Anda di halaman 1dari 9

KASUS FRAUD PERBANKAN

Pemalsuan Kredit Fiktif Bank Syariah Mandiri

Nama Dosen :
Sigit Handoyo, SE., M. Bus

Mata Kuliah :
Audit Forensik
Disusun Oleh:
1.
2.
3.
4.

Ade Festiananta
Rani Dwi Anggraini
Widyani Indah Dewanti
Winda Jessiana

14314026
14314037
14314041
14314042

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2015

Pemalsuan Kredit Fiktif Bank Syariah Mandiri

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Ronny F Sompie mengatakan pihaknya tengah
mengkaji pidana pemalsuan dalam kasus penggelapan dana bermodus kredit fiktif di Bank
Syariah Mandiri (BSM), Bogor, Jawa Barat.
"Pasal pemalsuan KUHP juga berlaku seperti halnya UU Perbankan selain UU Pencegahan
dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, tapi pasal pemalsuan masih dikaji," kata
Ronny di Jakarta, Kamis (24/10).
Pasal pemalsuan dokumen rencananya akan diikutsertakan dalam pidana yang menjerat
keempat tersangka penggelapan dana bermodus kredit fiktif senilai Rp102 miliar.
Hal itu karena sindikat yang terdiri dari tiga orang pimpinan kantor cabang Bank Syariah
Mandiri di Bogor, Jawa Barat, itu diduga memalsukan identitas para nasabah yang
mengajukan permintaan kredit pembiayaan.
"Hasil sementara penyidikan, identitas 197 nasabah itu dipalsukan berikut kartu tanda
penduduk (KTP) serta data persyaratan pengajuan kredit ke bank tersebut dipalsukan,"
ujarnya.
Kendati demikian, Ronny mengatakan pihaknya tidak bisa serta merta menjatuhkan jerat
pidana tanpa terlebih dahulu memberi bukti.
Menurutnya, perihal dokumen pengajuan kredit nasabah itu aspal (asli tapi palsu) atau benarbenar palsu akan dibuktikan dengan pemeriksaan dari ahli terkait. "Akan butuh keterangan
ahli dan konprehensif penyidikannya, jadi biar nanti didalami penyidik," katanya.
Sebelumnya, Dittipideksus Bareskrim Polri berhasil mengungkap kasus penggelapan dana
senilai Rp102 miliar di Kantor Cabang Pembantu Bank Syariah Mandiri Bogor, Jawa Barat.
Ada empat tersangka yang kini ditahan di rumah tahanan Bareskrim Polri, yakni Kepala
Cabang Utama BSM Bogor M. Agustinus Masrie (MA), Kepala Cabang Pembantu BSM
Bogor Chaerulli Hermawan (CH), Accounting Officer BSM Bogor John Lopulisa (JL) serta
Iyan Permana (IP) sebagai debitur.
Penangkapan keempatnya dilakukan Rabu (23/10) atas laporan yang disampaikan pada12
September 2013 dari Bank Syariah Mandiri Pusat. Sementara itu, barang bukti berupa

sembilan unit mobil mewah dan satu unit motor gede telah disita kepolisian sejak Rabu
(23/10) siang.
Kesepuluh kendaraan yang disita terdiri atas Honda Freed warna putih bernomor polisi F 630
CW, Toyota Fortuner warna putih F 1030 DO, Honda CRV warna hitam F 1299 L, Honda
Jazz putih F 39 A, Mercedes Benz putih B 741 NDH, Mercedes Benz SLK kuning B 1 ADG,
Toyota Alphard putih B 1650 RL, Hummer hitam B 741 FKD dan Toyota Altis F 1649 DK,
serta satu unit motor gede Honda Goldwings F6B hitam tanpa plat nomor.
Direktorat Ekonomi Khusus Bareskrim Polri menahan dua tersangka lagi dalam kasus
pembobolan dana Bank Syariah Mandiri (BSM) Bogor, Jawa Barat. Total tersangka dalam
kasus itu, kini sudah menjadi enam orang.
"Mereka adalah Hen Hen Gunawan dan Dokter Rizky Ardiansyah MPH. Keduanya ditangkap
Minggu (3/11) di dua tempat yang berbeda. Gunawan di Hasyim Asyari 59 Ciledug,
Tanggerang dan Rizky di Perumahan Bukit Indra Prasta blok d-2 no 8 Kemang, Parung," kata
Direktur Eksus Brigjen Arief Sulistyanto di Mabes Polri Senin (4/11).
Gunawan diduga ikut mengajukan pembiayaan fiktif ke BSM dengan modal KTP milik 26
karyawannya tanpa sepengetahuan si pemilik identitas. Sehingga total ada Rp 12,4 miliar
yang dia kantongi. Demikian pula Rizky yang meminjam KTP milik tetangganya untuk ikutikutan membobol bank. Rizky mampu mengantongi Rp 12,2 miliar.
"Kedua tersangka baru ini tidak saling mengenal tapi mereka ini diorder accounting Officer
BSM Bogor, John Lopulisa untuk mencari KTP untuk membobol banknya sendiri,"
imbuhnya.
Atas aksinya itu Jhon, yang juga telah ditahan dalam kasus ini, kecipratan sekitar Rp 4 miliar
dalam bentuk uang dan barang. Lalu Kepala Cabang Utama BSM Bogor M. Agustinus
Masrie kecipratan Rp 1,7 miliar, dan Kepala Cabang Pembantu BSM Bogor Chaerulli
Hermawan dapat Rp 3 miliar.
Penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, Rabu (6/11),
menangkap notaris yang bertindak sebagai pembuat akta dalam kasus pengajuan kredit fiktif
di Kantor Cabang Bank Syariah Mandiri Bogor, Jawa Barat.
"Ia ditangkap Rabu (6/11) dan Kamis (7/11) resmi ditahan. Sebelumnya, polisi sudah
melakukan pemanggilan, tapi dalam panggilan pertama ia tidak datang dengan alasan sakit,"
kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Brigjen Pol Arief Sulistyanto di Jakarta,
Kamis.

Notaris atas nama Sri Dewi (51), asal Bogor, merupakan orang yang ditunjuk langsung oleh
pihak bank untuk membuat akta pengikat perjanjian pembiayaan dengan akad murabahah.
Dijelaskan Arief, SD dinyatakan ikut bersalah karena merupakan notaris yang mengikat
proses pengajuan kredit fiktif itu.
Tersangka SD juga diketahui membuat akta pembiayaan hanya dihadiri oleh tersangka Iyan
Permana (IP) tanpa debitur lainnya.
Selain itu, SD menggunakan sertifikat tanah salinan (fotocopy) sebagai agunan.
"Ia juga menerima dana hasil kredit fiktif melalui transfer rekening sejumlah Rp2,6 miliar,
ada juga tunai tapi jumlahnya mereka (tersangka IP dan SD) lupa. Ia juga menerima
pemberian satu unit sedan Mercedes Benz C200," katanya.
Sindikat kejshatan perbankan ini disebutkan hampir sempurna. Selain melibatkan orang
dalam, juga melibatkan pihak eksternal sehingga bisa secara mudah kredit bisa dicairkan.
Dari sisi debitur ada tiga tersangka, Iyan Permana, Hen Hen Gunawan, dan Rizky Ardiansyah
masing-masing mengajukan 150 nasabah, 21 nasabah, dan 26 nasabah, sehingga total kredit
yang diajukan ada 197 nasabah. Dari 197 nasabah yang diajukan kredit, 113 kredit fiktif
diajukan Iyan Permana, kemudian Henhen mengajukan 20 kredit fiktif, dan Rizky
mengajukan 20 kredit fiktif. Sehingga total kredit fiktif sebanyak 153 nasabah. Setelah para
debitur melengkapi persyaratannya, kemudian masuklah ke tangan Accounting Officer Bank
Syariah Mandiri Bogor John Lopulisa. Pengajuan 197 kredit tersebut dimaksudkan supaya
kredit bisa disetujui hanya setingkat Kepala Cabang saja. John sebagai Account Officer yang
memang sudah mengetahui data-data fiktif tersebut tidak melakukan pengecekan lapangan
sehingga kredit yang diajukan bisa dengan mudah di kabulkan Kepala Cabang Pembantu
BSM Bogor Chaerulli Hermawan, begitu pula dengan persetujuan dari Kepala Cabang Utama
BSM Bogor Agustinus Masrie yang memang sudah bersekongkol. Kemudian 197 kredit
tersebut dibawa kepadaSri Dewi selaku notaris yang membuat akta akad kredit. Tanpa
dihadiri pihak debitur dan sertifikat tanah hanya berupa fotocopy dengan mudah perikatan
kredit antara debitur dan pihak bank dibuat.

Ketiga tersangka dipersangkakan Pasal 63 UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah
dan Pasal 3 dan 5 UU No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak
Pidana Pencucian Uang.
Sejak 2012
Sementara itu, Pihak BSM mencium telah terjadi pelanggaran dugaan tindak pidana
perbankan yang dilakukan pegawai BSM cabang Bogor sejak tahun 2012. Senior Vice
President Corporate Secretary BSM Taufik Machrus mengatakan, atas temuan tersebut BSM
menurunkan tim audit internalnya.
Hasil (temuan tim audit internal, red) memperkuat dugaan terjadinya tindak pidana
perbankan, kata Taufik.
Setelah itu, lanjut Taufik, BSM melaporkan hasil temuan tim audit internal ke Bareskrim
Mabes Polri. Dari pelaporan ini, Mabes Polri kemudian mengusut hingga menetapkan tiga
pegawai BSM cabang Bogor sebagai tersangka kasus kredit fiktif. Dengan pelaporan ini,
BSM menyerahkan penanganannya kepada proses hukum, tambahnya.
Taufik menjelaskan, terhadap tiga pegawai BSM yang menjadi tersangka tindak pidana itu,
telah dilakukan tindakan tegas. Tindakan tersebut berupa Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Untuk mantan Kepala BSM cabang utama Bogor berinisial MA PHK dijatuhkan pada tanggal
1 November 2012.
PHK kepada mantan Kepala BSM cabang pembantu Bogor berinisial HH dijatuhkan pada
tanggal 1 Desember 2012. Sedangkan kepada Account Officer BSM cabang pembantu Bogor
berinisial JL jatuh pada tanggal 4 Oktober 2013.
Konsultan Hukum BSM Bambang Sulistio menambahkan, kredit yang disalurkan oleh ketiga
tersangka jumlahnya mencapai Rp102 miliar. Dari jumlah itu, telah terjadi pengembalian
dana ke BSM sekitar Rp50 miliar. Sedangkan sisanya, ia berharap proses hukum dapat
membantu untuk mengembalikannya.
BSM sendiri belum mengetahui nilai kerugian yang terjadi dalam kasus ini. Ia menyerahkan
sepenuhnya berapa angka kerugian dalam kasus ini kepada pihak kepolisian. Yang belum
kembali Rp50-an miliar, masih dalam proses penyelesaian. Kita berharap dengan kasus ini
bisa tertutupi makanya dilaporkan ke pihak yang berwajib, kata Sulistio.

Meskipun terjadi kasus kredit fiktif, lanjut Sulistio, angka Non Performing Loan (NPL) atau
kredit bermasalah BSM tak terganggu. Ia mengatakan, kasus ini mencerminkan bahwa sistem
peringatan dini BSM telah berjalan baik. Saya kira (NPL) tidak terganggu, katanya.
Ia mengakui dari mulai dugaan terjadinya tindak pidana pada 2012 hingga dilaporkan ke
Bareskrim Mabes Polri pada September 2013 terdapat waktu yang panjang. Menurut Sulistio,
waktu tersebut dipergunakan BSM untuk mengumpulkan data dugaan pelanggaran. Hingga
akhirnya BSM memperoleh data telah terjadi mark up.
Dari hasil yang kita dapatkan baru diyakini terjadi pelanggaran. Setelah itu baru lapor,
karena butuh alat bukti permulaan untuk melapor, ujar Sulistio.
Terkait ditetapkannya salah satu debitur BSM sebagai tersangka, Sulistio menyerahkan
sepenuhnya kepada pihak Kepolisian. Menurut dia, penetapan seseorang sebagai tersangka
merupakan kewenangan penuh aparat penegak hukum. Itu kewenangan penyidik untuk
lakukan tindakan hukum. (Debitur, red) Orang yang menyediakan lahan perumahan untuk
dibeli oleh pemohon pembiayaan, katanya.
Atas perbuatannya, SD dipersangkakan Pasal 64 UU Nomor 21 Tahun 2008 tentang Tindak
Pidana Perbankan Syariah, Pasal 264 ayat 1 KUHP atas pemalsukan dokumen oleh notaris,
serta Pasal 3 dan atau Pasal 5 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian
Uang.
Sebelumnya, polisi telah menetapkan enam tersangka dalam kasus kredit fiktif itu,
diantaranya Kepala Cabang Utama BSM Bogor M. Agus (MA), Kepala Cabang Pembantu
BSM Bogor Haerul Hermawan (HH), Account Officer BSM Bogor John Lopulisa (JL), serta
tiga debitur Iyan Permana (IP), Hen Hen Gunawan (HG) dan Rizky Adiansyah (RA).
Dalam kasus itu, IP bersama HG dan RA yang bertindak sebagai debitur mengajukan akad
murabahah untuk pembiayaan perumahan. Mereka mengajukan kredit atas nama 197 nasabah
dengan data palsu dan berhasil mencairkan Rp102 miliar untuk kepentingan pribadi. Sekitar
Rp43 miliar telah dibayarkan ke pihak bank sehingga perseroan masih merugi Rp59 miliar.
Keenam tersangka lainnya dipersangkakan Pasal 63 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008
tentang Perbankan Syariah dan Pasal 3 dan 5 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Analisis :

fraud triangle:

a.

tekanan: Lingkungan dan gaya hidup

b.

kesempatan: lemahnya pengawasan dari BSM sehingga memudahkan pelaku untuk


melakukan fraud.

c.

Pembenaran: Para tersangka merasa dirinya mempunyai jabatan, wewenang, dan


mempunyai andil yang besar dalam memajukan perusahaan sehingga mereka berpikir
bahwa tindakan yang dilakukan adalah benar.

Pelaku :
Kepala Cabang Utama BSM Bogor : M. Agustinus Masrie,
Kepala Cabang Pembantu BSM Bogor : Chaerulli Hermawan,
Accounting Officer BSM Bogor : John Lopulisa,
Debitur : Iyan Permana, Hen Hen Gunawan, dan Rizky Adiansyah, serta
Notaris : Sri Dewi

Jenis Pelanggaran :
Pemalsuan dokumen identitas 197 nasabah dalam kasus penggelapan dana bermodus
kredit fiktif senilai Rp.102 miliar di Kantor Cabang Pembantu Bank Syariah Mandiri
Bogor.

Faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya kasus kredit fiktif BSM :


Gaya hidup para pelaku yang konsumtif dan diatas rata-rata
Keserakahan
Moral karyawan yang rendah

Adanya motivasi untuk melakukan fraud, seperti adanya tekanan, peluang dan sikap
yang membenarkan tindakan fraud.
Kelemahan sistem pengendalian internal perusahaan

Dampak :

Rusaknya reputasi bank yang berakibat menurunnya tingkat kepercayaan


stakeholder antara lain regulator, nasabah, masyarakat, manajemen bank dan
pegawai terhadap bank, akibat persepsi negatif yang dapat mempengaruhi
keberlangsungan usaha bank.

Solusi :
Bank syariah harus mengetatkan pengawasan. Apalagi BSM adalah bank berbasis
syariah, internal audit harus benar-benar dipastikan berjalan. Bank juga harus
melakukan perbaikan terus menerus.
Pihak BSM seharusnya menindak lanjuti permasalahan didalam perusahaannya agar
tidak ada lagi yang merasa dirugikan apalagi jumlah kerugian yg masih ada. Dan
masalah seharusnya jangan ditutupi, masalah tersebut harus segera diselesaikan.

Kesimpulannya :
Menurut kami kasus kredit fiktif pada bank syariah mandiri cabang bogor ini
terdapat pelanggaran kode etik profesi. Seperti prinsip tanggung jawab, kepentingan
publik, integritas, dan obyektifitas. Di karenakan adanya pelanggaran internal perusahaan
yang terjadi, adanya kerjasama antara pihak bank dengan pihak eksternal untuk
melakukan kecurangan dengan modus pengajuan kredit oleh 197 nasabah yang di ajukan
oleh iyan permana selaku debitur, yang ternyata dari 113 nasabah tersebut menggunakan
data-data palsu untuk memperoleh keuntungan pribadi. Yang mana pada awalnya
dilakukan pengajuan kredit untuk pengerjaan proyek pembangunan perumahan
sebagaimana yang diajukan oleh debitur namun pada kenyataannya tidak demikian.
Dalam kasus ini tersangka dapat menampung uang hasil kejahatannya senilai Rp.102
miliar.
Dari kasus yang terjadi merupakan bukti bahwa fungsi pengawasan internal bank
dan regulator masih lemah karena masih bisa dibobol. Baik itu karena standard operating

procedure (SOP) tidak benar-benar berjalan, atau karena ada bagian-bagian tertentu yang
tidak dijalani. Bisa juga karena tidak adanya evaluasi dan monitoring yang rutin dan kuat
dari pihak BSM pusat ketika SOP berjalan. Tetapi apabila melihat modus pembobolan
yang terjadi di KCP BSM Bogor, seharusnya tidak perlu terjadi abila manajemen peka
dan mulai bisa mendeteksi sedini mungkin, sehingga kerugian tidak membesar.
Dampak yang terjadi dari kasus ini selain menyebabkan kerugian dan rusaknya
reputasi bank syariah mandiri, berakibat pula pada hilangnya kepercayaan masyarakat
kepada bank yang berbasis syariah tersebut.
Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah kasus diatas :
-

Dapat dilakukan dengan melaksanakan sistem tata kerja dan penempatan profesi
secara professional dan integritas moral yang tinggi,

Menerapkan sanksi pidana yang maksimal dan secara tegas agar para tersangka
merasa takut akan hukuman yang akan didapat jika melakukan kolusi,

Perlunya pengawasan yang rutin dan kuat dari pihak bsm pusat. Agar para profesi
akuntan dan petinggi bsm tersebut tidak memiliki kesempatan untuk melakukan
kecurangan,

Perlu diberlakukan penerapan etika dalam profesi akuntan.