Anda di halaman 1dari 8

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka

1.

Koagulasi; Adanya kelainan pembekuan darah (koagulasi) akan menghambat penyembuhan


luka sebab hemostasis merupakan tolak dan dasar fase inflamasi.

2.

Gangguan sistem Imun (infeksi,virus); Gangguan sistem imun akan menghambat dan
mengubah reaksi tubuh terhadap luka, kematian jaringan dan kontaminasi. Bila sistem daya
tahan tubuh, baik seluler maupun humoral terganggu, maka pembersihan kontaminasi dan
jaringan mati serta penahanan infeksi tidak berjalan baik.

3.

Gizi (kelaparan, malabsorbsi), Gizi kurang juga: mempengaruhi sistem imun.

4.

Penyakit Kronis; Penyakit kronis seperti TBC, Diabetes, juga mempengaruhi sistem imun.

5.

Keganasan; Keganasan tahap lanjut dapat menyebabkan gangguan sistem imun yang akan
mengganggu penyembuhan luka.

6.

Obat-obatan; Pemberian sitostatika, obat penekan reaksi imun, kortikosteroid dan sitotoksik
mempengaruhi penyembuhan luka dengan menekan pembelahan fibroblast dan sintesis
kolagen.

7.

Teknik Penjahitan; Tehnik penjahitan luka yang tidak dilakukan lapisan demi lapisan akan
mengganggu penyembuhan luka.

8.

Kebersihan diri/Personal Hygiene; Kebersihan diri seseorang akan mempengaruhi proses


penyembuhan luka, karena kuman setiap saat dapat masuk melalui luka bila kebersihan diri
kurang.

9.

Vaskularisasi(pembentukan pembuluh darah secara abnormal atau berlebihan) baik


proses penyembuhan berlangsung cepat, sementara daerah yang memiliki vaskularisasi
kurang baik proses penyembuhan membutuhkan waktu lama.

10. Pergerakan, daerah yang relatif sering bergerak; penyembuhan terjadi lebih lama.
11. Ketegangan tepi luka, pada daerah yang tight (tegang) penyembuhan lebih lama
dibandingkan dengan daerah yang loose.(Sjamsuhidajat ,1997)

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka akut dan kronis secara umum adalah :
1. Faktor Intrinsik
a.Usia, semakin tua akan semakin lama dalam proses penyembuhan luka. Hal ini
dipengaruhi oleh adanya penurunan elastin dalam kulit dan perbedaan penggantian kolagen
mempengaruhi penyembuhan luka.
b. Status penyakit dan pengobatan, penderita yang mengalami penyakit seperti DM, karena
terjadi mikroangiopai, neuropati dan masalah khusus yang terjadi pada penderita akan
mempersulit penyembuhan

c. Status nutrisi, zat makanan yang masuk kedalam tubuh seperti protein sangat dibutuhkan
dalam proses neo-vaskularisasi, proliferasi(3 pertumbuhan dan pertambahan sel yg sangat
cepat (dl keadaan abnormal)) fibroblast, sintesa kolagen dan remodiling luka. Asam amino
adalah komponen struktural protein dan merupakan bagian penting dari deoxyribonucleic
acid (DNA) dan ribonucleic acid (RNA). Ini memberikan pola untuk mitosis sel dan enzym
yang dibutuhkan dalam pembentukan jaringan.
d. Oksigenasi dan perfusi jaringan, awal anjuri menyebabkan hipoksia dan merangsang
pelepasan faktor pertumbuhan yang mendukung awal persemaian kapiler. Oksigen
berpengaruh dalam angiogenesis, fungsi fibroblast, epithelisasi dan resistensi terhadap
infeksi. Perfusi jaringan saling terkait dengan oksigenasi jaringan. Perfusi jaringan yang
memuaskan merupakan hal yang essensial untuk oksigenasi. Volume darah beredar yang
adekuat membawa hemoglobin yang kaya O2 ke jaringan. Masalah yang berkaitan dengan
perfusi jaringan dan oksigenasi dapat diakibatkan oleh penyakit kardiovaskuler, paru dan
hipovolemia.
e. Merokok, merokok juga mengurangi perfusi dan oksigenasi jaringan dan menimbulkan
efek merugikan pada proses penyembuhan luka
2. Faktor Ekstrinsik
a. Teknik pembedahan buruk, jikan jaringan di tangani secara kasar selama pembedahan,
maka jaringan mengalami kerusakan yang luas, mengakibatkan hematom. Hal ini dapat
meningkatkan resiko infeksi akibat hematom yang pecah. Ruang mati (dead space) mungkin
juga terjadi jika jaringan tidak diperbaiki secara tepat selama pembedahan dan memberi
peluang untuk berkembangnya infeksi luka.
b. Drug treatment, obat juga mempengaruhi penyembuhan luka adalah steroid, obat anti
inflamasi, obat antimitotic dan terapi radiasi. Steroid menghambat seluruh fase penyembuhan
luka, menghambat fagositosis, sintesa kolagen dan angiogenesis.
c. Manajemen luka yang tidak tepat, penggunaan teknik pembalutan yang tidak tepat,
pemilihan dan penggunaan bahan balutan yang kurang tepat atau penggunaan antiseptik
solution yang semestinya tidak diperlukan dapat menghambat proses penyembuhan luka.
d. Psikososial yang merugikan, berbagai jenis faktor psikososial dapat memberikan efek
merugikan pada penyembuhan luka. Seperti : buruknya pemahaman dan penerimaan
terhadap program pengobatan atau kecemasan yang berkaitan dengan perubahan pada
pekerjaan, penghasilan, hubungan pribadi dan body image (Morison, 1992)
e. Infeksi, dari semua faktor yang memperlambat penyembuhan luka, infeksi adalah yang
paling penting. Infeksi dapat terjadi jika selamaa persiapan pembedahan, selama
pembedahan dan setelah pembedahan tidak dilakukan dengan prinsip aseptic dan antiseptic

yang baik. Jenis luka dan lokasi pembedahan juga mempengaruhi resiko infeksi pada luka
insisi.
http://ferryefendi.blogspot.com/2007/11/penyembuhan-luka.html 5:44 AM

http://perawatpskiatri.blogspot.com/2009/03/proses-penyembuhan-luka.html
Tuesday, March 24, 2009

Pengertian Neuropati diabetikum


Neuropati diabetikum merupakan sekumpulan gejala (sindrom) yang
disebabkan oleh degenerasi saraf perifer atau autonom sebagai akibat diabetes
mellitus.18Neuropati diabetikum biasanya terjadi pada diabetes yang lama dan tidak
terkontrol pada lanjut usia. Sebanyak 30-50% pasien diabetes mengalami neuropati
diabetikum. Suatu neuropati perifer simetris yang mengenai saraf motorik dan
sensorik ekstremitas bawah mengakibatkan cedera sel schwann, degenerasi myelin,
dan kerusakan akson. Neuropati autonomik dapat menyebabkan impotensi seksual
dan disfungsi usus serta kandung kemih (buli-buli). Gangguan neurologik fokal
(mononeuropati diabetik) sangat mungkin disebabkan karena mikroangiopati.
Neuropati diabetikum dapat mempermudah timbulnya oral diabetikum, terutama pada
lidah, gigi, periodonsium, dan saraf gigi.
Tipe diabetes mellitus yang diderita akan mempengaruhi diagnosis neuropati
diabetikum. Pada Diabetes mellitus tipe 2 prognosis lebih baik daripada tipe 1. Lama
dan beratnya diabetes mellitus, lama dan beratnya keluhan neuropati yang dialami,
serta kemungkinan mengenai saraf autonom akan menentukan prognosis neuropati
diabetikum.
Patogenesis

Saraf perifer (spinalis dan kranialis) yang didistribusikan untuk memelihara


otot, kulit, dan pembuluh darah terdiri dari sejumlah saraf campuran yaitu saraf
motorik, sensorik, dan vegetatif. Dari segi faal, ketiga jenis saraf tersebut dibedakan
berdasarkan ukuran penampangnya, yaitu saraf tipe A (5-12 mikron), tipe B (3-4
mikron), dan tipe C (1-2 mikron). Saraf tipe A aksonnya bermielin tebal, tipe B
bermielin tipis, dan tipe C aksonnya tidak bermielin. Akson bermielin tebal adalah
akson saraf motorik pada umumnya dan sebagian saraf sensorik untuk jenis
protopatik. Akson bermielin tipis adalah sebagian akson saraf motorik dan sebagian
saraf sensorik. Akson yang tidak bermielin adalah akson sensorik dan autonom.
Neuropati diabetika tidak terjadi oleh faktor tunggal, melainkan karena interaksi
beberapa faktor, seperti faktor metabolik, vaskular, dan mekanik. Faktor kausatif
utama berupa gangguan metabolik jaringan saraf. Pada diabetes mellitus peranan
insulin memobilisasi glukosa sangat minimal, dalam kondisi hiperglikemik glukosa
diubah oleh aldose reduktase menjadi sorbitol. Akumulasi sorbitol dapat terjadi 24-48
jam setelah hiperglikemia, terutama pada neuron, lensa, pembuluh darah, dan
eritrosit. Sorbitol bersifat higroskopis, sehingga akan meningkatkan tekanan osmotik
sel.
Mioinositol merupakan bagian plasma dan membran sel. Pada diabetes mellitus,
mioinositol banyak diekskresikan lewat urin, dan sebaliknya akumulasi sorbitol dan
fruktosa dalam sel mempengaruhi pengambilan mioinositol. Rendahnya kadar
mioinositol ini menyebabkan gangguan fungsi ATP-ase, sehingga terjadi gangguan
konduksi saraf. Mioinositol merupakan prekursor polifosfo-inositida yang penting
dalam mengatur aksi potensial saraf.
Penimbunan sorbitol dan penurunan mioinositol menyebabkan gangguan pada
sel Schwann dan akson. Proses ini menyebabkan terjadinya demielinisasi dan
degenerasi akson.
Tampak kelainan pada saraf perifer berupa iskemia yang disebabkan oleh
kelainan dan gangguan aliran darah yang menyumbat vasa nervorum. Ahli lain
menyebutkan bahwa kelainan vaskular didapat terlebih dahulu terutama pada
pembuluh darah halus.19 Membran basal kapilaris yang berasal dari jaringan kolagen
mengakibatkan dinding pembuluh darah tidak elastik atau kaku, menurunnya respons
pembuluh darah terhadap bahan vasoaktif, dan lumen pembuluh darah menjadi kecil.
Selain itu, anoksia akibat mikro-trombositosis diduga dapat menyebabkan jaringan
saraf mudah terkena substansi yang bersifat toksik. Hal ini sangat mungkin
merupakan mekanisme yang mendasari disfungsi susunan saraf perifer.
Posted by Arianto Samier Irhash at 3:26:00 PM

Mikroangiopati terganggunya sirkulasi darah krn pembuluh darahnya terhambat (pd bayi
yg baru dilahirkan): risiko yg lebih ringan ialah lahirnya bayi

(drg. Sohpia,Sp.KG., M.M.)


http://rscharitas.com/index.php/index.php?mod=newsdet&id=189
Kadar gula yang tidak terkontrol menyebabkan penderita diabetes melitus
beresiko mengalami kesehatan mulut. Diabetes yang tidak terkontrol
mengganggu leukosit (sel darah putih) dan sel-sel imun seperti netrofil, monosit,
dan makrofag yang berfungsi untuk pertahanan tubuh. Hal ini menyebabkan
kemampuan tubuh untuk melawan bakteri menurun dan penderita lebih rentan
terhadap infeksi.
18/01/2013 10:21

Selain itu, pada penderita diabetes


melitus terjadi peningkatan kadar sel
radang dalam cairan saku gusi,
sehingga
menyebabkan
jaringan
periodontal lebih mudah terinfeksi dan
menyebabkan kerusakan tulang.
Hal-hal yang sering ditemui dalam rongga mulut penderita diabetes mellitus
antara lain :
1. Xerostomia (mulut kering)
Diabetes melitus menyebabkan terjadinya penurunan aliran saliva (air liur)
sehingga mulut terasa kering. Penurunan aliran saliva ini disebabkan oleh tidak
terkontrolnya kadar gula darah ataupun akibat konsumsi obat-obatan sistemik
untuk penyakit diabetes. Saliva sendiri sangat berguna untuk rongga mulut
karena memiliki efek self cleansing, yaitu berfungsi sebagai pembilas sisa-sisa

makanan dan kotoran dari dalam mulut. Dengan terjadinya penuruan aliran
saliva, rongga mulut akan lebih rentan mengalami infeksi atau luka, dan juga
lubang gigi.
2. Karies (gigi berlubang)
Karies gigi pada penderita diabetes mellitus juga disebabkan oleh penurunan
aliran saliva (air liur). Selain berperan sebagai self cleansing, saliva juga berperan
dalam efek buffer, yaitu penetral pH mulut. Ketika kita makan, suasana pH dalam
rongga mulut menjadi asam yang beresiko terjadinya gigi berlubang. Namun,
suasana asam ini akan dinetralkan oleh saliva sehingga kondisi rongga mulut
menjadi netral. Dengan berkurangnya aliran saliva, kemampuan self
cleansing dan buffer berkurang, sehingga rongga mulut lebih rentan terhadap
terjadinya gigi berlubang.
3. Gingivitis
periodontal)

(radang

gusi)

dan

periodontitis

(radang

jaringan

Selain merusak sel darah putih, komplikasi lain dari diabetes melitus adalah
menebalnya pembuluh darah sehingga memperlambat aliran nutrisi dan produk
sisa tubuh. Lambatnya aliran darah menurunkan kemampuan tubuh untuk
memerangi infeksi sehingga mudah terjadi infeksi dalam rongga mulut, salah
satunya gingivitis. Gejala-gejala gingivitis antara lain : pembengkakan gusi, gusi
mudah berdarah, dan gusi berwarna lebih merah tanpa menyebabkan
kegoyangan pada gigi.

Periodontitis merupakan kelanjutan dari gingivitis dengan disertainya kegoyangan


gigi. Terdapat banyak faktor yang dapat memperberat periodontitis, di antaranya
akumulasi plak, kalkulus (karang gigi), dan factor sistemik atau kondisi tubuh
secara umum. Goyangnya gigi pada periodontitis disebabkan oleh rusaknya
jaringan periodontal yang menyebabkan gusi tidak melekat lagi pada gigi dan
tulang menjadi rusak. Angka kasus penyakit periodontal di masyarakat cukup
tinggi meskipun banyak penderita yang tidak menyadarinya, dan penyakit ini
merupakan penyebab utama hilangnya gigi pada orang dewasa.

4. Luka sukar sembuh


Diabetes melitus yang tidak terkontrol menyebabkan penyembuhan luka pada
penderita diabetes lebih lama dan lebih sulit jika dibandingkan orang normal
pada umumnya. Hal ini disebabkan tingginya kadar gula pada derah luka
sehingga terjadi gangguan aliran darah ke tempat terjadinya luka.
Hal ini harus diperhatikan pada penderita diabetes melitus yang ingin melakukan
pencabutan gigi. Akibat yang dapat ditimbulkan bila pencabutan gigi dilakukan
pada penderita diabetes melitus yang tidak terkontrol antara lain :
-

Terjadi infeksi pasca pencabutan pada daerah bekas pencabutan

Terjadi sepsis atau peningkatan jumlah bakteri dalam darah

Terjadi pendarahan yang terus menerus akibat infeksi pasca pencabutan

Oleh karena itu, pada umumnya dokter gigi menunda pencabutan gigi pada
penderita diabetes mellitus yang tidak terkontrol.
5. Oral thrush
Penderita diabetes mellitus yang sering menkonsumsi antibiotik sangat rentan
mengalami infeksi jamur pada mulut dan lidah. Hal ini disebabkan karena
antibiotik ditujukan untuk memerangi infeksi bakteri,sedangkan dalam rongga
mulut terdapat oral flora normal yang terdiri dari bakteri, virus, dan jamur normal.
Antibiotik akan membunuh bakteri tapi tidak membunuh jamur dan virus,
sehingga ekosistem dalam rongga mulut tidak seimbang dan pada akhirnya
terjadi pertumbuhan jamur berlebih pada mulut dan lidah.

Penderita diabetes yang menggunakan gigi tiruan (gigi palsu) juga rentan
terhadap infeksi jamur terutama jika penderita menggunakan gigi tiruannya
selama 24 jam dan tidak melepasnya pada saat tidur ataupun tidak
membersihkan gigi tiruannya secara seksama.
TIPS khusus menjaga kesehatan gigi dan mulut bagi penderita diabetes mellitus :
1. Menjaga kadar gula darah dengan pola diet yang baik dan menerapkan
gaya hidup sehat dengan olahaga teratur, juga memeriksa kagar gula
secara teratur setiap 1 bulan sekali
2. Selalu menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan cara meyikat gigi
minimal 2x sehari pagi sesudah makan dan malam sebelum tidur
3. Bersihkan karang gigi setiap 6 bulan sekali
4. Segera menambal gigi yang berlubang, jangan tunggu hingga parah
5. Konsultasikanlah ke dokter spesialis penyakit dalam apabila ada gigi yang
memerlukan pencabutan, sehingga dokter spesialis penyakit dalam akan
merekomendasikan surat rujukan ke dokter gigi apabila kondisi gula darah
sedang terkontrol.
6. Jangan lupa untuk menginformasikan mengenai kondisi diabetes bila
berkunjung ke dokter gigi
7. Pemakaian alat-alat seperti gigi tiruan atau kawat orthodontic perlu
mandapat perhatian khusus. Pemakai gigi tiruan wajib melepas gigi tiruan
sebelum tidur dan membersihkannya dengan baik untuk meminimalisasi
kemungkinan terjadinya infeksi jamur.