Anda di halaman 1dari 54

LAPORAN PELAKSANAAN PRAKTEK

KERJA LAPANG PENGELOLAAN HUTAN


LESTARI

NAMA
:
ATMUDZI
NIM
C1L 012 084
LOKASI PKL

TITO
:
: KPHP SEJORONG

PROGRAM STUDI KEHUTANAN


UNIVERSITAS MATARAM
2015

KATA PENGANTAR
Assalamu alaikum wr.Puji syukur kehadirat Allah SWT
karena atas rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis,sehingga
penulis bias menyelsaikan laporan Praktek Kerja Lapang
Pengelolaan Hutan Lestari yang dilaksanankan di Kesatuan

Pengelolaan Hutan Sejorong. Salawat serta salam tidak lupa


penulis haturkan kepada baginda nabi Muhammad Saw,
Selesainya laporannya PKL ini penulis mengucapkan terima
kasih banyak kepada Pihak :
1. Orang tua dan kakakku yang mengiringi dengan doa.
2. Dr.Sitti Latifah,S.Hut.,M.Sc.f Ketua Program Studi
Kehutanan Universitas Mataram.
3. Dosen pembimbing Rato Firdaus Silamon, S. Hut, M.si.
4. Kepala KPHP Sejorong, berserta segenap pegawai KPHP
Sejorong.
5. Dan Rekan-rekan mahasiswa/i kehutanan.
Penulis menanti saran dan kritikan yang bersifat konstruktif
sehingga laporan ini dapat lebih disempurnakan lagi dikemudian
hari. Penulis ucapkan terimakasih, Wassalamualaikum WR.WB.

Mataram, September 2015

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

PKL-PHL merupakan gabungan dari dunia pendidikan


dengan dunia kerja. Dimana kami dituntut untuk mampu
menerapkan teori yag telah diperoleh selama mengikuti
perkuliahan di Program Studi Kehutanan atau paling tidak kami
mampu memahami kondisi kehutanan saat ini dan menganalisa
masalah kehutanan tersebut agar dapatmemberikan sumbangsi
pemikiran dengan mengacu pada ilmu yang perna didapatkan
selama perkuliahan.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa program study
kehutanan universitas mataram dituntut bersikap pro-aktif
terhadap pengelolaan hutan secara lestari ,salah satu cara
menigkatkan kualitas mahasiswa untuk mengimplementasikan
pengetahuan yang telah diperoleh selam perkuliahan dan
menambah wawasan lapang yaitu dengan melakukan praktek
kerja lapangan (PKL).PKL ditunjukan untuk mengetahui
kegiatan pengenalan pal batas,pengamanan hutan,identifikasi
potensi konflik,pengamatan satwa liar,pemecahan koloni lebah
trigong,serta pemanfaatan jasa lingkungan/ekowisata.
Dengan melakukan PKL ini diharapkan mahasiswa mampu
meningkatkan pemahaman lapang dan mengetahui institusi atau
lembaga pengelolaan wilaya kawasan hutan, serta ingin
mengetahui sejauh mana parsitipasio masyarakat setempat dalam
menjaga hutan baik dari segi sosial,ekonomi maupun
ekologisnya.

1.2. Tujuan
1.2.1 Tujuan umum
Setelah mengikuti kegiatan praktek kerja lapangan
pengelelolaan hutan lestari mahasiswa diharapkan menegerti

dan mampu menerapkan, menganalisa dan mengkomuikasikan


konsep-konsep dasar pengelolaan hutan lestari dalam dunia
kerja.Mahasiswa diharapkan juga dapat memperoleh
kesempatan belajar atas pengalaman orang lain dan dirinya
sendiri untuk mencintai dan bertanggung jawab atas tugasnya
dan dapat menjalin kerja sama antar pengurus tinggi dalam hal
ini program studi kehutanan dengan instansi/perusahaan
sebagai pengguna lulusan pengguruan tinggi.
1.2.2 Tujuan khusus
Adapun tujuan dari PKL-PHL ini yaitu :
1. Mengetahui permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan
kawasan hutan KPHP Sejorong.
2. Mengetahui bagaimana cara melakukan penataan batas
kawasan hutan.
3. Mengetahui bagaimana cara melakukan analisis vegetasi.
4. Mengetahui bagaiman cara melakukan pengamatan satwa di
kawasan KPHP Sejorong.
5. Mengetahui bagaimana cara melakukan pengelolaan
ekowisata secara berkelanjutan.
1.3. Manfaat
1.3.1

Manfaat umum
Manfaat yang diperoleh setelah mengikuti kegiatan
praktek kerja lapang yaitu Data hasil kegiatan praktek kerja
lapang yang menjadi masukan kepada lembaga mitra untuk
pengelolaan hutan lestari yang lebih baik lagi, dan Menjadi
sarana pengembangan kemampuan dan penguasaan
keilmuan bagi mahasiswa terutama dalam bidang
pengelolaan hutan lestari.

1.3.2

Manfaat khusus
Adapun Manfaat khusus dari PKL-PHL ini yaitu :

1. Sebagai bahan acuan untuk perencanaan pengembangan dan


kordiansi kelompok tani hutan.
2. Dengan mengetahui lokasi rawan terjadinya ilegal loging
maka dapat dilakukan pengamanan lebih terfokus dilokasi
tersebut.
3. Untuk mengetahui berbagai jenis satwa yang termasuk
avendik, endemik, dan hama sehingga kedepannya dapat
dilakukan kegiatan konservasi.
4. Sebagai bahan dasar untuk mengembangkan ekowisata.
5. Sebagai bahan untuk pengembangan budidaya lebah trigona
oleh pihak KPH.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hutan

Undang-undang 41 tentang kehutanan


(1999),mengidentifikasikan hutan sebagai suatu kesatuan
ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam
hayati yang di dominasi pepohonan dalam persekutuan alam
lingkungannya ,yang satu dengan lainnya tidak dapat
dipisahkan.suatu kumpulan pepohonan dianggap hutan jika
mampu menciptakan iklim dan kondisi lingkungan yang
khassetempat,yang berbeda dari pada daerah di
luarnya.sebagai suatu sistem tidak hanya menyimpan
sumberdaya alam berupa kayu,tetapi masih banyak potensi
non kayu yang dapat di ambil manfaatnya oleh masyarakat
melalui budidaya tanaaman pertanian pada lahan
hutan.sebagai fungsi ekosistem hutan sangat berperan dalam
berbagai hal seperti penyedia sumber air,penghasil
oksigen,tempat hidup berjuta flora dan faona,dan peran
penyeimbang lingkungan ,serta mencegah timbulnya
pemansan global.
2.2 Inventarisasi Kelompok Tani Hutan
Inventarisasi Sosial, ekonomi dan budaya adalah
pengumpulan data dan informasi mengenai sosial, ekonomi
dan budaya masyarakat yang tinggal di dalam atau sekitar
hutan, yakni mengenai permasalahan-permasalahan
mendasar serta potensi yang dimiliki oleh masyarakat
setempat dalam pengelolaan hutan yang telah dan sedang
berjalan. Tujuan Inventarisasi sosial, ekonomi dan budaya
adalah tersedianya data dan informasi mengenai sosial,
ekonomi dan budaya masyarakat setempat sebagai bahan
perencanaan dan perumusan kebijakan pengelolaan hutan
dalam mewujudkan kelestarian SDH sekaligus peningkatan
kesejahteraan masyarakat di dalam/sekitar hutan. Metode
yang digunakan adalah purposive sampling yakni
pengambilan sample secara sengaja dengan beberapa
pertimbangan menyangkut wilayah/lokasi, informan (tokoh
kunci), responden.Pelaksanaan kegiatan dengan
menggunakan pendekatan kualitatif (Inventarisasi Bersama
Masyarakat, yakni membangun hubungan baik dengan warga

setempat sambil melakukan observasi dan wawancara),


(Malamassam, 2009).
Metode yang digunakan dalam inventarisasi sosial
ekonomi masyrakat adalah purposive sampling yakni
pengambilan sample secara sengaja dengan beberapa
pertimbangan menyangkut wilayah dan atau lokasi,
informan dan responden. Pelaksanaan kegiatan dengan
menggunakan pendekatan kualitatif (inventarisasi bersama
masyrakat sambil melakukan observasi dan wawancara)
(Simon, 2007).
Hutan rakyat di Indonesia mempunyai potensi besar,
baik dari segi populasi pohon maupun jumlah rumah yangga
yang mengusahakannya, yang ternyata mampu
menyediakan bahan baku industri kehutanan. Perkiraan
potensi dan luas hutan rakyat yang dihimpun dari kantorkantor dinas yang menangani kehutanan di seluruh
Indonesia mencapai 39.416.557 m3 dengan luas
1.568.415,64 ha, sedangkan data potensi hutan rakyat
berdasarkan sensus pertanian yang dilakukan oleh Badan
Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa potensi hutan
rakyat mencapai 39.564.003 m3 dengan luas 1.560.229 ha.
Jumlah pohon yang ada mencapai 226.080.019, dengan
jumlah pohon siap tebang sebanyak 78.485.993 batang
(Anonim, 2004).
Menurut Hardjanto (2003) permintaan kayu rakyat
terdiri dari tiga macam yaitu: a) permintaan pasar lokal, b)
industri menengah yang produknya untuk scope yang lebih
luas dan berorientasi ekspor, dan c) industri besar padat
modal. Pada industry menengah alat-alat yang digunakan
relatif lebih sederhana, serta kwalita dan randemen kayu
olahan yang dihasilkan masih rendah. Selain itu masih
belum ada standarisasi produk, sehingga terkadang kurang
memenuhi atau sesuai dengan permintaan pasar.

Pemilikan lahan setiap keluarga, ini mendorong


kepada pemiliknya untuk memanfaatkan seoptimal
mungkin. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pada
umumnya pemilik berusaha memanfaatkan lahan dengan
membudidayakan tanaman- tanaman yang bernilai tinggi,
cepat menghasilkan. Karena hamparan hutan rakyat yang
kompak dengan luasan cukup biasanya ditemui pada petani
yang memiliki lahan di atas rata-rata, pada lahan marginal
serta pada lahan terlantar (Hardjanto, 2000).
Permasalahan hutan rakyat yang muncul sampai saat
ini meliputi empat aspek yaitu: a) produksi, b) pengolahan,
c) pemasaran dan d) kelembagaan. Aspek produksi,
khususnya tentang struktur tegakan dan potensi produksi,
penelitian Hardjanto (2003).
2.2 Pengamanan Hutan
Satuan Pengamanan Hutan adalah satuan yang
anggotanya diangkat oleh pimpinan perusahaan pemegang
izin di bidang kehutanan/pengelola hutan yang dibentuk
oleh masyarakat hukum adat atau desa untuk melakukan
pengamanan hutan yang menjadi tanggung jawabnya.
Dalam kegiatan pengamanan hutan tentu tidak lepas dari
peran polisi kehutanan.
Polisi Kehutanan (polhut) merupakan pejabat
tertentu dalam lingkungan instansi Kehutanan Pusat dan
daerah yang sesuai dengan sifat pekerjaannya,
menyelenggarakan dan/atau melaksanakan perlindungan
hutan yang oleh kuasa undang-undang diberikan wewenang
kepolisian khusus di bidang kehutanan dan konservasi
sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Polhut
mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan perlindungan
dan pengamanan hutan, kawasan hutan, hasil hutan,
tumbuhan dan satwa liar, dan mempertahankan dan menjaga
hak-hak negara, masyarakat, dan perorangan atas hutan,
kawasan hutan, hasil hutan, tumbuhan dan satwa liar,

investasi serta perangkat yang berhubungan dengan


pengelolaan hutan. selain polhut juga ada masyarakat mitra
polhut yang turut serta membantu dalam pengamanan hutan.
Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan adalah anggota atau
kelompok masyarakat yang berada disekitar kawasan hutan
berpartisipasi dalam kegiatan perlindungan dan pengamanan
hutan. polhut juga terbagi atas :
a. Polhut fungsional adalah pegawai negeri sipil dalam
lingkungan instansi kehutanan Pusat dan daerah yang
diangkat sebagai Pejabat Fungsional Polisi Kehutanan.
b. Polhut Perhutani adalah pegawai dalam lingkungan
Perusahaan Umum Perhutani yang diangkat sebagai
Polisi Kehutanan oleh Direksi.
c. Polhut pembina adalah pejabat struktural tertentu dalam
lingkungan instansi kehutanan pusat dan daerah yang
sesuai dengan tugas dan fungsinya mempunyai
wewenang dan tanggung jawab di bidang perlindungan
hutan. (Permenhut, P.75/Menhut-II/2014).
2.2 Pengamatan Satwa
Inventarisasi jenis satwa adalah upaya mengetahui
kondisi dan status populasi secara lebih rinci serta daerah
penyebarannya yang dilakukan di dalam dan di luar
habitatnya maupun di lembaga konservasi. Lembaga
konservasi adalah yang bergerak di bidang konservasi
tumbuhan dan atau satwa di luar habitatnya ( ex situ ), baik
berupa lembaga pemerintahan maupun lembaga non
pemerintah.
Pengamatan satwa merupakan bagian dari kegiatan
untuk inventarisasi satwa. Inventarisasi satwa adalah
kegiatan untuk mengetahui populasi jenis satwa dan
habitatnya. Metode yang dapat digunakan dalam kegiatan
inventarisasi satwa, yaitumetode garis (line transek), dan
metode titik (IPA) (Hidayatullah, 2012).

Untuk mengetahui jumlah atau kepadatan populasi


dapat dilakukan dengan banyak metode tergantung dengan
keadaan sekitarnya. Salah satu metode yang paling akurat
untuk mengetahui kepadatan populasi di suatu wilayah
adalah dengan melakukan sensus. Tetapi kendala dari
diadakannya sensus adalah lokasi penelitian. Misalnya jika
penghitungan sensus dengan lokasinya berada di hutan
terbuka dengan hewan liar seperti ular yang akan dihitung
kerapatan populasinya. Pergerakan hewan yang akan
dihitung juga mempengaruhi keakuratan sensus (Soegianto,
1994).
Periode waktu terbaik untuk pengamatan satwa liar
diurnal adalah periode pagi hari 05:30-09:00 dan sore
hari 14:30-17:30. Pengamat harus sudah ada di titik awal
jalur pengamatan palig lambat 5 menit sebelum dilakukan
pengamatan. Pengamat menempatkan diri pada tirtik awal
pengamatan pada waktu yang telah di tentukan, dilanjutkan
dengan pengamatan.
Jarak pandang maksimum adalah batas maksimum
kemampuan pengamat dapat melihat setiap individu satwa
scara jelas, yang dapat berbeda antar lokasi dan tergantung
pada kerapatan vegetasi di lokasi bersangkutan. Jarak
minimum antar unit contoh pengamatan satwa liar kelas
aves adalah titik singgung lingkaran unit contoh.
Data tentang spesies Aves,Mamalia,Reftil yang di catat
meliputi:
1. Nama jenis yang ditemukan (dapat menggunakan nama
local).
2. Posisi ditemukannya satwa.
3. Jenis aktivitas yang dilakukan.
Semua spesies Aves(burung) yang terdapat dalam
plot pengamatan dicatat nama jenis yang diteukan (dapat
menggunakan nama local), jumlah individu setiap jenis yang

ditemukan, posisi ditemukannya satwa berdasarkan strata


tajuk,jenisaktivitas yang dilakukan dan jenis perjumpaannya
apakah langsung atau tidak(Indriyatno,2005).
2.3 Potensi Ekowisata
Ekowisata merupakan kegiatan wisata yang menaruh
perhatian besar terhadap kelestarian sumberdaya pariwisata
serta melingkupi aspek pendidikan atau edukasi,
pemberdayaan masyarakat, peningkatan ekonomi, serta
upaya dalam kegiatan konservasi. (Fandeli, 2000).
Berdasarkan Damanik (2006), prinsip-prinsip ekowisata
antara lain :
1. Mengurangi dampak negatif berupa kerusakan atau
pencemaran lingkungan dan budaya lokal akibat
kegiatan wisata.
2. Membangun kesadaran dan penghargaan atas
lingkungan dan budaya dengan tujuan wisata, baik pada
diri wisatawan, masyarakat lokal, maupun pelaku wisata
lainnya.
3. Menawarkan pengalaman-pengalaman positif bagi bagi
wisatawan maupun masyarakat lokal, melalui kontak
budaya yang lebih intensif dan kerjasama dalam
pemeliharaan atau konservasi daerah tujuan objek
wisata.
4. Memberikan keuntungan finansial secara langsung bagi
keperluan konservasi melalui kontribusi atau
pengeluaran ekstra wisatawan.
5. Memberikan keuntungan finansial dan pemberdayaan
bagi masyarakat local, dengan menciptakan produk
wisata yang mengedepankan nilai-nilai lokal.
6.
Memberikan kepekaan terhadap situasi sosial,
lingkungan dan politik di daerah tujuan wisata.
7. Menghormati hak asasi manusia dan perjanjian kerja,
dalam arti memberikan kebebasan kepada wisatawan
dan masyarakat lokal untuk menikmati atraksi wisata

sebagai wujud hak asasi, serta tunduk kepada aturan


main yang adil dan disepakati bersama dalam
pelaksanaan transaksi-transaksi wisata.
Dalam pengembangan ekowisata, diperlukan sebuah
dukungan khusus dalam pengadaan sebuah produk wisata,
yang dapat menjadi bahan pertimbangan wisatawan.
Wisatawan dengan minat khusus, umumnya memiliki latar
belakang intelektual yang lebih baik, pemahaman serta
kepekaan yang lebih terhadap etika, moralitas, dan nilainilai tertentu, sehingga bentuk dari wisata ini adalah untuk
mencari pengalaman baru (Fandeli, 2000).
2.4 Pengembangan HHBK Lebah Trigona
Menurut undang undang Nomer 41 tahun 1999
tentang kehutanan sumberdaya alam adalah benda benda
hayati,non hayatidan turunannyaserta jasa yang berasal dari
hutan. Benda banda hayati meliputi hasil nabati dan
hewani beserta turunannya, sedangkan benda benda non
hayati meliputi sumber air, udara bersih, dan lain lain
yang tidak termasuk benda benda tambang. Untuk jasa
yang diperoleh dari hutan adalah berupa jasa wisata.
Keindahan dan keunikan, perburuan dan lain lain.
Lebah trigona merupakan salah satu spesies lebah
peng-hasil madu anggota Famili Meliponidae (tidak
memiliki sengat), berukuran kecil dan merupakan salah satu
serangga pollinator penting. Lebah jenis ini masih kurang
popu-ler dibanding dengan Famili Apidae, se-perti Apis
mellifera dan A. cerana. Lebah Trigona ini di Indonesia
memiliki beberapa nama daerah, yaitu kelulut (Kalimantan), galo-galo (Sumatera), klanceng, lenceng (Jawa),
dan teuweul (Sunda). Kelompok lebah ini membela diri
dengan cara menggigit jika terganggu. Lebah ini banyak
dijumpai di daerah tropis dan subtropis seperti di Amerika
Selatan, Aus-tralia dan Asia Tenggara (Syafrizal, 2007).

Sarang lebah Trigona sebagian besar ditemukan pada


daerah yang terbuka, terkena cahaya matahari. Selain itu
daerah yang terbuka cenderung memiliki temperatur yang
tinggi, sehingga lebah Trigona tidak memerlukan energi yang
terlalu besar untuk mencapai sumber makanan. Trigona spp.
lebih banyak mencari makanan pada pagi hari dibandingkan
dengan sore hari. Ukuran tubuh sangat mempengaruhi jarak
terbang lebah mencari makanan. Makin besar tubuh lebah
maka makin jauh jarak terbangnya. Trigona spp. dengan
ukuran 5 mm mempunyai jarak terbang sekitar 600 m (
Syafrizal, 2007).

BAB III
METODE KERJA
3.1 Inventarisasi Kelompok Tani Hutan
3.1.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan inventarisasi kelompok tani hutan ini
dilaksanakan dari tanggal 04-11 Agustus 2015 bertempat

di Benete, Maluk, Sekongkang, Tongo dan Tatar


Kabupaten Sumbawa Barat pada pukul 09.00-14.00
WITA.
3.1.2 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam
kegiatan inventarisasi sosial budaya ini yaitu alat tulis,
lembar kuisoner, alat dokumentasi seperti kamera.
3.1.2 Metode Kegiatan
Metode yang digunakan yaitu sensus dengan
mendata setiap masyarat yang termasuk dalam kelompok
tani hutan dan hutan rakyat. sebelumnya juga dilakukan
diskusi dengan pemangku desa untuk mendapatkan
informasi mengenai jumlah masyarakat yang termasuk
dalam kriteria. Masyarakat yang termasuk dalam kriteria
diberikan lembar kuisoner untuk di isi dan dilakukan
dokumentasi.
3.2 Pengamanan Hutan
3.2.1 Waktu Dan Tempat
Kegiatan pengamanan hutan ini dilaksanakan pada
14-19 Agustus 2015 bertempat di Tatar, Tongo, Benete
dan Aik Kangkung Kabupaten Sumbawa Barat pada
pukul 09.00-17.00 WITA.
3.2.2 Alat Dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam kegiatan
pengamanan hutan ini yaitu global positioning system
(GPS), alat dokumentasi seperti Kamera. Alat tulis, alat
keamanan seperti parang, dan senter .
3.2.3 Metode Kegiatan
Kegiatan pengamanan hutan yang dilaksanakan
selama 5 hari ini dilaksanakan dibeberapa titik yang
dianggap rawan illegal loging. Metode yang digunakan
yaitu dengan menyisir kawasan hutan dan bekas illegal
longing yang telah ditemukan sebelumnya. Apabila

terdapat aktifitas illegal logging maka langsung dditindak


lanjuti dan bukti penebangan didokumentasikan dengan
kamera serta dicatat titik kordinat menggunkan GPS.
3.2 Pengamatan Satwa
3.3.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan pengamatan satwa ini dilaksanakan pada
26-28 Agustus 2015 bertempat di bukit Pemantau Datu
Dusun Otakris Desa Maluk Kabupaten Sumbawa Barat pukul
05.30-09.00 dan 17.00-20.00 WITA.
3.3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan antara lain yaitu tallyshit
pengamatan, alat tulis, senter, alat dokumentasi dan alat
keselamatan seperti parang dan tongkat panjang.
3.3.3 Metode Kegiatan
Metode yang digunakan dalam pengamatan satwa ini
yaitu metode terkonsentrasi yaitu pengamatan dilaksanakan
pada suatu titik yang diduga sebagai tempat dengan peluang
perjumpaan satwa tinggi. Dilakukan pembagian keompok
untuk mengamati masing-masing jenis satwa. Satwa yang
diamati terdiri dari 3 spesies yaitu mamalia, reptile dan aves.
Tujuan dilakukan pembagian kelompok agar tidak terjadi
indut data ganda. Apabila dijumpai satwa maka dicatat
kedalam tallyshit seperti nama local, nama latin, waktu
diamati dan aktifitasnya. Setelah dicatat satwa tersebut sebisa
mungkin di dokumentasikan dengan kamera. kegiatan

pengamatan satwa didapati indeks keanekaragaman


shanow wienner yang di uraikan kedalam rumus H 1=
(PiLnPi) sebesar 0.089569. Indeks dominasi simpson
dengan rumus C= 1-D dimana nilai D= (ni/N)2
sebesar 0.998711..
3.3 Potensi Ekowisata
3.4.1 Waktu dan Tempat

Kegiatan potensi ekowisata ini dilaksanakan pada


Senin 24 Agustus 2015, bertempat di Bukit Pemantau Datu
Dusun Otakris Desa Maluk Kabupaten Sumbawa Barat
pada pukul 08.00-15.00 WITA.
3.4.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam kegiatan ini yaitu alat
tulis, dan alat dokumentasi sepeti kamera.

3.4.3 Metode Kegiatan


Metode yang digunakan yaitu observasi dengan
memfokuskan pada sarana dan prasarana, sosial budaya ,
kekhasan dilokasi, dan infrastruktur penunjang. Keempat
aspek tersebut akan menjadi penilaian terhadap kelayakan
ekowisata. Diamati keempat aspek secara mendetail. Lalu
dilakukan diskusi dengan pemangku desa tentang
kelebihan dan kekurangan dari lokasi yang akan dijadikan
objek ekowisata tersebut.
3.4 Pengembangan HHBK Lebah Trigona
3.5.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan pengembangan hasil hutan bukan kayu
lebah trigona ini dilaksanakan pada 2-9 September 2015
bertempat di kantor KPHP Sejorong dan di resort
pengelolaan hutan (RPH) Sekongkang pada pukul 09.0016.00 WITA.
3.5.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan antara lain parang, bambu,
gergaji, paku, papan bekas sawmill, alat tulis, alat
dokumentasi dan plastik.
3.5.3 Metode Kegiatan
Kegiatan pengembangan HHBK lebah trigona ini
terdiri dari dua tahapan. Yang pertama yaitu pembuatan

stup/ sarang lebah trigona dan perburuan koloni lebah.


Pembuatan stup lebah dilakukan dengan menggunakan
papan bekas limbah sawmill dan bambu. Papan dan
bamboo dipotong sesuai dengan ukuran yang telah
ditentukan. Setelah pembuatan stup selesai berikutnya
dilakukan perburuan koloni lebah trigona. Metode yang
digunakan dalam kegiatan ini yaitu berjalan mengikuti
jalur setapak pada RPH Sekongkang sejauh 1.5 km.
berikutnya kelompok menyebar dan menyisir areal
tersebut. Apabila telah ditemukan sarang lebah trigona
maka tahapan berikutnya yaitu pemecahan koloni lebah
kedalam stup. dilakukan identifikasi terhadap lebah trigona
lalu dicatat hasil kegiatan dan didokumentasikan.

BAB IV
TINJAUAN UMUM LOKASI PKL
4.1 Letak wilayah
Wilayah KPHP Sejorong berdasarkan administrasi
pemerintahan terletak di Wilayah Kecamatan Maluk dan

Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat Provinsi Nusa Tenggara


Barat. Secara geografis terletak antara 080 29 dan 90 07Lintang
Selatan 1160 42-1170 05 Bujur Timur, dibatasi oleh:
Bagian Barat
: Selat Ala0073
Bagian Timur
: Kabupaten Sumbawa
Bagian Utara
: KPH Mataiyang
Bagian Selatan
: Samudera Hindia

Gambar 4.1. peta kondisi KPHP Sejorong


4.2 Luas wilayah
Luas wilayah KPHP Sejorong mencakup luas 41.579 ha
yang terdiri dari 15.942 ha Hutan Lindung dan 5.909 ha
Hutan Produksi, serta Hutan Produksi Terbatas seluas 19.728
Ha.
Namun berdasarkan SK.963/Menhut-II/2013 tentang
penetapan luas wilayah KPHP Model Sejorong (Unit V) seluas
40.988 ha yang terdiri atas hutan lindung seluas 15.762 ha dan
hutan produksi seluas 5.274 Ha, serta Hutan Produksi Terbatas
seluas 19.952 Ha.

Tabel. 4.1 Kawasan Hutan Menurut Fungsi Di Kabupaten


Sumbawa Barat Tahun 2012
Luas/Area
Persentas
Fungsi Hutan
(Ha)
e (%)
Kawasan Suaka Alam
dan Pelestarian Alam
5,062
3.88
a. Cagar Alam
524
0.4
b. Wisata Alam
4538
3.48
Hutan Lindung
66,931.97
51.33
Hutan Produksi
Terbatas
34,690.68
26.6
Hutan Produksi
18,651.11
14.3
Jumlah
125,335.76
100
4.3 Ketinggian Tempat
Berdasarkan topografi wilayah, Kabupaten Sumbawa Barat
terletak pada ketinggian 0-1.730 meter di atas permukaan laut.
Kemiringan yang bervariasi mulai dari kelas lereng antara 0
hingga kelerengan lebih dari 40 persen. kelerengan lebih dari
40% persen mencakup daerah-daerah di sepanjang wilayah
KPHP Sejorong yang terbentang mulai dari bagian Barat ke arah
Timur hingga ke bagian Selatan.

Tabel 4.3. Luasan Kelerengan Kawasan KPHP Sejoron


Kelereng
KODEM
Persent
LUAS
an
IR
ase %
0-5%
I
356.42
0.86
4,791.1
5 - 15 %
II
6
11.52
15 - 40
16,884.
%
III
12
40.61
> 40 %
IV
19,547.
47.01

29
Total

41,579

100

4.4 Iklim
Iklim di Kabupaten Sumbawa Barat termasuk iklim tropis
dengan temperatur berkisar 20 33 C. Menurut hasil evaluasi
agroklimat klasifikasi iklim menurut Schmidt-Ferguson (Syakur,
2009), iklim di Wilayah KPHP Sejorong adalah tipe iklim D
sampai F.

Gambar 4.4 peta iklim diwilayah KPHP sejorong


4.4 Geologi dan Tanah
Formasi geologi di wilayah KPHP Sejorong di dominasi
batuan batu pasir tufan, batu lempung, batu gamping, batu pasir
gampingan, tufan dan breksi sebagai penyusun satuan batu pasir
tufan, batu gamping, batu gamping koral, batu lempung tufan,
dan terumbu koral. Untuk jenis tanah yang mendominasi di
Wilayah KPHP Sejorong adalah Komposit Litosol Mediteran
Coklat Kemerahan dan Mediteran Coklat.
Wilayah KPHP Sejorong didominasi oleh jenis tanah Litosol
Mediteran Coklat Kemerahan dan Mediteran Coklat seluas
40.256,49 Ha atau setara 96,82 % dari luas wilayah KPHP
Sejorong. Jenis tanah K.Litosol Mediteran Coklat Kemerehan

dan Mediteran Coklat memiliki struktur tanah lempung berliat,


dengan drainase baik dengan kelas tekstur halus. Melihat kondisi
tersebut jenis tanaman yang dibudidayakan adalah jenis tanaman
lokal yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan mampu
memberikan fungsi perlindungan bagi tanah dan air, mengingat
topografi, jenis tanah dan kondisi wilayah KPHP Sejorong dapat
dikategorikan sebagai wilayah dengan kerentanan yang relative
cukup tinggi.
4.5 Potensi Satwa
Jenis Mamalia penting yang hidup dan berkembang di
Kawasan Hutan KPHP Sejorong antara lain : Babi Hutan (Sus
Scrofa), Kera abu-abu (Macaca fascicularis), Trenggiling (Manis
javanica), Rusa Timor (Cervus timorensis floresiensis), Landak
(Hystrix javanica).
Beberapa jenis burung diantaranya : Kakatua Jambul Kuning
(Cacatua shulphurea parvula), Koakiau (Philemon buceroides
neglectus), Perkici Dada Merah (Trichoglossus haematodus),
Punglor Kepala Merah (Zootera interpres), Punglor Kepala
Hitam (Zootera doherty).
5.5 Penggunaan lahan
Tata guna lahan menggambarkan kegiatan masyarakat dalam
pemanfaatan ruang untuk jenis usaha, jumlah penduduk dan
kondisi fisik daerah. Pola penggunaan lahan dapat
mencerminkan aktifitas masyarakat yang mendiami suatu daerah
tertentu.
Adapun pola penggunaan lahan di Kabupaten Sumbawa Barat
khusunya di Kecamatan Sekongkang dan Maluk adalah sebagai
berikut :
Tabel 2.16. Luas Lahan Menurut Penggunaan Di Kecamatan
Sekongkang dan Maluk Kabupaten Sumbawa Barat tahun 2012
(Ha)
Jenis
Kecamatan
Kecamatan Maluk
Penggunaan
Sekongkang

Lahan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
1
0
1
1
1
2

Tegal/Keb
un
Ladang/Hu
ma
Perkebuna
n
Hutan
Rakyat
Tambak
Kolam/em
pang
Padang
Rumput
Sementara
tdk
diusahakan
Bangunan
Hutan
Negara
Rawa
Lainnya

Ju
ml
ah
(H
a)

Persen
tase
(%)

Juml
ah
(Ha)

Persen
tase
(%)

607

2.06

368

2.6

155

0.53

25

0.18

13

0.04

100

0.71

196
386
23,
404

0.66
1.31

26
11,99
9

4,7
16

79.4

16

1,62
8

0.18
84.82
11.51

29,
14,1
Jumlah
477
100
46
100
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Sumbawa Barat,2012
Berdasarkan peringkat penggunaan lahan di Kecamatan
Sekongkang Kabupaten Sumbawa Barat tahun 2012, hutan
negara menempati peringkat pertama dengan luasan mencapai
23.404 Ha diikuti oleh penggunaan lahan untuk penggunaan
Lainnya seluas 4.716 Ha dan untuk tegalan/kebun sekitar 607.

Sedangkan untuk Kecamatan Maluk KSB Hutan Negara


menempati posisi tertinggi seluas 11.999 Ha, penggunaan
Lainnya seluas 1.628 Ha dan untuk tegalan/kebun seluas 368 Ha.
Hal ini memperlihatkan bahwa peran kawasan hutan negara
sangat potensial untuk dimanfaatkan bagi peningkatan
kesejahteraan masyarakat tanpa mengesampingkan upaya
perlindungan.

BAB V
PEMBAHASAN

5.1 Inventarisasi Kelompok Tani Hutan


Kegiatan pendataan kelompok tani hutan dan hutan rakyat
termasuk kedalam inventarisasi sosial budaya. Pendataan
dilakukan pada Daerah Benete, Maluk, Sekongkang, Tongo dan
Tatar yang merupakan bagian dari kabupaten Sumbawa Barat.
Sebelum melaksanakan sensus terlebih dahulu dilakukan dialog

dengan pemangku daerah setempat. Tujuannya untuk


memndapatkan informasi mengenai penduduk yang pernah
mengikuti dan termasuk kedalam kelompok tani hutan serta
masyarakat yang pada lahan milihnya menanam tanaman
kehutanan seperti jati, mahoni, kelicung, merbau dan yang
lainya. Informasi yang diiharapkan seperti jumlah masyarakat
dan lokasi tempat tinggalnya untuk lebih mempermudah kegiatan
pendataan. Pendataan kelompok tani hutan serta hutan rakyat ini
penting dilakukan karena secara tidak langsung masyarakat
tersebut telah membantu dalam pembangunan disektor
kehutanan.
Setelah dilakukan kegiatan pendataan selama satu minggu ini
didapati hasil bahwa sebagian besar masyarakat di tiap daerah
lebih cenderung kepada hutan rakyat daripada kelompok tani
hutan. Jenis tanaman yang dominan ditanam untuk masingmasing daerah yaitu pohon jati. Alasan mengapa jati menjadi
pilihan masyarakat karena kemampuan tanaman jati yang tahan
terhadap kondisi panas di wilayah tersebut. Tanaman jati juga
mampu bertahan hidup meski telah terjadi kebakaran tiap
musimnya.
Pendataan di daerah Benete mendapatkan hasil yaitu terdapat
17 masyarakat yang termasuk kedalam hutan rakyat. Jenis
tanaman kehutanan yang dominan ditanam di daerah Benete ini
yaitu jati. Hanya terdapat satu kelompok tani hutan rakyat.
Kelompok tani di benete ini tidak memiliki pembimbing
sehingga kegiatan dan kepengurusan kelompok tani ini masih
belum terkordinasi dengan baik. Untuk daerah Maluk tidak
ditemukan kelompok tani hutan. Hanya terdapat 6 masyarakat
yang termasuk kedalam hutan rakyat. Jumlah tersebut menjadi
yang paling kecil diantara daerah yang lainnya. Kondisi yang
demikian kemungkinan dapat disebabkan karena kurangnya
komunikasi antara masyarakat dengan pemerintah dan kurangnya
penyuluh yang aktif dalam pemberdayaan masyarakat. Pendataan
daerah sekongkang terlihat hasil yang cukup sama.

Hanya terdapat satu kelompok tani hutan dan terdapat 6


masyarakat yang termasuk dalam hutan rakyat. Daerah Maluk
dan Sekongkang terlihat lemahnya kegiatan masyarakat di sektor
pembangnan kehutanan cukup lemah. Daerah Tatar cenderung
terdapat hutan rakyat yang lebih banyak dari Maluk dan
Sekongkang. Jumlah hutan rakyat di daerah Tatar berjumlah 19
orang. Namun tidak terdapat kelompok tani hutan di daerah Tatar.
Pendataan kelompok tani pada daerah tongo menunjukkan hasil
yang kurang baik. Terdapat 9 masyarakat yang termasuk kedalam
hutan rakyat dan tidak ada kelompok tani hutan di daerah
tersebut. Kondisi yang hampir sama terjadi pada masing-masing
daerah dimana, jumlah kelompok tani hutan yang cenderung
lebih sedikit. Hal yang demikian dapat terjadi disebabkan karena
kurangnya pendamping serta kurangnya aparatul kehutanan. Hal
yang demikian menyebabkan kelompok tani hutan tidak terurus
dan pada akhirnya terbengkalai.
Kesulitan yang dialami selama melakukan kegiatan
pendataan kelompok tani hutan ini yaitu seringkali masyarakat
tidak berada dirumah. Kegiatan pendataan yang dilakukan mulai
dari jam 9 sampai jam 2 merupakan waktu dimana masyarakat
banyak yang bekerja. Sebagian besar masyarakat bekerja sebagai
petani dan pegawai di PT NNT. Apabila masyarakat tersebut
selesai bekerja di PT NNT maka mereka langsung menuju
lahannya untk bertani. Waktu istirahat masyarakat biasanya
menjelang sore hari. Terkendalanya hal yang demikian
menyebabkan pengumpulan data kurang berjalan dengan
semestinya.
5.2 Pengamanan Hutan
Kegiatan pengamanan hutan termasuk dalam peraturan
menteri kehutanan no p44/menhut-II/2012. Polhut memiliki
peran yang penting dalam kegiatan pengamanan hutan. KPHP
sejorong terbagi atas 3 blok, yaitu 2 blog RPH Sekongkang dan 1
blog RPH Tatar. Tanpa adanya pengawasan dari polhut maka
keutuhan dari kawasan hutan akan terus berkurang. Keberadaan
pal batas menjadi penanda terhadap keutuhan kawasan tersebut.
Pal batas menjadi patokan bagi masyarakat untuk mengetahui

batas kawasan hutan. Penentuan titik palbatas didasarkan pada


peta kehutanan. Peta kehutanan berada dibalai pemantapan
kawasan hutan (BPKH). Konflik yang sering terjadi di pal batas
ini yaitu masyarakat membuka lahan perkebunan dan pertanian
melewati palbatas. Solusi dalam penyelesaian masalah ini yaitu
dilihat dari kondisi lahannya. Apabila pada lahan yang datar
masyarakat melewati pal batas dalam jarak yang masih dapat
ditolerir yaitu dibawah 10m dalam pembuatan ladang maka
masyarakat diberikan ijin pengelolaan tetapi hanya sebatas
pinjam pakai lahan. Namun apabila kondisi lahan yang miring
maka seperti apapun kondisinya masyarakat tidak dipebolehkan
untuk mengelola lahan melewati pal batas.
Pelaku illegal loging biasanya mengangkut kayu yang telah
dipotong pada waktu diatas jam 10 malam. Cukup sulit untuk
menemukan pelaku perusakan hutan disebabkan karena beberapa
hal seperti kurangny pengamanan hutan dan kurangnya
sumberdaya hutan yang memadai seperti mitra polhut. Dalam
satu bulan setidaknya dilakukan kegiatan pengamanan sebanyak
kurang lebih 10 kali patrol. Setiap kali dilakukan patrol
ditemukan setidaknya 7 pohon hasil tebangan. Hal ini tentu
merugikan baik secara sosial, ekologi, dan ekonomi. Kerugian
secara sosial yaitu kesadara masyarakat yang masih kurang akan
pentingnya menjaga kawasan hutan sehingga partisipasi dari
masyarakat yang kecil.
Kerugian dari segi ekologi yaitu hutan menjadi kurang
maksimal dalam menjalankan fungsi ekologinya seperti
ketersediaan aib bersih, tempat hidup satwa, penghasil oksigen
dan lainnya. Kerugian secara ekonomi yang terjadi yaitu dari
pihak pemerintah. Pelaku dalam pengerusakan hutan ini antara
lain masyarakat setempat, pihak pembeli kayu, oknum pembisnis
kayu, dan juga karena adanya permintaan dari hotel akan kayu
jenis merbau. Sudah banyak tindakan yang dilakukan antara lain
bagi pelaku yaitu diberlakukannya proses hukum. Pihak polhut
hanya sebagai pengawas dan pelaku yang tertangkap akan
dilaporkan atasan yaitu kepala KPH untuk berikutnya atasan
akan melapor ke penyidik/ polisi. Barang bukti kayu yang telah

ditemuikan berikutnya akan ditahan sebagai barang bukti apabila


kawasan tersebut masih ermasuk dalam hutan produksi. Namun
apabila kawasan tersebut termasuk dalam hutan lindung maka
barang bukti kayu harus dimusnahkan dengan cara dibakar di
lokasi ditemukannya. Beberapa tindakan pencegahan yang telah
dilakukan yaitu peningkatan intensitas patrol dan melakukan
penyuluhan pada masyarakat mengenai izin pungutan kayu serta
pentingnya keberadaan hutan. hingga saat ini organisasi
pengamanan hutan yang terdapat di KPHP sejorong yaitu polhut
dan staf KPH itu sendiri.
Setelah dilakukan patroli terdapat beberapa titik yang rawan
dari illegal loging antara lain Aikangkung, Benete dan Tongo.
Jenis kayu yang paling dominan ditebang oleh pelaku yaitu
merbau. Kayu merbau merupakan ayu dengan permintaan pasar
terbanyak di daerah Sumbawa Barat. Pada lokasi Aikangkung,
penebangan kayu terjadi pada daerah dengan tupografi yang
datar dengan ketinggian yang berfariasi antara -131mdpl sampai
88mdpl. Diketahui 7 lokasi kerusakan pohon yang tersebar di
berbagai tempat. Namun tidak ditemukan pelaku illegal loging
dilokasi tersebut.
Pada daerah Benete cenderung frekuensi penebangan kayu
lebih sedikit. Ditemukan 3 lokasi penebangan kayu dengan
ketinggian 168mdpl sampai 185mdpl. Lokasi penebangan kayu
tersebut berada pada daerah topografi yang masih termsuk datar.
Daerah Benete memiliki kawasan yang cenderung berada pada
ketinggian diatas 100mdpl. Tidak ditemukan pelaku illegal
loging di lokasi kawasan Benete, namun hanya hasil potongan
pohon yang sudah berbentuk balok kayu. Pada daerah tongo juga
terdapat tiga lokasi illegal loging yaitu antara 76mdpl sampai
82mdpl. Lokasi illegal longing pada kawasan Tongo cenderung
berada pada lokasi yang memiliki topografi datar. Barang bukti
yang ditemukan yaitu berupa balok kayu dengan berbagai
ukuran. Ketiga lokasi pengamanan hutan ini dapat diketahui
bahwa kegiatan illegal loging selalu terjadi pada lokasi dengan
kondisi yang memiliki topografi datar serta mengikuti jalur
rintisan yang dibuat pelaku. Selain itu juga lokasi penebangan

cenderung berada dekat dengan aliran air sungai. Penebangan


kayu yang dilakukan pada daerah yang datar akan mempermudah
pelaku untuk membawa kayu menuju keluar kawasan hutan.
Namun apabila kondisi topografi yang curam akan menyulitkan
pelaku untuk menebang kayu.
Setelah barang bukti ditemukan berikutnya dilakukan
pengukuran kubikasi kayu dan dokumentasi. Rumus yang
digunakan untuk menghitung kubikasi kayu tergantung dari
bentuk kayunya. Apabila kayu berbentuk log maka menggunakan
rumus
berbentuk

K=P . D. D .0,7854 :10000 , namun apabila kayu


balok

maka

menggunakan

rumus

K=P . L. T :10000 . Dalam kegiatan penebangan kayu

terdapat beberapa aturan dan surat yang berlaku seperti surat


keterangan asal usul (SKAU). Pembuatan surat ini dilakukan
untuk kayu hasil budidaya yang ditanam masyarakat dilahan
masyarakat itu sendiri seperti jati, sono keling, mahoni dan
sebagainya. Tahap dalam pembuatan SKAU yaitu melapor ke
kantor desa disertai dengan surat SPPT, SKHU, dan sertifikat
yang menerangkan tanah miliki.
Berikutnya dilakukan pengecekan oleh kantor desa bersama
dengan pihak KPH. Setelah memenuhi syarat pengecekan maka
berikutnya dapat dibuat surat SKAU. Berikutnya juga ada surat
keterangan sah kayu bulat (SKSKB). Pembuatan surat ini
diperuntukan untuk kayu yang berasal dari gunung naik yang
berasal didalam kawasan maupun diluar kawasan. Surat ini
biasanya diperuntukkan untuk masyarakat yang inkap,
maksudnya masyarakat tersebut hidup dan tinggal dihutan.
Pembuatan surat ini biasanya dilakukan dikantor kehutanan.
Tahapan dalam pembuatan surat ini yaitu membuat status lahan
terlebih dahulu. Setelah itu dilakukan survey oleh pihak
kehutanan seperti pendataan pohon yang ingin ditebang. Setelah
memenuhi kriteria yang diinginkan berikutnya dapat dikeluarkan
surat SKSKB. Terdapat juga surat nota angkuta. Surat ini
biasanya dimiliki oleh pihak penjual kayu. Nota angkutan

merupakan surat angkutan barang sebagai ijin untuk mengengkut


kayu menggunakan kendaraan berat seperti truk. Surat ini biasa
digunakan oleh pedagang kayu. Nota angkutan terbagi menjadi 2
jenis yaitu paktor dan pako. Paktor merupakan nota angkutan
dari pedagang ke pembeli yang berlaku untuk transportasi
didalam kecamatan tersebut. Pako merupakan surat nota
angkutan dari pedagang kayuke pembeli yang berlaku untuk
transportasi keluar kecamatan.
Kesulitan yang dihadapai pada saat kegiatan pengamanan
hutan ini yaitu medan yang cenderung curam serta kurangnnya
peralatan penunjang keselamatan yang dimiliki. Kondisi kawasan
yang curam serta terdapat tanaman pandan dan berdri lainnya
menyebabkan kegiatan pengamanan berjalan dengan lambat.
5.3 Pengamatan Satwa Liar
Kegiatan pengamatan satwa merupakan kegiatan
inventarisasi dalam pengumpulan data jumlah keanekaragaman
satwa yang berada di kawasan hutan. Metode yang digunakan
dalam pengamatan satwa ini yaitu metode terkonsentrasi. Metode
ini dipilih karena terdapat beberapa titik yang diketahui sering
dilewati satwa liar. Selan itu juga kondisi topografi yang terjal
serta memiliki kerapatan vegetasi cukup tinggi sehingga
menyulitkan untuk dilakukan pengamatan satwa. Hal yang
demkian mengakibatkan pengambilan metode yang lain kurang
efisien kecuali metode terkonsentrasi.
Setelah dilakukan pengamatan tersebut terlihat berbagai macam
jenis satwa seperti jenis mamalia, aves dan reptile. Pada
pengamatan mamalia didapati berbagai macam satwa seperti
monyet, sapi, musang dan kelelawar. Pengamatan yang dilakukan
pada waktu subuh terlihat satwa untuk mamalia yang paling
dominan yaitu sapi sedangkan untuk pengamatan pada malam
hari yang dominan yaitu kelelawar. Keberadaan mamalia seperti
kelelawar dan monyet membantu dalam kelestarian hutan.
Monyet dan kelelawar memakan buah dihutan dan menyebarkan
bijinya ketempat yang berbeda melalui kotorannya, sehingga
secara tidak langsung satwa tersebut membantu dalam

penyebaran biji tanaman hutan. Keberadaan satwa musang juga


teridentifikasi pada jenis mamalia namun keberadaannya masih
sedikit pada kawasan tersebut. Kegiatan satwa yang ditemui
kebanyakan adalah mencari makan dan berjemur.
Pengamatan satwa aves yang dilakukan selama tiga hari
menunjukkan hasil yang lebih dominan. Pengamatan satwa aves
yag dilakukan pada pagi hari dan malam hari, menunjukkan
bahwa adanya perbedaan jumlah hasil pengamatan. Pada saat
pagi hari lebih banyak jenis satwa yang ditemukan bila
dibandingkan pada pengamatan saat malam hari. Hal ini
menunjukkan bahwa satwa aves lebih aktif pada malam hari
untuk mencari makan. Jenis aves yang dominan dijumpai yaitu
perkutut. Selain itu juga terlihat jenis raja udang, seri gunting,
dan kepodang. Banyaknya satwa jenis aves pada kawasan
tersebut menunjukkan bahwa lokasi tempat dilakukannya
pengamatan cocok atau sesuai untuk habitat satwa aves.
Kebanyakan jenis burung yang hidup di kawasan tersebut adalah
pemakan biji bijian dan serangga. Dengan adanya burung-burung
dikawasan, membuktikan bahwa sumber makanan dikawasan
tersebut masih melimpah. Kelimpahan sumber makanan ditempat
hidupnya menujukkan sistem keseimbangan ekologinya masih
terjaga.
Pengamatan satwa khususnya reptil yang juga dilakukan
selama tiga hari didapati berbagai jenis satwa seperti tokek,
biawak, ular phiton, ular cobra, ular pohon, cicak terbang dan
kadal. Pengamatan yang dilakukan pada pagi hari dan malam
hari menunjukkan bahwa satwa reptil tersebut aktif pada saat
matahari terbit. Adapun jenis satwa reptile yang dominan yaitu
tokek dan ular phiton. Satwa reptile khususnya yang aktif
dimalam hari termasuk berdarah dingin sehingga pada saat pagi
hari mereka cenderung berhenti beraktifitas dan hanya berjemur
sambil menunggu waktu malam tiba.
Dari kegiatan pengamatan satwa didapati indeks
keanekaragaman shanow wienner yang di uraikan kedalam
rumus H1= (PiLnPi) sebesar 0.089569. Indeks dominasi

simpson dengan rumus C= 1-D dimana nilai D= (ni/N)2


sebesar 0.998711. Hasil analisis yang menunjukkan bahwa
keanekaragaman satwa cukup beragam. Untuk mengidentifikasi
apakah suatu kawasan masih terjaga keseimbangan ekologinya
dapat dilihat dari rantai makanan di tempat tersebut. Cara yang
efektif untuk mengetahui apakah kegiatan rantai makanan masih
berjalan dengan baik yaitu dengan cara melihat species kunci.
Species kunci merupakan satwa yang berada pada rantai makan
tertinggi. Satwa pada kawasan ini yang termsuk dalam species
kunci yaitu monyet, biawak dan ular phiton. Karena masih
dijumpainya satwa tersebut maka, keseimbangan sistem ekologi
pada kawasan tersebut masih terjaga.
Kesulitan yang dialami saat kegiatan pengamatan satwa ini
antara lain kurangnya peralatan yang memadai untuk sebagai
penunjang dan keselamatan seperti teropong monokuler, senter
yang terlalu sedikit, dan sepatu bot. kurangnya peralatan sersebut
membuat proses pengamatan terutama pada saat malam hari
kurang berjalan dengan baik.
5.4 Kelayakan ekowisata
Keberadaan ekowisata merupakan salah satu dari kegiatan
pemanfaatan jasa lingkungan. Salah satu potensi jasa lingkungan
yang berada di Maluk Kabupaten Sumbawa Barat ini yaitu bukit
pemantau datu. Terdapat 4 aspek yang diamati dari lokasi
tersebut yaitu sarana dan prasarana, infrastruktur, sosial budaya
masyarakat, kekhasan dilokasi yang akan dijadikan objek wisata.
Dari aspek tersebut berikutnya akan dapat diketahui mengenai
kelebihan dan kekurangan dari tempat lokasi dan ditarik
kesimpulan apakah lokasi tersebut layak dijasikan obyek
ekowisata.
Akses jalan merupakan bagian dari sarana dan prasarana
yang sangat penting untuk diperhatikan. Untuk menuju desa
Maluk tersebut dari kabupaten kota membutuhkan waktu sekitar
1,5 jam dengan menggunakan kendaraan roda dua dan empat.
Kondisi jalan dari kabupaten menuju Maluk cukup baik. Jarak
yang dibutuhkan dari maluk menuju bukit pemantau datu sejauh

3km. kondisi jalan di desa maluk tergolong kurang baik karena


masih berupa tanah bebatuan. Pada saat musim hujan kondisi
jalan akan tergenang air dan berlumpur sehingga perlu dibuat
parit sepanjang jalan. Pada jalan Maluk pengunjung akan
melewati terowongan dengan panjang sekitar 12m. sebaiknya
pada terowongan tersebut perlu dibuat lampu penerang jalan agar
membantu pengunjung untuk menuju lokasi. Setelah meleati
terowongn kondisi jalan mulai menyempit menjadi 4m. hal ini
membuat kendaraan roda empat kesulitan untuk lewat. Perlu
adanya pembuatan areal parkir dilokasi tersebut. Mulai dari areal
parkir menuju lokasi pintu masuk bukit datu sejauh 1,5km.
kondisi lebar jalan tersebut semakin mengecil hingga 2m. perlu
dilakukannya perbaikan jalan demi kenyamanan pengunjung
yang ingin melakukan kegiatan ekowisata.
Bukit pemantau datu masih belum ada saranan infrastruktur
yang memadai karena kepengurusan yang baru berjalan. Bukit
pemantau datu ini terbagi atas 7 pos oleh karena itu pada tiap pos
perlu diberikan keterangan tentang ketnggian tempat serta
disiapkan berugak. Kondisi jalan setapak menuju puncak terlihat
dari pos satu jingga 3 cukup sempit dan curam. Perlu dibuat
pegangan jalan dan diperlebar. pada pos tiga terdapat 2 jalur. Satu
jalur menuju desa ilang dan satu jalus lagi menuju punjak dari
bukit datu. Perlu dibuat penanda jalan pada titik tersebut. Pada
pos 4 ke 6 kondisi vegetasi cenderung lebih sedikit dan lokasi
lebih datar. Pos 7 merupakan pos paling puncak dan pada lokasi
ini terdapat hamparan lahan yang datar. Pada daerah ini sangat
cocok untuk kegiatan bumi perkemahan. Sebaiknya perlu dibuat
beberapa berugak sebagai tempat peristirahatan pengunjung dan
juga teropong untuk menikmati pemandangan. Pembuatan photo
zone juga perlu dilakukan agak pengunjung mengetahui posisi
yang tepat untuk mengambil foto
.
Kehidupan sosial masyatrak di Maluk cenderung ramah
terhadap pendatang. Sebagian besar masyarakat bekerja seagai
petani dan juga bekerja di PT. NNT. Banyak masyarakat yang
mendukung pembangunan bukit pemantau datu. Alasannya
karena keberadaan bukit pemantau datu dapat memberikan

lapangan pekerjaan apabila suatu saat PT NNT akan berhenti


beroprasi. Masyarakat di desa Maluk terdiri dari berbagai macam
suku seperti Lombok, Sumbawa, Kalimantan, jawa, flores dan
yang lainnya. Tingkat pengangguran di Desa maluk cenderung
kecil serta tingkat kriminalnya yang sedikit. Hal tersebut
membuat kenyamanan bagi pengunjung.
Ada beberapa potensi kekkahasan yang terdapat dilokasi
gunung pemantau datu. Dari aspek sejarah, gunung pemantau
datu merupakan lokasi masyarakat untuk memantau kedatangan
kapal belanda pada saat zaman penjajahan dahulu. Alasannya
karena gunung pemantau datu pada puncaknya dapat dilikit
seluru aktifitas pelayaran dan juga dapat terlihat gunung rinjani
dari lokasi tersebut. Pada lokasi bukit datu juga dekat dengan
lokasi desa hilang. Desa hilling tersebut merupakan desa Maluk
prtama yang memiliki nilai sejarah tinggi. Masyarakat maluk
pertama tinggal dilokasi tersebut, namun karena lokasinya yang
jauh dari masyarakat lain serta membutuhkan waktu yang lama
untuk menuju tempat perdagangan sehingga desa maluk pertama
tersebut ditinggalkan. Dilokasi tersebut masih terdapat perkakas
dan alat rumah tangga seperti uang kuna alat masak dan lainya.
Keberadaan desa ilang tersebut dapat menjadi objek penelitian
sejarah.
Bukit pemantau datu memiliki nilai keunikan seperti
merupakan lokasi untuk melihat matahari terbit dan terbenam
ditempat yang sama serta dapat melihat pemandangan laut yang
luas. Terdapat juga landscape pegunungan dengan biodiversitas
yang tinggi. Dilokasi puncak bukit pemantau datu terdapat sumur
yang merupakan bekas peninggalan masyarakat. Hingga kini
sumur tersebut masih aktif hanya saja belum adanya perawatan
dari masyarakat.
Dari beberapa spek tersebut dapat diketahui bahwa bukit
pemantau datu memiliki daya tarik berupa pemandangan alam
serta nilai sejarah yang tinggi. Namun belum adanya pengelolaan
yang serius dari masyarakat membuat sarana dan prasarana serta
infrastruktur masih belum memadai. Namun demikian lokasi

gunung pemantau datu memiliki potensi yang besar sebagai


bakal calon ekowisata. Untuk kedepannya perlu dilakukan
pengurusan mengenai kekurangan dari lokasi tersebut.
Kesulitan yang dialami pada saat melakukan kegiatan
pegujian ekowisata yaitu kondisi lokasi yang masih alami dan
jarang dimasuki masyarakat sehingga perlu didampingi oleh
masyarakat setempat dalam melakukan pengamatan dan
menganalisa. Jumlah pendamping lapang yang sedikit juga
membuat kegiatan pengkordinasian kurang berjalan dengan baik.
5.5 Potensi HHBK lebah Trigona
Pengembangan potensi lebah trigona ini terdiri dari dua
kegiatan yaitu pembuatan stup lebah trigona dan perburuan lebah
di alam. Pembuatan stup lebah dilakukan menggunakan bahan
bekas limbah sawmill. Tujuannnya untuk memanfaatkan limbah
bekas kayu yang sudah tidak terpakai lagi. Ukuran yang
diberikan pada papan bekas tersebut yaitu P.L.T = 41x20x35
dengan satuan cm. papan dbuat dan dibentuk sesuai ukuran lalu
dipaku dan diberi lubang sebagai tempat keluar masuknya lebah.
Ada juga stup yang dibuat dari bambu dengan cara memotong
bambo sepanjang 15cm lalu dibelah dua dan diberi lubang pada
bagian pinggir bambo.
Hal yang penting pada saat pembuatan stup yaitu ukuran stup
yang tidak terlalu besar dan terdapat sedikit celah berlubang yang
berukuran besar. Apabila terlalu banyak lubang maka lebah akan
membutuhkan waktu yang lama untuk menambalnya kembali
sehingga lebah tersebut tidak mau berada di stup. posisi
peletakan stup juga perlu diperhatikan. Lubang keluar masuknya
stup harus menghadap matahari terbenam.
Hal tersebut karena lebah trigona akan mulai aktif bekerja
pada saat matahari terbit. Apabila lubang keluar masuknya lebah
tidak menghadap matahari terbit maka lebah akan terlambat
untuk beraktifitas. Peletakan stup lbah juga harus jauh dari
gangguan musuh alaminya seperti semut, laba-laba, cicak dan

yang lainnya. Oleh karena itu tali sebagai penahan stup perlu
dilapisa dengan minyak agar serangga lain tidak mendekat.
Lebah trigona merupakan serangga yang tidak memiliki sengat
sehingga satu-satunya cara untuk mempertahankan diri adalah
dengan melindungi/melapisi sarangnya menggunakan peropolis.
Kegiatan perburuan lebah dilakukan pada RPH sekongkang.
Setelah dilakukan perburuan lebah selama tiga hari didapati 3
koloni lebah pada lokasi tersebut. Lebah trigona cenderung
membuat sarang pada kayu yang sudah tumbang seperti merbau.
Lebah ini juga membuat sarang pada kayu yang sangat keras
sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk memecahkan
kayu tersebut. Alat yang digunakan untuk memecah sarang lebah
tersebut yaitu parang. Setelah sarang lebah terbuka dapat
teridentifikasi bagian dari sarang lebah tersebut. Bagian dari
sarang lebah ini antara lain lebah ratu, lebah pekerja, madu, telur
lebah, propolis. Ratu lebah memiliki ukuran yang paling besar
dan juga tidak dapat terbang sehingga ratu tersebut tetap berada
di sarang. Lebah pekerja memiliki ukuran yang lebih kecil dan
bertugas mencari makan serta mempertahankan sarang dari
pengganggu dan merawat telur lebah. Propolis dihasilkan lebah
dengan tujuan untuk menambal lubang sehingga musuh alami
dari lebah tersebut tida dapat masuk kedalam sarang. Propolis
biasa diletakkan didalam sarang dan dipintu masuk sarang
juga.Setelah mengidentifikasi lebah trigona berikutnya dilakukan
pemecahan koloni lebah yaitu memecah koloni menjadi dua.
Tahapan yang dilakukan dalam pemecahan koloni lebah yaitu
memindahkan telur lebah terlebih dahulu. Ratu lebah biasanya
berada pada telur lebah, oleh karena itu peru dipastikan lokasi
ratu lebah. Setelah ratu lebah dipastikan telah berada di stup
maka berikutnya memasukkan sedikit madu pada stup. madu
dalam jumlah yang banyak dan menggenang pada stup dapat
berbahaya bagi lebah. Madu dimasukkan pada stup sebagai
cadangan makanan untuk lebah.
Langkah terakhir yang dilakukan yaitu meletakkan propolis
pada pinggiran lubang masuk lebah. Tujuannya sebagai penanda
lebah agar mengetahui tempat masuk sarangnya yang baru.

Setelah sebagian lebah pekerja telah memasuki stup maka lubang


stup ditutup dan dibawa ke lokasi pembudidayaan lebah trigona.
Sarang lebah alami yang sebelumnya akan menghasilkan ratu
baru dikarenakan lebah ratu yang sebelumnya sudah dipindahkan
pada stup. hal yang silakukan untuk sarang lebah berikunya.
Madu dari lebah trigona pada kawasan RPH sekongkang salah
satunya memiliki rasa yang manis dan 2 lainnya terasa masam.
Hal ini menunjukkan bahwa terdapat jenis pakan lebah yang
menghasilkan rasa manis pada madu lebah trigona tersebut. Cara
mengmbil madu dari lebah yaitu dengan mengiris madu. Apabila
madu lebah diremas maka akan membuat kotoran yang lain ikut
masuk. Satu sarang lebah trigona dapat menghasilkan sekitar
100ml madu.
Kesulitan yang dialami pada saat melakukan perburuan lebah
ini yaitu kondisi kawasan yang cenderung masih alami sehingga
tidak jarang ditemui hewan lain yang berbahaya seperti monyet,
kalajengking, serta ular kobra. Keberadaan hewan tersebut dapat
membahayakan pada saat melalukan perburuan lebah. Sedikitnya
alat penunjang keselamatan juga membuat kegiatan ini kurang
berjalan dengan semestinya.

BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
6.1.1
Inventarisasi Sosial Budaya
Terdapat sedikit masyarakat yang termasuk kedalam
kelompok tani hutan yaitu 3 kelompok sedangkan

masyarakat lebih banyak sebagai hutan rakyat yaitu 53


orang. Sebagian masyarakat indivudu maupun masyarakat
yang tinggal disekitar hutan tidak memiliki akses untuk
mengelola kawasan hutan karena tidak termasuk dalam
kelomok tani hutan.
6.1.2

6.1.3

Pengamanan Hutan
Kegiatan illegal loging cenderung terjadi pada lokasi
yang memiliki topogradi datar dengan tingkat frekuensi
yang cukup tinggi untuk satu kali patrol ditemukan
setidaknya 7 pohon yang ditebang.
Pengamatan Satwa
Tingkat keanekaragaman satwa diketahui dengan
metode Indeks keanekaragaman shanow wienner sebesar
0.089569 dan Indeks dominasi simpson sebesar 0.998711
bahwa biodiversitas cukup tinggi. Keberadaan sapi gembala
menjadi hama dikawasan tersebut karena merusak tanaman
hutan.

6.1.4

Potensi Ekowisata
Bukit pemantau datu memiliki potensi sebagai bakal
calon ekowisata karena terdapat kekhsan dilokasi tesebut
seperti pemandangan alam hutan laut dan matahari terbit
serta terbenam. Terdapat juga nilai sejarah menganai desa
hilang sebagai desa Maluk pertama sebelum masyarakat
pindah ke lokasi yang lain.

6.1.5

Pengembangan HHBK Lebah Trigona


Faktor penting dalam pembuatan stup lebah trigona
yaitu kondisi sarang yang rapat dan tertutup serta sedikit
celah lubang. Posisi peletakan sarang yang menghadap
matahari terbit serta dijauhkan dari musuh alami lebah.
Sarang lebah trigona terdiri atas ratu lebah, lebah pekerja,
madu, telur lebah dan propolis.

6.2 Saran
Adapun saran yang kami harapkan untuk perubahan dalam
melakukan kegiatan PKL selanjutnya agar berjalan dengan baik
yaitu terkait dengan masalah waktu kegiatan dan pelaksanaan,
karena keterbatasan waktu yang dimiliki dan kegiatan yang
kurang didapatkan dalam kegiatan PKL, sehingga mahasisawa
tidak sepenuhnya mendapatkan ilmu atau pengalaman.

DAFTAR PUSTAKA

Alikodra, HS., 2002, Pengelolaan Satwaliar,Yayasan Penerbit.


Anonim,1990. Undang-undang No. 41 Tahun 1999 Tentang
Kehutanan.

Hidayatullah, Rifqi R., 2012, Keanekaragaman Jenis Mamalia,


Burung.
Indriyatno. 2005. Ekologi Hutan. PT Bumi Aksara. Jakarta
Malamassam, Daud. 2009. Modul Pembelajaran Inventarisasi Hutan.
Universitas Hasanuddin; Makassar.
Napitu JP, 2007, Konservasi Satwa Langka, Universitas Yogyakata,
Yogyakarta.
Permenhut RI NO: P.75/Menhut-II/2014 tentang polisi kehutanan.
Simon, H. 2007. Metode Inventore Hutan. Pustaka Pelajar .
Yogyakarta.
Soegianto, A., 1994, Ekologi Kuantitatif, Penerbit Usaha Nasional,
Surabaya.
Syafrizal, 2007. Keragaman dan Habitat Lebah Trigona pada Hutan
Sekunder Tropis Basah di Hutan Pendidikan Lempake,
Samarinda, Kalimantan Timur. Bandung.

LAMPIRAN- LAMPIRAN

LAMPIRAN 2

INVENTARISASI SOSIAL BUDAYA


A. Daerah Benete

N
o
1

Nama

LUKMAN
HALPAN
BURHAN
AGUSTONO
SOLIHIN

MARDIANA

JAFAR A

DIWANG

BURHANUDIN
H
SITI SARAH

9
1
0
1
1
1
2
1
3
1
4
1
5
1
6
1

ABDURRAHM
AN YASIN

SITI FATIMAH
ABDUL
KUDUS
JEMUDDIN
MAHDI J.
HAMZAH
DEMAN
M.ZAIN
JAFAR G.
SAMRAH O.

Nomor induk
KTP
-

52O7080308740
001
52O7083112720
451
52070816058800
02
52070852038200
01
52070812046300
01
52070803076000
01
52070842116800
01
52070815026300
01
52070802045315
04
52070831126500
11
52070831125800
00
52070831124800
05
52070812016800
01
52070807085800

kelompo
k SDM
Kelomp
ok tani
hutan
rakyat
Hutan
rakyar
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Hutan

7
1
8

JAMALUDIN

B. Daerah Maluk
N
Nama
o
1
NURMAN
2

SEMAIN

3
4

MUHAMMA
D
MISKAM

WAGIMAN

AHYAR
RIADI

C. Daerah Sekongkang
N
Nama
o
1
ELIZA

M. SALEH

ABDUL
GAFAR
AHMAD BIN
KADIR
HERMANSYA
H

4
5

01
-

Nomor induk KTP


520708200876000
1
520708311265001
2
520708190260000
1
520708020664000
1
-

Nomor induk
KTP
-

52O70411076900
01
52070413107600
01
52070406076200
01
52070403027500
01

rakyat
Kelomp
ok tani
hutan
rakyat
kelompo
k SDM
hutan
rakyat
Hutan
rakyar
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
kelompo
k SDM
Kelomp
ok tani
hutan
rakyat
Hutan
rakyar
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat

H. SANAPIAH

ARMAN
JAYADI

D. Daerah tatar
N
Nama
o
1
LALU
OPLAN
JAYADI
2
SUDARMAN
3

LALU
MASNUM
BAIQ
SAADAH
BAIQ SRI
IRIANTI
LALU
MURDAN
AMRI
JUNAIDI
LALU
SUHIRMAN
MODENG

10

JUMAH

11

JUDIN

12

JAPARUDIN

13

AMIR

14

SINDE

4
5
6
7
8

52070407086000
01
691129330913

Hutan
rakyat
Hutan
rakyat

Nomor induk KTP

kelompo
k SDM
hutan
rakyat

520704101000038
520704111172000
2
520704011259000
1
520704711281001
2
520704580787000
2
520704311275002
1
520704130694000
1
520704111280000
3
520704711250032
6
520704280569000
1
520704091163000
1
520704311270001
0
520704311276001
7
520704311256002
7

Hutan
rakyar
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat

15
16
17
18
19

BAIQ
SAENUM
AKHYAR
ROSIDI
MUHAMMA
D YUNUS
RUSDI
ABDUL
KARIM

E. Daerah tongo
N
Nama
o
1
JAMALUDDIN
2

M. TAHIR

SANABA

H.
ZAINUDDIN
MUHAMMAD
YUNUS
MASYAHIRAN
G
H. RAHMAD,
S.Ag.
ARDIANSYAH

5
6
7
8
9

MUAMMAR
KHADAFIE.
M.Pd.I.

520704711250000
5
520705311285054
7
520704311264001
0
520704311271001
0
520704311257013
3

Nomor induk
KTP
52070431126000
40
52070447055000
02
52070431124500
28
52070431126400
10
52070413046700
01
52070415107300
01
52070408068600
02

Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat

kelomp
ok SDM
hutan
rakyat
Hutan
rakyar
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Mitra
polhut
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat
Hutan
rakyat

LAMPIRAN 3
Pengamatan Satwa
N
o

Pengamatan hari pertama (26/08/2015)


Nama Lokal
Nama Latin
kegiatan
keteranga
n

Monyet

Monyet

Sapi

Kelelawar

Sapi

vespertilionida
e
Bos taurus

Sapi

Bos taurus

musang

Raja udang

perkutut

10

perkutut

11

perkutut

12

srigunting

13

Tokek

Viverricula
malaccensis sin
Halcyon
senegalensis
Geopelia
striata
Geopelia
striata
Geopelia
striata
Dicrurus
macrocercus
Gekko

14
15
16

Macaca
fascicularis
Macaca
fascicularis
Bos taurus

Mencari
makan
Berjemur

06.26

Mencari
makan
Kembali
pulang
Mencari
makan
Mencari
makan
Mencari
makan
bertengge
r
bertengge
r
bertengge
r
terbang

06.35

bertengge
r
Berjemur

08.44

06.28

06.40
06.54
06.56
19.01
06.18
06.35
07.11
07.18

06.18

Biawak

Varanus
Albigularis

Berjemur

06.35

Ular phiton

Malaypython
Reticularus

Berjemur

07.11

Ular cobra

Colobra

Berjemur

07.18

N
o
1

Pengamatan hari kedua (27/08/2015)


Nama Lokal
Nama Latin
kegiatan
Sapi

Bos taurus

Sapi

Bos taurus

Monyet

Kelelawar

Kelelawar

Raja udang

Macaca
fascicularis
vespertilionida
e
vespertilionida
e
Halcyon
senegalensis

perkutut

keterangan

Mencari
makan
Mencari
makan
berjemur

06.54

Mencari
makan
Mencari
makan
bertengger

17.16

Geopelia
striata

bertengger

08.48

Raja udang

Halcyon
senegalensis

terbang

17.05

kepodang

Oriolus
chinensis

bertengger

17.56

10

Ular pohon

Ahaetulla spp.

Berjemur

06.18

Ular phiton

Malaypython
Reticularus

Mencari
makan

06.35

12

Tokek

Gekko

Berjemur

07.11

13

Cicak
Terbang

Draco Volans

Berjemur

07.18

14

Kadal

Mabouya
Multifasciata

Berjemur

07.18

11

06.59
07.20

17.54
08.16

Pengamatan hari ketiga (28/08/2015)


Nama Latin
kegiatan

N
o
1

Nama
Lokal
monyet

Sapi

Macaca
fascicularis
Bos taurus

Sapi

Bos taurus

Musang

kelelawar

Viverricula
malaccensis
sin
vespertilionida

Raja udang

Halcyon
senegalensis

perkutut

keterangan

berjemur

06.39

Mencari
makan
Mencari
makan
Mencari
makan

07.11
07.44
18.07

Mencari
makan
terbang

18.12

Geopelia
striata

bertengger

08.47

Opior paruh
tebal

Heleia
crassirostris

bertengger

17.33

Ular pohon

Ahaetulla spp.

Berjemur

06.18

10

Biawak

Varanus
Albigularis

Berjemur

06.35

11

Ular phiton

Malaypython
Reticularus

Berjemur

07.11

07.16

12

Tokek

Gekko

Berjemur

07.18

LAMPIRAN 3
1. Kegiatan bersih-bersih Areal KPHP SEJORONG

2. Kegiatan Inventarisasi Kelompok Tani Hutan

3. Kegiatan Pengamanan Hutan dan pengenalan Pal Batas

4. Kegiatan Pengamatan Satwa

5. Kelayakan Ekowisata

6. Pengembangan HHBK Lebah Trigona

7. Kegiatan Pembuatan Stup Lebah Trigona

LAMPIRAN - LAMPIRAN