Anda di halaman 1dari 9

KODE ETIK PROFESI KEGURUAN

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan karunia terbesarnya berupa
wahyu al-Quranul Karim kepada junjungan Nabi Muhammad SAW dan Para Rasul yang
membebaskan manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang telah
membimbing umatnya menuju jalan yang lurus, untuk menyelamatkan manusia dari
kehancuran.
Dengan rasa syukur kepada Allah SWT, akhirnya pemakalah dapat menyajikan
sebuah makalah yang berjudul Kode Etik dan Etika Profesi Keguruan. Tugas ini disusun
untuk memenuhi tugas semester IV dalam mata kuliah Profesi Keguruan.
Pemakalah yakin bahwa berbagai kelemahan dan keterbatasan dapat terjadi
didalam makalah ini. Oleh karenanya, kritik yang sehat dan membangun, serta saran dan
masukan yang konstruktif sangat pemakalah harapkan dari dosen pembimbing Ibu Ernawati
dan juga dari para pembaca untuk kesempurnaan makalah ini. Dan untuk itu pemakalah
mengucapkan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya.
Medan, April 2013

Penyusun

DAFTAR ISI

A.
B.
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
A.
B.

KATA PENGANTAR................................................................................................. 1
DAFTAR ISI............................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang................................................................................................. 3
Rumusan Masalah............................................................................................. 3
BAB II PEMBAHASAN
Pengertian Kandungan Kode Etik Guru..
4
Unsur Kandungan Kode Etik Guru..9
Rumusan Kode Etik Guru.9
Alasan Pentingnya Kode Etik Bagi Guru....10
Tujuan Perumusan Kode Etik Guru....10
Manfaat Kode Etik Bagi Guru..11
Upaya Mewujudkan Kode Etik Guru11
BAB III PENUTUP
Kesimpulan....................................................................................................... 13
Saran................................................................................................................. 13

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 14

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Makalah ini membahas mengenai etika profesi guru secara umum bagi peserta guru.
Beberapa paparan dalam makalah ini membahas tentang etika kerja dan etos kerja guru serta kode
etik guru yang meliputi: kode etik dan etika profesi keguruan, pengertian kode etik guru, unsur-unsur
kandungan kode etik guru, rumusan kode etik guru, alasan pentingnya kode etik bagi guru, tujuan
perumusan kode etik guru, manfaat kode etik bagi guru, dan upaya mewujudkan kode etik guru.
Semua kemampuan di atas sangat penting bagi semua peserta sertifikasi guru agar menjadi
guru yang profesional. Pendidikan dapat dipandang sebagai suatu proses pemberdayaan dan
pembudayaan individu agar mampu memenuhi kebutuhan perkembangan dan memenuhi tuntutan
sosial, kultural, serta religius dalam lingkungan kehidupannya.
Pengertian pendidikan seperti ini mengimplikasikan bahwa upaya apapun yang dilakukan
dalam konteks pendidikan terfokus pada upaya memfasilitasi proses perkembangan individu sesuai
dengan nilai agama dan kehidupan yang dianut.
B. Rumusan

Masalah

Makalah ini merumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :


1.
Apa pengertian kode etik guru?
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Apa saja unsur kandungan kode etik guru?


Bagaimana rumusan kode etik guru?
Apa alasan pentingnya kode etik guru?
Apa tujuan perumusan kode etik guru?
Apa manfaat kode etik bagi guru?
Apa upaya mewujudkan kode etik guru?

BAB II
PEMBAHASAN
KODE ETIK DAN ETIKA PROFESI KEGURUAN DALAM
PENDIDIKAN
A. Pengertian Kode Etik Guru
Etika (ethic) bermakna sekumpulan azas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak,
tata cara (adat, sopan santun) nilai mengenai benar dan salah tentang hak dan kewajiban yang
dianut oleh suatu golongan atau masyarakat.
Etika, pada hakikatnya merupakan dasar pertimbangan dalam pembuatan keputusan
tentang moral manusia dalam interaksi dengan lingkungannya. Secara umum etika dapat diartikan
sebagai suatu disiplin filosofis yang sangat diperlukan dalam interaksi sesama manusia dalam

memilih dan memutuskan pola-pola perilaku yang sebaikbaiknya berdasarkan timbangan moral-moral
yang berlaku.

1.

Kode etik guru indonesia adalah himpunan nilai nilai dan norma norma profesi guru
yang tersusun dengan baik dan sistematis dalam suatu sistem yang utuh dan bulat. Kode etik
guru indonesia berfungsi sebagai landasan moral dan pedoman tingkah laku setiap guru
warga PGRI dalam menunaikan tugas pengabdianya sebagai guru, baik di dalam maupun di
luar sekolah serta dalam kehidupan sehari hari di masyarakat. Dengan demikian , kode etik
guru indonesia merupakan alat yang amat penting untuk pembentukan sikap profesional para
anggota profesi keguruan.[1]
Kode Etik Guru Indonesia merupakan pedoman sikap dan perilaku bertujuan
menempatkan guru sebagai profesi terhormat, mulia, dan bermartabat yang dilindungi
undang-undang. Kode Etik Guru Indonesia berfungsi sebagai seperangkat prinsip dan norma
moral yang melandasi pelaksanaan tugas dan layanan profesional guru dalam hubungannya
dengan peserta didik, orangtua/wali siswa, sekolah dan rekan seprofesi, organisasi profesi,
dan pemerintah sesuai dengan nilai-nilai agama, pendidikan, sosial, etika dan kemanusiaan.
Istilah kode etik itu bila di kaji maka terdiri dari dua kata yakni kode dan
etik.Perkataan etik berasal dari bahasa Yunani, ethos yang berarti watak, adab atau cara
hidup. Dapat diartikan bahwa etik itu menunjukkan cara berbuat yang menjadi adat, karena
persetujuan dari kelompok manusia. Dan etik biasanya dipakai untuk pengkajian system
nilai-nilai yang disebut kode sehingga terjemahlah apa yang disebut kode etik. Etika
artinya tata susila atau hal-hal yang berhubungan dengan kesusilaan dalam mengerjakan satu
pekerjaan. Jadi, kode etik guru diartikan sebagai aturan tata susila keguruan.
Kode Etik Guru (KEG), Kode Etik Guru Indonesia (KEGI), atau nama lain sesuai
dengan yang disepakati oleh organisasi atau asosiasi profesi guru, merupakan pedoman
bersikap dan berperilaku yang mengejewantah dalam bentuk nilai-nilai moral dan etika
jabatan guru. Dengan demikian, guru harus menyadari bahwa jabatan mereka merupakan
suatu profesi yang terhormat, terlindungi, bermartabat, dan mulia. Di sinilah esensi bahwa
guru harus mampu memahami, menghayati, mengamalkan, dan menegakkan Kode Etik Guru
dalam menjalankan tugas-tugas profesional dan menjalani kehidupan di masyarakat.
Kode etik guru sesungguhnya merupakan pedoman yang mengatur hubungan guru
dengan teman kerja, murid dan wali murid, pimpinan dan masyarakat serta dengan misi
tugasnya. Menurut Oteng Sutisna (1986 : 364) bahwa pentingnya kode etik guru dengan
teman kerjanya difungsikan sebagai penghubung serta saling mendukung dalam bidang
mensukseskan misi dalam mendidik peserta didik.
Sebagai kalangan profesional, sudah waktunya guru Indonesia memiliki kode etikdan
sumpah profesi. Guru juga harus memiliki kemampuan sesuai dengan standar minimal
sehingga nantinya tidak malapraktik ketika mengajar.[2]
Adanya sumpah profesi dan kode etik guru, menurut Achmad Sanusi, sebagai ramburambu, rem, dan pedoman dalam tindakan guru khususnya saat kegiatan mengajar.
Alasannya, guru harus bertanggung jawab dengan profesi maupun hasil dari pengajaran yang
ia berikan kepada siswa. Jangan sampai terjadi malapraktik pendidikan.
Ada beberapa kode etika guru di indonesia antara lain sbb:
Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia indonesia seutuhnya
berjiwa Pancasila
2. Guru memiliki dan melaksanakan kewjujuran professional

3.

Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan
bimbingan dan pembinaan

4.

Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses


belajar mengajar

5.

Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat sekitarnya untuk
membina peran serta dan tanggung jawab bersama terhadap pendidikan

6.

Guru secara pribadi dan secara bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu da
martabat profesinya
7.
Guru memelihara hubungan profesi semangat kekeluargaan dan kesetiakawanana
nasional

8.

Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organiosasi PGRI sebagai
sarana perjuangan dan pengabdian
9.

1.
2.

3.

4.

2.
3.
4.

Guru melaksanaakn segala kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan

Fungsi Etika Bagi Guru:


Pada dasarnya kode etik memiliki fungsi ganda yaitu sebagai perlindungan dan
pengembangan bagi profesi. Fungsi seperti itu sama seperti apa yang dikemukakan oleh
Gibson dan Michel (1945 : 449) yang lebih mementingkan pada kode etik sebagai pedoman
pelaksanaan tugas prosefional dan pedoman bagi masyarakat sebagai seorang professional.
Biggs dan Blocher ( 1986 : 10) mengemukakan tiga fungsi kode etik yaitu : 1. Melindungi
suatu profesi dari campur tangan pemerintah. (2). Mencegah terjadinya pertentangan internal
dalam suatu profesi. (3). Melindungi para praktisi dari kesalahan praktik suatu profesi.
Oteng Sutisna (1986 : 364) bahwa pentingnya kode etik guru dengan teman kerjanya
difungsikan sebagai penghubung serta saling mendukung dalam bidang mensukseskan misi
dalam mendidik peserta didik.
Sutan Zahri dan Syahmiar Syahrun (1992) mengemukakan empat fungsi kode etik guru bagi
guru itu sendiri, antara lain :
1. Agar guru terhindar dari penyimpangan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
Untuk mengatur hubungan guru dengan murid, teman sekerja, masyarakat dan pemerintah.
Sebagai pegangan dan pedoman tingkah laku guru agar lebih bertanggung jawab pada
profesinya.
Pemberi arah dan petunjuk yang benar kepada mereka yang menggunakan profesinya dalam
melaksanakan tugas.
Ketaatan guru pada Kode Etik akan mendorong mereka berperilaku sesuai
dengan norma- norma yang dibolehkan dan menghindari norma-norma yang dilarang oleh
etika profesi yang ditetapkan oleh organisasi atau asosiasi profesinya selama menjalankan
tugas-tugas profesional dan kehidupan sebagai warga negara dan anggota masyarakat.
Dengan demikian, aktualisasi diri guru dalam melaksanakan proses pendidikan dan
pembelajaran secara profesional, bermartabat, dan beretika akan terwujud.
Kode Etik Guru dibuat oleh organisasi atau asosiasi profesi guru. PGRI misalnya,
telah membuat Kode Etik Guru yang disebut dengan Kode Etik Guru Indonesia (KEGI).
KEGI ini merupakan hasil Konferensi Pusat PGRI Nomor V/Konpus II/XIX/2006 tanggal 25
Maret 2006 di Jakarta yang disahkan pada Kongres XX PGRI No.
07/Kongres/XX/PGRI/2008 tanggal 3 Juli 2008 di Palembang. KEGI ini dapat menjadi Kode

Etik tunggal bagi setiap orang yang menyandang profesi guru di Indonesia atau menjadi
referensi bagi organisasi atau asosiasi profesi guru selain PGRI untuk merumuskan Kode Etik
bagi anggotanya.
KEGI versi PGRI seperti disebutkan di atas telah diterbitkan Departemen Pendidikan
Nasional bersama Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB-PGRI) tahun
2008. Dalam kata pengantar penerbitan publikasi KEGI dari pihak kementerian disebutkan
bahwa semua guru di Indonesia dapat memahami, menginternalisasi, dan menunjukkan
perilaku keseharian sesuai dengan norma dan etika yang tertuang dalam KEGI ini.
Dengan demikian akan terciptanya suasana yang harmonis dan semua anggota akan
merasakan adanya perlindungan dan rasa aman dalam melakukan tugas-tugasnya. [3] Secara umum,
kode etik ini diperlukan dengan beberapa alasan, antara lain:
* Untuk melindungi pekerjaan sesuai dengan ketentuan dan kebijakan yang telah ditetapkan
berdasarkan perundang-undangan yang berlaku.
* Untuk mengontrol terjadinya ketidakpuasan dan persengketaan dari para pelaksana, sehingga
dapat menjaga dan meningkatkan stabilitas internal dan eksternal pekerjaan.
* Melindungi para praktisi di masyarakat, terutama dalam hal adanya kasus-kasus penyimpangan
tindakan.
* Melindungi anggota masyarakat dari praktek-praktek yang menyimpang dari ketentuan yang
berlaku.

Di dalam Pasal 28 undang-undang nomor 8 tahun 1974 menjelaskan tentang


pentingnya kode etik guru dengan jelas menyatakan bahwa" pegawai negeri sipil memiliki
kode etik sebagai pedoman sikap, sikap tingkah laku dan perbuatan di dalam dan di luar
kedinasan." Dalam penjelasan undang undang. Tersebut dinyatakan Bahwa dengan adanya
kode etik ini, pegawai negeri sipil sebagai aparatur negara, abdi negara dan abdi masyarakat
mempunyai pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam melaksanan tugasnya dan
dalam pergaulan sehari hari. Selanjutnya dalam kode etik pegawai negeri sipil itu digariskan
pula prinsip-prinsip pokok tentang pelaksanaan tugas dan tanggung jawab pegawai negeri .
Soetjipto dan Raflis Kosasi menegaskan bahwa kode etik suatu profesi adalah norma
norma yang harus diindahkan oleh setiap anggota profesi di dalam melaksanakan tugas
profesinya dan dalam hidupnya di masyarakat. Norma norma tersebut berisi petunjuk
petunjuk bagi para anggota profesi tentang bagaimana mereka melaksanakan profesinya dan
larangan larangan yaitu ketentuan ketentuan tentang apa yang tidak boleh diperbuat atau
dilaksanakan oleh mereka, tidak saja dalam menjalankan tugas profesi mereka, melainkan
juga menyangkut tingkah laku anggota profesi pada umumnya dalam pergaulannya seharihari dalam masyarakat.[4]
Dapat di simpulkan, bahwa kode etik merupakan pedoman sikap, tingkah laku dan
perbuatan di dalam melaksanakan tugas dan dalam hidup sehari har. Kesimpulan Kode etik
adalah Himpunan nilai dan norma profesi guru yang tersusun dengan baik, sistematis dalam
suatu system yang utuh.
B. Unsur Kandungan Kode Etik Guru
Dalam pidato pembukaan kongres PGRI XIII Tahun 1973, Basuni (ketua PGRI)
menyatakan bahwa kode etik guru indonesia merupakan landasan moral dan pedoman
tingkah laku guru warga PGRI dalam melaksanakan tugas sebagai guru. Pengertian itu
menunjukkan unsur yang terkandung dalam kode etik guru indonesia yaitu:
A) sebagai landasan moral

B) sebagai pedoman tingkah laku


C. Rumusan Kode Etik Guru
Kode etik hanya dapat ditetapkan oleh suatu organisasi profesi yang berlaku dan
mengikat para anggota. Penetapan kode etik lazim dilakukan pada suatu kongres organisasi
profesi. Dengan demikian, penetapan kode etik tidak boleh dilakukan oleh orang secara
perorangan, melainkan harus dilakukan oleh orang orang yang diutus untuk dan atas nama
anggota-anggota profesinya dari organisasi tersebut. Dengan demikian, orang orang yang
bukan anggota profesi tidak dapa dikenakan aturan yang ada dalam kode etik tersebut. Bagi
guru guru di indonesia, PGRI merupakan wadah bagi yang mempunyai jabatan profesi guru,
sebagai perwujudan cita-cita perjuangan bangsa. PGRI didirikan di Surakarta pada tanggal 25
november 1945.
Kode etik guru indonesia ditetapkan dalam suatu kongres yang dihadiri oleh seluruh
utusan cabang dan pengurus daerah PGRI dari seluruh penjuru tanah air, pertama dalam
kongres XIII di Jakarta tahun 1973 kemudian di sempurnakan dalam kongres PGRI XVI
tahun 1989 juga dijakarta. Kode etik guru indonesia yang telah disempurnakan tersebut ialah:
Guru indonesia menyadari, bahwa pendidikan adalah bidang pengabdian terhadap
Tuhan YME, bangsa dan negara, serta kemanusiaan pada umumnya. Guru indonesia yang
berjiwa pancasila dan setia pada undang undanh dasar 1945, turut bertanggung jawab atas
terwujudnya cita cita proklamasi kemerdekaan republik indonesia 17 agustus 1945.

D. Alasan Pentingnya Kode Etik Bagi Guru


Secara umum, kode etik ini diperlakukan dengan beberapa alasan, antara lain seperti
berikut ini;
1.
Untuk melindungi pekerjaan sesuai dengan ketentuan dan kebijakan yang telah
ditetapkan berdasarkan perundangan-undangan yang berlaku.
2.
Untuk mengontrol terjadinya ketidakpuasan dan persengketaan dari para pelaksana,
sehingga dapat menjaga dan meningatkan stabilitas internal dan eksternal pekerjaan.
3.
Melindungi para praktisi di masyarakat, terutama dalam hal adanya kasus-kasus
penyimpangan tindakan. melindungi anggota masyarakat dari praktek-praktek yang
menyimpang dari ketentuan yang berlaku.

E. Tujuan Perumusan Kode Etik Guru


Tujuan perumusan kode etik dalam suatu profesi adalah untuk kepentingan anggota dan
kepentingan organisasi profesi itu sendiri. R.Hermawan (1979) menjelaskan tujuan
mengadakan kode etik adalah:
A) untuk menjunjung tinggi martabat profesinya
B) untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggotanya
C) untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesinya
D) untuk meningkatkan mutu profesi
E) untuk menuningkatkan mutu organisasi profesi
F. Manfaat Kode Etik Bagi Guru
Organisasi profesi guru membentuk kode etik untuk menjaga dan meningkatkan
kehormatan dan martabat guru dalam melaksanakan tugas profesi. Penegakkan kode etik
dilakukan oleh dewan kehormatan guru. Dewan kehormatan guru dibentuk oleh untuk

mengawasi pelaksanaan kode etik guru dan memberikan rekomendasi pemberian sanksi atas
pelanggaran kode etik oleh guru. Organisasi profesi guru wajib melaksanakan rekomendasi
dewan kehomartan
Fungsi adanya kode etik adalah untuk menjaga kredibilitas dan nama baik guru dalam
menyandang status pendidik. Dengan demikian, adanya kode etik tersebut diharapkan para
guru tidak melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap kewajibannya. Jadi substansi
diberlakukannya kode etik kepada guru sebenarnya untuk menambah kewibawaan dan
memelihara image profesi guru tetap baik.[5]

G. Upaya Mewujudkan Kode Etik Guru


Dalam upaya mewujudkan kode etik guru Indonesia, perlu memperhatikan sejumlah
faktor yang hingga saat ini masih di rasakan sebagai kendala. Faktor-faktor tersebut adalah:
a. Kualitas pribadi guru
b. Pendidikan guru
c. Sarana dan prasarana pendidikan
d. Sistem pendidikan
e. Kedudukan, karier dan kesejahteraan guru
f. Kebijakan pemerintah
Berbagai pihak yang memiliki keterkaitan (pembuat kebijakan/keputusan, para pakar,
manajer, pelaksana) secara proporsional dan professional seyogyanya dapat bekerjasama
secara sistemik, sinergik, dan simbiotik dalam mewujudkan kode etik guru Indonesia. Hal
yang paling mendasar adalah kemauan politik yang terwujud dalam bentuk kebijakan
manajemen guru dan perlakuan terhadap profesi guru.[6]

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kode etik merupakan pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan di dalam
melaksanakan tugas dan dalam hidup sehari har. Kesimpulan Kode etik adalah Himpunan
nilai dan norma profesi guru yang tersusun dengan baik, sistematis dalam suatu system yang
utuh.
Ketaatan guru pada Kode Etik akan mendorong mereka berperilaku sesuai
dengan norma- norma yang dibolehkan dan menghindari norma-norma yang dilarang oleh
etika profesi yang ditetapkan oleh organisasi atau asosiasi profesinya selama menjalankan
tugas-tugas profesional dan kehidupan sebagai warga negara dan anggota masyarakat.
Dengan demikian, aktualisasi diri guru dalam melaksanakan proses pendidikan dan
pembelajaran secara profesional, bermartabat, dan beretika akan terwujud

B. Saran
Setelah membahas makalah ini, semoga kita semua kelak menjadi guru yang
professional dibidangnya, serta mematuhi kode etik yang telah ditetapkan. Karena
keberhasilan seorang tenaga didik dalam melahirkan generasi bangsa tergantung pada
pendidiknya. Jadi, sebaiknya kita ber etika baik di depan maupun di belakang siswa, terutama
di depan siswa.

Daftar Pustaka
Gardon, Thomas dan Mudjito. 1990. Guru Yang Efektif. Jakarta: CV Rajawali.
Saondi, Ondi dan Aris Suherman. 2012. Etika Profesi Keguruan. Bandung: Replika Adi
Tama.
Soedijarto. 1993. Menuju Pendidikan Nasional Yang Relevan dan Bermutu. Jakarta: Balai
Pustaka.
Ali Imron. 1996. Kebijaksanaan Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
Sukardjo dan Ukim Komarudin. 2010. Landasan Pendidikan dan Konsep Aplikasinya.
Jakarta: PT Raja Grafindo.
Tim Dosen FIT-IKIP. 1981. Pengantar Dasar-Dasar Kependidikan. Surabaya: Usana Offset
Printing.

[1]
[2]

Soedijarto, Menuju Pendidikan Nasional Yang Relevan dan Bermutu, (Jakarta: Balai Pustaka, 1993). Hlm. 112
Ali Imron, Kebijakan Pendidikan di Indonesia, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm. 98

[3]

Thomas Gardon dan Mudjito, Guru yang Efektif, (Jakarta: CV Rajawali, 1990), hlm. 105
Sukardjo dan Ukim Komarudin, Landasan Pendidikan dan Konsep Aplikasinya, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2010), hlm. 112
[5]
Ondi Saondi dan Aris Suherman, Etika Profesi Keguruan, (Bandung: Replika Adi Tama, 2012), hlm. 117.
[4]

[6]

Tim Dosen FIP-IKIP Malang, Pengantar Dasar-Dasar Kependidikan, (Surabaya: Usana Offset Printing, 1981),
hlm. 155