Anda di halaman 1dari 19

MANUSIA MENURUT AJARAN ISLAM

A. Konsep Manusia dalam Al-Quran


Konsep manusia dalam AI-Qur'an dipahami dengan memperhatikan kata-kata
yang saling menunjuk pada makna manusia yaitu kata basyar, insan, dan al-nas.
1. Basyar
Disebutkan dalam Al-Mufradat Fi Gharibil Quran, bahwa istilah ini berasal dari
kata dasar basyarah, artinya bagian permukaan kulit, sedangkan adamah adalah
bagian dalamnya. Manusia disebut dengan basyar karena kulit mereka lebih banyak
terlihat di permukaan tubuhnya dibanding rambut, berbeda dengan hewan yang
umumnya lebih banyak ditutupi bulu, rambut, dan wool. Dari kata dasar yang
bermakna kulit ini pula muncul istilah mubasyarah, artinya persentuhan kulit
dengan kulit secara langsung, dan bangsa Arab memakainya sebagai kiasan dari
hubungan suami istri. Kabar gembira juga disebut dengan bisyarah dan busyra, karena
ketika seseorang bergembira maka darah menyebar ke seluruh kulitnya sehingga
tampak nyata perubahannya, terutama pada wajah. Dengan demikian, ketika manusia
disebut basyar dalam bahasa Arab, yang dimaksud adalah entitas fisik yang makan,
minum, berjalan di pasar, beranak-pinak, berubah dari kecil menjadi dewasa, dan
akhirnya mati. Basyar adalah manusia secara biologis dan fisiologis sebagai materi di
alam raya ini. Ini pula inti gugatan kaum kafir kepada para Nabi yang dikirim kepada
mereka, karena secara fisik mereka adalah basyar, makhluk berbadan wadak seperti
umatnya. Hanya saja, mereka mendapatkan wahyu dari Allah, dan inilah yang
membuat mereka berbeda dari manusia lainnya.
Allah memakai konsep basyar dalam AI-Qur'an sebanyak 37 kali, salah satunya
al-Kahfi: 110, yaitu : Innama anaa basayarun mitslukum (Sesungguhnya aku ini hanya
seorang manusia seperti kamu). Konsep basyar selalu dihubungkan pada sifat-sifat
biologis manusia, seperti asalnya dari tanah liat atau lempung kering (al-Hijr. 33; arRum: 20), serta manusia makan dan minum (al-Mu'minuun: 33). Basyar adalah
makhluk yang sekedar berada (being) yang statis seperti hewan.
2. Insan
Dalam Al-Quran, kata insan selalu bermakna kenaikan menuju tingkatan yang
membuatnya cakap menjadi khalifah di muka bumi, serta sanggup memikul

konsekuensi taklif dan amanah kemanusiaan. Sebab, ia telah diistimewakan dengan


ilmu, bayan, akal, dan tamyiz (kemampuan memilah).
Kenyataan ini disertai dengan aneka rintangan yang pasti menghadangnya berupa
ujian baik maupun buruk, fitnah lalai karena merasa kuat dan mampu, ditambah
perasaan sebagai makhluk yang menempati posisi tertinggi di alam semesta sehingga
bisa menyeretnya menuju kesombongan dan ujub. Perasaan inilah yang seringkali
menjerumuskan manusia (insan) dan membuatnya lupa bahwa ia pada dasarnya
makhluk yang lemah, yang sedang menempuh kehidupan dunia dari alam tak dikenal
menuju alam gaib. Dengan kata lain, ketika disebut sebagai insan, maka yang
dimaksud adalah kualitas-kualitas spesifik dan istimewa dalam diri manusia yang
membuatnya layak menerima kekhilafahan, taklif, dan dilebihkan diatas malaikat.
Kata insan disebutkan dalam AI-Qur'an sebanyak 70 kali, di antaranya (al-Alaq:
5), yaitu: Allamal insaana maa lam ya'lam (Dia, mengajarkan manusia apa yang tidak
diketahuinya).Konsep insan selalu dihubungkan pada sifat psikologis atau spiritual
manusia sebagai makhluk yang berpikir, diberi ilmu, dan memikul amanah (al-Ahzab:
72). Insan adalah makhluk yang menjadi (becoming) dan terus bergerak maju ke arah
kesempurnaan.
Kata ini terulang dalam Al-Quran sebanyak 70 kali dengan berbagai konteksnya,
yaitu :
a. Menjelaskan tentang manusia:
1) Asal kejadian manusia dari tanah terdapat dalam: Q.S. Al-Hijr [15]: 26, AlMuminn [23]: 12, As-Sajadah [32]: 7, Al-Rahmn [55]: 14.
2) Kejadian manusia dari setetes mani (nutfah), terdapat dalam: Q.S. An-Nahl
[16]: 4, Yasin [36]: 77, Al-Qiymah [75]: 36, Al-Insn [76]: 1-2, Abasa [80]:
17, dan At-Triq [86]: 5.
3) Kejadian manusia dari segumpal darah, terdapat dalam Q.S. Al-Alaq [96]: 2.
4) Kejadian manusia dalam susah payah, terdapat dalam Q.S. Al-Balad
[90] :
4.
5) Kejadian manusia dalam sebaik-baiknya bentuk terdapat dalam Q.S. At-Tin
[95]: 4.
b. Menjelaskan sifat-sifat negatif manusia:
1) Tidak pandai bersyukur dan putus asa atas nikmat Allah, seperti terdapat
dakan surat: az-Zumar [39]:49, Hd [11]: 34, al-Isra [17]:67,83, al-Hajj
[22]:66, Fushshilat [41]:49,51, as-Syura [42]:48, az-Zukhruf [43]:15, dan
al-diyt [100]:6.
2) Pragmatis terhadap Allah (ingat ketika kesulitan dan lupa ketika kelapangan),
seperti dalam surat Ynus [10]:12,
[41]:51.

az-Zumar [39]:8,49 dan Fushshilat

3) Kikir dan suka keluh kesah dan tergesa-gesa, seperti dalam surat: al-Isra
[17]:11,100 dan Maarij [70]:19 dan al-Anbiya [21]:37.
4) Suka membantah, zalim dan melampaui batas, seperti terdapat dalam surat: alKahfi [18]:54, al-Ahzab [33]:72, al-Qiyamah [75]:5 dan al-alaq [96]:6.
3. Naas
Penggunaan kata An Nas dalam Al Quran dihubungkan dengan fungsi manusia
sebagai makhluk sosial. Manusia diciptakan sebagai makhluk bermasyarakat, yang
berawal dari lakilaki dan perempuan, kemudian berkembang menjadi suku bangsa
untuk saling mengenal, tersurat dalam Firman Allah surat Al-Hujurat/49:13.




Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan danmenjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenalmengenal. Sesungguhnyaorang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah swt ialah orang
yang paling taqwa diantara kamu.Sesungguhnya Allah swt Maha mengetahui lagi Maha
Mengenal.

Sejalan dengan konteks kehidupan sosial, maka peran manusia dititikberatkan


pada upaya untuk menciptakan keharmonisan hidup bermasyarakat. Masyarakat
dalam ruang lingkup yang paling sederhana, yaitu keluarga, masyarakat, bangsa
hingga antar bangsa. Yang dalam aplikasina sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama
Islam.
Kata al-nas disebut sebanyak 240 kali, seperti (az-Zummar. 27), yaitu :
Walaqaddlarabna linnaasi fii haadzal quraani min kulli matsal (Sesungguhnya telah
Kami buatkan bagimanusia dalam al-Qur'an ini setiap macam perumpamaan). Konsep
al-nas menunjuk pada semua manusia sebagai makhluk sosial atau secara kolektif.
Dengan demikian, al-Qur'an memandang manusia sebagai makhluk biologis,
psikologis, dan sosial. Manusia sebagai basyar tunduk pada takdir Allah, sama dengan
makhluk lain. Manusia sebagai insan dan al-nas bertalian dengan hembusan llahi atau ruh
Allah, memiliki kebebasan dalam memilih untuk tunduk atau menantang takdir Allah.
B. Konsep Penciptaan Manusia

Al Qur'an dan telah menjelaskan secara periodik dan sistematik tentang tahap-tahap
perkembangan embrio dalam rahim, Allah Ta`ala berfirman : Dan sesungguhnya Kami
telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami
jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami
jadikan daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang
belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang
(berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (QS. Al
Mu'minun 12-14).
Setelah Allah Ta`ala menyebutkan dalam Al Qur'an tentang embriologi, Rasulullah
SAW juga menegaskan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Abdurrahman Abdullah
bin Mas'ud RA. Bersabda Rasulullah SAW dan dialah yang selalu benar dan
dibenarkan "Sesungguhnya setiap kamu dikumpulkan kejadiannya dalam rahim ibunya 40
hari berupa nuthfah. Kemudian menjadi 'alaqah selama itu juga, kemudian menjadi
mudghah selama itu juga, kemudian diutus kepadanya Malaikat, maka ia meniupkan ruh
padanya dan ditetapkan empat perkara : ditentukan rizkinya, ajalnya, amalnya dan ia
celaka atau bahagia (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari Al Qur'an dan Al Hadits di atas menunujukkan bahwa Allah Ta`ala menciptakan
manusia melalui fase-fase berikut :
1. Nutfah
nuthfatun adalah sperma laki-laki dan sel telur perempuan yang telah bertemu
dan terjadi pembuahan kemudian terjadi perubahan dari keadaan yang satu kepada
yang lain dan dari bentuk yang satu kepada bentuk yang lain.
Sebelum proses pembuahan terjadi, 250 juta sperma terpancar dari si laki-laki
pada satu waktu dan menuju sel telur yang jumlahnya hanya satu setiap siklusnya.
Sperma-sperma melakukan perjalanan yang sulit di tubuh si ibu sampai menuju sel
telur karena saluran reproduksi wanita yang berbelok2, kadar keasaman yang tidak
sesuai dengan sperma, gerakan menyapu dari dalam saluran reproduksi wanita, dan
juga gaya gravitasi yang berlawanan. Sel telur hanya akan membolehkan masuk satu
sperma saja.
Artinya, bahan manusia bukan mani seluruhnya, melainkan hanya sebagian
kecil darinya. Ini dijelaskan dalam Al-Quran :
Apakah manusia mengira akan dibiarkan tak terurus? Bukankah ia hanya setitik
mani yang dipancarkan? (QS Al Qiyamah:36-37).

Riset para ahli embriologi menyebutkan bahwa selain mengandung


spermatozoa (sperma) air mani juga tersusun dari berbagai campuran yang berlainan
yang mempunyai fungsi masing-masing, misalnya mengandung gula yang diperlukan
untuk menyediakan energi bagi spermatozoa, menetralkan asam di pintu masuk
rahim, dan melicinkan lingkungan agar memudahkan pergerakan sperma. Air mani
yang tersusun dari berbagai campuran tersebut telah disebutkan dalam AlQur'an. "Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang
memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya
dari sari pati air yang hina (mani)". (QS. As Sajdah : 7-8). Kata-kata sulalah
(saripati) pada ayat tersebut merupakan bagian yang mendasar atau "bagian dari satu
kesatuan".
2. Alaqah
Peringkat pembentukan alaqah ialah pada hujung minggu pertama / hari
ketujuh . Pada hari yang ketujuh telor yang sudah disenyawakan itu akan tertanam di
dinding rahim (qarar makin). Selepas itu Kami mengubah nutfah menjadi alaqah.
"Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah". (al Alaq/96:2).
Ketika sperma dari laki-laki bergabung dengan sel telur wanita, terbentuk
sebuah sel tunggal yang dikenal sebagai zigot , zigot ini akan segera berkembang
biak dengan membelah diri hingga akhirnya menjadi segumpal daging. Tentu saja
hal ini hanya dapat dilihat oleh manusia dengan bantuan mikroskop.
Tapi, zigot tersebut tidak melewatkan tahap pertumbuhannya begitu saja. Ia
melekat pada dinding rahim seperti akar yang kokoh menancap di bumi dengan
carangnya. Melalui hubungan semacam ini, zigot mampu mendapatkan zat-zat
penting dari tubuh sang ibu bagi pertumbuhannya. Pada bagian ini, satu keajaiban
penting dari Al Quran terungkap. Saat merujuk pada zigot yang sedang tumbuh
dalam rahim ibu, Allah menggunakan kata alaq dalam Al Quran. Arti kata alaq
dalam bahasa Arab adalah sesuatu yang menempel pada suatu tempat. Kata ini
secara harfiah digunakan untuk menggambarkan lintah yang menempel pada tubuh
untuk menghisap darah.
3. Mudghah
Pembentukan mudghah dikatakan berlaku pada minggu keempat. Perkataan
mudghah disebut sebanyak dua kali di dalam al-Quran iaitu surah al-Hajj ayat 5 dan
surah al-Mukminun ayat 14:
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur),
Maka (ketahuilah) Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian
dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging

yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada
kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang
sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan
berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang
diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun,
supaya Dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. dan
kamu Lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya,
hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuhtumbuhan yang indah. (QS. al-Hajj ayat 5)
"...lalu segumpal darah itu Kami jadikan daging,..." ( QS. Al Mukminun : 14)
Mudghah yang mempunyai arti segumpal daging ini merupakan fase yang
mana berbentuk lengkung, dengan penampakan gelembung-gelembung serta alur-alur.
Embrio yang tumbuh berumur 40-42 hari tidak lagi mirip dengan embrio
hewan karena sudah dilengkapi dengan pendengaran, penglihatan, kulit, otot dan
tulang sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi SAW dari Hudzaifah ibnu Asid :
"Ketika nuthfah telah lewat 42 malam dari penciptaan, Allah Ta`ala mengirim
malaikat untuk membentuknya dan menciptakan pendengaran, penglihatan, kulit, otot
dan tulang. Kemudian malaikat bertanya : Ya Allah, ini akan dijadikan laki-laki atau
perempuan ? Dan Allah memutuskan apa yang dikehendakiNya, .." (HR. Muslim)
Diperingkat ini sudah berlaku pembentukan otak, saraf tunjang, telinga dan
anggota-anggota yang lain. Selain itu sistem pernafasan bayi sudah terbentuk.Vilus
yang tertanam di dalam otot-otot ibu kini mempunyai saluran darahnya sendiri.
Jantung bayi pula mula berdengup. Untuk perkembangan seterusnya, darah mula
mengalir dengan lebih banyak lagi kesitu bagi membekalkan oksigen dan pemakanan
yang secukupnya. Menjelang tujuh minggu sistem pernafasan bayi mula berfungsi
sendiri.
4. Izam dan Lahm
Pada peringkat ini iaitu minggu kelima, keenam dan ketujuh ialah peringkat
pembentukan tulang yang mendahului pembentukan oto-otot. Apabila tulang belulang
telah dibentuk, otot-otot akan membungkus rangka tersebut.
Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu
Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulangbelulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami

jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang
Paling Baik (QS Al Muminun:14)
Para ahli embriologi beranggapan bahwa tulang dan otot dalam embrio
terbentuk secara bersamaan. Karenanya, sejak lama banyak orang yang menyatakan
bahwa ayat ini bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Namun, penelitian canggih
dengan mikroskop yang dilakukan dengan menggunakan perkembangan teknologi
baru telah mengungkap bahwa pernyataan Al-Quran adalah benar kata demi
katanya.1[6]
Penelitian di tingkat mikroskopis ini menunjukkan bahwa perkembangan
dalam rahim ibu terjadi dengan cara persis seperti yang digambarkan dalam ayat
tersebut. Pertama, jaringan tulang rawan embrio mulai mengeras. Kemudian sel-sel
otot yang terpilih dari jaringan di sekitar tulang-tulang bergabung dan membungkus
tulang-tulang ini.
Kemudian pada minggu ketujuh terbentuk pula satu sistem yang kompleks.
Pada tahap ini perut dan usus , seluruh saraf, otak dan tulang belakang mula
terbentuk. Serentak dengan itu sistem pernafasan dan saluran pernafasan dari mulut ke
hidung dan juga ke pau-paru mula kelihatan. Begitu juga dengan organ pembiakan,
kalenjar, hati, buah penggang, pundi air kencing dan lain-lain terbentuk dengan lebih
sempurna lagi. Kaki dan tangan juga mula tumbuh. Begitu juga mata, telinga dan
mulut semakin sempurna. Pada minggu kelapan semuanya telah sempurna dan
lengkap.
5. Peniupan Ruh
Yaitu peringkat peniupan roh. Para ulamak Islam menyatakan bilakah roh
ditiupkan ke dalam jasad yang sedang berkembang? Mereka hanya sepakat
mengatakan peniupan roh ini berlaku selepas empat puluh hari dan selepas
terbentuknya organ-organ tubuh termasuklah organ seks. Nilai kehidupan mereka
telah pun bermula sejak di alam rahim lagi. Ketika di alam rahim perkembangan
mereka bukanlah proses perkembangan fizikal semata-mata tetapi telahpun
mempunyai hubungan dengan Allah s.w.t melalui ikatan kesaksian sebagaimana yang
disebutkan oleh Allah di dalam al-Quran surah al-A'raf : 172.
dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam
dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya
1

berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban
kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat
kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang
lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", (al-A'raf : 172.)
Dengan ini entiti roh dan jasad saling bantu membantu untuk meningkatkan
martabat dan kejadian insan disisi Allah s.w.t
Ruh merupakan penggerak dan pertanda dari kehidupan seorang hamba, tanpa
adanya ruh maka jasad yang telah terbentuk tidak akan sempurna. Tentang ruh ini
Allah Ta`ala berfirman : "Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah
"Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan
sedikit". (QS. Al Isra' : 85)
Para ahli ilmu mendefinisikan ruh sebagai organ lembut yang berada pada
badan. Proses peniupan ruh oleh malaikat tersebut diiringi dengan proses penentuan
rizkinya, ajalnya, amalnya dan ia celaka atau bahagia. Proses peniupan ruh pada
embrio tersebut ketika berumur 120 hari sebagaimana disebutkan pada hadits dari
Abi Abdirrahman Abdillah bin Mas'ud RA. yang sudah tersebut di atas.
Hal lain yang disebutkan dalam Al Qur'an adalah bahwa embrio terselubungi
oleh tiga kegelapan "dzulumatin tsalats". Para pakar embriologi menyebutkan bahwa
maksud dari tiga tabir kegelapan itu adalah ; 1. Dinding bagian dalam perut ibu, 2.
Dinding uterus, dan 3. Membran amniokorionik. Maha benar Allah Ta`ala dengan
firmanNya : "Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian
dalam tiga kegelapan". (QS. Az Zumar : 6).
C. Konsep Fitrah
Dalam pandangan islam kemampuan dasar dan keunggulan manusia dibandingkan
dengan makhluk lainnya atau pembawa disebut dengan fitrah, yang berasal dari kata fitr
yang dalam pengertian etimologi mengandung etimologi kejadian. Kata tersebut berasal
dari kata alfitra yang berarti pecahan atau belahan. Secara umum pemaknaan fitrah dalam
al Quran dapat dikelompokan setidaknya emapat makna:
1) Proses penciptaan langit dan bumi
2) Proses penciptaan manusia
3) Pengaturan alam semesta dan isinya secara serasi dan seimbang
4) Pemaknaan pada agama Allah sebagai acuan dasar dan pedomanbagi manusia dalam
menjalankan tudas dan fungsinya
Apabila makna fitrah dirujuk pada manusia maka makna fitrah memiliki berbagai
pengertian. Seperti dalam surat Ar-Rum ayat 30, yang bermakna bahwa fitrah manusia

yaitu potensi mannusia untuk beragama atau bertauhid kepada Allah. Bahkan iman
bawaan telah diberikan kepada manusia sejak lahir.
Tiap-tiap anak dilahirkan diatas fitrah maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan
Yahudi, Nasrani, Majusi.
Makna fitrah harus mencakup tentang manusia yang membutuhkan interaksi terhadap
lingkungannya. Hal ini dikarenakan tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi ini.
Hal ini dikarenakan, dalam pelaksanaan kekhalifaannya, manusia senantiasa memerlukan
interaksi dengan orang lain ataupun makhluk lainnya. Untuk itu, menurut Hasan
Langgulung fitrah berarti potensi-potensi yang dimiliki manusia. Potensi-potensi tersebut
meruakan keterpaduanya yang tersimpul dalam al asmaul al husnah (sifat-sifat Allah).
Tentu saja potensi manusia yang tersimpan dalam sifat Allah tidakk sempurna. Tetapi
memiliki keterbatasan yang dimilikinya. Sehingga manusia selalu membutuhkan bantuan
dan pertolongan dari Tuhannya dalam upaya pemenuhan ssemua kebutuhannya. Keadaan
ini menyadarkan manusia atas keterbatasannya dan ke-Mahakuasaan Allah. Potensi yang
telah diberikan Allah kepada manusia menjadikan berfikir dan mampi mengemban
amanat yang diberikan oleh Allah kepadanya.
Dari kedua dalil diatas yang memuat kata fitrah, maka fitrah dapat diambil pengertian
sebagai berikut:
1) Fitrah Allah maksudnya ciptaanAllah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri
beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu
tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengarh
lingkungan.
2) Fitrah yang berarti potensi. Potensi, mengacu kepada dua hal, yang baik dan buruk
sehingga perlu dikembangkan, diarahkan, dan dididik. Disinilaah fungsi pendidikan
yaitu agar potensi manusia bias terarahkan dan berkembang dengan baik.
3) Fitrah yang mengandung kecenderungan yang netral. Dengan demikian, manusia
harus melakukan usaha pendidikan aspek eksternal.
D. Konsep Ibadah
1. Pengertian Ibadah
Dari segi bahasa, kata ibadah : berarti taat , tunduk, merendah diri dan
menghambakan diri. Manusia belum dikatakan beribadah, apabila tidak mau tunduk
kepada perintah-perintahNya, enggan mengikuti jalan yang digariskan-Nya dan tidak
mau taat kepada aturan-aturan-Nya, meskipun ia mengakui bahwa Allah adalah
Pencipta dan yang memberikan rezeki kepadanya. Dengan demikian, unusr-unsur dari
ibadah ialah pertama, taat dan tunduk kepada Allah dan yang kedua, adalah cinta
kepada Allah

Dasar hukum islam tentang ibadah diantaranya adalah :


a. QS Al Baqoroh : 21.
b. QS. Adz-dzariyat : 56.
c. Hadis Riwayat Bukhari Muslim
2. Ruang Lingkup Ibadah
Ibadah bukan hanya berupa shalat, zakat, puasa dan haji seperti yang menjadi
pengertian banyak orang. Ibadah mempunyai pengertian yang lebih luas lagi . Untuk
lebih detail berikut disebutkan macam atau ruang lingkup ibadah sebagai berikut:
a. Ibadah umum
Semua perbuatan yang diizinkan Allah, bila dikerjakan dengan tujuan
memperoleh keridloan Allah. Unsur terpenting (niat) yang ikhlas (menempuh
jalan yang halal dan menjauhi jalan yang haram).
b. Ibadah Khusus
Di antara ibadah khusus adalah sebagai berikut :
1) Ibadah yang macam dan cara pelaksanaannya ditentukan dalam syara.
2) Bersifat tetap, mutlak, manusia tinggal melaksanakan sesuai dengan peraturan
dan tuntunan yang ada, tidak boleh mengubah, menambah, mengurangi.
Seperti : wudlu, shalat, puasa ramadlan, zakat,dan haji.
3. Prinsip-Prinsip Ibadah
Untuk memberikan pedoman ibadah yang bersifat final, Islam memberikan
prinsip-prinsip ibadah sebagai berikut:
a. Yang Berhak Disembah Hanya Allah.
b. Ibadah tanpa perantara (hubungan manusia dengan Allah langsung), dapat
dilaksanakan di manapun.
c. Ikhlas komponen ibadah yang akan diterima.
d. Ibadah sesuai tuntunan.
e. Memelihara keseimbangan (rohani dan jasmani).
f. Mudah dan Meringankan.
4. Urgensi Ibadah
Beberapa ayat Al-Quran telah jelas mengaitkan perintah ibadah kepada Tuhan
dengan tujuan memperoleh takwa.Takwa dalam ajaran Islam merupakan satu-satunya
ukuran nilai kemuliaan manusia di hadapan Allah. Beberapa urgensi ibadah antara
lain :
a. Tujuan seluruh yang wujud di alam ini

b. Iman untuk membersihkan hati dari syirik


c. Shalat mensucikan diri dari takabur
d. Zakat untuk pemerataan rezeki
e. Puasa menguji keihklasan manusia
f. Mewajibkan amar maruf - nahi munkar kemaslahatan manusia
E. Konsep Khalifah
Seperti makhluk lainnya, manusia adalah makhluk ciptaan Allah, ia diciptakan secara
alamiah karena Allah menciptakan Adam dari tanah. (QS. al-Hijr, 15:26) Ayat ini
menunjukkan bahwa jika diorganisir kedalam diri manusia akan menghasilkan
ekstrak sullah (air mani), dan jika masuk kedalam rahim air mani akan mengalami
sebuah proses kreatif, seperti dinyatakan dalam (QS. al-muminun, 23:12-14). Tetapi
manusia berbeda dari makhluk ciptaan Allah lainnya, karena ia diberi ruh serta potensipotensi yang tidak dimiliki makhluk lainnya. Oleh sebab itu, dengan ciri-ciri khususnya
seperti badan, akal, dan ruhyang membedakan manusia dari makhluk lainnya dan
menjadikan manusia sebagai makhluk termulia, dan dengan segenap kemampuannya
manusia menerima amanah Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi. (QS. AlBaqarah, 1:30)
Dalam al-Quran terdapat kata khalifah dalam bentuk tunggal sebanyak dua kali, yaitu
dalam surat al-baqarah: 30 dan surat shad: 26. Dan dalam bentuk jamak yaitu khalif
dan khulafa, bentuk khulif yang diulang sebanyak empat kali dalam QS. alAnam:165, Yunus:14 dan 72, fathir:39). Adapun bentuk khulafadiulang sebanyak tiga
kali, seperti dalam QS. al-Araf:69 dan 74, an-Naml:62).
Seluruh kata tersebut berakar pada kata khulafa yang pada mulanya mempunyai arti
dibelakang. Dari sini kata khalifah sering diartikan sebagai pengganti karena yang
menggantikan selalu berada atau datang di belakang, sesudah yang digantikannya. Namun
kata khalifah yang ditujukan kepada Nabi Daud (QS. Shad: 26) menunjukkan arti
penguasa.
Dari penjelasan di atas, dapat kita ambil sebuah kesimpulan bahwa katakhalifah baik
berarti pengganti atau penguasa, keduanya mengacu pada tugas manusia di muka bumi,
oleh kaena itu manusia berkewajiban untuk memelihara dan menjaga alam semesta
beserta isinya. Maka sebagai khalifah ia bertanggung jawab terhadap sesama makhluk
dan sebagai hamba ia bertanggung jawab terhadap Tuhannya, karena manusia sebagai
makhluk yang lebih dimuliakan maka ia juga berkewajiban untuk menjaga dan
memelihara keselamatan, harta, kehormatan, nyawa, kebebasan dan nama baik.

Kemulian yang diberikan Allah kepada manusia, sebelumnya telah ditawarkan kepada
gunung, langit dan bumi dimana semuanya menolak tawaran tersebut (QS. al-Ahzab:72)
karena amanah tersebut teramat berat untuk dilaksanakan. Namun dengan ketakwaan dan
kemulyaan akal manusia dan kesediannnya untuk menimba ilmu pengetahuan yang
berbagai jenis dan karena keahliannya mampu melaksanakan kerja-kerja akal dalam
berbagai bidang, maka manusia menerima tugas berat tersebut. Jadi, kemulian manusia
itu merupakan karunia tak terkira yang diberikan Allah termasuk ketika Allah
memerintahkan malaikat untuk bersujud menghormati manusia.
Namun satu hal yang harus diingat bahwa, kekuasaan seorang khalifah pada dasarnya
tidaklah mutlak, karena kekuasaannya dibatasi oleh pemberi mandat kekhalifahan yaitu
Allah swt. Dan sebagai pemegang mandat Tuhan, seorang khalifah tidak diperbolehkan
melawan hukum-hukum yang telah ditetapkan Tuhan.
Selanjutnya, al-Quran selain menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan manusia, ia
juga menjelaskan tentang kelemahan-kelemahan manusia yang paling dasar. Disini harus
diingat, bahwa setan menghadang manusia dari setiap arah, namun tipu dayanya tidak
mempan terhadap manusia yang benar-benar shaleh. Sesungguhnya tidak ada manusia
yang kebal dari godaan setan, termasuk para Nabi (QS. al-Hajj:52, al-Isra:53). Namun
setiap orang yang benar-benar beriman dan memiliki kemauan, apalagi para Nabi, dapat
mengatasi godaan tersebut. Hal ini karena di dalam menghadapi godaan-godaan setan
tersebut mereka terus berpegang teguh pada fitrah mereka yang tidak dapat dirubah,
walaupun untuk sementara waktu dapat terganggu (QS. ar-Rum:30).
Menurut Fazlur Rahman, manusia-manusia seperti inilah yang merupakan puncak
ciptaan Tuhan, mereka ini melampaui para malaikat baik dalam pengetahuan maupun
kesalehan.[4] Adapun fitrah yang dimaksud disini adalah kecenderungan manusia untuk
kembali kepada agama, yaitu Allah. Dan kecenderungan ini akan selalu ada dalam diri
setiap manusia, meskipun terkadang manusia memiliki kecenderungan pada kemaksiatan
karena pengaruh lingkungan. Namun hal itu pun yang merupakan ciri dari kemuliaan
kompleksitas manusia yang membedakannya dari makhluk lain termasuk malaikat,
karena malaikat hanya mampu untuk tunduk dan patuh pada Allah namun tidak memiliki
kebebasan untuk berfikir dan berekspresi dalam pelaksanaan amalnya.
1. Manusia Sebagai Hamba Allah
Manusia selain berperan sebagai khalifah di bumi memiliki kedudukan lainnya
di alam ini, yaitu sebagai hamba yang harus beribadah kepada Allah swt. (QS. AdzZariat, 51:56) [5]. Al-Maraghi menjelaskan bahwa Allah menciptakan jin dan manusia

agar mereka dapat mengetahui atau mengenal Tuhannya, mereka tidak hanya
mengenal wujud Tuhannya saja, namun mereka juga dapat meyakini keberadaannya.
Itulah konsekwensi logis dari kedudukan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan
yang selalu bergantung dan berlindung kepada-Nya.
Esensi dari abd adalah ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan yang semuanya
itu hanya layak diberikan kepada Tuhan.[7] Ketaatan dan ketundukan kepada Tuhan
akan senantiasa berlaku pada manusia dan makhluk ciptaan lainnya, oleh karena itu
manusia terikat oleh hukum-hukum Tuhan yang telah menjadi kodrat pada setiap
makhluk ciptaannya. Namun sebagai makhluk yang memiliki kemuliaan dan
kelebihan dibanding yang lainnya, manusia tidak sepenuhnya terikat pada hukum
alamiah saja, karena dengan kemampuan akalnya ia mampu untuk mengolah potensi
alam menjadi sesuatu yang baru yang diperlukan bagi kehidupannya, sehingga
kemudian manusia terikat oleh hukum-hkum berfikir dalam upaya mengembangkan
dan mewujudkan pemikirannya.
Jika pengertian ibadah dihubungkan dengan pengertian khalifah maka dapat
dijelaskan bahwa manusia sebagai khalifah yang berarti penguasa alam semesta
memiliki kekuasaan dan kebebasan untuk berfikir dan menggunakan akalnya,
sedangkan manusia sebagai abd adalah seorang yang tidak memiliki wewenang
untuk menentukan pilihan, tidak memiliki kebebasan untuk berkehendak. Jadi dapat
disimpulkan bahwa esensi seorang khalifah adalah kebebasan dan kreatifitas,
sedangkan sebagai abd adalah ketaatan dan kepatuhan.
Dengan demikian manusia selain sebagai khalifah yang mengelola dan
memelihara alam semesta ini dengan segala potensi-potensi yang dimilikinya, juga
sebagai abd yang seluruh aktifitasnya harus berdasarkan ibadah kepada Allah. Jika
hal ini terlaksana dengan baik, maka manusia sebagai khalifah tidak akan berbuat
kemungkaran, korupsi dan perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.
Untuk dapat melaksanakan fungsi ke-khalifahan dan ibadah dengan baik, maka
manusia perlu diberikan pendidikan, pengajaran, pelatihan, keterampilan, teknologi
dan sarana pendukung lainnya. Dengan demikian secara tersirat menunjukan bahwa
konsep kekhalifahan dan ibadah dalam al-Quran erat kaitannya dengan pendidikan.

F. Konsep Amanah
Amanah adalah segala sesuatu yang dibebankan Allah kepada manusia untuk
dilaksanakan (Q.S. 32 : 72) yang tercakup di dalamnya khilafah ilahiyah (khalifat allah,
ibad allah), khilafah takwiniah (al-taklif al-syariah) dalam kaitannya dengan hablun min
allah dan hablun min al-nas.
Dalam ajaran Al-Quran manusia adalah makhluk yang memikul beban (mukallaf).
Pembebanan (taklif) meliputi hak dan kewajiban. Setiap beban yang diterima manusia
harus dilaksanakan sebagai amanah.
Amanah mempunyai akar kata

yang

sama

dengan

kata iman danaman,

sehingga mumin berarti yang beriman, yang mendatangkan keamanan, juga yang
memberi dan menerima amanah. Orang yang beriman disebut juga al-mumin, karena
orang yang beriman menerima rasa aman, iman dan amanah. Bila orang tidak
menjalankan amanah berarti tidak beriman dan tidak akan memberikan rasa aman baik
untuk dirinya dan sesama masyarakat lingkungan sosialnya. Dalam sebuah hadis
dinyatakan Tidak ada iman bagi orang yang tidak berlaku amanah.
Dalam kontek hablun min allah, amanah yang dibebankan Allah kepada manusia
adalah Tauhid artinya pengakuan bahwa hanya Allah yang harus disembah, hanya Allah
yang berhak mengatur kehidupan manusia dan hanya Allah yang harus menjadi akhir
tujuan hidup manusia, sehingga pelanggaran terhadap tauhid adalah syirik dan orang
musyrik adalah orang khianat kepada Allah. Termasuk dalam kontek ini pula adalah
mengimani seluruh aspek yang termuat dalam rukun iman dan melaksanakan ubudiyah
yang termaktub dalam rukun islam.
Manusia diperintah Allah untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak
menerimanya (Q.S. 4 : 58), hal ini berkaitan dengan tatanan berinteraksi sosial
(muamalah) atau hablun min al-nas. Sifat dan sikap amanah harus menjadi kepribadian
atau sikap mental setiap individu dalam komunitas masyarakat agar tercipta harmonisasi
hubungan dalam setiap gerak langkah kehidupan. Dengan memiliki sikap mental yang
amanah akan terjalin sikap saling percaya, positif thinking, jujur dan transparan dalam
seluruh aktifitas kehidupan yang pada akhirnya akan terbentuk model masyarakat yang
ideal yaitu masyarakat aman, damai dan sejahtera.
1. Pengertian Amanah
Amanah secara etimologis (pendekatan kebahasaan/lughawi) dari bahasa Arab
dalam bentuk mashdar dari (amina- amanatan) yang berarti jujur atau dapat dipercaya.
Sedangkan

dalam

bahasa

keterangan atau wejangan.

Indonesia

amanah

berarti pesan,

perintah,

Amanah menurut pengertian terminologi (istilah) terdapat beberapa pendapat,


diantaranya menurut Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Amanah adalah sesuatu yang
harus dipelihara dan dijaga agar sampai kepada yang berhak memilikinya.
Sedangkan menurut Ibn Al-Araby, amanah adalah segala sesuatu yang diambil dengan
izin pemiliknya atau sesuatu yang diambil dengan izin pemiliknya untuk diambil
manfaatnya.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat diambil suatu pengertian bahwa
amanah adalah menyampaikan hak apa saja kepada pemiliknya, tidak mengambil
sesuatu melebihi haknya dan tidak mengurangi hak orang lain, baik berupa harga
maupun jasa.
Amanah merupakan hak bagi mukallaf yang berkaitan dengan hak orang lain untuk
menunaikannya karena menyampaikan amanah kepada orang yang berhak
memilikinya adalah suatu kewajiban.
Ahmad Musthafa Al-Maraghi membagi amanah kepada 3 macam, yaitu :
a. Amanah manusia terhadap Tuhan, yaitu semua ketentuan Tuhan yang harus
dipelihara berupa melaksankan semua perintah Tuhan dan meninggalkan semua
laranganNya. Termasuk di dalamnya menggunakan semua potensi dan anggota
tubuh untuk hal-hal yang bermanfaat serta mengakui bahwa semua itu berasal dari
Tuhan. Sesungguhnya seluruh maksiat adalah perbuatan khianat kepada Allah
Azza wa Jalla.
b. Amanah manusia kepada orang lain, diantaranya mengembalikan titipan kepada
yang mempunyainya, tidak menipu dan berlaku curang, menjaga rahasia dan
semisalnya yang merupakan kewajiban terhadap keluarga, kerabat dan manusia
secara keseluruhan. Termasuk pada jenis amanah ini adalah pemimpin berlaku adil
terhadap masyarakatnya, ulama berlaku adil terhadap orang-orang awam dengan
memberi petunjuk kepada mereka untuk memiliki itikad yang benar, memberi
motivasi untuk beramal yang memberi manfaat kepada mereka di dunia dan
akhirat, memberikan pendidikan yang baik, menyuruh berusaha yang halal serta
memberikan nasihat-nasihat yang dapat memperkokoh keimanan agar terhindar
dari segala kejelekan dan dosa serta mencintai kebenaran dan kebaikan. Amanah
dalam katagori ini juga adalah seorang suami berlaku adil terhadap istrinya berupa
salah satu pihak pasangan suami-istri tidak menyebarkan rahasia pasangannya,
terutama rahasia yang bersifat khusus yaitu hubungan suami istri.

c. Amanah manusia terhadap dirinya sendiri, yaitu berbuat sesuatu yang terbaik dan
bermanfaat bagi dirinya baik dalam urusan agama maupun dunia, tidak pernah
melakukan yang membahayakan dirinya di dunia dan akhirat.
Dengan memperhatikan pendapat Ahmad Musthafa Al-Maraghi tersebut, amanah
melekat pada diri setiap manusia sebagai mukallaf dalam kapasitasnya sebagai hamba
Allah, individu dan makhluk sosial.
Disamping 3 macam amanah tersebut di atas, terdapat satu macam amanah lagi
yakni Amanah terhadap lingkungan. Amanah terhadap lingkungan hidup berupa
memakmurkan dan melestarikan lingkungan (Q.S. 11 : 61), tidak berbuat kerusakan di
muka bumi (Q.S.7 :85). Eksploitasi terhadap kekayaan alam secara berlebihan tanpa
memperhatikan dampak negatifnya yang berakibat rusaknya ekosistem, ilegal loging,
ilegal maning dan pemburuan binatang secara liar merupakan sikap tidak amanah
terhadap lingkungan yang berakibat terjadinya berbagai bentuk bencana alam seperti
gempa bumi, longsor dan banjir serta bencana lainnya yang mempunyai dampak rusak
bahkan musnahnya tatanan sosial kehidupan manusia.
2. Amanah dalam Muamalah
Muamalah adalah ajaran Islam yang menyangkut aturan-aturan dalam menata
hubungan antar sesama manusia agar tercipta keadilan dan kedamaian dalam
kebersamaan hidup manusia.
Aspek muamalah merupakan bagian prinsipal dalam Islam karena
dengannyalah kehidupan bersama manusia ditata agar tidak terjadi persengketaan
dalam kontak sosial antara satu pihak dengan pihak lainnya dalam masyarakat.
Dengan demikian muamalah menjadi sangat penting. Dalam sebuah hadis dinyatakan
Agama itu adalah muamalah.
Manusia menurut ajaran Islam adalah khalifah di muka bumi, bertugas menata
kehidupan sebaik mungkin sehingga tercipta kedamaian dalam hidup di tengah
manusia yang dinamis. Kehidupan damai tidak serta merta, akan tetapi diciptakan dan
dirancang. Oleh karena itu perlu diciptakan perangkat-perangkat dan aparat-aparat
untuk menciptakan perdamaian tersebut.
Amanah (trust) adalah modal utama untuk terciptanya kondisi damai dan
stabilitas di tengah masyarakat, karena amanah sebagai landasan moral dan etika
dalam bermuamalah dan berinteraksi sosial. Firman Allah dalam Q.S. 4 : 58 sebagai
berikut :




Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang
berhak menerimanya dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara
manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi
pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar
lagi Maha Melihat.
Dalam kitab-kitab sejarah perjuangan Rasulullah, amanah merupakan salah
satu diantara beberapa sifat yang wajib dimiliki para Rasul. Mereka bersifat jujur dan
dapat dipercaya, terutama dalam urusan yang berkaitan dengan tugas kerasulan,
seperti menerima wahyu, memelihara keutuhannya dan menyampaikannya kepada
manusia, tanpa penambahan, pengurangan atau penukaran sedikitpun. Mereka juga
bersifat amanah dalam arti terpelihara dari hal-hal yang dilarang oleh Allah baik lahir
maupun batin.
Menepati

amanah

merupakan

moral

yang

mulia,

Allah

swt.

menggambarkannya sebagai orang mukmin yang beruntung (Q.S.23:8), sebaliknya


Allah tidak suka orang-orang yang berkhianat dan tidak merestui tipu dayanya
(Q.S.12:52), dan orang yang mengkhianati amanah termasuk salah satu sifat orang
munafik (hifokrit).
Dalam fiqh Islam, amanah berarti kepercayaan yang diberikan kepada
seseorang berkaitan dengan pemeliharaan harta benda, seperti al-wadiah dan ariyah.
Al-wadiah adalah harta benda yang dititipkan oleh seseorang kepada orang
lain untuk dipelihara sebaik-baiknya. Sedangkan Ariyah adalah izin yang diberikan
oleh seseorang kepada orang lain untuk memanfaatkan harta benda yang dimilikinya
dengan tidak meminta imbalan apapun .
Penerima barang titipan ini, baik dalam bentuk wadiah maupun ariyah diberi
amanah oleh pemiliknya untuk merawat dan memelihara keutuhan dan keselamatan
barang titipan itu dengan sebaik-baiknya.
Apabila sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah
yang dipercayai itu menunaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah
Tuhannya (Q.S.2 : 283).

Namun demikian jika barang yang diamanatkan itu rusak atau hilang,
penerima amanah itu tidak berkewajiban untuk mengganti atau memperbaikinya,
kecuali atas kelalaian penerima amanah tersebut.
Dalam hukum muamalah termasuk katagori amanah adalah wadiah, luqatah,
rahn, ijarah dan ariyah 9.
Dalam melaksanakan amanah dari lima macam amanah tersebut di atas,
terdapat perbedaan satu dengan yang lainnya, yaitu :
a. Wadiah, barang titipan disampaikan kepada pemiliknya apabila pemiliknya
meminta barang titipan tersebut.
b. Luqathah, barang temuan (luqatah) diumumkan selama satu tahun di tempat yang
sekiranya dapat diketahui oleh masyarakat umum dengan harapan orang yang
memiliki barang yang ditemukan tersebut mengetahuinya. Apabila setelah
diumumkan dalam jangka satu tahun tidak ada yang memilikinya, maka barang
tersebut boleh digunakan. Dan apabila setelah digunakan ternyata pemiliknya ada,
maka harus membayar/mengganti dengan barang sejenisnya atau harganya.
c. Rahn (gadai/jaminan), barang yang menjadi jaminan atas hutang diberikan kepada
pemiliknya apabila pemilik barang (rahn) tersebut telah melunasi hutangnya.
d. Ijarah dan ariyah, apabila telah selesai pekerjaan dan penggunaan barang, maka
barang tersebut wajib dikembalikan kepada pemiliknya sebelum diminta oleh
pemiliknya.
Dalam

perdagangan

dikenal

istilah menjual

dengan

amanah, seperti

menjual murabahah . Maksudnya penjual menjelaskan ciri-ciri, kwalitas dan harga


barang dagangan kepada pembeli tanpa melebih-lebihkannnya.
Amanah merupakan unsur yang amat vital dan sangat urgen keberadaanya dalam
kelangsungan roda perekonomian, karena bencana terbesar di dalam pasar dewasa ini
adalah meluasnya tindakan manipulasi, dusta, batil, khianat, bahkan menzalimi orang
dengan perdagangan yang dilakukan, misalnya berbohong dalam mempromosikan
barang (taghrir), mudah bersumpah, menimbun stok barang demi keuntungan pribadi,
mengadakan

persekongkolan

jahat

untuk

memperdaya

konsumen

(tamajil),

menyembunyikan kerusakan barang (tadlis) dan sebagainya. Pada hakikatnya


perdagangan yang demikian disibukkan oleh laba kecil dari pada laba besar, terpaku
kepada keberuntungan yang fana dari pada keberuntungan yang kekal.
Inilah yang dikatakan oleh Nabi Muhammad saw. ketika beliau ke luar rumah dan
melihat komunitas manusia sedang bertransaksi jual beli. Beliau berseru, wahai para

pedagang! Pandangan para pedagang langsung terarah kepada beliau, Nabipun


melanjutkan perkataannya, sesungguhnya para pedagang dibangkitkan pada hari
kiamat dalam keadaan durhaka, kecuali mereka yang bertaqwa kepada Allah, berbuat
baik dan benar (HR. Tirmizi). Dalam hadis lain beliau bersabda : Sesungguhnya para
pedagang adalah pendurhaka. Mereka berkata : Ya Rasulallah, bukankah jual beli
dihalalkan? Nabi menjawab: Benar, tetapi mereka terlalu mudah bersumpah sehingga
mereka berdosa dan terlalu banyak berbicara sehingga mereka mudah berbohong .
(HR. Ahmad).
Amanah bertambah penting pada saat seseorang membentuk serikat dagang,
melakukan bagi hasil (mudharabah) atau wakalah (menitipkan barang barang untuk
menjalankan proyek yang disepakati bersama). Dalam hal ini, pihak yang lain percaya
dan memegang janji demi kemaslahatan bersama, jika salah satu pihak
menjalankannya hanya demi kemalahatan atau keuntungan pihaknya tanpa
memikirkan kemaslahatan atau keuntungan pihak lain, maka ia telah berkhianat.
Dalam sebuah hadis qudsi Allah berfirman : Aku adalah yang ketiga dari dua orang
yang berserikat, selama salah satu dari keduanya tidak menghianati temannya, apabila
salah satu dari keduanya berkhianat, Aku keluar dari mereka. (HR. Abu Dawud dan
Hakim).
Amanah merupakan faktor utama terciptanya kesejahteraan dan kemakmuran
suatu bangsa, sebab dengan sikap amanah semua komponen bangsa akan berlaku
jujur, tanggung jawab dan disiplin dalam setiap aktifitas kehidupan. Mewabahnya
korupsi, monopoli dan oligapoli dalam berbagai lapangan kerja dan sektor ekonomi
baik ekonomi mikro maupun ekonomi makro, baik yang dikelola pemerintah maupun
swasta, hilangnya saling percaya, tumbuhnya saling mencurigai (negative thinking),
menjamurnya mental hipokrit, apriori terhadap tugas dan kewajiban dan sifat-sifat
tercela lainnya sebagai akibat dari hilangnya amanah.