Anda di halaman 1dari 20

Sejarah candi prambanan

Sejarah Candi Prambanan, kalau bicara tentang sejarah Prambanan ini maka kita yang ada di
Indonesia pasti teringat tentang cerita Roro Jonggrang dengan Bondowoso. Cerita rakyat Roro
Jonggrang ini mengisahkan kehidupan pada kerajaan Prambanan dimasa kepemimpinan Ratu
Boko.
Jika dihubungkan terbentuknya candi Prambanan maka pasti berkaitan dengan kerajaan
Pengging. Dimana kerajaan tersebutlah yang memiliki seorang ksatria sakti pemilik senjata
Bandung dan diberinama Bandung Bondowoso. Kalu menurut cerita rakyat yang beredar,
Bandung Bondowoso memiliki bala tentara berupa Jin.
Dari sini cerita tentang percintaan Roro Jonggrang dengan Bandung Bondowoso dimulai, dimana
ketika Bandung Bondowoso diperintah menyerang kerajaan Boko dan berhasil mendudukinya.
yang kemudian jatuh cinta dengan sosok wanita cantik yaitu Roro Jonggrang.
Dalam kebingungan menjawab lamaran Bandung Bondowoso, Roro Jonggrang mau menerima
dengan syarat dibuatkkan 1000 candi dan 2 sumur yang sangat dalam. Karena kesaktian
Bandung Bondowoso maka semua syarat hampir saja selesai sebelum Roro Jonggrang dengan
licik menipu para tentara Jin Bondowoso dengan menciptakan suasana pagi. Karena tahu
Bondowoso di kibulin Roro Jonggrang makanya marah dan mengutuk cadi Arca.

Merupakan peninggalan Hindu terbesar di kawasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa
Yogyakarta, terletak lebihkuang 17 kilometer di sebelah Timur kota Yogyakarta. Candi
Prambanan merupakan kompleks percandian dengan candi induk menghadap ke arah Timur,
dengan bentuk secara keseluruhan menyerupai gunungan pada wayang kulit setinggi 47 meter.
Agama Hindu mengenal Tri-Murti, yang terdiri dari Dewa Brahmana sebagai sang Pencipta,
Dewa Wishnu sebagai sang Pemelihara dan Dewa Shiwa sebagai sang Perusak.
Bilik utama dari candi induk kompleks candi Prambanan ditempati oleh Dewa Shiwa sebagai
Mahadewa sehingga dapat disimpulkan bahwa candi Prambanan mreupakan candi Shiwa.
Candi Prambanan atau candi Shiwa ini juga sering disebut sebagai candi Roro Jonggrang,
berkaitan dengan legenda yang menceritakan tentang seorang dara yang jonggrang atau gadis
yang jangkung, putrid Prabu (Raja, yang dalam bahasa Jawa sering disebut Ratu) Boko, yang
membangun kerajaannya diatas bukit sebalah Selatan kompleks candi Prambanan.
Bagian tepi candi dibatasi dengan pagar langkan, yang dihiasi dengan relief Ramayana yang
dapat dinikmati bilamana kita berperadaksina (berjalan mengelilingi candi dengan pusat candi
selalu di sebelah kanan kita) melalui lorong itu. Cerita itu berlanjut pada langkan candi Brahma
yang terletak di sebelah kiri (sebelah Selatan) candi induk. Sedang pada pagar langakn candi

Wishnu yang terletak di sebelah kanan (sebelah Utara) candi induk, terpahat relief cerita
Kresnadipayana yang menggambarkan kisah masa kecil Prabu Kresna sebagai penjelmaan
(titisan) Dewa Wishnu dalam membasmi keangkaramurkaan yang hendak melanda dunia.
Bilik candi induk yang menghadap kea rah Utara berisi patung Durga, permaisuri Dewa Shiwa,
tetapi umumnya masyarakat menyebutnya sebagai patung Roro Jonggrang, yang menurut
legenda, patung batu itu sebelumnya adalah tubuh hidup dari purti cantik itu, yang dikutuk oleh
ksatria Bandung Bondowoso, untuk melengkapi kesanggupannya menciptakan seribu patung
dalam waktu satu malam.
Candi Brahma dan candi Wishnu yang kini sudah selesai pemugarannya masing-masing hanya
memiliki 1 buah bilik yang ditempati oleh patung dewa-dewa yang bersangkutan.
Dihadapan ketiga candi dari Dewa Trimurti itu terdapat tiga buah candi yang berisi wahana
(kendaraan) ketiga dewa tersebut. Ketiga candi itu kini sudah dipugar dan hanya candi yang
ditengah (di depan candi Shiwa) yang masih berisi patung seekor lembu yang bernama Nandi,
kendaraan Dewa Shiwa. Patung angsa senagai kendaraan Brahma dan patung garuda sebagai
kendaraan Wishnu yang diperkirakan dahulu mengisi bilik-bilik candi yang terletak di hadapan
candi kedua Dewa itu, kini telah dipugar.
Keenam candi itu merupakan 2 kelompok yang saling berhadapan, terletak pada sebuah halaman
berbentuk bujur sangkar, dengan sisi sepanjang 110 meter.
Didalam halaman masih berdiri candi-candi lain, yaitu 2 buah candi pengapit dengan ketinggian
16 meter yang saling berhadapan, yang sebuah berdiri di sebelah Utara dan yang lain di sebelah
Selatan, 4 buah candi kelir dan 4 buah candi sudut.
Halaman dalam yang dianggap masyarakat Hindu sebagai halaman paling sacral ini, terletak di
tengah halaman tengah yang mempunyai sisi 222 meter, dan pada mulanya berisi candi-candi
perwara sebanyak 224 buah berderet-deret mengelilingi hfalaman dalam 3 baris.
Diluar halaman tengah ini masih terdapat halaman luar yang berbentuk segi empat dengan sisi
sepanjang 390 meter.
Kompleks candi Prambanan dibangun oleh Raja-raja Wamca (Diansty) Sanjaya pada abad ke-9
dan kini merupakan obyek wisata yang dapat dikunjungi setiap hari antara pukul 06.00-18.00
WIB.
Kompleks candi Prambanan terletak hanya beberapa ratus meter dari jalan raya Yogya-Solo yang
ramai dilewati kendaraan umum.
Diposkan oleh a d i t i o di 18:29

Sejarah candi prambanan

Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang,
Jawa Tengah, Indonesia. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat
daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di sebelah barat laut
Yogyakarta. Setelah sebelumnya kita bahas tentang sejarah ka'bah dan sejarah
manusia purba, nah sekarang kita bahas secara detail tentang sejarah candi borobudur.
Sebagai mantan dari tujuh keajaiban dunia, sejarah candi borobudur dibangun
dengan menggunakan +/- 55.000 m3 batu. Tinggi bangunan ini sampai kepuncak
adalah 42m, dengan lebar dasar 123 m. Tegak dan kokoh menjulang keangkasa dan
merupakan bagian dari sejarah yang telah berumur 12 abad. Kapan pastinya candi ini
didirikan tidak diketahui dengan pasti. Tidak adanya bukti-bukti tertulis menyebabkan
Borobudur penuh kegelapan.

SejarahCandiBorobudurSecaraDetail
Penentuan umur dilakukan dengan memperhatikan dasar corak bangunan candi dan
ukir-ukirannya yang menunjukkan corak Jawa tengah abad 8 masehi. Sejak dibangun
pada abad ke 8, sejarah borobudur timbul tenggelam. Setelah selesai dibangun,
borobudur menjadi pusat penelitian dan pemngembangan agama budha. Para pemeluk
agama ini, mengunjungi Borobudur untuk mempelajari agama budha.
Sejarah Pembangunan Candi Borobudur
Diatas dikemukan sedikit kutipan tentang sejarah candi borobudur, dan berikut ini
adalah penjelasan secara detail tentang candi borobudur dalam hal pembangunannya.
Tidak ditemukan bukti tertulis yang menjelaskan siapakah yang membangun Borobudur
dan apa kegunaannya. Waktu pembangunannya diperkirakan berdasarkan
perbandingan antara jenis aksara yang tertulis di kaki tertutup Karmawibhangga dengan
jenis aksara yang lazim digunakan pada prasasti kerajaan abad ke-8 dan ke-9.
Diperkirakan Borobudur dibangun sekitar tahun 800 masehi. Kurun waktu ini sesuai
dengan kurun antara 760 dan 830 M, masa puncak kejayaan wangsa Syailendra di
Jawa Tengah, yang kala itu dipengaruhi Kemaharajaan Sriwijaya.
Pembangunan Borobudur diperkirakan menghabiskan waktu 75 - 100 tahun lebih dan
benar-benar dirampungkan pada masa pemerintahan raja Samaratungga pada tahun

825. Terdapat kesimpangsiuran fakta mengenai apakah raja yang berkuasa di Jawa
kala itu beragama Hindu atau Buddha. Wangsa Sailendra diketahui sebagai penganut
agama Buddha aliran Mahayana yang taat, akan tetapi melalui temuan prasasti
Sojomerto menunjukkan bahwa mereka mungkin awalnya beragama Hindu Siwa.
Pada kurun waktu itulah dibangun berbagai candi Hindu dan Buddha di Dataran Kedu.
Berdasarkan Prasasti Canggal, pada tahun 732 M, raja beragama Siwa Sanjaya
memerintahkan pembangunan bangunan suci Shiwalingga yang dibangun di perbukitan
Gunung Wukir, letaknya hanya 10 km (6.2 mil) sebelah timur dari Borobudur. Candi
Buddha Borobudur dibangun pada kurun waktu yang hampir bersamaan dengan candicandi di Dataran Prambanan, meskipun demikian Borobudur diperkirakan sudah
rampung sekitar 825 M, dua puluh lima tahun lebih awal sebelum dimulainya
pembangunan candi Siwa Prambanan sekitar tahun 850 M.
Pembangunan candi-candi Buddha - termasuk Borobudur - saat itu dimungkinkan
karena pewaris Sanjaya, Rakai Panangkaran memberikan izin kepada umat Buddha
untuk membangun candi. Bahkan untuk menunjukkan penghormatannya, Panangkaran
menganugerahkan desa Kalasan kepada sangha (komunitas Buddha), untuk
pemeliharaan dan pembiayaan Candi Kalasan yang dibangun untuk memuliakan
Bodhisattwadewi Tara, sebagaimana disebutkan dalam Prasasti Kalasan berangka
tahun 778 Masehi.
Petunjuk ini dipahami oleh para arkeolog, bahwa pada masyarakat Jawa kuno, agama
tidak pernah menjadi masalah yang dapat menuai konflik, dengan dicontohkan raja
penganut agama Hindu bisa saja menyokong dan mendanai pembangunan candi
Buddha, demikian pula sebaliknya. Akan tetapi diduga terdapat persaingan antara dua
wangsa kerajaan pada masa itu - wangsa Syailendra yang menganut Buddha dan
wangsa Sanjaya yang memuja Siwa - yang kemudian wangsa Sanjaya memenangi
pertempuran pada tahun 856 di perbukitan Ratu Boko.
Ketidakjelasan juga timbul mengenai candi Lara Jonggrang di Prambanan, candi
megah yang dipercaya dibangun oleh sang pemenang Rakai Pikatan sebagai jawaban
wangsa Sanjaya untuk menyaingi kemegahan Borobudur milik wangsa Syailendra,
akan tetapi banyak pihak percaya bahwa terdapat suasana toleransi dan kebersamaan
yang penuh kedamaian antara kedua wangsa ini yaitu pihak Sailendra juga terlibat
dalam pembangunan Candi Siwa di Prambanan.

Tahapan pembangunan Borobudur

CandiBorobudur

Para ahli arkeologi menduga bahwa rancangan awal Candi Borobudur adalah stupa
tunggal yang sangat besar memahkotai puncaknya. Diduga massa stupa raksasa yang
luar biasa besar dan berat ini membahayakan tubuh dan kaki candi sehingga arsitek
perancang Borobudur memutuskan untuk membongkar stupa raksasa ini dan diganti
menjadi tiga barisan stupa kecil dan satu stupa induk seperti sekarang. Berikut adalah
perkiraan tahapan pembangunan Borobudur:
1. Tahap pertama: Masa pembangunan Borobudur tidak diketahui pasti (diperkirakan
kurun 750 dan 850 M). Borobudur dibangun di atas bukit alami, bagian atas bukit
diratakan dan pelataran datar diperluas. Sesungguhnya Borobudur tidak seluruhnya
terbuat dari batu andesit, bagian bukit tanah dipadatkan dan ditutup struktur batu
sehingga menyerupai cangkang yang membungkus bukit tanah. Sisa bagian bukit
ditutup struktur batu lapis demi lapis. Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat.
Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak, tetapi kemudian diubah. Sebagai
bukti ada tata susun yang dibongkar. Dibangun tiga undakan pertama yang menutup
struktur asli piramida berundak.
2. Tahap kedua: Penambahan dua undakan persegi, pagar langkan dan satu undak
melingkar yang diatasnya langsung dibangun stupa tunggal yang sangat besar.
3. Tahap ketiga: Terjadi perubahan rancang bangun, undak atas lingkaran dengan
stupa tunggal induk besar dibongkar dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa yang
lebih kecil dibangun berbaris melingkar pada pelataran undak-undak ini dengan satu
stupa induk yang besar di tengahnya. Karena alasan tertentu pondasi diperlebar,
dibangun kaki tambahan yang membungkus kaki asli sekaligus menutup relief
Karmawibhangga.
Para arkeolog menduga bahwa Borobudur semula dirancang berupa stupa tunggal
yang sangat besar memahkotai batur-batur teras bujur sangkar. Akan tetapi stupa besar
ini terlalu berat sehingga mendorong struktur bangunan condong bergeser keluar. Patut
diingat bahwa inti Borobudur hanyalah bukit tanah sehingga tekanan pada bagian atas
akan disebarkan ke sisi luar bagian bawahnya sehingga Borobudur terancam longsor
dan runtuh.
Karena itulah diputuskan untuk membongkar stupa induk tunggal yang besar dan
menggantikannya dengan teras-teras melingkar yang dihiasi deretan stupa kecil

berterawang dan hanya satu stupa induk. Untuk menopang agar dinding candi tidak
longsor maka ditambahkan struktur kaki tambahan yang membungkus kaki asli.
Struktur ini adalah penguat dan berfungsi bagaikan ikat pinggang yang mengikat agar
tubuh candi tidak ambrol dan runtuh keluar, sekaligus menyembunyikan relief
Karmawibhangga pada bagian Kamadhatu.
4. Tahap keempat: Ada perubahan kecil seperti penyempurnaan relief, penambahan
pagar langkan terluar, perubahan tangga dan pelengkung atas gawang pintu, serta
pelebaran ujung kaki.
Suatu hal yang unik, bahwa sejarah candi borobudur ini ternyata memiliki arsitektur
dengan format menarik atau terstruktur secara matematika. setiap bagain kaki, badan
dan kepala candi selalu memiliki perbandingan 4:6:9. Penempatan-penempatan
stupanya juga memiliki makna tersendiri, ditambah lagi adanya bagian relief yang
diperkirakan berkatian dengan astronomi menjadikan borobudur memang merupakan
bukti sejarah yang menarik untuk di amati
Sumber Artikel Dari : http://www.infoasik.com/2012/11/sejarah.candi.borobudur.html#ixzz2DiO30KTF

SEJARAH CANDI BOROBUDUR

Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Kecamatan Borobudur
Kabupaten Magelang yang letaknya sebelah selatan + 15 km sebelah selatan kota
Magelang dataran kedu yang berbukit hampir seluruhnya di kelilingi pegunungan,
pegunungan yang mengelilingi Candi Borobudur di antaranya di sebelah timur terdapat
Gunung Merbabu dan Gunung Merapi Barat, Laut Gunung Sumbing dan Gunung
Sindoro.
Dalam etnis Tionghoa, candi ini disebut juga (Hanyu Pinyin: p lu f t)
dalam bahasa Mandarin.
ASAL USUL SEJARAH SINGKAT CANDI BOROBUDUR
WAKTU DIDIRIKAN
Banyak buku buku sejarah yang menuliskan tentang Candi Borobudur akan tetapi
kapan Candi Borobudur itu di dirikan tidaklah dapat di ketahui secara pasti namun
suatu perkiraan dapat di peroleh dengan tulisan singkat yang di pahatkan di atas
pigura relief kaki asli Candi Borobudur ( Karwa Wibhangga ) menunjukan huruf sejenis
dengan yang di dapatkan dari prasati di akhir abad ke 8 sampai awal abad ke 9 dari
bukti bukti tersebut dapat di tarik kesimpulan bahwa Candi Borobudur di dirikan
sekitar tahun 800 M.

Kesimpulan tersebut di atas itu ternyata sesuai benar dengan dengan kerangka sejarah
Indonesia pada umumnya dan juga sejarah yang berada di daerah jawa tengah pada
khususnya periode antara abad ke 8 dan pertengahan abad ke 9 di terkenal dengan
abad Emas Wangsa Syailendra kejayaan ini di tandai di bangunnya sejumlah besar
candi yang di lereng lereng gunung kebanyakan berdiri khas bangunan hindu
sedangkan yang bertebaran di dataran dataran adalah khas bangunan Budha tapi ada
juga sebagian khas Hindu
Dengan demikian dapat di tarik kesimpulan bahwa Candi Borobudur di bangun oleh
wangsa Syailendra yang terkenal dalam sejarah karena karena usaha untuk
menjunjung tinggi dan mengagungkan agama Budha Mahayana.
Tahap Pembangunan Borobudur
* Tahap pertama
Masa pembangunan Borobudur tidak diketahui pasti (diperkirakan antara 750 dan 850
M). Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai
piramida berundak. tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang
dibongkar.
* Tahap kedua
Pondasi Borobudur diperlebar, ditambah dengan dua undak persegi dan satu undak
lingkaran yang langsung diberikan stupa induk besar.
* Tahap ketiga
Undak atas lingkaran dengan stupa induk besar dibongkar dan dihilangkan dan diganti
tiga undak lingkaran. Stupa-stupa dibangun pada puncak undak-undak ini dengan satu
stupa besar di tengahnya.
* Tahap keempat
Ada perubahan kecil seperti pembuatan relief perubahan tangga dan lengkung atas
pintu.
PENEMUAN KEMBALI
Borobudur yang menjadi keajaiban dunia menjulang tinggi antara dataran rendah di
sekelilingnya.
Tidak akan pernah masuk akal mereka melihat karya seni terbesar yang merupakan
hasil karya sangat mengagumkan dan tidak lebih masuk akal lagi bila di katakan Candi
Borobudur pernah mengalami kerusakan
Memang demikian keadaannya Candi Borobudur terlupakan selama tenggang waktu
yang cukup lama bahkan sampai berabad abad bangunan yang begitu megahnya di
hadapkan pada proses kehancuran. Kira kira hanya 150 tahun Candi Borobudur di
gunakan sebagai pusat Ziarah, waktu yang singkat di bandingkan dengan usianya
ketika pekerja menghiasi / membangun bukit alam Candi Borobudur dengan batu
batu di bawah pemerintahan yang sangat terkenal yaitu SAMARATUNGGA, sekitar
tahun 800 an dengan berakhirnya kerajaan Mataram tahu 930 M pusat kehidupan dan
kebudayaan jawa bergeser ke timur

Demikian karena terbengkalai tak terurus maka lama lama di sana sini tumbuh
macam macam tumbuhan liar yang lama kelamaan menjadi rimbun dan menutupi
bangunannya.
Pada kira kira abad ke 10 Candi Borobudur terbengkalai dan terlupakan.
Baru pada tahun 1814 M berkat usaha Sir Thomas Stamford Rafles Candi Borobudur
muncul dari kegelapan masa silam. Rafles adalah Letnan Gubernur Jendral Inggris,
ketika Indonesia di kuasai / di jajah Inggris pada tahun 1811 M 1816 M.
Pada tahun 1835 M seluruh candi di bebaskan dari apa yang menjadi penghalang
pemandangan oleh Presiden kedua yang bernama Hartman, karena begitu tertariknya
terhadap Candi Borobudur sehingga ia mengusahakan pembersihan lebih lanjut, puing
puing yang masih menutupi candi di singkirkan dan tanah yang menutupi lorong
lorong dari bangunan candi di singkirkan semua sehingga candi lebih baik di
bandingkan sebelumnya.

Foto Pertama Candi Borobudur dari tahun 1873, bendera Belanda nampak pada stupa
utama candi
PENYELAMATAN 1
Semenjak Candi Borobudur di temukan dimulailah usaha perbaikan dan pemugaran
kembali bangunan Candi Borobudur mula mula hanya dilakukan secara kecil kecilan
serta pembuatan gambar gambar dan photo photo reliefnya. Pemugaran Candi
Borobudur yang pertama kali di adakan pada tahun 1907 M 1911 M di bawah
pimpinan Tuan Van erf dengan maksudnya adalah untuk menghindari kerusakan
kerusakan yang lebih besar lagi dari bangunan Candi Borobudur

Teras tertinggi setelah restorasi Van Erp


walaupun banyak bagian tembok atau dinding dinding terutama tingkat tiga dari
bawah sebelah Barat Laut, Utara dan Timur Laut yang masih tampak miring dan
sangat mengkhawatirkan bagi para pengunjung maupun bangunannya sendiri namun
pekerjaan Van Erp tersebut untuk sementara Candi Borobudur dapat di selamatkan
dari kerusakan yang lebih besar.
Mengenai gapura gapura hanya beberapa saja yang telah di kerjakan masa itu telah
mengembalikan kejayaan masa silam, namun juga perlu di sadari bahwa tahun tahun
yang di lalui borobudur selama tersembunyi di semak semak secara tidak langsung
telah menutupi dan melindungi dari cuaca buruk yang mungkin dapat merusak
bangunan Candi Borobudur, Van Erp berpendapat miring dan meleseknya dinding
dinding dari bangunan itu tidak sangat membahayakan bangunan itu, Pendapat itu
sampai 50 tahun kemudian memang tidak salah akan tetapi sejak tahun 1960 M
pendapat Tuan Van erf itu mulai di ragukan dan di khawatirkan akan ada kerusakan
yang lebih parah
PEMUGARAN CANDI BOROBUDUR
Pemugaran Candi Borobudur di mulai tanggal 10 Agustus 1973 prasati dimulainya
pekerjaan pemugaran Candi Borobudur terletak di sebelah Barat Laut Menghadap ke
timur karyawan pemugaran tidak kurang dari 600 orang diantaranya ada tenaga
tenaga muda lulusan SMA dan SIM bangunan yang memang diberikan pendidikan
khususnya mengenai teori dan praktek dalam bidang Chemika Arkeologi ( CA ) dan
Teknologi Arkeologi ( TA )
Teknologi Arkeologi bertugas membongkar dan memasang batu - batu Candi Borobudur
sedangkan Chemika Arkeologi bertugas membersihkan serta memperbaiki batu batu
yang sudah retak dan pecah, pekerjaan pekerjan di atas bersifat arkeologi semua di
tangani oleh badan pemugaran Candi Borobudur, sedangkan pekerjaan yang bersifat
teknis seperti penyediaan transportasi pengadaaan bahan bahan bangunan di tangani
oleh kontraktor ( PT NIDYA KARYA dan THE CONTRUCTION AND DEVELOPMENT
CORPORATION OF THE FILIPINE ).

Bagian bagian Candi Borobudur yang di pugar ialah bagian Rupadhatu yaitu tempat
tingkat dari bawah yang berbentuk bujur sangkar sedangkan kaki Candi Borobudur
serta teras I, II, III dan stupa induk ikut di pugar pemugaran selesai pada tanggal 23
Februari 1983 M di bawah pimpinan DR Soekmono dengan di tandai sebuah batu
prasati seberat + 20 Ton.
Prasasti peresmian selesainya pemugaran berada di halaman barat dengan batu yang
sangat besar di buatkan dengan dua bagian satu menghadap ke utara satu lagi
menghadap ke timur
penulisan dalam prasasti tersebut di tanda tangani langsung oleh tenaga yang ahli dan
terampil dari Yogyakarta yang bekerja pada proyek pemugaran Candi Borobudur.
Ikhtisar Waktu Proses Pemugaran Candi borobudur
* 1814 - Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa,
mendengar adanya penemuan benda purbakala di desa Borobudur.
Raffles memerintahkan H.C. Cornelius untuk menyelidiki lokasi penemuan, berupa
bukit yang dipenuhi semak belukar.
* 1873 - monografi pertama tentang candi diterbitkan.
* 1900 - pemerintahan Hindia Belanda menetapkan sebuah panitia pemugaran dan
perawatan candi Borobudur.
* 1907 - Theodoor van Erp memimpin pemugaran hingga tahun 1911.
* 1926 - Borobudur dipugar kembali, tapi terhenti pada tahun 1940 akibat krisis
malaise dan Perang Dunia II.
* 1956 - Pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO.
Prof. Dr. C. Coremans datang ke Indonesia dari Belgia untuk meneliti sebab-sebab
kerusakan Borobudur.
* 1963 - Pemerintah Indonesia mengeluarkan surat keputusan untuk memugar
Borobudur, tapi berantakan setelah terjadi peristiwa G-30-S.
* 1968 - Pada konferensi-15 di Perancis, UNESCO setuju untuk memberi bantuan untuk
menyelamatkan Borobudur.
* 1971 - Pemerintah Indonesia membentuk badan pemugaran Borobudur yang diketuai
Prof.Ir.Roosseno.
* 1972 - International Consultative Committee dibentuk dengan melibatkan berbagai
negara dan Roosseno sebagai ketuanya. Komite yang disponsori UNESCO menyediakan
5 juta dolar Amerika Serikat dari biaya pemugaran 7.750 juta dolar Amerika
Serikat. Sisanya ditanggung Indonesia.
* 10 Agustus 1973 - Presiden Soeharto meresmikan dimulainya pemugaran Borobudur;
pemugaran selesai pada tahun 1984
* 21 Januari 1985 - terjadi serangan bom yang merusakkan beberapa stupa pada Candi
Borobudur yang kemudian segera diperbaiki kembali. Serangan dilakukan oleh
kelompok Islam ekstremis yang dipimpin oleh Husein Ali Al Habsyi.
* 1991 - Borobudur ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO.

BAtu Peringatan Pemugaran candi Borobudur dengan bantuan UNESCO


ASAL USUL NAMA BOROBUDUR
Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan
bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya
"gunung" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras.Selain itu
terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya.
Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran
bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata
"bara" dan "beduhur". Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula
penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya kompleks
candi atau biara dan beduhur artinya ialah "tinggi", atau mengingatkan dalam bahasa
Bali yang berarti "di atas". Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang
berada di tanah tinggi.
Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada
1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti
Karangtengah dan Kahulunan, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja
Mataram dari wangsa Syailendra bernama Samaratungga, yang melakukan
pembangunan sekitar tahun 824 M.
Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu
Pramudawardhani.
Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad. Dalam prasasti
Karangtengah pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah bebas
pajak) oleh r Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamln yang
disebut Bhmisambhra. Istilah Kamln sendiri berasal dari kata mula yang berarti
tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan leluhur, kemungkinan leluhur
dari wangsa Sailendra. Casparis memperkirakan bahwa Bhmi Sambhra Bhudhra
dalam bahasa sansekerta yang berarti "Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan
boddhisattwa", adalah nama asli Borobudur.

BANGUNAN CANDI BOROBUDUR


URAIAN BANGUNAN CANDI BOROBUDUR
Candi Borobudur di bangun mengunakan batu Adhesit sebanyak 55.000 M3bangunan
Candi Borobudur berbentuk limas yang berundak undak dengan tangga naik pada ke
4 sisinya ( Utara, selatan, Timur Dan Barat )pada Candi Borobudur tidak ada ruangan
di mana orang tak bisa masuk melainkan bisa naik ke atas saja.
Lebar bangunan Candi Borobudur 123 M
Panjang bangunan Candi Borobudur 123 M
Pada sudut yang membelok 113 M
Dan tinggi bangunan Candi Borobudur 30.5 M
Pada kaki yang asli di di tutup oleh batu Adhesit sebanyak 12.750 M3 sebagai selasar
undaknya.
Candi Borobudur memiliki struktur dasar punden berundak, dengan enam pelataran
berbentuk bujur sangkar, tiga pelataran berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa
utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua pelatarannya beberapa stupa.
Sepuluh pelataran yang dimiliki Borobudur menggambarkan secara jelas filsafat
mazhab Mahayana. Bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh
tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi
Buddha.
Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai
oleh kama atau "nafsu rendah". Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu
yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian yang tertutup
struktur tambahan ini terdapat 120 panel cerita Kammawibhangga. Sebagian kecil
struktur tambahan itu disisihkan sehingga orang masih dapat melihat relief pada
bagian ini.

Empat lantai dengan dinding berelief di atasnya oleh para ahli dinamakan Rupadhatu.
Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat
membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini
melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian
Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas
ballustrade atau selasar.
Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan
Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk
lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari
segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai
nirwana. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubanglubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samarsamar.
Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa
yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam
stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut
juga unfinished Buddha, yang disalahsangkakan sebagai patung Adibuddha, padahal
melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung pada stupa utama, patung
yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada zaman dahulu. menurut
kepercayaan patung yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh
dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak
patung seperti ini.
Di masa lalu, beberapa patung Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua
patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang dikirimkan kepada
Raja Thailand, Chulalongkorn yang mengunjungi Hindia Belanda (kini Indonesia) pada
tahun 1896 sebagai hadiah dari pemerintah Hindia Belanda ketika itu.

Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada
ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi

dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah umat Buddha
diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan.
Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan
perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli
dari masa prasejarah Indonesia.
Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk struktur Mandala.Struktur
Borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem interlock yaitu seperti
balok-balok Lego yang bisa menempel tanpa lem.
PATUNG
Di dalam bangunan Budha terdapat patung patung Budha berjumlah 504 buah
diantaranya sebagai berikut:
Patung Budha yang terdapat pada relung relung : 432 Buah
Sedangkan pada teras teras I, II, III berjumlah : 72 Buah
Jumlah : 504 Buah
Agar lebih jelas susunan susunan patung Budha pada Budha sebagai berikut:
1. Langkah I Teradapat : 104 Patung Budha
2. Langkah II Terdapat : 104 Patung Budha
3. Langkah III Terdapat : 88 Patung Budha
4. Langkah IV Terdapat : 22 Patung Budha
5. Langkah V Terdapat : 64 Patung Budha
6. Teras Bundar I Terdapat : 32 Patung Budha
7. Teras Bundar II Terdapat : 24 Patung Budha
8. Teras Bundar III Terdapat : 16 Patung Budha
Jumlah : 504 Patung Budha
Sekilas patung Budha itu tampak serupa semuanya namun sesunguhnya ada juga
perbedaannya perbedaan yang sangat jelas dan juga yang membedakan satu sama
lainya adalah dalam sikap tangannya yang di sebut Mudra dan merupakan ciri khas
untuk setiap patung sikap tangan patung Budha di Candi Borobudur ada 6 macam
hanya saja karena macam oleh karena macam mudra yang di miliki menghadap semua
arah (Timur Selatan Barat dan Utara) pada bagian rupadhatu langkah V maupun pada
bagian arupadhatu pada umumnya menggambarkan maksud yang sama maka jumlah
mudra yang pokok ada 5 kelima mudra itu adalah Bhumispara Mudra Wara Mudra,
Dhayana Mudra, Abhaya Mudra, Dharma Cakra Mudra.
PATUNG SINGA
Pada Candi Borobudur selain patung Budha juga terdapat patung singa jumlah patung
singa seharusnya tidak kurang dari 32 buah akan tetapi bila di hitung sekarang
jumlahnya berkurang karena berbagai sebab satu satunya patung singa besar berada
pada halaman sisi Barat yang juga menghadap ke barat seolah olah sedang menjaga

bangunan Candi Borobudur yang megah dan anggun.


STUPA
- Stupa Induk
Berukuran lebih besar dari stupa stupa lainya dan terletak di tengah tengah paling
atas yang merupakan mhkota dari seluruh monumen bangunan Candi Borobudur,
garis tengah Stupa induk + 9.90 M puncak yang tertinggi di sebut pinakel / Yasti
Cikkara, terletak di atas Padmaganda dan juga trletak di garis Harmika.
- Stupa Berlubang / Terawang
Yang dimaksud stupa berlubang atau terawang ialah Stupa yang terdapat pada teras I,
II, III di mana di dalamnya terdapat patung Budha.
Di Candi Borobudur jumlah stupa berlubang seluruhnya 72 Buah, stupa stupa
tersebut berada pada tingkat Arupadhatu
Teras I terdapat 32 Stupa
Teras II terdapat 24 Stupa
Teras III terdapat 16 Stupa
Jumlah 72 Stupa
- Stupa kecil
Stupa kecil berbentuk hampir sama dengan stupa yang lainya hanya saja
perbedaannya yang menojol adalah ukurannya yang lebih kecil dari stupa yang lainya,
seolah olah menjadi hiasan bangunan Candi Borobudur keberadaanstupa ini
menempati relung relung pada langkah ke II saampai langkah ke V sedangkan pada
langkah I berupa Keben dan sebagian berupa Stupa kecil jumlah stupa kecil ada 1472
Buah.
RELIEF
Di setiap tingkatan dipahat relief-relief pada dinding candi. Relief-relief ini dibaca
sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna yang
berasal dari bahasa Sansekerta daksina yang artinya ialah timur. Relief-relief ini
bermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief cerita jtaka.
Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu
gerbang sisi timur di setiap tingkatnya, mulainya di sebelah kiri dan berakhir di
sebelah kanan pintu gerbang itu. Maka secara nyata bahwa sebelah timur adalah
tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa
candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar.
Secara runtutan, maka cerita pada relief candi secara singkat bermakna sebagai
berikut :
KARMAWIBHANGGA
Sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief yang menghiasi dinding batur
yang terselubung tersebut menggambarkan hukum karma. Deretan relief tersebut
bukan merupakan cerita seri (serial), tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu
cerita yang mempunyai korelasi sebab akibat. Relief tersebut tidak saja memberi

gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan
diperolehnya, tetapi juga perbuatan baik manusia dan pahala. Secara keseluruhan
merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir - hidup - mati
(samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah yang
akan diakhiri untuk menuju kesempurnaan
LALITAWISTARA
Merupakan penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi
bukan merupakan riwayat yang lengkap ) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari
sorga Tusita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota
Banaras.
Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan
relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur. Ke-27 pigura tersebut
menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk
menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha.
Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai
Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri
Kapilawastu.
Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang
secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Buddha di
sebut dharma yang juga berarti "hukum", sedangkan dharma dilambangkan sebagai
roda.
JATAKA DAN AWADANA
Jataka adalah cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran
Siddharta.
Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan baik, yang membedakan Sang
Bodhisattwa dari makhluk lain manapun juga. Sesungguhnya, pengumpulan
jasa/perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat keBuddha-an.
Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi
pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun
dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab
Awadanasataka atau seratus cerita Awadana. Pada relief candi Borobudur jataka dan
awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama
tanpa dibedakan.
Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala
atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura dan jang hidup dalam abad ke-4
Masehi.
GANDAWYUHA
Merupakan deretan relief menghiasi dinding lorong ke-2,adalah cerita Sudhana yang
berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan Tertinggi
tentang Kebenaran Sejati oleh Sudhana. Penggambarannya dalam 460 pigura
didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan untuk

bagian penutupnya berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari.


ARCA BUDDHA
Selain wujud buddha dalam kosmologi buddhis yang terukir di dinding, di Borobudur
terdapat banyak arca buddha duduk bersila dalam posisi lotus serta menampilkan
mudra atau sikap tangan simbolis tertentu.Patung buddha dalam relung-relung di
tingkat Rupadhatu, diatur berdasarkan barisan di sisi luar pagar langkan. Jumlahnya
semakin berkurang pada sisi atasnya. Barisan pagar langkan pertama terdiri dari 104
relung, baris kedua 104 relung, baris ketiga 88 relung , baris keempat 72 relung, dan
baris kelima 64 relung. Jumlah total terdapat 432 arca Buddha di tingkat
Rupadhatu.Pada bagian Arupadhatu (tiga pelataran melingkar), arca Buddha
diletakkan di dalam stupa-stupa berterawang (berlubang). Pada pelataran melingkar
pertama terdapat 32 stupa, pelataran kedua 24 stupa, dan pelataran ketiga terdapat
16 stupa, semuanya total 72 stupa.
Dari jumlah asli sebanyak 504 arca Buddha, lebih dari 300 telah rusak (kebanyakan
tanpa kepala) dan 43 hilang (sejak penemuan monumen ini, kepala buddha sering
dicuri sebagai barang koleksi, kebanyakan oleh museum luar negeri).
Secara sepintas semua arca buddha ini terlihat serupa, akan tetapi terdapat
perbedaan halus diantaranya, yaitu pada mudra atau posisi sikap tangan. Terdapat
lima golongan mudra: Utara, Timur, Selatan, Barat, dan Tengah, kesemuanya
berdasarkan lima arah utama kompas menurut ajaran Mahayana.
Keempat pagar langkan memiliki empat mudra: Utara, Timur, Selatan, dan
Barat, dimana masing-masing arca buddha yang menghadap arah tersebut
menampilkan mudra yang khas. Arca Buddha pada pagar langkan kelima dan arca
buddha di dalam 72 stupa berterawang di pelataran atas menampilkan mudra: Tengah
atau Pusat. Masing-masing mudra melambangkan lima Dhyani Buddha; masing-masing
dengan makna simbolisnya tersendiri
Sedikit Foto - Foto dari Candi Borobudur