Anda di halaman 1dari 112

Waktu itu usiaku 23 tahun.

Aku duduk di tingkat akhir suatu perguruan tinggi teknik di


kota Bandung. Wajahku ganteng. Badanku tinggi dan tegap, mungkin karena aku selalu
berolahraga seminggu tiga kali. Teman-¬temanku bilang, kalau aku bermobil pasti
banyak cewek yang dengan sukahati menempel padaku. Aku sendiri sudah punya pacar.
Kami pacaran secara serius. Baik orang tuaku maupun orang tuanya sudah setuju kami
nanti menikah. Tempat kos-ku dan tempat kos-nya hanya berjarak sekitar 700 m. Aku
sendiri sudah dipegangi kunci kamar kosnya. Walaupun demikian bukan berarti aku
sudah berpacaran tanpa batas dengannya. Dalam masalah pacaran, kami sudah saling
cium-ciuman, gumul-gumulan, dan remas-remasan. Namun semua itu kami lakukan
dengan masih berpakaian. Toh walaupun hanya begitu, kalau “voltase’-ku sudah amat
tinggi, aku dapat ‘muntah” juga. Dia adalah seorang yang menjaga keperawanan sampai
dengan menikah, karena itu dia tidak mau berhubungan sex sebelum menikah. Aku
menghargai prinsipnya tersebut. Karena aku belum pernah pacaran sebelumnya, maka
sampai saat itu aku belum pernah merasakan memek perempuan.

Pacarku seorang anak bungsu. Kecuali kolokan, dia juga seorang penakut, sehingga
sampai jam 10 malam minta ditemani. Sehabis mandi sore, aku pergi ke kosnya. Sampai
dia berangkat tidur. aku belajar atau menulis tugas akhir dan dia belajar atau mengerjakan
tugas-tugas kuliahnya di ruang tamu. Kamar kos-nya sendiri berukuran cukup besar,
yakni 3mX6m. Kamar sebesar itu disekat dengan triplex menjadi ruang tamu dengan
ukuran 3mX2.5m dan ruang tidur dengan ukuran 3mX3.5m. Lobang pintu di antara
kedua ruang itu hanya ditutup dengan kain korden.

lbu kost-nya mempunyai empat anak, semua perempuan. Semua manis-manis


sebagaimana kebanyakan perempuan Sunda. Anak yang pertama sudah menikah, anak
yang kedua duduk di kelas 3 SMA, anak ketiga kelas I SMA, dan anak bungsu masih di
SMP. Menurut desas-desus yang sampai di telingaku, menikahnya anak pertama adalah
karena hamil duluan. Kemudian anak yang kedua pun sudah mempunyai prestasi. Nama
panggilannya Ika. Dia dikabarkan sudah pernah hamil dengan pacarya, namun
digugurkan. Menurut penilaianku, Ika seorang playgirl. Walaupun sudah punya pacar,
pacarnya kuliah di suatu politeknik, namun dia suka mejeng dan menggoda laki-laki lain
yang kelihatan keren. Kalau aku datang ke kos pacarku, dia pun suka mejeng dan
bersikap genit dalam menyapaku.

lka memang mojang Sunda yang amat aduhai. Usianya akan 18 tahun. Tingginya 160 cm.
Kulitnya berwarna kuning langsat dan kelihatan licin. Badannya kenyal dan berisi.
Pinggangnya ramping. Buah dadanya padat dan besar membusung. Pinggulnya besar,
kecuali melebar dengan indahnya juga pantatnya membusung dengan montoknya. Untuk
gadis seusia dia, mungkin payudara dan pinggul yang sudah terbentuk sedemikian
indahnya karena terbiasa dinaiki dan digumuli oleh pacarnya. Paha dan betisnya bagus
dan mulus. Lehernya jenjang. Matanya bagus. Hidungnya mungil dan sedikit mancung.
Bibirnya mempunyai garis yang sexy dan sensual, sehingga kalau memakai lipstik tidak
perlu membuat garis baru, tinggal mengikuti batas bibir yang sudah ada. Rambutnya lebat
yang dipotong bob dengan indahnya.
Sore itu sehabis mandi aku ke kos pacarku seperti biasanya. Di teras rumah tampak Ika
sedang mengobrol dengan dua orang adiknya. Ika mengenakan baju atas ‘you can see’
dan rok span yang pendek dan ketat sehingga lengan, paha dan betisnya yang mulus itu
dipertontonkan dengan jelasnya.

“Mas Bob, ngapel ke Mbak Dina? Wah… sedang nggak ada tuh. Tadi pergi sama dua
temannya. Katanya mau bikin tugas,” sapa Ika dengan centilnya.

“He… masa?” balasku.

“Iya… Sudah, ngapelin Ika sajalah Mas Bob,” kata Ika dengan senyum menggoda. Edan!
Cewek Sunda satu ini benar-benar menggoda hasrat. Kalau mau mengajak beneran aku
tidak menolak nih, he-he-he…

“Ah, neng Ika macam-macam saja…,” tanggapanku sok menjaga wibawa. “Kak Dai
belum datang?”

Pacar Ika namanya Daniel, namun Ika memanggilnya Kak Dai. Mungkin Dai adalah
panggilan akrab atau panggilan masa kecil si Daniel. Daniel berasal dan Bogor. Dia
ngapeli anak yang masih SMA macam minum obat saja. Dan pulang kuliah sampai
malam hari. Lebih hebat dan aku, dan selama ngapel waktu dia habiskan untuk ngobrol.
Atau kalau setelah waktu isya, dia masuk ke kamar Ika. Kapan dia punya kesempatan
belajar?

“Wah… dua bulan ini saya menjadi singgel lagi. Kak Dai lagi kerja praktek di Riau.
Makanya carikan teman Mas Bob buat menemani Ika dong, biar Ika tidak kesepian…
Tapi yang keren lho,” kata Ika dengan suara yang amat manja. Edan si playgirl Sunda mi.
Dia bukan tipe orang yang ngomong begitu bukan sekedar bercanda, namun tipe orang
yang suka nyerempet-nyerempet hat yang berbahaya.

“Neng Ika ini… Nanti Kak Dainya ngamuk dong.”

“Kak Dai kan tidak akan tahu…”

Aku kembali memaki dalam hati. Perempuan Sunda macam Ika ini memang enak
ditiduri. Enak digenjot dan dinikmati kekenyalan bagian-bagian tubuhnya.

Aku mengeluarkan kunci dan membuka pintu kamar kos Dina. Di atas meja pendek di
ruang tamu ada sehelai memo dari Dina. Sambil membuka jendela ruang depan dan ruang
tidur, kubaca isi memo tadi. ‘Mas Bobby, gue ngerjain tugas kelompok bersama Niken
dan Wiwin. Tugasnya banyak, jadi gue malam ini tidak pulang. Gue tidur di rumah
Wiwin. Di kulkas ada jeruk, ambil saja. Soen sayang, Dina’

Aku mengambil bukuku yang sehari-harinya kutinggal di tempat kos Di. Sambil
menyetel radio dengan suara perlahan, aku mulai membaca buku itu. Biarlah aku belajar
di situ sampai jam sepuluh malam.
Sedang asyik belajar, sekitar jam setengah sembilan malam pintu diketok dan luar. Tok-
tok-tok…

Kusingkapkan korden jendela ruang tamu yang telah kututup pada jam delapan malam
tadi, sesuai dengan kebiasaan pacarku. Sepertinya Ika yang berdiri di depan pintu.

“Mbak Di… Mbak Dina…,” terdengar suara Ika memanggil-manggil dan luar. Aku
membuka pintu.

“Mbak Dina sudah pulang?” tanya Ika.

“Belum. Hari ini Dina tidak pulang. Tidur di rumah temannya karena banyak tugas. Ada
apa?”

“Mau pinjam kalkulator, mas Bob. Sebentar saja. Buat bikin pe-er.”

“Ng… bolehlah. Pakai kalkulatorku saja, asal cepat kembali.”

“Beres deh mas Bob. Ika berjanji,” kata Ika dengan genit. Bibirnya tersenyum manis, dan
pandang matanya menggoda menggemaskan.

Kuberikan kalkulatorku pada Ika. Ketika berbalik, kutatap tajam-tajam tubuhnya yang
aduhai. Pinggulnya yang melebar dan montok itu menggial ke kiri-kanan, seolah
menantang diriku untuk meremas¬-remasnya. Sialan! Kontholku jadi berdiri. Si ‘boy-ku
ini responsif sekali kalau ada cewek cakep yang enak digenjot.

Sepeninggal Ika, sesaat aku tidak dapat berkonsentrasi. Namun kemudian kuusir pikiran
yang tidak-tidak itu. Kuteruskan kembali membaca textbook yang menunjang penulisan
tugas sarjana itu.

Tok-tok-tok! Baru sekitar limabelas menit pintu kembali diketok.

“Mas Bob… Mas Bob…,” terdengar Ika memanggil lirih.

Pintu kubuka. Mendadak kontholku mengeras lagi. Di depan pintu berdiri Ika dengan
senyum genitnya. Bajunya bukan atasan ‘you can see’ yang dipakai sebelumnya. Dia
menggunakan baju yang hanya setinggi separuh dada dengan ikatan tali ke pundaknya.
Baju tersebut berwarna kuning muda dan berbahan mengkilat. Dadanya tampak
membusung dengan gagahnya, yang ujungnya menonjol dengan tajam dan batik bajunya.
Sepertinya dia tidak memakai BH. Juga, bau harum sekarang terpancar dan tubuhnya.
Tadi, bau parfum harum semacam ini tidak tercium sama sekali, berarti datang yang kali
ini si Ika menyempatkan diri memakai parfum. Kali ini bibirnya pun dipolesi lipstik pink.

“Ini kalkulatornya, Mas Bob,” kata Ika manja, membuyarkan keterpanaanku.

“Sudah selesai. Neng Ika?” tanyaku basa-basi.


“Sudah Mas Bob, namun boleh Ika minta diajari Matematika?”

“0, boleh saja kalau sekiranya bisa.”

Tanpa kupersilakan Ika menyelonong masuk dan membuka buku matematika di atas
meja tamu yang rendah. Ruang tamu kamar kos pacarku itu tanpa kursi. Hanya digelari
karpet tebal dan sebuah meja pendek dengan di salah satu sisinya terpasang rak buku.
Aku pun duduk di hadapannya, sementara pintu masuk tertutup dengan sendirinya
dengan perlahan. Memang pintu kamar kos pacarku kalau mau disengaja terbuka harus
diganjal potongan kayu kecil.

“Ini mas Bob, Ika ada soal tentang bunga majemuk yang tidak tahu cara
penyelesaiannya.” Ika mencari-cari halaman buku yang akan ditanyakannya.

Menunggu halaman itu ditemukan, mataku mencari kesempatan melihat ke dadanya.


Amboi! Benar, Ika tidak memakai bra. Dalam posisi agak menunduk, kedua gundukan
payudaranya kelihatan sangat jelas. Sungguh padat, mulus, dan indah. Kontholku terasa
mengeras dan sedikit berdenyut-denyut.

Halaman yang dicari ketemu. Ika dengan centilnya membaca soal tersebut. Soalnya
cukup mudah. Aku menerangkan sedikit dan memberitahu rumusnya, kemudian Ika
menghitungnya. Sambil menunggu Ika menghitung, mataku mencuri pandang ke buah
dada Ika. Uhhh… ranum dan segarnya.

“Kok sepi? Mamah, Ema, dan Nur sudah tidur?” tanyaku sambil menelan ludah. Kalau
bapaknya tidak aku tanyakan karena dia bekerja di Cirebon yang pulangnya setiap akhir
pekan.

“Sudah. Mamah sudah tidur jam setengah delapan tadi. Kemudian Erna dan Nur
berangkat tidur waktu Ika bermain-main kalkulator tadi,” jawab Ika dengan tatapan mata
yang menggoda.

Hasratku mulai naik. Kenapa tidak kusetubuhi saja si Ika. Mumpung sepi. Orang-orang di
rumahnya sudah tidur. Kamar kos sebelah sudah sepi dan sudah mati lampunya. Berarti
penghuninya juga sudah tidur. Kalau kupaksa dia meladeni hasratku, tenaganya tidak
akan berarti dalam melawanku. Tetapi mengapa dia akan melawanku? jangan-jangan dia
ke sini justru ingin bersetubuh denganku. Soal tanya Matematika, itu hanya sebagai
atasan saja. Bukankah dia menyempatkan ganti baju, dari atasan you can see ke atasan
yang memamerkan separuh payudaranya? Bukankah dia datang lagi dengan
menyempatkan tidak memakai bra? Bukankah dia datang lagi dengan menyempatkan
memakai parfum dan lipstik? Apa lagi artinya kalau tidak menyodorkan din?

Tiba-tiba Ika bangkit dan duduk di sebelah kananku.

“Mas Bob… ini benar nggak?” tanya Ika.


Ada kekeliruan di tengah jalan saat Ika menghitung. Antara konsentrasi dan menahan
nafsu yang tengah berkecamuk, aku mengambil pensil dan menjelaskan kekeliruannya.
Tiba-tiba Ika lebih mendekat ke arahku, seolah mau memperhatikan hal yang kujelaskan
dan jarak yang lebih dekat. Akibatnya… gumpalan daging yang membusung di dadanya
itu menekan lengan tangan kananku. Terasa hangat dan lunak, namun ketika dia lebih
menekanku terasa lebih kenyal.

Dengan sengaja lenganku kutekankan ke payudaranya.

“Ih… Mas Bob nakal deh tangannya,” katanya sambil merengut manja. Dia pura-pura
menjauh.

“Lho, yang salah kan Neng Ika duluan. Buah dadanya menyodok-nyodok lenganku,”
jawabku.

lka cemberut. Dia mengambil buku dan kembali duduk di hadapanku. Dia terlihat
kembali membetulkan yang kesalahan, namun menurut perasaanku itu hanya berpura-
pura saja. Aku merasa semakin ditantang. Kenapa aku tidak berani? Memangnya aku
impoten? Dia sudah berani datang ke sini malam-malam sendirian. Dia menyempatkan
pakai parfum. Dia sengaja memakai baju atasan yang memamerkan gundukan payudara.
Dia sengaja tidak pakai bra. Artinya, dia sudah mempersilakan diriku untuk menikmati
kemolekan tubuhnya. Tinggal aku yang jadi penentunya, mau menyia-siakan kesempatan
yang dia berikan atau memanfaatkannya. Kalau aku menyia-siakan berarti aku band!

Aku pun bangkit. Aku berdiri di atas lutut dan mendekatinya dari belakang. Aku pura-
pura mengawasi dia dalam mengerjakan soal. Padahal mataku mengawasi tubuhnya dari
belakang. Kulit punggung dan lengannya benar-benar mulus, tanpa goresan sedikitpun.
Karena padat tubuhnya, kulit yang kuning langsat itu tampak licin mengkilap walaupun
ditumbuhi oleh bulu-bulu rambut yang halus.

Kemudian aku menempelkan kontholku yang menegang ke punggungnya. Ika sedikit


terkejut ketika merasa ada yang menempel punggungnya.

“Ih… Mas Bob jangan begitu dong…,” kata Ika manja.

“Sudah… udah-udah… Aku sekedar mengawasi pekerjaan Neng Ika,” jawabku.

lka cemberut. Namun dengan cemberut begitu, bibir yang sensual itu malah tampak
menggemaskan. Sungguh sedap sekali bila dikulum-kulum dan dilumat-lumat. Ika
berpura-pura meneruskan pekerjaannya. Aku semakin berani. Kontholku kutekankan ke
punggungnya yang kenyal. Ika menggelinjang. Tidak tahan lagi. tubuh Ika kurengkuh
dan kurebahkan di atas karpet. Bibirnya kulumat-lumat, sementara kulit punggungnya
kuremas-remas. Bibir Ika mengadakan perlawanan, mengimbangi kuluman-¬kuluman
bibirku yang diselingi dengan permainan lidahnya. Terlihat bahkan dalam masalah
ciuman Ika yang masih kelas tiga SMA sudah sangat mahir. Bahkan mengalahkan
kemahiranku.
Beberapa saat kemudian ciumanku berpindah ke lehernya yang jenjang. Bau harum
terpancar dan kulitnya. Sambil kusedot-sedot kulit lehernya dengan hidungku, tanganku
berpindah ke buah dadanya. Buah dada yang tidak dilindungi bra itu terasa kenyal dalam
remasan tanganku. Kadang-kadang dan batik kain licin baju atasannya, putingnya
kutekan-tekan dan kupelintir-pelintir dengan jari-jari tanganku. Puting itu terasa
mengeras.

“Mas Bob Mas Bob buka baju saja Mas Bob…,” rintih Ika. Tanpa menunggu
persetujuanku, jari-jari tangannya membuka Ikat pinggang dan ritsleteng celanaku. Aku
mengimbangi, tall baju atasannya kulepas dan baju tersebut kubebaskan dan tubuhnya.
Aku terpana melihat kemulusan tubuh atasnya tanpa penutup sehelai kain pun. Buah
dadanya yang padat membusung dengan indahnya. Ditimpa sinar lampu neon ruang
tamu, payudaranya kelihatan amat mulus dan licin. Putingnya berdiri tegak di ujung
gumpalan payudara. Putingnya berwarna pink kecoklat-coklatan, sementara puncak bukit
payudara di sekitarnya berwarna coklat tua dan sedikit menggembung dibanding dengan
permukaan kulit payudaranya.

Celana panjang yang sudah dibuka oleh Ika kulepas dengan segera. Menyusul. kemeja
dan kaos singlet kulepas dan tubuhku. Kini aku cuma tertutup oleh celana dalamku,
sementara Ika tertutup oleh rok span ketat yang mempertontonkan bentuk pinggangnya
yang ramping dan bentuk pinggulnya yang melebar dengan bagusnya. Ika pun
melepaskan rok spannya itu, sehingga pinggul yang indah itu kini hanya terbungkus
celana dalam minim yang tipis dan berwarna pink. Di daerah bawah perutnya, celana
dalam itu tidak mampu menyembunyikan warna hitam dari jembut lebat Ika yang
terbungkus di dalamnya. Juga, beberapa helai jembut Ika tampak keluar dan lobang
celana dalamnya.

lka memandangi dadaku yang bidang. Kemudian dia memandang ke arah kontholku yang
besar dan panjang, yang menonjol dari balik celana dalamku. Pandangan matanya
memancarkan nafsu yang sudah menggelegak. Perlahan aku mendekatkan badanku ke
badannya yang sudah terbaring pasrah. Kupeluk tubuhnya sambil mengulum kembali
bibirnya yang hangat. Ika pun mengimbanginya. Dia memeluk leherku sambil membalas
kuluman di bibirnya. Payudaranya pun menekan dadaku. Payudara itu terasa kenyal dan
lembut. Putingnya yang mengeras terasa benar menekan dadaku. Aku dan Ika saling
mengulum bibir, saling menekankan dada, dan saling meremas kulit punggung dengan
penuh nafsu.

Ciumanku berpindah ke leher Ika. Leher mulus yang memancarkan keharuman parfum
yang segar itu kugumuli dengan bibir dan hidungku. Ika mendongakkan dagunya agar
aku dapat menciumi segenap pori-pori kulit lehernya.

“Ahhh… Mas Bob… Ika sudah menginginkannya dan kemarin… Gelutilah tubuh Ika…
puasin Ika ya Mas Bob…,” bisik Ika terpatah-patah.

Aku menyambutnya dengan penuh antusias. Kini wajahku bergerak ke arah payudaranya.
Payudaranya begitu menggembung dan padat. namun berkulit lembut. Bau keharuman
yang segar terpancar dan pori-porinya. Agaknya Ika tadi sengaja memakai parfum di
sekujur payudaranya sebelum datang ke sini. Aku menghirup kuat-kuat lembah di antara
kedua bukit payudaranya itu. Kemudian wajahku kugesek-gesekkan di kedua bukit
payudara itu secara bergantian, sambil hidungku terus menghirup keharuman yang
terpancar dan kulit payudara. Puncak bukit payudara kanannya pun kulahap dalam
mulutku. Kusedot kuat-kuat payudara itu sehingga daging yang masuk ke dalam mulutku
menjadi sebesar-besarnya. Ika menggelinjang.

“Mas Bob… ngilu… ngilu…,” rintih Ika.

Gelinjang dan rintihan Ika itu semakin membangkitkan hasratku. Kuremas bukit
payudara sebelah kirinya dengan gemasnya, sementara puting payudara kanannya
kumainkan dengan ujung lidahku. Puting itu kadang kugencet dengan tekanan ujung
lidah dengan gigi. Kemudian secara mendadak kusedot kembali payudara kanan itu kuat-
kuat. sementara jari tanganku menekan dan memelintir puting payudara kirinya. Ika
semakin menggelinjang-gelinjang seperti ikan belut yang memburu makanan sambil
mulutnya mendesah-desah.

“Aduh mas Booob… ssshh… ssshhh… ngilu mas Booob… ssshhh… geli… geli…,”
cuma kata-kata itu yang berulang-ulang keluar dan mulutnya yang merangsang.

Aku tidak puas dengan hanya menggeluti payudara kanannya. Kini mulutku berganti
menggeluti payudara kiri. sementara tanganku meremas-remas payudara kanannya kuat-
kuat. Kalau payudara kirinya kusedot kuat-kuat. tanganku memijit-mijit dan memelintir-
pelintir puting payudara kanannya. Sedang bila gigi dan ujung lidahku menekan-nekan
puting payudara kiri, tanganku meremas sebesar-besarnya payudara kanannya dengan
sekuat-kuatnya.

“Mas Booob… kamu nakal…. ssshhh… ssshhh… ngilu mas Booob… geli…” Ika tidak
henti-hentinya menggelinjang dan mendesah manja.

Setelah puas dengan payudara, aku meneruskan permainan lidah ke arah perut Ika yang
rata dan berkulit amat mulus itu. Mulutku berhenti di daerah pusarnya. Aku pun
berkonsentrasi mengecupi bagian pusarnya. Sementara kedua telapak tanganku
menyusup ke belakang dan meremas-remas pantatnya yang melebar dan menggembung
padat. Kedua tanganku menyelip ke dalam celana yang melindungi pantatnya itu.
Perlahan¬-lahan celana dalamnya kupelorotkan ke bawah. Ika sedikit mengangkat
pantatnya untuk memberi kemudahan celana dalamnya lepas. Dan dengan sekali sentakan
kakinya, celana dalamnya sudah terlempar ke bawah.

Saat berikutnya, terhamparlah pemandangan yang luar biasa merangsangnya. Jembut Ika
sungguh lebat dan subur sekali. Jembut itu mengitari bibir memek yang berwarna coklat
tua. Sambil kembali menciumi kulit perut di sekitar pusarnya, tanganku mengelus-elus
pahanya yang berkulit licin dan mulus. Elusanku pun ke arah dalam dan merangkak naik.
Sampailah jari-jari tanganku di tepi kiri-kanan bibir luar memeknya. Tanganku pun
mengelus-elus memeknya dengan dua jariku bergerak dan bawah ke atas. Dengan mata
terpejam, Ika berinisiatif meremas-remas payudaranya sendiri. Tampak jelas kalau Ika
sangat menikmati permainan ini.

Perlahan kusibak bibir memek Ika dengan ibu jari dan telunjukku mengarah ke atas
sampai kelentitnya menongol keluar. Wajahku bergerak ke memeknya, sementara
tanganku kembali memegangi payudaranya. Kujilati kelentit Ika perlahan-lahan dengan
jilatan-jilatan pendek dan terputus-putus sambil satu tanganku mempermainkan puting
payudaranya.

“Au Mas Bob… shhhhh… betul… betul di situ mas Bob… di situ… enak mas…
shhhh…,” Ika mendesah-desah sambil matanya merem-melek. Bulu alisnya yang tebal
dan indah bergerak ke atas-bawah mengimbangi gerakan merem-meleknya mata.
Keningnya pun berkerut pertanda dia sedang mengalami kenikmatan yang semakin
meninggi.

Aku meneruskan permainan lidah dengan melakukan jilatan-jilatan panjang dan lubang
anus sampai ke kelentitnya.

Karena gerakan ujung hidungku pun secara berkala menyentuh memek Ika. Terasa benar
bahkan dinding vaginanya mulai basah. Bahkan sebagian cairan vaginanya mulai
mengalir hingga mencapai lubang anusnya. Sesekali pinggulnya bergetar. Di saat
bergetar itu pinggulnya yang padat dan amat mulus kuremas kuat-kuat sambil ujung
hidungku kutusukkan ke lobang memeknya.

“Mas Booob… enak sekali mas Bob…,” Ika mengerang dengan kerasnya. Aku segera
memfokuskan jilatan-jilatan lidah serta tusukan-tusukan ujung hidung di vaginanya.
Semakin lama vagina itu semakin basah saja. Dua jari tanganku lalu kumasukkan ke
lobang memeknya. Setelah masuk hampir semuanya, jari kubengkokkan ke arah atas
dengan tekanan yang cukup terasa agar kena ‘G-spot’-nya. Dan berhasil!

“Auwww… mas Bob…!” jerit Ika sambil menyentakkan pantat ke atas. sampai-sampai
jari tangan yang sudah terbenam di dalam memek terlepas. Perut bawahnya yang
ditumbuhi bulu-bulu jembut hitam yang lebat itu pun menghantam ke wajahku. Bau
harum dan bau khas cairan vaginanya merasuk ke sel-sel syaraf penciumanku.

Aku segera memasukkan kembali dua jariku ke dalam vagina Ika dan melakukan gerakan
yang sama. Kali ini aku mengimbangi gerakan jariku dengan permainan lidah di kelentit
Ika. Kelentit itu tampak semakin menonjol sehingga gampang bagiku untuk menjilat dan
mengisapnya. Ketika kelentit itu aku gelitiki dengan lidah serta kuisap-isap perlahan, Ika
semakin keras merintih-rintih bagaikan orang yang sedang mengalami sakit demam.
Sementara pinggulnya yang amat aduhai itu menggial ke kiri-kanan dengan sangat
merangsangnya.

“Mas Bob… mas Bob… mas Bob…,” hanya kata-kata itu yang dapat diucapkan Ika
karena menahan kenikmatan yang semakin menjadi-jadi.
Permainan jari-jariku dan lidahku di memeknya semakin bertambah ganas. Ika sambil
mengerang¬-erang dan menggeliat-geliat meremas apa saja yang dapat dia raih. Meremas
rambut kepalaku, meremas bahuku, dan meremas payudaranya sendiri.

“Mas Bob… Ika sudah tidak tahan lagi… Masukin konthol saja mas Bob… Ohhh…
sekarang juga mas Bob…! Sshhh. . . ,“ erangnya sambil menahan nafsu yang sudah
menguasai segenap tubuhnya.

Namun aku tidak perduli. Kusengaja untuk mempermainkan Ika terlebih dahulu. Aku
mau membuatnya orgasme, sementara aku masih segar bugar. Karena itu lidah dan
wajahku kujauhkan dan memeknya. Kemudian kocokan dua jari tanganku di dalam
memeknya semakin kupercepat. Gerakan jari tanganku yang di dalam memeknya ke atas-
bawah, sampai terasa ujung jariku menghentak-hentak dinding atasnya secara perlahan-
lahan. Sementara ibu jariku mengusap-usap dan menghentak-hentak kelentitnya. Gerakan
jari tanganku di memeknya yang basah itu sampai menimbulkan suara crrk-crrrk-crrrk-
crrk crrrk… Sementara dan mulut Ika keluar pekikan-pekikan kecil yang terputus-putus:

“Ah-ah-ah-ah-ah…”

Sementara aku semakin memperdahsyat kocokan jari-jariku di memeknya, sambil


memandangi wajahnya. Mata Ika merem-melek, sementara keningnya berkerut-kerut.

Crrrk! Crrrk! Crrek! Crek! Crek! Crok! Crok! Suara yang keluar dan kocokan jariku di
memeknya semakin terdengar keras. Aku mempertahankan kocokan tersebut. Dua menit
sudah si Ika mampu bertahan sambil mengeluarkan jeritan-jeritan yang membangkitkan
nafsu. Payudaranya tampak semakin kencang dan licin, sedang putingnya tampak berdiri
dengan tegangnya.

Sampai akhirnya tubuh Ika mengejang hebat. Pantatnya terangkat tinggi-tinggi. Matanya
membeliak-¬beliak. Dan bibirnya yang sensual itu keluar jeritan hebat, “Mas Booo00oob
…!“ Dua jariku yang tertanam di dalam vagina Ika terasa dijepit oleh dindingnya dengan
kuatnya. Seiring dengan keluar masuknya jariku dalam vaginanya, dan sela-sela celah
antara tanganku dengan bibir memeknya terpancarlah semprotan cairan vaginanya
dengan kuatnya. Prut! Prut! Pruttt! Semprotan cairan tersebut sampai mencapai
pergelangan tanganku.

Beberapa detik kemudian Ika terbaring lemas di atas karpet. Matanya memejam rapat.
Tampaknya dia baru saja mengalami orgasme yang begitu hebat. Kocokan jari tanganku
di vaginanya pun kuhentikan. Kubiarkan jari tertanam dalam vaginanya sampai jepitan
dinding vaginanya terasa lemah. Setelah lemah. jari tangan kucabut dan memeknya.
Cairan vagina yang terkumpul di telapak tanganku pun kubersihkan dengan kertas tissue.

Ketegangan kontholku belum juga mau berkurang. Apalagi tubuh telanjang Ika yang
terbaring diam di hadapanku itu benar-benar aduhai. seolah menantang diriku untuk
membuktikan kejantananku pada tubuh mulusnya. Aku pun mulai menindih kembali
tubuh Ika, sehingga kontholku yang masih di dalam celana dalam tergencet oleh perut
bawahku dan perut bawahnya dengan enaknya. Sementara bibirku mengulum-kulum
kembali bibir hangat Ika, sambil tanganku meremas-remas payudara dan
mempermainkan putingnya. Ika kembali membuka mata dan mengimbangi serangan
bibirku. Tubuhnya kembali menggelinjang-gelinjang karena menahan rasa geli dan ngilu
di payudaranya.

Setelah puas melumat-lumat bibir. wajahku pun menyusuri leher Ika yang mulus dan
harum hingga akhirnya mencapai belahan dadanya. Wajahku kemudian menggeluti
belahan payudaranya yang berkulit lembut dan halus, sementara kedua tanganku
meremas-remas kedua belah payudaranya. Segala kelembutan dan keharuman belahan
dada itu kukecupi dengan bibirku. Segala keharuman yang terpancar dan belahan
payudara itu kuhirup kuat-kuat dengan hidungku, seolah tidak rela apabila ada
keharuman yang terlewatkan sedikitpun.

Kugesek-gesekkan memutar wajahku di belahan payudara itu. Kemudian bibirku


bergerak ke atas bukit payudara sebelah kiri. Kuciumi bukit payudara yang membusung
dengan gagahnya itu. Dan kumasukkan puting payudara di atasnya ke dalam mulutku.
Kini aku menyedot-sedot puting payudara kiri Ika. Kumainkan puting di dalam mulutku
itu dengan lidahku. Sedotan kadang kuperbesar ke puncak bukit payudara di sekitar
puting yang berwarna coklat.

“Ah… ah… mas Bob… geli… geli …,“ mulut indah Ika mendesis-desis sambil
menggeliatkan tubuh ke kiri-kanan. bagaikan desisan ular kelaparan yang sedang mencari
mangsa.

Aku memperkuat sedotanku. Sementara tanganku meremas-remas payudara kanan Ika


yang montok dan kenyal itu. Kadang remasan kuperkuat dan kuperkecil menuju puncak
bukitnya, dan kuakhiri dengan tekanan-tekanan kecil jari telunjuk dan ibu jariku pada
putingnya.

“Mas Bob… hhh… geli… geli… enak… enak… ngilu… ngilu…”

Aku semakin gemas. Payudara aduhai Ika itu kumainkan secara bergantian, antara
sebelah kiri dan sebelah kanan. Bukit payudara kadang kusedot besarnya-besarnya
dengan tenaga isap sekuat-kuatnya, kadang yang kusedot hanya putingnya dan kucepit
dengan gigi atas dan lidah. Belahan lain kadang kuremas dengan daerah tangkap sebesar-
besarnya dengan remasan sekuat-kuatnya, kadang hanya kupijit-pijit dan kupelintir-
pelintir kecil puting yang mencuat gagah di puncaknya.

“Ah… mas Bob… terus mas Bob… terus… hzzz… ngilu… ngilu…” Ika mendesis-desis
keenakan. Hasratnya tampak sudah kembali tinggi. Matanya kadang terbeliak-beliak.
Geliatan tubuhnya ke kanan-kini semakin sening fnekuensinya.

Sampai akhirnya Ika tidak kuat mehayani senangan-senangan keduaku. Dia dengan
gerakan eepat memehorotkan celana dalamku hingga tunun ke paha. Aku memaklumi
maksudnya, segera kulepas eelana dalamku. Jan-jari tangan kanan Ika yang mulus dan
lembut kemudian menangkap kontholku yang sudah berdiri dengan gagahnya. Sejenak
dia memperlihatkan rasa terkejut.

“Edan… mas Bob, edan… Kontholmu besar sekali… Konthol pacan-pacanku dahulu dan
juga konthol kak Dai tidak sampai sebesar in Edan… edan…,” ucapnya terkagum-
kagum. Sambil membiankan mulut, wajah, dan tanganku terus memainkan dan
menggeluti kedua belah payudaranya, jan-jari lentik tangan kanannya meremas¬remas
perlahan kontholku secara berirama, seolah berusaha mencari kehangatan dan
kenikmatan di hiatnya menana kejantananku. Remasannya itu mempenhebat vohtase dam
rasa nikmat pada batang kontholku.

“Mas Bob. kita main di atas kasur saja…,” ajak Ika dengan sinar mata yang sudah
dikuasai nafsu binahi.

Aku pun membopong tubuh telanjang Ika ke ruang dalam, dan membaringkannya di atas
tempat tidun pacarku. Ranjang pacarku ini amat pendek, dasan kasurnya hanya terangkat
sekitar 6 centimeter dari lantai. Ketika kubopong. Ika tidak mau melepaskan tangannya
dari leherku. Bahkan, begitu tubuhnya menyentuh kasur, tangannya menanik wajahku
mendekat ke wajahnya. Tak ayal lagi, bibirnya yang pink menekan itu melumat bibirku
dengan ganasnya. Aku pun tidak mau mengalah. Kulumat bibirnya dengan penuh nafsu
yang menggelora, sementara tanganku mendekap tubuhnya dengan kuatnya. Kuhit
punggungnya yang halus mulus kuremas-remas dengan gemasnya.

Kemudian aku menindih tubuh Ika. Kontholku terjepit di antara pangkal pahanya yang
mulus dan perut bawahku sendiri. Kehangatan kulit pahanya mengalir ke batang
kontholku yang tegang dan keras. Bibirku kemudian melepaskan bibir sensual Ika.
Kecupan bibirku pun turun. Kukecup dagu Ika yang bagus. Kukecup leher jenjang Ika
yang memancarkan bau wangi dan segarnya parfum yang dia pakai. Kuciumi dan
kugeluti leher indah itu dengan wajahku, sementara pantatku mulai bergerak aktif
sehingga kontholku menekan dan menggesek-gesek paha Ika. Gesekan di kulit paha yang
licin itu membuat batang kontholku bagai diplirit-plirit. Kepala kontholku merasa geli-
geli enak oleh gesekan-gesekan paha Ika.

Puas menggeluti leher indah, wajahku pun turun ke buah dada montok Ika. Dengan
gemas dan ganasnya aku membenamkan wajahku ke belahan dadanya, sementara kedua
tanganku meraup kedua belah payudaranya dan menekannya ke arah wajahku.
Keharuman payudaranya kuhirup sepuas-puasku. Belum puas dengan menyungsep ke
belahan dadanya, wajahku kini menggesek-gesek memutar sehingga kedua gunung
payudaranya tertekan-tekan oleh wajahku secara bergantian. Sungguh sedap sekali
rasanya ketika hidungku menyentuh dan menghirup dalam-dalam daging payudara yang
besar dan kenyal itu. Kemudian bibirku meraup puncak bukit payudara kiri Ika. Daerah
payudara yang kecoklat-coklatan beserta putingnya yang pink kecoklat-coklatan itu pun
masuk dalam mulutku. Kulahap ujung payudara dan putingnya itu dengan bernafsunya,
tak ubahnya seperti bayi yang menetek susu setelah kelaparan selama seharian. Di dalam
mulutku, puting itu kukulum-kulum dan kumainkan dengan lidahku.
“Mas Bob… geli… geli …,“ kata Ika kegelian.

Aku tidak perduli. Aku terus mengulum-kulum puncak bukit payudara Ika. Putingnya
terasa di lidahku menjadi keras. Kemudian aku kembali melahap puncak bukit payudara
itu sebesar-besarnya. Apa yang masuk dalam mulutku kusedot sekuat-kuatnya.
Sementara payudara sebelah kanannya kuremas sekuat-kuatnya

dengan tanganku. Hal tersebut kulakukan secara bergantian antara payudara kiri dan
payudara kanan Ika. Sementara kontholku semakin menekan dan menggesek-gesek
dengan beriramanya di kulit pahanya. Ika semakin menggelinjang-gelinjang dengan
hebatnya.

“Mas Bob… mas Bob… ngilu… ngilu… hihhh… nakal sekali tangan dan mulutmu…
Auw! Sssh… ngilu… ngilu…,” rintih Ika. Rintihannya itu justru semakin mengipasi api
nafsuku. Api nafsuku semakin berkobar-kobar. Semakin ganas aku mengisap-isap dan
meremas-remas payudara montoknya. Sementara kontholku berdenyut-denyut keenakan
merasakan hangat dan licinnya paha Ika.

Akhirnya aku tidak sabar lagi. Kulepaskan payudara montok Ika dari gelutan mulut dan
tanganku. Bibirku kini berpindah menciumi dagu dan lehernya, sementara tanganku
membimbing kontholku untuk mencari liang memeknya. Kuputar-putarkan dahulu kepala
kontholku di kelebatan jembut di sekitar bibir memek Ika. Bulu-bulu jembut itu bagaikan
menggelitiki kepala kontholku. Kepala kontholku pun kegelian. Geli tetapi enak.

“Mas Bob… masukkan seluruhnya mas Bob… masukkan seluruhnya… Mas Bob belum
pernah merasakan memek Mbak Dina kan? Mbak Dina orang kuno… tidak mau
merasakan konthol sebelum nikah. Padahal itu surga dunia… bagai terhempas langit ke
langit ketujuh. mas Bob…”

Jan-jari tangan Ika yang lentik meraih batang kontholku yang sudah amat tegang.
Pahanya yang mulus itu dia buka agak lebar.

“Edan… edan… kontholmu besar dan keras sekali, mas Bob…,” katanya sambil
mengarahkan kepala kontholku ke lobang memeknya.

Sesaat kemudian kepala kontholku menyentuh bibir memeknya yang sudah basah.
Kemudian dengan perlahan-lahan dan sambil kugetarkan, konthol kutekankan masuk ke
liang memek. Kini seluruh kepala kontholku pun terbenam di dalam memek. Daging
hangat berlendir kini terasa mengulum kepala kontholku dengan enaknya.

Aku menghentikan gerak masuk kontholku.

“Mas Bob… teruskan masuk, Bob… Sssh… enak… jangan berhenti sampai situ saja…,”
Ika protes atas tindakanku. Namun aku tidak perduli. Kubiarkan kontholku hanya masuk
ke lobang memeknya hanya sebatas kepalanya saja, namun kontholku kugetarkan dengan
amplituda kecil. Sementara bibir dan hidungku dengan ganasnya menggeluti lehernya
yang jenjang, lengan tangannya yang harum dan mulus, dari ketiaknya yang bersih dari
bulu ketiak. Ika menggelinjang-gelinjang dengan tidak karuan.

“Sssh… sssh… enak… enak… geli… geli, mas Bob. Geli… Terus masuk, mas Bob…”

Bibirku mengulum kulit lengan tangannya dengan kuat-kuat. Sementara gerakan


kukonsentrasikan pada pinggulku. Dan… satu… dua… tiga! Kontholku kutusukkan
sedalam-dalamnya ke dalam memek Ika dengan sangat cepat dan kuatnya. Plak! Pangkal
pahaku beradu dengan pangkal pahanya yang mulus yang sedang dalam posisi agak
membuka dengan kerasnya. Sementara kulit batang kontholku bagaikan diplirit oleh bibir
dan daging lobang memeknya yang sudah basah dengan kuatnya sampai menimbulkan
bunyi: srrrt!

“Auwww!” pekik Ika.

Aku diam sesaat, membiarkan kontholku tertanam seluruhnya di dalam memek Ika tanpa
bergerak sedikit pun.

“Sakit mas Bob… Nakal sekali kamu… nakal sekali kamu….” kata Ika sambil tangannya
meremas punggungku dengan kerasnya.

Aku pun mulai menggerakkan kontholku keluar-masuk memek Ika. Aku tidak tahu,
apakah kontholku yang berukuran panjang dan besar ataukah lubang memek Ika yang
berukuran kecil. Yang saya tahu, seluruh bagian kontholku yang masuk memeknya serasa
dipijit-pijit dinding lobang memeknya dengan agak kuatnya. Pijitan dinding memek itu
memberi rasa hangat dan nikmat pada batang kontholku.

“Bagaimana Ika, sakit?” tanyaku

“Sssh… enak sekali… enak sekali… Barangmu besar dan panjang sekali… sampai-
sampai menyumpal penuh seluruh penjuru lobang memekku…,” jawab Ika.

Aku terus memompa memek Ika dengan kontholku perlahan-lahan. Payudara kenyalnya
yang menempel di dadaku ikut terpilin-pilin oleh dadaku akibat gerakan memompa tadi.
Kedua putingnya yang sudah mengeras seakan-akan mengkilik-kilik dadaku yang bidang.
Kehangatan payudaranya yang montok itu mulai terasa mengalir ke dadaku. Kontholku
serasa diremas-remas dengan berirama oleh otot-otot memeknya sejalan dengan
genjotanku tersebut. Terasa hangat dan enak sekali. Sementara setiap kali menusuk
masuk kepala kontholku menyentuh suatu daging hangat di dalam memek Ika. Sentuhan
tersebut serasa menggelitiki kepala konthol sehingga aku merasa sedikit kegelian. Geli-
geli nikmat.

Kemudian aku mengambil kedua kakinya yang kuning langsat mulus dan
mengangkatnya. Sambil menjaga agar kontholku tidak tercabut dari lobang memeknya,
aku mengambil posisi agak jongkok. Betis kanan Ika kutumpangkan di atas bahuku,
sementara betis kirinya kudekatkan ke wajahku. Sambil terus mengocok memeknya
perlahan dengan kontholku, betis kirinya yang amat indah itu kuciumi dan kukecupi
dengan gemasnya. Setelah puas dengan betis kiri, ganti betis kanannya yang kuciumi dan
kugeluti, sementara betis kirinya kutumpangkan ke atas bahuku. Begitu hal tersebut
kulakukan beberapa kali secara bergantian, sambil mempertahankan rasa nikmat di
kontholku dengan mempertahankan gerakan maju-mundur perlahannya di memek Ika.

Setelah puas dengan cara tersebut, aku meletakkan kedua betisnya di bahuku, sementara
kedua telapak tanganku meraup kedua belah payudaranya. Masih dengan kocokan
konthol perlahan di memeknya, tanganku meremas-remas payudara montok Ika. Kedua
gumpalan daging kenyal itu kuremas kuat-kuat secara berirama. Kadang kedua putingnya
kugencet dan kupelintir-pelintir secara perlahan. Puting itu semakin mengeras, dan bukit
payudara itu semakin terasa kenyal di telapak tanganku. Ika pun merintih-rintih
keenakan. Matanya merem-melek, dan alisnya mengimbanginya dengan sedikit gerakan
tarikan ke atas dan ke bawah.

“Ah… mas Bob, geli… geli… Tobat… tobat… Ngilu mas Bob, ngilu… Sssh… sssh…
terus mas Bob, terus…. Edan… edan… kontholmu membuat memekku merasa enak
sekali… Nanti jangan disemprotkan di luar memek, mas Bob. Nyemprot di dalam saja…
aku sedang tidak subur…”

Aku mulai mempercepat gerakan masuk-keluar kontholku di memek Ika.

“Ah-ah-ah… benar, mas Bob. benar… yang cepat… Terus mas Bob, terus…”

Aku bagaikan diberi spirit oleh rintihan-rintihan Ika. tenagaku menjadi berlipat ganda.
Kutingkatkan kecepatan keluar-masuk kontholku di memek Ika. Terus dan terus. Seluruh
bagian kontholku serasa diremas¬-remas dengan cepatnya oleh daging-daging hangat di
dalam memek Ika. Mata Ika menjadi merem-melek dengan cepat dan indahnya. Begitu
juga diriku, mataku pun merem-melek dan mendesis-desis karena merasa keenakan yang
luar biasa.

“Sssh… sssh… Ika… enak sekali… enak sekali memekmu… enak sekali memekmu…”

“Ya mas Bob, aku juga merasa enak sekali… terusss… terus mas Bob, terusss…”

Aku meningkatkan lagi kecepatan keluar-masuk kontholku pada memeknya. Kontholku


terasa bagai diremas-remas dengan tidak karu-karuan.

“Mas Bob… mas Bob… edan mas Bob, edan… sssh… sssh… Terus… terus… Saya
hampir keluar nih mas Bob…

sedikit lagi… kita keluar sama-sama ya Booob…,” Ika jadi mengoceh tanpa kendali.

Aku mengayuh terus. Aku belum merasa mau keluar. Namun aku harus membuatnya
keluar duluan. Biar perempuan Sunda yang molek satu ini tahu bahwa lelaki Jawa itu
perkasa. Biar dia mengakui kejantanan orang Jawa yang bernama mas Bobby. Sementara
kontholku merasakan daging-daging hangat di dalam memek Ika bagaikan berdenyut
dengan hebatnya.

“Mas Bob… mas Bobby… mas Bobby…,” rintih Ika. Telapak tangannya memegang
kedua lengan tanganku seolah mencari pegangan di batang pohon karena takut jatuh ke
bawah.

lbarat pembalap, aku mengayuh sepeda balapku dengan semakin cepatnya. Bedanya,
dibandingkan dengan pembalap aku lebih beruntung. Di dalam “mengayuh sepeda” aku
merasakan keenakan yang luar biasa di sekujur kontholku. Sepedaku pun mempunyai
daya tarik tersendiri karena mengeluarkan rintihan-rintihan keenakan yang tiada terkira.

“Mas Bob… ah-ah-ah-ah-ah… Enak mas Bob, enak… Ah-ah-ah-ah-ah… Mau keluar
mas Bob… mau keluar… ah-ah-ah-ah-ah… sekarang ke-ke-ke…”

Tiba-tiba kurasakan kontholku dijepit oleh dinding memek Ika dengan sangat kuatnya. Di
dalam memek, kontholku merasa disemprot oleh cairan yang keluar dari memek Ika
dengan cukup derasnya. Dan telapak tangan Ika meremas lengan tanganku dengan sangat
kuatnya. Mulut sensual Ika pun berteriak tanpa kendali:

“…keluarrr…!”

Mata Ika membeliak-beliak. Sekejap tubuh Ika kurasakan mengejang.

Aku pun menghentikan genjotanku. Kontholku yang tegang luar biasa kubiarkan diam
tertanam dalam memek Ika. Kontholku merasa hangat luar biasa karena terkena
semprotan cairan memek Ika. Kulihat mata Ika kemudian memejam beberapa saat dalam
menikmati puncak orgasmenya.

Setelah sekitar satu menit berlangsung, remasan tangannya pada lenganku perlahan-lahan
mengendur. Kelopak matanya pun membuka, memandangi wajahku. Sementara jepitan
dinding memeknya pada kontholku berangsur-angsur melemah. walaupun kontholku
masih tegang dan keras. Kedua kaki Ika lalu kuletakkan kembali di atas kasur dengan
posisi agak membuka. Aku kembali menindih tubuh telanjang Ika dengan
mempertahankan agar kontholku yang tertanam di dalam memeknya tidak tercabut.

“Mas Bob… kamu luar biasa… kamu membawaku ke langit ke tujuh,” kata Ika dengan
mimik wajah penuh kepuasan. “Kak Dai dan pacar-pacarku yang dulu tidak pernah
membuat aku ke puncak orgasme seperti ml. Sejak Mbak Dina tinggal di sini, Ika suka
membenarkan mas Bob saat berhubungan dengan Kak Dai.”

Aku senang mendengar pengakuan Ika itu. berarti selama aku tidak bertepuk sebelah
tangan. Aku selalu membayangkan kemolekan tubuh Ika dalam masturbasiku, sementara
dia juga membayangkan kugeluti
dalam onaninya. Bagiku. Dina bagus dijadikan istri dan ibu anak-anakku kelak, namun
tidak dapat dipungkiri bahwa tubuh aduhai Ika enak digeluti dan digenjot dengan penuh
nafsu.

“Mas Bob… kamu seperti yang kubayangkan. Kamu jantan… kamu perkasa… dan kamu
berhasil membawaku ke puncak orgasme. Luar biasa nikmatnya…”

Aku bangga mendengar ucapan Ika. Dadaku serasa mengembang. Dan bagai anak kecil
yang suka pujian, aku ingin menunjukkan bahwa aku lebih perkasa dari dugaannya.
Perempuan Sunda ini harus kewalahan menghadapi genjotanku. Perempuan Sunda ini
harus mengakui kejantanan dan keperkasaanku. Kebetulan aku saat ini baru setengah
perjalanan pendakianku di saat Ika sudah mencapai orgasmenya. Kontholku masih tegang
di dalam memeknya. Kontholku masih besar dan keras, yang hams menyemprotkan
pelurunya agar kepalaku tidak pusing.

Aku kembali mendekap tubuh mulus Ika, yang di bawah sinar lampu kuning kulit
tubuhnya tampak sangat mulus dan licin. Kontholku mulai bergerak keluar-masuk lagi di
memek Ika, namun masih dengan gerakan perlahan. Dinding memek Ika secara
berargsur-angsur terasa mulai meremas-remas kontholku. Terasa hangat dan enak.
Namun sekarang gerakan kontholku lebih lancar dibandingkan dengan tadi. Pasti karena
adanya cairan orgasme yang disemprotkan oleh memek Ika beberapa saat yang lalu.

“Ahhh… mas Bob… kau langsung memulainya lagi… Sekarang giliranmu… semprotkan
air manimu ke dinding-dinding memekku… Sssh…,” Ika mulai mendesis-desis lagi.

Bibirku mulai memagut bibir merekah Ika yang amat sensual itu dan melumat-lumatnya
dengan gemasnya. Sementara tangan kiriku ikut menyangga berat badanku, tangan
kananku meremas-remas payudara montok Ika serta memijit-mijit putingnya, sesuai
dengan mama gerak maju-mundur kontholku di memeknya.

“Sssh… sssh… sssh… enak mas Bob, enak… Terus… teruss… terusss…,” desis bibir
Ika di saat berhasil melepaskannya dari serbuan bibirku. Desisan itu bagaikan mengipasi
gelora api birahiku.

Sambil kembali melumat bibir Ika dengan kuatnya, aku mempercepat genjotan kontholku
di memeknya. Pengaruh adanya cairan di dalam memek Ika, keluar-masuknya konthol
pun diiringi oleh suara, “srrt-srret srrrt-srrret srrt-srret…” Mulut Ika di saat terbebas dari
lumatan bibirku tidak henti-hentinya mengeluarkan rintih kenikmatan,

“Mas Bob… ah… mas Bob… ah… mas Bob… hhb… mas Bob… ahh…”

Kontholku semakin tegang. Kulepaskan tangan kananku dari payudaranya. Kedua


tanganku kini dari ketiak Ika menyusup ke bawah dan memeluk punggung mulusnya.
Tangan Ika pun memeluk punggungku dan mengusap-usapnya. Aku pun memulai
serangan dahsyatku. Keluar-masuknya kontholku ke dalam memek Ika sekarang
berlangsung dengan cepat dan berirama. Setiap kali masuk, konthol kuhunjamkan keras-
keras agar menusuk memek Ika sedalam-dalamnya. Dalam perjalanannya, batang
kontholku bagai diremas dan dihentakkan kuat-kuat oleh dinding memek Ika. Sampai di
langkah terdalam, mata Ika membeliak sambil bibirnya mengeluarkan seruan tertahan,
“Ak!” Sementara daging pangkal pahaku bagaikan menampar daging pangkal pahanya
sampai berbunyi: plak! Di saat bergerak keluar memek, konthol kujaga agar kepalanya
yang mengenakan helm tetap tertanam di lobang memek. Remasan dinding memek pada
batang kontholku pada gerak keluar ini sedikit lebih lemah dibanding dengan gerak
masuknya. Bibir memek yang mengulum batang kontholku pun sedikit ikut tertarik
keluar, seolah tidak rela bila sampai ditinggal keluar oleh batang kontholku. Pada gerak
keluar ini Bibir Ika mendesah, “Hhh…”

Aku terus menggenjot memek Ika dengan gerakan cepat dan menghentak-hentak.
Remasan yang luar biasa kuat, hangat, dan enak sekali bekerja di kontholku. Tangan Ika
meremas punggungku kuat-kuat di saat kontholku kuhunjam masuk sejauh-jauhnya ke
lobang memeknya. beradunya daging pangkal paha menimbulkan suara: Plak! Plak!
Plak! Plak! Pergeseran antara kontholku dan memek Ika menimbulkan bunyi srottt-
srrrt… srottt-srrrt… srottt-srrrtt… Kedua nada tersebut diperdahsyat oleh pekikan-
pekikan kecil yang merdu yang keluar dari bibir Ika:

“Ak! Uhh… Ak! Hhh… Ak! Hhh…”

Kontholku terasa empot-empotan luar biasa. Rasa hangat, geli, dan enak yang tiada tara
membuatku tidak kuasa menahan pekikan-pekikan kecil:

“lka… Ika… edan… edan… Enak sekali Ika… Memekmu enak sekali… Memekmu
hangat sekali… edan… jepitan memekmu enak sekali…”

“Mas Bob… mas Bob… terus mas Bob rintih Ika, “enak mas Bob… enaaak… Ak! Ak!
Ak! Hhh… Ak! Hhh… Ak! Hhh…”

Tiba-tiba rasa gatal menyelimuti segenap penjuru kontholku. Gatal yang enak sekali. Aku
pun mengocokkan kontholku ke memeknya dengan semakin cepat dan kerasnya. Setiap
masuk ke dalam, kontholku berusaha menusuk lebih dalam lagi dan lebih cepat lagi
dibandingkan langkah masuk sebelumnya. Rasa gatal dan rasa enak yang luar biasa di
konthol pun semakin menghebat.

“Ika… aku… aku…” Karena menahan rasa nikmat dan gatal yang luar biasa aku tidak
mampu menyelesaikan ucapanku yang memang sudah terbata-bata itu.

“Mas Bob… mas Bob… mas Bob! Ak-ak-ak… Aku mau keluar lagi… Ak-ak-ak… aku
ke-ke-ke…”

Tiba-tiba kontholku mengejang dan berdenyut dengan amat dahsyatnya. Aku tidak
mampu lagi menahan rasa gatal yang sudah mencapai puncaknya. Namun pada saat itu
juga tiba-tiba dinding memek Ika mencekik kuat sekali. Dengan cekikan yang kuat dan
enak sekali itu. aku tidak mampu lagi menahan jebolnya bendungan dalam alat
kelaminku.

Pruttt! Pruttt! Pruttt! Kepala kontholku terasa disemprot cairan memek Ika, bersamaan
dengan pekikan Ika, “…keluarrrr…!” Tubuh Ika mengejang dengan mata membeliak-
beliak.

“Ika…!” aku melenguh keras-keras sambil merengkuh tubuh Ika sekuat-kuatnya, seolah
aku sedang berusaha rnenemukkan tulang-tulang punggungnya dalam kegemasan.
Wajahku kubenamkan kuat-kuat di lehernya yang jenjang. Cairan spermaku pun tak
terbendung lagi.

Crottt! Crott! Croat! Spermaku bersemburan dengan derasnya, menyemprot dinding


memek Ika yang terdalam. Kontholku yang terbenam semua di dalam kehangatan memek
Ika terasa berdenyut-denyut.

Beberapa saat lamanya aku dan Ika terdiam dalam keadaan berpelukan erat sekali,
sampai-sampai dari alat kemaluan, perut, hingga ke payudaranya seolah terpateri erat
dengan tubuh depanku. Aku menghabiskan sisa-sisa sperma dalam kontholku. Cret! Cret!
Cret! Kontholku menyemprotkan lagi air mani yang masih tersisa ke dalam memek Ika.
Kali ini semprotannya lebih lemah.

Perlahan-lahan tubuh Ika dan tubuhku pun mengendur kembali. Aku kemudian menciumi
leher mulus Ika dengan lembutnya, sementara tangan Ika mengusap-usap punggungku
dan mengelus-elus rambut kepalaku. Aku merasa puas sekali berhasil bermain seks
dengan Ika. Pertama kali aku bermain seks, bidadari lawan mainku adalah perempuan
Sunda yang bertubuh kenyal, berkulit kuning langsat mulus, berpayudara besar dan padat,
berpinggang ramping, dan berpinggul besar serta aduhai. Tidak rugi air maniku diperas
habis-habisan pada pengalaman pertama ini oleh orang semolek Ika.

“Mas Bob… terima kasih mas Bob. Puas sekali saya. indah sekali… sungguh… enak
sekali,” kata Ika lirih.

Aku tidak memberi kata tanggapan. Sebagai jawaban, bibirnya yang indah itu kukecup
mesra. Dalam keadaan tetap telanjang, kami berdekapan erat di atas tempat tidur pacarku.
Dia meletakkan kepalanya di atas dadaku yang bidang, sedang tangannya melingkar ke
badanku. Baru ketika jam dinding menunjukkan pukul 22:00, aku dan Ika berpakaian
kembali. Ika sudah tahu kebiasaanku dalam mengapeli Dina, bahwa pukul 22:00 aku
pulang ke tempat kost-ku sendiri.

Sebelum keluar kamar, aku mendekap erat tubuh Ika dan melumat-lumat bibirnya
beberapa saat.

“Mas Bob… kapan-kapan kita mengulangi lagi ya mas Bob… Jangan khawatir, kita
tanpa Ikatan. Ika akan selalu merahasiakan hal ini kepada siapapun, termasuk ke Kak Dai
dan Mbak Dina. Ika puas sekali bercumbu dengan mas Bob,” begitu kata Ika.
Aku pun mengangguk tanda setuju. Siapa sih yang tidak mau diberi kenikmatan secara
gratis dan tanpa ikatan? Akhirnya dia keluar dari kamar dan kembali masuk ke rumahnya
lewat pintu samping. Lima menit kemudian aku baru pulang ke tempat kost-ku.

AKU terjaga saat kurasakan sesuatu yang dingin menyentuh kakiku.


Gusbangun, sudah sore. Mandi dulu. Ayo. bangun. Aku terbangun. Yu Nem berdiri di
ujung tempat tidurku. Tangan kanannya mengguncang-guncang kakiku. Aku meliukkan
badan, dan mataku terpejam lagi.
Heeeh. ayo bangun. Mandi dulu, Yu Nem kembali mengguncangkan kakiku.
Aku membalikkan badan. Enak sekali tidurku. Rasanya masih ingin tidur lagi. Kulirik
jam dinding menunjuk pukul 4 sore lebih.
Bu Lik sudah pulang, Yu? tanyaku. Yu Nem menggeleng, dan kembali memintaku
mandi. Oh ya, umurku waktu itu masih 12 tahun, masih kelas 6 SD. Yu Nem adalah salah
satu pembantu kami
Umurnya sekitar 30 tahun. Dia sudah lama ikut kami. Dia satu dari tiga pembantu kami.
Yu Nem bertugas melayani keperluanku dan keperluan Bu Lik. Mulai dari
mempersiapkan keperluan mandi, makan, apa saja. Karena itu aku lebih dekat dengan Yu
Nem daripada dengan Mbah Karso atau Yu Parmi.
Bu Lik kok belum pulang to Yu? tanyaku. Yu Nem duduk di tepi ranjang.
Mungkin sampai malam. Kan kulakannya ke Praci.
Bu Lik adalah pedagang hasil bumi. Selain menerima setoran hasil bumi dari para petani,
seringkali Bu Lik hunting dagangan sampai ke kota-kota kecamatan. Sesekali aku diajak.
Ayo mandi dulu Gus, kata Yu Nem. Aku pun beranjak. Yu Nem mengangsurkan handuk,
dan aku menuju kamar mandi. Yu Nem mengikutiku.
Kok sepi? tanyaku.
Mbah Karso sama Parmi lagi nagih.
Mbah Karso dan Yu Parmi adalah dua pembantu kami lainnya. Beberapa pengrajin tempe
dan tahu seringkali ambil kedelai dari Bu Lik, dan bayarnya beberapa hari kemudian.
Para pembantu kami seringkali yang disuruh menagih.
Selesai mandi, ini yang tak aku sangka-sangka, Yu Nem bertanya, Kangen sama Ibu ya?
Ibu yang dimaksud perempuan itu adalah Bu Lik. Pertanyaan Yu Nem bernada
menyelidik, sedikit meledek. Dia tersenyum penuh arti. Aku menyambar koran, dan
duduk di bangku teras. Aku paling sedang komik serial Tarzan. Biasanya sore begini aku
membaca bersama Bu Lik. Yu Nem di sebelahku.
Ayo cerita dong Gus, katanya.
Cerita apa?
Cerita Gus sama Ibu. Aku terperanjat. Yu Nem tahu kok Gus. Mbah Karso, Parmi juga
tahu. Tapi tenang saja, rahasianya aman.
Aku benar-benar mati kutu. Rupanya perzinaanku dengan Bu Lik sudah diketahui ketiga
pembantuku.
Kalau sudah tahu ya sudah. Napa suruh cerita, sahutku agak kesal. Yu Nem tersenyum.
Pengin denger saja. Sudah pinter ya Gus?
Apaan sih? aku terus menatap koran, tapi pikiranku agak kacau.
Ehh tapi jangan bilang ke Ibu yaa kalau kami sudah tahu. Aku diam saja. Bener lho
jangan bilang. lalu Yu Nem pergi.
Malamnya, aku belajar ditunggui Yu Nem. Dari dulu memang begitu. Kalau Bu Lik
kecapekan dan tak bisa menunggui belajar, disuruhnya Yu Nem menungguiku. Waktu
kelas satu sampai kelas dua SD perempuan itu malah kerap membantuku mengerjakan
PR atau membantuku membetulkan cara membaca. Tetapi setelah kelas enam, dia mulai
tidak bisa mengikuti pelajaranku. Maklum, dia cuma sekolah sampai kelas empat SD.
Sekitar jam 9 aku mulai ngantuk dan menyudahi belajar. Yu Nem membantu mengemasi
buku-bukuku. Aku pun beranjak ke kamar.
Mau ditemani bobo ndak Gus? tiba-tiba Yu Nem bertanya. Dulu waktu masih umur 7-8
tahun aku sering tidur dikeloni Yu Nem. atau Bu Lik Tapi semenjak kelas lima, aku
sudah tidur di kamar sendiri. Entah kenapa, rasanya pengin juga seperti dulu, tidur
ditemani Yu Nem. Beda dengan Bu Lik, Yu Nem kalau ngeloni suka sabar. Sering
mendongeng sambil mengusap-usap penggungku, dan aku memainkan ujung sikunya.
Sampai tertidur.
He-eh kataku.
Aku merebahkan tubuh di ranjang. Yu Nem juga rebahan di sebelahku. Kami tidur satu
bantal karena memang hanya ada satu bantal di tempat tidurku. Aroma perempuan ini
belum berubah. Rambutnya berbau minyak cem-ceman. Minyak ini terbuat dari minyak
kelapa dicampur daun pandan dan rempah-rempah lain. Dia mengenakan kemeja lengan
pendek, dan jarik yang digulung sebatas pusar. Semua pembantuku kesehariannya ya
begitu. Jariknya sedikit di bawah lutut.
Yu Nem meraih tubuhku, dan mengelus-elus punggungku.
Sudah lama ya Gus, ndak bobo sama Yu Nem. Wajahku hanya beberapa inci dari
wajahnya. Terasa lembut nafasnya. Bau nafasnya gurih. Rasanya amat menenteramkan.
He-eh, sahutku pendek sambil memejamkan mata.
Berapa kali gituan sama Ibu? pertanyaan itu menyentakkanku, menghilangkan kantuk.
Ndak pa-pa cerita sama Yu Nem. Dia menunggu reaksiku. Tangannya masih mengelus-
elus punggungku. Sudah ndak kehitung ya? Ati-ati ya Gus, nanti kayak Gus Bambang,
ketahuan terus diusir. Semua kena malu.
Memangnya Mas Bambang juga gituan sama Bu Lik? tanyaku ingin tahu. Aku memang
mendengar selentingan kasus itu. Tapi karena umurku yang belum cukup mampu
mencerna pembicaraan orang, aku tidak pernah mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Iya. Dasarnya Gus Bambang ndak bisa menjaga rahasia, jadi yaa rahasianya kesebar.
Lalu Yu Nem bercerita panjang lebar tentang skandal Bu Lik dengan Mas Bambang,
sepupuku yang berarti juga masih keponakan Bu Lik. Yu Nem juga bercerita bagaimana
Mas Bambang pun pernah meniduri Yu Nem dan Mbah Karso.
Yu Nem kok mau?
Yaa ndak berani nolak to Gus, jawabnya.
Berapa kali Yu?
Ahh banyak. Lalu Yu Nem memintaku bercerita tentang perzinaanku dengan Bu Lik.
Malu Yu ahh, sahutku.
Kok malu, Yu Nem juga sudah cerita. Lama aku terdiam.
Ayo cerita. Yu Nem mencubit hidungku. Pertamanya dipaksa ya?
He-eh, sahutku. Yu Nem tertawa kecil.
Lama-lama Gus yang minta?
Ndak. Ndak berani to Yu.
Disuruh cium-cium anunya Ibu juga?
Ihhh kok Yu Nem .
Dulu Gus Bambang suka cerita kok. Aku heran, kok Mas Bambang bisa cerita ke Yu
Nem. Pantesan affairnya dengan Bu Lik terbongkar dan menggegerkan keluarga besar Bu
Lik.
Gus ketagihan ndak? Kalau pas pengin gimana? Kan ndak berani minta ke Ibu?
Ya diem. Ditahan. Yu Nem terkikih.
Minta sama Yu Nem to, kayak Gus Bambang.
Idiih. Yu Nem tertawa kecil.
Sekarang lagi pengin ndak? Aku diam tak menjawab.
Mumpung ada Yu Nem Kalimat itu membuatku tergetar.
Yu Nem mau kok Gus. Tiba-tiba kurasakan elusan Yu Nem terasa aneh. Membuat bulu-
bulu di tubuhku meremang. Darahku berdesir. Dan tak kuduga, Yu Nem mencium
bibirku. Lembut. Lidahnya menerobos ke dalam mulutku, mencari-cari. Dihisapnya
bibirku, dicarinya lidahku. Kami berpagutan. Tangan Yu Nem berpindah ke perutku,
mengusap, meremas, dan menerobos masuk ke celana.
Sama Yu Nem ya Gus?
Tanpa menjawab aku membuka kancing baju Yu Nem, dan mengeluarkan sepasang tetek
dari dalam kutangnya. Aku menghisapnya, memilin dan menggigitnya. Yu Nem
mendesah-desah. Tangannya meremas penisku. Disingkapnya jariknya hingga
menampakkan paha yang padat dan mulus. Dia lepas CD-nya, dan meraih tanganku,
dibawanya ke selangkangan. Lalu dilepasnya celanaku.
Terasa penisku masuk ke dalam mulut hingga terdengar bunyi yang menggairahkan.
Crop.cropp.
Yu Nem memutar tubuhnya, mengarahkan vaginanya tepat di depan mulutku. Lalu
ditekannya pinggul, hingga vagina itu menempel di mulutku. Refleks lidahku terjulur. Yu
Nem mengerang keras. Di tekan lagi, dan digoyangkannya pantat bulat itu. Aku coba
menghindar karena nafasku jadi sesak. Tapi Yu Nem kembali menekan sambi terus
melumat penisku dengan rakus.
Perempuan itu adalah janda yang sudah lama cerai dari suaminya. Mungkin dia memang
sangat butuh sentuhan seperti halnya Bu Lik. Bedanya, Bu Lik bisa melampiaskan ke aku
atau Mas Bambang, dan mungkin ke lelaki lain. Sedangkan Yu Nem, mana bisa. Kini di
hadapannya ada aku. Lelaki kencur tapi sudah mahir bersenggama.
Yu Nem mengangkat pantatnya, dan Gus digigit itilnya. Aku menggigit lembut itil itu.
Aromanya memang tidak sewangi vagina Bu Lik. Tapi sangat terasa lubangnya masih
sempit. Vagina yang belum pernah mengeluarkan bayi. Yu Nem kembali mengerang.
Penisku disedot kuat-kuat. Aku lap vaginanya yang basah lendir bencampur ludahku
dengan ujung jariknya, lalu kujilat-jilat lagi. Nafsuku sudah sampai di ubun-ubun. Yu
Nem membalikkan badan. Dipegangnya penisku dan diarahkan ke lubang vaginanya.
Samar-samar aku lihat wajahnya meringis seperti menahan sakit. Dia berhenti sejenak,
lalu mencoba menekan vaginanya. Ujung penisku mulai masuk. Dia kembali mendorong
sehingga seluruh penisku masuk. Aku tidak tahu kenapa vagina Yu Nem begitu
sempitnya, sampai-sampai penisku yang sebenarnya tidak besar pun sulit masuk. Maklum
umurku masih 12 tahun, dan belum disunat.
Begitu seluruh penis tenggelam dalam vaginanya, Yu Nem menggereng. Seperti suara
kereta api. Dia mencengkeram lenganku. Ditekannya tubuhnya seolah ingin menelan
habis tubuhku. Digoyang-goyang tubuhnya.
Ahh Yu Nem memang tidak semahir Bu Lik. Ketika dengan Bu Lik, aku merasakan
kenikmatan yang luar biasa sehingga cepat sekali keluar. Seringkali ketika ronde kedua
baru Bu Lik mencapai puncaknya. Kini Yu Nem sepertinya sudah sampai di puncak,
sedangkan aku belum apa-apa. Perempuan itu lemas di atas tubuhku.
Gus belum keluar?
Belum.
Dia membalikkan badan, telentang, dan memintaku menaiki tubuhnya.
Pelan-pelan ya? katanya sambil mengarahkan penisku ke lubang vaginanya. Aku
menekan penisku. Yu Nem merintih menahan sakit. Dia memintaku pelan-pelan.
Belakangan baru aku tahu, rasa sakit itu dikarenakan dia sudah lama tidak gituan,
sehingga lubang vaginanya seperti menyempit.
Ketika seluruh penisku berada dalam cengkeraman vaginanya, akupun mulai memompa.
Mula-mula dia terlihat pasif. Tetapi lama-lama kurasakan dia kembali terangsang dan
mengimbangiku. Keringatnya bercucuran, menimbulkan aroma yang menyengat. Dalam
kondisi normal mungkin aku muak dengan bau itu. Tetapi di tengah nafsu yang
menjeratku, aku sangat menikmati aroma itu. Bahkan kemudian kuangkat tangannya
sehingga nampak sepasang ketiak yang ditumbuhi bulu yang sangat lebat. Aromanya
benar-benar menyengat tajam. Aku benamkan wajahku ke ketiak itu. Dia menggelinjang
menerima jilatanku. Aku terus menggenjot dengan hebat.
Ohhh Gus Yu Nem ndak tahan lagi.
Beberapa saat kemudian aku mengejang.
Buang di luar Gus. kata Yu Nem. Sepertinya dia tahu apa yang akan terjadi. Nanti Yu
Nem hamil. Buang di perut.
Aku tarik keluar penisku, aku tempelkan di perutnya, dan aku tekan dengan kuat,
merasakan semprotkan maniku. Creettt.crettt.
Aku dipeluknya dengan erat, dan diciumnya wajahku, bibirku, kupingku. Aku jatuh
telentang di sebelahnya. Tanpa kuduga, dia hampiri penisku, dan dihisap-hisapnya sisa-
sisa maniku. Juga sebagian yang ada di perutnya.
Malam itu aku tertidur pulas. Aku terbangun oleh suara Bu Lik, memintaku segera
mandi. Sekilas kulihat wajah Bu Lik menegang. Mungkin kecapekan dari bepergian.
Tetapi memang ada yang ganjil. Suaranya amat berat. Dia seperti menghardikku
Pulang sekolah barulah semuanya terjawab. Yu Nem menyeretku dengan wajah tegang.
Jangan cerita ke Ibu bahwa Gus sama Yu Nem gituan, katanya. Perempuan itu bercerita
bahwa pagi tadi dia dipanggil Bu Lik, diinterograsi. Ditanya kenapa Yu Nem tidur di
kamarku. Mula-mula Yu Nem mengelak. Tapi Bu Lik bilang, bantalku beraroma minyam
cem-ceman. Satu-satunya yang dituduh adalah Yu Nem karena dia yang paling dekat
denganku. Akhirnya Yu Nem mengaku bahwa dia memang tidur di kamarku karena aku
yang minta ditemani. Tidur biasa, tidak ngapa-ngapain.
Bener ya Gus, jangan bilang. Pokoknya jangan ngaku. Wajah Yu Nem benar-benar
tegang. Aku sendiri merasa sangat takut. Takut gagal membohongi Bu Lik.
Malamnya, di kamarku Bu Lik menanyaiku. Karung bantal sudah tak beraroma cem-
ceman lagi. Sudah diganti.
Kenapa Yu Nem tidur di sini tadi malam? tanya Bu Lik.
Saya takut Bu Lik. Sepi sekali tadi malam ndak ada Bu Lik, jawabku berbohong dengan
kecemasan yang seakan hendak membunuhku.
Ndak boleh. Gus ndak boleh tidur dengan pembantu. Ngerti?! Aku mengangguk.
Gituan sama Yu Nem ya? tanyanya. Aku memang sudah menduga akan ditanya begitu.
Tapi tetap saja aku amat takut, berdebar-debar. Ngeri.
Ndak kok Bu Lik. Saya ndak mau to.

Sumpah?
Iya sumpah Bu Lik. Perempuan itu menarik nafas, lalu mencium pipiku.
Bu Lik ndak mau kamu gituan sama perempuan lain. Sama Bu Lik saja. Dia memagut
bibirku. Malam itu aku disetubuhi Bu Lik.
Sejak peristiwa dengan Yu Nem, aku memang sangat ingin mengulangi. Kesempatan
kecil selalu kami gunakan. Kadang-kadang di dalam kamar Yu Nem di tengah malam
buta. Tapi seringnya di gudang, di antara tumpukan karung-karung palawija, dalam
kegelapan. Setelah selesai, kami menyelinap keluar, persis maling

Waktu itu usiaku 23 tahun. Aku duduk di tingkat akhir suatu perguruan tinggi teknik di
kota Bandung. Wajahku ganteng. Badanku tinggi dan tegap, mungkin karena aku selalu
berolahraga seminggu tiga kali. Teman-¬temanku bilang, kalau aku bermobil pasti
banyak cewek yang dengan sukahati menempel padaku. Aku sendiri sudah punya pacar.
Kami pacaran secara serius. Baik orang tuaku maupun orang tuanya sudah setuju kami
nanti menikah. Tempat kos-ku dan tempat kos-nya hanya berjarak sekitar 700 m. Aku
sendiri sudah dipegangi kunci kamar kosnya. Walaupun demikian bukan berarti aku
sudah berpacaran tanpa batas dengannya. Dalam masalah pacaran, kami sudah saling
cium-ciuman, gumul-gumulan, dan remas-remasan. Namun semua itu kami lakukan
dengan masih berpakaian. Toh walaupun hanya begitu, kalau “voltase’-ku sudah amat
tinggi, aku dapat ‘muntah” juga. Dia adalah seorang yang menjaga keperawanan sampai
dengan menikah, karena itu dia tidak mau berhubungan sex sebelum menikah. Aku
menghargai prinsipnya tersebut. Karena aku belum pernah pacaran sebelumnya, maka
sampai saat itu aku belum pernah merasakan memek perempuan.

Pacarku seorang anak bungsu. Kecuali kolokan, dia juga seorang penakut, sehingga
sampai jam 10 malam minta ditemani. Sehabis mandi sore, aku pergi ke kosnya. Sampai
dia berangkat tidur. aku belajar atau menulis tugas akhir dan dia belajar atau mengerjakan
tugas-tugas kuliahnya di ruang tamu. Kamar kos-nya sendiri berukuran cukup besar,
yakni 3mX6m. Kamar sebesar itu disekat dengan triplex menjadi ruang tamu dengan
ukuran 3mX2.5m dan ruang tidur dengan ukuran 3mX3.5m. Lobang pintu di antara
kedua ruang itu hanya ditutup dengan kain korden.

lbu kost-nya mempunyai empat anak, semua perempuan. Semua manis-manis


sebagaimana kebanyakan perempuan Sunda. Anak yang pertama sudah menikah, anak
yang kedua duduk di kelas 3 SMA, anak ketiga kelas I SMA, dan anak bungsu masih di
SMP. Menurut desas-desus yang sampai di telingaku, menikahnya anak pertama adalah
karena hamil duluan. Kemudian anak yang kedua pun sudah mempunyai prestasi. Nama
panggilannya Ika. Dia dikabarkan sudah pernah hamil dengan pacarya, namun
digugurkan. Menurut penilaianku, Ika seorang playgirl. Walaupun sudah punya pacar,
pacarnya kuliah di suatu politeknik, namun dia suka mejeng dan menggoda laki-laki lain
yang kelihatan keren. Kalau aku datang ke kos pacarku, dia pun suka mejeng dan
bersikap genit dalam menyapaku.

lka memang mojang Sunda yang amat aduhai. Usianya akan 18 tahun. Tingginya 160 cm.
Kulitnya berwarna kuning langsat dan kelihatan licin. Badannya kenyal dan berisi.
Pinggangnya ramping. Buah dadanya padat dan besar membusung. Pinggulnya besar,
kecuali melebar dengan indahnya juga pantatnya membusung dengan montoknya. Untuk
gadis seusia dia, mungkin payudara dan pinggul yang sudah terbentuk sedemikian
indahnya karena terbiasa dinaiki dan digumuli oleh pacarnya. Paha dan betisnya bagus
dan mulus. Lehernya jenjang. Matanya bagus. Hidungnya mungil dan sedikit mancung.
Bibirnya mempunyai garis yang sexy dan sensual, sehingga kalau memakai lipstik tidak
perlu membuat garis baru, tinggal mengikuti batas bibir yang sudah ada. Rambutnya lebat
yang dipotong bob dengan indahnya.

Sore itu sehabis mandi aku ke kos pacarku seperti biasanya. Di teras rumah tampak Ika
sedang mengobrol dengan dua orang adiknya. Ika mengenakan baju atas ‘you can see’
dan rok span yang pendek dan ketat sehingga lengan, paha dan betisnya yang mulus itu
dipertontonkan dengan jelasnya.

“Mas Bob, ngapel ke Mbak Dina? Wah… sedang nggak ada tuh. Tadi pergi sama dua
temannya. Katanya mau bikin tugas,” sapa Ika dengan centilnya.

“He… masa?” balasku.

“Iya… Sudah, ngapelin Ika sajalah Mas Bob,” kata Ika dengan senyum menggoda. Edan!
Cewek Sunda satu ini benar-benar menggoda hasrat. Kalau mau mengajak beneran aku
tidak menolak nih, he-he-he…

“Ah, neng Ika macam-macam saja…,” tanggapanku sok menjaga wibawa. “Kak Dai
belum datang?”
Pacar Ika namanya Daniel, namun Ika memanggilnya Kak Dai. Mungkin Dai adalah
panggilan akrab atau panggilan masa kecil si Daniel. Daniel berasal dan Bogor. Dia
ngapeli anak yang masih SMA macam minum obat saja. Dan pulang kuliah sampai
malam hari. Lebih hebat dan aku, dan selama ngapel waktu dia habiskan untuk ngobrol.
Atau kalau setelah waktu isya, dia masuk ke kamar Ika. Kapan dia punya kesempatan
belajar?

“Wah… dua bulan ini saya menjadi singgel lagi. Kak Dai lagi kerja praktek di Riau.
Makanya carikan teman Mas Bob buat menemani Ika dong, biar Ika tidak kesepian…
Tapi yang keren lho,” kata Ika dengan suara yang amat manja. Edan si playgirl Sunda mi.
Dia bukan tipe orang yang ngomong begitu bukan sekedar bercanda, namun tipe orang
yang suka nyerempet-nyerempet hat yang berbahaya.

“Neng Ika ini… Nanti Kak Dainya ngamuk dong.”

“Kak Dai kan tidak akan tahu…”

Aku kembali memaki dalam hati. Perempuan Sunda macam Ika ini memang enak
ditiduri. Enak digenjot dan dinikmati kekenyalan bagian-bagian tubuhnya.

Aku mengeluarkan kunci dan membuka pintu kamar kos Dina. Di atas meja pendek di
ruang tamu ada sehelai memo dari Dina. Sambil membuka jendela ruang depan dan ruang
tidur, kubaca isi memo tadi. ‘Mas Bobby, gue ngerjain tugas kelompok bersama Niken
dan Wiwin. Tugasnya banyak, jadi gue malam ini tidak pulang. Gue tidur di rumah
Wiwin. Di kulkas ada jeruk, ambil saja. Soen sayang, Dina’

Aku mengambil bukuku yang sehari-harinya kutinggal di tempat kos Di. Sambil
menyetel radio dengan suara perlahan, aku mulai membaca buku itu. Biarlah aku belajar
di situ sampai jam sepuluh malam.

Sedang asyik belajar, sekitar jam setengah sembilan malam pintu diketok dan luar. Tok-
tok-tok…

Kusingkapkan korden jendela ruang tamu yang telah kututup pada jam delapan malam
tadi, sesuai dengan kebiasaan pacarku. Sepertinya Ika yang berdiri di depan pintu.

“Mbak Di… Mbak Dina…,” terdengar suara Ika memanggil-manggil dan luar. Aku
membuka pintu.

“Mbak Dina sudah pulang?” tanya Ika.

“Belum. Hari ini Dina tidak pulang. Tidur di rumah temannya karena banyak tugas. Ada
apa?”

“Mau pinjam kalkulator, mas Bob. Sebentar saja. Buat bikin pe-er.”
“Ng… bolehlah. Pakai kalkulatorku saja, asal cepat kembali.”

“Beres deh mas Bob. Ika berjanji,” kata Ika dengan genit. Bibirnya tersenyum manis, dan
pandang matanya menggoda menggemaskan.

Kuberikan kalkulatorku pada Ika. Ketika berbalik, kutatap tajam-tajam tubuhnya yang
aduhai. Pinggulnya yang melebar dan montok itu menggial ke kiri-kanan, seolah
menantang diriku untuk meremas¬-remasnya. Sialan! Kontholku jadi berdiri. Si ‘boy-ku
ini responsif sekali kalau ada cewek cakep yang enak digenjot.

Sepeninggal Ika, sesaat aku tidak dapat berkonsentrasi. Namun kemudian kuusir pikiran
yang tidak-tidak itu. Kuteruskan kembali membaca textbook yang menunjang penulisan
tugas sarjana itu.

Tok-tok-tok! Baru sekitar limabelas menit pintu kembali diketok.

“Mas Bob… Mas Bob…,” terdengar Ika memanggil lirih.

Pintu kubuka. Mendadak kontholku mengeras lagi. Di depan pintu berdiri Ika dengan
senyum genitnya. Bajunya bukan atasan ‘you can see’ yang dipakai sebelumnya. Dia
menggunakan baju yang hanya setinggi separuh dada dengan ikatan tali ke pundaknya.
Baju tersebut berwarna kuning muda dan berbahan mengkilat. Dadanya tampak
membusung dengan gagahnya, yang ujungnya menonjol dengan tajam dan batik bajunya.
Sepertinya dia tidak memakai BH. Juga, bau harum sekarang terpancar dan tubuhnya.
Tadi, bau parfum harum semacam ini tidak tercium sama sekali, berarti datang yang kali
ini si Ika menyempatkan diri memakai parfum. Kali ini bibirnya pun dipolesi lipstik pink.

“Ini kalkulatornya, Mas Bob,” kata Ika manja, membuyarkan keterpanaanku.

“Sudah selesai. Neng Ika?” tanyaku basa-basi.

“Sudah Mas Bob, namun boleh Ika minta diajari Matematika?”

“0, boleh saja kalau sekiranya bisa.”

Tanpa kupersilakan Ika menyelonong masuk dan membuka buku matematika di atas
meja tamu yang rendah. Ruang tamu kamar kos pacarku itu tanpa kursi. Hanya digelari
karpet tebal dan sebuah meja pendek dengan di salah satu sisinya terpasang rak buku.
Aku pun duduk di hadapannya, sementara pintu masuk tertutup dengan sendirinya
dengan perlahan. Memang pintu kamar kos pacarku kalau mau disengaja terbuka harus
diganjal potongan kayu kecil.

“Ini mas Bob, Ika ada soal tentang bunga majemuk yang tidak tahu cara
penyelesaiannya.” Ika mencari-cari halaman buku yang akan ditanyakannya.
Menunggu halaman itu ditemukan, mataku mencari kesempatan melihat ke dadanya.
Amboi! Benar, Ika tidak memakai bra. Dalam posisi agak menunduk, kedua gundukan
payudaranya kelihatan sangat jelas. Sungguh padat, mulus, dan indah. Kontholku terasa
mengeras dan sedikit berdenyut-denyut.

Halaman yang dicari ketemu. Ika dengan centilnya membaca soal tersebut. Soalnya
cukup mudah. Aku menerangkan sedikit dan memberitahu rumusnya, kemudian Ika
menghitungnya. Sambil menunggu Ika menghitung, mataku mencuri pandang ke buah
dada Ika. Uhhh… ranum dan segarnya.

“Kok sepi? Mamah, Ema, dan Nur sudah tidur?” tanyaku sambil menelan ludah. Kalau
bapaknya tidak aku tanyakan karena dia bekerja di Cirebon yang pulangnya setiap akhir
pekan.

“Sudah. Mamah sudah tidur jam setengah delapan tadi. Kemudian Erna dan Nur
berangkat tidur waktu Ika bermain-main kalkulator tadi,” jawab Ika dengan tatapan mata
yang menggoda.

Hasratku mulai naik. Kenapa tidak kusetubuhi saja si Ika. Mumpung sepi. Orang-orang di
rumahnya sudah tidur. Kamar kos sebelah sudah sepi dan sudah mati lampunya. Berarti
penghuninya juga sudah tidur. Kalau kupaksa dia meladeni hasratku, tenaganya tidak
akan berarti dalam melawanku. Tetapi mengapa dia akan melawanku? jangan-jangan dia
ke sini justru ingin bersetubuh denganku. Soal tanya Matematika, itu hanya sebagai
atasan saja. Bukankah dia menyempatkan ganti baju, dari atasan you can see ke atasan
yang memamerkan separuh payudaranya? Bukankah dia datang lagi dengan
menyempatkan tidak memakai bra? Bukankah dia datang lagi dengan menyempatkan
memakai parfum dan lipstik? Apa lagi artinya kalau tidak menyodorkan din?

Tiba-tiba Ika bangkit dan duduk di sebelah kananku.

“Mas Bob… ini benar nggak?” tanya Ika.

Ada kekeliruan di tengah jalan saat Ika menghitung. Antara konsentrasi dan menahan
nafsu yang tengah berkecamuk, aku mengambil pensil dan menjelaskan kekeliruannya.
Tiba-tiba Ika lebih mendekat ke arahku, seolah mau memperhatikan hal yang kujelaskan
dan jarak yang lebih dekat. Akibatnya… gumpalan daging yang membusung di dadanya
itu menekan lengan tangan kananku. Terasa hangat dan lunak, namun ketika dia lebih
menekanku terasa lebih kenyal.

Dengan sengaja lenganku kutekankan ke payudaranya.

“Ih… Mas Bob nakal deh tangannya,” katanya sambil merengut manja. Dia pura-pura
menjauh.

“Lho, yang salah kan Neng Ika duluan. Buah dadanya menyodok-nyodok lenganku,”
jawabku.
lka cemberut. Dia mengambil buku dan kembali duduk di hadapanku. Dia terlihat
kembali membetulkan yang kesalahan, namun menurut perasaanku itu hanya berpura-
pura saja. Aku merasa semakin ditantang. Kenapa aku tidak berani? Memangnya aku
impoten? Dia sudah berani datang ke sini malam-malam sendirian. Dia menyempatkan
pakai parfum. Dia sengaja memakai baju atasan yang memamerkan gundukan payudara.
Dia sengaja tidak pakai bra. Artinya, dia sudah mempersilakan diriku untuk menikmati
kemolekan tubuhnya. Tinggal aku yang jadi penentunya, mau menyia-siakan kesempatan
yang dia berikan atau memanfaatkannya. Kalau aku menyia-siakan berarti aku band!

Aku pun bangkit. Aku berdiri di atas lutut dan mendekatinya dari belakang. Aku pura-
pura mengawasi dia dalam mengerjakan soal. Padahal mataku mengawasi tubuhnya dari
belakang. Kulit punggung dan lengannya benar-benar mulus, tanpa goresan sedikitpun.
Karena padat tubuhnya, kulit yang kuning langsat itu tampak licin mengkilap walaupun
ditumbuhi oleh bulu-bulu rambut yang halus.

Kemudian aku menempelkan kontholku yang menegang ke punggungnya. Ika sedikit


terkejut ketika merasa ada yang menempel punggungnya.

“Ih… Mas Bob jangan begitu dong…,” kata Ika manja.

“Sudah… udah-udah… Aku sekedar mengawasi pekerjaan Neng Ika,” jawabku.

lka cemberut. Namun dengan cemberut begitu, bibir yang sensual itu malah tampak
menggemaskan. Sungguh sedap sekali bila dikulum-kulum dan dilumat-lumat. Ika
berpura-pura meneruskan pekerjaannya. Aku semakin berani. Kontholku kutekankan ke
punggungnya yang kenyal. Ika menggelinjang. Tidak tahan lagi. tubuh Ika kurengkuh
dan kurebahkan di atas karpet. Bibirnya kulumat-lumat, sementara kulit punggungnya
kuremas-remas. Bibir Ika mengadakan perlawanan, mengimbangi kuluman-¬kuluman
bibirku yang diselingi dengan permainan lidahnya. Terlihat bahkan dalam masalah
ciuman Ika yang masih kelas tiga SMA sudah sangat mahir. Bahkan mengalahkan
kemahiranku.

Beberapa saat kemudian ciumanku berpindah ke lehernya yang jenjang. Bau harum
terpancar dan kulitnya. Sambil kusedot-sedot kulit lehernya dengan hidungku, tanganku
berpindah ke buah dadanya. Buah dada yang tidak dilindungi bra itu terasa kenyal dalam
remasan tanganku. Kadang-kadang dan batik kain licin baju atasannya, putingnya
kutekan-tekan dan kupelintir-pelintir dengan jari-jari tanganku. Puting itu terasa
mengeras.

“Mas Bob Mas Bob buka baju saja Mas Bob…,” rintih Ika. Tanpa menunggu
persetujuanku, jari-jari tangannya membuka Ikat pinggang dan ritsleteng celanaku. Aku
mengimbangi, tall baju atasannya kulepas dan baju tersebut kubebaskan dan tubuhnya.
Aku terpana melihat kemulusan tubuh atasnya tanpa penutup sehelai kain pun. Buah
dadanya yang padat membusung dengan indahnya. Ditimpa sinar lampu neon ruang
tamu, payudaranya kelihatan amat mulus dan licin. Putingnya berdiri tegak di ujung
gumpalan payudara. Putingnya berwarna pink kecoklat-coklatan, sementara puncak bukit
payudara di sekitarnya berwarna coklat tua dan sedikit menggembung dibanding dengan
permukaan kulit payudaranya.

Celana panjang yang sudah dibuka oleh Ika kulepas dengan segera. Menyusul. kemeja
dan kaos singlet kulepas dan tubuhku. Kini aku cuma tertutup oleh celana dalamku,
sementara Ika tertutup oleh rok span ketat yang mempertontonkan bentuk pinggangnya
yang ramping dan bentuk pinggulnya yang melebar dengan bagusnya. Ika pun
melepaskan rok spannya itu, sehingga pinggul yang indah itu kini hanya terbungkus
celana dalam minim yang tipis dan berwarna pink. Di daerah bawah perutnya, celana
dalam itu tidak mampu menyembunyikan warna hitam dari jembut lebat Ika yang
terbungkus di dalamnya. Juga, beberapa helai jembut Ika tampak keluar dan lobang
celana dalamnya.

lka memandangi dadaku yang bidang. Kemudian dia memandang ke arah kontholku yang
besar dan panjang, yang menonjol dari balik celana dalamku. Pandangan matanya
memancarkan nafsu yang sudah menggelegak. Perlahan aku mendekatkan badanku ke
badannya yang sudah terbaring pasrah. Kupeluk tubuhnya sambil mengulum kembali
bibirnya yang hangat. Ika pun mengimbanginya. Dia memeluk leherku sambil membalas
kuluman di bibirnya. Payudaranya pun menekan dadaku. Payudara itu terasa kenyal dan
lembut. Putingnya yang mengeras terasa benar menekan dadaku. Aku dan Ika saling
mengulum bibir, saling menekankan dada, dan saling meremas kulit punggung dengan
penuh nafsu.

Ciumanku berpindah ke leher Ika. Leher mulus yang memancarkan keharuman parfum
yang segar itu kugumuli dengan bibir dan hidungku. Ika mendongakkan dagunya agar
aku dapat menciumi segenap pori-pori kulit lehernya.

“Ahhh… Mas Bob… Ika sudah menginginkannya dan kemarin… Gelutilah tubuh Ika…
puasin Ika ya Mas Bob…,” bisik Ika terpatah-patah.

Aku menyambutnya dengan penuh antusias. Kini wajahku bergerak ke arah payudaranya.
Payudaranya begitu menggembung dan padat. namun berkulit lembut. Bau keharuman
yang segar terpancar dan pori-porinya. Agaknya Ika tadi sengaja memakai parfum di
sekujur payudaranya sebelum datang ke sini. Aku menghirup kuat-kuat lembah di antara
kedua bukit payudaranya itu. Kemudian wajahku kugesek-gesekkan di kedua bukit
payudara itu secara bergantian, sambil hidungku terus menghirup keharuman yang
terpancar dan kulit payudara. Puncak bukit payudara kanannya pun kulahap dalam
mulutku. Kusedot kuat-kuat payudara itu sehingga daging yang masuk ke dalam mulutku
menjadi sebesar-besarnya. Ika menggelinjang.

“Mas Bob… ngilu… ngilu…,” rintih Ika.

Gelinjang dan rintihan Ika itu semakin membangkitkan hasratku. Kuremas bukit
payudara sebelah kirinya dengan gemasnya, sementara puting payudara kanannya
kumainkan dengan ujung lidahku. Puting itu kadang kugencet dengan tekanan ujung
lidah dengan gigi. Kemudian secara mendadak kusedot kembali payudara kanan itu kuat-
kuat. sementara jari tanganku menekan dan memelintir puting payudara kirinya. Ika
semakin menggelinjang-gelinjang seperti ikan belut yang memburu makanan sambil
mulutnya mendesah-desah.

“Aduh mas Booob… ssshh… ssshhh… ngilu mas Booob… ssshhh… geli… geli…,”
cuma kata-kata itu yang berulang-ulang keluar dan mulutnya yang merangsang.

Aku tidak puas dengan hanya menggeluti payudara kanannya. Kini mulutku berganti
menggeluti payudara kiri. sementara tanganku meremas-remas payudara kanannya kuat-
kuat. Kalau payudara kirinya kusedot kuat-kuat. tanganku memijit-mijit dan memelintir-
pelintir puting payudara kanannya. Sedang bila gigi dan ujung lidahku menekan-nekan
puting payudara kiri, tanganku meremas sebesar-besarnya payudara kanannya dengan
sekuat-kuatnya.

“Mas Booob… kamu nakal…. ssshhh… ssshhh… ngilu mas Booob… geli…” Ika tidak
henti-hentinya menggelinjang dan mendesah manja.

Setelah puas dengan payudara, aku meneruskan permainan lidah ke arah perut Ika yang
rata dan berkulit amat mulus itu. Mulutku berhenti di daerah pusarnya. Aku pun
berkonsentrasi mengecupi bagian pusarnya. Sementara kedua telapak tanganku
menyusup ke belakang dan meremas-remas pantatnya yang melebar dan menggembung
padat. Kedua tanganku menyelip ke dalam celana yang melindungi pantatnya itu.
Perlahan¬-lahan celana dalamnya kupelorotkan ke bawah. Ika sedikit mengangkat
pantatnya untuk memberi kemudahan celana dalamnya lepas. Dan dengan sekali sentakan
kakinya, celana dalamnya sudah terlempar ke bawah.

Saat berikutnya, terhamparlah pemandangan yang luar biasa merangsangnya. Jembut Ika
sungguh lebat dan subur sekali. Jembut itu mengitari bibir memek yang berwarna coklat
tua. Sambil kembali menciumi kulit perut di sekitar pusarnya, tanganku mengelus-elus
pahanya yang berkulit licin dan mulus. Elusanku pun ke arah dalam dan merangkak naik.
Sampailah jari-jari tanganku di tepi kiri-kanan bibir luar memeknya. Tanganku pun
mengelus-elus memeknya dengan dua jariku bergerak dan bawah ke atas. Dengan mata
terpejam, Ika berinisiatif meremas-remas payudaranya sendiri. Tampak jelas kalau Ika
sangat menikmati permainan ini.

Perlahan kusibak bibir memek Ika dengan ibu jari dan telunjukku mengarah ke atas
sampai kelentitnya menongol keluar. Wajahku bergerak ke memeknya, sementara
tanganku kembali memegangi payudaranya. Kujilati kelentit Ika perlahan-lahan dengan
jilatan-jilatan pendek dan terputus-putus sambil satu tanganku mempermainkan puting
payudaranya.

“Au Mas Bob… shhhhh… betul… betul di situ mas Bob… di situ… enak mas…
shhhh…,” Ika mendesah-desah sambil matanya merem-melek. Bulu alisnya yang tebal
dan indah bergerak ke atas-bawah mengimbangi gerakan merem-meleknya mata.
Keningnya pun berkerut pertanda dia sedang mengalami kenikmatan yang semakin
meninggi.
Aku meneruskan permainan lidah dengan melakukan jilatan-jilatan panjang dan lubang
anus sampai ke kelentitnya.

Karena gerakan ujung hidungku pun secara berkala menyentuh memek Ika. Terasa benar
bahkan dinding vaginanya mulai basah. Bahkan sebagian cairan vaginanya mulai
mengalir hingga mencapai lubang anusnya. Sesekali pinggulnya bergetar. Di saat
bergetar itu pinggulnya yang padat dan amat mulus kuremas kuat-kuat sambil ujung
hidungku kutusukkan ke lobang memeknya.

“Mas Booob… enak sekali mas Bob…,” Ika mengerang dengan kerasnya. Aku segera
memfokuskan jilatan-jilatan lidah serta tusukan-tusukan ujung hidung di vaginanya.
Semakin lama vagina itu semakin basah saja. Dua jari tanganku lalu kumasukkan ke
lobang memeknya. Setelah masuk hampir semuanya, jari kubengkokkan ke arah atas
dengan tekanan yang cukup terasa agar kena ‘G-spot’-nya. Dan berhasil!

“Auwww… mas Bob…!” jerit Ika sambil menyentakkan pantat ke atas. sampai-sampai
jari tangan yang sudah terbenam di dalam memek terlepas. Perut bawahnya yang
ditumbuhi bulu-bulu jembut hitam yang lebat itu pun menghantam ke wajahku. Bau
harum dan bau khas cairan vaginanya merasuk ke sel-sel syaraf penciumanku.

Aku segera memasukkan kembali dua jariku ke dalam vagina Ika dan melakukan gerakan
yang sama. Kali ini aku mengimbangi gerakan jariku dengan permainan lidah di kelentit
Ika. Kelentit itu tampak semakin menonjol sehingga gampang bagiku untuk menjilat dan
mengisapnya. Ketika kelentit itu aku gelitiki dengan lidah serta kuisap-isap perlahan, Ika
semakin keras merintih-rintih bagaikan orang yang sedang mengalami sakit demam.
Sementara pinggulnya yang amat aduhai itu menggial ke kiri-kanan dengan sangat
merangsangnya.

“Mas Bob… mas Bob… mas Bob…,” hanya kata-kata itu yang dapat diucapkan Ika
karena menahan kenikmatan yang semakin menjadi-jadi.

Permainan jari-jariku dan lidahku di memeknya semakin bertambah ganas. Ika sambil
mengerang¬-erang dan menggeliat-geliat meremas apa saja yang dapat dia raih. Meremas
rambut kepalaku, meremas bahuku, dan meremas payudaranya sendiri.

“Mas Bob… Ika sudah tidak tahan lagi… Masukin konthol saja mas Bob… Ohhh…
sekarang juga mas Bob…! Sshhh. . . ,“ erangnya sambil menahan nafsu yang sudah
menguasai segenap tubuhnya.

Namun aku tidak perduli. Kusengaja untuk mempermainkan Ika terlebih dahulu. Aku
mau membuatnya orgasme, sementara aku masih segar bugar. Karena itu lidah dan
wajahku kujauhkan dan memeknya. Kemudian kocokan dua jari tanganku di dalam
memeknya semakin kupercepat. Gerakan jari tanganku yang di dalam memeknya ke atas-
bawah, sampai terasa ujung jariku menghentak-hentak dinding atasnya secara perlahan-
lahan. Sementara ibu jariku mengusap-usap dan menghentak-hentak kelentitnya. Gerakan
jari tanganku di memeknya yang basah itu sampai menimbulkan suara crrk-crrrk-crrrk-
crrk crrrk… Sementara dan mulut Ika keluar pekikan-pekikan kecil yang terputus-putus:

“Ah-ah-ah-ah-ah…”

Sementara aku semakin memperdahsyat kocokan jari-jariku di memeknya, sambil


memandangi wajahnya. Mata Ika merem-melek, sementara keningnya berkerut-kerut.

Crrrk! Crrrk! Crrek! Crek! Crek! Crok! Crok! Suara yang keluar dan kocokan jariku di
memeknya semakin terdengar keras. Aku mempertahankan kocokan tersebut. Dua menit
sudah si Ika mampu bertahan sambil mengeluarkan jeritan-jeritan yang membangkitkan
nafsu. Payudaranya tampak semakin kencang dan licin, sedang putingnya tampak berdiri
dengan tegangnya.

Sampai akhirnya tubuh Ika mengejang hebat. Pantatnya terangkat tinggi-tinggi. Matanya
membeliak-¬beliak. Dan bibirnya yang sensual itu keluar jeritan hebat, “Mas Booo00oob
…!“ Dua jariku yang tertanam di dalam vagina Ika terasa dijepit oleh dindingnya dengan
kuatnya. Seiring dengan keluar masuknya jariku dalam vaginanya, dan sela-sela celah
antara tanganku dengan bibir memeknya terpancarlah semprotan cairan vaginanya
dengan kuatnya. Prut! Prut! Pruttt! Semprotan cairan tersebut sampai mencapai
pergelangan tanganku.

Beberapa detik kemudian Ika terbaring lemas di atas karpet. Matanya memejam rapat.
Tampaknya dia baru saja mengalami orgasme yang begitu hebat. Kocokan jari tanganku
di vaginanya pun kuhentikan. Kubiarkan jari tertanam dalam vaginanya sampai jepitan
dinding vaginanya terasa lemah. Setelah lemah. jari tangan kucabut dan memeknya.
Cairan vagina yang terkumpul di telapak tanganku pun kubersihkan dengan kertas tissue.

Ketegangan kontholku belum juga mau berkurang. Apalagi tubuh telanjang Ika yang
terbaring diam di hadapanku itu benar-benar aduhai. seolah menantang diriku untuk
membuktikan kejantananku pada tubuh mulusnya. Aku pun mulai menindih kembali
tubuh Ika, sehingga kontholku yang masih di dalam celana dalam tergencet oleh perut
bawahku dan perut bawahnya dengan enaknya. Sementara bibirku mengulum-kulum
kembali bibir hangat Ika, sambil tanganku meremas-remas payudara dan
mempermainkan putingnya. Ika kembali membuka mata dan mengimbangi serangan
bibirku. Tubuhnya kembali menggelinjang-gelinjang karena menahan rasa geli dan ngilu
di payudaranya.

Setelah puas melumat-lumat bibir. wajahku pun menyusuri leher Ika yang mulus dan
harum hingga akhirnya mencapai belahan dadanya. Wajahku kemudian menggeluti
belahan payudaranya yang berkulit lembut dan halus, sementara kedua tanganku
meremas-remas kedua belah payudaranya. Segala kelembutan dan keharuman belahan
dada itu kukecupi dengan bibirku. Segala keharuman yang terpancar dan belahan
payudara itu kuhirup kuat-kuat dengan hidungku, seolah tidak rela apabila ada
keharuman yang terlewatkan sedikitpun.
Kugesek-gesekkan memutar wajahku di belahan payudara itu. Kemudian bibirku
bergerak ke atas bukit payudara sebelah kiri. Kuciumi bukit payudara yang membusung
dengan gagahnya itu. Dan kumasukkan puting payudara di atasnya ke dalam mulutku.
Kini aku menyedot-sedot puting payudara kiri Ika. Kumainkan puting di dalam mulutku
itu dengan lidahku. Sedotan kadang kuperbesar ke puncak bukit payudara di sekitar
puting yang berwarna coklat.

“Ah… ah… mas Bob… geli… geli …,“ mulut indah Ika mendesis-desis sambil
menggeliatkan tubuh ke kiri-kanan. bagaikan desisan ular kelaparan yang sedang mencari
mangsa.

Aku memperkuat sedotanku. Sementara tanganku meremas-remas payudara kanan Ika


yang montok dan kenyal itu. Kadang remasan kuperkuat dan kuperkecil menuju puncak
bukitnya, dan kuakhiri dengan tekanan-tekanan kecil jari telunjuk dan ibu jariku pada
putingnya.

“Mas Bob… hhh… geli… geli… enak… enak… ngilu… ngilu…”

Aku semakin gemas. Payudara aduhai Ika itu kumainkan secara bergantian, antara
sebelah kiri dan sebelah kanan. Bukit payudara kadang kusedot besarnya-besarnya
dengan tenaga isap sekuat-kuatnya, kadang yang kusedot hanya putingnya dan kucepit
dengan gigi atas dan lidah. Belahan lain kadang kuremas dengan daerah tangkap sebesar-
besarnya dengan remasan sekuat-kuatnya, kadang hanya kupijit-pijit dan kupelintir-
pelintir kecil puting yang mencuat gagah di puncaknya.

“Ah… mas Bob… terus mas Bob… terus… hzzz… ngilu… ngilu…” Ika mendesis-desis
keenakan. Hasratnya tampak sudah kembali tinggi. Matanya kadang terbeliak-beliak.
Geliatan tubuhnya ke kanan-kini semakin sening fnekuensinya.

Sampai akhirnya Ika tidak kuat mehayani senangan-senangan keduaku. Dia dengan
gerakan eepat memehorotkan celana dalamku hingga tunun ke paha. Aku memaklumi
maksudnya, segera kulepas eelana dalamku. Jan-jari tangan kanan Ika yang mulus dan
lembut kemudian menangkap kontholku yang sudah berdiri dengan gagahnya. Sejenak
dia memperlihatkan rasa terkejut.

“Edan… mas Bob, edan… Kontholmu besar sekali… Konthol pacan-pacanku dahulu dan
juga konthol kak Dai tidak sampai sebesar in Edan… edan…,” ucapnya terkagum-
kagum. Sambil membiankan mulut, wajah, dan tanganku terus memainkan dan
menggeluti kedua belah payudaranya, jan-jari lentik tangan kanannya meremas¬remas
perlahan kontholku secara berirama, seolah berusaha mencari kehangatan dan
kenikmatan di hiatnya menana kejantananku. Remasannya itu mempenhebat vohtase dam
rasa nikmat pada batang kontholku.

“Mas Bob. kita main di atas kasur saja…,” ajak Ika dengan sinar mata yang sudah
dikuasai nafsu binahi.
Aku pun membopong tubuh telanjang Ika ke ruang dalam, dan membaringkannya di atas
tempat tidun pacarku. Ranjang pacarku ini amat pendek, dasan kasurnya hanya terangkat
sekitar 6 centimeter dari lantai. Ketika kubopong. Ika tidak mau melepaskan tangannya
dari leherku. Bahkan, begitu tubuhnya menyentuh kasur, tangannya menanik wajahku
mendekat ke wajahnya. Tak ayal lagi, bibirnya yang pink menekan itu melumat bibirku
dengan ganasnya. Aku pun tidak mau mengalah. Kulumat bibirnya dengan penuh nafsu
yang menggelora, sementara tanganku mendekap tubuhnya dengan kuatnya. Kuhit
punggungnya yang halus mulus kuremas-remas dengan gemasnya.

Kemudian aku menindih tubuh Ika. Kontholku terjepit di antara pangkal pahanya yang
mulus dan perut bawahku sendiri. Kehangatan kulit pahanya mengalir ke batang
kontholku yang tegang dan keras. Bibirku kemudian melepaskan bibir sensual Ika.
Kecupan bibirku pun turun. Kukecup dagu Ika yang bagus. Kukecup leher jenjang Ika
yang memancarkan bau wangi dan segarnya parfum yang dia pakai. Kuciumi dan
kugeluti leher indah itu dengan wajahku, sementara pantatku mulai bergerak aktif
sehingga kontholku menekan dan menggesek-gesek paha Ika. Gesekan di kulit paha yang
licin itu membuat batang kontholku bagai diplirit-plirit. Kepala kontholku merasa geli-
geli enak oleh gesekan-gesekan paha Ika.

Puas menggeluti leher indah, wajahku pun turun ke buah dada montok Ika. Dengan
gemas dan ganasnya aku membenamkan wajahku ke belahan dadanya, sementara kedua
tanganku meraup kedua belah payudaranya dan menekannya ke arah wajahku.
Keharuman payudaranya kuhirup sepuas-puasku. Belum puas dengan menyungsep ke
belahan dadanya, wajahku kini menggesek-gesek memutar sehingga kedua gunung
payudaranya tertekan-tekan oleh wajahku secara bergantian. Sungguh sedap sekali
rasanya ketika hidungku menyentuh dan menghirup dalam-dalam daging payudara yang
besar dan kenyal itu. Kemudian bibirku meraup puncak bukit payudara kiri Ika. Daerah
payudara yang kecoklat-coklatan beserta putingnya yang pink kecoklat-coklatan itu pun
masuk dalam mulutku. Kulahap ujung payudara dan putingnya itu dengan bernafsunya,
tak ubahnya seperti bayi yang menetek susu setelah kelaparan selama seharian. Di dalam
mulutku, puting itu kukulum-kulum dan kumainkan dengan lidahku.

“Mas Bob… geli… geli …,“ kata Ika kegelian.

Aku tidak perduli. Aku terus mengulum-kulum puncak bukit payudara Ika. Putingnya
terasa di lidahku menjadi keras. Kemudian aku kembali melahap puncak bukit payudara
itu sebesar-besarnya. Apa yang masuk dalam mulutku kusedot sekuat-kuatnya.
Sementara payudara sebelah kanannya kuremas sekuat-kuatnya

dengan tanganku. Hal tersebut kulakukan secara bergantian antara payudara kiri dan
payudara kanan Ika. Sementara kontholku semakin menekan dan menggesek-gesek
dengan beriramanya di kulit pahanya. Ika semakin menggelinjang-gelinjang dengan
hebatnya.

“Mas Bob… mas Bob… ngilu… ngilu… hihhh… nakal sekali tangan dan mulutmu…
Auw! Sssh… ngilu… ngilu…,” rintih Ika. Rintihannya itu justru semakin mengipasi api
nafsuku. Api nafsuku semakin berkobar-kobar. Semakin ganas aku mengisap-isap dan
meremas-remas payudara montoknya. Sementara kontholku berdenyut-denyut keenakan
merasakan hangat dan licinnya paha Ika.

Akhirnya aku tidak sabar lagi. Kulepaskan payudara montok Ika dari gelutan mulut dan
tanganku. Bibirku kini berpindah menciumi dagu dan lehernya, sementara tanganku
membimbing kontholku untuk mencari liang memeknya. Kuputar-putarkan dahulu kepala
kontholku di kelebatan jembut di sekitar bibir memek Ika. Bulu-bulu jembut itu bagaikan
menggelitiki kepala kontholku. Kepala kontholku pun kegelian. Geli tetapi enak.

“Mas Bob… masukkan seluruhnya mas Bob… masukkan seluruhnya… Mas Bob belum
pernah merasakan memek Mbak Dina kan? Mbak Dina orang kuno… tidak mau
merasakan konthol sebelum nikah. Padahal itu surga dunia… bagai terhempas langit ke
langit ketujuh. mas Bob…”

Jan-jari tangan Ika yang lentik meraih batang kontholku yang sudah amat tegang.
Pahanya yang mulus itu dia buka agak lebar.

“Edan… edan… kontholmu besar dan keras sekali, mas Bob…,” katanya sambil
mengarahkan kepala kontholku ke lobang memeknya.

Sesaat kemudian kepala kontholku menyentuh bibir memeknya yang sudah basah.
Kemudian dengan perlahan-lahan dan sambil kugetarkan, konthol kutekankan masuk ke
liang memek. Kini seluruh kepala kontholku pun terbenam di dalam memek. Daging
hangat berlendir kini terasa mengulum kepala kontholku dengan enaknya.

Aku menghentikan gerak masuk kontholku.

“Mas Bob… teruskan masuk, Bob… Sssh… enak… jangan berhenti sampai situ saja…,”
Ika protes atas tindakanku. Namun aku tidak perduli. Kubiarkan kontholku hanya masuk
ke lobang memeknya hanya sebatas kepalanya saja, namun kontholku kugetarkan dengan
amplituda kecil. Sementara bibir dan hidungku dengan ganasnya menggeluti lehernya
yang jenjang, lengan tangannya yang harum dan mulus, dari ketiaknya yang bersih dari
bulu ketiak. Ika menggelinjang-gelinjang dengan tidak karuan.

“Sssh… sssh… enak… enak… geli… geli, mas Bob. Geli… Terus masuk, mas Bob…”

Bibirku mengulum kulit lengan tangannya dengan kuat-kuat. Sementara gerakan


kukonsentrasikan pada pinggulku. Dan… satu… dua… tiga! Kontholku kutusukkan
sedalam-dalamnya ke dalam memek Ika dengan sangat cepat dan kuatnya. Plak! Pangkal
pahaku beradu dengan pangkal pahanya yang mulus yang sedang dalam posisi agak
membuka dengan kerasnya. Sementara kulit batang kontholku bagaikan diplirit oleh bibir
dan daging lobang memeknya yang sudah basah dengan kuatnya sampai menimbulkan
bunyi: srrrt!

“Auwww!” pekik Ika.


Aku diam sesaat, membiarkan kontholku tertanam seluruhnya di dalam memek Ika tanpa
bergerak sedikit pun.

“Sakit mas Bob… Nakal sekali kamu… nakal sekali kamu….” kata Ika sambil tangannya
meremas punggungku dengan kerasnya.

Aku pun mulai menggerakkan kontholku keluar-masuk memek Ika. Aku tidak tahu,
apakah kontholku yang berukuran panjang dan besar ataukah lubang memek Ika yang
berukuran kecil. Yang saya tahu, seluruh bagian kontholku yang masuk memeknya serasa
dipijit-pijit dinding lobang memeknya dengan agak kuatnya. Pijitan dinding memek itu
memberi rasa hangat dan nikmat pada batang kontholku.

“Bagaimana Ika, sakit?” tanyaku

“Sssh… enak sekali… enak sekali… Barangmu besar dan panjang sekali… sampai-
sampai menyumpal penuh seluruh penjuru lobang memekku…,” jawab Ika.

Aku terus memompa memek Ika dengan kontholku perlahan-lahan. Payudara kenyalnya
yang menempel di dadaku ikut terpilin-pilin oleh dadaku akibat gerakan memompa tadi.
Kedua putingnya yang sudah mengeras seakan-akan mengkilik-kilik dadaku yang bidang.
Kehangatan payudaranya yang montok itu mulai terasa mengalir ke dadaku. Kontholku
serasa diremas-remas dengan berirama oleh otot-otot memeknya sejalan dengan
genjotanku tersebut. Terasa hangat dan enak sekali. Sementara setiap kali menusuk
masuk kepala kontholku menyentuh suatu daging hangat di dalam memek Ika. Sentuhan
tersebut serasa menggelitiki kepala konthol sehingga aku merasa sedikit kegelian. Geli-
geli nikmat.

Kemudian aku mengambil kedua kakinya yang kuning langsat mulus dan
mengangkatnya. Sambil menjaga agar kontholku tidak tercabut dari lobang memeknya,
aku mengambil posisi agak jongkok. Betis kanan Ika kutumpangkan di atas bahuku,
sementara betis kirinya kudekatkan ke wajahku. Sambil terus mengocok memeknya
perlahan dengan kontholku, betis kirinya yang amat indah itu kuciumi dan kukecupi
dengan gemasnya. Setelah puas dengan betis kiri, ganti betis kanannya yang kuciumi dan
kugeluti, sementara betis kirinya kutumpangkan ke atas bahuku. Begitu hal tersebut
kulakukan beberapa kali secara bergantian, sambil mempertahankan rasa nikmat di
kontholku dengan mempertahankan gerakan maju-mundur perlahannya di memek Ika.

Setelah puas dengan cara tersebut, aku meletakkan kedua betisnya di bahuku, sementara
kedua telapak tanganku meraup kedua belah payudaranya. Masih dengan kocokan
konthol perlahan di memeknya, tanganku meremas-remas payudara montok Ika. Kedua
gumpalan daging kenyal itu kuremas kuat-kuat secara berirama. Kadang kedua putingnya
kugencet dan kupelintir-pelintir secara perlahan. Puting itu semakin mengeras, dan bukit
payudara itu semakin terasa kenyal di telapak tanganku. Ika pun merintih-rintih
keenakan. Matanya merem-melek, dan alisnya mengimbanginya dengan sedikit gerakan
tarikan ke atas dan ke bawah.
“Ah… mas Bob, geli… geli… Tobat… tobat… Ngilu mas Bob, ngilu… Sssh… sssh…
terus mas Bob, terus…. Edan… edan… kontholmu membuat memekku merasa enak
sekali… Nanti jangan disemprotkan di luar memek, mas Bob. Nyemprot di dalam saja…
aku sedang tidak subur…”

Aku mulai mempercepat gerakan masuk-keluar kontholku di memek Ika.

“Ah-ah-ah… benar, mas Bob. benar… yang cepat… Terus mas Bob, terus…”

Aku bagaikan diberi spirit oleh rintihan-rintihan Ika. tenagaku menjadi berlipat ganda.
Kutingkatkan kecepatan keluar-masuk kontholku di memek Ika. Terus dan terus. Seluruh
bagian kontholku serasa diremas¬-remas dengan cepatnya oleh daging-daging hangat di
dalam memek Ika. Mata Ika menjadi merem-melek dengan cepat dan indahnya. Begitu
juga diriku, mataku pun merem-melek dan mendesis-desis karena merasa keenakan yang
luar biasa.

“Sssh… sssh… Ika… enak sekali… enak sekali memekmu… enak sekali memekmu…”

“Ya mas Bob, aku juga merasa enak sekali… terusss… terus mas Bob, terusss…”

Aku meningkatkan lagi kecepatan keluar-masuk kontholku pada memeknya. Kontholku


terasa bagai diremas-remas dengan tidak karu-karuan.

“Mas Bob… mas Bob… edan mas Bob, edan… sssh… sssh… Terus… terus… Saya
hampir keluar nih mas Bob…

sedikit lagi… kita keluar sama-sama ya Booob…,” Ika jadi mengoceh tanpa kendali.

Aku mengayuh terus. Aku belum merasa mau keluar. Namun aku harus membuatnya
keluar duluan. Biar perempuan Sunda yang molek satu ini tahu bahwa lelaki Jawa itu
perkasa. Biar dia mengakui kejantanan orang Jawa yang bernama mas Bobby. Sementara
kontholku merasakan daging-daging hangat di dalam memek Ika bagaikan berdenyut
dengan hebatnya.

“Mas Bob… mas Bobby… mas Bobby…,” rintih Ika. Telapak tangannya memegang
kedua lengan tanganku seolah mencari pegangan di batang pohon karena takut jatuh ke
bawah.

lbarat pembalap, aku mengayuh sepeda balapku dengan semakin cepatnya. Bedanya,
dibandingkan dengan pembalap aku lebih beruntung. Di dalam “mengayuh sepeda” aku
merasakan keenakan yang luar biasa di sekujur kontholku. Sepedaku pun mempunyai
daya tarik tersendiri karena mengeluarkan rintihan-rintihan keenakan yang tiada terkira.

“Mas Bob… ah-ah-ah-ah-ah… Enak mas Bob, enak… Ah-ah-ah-ah-ah… Mau keluar
mas Bob… mau keluar… ah-ah-ah-ah-ah… sekarang ke-ke-ke…”
Tiba-tiba kurasakan kontholku dijepit oleh dinding memek Ika dengan sangat kuatnya. Di
dalam memek, kontholku merasa disemprot oleh cairan yang keluar dari memek Ika
dengan cukup derasnya. Dan telapak tangan Ika meremas lengan tanganku dengan sangat
kuatnya. Mulut sensual Ika pun berteriak tanpa kendali:

“…keluarrr…!”

Mata Ika membeliak-beliak. Sekejap tubuh Ika kurasakan mengejang.

Aku pun menghentikan genjotanku. Kontholku yang tegang luar biasa kubiarkan diam
tertanam dalam memek Ika. Kontholku merasa hangat luar biasa karena terkena
semprotan cairan memek Ika. Kulihat mata Ika kemudian memejam beberapa saat dalam
menikmati puncak orgasmenya.

Setelah sekitar satu menit berlangsung, remasan tangannya pada lenganku perlahan-lahan
mengendur. Kelopak matanya pun membuka, memandangi wajahku. Sementara jepitan
dinding memeknya pada kontholku berangsur-angsur melemah. walaupun kontholku
masih tegang dan keras. Kedua kaki Ika lalu kuletakkan kembali di atas kasur dengan
posisi agak membuka. Aku kembali menindih tubuh telanjang Ika dengan
mempertahankan agar kontholku yang tertanam di dalam memeknya tidak tercabut.

“Mas Bob… kamu luar biasa… kamu membawaku ke langit ke tujuh,” kata Ika dengan
mimik wajah penuh kepuasan. “Kak Dai dan pacar-pacarku yang dulu tidak pernah
membuat aku ke puncak orgasme seperti ml. Sejak Mbak Dina tinggal di sini, Ika suka
membenarkan mas Bob saat berhubungan dengan Kak Dai.”

Aku senang mendengar pengakuan Ika itu. berarti selama aku tidak bertepuk sebelah
tangan. Aku selalu membayangkan kemolekan tubuh Ika dalam masturbasiku, sementara
dia juga membayangkan kugeluti

dalam onaninya. Bagiku. Dina bagus dijadikan istri dan ibu anak-anakku kelak, namun
tidak dapat dipungkiri bahwa tubuh aduhai Ika enak digeluti dan digenjot dengan penuh
nafsu.

“Mas Bob… kamu seperti yang kubayangkan. Kamu jantan… kamu perkasa… dan kamu
berhasil membawaku ke puncak orgasme. Luar biasa nikmatnya…”

Aku bangga mendengar ucapan Ika. Dadaku serasa mengembang. Dan bagai anak kecil
yang suka pujian, aku ingin menunjukkan bahwa aku lebih perkasa dari dugaannya.
Perempuan Sunda ini harus kewalahan menghadapi genjotanku. Perempuan Sunda ini
harus mengakui kejantanan dan keperkasaanku. Kebetulan aku saat ini baru setengah
perjalanan pendakianku di saat Ika sudah mencapai orgasmenya. Kontholku masih tegang
di dalam memeknya. Kontholku masih besar dan keras, yang hams menyemprotkan
pelurunya agar kepalaku tidak pusing.
Aku kembali mendekap tubuh mulus Ika, yang di bawah sinar lampu kuning kulit
tubuhnya tampak sangat mulus dan licin. Kontholku mulai bergerak keluar-masuk lagi di
memek Ika, namun masih dengan gerakan perlahan. Dinding memek Ika secara
berargsur-angsur terasa mulai meremas-remas kontholku. Terasa hangat dan enak.
Namun sekarang gerakan kontholku lebih lancar dibandingkan dengan tadi. Pasti karena
adanya cairan orgasme yang disemprotkan oleh memek Ika beberapa saat yang lalu.

“Ahhh… mas Bob… kau langsung memulainya lagi… Sekarang giliranmu… semprotkan
air manimu ke dinding-dinding memekku… Sssh…,” Ika mulai mendesis-desis lagi.

Bibirku mulai memagut bibir merekah Ika yang amat sensual itu dan melumat-lumatnya
dengan gemasnya. Sementara tangan kiriku ikut menyangga berat badanku, tangan
kananku meremas-remas payudara montok Ika serta memijit-mijit putingnya, sesuai
dengan mama gerak maju-mundur kontholku di memeknya.

“Sssh… sssh… sssh… enak mas Bob, enak… Terus… teruss… terusss…,” desis bibir
Ika di saat berhasil melepaskannya dari serbuan bibirku. Desisan itu bagaikan mengipasi
gelora api birahiku.

Sambil kembali melumat bibir Ika dengan kuatnya, aku mempercepat genjotan kontholku
di memeknya. Pengaruh adanya cairan di dalam memek Ika, keluar-masuknya konthol
pun diiringi oleh suara, “srrt-srret srrrt-srrret srrt-srret…” Mulut Ika di saat terbebas dari
lumatan bibirku tidak henti-hentinya mengeluarkan rintih kenikmatan,

“Mas Bob… ah… mas Bob… ah… mas Bob… hhb… mas Bob… ahh…”

Kontholku semakin tegang. Kulepaskan tangan kananku dari payudaranya. Kedua


tanganku kini dari ketiak Ika menyusup ke bawah dan memeluk punggung mulusnya.
Tangan Ika pun memeluk punggungku dan mengusap-usapnya. Aku pun memulai
serangan dahsyatku. Keluar-masuknya kontholku ke dalam memek Ika sekarang
berlangsung dengan cepat dan berirama. Setiap kali masuk, konthol kuhunjamkan keras-
keras agar menusuk memek Ika sedalam-dalamnya. Dalam perjalanannya, batang
kontholku bagai diremas dan dihentakkan kuat-kuat oleh dinding memek Ika. Sampai di
langkah terdalam, mata Ika membeliak sambil bibirnya mengeluarkan seruan tertahan,
“Ak!” Sementara daging pangkal pahaku bagaikan menampar daging pangkal pahanya
sampai berbunyi: plak! Di saat bergerak keluar memek, konthol kujaga agar kepalanya
yang mengenakan helm tetap tertanam di lobang memek. Remasan dinding memek pada
batang kontholku pada gerak keluar ini sedikit lebih lemah dibanding dengan gerak
masuknya. Bibir memek yang mengulum batang kontholku pun sedikit ikut tertarik
keluar, seolah tidak rela bila sampai ditinggal keluar oleh batang kontholku. Pada gerak
keluar ini Bibir Ika mendesah, “Hhh…”

Aku terus menggenjot memek Ika dengan gerakan cepat dan menghentak-hentak.
Remasan yang luar biasa kuat, hangat, dan enak sekali bekerja di kontholku. Tangan Ika
meremas punggungku kuat-kuat di saat kontholku kuhunjam masuk sejauh-jauhnya ke
lobang memeknya. beradunya daging pangkal paha menimbulkan suara: Plak! Plak!
Plak! Plak! Pergeseran antara kontholku dan memek Ika menimbulkan bunyi srottt-
srrrt… srottt-srrrt… srottt-srrrtt… Kedua nada tersebut diperdahsyat oleh pekikan-
pekikan kecil yang merdu yang keluar dari bibir Ika:

“Ak! Uhh… Ak! Hhh… Ak! Hhh…”

Kontholku terasa empot-empotan luar biasa. Rasa hangat, geli, dan enak yang tiada tara
membuatku tidak kuasa menahan pekikan-pekikan kecil:

“lka… Ika… edan… edan… Enak sekali Ika… Memekmu enak sekali… Memekmu
hangat sekali… edan… jepitan memekmu enak sekali…”

“Mas Bob… mas Bob… terus mas Bob rintih Ika, “enak mas Bob… enaaak… Ak! Ak!
Ak! Hhh… Ak! Hhh… Ak! Hhh…”

Tiba-tiba rasa gatal menyelimuti segenap penjuru kontholku. Gatal yang enak sekali. Aku
pun mengocokkan kontholku ke memeknya dengan semakin cepat dan kerasnya. Setiap
masuk ke dalam, kontholku berusaha menusuk lebih dalam lagi dan lebih cepat lagi
dibandingkan langkah masuk sebelumnya. Rasa gatal dan rasa enak yang luar biasa di
konthol pun semakin menghebat.

“Ika… aku… aku…” Karena menahan rasa nikmat dan gatal yang luar biasa aku tidak
mampu menyelesaikan ucapanku yang memang sudah terbata-bata itu.

“Mas Bob… mas Bob… mas Bob! Ak-ak-ak… Aku mau keluar lagi… Ak-ak-ak… aku
ke-ke-ke…”

Tiba-tiba kontholku mengejang dan berdenyut dengan amat dahsyatnya. Aku tidak
mampu lagi menahan rasa gatal yang sudah mencapai puncaknya. Namun pada saat itu
juga tiba-tiba dinding memek Ika mencekik kuat sekali. Dengan cekikan yang kuat dan
enak sekali itu. aku tidak mampu lagi menahan jebolnya bendungan dalam alat
kelaminku.

Pruttt! Pruttt! Pruttt! Kepala kontholku terasa disemprot cairan memek Ika, bersamaan
dengan pekikan Ika, “…keluarrrr…!” Tubuh Ika mengejang dengan mata membeliak-
beliak.

“Ika…!” aku melenguh keras-keras sambil merengkuh tubuh Ika sekuat-kuatnya, seolah
aku sedang berusaha rnenemukkan tulang-tulang punggungnya dalam kegemasan.
Wajahku kubenamkan kuat-kuat di lehernya yang jenjang. Cairan spermaku pun tak
terbendung lagi.

Crottt! Crott! Croat! Spermaku bersemburan dengan derasnya, menyemprot dinding


memek Ika yang terdalam. Kontholku yang terbenam semua di dalam kehangatan memek
Ika terasa berdenyut-denyut.
Beberapa saat lamanya aku dan Ika terdiam dalam keadaan berpelukan erat sekali,
sampai-sampai dari alat kemaluan, perut, hingga ke payudaranya seolah terpateri erat
dengan tubuh depanku. Aku menghabiskan sisa-sisa sperma dalam kontholku. Cret! Cret!
Cret! Kontholku menyemprotkan lagi air mani yang masih tersisa ke dalam memek Ika.
Kali ini semprotannya lebih lemah.

Perlahan-lahan tubuh Ika dan tubuhku pun mengendur kembali. Aku kemudian menciumi
leher mulus Ika dengan lembutnya, sementara tangan Ika mengusap-usap punggungku
dan mengelus-elus rambut kepalaku. Aku merasa puas sekali berhasil bermain seks
dengan Ika. Pertama kali aku bermain seks, bidadari lawan mainku adalah perempuan
Sunda yang bertubuh kenyal, berkulit kuning langsat mulus, berpayudara besar dan padat,
berpinggang ramping, dan berpinggul besar serta aduhai. Tidak rugi air maniku diperas
habis-habisan pada pengalaman pertama ini oleh orang semolek Ika.

“Mas Bob… terima kasih mas Bob. Puas sekali saya. indah sekali… sungguh… enak
sekali,” kata Ika lirih.

Aku tidak memberi kata tanggapan. Sebagai jawaban, bibirnya yang indah itu kukecup
mesra. Dalam keadaan tetap telanjang, kami berdekapan erat di atas tempat tidur pacarku.
Dia meletakkan kepalanya di atas dadaku yang bidang, sedang tangannya melingkar ke
badanku. Baru ketika jam dinding menunjukkan pukul 22:00, aku dan Ika berpakaian
kembali. Ika sudah tahu kebiasaanku dalam mengapeli Dina, bahwa pukul 22:00 aku
pulang ke tempat kost-ku sendiri.

Sebelum keluar kamar, aku mendekap erat tubuh Ika dan melumat-lumat bibirnya
beberapa saat.

“Mas Bob… kapan-kapan kita mengulangi lagi ya mas Bob… Jangan khawatir, kita
tanpa Ikatan. Ika akan selalu merahasiakan hal ini kepada siapapun, termasuk ke Kak Dai
dan Mbak Dina. Ika puas sekali bercumbu dengan mas Bob,” begitu kata Ika.

Aku pun mengangguk tanda setuju. Siapa sih yang tidak mau diberi kenikmatan secara
gratis dan tanpa ikatan? Akhirnya dia keluar dari kamar dan kembali masuk ke rumahnya
lewat pintu samping. Lima menit kemudian aku baru pulang ke tempat kost-ku.
Pak Guru
71
Posted by admin on September 18, 2009 – 10:42 pm
Filed under Daun Muda

Sebut saja namaku Etty (bukan yang sebenarnya), waktu itu aku masih sekolah di sebuah
SMA swasta. Penampilanku bisa dibilang lumayan, kulit yang putih kekuningan, bentuk
tubuh yang langsing tetapi padat berisi, kaki yang langsing dari paha sampai tungkai,
bibir yang cukup sensual, rambut hitam lebat terurai dan wajah yang oval. Payudara dan
pantatkupun mempunyai bentuk yang bisa dibilang lumayan.

Dalam bergaul aku cukup ramah sehingga tidak mengherankan bila di sekolah aku
mempunyai banyak teman baik anak-anak kelas II sendiri atau kelas I, aku sendiri waktu
itu masih kelas II. Laki-laki dan perempuan semua senang bergaul denganku. Di kelaspun
aku termasuk salah satu murid yang mempunyai kepandaian cukup baik, ranking 6 dari
10 murid terbaik saat kenaikan dari kelas I ke kelas II.

Karena kepandaianku bergaul dan pandai berteman tidak jarang pula para guru senang
padaku dalam arti kata bisa diajak berdiskusi soal pelajaran dan pengetahuan umum yang
lain. Salah satu guru yang aku sukai adalah bapak guru bahasa Inggris, orangnya ganteng
dengan bekas cukuran brewok yang aduhai di sekeliling wajahnya, cukup tinggi (agak
lebih tinggi sedikit dari pada aku) dan ramping tetapi cukup kekar. Dia memang masih
bujangan dan yang aku dengar-dengar usianya baru 27 tahun, termasuk masih bujangan
yang sangat ting-ting untuk ukuran zaman sekarang.

Suatu hari setelah selesai pelajaran olah raga (volley ball merupakan favoritku) aku
duduk-duduk istirahat di kantin bersama teman-temanku yang lain, termasuk cowok-
cowoknya, sembari minum es sirup dan makan makanan kecil. Kita yang cewek-cewek
masih menggunakan pakaian olah raga yaitu baju kaos dan celana pendek. Memang di
situ cewek-ceweknya terlihat seksi karena kelihatan pahanya termasuk pahaku yang
cukup indah dan putih.

Tiba-tiba muncul bapak guru bahasa Inggris tersebut, sebut saja namanya Freddy (bukan
sebenarnya) dan kita semua bilang, “Selamat pagi Paa..aak”, dan dia membalas sembari
tersenyum.
“Ya, pagi semua. Wah, kalian capek ya, habis main volley”.
Aku menjawab, “Iya nih Pak, lagi kepanasan. Selesai ngajar, ya Pak”. “Iya, nanti jam
setengah dua belas saya ngajar lagi, sekarang mau ngaso dulu”.
Aku dan teman-teman mengajak, “Di sini aja Pak, kita ngobrol-ngobrol”, dia setuju.
“OK, boleh-boleh aja kalau kalian tidak keberatan”!
Aku dan teman-teman bilang, “Tidak, Pak.”, lalu aku menimpali lagi, “Sekali-sekali,
donk, Pak kita dijajanin”, lalu teman-teman yang lain, “Naa..aa, betuu..uul. Setujuu..”.
Ketika Pak Freddy mengambil posisi untuk duduk langsung aku mendekat karena
memang aku senang akan kegantengannya dan kontan teman-teman ngatain aku.
“Alaa.., Etty, langsung deh, deket-deket, jangan mau Pak”.
Pak Freddy menjawab, “Ah! Ya, ndak apa-apa”.

Kemudian sengaja aku menggoda sedikit pandangannya dengan menaikkan salah satu
kakiku seolah akan membetulkan sepatu olah ragaku dan karena masih menggunakan
celana pendek, jelas terlihat keindahan pahaku. Tampak Pak Freddy tersenyum dan aku
berpura-pura minta maaf.
“Sorry, ya Pak”.
Dia menjawab, “That’s OK”. Di dalam hati aku tertawa karena sudah bisa mempengaruhi
pandangan Pak Freddy.

Di suatu hari Minggu aku berniat pergi ke rumah Pak Freddy dan pamit kepada Mama
dan Papa untuk main ke rumah teman dan pulang agak sore dengan alasan mau
mengerjakan PR bersama-sama. Secara kebetulan pula Mama dan papaku mengizinkan
begitu saja. Hari ini memang hari yang paling bersejarah dalam hidupku. Ketika tiba di
rumah Pak Freddy, dia baru selesai mandi dan kaget melihat kedatanganku.
“Eeeh, kamu Et. Tumben, ada apa, kok datang sendirian?”.
Aku menjawab, “Ah, nggak iseng aja. Sekedar mau tahu aja rumah bapak”.
Lalu dia mengajak masuk ke dalam, “Ooo, begitu. Ayolah masuk. Maaf rumah saya kecil
begini. Tunggu, ya, saya paké baju dulu”. Memang tampak Pak Freddy hanya
mengenakan handuk saja. Tak lama kemudian dia keluar dan bertanya sekali lagi tentang
keperluanku. Aku sekedar menjelaskan, “Cuma mau tanya pelajaran, Pak. Kok sepi
banget Pak, rumahnya”.
Dia tersenyum, “Saya kost di sini. Sendirian.”

Selanjutnya kita berdua diskusi soal bahasa Inggris sampai tiba waktu makan siang dan
Pak Freddy tanya, “Udah laper, Et?”.
Aku jawab, “Lumayan, Pak”.
Lalu dia berdiri dari duduknya, “Kamu tunggu sebentar ya, di rumah. Saya mau ke
warung di ujung jalan situ. Mau beli nasi goreng. Kamu mau kan?”.
Langsung kujawab, “Ok-ok aja, Pak.”.
Sewaktu Pak Freddy pergi, aku di rumahnya sendirian dan aku jalan-jalan sampai ke
ruang makan dan dapurnya. Karena bujangan, dapurnya hanya terisi seadanya saja.
Tetapi tanpa disengaja aku melihat kamar Pak Freddy pintunya terbuka dan aku masuk
saja ke dalam. Kulihat koleksi bacaan berbahasa Inggris di rak dan meja tulisnya, dari
mulai majalah sampai buku, hampir semuanya dari luar negeri dan ternyata ada majalah
porno dari luar negeri dan langsung kubuka-buka. Aduh! Gambar-gambarnya bukan
main. Cowok dan cewek yang sedang bersetubuh dengan berbagai posisi dan entah
kenapa yang paling menarik bagiku adalah gambar di mana cowok dengan asyiknya
menjilati vagina cewek dan cewek sedang mengisap penis cowok yang besar, panjang
dan kekar.

Tidak disangka-sangka suara Pak Freddy tiba-tiba terdengar di belakangku, “Lho!!


Ngapain di situ, Et. Ayo kita makan, nanti keburu dingin nasinya”.
Astaga! Betapa kagetnya aku sembari menoleh ke arahnya tetapi tampak wajahnya biasa-
biasa saja. Majalah segera kulemparkan ke atas tempat tidurnya dan aku segera keluar
dengan berkata tergagap-gagap, “Ti..ti..tidak, eh, eng..ggak ngapa-ngapain, kok, Pak.
Maa..aa..aaf, ya, Pak”.
Pak Freddy hanya tersenyum saja, “Ya. Udah tidak apa-apa. Kamar saya berantakan.
tidak baik untuk dilihat-lihat. Kita makan aja, yuk”.
Syukurlah Pak Freddy tidak marah dan membentak, hatiku serasa tenang kembali tetapi
rasa malu belum bisa hilang dengan segera.

Pada saat makan aku bertanya, “Koleksi bacaannya banyak banget Pak. Emang sempat
dibaca semua, ya Pak?”.
Dia menjawab sambil memasukan sesendok penuh nasi goreng ke mulutnya, “Yaa..aah,
belum semua. Lumayan buat iseng-iseng”.
Lalu aku memancing, “Kok, tadi ada yang begituan”.
Dia bertanya lagi, “Yang begituan yang mana”.
Aku bertanya dengan agak malu dan tersenyum, “Emm.., Ya, yang begituan, tuh. Emm..,
Majalah jorok”.
Kemudian dia tertawa, “Oh, yang itu, toh. Itu dulu oleh-oleh dari teman saya waktu dia
ke Eropa”.

Selesai makan kita ke ruang depan lagi dan kebetulan sekali Pak Freddy menawarkan aku
untuk melihat-lihat koleksi bacaannya.
Lalu dia menawarkan diri, “Kalau kamu serius, kita ke kamar, yuk”.
Akupun langsung beranjak ke sana. Aku segera ke kamarnya dan kuambil lagi majalah
porno yang tergeletak di atas tempat tidurnya.

Begitu tiba di dalam kamar, Pak Freddy bertanya lagi, “Betul kamu tidak malu?”, aku
hanya menggelengkan kepala saja. Mulai saat itu juga Pak Freddy dengan santai
membuka celana jeans-nya dan terlihat olehku sesuatu yang besar di dalamnya, kemudian
dia menindihkan dadanya dan terus semakin kuat sehingga menyentuh vaginaku. Aku
ingin merintih tetapi kutahan.
Pak Freddy bertanya lagi, “Sakit, Et”. Aku hanya menggeleng, entah kenapa sejak itu aku
mulai pasrah dan mulutkupun terkunci sama sekali. Semakin lama jilatan Pak Freddy
semakin berani dan menggila. Rupanya dia sudah betul-betul terbius nafsu dan tidak
ingat lagi akan kehormatannya sebagai Seorang Guru. Aku hanya bisa mendesah”, aa..,
aahh, Hemm.., uu.., uuh”.

Akhirnya aku lemas dan kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Pak Freddy pun naik
dan bertanya.
“Enak, Et?”
“Lumayan, Pak”.
Tanpa bertanya lagi langsung Pak Freddy mencium mulutku dengan ganasnya, begitupun
aku melayaninya dengan nafsu sembari salah satu tanganku mengelus-elus penis yang
perkasa itu. Terasa keras sekali dan rupanya sudah berdiri sempurna. Mulutnya mulai
mengulum kedua puting payudaraku. Praktis kami berdua sudah tidak berbicara lagi,
semuanya sudah mutlak terbius nafsu birahi yang buta. Pak Freddy berhenti
merangsangku dan mengambil majalah porno yang masih tergeletak di atas tempat tidur
dan bertanya kepadaku sembari salah satu tangannya menunjuk gambar cowok
memasukkan penisnya ke dalam vagina seorang cewek yang tampak pasrah di bawahnya.
“Boleh saya seperti ini, Et?”.
Aku tidak menjawab dan hanya mengedipkan kedua mataku perlahan. Mungkin Pak
Freddy menganggap aku setuju dan langsung dia mengangkangkan kedua kakiku lebar-
lebar dan duduk di hadapan vaginaku. Tangan kirinya berusaha membuka belahan
vaginaku yang rapat, sedangkan tangan kanannya menggenggam penisnya dan
mengarahkan ke vaginaku.

Kelihatan Pak Freddy agak susah untuk memasukan penisnya ke dalam vaginaku yang
masih rapat, dan aku merasa agak kesakitan karena mungkin otot-otot sekitar vaginaku
masih kaku. Pak Freddy memperingatkan, “Tahan sakitnya, ya, Et”. Aku tidak menjawab
karena menahan terus rasa sakit dan, “Akhh.., bukan main perihnya ketika batang penis
Pak Freddy sudah mulai masuk, aku hanya meringis tetapi Pak Freddy tampaknya sudah
tak peduli lagi, ditekannya terus penisnya sampai masuk semua dan langsung dia
menidurkan tubuhnya di atas tubuhku. Kedua payudaraku agak tertekan tetapi terasa
nikmat dan cukup untuk mengimbangi rasa perih di vaginaku.

Semakin lama rasa perih berubah ke rasa nikmat sejalan dengan gerakan penis Pak
Freddy mengocok vaginaku. Aku terengah-engah, “Hah, hah, hah,..”. Pelukan kedua
tangan Pak Freddy semakin erat ke tubuhku dan spontan pula kedua tanganku memeluk
dirinya dan mengelus-elus punggungnya. Semakin lama gerakan penis Pak Freddy
semakin memberi rasa nikmat dan terasa di dalam vaginaku menggeliat-geliat dan
berputar-putar.

Sekarang rintihanku adalah rintihan kenikmatan. Pak Freddy kemudian agak


mengangkatkan badannya dan tanganku ditelentangkan oleh kedua tangannya dan
telapaknya mendekap kedua telapak tanganku dan menekan dengan keras ke atas kasur
dan ouwww.., Pak Freddy semakin memperkuat dan mempercepat kocokan penisnya dan
di wajahnya kulihat raut yang gemas. Semakin kuat dan terus semakin kuat sehingga
tubuhku bergerinjal dan kepalaku menggeleng ke sana ke mari dan akhirnya Pak Freddy
agak merintih bersamaan dengan rasa cairan hangat di dalam vaginaku. Rupanya air
maninya sudah keluar dan segera dia mengeluarkan penisnya dan merebahkan tubuhnya
di sebelahku dan tampak dia masih terengah-engah.
Setelah semuanya tenang dia bertanya padaku, “Gimana, Et? Kamu tidak apa-apa? Maaf,
ya”.
Sembari tersenyum aku menjawab dengan lirih, “tidak apa-apa. Agak sakit Pak. Saya
baru pertama ini”.
Dia berkata lagi, “Sama, saya juga”.
Kemudian aku agak tersenyum dan tertidur karena memang aku lelah, tetapi aku tidak
tahu apakah Pak Freddy juga tertidur.

Sekitar pukul 17:00 aku dibangunkan oleh Pak Freddy dan rupanya sewaktu aku tidur dia
menutupi sekujur tubuhku dengan selimut. Tampak olehku Pak Freddy hanya
menggunakan handuk dan berkata, “Kita mandi, yuk. Kamu harus pulang kan?”.
Badanku masih agak lemas ketika bangun dan dengan tetap dalam keadaan telanjang
bulat aku masuk ke kamar mandi. Kemudian Pak Freddy masuk membawakan handuk
khusus untukku. Di situlah kami berdua saling bergantian membersihkan tubuh dan
akupun tak canggung lagi ketika Pak Freddy menyabuni vaginaku yang memang di
sekitarnya ada sedikit bercak-bercak darah yang mungkin luka dari selaput daraku yang
robek. Begitu juga aku, tidak merasa jijik lagi memegang-megang dan membersihkan
penisnya yang perkasa itu.

Setelah semua selesai, Pak Freddy membuatkan aku teh manis panas secangkir. Terasa
nikmat sekali dan terasa tubuhku menjadi segar kembali. Sekitar jam 17:45 aku pamit
untuk pulang dan Pak Freddy memberi ciuman yang cukup mesra di bibirku. Ketika aku
mengemudikan mobilku, terbayang bagaimana keadaan Papa dan Mama dan nama baik
sekolah bila kejadian yang menurutku paling bersejarah tadi ketahuan. Tetapi aku cuek
saja, kuanggap ini sebagai pengalaman saja.

Semenjak itulah, bila ada waktu luang aku bertandang ke rumah Pak Freddy untuk
menikmati keperkasaannya dan aku bersyukur pula bahwa rahasia tersebut tak pernah
sampai bocor. Sampai sekarangpun aku masih tetap menikmati genjotan Pak Freddy
walaupun aku sudah menjadi mahasiswa, dan seolah-olah kami berdua sudah pacaran.
Pernah Pak Freddy menawarkan padaku untuk mengawiniku bila aku sudah selesai
kuliah nanti, tetapi aku belum pernah menjawab. Yang penting bagiku sekarang adalah
menikmati dulu keganasan dan keperkasaan penis guru bahasa Inggrisku itu.

Babysitter Tetangga
Comments Off
Posted by admin on September 18, 2009 – 10:39 pm
Filed under Daun Muda

Aku tinggal di komplex perumahan, disitu banyak pasangan muda yang mempercayakan
anak balitanya ke para babay sitter. Kalo pagi banyak baby sitter yang ngumpul depan
rumahku, memang rumahku rada tusuk sate, sehingga kayanya strategis buat ngerumpi,
palagi praktis gak da mobil yang lalu lalang. Kalo lagi dirumah aku suka memperhatikan
para baby sitter itu. Umumnya si tampang pembokat yang dipakein seragam baby sitter
yang umumnya kalo gak putih, pink atau birumuda warnanya. Tapi ada satu yang laen
dari yang laen. Kalo yang laen kulitnya pada sawomatang, yang satu ini putih, manis lagi,
gak da tampang pembokat deh. Bodi sih gak kliatan kemontokannya, maklum kan
seragam baby sitter pink yang dipakenya rada kebesaran kayanya, sehingga
menyamarkan lika liku bodinya. Tinggi tubuhnya sekitar 167 cm. Rambutnya tergerai
sebahu. Wajahnya cantik dengan bentuk mata, alis, hidung, dan bibir yang indah.
lumayan buat cuci mata. Lama2 dia tau juga kalo aku sering memperhatikan dia kalo lagi
didepan rumah. Dia senyum2 ke aku, ya buat pantesnya aku juga senyum ma dia juga.
Suatu saat kebetulan dia cuma sendiri di depan rumahku, kesempatan aku untuk kenalan.
“Kok sendirian, yang laen pada kemana?” “Gak tau ni om, saya kesiangan si keluarnya”.
“Ngapain dulu”. “ada yang dikerjain dirumah”. “Majikan kamu dua2nya kerja ya”. “Iya
om, om ndiri kok gini ari masi dirumah, gak kerja mangnya”. “Aku si bebas kok
kerjanya, sering kerjanya ya dari rumah aja. Kalo keluar paling ke tempat klien”. “Klien,
paan tu om”. “Klien tu langganan”. “Mangnya om jualan apa”. “aku kerja jadi
konsultan”. “apa lagi tu konsiltan, maap ya om, jadi nanya terus, bis gak ngarti si”.
“Mangnya kamu gak skola ya”, aku bales bertanya. “Cuma sampe SMU om, gak ada
biaya buat nerusin, ya mesti cari kerja lah, bantu2 orang tua juga”. “Mangnya ortu
dimana, tau kan ortu, orang tua”. “Di kampung om, didaerah banten”. “Pantes kamu putih
ya, yang laen pasti dari jawa ya, kulitnya item2″. “Nama kamu sapa si”. “Ayu om, kalo
om?” “Aku edo”. “Om gak punya istri ya, kayaknya gak perna kliatan prempuan dirumah
ini”. “Aku duda kok, kamu mau jadi prempuan dirumah ini”. “Ah si om, aku balik dulu
ya om, dah siang ni, mataharinya dah tinggi, anaknya kepanasan”. “Ya udah”. Sejak itu
aku belon dapet kesempatan ngobrol ma Ayu berdua aja karena selalu rame ma baby
sitter yang laennya.

Sampe pada suatu sore ketika ku lanja di hypermarket deket rumahku, aku melihat
seorang abg, bodinya asik banget, togepasarlah, dia pake tshirt ketat dan jins yang ketat
juga, kalo aura kasi aja sih lewat lah. Setelah aku perhattin ternyat Ayu. “Yu,” panggilku.
Ayu noleh, “Eh si om, blanja ya om”. “La iyalah, ke hipermarket masak mo nonton
bioskop. Kamu blanja juga”. “Cuma beli pemalut aja kok om, siap2 kalo dapet”.
“Mangnya dah mo dapet ya”. “Kalo itung kalender si dah ampir om, persisnya si gak
tau”. “Kamu seksi banget kalo pake jins ma tshirt Yu, kalo jagain anak mestinya kaya
gini pakeannya”. “Kalo nungguin anak kudu pake seragam si om”. “Kamu kok bisa
kluyuran kemari”. “Iya om, majikan dua2nya pergi kluar kota, kerumah ortunya katanya,
jadi anaknya dibawa. Bete ni om dirumah aja, mana tu nenek2 crewet lagi”. “Nenek2?”.
“Iya om, pembantunya, dah tua, crewet banget deh, suka mrintah2, palagi gak ada
majikan. Aku tinggal klayapan aja”. “Kmu antuin aku blanja ya, ntar pembalut kamu aku
bayarin deh, kamu ada keperluan yang laen gak, skalian aja. Hap kamu tu dah bikinan
cina, jadul banget. Aku beliin yang sama merknya dan ada kameranya ya”. “Hp kan
mahal om, mending beliian aku pakean dan spatu aja”. “Dua2nya juga bole kok”. “Bener
nih om, wah om baek bener deh, pasti ada maunya ni ye”. Aku tersenyum aja, Ayu
langsung ke konter hp, dia mencari hp yang sama dengan merk hp lamanya tapi yang ada
kameranya. Kebetulan lagi ada program tuker tambah. “Cuma dihargai 50 ribu om”. “Ya
udah gak apa, minta tolong mbaknya mindahin isi hp lama kamu ke yang baru aja”.
Cukup lama, [proses pembelian dan transfer data dari hp lamanya Ayu ke yang baru.
Setelah itu selesai, Ayu menuju ke konter pakean, dia milih jins dan t shirt. “Beli
dalemannya bole ya om”. “Buat kamu apa sih yang gak boleh”. Ketkia milih bra, aku jadi
tau ukuran toketnya, 34C, pantes kliatan gede banget. Selesainya beli pakean, Ayu milih
sendal yang bagusan, abis itu baru kita blanja. Dia beli pembalut dan makanan kecil, aku
membeli keperluan rumah untuk sebulan sehingga kereta blanjaan penuh. “Wah
balnjanya banyak banget om, sampe sekreta penuh”. kita blanja sambil ngobrol dan
becanda. Ayu orangnya enak buat diajak becanda, dia slalu terpingkel2 kalo aku guyonin,
sampe pelanggan yang laen pada nengok. “Yu, kalo ketawa jangan keras2, diliat orang
tuh”. “Biar aja diliatin, om si bikin lucu2, mana aku tahan gak ketawa”. “Ya udah lucu2
nya terusin dirumahku ya”. Ayu diem aja, aku dah slesai blanjang dan ngantri di kasir.
Hari ini rame juga yang blanja jadi ngantri cukup lama sampe slesai bayar. selama
ngantre aku terus aja becandain Ayu, dan dia ketawa ketiwi karenanya. Dia membantu
memsukkan blanjaanku dan blanjaannya ke mobil dan duduk diseblah aku. “Cari makan
dulu ya YU, dah siang nih. Kamu suka makan apa?” “Makan apa juga aku suka”. “Pecel
lele doyan gak”. “Doyan om”. Mobil meluncur ke warung pecel lele, aku pesen makanan
dan minuman. Kami makan sambil nerusin becanda. Selesai makan dan minum, “Kita mo
kemana lagi Yu”. “Ya pulang lah om, dah kenyang gini aku suka ngantuk”. “Kerumahku
aja ya, katanya kamu gak mo ketemu sinenek”. “Oke om”. Mobil meluncur pulang.

Sampe dirumah, Ayu membantu mengeluarkan belanjaan dari mobil, diapun membantu
menyimpan belanjaanku ditempatnya. Belanjaanya ditumpik aja dideket sofa. Kemudian
dia mengeluarkan hp barunya, sambil membaca buku manualnya dia berkenalan dengan
hp barunya. Karena aku kringetean, aku tinggalkan dia mandi. Selesai mandi aku hanya
mengenakan celana pendek dan kaos buntung aja. “Om santai amat, gak pergi kerja”.
“Kan ada kamu, masak aku tinggal”. “ayu tinggal disini sampe sore boleh ya om, om kalo
mo pergi kerja pergi aja. aku mo blajar hp baru, makasi ya om, om baek banget deh. Pasti
abis ini minta upah ya om”. “Mangnya kamu mo ngasi upahnya apaan”. “apa yang om
minta, pasti aku kasi, kalo aku bisa’. Wah nantangin ni anak, pikirku. “Kamu mo nuker
baju Yu, aku punya kaos yang gede banget, pasti kalo kamu pake jadi kaya daster”. “Bole
deh om, aku mandi aja ya om, gerah nih”. Aku mengambilkan baju kaos gombrongku
dan memberikan ke Ayu, “Pake aja anduk aku ya, dikamar mandi ada sabun, mo kramas
juga ada sampo”. “Mangnya mandi junub om, pake kramas segala”. “Mangnya gak boleh
kalo gak junub kamu kramas”. “Bole juga si om”. Dia menghilang ke kamar mandi. Aku
mengambil 2 botol soft drink dari lemari es, kemudian aku menyiapkan video bokep yang
aku belon liat. Aku mo macing napsunya Ayu pake video bokep.

Selesai mandi Ayu hanya mengenakan baju kaosku, cukup si buat dia, cuma jadi kaya
make rok min saja. 15cm di atas lutut. Paha dan betis yang tidak ditutupi kaosku itu
tampak amat mulus. Kulitnya kelihatan licin, dihiasi oleh rambut-rambut halus yang
pendek. Pinggulnya yang besar melebar. Pinggangnya kelihatan ramping. Walaupun kaos
iru gombrong, tapi kelihatan sekali bentuk toketnya yang besar kenceng itu, sangat
menggairahkan, palagi pentilnya tercetak di kaos itu. Rupanya Ayu tidak mengenakan
bra. Lehernya jenjang dengan beberapa helai rambut terjuntai. Sementara bau harum
sabun mandi terpancar dari tubuhnya. sebagai laki-laki normal, kon tolku berdiri melihat
tubuhnya. Dari samping kulihat toketnya begitu menonjol dari balik kaos itu. Melihat
Ayu sewaktu membelakangiku, aku terbayang betapa nikmatnya bila tubuh tersebut
digeluti dari arah belakang. Kuperhatikan gerak tubuhnya dari belakang. Pinggul yang
besar itu meliuk ke kiri-kanan mengimbangi langkah-langkah kakinya. Ingin rasanya
kudekap tubuh itu dari belakang erat-erat. Ingin kutempelkan kon tolku di gundukan
pantatnya. Dan ingin rasanya kuremas-remas toket montoknya habis-habisan.

Aku duduk di sofa. Ayu menuangkan soft drink ke gelas, “Kok softdrinknya 2 botol om”.
“Yang satunua buat kamu”. Dia menunagkan soft drink satunya ke gelas dan membawa
ke 2 gelas itu ke sofa. “Om gak ada pembantu ya”. “Ada kok Yu, cuma datengnya 2 kali
seminggu, buat bebersih rumah dan nyetrika, aku nyucinya seminggu juga 2 kali, pake
mesin cuci, jadi tinggal ngejemur aja kan. Kamu mo nemenin dan bantu aku disini. aku
gak tersinggung lo kalo kamu mau”. “Kerjaannya dikit om, ntar aku gak ada kerjaannya”.
“Kalo gak ada kerjaan, aku mau kok ngejain kamu tiap ari”, godaku sambil tersenyum.
“Ih si om, genit ah”. “Dah ngerti blon hp barunya”. “Dah om, prinsipnya sama dengan hp
lama, merknya kan sama, cuma lebi canggih aja. kalo dah dipake ntar juga lancar diri”.

Kembali kita ngobrol ngalor ngidul soal macem2. kesempatan bagiku untuk menatapnya
dari dekat tanpa rasa risih. Akhirnya pembicaraan menyerempet soal sex. “Yu, kamu
perna maen”. “Maen apaan om”. “Maen ma lelaki”. “Pernah om, ma majikan yang
sebelon ini. Aku diprawanin ma dia. Napsunya gede banget deh, kalo maen,
pembantunya yang umurnya lebih muda dari aku diembat juga. Cuma kali maen ma
pembantu cuma sekali, ma aku bisa ampe 3 kali”. “Ya teranglah, kamu merangsang gini.
Pasti pembantunya item kan kaya babysitter laennya”. “Iya sih om”. “Terus napa kok
brenti?” “Kepergok ibu om, ketika itu aku lagi man ma majikan, gak taunya ibu pulang
mendadak. Langsung deh aku dikluarin. Baiknya ada temen yang ngasi tau ada lowongan
di tempat yang skarang”. “Ma majikan yang skarang maen juga?” “Enggak bisa om, kan
ada si nenek, bisa dilaporin ibu kalo si bapak macem2 ma aku”. “Kamu dah sering maen
terus gak maen2, pa gak kepengen?” “Pengen si om, tapi ma siapa, aku suka gesek2 ndiri
kalo lagi mandi”. “Mangnya enak”. “Enak om, ngikutin cara si bapak yang dulu
ngegesek”. “Ngegesek apaan Yu”. “Ih om nanya mulu, malu kan aku”. “Kita nonton film
ya, asik kok filmnya”. “FIlm apaan om”. “Ya udah kamu liat aja”. Aku memutar video
bokep, kayanya orang thai ceweknya sehingga mirip banget ma orang kita, cowoknya
bule. “Ih om gedebanget ya punya si bule”. “Ma punya majikan kamu yang duluan gede
mana”. “Gede ini om, ampe gak muat tu diemutnya”. “Kamu suka disuru ngemut Yu”.
“Iya om, majikan seneng banget kalo diemut”. Ayu terpaku melihat adegan seru di layar
kaca, suara ah uh merupakan serenade wajib film bokep terdengar jelas. “Keenakan ya
om prempuannya, sampe mengerang2 gitu”. “Mangnya kamu enggak”. “Iya juga sih”.

Setelah melihat Ayu mulai gelisah duduknya, sebentar kaki kiri ditopang kaki kanan,
terus sebaliknya, aku tau Ayu dah mulai terangsang. “Napa kok gelisah Yu, kamu napsu
ya”, kataku to the point. Ayu diem saja. Kon tolku dah ngaceng dengan kerasnya.
Apalagi ketika paha yang putih terbuka karena kaosnya yang tersingkap. Kuelus betisnya.
Dia diam saja. elusanku mermabat makin keatas. Ayu menggeliat, geli katanya.
Kusingkapkan bagian bawah dasternya sampai sebatas perut. Kini paha mulus itu
terhampar di hadapanku. Di atas paha, beberapa helai bulu jembut keluar dari CD yang
minim berbentuk segitiga. Sungguh kontras warnanya. Jembutnya berwarna hitam,
sedang tubuhnya berwarna putih. Kueluskan tanganku menuju pangkal pahanya sambil
kuamati wajah Ayu. Kueluskan perlahan ibu jariku di belahan bibir no noknya. Aku
membungkuk diatas pahanya, kuciumi paha mulus tersebut berganti-ganti, kiri dan
kanan, sambil tanganku mengusap dan meremasnya perlahan-lahan. Kedua paha tersebut
secara otomatis bergerak membuka agak lebar. Kembali kuciumi dan kujilati paha dan
betis nya. Nafsuku semakin tinggi. Aku semakin nekad. Kulepaskan kaos Ayu, “Om,
Aku mau diapain”, katanya lirih. Aku menghentikan aksiku. Aku memandangi tubuh
mulus Ayu tanpa daster menghalanginya. Tubuh moleknya sungguh membangkitkan
birahi. toket yang besar membusung, pinggang yang ramping, dan pinggul yang besar
melebar. pentilnya berdiri tegak. Kupandangi Ayu. Alangkah cantiknya wajahnya.
Lehernya jenjang. Toketnya yang montok bergerak naik-turun dengan teratur mengiringi
nafasnya. Pinggangnya ramping, dan pinggulnya yang besar melebar.

“Yu, aku mau ngasi kenikmatan sama kamu, mau enggak”, kataku perlahan sambil
mencium toket nya yang montok. Ayu diam saja, matanya terpejam. Hidungku
mengendus-endus kedua toket yang berbau harum sambil sesekali mengecupkan bibir
dan menjilatkan lidahku.pentil toket kanannya kulahap ke dalam mulutku. Badannya
sedikit tersentak ketika pentil itu kugencet perlahan dengan menggunakan lidah dan gigi
atasku. “Om…”, rintihnya, rupanya tindakanku membangkitkan napsunya juga. Karena
sangat ingin merasakan kenikmatan dien tot, Ayu diam saja membiarkan aku menjelajahi
tubuhnya. kusedot-sedot pentil toketnya secara berirama. Mula-mula lemah, lama-lama
agak kuperkuat sedotanku. Kuperbesar daerah lahapan bibirku. Kini pentil dan toket
sekitarnya yang berwarna kecoklatan itu semua masuk ke dalam mulutku. Kembali
kusedot daerah tersebut dari lemah-lembut menjadi agak kuat. Mimik wajah Ayu tampak
sedikit berubah, seolah menahan suatu kenikmatan. Kedua toket harum itu kuciumi dan
kusedot-sedot secara berirama. kon tolku bertambah tegang. Sambil terus menggumuli
toket dengan bibir, lidah, dan wajahnya, aku terus menggesek-gesekkan kon tol di kulit
pahanya yang halus dan licin. Kubenamkan wajahku di antara kedua belah gumpalan
dada Ayu. perlahan-lahan bergerak ke arah bawah. Kugesek-gesekkan wajahku di
lekukan tubuh yang merupakan batas antara gumpalan toket dan kulit perutnya. Kiri dan
kanan kuciumi dan kujilati secara bergantian. Kecupan-kecupan bibirku, jilatan-jilatan
lidahku, dan endusan-endusan hidungku pun beralih ke perut dan pinggang Ayu.
Sementara gesekan-gesekan kepala kon tolku kupindahkan ke betisnya. Bibir dan lidahku
menyusuri perut sekeliling pusarnya yang putih mulus. wajahku bergerak lebih ke bawah.
Dengan nafsu yang menggelora kupeluk pinggulnya secara perlahan-lahan. Kecupanku
pun berpindah ke CD tipis yang membungkus pinggulnya tersebut. Kususuri pertemuan
antara kulit perut dan CD, ke arah pangkal paha. Kujilat helaian-helaian rambut
jembutnya yang keluar dari CDnya. Lalu kuendus dan kujilat CD pink itu di bagian
belahan bibir no noknya. Ayu makin terengah menahan napsunya, sesekali terdengar
lenguhannya menahan kenikmatan yang dirasakannya.

Aku bangkit dan melepaskan semua yang menempek ditubuhku. “Punya om gede banget,
kayanya segede punya si bule deh”. Dengan posisi berdiri di atas lutut kukangkangi
tubuhnya. kon tolku yang tegang kutempelkan di kulit toket Ayu. Kepala kon tol
kugesek-gesekkan di toket yang montok itu. Sambil kukocok batangnya dengan tangan
kananku, kepala kon tol terus kugesekkan di toketnya, kiri dan kanan. Setelah sekitar dua
menit aku melakukan hal itu. Kuraih kedua belah gumpalan toket Ayu yang montok itu.
Aku berdiri di atas lutut dengan mengangkangi pinggang ramping Ayu dengan posisi
badan sedikit membungkuk. Batang kon tolku kujepit dengan kedua gumpalan toketnya.
Kini rasa hangat toket Ayu terasa mengalir ke seluruh batang kon tolku. Perlahan-lahan
kugerakkan maju-mundur kon tolku di cekikan kedua toket Ayu. Kekenyalan daging
toket tersebut serasa memijit-mijit batang kon tolku, memberi rasa nikmat yang luar
biasa. Di kala maju, kepala kon tolku terlihat mencapai pangkal lehernya yang jenjang.
Di kala mundur, kepala kon tolku tersembunyi di jepitan toketnya.

Lama-lama gerak maju-mundur kon tolku bertambah cepat, dan kedua toket nya kutekan
semakin keras dengan telapak tanganku agar jepitan di batang kon tolku semakin kuat.
Aku pun merem melek menikmati enaknya jepitan toketnya. Ayu pun mendesah-desah
tertahan, “Ah… hhh… hhh… ah…”
kon tolku pun mulai melelehkan sedikit cairan. Cairan tersebut membasahi belahan toket
Ayu. Oleh gerakan maju-mundur kon tolku di dadanya yang diimbangi dengan tekanan-
tekanan dan remasan-remasan tanganku di kedua toketnya, cairan itu menjadi teroles rata
di sepanjang belahan dadanya yang menjepit batang kon tolku. Cairan tersebut menjadi
pelumas yang memperlancar maju-mundurnya kon tolku di dalam jepitan toketnya.
Dengan adanya sedikit cairan dari kon tolku tersebut aku merasakan keenakan dan
kehangatan yang luar biasa pada gesekan-gesekan batang dan kepala kon tolku dengan
toketnya. “Hih… hhh… … Luar biasa enaknya…,” aku tak kuasa menahan rasa enak
yang tak terperi. Nafas Ayu menjadi tidak teratur. Desahan-desahan keluar dari bibirnya ,
yang kadang diseling desahan lewat hidungnya, “Ngh… ngh… hhh… heh… eh…
ngh…” Desahan-desahan Ayu semakin membuat nafsuku makin memuncak. Gesekan-
gesekan maju-mundurnya kon tolku di jepitan toketnya semakin cepat. kon tolku semakin
tegang dan keras. Kurasakan pembuluh darah yang melalui batang kon tolku berdenyut-
denyut, menambah rasa hangat dan nikmat yang luar biasa. “Enak sekali, Yu”, erangku
tak tertahankan. Aku menggerakkan maju-mundur kon tolku di jepitan toket Ayu dengan
semakin cepatnya. Rasa enak yang luar biasa mengalir dari kon tol ke syaraf-syaraf
otakku. Kulihat wajah Ayu. Alis matanya bergerak naik turun seiring dengan desah-desah
perlahan bibirnya akibat tekanan-tekanan, remasan-remasan, dan kocokan-kocokan di
toketnya. Ada sekitar lima menit aku menikmati rasa keenakan luar biasa di jepitan
toketnya itu.

Toket sebelah kanannya kulepas dari telapak tanganku. Tangan kananku lalu
membimbing kon tol dan menggesek-gesekkan kepala kon tol dengan gerakan memutar
di kulit toketnya yang halus mulus. Sambil jari-jari tangan kiriku terus meremas toket kiri
Ayu, kon tolku kugerakkan memutar-mutar menuju ke bawah. Ke arah perut. Dan di
sekitar pusarnya, kepala kon tolku kugesekkan memutar di kulit perutnya yang putih
mulus, sambil sesekali kusodokkan perlahan di lobang pusarnya. kucopot CD minimnya.
Pinggul yang melebar itu tidak berpenutup lagi. Kulit perut yang semula tertutup CD
tampak jelas sekali. Licin, putih, dan amat mulus. Di bawah perutnya, jembut yang hitam
lebat menutupi daerah sekitar lobang no noknya. Kedua paha mulus Ayu kurenggangkan
lebih lebar. Kini hutan lebat di bawah perut tadi terkuak, mempertontonkan no noknya.
Aku pun mengambil posisi agar kon tolku dapat mencapai no nok Ayu dengan
mudahnya. Dengan tangan kanan memegang batang kon tol, kepalanya kugesek-
gesekkan ke jembut Ayu. Rasa geli menggelitik kepala kon tolku. kepala kon tolku
bergerak menyusuri jembut menuju ke no noknya. Kugesek-gesekkan kepala kon tol ke
sekeliling bibir no noknya. Terasa geli dan nikmat. kepala kon tol kugesekkan agak ke
arah lobang. Dan menusuk sedikit ke dalam. Lama-lama dinding mulut lobang no nok itu
menjadi basah. Kugetarkan perlahan-lahan kon tolku sambil terus memasuki lobang no
nok. Kini seluruh kepala kon tolku yang berhelm pink tebenam dalam jepitan mulut no
nok Ayu. Jepitan mulut no nok itu terasa hangat dan enak sekali. Kembali dari mulut Ayu
keluar desisan kecil tanda nikmat tak terperi. kon tolku semakin tegang. Sementara
dinding mulut no nok Ayu terasa semakin basah. Perlahan-lahan kon tolku kutusukkan
lebih ke dalam. Kini tinggal separuh batang yang tersisa di luar. Secara perlahan
kumasukkan kon tolku ke dalam no nok. Terbenam sudah seluruh batang kon tolku di
dalam no nok Ayu. Sekujur batang kon tol sekarang dijepit oleh no nok Ayu dengan
sangat enaknya. secara perlahan-lahan kugerakkan keluar-masuk kon tolku ke dalam no
noknya. Sewaktu keluar, yang tersisa di dalam no nok hanya kepala kon tol saja. Sewaktu
masuk seluruh kon tol terbenam di dalam no nok sampai batas pangkalnya. Rasa hangat
dan enak yang luar biasa kini seolah memijiti seluruh bagian kon tolku. Aku terus
memasuk-keluarkan kon tolku ke lobang no noknya. Alis matanya terangkat naik setiap
kali kon tolku menusuk masuk no noknya secara perlahan. Bibir segarnya yang sensual
sedikit terbuka, sedang giginya erkatup rapat. Dari mulut sexy itu keluar desis
kenikmatan, “Sssh…sssh… hhh… hhh… ssh… sssh…” Aku terus mengocok perlahan-
lahan no noknya. Enam menit sudah hal itu berlangsung. Kembali kukocok secara
perlahan no noknya. Kurasakan enaknya jepitan otot-otot no nok pada kon tolku.
Kubiarkan kocokan perlahan tersebut sampai selama dua menit. Kembali kutarik kon
tolku dari no nok Ayu. Namun kini tidak seluruhnya, kepala kon tol masih kubiarkan
tertanam dalam mulut no noknya. Sementara batang kon tol kukocok dengan jari-jari
tangan kananku dengan cepatnya.

Rasa enak itu agaknya dirasakan pula oleh Ayu. Ayu mendesah-desah akibat sentuhan-
sentuhan getar kepala kon tolku pada dinding mulut no noknya, “Sssh… sssh… zzz…
ah… ah… hhh…” Tiga menit kemudian kumasukkan lagi seluruh kon tolku ke dalam no
nok Ayu. Dan kukocok perlahan. Kunikmati kocokan perlahan pada no noknya kali ini
lebih lama. Sampai kira-kira empat menit. Lama-lama aku tidak puas. Kupercepat
gerakan keluar-masuk kon tolku pada no noknya. Kurasakan rasa enak sekali menjalar di
sekujur kon tolku. Aku sampai tak kuasa menahan ekspresi keenakanku. Sambil tertahan-
tahan, aku mendesis-desis, “Yu… no nokmu luar biasa… nikmatnya…” Gerakan keluar-
masuk secara cepat itu berlangsung sampai sekitar empat menit. rasa gatal-gatal enak
mulai menjalar di sekujur kon tolku.

Berarti beberapa saat lagi aku akan ngecret. Kucopot kon tolku dari no nok Ayu.
Segera aku berdiri dengan lutut mengangkangi tubuhnya agar kon tolku mudah mencapai
toketnya. Kembali kuraih kedua belah toket montok itu untuk menjepit kon tolku yang
berdiri dengan amat gagahnya. Agar kon tolku dapat terjepit dengan enaknya, aku agak
merundukkan badanku. kon tol kukocokkan maju-mundur di dalam jepitan toketnya.
Cairan no nok Ayu yang membasahi kon tolku kini merupakan pelumas pada gesekan-
gesekan kon tolku dan kulit toketnya. “Oh… hangatnya… Sssh… nikmatnya…Tubuhmu
luarrr biasa…”, aku merintih-rintih keenakan. Ayu juga mendesis-desis keenakan, “Sssh..
sssh… sssh…” Giginya tertutup rapat. Alis matanya bergerak ke atas ke bawah. Aku
mempercepat maju-mundurnya kon tolku. Aku memperkuat tekananku pada toketnya
agar kon tolku terjepit lebih kuat. Rasa enak menjalar lewat kon tolku. Rasa hangat
menyusup di seluruh kon tolku. Karena basah oleh cairan no nok, kepala kon tolku
tampak amat mengkilat di saat melongok dari jepitan toket Ayu. Leher kon tol yang
berwarna coklat tua dan helm kon tol yang berwarna pink itu menari-nari di jepitan
toketnya. Lama-lama rasa gatal yang menyusup ke segenap penjuru kon tolku semakin
menjadi-jadi. Semakin kupercepat kocokan kon tolku pada toket Ayu. Rasa gatal semakin
hebat. Rasa hangat semakin luar biasa. Dan rasa enak semakin menuju puncaknya. Tiga
menit sudah kocokan hebat kon tolku di toket montok itu berlangsung. Dan ketika rasa
gatal dan enak di kon tolku hampir mencapai puncaknya, aku menahan sekuat tenaga
benteng pertahananku sambil mengocokkan kon tol di kempitan toket indah Ayu dengan
sangat cepatnya. Rasa gatal, hangat, dan enak yang luar biasa akhirnya mencapai
puncaknya. Aku tak kuasa lagi membendung jebolnya tanggul pertahananku. “Ayu…!”
pekikku dengan tidak tertahankan. Mataku membeliak-beliak. Jebollah pertahananku.
Rasa hangat dan nikmat yang luar biasa menyusup ke seluruh sel-sel kon tolku saat
menyemburkan peju. Crot! Crot! Crot! Crot!

Pejuku menyemprot dengan derasnya. Sampai empat kali. Kuat sekali semprotannya,
sampai menghantam rahang Ayu. Peju tersebut berwarna putih dan kelihatan sangat
kental. Dari rahang peju mengalir turun ke arah leher Ayu. Peju yang tersisa di dalam kon
tolku pun menyusul keluar dalam tiga semprotan. Cret! Cret! Cret! Kali ini semprotannya
lemah. Semprotan awal hanya sampai pangkal lehernya, sedang yang terakhir hanya jatuh
di atas belahan toketnya. Aku menikmati akhir-akhir kenikmatan. “Luar biasa… Yu,
nikmat sekali tubuhmu…,” aku bergumam. “Kok gak dikeluarin di dalem aja om”, kata
Ayu lirih. “Gak apa kalo om ngecret didalem Yu”, jawabku. “Gak apa om, Ayu pengen
ngerasain kesemprot peju anget. Tapi Ayu ngerasa nikmat sekali om, belum pernah Ayu
ngerasain kenikmatan seperti ini”, katanya lagi. “Ini baru ronde pertama Yu, mau lagi kan
ronde kedua”, kataku. “Mau om, tapi ngecretnya didalem ya”, jawabnya. “Kok tadi kamu
diem aja Yu”, kataku lagi. “Bingung om, tapi nikmat”, jawabnya sambil tersenyum.
“Engh…” Ayu menggeliatkan badannya. Aku segera mengelap kon tol dengan tissue
yang ada di atas meja, dan memakai celana pendek. beberapa lembar tissue kuambil
untuk mengelap pejuku yang berleleran di rahang, leher, dan toket Ayu. Ada yang tidak
dapat dilap, yakni cairan pejuku yang sudah terlajur jatuh di rambut kepalanya. “Mo
kemana om”, tanyanya. “Mo ambil minum dulu”, jawabku. “Kok celananya dipake,
katanya mau ronde kedua”, katanya. Rupanya Ayu sudah pengen aku menggelutinya
sekali lagi.

Aku kembali membawa gelas berisi air putih, kuberikan kepada Ayu yang langsung
menenggaknya sampe habis. Aku keluar lagi untuk mengisi gelas dengan air dan kembali
lagi ke kekamar. Masih tidak puas aku memandangi toket indah yang terhampar di depan
mataku tersebut. mataku memandang ke arah pinggangnya yang ramping dan pinggulnya
yang melebar indah. Terus tatapanku jatuh ke no noknya yang dikelilingi oleh bulu
jembut hitam jang lebat. Betapa enaknya ngen totin Ayu. Aku ingin mengulangi
permainan tadi, menggeluti dan mendekap kuat tubuhnya. Mengocok no noknya dengan
kon tolku dengan irama yang menghentak-hentak kuat. Dan aku dapat menyemprotkan
pejuku di dalam no noknya sambil merengkuh kuat-kuat tubuhnya saat aku nyampe.
Nafsuku terbakar.

“Ayu…,” desahku penuh nafsu. Bibirku pun menggeluti bibirnya. Bibir sensual yang
menantang itu kulumat-lumat dengan ganasnya. Sementara Ayu pun tidak mau kalah.
Bibirnya pun menyerang bibirku dengan dahsyatnya, seakan tidak mau kedahuluan oleh
lumatan bibirku. Kedua tangankupun menyusup diantara lengan tangannya. Tubuhnya
sekarang berada dalam dekapanku. Aku mempererat dekapanku, sementara Ayu pun
mempererat pelukannya pada diriku. Kehangatan tubuhnya terasa merembes ke badanku,
toketnya yang membusung terasa semakin menekan dadaku. Jari-jari tangan Ayu mulai
meremas-remas kulit punggungku. Ayu mencopot celanaku.Ayu pun merangkul
punggungku lagi. Aku kembali mendekap erat tubuh Ayu sambil melumat kembali
bibirnya. Aku terus mendekap tubuhnya sambil saling melumat bibir. Sementara tangan
kami saling meremas-remas kulit punggung. Kehangatan menyertai tubuh bagian depan
kami yang saling menempel. Kini kurasakan toketnya yang montok menekan ke dadaku.
Dan ketika saling sedikit bergeseran, pentilnya seolah-olah menggelitiki dadaku. kon
tolku terasa hangat dan mengeras. Tangan kiriku pun turun ke arah perbatasan pinggang
ramping dan pinggul besar Ayu, menekannya kuat-kuat dari belakang ke arah perutku.
kon tolku tergencet perut bawahku dan perut bawah Ayu dengan enaknya. Sementara
bibirku bergerak ke arah lehernya.kuciumi, kuhisap-hisap dengan hidungku, dan kujilati
dengan lidahku. “Ah… geli… geli…,” desah Ayu sambil menengadahkan kepala, agar
seluruh leher sampai dagunya terbuka dengan luasnya. Ayu pun membusungkan dadanya
dan melenturkan pinggangnya ke depan. Dengan posisi begitu, walaupun wajahku dalam
keadaan menggeluti lehernya, tubuh kami dari dada hingga bawah perut tetap dapat
menyatu dengan rapatnya. Tangan kananku lalu bergerak ke dadanya yang montok, dan
meremas-remas toket tersebut dengan perasaan gemas.

Setelah puas menggeluti lehernya, wajahku turun ke arah belahan dadanya. Aku berdiri
dengan agak merunduk. Tangan kiriku pun menyusul tangan kanan, yakni bergerak
memegangi toket. Kugeluti belahan toket Ayu, sementara kedua tanganku meremas-
remas kedua belah toketnya sambil menekan-nekankannya ke arah wajahku. Kugesek-
gesekkan memutar wajahku di belahan toket itu. bibirku bergerak ke atas bukit toket
sebelah kiri. Kuciumi bukit toket nya, dan kumasukkan pentil toket di atasnya ke dalam
mulutku. Kini aku menyedot-sedot pentil toket kiri Ayu. Kumainkan pentil di dalam
mulutku itu dengan lidahku. Sedotan kadang kuperbesar ke puncak bukit toket di sekitar
pentil yang berwarna coklat. “Ah… ah… om…geli…,” Ayu mendesis-desis sambil
menggeliatkan tubuh ke kiri-kanan. Aku memperkuat sedotanku. Sementara tanganku
meremas kuat toket sebelah kanan. Kadang remasan kuperkuat dan kuperkecil menuju
puncak bukitnya, dan kuakhiri dengan tekanan-tekanan kecil jari telunjuk dan ibu jariku
pada pentilnya. “Om… hhh… geli… geli… enak… enak… ngilu…ngilu…” Aku
semakin gemas. toket Ayu itu kumainkan secara bergantian, antara sebelah kiri dan
sebelah kanan. Bukit toket kadang kusedot sebesar-besarnya dengan tenaga isap sekuat-
kuatnya, kadang yang kusedot hanya pentilnya dan kucepit dengan gigi atas dan lidah.
Belahan lain kadang kuremas dengan daerah tangkap sebesar-besarnya dengan remasan
sekuat-kuatnya, kadang hanya kupijit-pijit dan kupelintir-pelintir kecil pentil yang
mencuat gagah di puncaknya. “Ah…om… terus… hzzz…ngilu… ngilu…” Ayu
mendesis-desis keenakan. Matanya kadang terbeliak-beliak. Geliatan tubuhnya ke kanan-
kiri semakin sering frekuensinya.
Sampai akhirnya Ayu tidak kuat melayani serangan-serangan awalku. Jari-jari tangan
kanan Ayu yang mulus dan lembut menangkap kon tolku yang sudah berdiri dengan
gagahnya. “Om.. Batang kon tolnya besar ya”, ucapnya. Sambil membiarkan mulut,
wajah, dan tanganku terus memainkan dan menggeluti kedua belah toketnya, jari-jari
lentik tangan kanannya meremas-remas perlahan kon tolku secara berirama. Remasannya
itu memberi rasa hangat dan nikmat pada batang kon tolku. kurengkuh tubuhnyadengan
gemasnya. Kukecup kembali daerah antara telinga dan lehernya. Kadang daun telinga
sebelah bawahnya kukulum dalam mulutku dan kumainkan dengan lidahku. Kadang
ciumanku berpindah ke punggung lehernya yang jenjang. Kujilati pangkal helaian
rambutnya yang terjatuh di kulit lehernya. Sementara tanganku mendekap dadanya
dengan eratnya. Telapak dan jari-jari tanganku meremas-remas kedua belah toketnya.
Remasanku kadang sangat kuat, kadang melemah. Sambil telunjuk dan ibu jari tangan
kananku menggencet dan memelintir perlahan pentil toket kirinya,

Pak RT cabul
45
Posted by admin on September 18, 2009 – 10:16 pm
Filed under Daun Muda

Pak Hambali adalah ketua RT di daerah tempat aku tinggal. Ia sering datang ke rumahku
untuk keperluan menagih iuran daerah dan biaya air ledeng. Dia adalah seorang pria
berusia sekitar 50 tahunan dan mempunyai dua istri. Benar kata orang bahwa dia ini
seorang bandot tua, buktinya ketika di rumahku kalau aku melewat didepannya,
seringkali matanya jelalatan melihat padaku seolah-olah matanya tembus pandang ke
balik pakaianku. Bagiku sih tidak apa-apa, aku malah senang kalau tubuhku dikagumi
laki-laki, terkadang aku memakai baju rumah yang seksi kalau melewat di depannya. Aku
yakin di dalam pikirannya pasti penuh hal-hal yang jorok tentangku.

Pada suatu hari aku sedang di rumah sendirian. Aku sedang melakukan fitness untuk
menjaga bentuk dan stamina tubuhku di ruang belakang rumahku yang tersedia beberapa
peralatan fitness. Aku memakai pakaian yang enak dipakai dan menyerap keringat berupa
sebuah kaus hitam tanpa lengan dengan belahan dada rendah sehingga buah dadaku yang
montok itu agak tersembul keluar terutama kalau sedang menunduk apalagi aku tidak
memakai BH, juga sebuah celana pendek ketat yang mencetak pantatku yang padat berisi.
Waktu aku sedang melatih pahaku, tiba-tiba terdengar bel berbunyi, segera saja kuambil
handuk kecil dan mengelap keringatku sambil berjalan ke arah pintu. Kulihat dari
jendela, ternyata Pak Hambali yang datang, pasti dia mau menagih biaya ledeng, yang
dititipkan ayah padaku tadi pagi.

Kubukakan pagar dan kupersilakan dia ke dalam


“Silakan Pak duduk dulu ya, sambil nunggu saya ambil uangnya” senyumku dengan
ramah mempersilakannya duduk di ruang tengah
“Kok sepi sekali dik, kemana yang lain ?”
“Papa hari ini pulangnya malam, tapi uangnya udah dititip ke saya kok, mama juga lagi
arisan sama teman-temannya”
Seperti biasa matanya selalu saja menatapi tubuhku, terutama bagian dadaku yang agak
terlihat itu. Aku juga sadar kalau dadaku sempat diintip olehnya waktu menunduk untuk
menaruh segelas teh untuknya.

“Minum Pak” tawarku lalu aku duduk di depannya dengan menyilangkan kaki kananku
sehingga pahaku yang jenjang dan putih itu makin terlihat. Nuansa mesum mulai terasa di
ruang tamuku yang nyaman itu
Dia menanya-nanyaiku sekitar masalah anak muda, seperti kuliah, hoby, keluarga, dan
lain-lain, tapi matanya terus menelanjangiku
“Dik Citra lagi olah raga yah, soalnya badannya keringatan gitu terus mukanya merah
lagi” katanya
“Iya nih Pak , biasa kan cewek kan harus jaga badan lah, cuma sekarang jadi pegel banget
nih, pengen dipijat rasanya, bapak bisa bantu pijitin ga ?” godaku sambil mengurut-
ngurut pahaku.
Tanpa diminta lagi dia segera bangkit berdiri dan pindah ke sebelahku, waktu berdiri
kuperhatikan ia melihat putingku yang menonjol dari balik kausku, juga kulihat penisnya
ngaceng berat membuatku tidak sabar mengenggam benda itu.

“Mari Dik, kesinikan kakinya biar bapak pijat”


Aku lalu merubah posisi dudukku menjadi menyamping dan menjulurkan kakiku ke
arahnya. Dia mulai mengurut paha hingga betisku. Uuuhh…pijatannya benar-benar enak,
telapak tangannya yang kasar itu membelai pahaku yang putih mulus membangkitkan
birahiku. Akupun mendesah-desah sambil menggigit bibir bawahku.
“Pijatan bapak enak ya Dik ?” tanyanya
“Iya Pak, terus dong…enak….emmhh !” aku terus mendesah membangkitkan nafsu Pak
Hambali, desahanku kadang kusertai dengan geliat tubuh.
Dia semakin berani mengelus paha dalamku, bahkan menyentuh pangkal pahaku dan
meremasnya
“Enngghh…Pak !” desahku lebih kuat lagi ketika kurasakan jari-jarinya mengelusi
bagian itu

Tubuhku makin menggelinjang sehingga nafsu Pak Hambali pun semakin naik dan tidak
terbendung lagi. Celana sportku dipelorotkannya beserta celana dalamku. “Aaww…!”
aku berlagak kaget sambil menutupi kemaluanku dengan telapak tanganku. Melihat
reaksiku yang malu-malu kucing ini dia makin gemas saja, ditariknya celanaku yang
sudah tertarik hingga lutut itu lalu dilemparnya ke belakang, tanganku yang menutupi
kemaluan juga dibukanya sehingga kemaluanku yang berambut lebat itu tampak olehnya,
klistorisku yang merah merekah dan sudah becek siap dimasuki. Pak Hambali tertegun
beberapa saat memandangiku yang sudah bugil bagian bawah itu.
“Kamu memang sempurna Dik Citra, daridulu bapak sering membayangkan ngent*tin
kamu, akhirnya hari ini kesampaian juga” rayunya

Dia mulai melepas kemejanya sehingga aku dapat melihat perutnya yang berlemak dan
dadanya yang berbulu itu. Lalu dia membuka sabuk dan celananya sehingga benda
dibaliknya kini dapat mengacung dengan gagah dan tegak. Aku menatap takjub pada
organ tubuh itu, begitu besar dan berurat aku sudah tidak sabar lagi menggenggam dan
mengulumnya. Pak Hambali begitu membuka pahaku lalu membenamkan kepalanya di
situ sehingga selangkanganku tepat menghadap ke mukanya.
“Hhmm…wangi, pasti adik rajin merawat diri yah” godanya waktu menghirup
kemaluanku yang kurawat dengan apik dengan sabun pembersih wanita.
Sesaat kemudian kurasakan benda yang lunak dan basah menggelitik vaginaku, oohh…
lidahnya menjilati klistorisku, terkadang menyeruak ke dalam menjilati dinding
kemaluanku. Lidah tebal dan kumisnya itu terasa menggelitik bagiku, aku benar-benar
merasa geli di sana sehingga mendesah tak tertahan sambil meremasi rambutnya. Kedua
tangannya menyusup ke bawah bajuku dan mulai meremas buah dadaku, jari-jarinya
yang besar bermain dengan liar disana, memencet putingku dan memelintirnya hingga
benda itu terasa makin mengeras.

“Pak…oohh..saya juga mau…pak !” desahku tak tahan lagi ingin mengulum penis itu.
“Kalau begitu bapak di bawah saja ya dik” katanya sambil mengatur posisi kami
sedemikian rupa menjadi gaya 69
Aku naik ke wajahnya dan membungkukkan tubuhku, kuraih benda kesukaanku itu,
dalam genggamanku kukocok perlahan sambil menjilatinya. Kugerakkan lidahku
menelusuri pelosok batang itu, buah pelirnya kuemut sejenak, lalu jilatanku naik lagi ke
ujungnya dimana aku mulai membuka mulut siap menelannya. Oohh…batang itu begitu
gemuk dan berdiameter lebar persis seperti tubuh pemiliknya, sehingga akupun harus
membuka mulutku selebar-lebarnya agar bisa mamasukkannya.

Aku mulai mengisapnya dan memijati buah pelirnya dengan tanganku. Pak Hambali
mendesah-desah enak menikmati permainanku, sementara aku juga merasa geli di bawah
sana, kurasakan ada gerakan memutar-mutar di dalam liang vaginaku oleh jarinya, jari-
jari lain dari tangan yang sama mengelus-elus klistoris dan bibir vaginaku, bukan itu saja,
lidahnya juga turut menjilati baik anus maupun vaginaku. Sungguh suatu sensasi yang
hebat sekali sampai pinggulku turut bergoyang menikmatinya, juga semakin bersemangat
mengulum penisnya. Selama 10 menitan kami menikmatinya sampai ada sedikit
terganggu oleh berbunyinya HP Pak Hambali. Aku lepaskan penisnya dari mulutku dan
menatap padanya.

Pak Hambali menyuruhku mengambil HP-nya di atas meja ruang tamu, lalu dia berkata
“Ayo dik, terusin dong karaokenya, biar bapak ngomong dulu di telepon”
Aku pun tanpa ragu-ragu menelan kembali penisnya. Dia bicara di HP sambil penisnya
dikulum olehku, tidak tau deh bicara dengan siapa, emang gua pikirin, yang pasti aku
harus berusaha tidak mengeluarkan suara-suara aneh. Tangan satunya yang tidak
memegang HP terus bekerja di selangkanganku, kadang mencucuk-cucukkannya ke
vagina dan anusku, kadang meremas bongkahan pantatku. Tiba-tiba dia menggeram
sambil menepuk-nepuk pantatku, sepertinya menyuruhku berhenti, tapi karena sudah
tanggung aku malahan makin hebat mengocok dan mengisap penis itu sampai dia susah
payah menahan geraman nikmatnya karena masih harus terus melayani pembicaraan.
Akhirnya muncratlah cairan putih itu di mulutku yang langsung saya minum seperti
kehausan, cairan yang menempel di penisnya juga saya jilati sampai tak bersisa.
“Ngga kok…tidak apa-apa…cuma tenggorokkan saya ada masalah dikit” katanya di HP
Tak lama kemudian dia pun menutup HP nya, lalu bangkit duduk dan menaikkanku ke
pangkuannya, tangan kirinya dipakai menopang tubuhku.
“Wah…dik Citra ini bandel juga ya, tadi kan bapak udah suruh stop dulu, eee…malah
dibikin keluar lagi, untung ga curiga tuh orang” katanya sambil mencubit putingku
“Hehehe…sori deh pak, kan tadi tanggung makannya saya terusin aja, tapi bapak seneng
kan” kataku dengan tersenyum nakal
“Hmm…kalo gitu awas ya sekarang bapak balas bikin kamu keluar nih” seringainya, lalu
dengan sigap tangannya bergerak menyelinap diantara kedua pangkal pahaku. Jari tengah
dan telunjuknya menyeruak dan mengorek-ngorek vaginaku, aku meringis ketika
merasakan jari-jari itu bergerak semakin cepat mempermainkan nafsuku.

Pak Hambali menurunkan kaos tanpa lenganku dari bahu dan meloloskannya lewat
lengan kananku, sehingga kini payudara kananku yang putih montok itu tersembul
keluar. Dengan penuh nafsu langsung dia lumat benda itu dengan mulutnya. Aku menjerit
kecil waktu dia menggigit putingku dan juga mengisapnya kuat-kuat, bulatan mungil itu
serasa makin menegang saja. Dia membuka mulutnya lebar-lebar berusaha memasukkan
seluruh payudaraku ke mulutnya, di dalam mulutnya payudaraku disedot, dikulum, dan
dijilat, rasanya seperti mau dimakan saja milikku itu. Sementara selangkanganku makin
basah oleh permainan jarinya, jari-jari itu menusuk makin cepat dan dalam saja. Hingga
suatu saat birahiku terasa sudah di puncak, mengucurlah cairan cintaku dengan deras.
Aku mengatupkan pahaku menahan rasa geli di bawahku sehingga tangannya terhimpit
diantara kedua paha mulusku.

Setelah dia cabut tangannya dari kemaluanku, nampak jari-jarinya sudah belepotan oleh
cairan bening yang kukeluarkan. Dia jilati cairanku dijarinya itu, aku juga ikutan
menjilati jarinya merasakan cairan cintaku sendiri. Kemudian dia cucukkan lagi
tangannya ke kemaluanku, kali ini dia mengelus-ngelus daerah itu seperti sedang
mengelapnya. Telapak tangannya yang penuh sisa-sisa cairan itu dibalurinya pada
payudaraku
“Sayang kalo dibuang, kan mubazir” ucapnya
Kembali lidahnya menjilati payudaraku yang sudah basah itu, sedangkan aku menjilati
cairan pada tangannya yang disodorkan padaku. Tanganku yang satu meraba-raba ke
bawah dan meraih penisnya, terasa olehku batang itu kini sudah mengeras lagi, siap
memulai aksi berikutnya.

“Enggh…masukin aja Pak, udah kepingin nih”


Dia membalik tubuhku, tepat berhadapan dengannya, tangan kananya memegangi
penisnya untuk diarahkan ke vaginaku. Aku membukakan kedua bibir vaginaku
menyambut masuknya benda itu. Setelah kurasakan pas aku mulai menurunkan tubuhku,
secara perlahan tapi pasti penis itu mulai terbenam dalam kemaluanku. Goyanganku yang
liar membuat Pak Hambali mendesah-desah keenakan, untung dia tidak ada penyakit
jantung, kalau iya pasti sudah kumat. Kaosku yang masih menyangkut di bahu sebelah
kiri diturunkannya sehingga kaos itu menggantung di perutku dan payudara kiriku
tersingkap. Nampak sekali bedanya antara yang kiri yang masih bersih dengan bagian
kanan yang daritadi menjadi bulan-bulanannya sehingga sudah basah dan memerah bekas
cupangan.

Kedua tangannya meremas-remas kedua payudaraku, ketika melumatnya terkadang


kumisnya yang kasar itu menggesek putingku menimbulkan sensasi geli yang nikmat.
Lidahnya bergerak naik ke leherku dan mencupanginya sementara tangannya tetap
memainkan payudaraku. Birahiku sudah benar-benar tinggi, nafasku juga sudah makin
tak teratur, dia begitu lihai dalam bercinta, kurasa bukan pertama kalinya dia
berselingkuh seperti ini. Aku merasa tidak dapat bertahan lebih lama lagi, frekuensi
goyanganku kutambah, lalu aku mencium bibirnya. Tubuh kami terus berpacu sambil
bermain lidah dengan liarnya sampai ludah kami menetes-netes di sekitar mulut,
eranganku teredam oleh ciumannya. Mengetahui aku sudah mau keluar, dia menekan-
nekan bahuku ke bawah sehingga penisnya menghujam makin dalam dan vaginaku
makin terasa sesak. Tubuhku bergetar hebat dan jeritanku tak tertahankan lagi terdengar
dari mulutku, perasaan itu berlangsung selama beberapa saat sampai akhirnya aku
terkulai lemas dalam pelukannya.

Dia menurunkanku dari pangkuannya, penisnya terlihat berkilauan karena basah oleh
cairan cinta. Dibaringkannya tubuhku yang sudah lemas itu di sofa, lalu dia sodorkan
gelas yang berisi teh itu padaku. Setelah minum beberapa teguk, aku merasa sedikit lebih
segar, paling tidak pada tenggorokkanku karena sudah kering waktu mendesah dan
menjerit. Kaosku yang masih menggantung di perut dia lepaskan, sehingga kini aku bugil
total. Sebelum tenagaku benar-benar pulih, Pak Hambali sudah menindih tubuhku, aku
hanya bisa pasrah saja ditindih tubuh gemuknya. Dengan lembut dia mengecup keningku,
dari sana kecupannya turun ke pipi, hingga berhenti di bibir, mulut kami kembali saling
berpagutan. Saat berciuman itulah, Pak Hambali menempelkan penisnya pada vaginaku,
lalu mendorongnya perlahan, dan aahh…mataku yang terpejam menikmati ciuman tiba-
tiba terbelakak waktu dia menghentakkan pinggulnya sehingga penis itu menusuk lebih
dalam.

Kenikmatan ini pun berlanjut, aku sangat menikmati gesekan-gesekan pada dinding
vaginaku. Buah dadaku saling bergesekan dengan dadanya yang sedikit berbulu, kedua
paha rampingku kulingkarkan pada pinggangnya. Aku mendesah tak karuan sambil
mengigiti jariku sendiri. Sementara pinggulnya dihentak-hentakkan diatasku, mulutnya
tak henti-hentinya melumat atau menjilati bibirku, wajahku jadi basah bukan saja oleh
keringat, tapi juga oleh liurnya. Telinga dan leherku pun tak luput dari jilatannya, lalu dia
angkat lengan kananku ke atas dan dia selipkan kepalanya di situ. Aahh…ternyata dia
sapukan bibir dan lidahnya di ketiakku yang halus tak berbulu itu, kumis kasar itu
menggelitikku sehingga desahanku bercampur dengan ketawa geli.

“Uuuhh..Pak…aakkhh…!” aku kembali mencapai orgasme, vaginaku terasa semakin


banjir, namun tak ada tanda-tanda dia akan segera keluar, dia terlihat sangat menikmati
mimik wajahku yang sedang orgasme. Suara kecipak cairan terdengar jelas setiap kali dia
menghujamkan penisnya, cairanku sudah meleleh kemana-mana sampai membasahi sofa,
untung sofanya dari bahan kulit, jadi mudah untuk membersihkan dan menghilangkan
bekasnya. Tanpa melepas penisnya, Pak Hambali bangkit berlutut di antara kedua pahaku
dan menaikkan kedua betisku ke pundaknya. Tanpa memberiku istirahat dia meneruskan
mengocok kemaluanku, aku sudah tidak kuat lagi mengerang karena leherku terasa pegal,
aku cuma bisa mengap-mengap seperti ikan di luar air.

“Bapak udah mau…dik…Citra…!!” desahnya dengan mempercepat kocokkannya.


“Di luar…Pak…ahh…uuhh…lagi subur” aku berusaha ngomong walau suaraku sudah
putus-putus.
Tak lama kemudian dia cabut penisnya dan menurunkan kakiku. Dia naik ke wajahku,
lalu dia tempelkan penisnya yang masih tegak dan basah di bibirku. Akupun memulai
tugasku, kukulum dan kukocok dengan gencar sampai dia mengerang keras dan
menjambak rambutku. Maninya menyemprot deras membasahi wajahku, aku membuka
mulutku menerima semprotannya. Setelah semprotannya mereda pun aku masih
mengocok dan mengisap penisnya seolah tidak membiarkan setetespun tersisa. Batang itu
kujilati hingga bersih, benda itu mulai menyusut pelan-pelan di mulutku. Kami
berpelukan dengan tubuh lemas merenungi apa yang baru saja terjadi.

Sofa tempat aku berbaring tadi basah oleh keringat dan cairan cintaku yang menetes
disana. Masih dalam keadaan bugil, aku berjalan sempoyongan ke dapur mengambil kain
lap dan segelas air putih. Waktu aku kembali ke ruang tamu, Pak Hambali sedang
mengancingkan lagi bajunya, lalu meneguk air yang tersisa di gelasnya.
“Wah Dik Citra ini benar-benar hebat, istri-istri bapak sekarang udah ga sekuat adik lagi
padahal mereka sering melayani bapak berdua sekaligus” pujinya yang hanya kutanggapi
dengan senyum manis.

Setelah berpakaian lagi, aku mengantarnya lagi ke pintu depan. Sebelum keluar dari
pagar dia melihat kiri kanan dulu, setelah yakin tidak ada siapa-siapa dia menepuk
pantatku dan berpamitan
“Lain kali kalo ada kesempatan kita main lagi yah Dik”
“Dasar bandot, belum cukup punya istri dua, masih ngembat anak orang” kataku dalam
hati
Akhirnya aku pun mandi membersihkan tubuhku dari sperma, keringat, dan liur. Siraman
air menyegarkan kembali tubuhku setelah seharian penuh berolahraga dan
berolahsyahwat. Beberapa menit sesudah aku selesai mandi, ibuku pun pulang. Beliau
bilang wangi ruang tamunya enak sehingga kepenatannya agak berkurang, aku senyum-
senyum saja karena ruang itu terutama sekitar “medan laga” kami tadi telah kusemprot
pengharum ruangan untuk menutupi aroma bekas persenggamaan tadi.

Bocah Kelas 5 SD VS Gadis SMA


113
Posted by admin on September 18, 2009 – 10:09 pm
Filed under Daun Muda

Cerita ini bermula dari waktu saya masih berumur kurang lebih 10 sampai 13 tahun.
Persisnya saya sudah lupa. Waktu itu saya mempunyai teman bernama Alex. Alex tinggal
dengan keluarganya tidak jauh dari tempat saya tinggal. Alex mempunyai seorang kakak
perempuan bernama Mona. Umurnya 4-5 tahun lebih tua dari kami, jadi waktu itu saya
dan Alex masih SD kelas 5, sedangkan dia sudah SMA.

Mona ini orangnya seksi sekali. Bukan berarti dia sering pakai baju seksi atau bicara
yang nyerempet-nyerempet hal begituan, tapi tidak tahu kenapa kalau saya sedang berada
dalam satu ruangan dengan dia, selalu pikiran saya membayangkan hal-hal yang erotik
tentang dia yang saya tidak pernah terpikirkan sama wanita lain.

Tubuhnya sebetulnya biasa-biasa saja, tidak terlalu tinggi, tapi proporsional. Dan kalau
orang sekarang bilang, body-nya bahenol dan tetap jelas lekuk-lekuk tubuhnya tampak
bila dia berpakaian. Rambutnya panjang sebahu dengan payudara yang sedikit lebih besar
dari rata-rata, dan mengacung ke atas.

Suatu ketika saya sedang main ke rumah Alex, Ayah Mona sedang membetulkan
mobilnya di kebun depan rumah Mona. Kami semua berada di situ melihat ke dalam
mesin mobil tersebut. Saya berdiri persis kebetulan di sebelah Mona. Dia berada di
sebelah kanan saya. Pada waktu itu Mona memakai baju jenis baju tidur, berbentuk
celana pendek dan baju atasan. Warnanya biru muda sekali sampai hampir putih dengan
gambar hiasan bunga-bunga kecil yang juga berwarna biru muda.

Lengan bajunya lengan buntung, dan pas di pinggir lengan bajunya di hiasi renda-renda
berwarna putih manis. Bajunya karena itu pakaian tidur jadi bentuknya longgar dan lepas
di bagian pinggangnya. Bagian bawahnya berupa celana pendek longgar juga, sewarna
dengan bagian atasnya dengan bahan yang sama.

Semua melihat ke dalam mesin mobil sehingga tidak ada yang melihat ke arah saya. Pada
saat itu lah saya melirik ke arah Mona dan melihat payudara Mona dari celah bawah
ketiaknya. Perlu diingat bahwa tinggi badan saya pada umur itu persis sepayudara Mona.
Dia tidak menggunakan BH waktu itu. Puting susunya yang coklat dan mengacung
kelihatan dengan jelas dari celah itu karena potongan lengan bajunya yang kendor.
Hampir seluruh payudara Mona yang sebelah kiri dapat kelihatan seluruhnya. Tentu saja
dia tidak sadar akan hal itu.

Suatu ketika ada juga saat dimana kami sedang bersama-sama melihat TV di ruang tamu.
Saya duduk di sofa untuk satu orang yang menghadap langsung ke TV. Dan Mona duduk
di sofa panjang di bagian sebelah kiri dari TV di depan kiri saya. Saya dapat langsung
melihat TV, tapi untuk orang yang duduk di sofa panjang itu harus memutar badannya ke
kiri untuk melihat TV, karena sofa panjang tersebut menghadap ke arah lain.

Mona akhirnya memutuskan untuk berbaring telungkup sambil melihat TV karena dalam
posisi tersebut lebih mudah. Dia memakai baju tidur berupa kain sejenis sutera putih yang
bahannya sangat lemas, sehingga selalu mengikuti lekuk tubuhnya. Baju tidur ini begitu
pendek sehingga hanya cukup untuk menutupi pantat Mona. Bagian atasnya begitu
kendor sehingga setiap kali tali bahunya selalu jatuh ke lengan Mona dan dia harus
berulang-ulang membetulkannya.
Dalam posisi telungkup begitu baju tidurnya pun tersingkap sedikit ke atas dan
menampakkan vagina Mona dari belakang. Kebetulan saya duduk di bagian yang lebih ke
belakang dari pada Mona, jadi saya dapat melihat langsung dengan bebasnya. Semakin
dia bergerak, semakin bajunya tersingkap ke atas pinggulnya. Mona pada saat itu tidak
memakai pakaian dalam sama sekali, karena kebetulan rumah sedang sepi dan sebetulnya
itu waktu tidur siang.

Kadang-kadang pahanya merenggang dan vaginanya lebih jelas kelihatan lagi. Mona
agaknya tidak perduli kalau saat itu saya sedang berada di situ juga. Sesekali dia bangun
untuk ke dapur mengambil minum, dan sekali ini tali bajunya turun lagi ke lengannya dan
menampakkan sebagian payudara kiri Mona. Kali ini dia tidak membetulkannya dan
berjalan terus ke arah dapur.

Karena banyak bergerak dan membungkuk untuk mengambil sesuatu di dapur, akhirnya
payudara kirinya betul-betul tumpah keluar dan betul-betul kelihatan seluruhnya. Sambil
berjalan balik dari dapur, Mona tidak kelihatan perduli dan membiarkan payudara kirinya
tetap tergantung bebas. Sesekali dia betulkan, tapi karena memang baju tidurnya yang
belahan dadanya terlalu rendah, akhirnya turun lagi dan turun lagi. Dan setiap kali
payudaranya selalu meledak keluar dari balik bajunya, kalau tidak yang sebelah kanan
yang sebelah kiri. Mona tetap kelihatan seperti tidak terjadi apa-apa, walaupun satu
payudara terbuka bebas seperti itu.

Mona kembali berbaring telungkup di sofa panjang melihat ke arah TV. Sekarang
payudara kanannya yang tergantung bebas tanpa penutup. Setelah beberapa lama dan
menggeser-geser posisinya di atas sofa, sekarang baju tidurnya sudah tidak rapi dan
terangkat sampai ke pinggulnya lagi. Karena posisi pahanya yang sekarang tertutup, saya
hanya dapat melihat sebagian bawah pantat Mona yang mulus dan sexy.

Mona menggeser posisinya lagi, dan sekarang tali baju yang sebelah kiri turun. Sekarang
kedua payudaranya bebas menggantung di tempatnya tanpa penutup. Dari posisi saya
tentunya hanya dapat melihat yang bagian kanannya karena saya duduk di bagian kanan.
Mona balik lagi ke dapur untuk yang kesekian kalinya mengambil minum dan tetap
membiarkan payudaranya terbuka dengan bebas. Dan balik lagi telungkup melihat TV.

Saya mencoba mengajaknya mengobrol dalam posisi itu. Tentu saja tidak mungkin
karena dia menghadap ke arah TV. Pertama-tama dia ketahuan sedang malas diajak
ngobrol dan hanya terlihat ingin melihat TV. Karena saya tetap bertanya-tanya ini itu ke
dia, akhirnya dia pun mulai menanggapi saya.

Suatu ketika karena dia harus menghadap saya tetapi malas duduk, akhirnya dia
membalikkan diri ke arah kanan untuk menghadap ke saya. Pada saat itu lah vaginanya
terlihat dengan sempurna terpajang menghadap saya. Perlu diketahui, payudara Mona
masih tetap tergantung bebas dan padat tanpa penutup karena dia tidak repot-repot lagi
membetulkan letak tali bajunya.
Baju tidur Mona terangkat lagi sampai ke pinggul. Dan dia tetap ngobrol seperti seakan-
akan tidak terjadi apa-apa. Cukup lama juga kami ngobrol dengan posisi dia seperti itu.
Kadang-kadang malah kakinya mengangkang menampakkan vaginanya. Dan dia tetap
bersikap seakan-akan tidak ada apa-apa dan tetap berbicara biasa.

Akhirnya saya tidak kuat lagi. Suatu saat, pada saat dia mengambil makanan dari atas
meja dan posisinya membelakangi saya, vagina Mona mengintip dari celah pahanya dari
belakang tepat 1-2 meter di depan wajah saya. Saya buka retslueting saya yang dari tadi
sudah berisi penis yang sudah keras tidak kepalang tanggung, dan mengeluarkannya dari
celana dalam saya.

Dari belakang saya menghampiri Mona perlahan. Pada saat ini dia masih belum tahu dan
masih tetap memilih-milih makanan, sampai terasa ada tangan yang memegang kedua
payudaranya dari belakang dan merasakan ada benda panjang, besar dan hangat
menyentuh-nyentuh di sela-sela paha dan belahan pantatnya.

Mona terkejut. Saya tetap meremas dan memainkan kedua payudara Mona dengan kedua
tangan saya dan mulai perlahan-lahan menyelipkan penis saya ke dalam vaginanya.
Vagina Mona selalu basah dari pertama karena dia dapat menjaga situasi dirinya sehingga
tetap basah walaupun pada saat-saat dia tidak nafsu untuk bermain sex. Penis saya masuk
ke dalam Vagina Mona dari belakang. Mona melenguh tanpa dapat berbuat apa-apa
karena semuanya berlangsung begitu cepat. Tangannya bertumpu ke atas meja makan.

Mungkin dia bertanya-tanya juga dalam hati, ini anak SD tapi nafsunya sudah seperti
orang dewasa. Saya mulai membuat gerakan maju mundur sambil tangan saya masih
meremas-remas payudaranya. Mona terdorong-dorong ke meja makan di depannya,
payudaranya bergoyang-goyang seirama dengan dorongan penis saya ke dalam
vaginanya. Kaki Mona dalam posisi berdiri mengangkang membelakangi saya.

Akhirnya saya klimaks. Sperma demi sperma menyemprot dengan kuatnya ke dalam
vagina Mona, sebagian meleleh keluar dari dalam vagina ke bagian paha dalam Mona
yang masih berdiri mengangkang membelakangi saya. Setelah semprotan terakhir di
dalam vagina Mona, kami masih berdiri lemas tanpa merubah posisi. Kepala saya lunglai
ke depan, kepala Mona juga, napas kami terengah-engah, dan keringat banjir membasahi
tubuh kami.

Akhirnya saya menarik penis saya keluar dari vagina Mona, dan kembali
memasukkannya ke dalam celana dalam dan menarik kembali retslueting ke atas. Mona
masih terengah-engah dalam posisi yang belum berubah bertumpu dengan kedua tangan
ke atas meja makan. Vagina dan belahan pantatnya masih terpajang bebas bergerak
seirama dengan desah napasnya.

Saya kembali duduk di depan TV, dan Mona kembali ke sofa panjang tempat tadi dia
berbaring, tapi sekarang dia tidak telungkup, melainkan duduk tanpa membetulkan letak
dan posisi bajunya atau membersihkan bekas-bekas sperma dan keringat yang ada di
sekujur tubuhnya.
Mona duduk bersandar rileks dan vaginanya terlihat terpajang dengan jelas karena posisi
duduknya yang terbuka lumayan lebar. Matanya setengah terpejam tergolek di atas
sandaran sofa. Tangannya lunglai di samping badannya. Napasnya masih terengah-engah.
Dia melirik sedikit ke arah saya dan tersenyum. Saya pun tersenyum nakal padanya
bagaikan normalnya anak umur 13 tahun. Dan dia berdiri berjalan masuk menuju ke
kamar tidurnya.

Mona ini kalau lagi merasa sendirian di rumah memang betul-betul cuek. Pada saat lain
dimana saya sedang main ke rumah Alex tapi Alexnya belum pulang sekolah, Mona
kerap kali memakai baju semaunya dan sangat minim tanpa repot-repot pakai pakaian
dalam. Kadang-kadang hanya memakai T-shirt sebatas pantat yang kebesaran dan
longgar tanpa pakai apa-apa lagi, dan sudah kebiasaan Mona kalau duduk posisinya tidak
rapi, sehingga pinggul dan selangkangannya seringkali merenggang dan menampakkan
vaginanya yang segar dan basah.

Kadang-kadang dia hanya memakai gaun tidur putih ‘backless’ tipisnya yang mini
dengan belahan dada rendah sebatas puting, sehingga puting susunya seringkali nampak
mengintip keluar. Atau mondar-mandir hanya memakai kimono handuk hijau mudanya
sebatas paha. Dan kalau pakai kimono begitu dibiarkannya tali pinggangnya tidak diikat
hingga bagian depannya tubuhnya terbuka. Jalan ke dapur atau duduk nonton TV di sofa
tanpa membenarkan letak kimononya, atau makan siang setengah telanjang. Dan Mona
sudah biasa begitu jika merasa tidak ada orang di rumah. Vaginanya selalu bebas tanpa
penutup.

Ada kalanya dimana dia baru pulang sekolah dan masih berbaju SMA putih abu-abu.
Semasuknya di rumah yang pertama dilepas adalah celana dalam dan BH-nya dulu. Dan
itu dilakukannya dengan ekspresi seperti dia sedang melepas sepatu dan kaos kakinya,
yaitu di ruang tamu, dan di depan mata saya.

Pernah celana dalam dan BH-nya dilempar ke arah wajah saya sambil dia tertawa
bercanda, atau biasanya dilemparkan saja semaunya di lantai. Terus biasanya dia
kemudian makan siang sambil nonton TV dengan baju OSIS SMA-nya ditambah
payudaranya yang montok padat berisi dan terkocok-kocok jika Mona bergerak dengan
puting susunya yang tercetak jelas. Biasanya penis saya perlahan-lahan mengeras.

Kalau lagi tidak tahan, tanpa basa basi saya buka retslueting celana, keluarkan penis,
angkat rok SMA-nya sampai ke pinggang, tidak perduli dia sedang melakukan apa dan
memasukkan penis saya tanpa minta ijin dia dulu. Biasanya sih dia kaget, tapi tidak
berkata apa-apa sambil mulai menikmati gerakan penis saya mengaduk-ngaduk
vaginanya.

Setelah sperma saya tumpah di dalam, dia pun kembali meneruskan apapun aktivitasnya
yang sempat terhenti oleh sodokan penis saya. Malah seringkali sepertinya aktivitas
Mona tidak terganggu dengan adanya gesekan penis tegang dalam vaginanya. Karena
pernah suatu waktu dia masak di dapur dengan telanjang bulat karena mungkin pikirnya
tidak ada orang di rumah.
Selagi dia masih menghadap ke arah kompor, pelan-pelan dari belakang saya
menghampiri dengan penis teracung. Perlahan-lahan saya selipkan penis berat saya yang
sudah keras di antara celah selangkangannya dari belakang.
Dia kaget dan menengok sebentar, dengan suaranya yang khas dan nada cuek biasanya
dia hanya bilang, “Eh kamu..!”
Kemudian secara refleks dia melebarkan posisi antara kedua kakinya, sedikit
menunggingkan pantatnya dan membiarkan saya bermain dengan payudaranya dan
melanjutkan memasukkan penis saya dari belakang dan menyantapnya sampai selesai.

Memang karena badan saya yang masih setinggi bahunya, setiap kali saya harus naik ke
kursi agar dapat memasukkan penis saya ke dalam vagina Mona. Dan itu saya lakukan
‘anytime-anywhere’ di rumahnya selama hanya ada Mona sendiri di rumah.

Sepertinya Mona begitu merangsang karena pakaiannya dan cara dia menempatkan posisi
tubuhnya yang seakan-akan selalu menyediakan vaginanya yang segar, bersih, sehat,
basah dan berlendir itu 24 jam buat limpahan sperma dari penis saya yang bersih, besar,
berat dan panjang (walaupun waktu itu saya masih di bawah umur) ini di dalamnya.
Mungkin ini yang membedakan dia dengan remaja-remaja perempuan lainnya.

Cinta Pertama
26
Posted by admin on September 18, 2009 – 10:06 pm
Filed under Daun Muda

Cinta pertama tak pernah mati, apalagi bila cinta itu tumbuh saat masa kanak-kanak atau
remaja. Kesederhanaan kala itu justru menjadikan pengalaman masa lalu terpatri erat di
dalam sanubari sebagai kenangan indah yang tak terlupakan. Kisah nyata ini kualami
dengan seorang gadis yang kukenal dan teman bermain sejak kecil, kisah pacaranku
dengan Ayu, seorang gadis yang sangat istimewa bagiku.
Kisah ini terjadi di awal tahun sembilan puluhan. Saat masih kanak-kanak, kami bermain
seperti halnya anak-anak pada umumnya.
“Hoom-pim-pah ..”
“Agus jaga..”. Ia menutup mata di bawah pohon kersen. Kami, anak-anak yang lain, lari
mencari tempat persembunyian. Aku lari ke warung Ma’ Ati yang sudah tutup. Ayu lari
mengikutiku. .Aku merangkak masuk di bawah meja warung itu, Ayu mengikutiku dari
belakang dan jongkok di sebelahku. Ayu dan aku mengintip lewat celah kecil di gedek di
bawah meja yang sempit itu mencari kesempatan untuk lari keluar. Entah mengapa, aku
selalu merasa senang kalau berada dekatnya. Waktu itu rasanya tidak ingin aku keluar
dari tempat persembunyianku. Apakah ini yang namanya “cinta anak-anak”? Aku tak
tahu. Yang aku tahu Ayu memang cantik. Aku juga sadar kalau aku juga ganteng (teman-
temanku bilang begitu). Hingga kalau kami main pangeran-pangeranan, rasanya cocok
kalau aku jadi pangeran, Ayu jadi puteri. Juga dalam permainan lain Ayu cuma mau ikut
dalam kelompokku. Teman-temanku sering memasang-masangkan aku dengan dia.
Masa kecil kami memang menyenangkan. Sampai tiba saatnya aku harus berpisah dengan
teman-temanku karena harus mengikuti ayahku yang ditugaskan di kota lain. Waktu itu
aku masih duduk di kelas empat SD. Sejak itu aku tak pernah dengar kabar apa-apa dari
teman-temanku itu, termasuk Ayu.
Dua belas tahun kemudian.
Aku menghadiri sebuah pesta pengantin. Lagu The Wedding mengalun mengiringi para
tamu yang asyik menikmati hidangan prasmanan. Gadis-gadis tampak cantik dengan
dandanan dan gaun pesta mereka. Sampai Oom Andi, salah seorang pamanku menepuk
pundakku.
“Eh Rik, apa kabar?”
“Oh, baik saja oom.”
“Akan kupertemukan kau dengan seseorang, ayo ikut aku.”
Aku mengikuti oom-ku itu menuju ke seorang gadis yang sedang asyik menikmati ice
creamnya. Gadis itu mengenakan gaun pesta berwarna kuning dengan bahu terbuka,
cantik sekali dia. Begitu aku melihat dia, aku segera teringat pada seseorang.
“Apakah, apakah dia ..?”
“Benar Rik, dia Ayu.”
“Ayu, ini kuperkenalkan pada temanmu.”
Gadis itu tampak agak terperanjat, tetapi sekalipun terlihat ragu-ragu, tampaknya ia pun
mengenaliku.
“Ini Riki, tentu kamu kenal dia,” kata oomku.
Kami bersalaman.
“Wah, sudah gede sekali kamu Ayu.”
“Memangnya suruh kecil terus, memangnya kamu sendiri bagaimana?” katanya sambil
tertawa.
Tertawanya dan lesung pipinya itu langsung mengingatkanku pada tertawanya ketika ia
kecil. Aku benar-benar terpesona melihat Ayu, aku ingat Ayu kecil memang cantik, tetapi
yang ini memang luar biasa. Apakah karena dandanannya? Ah, tidak, sekalipun tidak
berdandan aku pasti juga terpesona. Gaun pestanya yang kuning itu memang tidak
mewah, tetapi serasi sekali dengan tubuhnya yang semampai. Bahunya terbuka, buah
dadanya yang putih menyembul sedikit di atas gaunnya itu membedakannya dengan Ayu
kecil yang pernah kukenal.
“Sudah sana ngobrol-ngobrol tentu banyak yang diceritain,” kata oomku seraya
meninggalkan kami.
“Tuh ada kursi kosong di situ, yuk duduk di situ,” kataku.
Kamipun berjalan menuju ke kursi itu.
“Bagaimana Ayu, kamu sekarang di mana?”
“Aku sekarang tinggal di Semarang, kamu sendiri di mana?”
“Aku kuliah di Bandung, kamu bagaimana?”
Ia terdiam, menyendok ice creamnya lalu melumat dan menelannya, perlahan ia berkata,
“Aku tidak seberuntung kamu Rik, aku sudah bekerja. Aku hanya sampai SMA. Yah
keadaan memang mengharuskan aku begitu.”
“Bekerja juga baik Ayu, tiap orang kan punya jalan hidup sendiri-sendiri. Justru
perjuangan hidup membuat orang lebih dewasa.”
Kira-kira satu jam kami saling menceritakan pengalaman kami. Waktu itu umurku 22, dia
juga (sejak kecil aku sudah tahu umurnya sama dengan umurku). Perasaan yang pernah
tumbuh di sanubariku semasa kecil tampaknya mulai bersemi kembali. Rasanya tak
bosan-bosan aku memandang wajahnya yang ayu itu. Apakah cinta anak-anak itu mulai
digantikan dengan cinta dewasa? Aku tidak tahu. Aku juga tidak tahu apakah ia
merasakan hal yang sama. Yang pasti aku merasa simpati padanya. Malam itu sebelum
berpisah aku minta alamatnya dan kuberikan alamatku.
Sekembali ke Bandung kusurati dia, dan dia membalasnya. Tak pernah terlambat dia
membalas suratku. Hubungan kami makin akrab. Suatu ketika ia menyuratiku akan
berkunjung ke Bandung mengantar ibunya untuk suatu urusan dagang. Memang setelah
ayahnya pensiun, ibunya melakukan dagang kecil-kecilan. Aku senang sekali atas
kedatangan mereka. Kucarikan sebuah hotel yang tak jauh dari rumah indekosku. Hotel
itu sederhana tetapi cukup bersih.
Pagi hari aku menjemput mereka di stasiun kereta api dan mengantarnya ke hotel mereka.
Sore hari, selesai kuliah, aku ke hotelnya. Kami makan malam menikmati sate yang
dijual di pekarangan hotel. Pada malam hari kuajak Ayu berjalan-jalan menikmati udara
dingin kotaku. Entah bagaimana mulainya, tahu-tahu kami mulai bergandengan tangan,
bahkan kadang-kadang kulingkarkan tanganku di bahunya yang tertutup oleh jaket. Kami
berjalan menempuh jarak beberapa kilometer, jarak yang dengan Vespaku saja tidak
terbilang dekat. Tetapi anehnya kami merasakan jarak itu dekat sekali. Sekembali di hotel
kami masih melanjutkan pecakapan di serambi hotel sampai lewat tengah malam,
sementara ibu Ayu sudah mengarungi alam mimpi. Besok sorenya aku ke hotel untuk
mengantarkan mereka ke stasiun untuk kembali ke kota mereka. Ketika aku tiba di hotel,
ibu Ayu sedang mandi, Ayu sedang mengemasi barang-barang bawaannya. Aku duduk di
kursi di kamar itu. Tiba-tiba terbersit di pikiranku untuk memberikan selamat jalan yang
sangat pribadi bagi dia. Dengan berdebar aku bangkit dari tempat dudukku berjalan dan
berdiri di belakangnya, perlahan kupegang kedua bahunya dari belakang, kubalikkan
tubuhnya hingga menghadapku.
“Ayu, bolehkah ..?”
Ia tampak gugup, ia menghindar ketika wajahku mendekati wajahnya. Ia kembali
membelakangiku.
“Sorry Ayu, bukan maksudku ..”
Ia diam saja, masih tampak kegugupannya, ia melanjutkan mengemasi barang-barangnya.
Terdengar bunyi pintu kamar mandi terbuka, ibu Ayu keluar.
Di stasiun, sebelum masuk ke kereta kusalami ibunya. Ketika aku menyalami Ayu aku
berbisik, “Ayu, sorry ya dengan yang tadi.”
Dia hanya tersenyum. Manis sekali senyumnya itu.
“Terimakasih Rik atas waktumu menemani kami.”
Hubungan surat-menyurat kami menjadi makin akrab hingga mencapai tahap serius. Aku
sering membuka suratku dengan “Ayuku tersayang”. Kadang-kadang kukirimi dia humor
atau kata-kata yang nakal. Dia juga berani membalasnya dengan nakal. Pernah dia
menulis begini, “Sekarang di sini udaranya sangat panas Rik, sampai kalau tidur aku
cuma pakai celana saja. Tanaman-tanaman perlu disirami (aku juga).”
Membaca surat itu aku tergetar. Kubayangkan ia dalam keadaan seperti yang
diceritakannya itu. Kukhayalkan aku berada di dekatnya dan melakukan adegan-adegan
romantis dengannya. Aku merasakan ada tetesan keluar dari diriku akibat khayalan itu.
Kuoleskan tetesan itu di kertas surat yang kugunakan untuk membalas suratnya.
(Barangkali ada aroma, atau entah apa saja, yang membuat ia merasakan apa yang
kurasakan waktu itu. Tetapi aku tak pernah cerita pada dia tentang ini.)
Sampai tiba liburan semester, aku mengunjungi dia. Aku tinggal di rumahnya selama
empat malam. Inilah pengalamanku selama empat malam itu.
Aku tiba pagi hari. Setelah makan pagi, aku dan dia duduk-duduk di kamar makan. Aku
melihat Ayu mengenakan cincin imitasi dengan batu berwarna merah muda di jari
manisnya.
“Bagus cincinmu itu. Boleh kulihat?”
Kutarik tangannya mendekat, tetapi aku segera lupa akan cincin itu. Ketika lengannya
kugenggam, serasa ada yang mengalir dari tangannya ke tanganku. Jantungku berdebar.
Tak kulepas genggamanku, kubawa telapak tanganku ke telapak tangannya. Kumasukkan
jari-jariku di sela jari-jarinya. Jari-jarinya yang halus, putih dan lentik berada di antara
jari-jariku yang lebih besar dan gelap. Kugenggam dia, dia juga menggenggam.
Kuremas-remas jari-jari itu. Dia membiarkannya. Kami berpandangan dengan penuh arti
sebelum ia bangkit dengan tersipu-sipu,
“Aku bereskan meja dulu.”
Ia pun membereskan meja makan dan mencuci piring. Setelah itu ia berkemas-kemas
untuk pergi bekerja. Siang itu aku tidak kemana-nama, aku beristirahat sambil membaca
buku-buku novel yang kubawa.
Sore harinya aku, Ayu dan adiknya menonton film di bioskop. Aku ingat ketika nonton
itu aku sempat remas-remasan tangan dengan dia. Setelah pulang nonton kami duduk-
duduk di ruang tamu. Saat itu sekitar pukul sembilan. Kami hanya ngobrol-ngobrol biasa
karena orang-orang di rumah itu masih belum tidur. Ayu membuat secangkir kopi
untukku. Sekitar pukul sepuluh rumah mulai sepi, orang tua dan adik Ayu sudah masuk
ke kamar tidur masing-masing. Hanya tinggal aku dan Ayu di ruang tamu. Ia duduk di
sofa di sebelah kananku.
Dari obrolan biasa aku mulai berani. Kulingkarkan tanganku dibahunya. Ayu diam saja
dan menunduk. Dengan tangan kiriku kutengadahkan wajahnya, kudekatkan kepalaku ke
wajahnya, kutarik dia. Berbeda dengan di hotel waktu itu, ia memejamkan matanya
membiarkan bibirku menyentuh bibirnya. Kukecup bibirnya. Cuma sebentar. Hening,
segala macam pikiran berkecamuk di kepalaku (kukira juga di kepalanya). Aku merasa
jantungku berdegup.
Pelan-pelan tangan kananku kulepas dari bahunya, menyusup di antara lengan dan
tubuhnya, dan kutaruh jari-jariku di dadanya. Ia membiarkan dadanya kusentuh. Aku
melangkah lagi, jari-jariku kuusap-usapkan di situ. Ia membolehkan bahkan
menyandarkan badannya di dadaku. Aku mencium semerbak bau rambutnya. Aku pun
tidak ragu lagi, kuremas-remas payudaranya. Ia tetap diam dan tampaknya ia
menikmatinya.
Setelah beberapa saat ia menggeser badannya sedikit lalu, seolah tak sengaja, ia menaruh
tangannya di pangkuanku, tepat di atas kancing celanaku. Aku tanggap isyarat ini.
Kubuka ruitsluiting celanaku, kutarik tangannya masuk ke sela yang sudah terbuka itu. Ia
menurut dan ia menyentuh penisku, jari-jarinya yang tadi pasif sekarang mulai aktif.
Walaupun masih terhalang oleh celana dalam, ia mengusap-usap di situ. Aku melangkah
lebih jauh lagi, tanganku yang berada di dadanya sekarang memasuki dasternya,
menyusup di sela-sela BH-nya dan kuremas-remas payudaranya langsung. Payudaranya
memang tidak terlalu besar tetapi cukup kenyal dalam remasanku. Dia tak mau kalah,
tangannya menyusup masuk ke celana dalamku dan langsung menyentuh penisku lalu
mengenggamnya. Bergetar hatiku, baru kali itu penisku disentuh seorang gadis, gairahku
melonjak. Dua kali ia menggerakkan genggamannya ke atas ke bawah dan aku tak
tahan .. menyemburlah cairanku membasahi jari-jarinya dan celana dalamku. Aku
mengeluh dan menyandarkan diriku ke sofa. Ia melepaskan tangannya dari celanaku dan
melihat tangannya yang basah.
“Kental ya Rik,” bisiknya.
“Ayu, terlalu cepat ya, ini pengalamanku pertama,” kataku kecewa.
“Aku tahu Rik,” ia memahami.
“Kamu ganti dulu, besok aku cuci yang itu,” lanjutnya.
Ia bangkit ke kamar mandi untuk mencuci tangannya. Aku masuk ke kamar mengganti
celana dalamku. Ketika keluar Ayu sudah berada kembali di situ. Kami ngobrol-ngobrol
sebentar lalu kami pergi tidur. Aku masuk ke kamarku dan Ayu masuk ke dalam, ke
kamarnya.
Malam kedua. Seperti halnya malam pertama, setelah suasana sepi kami memulai dengan
berciuman. Kalau kemarin hanya kecup bibir sebentar, kali ini aku mencoba lebih. Mula-
mula kukecup bibir bawahnya, lalu bibir atasnya, lalu lidahku masuk. Lidahku dan
lidahnya bercanda. Aku mengecap rasa manis dan segar di mulutnya, kurasa ia makan
pastiles atau permen pedas sebelumnya. Lalu kami main remas-remasan lagi. Kali itu dia
tidak memakai BH hingga lebih mudah bagiku meremas-remas payudaranya. Seperti
kemarin tangannya pun meraba-raba penisku. Aku sudah khawatir kalau aku akan cepat
keluar seperti kemarin, tetapi rupanya tidak. Aku juga ingin melakukan seperti yang dia
lakukan. Tanganku menuju ke bawah, kusingkapkan dasternya, tetapi ketika tanganku
menuju ke celananya ia menepisnya. Rupanya ia belum mau sejauh itu. Malam itu kami
cuma main remas-remasan saja. Kuremas-remas payudaranya, dan dia membelai-belai
penisku sementara bibir kami berkecupan. Akhirnya aku tak tahan juga hingga cairanku
menyemprot keluar membasahi tangannya, sama seperti kemarin. Tetapi aku lebih senang
karena kami bisa bermain-main lebih lama. Aku merasa ada kemajuan, aku lebih percaya
diri.
Malam ketiga. Seperti malam-malam sebelumnya, kami mulai dengan saling berciuman
di sofa. Ketika baru mulai babak remas-remasan aku ingat bahwa aku membawa sebuah
buku seksologi. Kuambil buku itu dan kutunjukkan pada Ayu. Kubuka pada halaman
yang ada gambar alat genital pria. Kujelaskan padanya cara bekerjanya alat itu. Dia
mendengarkannya dengan perhatian. Seolah guru biologi aku menunjukkan contohnya,
kubuka ruitsluiting celanaku. Kuturunkan celana dalamku hingga penisku menyembul
keluar dan kupertontonkan pada Ayu. penisku memang beda dengan yang di gambar,
kalau yang di gambar itu lunglai, penisku berdiri tegak. Ayu memperhatikan penisku itu.
“Itu lubangnya ada dua ya?” tanyanya, “Satu untuk kencing, satu lagi untuk ngeluarin?”
“Ah, engga. Cuma ada satu,” kataku sambil tertawa.
Kubuka lubang kecil itu agak lebar untuk menunjukkan bahwa lubangnya memang cuma
satu. Ujung itu merah mengkilat basah oleh cairan bening. Kubawa telunjuknya
mengusapnya dan ia membiarkan jarinya basah. Kemudian jari-jari lentik itu menyusuri
urat-urat di situ dari atas ke bawah.
“Rupanya jelek, tapi kok bisa bikin enak ya,” katanya sambil tertawa.
“Eh, tahunya kalau enak. Memang sudah pernah mencoba?” sahutku.
“Katanya sih,” sahutnya sambil tertawa.
Jemarinya pun memain-mainkan penisku.
“Kalau ini isinya apa?” Candanya sambil memain-mainkan kantung bolaku.
“Biji salak kali,” jawabku sambil tertawa. Ia juga tertawa.
Lalu tangannya menggenggam penisku dan menggosok-gosoknya.
“Jangan keras-keras Ayu. Nanti keluar,” bisikku. Diapun menurut, dia masih
menggenggam tetapi tidak menggosok hanya mengusap-usap perlahan.
“Boleh aku lihat punyamu?” tanyaku.
“Jangan ah,” jawabnya.
“Sebentar saja,” kataku.
Ia pun menurut. Ia membiarkan tanganku menyingkap dasternya dan menurunkan celana
dalamnya hingga ke lutut. Aku menelan ludah, baru kali itu aku melihat alat kelamin
wanita, sebelumnya aku melihatnya cuma di gambar-gambar. Tanganku pun menuju ke
situ. Kuusap-usap rambutnya lalu jariku membuka celah di situ dan kulihat basah di
dalamnya.
“Kok basah kuyup begini.”
“Tadi kamu juga.”
Kutengok penisku, sudah kering memang, karena diusap oleh Ayu, tetapi aku melihat di
ujungnya mulai membasah lagi. Aku ingat ketika membaca buku seksologiku ada bagian
yang namanya “labia majora”, ada “labia minora”, ada “clitoris.” Aku mencoba mencari
tahu yang mana itu. Aku mencoba membuka celahnya lebih lebar tetapi ia menepis
tanganku.
“Sudah ah, malu,” katanya.
Ia kembali menaikkan celana dalamnya.
“Kamu curang Ayu. penisku sudah kamu lihat dari tadi,” kataku bercanda.
“Kan katamu cuma lihat sebentar.”
Susasana hening. Kupeluk dia. Kembali kami berciuman. Tangannya kembali mengusap-
usap penisku. Tanganku juga menyusup ke celana dalamnya (dasternya masih
menyingkap). Dia tidak menolak. Kuusap-usap rambut di balik celana dalam itu dan jari-
jariku pun menggelitik di situ. Aku merasakan basahnya. Kurebahkan dia di sofa, kutarik
celana dalamnya. Tapi Ayu menolak tanganku dan berbisik,
“Di kamar saja Rik.”
Aku sadar, di situ bukan tempat yang tepat.
“Kamu masuk duluan,” katanya.
Akupun masuk ke kamarku melepaskan seluruh pakaianku lalu aku merebahkan diri
menunggu Ayu. Setelah beberapa menit Ayu masuk membawa handuk kecil lalu
mengunci pintu. Ia menghempaskan diri di sisiku. Aku segera tahu bahwa dia tidak
mengenakan celana dalam lagi. Segera kulepas dasternya. Tak ada apa-apa lagi yang
menutupi kami. Tanpa basa-basi lagi kami segera berpelukan dan berkecupan dengan
ganas. Tangan-tangan kami saling meraih, menyentuh, meremas apa saja untuk bisa
saling menggairahkan. Kugigit putingnya. Ia menggelinjang. Ia bangkit dan membalas
dengan mengulum penisku. Ganti aku yang menggelinjang. Kami melakukan itu
mungkin sepuluh menit. Gairah tak tertahankan lagi.
“Rik, masukkan saja..,” bisiknya memohon.
Ayu merebahkan dirinya telentang. Aku mengambil posisi di atasnya. Kedua pahanya
membuka lebar menampung tubuhku, lalu kedua kakinya, seperti juga kedua tangannya,
melingkari tubuhku. Ujung penisku mencari-cari lubang punyanya. Setelah ketemu aku
dorong sedikit. Ia agak mengerang.
“Pelan-pelan Rik,” bisiknya.
Kudorong penisku pelan-pelan, sekali, dua kali, dan akhirnya tembus. Ia menggelinjang
dan mengeluh. Kami berdua merasa di awang-awang. Rasanya bumi ini hanya milik kami
berdua. Kami berdua menggerak-gerakkan tubuh kami mencari sentuhan-sentuhan yang
paling peka.
Kenikmatan makin meninggi, setelah beberapa saat gerakan tubuhnya makin kencang
lalu ia memelukku erat-erat seraya merintih,
“Rik, Rik,..” Aku juga tak tahan dan segera menyusulnya,
“Ayu..” Dia memelukku erat, bibir kami berkecupan ketika benihku menyemprot di
dalamnya. Cairanku menyatu dengan cairannya. Selama beberapa menit kami masih
dalam posisi itu.
“Rik, aku cuma ingin sama kamu, engga ada yang lain lagi,” katanya.
“Begitu juga aku Ayu, aku sayang kamu,” kataku sambil membelai pipinya. Lalu
kukecup bibirnya, mesra dengan segenap perasaanku.
Sekitar setengah jam kami masih berpelukan terbuai oleh pengalaman barusan. Lalu kami
bangkit. Aku lap penisku dengan handuk kecil, dan ia pun mengelap vaginanya, aku lihat
ada darah di handuk itu. Lalu kami rebah berhadapan dan kami berpelukan lagi dan tak
pakai apa-apa. Kami pun tertidur.
Menjelang pagi kurasakan Ayu bangun. Ia akan mengenakan dasternya.
“Aku harus kembali ke kamarku Rik, sudah pagi.”
Tetapi aku menarik tangannya hingga ia kembali rebah di sisiku.
“Masih setengah tiga Ayu, di sini dulu.”
Penisku pun kembali tegang dan keras. Ayu melihatnya.
“Rupanya si kecilmu sudah siap lagi Rik,” candanya.
Ia pun bangkit lalu tubuhnya menindih tubuhku yang rebah telentang. Ia mengecupi
leherku kiri dan kanan bertubi-tubi. Akhirnya bibir itu mampir di bibirku. Lidahku dan
lidahnya berbelitan, sebentar dalam mulutku, sebentar dalam mulutnya. Lalu ia
mengangkat tubuhnya sedikit, mengarahkan lubangnya ke ujung penisku lalu ia
mendorongkan tubuhnya ke belakang hingga penisku masuk ke dalamnya sepenuhnya. Ia
duduk di perutku. Tanganku meremas-remas payudaranya dan ia menggoyang-
goyangkan tubuhnya di atasku. Mula-mula gerakannya tak terlalu cepat tetapi semakin
lama ritme gerakannya makin meninggi lalu ia rebah dalam pelukanku, aku mendengar
desahnya penuh kenikmatan. Namun aku masih tegar. Ganti ia yang kutelentangkan, aku
berada di atasnya, kugerakkan tubuhku. Beberapa saat kemudian kenikmatanpun
menjalar di seluruh tubuhku. Malam itu tak banyak kata-kata yang kami ucapkan, tetapi
tubuh-tubuh kami telah saling bicara mencurahkan seluruh perasaan kami yang
terpendam selama berbulan-bulan. Jam setengah empat sudah, ia mengenakan dasternya
mengecup pipiku dan kembali ke kamarnya. Aku pun tertidur dengan rasa bahagia.
Malam keempat. Kami mulai dengan bercium-ciuman sebentar di sofa. Kami tak mau
berlama-lama di situ, kami pun masuk kamar. Setelah mengunci pintu ia melepaskan
dasternya. Aku juga melepaskan pakaianku. Ternyata di balik daster itu ia mengenakan
blouse dan celana mini tipis yang tak terlampau ketat berwarna biru muda. payudaranya
tidak terlalu besar tetapi cukup menonjol di balik blousenya itu, putingnya tampak jelas
di balik blousenya yang transparan itu dan di celananya aku juga bisa melihat rambutnya
menerawang. Aku terpesona melihat Ayu berdiri di depanku dengan pakaian begitu seksi.
Rambutnya yang bergerai panjang, tubuhya yang semampai sangat serasi dengan yang
dipakainya. Aku duduk terpana di tempat tidur memandangnya. Kalau saja aku bisa
memotretnya pasti tiap malam kupandangi foto itu dengan penuh pesona.
“Luar biasa Ayu, cantik sekali kamu. Di mana kamu beli bajumu itu?”
Dia tidak menjawab, hanya tersenyum. Ia menuju tempat tidur dan merebahkan diri. Aku
pun rebah di sisinya. Kubelai putingnya di balik blousenya itu. Lalu kuusap celananya
dan jari-jariku merasakan kemresak rambut-rambut di baliknya. Lalu kami rebah
berhadapan. Kusisipkan penisku melalui sela celana mininya menyentuh vaginanya lalu
kudekap dan kucium dia. Beberapa menit kami berciuman. Lalu ia bangkit mengecup
dadaku di berbagai tempat.
Kulepas celana mini dan blousenya. Sekarang tak ada apa-apa lagi yang melekat di tubuh
kami. Aku duduk dan ia duduk di pangkuanku berhadapan dengan aku. Punya kami
saling menempel. penisku berdiri tegak dikelilingi oleh rambut-rambutnya dan rambut-
rambutku, hingga penisku tampak seolah-olah punyanya juga. Segera kamipun
berdekapan erat, beciuman sambil duduk. Cukup lama kami bercumbu rayu dengan
berbagai cara. Seperti malam sebelumnya, malam itu kami melakukan lagi dua kali.
Esoknya aku harus kembali ke kotaku. Hari itu Ayu mengambil cuti seharian ia
menemaniku. Sore hari Ayu mengantarku ke stasiun kereta api. Kulihat matanya berkaca-
kaca ketika aku menyalami dia.
“Datang lagi ya Rik, malam ini aku akan memimpikanmu,” katanya ketika aku akan
menaiki kereta.
Ketika kereta bergerak meninggalkan stasiun aku masih melihat dia melambaikan
tangannya sampai ia hilang dari pandanganku.
“Aku pasti datang lagi Ayu,” tanpa sadar kuucapkan kata-kata itu.

Petualangan Akhir Pekan


164
Posted by admin on July 27, 2009 – 7:05 am
Filed under Daun Muda

Aku seorang lajang dan bekerja sebagai asisten manager pada sebuah perusahaan swasta.
Aku mempunyai pengalaman menarik pada saat aku sedang berakhir pekan di Anyer,
Banten beberapa waktu lalu. Biasanya akhir pekan kuhabiskan dengan clubbing dengan
teman-temanku. Tapi kali ini aku ingin sendirian menikmati hari libur yang hanya singkat
itu. Nah, sewaktu disana aku ceroboh saat bermain di pinggir pantai hingga hp
kesayanganku nyemplung di air laut hingga mati total. Gara-gara itulah aku mendapatkan
pengalaman menyenangkan yang tak terduga.

Singkat cerita esoknya hari Sabtu aku jalan-jalan menuju pusat perbelanjaan yang berada
di pusat kota Cilegon untuk membeli pengganti ponselku yang rusak. Sesampainya
disana aku langsung menuju ke lantai atas yang merupakan lokasi pusat perdagangan hp
disana. Setelah cari merek dan model terbaru yang memang sudah kuincar dari kemarin
akhirnya kudapatkan disalah satu gerai yang cukup besar disitu. Sambil duduk, kucoba-
coba fitur yang ada pada ponsel yang baru kubeli. Saat asyik mengutak-utik barang baru
tersebut, sales gerai yang berada dihadapanku sekonyong-konyong berucap,”Cari apa
mbak?”. Refleks kepalaku menoleh samping. Sosok yang disapa tadi berdiri disamping
agak kebelakang. Seorang gadis berseragam hem putih lengan panjang dengan rok abu-
abu panjang semata kaki mengenakan jilbab putih. Yang disapa hanya menjawab,”Ah,
nggak mbak. Cuma lihat-lihat”, sambil tersenyum kecut. Sekilas dari pengamatanku
sosok gadis tersebut mempunyai tinggi 160cm dan berwajah cukup manis dan cantik.
Sepertinya ia tertarik pada ponsel yang baru kubeli ini. Aku tahu itu karena pada saat
melihatnya, dia seperti sedang berdiri memperhatikan hp yang sedang kuutak-utik.

Tak lama kemudian gadis itu beranjak pergi. Entah kenapa aku jadi ingin melihat
sosoknya sekali lagi. Sambil bergaya seperti hendak menelpon dengan hp baru,
kutolehkan kepalaku sedikit.
“Wah! Boleh juga nih cewek”, ujarku dalam hati. Walau siswi itu berbusana serba
tertutup namun karena seragam yang ia kenakan itu nampak ketat membalut maka setiap
lekuk tubuhnya nampak jelas terpampang. Pinggulnya ramping sedangkan pantatnya
bulat dan sekal. Pikiran nakalpun mulai singgah di kepalaku membangkitkan libidoku.
Sekalian ingin mencoba kemampuan hp baru, kuarahkan kameranya untuk memotret
siswi itu walau hanya nampak dari belakang. Pertama aku kupotret seluruh badan dan
yang kedua sengaja aku zoom bagian pinggul dan pantatnya.
“Wow, bohai bener nih pantat! garis cd-nya aja keliatan”, ujarku dalam hati begitu
melihat hasil jepretan kamera ponsel.

Setelah beres urusan hp, aku segera menuju food court yang ada di lantai bawah untuk
makan siang. Sambil menunggu makanan yang kupesan datang iseng kubuka lagi file
foto yang kujepret tadi. Melihat foto itu fantasi liarku mulai melayang jauh. Entah kenapa
baru kali ini aku merasa begitu terangsang oleh penampilannya. Padahal selama ini aku
biasa-biasa saja melihat setiap gadis berjilbab. Mungkin selama ini aku tidak menyadari
seperti ada daya tarik tertentu dari wanita yang berpakaian seperti itu. Kubayangkan
diriku sedang leluasa menjamah dan menikmati tubuh siswi berjilbab itu. Lagi asyik-
asyiknya aku melamun, pelayan food court yang mengantarkan makan siangku
membuyarkan itu semua. Buru-buru kusimpan ponselnya ke saku celana.

Baru saja mau makan, tiba-tiba mataku menangkap sosok yang kubayangkan tadi berada
tidak jauh dari tempatku duduk. Nampaknya ia sedang asyik melihat-lihat pernak-pernik
dan asesori perhiasan yang berada di counter dekat food court ini. Segala gerak gerik
gadis itu tak lepas dari pengamatanku. Saat tubuhnya berbalik hendak beranjak
meninggalkan gerai tersebut, tiba-tiba pandangannya beradu dengan tatapanku.
Nampaknya ia sedikit kaget melihat keberadaanku. Seakan malu melihatku, kepalanya
langsung ditundukkan menghindari tatapanku. Tapi seakan penasaran tidak yakin yang
dilihatnya itu aku, sekali lagi ia menoleh sedikit kearahku. Kulemparkan senyumku
sambil melambaikan tangan kearahnya seakan menggoda sikapnya yang malu-malu
kucing. Gadis itu seakan menjadi kikuk atas sikapku kepadanya. Ia hanya tersenyum
malu lalu menundukkan pandangannya kebawah seakan tidak berani beradu pandang
denganku. Beberapa saat ia hanya berdiam disitu sambil kepalanya celingak-celinguk
seakan takut ada yang mengenalinya berada disekitarnya.

Perlahan aku bangkit dari duduk dan kuhampiri dia. Siswi berjilbab itu kulihat semakin
salah tingkah dan grogi ketika aku mulai mendekat.
“Halo dik, ketemu lagi kita disini. Lagi ngapain? Mau belanja asesoris?”, sapaku. Yang
disapa hanya tersenyum simpul dengan kepala sedikit tertunduk malu sedangkan
tangannya memegang erat tas ransel dipunggungnya. Perlahan dengan suara pelan ia
menjawab,
“Ah, nggak om cuman liat-liat aja koq”, dengan pandangan menunduk kebawah.
Lalu dengan segala keramahan kucoba mengajaknya makan siang bersamaku. Mula-mula
ia tampak sedikit ragu atas ajakanku. Tapi akhirnya dengan sedikit bujuk rayuku ia mau
juga.

Setelah berbasa-basi, kami berkenalan. Namanya Erni Widyaningsih berumur 16 tahun


duduk di kelas 2 salah satu SMK swasta disana. Setelah itu kami lanjutkan perkenalan ini
dengan santap siang. Disini mengalir bermacam-macam obrolan mulai dari dirinya
sampai unek-unek dan permasalahan yang ia hadapi saat ini. Dia adalah anak pertama
dari 4 bersaudara. Bapaknya pegawai honorer pemda sedangkan untuk membantu
menambah penghasilan keluarga ibunya bekerja sebagai karyawan sebuah toko. Erni
sengaja masuk SMK (SMEA) karena begitu lulus ingin bisa langsung kerja membantu
orang tuanya. Namun keinginannya itu bisa kandas ditengah jalan karena sekarang
keuangan orangtuanya yang sedang sulit sehingga ia masih menunggak SPP. Sedangkan
teguran dari sekolah hampir tiap hari diterimanya. Bahkan hari ini ia dipaksa pulang lebih
awal dari sekolah karena masih belum . Yang membuatnya sakit hati yaitu sikap beberapa
teman kelasnya yang terus mengejek dan menyindir keadaan sulit yang sedang
dialaminya. Dia merasa heran dan bingung karena beberapa siswi yang suka
mengejeknya justru berkeadaan sama dengan dirinya. Meskipun begitu penampilan
mereka justru layaknya seperti orang yang berkecukupan. Mulai dari tas, sepatu bahkan
hp bagus mereka punya. Di depan Erni mereka selalu bergaya memamerkan barang-
barang tersebut. Terus terang terkadang ia merasa iri dengan mereka. Sampai disitu,
kutanyakan padanya apakah dia tahu bagaimana teman-temannya itu mampu membeli
barang-barang tersebut. Mendengar pertanyaanku itu sejenak ia diam sambil menunduk
seakan tahu tapi malu menjawabnya. Setelah kudesak secara halus akhirnya keluar
pengakuan bahwa ia pernah mendengar kabar bahwa teman-temannya itu menjual diri
demi mendapatkan materi. Mulanya ia tidak mempercayainya tapi kemudian secara tidak
sengaja ia memergoki salah seorang rekannya itu sedang digaet pria berumur sewaktu
pulang sekolah. Mendengar pengakuannya sambil tersenyum kutanyakan pendapatnya
tentang perilaku teman-temannya itu. Sambil diam sejenak kemudian ia berkata kalau
sebenarnya kesal juga sedikit iri dengan mereka yang mengambil jalan pintas untuk
mendapatkan uang.
“Lha kalau nggak begitu, mungkin mereka juga akan mengalami nasib yang sama dengan
kamu. Habis mau gimana lagi minta sama orang tua sulit, yah satu-satunya cara mungkin
yang seperti kamu bilang itu.”, ujarku sembari menunggu reaksinya. Siswi berjilbab itu
hanya diam tertunduk mendengar kata-kataku. Nampaknya pernyataanku menusuk
kedalam sanubarinya.

Melihat ia yang masih diam saja yang tidak membantah atau mengiyakan pernyataanku
tadi, otakku mulai berputar mencari siasat untuk menggiring gadis yang sedang dalam
kesempitan ini kearah yang kumau. Dengan lembut kutanya, “Erni, kamu masih mau
sekolah kan?”. Dia hanya mengangguk pelan mengiyakan.
“Kalau om tolong bayarin SPP-mu kamu mau nggak?”, tanyaku lanjut.
“Ah, yang benar? Masak sih om?”, sahut Erni sambil memandangku dengan tatapan
kaget seolah tidak percaya.
“Ya iya dong. Om serius mau ngebantu kamu. Masak bercanda?”, jawabku berusaha
meyakinkannya. Terkesima akan tawaranku gadis itu berkata heran,
“Aduh om baik sekali! Koq mau nolongin Erni? Om kan baru kenal sama Erni”.
“Saya nggak tega kalau kamu putus sekolah. Kasian kan kalau cita-cita kamu kandas di
tengah jalan. Kasihan orang tua Erni yang punya harapan besar sama”, ujarku sambil
tersenyum. Sejenak ia terdiam.
“Kenapa? Kamu masih nggak percaya?”, tanyaku.
Lalu ia menjawab, “Bukan begitu om, tapi rasanya Erni nggak bisa membalas kebaikan
hati om. Rasanya bantuan yang diberikan om terlalu besar buat Erni. Kayaknya terima
kasih aja nggak cukup buat membalas semuanya.”, dengan wajah sedikit bingung.
“Ah, kamu nggak usah bingung. Kalau pengen balas budi gampang koq, asal kamu ngerti
caranya.”, timpalku sambil tersenyum penuh arti. Dengan pandangan penuh tanda tanya
ia berkata.
“Caranya gimana om?”, seolah penasaran ingin tahu kemauanku.
“Er, di dunia ini tidak ada yang gratis. Kalau ingin mendapatkan sesuatu kita harus
berusaha. Begitu juga dengan teman-temanmu. Mereka tahu kalau hanya mengandalkan
orang tua segala keinginan yang terpendam tidak akan mereka dapatkan. Jadi walau
banyak yang tidak suka cara mereka, mungkin termasuk kamu, mereka ambil jalan yang
paling gampang. Caranya ya itu tadi yang seperti kamu ceritakan. Jadi… kalau kamu
ingin membalas kebaikan om, yah caranya seperti yang seperti teman-temanmu itu”,
paparku sambil tersenyum penuh arti. Sekilas raut wajah remaja putri itu kaget sekaligus
gelisah mendengar penjelasanku tadi. Ia cuma terdiam sambil tertunduk. Wajahnya yang
manis nampak penuh kebimbangan.

Melihatnya dalam keadaan bimbang kulancarkan rayuan sambil mengiming-iminginya


untuk membelikan segala macam barang bagus. Sekilas kemudian sambil menatapku
dengan tatapan bimbang ia bertanya dengan suara pelan,
“Tapi om kalau… saya nanti hamil gimana?”.
“Oh.. itu sih gampang. Kamu nggak mungkin sampe hamil. Banyak cara buat
mencegahnya koq. Tenang, om ngerti caranya.”, jawabku tersenyum seraya meyakinkan
dirinya yang sedang bimbang. Gadis itu kemudian menurunkan pandangannya ke atas
meja sambil menaruh kedua tangannya diatas meja. Jemari kanannya meremas jemari
kirinya pertanda ia sedang berpikir keras.

Setelah membiarkannya sejenak untuk berpikir, kulancarkan kalimat pamungkas untuk


meruntuhkan kebimbangannya. Seraya memandang tajam wajahnya perlahan tanganku
menyentuh jemarinya sambil berkata,
“Om tidak akan memaksa Erni. Kalau kamu mau om senang sekali, tapi kalau nggak ya
nggak apa-apa. Tapi coba pikirkan sekali lagi, apa ada cara yang lebih baik lagi buat
menyelesaikan masalah kamu sekarang….. hmmm”, seakan mengarahkan pikirannya
kalau tidak ada cara lagi selain yang kutawarkan tadi. Erni hanya bisa memandangku
dengan tatapan sayu seakan pasrah mengiyakan ucapanku. Beberapa saat kami saling
bertatapan seraya kedua tanganku meremas kedua jemarinya. Gadis itu seolah sudah
berada dalam genggamanku karena ia tidak menolak jemarinya yang halus diremas
olehku. Merasa semua sudah berjalan dengan rencanaku, kuajak ia berlalu dari situ.
Singkat cerita, selama dalam perjalanan menuju bungalow tempatku menginap
pandangan dan pikiranku tidak lepas dari sosok siswi SMK disampingku ini. Tangan
kiriku tidak henti-hentinya bergerilya mengelus pipi, dagu, tangan dan bahkan pahanya.
Namun karena sudah pasrah ia diamkan saja perlakuanku itu. Rasanya tidak sabar lagi
untuk segera beraksi. Kularikan kendaraanku secepat mungkin agar cepat sampai tujuan.

Sampai ditujuan keluar dari mobil, bagai sepasang kekasih kurangkul pundaknya dengan
tangan kiriku. Kubawa ia menuju kamar tidur utama. Kemudian setelah menutup pintu
kamar kutarik kedua lengannya dan kuletakkan diatas pundakku. Sedangkan kedua
tanganku mendekap erat tubuhnya. Wajah kami saling berhadapan amat dekat. Wajah
yang cantik manis dengan tatapan sayu serta bibirnya yang mungil agak sedikit terbuka
seperti meminta untuk dilumat. Segera kucium dan kulumat bibirnya dengan gemas
sedangkan kedua tanganku mulai beraksi mengelus punggung dan pinggangnya
bergantian.

Beberapa saat kemudian tanganku beralih turun kepantatnya. Kuelus dan kuraba terasa
kenyal dan padat bongkahan pantat gadis ini. Dengan gemas kuremas-remas pantatnya
sambil sesekali mencengkram dan mendorongnya ke arah selangkanganku. Wajah Erni
mengernyit kaget dengan perlakuanku itu. Apalagi dia merasakan benda aneh yang keras
dari balik celanaku menekan-nekan selangkangannya. Puas melumat bibirnya ciumanku
perlahan turun ke dagu kemudian leher menuju payudaranya. Sepasang payudara yang
montok menggelembung padat meyembul dari balik hem putih lengan panjangnya.
Segera kupagut dan kukulum payudara yang masih tertutup oleh kemeja putih
seragamnya. Tangan kananku segera meraih dan meremas payudara kirinya sedangkan
tangan kiriku masih asyik meremas pantatnya. “Ohh…. mmmhhh”, kepala siswi berjilbab
itu mendongak sambil melenguh menikmati perlakuanku. Kedua tangannya meremas-
remas kepalaku.

Perlahan tangan kananku mulai membuka kancing baju seragamnya satu persatu sambil
menarik bawahan kemeja itu dari balik roknya. Terpampang dihadapanku sepasang buah
dada yang montok berukuran 33 dengan BH yang nampak kekecilan untuk
menampungnya. Lalu kulucuti hem putih lengan panjang beserta BH yang masih
dikenakannya itu. Kini Erni hanya tinggal mengenakan rok abu-abu panjang semata kaki
dengan jlbab putihnya. Sengaja kubiarkan begitu karena bagiku hal tersebut merupakan
sesuatu yang amat menggairahkan.

Melihat pemandangan yang indah ini segera kulanjutkan aksiku dengan menghisap dan
menjilati sepasang puting susu miliknya yang sudah menegang dengan rakus. Terkadang
tanganku ikut bermain dengan memiting dan memilin puting yang berwarna coklat muda
itu.
“Ouhh… ahhh… ahhh”, desah bibir mungil yang setengah terkatup sambil meremas
kepala dan pundakku.
Nafasnya naik turun menahan nikmat. Semakin lama desahannya semakin kencang
membuatku semakin bergairah. Sambil membalikkan tubuh ABG ini hingga
membelakangiku segera kulepas semua pakaian yang kukenakan tinggal celana dalamku.
Kemudian sambil memeluk dari belakang kuraih wajahnya dan kulumat kembali bibir
mungilnya, sementara kugesek-gesek penisku yang sudah menegang di dalam cd-ku
kearah pantatnya. Sedang tangan kiriku asyik memilin puting dan meremas buah dadanya
bergantian, jari tengah tangan kananku mulai mengorek-ngorek kemaluan Erni dari luar
rok abu-abu panjangnya.
“Emmhh… mmhh..”, desahnya tertahan oleh ciumanku sedangkan kedua tangannya pasif
memegangi tangan-tanganku yang sedang bereksplorasi seakan mengikuti permainan ini.

Beberapa menit kemudian kusuruh Erni membungkuk sambil tangannya memegang


pinggiran meja hias yang ada di depannya. Lalu kusingkap roknya keatas sampai
sepinggang. “Wauw indah sekali…”, desahku perlahan melihat pemandangan yang ada
dihadapanku ini. Pantat yang bulat sekal ditopang sepasang paha dan betis mulus dan
bersih. Kutarik celana dalamnya kebawah. Mataku menatap kagum keindahan pantatnya
yang putih mulus. Sejenak kuelus dan kuremas bokong indah itu sambil sesekali
menciuminya dengan gemas. Erni hanya bisa menundukkan kepalanya. Tubuhnya sedikit
bergetar mendapat perlakuan seperti itu.

Setelah itu kurentangkan sedikit kedua pahanya dan kulihat vagina yang ditumbuhi bulu-
bulu halus menebarkan baunya yang khas. Kusibakkan vagina gadis ini dan dengan jari
tengahku kukorek-korek.
“Emmmhh….”, tiba-tiba tubuhnya menggelinjang hebat sambil pahanya bergerak seolah
hendak menjepit tangan kananku yang sedang memainkan liang surganya.

Terus kukorek-korek sampai jariku mulai kebasahan oleh cairan kewanitaan yang keluar
dari sana. Nafas dan desah kecilnya memburu membuat gairahku meningkat. Kurasa ini
saat yang tepat untuk mulai beraksi karena penisku sudah menuntut untuk dimasukkan.
Kutarik jariku, lalu kurebahkan tubuhnya ke ranjang. Matanya menatap sayu kearahku
yang tinggal bercelana dalam.

“Ihhh..!!”, pekiknya pelan sambil menutup wajahnya begitu melihat kemaluanku yang
besar tegak mengacung didepannya. Perlahan kudekati Erni sembari menarik kedua belah
tangannya.
“Kenapa sayang?”, tanyaku sambil tersenyum.
“Takut om, punya om besar sekali. Nanti sakit.”, ujarnya ketakutan.
“Tenang sayang nggak sakit koq. Cuma kayak digigit semut sebentar”, jawabku sembari
mencium bibirnya untuk meredakan ketakutannya.

Kedua tanganku tidak ketinggalan memainkan payudara dan liang vaginanya.


“Mmmhh.. cupp.. cupp”, desahnya tertahan oleh ciumanku. Sedangkan nafas gadis ini
mulai memburu pertanda ia semakin terangsang. Tak lama kemudian kurasakan ujung
jariku semakin basah oleh cairan yang keluar dari kemaluannya.
“Ah, ini dia saatnya”, ujarku dalam hati lalu kurentangkan kedua pahanya lebar-lebar.
Lalu sambil bertumpu dengan lengan kiriku, tangan kananku membimbing sang penis
memasuki kemaluannya.
“Ouhh… sshhh..!”, desisnya sambil menyeringai menahan rasa sakit saat penisku
perlahan memasuki liang kenikmatannya. Kedua tangannya menggenggam erat seprei
ranjang seakan bersiap untuk menerima kejutan lebih lanjut. Luar biasa! Penisku terasa
kesulitan menembus vaginanya. Perlahan senti demi senti kemaluanku menembus lubang
sempit siswi SMK ini. Akhirnya aku berhasil membenamkan seluruh batang
kejantananku kedalamnya. Kurasakan nikmat luar biasa ketika penisku terasa seperti
diurut oleh denyutan dinding kemaluan gadis ini. Sesaat bisa kurasakan kalau ada sesuatu
yang menetes keluar dari kemaluannya. Nampaknya keperawanan gadis ini jebol sudah.

Kemudian perlahan kupompa maju mundur. Paras cantik Erni nampak mengernyit
menahan sakit sambil menggigit bibir bawahnya. Namun lama kelamaan seiring dengan
makin lancarnya genjotan penisku, mimik wajahnya berubah seperti mulai menikmati
permainan ini.
“Shhh.. hehh.. hhhh”, desah kecil bibir mungilnya sembari kedua tangannya
mencengkeram erat lenganku yang sedang bertumpu disamping tubuhnya.

Melihat wajah yang cantik sedang berdesah ini membuatku semakin bergairah. Segera
kulumat bibir itu sambil memainkan lidahku di dalamnya dan ternyata ia juga membalas
dengan memainkan lidahnya.
“Mmmhh… cupp… cupp…”, bunyi ciuman kami berdua yang diselingi permainan lidah.

Semakin lama semakin cepat genjotanku dan secara refleks Erni melingkarkan kedua
kakinya ke pinggulku. Hampir sepuluh menit lamanya kami bersenggama dengan posisi
ini dan tidak lama kurasakan lubang senggamanya semakin basah.
“Ouuhhh…. ohhhh…. Omm…. Err.. nnii.. mo.. pipisss..”, getar suaranya menahan suatu
dorongan luar biasa dari tubuhnya. Nampaknya dara bertubuh sintal ini akan mencapai
klimaksnya. Dan benar saja, tubuhnya bergetar melengkung ke belakang sedangkan
pahanya yang melingkar di pinggulku menjepit erat. Terasa sesuatu yang hanyat
menyemprot keluar dari dalam vaginanya membasahi penisku. Sejenak kuhentikan
genjotan sambil mencabut penisku dari liang senggama dara montok ini.

Nampak penisku dibasahi oleh cairan vagina bercampur darah. Begitu juga vaginanya
dan dengan secarik tisu kubersihkan kemaluan kami berdua. Beberapa menit kemudian
kurangsang Erni kembali untuk menuntaskan hasrat birahiku yang belum tuntas. Tak
lama kemudian vaginanya mulai basah pertanda dia sudah kembali terangsang.

Kemudian dengan mesra kuajak ia turun dari ranjang. Lalu kusuruh dia agar
membungkuk membelakangiku. Tangannya bertumpu dipinggir ranjang sedangkan kedua
kakinya menjejak ke lantai. Rok abu-abu panjangnya yang sempat terjurai kebawah
kuangkat lagi sampai sepinggang. Sambil mencengkeram pantatnya yang montok dengan
tangan kiriku, tangan yang kanan mengarahkan penis yang tegak mengacung ke arah
vaginanya. Sejenak kugesek-gesekkan di bibir kemaluannya yang mulai basah tadi.
“Ohhh…”, desahnya pelan sambil menundukkan kepala sambil tangannya meremas-
remas seprei.

Kini ujung penisku benar-benar terasa basah oleh cairan kewanitaan yang mengucur dari
dalam kemaluannya. Perlahan dengan bantuan tangan kanan aku mulai melakukan
penetrasi. Tidak seperti tadi, sekarang walau masih terasa sempit kemaluanku dengan
lancarnya menerobos masuk sampai pangkal penisku menyentuh bokongnya. Kubiarkan
penisku yang terbenam penuh didalam liang senggama gadis ini sejenak. Lalu dengan
perlahan kumaju mundurkan selangkanganku. Kulakukan dengan tempo lambat untuk
beberapa saat lalu secara bertahap kupercepat sodokanku.

“Ahhh… ahhh… uhhh… uhhh”, desah Erni yang semakin lama semakin kencang.
Tubuhnya terguncang-guncang karena sodokanku yang makin lama makin cepat. Sambil
menyetubuhinya dari belakang kedua tanganku beraksi meremas dan mencengkeram
pantatnya.
“Plakkk… plakkk…”, bunyi selangkanganku saat berbenturan dengan bokongnya.
Terkadang kuremas kedua buah dadanya dari belakang

“Ohhh… Errrnnniii… sayyyanggg… ennakk… khammuu… memang… nikmaatt..


sshhh..”, racauku sembari menggenjot pantatnya dengan cepat.
“Emmmhhh… ohhh… omm… mmhh”, desah siswi berjilbab itu seakan merespon
racauanku sembari kepalanya bergoyang kanan kiri terkadang menunduk kebawah
menahan nikmat. Tubuh kami berdua kini benar-benar basah kuyup bermandikan
keringat. jilbab dan rok sekolah yang melilit dipinggang Erni juga ikut basah karenanya.

Tak terasa lebih dari 10 menit kami berdua bersetubuh dalam posisi ini. Lama kelamaan
dorongan berejakulasi tidak dapat kutahan lagi. Sedangkan gadis yang sedang kugenjot
ini juga mulai menampakkan tanda-tanda akan orgasme.
“Ouhh… omm… Errrhhh… nnnii… mauh… pipisss lagihhh…”, kata dara manis ini
dengan nafas terengah-engah.
“Ssshh… tahhann… sedikitt… llagii… sayyyaaangg. Ommh… jugga… mo.. nyampee..”,
ujarku sembari mempercepat laju sodokanku.

“Ohhhh….”, erang Erni dengan tubuh menegang dengan kepala mendongak seraya
vaginanya megucurkan cairan. Bersamaan dengan orgasmenya Erni akupun mencapai
klimaks. Lalu kupeluk pinggangnya erat-erat sembari membenamkan penisku dalam-
dalam.
Dan,”Ahh….!”, lenguhku nikmat seraya memuntahkan air maniku. Liang senggamanya
sekarang dipenuhi oleh campuran spermaku dan cairan vaginanya. Kemudian kami
berdua terkulai lemas sisi ranjang dengan posisi aku menindihnya dari belakang.
Kubiarkan sejenak kemaluanku yang masih tegang didalam vaginanya.

Hari menjelang sore, tak terasa kami terlelap puas. Saatnya aku mengantar Erni pulang.
Tak lupa sebelumnya kuberi dia pil pencegah kehamilan. Dan sesuai dengan janjiku
padanya tadi, kami mampir dulu di pusat perbelanjaan dan kuberikan semua yang ia mau
plus uang untuk kebutuhan sekolahnya.

Dalam perjalanan mengantarkannya pulang aku sempat menikmati tubuhnya sekali lagi.
Di tempat yang sepi dan gelap jauh dari keramaian kutepikan sedanku. Sembari
menyuruh Erni pindah kepangkuanku kugeser mundur tempatku duduk. Sambil ia duduk
membelakangiku kusingkap rok abu-abu panjangnya dan kusibak celana dalamnya. Lalu
bersetubuhlah kami sampai klimaks. Setelah puas kulanjutkan perjalanan mengantarnya
pulang. Sebelum sampai ditujuan aku berjanji padanya untuk meghubunginya kembali
bila aku cuti atau libur.

Adik Iparku
142
Posted by admin on July 27, 2009 – 6:56 am
Filed under Daun Muda

saya seorang sopir truk.tapi saya gak suka jajan.tapi bukan berarti saya seorang yang gak
suka ABG.begini ceritanya,ketika saya tinggal di rumah mertua,saya sudah menduga adik
ipar saya kelak bila sudah remaja akan tumbuh menjadi gadis yg manis dan
menggairahkan.ketika itu ia masih kelas 3 SD.setelah 3 tahun numpang dirumah
mertua,saya pindah,ngontrak rumah,kira kira 3 km jauhnya.saya tinggal bersama istri dan
anak saya yg 1, ketika itu istri saya lagi hamil 7 bulan.sebulan dirmh kontrakkan,saya di
titipin adik ipar yg saat itu duduk di bangku SMP kelas 1.namanya tusrini atau panggilan
akrabnya C2S alias situs.Di mulut saya menolak,tapi dalam hati,inilah saat saat yg
kutunggu tunggu. Setiap ku pandangi dadanya,makin hari makin membesar aza.Tapi aku
berusaha cuek dan gak peduli.setelah 1 tahun berlalu dadanya benar benar membentuk 2
gunung kembar yg benar benar wow walau tertutup kaos.sering aku mengambil
kesempatan mengambil CDnya saat dia selesai mandi,buru buru aku masuk pura pura mo
beol.Di KM kuambil dan kuciummi CDnya sampai puas sambil membayangkan
memeknya walaupun aku belum pernah melihatnya.Bahkan kujilati bagian yg terkena
cairan putih kental yg kemungkinan itu adalah cairan keputihan.tapi aku tak peduli
bahkan kunikmati bagai susu kental kaleng.setelah puas lalu kutempelkan CDnya
kebagian kepala penisku yg sudah menegang & berdenyut denyut sejak tadi.lalu kuambil
BHnya yang mini itu,dan kuciummi sambil kukocok kocok penisku yang sudah dibalut
CDnya yg berwarna putih kusam itu.sesaat aku terbuai tubuh & wajahnya dalam
khayalan.setelah sekian lama kutahan air syurgaku untuk tidak keluar akhirnya muncrat
dan tumpah di CDnya,kira kira kalau dikiloin air syurgaku sekitar 1 0n”s kayaknya kalau
masuk ke lubang Vagina dan mengisi ruang rahimnya sudah bisa dipastikan bakal buncit
besar perutnya kekenyangan. setelah 1 jam di KM akupun keluar yg sebelumnya kucuci
bersih CDnya agar tak ketauan agar supaya bisa tubicontinu he he he he Tapi keliatannya
ia tak curiga walau setiap hari kupakai CDnya untuk masturbasi.Lama lama aku
penasaran jua,kayak apa sich bentuk teteknya,hingga suatu kali istriku lagi berkunjung
kedesa dgn anakku.Yg membuat ada kesempatan ngintip dia mandi di rumah.Pura pura
aku pergi,jadi seolah olah Dia kutinggal dirumah sendirian.selang setengah jam kemudian
aku pulang dan kudengar musik rock berdengung keras,aku yakin dalam hati Dia lagi
mandi.lalu aku mutar lewat belakang ,benar dugaanku,terdengar suara air berdebur keras
dari KM.serta merta kubuka gembok pintu belakang dan berhasil masuk rumah.lalu aku
berbaring dilantai dekat pintu KM.kudekatkan mataku dicelah celah lubang pintu bagian
bawah engsel pintu KM ,yg memang sebelumnya lubang celah itu sudah ku perlebar.Aku
benar benar takjub pada teteknya yang benar benar buesar dan berukuran 36B dengan
puting susu yang kecil berwarna coklat kemerahan dengan kulit payudara berwarna
kuning langsat dan terlihat halus mengkilap.lalu kutelusuri ke bagian bawah dan
terlihatlah pantatnya,sepasang pantat halus mulus kuning langsat.lalu mendadak ia
membalikkan tubuh dan berjongkok tepat di depan mataku yang kira kira berjarak 25
cm.maka terlihatlah rambut tipis halus berwarna kemerahan walau belum terlihat lebat
tapi aku yakin kelak pasti akan terlihat sangat lebat dan hitam seperti milik
kakaknya.jantungku berdebar keras ,air liurku berkali kali menetes celana dalamku mulai
basah.,saat dari lubang Vaginanya tersembur keras air seninya,jadi aku melihat persis
detik detik memeknya merekah.mungkin bagi kalian memeknya yg lebar itu tidak
menggiurkan,tapi bagiku memeknya bagaikan belahan bibir ayu ashari yg tebal merah
jambu.kuakui memang lebarnya seperti memek istriku yg sudah melahirkan 2
anak,namun justru aku sangat menyukainya apa sebab,Dia masih PRA ONE.dan sangat
sulit untuk di intip bahkan dirayu.membuat aku penasaran, kalo dibanding wajahnya dgn
wajah istriku jelas jauh lebih cantik istriku.hanya saja wajahnya memancarkan ke
angkuhan dan gairah sex yg tidak mudah padam .saat memeknya merekah gairahkupun
memuncak.kubayangkan saat ia cebok,andai boleh aku cebokin memeknya,maka akan
kuceboki memeknya dengan lidah & bibirku,dan akan kulumat habis takkan ku lepas
hingga puas.itulah yg tersirat dalam benakku saat itu.setelah itu ia berdiri dan
mengangkangkan kakinya,dan memasukkan jari tengah tangannya kedalam lubang
kenikmatannya perlahan tapi pasti.aku berpikir pasti ia akan masturbasi,tapi ternyata
tidak .ternyata ia hendak membuang sisa keputihannya.sekali lagi otakku dan hatiku
berkhayal ” jangan kau lakukan itu,perintahlah aku untuk melakukan itu !”Pasti!!! dengan
senang hati akan kulakukan,tapi bukan dengan jari tanganku melainkan dengan lidah dan
bibirku dijamin lebih terasa lembut , hangat , dan super bersih,karena dibantu dengan
hisapan yg kuat namun lembut.dan akan kutelan.Hingga kau merasa puas dan bangga.”
setelah itu ia mengguyur kepalanya dengan air, buru buru aku berdiri dan secepat kilat
naik keatap langit langit km, melalui lubang langit langit yg ada di sebelah km.sedikit
gemetar aku merangkak dan merayap dibawah kolong atap.gemetar menahan birahi serta
takut ketauan.namun akhirnya sampai jua di celah celah lubang bekas paku.ku dekatkan
mataku pd celah itu.OUH asiknya ia,saat mengusapkan sabun di payudaranya yg
menyembul setelah itu ia mengguyurkan air pertanda finishing.Pada saat ia mengambil
handuk kulihat tidak ada CD ataupun BHnya, itu berarti ia nanti keluar dari km dalam
keadaan bugil namun hanya dibalut handuk yg ujungnya disangkutkan pd belahan
dadanya.Spontan aku bergegas turun dan masuk kedalam kamar tidurnya serta melepas
semua pakaianku’ hingga aku telanjang bulat dan menyamarkan diri.saat ia masuk ke
kamarnya aku langsung membekap mulutnya dan berkata ‘ngak usah pakai
handuklah.toh aku sudah melihat semuanya sekarang giliranmu sayang melihat tongkat
ajaibku,sembari kulepas bekapan tanganku dan membalikkan tubuhnya , sehingga ia
kaget, menjerit, serta meronta saat matanya melihat penisku yg besar berdiri tegak seolah
sedang menodongnya.lalu ia berteriak minta tolong,namun teriakkannya seolah ditelan
musik rock yg nonstop itu yg ia stel volumenya terlalu keras hingga membuat para
tetangga saya,tak mendengar teriakkannya,sambil meronta ia mencakar, menendangku
dan menggigit tanganku.namun semua itu membuat aku semakin bergairah lalu
kurebahkan & kutindih tubuhnya secara paksa di pembaringan.Lalu kedua kakiku melilit
kuat kedua kakinya dan merentangkan pahanya yg berusaha mengempit memeknya itu
guna melindungi serangan tongkat syurgaku yg sudah tegang mengeras bagai baja
membara.kedua payudaranya kuremas gemas dan kukulum kulum putingnya.sehingga
kedua tangannya sibuk berusaha mendorong kepalaku saat itulah ia lengah ,
konsentrasinya terpecah.serta merta kedua tanganku membelah bibir kemaluannya dan
serangan rudalku tepat mengenai sasarannya lalu kulepas kedua tanganku lalu
kudekapkan kepunggungnya erat erat , sementara bibir dan lidahku berkelana
kelehernya.yang membuat ia merasakan gairahnya bergejolak namun disisi lain ia merasa
sedang diperkosa kakak iparnya yg sangat ia hormati,namun sangat ia benci saat ini.ber
ulang kali ia memohon untuk melepaskannya sembari menggeser pantatnya kekanan dan
kekiri untuk melepaskan diri.namun goyangannya itu justru membuat semakin dalam
kepala rudalku masuk dan terasa agak licin pertanda ia terangsang pula,lalu kubisikan di
telinganya ,kataku “usah kau takut apa yg telah kuperbuat padamu,karena ini semua
sudah ditakdirkan olehNYA . Dan aku sangat mencintaimu dari kau kecil hingga saat ini
dan sampai akhir hayatku kelak, percayalah sayang aku pasti akan melamarmu karena
aku yakin kaulah yang sejatinya tulang rusukku yg hilang satu.Aku tau kau takut pada
mbak yu mu.Tapi jika kau menuruti apa kataku segalanya pasti akan beres.sesaat ia
tersadar dan berusaha melepaskan lilitan kakiku dengan menyentakkan kakinya namun
justru itu membuat tubuhku bergeser maju mundur dengan keras hingga ujung kepala
penisku menerjang selaput daranya dengan keras dan fatal akibatnya.Ia mendekapku erat
erat serta menjerit tak kuasa air matanya menitik lagi. hingga saat air surgaku muncrat
membasahi dinding dinding vaginanya,ia berkata “ini bukan cinta tapi nafsu”.lalu
kujawab perkataannya “justru ini dapat mengikatmu agar kau tak lepas dariku,karna aku
takut ke hilanganmu, sayangku”.saat akan kucabut penisku,justru ia memegangi pantatku
erat erat, sambil berkata” jangan cabut dulu,anuku terasa ngilu dan perih,please…
wajahnya memelas.hilanglah C2Sku yg angkuh dan sombongnya dulu.Walau sebenarnya
dalam hati kecilku merasa menyesal telah menodai kesuciannya tapi apalah arti sesal
yang tlah terjadi.setelah peluruku mengendur barulah kucopot dari anunya.Aku &Dia
sama sama duduk terdiam.entahlah apa yg dipikirkannya.Sedangkan Aku berfikir
bagaimana kalau kelak ia hamil,atau cerita dgn tetangga atau teman temannya,atau
bahkan ia lapor polisi,iii…ngeri…..Tiba tiba ia menutup mukanya dengan kedua belah
telapak tangannya sambil menangis sesenggukan.Buru buru kupeluk tubuhnya erat erat
sambil ku elus punggungnya dan kukatakan ‘Sayang aku pasrah dan bersalah pdmu,aku
siap memikul semua dosaku pdmu,jika kau ingin melaporkan pd polisi dan lebih senang
aku di penjara,aku siap!!,ato bila kau ingin aku menikahimu,hari ini juga,aku akan
melamarmu.asal kau bahagia,ato kau ingin merobek dadaku dan kau ambil jantungku aku
siap,aku pasrah.”lalu kusodorkan belati pdnya.lalu spontan ia mendorongku dan meraih
belati tadi.Dan hendak HARAKIRI .Aku tercengang dan secepat kilat kurampas belati itu
dari tangannya.belati dapat kuraih tapi wajahku terasa tebal dan pedas,rupanya tangan
kanannya telah melayang dan mendarat tepat di pipiku.sambil membentak
“bedebah,laknat,kenapa kau halangi aku,hah.”puaskah bila aku hidup merana,hanya
karena nafsu kau tega memperkosaku,mencabik cabik harga diriku”?!matanya berkilat
kilat penuh dendam.hatiku jadi kecut juga saat melihatnya marah,Tapi aku berusaha
menghiburnya dengan rayuan gombal yg pernah dulu ku katakan pd mbak yunya.kini ku
ulang lagi pd adiknya.akhirnya luluh juga.Ia setuju dengan usulku untuk menikahinya
setelah lulus SMU.tak lama kemudian lagu rock itu padam.sekali lagi ku cium bibirnya
penuh kasih sayang namun kali ini ia membalasnya penuh nafsu.sesaat birahinya dan
birahiku timbul.tapi tiba tiba pintu depan di ketuk,spontan kami mengambil pakaian
masing masing dan memakainya.Dan kain putih yg memang sudah kusiapkan untuk alas
sperma dan darah ke PRA ONEnya.ku ambil.lalu kusuruh dia tiduran dan mengunci
pintunya dari dalam.lalu aku membuka pintu depan dan dgn tenang ku sapa istriku.dan
pura pura aku kebelakang mengambil pakan ayam dan memberi makan ayam ayam
kami.Hari itu istriku tidak curiga sama sekali.aman aman aza coy… Singkat cerita,selang
2 minggu kemudian Aku bercinta dengan istriku di siang bolong.namun yg terbayangkan
wajah adik iparku itu.sehingga nafsuku berkobar hebat.Rupanya sepasang mata
mengawasi adegan hot kami bisa di tebak, siapa lagi kalau bukan C2S.kiranya ia pulang
lebih awal,dan sudah menjadi kebiasaannya masuk lewat pintu belakang,mungkin ia
penasaran mendengar desahan dan erangan nikmat istriku.saat itu istriku melakukan
segala gaya bahkan oral sex tak ketinggalan.hampir 1jam kami melakukannya.dan
muncratlah cairan kami berdua secara bersamaan.Tiba tiba pintu belakang rumah
dibanting keras keras.kami segera beringsut dan gugup.sampai sampai aku lupa tidak
mengenakan celana luar.hanya berpakaian dancelana dalam sajadan keluar mencari asal
suara itu.rupanya Dia … mukanya merah padam,malu melihat anuku yg terlihat panjang
dan besar yg hanya tertutup CDku saja.juga cemburu melihat adegan kami tadi
rupanya.air matanya berlinang seolah tak rela aku bercinta dengan mba yunya.tapi aku
segera masuk saat terdengar langkah kaki istriku,untuk menghalaunya.dan kukatakan
pdnya bahwasannya C2S sedang ada masalah di sekolah.legalah istriku…. Dua malam
kemudian C2S minta izin pd mba yunya akan pergi kerumah teman sekolah
prianya,spontan aku jadi gusar dan cemburu berat,untung saja istriku malah menyuruhku
untuk mengantarkannya.lega rasanya aku…sepanjang jalan ia mengomel “Dasar laki laki
pengecut,munafik,dll.”namun tak kugubris ocehannya, malah aku balik bertanya” siapa
dan dimanakah PIL yg telah beruntung menjatuhkan hatimu???”sindirku, padahal dlm
hatiku berkobar api cemburu yg sangat dahsyat.jawabnya “nanti kau akan tau.yg jelas.ia
tampan.sopan,mempesona,pengertian dan membuatku bahagia”Kata kata terakhirlah yg
membuat aku semakin penasaran.setelah tiba di tempat itu.ternyata apa yang
dikatakannya adalah benar adanya,badannya tinggi wajahnya tampan,tindak tanduknya
ramah dan sopan,sempurnalah ia bak DEWA turun dari langit.tapi aku berusaha tenang
dan menjabat tangannya.Dan C2S pun mengenalkan “ini temanku yg tadi kuceritakan dan
ini kakak iparku.”setelah itu aku ditinggalkan sendiri di dalam ruang tamunya dan di
suruh menunggu.mereka pergi kebelakang rumah dan entah apa yg mereka bicarakan.yg
jelas aku cemburu,gusar,malu,marah,dsbnya.setelah urusan mereka selesai.maka kami
pamit pulang.sepanjang jalan kami diam seribu bahasa .sesampainya di rumah kami tidur
dimasing masing kamar kami.sepanjang malam kami tidak dapat tidur.pagi hari
kemudian istriku pamit mo ke desa, ada hajatan dirumah sodaranya,pagi pagi benar jam 5
pagi istriku sudah berangkat naik mobil saudaranya.jam 6 pagi C2S mandi, biasa hobby
rutinitasku mengintipnya mandi kujalankan.sambil kukocok anuku,kutelusuri setiap
jengkal bagian tubuhnya,hebatnya ia tak menyadari hal ini ia terlihat cuek ato memang
tak tahu.yg jelas anuku sudah bengkak meradang menahan nafsu birahi.lalu aku lepas
pakaian telanjang bulat.dan ngumpet dikamarnya lagi untuk ke 2 Xnya.tapi sebelumnya
aku memutar lagu senam nonstop agak keras.Tak lama kemudian ia keluar dari kamar
mandi dan sudah berpakaian rapi walau bagian bawahnya masih dibalut handuk.saat
hendak masuk kekamarnya,buru buru aku menarik dan mendekapkan telapak tangannya
ke anuku.ia terperanjat kaget.dan berkata.”Ouw beginikah caramu menyesali
perbuatanmu kemarin dulu?!?.”Tapi aku tak peduli omongannya.dengan segera kulucuti
handuknya lalu CDnya.dan dalam posisi berdiri ku jilati memeknya,ku sedot sedot penuh
nafsu.hebatnya ia tidak menghindar malah menjambak rambutku serta mengerang erang
dan merentangkan kedua pahanya.Dan membenamkan wajahku diantara
selangkangannya.seraya bergumam”terus mas,aku kangen sekali..”lalu ia mundur
perlahan dan akupun maju terus.sehingga sampailah ia di tepi bibir pembaringannya.
rupanya ia hendak duduk.lalu perlahan ia mengocok anuku sambil
bergumam,”seharusnya benda ini hanya milikku saja,tak ada yg boleh menyentuhnya
kecuali aku.”lalu ia mendorongku dan menyuruhku berdiri dan tangannya meraih
******ku dan menjilatinya.serta menelan bulat bulat kepala ******ku.tak terasa
tempurung lututku terasa lemas dan kakiku gemetar,luar biasa.akhirnya ia merebahkan
diri dan menelentangkan kakinya,membuka lebar lebar pahanya.pertanda ia
menginginkannya.serta merta dengan cekatan kutusuk anunya.teman teman taukah
anda.sungguh fantastis liang vaginanya !?!penuh lendir dan membuat ******ku lancar
maju mundur,rupanya ia benar benar bergairah.hanya dalam hitungan menit memeknya
sudah muntah muntah dan mengerang erang.rupanya ia merasa nikmat luar biasa.kini
giliranku mengerang dan menekan memeknya,luar biasa.setelah selesai ia hendak
melepaskan diri tapi justru kutindih Dia dan ku dekap erat.lalu kubisikkan pdnya,”
memekmu hebat,walaupun lebar minta ampun”.jawabnya sewot”udah tau lebar masih
doyan,lagian kalau emang lebar kenapa belum di copot juga???!!sambil berusaha
melepaskan diri,dan semakin ku pererat jepitan kakiku.dan akupun tersenyum puas.lalu
aku berkata”Tus, aku ingin secepatnya menikahimu agar aku bisa menyetubuhimu setiap
hari sampai kau jadi nenek nenek.”"agar aku nggak terus terusan ngintipin kamu
mandi,juga ngocok dan membayangkan dirimu”.Aku akanterus terang pd mba yumu dan
melamarmu.direstui ato tidak aku akan menikahimu,bila perlu kita kawin lari.’”jujur,aku
cemburu ama atta teman priamu itu.”aku tak peduli bila kau pernah di sentuh olehnya ato
belum.yg penting saat ini dan kelak kau hanya milikku.”lalu jawabnya”aku juga cemburu
pd mbayuku saat kemarin dulu kau setubuhi.kelihatannya kau sangat bergairah saat itu
dan sangat menikmatinya,seolah olah tubuh dan permainan ranjangnya lebih hot
dariku”.lalu ku jawab”jangan salah tafsir,sayang dan perlu kau ingat ,setiap kali aku
menyetubuhi mbayumu aku selalu membayangkan Dia adalah dirimu.”tersenyum dan
legalah hatinya kini.”Dengarlah sayang,aku memang sudah mengincarmu sedari
kecil,bahkan aku punya saksi hidup,bila kau tidak percaya.Aku punya bukti otentik dalam
diariku yg berisi hayalan hidup bersamamu.maka dengan sangat terpaksa aku sering
mengintipmu saat mandi,dan semakin dalam ego ku untuk memilikimu se utuhnya.maka
aku sudah merencanakan untuk memperkosamu dengan harapan kau akan merasa
malu,dan tidak ada keberanian mencari pria lain selain yang merenggut ke PRA
ONEnanmu yakni AKU.C2S terdiam menyimak semua pernyataanku dan terlihat berseri
seri di wajahnya.Lalu kutanya “apakah kau juga merasakan hal yg sama seperti aku??
sejenak ia terdiam lalu berkata”lebih kurang begitulah,hanya saja apakah mungkin
aku,tega merebut suami mba yuku sendiri”??!!.setelah kudengar pernyataan polosnya itu
akupun terasa lega.lalu perlahan kucopot anuku tapi ke dua kakinya justru saling mengait
dan menindih pantatku dan iapun menggelengkan kepalanya isyarat tak ingin berakhir
satu ronde.dalam hatiku “busyet nambah ni ye…rupanya ia belum puas maka ia ganti
menindihku dan menggoyang goyangkan pinggulnya dan melumat bibirku penuh nafsu
sambil berkata”mas,ingin punya anak berapa? 4 cukup.”jawabku “enak saja 4,aku sudah
punya program dan cita cita bila kelak kau jadi istriku ,aku ingin punya anak yg lahir dari
rahimmu sebanyak 35 anak.itu artinya kau tidak punya kesempatan menyusui dan satu
tahun se X kau akan mengandung.dan kamu tidak boleh keluar kamar karena kamu akan
telanjang bulat di kamar dan tidur telentang untuk ku setubuhi. setiap24 jam 4 kali
sampai anumu peot dan wajahmu juga peot.supaya atta kagak doyan lagi.kau boleh
keluar tapi seluruh tubuhmu harus tertutup rapat kulitmu tak boleh nampak dimuka
umum.”"Dan pekerjaanmu hanya berdoa dan bersenggama denganku saja”terlihat
banggalah ia saat kalimat kalimat itu terdengar olehnya.seakan akan Dia di peluk erat dan
bermandikan cinta.sementara memeknya yang lebar itu terus melahap habis rudalku yg
kini mulai membengkak.lalu ia berkata”mulai saat ini anumu nggak boleh masuk
kekandang mbakyuku lagi,awas kamu,sementara itu goyangannya semakin
kencang,nafasnya mulai tersenggal senggal,dan bicaranyapun tak keruan,apalagi saat
kupilin putingnya dan kuisap isap serta ku putar putar dengan lidahku.memeknya
semakin keras menekan kemaluanku,kakinya mengejang,nafasnya terengah engah
memburu cepat,tangan kanannya membekap dan membenamkan kepalaku diantara dua
gunung kembarnya yg kenyal namun mengeras.serta tangan kirinya meremas kulit
punggungku erat erat hingga terasa perih.namun semua itu tak kuhiraukan.Dalam hati
aku mencibirnya,”rasain lhu,baru tau yach?!.kalau bercinta itu nikmat?!makanya jadi
cewe jangan munafik,angkuh,seolah olah tak butuh bercinta.mentang mentang pakai
kerudung,kuajak bercinta malah menolak bahkan bersetubuh dgnku menjijikkan dan
hanya kenikmatan sesaat,seperti yang tertulis dalam buku hariannya. “lalu ia melumat
bibirku penuh nafsu.bersamaan dengan itu didalam kemaluannya melelehlah cairan
hangat yang melilit keluar melalui celah celah antara batang kemaluanku dan kepala
penisku,yg akhirnya menyelubungi seluruh batang kemaluanku.yg pada akhirnya
tubuhnya ambruk menindih tubuhku,detak jantungnya masih berdegub keras,serta
vaginanya berdenyut denyut,rasanya seperti dipijit pijit.sementara batang kemaluanku
masih tegar siap menggempur lagi.sambil kubelai belai rambutnya aku bertanya”puaskah
kau bercinta denganku kali ini??! ” namun sesaat ia terdiam hanya menganggukkan
kepalanya saja.lalu aku bertanya lagi”apakah ini kenikmatan sesaat”?? ia mengangkat
kepalanya dan kulit wajahnya memerah ia hendak melepaskan diri dan berusaha
mencopot anunya dariku.tapi dgn sigap kutindih balik tubuhnya dan kutekan keras anuku
menusuk anunya,namun ia meronta dan memakiku,”lepaskan aku bandot”penghianat!!!!”
namun aku tak menghiraukannya malah kujawab,”enak saja,kamu sudah keluar dua
kali,aku baru sekali,bagaimana mungkin kamu bisa hamil kalau cairan surga duniaku
tidak sering sering ku muntahkan di liang vaginamu yg menggiurkan ini ? yang sudah
lama ku idamkan,hah??”tiba tiba tangannya hendak menamparku tapi berhasil kutangkap
dan ke dua tangannya ku pegang erat erat sambil ku gerakkan pantatku maju mundur
secara cepat.sambil aku bertanya lagi”mengapa kau marah marah nona manis?”dia balik
bertanya”mengapa kau membaca buku harianku”?!jawabku singkat “penasaran”sambil
terus kulancarkan serangan rudalku ke gawangnya dgn gencar dan ku beri tanda merah
pd lehernya dgn kecupan nikmat.ada 14 tanda merah di lehernya yg berarti saat itu
usianya 14 th.saat gerakan berontaknya melemah mulailah ku gunakan strategi baru,2
butir telur anuku,berusaha kuikut sertakan masuk ke dalam vaginanya,ku gesek gesekan
pada bibir bagian bawah vaginanya secara perlahan,tekan angkat tekan angkat dstnya.lalu
dia diam melemah tak ada perlawanan lagi,seolah ia menyerah dan pasrah karena lelah
ato bisa juga ia sedang ikut menikmatinya.yg jelas saat ini aku sedang berada di ujung
kenikmatan yg luar biasa,pasalnya penisku berdenyut kencang dan aku berusaha
menahannya.tapi akhirnya menyembur juga walau tidak sebanyak yg pertama tapi
nikmatnya tak jauh beda dengan yang pertama.tubuhnya kudekap erat dan kulumat
bibirnya penuh nafsu bahkan ia ikut mengimbangi dengan menggoyangkan pantatnya dan
membalas lumatan ciumanku.setelah hampir 3 jam kami bercinta akhirnya burungku pun
mengendur dan copot dengan sendirinya dari sarang.ia merasa risih dengan cairan yg ada
di dalam vaginanya dan hendak beranjak dari sisiku,namun kucegah,sebab justru cairan
itu adalah ovum dan sperma kami yg mungkin sedang bereaksi.maka ku anjurkan agar
dia istirahat sejenak.sambil istirahat kami berbincang bincang mengenai sex dan
tanggungjawabku pdnya.to be continue……… dalam keadaan telanjang bulat ku dekap
bagian belakang tubuhnya.setelah nafasnya normal kembali teratur,iapun beranjak dari
ranjang dan masuk ke kamar mandi membersihkan diri dan akupun menguntitnya
mengikuti dia masuk.kami mandi bersama.sekali lagi anuku berdiri dan aku mengajaknya
dgn isyarat kugesek gesekan anuku ke pantatnya.namun ia menolak halus karena
kecapaian.tapi ia janji esok lusa bersedia.tapi ia sempat mengulum dan menjilati
anuku,walau anuku tak keluar tapi cukup bagiku.2 hari kemudian aku pergi karena ada
carteran ke jakarta,aku pamit pd istriku dan c2s,sebelum berangkat secara sembunyi
sembunyi kutemui c2s dikamarnya dan meminta CD yg sedang di pakainya dgn alasan
supaya selamat di jalan karena selalu teringat dia di rumah yg menunggu
kepulanganku.awalnya ia menolak karena ia malu dan jengah.tapi setelah kurayu
rayu,akhirnya ia tanggalkan juga,dan langsung kuciumi CDnya itu di depan matanya
setelah puas lalu aku menyuruhnya membungkusa anuku yg tegak berdiri dgn CDnya dan
kuajarkan cara membungkus yang benar.mula mula bagian CDnya yg menempel pd
lubang memeknya di tempelkan ke kepala penisku,lalu sisanya untuk membungkus
batang dan 2 buah zakarku.lalu ia membekap mulutnya untuk menahan tawanya,sambil
berbisik” kamu gila”.”bukan gila,tapi tergila gila pdmu sayang.!.!”jawabku
mesra.wajahnya nampak bahagia saat kutinggalkan serta terlihat bangga.3 hari kemudian
aku sudah sampai di rumah dan yg pertama kutemui adalah kekasih gelapku.yg saat itu ia
sedang mendengarkan musik SHEILA on 7 di kamarnya yg dari depan rumah ku dengar
lamat lamat,…slamat tinggal kekasih gelapku,moga saja kau lupakan aku….kekasih
sejati…dstnya.lalu kubuka pintu kamarnya perlahan.serta merta ia bangkit dari
ranjangnya dan memelukku serta melumat bibirku dan berbisik “aku kangen sekali,pah.”
” Akupun begitu sayang.”jawabku.lalu terdengar teriakkan istriku yg memanggilku.buru
buru kulepas dekapannya dan kukecup keningnya,serta kubisikkan “tunggu saja
kelak,setelah kita syah jadi suami istri.”lalu ku pegang jemari tangannya dan ku berikan
ring sebagai oleh oleh.aku pun keluar dari kamarnya dan buru buru menemui istriku yg
ada di belakang rumah.dan menyambutku dengan pelukan mesra.malam harinya aku
tertidur pulas.dan tak di sangka sangka istriku melucuti pakaianku serta membuka celana
dalamku dan hendak meremas anuku.bukan main kagetnya ia saat melihat anuku
terbungkus CD yg bukan miliknya.dengan kasar ia membangunkanku dari tidur.dan serta
merta membentakku dan bertanya” CD siapa ini ?”lalu ia menyalakan lampu dan
memandangi CD itu.lalu ia berkata “bukankah ini milik adikku?”lalu ku jawab terus
terang “ya,begitulah kira kira,tapi itu hanya untuk iseng dan selingan saja.aku berusaha
menenangkannya,namun rupanya ia marah besar,marah yg di bumbui oleh perasaan
cemburu.ia meronta ronta saat aku berusaha melucuti pakaian dan CDnya.dengan buas
aku merobek long dressnya hingga terlihatlah payudaranya yg putih itu yg sebagian
tertutup oleh BHnya.lalu kutindih dia dan kuremas remas payudaranya dan kukulum
putingnya sementara ku gosok gosok memeknya yg masih terbungkus CD.lalu ku jilati
perutnya dan merambat ke bawah perutnya,memeknya yg masih terbungkus CD itu
kulumat dgn bibirku dan kedua tanganku meremas jemari tangannya.ia mulai terangsang
dan sejenak menikmatinya dan aku sudah hafal betul ciri khas istriku saat terangsang,ia
pasti akan melebarkan ke dua pahanya.lalu tangannya akan meremas rambut kepalaku
dan membenamkan wajahku pd memeknya.melihat gelagat ini buru buru ku lucuti
CDnya dan ku masukkan jari tengah tanganku ke dalam liang vaginanya untuk mengecek
gairahnya.ternyata memeknya sudah sangat becek tapi aku tak buru buru menusuknya
dgn anuku.tapi malah kujilati dan ku sedot sedot memeknya.ia mengerang dan
menggelinjang tak keruan.lalu ia bangkit dan menarik anuku dan melumat anuku penuh
nafsu,di sedot sedot dan di kulumnya,kini posisi kami jadi 69.wajahku di tindih oleh
memeknya sedangkan dgn brutal ia mencabik cabik anuku dengan mulutnya.kira kira
setengah jam kemudian ia bangkit dan memegangi anuku dan berusaha memasukkannya
ke memeknya yg sudah basah kuyub itu.keruan saja anuku langsung amblas tak bersisa
lalu ia mulai menggoyangkan pinggulnya berputar seperti sedang main
holahop.rambutnya yg hitam panjang terurai turun menutupi wajah dan payudaranya yg
bergoyang goyang.dengan gemas ku remas payudaranya,kupilin pilin putingnya sambil
ku pandangi wajahnya yg cantik itu,pikiranku melayang membandingkan dia dan
adiknya,kalo di lihat dari wajah istriku jauh lebih unggul.istriku berwajah
ceria,anggun,cantik tentunya,serta berwibawa.kalau adiknya,berwajah
kalem,angkuh,menggairahkan,serta galak,seperti macan betina sedang menyusui.ke 2
kalo diliat dari payudaranya c2s jelas lebih buesar karena berukuran 36 b dan putingnya
sangat kecil,ke 3 kalo di liat dari pantat dan pinggulnya C2S juga 1 tingkat diatas
istriku.ke 4 kalo diliat dari memek dan rambut kemaluannya sama sama lebar,becek,dan
hitam lebat,serta halus kalo di liat dari kulitnya sama sama halus mulus tanpa cacat dari
ujung kaki sampai ujung rambutnya,hanya warna kulitnya agak berbeda sedikit,yakni
kalo istriku,luar dalam kuning langsat,tapi kalo C2S bagian luar berwarna kuning langsat
ke coklatan tapi bagian dalamnya berwarna kuning langsat seperti mbakyunya.Dan yg
membuat aku penasaran pd c2s,ia selalu memakai ******.Tiba tiba istriku mengerang
dan menyuruhku menjilati lehernya serta menyuruhku mengangkat pantatku tinggi
tinggi.lalu ia bergerak maju mundur dgn cepat dan mendekapku erat erat yang akhirnya
muntahlah sudah cairan ovumnya lalu ia melumat bibirku sekali lagi.lalu aku berpura
pura hendak mencopot anuku tapi ia malah menekan anuku keras keras serta me mijit
mijit anuku dgn memeknya yg berdenyut denyut itu.seakan akan ia enggan
melepaskannya.lalu aku bertanya,”sudah puas sayang?”ia hanya menganggukkan
kepalanya saja.lalu aku berkata”mari sini,biarlah kujebolkan gawangmu ini,gawang yg
telah membuat anuku meradang,sambil kubalik posisi kami,tanpa melepaskan kemaluan
kami yang berdempetan.lalu giliranku menggasaknya dengan kasar dan brutal maju
mundur secara cepat dan kebiasaanku selalu mengikut sertakan dua buah biji zakarku
menggesek gesekkan pd bagian bawah kemaluannya yang mengakibatkan orgasmeku
memuncak,sementara mulutku memanggil manggil nama istriku namun dalam hatiku
memanggil nama kekasih gelapku,Tusrini ohhhh tus….
oh…..sayangku.cintaku,nafsuku…..oh…..tusssss ……kakiku yg melilit kakinya
mengejang serta serangan rudalku semakin gencar dan terdengar istriku mengerang
kesakitan dan perih. yg akhirnya muncratlah sudah air syurgaku.lalu istriku mengusap
usap punggungku berulang kali serta bertanya” apakah tadi saat kau bercinta
denganku,kau membayangkan sedang bercinta dengan adikku ? jujurlah sayang ? ato kau
hanya berusaha melayaniku dan menyenangkanku saja ? dengan jawaban yg
munafik,kujawab pertanyaan istriku itu,”tidak,sayang!itu tidak benar!”sambil ku copot
anuku dari memeknya dan bangkit dari ranjang.serta berpura pura belum puas
menyetubuhinya, jari tengah tanganku ku masukkan ke dalam memeknya yg sangat
becek itu dan memutarnya perlahan sambil menciumi pipi dan lehernya,terlihat redamlah
api cemburunya,lalu ia bertanya lagi “jawablah dgn jujur dan terbuka ,buatlah aku
cemburu dan buatlah aku ingin bercinta selalu.”pancingnya “apakah kau sudah
menidurinya”dan “apakah kau mencintainya?”sejenak aku terdiam dan ku putar otakku
mengolah jawaban yg tepat.lalu aku menjawab,jangan marah bila aku terus terang
,sayang.berjanjilah!!!!!ia mengangguk serta tersenyum dan mengangkat dua jari tangan
kanannya serta mengucapkan janjinya “aku janji ndak akan marah walau sepahit apapun
nantinya.!!”lalu aku mulai mengarang cerita yakni saat aku secara tidak sengaja melihat
payudaranya yg bergelantungan saat dia mengepel lantai ruang tamu.akhirnya membuat
aku penasaran dan membuat aku ingin mengintipnya saat ia mandi serta ku ceritakan
CDnya sebagai alat ngocok,semua itu kulakukan demi menahan terjadinya tindak
perkosaan.Tiba tiba ia memelukku dan menciumku mesra.Lalu aku berjanji pdnya untuk
tidak mengulangi perbuatanku itu lagi,tapi ia malah menjawab di luar
dugaanku,”teruskan saja hobimu itu dan salurkanlah hasratmu itu pdku saja,kecuali bila
aku lagi M,kau boleh gunakan CDnya untuk menyalurkan hasratmu itu,dan sesekali aku
ingin menontonnya.”Bukan main”,istriku memang penuh pengertian,sampai aku bengong
tak percaya mendengarnya.

Didi dan Tante


68
Posted by admin on July 27, 2009 – 6:45 am
Filed under Daun Muda

Didi mengenal seks pada usia 18 tahun ketika masih sekolah. Waktu itu karena Didi yang
bandel dikampungnya maka ia dikirim kesekolah yang ada Pondok Pesantrennya di Jawa
barat, Didi lalu dititipkan pada keluarga teman baik ayahnya, seorang Kiayi Fuad begitu
Didi memanggilnya ia adalah seorang yang cukup berpengaruh, pak Kiayi mengelola
pesantren itu sendiri yang lumayan besar. Anak-anak mereka, Halmi dan Julia yang
seusia Didi kini ada di Mesir sejak mereka masih berumur 12 tahun. Sedangkan yang
sulung, Irfan kuliah di Pakistan. Istri Kiayi Fuad sendiri adalah seorang pengajar
disekolah dasar negeri disebuah kecamatan Didi memanggilnya Nyai Fifi, wanita itu
berwajah manis dan berumur 40 tahun dengan perawakan yang bongsor dan seksi khas
ibu-ibu istri pejabat. Sejak tinggal di rumah Kiayi Fuad iDidi seringkali ditugasi
mengantar Nyai Fifi, meskipun hanya untuk pergi ke balai desa atau pergi kota
Kabupaten.
Meski keluarga Kiayi Fuad cukup kaya raya dan terpandang namun tampaknya hubungan
antara dia dan istrinya tak begitu harmonis. Didi sering mendengar pertengkaran-
pertengkaran diantara mereka di dalam kamar tidur Kiayi Fuad, seringkali saat Didi
menonton televisi terdengar teriakan mereka dari ruang tengah. Sedikitpun Didi tak mau
peduli atas hal itu, toh ini bukan urusannya, lagi pula Didi kan bukan anggota keluarga
mereka. Biasanya mereka bertengkar malam hari saat penghuni rumah yang lain telah
terlelap tidur, dan Belakangan bahkan terdengar kabar kalau Kiayi Fuad ada mempunyai
wanita lain sebagai isteri simpanan. ?Ah untuk apa aku memikirkannya? bisik hati Didi.
Biar saja Kiayi Fuad berpoligami yang penting aku dapat beronani sambil
membayangkan tubuh bahenol Nyai Fifi, dan sekali kali ingin juga aku menyetubuhi
isterinya pak Kiayi Fuad yang cantik itu?.busyeeeet pikiran kotor ku mulai kambuh lagi,
Aah masa bodoh emang aku pikirin he heeeeee.
Suatu hari di bulan Oktober, Bi Tinah, seorang pembantu dan Mang Darta penjaga
pesantren juga pulang kampung mengambil jatah liburan mereka bersamaan saat
Lebaran. Sementara Kiayi Fuad pergi berlibur ke Mesir sambil menjenguk kedua
anaknya di sana. Nyai Fifi masih sibuk menangani tugas tugas sekolahan yang mana para
muridnya hendak menghadapi ujian, Nyai Fifi lebih sering terlambat pulang, hingga di
rumah itu tinggal Didi sendiri. Perasaan Didi begitu merdeka, tak ada yang mengawasi
atau melarangnya untuk berbuat apa saja di rumah besar disamping pesantren. Mereka
meminta Didi menunda jadwal pulang kampung yang sudah jauh hari direncanakan, dan
Didi mengiyakan saja, toh mereka semua baik dan ramah padanya. Malam itu Didi duduk
di depan televisi, namun tak satupun acara TV itu menarik perhatiannya. Didi termenung
sejenak memikirkan apa yang akan diperbuatnya, sudah tiga hari tiga malam sejak
keberangkatan Kiayi Fuad ke Mesir, Nyai Fifi tak tampak pulang ke rumah hingga sore
hari. Maklumlah ia harus bolak balik ke kabupaten mengurus soal ujian sekolah dikantor
Dinas pendidikan., jadi tak heran kalau mungkin saja hari ini ia ada di kota kabupaten,
Saat sedang melamun Didi melirik ke arah lemari besar di samping pesawat TV layar
lebar itu. Matanya tertuju pada rak piringan VCD yang ada di sana. Dan dalam hati Didi
penuh dengan tanda Tanya?dalam hati Didi berbisik Segera kubuka sajalah mana tahu
ada film bagus untuk ditonton, sambil memilih film-film bagus yang ada disitu yang
paling membuat aku menelan ludah adalah sebuah film dengan cover depannya ada
gambar wanita telanjang. Tak kulihat lama lagi pasti dari judulnya aku sudah tahu
langsung kupasang dan.., ?wow!? batinku kaget begitu melihat adegannya yang
membangkitkan nafsu. Seorang lelaki berwajah Arab sedang menggauli dua perempuan
sekaligus dengan beragam gaya.
Sesaat kemudian aku sudah larut dalam film itu. Penisku sudah sejak tadi mengeras
seperti kayu, malah saking kerasnya terasa sakit, aku sejenak melepas celana panjang dan
celana dalam yang kukenakan dan menggantinya dengan celana pendek yang longgar
tanpa CD. Aku duduk di sofa panjang depan TV dan kembali menikmati adegan demi
adegan yang semakin membuatku gila. Malah tanganku sendiri meremas-remas batang
kemaluanku yang semakin tegang dan keras. Tampak penis besarku yang panjang sampai
menyembul ke atas melewati pinggang celana pendek yang kupakai. Cairan kentalpun
sudah terasa akan mengalir dari sana.
Tapi belum lagi lima belas menit, karena terlalu asyik aku akan sampai tak menyangka
Nyai Fifi isteri Kiayi Fuad sudah berada di luar ruang depan sambil menekan bel. Ah,
aku lupa menutup pintu gerbang depan hingga Nyai Fifi bisa sampai di situ tanpa
sepengetahuanku, untung pintu depan terkunci. Aku masih punya kesempatan mematikan
power off VCD Player itu, dan tentunya sedikit mengatur nafas yang masih tegang ini
agar sedikit lega. Aku tidak menyangka Nyai Fifi yang seorang guru dan isteri seorang
Kiayi punya koleksi VCD porno atau VCD itu hasil rampasan dari tangan para santri
santri yang Bengal yang kedapatan menyelundupkan VCD porno tsb kedalam pondok
pesantren. Karena rata rata para santri yang ada dipondok pesantren itu adalah para
korban Narkoba. Seketika timbul penyakit bengal ku, karena kenakalanku sewaktu
dikampung aku ketahuan mengintip isteri tetangga yang sedang mandi sebab kenakalan
itu aku dititipkan oleh ayahku pada keluarga Kiayi Fuad di Tasikmalaya dikota kecil
didaerah jawa barat, semantara asal ku dari pulau Sumatera. Dan aku sering memangil
isteri pak Kiayi itu dengan sebutan tante Fifi dan terkadang juga kupanggil perempuan
cantik itu dengan panggilann Nyai Fifi karena dia adalah isteri seorang Kiayi terpandang
dan sangat kayak arena memiliki berhektar hektar sawah dan kebun buah buahan.
?Kamu belum tidur, Di??, sapanya begitu kubuka pintu depan.?Belum, Nyai?, hidungku
mencium bau khas parfum Tante Fifi yang elegan.?Udah makan??.?Hmm.., belum sih,
tante sudah makan??, aku mencoba balik bertanya.?Belum juga tuh, tapi tante barusan
dari rumah teman, trus di jalan baru mikirin makan, so tante pesan dua kotak nasi goreng,
kamu mau??.?Mau dong tante, tapi mana paketnya, belum datang kan??.?Tuh kan, kamu
pasti lagi asyik di kamar makanya nggak dengerin kalau pengantar makanannya datang
sedikit lebih awal dari tante?.?oo?, jawabku bego.
Nyai Fifi berlalu masuk kamar, kuperhatikan ia dari belakang. Uhh, bodinya betul-betul
bikin deg-degan, atau mungkin karena aku baru saja nonton BF yah?Ayo, kita makan..?,
ajaknya kemudian, tiba-tiba ia muncul dari kamarnya sudah berganti pakaian dengan
sebuah daster bermotif bunga bunga yang longgar tanpa lengan dan berdada rendah.
Mungkin Nyai Fifi merasa kegerahan setelah memakai baju panjang dan rambutnya
selalu tertutup ****** seharian. Penampilan khas perempuan cantik itu sebagai isterinya
pak Kiayi, bila ia berada diluar rumah mesti memakai pakaian yang menutupi seluruh
tubuhnya. Walaupun sekujur tubuhnya tertutup baju panjang dan ****** masih nampak
seksi dan anggun, malam itu benar benar membuatku jadi terpana saat?.dan bergairah
ingin memeluk tubuhnya.
?Ya ampun Nyai Fifi?, batinku berteriak tak percaya, baru kali ini aku memperhatikan
wanita itu dalam keadaan tidak memakai ****** dan baju panjangnya. Kulitnya putih
bersih, dengan betis yang woow, berbulu menantang pastilah perempuan cantik ini punya
nafsu seksual yang liar, itu kata temanku yang pengalaman seksnya tinggi. Buah dadanya
tampak menyembul dari balik gaun tidur itu, apalagi saat ia melangkah di sampingku,
samar-samar dari sudut mataku terlihat indah payudaranya yang putih lembut.?Uh.., apa
ini gara-gara film itu??, batinku lagi. Khayalanku mulai kurang ajar, atau selama ini aku
melihat Nyai Fifi selalu memakai jubah panjang dan ber****** jadi aku tidak tahu
bentuk tubuhnya yang sebenarnya, seketika aku memasukkan bayangan Nyai Fifi ke
dalam adegan film tadi.?Hmm..?, Tak sadar mulutku mengeluarkan suara itu.?Ada apa,
Di??, isteri pak Kiayi itu memandangku dengan alis berkerut.?Nngg.., nggak apa-apa
Nyai..?, Aku jadi sedikit gugup. Oh wajahnya, kenapa baru sekarang aku melihatnya
begitu cantik??Eh.., kamu ngelamun yah, ngelamunin siapa sih? Pacar??, tanyanya.?
Nggak ah tante?, dadaku berdesir sesaat pandangan mataku tertuju pada belahan dadanya.
Wow serasa hendak jebol celana yang kupakai oleh desakan penisku yang memberontak
tegang.?Oh My god, gimana rasanya kalau tanganku sampai mendarat di permukaan
buah dadanya, mengelus, merasakan kelembutan payudara itu, oohh?, lamunan itu terus
merayap melambung tinggi.?Heh, ayo.., makanmu lho, Di?.?Ba.., bbaik Nyai?, jelas
sekali aku tampak gugup.?Nggak biasanya kamu kayak gini, Di. Mau cerita nggak sama
tante Fifi?.Oh my god, dia mau aku ceritakan apa yang aku lamunkan? Susumu itu Nyai,
susumu yang tergantung indah aku remas remas ya bisik hatiku, aku mulai berfikir
bagaimana bisa menyetubuhi isteri Kiayi Fuad yang montok dan cantik ini.
Pelan-pelan sambil terus melamun sesekali berbicara padanya, akhirnya makananku habis
juga. Aku kembali ke kamar dan langsung menghempaskan badanku ke tempat tidur.
Masih belum lepas juga bayangan tubuh Nyai Fifi. ?Gila! Gila! Kenapa perempuan paruh
baya itu membuatku gila?, pikirku tak habis habisnya. Umurnya terpaut sangat jauh
denganku, aku baru 18 tahun.., dua puluh lima tahun dibawahnya. Ah, mengapa harus
kupikirkan, persetan ah yang penting bagaimana caranya aku dapat menikmati tubuh
montoknya.
Aku melangkah ke kamarku dan berbaring ditempat tidur, mencoba melupakanya, Tapi
mendadak pintu kamarku diketuk dari luar.?Di.., Didi.., ini Tante Fi?, terdengar suara
tante Fifi yang seksi itu memanggil.?Ah..?, aku beranjak bangun dari ranjang dan
membukakan pintu, ?Ada apa, tante??.?Kamu bisa buatin tante kopi??.?oo.., bisa tante?.?
Tahu selera tante toh??Iya tante, biasanya juga saya lihat Bi Tinah?, jawabku singkat dan
langsung menuju ke dapur.?Tante tunggu di ruang tengah ya, Di?.?Baik, tante?.?Didi..??
Ya.., tante?.?Kamu kalau habis pasang film seperti ini lain kali masukin lagi ke
tempatnya yah?.?mm.., ma.., ma.., maaf tante..? aku tergagap, apalagi melihat Tante Fifi
isteri pak kiayi itu yang berbicara tanpa melihat ke arahku. Benar-benar aku merasa
seperti maling yang tertangkap basah.?Di..?, Tante Fifi memanggil dan kali ini ia
memandangi, aku menundukkan muka, tak kubayangkan lagi kemolekan tubuh istri Kiayi
Fuad itu. Aku benar-benar takut bercampur dengan nafsu.?Tante nggak bermaksud marah
lho, di..?, byarr hatiku lega lagi.?Sekarang kalau kamu mau nonton, ya sudah sama-sama
aja di sini, toh sudah waktunya kamu belajar tentang ini, biar nggak kuper?, ajaknya.?
Woow..?, kepalaku secepat kilat kembali membayangkan tubuhnya. Aku duduk di sofa
sebelah tempatnya. Mataku lebih sering melirik tubuh Tante Fifi daripada film itu.?Kamu
kan sudah 18 tahun, Di. Ya nggak ada salahnya kalau nonton beginian. Lagipula tante
kan nggak biasa lho nonton yang beginian sendiri..?. Tak kusangka ucapan isteri Kiayi
Fuad begitu terang terangan, padahal Nyai Fifi adalah seorang pendidik alias guru apakah
karena dunia ini sudah semakin tua, atau isteri Kiayi itu yang nampaknya alim namun
sesungguhnya memiliki nafsu syahwat besar yang tak tersalurkan.Apa kalimat itu berarti
undangan? Atau kupingku yang salah dengar? Oh my god Tante Fifi mengangkat sebelah
tangannya dan menyandarkan lengannya di sofa itu. Dari celah gaun di bawah ketiaknya
terlihat jelas bukit payudaranya yang masih seger dan bentuknya indah. Ukurannya
benar-benar membuatku menelan ludah Wooow. Posisi duduknya berubah, kakinya
disilangkan hingga daster itu sedikit tersingkap. Yeah, betis indah dengan bulu-bulu
halus, Hmm? Wanita 40-an itu benar-benar menantang, wajah dan tubuhnya mirip sekali
dengan Marisa Haque, hanya Tante Fifi kelihatan sedikit lebih muda, bibirnya lebih
sensual dan hidungnya lebih mancung. Aku tak mengerti kenapa perempuan paruhbaya
ini begitu tampak mempesona di mataku. Tapi mungkinkah..? Tidak, dia adalah istri
seorang Kiayi yang terpandang, orang yang belakangan ini sangat memperhatikanku.
Aku di sini untuk belajar.., atas biaya mereka.., ah persetan!
Tante Fifi mendadak memindahkan acara TVRI ke sebuah TV swasta.?Lho.. kok??.?Ah
tante bosan ngeliatin acara di TV itu terus, ..?.?Tapi kan..?.?Sudah kalau mau kamu mau
nonton yang lain nonton aja sendiri di kamar..?, wajahnya masih biasa saja.?Eh,
ngomong-ngomong, kamu sudah hampir setahun di sini yah??.?Iya tante..?.?Sudah punya
pacar??, ia beranjak meminum kopi yang kubuatkan untuknya.?Belum?, mataku melirik
ke arah belahan daster itu, tampaknya ada celah yang cukup untuk melihat payudara
besarnya. Tak sadar penisku mulai berdiri.?Kamu nggak nyari gitu??, ia mulai melirik
sesekali ke arahku sambil tersenyum.?Alamaak, senyumnya.., oh singkapan daster bagian
bawah itu, uh Tante Fifi.., pahamu?, teriak batinku saat tangannya tanpa sengaja
menyingkap belahan gaun di bagian bawah itu. Sengaja atau tidak sih?
?Eeh Di.kamu ngeliatin apaan sih??.Blarr.., mungkin ia tahu kalau aku sedang
berkonsentrasi memandang satu persatu bagian tubuhnya, ?Nnggak kok tante nggak
ngeliat apa-apa?.?Lho mata kamu kayaknya mandangin tante terus? Apa ada yang salah
sama tante, Di??, ya ampun dia tahu kalau aku sedang asyik memandanginya.?Eh.., mm..,
anu tante.., aa.., aanu.., tante.., tante?, kerongkonganku seperti tercekat.?Anu apa.., ah
kamu ini ada-ada saja, kenapa..?, matanya semakin terarah pada selangkanganku,
******* aku lupa pakai celana dalam. Pantas Tante Fifi tahu kalau penisku tegang.?Ta..,
ta.., tante cantik sekali..?, aku tak dapat lagi mengontrol kata-kataku. Dan astaga,
bukannya marah, Tante Fifi malah mendekati aku.?Apa.., tante nggak salah dengar??,
katanya setengah berbisik.?Bener kok tante..?.?Tante yang seumur ini kamu bilang
cantik, ah bisa aja. Atau kamu mau sesuatu dari tante?? ia memegang pundakku, terasa
begitu hangat dan duh gusti buah dada yang sejak tadi kuperhatihan itu kini hanya
beberapa sentimeter saja dari wajahku. Apa aku akan dapat menyentuhnya, come on
man! Dia istri pemilik pondok pesantren ini batinku berkata?Aah persetan.
Tangannya masih berada di pundakku sebelah kiri, aku masih tak bergeming. Tertunduk
malu tanpa bisa mengendalikan pikiranku yang berkecamuk. Harum semerbak parfumnya
semakin menggoda nafsuku untuk segera berbuat sesuatu. Kuberanikan mataku melirik
lebih jelas ke arah belahan kain daster berbunga itu. Wow.., sepintas kulihat bukit di
selangkangannya yang ahh, kembali aku menelan ludah.
?Kamu belum jawab pertanyaan tante lho, Di. Atau kamu mau tante jawab sendiri
pertanyaan ini??.?Nggak kok Nyai, ss.., ss.., saya jujur kalau tante memang cantik, eh..,
mm.., dan menarik?. Terus apa lagi ayo bilang..?aaaku mau pegang susu Nyai.
Kuberanikan diriku sambil menatap kedua bola matanya yang indah itu.?Kamu belum
pernah kenal cewek yah?.?Belum, tante?.?Kalau tante kasih pelajaran gimana??.Ini dia
yang aku tunggu, ah persetan walau dia ini isteri Kiayi Fuad sahabat ayahku aku tak
perduli. Anggap saja ini pelajaranku dari Tante Fifi. Dan juga.., oh aku ingin segera
merasakan tubuh wanita cantik ini.?Maksud tante.., apa??, lanjutku bertanya, pandangan
kami bertemu sejenak namun aku segera mengalihkan.?Kamu kan belum pernah pacaran
nih, gimana kalau kamu tante ajarin caranya menikmati wanita..?.?Ta.., tapi tante?, aku
masih ragu.?Kamu takut sama pak Kiayi suamiku? Tenang.., yang ada di rumah ini
cuman kita, lho?.?Wow hebat?, teriakku dalam hati. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Batinku
terus berteriak tapi badanku seperti tak dapat kugerakkan. Beberapa saat kami berdua
terdiam.?Coba sini tangan kamu?, aku memberikan tanganku padanya, my goodness
tangan lembut itu menyentuh telapak tanganku yang kasarnya minta ampun.?Rupanya
kamu memang belum pernah nyentuh perempuan, Di. Tante tahu kamu baru beranjak
remaja dan tante ngerti tentang itu?, ia berkata begitu sambil mengelus punggung
tanganku, aku merinding dibuatnya, sementara di bawah penisku yang sejak tadi sudah
tegang itu mulai mengeluarkan cairan hingga menampakkan titik basah tepat di
permukaan celana pendek itu.?Tante ngerti kamu terangsang melihat tetek ini, dan tante
perhatiin belakangan ini kamu sering diam-diam memandangi tubuh tante, benar kan??,
ia seperti menyergapku dalam sebuah perangkap, tangannya terus mengelus punggung
telapak tanganku. Aku benar-benar merasa seperti maling yang tertangkap basah, tak
sepatah kata lagi yang bisa kuucapkan.?Kamu kepingin pegang dada tante kan??. Daarr!
Dadaku seperti pecah.., mukaku mulai memerah. Aku sampai lupa di bawah sana adik
kecilku mulai melembek turun. Dengan segala sisa tenaga aku beranikan diri membalas
pandangannya, memaksa diriku mengikuti senyum Nyai Fifi isteri pak Kiayi itu, Dan..,
astaga.., perempuan cantik ini menuntun telapak tanganku ke arah payudaranya yang
menggelembung besar itu. Oooh lembutnya.?Ta.., ta.., tante.., oohh?, suara itu keluar
begitu saja dari bibirku, dan Tante Fifi hanya melihat tingkahku sambil tersenyum.
Adikku bangun lagi dan langsung seperti ingin meloncat keluar dari celana dalamku. Istri
pak Kiayi itu melotot ke arah selangkanganku.?Waawww.., besar sekali punya kamu
Di??, serunya lalu secepat kilat tangannya menggenggam kemaluanku kemudian
mengelus-elusnya. Secara reflek tanganku yang tadinya malu-malu dan terlebih dulu
berada di permukaan buah dadanya bergerak meremas dengan sangat kuat sampai
menimbulkan desah dari mulutnya. Aaagghhh?enaaaak, isep Di?.Ooooooooh?aahh.., mm
remas sayang oohh??.teruuuuuuuus Di.
Masih tak percaya akan semua itu, aku membalikkan badan ke arahnya dan mulai
menggerakkan tangan kiriku. Aku semakin berani, kupandangi wajah istri pak Kiayi itu
dengan seksama.?Teruskan, Di.., buka baju tante?, perempuan itu mengangguk pelan.
Matanya berbinar saat melihat kemaluanku tersembul dari celah celana pendek itu.
Kancing dasternya kulepas satu persatu, bagian dadanya terbuka lebar. Masih dengan
tangan gemetar aku meraih kedua buah dadanya yang putih itu. Perlahan-lahan aku mulai
meremasnya dengan lembut, kedua telapak tanganku kususupkan melewati dasternya.?
mm.., tante..?, aku menggumam merasakan kelembutan buah dada besar Tante Fifi yang
selama sebulan terakhir ini hanya jadi impianku saja. Jari jemariku terasa begitu nyaman,
membelai lembut daging kenyal itu, aku memilin puting susunya yang begitu lembutnya.
Akupun semakin berani, Dasternya kutarik ke atas dan woowww.., kedua buah dada itu
membuat mataku benar-benar jelalatan.?Mm.., kamu sudah mulai pintar, Di. Tante mau
kamu ..?, Belum lagi kalimat Tante Fifi habis aku sudah mengarahkan mulutku ke puncak
bukit kembarnya dan ?crupp..?, sedotanku langsung terdengar begitu bibirku mendarat di
permukaan puting susunya. ?Aahh.., Didi, oohh.., sedoot teruus aahh?, tangannya
semakin mengeraskan genggamannya pada batang penisku, celana pendek ku sejak tadi
dipelorotnya ke bawah. Sesekali kulirik ke atas sambil terus menikmati puting buah
dadanya satu persatu, Tante Fifi tampak tenang sambil tersenyum melihat tingkahku yang
seperti monyet kecil menetek pada induknya. Jelas isteri pak Kiayi itu sudah
berpengalaman sekali. Batang penisku tak lagi hanya diremasnya, ia mulai mengocok-
ngocoknya. Sebelah lagi tangannya menekan-nekan kepalaku ke arah dadanya.
?Buka pakaian dulu, Di? ia menarik baju kaos yang kukenakan, aku melepas gigitanku
pada puting buah dadanya, lalu celanaku di lepaskannya. Ia sejenak berdiri dan melepas
gaun dasternya, kini aku dapat melihat tubuh Nyai Fifi yang bahenol itu dengan jelas.
Buah dada besar itu bergelantungan sangat menantang. Dan bukit di antara kedua
pangkal pahanya masih tertutup celana dalam putih, bulu-bulu halus tampak merambat
keluar dari arah selangkangan itu. Dengan agresif tanganku menjamah CD-nya, langsung
kutarik sampai lepas.
?Eeeiit.., ponakan tante sudah mulai nakal yah?, katanya genit semakin membangkitkan
nafsuku.?Saya nggak tahan ngeliat tubuh tante?, dengusanku masih terdengar semakin
keras.?Kita lakukan di kamar yuk..?, ajaknya sambil menarik tanganku yang tadinya
sudah mendarat di permukaan selangkangannya.?Shitt!? makiku dalam hati, baru saja aku
mau merasakan lembutnya bukit di selangkangannya yang mulai basah itu.
Isteri pak Kiayi itu langsung merebahkan badan di tempat tidur. Tapi mataku sejenak
tertuju pada foto pak Kiayi yang pakai sorban dengan baju kokonya.?Ta.., tapi tante??
Tapi apa, ah kamu, Di? Tante Fifi melotot.?Tante kan istri pak Kiayi?.?Yang bilang tante
istri kamu siapa??, aku sedikit kendor mendengarnya.?Saya takut tante, malu sama pak
Kiayi?.?Emangnya di sini ada kamera yang bisa dilihat dari Mesir sana? Didi, Didi..,
Kamu nggak usah sebut nama pak Kiayi itu lagi deh!?, intonasi suaranya meninggi,
mungkin Nyai yang cantik ini sudah sangat benci kepada suaminya yang mempunyai
isteri lagi, perempuan cantik ini memang dimadu oleh pak Kiayi sampai sampai rasa
benci terhadap suaminya ia lampiaskan dengan jalan menggiring gairah nafsuku untuk
menyetubuhinya.?Trus gimana dong tante??, aku tambah tak mengerti.?Sudahlah Di,
kamu lakukan saja, kamu sudah lama kan menginginkan memegang payudara tante?? aku
tak bisa menjawab, sementara mataku kembali memandang selangkangan Tante Fifi yang
kini terbuka lebar. Hmm, persetan dari mana dia tahu aku sudah menantikan ini, itu
urusan belakang.
Aku langsung menindihnya, dadaku menempel pada kedua buah payudara itu,
kelembutan buah dada yang dulunya hanya ada dalam khayalanku saat beronanii
sekarang menempel ketat di dadaku. Bibir kamipun kini bertemu, Nyai Fifi menyedot
lidahku dengan lembut. Uhh, nikmatnya, tanganku menyusup di antara dada kami,
meraba-raba dan meremas kedua belahan susunya yang besar itu?.Aggggh Di kamu anak
yang pintar teruuuus Di.
?mm.., oohh.., Nyai.., aahh?, kegelian bercampur nikmat saat Tante Fifi memadukan
kecupannya di leherku sambil menggesekkan selangkangannya yang basah itu pada
penisku.?Kamu mau sedot susu tante lagi??, tangannya meremas sendiri buah dada itu,
aku tak menjawabnya, bibirku merayap ke arah dadanya, bertumpu pada tangan yang
kutekuk sambil berusaha meraih susunya dengan bibirku. Lidahku mulai bekerja dengan
liar menjelajahi bukit kenyal itu senti demi senti.?Hmm.., pintar kamu Di, oohh..?
Desahan isteri pak Kiayi mulai terdengar, meski serak-serak tertahan nikmatnya jilatanku
pada putingnya yang lancip.?Sekarang kamu ke bawah lagi sayang..?. Aku yang sudah
terbawa nafsu berat itu menurut saja, lidahku merambat cepat ke arah pahanya, Tante Fifi
membukanya lebar dan semerbak aroma selangkangannya semakin mengundang
birahiku, aku jadi semakin gila. Kusibak bulu-bulu halus dan lebat yang menutupi daerah
vaginanya. Uhh, liang vagina itu tampak sudah becek dan sepertinya berdenyut, aku ingat
apa yang harus kulakukan, tak percuma aku sering diam-diam nonton VCD porno
sewaktu di Sumatera Lidahku menjulur lalu menjilati vagina isteri pak Kiayi
itu?.Aggggggh ampuuuuuun, ?Ooouuhh.., kamu cepat sekali belajar, Di. Hmm, enaknya
jilatan lidah kamu.., oohh ini sayang?, ia menunjuk sebuah daging yang mirip biji kacang
di bagian atas kemaluannya, aku menyedotnya keras, lidah dan bibirku mengaduk-aduk
isi liang vaginanya.?oohh, yaahh.., enaak, Di, pintar kamu Di.., oohh?, Tante Fifi mulai
menjerit kecil merasakan sedotanku pada biji kacangnya yang belakangan kutahu
bernama clitoris.
Ada sekitar tujuh menit lebih aku bermain di daerah itu sampai kurasakan tiba-tiba ia
menjepit kepalaku dengan keras di antara pangkal pahanya, aku hampir-hampir tak dapat
bernafas.?Aahh.., tante nggak kuaat aahh, Didii?, teriaknya panjang seiring tubuhnya
yang menegang, tangannya meremas sendiri kedua buah dadanya yang sejak tadi
bergoyang-goyang, dari liang vaginanya mengucur cairan kental yang langsung
bercampur air liur dalam mulutku.?Uff.., Di, kamu pintar bener. Sering ******* yah?? ia
memandangku dengan genit.?Makasih Di, selama ini tante nggak pernah mengalaminya..,
makasih sayang. Sekarang beri tante kesempatan istirahat sebentar saja?, ia lalu
mengecupku dan beranjak ke arah kamar mandi.
Aku tak tahu harus melakukan apa, senjataku masih tegang dan keras, hanya sempat
mendapat sentuhan tangan Tante Fifi. Batinku makin tak sabar ingin cepat menumpahkan
air maniku ke dalam vaginanya. Masih jelas bayangan tubuh telanjang isteri pak Kiayi itu
beberapa menit yang lalu.., ahh aku meloncat bangun dan menuju ke kamar mandi.
Kulihat perempuan paruhbaya yang cantik itu sedang mengguyur tubuhnya dengan air?
Tante..?. mau saya entot sekarang ??Hmm, kamu sudah nggak sabar ya?? ia mengambil
handuk dan mendekatiku. Tangannya langsung meraih batang penisku yang masih
tegang.?Woowww.., tante baru sadar kalau kamu punya segede ini, Di.., oohhmm?, ia
berjongkok di hadapanku. Aku menyandarkan tubuh di dinding kamar mandi itu dan
secepat kilat Nyai Fifi memasukkan penisku ke mulutnya.
?Ohh.., nikmat Tante Fifi oohh.., oohh.., ahh?, geli bercampur nikmat membuatku seperti
melayang. Baru kali ini punyaku masuk ke dalam mulut perempuan, ternyata.., ahh..,
lezatnya setengah mati. Penisku tampak semakin tegang, mulut mungil Tante Fifi hampir
tak dapat lagi menampungnya. Sementara tanganku ikut bergerak meremas-remas
payudaranya.?uuhh.. punya kamu ini lho, Di.., tante jadi nafsu lagi nih, yuk kita lanjutin
lagi?, tangannya menarikku kembali ke tempat tidur, Tante Fifi seperti melihat sesuatu
yang begitu menakjubkan. Perempuan setengah baya itu langsung merebahkan diri dan
membuka kedua pahanya ke arah berlawanan, mataku lagi-lagi melotot ke arah belahan
vaginanya. mm.., kusempatkan menjilatinya semenit lalu dengan tergesa-gesa aku tindih
tubuhnya.?Heh.., sabar dong, Di. Kalau kamu gelagapan gini bisa cepat keluar
nantinya?.?Keluar apa, Tante??.?Nanti kamu tahu sendiri, deh? tangannya meraih
penisku di antara pahanya, kakinya ditekuk hingga badanku terjepit diantaranya. Pelan
sekali ibu jari dan telunjuknya menempelkan kepala penisku di bibir kemaluannya.
?Sekarang kamu tekan pelan-pelan sayang.., Ahhooww, yang pelan sayang oh punya
kamu segede kuda tahu!?, liriknya genit saat merasakan penisku yang baru setengah
masuk itu.?Begini tante??, dengan hati-hati kugerakkan lagi, pelan sekali, rasanya seperti
memasuki lubang yang sangat sempit.?Tarik dulu sedikit, Di.., yah tekan lagi. Pelan-
pelan.., yaahh masuk sayang oohh besarnya punya kamu.., oohh?. Oooh enaaak Di,
Aaaagggh panjangnya punya kamu sampai mentok kedasar Di.?Tante suka??. ?Nyai aku
entot ya ?…Gimana Nyai rasanya?.?Suka sayang oohh, sekarang kamu goyangin.., mm..,
yak gitu terus tarik, aahh.., pelan sayang vagina tante rasanya.., oouuhh mau robek,
mmhh.., yaahh tekan lagi sayang.., oohh.., hhmm.., enaakk.., oohh?.?Kalau sakit bilang
saya yah tante??, kusempatkan mengatur gerakan, tampaknya Tante Fifi sudah bisa
menikmatinya, matanya terpejam seraya menggigit bibirnya disertai desahan manjanya.
Oooh Di setubuhi tante, Agggggh enaaaak Di?punyamu besaaaar.
?Hmm.., oohh..?, Tante Fifi kini mengikuti gerakanku. Pinggulnya seperti berdansa ke
kiri kanan. Liang vaginanya bertambah licin saja. Penisku kian lama kian lancar,
kupercepat goyanganku hingga terdengar bunyi selangkangannya yang becek bertemu
pangkal pahaku. Plak.., plak.., plak.., plak.., aduh nikmatnya perempuan setengah baya
ini. Mataku merem melek memandangi wajah keibuan Tante Fifi yang masih saja
mengeluarkan senyuman. Nafsuku semakin jalang, gerakanku yang tadinya santai kini
tak lagi berirama. Buah dadanya tampak bergoyang ke sana ke mari, mengundang bibirku
beraksi.
?oohh sayang kamu buas sekali. hmm.., tante suka yang begini, oohh.., genjot terus
mm?.?Uuhh tante nikmat tante.., mm tante cantik sekali oohh..?. Oooh enaknya
*******in isteri pak Kiayi. Aku mulai meracau nikmat.?Kamu senang susu tante yah?
oohh sedoot teruus susu tantee aahh.., panjang sekali peler kamu oohh, Didii..,
aahh?.Jeritannya semakin keras dan panjang, denyutan vaginanya semakin terasa
menjepit batang penisku yang semakin terasa keras dan tegang.?Di..??, dengusannya
turun naik.?Yah uuhh ada apa tante..?.?Kamu bener-bener hebat sayang.., oowww..,
uuhh.., tan.., tante.., mau keluar hampiirr.., aahh..?, gerakan pinggulnya yang liar itu
semakin tak karuan, tak terasa sudah lima belas menit kami berkutat.?oohh memang
enaak Nyai, oohh.., Tante Fifi. Tante Fifi, oohh.., tante, oohh.., nikmat sekali tante
memekmu, oohh..? aku bahkan tak mengerti apa maksud kata ?keluar? itu. Aku hanya
peduli pada diriku, kenikmatan yang baru pertama kali kurasakan seumur hidup. Tak
kuhiraukan tubuh isteri pak Kiayi yang menegang keras berkejat kejat, kuku-kuku
tangannya mencengkeram punggungku, pahanya menjepit keras pinggangku yang sedang
asyik turun naik itu, ?aahh.., Di.., dii.., tante ke..luaarr laagii.., aahh?, vagina Tante Fifi
terasa berdenyut keras sekali, seperti memijit batangan penisku dan uuhh ia menggigit
pundakku sampai kemerahan. Kepala penisku seperti tersiram cairan hangat di dalam
liang rahimnya. ? Agggh Oooh ampuuuun enak Di penis besarmu?. Sesaat kemudian ia
lemas lagi. Tak kusangka isteri seorang Kiayi, wanita yang kuanggap alim dan terpelajar
saat kusetubuhi bisa menjadi liar bagai penari erotis, tubuhnya meliuk liuk saat mencapai
orgasme.
?Tante capek? Maaf tante kalau saya keterlaluan..?.?mm.., nggak begitu Di, yang ini
namanya tante orgasme, bukan kamu yang salah kok, justru kamu hebat sekali.., ah, ntar
kamu tahu sendiri deh.., kamu tunggu semenit aja yah, uuhh hebat?.Aku tak tahu harus
bilang apa, penisku masih menancap di liang kemaluannya.?Kamu peluk tante dong,
mm?.?Ahh tante, saya boleh lanjutin nggak sih??.?Boleh, asal kamu jangan goyang dulu,
tunggu sampai tante bangkit lagi, sebentaar aja. Mainin susu tante saja ya??.?Baik
tante..?.Kau tak sabar ingin cepat-cepat merasakan nikmatnya ?keluar? seperti Tante ya.
Ia masih diam saja sambil memandangiku yang sibuk sendiri dengan puting susu itu.
Beberapa saat kemudian kurasakan liang vaginanya kembali bereaksi, pinggulnya ia
gerakkan.
?Di..?.?Ya tante??.?Sekarang tante mau puasin kamu, kasih tante yang di atas ya,
sayang.., mmhh, pintar?.Posisi kami berbalik. Kini isteri pak Kiayi menunggangi
tubuhku. Perlahan tangannya kembali menuntun batang penisku yang masih tegang itu
memasuki liang kenikmatannya, dan uuhh terasa lebih masuk.
Tante Fifi mulai bergoyang perlahan, payudaranya tampak lebih besar dan semakin
menantang dalam posisi ini. Tante Fifi berjongkok di atas pinggangku menaik-turunkan
pantatnya, terlihat jelas bagaimana penisku keluar masuk liang vaginanya yang terlihat
penuh sesak, sampai bibir kemaluan itu terlihat sangat kencang.?oohh enaak tante.., ooh
Tante Fifi.., ooh Nyai.., oo.., hmm, enaak sekali.., oohh..memek enak? kedua buah
payudara itu seperti berayun keras mengikuti irama turun naiknya tubuh isteri pak Kiayi
itu..?Remees susu tante sayang, oohh.., yaahh.., pintar kamu.., oohh.., tante nggak
percaya kamu bisa seperti ini, oohh.., pintar kamu Didi oohh.., ganjal kepalamu dengan
bantal ini sayang?, Tante Fifi meraih bantal yang ada di samping kirinya dan
memberikannya padaku.?Maksud tante supaya aku bisa.., crup.., crup..?, mulutku
menerkam puting panyudaranya.?Yaahh sedot susu tante lagi sayang.., mm.., yak begitu
teruus yang kiri sayang oohh?.
Tante Fifi menundukkan badan agar kedua buah dadanya terjangkau mulutku. Decak
becek pertemuan pangkal paha kami semakin terdengar seperti tetesan air, liang
vaginanya semakin licin saja. Entah sudah berapa puluh cc cairan kelamin isteri pak
Kiayi yang meluber membasahi dinding vaginanya. Tiba-tiba aku teringat adegan filn
porno yang dulu pernah kulihat, ?yap.., doggie style!? batinku berteriak kegirangan,
mendadak aku menahan goyangan Tante Fifi yang tengah asyik.?Huuhh.., oohh ada apa
sayang??, nafasnya tersenggal.?Saya mau pakai gaya yang ada di film, tante?.?Gaya yang
mana, yah..,??.?Yang dari belakang tante harus nungging?.?Hmm.., tante ngerti.., boleh?,
katanya singkat lalu melepaskan gigitan vaginanya pada penisku.?Yang ini maksud
kamu?, isteri pak Kiayi itu menungging tepat di depanku yang masih terduduk.?Iya Nyai
ini namanya ****** kawin..? Hmm lezatnya, pantat Tante Fifi yang besar itu kuremas
remas dan belahan bibir vaginanya yang memerah membuat nafsuku memuncak, aku
langsung mengambil posisi dan tanpa permisi lagi menyusupkan penisku dari belakang.
Kupegangi pinggangnya, sebelah lagi tanganku meraih buah dada besarnya.?oohh..,
ngg..,Agggh yang ini hebaat Di.., oohh, genjot yang keras sayang, oohh.., tambah keras
lagi.., uuhh..?.Enak ya Nyai?.aku suka ******* sama Nyai?ayo tante jalang goyangin
dong pantatnya. Oooooh Di setubuhi aku sesuka hatimu, tante suka Di. Kata kata kotor
Didi membuat isteri pak Kiayi itu kian terangsang hebat ia goyangkan pantatnya
mengikuti irama tusukan penis yang menerobos liang vaginanya.
Kepalanya menggeleng keras ke sana ke mari, aku rasa Tante Fifi sedang berusaha
menikmati gaya ini dengan semaksimal mungkin. Teriakannyapun makin ngawur.?
oohh.., jangan lama-lama lagi sayang tante mau keluar lagi ooh..? aku menghentikan
gerakan dan mencabut penisku.?Baik tante sekarang.., mm, coba tante berbaring
menghadap ke samping, kita selesaikan dengan gaya ini?.? Kamu sudah mulai pintar
sayang mmhh?, Tante Fifi mengecup bibirku.Perintahkupun diturutinya, ia seperti tahu
apa yang aku inginkan. Ia menghempaskan badannya kembali dan berbaring menghadap
ke samping, sebelah kakinya terangkat dan mengangkang, aku segera menempatkan
pinggangku di antaranya. Buah penisku bersiap lagi.?aahh tante.., uuhh.., nikmat sekali,
oohh.., Nyai sekarang, oohh.., saya nggak tahan Nyai.., enaak.., oohh?.?Tante juga Didi..,
Didi.., Didi sayaangg, oohh.., keluaar samaan sayaang ooh? kami berdua berteriak
panjang, badanku terasa bergetar, ada sebentuk energi yang maha dahsyat berjalan cepat
melalui tubuhku mengarah ke bawah perut dan, ?Craat.., cratt.., craatt.., cratt?, entah
berapa kali penisku menyemburkan cairan kental ke dalam rahim isteri pak Kiayi yang
tampak juga mengalami hal yang sama, selangkangan kami saling menggenjot keras.
Tangan Tante Fifi meremas sprei dan menariknya keras, bibirnya ia gigit sendiri.
Matanya terpejam seperti merasakan sesuatu yang sangat hebat, tubuhnya berkejat kejat
isteri pak Kiayi itu mengerang seperti anak kucing.
Beberapa menit setelah itu kami berdua terkapar lemas, Tante Fifi memelukku erat,
sesekali ia mencium mesra. Tanganku tampaknya masih senang membelai lembut buah
dada Tante Fifi. Kupintir-pintir putingnya yang kini mulai lembek. Mataku memandangi
wajah manis perempuan paruh baya itu, meski umurnya sudah berkepala empat namun
aku masih sangat bernafsu melihatnya. Wajahnya masih menampakkan kecantikan dan
keanggunannya. Meski mulai tampak kerutan kecil di leher wanita itu tapi.., aah, persetan
dengan itu semua, Tante Sofi adalah wanita pertama yang memperkenalkan aku pada
kenikmatan seksual. Bahkan dibanding Devi, Rani, Shinta dan teman sekelasku yang
lain, perempuan paruh baya ini jauh lebih menarik.
?Tante nggak nyangka kamu bisa sekuat ini, Di..?.?Hmm..?.?Betul ini baru yang pertama
kali kamu lakukan??.?Iya tante..?.?Nggak pernah sama pacar kamu??.?Nggak punya
tante..?.?Yang bener aja ah?.?Iya bener, nggak bohong kok, tante.., tante nggak kapok
kan ngajarin saya yang beginian??.?Ya ampuun..? Ia mencubit genit, ?masa sih tante mau
ngelepasin kamu yang hebat gini, tahu nggak Di, suami tante nggak ada apa-apanya
dibanding kamu..?.?Maksud tante??.?Pak Fuad itu kalau main paling lama tiga menit..,
lha kamu? Tante sudah keluar beberapa kali kamu belum juga, apa nggak hebat
namanya?.?Ngaak tahu deh tante, mungkin karena baru pertama ini sih..?.?Tapi menurut
tante kamu emang punya bakat alam, lho? Buktinya baru pertama begini saja kamu sudah
sekuat itu, apalagi kalau sudah pengalaman nanti.., pasti tante kamu bikin KO.., lebih dari
yang tadi?.?Terima kasih tante..?.?Untuk??.?Untuk yang tadi..?. karena saya bisa
*******in Nyai, saya sudah lama mengkhayali Nyai sambil beronani dan malam ini saya
puas sekali bisa menyetubuhi isteri pak Kiayi yang cantik ini he heee.?Tante yang terima
kasih sama kamu.., kamu yang pertama membuat tante merasa seperti ini?.?Saya nggak
ngerti..?.?Di.., dua puluh tahun lebih sudah usia perkawinan tante dengan Pak Fuad. tak
pernah sedetikpun tante menikmati hubungan badan yang sehebat ini. Suami tante adalah
tipe lelaki egois yang menyenangkan dirinya saja. Tante benar-benar telah dilecehkannya.
Belakangan tante berusaha memberontak, rupanya dia sudah mulai bosan dengan tubuh
tante dan seperti rekannya yang lain sesama Kiayi, ia menyimpan beberapa wanita
sebagai isteri kedua untuk melampiaskan nafsu seksnya. Tante tahu semua itu dan tante
nggak perlu cerita lebih panjang lebar karena pasti kamu sudah sering mendengar
pertengkaran tante?, Suaranya mendadak serius, tanganku memeluk tubuhnya yang masih
telanjang. Ada sebersit rasa simpati mendengar ceritanya yang polos itu, betapa
bodohnya lelaki bernama Kiayi Fuad itu punya Perempuan secantik dan senikmat ini di
biarkan merana.
Tante Sofi terpejam begitu tanganku menyentuh permukaan buah dadanya, merayap
perlahan menyusuri kelembutan bukit indah itu menuju puncak dan, ? mm a..? aku
memintir putingnya yang coklat kemerahan itu. ?Agggh?? telapak tanganku mulai lagi,
meremasnya satu persatu, ?Hmm?, dengan sebelah tangannya ia meraih penisku yang
mulai tegang, jari telunjuk Tante Sofi mengurut tepat di leher bawah kepala penisku,
semakin tegang saja, shitt.., aku nggak bisa bersuara. Aku tak tahan dan beranjak turun
dari tempat tidur itu dan langsung berjongkok tepat di depan pahanya di pinggiran tempat
tidur, menguak sepasang paha montok dan putih itu ke arah berlawanan.?mmhh.., aahh..,
oh nggak,.., uuhh? lidahku langsung mendarat di permukaan segitiga terlarang itu.?sshh
yaa.., enakk..?,
Lidahku kian mengganas, kelentit sebesar biji kacang itu sengaja kusentuh.?mm fuuhh..,
Tante akan layani kamu sampai kita berdua nggak kuat lagi. Kamu boleh lakukan apa
saja. Puaskan diri kamu sayang aahh?, aku tak mempedulikan kata-katanya, lidahku sibuk
di daerah selangkangannya.
Malam itu benar-benar surga bagi kami, permainan demi permainan dengan segala
macam gaya kami lakukan. Di karpet, sampai sekitar pukul tiga dini hari. Kami sama-
sama bernafsu, aku tak ingat lagi berapa kali kami melakukannya. Seingatku disetiap
akhir permainan, kami selalu berteriak panjang. Benar-benar malam yang penuh
kenikmatan.
Aku terbangun sekitar jam 11 siang, badanku masih terasa sedikit pegal. Tante Fifi sudah
tidak ada di sampingku.?Tante..?? pangilku setengah berteriak, tak ada jawaban dari istri
pak Kiayi yang semalam suntuk kutiduri itu. Aku beranjak dari tempat tidur dan
memasang celana pendek, sprei dan bantal-bantal di atas tempat tidur itu berantakan, di
banyak tempat ada bercak-bercak bekas cairan kelamin kami berdua. Aku keluar kamar
dan menemukan secarik kertas berisi tulisan tangan Tante Fifi, ternyata ia harus ke
tempat kesekolah tempat ia mengajar karena ada yang harus dikerjakan.?Hmm.., padahal
kalau main baru bangun tidur pastilah nikmat sekali?, pikiranku ngeres lagi.
Aku kembali ke kamar Tante Fifi yang berantakan oleh kami semalam, lalu dengan
cekatan aku melepas semua sprei dan selimut penuh bercak itu. Kumasukkan ke mesin
cuci. Tiga puluh menit kemudian kamar dan ruang kerja pak Kiayi kubuat rapi kembali.
Siap untuk kami pakai main lagi.?*****..! Aku lupa sekolah.., ampuun gimana nih?,
Sejenak aku berpikir dan segera kutelepon Tante Fifi. Selamat pagi?, suara operator.?Ya
Pagi.., Bu Fifi ada??.?Dari siap, pak??.?Bilang dari Sonny, anaknya..?.?Oh Mas sonny?.?
Huh dasar sok akrab?, umpatku dalam hati.?Saya, Tante. Didi bukan ..?.?Eh kamu
sayang.., gimana? mau lagi? Sabar ya, tungguin tante..?.?Bukan begitu tante.., tapi saya
jadi telat bangun.., nggak bisa masuk sekolah?.?Oooh gampang.., ntar tante yang telepon
Pak Yogi, kepala sekolah kamu itu.., tante bilang kamu sakit yah??.?Nggak ah tante, ntar
jadi sakit beneran..?.?Tapi emang benar kan kamu sakit.., sakit.., sakit anu! Nah lo!?.?
aah, tante.., tapi bener nih tante tolong sekolah saya di telepon yah??.?Iya.., iya.., eh Di..,
kamu kepingin lagi nggak..?.?Tante genit?.?Nggak mau? Awas lho Tante cari orang
lain..?.?Ah Tante, ya mau dong.., semalam nikmat yah, tante..?.?Kamu hebat!?.?Tante
juga.., nanti pulang jam berapa??.?Tunggu aja.., sudah makan kamu??.?Belum, tante
sudah??.?Sudah.., mm, kalau gitu kamu tunggu aja di rumah, tante pesan catering untuk
kamu.., biar nanti kamu kuat lagi?.?Tante bisa aja.., makasih tante..?.?Sama-sama,
sayang.., sampai nanti ya, daahh?.?Daah, tante?.
Tak sampai sepuluh menit seorang delivery service datang membawa makanan.?Ini dari,
Bu Sofi, Mas talong ditandatangan. Payment-nya sudah sama Bu Fifi?.?Makasih,
mang..?.?Sama-sama, permisi..?.
Aku langsung membawanya ke dalam dan menyantapnya di depan pesawat TV, sambil
melanjutkan nonton film porno, untuk menambah pengalaman. Makanan kiriman Tante
Fifi memang semua berprotein tinggi. Aku tahu benar maksudnya. Belum lagi minuman
energi yang juga dipesannya untukku. Rupanya istri pak Kiayi itu benar-benar menikmati
permainan seks kami semalam, eh aku juga lho.., kan baru pertama. Sambil terus makan
dan menyaksikan film itu aku membayangkan tubuh dan wajah Tante Fifi bermain
bersamaku. Penisku terasa pegal-pegal dibuatnya. Huh.., aku mematikan TV dan menuju
kamarku.?Lebih baik tidur dan menyiapkan tenaga..?, aku bergumam sendiri dalam
kamar.Sambil membaca buku pelajaran favorit, aku mencoba melupakan pikiran-pikiran
tadi. Lama-kelamaan akupun tertidur. Jam menunjukkan pukul 12.45.
Sore harinya aku terbangun oleh kecupan bibir Tante Fifi yang ternyata sudah ada di
sampingku.?Huuaah.., jam berapa sekarang tante??.?Hmm.., jam lima, tante dari tadi juga
sudah tidur di sini, sayang kamu tidur terlalu lelap. Tante sempat tidur kurang lebih dua
jam sejak tante pulang tadi, gimana, kamu sudah pulih..?.?Sudah dong tante, empat jam
lebih tidur masa sih nggak seger..?, kami saling berciuman mesra, ?crup.., crup?, lidah
kami bermain di mulutnya.?Eh.., tante mau jajan dulu ah.., sambil minum teh, yuuk di
taman. Tadi tante pesan di Dunkin.., ada donat kesukaan kamu?, ia bangun dan ngeloyor
keluar kamar.?Uh.., Tante Fifi..?, gumamku pelan melihat bahenolnya tubuh kini
terbungkus terusan sutra transparan tanpa lengan. Bayangan CD dan BH-nya tampak
jelas.
Aku masih senang bermalas-malasan di tempat tidur itu, pikiranku rasanya tak pernah
bisa lepas dari bayangan tubuhnya. Beberapa saat saja penisku sudah tampak tegang dan
berdiri, dasar pemula! Sejak sering tegang melihat tubuh Tante Fifi sebulan belakangan
ini, aku memang jarang memakai celana dalam ketika di rumah agar penisku bisa lebih
leluasa kalau berdiri seperti ini.?Hmm, tante Fifi.., aahh Nyai yang cantik? desahku
sambil menggenggam sendiri penisku, aneh.., aku membayangkan orang yang sudah jelas
bisa kutiduri saat itu juga, tak tahulah.., rasanya aku gila!
Tanganku mengocok-ngocok sendiri hingga kini penis besar dan panjang itu benar-benar
tegak dan tampak perkasa sekali. Aku terus membayangkan bagaimana semalam kepala
penis ini menembus dan melesak keluar masuk vagina Tante Fifi. Kutengok ke sana ke
mari.?Tante..?, panggilku.?Di dapur, sayang?, sahutnya setengah berteriak, aku bergegas
ke situ, kulihat ia sedang menghangatkan donat di microwave. Dan.., uuhh, tubuh yang
semalam kunikmati itu, dari arah belakang.., bayangan BH dan celana dalam putih di
balik gaun sutranya yang tipis membuatku berkali-kali menelan ludah.?uuhh tante..,
sayang?, tak sanggup lagi rasanya aku menahan birahiku, kupeluk ia dari belakang,
sendok yang ada di tangannya terjatuh, penisku yang sudah tegang kutempelkan erat di
belahan pantatnya.
?Aduuhh.., Didi nakal kamu ah..? ia melirikku dengan pandangan menggoda. Aku
semakin berani, tangan kananku meraih buah dada Tante Fifi dari celah gaun di bawah
ketiaknya. Lalu tangan kiriku merayap dari arah bawah, paha yang halus putih mulus itu
terus ke arah gundukan kemaluannya yang masih berlapis celana dalam. Telunjuk dan
jari tengahku langsung menekan, mengusap-usap dan mencubit kecil bibir kemaluannya.
?Ehhmm.., nngg.., aahh.., nakaal, Didi?.?Tante.., tante, saya nggak tahan ngeliat tante..,
saya bayangin tubuh tante terus dari tadi pagi? Tangan kiriku menarik ujung celana
dalam itu turun, ia mengangkat kakinya satu persatu dan terlepaslah celana dalamnya
yang putih. Kutarik cup BH-nya ke atas hingga tangan kananku kini bebas mengelus dan
meremas buah dadanya. Dengan gerak cepat kulorotkan pula celana dalam yang kupakai
lalu bergegas tangan kiriku menyingkap gaun sutranya ke atas. Kudorong tubuh isteri pak
Kiayi itu sampai ia menunduk dan terlihatlah dengan jelas celah vaginanya yang masih
tampak tertutup rapat. Aku berjongkok tepat di belakangnya.
?Idiihh, Didi. Tante mau diapain nih..?, katanya genit. Lidahku menjulur ke arah
vaginanya. Aroma daerah kemaluan itu merebak ke hidungku, semakin membuatku tak
sabar dan.., ?huuhh.., srup.., srup.., srup?, sekali terkam bibir vagina sebelah bawah itu
sudah tersedot habis dalam mulutku.?aahh.., Didi.., enaakk..?, jerit perempuan setengah
baya itu, tangannya berpegang di pinggiran meja dapur.?aawww.., gelii?, kugigit
pantatnya. Uuh, bongkahan pantat inilah yang paling mengundang birahiku saat
melihatnya untuk pertama kali. Mulus dan putih, besar menggelembung dan montok.
Lima menit kemudian aku berdiri lagi setelah puas membasahi bibir vaginanya dengan
lidahku. Kedua tanganku menahan gerakan pinggulnya dari belakang, gaun itu masih
tersingkap ke atas, tertahan jari-jari tanganku yang mencengkeram pinggulnya. Dan
hmm, kuhunjamkan penis besar dan tegang itu tepat dari arah belakang, ?Sreep.., Bleess?,
langsung menggenjot keluar masuk vagina Tante Fifi.?aahh.., Didi.., enaak.., huuhh tante
senang yang ini oohh..??Enak kan tante.., hmm.., oohh.., agak tegak tante biar susunya..,
yaakk ooh enaakk?.?Yaahh.., tusuk yang keras.., hmm.., tante nggak pernah gini
sebelumnya.., oohh enaakk pintarnya kamu sayaang.., oohh enaak.., terus.., terus yah
tarik dorong keeraass.., aahh.., kamu yang pertama giniin tante, Di.., oohh.., sshh..?,
hanya sekitar tiga menit ia bertahan dan, ?Hoohh.., tante.., mauu.., keluar.., sekarang..,
ooh hh.., sekarang Di, aahh..?. Vaginanya menjepit keras, badannya tegang dengan
kepala yang bergoyang keras ke kiri dan ke kanan.
Aku tak mempedulikannya, memang sejenak kuberi ia waktu menarik nafas panjang.
Aku membiarkan penisku yang masih tegang itu menancap di dalam. Ia masih
menungging kelelahan.?Balik Nyai ..?, Pintaku sambil melepaskan gigitan di
kemaluannya.?Apalagi, sayang.., ya ampun tante nggak kuat.., aahh?.Aku meraih sebuah
kursi.ia mengira aku akan menyuruhnya duduk, ?Eiih bukan tante, sekarang tante
nyender di dinding, Kaki kiri tante naik di kursi ini..?.?Ampuun, Didi.., tante mau diapain
sayang..?, ia menurut saja.Woow! Kudapatkan posisi itu, selangkangan itu siap dimasuki
dari depan sambil berdiri, posisi ini yang membuatku bernafsu.?Sekarang Nyai sayang..,
yaahh..?, aku menusukkan penisku dari arah depannya, penisku masuk dengan lancar.
Tanganku meremas kedua susunya sedangkan mulut kami saling mengecup.?mmhh..,
hhmm..?, ia berusaha menahan kenikmatan itu namun mulutnya tertutup erat oleh
bibirku.Hmm, di samping kanan kami ada cermin seukuran tubuh. Tampak pantatku
menghantam keras ke arah selangkangannya. Penisku terlihat jelas keluar masuk
vaginanya. Payudaranya yang tergencet dada dan tanganku semakin membuatku
bernafsu.?Cek.., cek.., cek?, gemercik suara kemaluan kami yang bermain di bawah sana.
Kulepaskan kecupanku setelah tampak tanda-tanda ia menikmatinya.?uuhh hebaat..,
kamu sayang.., aduuh mati tante.., aahh enaak mati aku Di, oohh.., ayo keluarin sayang..,
aahh entotin tante yang kuat Aggggh.., sudah mau sampai lagi niih aahh..? wajahnya
tampak tegang lagi, pipinya seperti biasa, merah, sebagai tanda ia segera akan orgasme
lagi. Ayooo nikmati Nyai ****** besarku?Goyangin dong Nyai pantatnya?duh enaknya
******* sama Nyai.
Kupaksakan diriku meraih klimaks itu bersamaan dengannya. Aku agaknya berhasil,
perlahan tapi pasti kami kemudian saling mendekap erat sambil saling berteriak keras.?
aahh.., tante keluaar..?.?Saya juga Nyai huuhh.., nikmat.., nikmat.., oohh.., Nyai Fifi..,
aahh?, dan penisku, ?Crat.., crat.., crat.., seer?, menyemprotkan cairannya sekitar lima
enam kali di dalam liang vagina isteri pak Kiayi yang juga tampak menikmati
orgasmenya untuk kedua kali.
?Huuhh.., capeekk.., sayang? ia melepaskan pelukannya dan penisku yang masih
menancap itu. Hmm, kulihat ada cairan yang mengalir di pahanya bagian dalam, ada
yang menetes di lantai.?Mau di lap Nyai??, aku menawarkan tissue.?Nggak sayang..,
tante senang, kok. Tante bahagia.., yang mengalir itu sperma kamu dan cairan kelamin
tante sendiri. Tante ingin menikmati terus rasa penismu..?, ia berkata begitu sambil
memberiku sebuah ciuman.?Hmm.., Tante Fifi..?, Kuperbaiki letak BH dan rambutnya
yang acak-acakan, kemudian ia kembali menyiapkan jajanan yang sempat terhenti oleh
ulah nakalku.
Aku kembali ke kamar dan keluar lagi setelah mengenakan baju kaos. Tante Fifi telah
menunggu di taman belakang rumahnya yang sangat luas, kira-kira sekitar 25 acre. Kami
duduk santai berdua sambil bercanda menikmati suasana di pinggiran sebuah danau
buatan. Sesekali kami berciuman mesra seperti pengantin baru yang lagi haus kemesraan.
Jadilah dua minggu kepergian pak Kiayi Fuad itu surga dunia bagiku dan Nyai Fifi. Kami
melakukannya setiap hari, rata-rata empat sampai lima kali sehari!
Menjelang sore, isteri pak Kiayi yang cantik itu mengajakku mandi bersama. Bisa
ditebak, kami melakukannya lagi di kamar mandi. Saling menyabuni dan.., hmm,
bayangin sendiri deh. Itulah pengalaman pribadiku saat pertama mengenal seks bersama
guru seks-ku yang sangat cantik. Tante Fifi alias Nyai Fifi yang anggun bila berbusana
baju panjang dan ber****** itu, kini menjadi kepuasan yang sempurna bagiku adalah
dapat menyetubuhinya selama aku tinggal dirumahnya tanpa diketahui oleh pak Kiayi
Fuad suaminya.

Akhir Yang Tidak Berakhir


15
Posted by admin on July 27, 2009 – 6:42 am
Filed under Daun Muda

Kejadian ini terjadi baru aja beberapa minggu yang lalu,perusahaanku tempat aku bekerja
membuka satu kantor cabang lagi pada bulan Oktober 2006 kemaren untuk operational di
daerah Mampang Jakarta,Aku ditugaskan ke kantor yang baru itu dan seperti umumnya
pastilah membutuhkan beberapa orang karyawan baru dan setelah melalui seleksi
perusahaan maka telah diterima beberapa orang karyawan baru di kantor cabang tersebut.

Rea adalah salah seorang karyawan baru yang di tugaskan membantu aku untuk reporting
data,Rea berumur 24 tahun dan asli Kalimantan,anaknya cantik putih dan sangat modis
dengan rambut panjang dicat warna merah,sekilas anaknya kelihatan sedikit angkuh
,tingginya sekitar 160 cm dan agak kurus tapi bodinya sangat sexy sekali.Awalnya aku
tidak kepikiran macam-macam waktu melihat dia,karena ukuran buah dadanya yang
sedang malah sedikit kecil sedangkan aku lebih suka cewek yang memepunyai ukuran
dadanya 34,tapi pantatnya dan tubuhnya secara keseluruhan dengan penampilannya
memang aku akui memberikan kesan sexy sekali.Apalagi bibirnya sangat sexy dan kalau
bicara pasti akan bikin gemes kaum pria untuk melumatnya,kadang pernah terbayang
dipikiranku bagaimana rasanya kalau bibir yang sexy itu melumat juniorku,pasti sangat
nikmat sekali.

Beberapa bulan pertama dia mulai membantuku dan hubungan antara kami masih biasa
saja seperti hubungan atasan dengan pegawainya,tapi yang aneh aku rasakan dia sering
berlama-lama di kamar kerjaku dan selalu rajin bertanya tentang pekerjaan,dia ini
anaknya memang cerdas dan cepat tanggap dengan pekerjaan,yang bikin aku heran
kadang-kadang kalau pekerjaan sedang tidak banyak dia juga masih suka di kamar
kerjaku menanyakan hal-hal ringan walaupun itu masih dalam lingkup urusan kerjaan
atau seputar masalah kantor/perusahaan.Aku juga pernah bertanya tentang dia dan dia
nampaknya sangat terbuka,dia bilang bahwa dia di Jakarta sebelum masuk kerja di
perusahaanku tempat aku bekerja ini baru 1 bulan dari kalimanatan setelah
menyelesaikan kuliahnya dan di Jakarta ini dia kos di daerah karet walaupun ada saudara
disini tapi dia tidak mau tinggal sama saudara,?gak bebas bang..!?,begitu jawabnya,aku
sengaja suruh dia panggil aku ?abang? kalau lagi berdua,sejak kami mulai akrab dan
tentu saja sejak aku sering berkhayal untuk merasakan nikmatnya bibir sexy dan mulus
serta harum tubuhnya,terus terang aku sangat menyukai wangi tubuhnya dan waktu kami
berdekatan,diam-diam aku sering menikmati wangi tubuhnya yang membuat juniorku
bergerak-gerak.Kulitnya sangat putih mulus sekali,pasti dia rajin merawat tubuhnya,aku
juga berfikir vegynya juga pasti bersih dan wangi,timbul keinginan aku untuk menjilat
dan merasakan kenikmatannya,untuk dadanya memang kurang menarik karena
ukurannya kecil tapi padat dan aku juga yakin pastilah putingnya berwarna pink karena
kulitnya yang putih mulus biasanya putingnya pasti berwarna pink dan pasti belum sering
di isep cowok(ini aku ketahui setelah aku dapat mlihat,menikmati dan menanyakannya).

Sabtu pagi itu hujan turun dengan lebat banget,pegawaiku banyak yang tidak masuk
kantor mungkin karena hujan dan sabtu juga jam kantorku sampai jam 1 siang,Aku
melamun menatap keluar jendela dari ruang kerjaku di lantai 9 melihat hujan yang turun
dengan derasnya,pastilah nanti akan macet pulangnya dan jalan-jalan di jakarta juga
sudah pasti banyak yang digenangi air,membuat aku males mikirin pulang bawa mobil
macet-macetan.Lamunanku dikagetkan dengan suara halus dan tiba-tiba Rea sudah
berada di dekatku,?kok pagi-pagi sudah ngelamun bang.??.Suara Rea terdengar lembut
banget menyapaku,dia memang sering langsung masuk tanpa mengetuk pintu dan sengaja
tidak aku tegur karena aku juga pengen dia merasa dekat dan bebas dengan aku sehingga
aku juga bisa bebas sama dia,itu yang ada dalam pikiranku,tapi dia sangat mengerti dan
sangat menghormati aku sebagai atasannya kalau lagi didepan bawahanku yang lainnya.?
minum kopi dulu bang.?,nih Rea buatin,mumpung masih panas?,katanya?lho pak dirman
mana??tanyaku menanyakan office boy kantor.?emang kenapa bang?? ,gak mau ya Rea
yang bikinin??,protesnya sambil cemberut dan aku paling suka liat bibirnya tambah sexy
aja kalau lagi cemberut.Aku cuma tersenyum sambil duduk di kursi tamu dalam ruangan
kerjaku,?pak dirman tadi telphon sama fonny,katanya gak bisa kekantor karena dijalan
dia kebasahan,bajunya basah semua?,kata Rea menjelaskan,oh iya sebagai informasi
fonny itu adalah receptionis kantorku dan termasuk karyawan baru yang nanti medapat
jatah juga dariku,habis body nya yang montok banget tapi fonny ini pakai ******,nanti
akan aku ceritakan juga pada kesempatan yang lain.(kalau ga lupa,he..)
?Dikantor kan ada baju ganti OB kalau dia memang basah kuyub dijalan,kenapa tidak
terus ke kantor aja.!?,sahut aku sedikit meninggikan nada bicaraku,karena aku paling
tidak suka menerima alasan yang kuanggap mengada-ada dari bawahanku,?kalau
memang males masuk karena hujan bilang aja terus terang nggak usah alasan dijalan
kebasahan segala.?!? ,jawabku sedikit kesal sama alasan pak dirman OB kantorku
itu,perlu diketahui pak dirman ini memang sering tidak masuk,mau diberhentiin juga
kasihan anaknya banyak, ?sudahlah bang..?,kok pagi-pagi jadi marah-marah
gitu?,mungkin juga bukan baju luarnya aja yang basah tapi dalamannya juga.?!?,sahut
Rea menenangkanku sambil melirik tersenyum padaku,emosiku pun sedikit reda tapi
masih kesel,aku mengangkat gelas kopi yang dibikinin Rea sambil asal ngomong ?emang
kalau gak pake celana dalam kan gak apa-apa,siapa yang tahu sih?,alasan aja tuh pak
dirman?,gerutuku sambil menghirup kopi.Rea ketawa mendengar omonganku barusan
dan aku kaget waktu dia mencubitku,hampir aja kopi yang kupegang tumpah,?gak enak
dong bang kalau nggak pake celana dalam ke kantor ??katanya sambil terseyum dan
kulihat mukanya sedikit bersemu merah,mungkin dia sambil membayangin seperti apa
burung laki-laki dalam celana tapi tidak pake kolor.?emang ada yang lihat atau ada yang
nanya?,nggak kan??,kataku,aku sengaja mau mancing2 dia.Kulihat dia berdiri kearah
kaca sambil melihat hujan diluar yang bertambah deras,kulihat pantatnya dari belakang
yang mengenakan rok pendek dengan bahan yang agak tipis sehingga kalau diperhatikan
akan kelihatan dia memakai pakaian dalam model G-string,pikiranku pun mulai
membayangkan bagaimana bentuk pantatnya yang sexy itu pakai g-string tapi gak pakai
rok,?kamu juga nggak pake celana dalam ya Rea??,kata-kata itu keluar sendiri dari
mulutku dan aku juga kaget kenapa aku seberani itu ngomong sama Rea yang
bawahanku,bisa dia pikir aku laki-laki kurang ajar atau gak sopan,tapi belum selesai
kegundahanku akibat dari pertanyaanku tadi dia sudah membalikkan badannya berjalan
kearahku,?siapa bilang,abang tau dari mana??pertanyaannya bertubi-tubi kepadaku
sambil cemberut dan huh..,semakin sexy aja kulihat,?sorry keceplosan,biasanya ada
bayangannya kalau Rea pake rok tipis?jawabku sekenanya,belum sempat dia menjawab
lagi aku sudah ingin menetralisir suasana takut kalau benar dia menganggap aku laki-laki
otak mesum suka memperhatikan pantat cewek.?sudahlah aku kebetulan lihat kamu dari
belakang aja tadi,jangan dibahas lagi?.?Rea pake model g-string kok bang..!,Ooo?jadi
abang sering perhatiin pantat lea ya..?!?,dia menuduhku sambil cemberut manja dan
mencubit lenganku dari belakang sambil berdiri,sedangkan aku duduk disofa kursi tamu
kamar kerjaku,?oww..sakit Rea,udah lepasin dong cubitannya..?!?pintaku sambil
memegang tangannya yang masih mencubit lenganku,?gak mau..,abang ngaku dulu baru
Rea lepasin..!?ancamnya manja,?kebetulan aja barusan aku melihat kearah situ,sudah
dong lepasin..?!?pintaku sambil memberi alasan,diapun melepaskan cubitannya.Tiba-tiba
pintu ruang kerjaku diketok dari luar,?coba buka Rea..?!?perintahku sama Rea,ternyata
pak maman staf admint mau minta izin pulang karena hujan tambah deras dia takut
rumahnya kebanjiran,tiba-tiba Rea juga ngusulin ?pak..,kalau boleh jam kantor
dipercepat sampai jam 12 aja,krn kasihan pegawai yg lain mungkin juga khawatir rumah
mereka kebanjiran..?,aku melirik jam di dinding dan ternyata sudah jam 11 lewat dan
hujan juga semakin lebat belum ada tanda-tanda mau reda.?Ya sudahlah,kerjaan kita juga
tidak banyak,pak maman tolong kasih tahu yang lainnya kalau mau pulang mereka boleh
pulang semua sekarang,..!?instruksiku sama pak maman ?baik pak,saya pamit dan terima
kasih pak..?!?sahut pak maman,?Saya juga mau beres-beres pak?,permisi pak.!?,Rea juga
pamit dan keluar dari ruanganku disusul pak maman.

Kihisap dalam-dalam rokok ku sambil berdiri memandang keluar jendela dari ruang
kerjaku,pikiranku seperti bingung saja,kembali terbayang wajah sexy Rea bermain
dimataku,pantatnya yg bikin jantungku bedebar dan bibirnya yang bikin gemes laki-laki
yang menatapnya.Aku masih malas untuk beranjak meninggalkan kantor,suasana
kantorpun sudah terasa sunyi,mungkin pegawaiku sudah pulang semua,begitu
pikirku.Tiba-tiba ?pak eh bang..pak..eh..abang?,belum mau pulang..?!?aku dikagetkan
Rea tiba-tiba membuka pintu kamar kerjaku,dan kulihat kemeja putih lengan pendek
dikeluarkan sehingga pangkal lengannya terlihat sedikit,huh..mulus banget, ?kok
manggilnya pak eh bang sih Rea?,belum..!?, jawabku sambil tersenyum,aku sedikit
terkejut rupanya Rea juga belum pulang apalagi lihat penampilannya yang berbeda kalau
tadi dia masih pakai blazer,dia masuk sambil menutup pintu kamar kerja ku dan langsung
menghempaskan pantatnya di sofa tamu ruang kerjaku,?dari mana Rea..?kok bajunya
dikeluarin gitu?,kamu belum pulang?,yang lain dah pulang??tanyaku beruntun,?belum
bang,Rea habis dari toilet,perut Rea mules..,yang lain sudah pulang semua dan pintu
depan juga sudah dikunci satpam gedung nanti keluar abang lewat pintu samping aja..!?
katanya menjelaskan sambil mengangkat kedua tangannya menjepit rambutnya yang
panjang,kelihatan ketiaknya sangat putih bersih dan mulus banget,pandanganku terpaku
melihat dia dan kelihatannya dia suka aku lihat begitu karena sepertinya dia sengajain
lama-lamain mengangkat tanganya menjepit rambutnya.?Ooo..,aku pikir Rea tadi sudah
pulang terus kehujanan,balik lagi karena basah kuyup luar dalam kayak pak dirman? ,
kataku menggoda sambil ketawa,aku sedikit berani karena aku diberitahu kantor sudah
gak ada siapa-siapa dan aku sedikit teransang melihat dia barusan,?enak aja..,mau Rea
cubit lagi nih..?!?sambil beranjak berjalan kearahku yg lagi berdiri dan berusaha mau
menyubitku lagi,sengaja aku biarin tangannya mencubit pinggangku supaya aku dapat
memegang tanganya lagi,dan benar aja dia mencubit aku tepatnya meremas pinggangku
karena aku rasa seperti remasan kecil,langsung aku tangkap tangannya yang sedang
menempel dipinggangku,?sudah,sudah dong Rea?,nanti ada yang masuk dan liat lho..??
sahutku memancing reaksi dia,?siapa yang mau masuk sudah gak ada orang kok,Rea gak
mau lepasin..!?katanya pura-pura marah,jarak kami sangat dekat sekali dan sekilas
kecium wangi parfumnya dan terlihat kancing atas kemejanya tidak dikancingkan
sehingga kelihatan kulit dadanya yang putih mulus dan sedikit belahan susunya,aku juga
dapat melihat jelas bayangan behanya warna putih dan tidak memakai tali beha.,kutarik
tangannya dari pinggangku sedikit keras karena aku merasa geli banget,tangan diapun
terlepas dari pinggangku tapi tetap berusaha mencubitku dan kali ini tangan dia yang
satunyapun ikut berusaha menggapai tubuhku untuk dicubitnya,?Rea cubit semua nih..!?
katanya,langsung aku tangkap tangan dia yang satunya,kini pergelangan tangannya aku
pegang kuat-kuat keduanya menahan supaya tidak mencubit,dan karena dia masih
berusaha mencubitku,aku tarik dan angkat kedua tangannya keatas lalu aku dorong dia
sampai mepet ke diding kaca ruang kerjaku dengan kedua tangannya aku tahan diatas
kepalanya.See?rrr,jantungku berdetak kencang dan juniorkupun langsung bergerak
bangun begitu jarak aku sama dia sangat dekat dan ketiak putih mulus itu terpampang
dimukaku,tercium wangi banget,nafasku pun mualai gak beraturan,kulihat dia mengigit
bibirnya seolah berusaha mendorongku,aku sedikit heran karena dia hanya pura-pura mau
mendorong tanganku saja karena aku tidak merasakan tenaganya untuk melepaskan
tanganya yg aku tahan,?nyerah nggak..?!?ancamku dengan nafas sesak,padahal bukan
karena sesak nahan tangannya tapi sesak menahan nafsuku melihat bibirnya yang
sekarang hanya berjarak sekitar 30cm dari wajahku?nggak mau..?! katanya sambil
dengan ekspersi berusaha mengerahkan tenaga untuk melepaskan tangannya,padahal
tanganya tidak aku pegang keras,kalau dia niat mau narik tangannya juga lepas dari
cengkramanku,?kalau gak nyerah aku gigit nih..?!?ancamku lagi,sambil berharap dia
terima tantanganku,?sakit nih bang tangan Rea..?,jangan keras-keras dong??,rengeknya
manja mengalihkan pembicaraan yang bener gak nyambung dari keadaan dan
pertanyaanku sebelumnya,aku sudah gak bisa lagi menguasai nafsuku,mataku masih
tertuju ke pangkal lenganya yang terpampang didepanku,?Rea??kataku perlahan dengan
nafas memburu,dan perlahan-lahan aku dekatkan wajahku ke pangkal lengannya mau
mencium ketiaknya yang putih bersih dan mulus banget.Kulirik dia memalingkan
mukanya sambil menutup matanya,ketiak putih mulus itu kucium lembut sekali dan
dengan pelan sekali aku jilat perlahan sampai ke pangkal susunya yang kecil tapi padat
itu,?huff??!?terdengar suara Rea sekilas aku lirik dia mengigit bibir bawahnya meresapi
ciuman dan jilatan lembutku di pangkal lengan sampai kepangkal teteknya.

Diluar hujan sudah mulai reda,tinggal gerimis-gerimis kecil saja,aku dikagetkan oleh
bunyi telphon kantor dimeja kerjaku,sehingga reflek aku menghentikan ciumanku di
pangkal lenganya yang baru saja aku mulai dan juga spontan langsung melepasin Rea,?
huh?.,bikin kaget aja..?!?gerutuku dengan nafas memburu,kudengar Rea malah ketawa
melihat tingkahku yang sangat kaget tadi?kok ketawa sih..?!?tanyaku heran,?lucu aja liat
abang kaget barusan..?!?sambil terus ketawa,aku berjalan hendak mengangkat telphon
kantorku,?gak usah diangkat bang..?!?,?kenapa..?!?,tanyaku heran,?salah sambung
paling,sekarangkan sudah jam 1 lewat klo urusan kantor pasti tau sekarang sudah jam
pulang kantor..!?Rea memberi alasan,?ntar ketahuan lho kita belum pulang kalau abang
angkat telponnya..?!?sambungnya lagi sambil sedikit senyum-senyum,bener juga ya
pikirku.Sialan nih telphon,hilang deh kesempatan tadi dan sekarang bagaimana untuk
memulainya lagi,pikirku dengan kesel.?ya udah.?jawabku,akhirnya telphon tetap aku
biarin berbunyi dan aku berjalan kedekat meja kerjaku mau meminum sisa kopiku yang
sudah tinggal sedikit.?enak kan kopi bikinin Rea bang..?!?katanya sambil berjalan
mendekat.?iya..,boleh minta bikinin lagi nggak..?!?jawabku,?abang mau kopi lagi?kopi
apa kopiii??!? katanya menggoda sambil kembali mencubit(meremas) pinggangku dari
samping,posisi kami sama-sama berdiri didepan meja kerjaku.Rupanya kesempatan juga
ada yang datang dua kali dan aku tidak mau menyia-nyiakannya lagi,masa bodohlah dan
aku yakin kalaupun aku embat/sosor langsung pasti tidak akan menolak,begitu pikirku ?
aduh?abang geli nih Rea.!?,sahutku ?sambil memegang tangannya yang
mecubit(meremas) pinggangku,?tahan dong..,masa segitu aja gak tahan..?!?katanya
sambil menggerak gerakkan jari tangannya dipinggangku.Aku berusaha menahan rasa
geli karena dia sudah bukan mencubit atau pun meremas pinggangku lagi sekarang tapi
sudah menggelitikin pinggangku,?kok geli an amat sih bang..?!?katanya sambil senyum-
senyum dia menatapku dekat sekali tapi aku tidak berani membalas tatapannya,?udah
dong Rea..huh..?!?pintaku setengah hati karena ada rasa geli bercampur nikmat dikit, ?
gak mau,kalau abang tahan gak geli 5 menit ntar Rea bikinin kopi lagi.? katanya sedikit
merapatkan tubuhnya, ?bener ya?awas kalau bohong..?,jawabku,tangannya yang tadi
menggelitik pinggangku kemudian perlahan-lahan beralih kedepan kearah perutku,aku
pura-pura menutup mata menahan geli padahal rasa gelinya sudah pergi gak tau
kemana,mulai rasa nikmat akibat sentuhan kuku jarinya diperutku,juniorkupun terkaget
bangun langsung dalam posisi siap grak untuk maju jalan,aku membuka mataku tapi, ?
hop..gak boleh buka mata.?merem aja,awas kalau dibuka?, dan tidak boleh bergerak,diam
aja..!?ancamnya,akupun mengikuti apa yang diperintahnya dan masa bodohlah dengan
alasan kenapa harus tutup mata segala.Lama juga aku rasakan jari-jari tanganya mengelus
perutku diluar kemejaku dan perlahan-lahan aku rasakan tangannya mulai turun,aku tidak
dapat lagi menyembunyikan sensasi yang mulai aku rasakan sangat nikmat itu,?oh..hm??
tak sadar aku mengeluarkan suara tertahan ketika tangannya beranjak turun kebawah
terus kepaha kananku disamping selangkanganku,kurasakan juniorku protes karena
dicuekin sama tangannya,juniorku membengkak dalam celanaku dan mebuatku sedikit
merasa sakit karena mungkin posisi juniorku saat membengkak melancarkan protes itu
tertahan sama cedalku,?oh?Rea..!?suaraku tertahan sambil kepalaku bergerak
menengadah,aku pengen melihat dia tapi takut karena dilarang dan kalau seandainya
mataku aku buka takut dia menghentikan aktifitasnya,kepalaku semakin menengadah
keatas menahan nikmat sentuhan tangannya turun naik dipahaku,aku merasakan juniorku
sedikit ada yang menekan dan dileherku terasa hembusan nafas yang sangat
memburu,perlahan aku membuka mataku,tapi..?nah?,ngintip ya?,ketahuan matanya
dibuka??,rupanya Rea melihat klo aku membuka sedikit mataku,tapi aku sempat melihat
jarak aku sama Rea tadi sudah sedikit menempel dan yang menekan juniorku tadi pastilah
pas di selangkangan nya tapi aku tidak merasakan dadanya menempel di tubuhku
mungkin karena dia tidak merapatkan dadanya atau mungkin juga karena dadanya tidak
besar,sekilas tadi aku mencium harum nafasnya yang sudah tidak beraturan yang
membuatku semakin bernafsu,aku tahu dia juga terangsang dengan ulahnya itu.?Rea gak
jadi bikinin abang kopi,air putih aja ya??,gak baik bang banyak ngopi?,katanya ngomong
kesana kemari tapi aku tahu dia mengatur nafasnya dan berusaha sedikit mencairkan
suasana yang sudah mulai menegang setegang juniorku.Rea pun beanjak keluar pergi
ngambil air putih dan meninggalkan aku yang kayak kebakaran jembut menahan gejolak
nafsu yang sudah di ubun-ubun.

Sambil duduk bersandar di sofa aku berusaha mengatur nafasku dan menenangkan
diri,kulihat Rea kembali dengan segelas air putih dingin ditangannya?nih minum
dulu,pasti haus kan bang..??,katanya sambil menyerahkan segelas air putih kepadaku,ku
ambil gelas itu sambil aku tarik tangannya supaya duduk didekat aku,?kamu gila banget
ngerjain aku sampai ngos-ngosan nahan geli.?,protesku sambil meneguk air putih yang
diberikan Rea sampai habis,seger banget rasanya,?emang bener geli apa geli
bang..??,tanya rea sambil tersenyum menggodaku dia merapatkan duduknya ketubuhku
sehingga lenganku merasakan benda kenyal di dadanya,terasa sangat lembut sekali
gumpalan daging itu dan aku rasa dia pasti pakai bra tipis,?beneran geli,emang apa..!?
protesku meyakinkan yang sebenarnya anak smp pun tahu kalau tadi bukan geli tapi
horny,dia ketawa aja karena tahu aku berbohong dan mungkin dia pikir aku masih jaim
sebagai atasannya.

Hujanpun kembali turun dengan derasnya diluar,?hujan lebat lagi nih,gimana pulangnya
bang..??kata Rea sambil melihat keluar dan masih merapatkan tubuhnya duduk di
sebelahku,aku sengaja mengerak-gerakkan perlahan-lahan lenganku yang menempel
dengan susunya,kulihat dia diem saja sambil pura-pura melamun menatap hujan yang
turun tambah deras diluar,aku terus menggesek-gesekkan lenganku perlahan ke toketnya
yang terasa makin lama makin mengeras,aku juga merasakan ada seperti tonjolan kecil di
susunya dan itu paslitah putingnya yang juga sudah mengeras,sejenak aku lirik dia
tampak menggigit bibir bawahnya dan matanya juga sedikit sayu tapi masih menatap
keluar jendela.Secara tidak sadar dia mengerang tertahan tapi langsung bicara mungkin
biar tidak ketahuan kalau dia mendesah nikmat,?ah..,eh emang geli banget tadi ya
bang..?!?katanya menarik sedikit badannya,dan badannya pun tidak menempel lagi
dengan lenganku,?iya..!?,jawabku pendek dengan nafas tidak beraturan,kulihat dia juga
begitu karena kulihat dadanya turun naik mengatur nafasnya.?siapa sih yang gak geli
kalau dibegituin.??,sambungku lagi,?masa sihh..?!?katanya menggoda aku lagi,?sekarang
gantian,coba Rea yang abang gituin,bisa nahan gak..?!?,tantangku,sambil menatap
wajahnya,?tadi Rea tahan gak geli waktu abang cium ketiak Rea..?!hayo?,?!?katanya
manja sambil merapatkan kembali tubuhnya,?paling tadi cuma baru 1 menit,kalau
kelamaan dikit pasti kamu gak tahan juga?!?protesku mencoba memancing dia,?kalau
gelinya pasti Rea tahan bang,tapi kalau yang lain mungkin gak tahan..??katanya sambil
meremas pinggangku,dia duduk sudah mepet banget disebelahku,jelas terasa sekali buah
dadanya yang mulai sedikit keras menekan di lenganku,?gak ada yang bisa tahan geli
kalau di raba dan digelitikin kayak tadi ..?!?sanggahku lagi tapi masih aja aku jaim,aku
juga kesel sendiri ama diri aku kenapa hari gini juga masih jaim,belum sempat dia
menjawab lagi aku langsung nantangin terang-terangan,?sekarang diem,coba gantian..!?
sahutku sambil memiringkan badanku menghadap dia sambil tetap duduk,?gantian apa
sih bang..?!?sambil meluruskan duduknya dan kami pun saling berhadapan dalam posisi
duduk di sofa panjang.

?Diam aja dong,gak boleh gerak ya..?!?perintahku dan kulihat Rea menuruti perintahkua,
?kalau Rea tahan di geliin gimana bang..?? tanyanya sambil mulai menutup matanya
menunggu di gelitikin(tepatnya diransang sih..), ?kamu boleh minta apapun dari aku asal
aku sanggup.? jawabku sambil menikmati tubuhnya dari ujung rambut sampai ke ujung
kaki dan pahanya yang putih mulus kelihatan sedikit karena dia memang memakai rok
kantor yang pendek,?awas kalau abang bohong?,trus kok diem aja sih bang.??katanya
sambil membuka matanya., ?malah melototin Rea kayak gitu sih..?,cepetan dong
mulai..??,katanya nantangin sambil kembali menutup mata,bibirnya dibuka sedikit dan
sangat menentang untuk dicium,perlahan aku memajukan wajahku kedekat telinganga
dan dengan nafas memburu menahan gejolak di dalam dadaku kubisikan ?kamu cantik
sekali Rea..?,sambil sedikit ku sentuh ujung daun telinganya dengan bibirku yang
membuat dia mengatup bibirnya sambil menggigit bibir bawahnya.

Rea membuka sedikit matanya sambil menatapku,aku mengerti arti tatapannya itu tapi
aku masih saja jadi serigala berbulu kelinci,?aku mulai sekarang ya??!?kataku pelan dan
mulutku berada tepat didepan mulutnya dan hanya berjarak kira-kira 5 cm sangat dekat
sekali tapi aku tetap bertahan untuk tidak mencium mulut yang sexy itu,pelan-pelan dia
menutup kembali matanya sambil menjawab mendesah,?iya bang..!?,nafasnya langsung
masuk kehidungku karena jarak muka aku dan dia yang sangat dekat,kunikmati sebentar
wangi nafasnya sambil jari telunjukku kuletakkan di jidatnya dan perlahan-lahan aku
gerakkan turun ke pematang hidung dan terus ke pipi kanannya,terus kelehernya yang
putih mulus dan kemudian naik lagi ke pipi kirinya terus ke jidatnya dan turun lagi di
pematang hidungnya.Kulit wajahnya terasa mulus sekali dan tidak ada cacat sedikitpun.

Perlahan-lahan jari telunjukku terus turun dari puncak hidungnya sampai menyentuh bibir
atasnya dan aku jelajahi inci demi inci bibirnya yang merah dan sexy itu yang mulai
terbuka sedikit,aku dorong jari telunjukku ke dalam mulutnya dengan sedikit menekan
jariku untuk masuk kedalam mulutnya,ternyata dia membiarkannya,perlahan aku dorong
terus telunjukku masuk kedalam mulutnya,terasa giginya yang putih dan pelan-pelan dia
buka mulutnya,aku dorong sedikit lagi jariku masuk dan terasa lidahnya yang
lembut,nafasku dan nafas dia sudah nggak karuan tapi hebatnya aku dan dia masing-
masing pastilah berperang menahan nafsu masing-masing.Setelah setengah jari
telunjukku didalam mulutnya,kemudian aku main-mainkan lidahnya dengan
jariku,lidahnyapun memberikan reaksi dengan diputar-putarnya perlahan memutari jariku
di dalam mulutnya lalu perlahan-lahan di isep jari telunjukku dan menarik wajahnya
sedikit sehingga jariku keluar dari mulutnya.Kuteruskan jariku kebawah menyentuh
dagunya dan terus kelehernya,pelan-pelan aku menurunkan terus ke dadanya.Pelan-pelan
aku buka satu persatu kancing kemeja putihnya dan sempat kulihat dia menggigit bibir
bawahnya dan dadanya turun naik gak beraturan.Aku terusin aksiku melepas kancing
bajunya.Setelah semua kancingnya kulepas baju kemejanyapun aku buka dan
terpampanglah kemulusan yang luar biasa,buah dadanya yang aku kira kecil ternyata
lumayan juga dan putingnya membayang warna kemerahan walaupun masih mengenakan
beha yang tipis berwarna putih membuat kerongkonganku terasa kering banget dan susah
bernafas,?Rea?oh..tubuhmu sempurna banget sayang..?!?,perlahan-lahan aku lepasin
kemejanya dan dia sedikit membantu dengan memiringkan badannya mempermudah aku
melepasin kemejanya,aku sudah tidak sabar untuk membuka beha nya dan melihat
langsung susunya,kulihat pengait behanya ternyata ada di depan,perlahan aku buka
pengait behanya dan sedikit demi sedikit kulepasin behanya,sungguh diluar bayanganku
kalau ternyata susunya sangat bagus sekali walaupun tidak termasuk besar tapi sangat
padat,putih mulus dan putingnya itu yang asli berwarna merah muda dengan pentil kecil
tapi sedikit mencuat,sangat sexy sekali.Aku merasa sangat susah bernafas seperti perlu
oksigen tambahan untuk membantu pernafasanku karena menyaksikan pemandangan
yang sangat luar biasa itu,kulihat dadanya turun naik makin cepat tapi dia berusaha untuk
tidak bergerak apalagi untuk menutupi tubuh atasnya yang sudah telanjang itu.

Aku tempelkan lagi jari telunjukku di bibirnya dan perlahan aku turunkan terus sampai ke
dadanya dan terdengar sedikit dia melenguh ketika tanganku berada tepat di tengah-
tengah belahan kedua susunya,dengan nafas yang memburu aku berbisik,?jangan dibuka
ya matanya..?!?,rabaan jari tanganku terus turun keperutnya yang rata dan aku sudah
tidak menyetuh saja melainkan sudah meraba-raba perutnya yang rata itu,aku sudah
sangat bernafsu sekali tapi dengan sekuat tenaga aku tetap mencoba untuk
menahannya.Aku turunkan dan majukan sedikit wajahku tepat di depan puting susunya
yang merah muda itu dan perlahan aku sentuh putingnya itu dengan ujung bibirku lembut
sekali,?oh?bang?ssssttt..!?, tangannya reflek langsung meremas rambutku dan sedikit
menekan kepalaku sehingga mulutku menempel di susunya,karena sudah nempel gitu
langsung aku isep puting susunya, ?aww?! pekiknya tertahan dan semakin keras meremas
rambutku,aku isep cuma sekali sambil menarik kepalaku kebelakang,?gak tahan
ya..??,dia membuka matanya dan metapaku sayu sambil menarik kepalaku dan mencium
lembut bibirku,lalu kami fresh kiss sekitar 10 menit,dia pinter banget mempermainkan
lidahku dengan lidahnya didalam mulutku,sambil berciuman aku mengelus-elus
punggungnya dan terus kebawah punggungnya berusaha melepaskan roknya,dia
mengangkat sedikit pantatnya dari posisi duduk ketika aku berusaha memplorotin roknya
setelah kancing dan reksleting roknya aku buka tadi.

Sengaja jari tanganku aku sangkutkan pada karet/tali g-stringnya waktu aku melorotin
roknya biar sekalian cedalnya bisa keterik waktu aku melorotin roknya dan akhirnya rok
sama g-stringnya yang berwarna putih itu pun copot dan sekarang dia bener-bener
bugil tanpa sehelai benangpun di tubuhnya.Aku tarik wajahku dan melepasin ciumin
kami,aku lihat matanya tertutup dan perlahan-lahan aku turun berjongkok dilantai
sedangkan dia tetap duduk di sofa sambil kakinya dirapatkan,kusentuh dengkulnya dan
perlaha-lahan aku buka pahanya dengan mendorong pelan-pelan kedua dengkulnya
berlawanan arah biar pahanya kebuka,dia berusaha sedikit menahan kakinya tapi aku
merasakan sebenarnya dia tidak melarang karena ketika aku dorong dengkulnya itu cuma
dengan sidikit tenaga akhirnya kebuka juga selangkangannya dan kekagetan serta
kekagumanku memuncak melihat vegynya yang berwarna merah muda di bibir vegynya
itu dan rambut vegynya cuma ada sedikit diatasnya,sedikit banget dan kalau aku hitung
juga bisa dan berwarna pirang seperti rambut bule, ?Rea..,rambut itunya kamu cat juga
ya..?!? tanyaku sambil mengelus paha bagian dalamnya dan dengan suara serak sedikit
gemeteran menahan gejolak nafsunya dia jawab..?oh..,hm..nggak bang,emang sudah
begitu..!?,sambil tanganya kembali meremas rambutku tapi kali ini bukan meremas tapi
sedikit keras dia menjambak rambutku dan terasa menekan kepalaku ke
selangkangannya.Sekarang selangkangannya sudah kebuka lebar dan matanya menatap
ku kebawah yang sedang duduk di lantai,?bang..!,sebenarnya rea sudah ga tahan tapi
karena abang tahanlah makanya bisa bikin rea ikut menahan nafsu rea..?!?katanya sambil
mengelus-elus rambutku,posisi kepalaku sudah berada diselangkangannya,kucium bau
khas aroma vegynya membuat aku gak sambar untuk langsung meng oralnya.
Udara sangat panas sekali aku merasa sangat susah bernafas dan tenggorokanku terasa
bener-benar kering,mukaku sudah berada tepat didepan vegynya dan perlahan kumajukan
mukaku dan mencium lembut bibir vegynya,?awww??,jeritnya sambil menarik pantatnya
kebelakang dan dia menatapku dengan tersenyum sambil nafasnya terlihat memburu,dia
mengatur posisi duduknya dan menyender di sofa kemudian dia menarik kepalaku ke
selangkangannya dan aku masuh dalam posisi duduk berlutut dilantai,aku sempat berfikir
sendiri,beginilah seorang atasan kalau lagi bertekuk lutut di selangkangan
bawahannya,masa bodohlah kalau bawahannya cantik kayak gini menjilat pantatnyapun
aku mau pikirku.

Kini kepalaku kembali berada tepat di depan vegynya,kulihat dia menatapku sambil
mengelus-elus rambutku dengan tanganya,kunaikan tanganku kedadanya dan kuremas
susunya sambil kujilat bibir vegynya beberapa kali dengan gerakan dari bawah ke
atas,terasa clit nya dan bibir vegy itu mulai sedikit kebuka dengan cairan yang mulai
keluar dari lobangnya,?abang?oh..?!?jeritnya panjang dan sedikit keras sambil
menjambak rambutku lebih keras lagi.Tanganku mempermainkan putingnya yang kecil
dan sekali-sekali aku cubit pentilnya sambil lidahku mulai sedikit mengorek-ngorek
vegynya yang gundul itu.

Tiba-tiba dia mendorong kepalaku dari selangkangannya dan menatapku sambil


mengatur nafasnya,?boleh gak rea minta satu permintaan sama abang..??tanyanya masih
dengan nafas memburu, ?terserah minta aja,pasti aku kasih..??kataku dengan nafas yang
masih tersenggal-senggal,?rae minta jangan lakukan sekarang..?!?katanya sambil kembali
membelai rambutku, ?hah?.!!!?.jawabku kaget bukan kepalang,sudah sampai kayak gini
disuruh berhenti,gila apa..?!,pikirku.Langsung dai memelukku dan mencium jidatku,
kepalaku pas menempel didadanya dan dengan tepat diputingnya,langsung aja aku isep
putingnya, ?ah?,abang..?, katanya mendesah sambil mempererat pelukannya dan
membelai rambutku,?Rea pengen ikut ke Singapure temenin abang hari senin besok
boleh nggak.?!?tanyanya sambil meremas-remas rambutku, ?Rea belum pernah ke
Singapure bang,rea pengen lihat Singapure,oh..?,terangnya lagi sambil mendesah karena
aku masih menjilat-jilat puting susunya.?hm?,bener Rea mau ikut..??,tanyaku lagi dengan
mulut masih mengulum-ngulum susunya.?oh..abang..,enak..!!?, katanya sambil kulihat
dia menggigit bibir bawahnya,?kok jawabnya enak sih sayang.?,abang 5 hari lho di
singapure??, kataku sambil mengangkat kepalaku menatap matanya,?iya rea mau,gak
pulang-pulang juga gak apa-apa.!?jawabnya sambil langsung mengecup bibirku,?ya udah
besok aku cancel aja pak maman,biar kamu aja yang gantiin pak maman temenin aku
meeting sama customer..!?, kataku menyetujui dia ikut,dia langsung tersenyum gembira
dan menciumi wajahku bertubi-tubi, ?terima kasih bang, terima kasih..ya sayang..?!,rea
sayang sekali sama abang..!?, katanya sambil memelukku,?berarti sekarang jangan dulu
ya bang..??, sambil menatapku tersenyum manja, ?kenapa..?!?, protesku sedikit kesel, ?
rea masih virgyn sayang dan rea mau ngasiinnya buat abang karena rea sayang sama
abang tapi kalau boleh nanti aja di Singapure abang ambil ya..?? ,katanya tersenyum
sambil kembali menciumin wajahku,dan aku rasa itu bukan ciuman nafsu,aku merasa itu
bener-bener ciuman sayang dia kepadaku,jangan-jangan dia naksir sama aku,padahal kan
belum ada kesepakatan apa-apa nih,begitu pikirku dan aku belum mau terikat dan
bertanggung jawab dengan perempuan tapi kalau sekedar diminta menjawab aku
mau,kalau disuruh menangung aku belum mau,pikirku lagi. ?bener rea masih perawan..??
tanyaku lagi mau meyakinkan , ?ih?polos banget nih anak ini,ga perhatiin kalau my hole
masih kecil ya,rea masih.virgynsayang..,buktiin aja nanti.?!?, jawabnya menerangkan
dengan manja,dan masa aku dipanggil anak kecil sih?padahal aku kan atasannya dia
protesku dalam hati,tapi ntarlah itu krn ada yang lebih penting untuk aku tanyakan
pikirku ?kenapa kamu mau ngasiin ke aku rea?!?, kejarku lagi penasaran tepatnya takut
kalau ada udang dibalik batu sih..?, ?rea sayang sama abang,dan rea gak mau mikir
macam-macam lagi terserah abang lah..?!!?,jelasnya menatap mataku dalam-dalam,gawat
nih pikirku,kayaknya dia pasrah banget tapi aku belum tahu sama hatiku sendiri,aku suka
tubuhnya atau aku bener-bener suka dia.?bang?!?,panggilnya mengagetkan lamunanku.?
iya sayang..??,sahutku,kami tetap sambil berpelukan dan dia masih telanjang sambil aku
elus-elus punggungnya,?kita cari makan yuk..?,laper nih.!?, katanya,aku merenggangkan
pelukanku dan menatap dia lagi,kayaknya dia tahu apa yang aku pikirin,tangannya
langsung memegang daguku sambil bilang,?nanti ya sayang dituntasinnya di singapure
aja?,setelah itu abang boleh ngelakuin apa saja.,ya..?,kita pulang yuk.?? ,dia meyakinkan
aku biar mau menunda dulu,aku pikir juga pasti dia maunya diperawani di singapure
kali,bodohlah aku juga perlu berfikir lagi nih,seperti misalnya beresiko gak ya kalau gw
perawani dia?atau aku bener suka dia gak ya?,banyak pertanyaan dikepalaku,karena
kalau kenapa-kenapa dan bos aku tahu aku selingkuh sama karyamwan bisa mati aku,di
perusahaanku terutama bos aku paling anti tidak suka kalau ada karyawan yang selingkuh
kecuali pacaran serius.

?Ya sudahlah sayang..?,kalau kamu maunya begitu,kita pulang yuk.??, kulihat dia
tersenyum manis sekali dalam keadaan bugil gitu,gak tau lah manis apa nafsuin, terus aku
berdiri sambil membantu dia memasang bajunya,?tapi..,aku gak janji mau ngambil
pemberian kamu ya..??, kataku sambil bersip keluar kamar kerjaku dan kulihat dia juga
sudah rapi, ?gak mau,abang harus ambil,abang harus perawanin rea..?? katanya cemberut
manja,lalu aku cium jidatnya sambil berbisik,?kamu perempuan yang baik,cantik,sexy
dan juga aneh?, kataku ,?cewek biasanya mati-matian mempertahankan keperawanannya
eh.. kamu malah maksa diperawanin sama aku!?masih sedikit bingung ,?karena rea
sayang baget sama abang?, jawabnya sambil memeluk pinggangku dan kamipun berjalan
bergandengan keluar dari ruang kerjaku.
Saat itu ku merasa ada suatu perasaan lain yang timbul dalam hatiku terhadap bawahanku
ini,Akankah bawahanku menjadi kekasihku yang akan menjadi pendampingku? Atau
bawahanku pemuas nafsuku atau bawahanku TTM ku atau??,gak taulah.
Who knows?,kata bule-bule kalau dah bingung ya gak..????,he?..