Anda di halaman 1dari 6

A.

Hari dan Tanggal Percobaan


Jumat ,20 November 2015
B. Tujuan
Sesuai modul
C. Dasar Teori
Vitamin adalah senyawasenyawa organik tertentu yang diperlukan dalam
jumlah kecil dalam diet seseorang tetapi esensial untuk reaksi metabolisme dalam
sel dan penting untuk melangsungkan pertumbuhan normal serta memelihara
kesehatan. Vitamin dibagi ke dalam dua golongan. Golongan pertama oleh Kodicek
(1971) disebut prakoenzim (procoenzyme), dan bersifat larut dalam air, tidak disimpan oleh
tubuh, tidak beracun, diekskresi dalam urine. Yang termasuk golongan ini adalah tiamin,
riboflavin, asam nikotinat, piridoksin, asam kolat, biotin, asam pantotenat, vitamin B12 (disebut
golongan vitamin B) dan vitamin C. Golongan kedua yang larut dalam lemak disebutnya
alosterin, dan dapat disimpan dalam tubuh. Apabila vitamin ini terlalu banyak dimakan, akan
tersimpan dalam tubuh, dan memberikan gejala penyakit tertentu (hipervitaminosis), yang juga
membahayakan. Kekurangan vitamin mengakibatkan terjadinya penyakit difisiensi, tetapi
biasanya gejala penyakit akan hilang kembali apabila kecukupan vitamin tersebut sudah
terpenuhi (Poedjiadi, 1994).
Vitamin C atau asam askorbat mempunyai berat molekul 178 dengan rumus
molekul C6H8O6. Dalam bentuk kristal tidak berwarna, titik cair 190 192oC.
Bersifat larut dalam air, sedikit larut dalam aseton atau alcohol yang mempunyai berat molekul
rendah. Vitamin C sukar larut dalam chloroform, ether, dan benzene. Dengan logam membentuk
garam. Pada pH rendah vitamin C lebih stabil daripada pH tinggi. Vitamin C mudah teroksidasi,
lebihlebih apabila terdapat katalisator Fe, Cu, enzim askorbat aksidase, sinar, dan temperature
yang tinggi. Larutan encer vitamin C pada pH kurang dari 7,5 masih stabil apabila tidak ada
katalisator seperti di atas. Oksidasi vitamin C akan terbentuk asam dihidroaskorbat (Sudarmadji,
1989).

Asam askorbat sangat mudah teroksidasi menjadi asam dihidroaskorbat yang masih
mempunyai keaktifan sebagai vitamin C. Asam dihidroaskorbat secara kimia sangat labil dan
dapat mengalami perubahan lebih lanjut menjadi asam diketogulonat yang tidak memiliki
keaktifan sebagai vitamin C lagi. Dalam larutan air vitamin C mudah dioksidasi, terutama
apabila dipanaskan. Oksidasi dipercepat apabila ada tembaga atau suasana alkalis. Kehilangan
vitamin C sering terjadi pada pengolahan, pengeringan, dan cahaya. Vitamin C penting

dalam pembuatan zatzat interseluler, kolagen. Vitamin ini tersebar keseluruh


tubuh dalam jaringan ikat, rangka, matriks, dan lainlain. Vitamin C berperan
penting dalam hidroksilasi prolin dan lisin menjadi hidroksiprolin dan hidroksilisin yang
merupakan bahan pembentukan kalogen tersebut (Poedjiadi, 1994). Vitamin C mudah larut
dalam air sehingga apabila vitamin C yang dikonsumsi melebihi yang dibutuhkan, kelebihan
tersebut akan dibuang dalam urine. Karena tidak disimpan dalam tubuh, vitamin C sebaiknya
dikonsumsi setiap hari. Dosis ratarata yang dibutuhkan bagi orang dewasa adalah 60-90 mg/hari.
Tetapi masih bisa melebihi dosis yang dianjurkan, tergantung pada kondisi tubuh dan daya
tahan tubuh masingmasing orang yang berbedabeda (Sudarmadji, 1989). Sumber vitamin C
adalah sayuran berwarna hijau dan buahbuahan. Vitamin C dapat hilang karena halhal seperti :
1. Pemanasan, yang menyebabkan rusak/berbahayanya struktur,
2. Pencucian sayur setelah dipotongpotong terlebih dahulu,
3. Adanya alkali atau suasana basa selama pengolahan, dan
4. Membuka tempat berisi vitamin C sebab oleh udara akan terjadi oksidasi yang tidak
reversible (Poedjiadi, 1994).
Penentuan vitamin C dapat dikerjakan dengan titrasi iodimetri. Titrasi
iodimetri merupakan titrasi langsung berdasarkan reaksi redoks yang menggunakan larutan baku
I2 untuk mengoksidasi analatnya.
A Reduksi + I2 AOksidasi + IIod merupakan oksidator yang tidak terlalu kuat,
sehingga hanya zatzat yang merupakan reduktor yang cukup kuat dapat dititrasi. Indikator yang
digunakan ialah amilum, dengan perubahan dari tak berwarna menjadi biru kehitaman.
Harga vitamin C (asam askorbat) sering ditentukan kadarnya dengan titrasi ini. Vitamin C
dengan iod akan membentuk ikatan dengan atom C nomer 2 dan 3
sehingga ikatan rangkap hilang (Harjadi,1990).

Dalam larutan, kadar bahan yang terlarut (solut) dinyatakan dengan konsentrasi. Istilah
ini berarti banyaknya massa yang terlarut dihitung sebagai berat (gram) tiap satuan volume
(mililiter) atau tiap satuan larutan, sehingga satuan kadar eperti ini adalah gram/mililiter. Cara ini
disebut dengan cara berat/volume atau b/v. Disamping cara ini, ada cara yang menyatakan kadar
dengan gram zat terlarut tiap gram pelarut atau tiap gram larutan yang disebut dengan cara
berat/berat atau b/b. Secara matematis, perhitungan kadar suatu senyawa yang ditetapkan secara
volumetri dapat menggunakan rumusrumus umum berikut. Jika sampelnya padat (sampel ditara
dengan timbangan analitik) maka rumus untuk menghitung kadar adalah sebagai berikut:
Kadar (% b/b) = x 100% Jika sampelnya cair (sampel diambil secara kuantitatif misal dengan
menggunakan pipet volum) maka rumus untuk menghitung kadar adalah sebagai berikut:
Kadar (% b/v) = x 100% Berat ekivalen (BE) sama dengan berat molekul sampel dibagi dengan
valensinya (Rohman, 2007).

D. Alat dan Bahan


Sesuai modul

E. Cara Kerja
Tulis kyak di jurnal
F. Data Pengamatan
Tabel hasil pengamatan :
Tulis kyk di laporan sementara
G. Analisis Data dan Pembahasan
Pada percobaan ini dilakukan analisis vitamin C dengan metode titrasi iodimetri. Sampel
yang digunakan pada percobaan ini yaitu Hemaviton C1000 rasa lemon. Vitamin adalah suatu zat
senyawa kompleks yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita yang berfungsi untuk membantu
pengaturan atau proses kegiatan tubuh. Vitamin C merupakan suplemen yang sangat penting bagi
tubuh manusia dimana dianjurkan sebesar 60-90 mg per hari. Kegunaan dari vitamin C yaitu,
sebagai senyawa utama tubuh yang dibutuhkan dalam berbagai proses penting mulai dari
pembuatan kolagen, pengangkut lemak, sampai dengan pengatur tingkat kolesterol.
Kebutuhan untuk vitamin C adalah 60 mg/hari, tapi hal ini bervariasi pada setiap
individu. Stres fisik seperti luka bakar, infeksi, keracunan logam berat, rokok, penggunaan terusmenerus obat-obatan tertentu (termasuk aspirin, obat tidur) meningkatkan kebutuhan tubuh akan
vitamin C. Perokok membutuhkan vitamin C sekitar 100 mg/hari. Buah dan sayuran
mengandung banyak vitamin C, akan tetapi banyak persepsi orang yang salah berkaitan dengan
sumber vitamin C dalam bentuk alami.
Vitamin C mempunyai rumus C6H8C6 dalam bentuk murni merupakan kristal putih, tak
berwarna, tidak bau dan mencair pada suhu 190-1920C. Senyawa ini bersifat reduktor kuat dan
mempunyai rasa asam. Sifat yang paling utama dari vitamin C adalah kemampuan mereduksi
yang kuat dan mudah teroksidasi yang dikatalis oleh beberapa logam terutama Cu dan Ag
(Patricia, 1983).
Penetapan vitamin C ini dilakukan dengan metode titrasi Iodimetri yaitu titrasi dengan I2
sebagai titernya.
Seperti di modul
Iodimetri merupakan titrasi langsung dan merupakan metoda penentuan atau penetapan
kuantitatif yang dasar penentuannya adalah jumlah I2 yang bereaksi dengan sampel atau
terbentuk dari hasil reaksi antara sampel dengan ion iodide. Iodimetri adalah titrasi redoks
dengan I2 sebagai pentiternya. Dalam reaksi redoks harus selalu ada oksidator dan reduktor ,
sebab bila suatu unsur bertambah bilangan oksidasinya (melepaskan electron), maka harus ada
suatu unsur yang bilangan oksidasinya berkurang atau turun (menangkap electron). Jadi, tidak
mungkin hanya ada oksidator saja ataupun reduktor saja (Wiryawan dkk, 2008)..Dalam metode
analisis ini, sampel dioksidasikan oleh I2, sehingga I2 tereduksi menjadi ion iodida :
A ( Reduktor ) + I2 (Oksidator) A ( Teroksidasi ) + 2 ISampel sebanyak 10 ml di masukkan dalam labu ukur, kemudian ditambahkan akuades
sebanyak 20ml. setelah itu diambil 5ml dari larutan yang sudah dibuat dan dimasukkan kedalam
labu ukur 25ml, kemudian diencerkan hingga 25ml, dan dikocok hingga homogeny. Larutan
yang telah diencerkan tadi diambil masing-masing 10ml sebanyak 2 kali dan dimasukkan
kedalam 2 Erlenmeyer (sampel 1 dan sampel 2). Kemudian ditambahkan HCL 3M sebanyak 5
tetes yang berfungsi sebagai katalis pada reakdi antara vitamin C dan I2, selain ditambahkan
HCL ditambahkan pula amilum/kanji sebanyak 10 tetes yang berfungsi sebagai Indikator dan
akan memberikan warna biru kehitaman pada titik akhir titrasi. Setelah itu dilakukan titrasi
dengan I2 dalam Kalium Iodida 0,01M. Iodium merupakan oksidator lemah, sehingga hanyaz atzat yang merupakan reduktor kuat yang dapat dititrasi. Dengan kontrol pada titik akhir titrasi jika
kelebihan 1 tetes titran, perubahan warna yang terjadi pada larutan akan semakin jelas dengan
penambahan indikator amilum/kanji (Basset, 1994).
I 2 + 2 e- 2 I -

Iod merupakan zat padat yang sukar larut dalam air (0,00134 mol/L) pada suhu 250C,
namun sangat larut dalam larutan yang mengandung ion iodida. Iodium membentuk kompleks
triiodida dengan iodida :
I 2 + I - I 3Larutan standar iodium harus disimpan dalam botol gelap untuk mencegah peruraian HIO
oleh cahaya matahari:
2HIO 2 H+ + 2 I- +O2 (g)
(Septyaningrum, 2009)
Larutan iodium merupakan larutan yang tidak stabil, sehingga perlu distandarisasi
berulang kali. Sebagai Oksidator lemah, iod tidak dapat bereaksi terlalu sempurna, karena itu
harus dibuat kondisi yang menggeser kesetimbangan kearah hasil reaksi antara lain dengan
mengatur pH atau dengan menambahkan bahan pengkompleks. Untuk pengaturan pH ini,
ditambahkan HCL 3M, sehingga sampel dalam suasana asam. (Septyaningrum, 2009).
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam titrasi iodimetri, antara lain :
pembuatan larutan
penyimpanan larutan
Jumlah indicator, dan
ketelitian dalam melakukan titrasi, yaitu dalam menentukan titik akhir dan pembacaan skala
pada buret
Penentuan Titik Akhir Titrasi
Titrasi dilakukan dengan menggunakan amilum sebagai indicator dimana titik akhir
titrasi diketahui dengan terjadinya kompleks amilum-I 2 yang berwarna biru kehitamab. Hal ini
disebabkan karena dalam larutan pati, terdapat unti-unit glukosa membentuk rantai heliks karena
adanya ikatan konfigurasi pada tiap unit glukosanya. Bentuk ini menybabkan pati dapat
membentuk kompleks dengan molekul iodium yang dapat masuk ke dalam spiralnya., sehingga
menyebabkan warna biru tua pada kompleks tersebut. Sensitivitas warnanya tergantung pada
pelarut yang digunakan. Kompleks iodium-amilum mempunyai kelarutan kecil dalam air
sehingga biasanya ditambahkan pada titik akhir reaksi (Khopkar, 2002).
Dari hasil percobaan, volume yang dibutuhkan pada titrasi sampel 1 adalah 9 mL dan
untuk sampel ke 2 adalah 8,8 ml. sehingga jika dirata-rata antara sampel 1 dan sampel 2
didapatkan volume titer yang dibutuhkan adalah 8,9ml. Titik akhir ditandai dengan perubahan
warna dari tidak berwarna menjadi biru kehitaman. Kemudian dilakukan perhitungan menganai
kadar vitamin C dalam sampel, yaitu:
Perhitungan
Dari perhitungan diatas diperoleh kadar vitamin C yang diperoleh pada minuman
hemaviton c1000 rasa lemon adalah 783,2 mg/100ml, sehinga dalam satu botol yang berisi 150
ml minuman memiliki kadar vitamin C sebanyak 1174,8 mg/botol. Dalam percobaan ini,
kandungan vitamin C yang ada dalam minuman hemaviton belum sesuai dengan yang tertera
dalam komposisinya yaitu 1000mg/botol. Namun hal ini bisa terjadi karena saat melakukan
titrasi, praktikan tidak teliti. Dimana saat penambahan larutan iod saat titrasi sudah terlewat dari
batas (lebih dari biru kehitaman).

H. Kesimpulan
1. kadar vitamin C yang diperoleh pada minuman hemaviton c1000 rasa lemon adalah 783,2
mg/100ml, sehinga dalam satu botol yang berisi 150 ml minuman memiliki kadar vitamin
C sebanyak 1174,8 mg/botol.
2. Penetapan vitamin C ini dilakukan dengan metode titrasi Iodimetri yaitu titrasi dengan I2
sebagai titernya.nIodimetri merupakan titrasi langsung dan merupakan metoda penentuan

atau penetapan kuantitatif yang dasar penentuannya adalah jumlah I 2 yang bereaksi
dengan sampel atau terbentuk dari hasil reaksi antara sampel dengan ion iodide.
I. Daftar Pustaka
.
Arifin, H., Delvita, V., Almahdi A. 2007. Pengaruh Pemberian Vitamin C terhadap
Fetus
pada
Mencit
Diabetes.
Jurnal
Sains
dan
Teknologi
Farmasi
Volume 12 No. 1 halaman: 3240. Akreditasi Dikti Depdiknas RI No.
49/DIKTI/Kep/2003. ISSN: 14100177.
Basset, J. Dkk. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran.
Harjadi, W. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta : Penerbit PT Gramedia.

Pratama, A., Darjat, Setiawan I. 2007. Aplikasi Lab View sebagai Pengukur Kadar
Vitamin C dalam Larutan Menggunakan metode Titrasi Iodimetri.
Jurnal. Jurusan teknik elektro Universitas Diponegoro.
Poedjiadi,
Indonesia.

Anna.

1994.

DasarDasar

Biokimia.

Jakarta

Penerbit

Universitas

Rachmawati, R., Defiani,M., Suriani, N. Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan


terhadap Kandungan Vitamin C pada Cabai Rawit Putih (Capsicum
frustences). Jurnal Biologi Volume 2 halaman:36 40. Yogyakarta.
Rohman, Abdul. 2007. Kimia Analisis Farmasi. Digi Art Yogya. Pustaka Pelajar:
Yogyakarta.
Sudarmaji, Slamet. Dkk. 1989. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta :
Penerbit Liberty.
Tim Biokimia 2015. Modul Praktikum IX Penentuan Kadar Vitamin C dalam Minuman
Ringan. Malang:Universitas Negeri Malang.

J. Jawaban Pertanyaan
Prioritas pengembangan kimia organik pada abad ke20 hanya pada zat yang bersumber dari alam. Zatzat tersebut dinamakan produk alami, yang pertama kali digunakan tanpa pengetahuan komposisi
kimianya. Seperti vitamin C yang berasal dari buah lemon dan sitrus lainnya, baru diketahui struktur
kimianya pada tahun 1933. Struktur vitamin C adalah senyawa organik asam karboksilat, yaitu asam
askorbat, dengan struktur molekul seperti berikut.
Pada saat struktur kimia vitamin C diketahui, Kimiawan Organik berusaha mensintesis senyawa tersebut.
Pada tahun 1933, sintesis vitamin C dapat dilakukan secara lengkap. Sintesis vitamin C dari glukosa
lebih murah daripada mengekstraknya dari sitrus atau sumber alami lainnya.

Di seluruh dunia, lebih dari 80 juta pon vitamin C disintesis setiap tahunnya. Perbedaan yang dihasilkan
dari hasil sintesis dan dari bahan alami, seperti jeruk, terletak pada banyaknya zat lain selain vitamin C
yang terkandung dalam jeruk. Namun pada dasarnya, keduanya sama. (Sumber: Chemistry (Mc Murry, J
and Fay, R), 2001.)

2. Vitamin C adalah antioksidan lain yang ditemukan dalam buah-buahan dan sayuran. Antioksidan
adalah komponen penting dari peradangan melawan diet.
3. asam askorbat
4.