Anda di halaman 1dari 113

HAMBATAN INTEGRASI NASIONAL DI SUDAN

(STUDI KASUS KONFLIK ETNIS DI DARFUR TAHUN


2010-2014)

SKRIPSI

Oleh :
SILVIANNA HERVITA
151090056

PROGRAM STUDI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
YOGYAKARTA
2015
1

HAMBATAN INTEGRASI NASIONAL DI SUDAN


(STUDI KASUS KONFLIK ETNIS DI DARFUR TAHUN 2010-2014)

SKRIPSI

Diajukan Guna Memenuhi Syarat Untuk Memperoleh


Gelar Sarjana dalam Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
dengan Spesialisasi Ilmu Hubungan Internasional

Oleh :
SILVIANNA HERVITA
151090056

PROGRAM STUDI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
YOGYAKARTA
2015
2

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING

NAMA MAHASISWA

: SILVIANNA HERVIITA

N.I.M

: 151090056

JUDUL SKRIPSI

: HAMBATAN INTEGRASI NASIONAL DI


SUDAN (STUDI KASUS KONFLIK ETNIS DI
DARFUR TAHUN 2010-2014)

Skripsi ini telah disetujui untuk diujikan


Di Program Studi Hubungan Internasional
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Hari

: Jumat

Tanggal

: 14 Agustus 2015

Program Studi Hubungan Internasional


Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Dosen Pembimbing I

Dosen Pembimbing II

Asep Saepudin, S.IP., M.Si.

Ludiro madu, S.IP., M.Si.

HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI

NAMA MAHASISWA

: SILVIANNA HERVITA

N.I.M

: 151090056

JUDUL SKRIPSI

: HAMBATAN INTEGRASI NASIONAL DI SUDAN


(STUDI KASUS KONFLIK ETNIS DI DARFUR TAHUN
2010-2014)

Skripsi ini telah diujikan dan Dipertahankan di depan Tim Penguji


Di Program Studi Hubungan Internasional
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Pada hari

: Jumat

Tanggal

: 14 Agustus 2015

Jam

: 10.00 WIB

Tempat

: Lab. Organisasi Internasional


Program Studi Hubungan Internasional
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta
TIM PENGUJI

Dosen Pembimbing I (Ketua)

: Asep Saepudin, S.IP., M.Si.

Dosen Pembimbing II (Anggota)

: Ludiro Madu,S.IP., M.Si.

Dosen Penguji I (Anggota)

: Dra. Harmiyati, M.Si.

Dosen Penguji II (Anggota)

: Hikmatul Akbar, S.IP., M.Si.

Mengetahui
Ketua Program Studi Hubungan Internasional

Erna Kurniawati, S.IP., M.Si.


NPY. 267129500021

NATIONAL INTEGRATION BARRIERS IN SUDAN


(CASE STUDY OF ETHNIC CONFLICT IN DARFUR 2010-2014)
By Silvianna Hervita
151090056

Abstract

This thesis discusses the National Integration Barriers In Sudan ( Case


Study Of Ethnic Conflict In Darfur 2010-2014). Sudan, once the largest and one
of the most geographically diverse states in Africa, split into two countries in July
2011 after the people of the south voted for independence. Sudan has long been
beset by conflict. Two rounds of north-south civil war cost the lives of 1.5 million
people, and a continuing conflict in the western region of Darfur has driven two
million people from their homes and killed more than 200,000. For the past 25
years Sudan has experienced a complex conflict between the South and the North.
As a result of numerous peace initiatives and tough peace negotiations, a
Comprehensive Peace Agreement (CPA) was signed in January 2005.
The Five Year (2007-2011) and Twenty five Year (2007-2031) National
Strategic Plan responded to this situation through crystallizing objectives and
policies aiming at the gradual departure from poverty, consolidating peaceful
coexistence and social integration, respect of cultures and religions besides
consolidating and strengthening the role of the civil society in achieving
development. Policies established by the government of Sudan as Tax Returning,
Oil Desicion Centralistic, Non-Investigation, Farm Subsidies, and Tax Abolition
Animal Feed.
In fact, policy implementation in Sudan was still discriminatory. Darfur
where the conditions of the drought and desertification are the worst in Sudan, but
Sudanese government prohibits Water Self-Management, Water restriction , and
slow infrastructure development in Darfur makes conflict continues until 2014.
Social ties in Darfur is getting weaker due to friction between ethnic Arab and
ethnic Darfur because the Sudanese government due to discrimination against
Darfur.

HALAMAN PERNYATAAN

Dengan ini, saya menyatakan bahwa tulisan ini adalah benar-benar hasil karya
saya sendiri. Apabila dikemudian hari terbukti bahwa saya melakukan
kecurangan/ penjiplakan/ plagiat, maka saya siap menerima sanksi akademik,
sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

Yogyakarta, 7 September 2015

(Silvianna Hervita)

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT Tuhan semesta alam atas segala berkat, rahmat,
taufik, serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan
judul HAMBATAN INTEGRASI NASIONAL DI SUDAN (STUDI KASUS
KONFLIK ETNIS DI DARFUR TAHUN 2010-2015).
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis memperoleh banyak bantuan dari
berbagai pihak. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Asep Saepudin,
S.IP., Msi., selaku dosen pembimbing I dan Bapak Ludiro Madu, S.IP,. M.si.,
selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan arahan
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini, serta kedua orang tua, keluarga
besar penulis, dan rekan-rekan mahasiswa UPN V Yogyakarta yang selalu
berdoa dan memberikan motivasi kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar proposal
ini dapat lebih baik lagi. Akhir kata penulis berharap kerangka acuan skripsi ini
dapat memberikan wawasan dan pengetahuan kepada para pembaca pada
umumnya dan pada penulis pada khususnya.
Yogyakarta, 7 September 2015
`

Penulis

Silvianna Hervita

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
A.

Alasan Pemilihan Judul................................................................

B.

Latar Belakang Masalah...............................................................

C.

Rumusan Masalah........................................................................

D.

Kerangka Berpikir........................................................................

10

E.

Argumen Pokok...........................................................................

17

F.

Metode Penelitian........................................................................

17

G.

Jangkauan Penelitian...................................................................

18

H.

Tujuan Penelitian.........................................................................

18

I.

Sistematika Penulisan..................................................................

19

BAB II BIDANG SOSIAL-POLITIK SUDAN, KRISIS DARFUR DAN


DISINTERGRASI NASIONAL
A.

Sosial-Politik Sudan.....................................................................

20

A.1. Politik-Pemerintahan............................................................

21

A.2. Sosial-Ekonomi..................................................................... 26
B.

Krisis Darfur.................................................................................

30

C.

Disintegrasi Nasional di Sudan....................................................

36

BAB III PELAKSANAAN KEBIJAKAN EKONOMI-POLITIK


DISKRIMINATIF
A.

Kebijakan Ekonomi-Politik Sudan..............................................

41

B.

Pelaksanaan Kebijakan Sumber Daya Alam................................

48

B.1. Pertanian...............................................................................

51

B.2. Peternakan ............................................................................ 55


C

Pelaksanaan Kebijakan Pemerataan Pembangunan...................... 58

BAB IV FAKTOR PENGHAMBAT INTEGRASI NASIONAL DI BIDANG


SOSIAL
A.

Dinamika Sosial di Darfur dan Sudan..........................................

68

B.

Dominasi Sudanese-Arabic di Sudan ..........................................

78

C.

Kegagalan Asimilasi dan Pembauran Antara Etnis SudaneseArabic dan Darfur di Sudan.........................................................

BAB V KESIMPULAN ..............................................................................


DAFTAR PUSTAKA

81

89

DAFTAR TABEL
1.1.

Pihak Yang Terlibat Dalam Konflik Darfur ..................................

2.1.

Majelis Rendah di Sudan Tahun 2010-2015..................................

22

2.2.

Majelis Tinggi di Sudan Tahun 2010-2015....................................

23

2.3.

Timeline Konflik Darfur di Sudan Tahun 2003-2014....................

34

3.1.

Kesenjangan Antara Pembangunan Daerah Darfur Dengan

64

Wilayah Lainnya di Sudan Tahun 2013.........................................

10

DAFTAR GRAFIK
2.1.

Pertumbuhan Penduduk di Sudan Tahun 2005-2014...................... 26

2.2.

GDP Sudan Tahun 2005-2010........................................................

3.1.

Nilai Ekspor Sudan Tahun 2010-2014............................................ 49

3.2.

GDP Sudan Tahun 2010-2014........................................................

11

28

61

DAFTAR PETA
1.1.

Wilayah Konflik Darfur di Sudan................................................... 5

4.1.

Peta Persebaran Pengungsi Darfur Tahun 2008.............................. 72

4.2.

Persebaran Etnis Yang Ada di Sudan Tahun 2011.........................

4.3.

Pemeluk Agama di Sudan Tahun 2011........................................... 76

12

74

DAFTAR GAMBAR
4.1. Perbedaan Antara Etnis Arab dan Etnis Darfur.................................... 83

13

DAFTAR SINGKATAN
CPA

Comprehensive Peace Agreement

DFL

Darfur Liberation Front

GDP

Gross Domestic Product

ICC

International Criminal Court

IGAD

Intergovernmental Authority on Development

JEM

Justice and Equality Movement

LJM

Liberation Justice Movement

NCP

National Congress Party

NCSP

National Council for Strategic Planning

NRF

National Redemption Front

OPEC

Organization of the Petroleum Exporting Countries

RSF

Rapid Support Force

SAC

Sudan Administrative Conference

SLM

Sudan Liberation Movement

SLM/A

Sudan Liberation Mevoment/Army

UNAMID

United Nation African Mission In Darfur

UNDP

United Nations Development Programme

14

BAB I
PENDAHULUAN

A. Alasan Pemilihan Judul


Integrasi nasional merupakan hal yang sangat menentukan eksistensi suatu
negara. Ini disebabkan karena integrasi nasional berkaitan dengan pengakuan
publik terhadap rezim kepemimpinan dan legitimasi politik suatu pemerintahan.
Integrasi juga mempunyai efek jangka panjang berujud standarisasi cita-cita
politik dan kulturan negara-negara yang terlibat di dalamnya.1 Pada era globalisasi
sekarang ini terdapat beberapa negara yang menghadapi persoalan integrasi
nasional. Salah satu negara yang menghadapi persoalan integrasi nasional adalah
Sudan.
Masalah integrasi nasional di Sudan ternyata tidak lepas dari krisis Darfur,
dimana persoalan ini kembali mengemuka pada tahun 2003 yang berujung pada
referendum perjanjian damai wilayah Sudan Selatan pada 6 Januari 2005 yang
kemudian ditindaklanjuti dengan kemerdekaan wilayah Sudan Selatan pada 9 Juli
2011. Persoalan ini pada awalnya terjadi karena adanya upaya pemerintah Sudan
untuk menerapkan ketentuan syariah (hukum Islam) di seluruh wilayah Sudan dan

Mohtar Masoed, Studi Hubungan Internasional : Tingkat Analisis dan Teorisasi, Pusat Antar
Studi Sosial Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 1989, hal.180.
1

15

kemudian mendapatkan tentangan dari masyarakat Sudan Selatan yang


merupakan pemeluk Nasrani.2
Dalam menindaklanjuti persoalan disintegrasi di Sudan, Presiden Omar
Hassan al-Bashir kemudian menerapkan berbagai kebijakan, yang terbagi
kebijakan dalam negeri, antara lain melalui pemerataan pembangunan, penegakan
hukum yang efektif dengan memaksimalkan peran dari kepolisian nasional dan
angkatan bersenjata Sudan, serta kebijakan luar negeri yaitu kerjasama dengan
negara-negara tetangga, Uni Afrika, serta Liga Arab. Pada tahun 2010, bersamaan
dengan kemenangan Partai Kongres Nasional pada 15 April 2010, mendorong
Hassan al-Bashir untuk mengedepankan pendekatan militer dan keamanan sebagai
bagian dalam menangani isu terorisme dan kelompok fundamental regional.3
Pada kenyataannya, berbagai kebijakan yang dijalankan oleh pemerintah
Sudan di bawah kepemipinan Hassan al-Bashir ternyata belum dapat berjalan
secara efektif. Ini ditandai dengan belum tercapainya resolusi konflik, terkait
dengan krisis Darfur, meskipun berbagai upaya/pembicaraan terus dijalankan,
antara lain pembicaraan yang melibatkan New Redemption Front (NRF) pada
bulan Februari 2010 ataupun Perjanjian Doha pada bulan Juli 2011.4 Berdasar
pada fakta inilah penulis tertarik untuk membahas lebih lanjut dan memilih judul

Darfur Conflict, dalam http://www.trust.org/humanitarian/, diakses pada tanggal 22 Oktober


2014.
3
A Challenges for South Sudanese Leadership, dalam http://southsudan.net/achallengefor1.html,
diakses pada tanggal 7 Januari 2014.
4
The Darfur Conflict in Western Sudan, dalam http://www.ukessays.com/essays/politics/thedarfur-conflict-in-western-sudan.php, diakses pada tanggal 10 Januari 2014.
2

16

tentang Hambatan Integrasi Nasional di Sudan Terkait Konflik Darfur Tahun


2010-2014.

B. Latar Belakang Masalah


Sudan merupakan negara multietnik. Negara ini memiliki etnis mayoritas
yaitu Arab Sudan (Sudanese Arabic) sekitar 70% dari total penduduk negara ini.
Kemudian terdapat juga etnis minoritas, antara lain Nubian, Coap dan Bejas.
Sebagian besar masyarakat Sudan tinggal di wilayah urban/perkotaan, khususnya
Khourtum, Atbara dan Babanusa.5
Dinamika politik-pemerintahan Sudan pada tahun 2010-2014 mengalami
perkembangan yang menarik, terkait dengan persoalan integrasi nasional yang
dihadapi oleh negara ini, yaitu terkait dengan disintergrasi wilayah Sudan Selatan.
Masalah ini sebenarnya telah terjadi pada dekade 1950-an saat wilayah ini masih
berada dalam kekuasaan Sudan-Anglo Mesir Britania Raya. Pasca berakhirnya
kekuasaan Inggris diterapkanlah wilayah otonomi Sudan Selatan pada 1972-1983
yang kemudian dilanjutkan dengan perang saudara, namun kasus ini belum
membuat pemerintah Sudan kehilangan wilayah Sudah Selatan sampai dengan
tahun 2010/2011, saat wilayah otonom ini memisahkan diri dari Sudan.6
Jika dikaitkan dengan pernyataan di atas maka kondisi Sudan, sebagai
salah satu negara di Timur-Tengah maka persoalan yang berkembang pada tahun
5

Ibid.
Abdres Breidlid, A Concise History of South Sudan : A New And Revised Edition, Fountain
Publisher, Kampala, 2014, hal.129-135.
6

17

2010-2014 merupakan bagian dari persoalan sosial dan ekonomi. Hal ini juga
berlaku bagi wilayah Darfur. Sejak referendum wilayah Sudan Selatan tahun 2005
yang berakhir dengan kemerdekaan Sudan Selatan 9 Juli 2011 mendorong
wilayah Darfur untuk berupaya memperoleh kemerdekaan.
Salah satu wilayah di Sudan yang memiliki peranan penting bagi dinamika
keamanan di negara ini adalah Darfur. Sebagian besar penduduknya adalah petani
Arab berkulit hitam yang nomaden. Adanya perbedaan etnik, menyebabkan
terjadinya konflik antara Sudan Arab dan Afrika hitam. Hal itu terjadi karena
populasi di Darfur terdiri dari beberapa suku yang semuanya bekerja sebagai
petani dan pengembala unta serta sapi. Mayoritas suku yang bekerja sebagai
petani adalah suku Fur dan Masalit, dan mayoritas suku yang bekerja sebagai
penggembala adalah suku Zaghawa, Baqqaram dan Abbala.7
Darfur merupakan sebuah wilayah di sebelah Barat Sudan. Wilayah ini
pada tahun 2010-2014 memiliki populasi berjumlah sekitar 7,48 juta jiwa.
Wilayah ini memiliki luas wilayah sekitar 493.180 km atau sekitar 36 persen dari
total seluruh wilayah Sudan. Pada dekafde 1980-an, wilayah ini cenderung lebih
terbelakang dibandingkan dengan wilayah-wilayah Sudan lainnya, khususnya
Sudan Tengah dan Timur. Gambaran mengenai wilayah Darfur dapat dilihat pada
peta 1.1. dibawah ini :

Sudan : Darfur Profile, dalam http://reliefweb.int/report/sudan/sudan-darfur-profile-march2014, diakses pada tanggal 11 Januari 2015.
7

18

Peta 1.1.
Wilayah Konflik Darfur di Sudan

Sumber : Maps of Sudan and South Sudan, dalam http://www.mapsofworld.com/sudan/ ,


diakses pada tanggal 29 Januari 2014.

Dari peta 1.1. tersebut dapat dijelaskan bahwa wilayah konflik Darfur
ditunjukkan pada area berwarna orange berhuruf C. Wilayah Darfur sendiri
terbagi atas tiga wilayah masing-masing Janub Darfur, Gharb Darfur dan
Shammal Darfur. Wilayah ini dihuni oleh etnis Mashalit, Zaghawa, Fur, Daju,
Tama, Erenga dan beberapa etnis lainnya. Kemudian wilayah Sudan ditunjukkan
A dan Sudan Selatan ditunjukan huruf B. Perbedaan antara etnis mayoritas Sudan
(Sudanese Arabic) berkaitan dengan kultur sosial-ekonomi yang berkembang,
19

dimana etnis-etnis yang berdomisili di wilayah Darfur dipandang lebih


terbelakang dan perekonomian sangat berkaitan dengan sistem agro-pastoral
(pertanian sederhana dan penggembala).8
Sejak Sudan memperoleh kemerdekaannya, Darfur secara politik dan
ekonomi termajinalkan oleh pemerintah pusat. Sejumlah kaum terpelajar Darfur
membentuk suatu pergerakan politik di tahun 1960-an untuk memperjuangkan
Darfur sejajar dengan yang lain. Terkait dengan hal ini, pada akhir tahun 1980-an
suku-suku petani disana seperti Fur dan Masalit menghadapi konflik tidak hanya
dengan suku Arab namun juga dengan pemerintah pusat. Sebagai akibatnya, sukusuku Afrika (Fur, Masalit, dan Zaghawa) ini membentuk kelompok perlawanan
yang bersenjata di akhir tahun 1990-an dan di tahun 2001 mereka melancarkan
serangan terhadap gedung-gedung kepolisian dan markas tentara Sudan.
Konflik ini terjadi sejak tanggal 26 Februari 2003 yang masing terus
berlangsung hingga akhir tahun 2014. Pihak-pihak yang terlibat dalam krisis
Darfur ini dapat dilihat pada tabel 1.1. sebagai dibawah ini :

Ibid.

20

Tabel 1.1.
Pihak Yang Terlibat Dalam Konflik Darfur
Tahun 2003-2014
No.
1.

Keterangan
Faksi

Pihak Pemerintah
Pemerintah Sudan,
Janjaweed dan Rapid
Support Force (RSF).

Pihak Pemberontak
National Redemption
Front (NRF) : Sudan
Liberations Army (SLA),
Liberations and Justice
Movement (LJM) dan
Justice and Equality
Movement (JEM)

Khalil Ibrahim, Ahmed


Diraige, Abdul Waleed an
Nur dan Ahmed Haroun.
2.

Pemimpin

Omar al-Bashir, Musa


Hilal, Hamid Dawai
dan Ali Khusayb.
142.000 personel
23.000-25.000 milisi

3.

Kekuatan

Sumber : Darfur Conflict, dalam http://www.trust.org/spotlight/Darfur-conflict, diakses pada


tanggal 10 Januari 2015.

Dari tabel 1.1. diatas kita dapat melihat terdapat dua faksi yang berkonflik
di Sudan yaitu faksi pemerintah yang teridiri dari janjaweed dan RSF yang
beranggotakan Arab Sudan dan faksi pemberontak yang terdiri dari SLA, LJM,
21

JEM, yang tergabung dalam NRF yang beranggotakan etnis asli Sudan seperti
Fur, Zaghawa, Nubian, Coap, dll. Pada tabel dapat kita lihat jika kelompok
pemberontak memiliki jumlah anggota jauh lebih banyak dibandingkan kelompok
pemerintah.
Konflik di Darfur yang masih terjadi hingga tahun 2014 merupakan
ekspansi dari pergolakan tahun 2003 sampai sekarang tetap berlangsung dan
belum mencapai perdamaian yang signifikan. Keterlibatan negara tetangga, yaitu
Eritrea dan Chad, dikhawatirkan Hassan al-Bashir dapat memperkeruh kondisi
yang ada yang mengarah ke disintegrasi wilayah, seperti hanya yang terjadi pada
wilayah Sudan Selatan.9
Secara tradisional penyelesaian konflik antar suku diselesaikan oleh adat
lokal namun dihapuskan oleh pemerintah Khartoum setelah berkuasa dalam
kudeta pada tahun 1989. Dengan demikian pemerintah Sudan menerapkan
mekanisme penyelesaian konflik dengan kekerasan tanpa damai. Untuk alasan ini
maka muncul kaum pemberontak yang hendak memisahkan diri dan berdiri
sendiri sebagai negara merdeka. Ketidaknyamanan lingkungan internal Sudan
mendesak para pemberontak di Darfur dalam memperjuangkan perlawanan
terhadap pemerintah pusat. Pemerintah Sudan harus bekerja maksimal dan intensif
untuk mengamankan kembali situasi politik dengan jalan damai atau dengan
konfrontasi terhadap kaum pemberontak. Integrasi Sudan dan Darfur menjadi
terhambat dengan adanya perbedaan pendapat antara kedua belah pihak.

Darfur Conflict, dalam http://www.trust.org/spotlight/Darfur-conflict, diakses pada tanggal 18


Desember 2014.
9

22

Pada akhir Desember 2011, pemerintah Sudan dan JEM (Justice and
Equality Movement) bertemu di Doha untuk membahas perbedaan pendapat atas
rancangan perjanjian penghentian permusuhan di Darfur. Menurut Sudan Tribune,
JEM menuntut akses penuh untuk kemanusiaan, pembebasan tahanan politik, dan
masuknya Kordofan di dalam kesepakatan penghentian permusuhan. Pemerintah
menolak dua tuntutan JEM dan meminta agar JEM mengungkapkan posisi
geografis pasukan JEM.10 Sementara Presiden Bashir berada di Nyala untuk
penandatanganan perjanjian rekonsiliasi suku bertujuan untuk menghentikan
perang antar Arab di Darfur, Misseriya, dan kelompok bersenjata di Darfur
selatan.
Pada tahun 2010-2014, krisis Darfur belum dapat diselesaikan secara
mendasar, meskipun berbagai pihak internasional, termasuk Dewan Keamanan
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah membangun resolusi konflik. Ini
sekaligus menunjukkan bahwa Sudan dihadapkan persoalan serius tentang adanya
ancaman disintegrasi nasional. Ini kemudian menumbulkan isu pada masyarakat
yang menuntut penerapan otonomi dan pembangunan yang lebih adil dan
berimbang. Sebagai contoh tuntutan dari kelompok pejuang Darfur (JSM dan
LSM) yaitu penerapan hukum Islam secara absolut, pengelolaan sumber daya
alam secara privat, dan pembangunan infrastruktur di wilayah Darfur.11

Sudan Peace Watch Januari 7, 2011 dalam http://www.satsentinel.org/report/sudan-peacewatch-january-7-2011, diakses tanggal 9 Januari 2015.
11
Ibid.
10

23

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas maka dapat ditarik
rumusan masalah yaitu :
Apa faktor-faktor yang menjadi penghambat integrasi nasional di Sudan,
terkait dengan konflik etnis di Darfur tahun 2010-2014 ?

D. Kerangka Berpikir
Dalam upaya menjawab rumusan masalah dan menarik asumsi dasar
penulis menggunakan teori integrasi nasional dan teori kebijakan publik.
Pendekatan ini digunakan karena relevan dengan kasus kegagalan integrasi
nasional di Sudan, terkait dengan konflik etnis Darfur yang terjadi pada periode
2010-2014.
Istilah integrasi nasional berasal dari dua kata yaitu integrasi dan nasional.
Istilah integrasi mempunyai arti pembauran/penyatuan sehingga menjadi kesatuan
yang utuh. Integrasi nasional juga tidak lepas dari faktor identitas nasional
tersebut pada dasarnya menunjuk pada identitas-identitas yang sifatnya nasional.
Identitas nasional bersifat buatan dan sekunder. Bersifat buatan karena identitas
nasional itu dibuat, dibentuk dan disepakati oleh warga bangsa sebagai
identitasnya setelah mereka bernegara. Bersifat sekunder karena identitas nasional
lahir belakangan bila dibandingkan dengan identitas kesukubangsaan yang
memang telah dimiliki warga bangsa itu secara askriptif. Sebelum memiliki
24

identitas nasional, warga bangsa telah memiliki identitas primer yaitu identitas
kesukubangsaan.12
Integrasi nasional merupakan hal yang bersifat sensitif, khususnya pada
kelompok negara dunia ketiga. Menurut CR Mitchell dan William Hopkins
integrasi nasional suatu negara akan terhambat jika sebuah rezim tidak dapat
mencapai keenam unsur seperti yang telah tersebut di atas. Hal ini sesuai dengan
pernyataannya CR Mitchell yang menyatakan bahwa :
...bahasa, agama, kebudayaan dan suku bangsa menjadi
persoalan penting yang dapat menghambat integrasi nasional. Kemudian
arus utama gagasan ideologi dan kebudayaan dan ikatan-ikatan sosial
menjadi faktor sekunder yang dapat menghambat integrasi nasional. ini
khusunya akan mudah terjadi pada kelompok negara-negara dunia
ketiga.13
Pada dasarnya menurut CR Mitchell dan William Hopkins terdapat enam
unsur penting dalam identitas nasional pendukung integrasi nasional, masingmasing yaitu :14
1. Suku bangsa, yaitu golongan sosial yang khusus yang bersifat askriptif
(ada sejak lahir), yang sama coraknya dengan golongan umur dan jenis
kelamin.

12

Anthony H. Birch and Paul Nchoji, Nationalism and National Integration, African Book
Collettive Publishing, Toronto, 2002, hal.19.
13
Ibid.
14
CR Mitchell and William Hopkins, The National Identity : From Conventional to Contemporary
Approach, John Hopkins University Press and Publishing, Baltimore, 2008, hal.31-32.

25

2. Agama, yaitu terkait dengan posisi agama memiliki peranan penting untuk
menjembatani kehidupan spiritual antara manusia dengan Tuhannya dan
manusia dengan manusia.
3. Kebudayaan, yaitu pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang
isinya adalah perangkat-perangkat atau model-model pengetahuan yang
secara

kolektif

digunakan

oleh

pendukung-pendukungnya

untuk

menafsirkan dan memahami lingkungan yang dihadapi dan digunakan


sebagi rujukan dan pedoman untuk bertindak (dalam bentuk kelakuan dan
benda-benda kebudayaan) sesuai dengan lingkungan yang dihadapi.
4. Bahasa, yaitu unsur pendukung Identitas Nasional yang lain. Bahsa
dipahami sebagai sistem perlambang yang secara arbiter dibentuk atas
unsur-unsur ucapan manusia dan yang digunakan sebgai sarana
berinteraksi antar manusia.
5. Arus utama gagasan ideologi dan kebudayaan, yaitu bagaimana entitasentitas sosial-politik dapat bertahan dari pengaruh luar sehingga dapat
dengan konsisten menjaga kelangsungannya.
6. Ikatan-ikatan sosial dan ekonomi-politik formal, yaitu keberadaan entitasentitas kelompok untuk membangun kepentingan-kepentingannya secara
eksklsif dan inklusif dengan masyarakat lainnya ataupun untuk
memperjuangkan

kepentingannya

dalam

konteks

formal

(politik

kenegaraan).
Keenam faktor-faktor tentang identitas nasional dan integrasi nasional
pada dasarnya bersifat relatif. Artinya antara satu negara atau wilayah tidak
26

sepenuhnya sama. Dapat saja hanya berupa satu, dua atau kombinasi faktor-faktor
yang ada di dalamnya. Kemudian integrasi nasional berhubungan erat dengan
kebijakan-kebijakan publik yang di buat oleh pemerintah . David Easton
menyatakan bahwa :
Kebijakan publik diartikan sebagai pengalokasian nilai-nilai kekuasaan
untuk seluruh masyarakat yang keberadaannya mengikat. Dalam hal ini hanya
pemerintah yang dapat melakukan suatu tindakan kepada masyarakat dan
tindakan tersebut merupakan bentuk dari sesuatu yang dipilih oleh pemerintah
yang merupakan bentuk dari pengalokasian nilai-nilai kepada masyarakat.
Definisi kebijakan publik menurut Easton ini dapat diklasifikasikan sebagai suatu
proses management, yang merupakan fase dari serangkaian kerja pejabat publik.
Dalam hal ini hanya pemerintah yang mempunyai andil untuk melakukan
tindakan kepada masyarakat untuk menyelesaikan masalah publik, sehingga
definisi ini juga dapat diklasifikasikan dalam bentuk intervensi pemerintah.15
Dari proposisi yang dikemukakan oleh Easton di atas hanya pemerintah
yang dapat melakukan sesuatu tindakan kepada masyarakat dan tindakan tersebut
merupakan bentuk dari sesuatu yang dipilih oleh peerintah yang merupakan
bentuk dari pengalokasian nilai-nilai kepada masyarakat. Dalam hal ini hanya
pemerintah yang mempunyai andil untuk melakukan tindakan kepada masyarakat
untuk menyelesaikan masalah publik, sehingga definisi ini juga dapat
diklasifikasikan dalam bentuk intervensi pemerintah.

15

Budi Winarno, Apakah Kebijakan Publik? dalam Teori dan Proses Kebijakan Publik,
Yogyakarta, 2002.

27

Terkait dengan unsur integrasi nasional diatas, hambatan integrasi etnis


Darfur di Sudan banyak dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan Hassan al-Bashir
dalam pembangunan wilayah Sudan. Untuk menindaklanjuti permasalah integrasi
tersebut pemerintah Sudan membuat kebijakan Five Year Strategic Plan 20072011 dan Twenty Five Year National Plan 2007-2031 untuk kebijakan jangka
panjang dalam membangun integrasi di Sudan.16 Namun, pelaksanaan kebijakan
tersebut di Darfur mengalami diskriminasi, contohnya pemerintah tidak
memenuhi kebutuhan masyarakat Darfur dalam hal pembangunan infrastruktur
yang masih sangat minim dibandingkan wilayah lainnya disudan, pembatasan
pengairan di Darfur sehingga masyarakat di Darfur kesulita untuk bertani dan
bertenak karena kekurangan air sehingga membuat masyarakat Darfur tetap
memberontak terhadap pemerintah Sudan yang menyebabkan konflik terus
berlangsung sampai dengan sekarang.
Secara geografis, Darfur memang memiliki topografi wilayah yang kering.
Pembangunan di wilayah ini tidak sepesat wilayah Sudan Timur dan Tengah. Dari
tahun 1980-an hingga 2012 laju pertumbuhan infrastruktur hanya sekitar 4-6%
pertahun, sedangkan wilayah Sudan Timur dan Tengah dapat mencapai 26-28%
pertahun.17
Kemudian diskriminasi pemerataan pembangunan lainnya berkaitan
dengan ketersediaan layanan-layanan masyarakat yang ternyata tidak memadai.
National Five-Year Strategic Development Plan (2007-2011) and Twenty Five Year National
Strategy (2007-2031), dalam http://webapps01.un.org/nvp/indpolicy.action?id=1561 diakses
pada tanggal 1 April 2015
17
Conflict
of
National
Identity
in
Sudan,
dalam
https://helda.helsinki.fi/bitstream/handle/10138/30239/conflict.pdf, diakses pada tanggal 11 April
2015.
16

28

Dari seluruh wilayah Darfur hanya tersedia dua, yaitu di Nayla dan Al-Fashir. Hal
yang sama juga terjadi pada akses pendidikan dan lain-lainnya.18 Inilah yang
menyebabkan hambatan bagi integrasi nasional Darfur di Sudan.
Jika dikaitkan dengan kasus faktor-faktor yang menjadi penghambat
integrasi nasional di Sudan, terkait dengan konflik etnis di Darfur tahun 20102014 maka faktor yang relavan adalah lemahnya ikatan sosial dan ekonomipolitik formal dari pelaksanaan kebijakan di Sudan dan sulitnya pembauran suku
bangsa antara Arab Sudan dan masyarakat Darfur.
Faktor penghambat integrasi di Sudan berkaitan dengan lemahnya ikatan
sosial dan ekonomi-politik formal. Pasca hilangnya pendapatan minyak karena
pemisahan Sudan Selatan, ekonomi Sudan mengalami kontraksi sebesar 3,3%
pada tahun 2011 dan jatuh lebih jauh 11% pada tahun 2012. Defisit fiskal secara
keseluruhan diperkirakan akan meningkat menjadi 3,7% pada tahun 2012.
Persoalan krusial terkait masalah internal Sudan yang tidak dapat di selesaikan
oleh pemerintah menggeser loyalitas masyarakat Darfur untuk memisahkan diri
dari Sudan. Kemampuan Pemerintah untuk mendukung pemulihan dan
rekonstruksi di Darfur dari sumber daya sendiri tidak berjalan efektif, baik makro
dan konteks regional yang memprihatinkan.19
Pasca ekonomi di Sudan yang mengalami penurun karena pemisahan
sudan selatan , pemerintah membuat berbagai kebijakan untuk membangun
18

Ibid.

Lost oil billions leave Sudans economy reeling, dalam


http://www.alarabiya.net/articles/2012/02/26/197021.html , diakses pada tanggal 12 maret 2015.
19

29

kembali ekonomi dan mengurangi konflik yang terus berlanjut di Sudan,


khususnya di Darfur yang terus malancarkan ekspansi terhadap pemerintah.
Wilayah Darfur memiliki potensi pertanian yang menyumbang sekitar 41%
terhadap GDP Sudan dan 80% dari nilai ekspor Sudan, tapi pemerintah
melaksanakan kebijakan yg diskriminatif dalam hal pengairan yang membatasi
pengairan di Darfur hanya 12 miliar meter kubik, sementara kebutuhan di Darfur
18,5 miliar meter kubik.20 Darfur merupakan daerah kering yang minim sekali
infrastruktur dan wilayah kering, hal ini lah yang harus dipertimbangkan oleh
pemerintah dalam hal ekonomi politik di Sudan.
Suku bangsa merupakan hal yang sensitif di negara-negara Afrika,
termasuk Sudan. Sejak dekade 1980-an, sebelum terjadi konflik masyarakar
Darfur dan Arab hidup berdampingan, islam menyebar luas di wilayah Darfur, hal
ini dibuktikan dengan penggunaan bahasa Arab di Darfur dan banyaknya masjidmasjid yang di bangun bersama di Darfur yang membuktikan pembauran dan
ikatan sosial antara dua etnis ini sangat kuat. Pasca konflik etnis yang terjadi di
Darfur ikatan sosial antara etnis Darfur dan etnis Arab menjadi lemah karena
terjadi konflik yang terus berlanjut, penghancuran masjid-masjid yang dahulu
dibangun bersama, etnis arab melakukan genosida terhadap etnis Darfur, etnis
Arab juga mencemari sumber air etnis Darfur dan Zaghawa dengan bangkai
hewan dan bangkai manusia.21

Muddathir Ali Ahmed,Irrigation Management In Sudan dalam


http://publications.iwmi.org/pdf/H021882.pdf, diakses pada tanggal 1 Juni 2015.
21
Darfur Conflict, dalam http://www.trust.org/spotlight/Darfur-conflict, diakses pada tanggal 15
April 2015.
20

30

Hal ini membuktikan pembauran sosial yang tidak efektif. Inilah yang
kemudian menyebabkan wilayah Darfur menjadi berbeda dengan wilayah-wilayah
lainnya di Sudan, khususnya Sudan Tengah dan Barat. Wilayah ini dihuni oleh
etnis Mashalit, Zaghawa, Fur, Daju, Tama Erenga dan beberapa etnis lainnya
yang diperkirakan berasal dari Afrika. Di lain pihak, mayoritas etnis Sudan yaitu
Arab Sudan merupakan etnis yang berbeda dan keberadaannya berupaya
menunjukkan superioritasnya dibandingkan suku bangsa lain di Sudan.

E. Argumen Pokok
Dari permasalahan yang ada, kemudian didukung oleh kerangka pemikiran
yang telah ditetapkan, maka dapat ditarik argumen pokok bahwa faktor-faktor
yang menjadi penghambat integrasi nasional di Sudan, terkait dengan konflik
etnis di Darfur tahun 2010-2014 adalah:
a.

Pelaksanaan Kebijakan ekonomi politik sudan yang diskriminatif dalam


hal pengelolaan sumber daya alam dan pemerataan pembangunan.

b.

Lemahnya ikatan sosial masyarakat Sudan, terutama antara etnis mayoritas


Sudan Arab (Arabic Sudanese) dengan masyarakat Darfur (ethnic of Fur)
di Sudan.

31

F. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini berkaitan dengan
sifat data yang sekunder yaitu metode

penelitian kualitatif. Sementara teknik

pengumpulan data yang dipergunakan adalah studi kepustakaan (library


research), yaitu menggunakan sumber kepustakaan yang penting karena
didalamnya terdapat kondensasi (kumpulan) dari sebagian terbesar penyelidikan
yang pernah dilakukan orang.22
Teknik analisis data yang digunakan didalam penelitian ini adalah
deskriptif kualitatif yang dimaksudkan untuk menggambarkan situasi yang
dipandang relevan secara obyektif dan jelas atas dasar fakta-fakta yang terjadi
untuk kemudian diambil kesimpulan yang merepresentasikan berbagai hal yang
berhubungan dengan hambatan integrasi nasional di Sudan, terkait dengan konflik
etnis di Darfur tahun 2003-2014.
Data-data yang telah dikumpulkan merupakan data-data sekunder, yang
artinya dalam penulisan ini penulis tidak menjalankan observasi (penelitian)
langsung namun lebih mengacu pada sumber-sumber yang telah ada, yang diolah
melalui studi kepustakaan (library research). Data-data dikumpulkan dan diolah
melalui buku, surat kabar dan internet.

G. Tujuan Penelitian

22

Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar Metode Teknik, Tarsito, Bandung,
1989, hal.140-141.

32

Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui tentang faktorfaktor penghambat integrasi nasional di Sudan, terkait dengan konflik etnis di
Darfur tahun 2010-2014.

H. Jangkauan Penelitian
Penelitian ini mengambil kurun waktu mulai dari Tahun 2010-2014.
Dipilih tahun 2010 karena menjadi tahun yang menunjukkan terpilihnya kembali
Hassan Omar al-Bashir sebagai presiden Sudan melalui kemenangan Partai
Kongres Nasional pada 15 April 2010 yang kemudian menjadi tolak ukur
kebijakan pemerintah Sudan dalam menangani konflik Darfur. Sedangkan tahun
2014 merupakan periode akhir yang menunjukkan kegagalan integrasi nasional di
Sudan, terkait dengan isu Darfur. Jangkauan di luar periode tahun tersebut sedikit
diuraikan selama masih ada keterkaitan dan kerelevanan dengan tema yang
sedang dibahas.

I. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dalam penelitian ini terdiri dari lima bab, yaitu:
Bab I merupakan bab pendahuluan yang terdiri dari alasan pemilihan
judul, latar belakang masalah, rumusan masalah, kerangka pemikiran, argumen
pokok, metode penelitian, tujuan penelitian, jangkauan penelitian dan sistematika
penulisan.
33

Bab II merupakan bab yang membahas tentang latar belakang konflik


Darfur di Sudan, gambaran umum sosial-politik Sudan, krisis Darfur di Sudan dan
Disintegrasi nasional di Sudan.
Bab III merupakan bab penjelasan argumen pokok yang membahas
tentang faktor penghambat yaitu Pelaksanaan Kebijakan ekonomi politik sudan
yang diskriminatif dalam hal pengelolaan sumber daya alam dan pemerataan
pembangunan.
Bab IV merupakan bab penjelasan argumen pokok yang membahas
tentang lemahnya ikatan sosial masyarakat Sudan, terutama antara etnis mayoritas
Sudan Arab (Arabic Sudanese) dengan masyarakat Darfur (ethnic of Fur) di
Sudan.
Bab V merupakan bab yang berisi kesimpulan yang berisi tentang
rangkuman dari bab-bab sebelumnya.

34

BAB II
BIDANG SOSIAL-POLITIK SUDAN, KRISIS DARFUR DAN
DISINTEGRASI NASIONAL

Sudan merupakan salah satu negara di wilayah Afrika yang pada periode
2010-2014 menghadapi berbagai persoalan keamanan, diantaranya adalah konflik
Darfur. Konflik ini pertama kali mengemuka pada tahun 2003 dan hingga akhir
tahun 2014 belum dapat terselesaikan secara mendasar oleh pemerintah Sudan,
dibawah kepemimpinan Omar Hassan al-Bashir.
Dalam perkembangannya krisis Darfur bukan hanya berdampak pada
kerugian fisik dan jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar, namun juga
menimbulkan potensi integrasi nasional di Sudan. Hal ini disebabkan karena
berlarut-larutnya konflik dan momentum referendum kemerdekaan Sudan Selatan
pada tahun 2011 yang mampu mengobarkan semangat kelompok pejuang anti
pemerintah. Pada bab II ini akan diuraikan lebih lanjut tentang gambaran umum
bidang sosial-politik Sudan, krisis Darfur dan potensi kegagalan integrasi nasional
di Sudan.

A. Sosial-Politik Sudan
Sudan memiliki Nama resmi Republik Sudan. Negara ini merdeka pada
tanggal 1 Januari 1956. Model pemerintahannya adalah pemerintahan provisional
(sementara) yang didirikan oleh Comprehensive Peace Agreement pada Januari
2005 yang menyediakan pembagian kekuatan pemerintahan dengan bekas
35

pemberontak selatan hingga pemilihan nasional dilaksanakan antara pertengahan


2007 hingga pertengahan 2008. Hasil dari Comprehensive Peace Agreement
tersebut menghasilkan The Interim National Constitution 2005 di Sudan yang
menjadi pedoman utama dalam menjalakan pemerintahan dalam mengurangi
konflik berkepanjangan yang terjadi di Sudan termasuk di Darfur dan Sudan
Selatan.

36

23

A.1 Politik-Pemerintahan
Dalam bidang politik-pemerintahan Sudan, terdapat sejumlah partai politik
baik di bagian utara maupun selatan. Namun, semua partai politik tersebut
kemudian dilarang, kecuali partai National Islamic Front (NIF) pada 30 Juni 1989
karena terjadi perampasan kekuasaan oleh Brigjen Omar Hasan Al Bashir. Kudeta
tersebut dikenal dengan nama Revolusi Penyelamatan Nasional.
Konstitusi yang diterapkan di Sudan adalah Sudanese Constitution 1998
yang melegalkan pembentukan partai-partai politik dengan prasyarat tidak
menentang pemerintah dan tidak melakukan tindak kekerasan. Lebih dari 30 partai
terdaftar, namun yang terbesar diantaranya adalah National Congress Party (NCP)
dibawah kepemimpinan Presiden Al Bashir dan Sekretaris Jendral Ibrahim Ahmad
Umar. Selain itu juga ada Popular National Congress (PNC) dipimpin oleh
Osman al Mirghani dan Umma Party (UP) dipimpin oleh Sadiq al Mahdi. Selain
itu, juga terbentuk sebuah aliansi nasional yang beranggotakan beberapa partai
oposisi dengan nama National Democratic Alliance (NDA) dipimpin Osman al
Mirghani. Diantara anggotanya terdapat Sudan Peoples Liberation Army (SPLA)
dibawah pimpinan Kolonel John Garang dan Sudan Peoples Liberation
Movement (SPLM) dibawah pimpinan Mansour Khalid. SPLM adalah sayap
politik dari SPLA.24

Sudan Country Profile, dalam http://www.bbc.co.uk/news/world-africa-14094995, diakses


pada tanggal 22 Februari 2015.
23

24

Ibid.

37

Presiden merupakan pemegang otoritas sistem pemerintahan Eksekutif,


yang juga merupakan perdana menteri, kepala pemerintahan, dan panglima
angkatan bersenjata. Pada 9 Juli 2005, sistem pemerintahan Eksekutif ini juga
terdiri dari wakil presiden pertama dan kedua. Sesuai dengan yang telah
ditetapkan oleh Comprehensive Peace Agreement (CPA), posisi wakil presiden
pertama diduduki oleh seseorang yang dipilih oleh Sudan Peoples Liberation
Movement (SPLM).25
Sudan memiliki The National Assembly, merupakan majelis rendah yang
memiliki 450 kursi dan majelis tinggi yaitu Council of State (Dewan Negara) yang
memiliki 50 kursi. Pada pemilihan tahun 2010 di Sudan Beberapa partai politik
menempati kursi pemerintahan di Majelis Tinggi dan Majelis Rendah akan
ditunjukkan pada tabel dibawah ini :26

Sudanese Politic, dalam http://www.economist.com/topics/sudanese-politics, diakses pada


tanggal 22 Februari 2015.
26
sudan country profile dalam https://www.google.co.id/?gws_rd=cr&ei=161jVdPwFIawuAT2YHwCw, diakses pada tanggal 20 juni 2015.
25

38

Tabel 2.1.
Majelis Rendah di Sudan Tahun 2010-2015
No.

Partai Politik

Jumlah Keterangan

1.

National Congress Party (NCP)

323

Pemenang

2.

Sudan Peoples Liberation Movement (SPLM)

99

Oposisi

3.

Peoples Congress Party

Koalisi

4.

Democratic Unionist Party

Koalisi

5.

Federal Umma Party

Koalisi

6.

Umma Party For Reform And Development

Koalisi

7.

Democratic Unionist Party

Koalisi

8.

Sudan Peoples Liberation Movement Democratic


change
Umma Collective Leadership

Oposisi

Koalisi

10. National Umma Party

Koalisi

11. Umma Party

Koalisi

12. Muslim Brotherhood

Koalisi

13. Independent

Koalisi

9.

Kekosongan

Total

450

Sumber: Republic of sudan dalam http://www.electionguide.org/elections/id/2804/, diakses


pada tanggal 20 juni 2015.

Dari tabel 2.1. The National Assembly yang berjumlah 450 kursi diatas
NCP

merupakan partai tekuat yang menempati 323 kusi legislatif di Sudan.


39

Partai-partai lainnya merupakan partai islam di Sudan yang berkoalisi dengan


NCP, kecuali partai SPLM dan SPLM-Democratic Change yang merupakan partai
non-Arab yang merupakan partai oposisi yang memiliki jumlah 101 kursi legislatif
di Sudan.

Table 2.2.
Majelis Tinggi di Sudan tahun 2010-2015
No.

Partai Politik

Jumlah

1.

National Congress Party

25

2.

Sudan Peoples liberation Movement

21

Kekosongan

Total

50

Keterangan
Partai pemenang
Oposisi

Sumber: Republic of sudan dalam http://www.electionguide.org/elections/id/2804/, diakses


pada tanggal 20 juni 2015.

The Council of State merupakan majelis tinggis di parlemen Sudan.


Terdapat dua partai politik yaitu NCP dan SPLM yang anggotanya dipilih
berdasarkan Interim Constitution 2005 yang membagi menjadi dua bagian yang
secara resmi mengakhiri perang saudara antara Khaortum dan Sudan selatan.
Dewan Negara memiliki 50 anggota yang secara tidak langsung dipilih oleh
legislatif Negara dengan masa jabatan enam tahun.27
Dari tabel Majelis Rendah (The National Assembly) dan Majelis tinggi
(Council of State) pada tahun 2010-2015 National Congress Party merupakan
Sudan majis Watani, dalam http://www.ipu.org/parline-e/reports/2297.htm , diakses pada
tanggal 22 Feburuari 2015.
27

40

partai yang menguasai kursi terbanyak dalam dunia perpolitikan di Sudan.


Majelis Tinggi di Sudan terdiri dari dua wakil yang ditunjuk dari setiap 26
provinsi. Pada bidang peradilan, Sudan memiliki pengadilan tinggi, Menteri
Kehakiman, pengacara umum, dan pengadilan umum atau khusus. Di bidang
divisi sub-administratif, tiap provinsi dikepalai oleh seorang gubernur yang
ditunjuk oleh presiden bersama dengan kabinet negara dan majelis legislatif
negara.28
Pada negara yang menggunakan sistem republik, fungsi presiden sebagai
kepala negara memiliki peranan yang vital yang berpengaruh terhadap arah
kemajuan suatu negara. Hal ini ternyata juga berlaku bagi Sudan. Omar Hassan
Ahmad al-Bashir merupakan presiden Sudan yang terpilih melalui Partai Kongres
Nasional dan resmi memimpin Sejak 16 Oktober 1993 menggantikan Ahmed alMirghani. Sebelum berhasil menjabat sebagai presiden Hassan al-Bashir
merupakan perdana menteri Sudan pada periode 30 Juni 1989 hingga 16 Oktober
1993.29
Omar Hassan al-Bashir merupakan figur pemimpin asli Sudan yang lahir
di Hosh Hannaga sebuah kota kecil yang terletak beberapa kilometer dari ibukota
Khourtum pada 1 Januari 1944, yang memiliki dua istri sekaligus masing-masing
Fathima Khalid dan Widad Babiker Omer. Sebelum terjun di arena politik Hassan

Sudan Legislative Branch, dalam http://www.indexmundi.com/sudan/legislative_branch.html,


diakses pada tanggal 22 Februari 2015.
29
Kenneth
Ingham,
Omar
Hassan
al-Bashir,
dalam
http://www.britannica.com/EBchecked/topic/54890/Omar-Hassan-Ahmad-al-Bashir, diakses pada
tanggal 22 Februari 2015.
28

41

al-Bashir merupakan tentara Angkatan Darat Sudan dengan pangkat bintara


(setingkat sersan) sejak tahun 1960.
Karir politiknya sebagai presiden Sudan, bukan diperoleh oleh Hassan alBashir secara konstitusional (berdasar pada ketentuan perundang-undangan yang
ada) dan demokratis, namun melalui tindakan kudeta berdarah yang dijalankannya
pada 30 Juni 1989. Keberhasilannya dalam menjalankan kudeta tidak lepas dari
kondisi Sudan pada masa itu berada pada kondisi yang kurang stabil.30
Meskipun

pada

mulanya

Omar

Hassan

Al-Bashir

mendapatkan

kekuasaannya secara populer, namun dalam perkembangannya Hassan Al-Bashir


mampu menjalankan sistem politik dan pemerintahan di Sudan secara efektif.
Sehingga dalam pelaksanaan pemilu tahun 2000 Hassan al-Bashir kembali
dipercaya oleh rakyat Sudan untuk memimpin negaranya dengan perolehan suara
yang mutlak. Omar Hassan Al-Bashir juga tetap menjaga eksistensi nya di Sudan
dengan menjabat Presiden di sudan sampai dengan tahun 2015.

A.2. Sosial-Ekonomi
Pertumbuhan penduduk merupakan salah satu faktor yang penting dalam
masalah sosial ekonomi umumnya dan masalah penduduk pada khususnya.
Karena di samping berpengaruh terhadap jumlah dan komposisi penduduk juga
akan berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi suatu daerah atau negara
maupun dunia. Penduduk merupakan faktor yang penting dalam pencapaian tujuan

30

Ibid.

42

pembangunan nasional diatara beberapa modal dasar tersebut, karena peranan


penduduk yang sangat dominan. Populasi penduduk di Sudan juga terus
mengalami peningkatan sejak tahun 2005-2014 yang akan ditunjukkan pada grafik
dibawah ini :

Grafik 2.1.
Grafik Pertumbuhan Penduduk di Sudan pada tahun 2005-2014

Sumber: Sudan Population Forecast, dalam http://countrymeters.info/en/Sudan, diakses pada


tanggal 20 juni 2015.

Dari grafik 2.1. tersebut dijelaskan bahwa pertumbuhan penduduk tersebut


berdasarkan hitungan per juta jiwa, yang disensus setiap setahun sekali oleh
pemerintah Sudan. Dapat dilihat sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2014
pertumbuhan penduduk di Sudan mencapai 8 juta jiwa, yaitu dari jumlah 30,78
juta pada tahun 2005 dan 37,96 juta jiwa pada tahun 2014. Dengan angka
kelahiran sebesar 34,31 kelahiran/1.000 jumlah penduduk dan kematian sekitar
13,64 kematian/1.000 jumlah penduduk.
43

Penduduk Sudan berasal dari berbagai macam kelompok etnis yang


berbeda, yaitu etnis Afrika, Arab, Beja, Fur dan lain-lain. Penduduk di wilayah
utara Sudan mayoritas memeluk agama Islam, agama Kristen dan kebanyakan
berdomisili di selatan Sudan, sementara

penduduk lainnya masih memegang

teguh kepercayaan asli seperti animism dan dinamisme. Sebagian besar


masyarakat Sudan berbahasa Arab, disamping masih juga menggunakan bahasa
suku mereka seperti Nubian, Beja, Ta Bedawie, Fur, Nuban, dan juga dialek
Nilotic dan Nilo-Hamitic.31
Perekonomian Sudan juga meningkat seiring dengan tingginya produksi
minyak dan harga minyak yang kian melambung tinggi dan mengalami kontraksi
pada tahun 2009 yang dapat kita lihat pada grafik Gross Domestic product (GDP)
pada tahun 2005-2010 dibawah ini :
Grafik 2.2.
Gross Domestic Product (GDP) sudan Tahun 2005-2010

Sumber: Sudan GDP Annual Growth Rate dalam http://www.tradingeconomics.com/sudan/gdpgrowth-annual, diakses pada tanggal 20 juni 2015.

Demography and Population of Sudan, dalam http://www.slideshare.net/RCRU/demographyand-population-of-sudan, diakses pada tanggal 22 Februari 2015.
31

44

Dari grafik 2.2 tersebut dijelaskan bahwa pertumbuhan Gross Domestic


Product (GDP) tersebut berdasarkan hitungan per juta US dollar. Pertumbuhan
ekonomi di sudan pada tahun 2005-2010 mengalami kontraksi di tahun 2009 dan
kembali meningkat pada tahun 2010.
Namun, konflik internal yang menimbulkan perang saudara selama dua
dekade di selatan meningkatkan garis kemiskinan pada pendapatan perkapita
masyarakat Sudan. Selain minyak, hasil hasil pertanian juga merupakan sumber
penting dari perekonomian masyarakat Sudan. Kapas dan wijen menghasilkan
hampir dari setiap pendapatan ekspor, selain itu Sudan juga merupakan negara
pengekspor bahan makanan seperti padi-padian, gandum, dan kacang-kacangan
dan juga hasil peternakan ke Mesir, Arab Saudi, dan negara-negara Arab lainnya.
Walaupun demikian, pertanian Sudan masih memiliki masalah irigasi dan
transportasi yang sangat mengganggu kedinamisan perekonomian.32
Eksplorasi minyak bumi dimulai pada pertengahan tahun 1970an dan
menutupi seluruh keperluan energi dan ekonomi masyarakat Sudan. Jumlah
minyak mulai dikomersialkan untuk kepentingan ekspor pada Oktober 2000
sehingga mengurangi impor bahan bakar minyak. Daerah yang diindikasikan
memiliki sumber minyak potensial di Sudan selatan adalah daerah Kordofan dan
propinsi Laut Merah.
Menurut data tahun 2010, Sudan memproduksi minyak sekitar 401.000
barel setiap hari yaitu sekitar 1,9 miliar dollar. Dengan adanya resolusi 21 tahun
perang saudara, masyarakat Sudan kini dapat memperoleh keuntungan dari
Sudan Economy, Politic and GDP Growth Summary, dalam http://country.eiu.com/sudan,
diakses pada tanggal 22 Februari 2015.
32

45

sumber daya alammya, membangun kembali infrastrukturnya, menaikkan


produksi minyak, dan dapat mencapai jumlah ekspor yang potensial.33
Menurut sejarah, negara-negara seperti Amerika, Belanda, Italia, Jerman,
Arab Saudi, Kuwait dan negara-negara pengekspor minyak lainnya (OPEC) telah
menyediakan bantuan ekonomi ke Sudan. Peran Sudan sebagai mata rantai
ekonomi antara Arab dan negara-negara di Afrika direfleksikan dengan
munculnya Arab Bank for African Development yang berada di Khartoum.

B. Krisis Darfur
Darfur, dalam bahasa Arab berarti Tanah orang Fur terletak di sebelah
barat Republik Sudan. Mayoritas masyarakat Fur adalah orang-orang muslim nonArab. Mata pencaharian penduduknya adalah penggembala ternak yang sebagian
besar adalah orang etnis Arab, dan petani yang didominasi oleh penduduk asli
Afrika. Secara geografis, letaknya jauh dari ibu kota, Khartoum. Hal ini
menyebabkan Darfur menjadi daerah yang terbelakang di Sudan.34
Sebelum merdeka dari jajahan Inggris, sistem pemerintahan Sudan adalah
sistem pemerintahan lokal yang melibatkan pemimpin-pemimpin suku dalam
pemerintahan lokal. Hal ini menyebabkan wilayah Darfur terabaikan dan semakin
terpuruk dalam kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur. Keterpurukan ini terus
berlanjut hingga Sudan merdeka pada tahun 1956.35

33

Ibid.
Michele
Lernt
Hirsch,
Darfur
Sudan,
dalam
http://www.womenundersiegeproject.org/conflicts/profile/darfur-sudan, diakses pada tanggal 22
Februari 2015.
34

35

Ibid.

46

Warisan pemerintahan kolonial masih sangat melekat dan mengakar di


pemerintahan Sudan seperti Praktek diskriminasi, baik berdasarkan etnis maupun
agama. Pemerintahan sangat didominasi oleh kaum Arab yang merupakan kaum
minoritas di negara Sudan, kaum pribumi atau kaum asli Afrika kurang
mendapatkan tempat di perpolitikan dan pemerintahan Sudan. Selain itu juga
pengaruh kolonial masih sangat kuat pada sistem ekonomi Sudan, dimana
pembangunan ekonomi hanya berpusat di sebelah utara Khartoum. Wilayah
Selatan dan Barat yang banyak memiliki sumber daya alam yang melimpah seperti
minyak bumi, gas alam, emas, besi, perak, kronium, marmer, granit, tembaga,
uranium, seng, nikel dan juga timah serta hasil-hasil pertanian seperti kapas, padi,
dan rempah-rempah tidak mendapatkan manfaat dari sumber daya alam yang
mereka miliki sehingga menyebabkan perekonomian wilayah Selatan dan Barat
sangat memprihatinkan.36
Hal ini memang sudah terjadi, bahkan sebelum Sudan memerdekakan diri
dari Inggris. Sebelum Inggris memberikan kebebasan pada Sudan, Orang-orang
Arab-muslim sudah terlalu dekat dengan pemerintah kolonial Inggris. Sehingga
tak heran rasanya, jika selepas kepergian Inggris, orang-orang Arab itulah yang
kemudian dominan dan meneruskan pemerintahan yang bentuknya tak jauh
berbeda dengan pemerintahan kolonial.
Hal inilah yang kemudian harus digarisbawahi dalam proses inter-regional
yang ada di Sudan. Sebagaimana dalam pemerintahan kolonial, di Sudan, ada

Sudan Has Large Reserves of Various Mineral: report, dalam


www.sudantribune.com/spip.php?article52665, diakses pada tanggal 13 Maret 2015.
36

47

kesenjangan antara mereka yang di Utara dan yang ada di Selatan. Mereka yang
berasal dari Utara dan dekat dengan pemerintahan, selalu mengutamakan
kepentingan pribadi dan kelompoknya. Dan membuat jurang pembeda dengan
mereka yang ada di Selatan, termasuk orang-orang Darfur. Darfur, meski kaya
akan sumberdaya alam, wilayah itu hanya dijadikan objek untuk menguruk
keuntungan orang-orang Arab yang dominan dalam pemerintahan.
Dominasi Arab ini juga bisa pandang karena Inggris tak mau melepaskan
Sudan begitu saja. Setelah mereka pergi, mereka kemudian menggantikan pejabatpejabat

pemerintahnya

dengan

orang-orang

Sudan.

Sedangkan

sistem

pemerintahannya tetap saja sama yaitu mengeruk kekayaan dari selatan, lalu
memajukan kawasan utara. Penerapkan kebijakan Closed Door, yang ditetapkan
pemerintah kolonial Inggris sejak tahun 1920-an. Pemerintah kolonial Inggris
memberikan batasan yang tegas antara orang-orang utara dengan orang-orang
selatan. Orang utara tidak boleh bepergian ke selatan dan begitu juga sebaliknya.
Dengan demikian, dapat dipahami, bahwa proses penyatuan Sudan memang
berjalan lambat dan penuh ketimpangan.37
Pemerintah Sudan, pada tahun 1946, sudah menyadari bahwasanya
kesenjangan antara utara dan selatan akan berpotensi menyulut konflik. Oleh
karena itu pada tahun tersebut pemerintah Sudan kemudian membuat kebijakan
Sudan Administrative Conference (SAC) untuk memangkas kesenjangan antara
utara dan selatan. Dimana dalam kebijakan tersebut, pemerintah Sudan telah

David de Chand, The Source of Conflict between the North and South in Sudan, sebuah paper
presentasi yang dipresentasikan di the Fifth International Converence of Sudan Studies, University
of Durham, 30 Agustus-1 September 2000.
37

48

menghapuskan kebijakan Closed Door, sehingga baik masyarakat sudan utara dan
selatan bisa bebas berinteraksi.38
Pada Juli 2003, Sudan Liberation Movement / Army (SLM/A) dan Justice
and Equality Movement (JEM) mengangkat senjata melawan pemerintah pusat.
Kelompok ini terdiri dari petani agraris yang kebanyakan adalah orang muslim
Afrika non-Arab. Anggota SLM adalah orang-orang Fur, Masalit serta suku Wagi
Zaghawa, sedangkan anggota JEM adalah orang-orang dari suku Kobe Zaghawa.
Mereka menuntut penghentian kekejaman yang dilakukan oleh milisi Arab
terhadap penduduk etnis Afrika serta marginalisasi politik dan ekonomi di Darfur.
Setahun setelah itu, pemimpin kedua kelompok pemberontak itu bersama-sama
dengan pemerintah Sudan serta wakil dari komunitas internasional berdiskusi di
Genewa (swiss) untuk mencari jalan mengatasi krisis kemanusiaan yang telah
terjadi.39
Dalam

rangka

memberikan

perlawanan

terhadap

pergerakan

pemberontakan (NRF), pemerintah Sudan menambah pasukan tentara dan


mendukung penduduk lokal untuk membentuk suatu kelompok yang dikenal
sebagai Janjaweed atau Iblis berkuda. Anggotanya sebagian besar adalah
orang-orang Arab di Afrika yang mayoritas adalah peternak. Pemerintah, yang
mendukung Janjaweed menuduh penduduk Non-Arab melakukan pelanggaran
hak asasi manusia (HAM) antara lain pembunuhan massal (genosida),

Ylonen, Alexi, Southern Sudan and Darfur, dalam http://www.brad.ac.uk/ssis/peace-conflictand-development/issue-7/Roots-of-insurgences.pdf, diakses pda tanggal 9 Mei 2015
39
Darfur Conflict, dalam
http://www.trust.org/spotlight/Darfur-conflict, diakses pada tanggal 22 Februari 2015.
38

49

perampokan dan pemerkosaan di Darfur. Kasus ini telah menambah panjang


daftar kekerasan konflik Darfur hingga akhir tahun 2014.40
Pada dasarnya konflik Darfur terbagi dalam beberapa periode konflik
(timeline) yang dapat dilihat pada tabel 2.3. dibawah ini :

Tabel 2.3.
Periode (Timeline) Konflik Darfur di Sudan
Periode 2003-2014
No
1.

Periode
26 Februari 2003

Keterangan
Penyerangan pertama kali oleh pihak faksi
Darfur Liberation Front (DLF) di wilayah
Golo.

2.

23 Maret 2003

Bentrokan antara pasukan pemerintah dan NRF


di wilayah Chad.

3.

5 April 2005

Pembicaraan/negosiasi antara pasukan anti


pemerintah dan pemerintah Sudan di
NDjamena.

4.

5 Mei 2006

Diratifikasinya perjanjian damai


Darfur Peace Agreement.

5.

31 Agustus 2006

Dewan Keamanan PBB (UNSC) mengeluarkan


Resolusi No 1706.

6.

15 April 2007

7.

20 Mei 2008

Dibentuknya Save Darfur Coalition atas


prakarsa Gubernur New Mexico, Bill
Richardson.
Terjadinya arus pengungsi besar-besaran ke
wilayah Chadian.

8.

4 Maret 2009

40

International
Criminal
Court
(ICC)
mengeluarkan surat penangkapan terhadap
Omar Al Bashir karena kampanye pembunuhan
massal, pemerkosaaan, dan penjarahan terhadap
warga sipil Darfur

Ibid.

50

9.

26 April 2010

Terpilihnya kembali presiden Omar Al Bashir


sebagai presiden di Sudan.

10.

Juli 2011

Pemberontak
dan
pemerintah
Sudan
menandatangani perjanjian damai di Doha
Qatar dan menghasilkan Doha Agreement.

11.

1 Oktober 2012

Konflik di Darfur semakin meluas, pemerintah


memperluas serangan udara di timur Jabel
Marra dan di wilayah Darfur lainnya.

12.

27 April 2013

Berhasil dialokasikan bantuan anggaran


pembangunan sebesat 3,6 juta US Dollar untuk
pembangunan Darfur dari Konferensi Doha.

13.

19 Maret 2014

Terjadi kasus pembakaran dan penyerangan di


wilayah El-Fasher, dimana pada saat yang sama
UNAMID telah bekerja atas dibawah resolusi
Dewan Keamanan PBB.

Sumber : Darfur Conflict Timeline, dalam http://darfurdreamteam.org/the-crisis/timeline,


diakses pada tanggal 22 Februari 2015.

Dari tabel diatas dapat kita lihat konflik sipil di Darfur dimulai pada tahun
2003 oleh faksi pemberontak DLF di kota golo dengan menyerang kantor-kantor
kepolisian Sudan, kemudian konflik terus berlanjut hingga tahun 2014. DK PBB
mengeluarkan resousi konflik dua kali dalam konflik darfur, ICC mengeluarkan
surat atas penangkapan Omar Hassan Al Bashir, terealisasi nya perjanjian damai
di Doha, Qatar antara pemerintah dan pemberontak Darfur, tetapi eskpansi konflik
terus berlanjut.
Berbagai aksi penyerangan oleh Janjaweed yang sering mendapat bantuan
langsung dari pemerintah Sudan, telah menyebabkan sepuluh ribu kematian di
Darfur, dan lebih dari dua juta pengungsi yang mengungsi ke negara tetangga,
Chad. Banyak anak-anak Darfur, meskipun tinggal di kampkamp pengungsi,
51

mengalami kekurangan gizi dan kelaparan hingga mati. Pekerja sosial di Darfur
menyangkal adanya akses bantuan di beberapa tempat di Darfur. Hal ini
dikarenakan bahwa pemerintah Sudan menolak semua kekuatan PBB memasuki
Sudan. Inilah yang kemudian menyebabkan berkepanjangannya krisis Darfur
hingga akhir tahun 2014.

C. Disintegrasi Nasional di Sudan


Berlarut-larutnya krisis Darfur sejak tahun 2003 hingga akhir 2014
menunjukkan bahwa kasus ini telah mengarah pada kegagalan integrasi nasional.
Dikesampingkannya inisiatif-inisiatif perdamaian (peacemaking) dari aktor-aktor
regional dan internasional oleh pemerintah pusat inilah yang kemudian membuat
proses integrasi nasional di Sudan menjadi berjalan lamban. Hal ini juga
disebabkan dengan adanya upaya dari pemerintah Hassan al-Bashir dalam
membangun sikap dan kebencian komunal antar kelompok etnis dan masyarakat
terkait dengan krisis Darfur. Tak hanya itu, lemahnya sikap politik (political will)
dari pemerintah Sudan di bawah kepemimpinan Hassan al-Bashir dalam
membangun pendekatan-pendekatan ekonomi-politik dan pembangunan terhadap
wilayah Darfur yang cenderung tertinggal dibandingkan wilayah-wilayah di
Sudan lainnya.

52

Disintegrasi nasional Sudan berada pada puncaknya ketika negara ini


kehilangan kekuasaan atas wilayah Sudan Selatan. Pada dasarnya persoalan
tentang disintegrasi di Sudan berkaitan tiga hal penting, masing-masing yaitu:41
a.

Disintegrasi Sudan Selatan dan Sudan Utara tahun 2011 menjadi tonggak
sejarah bahwa negara secara fakta menghadapi masalah rawan perpecahan
wilayah.

b.

Sudan di tahun 2010-2014 masih menghadapi persoalan yang sama, yaitu


konflik wilayah Darfur yang dapat sewaktu-waktu dapat menjadi bom
waktu yang berpotensi melepaskan diri kedaulatan Sudan.

c.

Disintegrasi wilayah Sudan Selatan dan potensi disintegrasi Darfur


berkaitan dengan kebijakan-kebijakan dari pemerintah yang gagal
mendukung pemerataan pembangunan yang kemudian berujung pada
terjadinya konflik kepentingan dan konflik horisontal.
Konflik internal hampir terjadi di seluruh negara di dunia. Penyebab

konflik biasanya karena adanya suatu perbedaan dan diskriminasi. Begitu pula
yang terjadi di Sudan, setelah merdeka pada 1 Januari 1956, negara besar ini tak
pernah lepas dari konflik internal perebutan kekuasaan. Mulai dari konflik agama,
dimana kenyataan yang kita ketahui bahwa semua agama yang berada di dunia
mengajarkan pada setiap umatnya untuk selalu saling menghormati antar pemeluk
agama. Namun kenyataan yang terjadi di Sudan, agama sering dijadikan dalih
untuk membantai pemeluk agama yang lain. Ini juga berlaku bagi wilayah Sudan
dan Sudan Selatan.
Elwathig
Khameir,
disintegration
of
the
sudan
state,
http://www.sudantribune.com/spip.php?article45462, diakses pda tanggal 25 mei 2014
41

53

dalam

Dalam mendukung perdamaian wilayah Sudan Selatan dan Sudan Utara


berbagai usaha untuk menjalin perjanjian damai pun berusaha dilakukan.
Kemudian terbentuklah perjanjian damai pada tahun 2005 di Nairobi, Kenya,
Afrika Timur. Ada beberapa poin penting dari isi perjanjian tersebut yaitu
referendum akan dilakukan pada tahun 2011 untuk menentukan apakah wilayah
tersebut tetap wilayah Sudan atau merdeka, pembagian hasil penjualan minyak
akan dibagi rata antar wilayah Utara dan Selatan, dan Sudan Selatan tidak lagi
diwajibkan menerapkan hukum Islam.42
Dicapainya perjanjian damai tersebut sekaligus mengakhiris konflik
internal di Sudan. Perang sipil Sudan adalah perang sipil terpanjang di Afrika
bahkan mungkin dunia karena jika waktu berlangsungnya di akumulasi, perang ini
berlangsu ng selama 40 tahun lebih. Akibat perang ini, lebih dari 2 juta rakyat
Sudan harus kehilangan nyawa, sementara jumlah mereka yang harus kehilangan
harta benda dan tempat tinggal juga tak kalah banyak. Selama konflik, kedua
belah pihak juga dilaporkan merekrut anak-anak sebagai tentara. Menyusun
perjanjian damai yang dicapai tahun 2005, muncul perintah untuk mengeluarkan
anak-anak tersebut dari ketentaraan dan mengirim mereka kembali ketempat
asalnya. Pada 9 Januari 2011, referendum untuk menentukan nasib Sudan Selatan
sudah dilaksanakan.43
Hasil dari referendum tersebut adalah 90% dari rakyat Sudan Selatan
menginginkan kemerdekaan. Kemudian pada 9 Juli 2011 Sudan Selatan

James
Okuk,
National
Reconciliation
of
South
Sudan,
http://www.sudantribune.com/spip.php?mot2735, diakses pada tanggal 8 Mei 2015
43
Ibid.
42

54

dalam

dimerdekakan sebagai negara republik dengan Salva Kiir sebagai presidennya.


Masalah yang dihadapi Sudan Selatan adalah masih belum stabilnya keamanan
setempat akibat konflik-konflik kecil yang masih terjadi. Dan yang harus
dikhawatirkan Sudan Selatan adalah masalah menjaminnya keamanan dan
kemakmuran rakyat.44

Referendum hanyalah sekedar legitimasi formal. Kegagalan pemerintah


Sudan selama ini untuk memakmurkan rakyat Sudan Selatan dan perang
berkepanjangan menjadi faktor penyebab utama mulusnya disintegrasi ini akibat
campur tangan asing yang kuat, terutama Amerika Serikat dan negara-negara
Eropa. Opini internasional yang digalang oleh Barat dengan jaringan media massa
globalnya mengarah pada dukungan disintegrasi Sudan. Negara barat juga
menggunakan organisasi internasional seperti PBB dan Mahkamah Internasional
mempercepat proses pemisahan ini yang akhir nya berujung pada kemerdekaan
sudan selatan pada 9 Juli 2011. Aroma perebutan sumber-sumber ekonomi antara
negara-negara besar demikian kuat. Mengingat Sudan Selatan dikenal merupakan
daerah yang kaya minyak. Sementara di wilayah barat Sudan (Darfur) ditemukan
uranium selain gas dan emas.

Disintegrasi sudan selatan mendorong pemerintah Sudan membuat


berbagai kebijakan dalam negeri agar Darfur tidak terlepas dari sudan, seperti hal
nya Sudan Selatan. Kemudian pemerintah Sudan membuat kebijakan Five Year
Strategic National Plan 2007-2010 dan Twenty Five Year National Plan 2007Southern Sudan Referendum on Secession, dalam http://www.frontline.org.za/index.php,
diakses pada tanggal 9 Mei 2015
44

55

2031 untuk menjaga stabilitas internal di Sudan. Kebijakan merupakan hal yang
sangat penting dalam menciptakan keharmonisan bernegara, jika pelaksanaan
kebijakan tidak berjalan dengan adil maka dapat menciptakan konflik dan
disintegrasi seperti hal nya yang terjadi di Sudan. Diskriminasi oleh pemerintah
Sudan sangat dirasakan masyarakat di Darfur, terutama dalam hal pengelolaan
sumber daya alam dan infrastruktur yang merupakan faktor penyebab penyulut
konflik di Darfur.

Pada bab selanjutnya (bab III) akan diuraikan lebih lanjut tentang
pelaksanaan kebijakan yang diskriminatif sebagai faktor penghambat integrasi
nasional di Sudan periode 2010-2014.

56

BAB III
PELAKSANAAN KEBIJAKAN EKONOMI-POLITIK
DISKRIMINATIF

Keberadaan pemimpin (elit-politik) memiliki tanggung-jawab yang besar


dalam menjalankan sistem administratif kenegaraan. Selain itu, rezim juga
bertanggung-jawab dalam menjaga citra di mata publik dalam dan luar negeri
untuk menjaga legitimasi pemerintahannya. Konsep ini ternyata belum
sepenuhnya dapat dijalankan oleh pemerintah Sudan di bawah kepemimpinan
Omar Hassan al-Bashir dalam menyingkapi krisis di wilayah Darfur.
Wilayah Darfur menjadi salah satu persoalan yang masih dihadapi oleh
pemerintahan Omar Hassan al-Bashir. Persoalan ini berkembang semakin
kompleks setelah negara ini kehilangan kekuasaannya atas wilayah Sudan Selatan.
Salah satu persoalan yang menjadi penghambat integrasi nasional di Sudan,
terkait wilayah Darfur adalah adanya penghambat pada aspek ekonomi dan
politik. Gambaran tentang hal ini akan diuraikan pada BAB III sebagai berikut.

A. Kebijakan Ekonomi Politik Sudan


Keberadaan

pemerintah

memiliki

peranan

yang

penting

dalam

menjalankan kebijakan-kebijakan publik, memberikan perlindungan terhadap


masyarakat hingga menjalankan layanan-layanan kepada masyarakat secara luas.
Jika dikaitkan dengan perspektif pemerintah Sudan terhadap Darfur maka ini
berkaitan dengan posisi Hassan al-Bashir sebagai pemimpin tertinggi, baik
57

sebagai pemimpin kabinet ataupun angkatan bersenjata dan juga kepolisian


nasional Sudan.
Omar Hassan al-Bashir merupakan presiden Sudan yang terpilih melalui
Partai Kongres Nasional dan resmi memimpin sejak 16 Oktober 1993
menggantikan Ahmed al-Mirghani.45 Karir politiknya sebagai presiden Sudan,
bukan diperoleh oleh Omar Hassan al-Bashir secara konstitusional (berdasar pada
ketentuan perundang-undangan yang ada) dan demokratis, namun melalui
tindakan kudeta berdarah yang dijalankannya pada 30 Juni 1989. Keberhasilannya
dalam menjalankan kudeta tidak lepas dari kondisi Sudan pada masa itu berada
pada kondisi yang kurang stabil.
Meskipun

pada

mulanya

Omar

Hassan

al-Bashir

mendapatkan

kekuasaannya secara Kudeta militer, namun dalam perkembangannya Hassan alBashir mampu menjalankan sistem politik dan pemerintahan di Sudan secara
efektif. Sehingga dalam pelaksanaan pemilu tahun 2000, Hassan al-Bashir
kembali dipercaya oleh rakyat Sudan untuk memimpin negaranya dengan
perolehan suara yang mutlak.
Kemenangan Hassan al-Bashir kemudian menjadi tolak ukur bagi
kebijakan-kebijakan

ofensif

Sudan

terhadap

wilayah

Darfur.

Bashir

mempersepsikan bahwa, Darfur sewaktu-waktu dapat menjadi ancaman karena


telah mendapatkan dukungan dari luar yaitu Chad dan Eritrea yang secara nyata

Kenneth
Ingham,Omar
Hassal
Ahmad
al-Bashir
:
Profile,
dalam
http://www.britannica.com/EBchecked/topic/54890/Omar-Hassan-Ahmad-al-Bashir, diakses pada
tanggal 14 April 2015.
45

58

telah memberikan dukungannya terhadap perjuangan Darfur, bahkan terkait hal


ini Hassan Al-Bashir menyatakan bahwa :

...atas nama pemerintah Sudan kami akan mengusir siapa saja


yang turut mencampuri masalah Darfur, bahkan PBB atau ICC
(International Criminal Court). Dan kami akan tetap bersiaga untuk
mengedepankan tindakan militer jika Darfur sewaktu-waktu akan
berjuang seperti wilayah Sudan Selatan.46

Kasus di atas kemudian menjadi pertimbangan Amerika Serikat untuk


memposisikan Hassan al-Bashir sebagai pihak utama yang bertanggung-jawab
dalam krisis Darfur karena menyangkut empat hal, yaitu :47
a.

Omar Hassan al-Bashir sebagai pemimpin formal tertinggi.

b.

Jatuhnya korban sipil dalam jumlah besar.

c.

Munculnya multiplier effect atau perluasan pengaruh yaitu kemiskinan,


pengungsian dan munculnya mata rantai kekerasan.

d.

Pelanggaran HAM.
Pada kenyataannya tidak ada satupun rezim di dunia yang berupaya akan

menerapkan kebijakan diskriminatif dan anti pluralisme, termasuk Hassan alBashir. Tetapi bagaimana pelaksanaan dari suatu kebijakan dapat berjalan adil.
Undang-undang yang digunakan di Sudan pada tahun 2005 sampai dengan
sekarang yaitu Interim National Constitution Of The Republic Sudan 2005 yang
Khaled Abdelazis,Sudan Bashir Threatens More Expulsion on Darfur, dalam
http://www.reuters.com/article/2009/03/08/us-sudan-warcrimes-idUSTRE52620620090308,
diakses pada tanggal 15 April 2015.
46

Coalitions for the International Criminal Court, dalam http://www.iccnow.org/?mod=darfur,


diakses pada tanggal 15 April 2015.
47

59

menjadi pedoman untuk pembuatan kebijakan di sudan, beberapa poin tersebut ini
diantaranya :48
a.

Dalam bab 1 (Bentuk Negara) butir pertama disebutkan bahwa Republik


Sudan adalah independen, Negara berdaulat, demokratis, terdesentralisasi,
multi-budaya, multibahasa, multi-rasial, multi-etnis, dan negara multiagama.

b.

Dalam bab 1 (Bentuk Negara) butir kedua disebutkan bahwa komitmen


untuk menghormati dan martabat manusia berdasarkan pada keadilan,
kesetaraan dan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dan menjamin
multi-partai.

c.

Dalam bab 1 (Bentuk Negara) butir ketiga disebutkan bahwa Sudan adalah
tanah air dimana agama dan budaya adalah sumber kekuatan, harmoni, dan
inspirasi.

d.

Dalam bab 2 (Pedoman Prinsip-prinsip dan Petunjuk Perekonomian


Negara) dalam butir pertama pencapaian Millennium Development Goals .

e.

Dalam bab 2 (Pedoman Prinsip-prinsip dan Petunjuk Perekonomian


Negara) butir kedua disebutkan Negara harus mengembangkan dan
mengelola perekonomian nasional untuk mencapai kesejahteraan melalui
kebijakan yang bertujuan meningkatkan produksi, kemandirian ekonomi
dan pasar bebas mendorong dan larangan monopoli.

The Interim of National Constitution of Republic of Sudan, dalam


http://www.refworld.org/pdfid/4ba749762.pdf, diakses pada tanggal 30 April 2015.
48

60

f.

Dalam bab 2 (Pedoman Prinsip-prinsip dan Petunjuk Perekonomian


Negara) butir ketiga Negara harus menciptakan integrasi ekonomi
regional.
Undang-undang tersebut secara tekstual memang menunjukkan pola atau

sistem yang demokratis. Dasar Negara tersebut menjadi pedoman Hassan Omar al
Bashir untuk membuat kebijakan Five Year Strategic Plan In Sudan (2007-2011)
dan Twenty Five Year National Plan In Sudan (2007-2031). Strategi
pembangunan nasional jangka panjang tersebut dikategorikan dalam kebijakan
nasional. Five Year Strategic Development Plan In Sudan (2007-2011) yang
pertama sejak penandatanganan Perjanjian Perdamaian Komprehensif yang
menyediakan kerangka kerja pembangunan untuk koordinasi perdamaian dan
upaya pengembangan Bangsa. Rencana telah disusun oleh Dewan National
Council for Strategic Planning (NCSP) dengan partisipasi dari ratusan orang di
seluruh negeri, yang mewakili semua kelompok masyarakat Sudan.49
Visi dari Five Year Strategic Development Plan In Sudan (2007-2011) dan
Twenty Five Year National Strategy In Sudan (2007-2031) adalah Terus
membangun Persatuan, Aman, Beradab, dan kemaujuan bangsa Sudan. Misi dari
Five Year Strategic Development Plan In Sudan (2007-2011) dan Twenty Five
Year National Strategy In Sudan (2007-2031) yaitu mewujudkan stabilitas politik
dan perdamaian, pembangunan berkelanjutan dalam hal infrastruktur, modernisasi
dan pengembangan pertanian, meningkatkan produksi dan produktivitas, yang
National Five-Year Strategic Development Plan (2007-2011) and Twenty Five Year National
Strategy (2007-2031), dalam http://webapps01.un.org/nvp/indpolicy.action?id=1561, diakses
pada tanggal 10 Mei 2015.
49

61

memungkinkan sektor swasta untuk memandu pembangunan ekonomi dan


membangun ekonomi pasokan adil pelayanan dasar seperti air minum, kesehatan
dasar dan preventif, pendidikan dan penampungan, mengatasi kemiskinan,
reformasi institusi, dan pengembangan telekomunikasi di sudan.50
Pada kenyataaannya, kebijakan jangka panjang tersebut berjalan tidak
efektif pada skala tahun 2010-2014 karena masih terdapat diskriminasi pada
sebagian daerah di sudan termasuk Darfur. Konflik Darfur di Sudan telah
membawa dampak yang sangat serius, mencakup dampak politik, sosial, ekonomi
dan sistem politik luar negeri bagi Sudan ataupun etnis di Darfur. Dampak negatif
bagi sektor politik dan sosial yang ditimbulkan adalah semakin turunnya
legitimasi Presiden Omar Hassan al-Bashir, bahkan Sudan juga terancam
dikenakan sanksi dari dunia internasional termasuk Dewan Keamanan PBB
karena dinilai tidak mampu menyelesaikan konflik kemanusiaan tersebut.
Bagi

masyarakat

Darfur

tindakan

pemerintah

Sudan

dibawah

kepemimpinan Omar Hassan al-Bashir memang menjadi hal yang sangat dibenci
oleh masyarakat di wilayah ini. Pemerintah Sudan yang seharusnya dapat
mengakomodasi berbagai persoalan, khususnya kemiskinan dan keterbelakangan
ternyata tidak dapat berlaku adil, namun berupaya memposisikan Darfur sebagai
musuh bersama. Kondisi ini diperparah dengan buntunya saluran-saluran aspirasi
dan komunikasi sosial-politik akibat penerapan sistem konsosiasional yang
diterapkan oleh Omar Hassan al-Bashir.

50

Ibid

62

Munculnya persepsi pemerintah Sudan yang menganggap Darfur sebagai


musuh bersama ternyata berkaitan dengan politik pemecah belah Hassan al-Bashir
yang melibatkan Janjaweed dan RSF. Faksi ini bukan merupakan organisasi
dalam struktur pemerintahan Sudan, namun terdiri dari faksi-faksi nasionalis
Sudan. Akibatnya kekerasan akibat kegagalan kebijakan dan political will Omar
Hassan al-Bashir berkembang menjadi bola liar yang tidak terkendali, karena
selain terlibat secara langsung dengan kelompok perjuangan Darfur, Janjaweed
dan RSF ternyata juga terlibat perkosaan secara massal, bahkan korban yang jatuh
sebagian diantaranya merupakan anak-anak dari etnis Darfur, seperti yang
terungkap pada tahun 2011.51
Berkembangnya persepsi buruk oleh pemerintah Darfur dan sebagian
masyarakat Sudan pada akhirnya menyebabkan sulitnya terbentuk integrasi
nasional secara efektif di Sudan, terkait dengan posisi wilayah Darfur. Baik
pemerintah atau masyarakat negara ini telah membentuk sikap kebencian terus
tumbuh. Hal ini kemudian akan membentuk aspek politik yang menyulitkan
terbentuknya integrasi nasional di Sudan, terkait wilayah Darfur.

B. Pelaksanaan Kebijakan Sumber Daya Alam

Living
a
Genocide
:
The
Children
of
Darfur,
dalam
http://exhibits.lib.usf.edu/exhibits/show/darfur-genocide/modeofdestruction/rape, diakses pada
tanggal 14 April 2015.
51

63

Sumber daya alam memiliki peranan penting dalam menentukan tingkat


kemajuan suatu negara. Pada kenyataannya kemajuan suatu negara ternyata tidak
hanya ditopang oleh sumber daya manusia dan alam dalam jumlah yang besar,
namun juga berkaitan dengan bagaimana pemerintah dapat mengelola ataupun
membangun sistem yang adil dan akuntabel.
Pada negara maju, kebijakan menjadi formula yang dapat menghubungkan
antara pemerintah, elit politik, masyarakat, para pelaku usaha dan aktor sosial,
ekonomi dan politik lainnya. Pada kasus di Sudan kebijakan-kebijakan sosialekonomi ternyata berkaitan dengan dinamika ekspor negara ini, khususnya pada
komoditas minyak bumi. Adapun gambaran ekspor di tahun 2010-2014 dapat
dilihat pada grafik 3.1. dibawah ini :

Grafik 3.1.
Nilai Ekspor Sudan Tahun 2010-2014 (dalam USD)

Sumber : Economics Report Sudan, https://www.imf.org/external/pubs/ft/scr/2014/cr14345.pdf,


diakses pada 20 Juni 2015.

64

Dari grafik 3.1. dapat kita lihat nilai ekspor Sudan menurun drastis pada
tahun 2011 karena pelepasan Sudan Selatan yang merupakan wilayah yang kaya
minyak. Peningakatan ekspor mulai terjadi pada pertengahan tahun 2013 dan
2014.
Sejak ditemukannya berbagai sumur dan ladang minyak dan kenaikan
harga minyak dunia di awal tahun 2008, serta banyaknya pinjaman dan bantuan
dari negara-negara donor kepada Sudan. Pemerintah Sudan pun terus melakukan
pembenahan diri di segala bidang khususnya dalam sektor pembangunan
prasarana dan sarana fisik seperti jalan raya, gedung-gedung bertingkat, baik di
pusat maupun di negara-negara bagian. Selain itu pembenahan tersebut juga
meliputi perbaikan sarana dan prasarana kesehatan serta pendidikan dan
melakukan program pengentasan kemiskinan. Kegiatan pembangunan lainnya
adalah pembangunan dan renovasi pelabuhan udara di Khartoum dan negaranegara bagian, pembangunan dam-dam yang diperuntukkan sebagai sarana
pembangkit listrik.52
Keberadaan sektor minyak Sudan ternyata juga tidak lepas dari kebijakankebijakan Omar Hassan al-BAshir, diantaranya:
a.

Oil Decision Centralistic. Kebijakan ini menekankan bahwa setiap kontrak


kerjasama sektor swasta asing dengan Sudan agar terlebih dulu masuk
dalam pembahasan di level presiden. Strategi ini dianggap menjadi filter
agar kerjasama penanganan minyak bumi tidak merugikan pihak Sudan,

Rupa
Ranganathan,Sudan
Infrastructure:
A
Continental
perspective,
http://www.ppiaf.org/sites/ppiaf.org/files/publication/AICD-Sudan-country-report.pdf,
pada tanggal 15 April 2015.
52

65

dalam
diakses

namun pada kenyataannya menjadi bagian dari lobi-lobi politik tingkat


tinggi yang mengutungkan kubu Omar Hassan al-Bashir. Sebagai contoh
di tahun kontrak kerjasama antara Sudan dan Cina tahun 2010 yang
ternyata harus melelui kebijakan Omar Hassan al-Bashir terlebih dulu
setelah sebelumnya membatalkan kontrak kerjasama dengan pihak
Spanyol.53
b.

Kebijakan non-investigasi dari pemerintah Sudan untuk melarang


penindaklanjutan proyek-proyek pengelolaan sumber daya minyak bumi.
Kebijakan ini telah dijalankan sejak tahun 2008 yang salah satunya
diwujudkan dalam penerapan transfer anggaran terselubung oleh pejabat
pemerintah dan terus berlangsung hingga tahun 2014. Kebijakan noninvestigasi pada proyek-proyek pengelolaan minyak bagi pemerintah
Sudan dijalanan agar terbangun iklim usaha yang kondusif, namun pada
kenyataannya kebijakan ini ditempuh untuk menambah kekayaan dari
kelompok patrimonial dan nepotistic dari Omar Hassan al-Bashir.54
Tidak hanya minyak, dalam hal sumber daya alam, Sudan memiliki

komoditas utama dalam yaitu pertanian dan peternakan yang memyumbang


besar untuk GDP di sudan.

Ali,
S.M.A,Post
Secssesion
Oil
and
Gas
Contracs
in
Sudan,dalam
http://www.dundee.ac.uk/cepmlp/gateway/index.php?news=32491, diakses pada tanggal 8 Mei
2015.
53

oil and Natural Gas in conflict Africa, dalam https://www.globalpolicy.org/the-dark-side-ofnatural-resourcesst/oil-and-natural-gas-in-conflict/africa.html, diakses pada tanggal 8 Mei 2015
54

66

B.1. Pertanian
Kemajuan pembangunan telah menaikkan peringkat Sudan dari the least
developing countries menjadi salah satu negara sedang berkembang (developing
country) di kawasan Afrika yang cukup dinamis, dengan tingkat pertumbuhan
ekonomi tahunan rata-rata sejak tahun 2000 mencapai 6%, bahkan sejak 2005
meningkat hingga 9%.55

Kebijakan pertanian dari Twenty Five Year strategic plan 2007-2031


yaitu:56
Mengoptimalkan pemanfaatan lahan sesuai dengan produktivitasnya.
Mengembangkan air yang tersedia dengan meningkatkan waduk dan
sungai dan jurang kapasitas penyimpanan, pemanfaatan air artesis,
memperluas tangkapan air metode dan menyediakan minum air untuk
pertanian.
Merehabilitasi layanan irigasi untuk efisiensi penggunaan air,
memperkenalkan teknologi yang tepat untuk mengoptimalkan penggunaan
air dan menyebarkan kesadaran air.
Melindungi sumber air dengan mengontrol bendungan dan irigasi
pendangkalan kanal, memerangi papirus di cekungan air dan kanal,

55

Ibid.

25 Year Strategic Plan in Sudan, http://webapps01.un.org/nvp/indpolicy.action?id=1561,


diakses pada tanggal 9 Mei 2015.
56

67

memerangi kontaminasi dan mengatur air digunakan untuk mencegah


kerusakan kuantitatif dan kualitatif.
Dari Kebijakan pertanian jangka panjang tersebut pemerintah membuat
Agricultural policy (kebijakan pertanian) yang diadopsi dari Government Action
Plan (Rencana Aksi Pemerintah) di tahun 2011 untuk mendukung implementasi
dari strategi nasional. Agricultural Policy berisi pengembalian 20% dari belanja
publik untuk layanan dukungan pertanian dan subsidi, menyetujui kemitraan
nasional dengan investor asing langsung dalam proyek-proyek tanaman, ternak
dan pengolahan terpadu, pembangunan pertanian berkelanjutan, khususnya
berkaitan dengan pembangunan irigasi. kebijakan pertanian tersebut di buat untuk
mencapai Millennium Development Goals (MDGs). Implementasi kebijakan ini
ternyata

dapat

mendukung

popularitas

Omar

Hassan

al-Bashir

karena

kepemimpinannya di dukung oleh kelompok petani sehingga di mata nasional dan


regional, citra dan popularitas Omar Hassan Al-Bashir akan tetap terjaga.57
Kebijakan pertanian di Sudan berhasil membawa negara ini ke
swasembada pangan dengan menghasilkan berton-ton bahan pangan, diantarnya
jagung, kedelai dan beras. Di satu sisi kebijakan ini dapat mendukung kemajuan
pertanian, namun di sisi lain kebijakan ini justru semakin mempertajam
kesenjangan antara wilayah Sudan secara umum dengan Darfur yang merupakan
wilayah yang lebih tandus. Pada akhirnya hal ini menjadi salah stau faktor
penghambat bagi integrasi nasional Sudan.

Government Agricultural Action, http://resjournals.com/ARJ/Pdf/2011/Feb/Omer.pdf, diakses


pada tanggal 8 Mei 2015.
57

68

Pertumbuhan ini tak terlepas dari peran sektor pertanian. Sektor pertanian
masih memegang peranan penting dalam struktur perekonomian Sudan, meskipun
sektor perminyakan terus mengalami peningkatan pesat. Dari seluruh wilayah
Sudan, 50% daerah pertanian terpenting terdapat di sepanjang Sungai Nil. Hasil
pertanian utama Sudan adalah kapas, getah Arab (gum Arabic), wijen (sesame),
kacang tanah, sorghum, gula dan biji-bijian yang berasal dari tumbuhan (oilseed)
serta kurma. Lahan pertanian terpenting di Sudan terkonsentrasi di lokasi Gezira
Scheme (skema Gezira) seluas 2,1 juta feddan (1 feddan = 0,42 hektar) dan
merupakan lahan pertanian tertua di dunia.58
Jumlah penghasilan di Darfur rata-rata, memberikan kontribusi GDP
sekitar 41%, dan 80% dari nilai ekspor. Namun hal ini tidak berjalan mulus.
Lantaran wilayah tersebut memiliki curah hujan yang sangat rendah, sekitar 300800mm.59
Hal ini belum ditambah lagi dengan adanya kebijakan mengenai irigasi,
dari Kementrian Irigasi dan Pemanfaatan Sumber Daya Air, yang melakukan
pembatasan-pembatasan.

Dalam

kebijakannya

tersebut,

pemerintah

tidak

memperbolehkan adanya self-management oleh orang per orang atau petani untuk
melakukan pengelolaan air. Pemerintah hanya memperbolehkan melakukan
perairan sebesar 12 miliar meter kubik dalam setahun di wilayah Darfur,
sementara kebutuhan masyarakat Darfur adalah 18,5 miliar meter kubik dalam
setahun. Praktis, dalam setahun, masyarakat kekurangan air sebesar 6,5 miliar

Muddathir Ali Ahmed,Irrigation Management In Sudan dalam


http://publications.iwmi.org/pdf/H021882.pdf, diakses pada tanggal 1 Juni 2015.
59
Ibid.
58

69

meter kubik air.60 Hal tersebut membuat pertanian di Darfur menjadi terhambat
dan merupakan bukti diskriminatif pemerintah teradap wilayah Darfur.

B.2. Peternakan
Sektor peternakan di Sudan menjadi salah satu pilar penopang
perekonomian masyarakat negara ini. Sejak dekade 1980-an, masyarakat Sudan
telah terbiasa hidup dengan menggembala, antara lain Kuda, Sapi, Onta, Domba
ataupun varian Keledai. Untuk mendukung pengembangan sektor peternakan di
tahun 2012, pemerintahan Hassan al-Bahir menerapkan apa yang disebut dengan
satu orang satu dua satwa.61
Kebijakan Twenty Five Year strategic Plan 2007-2031 dalam bidang
peternakan berisi:62
Membangun industri produksi ternak yang baik maju dan mampu untuk
memenuhi pasar internal dan eksternal membutuhkan. Mengubah Sudan
untuk menjadi internasional pusat untuk memproduksi dan memasarkan
daging higienis diproduksi dari ternak diberi makan oleh pakan alami,
bebas dari kontaminasi dan terapi hormon.

60

Farida Mahgoub, Current Status of Agriculture and Future Challenge in Sudan, Nordiska African
Institute, Uppsala, 2014.
Ian Robinson,Livestock Sudan dalam
www.agritechtalk.org/documents/PET%20Livestock%20Sudan.pdf, diakses pada tanggal 1 Juni
2015.
62
Five Year Strategic Plan Sudan , dalam
http://planipolis.iiep.unesco.org/upload/Sudan/Sudan_five_year_plan.pdf, diakses pada tanggal 1
Juni 2015.
61

70

Mengembangkan air yang tersedia dengan meningkatkan waduk dan


sungai dan jurang kapasitas penyimpanan, pemanfaatan air artesis,
memperluas tangkapan air metode dan menyediakan minum air untuk
ternak.
Dari strategi nasional diatas pada tahun 2010 pemerintah sudan membuat
kebijakan Penghapusan PPN atas pakan ternak, Penghapusan bea impor input
produksi ternak dan ikan, dan Penegakan integrasi ternak ke dalam skema irigasi.
selanjutnya yang dijalankan pemerintah Sudan dalam bidang peternakan sangat
bergantung dengan hal irigasi. Dimana irigasi dapat menjadi pendorong kemajuan
bidang peternakan dengan menyediakan air yang memadai untuk makan dan
minum ternak, khususnya di wilayah yang teraliri oleh Sungai Nil dan Nil Biru.63
Berbagai implementasi kebijakan peternakan ini menjadikan Sudan
sebagai peng-ekspor ternak dan produk-produk peternakan terpenting bagi negaranegara Arab. Potensi sektor peternakan Sudan secara keseluruhan mencakup 103
juta ekor, yang terdiri dari 41 juta ekor sapi, 42 juta ekor domba, 50 juta ekor
kambing, dan 4 juta ekor unta. Jelas, dengan besaran itu, maka tak heran jika tiap
tahunnya sector peternakan menyumbang 30-40% dari GDP dan menyumbang
20% dari nilai ekspor tiap tahun. Namun jumlah itu lantas menurun setelah
konflik pecah. Sebelum tahun 2010, ada 150-200 pedagang sapi, 50-100 orang
pedagang Domba, dan 40-an orang pedagang Unta di pasar Nyala, Darfur pusat

Sudan Policy Towards Traditional Livestocks, dalam


http://cmsdata.iucn.org/downloads/sudan_policy_study_report.pdf, diakses pada tanggal 1 Juni
2015.
63

71

jual beli ternak di Darfur. Namun, jumlah itu menurun 50% sejak 2010. Tinggal
40-50 pedagang Sapi, sekitar 50 pedagang domba, dan 10 pedagang Unta.64
Pada akhirnya implementasi kebijakan peternakan oleh pemerintah Sudan
tersebut menyebabkan kesenjangan antara wilayah Sudan dan Darfur yang jauh
lebih sedikit memiliki jumlah ternak dalam skala yang besar. Ditambah lagi
munculnya alasan keamanan, membuat masyarakat Sudan Utara enggan untuk
berdagang di wilayah Darfur. Inilah yang menjadi salah satu kasus yang
menyebabkan sulitnya terbentuk integrasi nasional di negara ini.
Hal tersebut dikarenakan para pedagang enggan menuai resiko barang
dagangannya di rampok di tengah konflik. Pada akhirnya mereka selalu ditanyai
tentang kronologi pencurian ternak mereka oleh pihak kepolisian, namun tanpa
tindak lanjut. komoditi ternak ditengah konflik juga kurang diminati, para
peternak lebih memilih untuk mengungsi daripada mengurusi ternak mereka. Hal
itu yang menyebabkan pasokan barang dagangan para penjual ternak menjadi
minim.65
Dari sebab tersebut, tidak aneh jika para pedagang tersebut lebih memilih
untuk tidak berdagang ternak dan mencari kesibukan lain yang angka resikonya
rendah, seberti bertani dan menjual sayuran. Alasanya, jika mereka tetap berjualan
ternak, mereka akan kalah bersaing dengan korporasi besar dari Mesir yang ikut
mengais rejeki dengan menjual ternak mereka di Darfur.

Gerald
J,One
the
Hoof:
Livestock
Trade
in
Darfur
dalam
http://www.un.org/en/events/environmentconflictday/pdf/UNEP_Sudan_Tufts_Darfur_Livestock_
2012.pdf, diakses pada tanggal 1 Juni 2015.
65
Ibid.
64

72

C. Pelaksanaan Kebijakan Pemerataan Pembangunan


Sumber daya ekonomi Sudan yang sebenarnya melimpah dan dukung oleh
struktur perekonomian yang maju ternyata tidak berlaku bagi wilayah Darfur.
Wilayah ini sejak dekade 1990-an, hingga periode 2010-2014 ternyata mengalami
pembangunan yang sangat lambat,ditambah dengan terjadinya konflik sipil sejak
tahun 2003. Ini tentunya tidak seperti wilayah-wilayah lainnya yang ada di Sudan
Timur yang berkembang dan memiliki fasilitas yang memadai, terutama dalam
hal infrastruktur.
Kebijakan infrastruktur dalam Twenty Five Year strategic Plan (20072031) yaitu:66
Penggunaan Nil untuk transportasi sungai dan pelabuhan yang
memungkinkan mereka untuk mengikuti dengan persyaratan perdagangan
dunia dan peningkatan investasi di Sudan.
Pelaksanaan jalan dan proyek transportasi sungai yang terhubung dengan
rehabilitasi daerah-daerah konflik yang dilanda perang dan wilayah yang
kurang berkembang.

Pengembangan dan perluasan infrastruktur irigasi melalui 20


pembangunan bendungan, penyelesaian (menaikkan tingkat) dari Al

Twenty Five Year Strategic Plan Sudan, dalam


http://www.sd.undp.org/content/sudan/en/home/library/mdg.html, diakses pada tanggal 1 Juni
2015.
66

73

Rusairis dan bendungan Sitait, menggali kanal Al Rahad dan


menyelesaikan proyek irigasi di sungai Atbara.
Dalam

mendukung

implementasi

dari

pemerataan

pembangunan,

diwujudkan melalui kebijakan pembangunan wilayah terpencil (Sudanese Rural


and Poverty Development Programme). Kebijakan ini dijalankan Omar Hassan alBashir sejak tahun 2006 dan terus berlangsung hingga tahun 2014 melalui
pemberian insentif kepada masyarakat miskin di Sudan. Pada kenyatannya,
kebijakan ini hanya difungsikan sebagai kedok (tendensi) bagi Hassan al-Bashir
untuk dapat menguasai masyarakatnya. Pada kenyatannnya wilayah Darfur juga
tidak menjadi cakupan program ini, meskipun sebagian masyarakat yang tinggal
di wilayah ini sebagaian besar kategori miskin. Kesenjangan di Sudan dapat
terlihat di Darfur dan Sudan Selatan yang memiliki infrastruktur yang masih
sangat belum memadai seperti hal nya Sudan Timur yang sidang memilik banyak
gedung perkantoran, sarana pendidikan, dan kesehatan.67
Pada bidang pemerataan pembangunan, pemerintah Sudan di bawah
kepemimpinan Hassan al-Bashir juga menerapkan pengembalian pajak (tax
returning) sebagai pembangunan wilayah Darfur. Dari masukan pendekatan lebih
dari 128 juta US Dollar pertahun pengembalian hanya sekitar 20%, yaitu sekitar
25,6 juta US Dollar. Hal ini tentunya berbeda dengan wilayah lainnya yang dapat
mencapai 45% hingga 60% dari jumlah pengembalian pajak. Inilah yang

Rural Poverty in the Sudan, http://www.ruralpovertyportal.org/country/home/tags/sudan,


diakses pada tanggal 9 Mei 2015.
67

74

menyebabkan munculnya masalah disintegrasi nasional di Sudan, terkait dengan


wilayah Darfur karena diskriminasi pemerintah.68
Keberadaan jalan raya sebagai infrastruktur utama yang menghubungkan
Darfur dengan wilayah Sudan lainnya ternyata hanya dapat memiliki satu jalur,
yaitu dari wilayah Al-Ubayid menuju ke Darfur (Al-Fashir). Ini tentunya berbeda
dengan jalur yang menghubungkan Darfur dengan Chad atau Eritrea yang
memiliki dua jalur, yaitu dari Geneina dan Nyala yang memiliki luas dan kualitas
jalan yang lebih baik. Kemudian sarana pendidikan dan layanan publik, antara
lain kepolisian ataupun rumah sakit ternyata juga terbatas hanya sekitar 2 unit
untuk membawahi seluruh wilayah Darfur. Keterbelakangan inilah yang
kemudian menyulitkan integrasi nasional di Sudan, terkait dengan Darfur.69
Pemerataan pembangunan menjadi salah satu bagian dari kebijakan
nasional dalam mendukung kemajuan suatu negara secara menyeluruh di berbagai
tingkatan wilayah. Pada kelompok negara dunia ketiga, pemerataan pembangunan
berkaitan erat dengan dengan karakter pemimpin dalam mengeluarkan kebijakan
ataupun political will.
Meski sedikit fluktuatif, Sudan adalah salah satu negara dengan tingkat
pertumbuhan ekonomi terbaik di wilayah Afrika. Pada 2010-2014 rata-rata
pertumbuhan gross domestic product (GDP) negara ini sekitar 3,025%. Hal inilah
yang kemudian menjadikan Sudan menjadi salah satu negara terpesat di wilayah
Afrika bersama-sama dengan Republik Afrika Selatan, Mesir, Tunisia dan
Tax In Sudan, dalam http://www.contractortaxation.com/Sudan/Tax-In-Sudan, diakses pada
tanggal 1 Juni 2015.
69
Ibid
68

75

Burkina Faso.70 Gambaran mengenai pertumbuhan perekonomian Sudan lihat


grafik 3.2. sebagai berikut:
Grafik 3.2.
Pertumbuhan GDP Sudan pada Tahun 2010-2014

Sumber: Economics Report Sudan, https://www.imf.org/external/pubs/ft/scr/2014/cr14345.pdf,


diakses pada 20 Juni 2015.

Dari grafik 3.2. diatas GDP di sudan menurun pada tahun 2012 menjadi
1.9 dan terus menurun hingga tahun 2013 menjadi 1.4 akibat pemisahan Sudan
Selatan dan konflik yang terus berlsngsung. Pada tahun 2014 GDP sudan naik
signifikan sebesar 3.6.
Seperti yang diketahui, bahwa 15% pendapatan dari masyarakat Darfur
adalah pertanian. Sedangkan di sisi lain, pemerintah melakukan pembatasan pada
irigasi dari luar Darfur yang masuk ke wilayah tersebut. Pemerintah juga
melakukan pemberlakuan aturan ketat tentang pengelolaan sumber air, irigasi,
maupun penggunaan pompa air. Praktis, hal itu telah membuat masyarakat Darfur
Sudan
Economy
:
Population,
GDP
Inflation
and
Businness,
http://www.heritage.org/index/country/sudan, diakses pada tanggal 15 April 2015.
70

76

dalam

menjadi sangat tergantung dengan musim hujan, dan juga menghambat roda
perekonomian mereka, mengingat air merupakan sumber kehidupan dan
penghidupan mereka.71
Dengan demikian menjadi wajar jika konflik ini menjadi konflik
berkepanjangan mengingat, warga Darfur juga memperjuangkan sumber
kehidupan mereka. Oleh karena itu, dalam rangka menurunkan eskalasi konflik
dan juga menjaga stabilitas nasional, pemerintah mulai melonggarkan peraturan
tentang penggunaan air.
Selain itu, Sudan di tahun 2010-2014 juga menjalankan kerjasama dengan
negara-negara dunia, antara lain Cina, Korea Selatan, Malaysia, Indonesia dan
beberapa negara lainnya tentang cara pengelolaan pembudidayaan ikan air tawar,
mengingat Sudan dialiri oleh 3 (tiga) sungai Nil yaitu Blue Nile, White Nile dan
River Nile.72 Hal tersebut dilakukan untuk mencoba membuka lapangan kerja
baru sekaligus melakukan pemerataan pembangunan ekonomi yang ada di
wilayah tersebut.
Di bidang pertanian, Pemerintah Sudan sedang menggarap lahan pertanian
seluas 34 juta hektar atau sekitar 15% dari lahan pertanian seluas 84 juta hektar
(200 juta feddan). Beberapa negara yang telah ikut dalam proses pembangunan
pertanian, antara lain: China, Saudi Arabia dan beberapa negara Timur-Tengah

71

The Crisis, dalam http://www.eyesondarfur.org/crisis.html, diakses pada tanggal 25 April


2015.
72
Fred
Pearce,On
The
River
Nile,
dalam
http://e360.yale.edu/feature/on_the_river_nile_a_move_to_avert_a_conflict_over_water/2855/,
diakses pada tanggal 14 April 2015.

77

lainnya yang ikut juga aktif berpartisipasi dalam pemberian training (pelatihan)
dan pengelolaan bercocoktanam dalam bidang pertanian.73
Pembangunan di sektor pertanian yang sedang digalakkan oleh Pemerintah
Sudan dengan program kampanye Hijau/Green Campaign, merupakan alternatif
Pemerintah untuk menanggulangi masalah dalam negerinya seperti juga berupaya
ikut menanggulangi krisis pangan dunia yang merupakan titik awal terjadinya
krisis finansial global sesuai yang disampaikan oleh beberapa pakar ekonomi
Sudan di berbagai media massa dalam negeri.
Hal tersebut memangnya bukan tanpa alasan. Pemerintah Sudan memang
sedang berusaha untuk meningkatkan nilai ekspor barang dan jasanya, yang
memang menurun sejak awal 2011, masa dimana eskalasi konflik sedang
meninggi. Pada kenyataannya pembangunan antara Sudan secara umum dengan
Darfur

memang

menjadi

persoalan

yang

berbeda

dan

menunjukkan

ketimpangan.74
Menurut laporan yang dikeluarkan oleh United Nations Development
Programe (UNDP) terjadi pembangian yang tidak adil antara pemasukan dan
alokasi pembangunan Sudan dan Darfur. Hal ini dapat dilihat pada tabel 3.1.
sebagai berikut :

Economic Programming in Sudan, dalam https://plan-international.org/sudan, diakses pada


tanggal 14 April 2015.
74
Ibid.
73

78

Tabel 3.1.
Kesenjangan Antara Pembangunan Darfur Dengan Wilayah Lainnya di
Sudan Tahun 2013
No.

Wilayah

Prosentase

1.

Blue Nil

24%

Jumlah Kisaran
(Milyar US $ GDP)
18,4

2.

Darfur

7%

4,8

3.

Kassala

19%

15,1

4.

Khourtum

25%

19,8

5.

Kurdufan

13%

11,0

6.

Nothern

12%

10,8

Sumber:

2013
Developing
Darfur,
http://www.sd.undp.org/content/dam/sudan/docs/DDS%20English.pdf,
pada tanggal 30 April 2015.

dalam
diakses

Dari tabel 4.1. di atas maka dapat diketahui bahwa Darfur menjadi wilayah
di Sudan yang memiliki proporsi anggaran pembangunan yang terkecil
dibandingkan dengan lima wilayah lainnya. Inilah yang menyababkan sulitnya
terbentuk integrasi nasional di Sudan dengan wilayah Darfur.
Melalui uraian di atas maka dapat dipahami bahwa faktor ekonomi-politik
menjadi hal yang sangat penting bagi kemajuan suatu negara, namun hal ini tidak
sepenuhnya dijalankan secara konsisten oleh pemerintahan Hassan al-Bashir,
bahkan terdapat kecenderungan bahwa Hassan al-Bashir begitu ketat dalam
mengontrol wilayah Darfur dengan mengedepankan fungsi militer dan keamanan.
Perspektif dan political will dari pemerintahan Omar Hassan al-Bashir yang
cenderung memarjinalkan masyarakat dan wilayah Darfur, dan memprioritaskan
Sudan Timur. Pengelolaan sumber daya alam yang tidak berimbang kemudian
menjadi penghambat bagi integrasi nasional di Sudan.
79

Politik negara Sudan diwarnai dengan ketidakadilan yang memicu


munculnya konflik-konflik internal di Sudan. konflik internal yang terjadi di
Sudan terdapat dua

konflik yang sangat berpengaruh yaitu, pertama konflik

antara Sudan Utara dengan Sudan Selatan dan yang kedua konflik Darfur.
Hal-hal itulah yang membuat krisis Darfur telah menyebabkan dampak
yang sangat luas. Konflik ini tidak hanya melibatkan kelompok faksi pejuang
National Redemption Front (NRF) dengan pemerintah Sudan dibawah
kepemimpinan Omar Hassan al-Bashir, namun juga melibatkan kelompok
masyarakat lain, seperti Janjaweed. Kondisi ini kemudian menyebabkan sulitnya
pembauran antar etnis dan memunculkan persoalan-persoalan yang berkaitan
dengan suku bangsa.

80

BAB IV
FAKTOR PENGHAMBAT INTEGRASI NASIONAL
DI BIDANG SOSIAL

Dinamika sosial yang berkembang di suatu negara ternyata dipengaruhi


oleh berbagai faktor yang menyebabkannya dapat berkembang secara kondusif
atau dapat juga sebaliknya. Pada era globalisasi sekarang ini, masalah sosial
ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh persoalan-persoalan vertikal (antara
pemerintah dengan rakyatnya), namun juga antara masyarakat dengan masyarakat
lainnya. Hal ini juga berlaku di Sudan, terkait dengan keberadaan masyarakat
Darfur.
Sudan merupakan negara multietnik yang terdiri dari etnis Arab Sudan
sebagai etnis mayoritas dan beberapa etnis minoritas lainnya, antara lain Nubians,
Cops, Beja hingga Fur. Dalam perkembangannya dinamika sosial Sudan yang
bersifat plural dan multietnik kemudian menjadi persoalan yang menyebabkan
sulitnya akulturasi, asimilasi dan pembauran antar etnis. Ini disebabkan adanya
tiga hal, masing-masing yaitu :75
a. Sudan telah terfragmen antara etnis Arab dan non-Arab.
b. Rezim pemerintah Sudan cenderung memihak dan memprioritaskan
kepentingan Arab Sudan.

Ethnic
Conflict
in
the
Horn
of
Africa,
dalam
http://archive.unu.edu/unupress/unupbooks/uu12ee/uu12ee06.htm, diakses pada tanggal 30 April
2015.
75

81

c. Munculnya sikap low nationalism, dimana masyarakat Sudan cenderung


memiliki sikap partiotisme dan nasionalisme yang rendah dan lebih
mengedepankan kepentingan golongan dalam selubung demokrasi
konsosiasional.
ketahanan sosial masyarakat Sudan yang relatif rapuh kemudian
dihadapkan pada konflik Darfur. Meskipun hingga akhir tahun 2014 Darfur masih
menjadi bagian dari kedaulatan dalam negeri Sudan, konflik terus berlanjut. Bab
IV ini akan diuraikan lebih lanjut tentang faktor sosial penghambat integrasi
nasional di Sudan.

A. Dinamika Sosial di Darfur dan Sudan


Darfur merupakan wilayah bagian dari Sudan di Afrika yang terletak di
bagian utara yang berbatasan dengan negara Chad yang mana wilayahnya terdiri
dari hamparan padang pasir yang luas dan padang rumput yang kering. Pada tahun
2010-2014, Darfur memiliki jumlah populasi penduduk sekitar 7,48 juta jiwa.
Jumlah penduduk ini cenderung tetap dan tidak banyak mengalami perubahan
karena sepuluh tahun yang lalu di tahun 2010 jumlah penduduk Darfur hanya
sekitar 7,38 juta jiwa atau meningkat kurang dari 2%.76
Hal ini disebabkan karena adanya tiga alasan, yaitu:77

UNCHR-Sudan dalam http://www.unhcr.org/pages/49e483b76.html, diakses pada tanggal 25


Mei 2015.
77
Mollie
Zappata,Enough
101
:
Displace
From
Darfur,
dalam
http://www.enoughproject.org/blogs/enough-101-displaced-darfur-refugees-chad-and-idps-sudan,
diakses pada tanggal 15 April 2015.
76

82

a. Kemiskinan dan ketebelakangan membuat masyarakat Darfur enggan


untuk membangun keluarga dalam jumlah anggota yang banyak.
b. Sebagian etnis Darfur sejak tahun 2002 memilih untuk mengungsi dan
bermigrasi ke negara-negara tetangga diantaranya Chad ataupun Republik
Afrika Tengah.
c. Sebagian etnis Darfur menjadi korban dari konflik horisontal antara etnis
Darfur dan Janjaweed atau yang melibatkan pihak-pihak pemerintah.
Namun, meski mempunyai rasio pertumbuan penduduk yang kecil, wilayah ini
secara garis besar memang masih menjadi wilayah yang disertai dengan masalah
kemiskinan, kelaparan, dan bencana yang berkepanjangan.78 Sejak dekade 1980an, wilayah Darfur tidak lepas dari keterbelakangan kemiskinan dan pertumbuhan
perekonomian masyarakat yang lambat. Seiring dengan perkembangan waktu di
tahun 2010-2014, persoalan sosial di Darfur berkembang semakin kompleks,
seperti keterbatasan terhadap akses pendidikan, pendapatan masyarakat yang
rendah, hingga perlindungan hukum dan politik yang terbatas.79
Ketimpangan dan marginalisasi yang dirasakan oleh masyarakat Darfur
inilah yang kemudian proses rekonsiliasi konflik etnis di Sudan menjadi berjalan
lamban. Hal inilah yang kemudian mendorong dewan keamanan PBB dan Liga
Arab untuk membentuk Intergovernmental Authority on Development (IGAD)
yang bertujuan untuk membantu proses resolusi konflik yang ada di wilayah
tersebut. IGAD inilah yang ditugaskan untuk mencari stimulus-stimulus yang
Sudan:
Home
Rural
Poverty
Portal,
dalam
http://www.ruralpovertyportal.org/country/home/tags/sudan, diakses pada tanggal 15 April 2015.
79
Ibid.
78

83

komprehensif secara pararel untuk memfasilitasi perundingan-perundingan yang


efektif antara pihak-pihak yang berkonflik agar dapat menurunkan eskalasi
konflik yang ada. Selain itu IGAD juga bertugas untuk memberikan pendidikan
politik, pembentukan mode produksi ekonomi masyrakat, menekan jumlah kaum
miskin

kota,

serta

membantu

menyuarakan

aspirasi

masyarakat

yang

terpinggirkan tersebut kepada pemerintah.80


Namun kemiskinan, kelaparan dan kekeringan yang berkepanjangan tidak
dapat ditangani secara tuntas dan membuat banyak penduduk Darfur kekurangan
sumber air. Air dan tanah merupakan sumber kehidupan yang sangat vital dan
diperebutkan di Darfur, karena sebagian besar wilayahnya gersang dan tidak subur
kondisi ini kemudian membuat mudah sekali memicu timbulnya konflik
horisontal, serta konflik yang melibatkan pemerintah.81

Masyarakat internasional, termasuk Dewan Keamanan PBB dan Uni Eropa


menyatakan bahwa kasus Darfur merupakan krisis kemanusiaan paling buruk di
dunia. Konflik Darfur memberikan dampak negatif khususnya kepada penduduk
sipil, banyak penduduk sipil yang menjadi sasaran dalam kekerasan tersebut dan
terjadilah pengungsian secara besar-besaran untuk mencari tempat yang aman dan
mengungsi bahkan sampai mengungsi ke negara tetangga, seperti Chad.

Plural News And View In Sudan, dalam http://www.sudantribune.com/spip.php?mot50,


diakses pada tanggal 9 Mei 2015.
81
Intergeovermental
Authority
on
Development,
dalam
http://www.unhcr.org/pages/4a2cff992.html, diakses pada tanggal 15 April 2015.
80

84

Pada tahun 2008 diperkirakan lebih dari 700.000 orang mengungsi ke


pusat perkotaan Darfur, termasuk ke Khartoum, 135.000 orang mengungsi ke
Chad dan ribuan orang meninggal akibat kekerasan, penyakit akibat konflik
Darfur.82 Persoalan tentang pengungsi Darfur telah menjadi bagian penting bagi
dinamika sosial di Sudan.
Sejak mengemuka pada tahun 1990-an hingga tahun 2014, ternyata
mayoritas masyarakat Arab Sudan tidak berbaur dengan etnis Darfur sebagai
sesama bangsa Sudan. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Anglea Lusia yang
merupakan analis politik afrika dan Timur-tengah yang menyatakan bahwa :
...Sudan dapat berkembang menjadi negara yang unik. Jika di
negara Afrika ataupun Asia terhadap bentuk-bentuk nasionalisme dan
patriotisme sebagai warga negara, namun berbeda halnya dengan negara
ini. Etnis Darfur dipandang sebagai masyarakat kelas dua, bukan hanya
oleh masyarakat, namun ini juga mendapatkan legitimasi dari pemerintah
yang menyebabkan sulitnya integrasi nasional.83

Persoalan pengungsi Darfur ternyata tidak hanya terjadi di negara-negara


tetangga saja, khususnya Chad ataupun Republik Afrika Tengah, namun juga di
wilayah Sudan sendiri. Persebaran pengungsi ini bisa kita lihat pada peta 4.1. di
bawah ini :

82

Ibid.
Angela F. Lucia,Challanges and Livelyhood strategies of Darfurian Refugees in Kampala
Uganda,
dalam
http://repository.usfca.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1022&contex=thes,
diakses pada tanggal 1 Mei 2015.
83

85

Peta 4.1
Peta Persebaran Pengungsi Darfur Tahun 2008

Sumber:

Darfur
Conflict
Zone
and
Refugee
Camps,
dalam
http://www.britannica.com/EBchecked/topic/151534/Darfur/images-videos, diakses
pada tanggal 28 April 2015.

Dari peta persebaran di atas, maka dapar diketahui, bahwa, sejak tahun
2008, masyarakat Darfur sudah pergi meninggalkan daerah konflik menuju tendatenda pengungsian yang berada di sekitar wilayah perbatasan Chad untuk mencari
perlindungan akibat konflik berkepanjangan yang terjadi di Darfur. Tenda-tenda
pengungsian terdapat di 3 (tiga) kota di Chad yaitu kota Abeche, Iriba, Adre yang
merupakan bantuan dari pemerintah Chad dan Organisasi Internasional yang
membatu para pengungsi yang merupakan korban akibat konfik darfur.
Kemudian hambatan selanjutnya bagi integrasi nasional di Sudan juga
berkaitan dengan penyebaran etnis, dimana masyarakat berdasarkan etnis di
86

Sudan tidak membaur, namun membentuk ikatan-ikatan yang eksklusif yang


menyebabkan sulitnya integrasi nasional di negara ini, dimana mereka mulai
hidup berkelompok menurut etnis dan juga warna kulit yang mereka punya.84
Keberagaman etnis yang ada di dapat dilihat dari peta 4.2. persebaran etnis yang
ada di Sudan yang dapat kita lihat dibawah ini :

Peta 4.2.
Peta Persebaran Etnis yang Ada di Sudan Tahun 2011

Sumber: Maps Ethnicity of Sudan, dalam http://gulf2000.columbia.edu/maps.shtml,


diakses pada tanggal 28 April 2015.

84

Wax Emili,5 Truths About Darfur dalam

http://www.washingtonpost.com/wpdyn/content/article/2006/04/21/AR2006042101752_2.html,
diakses pada 3 Mei 2015.

87

Total populasi penduduk di Sudan pada tahun 2011 yaitu 36,43 juta jiwa.
Dari peta persebaran etnis diatas, kita dapat mengetahui bahwa 48% penduduk
Sudan yaitu 17,48 juta jiwa total populasi di Sudan adalah etnis Arab. Dengan
demikian, 58% sisanya yaitu 18,94 juta jiwa adalah etnis-etnis lain, termasuk etnis
pribumi. Sudan tak hanya multietnik, terdapat beragam pemeluk agama seperti
Islam, Kristen, Animisme, dan Dinamisme. Jika di negara lain masyarakat dapat
berbaur antar etnis menjadi bentuk harmonisasi antar umat bergama, namun
keadaan ini berbanding terbalik di Sudan.
Fenomena bahwa mayoritas masyarakat Darfur adalah pemeluk agama
Islam, hal ini dapat dipahami, karena masyoritas dari mereka berasal dari Arab
yang memeluk agama Islam. Pada kenyataanya persamaan antara etnis Darfur dan
Arab Sudan sebagai sesama pemeluk Islam ternyata tidak menjadikan kedua
kelompok ini dapat membaur, terlebih lagi bagi agama lain tentunya jauh lebih
sulit yaitu konflik antara Sudan selatan dan Sudan selatan yang merupakan
konflik agama islam dan agama Non-islam. Terkait dengan persebaran pemeluk
agama di Darfur, hal itu bisa kita lihat dari peta 4.3. dibawah ini :

88

Peta 4.3.
Peta Pemeluk Agama di Sudan Tahun 2011

Sumber:

The Maps of Religous of Sudan and South Sudan,


http://southsudaninfo.net/category/maps/, diakses pada tanggal 30 April 2015.

89

dalam

Dari peta 4.3. kita terlihat bahwa mayoritas pemeluk agama di Sudan
adalah pemeluk agama Islam. Dari total populasi penduduk di Sudan pada tahun
2011 yaitu 36,43 juta jiwa, 82,4% atau sekitar 30,02 juta jiwa adalah pemeluk
agama Islam, dan Non-Islam 17,6% yaitu sekitar 6,42 juta jiwa.
Kondisi sosial di Darfur yang mengalami keterbalakangan kemudian
dihadapkan pada modernisasi di wilayah-wilayah lain, khususnya Sudan Timur
yang memiliki taraf peradaban lebih maju. Bukti mengenai kemajuan wilayah
Sudan Timur, khususnya ibukota Khourtum yang pada tahun 2010-2014 berhasil
membangun proyek-proyek prestisius antara lain Khourtum State, Afra Mall,
Elfatih Tower dan beberapa proyek lainnya.85 Hal ini kemudian menimbulkan
sebuah distorsi dan kesenjangan. Terlebih lagi antara Darfur dan wilayah Sudan
lainnya tidak terpisahkan dan terhubungkan secara langsung (land locked)
sehingga apa yang terjadi di wilayah-wilayah lainnya di Sudan akan dipersepsikan
oleh masyarakat Darfur sebagai perbedaan dan kesenjangan yang menyulitkan
integrasi nasional antara Darfur dan Sudan.
Persoalan tentang kesenjangan dan distorsi sosial antar masyarakat darfur
dan wilayah Sudan secara umum kemudian akan memunculkan bentuk-bentuk
sikap ketidakpuasan terhadap kehidupan etnis lain dan pemerintah yang ternyata
gagal dalam mengakomodasi aspirasi masyarakat Darfur. Faktor sosial inilah yang
kemudian menjadi penghambat integrasi nasional di Sudan, terkait dengan
wilayah Darfur.

Culture and Conference-Activity, dalam http://activities.uofk.edu/25akhasection/akhacategory/48-culture, diakses pada tanggal 16 April 2015.
85

90

B. Dominasi Etnis Sudanese-Arabic di Sudan


Dominasi kelompok mayoritas dalam pemerintahan suatu negara ternyata
menjadi dinamika sosial yang lazim terjadi di suatu negara. Hal ini dikenal
dengan konsep demokrasi konsosiasional, dimana pemerintahan dijalankan
dengan cara membagi-bagi kekuasaan berdasarkan pada perimbangan kelompok
kepentingan, yang biasanya terdapat pada kelompok etnis terbesar. Pada
kenyataannya di kelompok negara dunia ketiga, demokrasi konsosiasional hanya
dijalankan secara sepihak dengan tidak melibatkan sama sekali kelompok
minoritas. Hal ini juga berlaku bagi Sudan dibawah kepemimpinan Omar Hassan
al-Bashir.86
Konsosiasionalisme

di

Sudan

diwujudkan

dengan

mendominasi

pemerintahan melalui pelibatan etnis terbesar yaitu Sudanese Arabic (Arab


Sudan). Hal ini dapat dilihat dari susunan kabinet pusat yang tidak melibatkan
tokoh dari ethnic of Fur (etnis Darfur), yaitu :87
a. Hasri Bassan Shaleh yang menjabat sebagai Menteri Urusan Kepresidenan
yang berasal dari etnis Sudanese Arabic (Arab Sudan).
b. Luka Biong yang menjabat sebagai Menteri Urusan Dewan Menteri yang
berasal dari etnis Nubian.

86

Salztman Jeffrey, Risk Of Consociacionalsm In Sudan, dalam


https://cdr.lib.unc.edu/indexablecontent/uuid:5d65db41-3745-407c-9361-a88045deb4b2, diakses
pada tanggal 14 April 2015.
87
Sudan Government : Cabinet Line Up, dalam http://www.sudan.net/government.php, diakses
pada tanggal 16 April 2015.

91

c. Abdel Rahim Mohammed Hussein yang menjabat sebagai Menteri


Pertahanan Nasional Sudan yang berasal dari etnis Sudanese Arabic (Arab
Sudan).
d. Ibrahim Mahmoud Hamad yang menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri
Sudan yang berasal dari etnis Sudanese Arabic (Arab Sudan).
e. Luchal Achuil Deng yang menjabat sebagai Menteri Urusan Perminyakan
yang berasal dari etnis Coap.
f. Peter Adhok Nyaba yang menjabat sebagai Menteri Pendidikan Tinggi dan
Penelitian yang berasal dari etnis Coap.
g. Farah Mustafa Abdalla yang menjabat sebagai Menteri Pendidikan Sudan
yang berasal dari etnis Sudanese Arabic (Arab Sudan).
h. Chol Ram Pang yang menjabat sebagai Menteri Urusan Transportasi
Sudan yang berasal dari etnis Beja.
i. Joseph Malwal Dongyang menjabat sebagai Menteri Urusan Lingkungan
dan Kehutanan yang berasal dari etnis Beja.
Selain nama-nama terbesar masih terdapat juga beberapa nama-nama
lainnya yang berhasil menduduki posisi-posisi strategis di Sudan. Persoalan yang
muncul kemudian adalah tidak adanya perwakilan dari etnis Darfur. Dari total
jumlah penduduk Darfur sebanyak 7,4 juta jiwa ternyata tidak dapat masuk dalam
jabatan-jabatan struktural di Sudan.
Inilah yang kemudian menjadikan konsosiasionalisme menjadi hal yang
rentan karena dapat mengganggu integrasi antara Sudan dan Darfur di waktu92

waktu yang akan datang, terlebih lagi hal ini sarat akan pertimbanganpertimbangan kepercayaan/agama.88
Konflik secara horizontal pun mulai terjadi yakni ditandai dengan adanya
polarisasi Darfur yakni suku Arab (pendatang) dan suku Afrika (asli). Konflik
horizontal antar etnis pun terjadi dimulai tahun 1968 sampai dengan 1998.
Polarisasi tersebut semakin condong ke arah konflik vertikal ketika Pemerintahan
Shadiq Al-Mahdi mempersenjatai dan melatih kelompok/milisi Arab untuk
menghadapi Kelompok Pemberontak Sudan Liberation Movement/Army (SLM/A)
dan Justice Equality Movement (JEM) yang umumnya mereka adalah orang
Afrika asli, namun termarginalkan di hampir semua aspek yakni ekonomi, sosial
dan politik.
Situasi seperti ini terus berlanjut pada masa Presiden Omar Hassan Al
Bashir. Kelompok Non-Arab terutama suku Zaghawa pun mulai mempersenjatai
diri dan mengadakan latihan militer bersama dengan Kelompok Non-Arab
lainnya. Kelompok ini lebih condong kepada pemimpin SLM/A yang bertujuan
mengutamakan demokrasi dan persamaan hak dan kewajiban setiap warga
Negara.89

C. Kegagalan Asimilasi dan Pembauran Antara Etnis Sudanese-Arabic dan


Darfur di Sudan tahun 2010-2014

88

Salztman Jefrey,Op. Cit., hal 78.

89

Ibid.

93

Asimilasi dan pembauran merupakan hal yang sangat penting bagi


integrasi nasional. Sejarah membuktikan bahwa asimilasi yang dijalankan oleh
bangsa Arab dan Persia di jalur sutera (silk road) menghubungkan negara-negara
di asia Tenggara dan Timur Jauh (Cina) ataupun sebaliknya membuktikan bahwa
asimilasi melalui perkawinan, hubungan kebudayaan, perdagangan dan lainlainnya berhasil membangun sebuah ikatan yang kuat.90 Konsep ini ternyata sulit
diterapkan di Sudan, terkait dengan integrasi wilayah dan masyarakat Darfur.
Pada kenyataannya, antara Bangsa Arab di berbagai negara dunia,
termasuk Sudan ternyata tidak sepenuhnya dapat menerima asimilasi dengan
kelompok lain. Terlebih lagi jauh sebelum konflik antara Arab-Sudan dan Darfur
terjadi bangsa Arab memang telah menunjukkan sikap superioritasnya terhadap
bangsa Afrika Kulit Hitam. Beberapa diantaranya adalah kasus penaklukan
kerajaan Persia ke wilayah Ethiopia hingga Angola ataupun kekuasaan Turki
Utsmani yang berhasil menguasai sebagian wilayah Afrika Barat dan Tengah.91
Dominasi kekuasaan bangsa Arab terhadap wilayah Afrika kemudian
pengaruhnya dapat dirasakan di Sudan hingga tahun 2014. Adanya anggapan
bahwa etnis Darfur sebagi bagian dari etnis afrika dipandang rendah, terlebih lagi
kelompok ini kurang mendapatkan akses ke pendidikan ataupun tingkat
kesejahteraan yang memadai sehingga banyak dilibatkan dalam pekerjaanpekerjaan non-formal, antara lain buruh industri ataupun pekerja rumah tangga.

90

M. Ikhsan Tonggok dan Yusuf Sutanto, Menghidupkan Kembali Jalur Sutera Baru, PT.
Gramedia, Jakarta, 2010, hal,4-8.
91

Ibid.

94

Di wilayah Sudan Utara, sekitar 6000 orang keturunan Darfur bekerja


pada sektor non-formal. Kondisi inilah yang kemudian menyebabkan sulitnya
integrasi nasional antar masyarakat Sudan dan Darfur melalui asimilasi.92
Pada dasarnya masyarakat Darfur adalah masyarakat yang terbuka, baik
bangsa Arab maupun bangsa Afrika lainnya. Hal ini bisa dilihat dari dengan
adanya penggunaan bahasa Arab yang digunakan sebagai bahasa keseharian
mereka dan membiarkan paham Islam berkembang dengan luas ataupun disiarkan
secara luas meski bertentangan dengan kearifan lokal yang ada, mengingat
masyarakat asli mayoritas memiliki kepercayaan animisme. Hal ini terlihat dari
besarnya pemeluk agama Islam dan penggunaan bahasa Arab dalam pergaulan
sehari-hari di Sudan. Berikut ini adalah gambar 4.1. yang menunjukkan ciri-ciri
etnis Darfur dan Etnis Arab yang dapat kita lihat dibawah ini :

Karta Raharja Ucu,Darfur : Konflik Yang Tidak Kunjung Padam : Bagian III Habis,
Republika, 8 Mei 2014.
92

95

Gambar 4.1.
Perbedaan antara Etnis Arab dan Etnis Darfur

Sumber: Arab and Darfur charactecteristics, http://www.sudan.net/society.php, diakses


pada tanggal 1 September 2015.

Dari gambar 4.1. diatas gambar pria di sebelah kiri adalah etnis Arab dan
gambar sebelah kiri adalah etnis Darfur. Dapat kita lihat bahwa tidak ada
perbedaan yang terlalu signifikan antara kedua etnis tersebut. Ciri-ciri fisik seperti
mata, hidung, bentuk rahang, rambut dan bagian lainnya juga tidak jauh berbeda,

96

yang membedakan etnis Arab dan etnis Darfur hanyalah warna kulit etnis Arab
yang sedikit lebih cerah dibandingkan etnis Darfur yang umumnya berkulit hitam.
Keterbukaan masyarakat Darfur ini tidak bersamaan dengan antisipasi
perkembangan Arab dan Islam di wilayah tersebut. Masyarakat asli Darfur tidak
mengantispasi tentang membanjirnya arus pendatang ke wilayahnya. Lambat laun
pendatang yang awalnya hanya berjumlah kecil, menjadi kian dominan. Dominasi
itulah yang kemudian menyudutkan penduduk lokal yang jumlahnya tertutup oleh
para pendatang. Hal itulah yang kemudian menjadikan mereka menjadi
terpinggirkan dan tak lagi diutamakan oleh etnis mayoritas, terutama menyangkut
hak-hak politik dan ekonomi. Terlebih, mereka juga sering dijadikan korban
totaliter dari militer yang berkuasa.
Tahun 1983, dimana diskriminasi ras mulai muncul di Sudan akibat
Shariah Law (hukum Islam). Dimana, hal ini kemudian menjadi pemantik konflik
terekskalasi (proximate cause) karena adanya environmentally challenges
(perubahan lingkungan) yang menyebabkan kekeringan yang memperparah
kemiskinan, penyebaran penyakit dan kelaparan di wilayah Darfur yang
menyebabkan pemberontakan SLA dan JEM.93
Masyarakat Darfur sejak tahun 2003 senantiasa menjadi obyek
represifisme masyarakat dan pemerintah. Selama lebih dari 12 tahun berlalu,
konflik Darfur berkembang semakin luas dengan melibatkan negara lain yaitu
Chad dan Eritrea. Persoalan ini kemudian akan menyebabkan kebencian komunal

93

Ibid.

97

karena selama 12 tahun berlalu berjumlah 460 ribu orang di semua pihak yang
bertikai.94
Jika ditinjau lebih dalam, konflik Darfur terjadi antara suku Afrika asli
yang termarginalkan dengan suku Arab yang dominan sebagai representatif
pemerintah. Atas dasar itulah, maka pemerintah berupaya untuk mengeliminasi
suku Afrika asli dengan mempersenjatai Janjaweed.
Selain itu, di Sudan sendiri juga terdapat polarisasi antara bagian utara dan
selatan dimana bagian utara mayoritas penduduk Muslim dan selatan mayoritas
Kristen dan Animisme yang keduanya saling memperebutkan cadangan sumber
daya minyak di perbatasan. Root causes atau akar masalahnya yaitu kemiskinan
karena ketidakadilan dan penyalahgunaan otoritas pemerintah yang otoriter yang
mendiskriminasikan suku Afrika asli dan lebih membela Janjaweed. Akibatnya
masyarakat terutama suku Afrika asli kesulitan dalam memenuhi hak-hak
kebutuhan dasarnya termasuk mendapatkan akses ekonomi dan sosial. Dengan
tidak terpenuhinya hak-hak dasar itulah yang menimbulkan kecemburuan bagi
masyarakat dan termarginalkan yang pada akhirnya memberontak karena
kemiskinan yang berkelanjutan.
Jika dahulu etnis Arab dan masyarakat lokal hidup berdampingan, pasca
konflik berkecamuk mereka pun saling menghancurkan satu sama lain. Dengan
berkembangnya Islam di Darfur, pembangunan masjid pun tersebar di wilayah
Darfur. Akan tetapi, setelah konflik pecah, masjid-masjid itu dijadikan sasaran
Darfur Conflict, dalam http://www.trust.org/spotlight/Darfur-conflict, diakses pada tanggal 15
April 2015.
94

98

perusakan oleh pasukan Janjaweed.95 Selain itu, mereka juga sering menggunakan
istilah-istilah diskriminatif dan juga melakukan pengelompokan. Jika salah
seorang itu kaya, dan terlebih tak berkulit hitam, maka orang tersebut dicap
sebagai orang Arab. Para pemberontak juga mengecap pemerintah sebagai Arab,
mengingat dominannya etnis Arab di parlemen.
Tanah suku Zaghawa yang kering menjadi tempat persaingan untuk akses
ke padang rumput dan air sering menimbulkan konflik baik dengan petani
menetap dan etnis arab. Etnis Arab melakukan penghancuran vegetasi, merebut
ternak, dan membakar bangunan ke tanah. Penduduk desa pun telah menemukan
air minum yang telah terkontaminasi oleh bangkai, baik manusia dan hewan yang
didorong ke sumur.96
Pemahaman terhadap ancaman perdamaian pun telah mengalami
pergeseran atau modifikasi sehingga mencakup juga genosida, kekerasan massal
terhadap hak asasi manusia, dan ethnic cleansing (pembersihan etnis).97 Dengan
adanya konflik etnis di wilayah tersebut, kemudian masyarakat pun menjadi
korban. Mereka yang tak ingin terlibat dalam konflk lalu memilih untuk
mengungsi ke luar Darfur. Maka tak heran, jika banyak warga Darfur yang
memilih untuk mengungsi ke Chad, yang letaknya memang tak jauh dari Sudan,
untuk menyelamatkan diri.

95

Ibid.
Voice Issue, dalam http://www.culturalsurvival.org/publications/voices/32/peoples-darfur,
diakses pada tanggal 9 mei 2014.
97
Ahmad s.,Understanding the Darfur Conclit, dalam http://origins.osu.edu/article/worlds-worsthumanitarian-crisis-understanding-darfur-conflict, diakses pada tanggal 16 April 2015.
96

99

Selain itu, banyak dari korban, terutama yang berasal dari suku Afrika
yang menderita kelaparan, penduduk kekurangan pangan, menularnya penyakit
yang tidak disertai dengan akses pelayanan kesehatan yang baik. Terlebih,
hancurnya infrastruktur (public services) seperti rusaknya banyak desa, jalan,
sekolah dan klinik kesehatan akibat perang yang dilakukan antara SLA-JEM dan
Janjaweed.98
Konsekuensi yang ditimbulkan apabila konflik ini terus terjadi tanpa
adanya resolusi konflik yaitu semakin besar kerugian yang didapat karena
memperparah kondisi sosial, ekonomi dan politik penduduk di Darfur yang mana
perang tersebut dapat membawa Darfur pada titik kelelahan. Kasus konflik Darfur
dapat berimbas secara negatif baik secara fisik maupun mental, dan juga ada
trauma secara psikologis yang mendalam terutama bagi kebanyakan penduduk
lokal suku Afrika asli yang menjadi korban atas konflik yang terekskalasi menjadi
kekerasan tersebut.
Mengingat semakin kompleksnya konflik ini, maka pendekatanpendekatan kemanusiaan dan rekonsiliasi konflik akan semakin sulit untuk
dijalankan. Langkah negara dan etnis mayoritas yaitu Arab Sudan yang
sebenarnya dapat meminimalisasi konflik pada akhirnya banyak mengalami
kegagalan karena berkembangnya sikap kebencian secara komunal. Inilah yang
menjadi faktor penghambat integrasi nasional di Sudan, terkait dengan keberadaan
etnis Darfur.

98

Ibid.

100

Melalui uraian di atas maka dapat dipahami bahwa dinamika sosial di


Sudan yang terbagi atas dua kelompok yaitu etnis mayoritas dan minoritas. Pada
kenyataannya dalam kurun waktu bertahun-tahun kehidupan masyarakat dapat
berjalan secara harmonis, namun ternyata terdapat dua kelompok yang tidak dapat
berasimilasi dan membaur yaitu etnis Arab Sudan dan etnis Darfur. Kondisi ini
tercipta akibat adanya stigma-stigma buruk yang berkaitan dengan isu
nasionalisme. Dengan demikian adanya dominasi dari etnis Arab Sudan dan
marginalisasi etnis Fur pada akhirnya dapat menyebabkan sulitnya integrasi
Sudan dan wilayah Darfur.

101

BAB V
KESIMPULAN

Melalui uraian pembahasan pada bab-bab sebelumnya maka dapat


disimpulkan bahwa integrasi nasional menjadi persoalan yang penting dalam
dinamika politik internasional. Hal ini disebabkan karena dengan semakin
majunya liberalisasi dan demokrasi akan berdampak pada munculnya gagasangagasan dari dalam memperjuangkan kemajuan wilayah yang terkadang
berseberangan dengan kebijakan-kebijakan nasional karena dianggap dapat
menumbuhkan potensi disintegrasi nasional. konsep ini ternyata juga berlaku bagi
Sudan, khususnya terkait dengan wilayah Darfur.
Pada tahun 2010-2014 wilayah Darfur menjadi problematika yang
dianggap dapat memicu disintegrasi nasional. Hal ini disebabkan karena
keberhasilan wilayah Sudan Selatan dalam memerdekan diri akan menjadi
motivasi bagi Darfur untuk melakukan hal yang sama karena selama ini integrasi
antara Darfur dan Sudan menghadapi hambatan baik secara sosial ataupun
ekonomi-politik.
Sudan merupakan salah satu negara di wilayah Afrika yang pada periode
2010-2014 menghadapi berbagai persoalan keamanan, diantaranya adalah konflik
Darfur. Konflik ini pertama kali mengemuka pada tahun 2003 dan hingga akhir
tahun 2014 belum dapat terselesaikan secara mendasar oleh pemerintah Sudan, di
bawah kepemimpinan Omar Hassan al-Bashir.

102

Dalam perkembangannya krisis Darfur bukan hanya berdampak pada


kerugian fisik dan jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar, namun juga
menimbulkan potensi disintegrasi nasional di Sudan karena wilayah ini secara
terus-menerus menjadi obyek marjinalisasi oleh pemerintah dan masyarakat
mayoritas Sudan. Kemudian kondisi hal ini membuat berlarut-larutnya konflik
yang tidak kunjung terselesaikan, meskipun telah menjadi bagian dari misi
peacekeeping dari Dewan Keamanan PBB, serta momentum referendum
kemerdekaan Sudan Selatan pada tahun 2011 yang mampu mengobarkan
semangat kelompok pejuang anti pemerintah.
Dinamika sosial yang berkembang di suatu negara ternyata dipengaruhi
oleh berbagai faktor yang menyebabkannya dapat berkembang secara kondusif
atau dapat juga sebaliknya. Pada era globalisasi sekarang ini, masalah sosial
ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh persoalan-persoalan vertikal (antara
pemerintah dengan rakyatnya), namun juga antara masyarakat dengan masyarakat
lainnya. Hal ini juga berlaku di Sudan, terkait dengan keberadaan masyarakat
Darfur.
Sudan merupakan negara multietnik yang terdiri dari etnis Arab Sudan
sebagai etnis mayoritas dan beberapa etnis minoritas lainnya, antara lain Nubians,
Cops, Beja hingga Fur. Perkembangan sosial-masyarakat di Sudan periode 20102014 menunjukkan harmonisasi yang baik antara etnis minoritas dan mayoritas,
namun ternyata ini tidak berlaku hubungan antara Arab Sudan dan Fur yang pada
akhirnya berkembang sebagai faktor yang menghambat integrasi nasional di
Sudan.
103

Keberadaan pemimpin (elit-politik) memiliki tanggung-jawab yang besar


dalam menjalankan sistem administratif kenegaraan. Selain itu, rezim juga
bertanggung-jawab dalam menjaga citra di mata publik dalam dan luar negeri
untuk menjaga legitimasi pemerintahannya. Konsep ini ternyata belum
sepenuhnya dapat dijalankan oleh pemerintah Sudan di bawah kepemimpinan
Hassan al-Bashir dalam menyingkapi krisis di wilayah Darfur.
Kemudian dari elit politik dapat direncanakan dan diimplementasikan
melalui kebijakan-kebijakan publik. Hal ini juga berlaku bagi Sudan terkait
dengan konflik Darfur. Pemerintah Sudan baik secara nyata ataupun secara politik
(tendensi) menjalankan berbagai kebijakan, diantaranya pada bidang pengelolaan
energi (minyak), pertanian, peternakan dan pemerataan pembangunan yang
cenderung lebih menguntungkan pihak Sudan, khususnya kelompok yang pro
terhadap kepemimpinan Omar Hassan al-Bashir.
Berbagai kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah Sudan dalam skala
tahun 2010-2014 ternyata masih tidak efektif karena pelaksanaannya yang masih
bersifat diskriminatif dan tidak belum memenuhi tuntutan masyarakat Darfur.
Pemerintah Sudan memang membuat kebijakan yang baik, tetapi Darfur masih
tetap sama dengan keadaan sulit akibat konflik berkepanjangan. Seperti yang kita
ketahui Darfur merupakan daerah kering, sumber penghidupan mereka bermula
dari air yang akan digunakan untuk minum, bertani, dan memberi makan ternak
karena mayoritas pencaharian di Darfur adalah petani dan penggembala.
Dalam hal pembangunan di Darfur juga sangat minim dan sangat lambat
dibandingkan wilayah-wilayah lainnya di Sudan, terutama Sudan Timur yang
104

sudah sangat berkembang dan memiliki gedung-gedung perkantoran, mall, dan


hotel berbintang. Kesenjangan infrastruktur antara wilayah Sudan Timur dan
Darfur membuat pejuang Darfur terus melakukan ekspansi agar pemerintah
memenuhi tuntutan masyarakar Darfur, karena darfur juga merupakan bagian dari
Sudan yang harus diperhatikan oleh pemerintah Sudan.
Marjinalisasi yang dilakukan oleh pemerintah Sudan terhadap darfur
membuat ikatan sosial yang dahulu kuat antara etnis Arab dan etnis Fur di Darfur
sebelum terjadi konflik, saat ini ikatan sosial mereka menjadi sangat lemah karena
kebijakan dan marjinalisai ekonomi-politik yang dilakukan oleh pemerintah
Sudan. Sebelum konflik masyarakat Darfur menerima kedatangan Arab di
wilayahnya dengan sangat terbuka walaupun Islam bertentangan dengan kearifan
lokal yang ada di Darfur yang mulanya memiliki kepercayaan animisme dan
dinamisme.
Banyaknya masjid-masjid di Darfur dan penggunaan bahasa Arab di
Darfur merupakan bukti nyata dahulu etnis Arab dan etnis Darfur memiliki ikatan
sosial yang kuat. Masyarakat Darfur juga mayoritas memeluk agama Islam karena
kedatangan bangsa Arab di Darfur. Awalnya kedua etnis tersebut hidup
berdampingan mencari sumber air, bertani, menggembala ternak, membangun
masjid-masjid bersama. Namun, kemudian terjadi kekeringan panjang di Darfur
yang membuat pergesekkan antara kedua etnis Arab dan Darfur dalam
memperebutkan sumber air. Pada akhirnya konflik tradisional terus berlangsung
di Darfur antara Arab dan Darfur.

105

Pada tahun 2003, konflk antara etnis Arab dan Darfur semakin meluas
menjadi konflik sipil, karena pejuang Darfur menyerang kantor-kantor kepolisian,
dan gedung pemerintah Sudan di Kota Golo. Pasca konflik etnis Arab semakin
menunjukkan superioritasnya kepada masyarakat Darfur karena etnis Arab
merupakan mayoritas dan menguasai pemerintahan Sudan. Janjaweed merupakan
milisi yang dididukung pemerintah untuk melakukan penyerangan terhadap etnis
Darfur.
keadaan di Darfur semakin memburuk karena janjaweed menjadikan
masjid-masjid yang dahulu dibangun bersama menjadi sasaran penyerangan,
mencemari sumber air yang sangat sulit di Darfur dengan bangkai hewan atau
manusia, perusakan lahan pertanian, pencurian hewan ternak, dan pembunuhan
massal. Pergesekkan antara kedua etnis inilah yang menyebabkan ikatan sosial
antara etnis Arab dan Darfur semakin lemah.
Pada akhirnya dapat ditarik benang merah bahwa persoalan disintegrasi di
Sudan pada skala tahun 2010-2014 disebabkan oleh pelaksanaan

kebijakan-

kebijakan ekonomi-;politik pemerintah Sudan yang diskriminatif terhadap


wilayah Darfur. Sehingga ikatan sosial antara etnis Arab dan etnis Darfur semakin
lemah dan konflik terus berlanjut antara keduua etnis tersebut di wilayah Darfur.
Persoalan ini di Sudan tidak terjadi secara otomatis, namun dipengaruhi
oleh berbagai faktor dalam bidang sosial, ekonomi dan politik. Untuk itu,
hendaknya rezim dapat memperlakukan etnis minoritas sebagai bagian dari entitas
bangsa dan negara. Inilah yang menjadi menjadi temuan akademik (learning
point) dari penelitian ini.
106

DAFTAR PUSTAKA
1. Buku :
Birch, Anthony H. and Paul Nchoji, Nationalism and National Integration,
African Book Collettive Publishing, Toronto, 2002.
Winarno, Budi, Apakah Kebijakan Publik? dalam Teori dan Proses Kebijakan
Publik, Yogyakarta, 2002.
Ibbotson, Sphi and Max Loavel Hoare, Sudan : Edition 3, British Libabry
Cataoluging-The Globe Pequet Press, Gulford-Connecticut, 2012.
Ikhsan, M. Tonggok dan Yusuf Sutanto, Menghidupkan Kembali Jalur Sutera
Baru, PT. Gramedia, Jakarta, 2010.
Mitchell, CR and William Hopkins, The National Identity : From Conventional to
Contemporary Approach, John Hopkins University Press and
Publishing, Baltimore, 2008.
Surakhmad, Winarno, Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar Metode Teknik, Tarsito,
Bandung, 1989.
2. koran :
Ucu, Karta Raharja,Darfur : Konflik Yang Tidak Kunjung Padam : Bagian III
Habis, Republika, 8 Mei 2014.

3. Internet (web site) :


25 Year Strategic Plan in Sudan,
http://webapps01.un.org/nvp/indpolicy.action?id=1561, diakses pada
tanggal 9 Mei 2015.

Abdelazis, Khaled, Sudan Bashir Threatens More Expulsion on Darfur, dalam


http://www.reuters.com/article/2009/03/08/us-sudan-warcrimesidUSTRE52620620090308, diakses pada tanggal 15 April 2015.

Challenges
for
South
Sudanese
Leadership,
dalam
http://southsudan.net/achallengefor1.html, diakses pada tanggal 7
Januari 2014.
107

Ahmed,

Muddathir Ali, Irrigation Management In Sudan dalam


http://publications.iwmi.org/pdf/H021882.pdf, diakses pada tanggal 1
Juni 2015.

Ali, S.M.A, Post Secssesion Oil and Gas Contracs in Sudan,dalam


http://www.dundee.ac.uk/cepmlp/gateway/index.php?news=32491,
diakses pada tanggal 8 Mei 2015.
Coalitions
for
the
International
Criminal
Court,
dalam
http://www.iccnow.org/?mod=darfur, diakses pada tanggal 15 April
2015.

Conflict

of
National
Identity
in
Sudan,
dalam
https://helda.helsinki.fi/bitstream/handle/10138/30239/conflict.pdf,
diakses pada tanggal 11 April 2015.

Culture and Conference-Activity, dalam http://activities.uofk.edu/25akhasection/akhacategory/48-culture, diakses pada tanggal 16 April


2015.

Darfur Conflict, dalam http://www.trust.org/humanitarian/, diakses pada tanggal


22 Oktober 2014

Darfur Conflict, dalam http://www.trust.org/spotlight/Darfur-conflict, diakses


pada tanggal 18 Desember 2014.

Demography
and
Population
of
Sudan,
dalam
http://www.slideshare.net/RCRU/demography-and-population-ofsudan, diakses pada tanggal 22 Februari 2015.

Economic Programming in Sudan, dalam https://plan-international.org/sudan,


diakses pada tanggal 14 April 2015.

108

Ethnic

Conflict
in
the
Horn
of
Africa,
dalam
http://archive.unu.edu/unupress/unupbooks/uu12ee/uu12ee06.htm,
diakses pada tanggal 30 April 2015.

Five

Year
Strategic
Plan
Sudan
,
dalam
http://planipolis.iiep.unesco.org/upload/Sudan/Sudan_five_year_plan.
pdf, diakses pada tanggal 1 Juni 2015.

Government
Agricultural
http://resjournals.com/ARJ/Pdf/2011/Feb/Omer.pdf,
tanggal 8 Mei 2015.

Hirsch,

Action,
diakses pada

Michele
Lernt,
Darfur
Sudan,
dalam
http://www.womenundersiegeproject.org/conflicts/profile/darfursudan, diakses pada tanggal 22 Februari 2015.

Intergeovermental
Authority
on
Development,
dalam
http://www.unhcr.org/pages/4a2cff992.html, diakses pada tanggal 15
April 2015.

Ingham,

J.,

Kenneth,
Omar
Hassan
al-Bashir,
dalam
http://www.britannica.com/EBchecked/topic/54890/Omar-HassanAhmad-al-Bashir, diakses pada tanggal 22 Februari 2015.

Gerald,One the Hoof: Livestock Trade in Darfur dalam


http://www.un.org/en/events/environmentconflictday/pdf/UNEP_Suda
n_Tufts_Darfur_Livestock_2012.pdf, diakses pada tanggal 1 Juni
2015.

Khameir,

Elwathig, disintegration of the sudan state, dalam


http://www.sudantribune.com/spip.php?article45462, diakses pda
tanggal 25 mei 2014

Living

a
Genocide
:
The
Children
of
http://exhibits.lib.usf.edu/exhibits/show/darfur109

Darfur,

dalam

genocide/modeofdestruction/rape, diakses pada tanggal 14 April


2015.Lost oil billions leave Sudans economy reeling, dalam
http://www.alarabiya.net/articles/2012/02/26/197021.html , diakses
pada tanggal 12 maret 2015.

Lucia, Angela F., Challanges and Livelyhood strategies of Darfurian Refugees in


Kampala
Uganda,
dalam
http://repository.usfca.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1022&contex=
thes, diakses pada tanggal 1 Mei 2015.

National Five-Year Strategic Development Plan (2007-2011) and Twenty Five


Year
National
Strategy
(2007-2031),
dalam
http://webapps01.un.org/nvp/indpolicy.action?id=1561 diakses pada
tanggal 1 April 2015

oil and Natural Gas in conflict Africa, dalam https://www.globalpolicy.org/thedark-side-of-natural-resourcesst/oil-and-natural-gas-inconflict/africa.html, diakses pada tanggal 8 Mei 2015.

Okuk,

James, National Reconciliation of South


http://www.sudantribune.com/spip.php?mot2735,
tanggal 8 Mei 2015

Sudan,
diakses

dalam
pada

Pearce,

Fred,On
The
River
Nile,
dalam
http://e360.yale.edu/feature/on_the_river_nile_a_move_to_avert_a_co
nflict_over_water/2855/, diakses pada tanggal 14 April 2015.

Plural

News
And
View
In
Sudan,
dalam
http://www.sudantribune.com/spip.php?mot50, diakses pada tanggal 9
Mei 2015.

Ranganathan, Rupa, Sudan Infrastructure: A Continental perspective, dalam


http://www.ppiaf.org/sites/ppiaf.org/files/publication/AICD-Sudancountry-report.pdf, diakses pada tanggal 15 April 2015.

110

Robinson,

Ian,
Livestock
Sudan
dalam
www.agritechtalk.org/documents/PET%20Livestock%20Sudan.pdf,
diakses pada tanggal 1 Juni 2015.

Rural

Poverty
in
the
Sudan,
http://www.ruralpovertyportal.org/country/home/tags/sudan, diakses
pada tanggal 9 Mei 2015.

S.,

Ahmad,Understanding
the
Darfur
Conclit,
dalam
http://origins.osu.edu/article/worlds-worst-humanitarian-crisisunderstanding-darfur-conflict, diakses pada tanggal 16 April 2015.

Salztman,

Jeffrey, Risk Of Consociacionalsm In Sudan, dalam


https://cdr.lib.unc.edu/indexablecontent/uuid:5d65db41-3745-407c9361-a88045deb4b2, diakses pada tanggal 14 April 2015.

Southern

Sudan
Referendum
on
Secession,
dalam
http://www.frontline.org.za/index.php, diakses pada tanggal 9 Mei
2015

Sudan : Darfur Profile, dalam http://reliefweb.int/report/sudan/sudan-darfurprofile-march-2014, diakses pada tanggal 11 Januari 2015.

sudan

country
profile
dalam
https://www.google.co.id/?gws_rd=cr&ei=161jVdPwFIawuAT2YHwCw, diakses pada tanggal 20 juni 2015.

Sudan

Country Profile, dalam http://www.bbc.co.uk/news/world-africa14094995, diakses pada tanggal 22 Februari 2015.

Sudan Economy : Population, GDP Inflation and Businness, dalam


http://www.heritage.org/index/country/sudan, diakses pada tanggal 15
April 2015.
111

Sudan

Economy, Politic and GDP Growth Summary, dalam


http://country.eiu.com/sudan, diakses pada tanggal 22 Februari 2015.

Sudan

Government
:
Cabinet
Line
Up,
dalam
http://www.sudan.net/government.php, diakses pada tanggal 16 April
2015.

Sudan

Has Large Reserves of Various Mineral: report, dalam


www.sudantribune.com/spip.php?article52665, diakses pada tanggal
13 Maret 2015.

Sudan

Legislative
Branch,
http://www.indexmundi.com/sudan/legislative_branch.html,
pada tanggal 22 Februari 2015.

dalam
diakses

Sudan majis Watani, dalam http://www.ipu.org/parline-e/reports/2297.htm ,


diakses pada tanggal 22 Feburuari 2015.

Sudan

Peace
Watch
Januari
7,
2011
dalam
http://www.satsentinel.org/report/sudanpeace-watch-january-7-2011,
diakses tanggal 9 Januari 2015.

Sudan

Policy
Towards
Traditional
Livestocks,
dalam
http://cmsdata.iucn.org/downloads/sudan_policy_study_report.pdf,
diakses pada tanggal 1 Juni 2015.

Sudan:

Home
Rural
Poverty
Portal,
http://www.ruralpovertyportal.org/country/home/tags/sudan,
pada tanggal 15 April 2015.

dalam
diakses

Sudanese Politic, dalam http://www.economist.com/topics/sudanese-politics,


diakses pada tanggal 22 Februari 2015.

112

Tax In Sudan, dalam http://www.contractortaxation.com/Sudan/Tax-In-Sudan,


diakses pada tanggal 1 Juni 2015.

The Crisis, dalam http://www.eyesondarfur.org/crisis.html, diakses pada


tanggal 25 April 2015.

The

Darfur
Conflict
in
Western
Sudan,
dalam
http://www.ukessays.com/essays/politics/the-darfur-conflict-inwestern-sudan.php, diakses pada tanggal 10 Januari 2014.

The Interim of
National Constitution of Republic of Sudan, dalam
http://www.refworld.org/pdfid/4ba749762.pdf, diakses pada tanggal
30 April 2015.

Twenty

Five
Year
Strategic
Plan
Sudan,
dalam
http://www.sd.undp.org/content/sudan/en/home/library/mdg.html,
diakses pada tanggal 1 Juni 2015.

UNCHR-Sudan dalam http://www.unhcr.org/pages/49e483b76.html, diakses


pada tanggal 25 Mei 2015.

Voice

Issue,
dalam
http://www.culturalsurvival.org/publications/voices/32/peoples-darfur,
diakses pada tanggal 9 mei 2014.

Ylonen,

Alexi,
Southern
Sudan
and
Darfur,
dalam
http://www.brad.ac.uk/ssis/peace-conflict-and-development/issue7/Roots-of-insurgences.pdf, diakses pda tanggal 9 Mei 2015

Zapatta,

Mollie, Enough 101 : Displace From Darfur, dalam


http://www.enoughproject.org/blogs/enough-101-displaced-darfurrefugees-chad-and-idps-sudan, diakses pada tanggal 15 April 2015.

113