Anda di halaman 1dari 1

Biografi Sutan Syahrir

Nama: Bodhi setiawan


Kelas: XI A
Latar Belakang Keluarga
Sutan Syahrir dilahirkan pada tanggal 5 Maret 1909 di kota Padang Panjang,
Sumatra Barat. Ia anak ke-8 dari keluarga Mohammad Rasyad gelar Maha Raja Sutan.
Ayahnya berasal dari Kota Gadang (Bukittinggi). Terakhir menjabat hoofd djaksa (jaksa
kepala) pada Kantor Landraad (Pengadilan Negeri) di Medan.
Latar Belakang Pendidikan
Syahrir mula-mula bersekolah di Medan. Setelah menamatkan pelajaran pada ELS
(Europeesche Lagere School, sekolah rendah Belanda), ia melanjutkan ke MULO, setingkat
SMP sekarang, juga di Medan. Tamat dari MULO Syahrir melanjutkan sekolahnya di kota
Bandung (Jawa Barat) pada tahun 1926. Di Bandung ia memasuki AMS (Algemene
Middelbare School), setingkat SMA sekarang. Pada tahun 1929 Syahrir tamat dari AMS,
Bandung. Ia melanjutkan sekolahnya di Universitas Amsterdam, Belanda, pada Fakultas
Hukum
Kegemaran Sutan Syahrir
Pada saat-saat senggang, Syahrir suka berjalan-jalan di sekitar Kota Bandung,
melihat dari dekat penghidupan rakyat jelata. Ia juga gemar membaca, terutama membaca
koran. Di Bandung koran yang sering dibacanya adalah AID (Algemene Indische Dagblad)
yang diterbitkan oleh Vorkink. Selain itu, Syahrir pun menyukai musik barat. Syahrir sangat
menyukai olahraga sepak bola. Ia pernah ikut aktif dalam perkumpulan sepak bola di Jalan
Pungkur (Jalan Abdulmuis sekarang), Bandung. Selain sepak bola, Syahrir gemar dan
pandai bermain biola. Ia juga menyukai sandiwara dan seni sastra. Ia pernah mendirikan
perkumpulan sandiwara semasa menjadi pelajar AMS di Bandung. Nama perkumpulannya
Bandoengse Toneel Vereeniging van Indonesische Studerenden, disingkat Batovis. Tidak
hanya itu, Sutan Syahrir pun gemar untuk berorganisasi
Sutan Syahrir dalam Organisasi
Bersama-sama dengan beberapa pelajar AMS Bandung lainnya, Syahrir mendirikan
sebuah kelompok studi, yang diberi nama Patriae Scientiaeque disingkat PSQ, yang
mengandung arti Untuk Tanah Air dan Ilmu Pengetahuan. Pada tahun 1927, saat
berdirinya perhimpunan pemuda Jong Indonesie, Syahrir ikut aktif di dalamnya. Pada akhir
tahun itu juga perhimpunan itu berganti nama menjadi Pemuda Indonesia dan Putri
Indonesia untuk kalangan putri. Pada tahun 1929 Sutan Syahrir belajar di Belanda. Saat
kembali ke Indonesia ia mendapat pengawasan ketat polisi rahasia Belanda (PID). Ke mana
saja Syahrir pergi, selalu ada yang mengintainya. Pada awal tahun 1932, dalam usia 23
tahun, Syahrir aktif kembali dalam pergerakan nasional di Indonesia. Di Jakarta Syahrir
membantu majalah Daulat Rakyat sebagaimana dianjurkan oleh Hatta. Akhir Juni 1932
Syahrir terpilih sebagai ketua PO PNI-Pendidikan. Pada tanggal 25 Februari 1934 Sutan
Syahrir bersama Drs. Moh. Hatta dan Bondan ditangkap. Syahrir ditahan di Penjara
Cipinang, sementara Bung Hatta di Penjara Glodok. Pada tanggal 15 November 1934
jatuhlah keputusan pemerintah Hindia Belanda. Mereka dibuang ke Boven Digul (Tanah
Merah) di Irian Jaya sekarang. Di pembuangan inilah Syahrir menulis karangannya dalam
bahasa Belanda, berjudul Indonesische Overpeinsingen, yang kemudian diterjemahkan ke
dalam bahasa Indonesia menjadi Renungan Indonesia. Syahrir memakai nama samaran
Syahrazad