Anda di halaman 1dari 12

BAB III

SIKLUS ASAM SITRAT


3.1 Pendahuluan
Bagaimana munculnya pemikiran mengenai siklus asam sitrat ?
Siklus asam sitrat pertama kali dikemukakan sebagai lintas
oksidasi piruvat dalam jaringan hewan pada tahun 1937 oleh Hans
Krebs. Pemikiran mengenai siklus asam sitrat diilhami dari hasil
penelitiannya mengenai aktivitas oksidatif dari sel otot hewan (burung
merpati) yang mengoksidasi asam piruvat dengan kecepatan respirasi
yang amat tinggi. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Albert
Szent Giorgy di Honggaria telah menemukan bahwa terdapat beberapa
asam organik dikarboksilat berantai 4 atom C seperti asam suksinat,
fumarat, malat dan oksaloasetat yang terdapat dalam jaringan hewan
dan merangsang konsumsi O2 oleh otot.
Dari hasil penelitian tersebut Krebs mengemukakan bahwa asamasam organik ini menyebabkan terjadinya oksidasi asam piruvat. Lebih
jauh

lagi,

oksidasi

asam

piruvat

dipengaruhi

juga

oleh

asam

trikarboksilat berkarbon 6 seperti asam sitrat dan asam isositrat serta


asam trikarboksilat berkarbon 5 (asam -ketoglutarat). Penambahan
sejumlah

asam-asam

ini

terbukti

dapat

meningkatkan

kecepatan

oksidasi asam piruvat.


Pengamatan penting kedua yang dihasilkan oleh penelitian Krebs
adalah penghambatan kompetitif spesifik bagi dehidrogenasi suksinat
oleh asam malonat. Senyawa ini terbukti telah menghambat pengunaan
asam piruvat secara aerobik oleh suspensi sel otot tanpa bergantung
kepada jenis asam organik aktif mana yang ditambahkan. Selanjutnya
Krebs

mengemukakan

bahwa

jika

malonat

dipergunakan

untuk

menghambat pemakaian piruvat secara aerobik oleh suspensi otot,


terjadi penumpukan asam sitrat, -ketoglutarat dan suksinat di dalam
medium suspensi. Ini menunjukan bahwa asam sitrat dan -ketoglutarat
terubah menjadi suksinat pada keadaan normal yaitu bilamana malonat
tidak ada dalam medium.
DIKTAT PERKULIAHAN BIOKIMIA II

23

Dari

pengamatan-pengamatan

tersebut

di

atas,

Krebs

menyimpulkan bahwa asam tri dan dikarboksilat aktif dapat disusun


dalam suatu urutan kimia secara logis, dan tiap-tiap tahap merupakan
reaksi kimia sederhana yang dikatalisis oleh suatu enzim spesifik.
Selanjutnya karena inkubasi piruvat dan oksaloasetat dalam suspensi sel
otot mengakibatkan penumpukan asam sitrat dalam medium, maka
Krebs mengusulkan bahwa urutan reaksi-reaksi tersebut berfungsi dalam
suatu bentuk lingkaran atau membentuk suatu putaran penuh (siklus)
dengan cara sedemikian rupa sehingga permulaan dan akhir reaksi
digabungkan bersama-sama. Siklus yang terdiri dari tahapan-tahapan
reaksi yang dikemukankan oleh Hans Krebs ini kemudian lebih dikenal
dengan nama siklus asam sitrat karena senyawa ini merupakan asam
trikarboksilat pertama yang dibentuk dalam tahapan reaksi tersebut.

3.2 Okidasi asam piruvat menjadi Asetil Ko-A


Sebelum memasuki siklus asam sitrat, asam piruvat yang
merupakan pusat dari lintas metabolisme karbohidrat terlebih dahulu
dioksidasi menjadi asetil-KoA dengan bantuan kompleks enzim piruvat
dehidrogenase dengan reaksi sebagai berikut :

Oksidasi

asam

piruvat

menjadi

asetil-KoA

terjadi

dalam

mitokondria sel eukariot sedangkan pada sel prokariot terjadi di dalam


sitoplasma.
Pada reaksi ini,
piruvat

mengalami

dekarboksilasi oksidatif
yaitu
dehidrogenasi

proses
yang

melibatkan

DIKTAT PERKULIAHAN BIOKIMIA II

24

pemindahan gugus karboksil sebagai molekul CO 2 dan gugus asetil


sebagai asetil-KoA.
Gambar 2.3 Mekanisme dekarboksilasi oksidatif asam piruvat
menjadi asetil-KoA.

Kedua atom hidrogen yang dilepaskan oleh piruvat muncul sebgai NADH
dan H+ yang selanjutnya memberikan elektronnya kepada molekul
oksigen melalui rantai fosforilasi oksidatif.

3.3 Tahapan Siklus Asam Sitrat


Siklus asam sitrat terdiri dari delapan tahap reaksi berurutan
dimana transformasi kimia yang terjadi pada saat gugus asetil dari
asetil-KoA dirangkaikan hingga menghasilkan CO2 dan atom H yang
diikat dalam bentuk koenzim tereduksi NADH dan FADH 2. Kedelapan
tahap reaksi yang terjadi dalam siklus asam sitrat adalah sebagai berikut
:
1.

Pembentukan

asam

sitrat

oleh

kondensasi

asetil-KoA

dengan

oksaloasetat
Asetil-KoA + oksaloasetat + H2O

asam sitrat + KoA-SH + H+

Go = -7,7 kkal/mol.
Reaksi ini dikatalisis
oleh

enzim

sintase,
gugus

sitrat
dimana

asetil

dari

asetil-KoA
berkondensasi
dengan

gugus

karbonil

dari

oksaloasetat

dan

terjadi

pemecahan

ikatan tioester untuk


membebaskan
koenzim A bebas.

DIKTAT PERKULIAHAN BIOKIMIA II

25

Gambar 2.4 Kondensasi asetil-KoA dengan oksaloasetat menjadi


asam sitrat
Gambar
2.4
mekanisme
pembentukan asam sitrat.

2.

reaksi

Pengubahan asam sitrat menjadi isositrat melalui sis-akonitat


Enzim

akonitase

menjadi

mengkatalisis

pengubahan

dapat

balik

sitrat

isositrat melalui pembentukan senyawa antara asam

trikarboksilat sis-akonitat. Akonitase mengkatalisis penambahan H2O


secara dapat balik kepada ikatan ganda pada sis-akonitat yang
terikat oleh enzim dalam dua cara yang berbeda, yang satu menuju
pembentukan asam sitrat dan yang lainnya ke pembentukan
isositrat.

3.

Dehidrogenasi isositrat menjadi -ketoglutarat dan CO2


Pada tahapan ini isositrat terdehidrogenasi menjadi

-ketoglutarat

dan CO2 oleh bantuan enzim isositrat dehidrogenase. Enzim ini


memerlukan NAD+/NADP+ sebagai penerima elektron dengan reaksi
sebagai berikut :

Enzim isositrat dehidrogenase memerlukan Mg 2+ atau Mn2+ sebagai


kofaktor dan ADP sebagai modulator positifnya.
DIKTAT PERKULIAHAN BIOKIMIA II

26

4.

Dekarboksilasi oksidatif -ketoglutarat menjadi suksinil-KoA dan CO2.


Tahapan keempat dari siklus asam sitrat adalah dekarboksilasi
oksidatif -ketoglutarat membentuk suksinil-KoA dan CO 2 melalui
kerja

kompleks

-ketoglutarat

enzim

dehidrogenase

yang

mengkatalisis reaksi :

Mekanisme reaksi kompleks enzim -ketoglutarat dehidrogenase


hampir

mirip

dengan

kompleks

piruvat

dehidrogense,

dimana

keduanya mengkatalisis oksidasi asam -keto dengan melepaskan


gugus karboksil sebagai CO2.

5.

Pengubahan suksinil-KoA menjadi asam suksinat


Suksinil-KoA merupakan salah satu senyawa berenergi tinggi yang
memiliki Go yang amat negatif bagi hidrolisis ikatan tioesternya.
Akan tetapi di dalam sel, hidrolsiis ikatan tioester suksinil-KoA
berkaitan langsung dengan fosforilasi GDP menjadi GTP sebagai
senyawa penyimpan energi dengan reaksi :
Suksinat + GTP + KoA-SH Go = -0,7

Suksinil-KoA + Pi + GDP
kkal/mol

Reaksi

tersebut

dikatalisis

oleh

suksinil-KoA

sintetase

yang

menghasilkan suksinat bebas dan pembentukan senyawa fosfat


berenergi tinggi, GTP. Reaksi ini termasuk jenis reaksi fosforilasi
tingkat substrat yang memanfaatkan energi dari hidrolsisis molekul
subsrat.
6.

Dehidrogenasi asam suksinat menjadi asam fumarat


Dalam

tahapan

ini

suksinat

yang

dibentuk

dari

suksinil-KoA

didehidrogenasi lebih lanjut menjadi asam fumarat. Reaksi ini


dikatalisis oleh enzim suksinat dehidrogenase yang mengandung FAD
yang terikat secara kovalen.
DIKTAT PERKULIAHAN BIOKIMIA II

27

7.

Pengubahan asam fumarat menjadi asam malat


Hidrasi asam fumarat menjadi asam malat dikatalisis oleh fumarat
hidratase atau sering disebut enzim fumarase. Mekanisme kerja
enzim fumarase bersifat amat spesifik dimana enzim ini hanya
menghidrasi ikatan ganda trans dari asam fumarat

tetapi tidak

bekerja pada asam maleat yang merupakan isomer sis dari asam
fumarat.

8.

Dehidrogensi asam malat membentuk oksaloasetat


Pada tahapan terakhir siklus asam sitrat, L-malat dehidrogenase yang
mengikat NAD mengkatalisis dehidrogenasi asam malat menjadi
oksaloasetat :

Di dalam sel,

reaksi berjalan ke sebelah kanan walaupun dengan

Goyang bernilai positif, karena oksaloasetat yang merupakan


produk reaksi dengan cepat diikat oleh sitrat sintase yang mengubah
asetil Ko-Amenjadi asam sitrat sehingga reaksi keseluruhan dari
DIKTAT PERKULIAHAN BIOKIMIA II

28

kedelapan tahapan siklus asam sitrat merupakan lintas sirkuler


seperti ditunjukkan pada gambar 2.5.

DIKTAT PERKULIAHAN BIOKIMIA II

29

Gambar 2.5. Rangkaian siklus asam sitrat

3.4 Pengaturan kecepatan siklus asam sitrat


Terdapat empat tahap pengaturan kecepatan siklus asam sitrat,
yaitu :
1. Pengaturan aktivitas enzimatik (piruvat dehidrogenase) melalui
modifikasi kovalen.
Jika konsentrasi ATP dalam mitokondria relatif tinggi, pembentukan
asetil-KoA dari piruvat dihambat oleh ATP itu sendiri dengan cara
merangsang aktivitas enzim pembantu piruvat dehidrogenasi kinase
untuk segera memfosforilasi residu serin spesifik pada molekul
piruvat dehidrogenase se-hingga menjadi bentuk inaktif. Akan tetapi
jika permintaan terhadap ATP mening-kat, sehingga konsentrasi ATP
dalam mitokondria menurun, piruvat dehidrogenase dirubah kembali
menjadi bentuk aktif dengan cara penguraian gugus fosfat oleh
enzim piruvat dehidrogenase fosfatase. Selain itu kompleks piruvat
dehidrogenase juga diatur oleh mekanisme penghambatan alosterik
dimana enzim ini dihambat kuat oleh ATP, asetil-KoA dan NADH yang
merupakan produk reaksi piruvat dehidrogenase.

Gambar 2.6. Pengaturan aktifitas enzim piruvat dehidrogenase


DIKTAT PERKULIAHAN BIOKIMIA II

30

melalui modifikasi kovalen

2. Pengontrolan kecepatan pembentukan asam sitrat oleh enzim sitrat


sintase.
Aktivitas sitrat sintase diatur melalui regulasi alosterik dimana
perubahan konsentrasi suksinil-KoA, asetil-KoA dan NADH akan
sangat mempengaruhi mekanisme kerja enzim tersebut.
3. Pengaturan oksidasi isositrat menjadi -ketoglutarat dan CO2 oleh
regulasi alosterik isositrat dehidrogenase. NADH dan NADPH adalah
modulator penghambat aktivitas isositrat dehidrogenase.
4. Pengaturan

aktifitas

enzim

-ketoglutarat

dehidrogenase

oleh

produknya sendiri (suksinil-KoA).

Gambar 2.5 Lintas pengaturan siklus asam sitrat selama oksidasi piruvat

3.5 Modifikasi Siklus Asam Sitrat


Siklus Glioksilat
Di dalam tumbuhan dan beberapa mikroorganisme seperti E.
Coli gugus asetil sering berfungsi sebagai sumber senyawa antara yang
diperlukan untuk melakukan sintesis kerangka karbon pada karbohidrat.
Dalam kasus ini, siklus asam sitrat bekerja dalam suatu modifikasi
khusus yang dikenal dengan siklus glioksilat. Persamaan reaksi siklus
glikosilat adalah sebagai berikut :
DIKTAT PERKULIAHAN BIOKIMIA II

31

2Asetil-KoA + NAD+ + 2H2O

suksinat

+ 2KoA-SH

NADH

3H+

Penguraian
dehidrogenase

isositrat

yang

tidak

mengubah

terjadi
isositrat

melalui
menjadi

reaksi

isositrat

-ketoglutarat,

melainkan melalui penguraian yang dikatalisis oleh isositrat liase yang


mengubah

isositrat

menjadi

suksinat

dan

glioksilat.

Glioksilat

selanjutnya berkondensasi dengan asetil-KoA untuk menghasilkan asam


malat dengan bantuan enzim malat sintase. Pada setiap putaran siklus
glioksilat, dua molekul asetil-KoA masuk dan satu molekul suksinat
dibentuk yang selanjutnya dipergunakan untuk tujuan biosintestik.
Suksinat selanjutnya dapat diubah menjadi fumarat dan malat
dapat diubah menjadi oksaloasetat yang kemudian dapat diubah
menjadi fosfoenol piruvat. Fosfoenol piruvat lalu dipergunakan sebagai
pemula bagi biosintesis glukosa. Lintas siklus glioksilat tidak terjadi
dalam sel hewan yang tidak memiliki enzim isositrat liase dan malat
sintase.

Gambar 2.6 Siklus glioksilat yang terjadi pada tumbuhan dan


mikroorganisme.
DIKTAT PERKULIAHAN BIOKIMIA II

32

Lintas Pentosa fosfat & Lintas Glukoronat (Lintas Sekunder


Katabolisme Glukosa)
Hampir semua glukosa yang mengalami katabolisme oleh
jaringan hewan masuk ke dalam urutan glikolitik untuk menghasilkan
energi dalam bentuk ATP dan masuk ke dalam siklus asam sitrat. Namun
demikian terdapat lintas katabolik yang lain yang disebut metabolisme
sekunder glukosa. Lintas ini bukan merupakan lintas utama tetapi
menghasilkan produk khusus yang dibutuhkan oleh sel.
Terdapat dua lintas sekunder katabolisme glukosa yaitu :
1. Lintas pentosa fosfat yang menghasilkan dua produk khusus, NADPH
dan ribposa 5-fosfat. NADPH adalah senyawa pembawa energi kimia
dalam bentuk tenaga pereduksi dan ribosa 5-fosfat adalah prekursor
bagi biosintesis asam nukleat.
Reaksi pertama pada lintas pentosa fosfat adalah dehidrogenasi
glukosa

6-fosfat

oleh

glukosa

6-fosfat

dehidrogenase

yang

membentuk NADPH dan 6-fosfoglukono -lakton yang kemudian


terhidrolisis menjadi 6-fosfoglukonat oleh laktonase.Selanjutnya 6fosfoglukoanat

mengalami

dehidrogenasi

dan

dekarboksilasi

membentuk ketopentosa (D-ribosa 5-fosfat).


Persamaan reaksi keseluruhan dari lintas pentosa fosfat adalah
sebagai berikut:
Glukosa 6-fosfat + NADP+ + H2O

D-ribosa 5-fosfat

CO 2

2NADPH + 2H+

2. Lintas Glukoronat yang membentuk D-glukoronat dan asam Laskorbat. Pada lintas ini glukosa 1-fosfat diubah menjadi UDP-glukosa
yang kemudian mengalami dehidrogensi enzimatik membentuk UDPD-glukoronat.
detoksifikasi

UDP-D-glukoronat
senyawa-senyawa

lalu
asing

dimanfaatkan
seperti

glukoronat juga merupakan senyawa antara

untuk

obat-obatan.

D-

pada pengubahan D-

glukosa menjadi asam L-askorbat. Senyawa ini direduksi oleh NADPH


menjadi

L-gulonat

yang

selanjutnya

terubah

menjadi

bentuk

laktonnya (L-glukonolakton). L-glukonolakton selanjutnya dioksidasi


oleh Glukonolakton oksidase membentuk asam L-askorbat. Beberapa
DIKTAT PERKULIAHAN BIOKIMIA II

33

spesies hewan termasuk manusia dan beberapa jenis ikan tidak


dapat mensintesis asam L-askorbat karena tidak memiliki enzim
glukonolakton oksidase.

DIKTAT PERKULIAHAN BIOKIMIA II

34