan dinamis simetris, retraksi (-)
- Palpasi
: stemfremitus kiri sama dengan kanan
- Perkusi : Sonor pada kedua lapangan paru
- Auskultasi : Vesikuler (+) normal, ronki (-), wheezing (-).
Jantung
- Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat
- Palpasi
: Thrill tidak teraba
- Perkusi : Batas jantung dalam batas normal
- Auskultasi : HR: 88 x/menit, irama reguler, BJ I-II normal,
bising (-)

Abdomen
- Inspeksi
- Palpasi
-

: Cembung
: Lemas, hepar tidak teraba, cubitan kulit perut cepat
kembali
Perkusi : Timpani
Auskultasi : Bising usus (+) normal

Ekstrimitas
- Akral dingin (-), sianosis (-), edema (-), Capillary refill time < 2
detik

Status Oftalmologikus:
OD

Visus
TIO
KBM
GBM
Segmen anterior:
-Palpebra
(supurior/inferior)
-Konjungtiva
(bulbi/tarsal)
-Kornea
-Bilik Mata Depan
-Iris
-Pupil
-Lensa
Segmen posterior

OS

6/6
6/6
Tidak dilakukan pemeriksaan
Simetris

Tenang

Tenang

Injeksi konjungtiva

Injeksi konjungtiva

Jernih
Jernih
Sedang
Sedang
Gambaran baik
Gambaran baik
Bulat,sentral,RC (+/+) Bulat,sentral,RC (+/+)
Jernih
Jernih
Tidak dilakukan pemeriksaan

3. Assessment:
Seorang laki-laki, berumur 28 tahun, datang ke Puskesmas Tanjung Enim
pada tanggal 27 Juli 2015 pukul 09.00 WIB dengan keluhan utama mata
merah pada kedua mata tanpa disertai dengan pandangan kabur sejak 4
hari yang lalu. Pasien juga mengeluhkan adanya rasa mengganjal pada
mata sehingga mata kanannya terasa perih. Pasien juga mengaku matanya
berair-air, dengan belekan berwarna putih sedikit kental yang terasa
lengket terutama pada saat bangun tidur. Rasa gatal pada mata tidak ada,
kelopak mata bengkak tidak ada, silau tidak ada, nyeri kepala tidak ada,
mual muntah tidak ada. Pasien sering mengelap matanya menggunakan
sapu tangan. Riwayat orang sekitar yang menderita keluhan yang sama
ada, yaitu tetangganya. Riwayat terkena benturan pada mata sebelumnya
disangkal. Riwayat kemasukan debu sebelumnya disangkal. Riwayat
menggunakan obat tetes mata atau lensa kontak sebelumnya disangkal.
Riwayat alergi pada pasien disangkal
Berdasarkan anamnesa, diagnosis banding untuk mata merah tanpa
pandangan kabur adalah konjungtivitis, perndarahan subkonjungtiva,
episkleritis, skleritis, pterigium, dan pingeukula. Namun pendarahan
subkonjungtiva dapat disingkirkan karena tidak adanya riwayat terkena

benturan pada mata sebelumnya. Pada episkleritis ataupun skleritis tidak


ditemukan adanya sekret, maka secara otomatis diagnosis banding ini
dapat disingkirkan.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya injeksi konjungtiva. Sehingga
diagnosis banding untuk pingeukula dan ptyrigium dapat disingkirkan
karena tidak ditemukannya ada psudomembran ataupun nodul kuning
pada konjungtiva.
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang ditemukan, maka
dapat ditegakkan diagnosis konjungtivitis. Namun, untuk tatalaksana
konjungtivitis harus diketahui terlebih dahulu penyebabnya. Berdasarkan
perjalanan penyakit, pasien pada awalnya hanya mengeluh pada sebelah
mata kanan dan sering menyeka sekret matanya menggunaan sapu tangan,
dan beberapa hari kemudian keluhannya menyebar juga ke sebelah mata
kiri. Hal ini dapat menandakan bahwa penyebab dari konjungtivitis ini
adalah adanya agen penginfeksi, seperti bakteri ataupun viral, yang
ditularkan melalui saputangan pasien. Selain itu, pasien tidak mengeluh
gatal, adanya riwayat atopi pada pasien atau keluarga, riwayat penggunaan
tetes mata atau lensa kontak sebelumnya juga disangkal sehingga
konjungtivitis alergika dapat disingkirkan.
Pada pasien ditemukan keluhan berupa mata berair-air dengan sekret
kental yang terasa lengket pada saat bangun pagi, keluhan ini sangat khas
biasanya pada pasien konjungtivitis bakterialis. Pada konjungtivitis viral
sekret yang dihasilkan biasanya adalah sekret serous dan lebih banyak.
4. Plan:
Diagnosis: Konjungtivitis ec suspek Bakteri
Penatalaksanaan :
- Kloramfenikol Eye Oilment 4dd1 applie
- Dexametasone tab 0,5 mg 2x1

Konjungtivitis

Definisi
Konjungtivitis adalah radang konjungtiva atau radang selaput lendir yang
menutupi belakang kelopak dan bola mata. 1 Penyakit ini bervariasi mulai dari
hiperemia ringan dengan mata berair sampai konjungtivitis berat dengan banyak
sekret purulen kental. Penyebab umumnya eksogen tetapi bisa juga endogen.2
Diagnosis
Gejala Klinis:
Gejala klinis yang biasanya dikeluhkan oleh pasien adalah mengeluh mata merah
dan berair-air. Pasien juga mengeluh sensasi benda asing yang mengganjal yang
disertai dengan rasa pedih seperti tergores atau terbakar karena pembengkakan
dan hipertrofi papil.2,3 Kelopak mata terasa lengket dan adanya eksudat dengan
sekret yang lebih nyata pada saat bangun tidur, hal ini biasanya disebabkan oleh
infeksi bakteri stafilokokus.1,3 Namun bila pada saat bangun tidur nyerinya
berkurang, dan rasa terbakar bertambah sepanjang hari menandakan bahwa
konjungtivitis terjadi akibat mata kering.3 Rasa gatal yang hebat menandakan
bahwa adanya konjungtivitis alergi.3 Pasien dengan konjungtivitis tidak mengeluh
adanya pandangan kabur.3 Pada anamnesis sebaiknya perlu ditanyakan tentang
riwayat alergi, pengobatan, usia, terpapar iritan, dan gejala-gejala kelainan okuli,
dan genital.4
Tanda Klinis:

Hiperemi
Hiperemi pada konjungtivitis berasal dari rasa superficial, tanda ini
merupakan tanda konjungtivitis yang paling mancolok. Hiperemi yang
tampak merah cerah biasanya menandakan konjungtivitis bakterial
sedangkan hiperemi yang tampak seperti kabut biasanya menandakan
konjungtivitis karena alergi. Kemerahan paling nyata pada forniks dan
mengurang ke arah limbus disebabkan dilatasi pembuluh-pembuluh

konjungtiva posterior.2
Lakrimasi (Mata Berair)

Diakibatkan oleh adanya sensasi benda asing, terbakar atau tergores atau
akibat rasa gatal. Kurangnya sekresi airmata yang abnormal mengesankan

keratokonjungtivitis sicca.2
Eksudasi
Eksudasi adalah ciri semua jenis konjungtivitis akut. Eksudat berlapis-lapis
dan amorf pada konjungtivitis bakterial dan dapat pula berserabut seperti
pada konjungtivitis alergika, yang biasanya menyebabkan tahi mata dan
saling melengketnya palpebra saat bangun tidur pagi hari, dan jika eksudat

berlebihan agaknya disebabkan oleh bakteri atau klamidia.2


Pseudoptosis
Pseudoptosis adalah turunnya palpebra superior karena infiltrasi ke muskulus
muller (M. Tarsalis superior). Keadaan ini dijumpai pada konjungtivitis

berat. Misalnya Trachoma dan keratokonjungtivitis epidemika. 2


Hipertrofi Papil
Hipetropi papil merupakan reaksi non spesifik, terjadi karena konjungtiva
terikat pada tarsus atau limbus di bawahnya oleh serabut-serabut halus.
Ketika berkas pembuluh yang membentuk substansi papila sampai di
membran basal epitel, pembuluh ini bercabang-cabang di atas papila mirip

jeruji payung. 2
Khemosis (Edema Konjungtiva)
Ini terjadi akibat terkumpulnya eksudat di jaringan yang longgar. Khemosis
merupakan tanda yang khas pada hay fever konjungtivitis, akut gonococcal

atau meningococcal konjungtivitis, serta kerato konjungtivitis. 2


Pembentukan Folikel
Folikel adalah bangunan akibat hipertrofi lomfoid lokal di dalam lapisan
adenoid konjungtiva dan biasanya mengandung sentrum germinotivum.
Kebanyakan terjadi pada viral conjungtivitis, chlamidial conjungtivitis, serta
toxic conjungtivitis karena topical medication. Pada pemeriksaan, vasa fecil

bisa terlihat membatasi foliker dan melingkarinya. 2


Pseudomembran dan Membran
Pseudomembran adalah koagulum yang melapisi permukaan epitel
konjungtiva yang bila lepas, epitelnya akan tetap utuh, sedangkan membran
adalah koagulum yang meluas mengenai epitel sehingga kalau dilepas akan

berdarah. 2
Adenopati Preaurikuler

Beberapa jenis konjungtivitis akan disertai adenopoti preaurikular. Dengan


demikian setiap ada radang konjungtiva harus diperiksa adalah pembebasan
dan rasa sakit tekan kelenjar limfe preaurikuler. 2
Infiltrasi
Infiltrasi muncul akibat pengerahan selular dan biasanya disertai oleh respon

papilary. Hal ini dapat dikenali dengan hilangnya detail dari pembuluh darah
pada konjungtiva tarsal, terutama kelopak atas. 3
Diagnosis Banding
Konjungtivitis sebaiknya dibedakan dengan iritis dan keratitis dengan perbedaan
sebagai berikut (Tabel 1):1
Tabel 1: Diagnosis Banding Konjungtivitis
Tanda
Tajam penglihatan

Konjungtivitis
Normal

Keratitis/Iritis
Turun nyata

Silau

Tidak ada

Nyata

Sakit

Pedih, rasa terbakar

Sakit

Mata merah

Injeksi konjungtiva

Injeksi silier

Sekret

Serous, mukus, purulen

Tidak ada

Lengket Kelopak

Terutama pagi hari

Tidak ada

Pupil

Normal

Mengecil

Klasifikasi
Klasifikasi konjungtivitis berdasarkan onsetnya dibedakan menjadi:4
a. Konjungtivitis akut adalah peradangan yang terjadi kurang dari 4 minggu,
onset terjadi secara tiba-tiba dan biasanya terjadi unilateral pada awalnya,
dan akan menjangkit mata sebelahnya sekitar 1 minggu kemudian.4
b. Konjungtivitis kronik adalah peradangan yang terjadi pada konjungtiva
lebih dari 2 4 minggu.4
Klasifikasi konjungtivitis berdasarkan penyebabnya yang paling umum dibedakan
menjadi (Tabel 2):
a. Konjungtivitis Bakterialis

Suatu konjungtivitis yang disebabkan bakteri dapat saja akibat infeksi


gonokok,

meningokok,

Staphylococcus

aureus,

Streptococcus

pneumoniae, hemiphilus influenzae, dan Escherchia coli. Memberikan


gejala sekret mukopurulen dan purulen sehingga kelopak mata terasa
lengket saat bangun tidur, kemosis konjungtiva yang memberikan sensasi
benda asing, edema kelopak, kadang-kadang disertai keratitis dan
blefaritis. Terdapat papil pada konjungtiva dan mata merah. Infeksi
biasanya mulai pada satu mata dan melalui tangan menular ke sebelahnya.
Infeksi dapat menyebar ke orang lain melalui benda yang dapat
menyebarkan kuman (fomit).1,2 Pada pemeriksaan fluoresens, tidak
ditemukan adanya stain pada kornea.5 (ABC)
b. Konjungtivitis Viral
Konjungtivitis viral adalah suatu penyakit umum yang disebabkan oleh
berbagai jenis virus, yang paling sering adalah adenovirus.2,5 Keadaan ini
berkisar antara penyakit berat yang dapat menimbulkan cacat, sampai
infeksi ringan yang cepat sembuh sendiri. 2 Pasien konjungtivitis viral,
biasanya mengeluhkan adanya rasa berpasir dan tidak nyaman awalnya
pada salah satu mata. Biasanya terdapat juga gejala yang berhubungan
dengan demam atau batuk. Sekret yang dihasilkan pada konjungtivitis
viral biasanya lebih encer dan lebih bertahan lama dibandingkan dengan
konjungtivitis baketeri, yaitu sekitar beberapa minggu sehingga pasien
perlu diberitahukan tentang hal tersebut.5
Pada pemeriksaan fisik biasanya didapatkan adanya injeksi konjungtiva
yang merata pada kedua mata dan mungkin terdapat sekret yang jernih.
Pada konjungtiva juga bisa didapatkan adanya pembentukan folikel yang
merupakan agregasi dari limfoid.5
c. Konjungtivitis Klamidia
Pasien biasanya berusia muda dengan riwayat konjungtivitis kronik
bilateral dengan sekret mukopurulen. Konjungtivitis tipe ini dapat
berhubungan dengan adanya riwayat penyakit kelamin. Pada pemeriksaan
fisik didapatkan adanya injeksi konjungtiva yang bilateral dengan sekret

mukopurulen dan terdapat folikel pada konjungtiva. Biasanya infeksi


sudah menyebar sampai kornea (keratitis) dan terlihat adanya infiltrat pada
kornea (pannus).5
d. Konjungtivitis Alergika
Keluhan utama pada konjungtivitis alergika adalah gatal. Konjungtivitis
terjadi pada kedua mata dengan sekret yang jernih. Pada anamnesis,
didapatkan adanya riwayat atopi keluarga atau kontak terhadap bahan
kimia atau tetes mata tertentu sebelumnya. Gejala yang dirasakan biasanya
sering berulang dan menahun. Tanda karakteristik lainya adalah
terdapatnya papil besar pada konjungtiva, datang bermusim, yang dapat
mengganggu penglihatan. Selain injeksi konjungtiva, biasanya juga
didapatkan adanya kemosis dan tampilan cobblestone. Walaupun penyakit
alergi konjungtiva dapat sembuh sendiri akan tetapi dapat memberikan
keluhan yang memerlukan pengobatan.1,5
Tabel 2: Pembedaan jenis-jenis konjungtivitis umum2
Temuan klinis dan sitologi
Gatal

Viral
Minimal

Bakteri
Minimal

Klamidia
Minimal

Alergika
Hebat

Hiperemia

Generalisat

Generalisat

Generalisata

Generalisat

Mata berair

Sedang

Eksudasi

Banyak

Sedang

Banyak

Minimal

Adenopati preaurikular

Minimal

Banyak

Hanya

Sering

Jarang

konjungtiviti

pada

Minimal
Tak ada

s inklusi
Disertai sakit tenggorokan
dan demam

Tak pernah
Sesekali

Sesekali

Tak pernah

Tatalaksana

Pada konjungtivitis bakterialis, 60% kasus teratasi selama 5 hari tanpa


pengobatan. Pemberian antibiotik topikal dan sistemik dapat diberikan.
Pemberian steroid topikal dapat mengurangi pseudomembran dan membran
yang terbentuk pada konjungtivitis ini meskipun cara kerjanya masih belum

jelas. Irigasi dapat dilakukan pada kasus dengan hiperpurulen. Operasi dapat
dilakukan pada kasus trakoma untuk mengurangi entropion dan trikiasis serta
menjaga kelopak mata dapat menutup sempurna dengan rotasi bilamelar

tarsal. 3
Pada konjungtivitis viral, penyembuhan spontan dapat terjadi selama 2-3
minggu. Yang perlu diperhatikan adalah mengurangi resiko transmisi dengan
menjaga tangan tetap bersih, menghindari mengucek mata, dan berbagi
handuk. Pemberian obat steroid topikal seperti prednisolon dapat membantu
mengurangi membran dan pseudomembran. Pemberian air mata buatan dan

kompres hangat atau dingin dapat mengurangi gejala. 3


Pada konjungtivitis klamidia, tatalaksana menggunakan tetrasiklin oral
selama setidaknya 1 bulan dapat menghilangkan masalah, namun kurangnya
ketaatan minum obat dapat menyebabkan rekuransi gejala. Selain itu,
penyakit kelamin yang berhubungan dengan konjungtivitis ini sebaiknya

ditatalaksana.5
Pada konjungtivitis alergi, dapat diberikan air mata buatan untuk gejala yang
ringan.

Antihistamin

diberikan

untuk

eksaserbasi,

yang

dapat

dikombinasikan dengan vasokonstriktor atau mast cell stabilizers. Pemberian


obat steroid topikal juga dapat diberikan walaupun tidak terlalu bermakna. 3