Anda di halaman 1dari 26

SUMBER DAYA ALAM (SDA) GLOBAL, NASIONAL dan

LOKAL SERTA PENGELOLAAN SUMBER DAYA HUTAN


MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ilmu Pengetahuan Lingkungan
yang Dibina oleh Bapak Dr. Sueb, M.Kes,.

Oleh :
Kelompok 4
S1 Pendidikan Biologi/ Kelas A Tahun 2014
Ade Rezi Amelia

140341601181

Alfi Kholishotuz ZuhrohT

140341606477

Fiqih Dewi Maharani

140341606456

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
September 2015

SUMBER DAYA ALAM (SDA) GLOBAL, NASIONAL dan


LOKAL SERTA PENGELOLAAN SUMBER DAYA HUTAN
Ade Rezi Amelia, Alfi Kholishotuz ZuhrohT, Fiqih Dewi Maharani
Dr. Sueb, M.Kes.
Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Megeri Malang, Malang-Jawa Timur
e-mail: adereziamelia@gmail.com, msueb_2000@yahoo.com
Abstrak: Sumber daya alam merupakan semua kekayaan berupa
benda mati maupun benda hidup yang berada di bumi dan dapat
dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Sumber
Daya Alam diklasifikasikan menjadi dua yaitu SDA yang dapat diperbaharui dan
SDA yang tidak dapat diperbaharui. Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk
mengetahui SDA global, nasional dan lokal serta masalah hutan dan cara
pengelolaan sumber daya hutan yang berkelanjutan. Metode yang digunakan yaitu
dengan membaca literatur yang tersedia mengenai SDA dan sumber daya hutan
beserta pengelolaannya. Masalah Sumber Daya Alam yang sering terjadi saat ini
yaitu kekeringan, banjir, dan longsor. Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem
berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi jenis
pepohonan dalam persekutuan dengan lingkungannya, dimana satu dengan yang
lain tidak dapat dipisahkan. Kerusakan hutan disebabkan oleh beberapa faktor
diantaranya illegal logging, illegal trade, forest fire. Memelihara dan mengelola
kelestarian hutan dapat dilakukan dengan cara reboisasi dan melakukan sistem
tebang pilih. Memelihara dan mengelola SDA dan sumber daya hutan merupakan
kewajiban semua pihak agar nantinya dapat dimanfaatkan untuk mendukung
kehidupan generasi berikutnnya.
Kata kunci: SDA, hutan, ekosistem, kelestarian

GLOBAL, NATIONAL, AND LOCAL NATURAL RESOURCES,


AS WELL AS THE MANAGEMENT OF
FOREST RESOURCES
Ade Rezi Amelia, Alfi Kholishotuz ZuhrohT, Fiqih Dewi Maharani
Dr. Sueb, M.Kes.
Biology Department Of Faculty Of Mathematics And Natural Sciences,
Universitas Negeri Malang, Malang-East Java
e-mail: adereziamelia@gmail.com, msueb_2000@yahoo.com
Abstract: Natural resources is all the wealth in the form of inanimate objects or
living things that are on earth and can be used to meet the needs of human life.
Natural Resources are classified into two: SDA renewable and non-renewable
natural resources. The purpose of this paper is to determine the global natural
resources, national and local as well as the problem of forest and management of
sustainable forest resources. The method used is by reading the available literature
on natural resources and forest resources and their management. Natural
Resources issues that often occur at this time of drought, floods, and landslides.
The forest is an ecosystem unity in the form of land contains natural resources
dominated by trees in communion with the kind of environment, where one
another can not be separated. Forest damage is caused by several factors such as
illegal logging, illegal trade, forest fire. Maintain and manage forest sustainability
can be done by means of reforestation and do selective logging system. Maintain
and manage water resources and forest resources is the obligation of all parties so
that later can be used to support life next generation.
Keyword: SDA, forests, ecosystems, sustainability.

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah


melimpahkan

rahmat,

taufik

dan

hidayah-Nya

sehingga

penulis

dapat

menyelesaikan makalah dengan judul Sumber Daya Alam (SDA) Global,


Nasional dan Lokal Serta Pengelolaan Sumber Daya Hutan. Makalah ini
diselesaikan untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Ilmu Pengetahuan Lingkungan.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. bapak Dr. Sueb, M. Kes, selaku dosen pengampu mata kuliah Pengetahuan
Lingkungan yang banyak membantu dan membimbing penulis,
2. kedua orang tua kami yang telah memberikan dukungan materi, moril dan
spiritual,
3. seluruh teman seperjuangan Pendidikan Biologi kelas A tahun 2014, yang
banyak membantu dan memberi masukan dalam penyempurnaaan makalah
penulis, dan
4. semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.
Dalam penyusunan makalah ini tentu masih terdapat kekurangan dan
kesalahan. Untuk itu penulis berharap adanya masukan yang bersifat inovatif dan
konstruktif agar makalah ini menjadi lebih sempurna. Di samping itu penulis
berharap agar hasil tugas ini nantinya dapat berguna bagi semua pihak khususnya
kalangan pendidikan.

Malang, September 2015

Penulis

ii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................ i
DAFTAR ISI.......................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................... 1
1.2 Rumusan Masalah ...................2
1.3 Tujuan Penulisan.....................................................................................2
1.4 Manfaat Penulisan...................................................................................2
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Sumber Daya Alam (SDA)....................................................3
2.2 Masalah SDA, Solusi Kelangkaan dan Kerusakan SDA ........................6
2.3 Klasifikasi dan Macam Hutan...............................................................10
2.4 Masalah Hutan......................................................................................11
2.5 Pengelolaan Sumber Daya Hutan.........................................................15
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan...............................................................................................20
3.2 Saran.....................................................................................................20
DAFTAR RUJUKAN............................................................................................21

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sumber daya alam merupakan semua kekayaan berupa
benda mati maupun benda hidup yang berada di bumi dan dapat
dimanfaatkan
Pengertian

untuk

sumber

memenuhi
daya

alam

kebutuhan
juga

hidup

ditentukan

manusia.
oleh

nilai

kemanfaatannya bagi manusia. Sumber daya alam adalah


seluruh

bentang

lahan

(resourcessystem/resources

stock)

termasuk ruang publik dalam skala luas maupun semua daya


alam di dalamnya, beserta seluruh komoditi yang dihasilkan
(Kartodiharjo, 2008). Sumber daya alam merupakan susunan spesies besar
dari semua spesies tanaman, binatang, serangga dan mikroorganisme yang hidup
di bumi, perairan atau habitat terestrial.(Sing, 2006).
Indonesia kaya akan sumber daya alam, termasuk di dalamnya adalah
hutan. Keberadaan hutan dalam hal ini daya dukung hutan terhadap segala aspek
kehidupan manusia, satwa dan tumbuhan sangat ditentukan pada tinggi rendahnya
kesadaran manusia akan arti pentingnya di dalam pengelolaannya. Hutan menjadi
media hubungan timbal balik antara manusia dan mahluk hidup lainya dengan
faktor alam yang terdiri dari proses ekologis dan merupakan satu kesatuan siklus
yang dapat mendukung kehidupan. Saat ini banyak masalah hutan yang timbul
dimana masalah ini menjadi masalah utama yang dihadapi berbagai negara di
dunia.
Kurangnya kesadaran manusia dalam menata kelestarian lingkungan
dituduh sebagai penyebab terjadinya krisis berkepanjangan. Krisis lingkungan
yang terjadi berakar dari kesalahan perilaku manusia yang berasal dari cara
pandang dan perilaku manusia terhadap alam. Melestarikan hutan berarti
menyelamatkan semua komponen kehidupan. Hutan yang terjaga akan
memberikan tata air yang baik pada daerah hilirnya sehingga akan
menyelamatkan semua kegiatan manusia. Selain itu hutan yang terjaga akan
memberikan manfaat sangat besar bagi lingkungan. Hutan sebagai paru dunia
akan mengurangi pemanasan bumi, mengurangi kekeringan dan mengurangi

2
risiko banjir serta tanah longsor. Oleh karena itu, makalah kali ini akan membahas
mengenai SDA global, nasional dan lokal serta pengelolaan sumber daya hutan.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yaitu:
1.2.1
apa saja klasifikasi dan kegunaan sumber daya alam?
1.2.2
bagaimana dengan masalah sumber daya alam, solusi kelangkaan
dan kerusakan sumber daya alam?
1.2.3
apa saja macam klasifikasi hutan?
1.2.4
bagaimana penyebab kerusakan hutan?
1.2.5
bagaimana pengelolaan sumber daya hutan?
1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu :


1.3.1
untuk mengetahui apa saja klasifikasi dan kegunaan sumber daya
alam,
1.3.2
untuk mengetahui masalah sumber daya alam, solusi kelangkaan
dan kerusakan sumber daya alam,
1.3.3
untuk mengetahui macam klasifikasi hutan,
1.3.4
untuk mengetahui penyebab kerusakan hutan, dan
1.3.5
untuk mengetahui pengelolaan sumber daya hutan.
1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan makalah ini yaitu untuk menambah pengetahuan
mengenai sumber daya alam, permasalahannya dan cara penyelesaiannya, selain
itu juga untuk menambah pengetahuan pembaca mengenai permasalahan yang ada
di Indonesia dan bagaimana cara mengatasai permasalahan tersebut, dan untuk
dijadikan referensi bagi pembaca mengenai permasalahan sumber daya alam.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Sumber Daya Alam (SDA)


Sumber daya alam merupakan semua kekayaan berupa
benda mati maupun benda hidup yang berada di bumi dan dapat
dimanfaatkan
Pengertian

untuk

sumber

memenuhi
daya

alam

kebutuhan
juga

hidup

ditentukan

manusia.
oleh

nilai

kemanfaatannya bagi manusia. Sumber daya alam adalah


seluruh

bentang

lahan

(resources

system/resources

stock)

termasuk ruang publik dalam skala luas maupun semua daya


alam di dalamnya, beserta seluruh komoditi yang dihasilkan
(Kartodiharjo, 2008). Dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2009
tentang

Perlindungan

dan

Pengelolaan

Lingkungan

Hidup,

dijelaskan bahwa sumber daya alam adalah unsur lingkungan


hidup yang terdiri atas sumber daya hayati dan nonhayati yang
secara keseluruhan membentuk kesatuan ekosistem. Jadi dapat
disimpulkan bahwa SDA adalah semua kekayaan alam yang
berada

di

bumi

dan

hasilnya

dapat

dimanfaatkan

untuk

kehidupan manusia.
2.1.1 Klasifikasi Sumber Daya Alam
Sumber Daya Alam diklasifikasikan menjadi dua yaitu SDA yang dapat
diperbaharui dan SDA yang tidak dapat diperbaharui. (Kartodiharjo, 2008)
2.1.1.1 SDA yang dapat diperbaharui meliputi air, tanah, tumbuhan dan hewan.
SDA ini harus kita jaga kelestariannya agar tidak merusak keseimbangan
ekosistem.
2.1.1.2 SDA yang tidak dapat diperbaharui contohnya barang tambang yang ada
di dalam perut bumi seperti minyak bumi, batu bara, timah dan nikel. Kita
harus menggunakan SDA ini seefisien mungkin. Sebab, seperti batu bara,
baru akan terbentuk kembali setelah jutaan tahun kemudian.
Selain itu SDA juga dapat dibagi menjadi dua yaitu SDA hayati dan SDA nonhayati. (Kartodiharjo, 2008)
2.1.1.1 SDA hayati adalah SDA yang berasal dari makhluk hidup (biotik) seperti
hasil pertanian, perkebunan, pertambakan, dan perikanan. Sumber daya

4
ayati adalah salah satu sumber daya dapat pulih atau terbarukan
(renewable resources) yang terdiri atas flora dan fauna. Sumber daya
hayati secara harfiah dapat diartikan sebagai sumberdaya yang mempunyai
kehidupan dan dapat mengalami kematian. Jenis sumber daya hayati di
antaranya adalah pohon, ikan, 3rumput laut, plankton, zooplankton,
fitoplankton, harimau, semut, cacing, rumput laut, terumbu karang, lamun,
dan sebagainya.
2.1.1.2 SDA nir-hayati adalah SDA yang berasal dari makhluk tak hidup (abiotik),
seperti air, tanah, barang-barang tambang.

Gambar 2.1 Sumber Daya Alam Non Hayati


http://pasca.unhas.ac.id/

Gambar 2.2 Sumber Daya Alam Hayati


http://pasca.unhas.ac.id/

Menurut Undang-Undang RI No. 23 Tahun 1997 tentang


Pengelolaan Lingkungan Hidup, sumberdaya alam dibagi ke
dalam sumberdaya hayati misalnya biotika baik hewan maupun
tumbuhan, sedangkan sumberdaya alam non hayati seperti
tanah, udara, air, dan lain-lain.
Jadi dapat disimpulkan bahwa SDA dapat diklasifikasikan
menjadi SDA hayati dan SDA nir-hayati dimana keduanya terdiri
dari SDA yang dapat diperbaharui dan SDA yang tidak dapat
diperbaharui.
2.1.2 Kegunaan Sumber Daya Alam
Sumberdaya alam merupakan sumber daya yang keberadaannya
dibentuk oleh alam. Sumberdaya alam merupakan jaminan hidup bagi manusia,
artinya sumber daya alam akan menentukan tingkat kesejahteraan umat manusia.

Pemanfaatan sumberdaya alam harus memperhatikan sifat sumber daya alam itu
sendiri, apakah dapat diperbaharui oleh manusia atau tidak. Pemanfaatan sumber
daya alam jika kurang berhati-hati dapat merugikan kepentingan manusia pada
masa kini dan masa yang akan datang (Sutikno, 2006).
Sumber daya alam kita yang begitu melimpah, tentu saja
banyak sekali manfaat yang dapat kita ambil darinya. Sumber
daya alam kita harus kita manfaatkan seoptimal dan seefisien
mungkin. Dalam memanfaatkan sumber daya alam, manusia
perlu

berdasar

memanfaatkan

kepada

prinsip

sumber

daya

ekoefisiensi,
alam

tidak

artinya
boleh

dalam

merusak

ekosistem yang ada, selain itu pengambilan sumber daya alam


juga harus dilakukan secara efisien untuk kelanjutan sumber
daya manusia.(Sutikno, 2006).
Pemanfaatan

sumber

daya

alam

pembangunan

dan

pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan bertujuan


pada

terwujudnya

keberadaan

sumber

daya

alam

untuk

mendukung kesejahteraan manusia. Oleh karena itu, maka


prioritas utama di dalam pengelolaan sumber daya alam adalah
upaya pelestarian lingkungan (Sutikno, 2006).
Pemanfaatan sumber daya alam dibagi menjadi tiga. (Sutikno,
2006).
2.1.2.1 Pemanfaatan Sumber Daya Alam Hewani.
Untuk pemanfaatan sumber daya alam hewani, ada
beberapa manfaat yang dapat kita rasakan yaitu:
2.1.2.1.1sumber daya alam hewani dapat dimanfaatkan sebagai
sumber daya pangan seperti daging sapi, dan daging
kambing, atau juga dapat diambil susunya,
2.1.2.1.2dapat dimanfaatkan juga sebagai sumber kerajinan
tangan seperti hiasan yang dibuat dari kulit kerang,
2.1.2.1.3dapat dimanfaatkan untuk perhiasan seperti mutiara
yang dihasilkan dari kerang, dan
2.1.2.1.4dimanfaatkan untuk meningkatkan

nilai

budaya

manusia dan nilai kehidupan, seperti bentuk kapal

selam

diadopsi

dari

cara

ikan

menyelam,

bentuk

pesawat dari bentuk burung, dan lain sebagainya.


6
2.1.2.2 Pemanfaatan Sumber Daya Alam Nabati.
Pemanfaatan sumber daya alam nabati sangat banyak
sekali. Untuk pemanfaatan sumber daya alam nabati dapat kita
lihat pada pembahasan di bawah ini, yaitu:
2.1.2.2.1 dimanfaatkan sebagai sumber daya pangan seperti
2.1.2.2.2

padi, jagung, ubi dan sebagainya,


dimanfaatkan sebagai sumber sandang seperti kapas

2.1.2.2.3

yang digunakan sebagai bahan dasar katun,


beberapa jenis tanaman dapat dimanfaatkan sebagai
minyak atsiri seperti kayu putih, sereh, kenanga, dan

2.1.2.2.4
2.1.2.2.5

cengkeh,
dimanfaatkan sebagai tanaman hias seperti anggrek,
dimanfaatkan sebagai bahan baku mebel seperti
meranti,rotan,bambu, dimanfaatkan sebagai bahan obat

2.1.2.2.6

seperti kencur, jahe, dan kunyit, dan


dimanfaatkan sebagai keperluan industri.

2.1.2.3 Pemanfaatan Sumber Daya Barang Tambang.


Dalam rangka pemanfaatan sumber daya alam barang
tambang ini maka ada beberapa hal yang dapat kita lakukan.
Usaha pemanfaatan dan bahan galian dalam pembangunan
Indonesia sebagai berikut:
2.1.2.3.1sebagai pemenuh kebutuhan SDA barang tambang dan
galian dalam negeri,
2.1.2.3.2menambah pendapatan negara karena barang tambang
dapat diekspor keluar negeri,
2.1.2.3.3memperluas lapangan kerja,
2.1.2.3.4memajukan bidang transportasi dan komunikasi, dan
2.1.2.3.5 memajukan industri dalam negeri.
2.1.2.3.6
2.2 Masalah SDA, Solusi Kelangkaan dan Kerusakan SDA
Saat

ini

masalah

lingkungan

cukup

sering

diperbincangkan

sebagaimana telah diketahui bersama bahwa lapisan ozon kini semakin menipis.

Dengan terus menipisnya lapisan itu, sangat dikhawatirkan bila lapisan ini tidak
ada atau menghilang sama sekali dari alam semesta ini. Tanpa lapisan ozon sangat
banyak akibat negatif yang akan menimpa makhluk hidup di muka bumi ini,
antara lain: penyakit akan menyebar, cuaca tidak menentu, pemanasan global,
bahkan hilangnya suatu daerah karena akan mencairnya es yang ada di kutub
Utara dan Selatan. (Sutikno, 2006).
2.2.1 Masalah Sumber Daya Alam
Masalah Sumber Daya Alam yang sering terjadi saat ini yaitu:
2.2.1.1 kekeringan: kekeringan adalah kekurangan air yang terjadi akibat sumber
air tidak dapat menyediakan kebutuhan air bagi manusia dan makhluk
hidup yang lainnya. Dampak: menyebabkan ganggungan kesehatan,
keterancaman pangan,
2.2.1.2 banjir: merupakan fenomena alam ketika sungai tidak dapat menampung
limpahan air hujan karena proses influasi mengalami penurunan. Itu semua
dapat terjadi karena hijauan penahan air larian berkurang. Dampak:
ganggungan kesehatan, penyakit kulit, aktivitas manusia terhambat,
penurunan produktifitas pangan,
2.2.1.3 longsor: adalah terkikisnya daratan oleh air larian karena penahan air
berkurang. Dampaknya: terjadi kerusakan tempat tinggal, ladang, sawah,
mengganggu perekonomian dan kegiatan transportasi,
2.2.1.4 erosi pantai: terkikisnya lahan daratan pantai akibat gelombang air laut.
Dampak: menyebabkan kerusakan tempat tinggal dan hilangnya potensi
ekonomi seperti kegiatan pariwisata, dan
2.2.1.5 instrusi air laut: air laut (asin) mengisi ruang bawah tanah telah banyak
digunakan oleh manusia dan tidak adanya tahanan instrusi air laut seperti
kawasan mangrove. Dampaknya: terjadinya kekurangan stok air tawar, dan
mengganggu kesehatan.
Sedangkan untuk masalah Sumber Daya Alam Nasional yaitu:
2.2.1.1 kebakaran hutan: proses kebakaran hutan dapat terjadi dengan alami atau
ulah manusia. Kebakaran oleh manusia biasanya karena bermaksud
pembukaan lahan untuk perkebunan. Dampaknya: memberi kontribusi
CO2 di udara, hilangnya keaneragaman hayati, asap yang dihasilkan dapat

8
mengganggu kesehatan dan asapnya bisa berdampak ke negara lain. Tidak
hanya pada lokal namun ke negara tetanggapun juga terkena,
2.2.1.2 pencemaran minyak lepas pantai: hasil ekploitasi minyak bumi diangkut
oleh kapal tanker ke tempat pengolahan minyak bumi. Pencemaran
minyak lepas pantai diakibatkan oleh sistem penampungan yang bocor
atau kapal tenggelam yang menyebabkan lepasnya minyak ke perairan.
Dampak : mengakibatkan limbah tersebut dapat tersebar tergantung
gelombang air laut. Dapat berdampak ke beberapa negara, akibatnya
tertutupnya lapisan permukaan laut yang menyebabkan penetrasi matahari
berkurang menyebabkan fotosintesis terganggu, pengikatan oksigen, dan
dapat menyebabkan kematian organisme laut.
Jadi dapat disimpulkan bahwa masalah SDA yang saat ini terjadi di
Indonesia yaitu masalah kekeringan, banjir, longsor, erosi pantai, instrusi air laut,
kebakaran hutan dan pencemaran minyak lepas pantai.
2.2.2 Solusi Kelangkaan dan Kerusakan Sumber Daya Alam
Solusi kelangkaan sumber daya alam dapat muncul dari sebuah ide
sederhana yaitu dengan menerapkan prinsip pengelolaan sumber daya
berkelanjutan (the principle of sustainable resource management). Pengelolaan
sumber daya alam berkelanjutan adalah upaya sadar dan berencana menggunakan
dan mengelola sumber daya alam secara bijaksana untuk memenuhi kebutuhan
hidup manusia di masa sekarang dan di masa depan (Miller&Spoolman, 2011).
Pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan didasarkan pada dua prinsip,
yakni: (1) SDA, terutama pada SDA yang tidak dapat diperbaharui dan memiliki
persediaan yang terbatas sehingga harus dijaga ketersediaanya dan digunakan
secara bertanggung jawab; (2) kependudukan, pertambahan penduduk setiap tahun
meningkat maka kebutuhan hidup akan meningkat pula oleh karena itu potensi
sumber daya alam harus mendukung kebutuhan sekarang dan kebutuhan masa
depan. Contoh penerapan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan yaitu: (1)
mengurangi ekploitasi berlebihan terhadap alam, (2) menggunakan SDA secara
efisien, (3) pemanfaatan SDA sesuai dengan daya dukung lingkungan, (4)
pengelolaan barang tambang sebelum di ekspor agar memiliki nilai jual yang
tinggi dan mengurangi pengunana barang tambang, (5) pengelolaan SDA

berdasarkan prinsip ekoefiensi (prinsip yang menggunakan SDA dengan biaya


yang

murah

dan

meminimalkan

dapak

negatif

terhadap

lingkungan)

(Miller&Spoolman, 2011).
Solusi pengelolaan sumberdaya alam meliputi pengelolaan
lahan, air, tanah, tumbuhan, dan hewan, dengan fokus terutama
pada pengelolaan yang mempengaruhi kualitas hidup manusia,
baik untuk generasi sekarang maupun yang akan datang.
2.2.2.1 Pengelolaan Sumber Daya Alam pada Sektor Pertanian.
Sektor pertanian merupakan sektor yang sangat penting dan strategis,
bukan hanya pada sektor pada sektor ekonomi tapi juga pada sosial dan politik
(Sutikno, 2006). Dalam Garis Besar Haluan Negara selama pemerintahan Orde
Baru, disebutkan bahwa prioritas pembangunan nasional adalah pada sektor
pertanian (Kuncoro, 2002). Upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk
mengembangkan sektor pertanian antara lain melalui peningkatan teknologi,
penambahan input, maupun melalui kebijakan pemerintah (Sutikno, 2006).
Menurut Tlyy (dalam Sutikno, 2006) perkembangan teknologi
pada sektor pertanian meliputi proses mekanisasi dan penemuan
varietas unggul.
2.2.2.2

Pengelolaan Sumber Daya Alam pada Sektor

Pertambangan.
Tujuan pengelolaan sumberdaya alam pada sektor ini untuk mencapai
optimalisasi pemanfaatan sumber daya mineral, batubara, panas bumi dan air
tanah melalui usaha pertambangan dengan prinsip good mining practice.
Beberapa kegiatannya antara lain sebagai berikut :
2.2.2.2.1

penyusunan regulasi, pedoman teknis, dan standar pertambangan

2.2.2.2.2
2.2.2.2.3

mineral dan batubara panas bumi dan air tanah,


pembinaan dan pengawasan kegiatan penambangan,
pengawasan produksi, pemasaran, pengelolaan mineral dan batubara,

2.2.2.2.4

panas bumi dan air tanah,


evaluasi perencanaan produksi dan pemasaran mineral dan batubara,
panas bumi dan air tanah, dan

1
0
2.2.2.2.5

evaluasi pelaksanaan kebijakan program pengembangan masyarakat di


wilayah pertambangan.

2.3 Klasifikasi dan Macam Hutan


2.3.1

Klasifikasi Hutan
Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi

sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam komunitas alam
lingkungannya yang tidak dapat dipisahkan antara yang satu dan yang lainnya.
Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah untuk
dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap (UU No 18, 2013).
Dalam Pasal 1 ayat (4 s/d 11) UU No. 41 Tahun 1999, hutan dibagi kepada
8 (delapan) jenis, yaitu.
2.3.1.1 hutan negara adalah hutan yang berada pada tanah yang tidak dibebani hak
atas tanah,
2.3.1.2 hutan hak adalah hutan yang berada pada tanah yang dibebani hak atas
tanah,
2.3.1.3 hutan adat adalah hutan negara yang berada dalam wilayah masyarakat
hukum adat,
2.3.1.4 hutan produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok
memproduksi hasil hutan,
2.3.1.5hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok
sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air,
mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan
memelihara kesuburan tanah.
2.3.1.6 hutan konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu, yang
mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan
satwa serta ekosistemnya,
2.3.1.7 kawasan hutan suaka alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu, yang
mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman
tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya, yang juga berfungsi sebagai
wilayah sistem penyangga kehidupan, dan
2.3.1.8 kawasan hutan pelestarian alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu,
yang mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan,

1
1
pengawetan

keanekaragaman

jenis

tumbuhan

dan

satwa,

serta

pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.


2.3.2 Macam Hutan
2.3.2.1 Hutan Bakau.
Hutan bakau adalah hutan yang tumbuh di daerah pantai berlumpur.
Contoh: Pantai Timur Kalimantan, Pantai Selatan Cilacap.
2.3.2.2 Hutan Sabana.
Hutan sabana adalah hutan padang rumput yang luas dengan jumlah pohon
yangsangat sedikit dengan curah hujan yang rendah. Contoh: Nusa
Tenggara.
2.3.2.3 Hutan Rawa.
Hutan rawa adalah hutan yang berada di daerah berawa dengan tumbuhan
nipah tumbuh di hutan rawa. Contoh: Papua Selatan, Kalimantan.
2.3.2.4 Hutan Hujan Tropis.
Hutan hujan tropis adalah hutan lebat / hutan rimba belantara yang tumbuh
di sekitar garis khatulistiwa / ukuator yang memiliki curah turun hujan
yang sangat tinggi. Hutan jenis yang satu ini memiliki tingkat kelembapan
yang tinggi, bertanah subur, humus tinggi dan basah serta sulit untuk
dimasuki oleh manusia. Hutan ini sangat disukai pembalak hutan liar dan
juga pembalak legal jahat yang senang merusak hutan dan merugikan
negara trilyunan rupiah. Contoh: hutan Kalimantan, hutan Sumatera.
2.3.2.5 Hutan Musim.
Hutan musim adalah hutan dengan curah hujan tinggi namun punya
periode musim kemarau yang panjang yang menggugurkan daun di kala
kemarau menyelimuti hutan.
2.4 Masalah Hutan
Menurut Fedrik, dalam peraturan pemerintah Nomor 34 Tahun 2002
tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, Pemanfaatan
Hutan

dan

Penggunaan

Kawasan

Hutan

pasal

15 disebutkan,

upaya

pemanfaatan hutan ditujukan untuk memperoleh manfaat yang optimal bagi


kesejahteraan masyarakat secara berkeadilan dengan tetap menjaga kelestarian
hutan. Pemanfaatan hutan secara lestari dilakukan dengan memperhatikan aspek
ekonomi, sosial dan ekologi. Hutan bukan hanya sekumpulan pepohonan yang
mampu menyediakan kayu, hutan sesungguhnya merupakan sistem ekologi
penyangga kehidupan.

1
2

Telah terjadi perusakan hutan yang disebabkan oleh pemanfaatan hutan


dan penggunaan kawasan hutan yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan. Perusakan hutan terutama berupa pembalakan liar,
penambangan tanpa izin, dan perkebunan tanpa izin telah menimbulkan kerugian
negara, kerusakan kehidupan sosial budaya dan lingkungan hidup, serta
meningkatkan pemanasan global yang telah menjadi isu nasional, regional, dan
internasional. Perusakan hutan sudah menjadi kejahatan yang berdampak luar
biasa, terorganisasi, dan lintas negara yang dilakukan dengan modus operandi
yang canggih, telah mengancam kelangsungan kehidupan masyarakat sehingga
dalam rangka pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan yang efektif dan
pemberian efek jera diperlukan landasan hukum yang kuat dan yang mampu
menjamin

efektivitas

penegakan

hukum.

Seharusnya

pemanfaatan

dan

penggunaan kawasan hutan harus dilaksanakan secara tepat dan berkelanjutan


dengan mempertimbangkan fungsi ekologis, sosial, dan ekonomis serta untuk
menjaga keberlanjutan bagi kehidupan sekarang dan kehidupan generasi yang
akan datang (UU No 18, 2013).
Di dalam hutan terdapat beraneka ragam fungsi yang bermanfaat bagi
manusia. Antara mata rantai kehidupan tersebut saling berinteraksi dan saling
mempengaruhi, sehingga rusaknya atau hilangnya salah satu mata rantai
kehidupan akan berdampak pada mahluk hidup yang lain salah satunya adalah
manusia. Karena itu pemanfaatan hutan dan perlindungannya telah diatur dalam
UUD 1945, UU No. 5 tahun 1990, UU No 23 tahun 1997, UU No. 41 tahun 1999,
PP No 28 tahun 1985, UU No 18 tahun 2013, dan beberapa keputusan Menteri
Kehutanan serta beberapa keputusan Dirjen PHKA dan Dirjen Pengusahaan
Hutan. (Nagel, 2011)
Uraian diatas mengingatkan kepada kita bagaimana pentingnya hutan
bagi kehidupan manusia, namun saat ini kondisi hutan sudah mulai rusak
bahkan sudah berada pada tahap yang memprihantinkan. Kerusakan hutan
yang terjadi di indonesia bukan merupakan sebuah issu yang baru dalam konteks
pembangunan

kehutanan

di

Indonesia,

artinya

sinyalemen

rusak

dan

hilangnya hutan sudah berlangsung sejak lama. Berbagai catatan dan literatur
telah membuktikan bahwa aktivitas perusakan hutan di Indonesia telah
berlangsung sejak zaman Pra kemerdekaan dimana sejarah telah mencatat

1
3
bagaimana proses pengrusakan hutan Jati di Jawa oleh VOC, yang mana pada
waktu

itu

berkuasa

menentukan

semua

urusan

perdagangan

yang

menginginkan hasil produksi yang tinggi dari hutan Indonesia tanpa


mempedulikan asas kelestarian. (Nagel, 2011).
Hutan rusak sudah tentu ada faktor penyebabnya. Selain itu pihak yang
dikategorikan sebagai perusak hutan juga beragam, mulai dari individu,
kelompok bahkan negara melalui berbagai aparaturnya. Pada tataran yang
paling tinggi, sejak awal kerusakan hutan diyakini para pihak disebabkan
karena idiologi pembangunan kehutanan yang dianut negaralah yang justru telah
menyebabkan kerusakan hutan. (Iskandar et al., 2003)
Iskandar et al., (2003) menyatakan bahwa ideologi

pembangunan

kehutanan, yang keberhasilannya diukur dari tingkat pertumbuhan ekonomi,


merupakan sumber terjadinya kerusakan hutan, termasuk berbagai kebijakan
kehutanan sebagai derivatif paradigma pembangunan. Intinya, hutan sebagai
ekosistem direduksi makna dan fungsinya hanya sebatas sebagai salah satu faktor
produksi yang suatu saat akan habis. Apalagi dalam prakteknya, hutan hanya
dipandang sebagai sumber komoditas yang sangat terbatas, yaitu sumber
penghasil komoditas kayu yang hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan
bahan baku industri pengolahan kayu (hasil hutan). Hasil hutan kayu adalah
hasil hutan berupa kayu bulat, kayu bulat kecil, kayu olahan, atau kayu pacakan
yang berasal dari kawasan hutan (UU No 18,2013).
Padahal tidak sesempit itu manfaatnya, karena sesuai hasil penelitian
yang pernah dilakukan oleh Institut Pertanian Bogor, menunjukkan bahwa,
persentasi potensi ekonomi sumberdaya hutan yang berwujud kayu hanya
sebesar 5% dari keseluruhan nilai potensi hutan. Itu berarti bahwa selain kayu
yang hanya bernilai 5% tersebut, hutan masih memiliki potensi lain yang jauh
lebih besar yang meliputi sumber pangan, sumber energi dan bahan bakar,
bioteknologi, biodiversitas (flora dan fauna), sumber obat-obatan serta fungsi
ekologi, estetika dan sosial budaya. Fungsi-fungsi ini ada yang merupakan
fungsi yang sulit dinilai dengan uang oleh karena itu sering luput dari
perhatian pemerintah maupun pihak-pihak yang berhubungan dengan hutan itu
sendiri. Iskandar et al., (2003) menyatakan bahwa kerusakan hutan yang terjadi di
Indonesia saat ini disebabkan oleh beberapa faktor.

1
4

2.4.1

Penebangan Liar (Illegal Logging).


Penebangan liar atau illegal logging disektor kehutanan dewasa ini

sudah demikian dominan dalam praktek pengelolaan hutan di Indonesia sehingga


tidak heran kalau saat ini banyak media baik elektronik maupun cetak banyak
melansir berita tentang peristiwa illegal logging. Bahkan banyak pihak yang
meyakini bahwa kalkulasi volume kayu yang bersumber dari praktek illegal
logging justru jauh lebih besar dari pada yang berasal dari leggal logging.
Lebih memprihantinkan lagi, sektor publik kehutanan tidak mampu
merumuskan jalan keluar untuk mengatasi masalah ini karena banyaknya
pihak

yang

terlibat

dalam

upaya penanganan kegiatan malpraktek ini.

Berdasarkan perhitungan Departemen Kehutanan, diperoleh data bahwa angka


penebangan liar mencapai 50,7 juta m3 per tahun dengan kerugian finansial
sebesar Rp 30 trilyun per tahun. (Sutikno, 2006).
Perbuatan perusakan hutan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang
meliputi kegiatan pembalakan liar dan/atau penggunaan kawasan hutan secara
tidak sah yang dilakukan secara terorganisasi. Masyarakat yang bertempat tinggal
di dalam dan/atau di sekitar kawasan hutan yang melakukan penebangan kayu di
luar kawasan hutan konservasi dan hutan lindung untuk keperluan sendiri dan
tidak untuk tujuan komersial harus mendapat izin dari pejabat yang berwenang
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (UU No 18, 2013).
Penebangan pohon dalam kawasan hutan secara tidak sah merupakan
penebangan pohon yang dilakukan dalam kawasan hutan dengan radius atau jarak
sampai dengan (UU No 18, 2013):
a. 500 (lima ratus) meter dari tepi waduk atau danau,
b. 200 (dua ratus) meter dari tepi mata air dan kiri kanan sungai di daerah rawa,
c. 100 (seratus) meter dari kiri kanan tepi sungai,
d. 50 (lima puluh) meter dari kiri kanan tepi anak sungai,
e. 2 (dua) kali kedalaman jurang dari tepi jurang, dan/atau
f. 130 (seratus tiga puluh) kali selisih pasang tertinggi dan pasang terendah dari
tepi pantai.
2.4.2

Penyelundupan Kayu (Illegal Trade).


Penyelundupan kayu atau illegal trade merupakan kegiatan yang

langsung berkaitan dengan praktek illegal logging. Praktek penyelundupan kayu

1
5

sebagai kelanjutan dari kisah kompleksitas dan ruwetnya masalah pengelolaan


dan pemanfaatan sumber daya hutan di Indonesia di tiga era sekaligus yaitu
era krisis ekonomi berkepanjangan, era reformasi dan desentralisasi yang setengah
hati. Implikasinya bahwa realitas menggambarkan keberadaan berbagai Intitusi
formal negara tidak berdaya sehingga sesuatu yang nyata-nyata ilegal
kemudian di legalkan, sungguh ironis tetapi itulah yang tengah berlangsung.
Dengan demikian maka tidak heran kalau saat ini penebangan liar sudah
merambah ke kawasan hutan lindung dan taman nasional. Ibarat dua sisi pada
sekeping mata uang, bila ada praktek penebangan liar maka selalu diikuti dengan
penyelundupan kayu. (Iskandar et al., 2003).
2.4.3 Kebakaran Hutan (Forest Fire).
Bencana kebaran hutan merupakan salah satu faktor penyebab
terjadinya kerusakan hutan. Sebagaimana diketahui, bencana kebakaran hutan
dan lahan merupakan peristiwa rutin yang hampir sering terjadi di setiap
musim

kemarau.

Dalam

perspektif

kerusakan hutan,

kebakaran

hutan

merupakan salah satu faktor penyebab tingginya laju kerusakan hutan di


Indonesia. Dalam polemik penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan, ada
dua pihak yang selama ini dituding bertanggung jawab terhadap kebakaran
hutan yaitu (1) kelompok masyarakat yang selama ini menggunakan metode
pertanian berladang berpindah pindah yaitu tebas dan bakar (slash and burn), (2)
pihak perusahaan (perkebunan dan perusahaan yang berbasis lahan lainnya).
(Iskandar et al., 2003).
2.5 Pengelolaan Sumber Daya Hutan
Pengelolaan sumberdaya alam di Indonesia saat ini merupakan sebuah
cerita yang beragam. Di sepanjang jutaan hektar, masyarakat setempat menanami
hutan dengan buah-buahan, damar, kopi dan kakao dan sering ditanam bersama
dengan pohon kayu-kayuan yang membentuk wilayah yang disebut wanatani
(agroforest). Wilayah wanatani ini menyediakan jasa lingkungan yang sama
seperti hutan alam, dengan pengecualian pada perbedaan keanekaragaman hayati
yang lebih rendah. Banyak masyarakat setempat yang melindungi hutan alam, dan
kadang bekerjasama dengan petugas Dinas Kehutanan pemerintah daerah
setempat. (Kartodiharjo, 2008).

1
6

Namun, secara keseluruhan keadaan hutan alam Indonesia dapat


dikategorikan sebagai salah satu krisis yang dihadapi bangsa ini. Laju deforestasi
per tahun yang mencapai satu juta hektar tetap bertahan sepanjang sepuluh tahun
terakhir serta kemampuan terpasang industri pengolahan kayu terus berkembang
melampaui tingkat pemanfaatan lestari per tahun. Analisa terakhir, menurut
Departemen Kehutanan menunjukkan, produksi kayu yang secara resmi diakui
mencapai 10 juta meter kubik pada tahun 2002, sementara jumlah kayu aktual
yang setara dengan kayu hasil olahan mencapai 50 juta meter kubik pada tahun
yang sama, ini menunjukkan perbedaan empat kali lipat antara jumlah persediaan
kayu yang legal versus ilegal. Pada akhir dasawarsa ini dan kawasan hutan
konservasi akan mengalami kerusakan serius atau bahkan lenyap sama sekali
(Hemosilla, 2006).
Pelestarian hutan terkait erat dengan pengelolaan hutan lestari,
(Iskandar et al.,2003) menyebutkan bahwa pengelolaan hutan lestari mengandung
iga dimensi utama untuk mewujudkan kelestarian sumberdaya hutan, yaitu
kelestarian fungsi ekologi, ekonomi dan sosial. Praktek pengelolaan hutan
lestari merupakan wujud nyata atas keberlanjutan usaha di sektor kehutanan
(dimensi

kelestarian

ekonomi)

serta

tinggi

rendahnya

kadar

harmonis

interaksi sosial budaya dengan komunitas lokal (dimensi kelestarian fungsi


sosial).
Nagel (2011) menjelaskan konsep pengelolaan hutan lestari mencakup
hutan sebagai : (1) fungsi ekonomi merupakan keseluruhan hasil hutan yang
dapat

dipergunakan

untuk

memenuhi

kebutuhan

hidup

manusia dalam

melakukan berbagai tindakan ekonomi, (2) fungsi ekologis merupakan


bentuk jasa hutan yang diperlukan dalam memelihara dan meningkatkan
kualitas lingkungan, dan (3) fungsi sosial budaya merupakan barang dan jasa
yang dihasilkan dari hutan untuk memenuhi kepentingan kebutuhan hidup
masyarakat di sekitar hutan, serta berbagai fungsi yang diperlukan dalam rangka
kegiatan pendidikan, pelatihan serta kegiatan budaya dan keagamaan.
Memelihara kelestarian hutan dapat dilakukan dengan cara :
2.5.1

reboisasi, yaitu menanami kembali hutan yang telah gundul. Contohnya


reboisasi di Gunung Kidul, reboisasi di Lampung, reboisasi di Lebak,

1
7

2.5.2

melakukan tebang pilih, yaitu menebang pohon dengan kriteria-kriteria


tertentu. Contohnya: menebang pohon jati yang diameternya sudah 75

2.5.3
2.5.4

cm,
menghindari kebakaran hutan, dan
menetapkan daerah perlindungan alam. Contoh daerah perlindungan
alam di Indonesia yaitu taman hutan raya, hutan wisata, cagar alam,

2.5.5

taman nasional, merehabilitasi satwa langka.


upaya peningkatan pelestarian hutan yang dilaksanakan perhutani dalam
sistem Pengelolaan Sumberdaya Hutan Bersama Masyarakat (PHBM)
yaitu dengan merangkul dan bermitra dengan masyarakat sekitar hutan
dalam melaksanakan pengelolaan hutan sehingga kelestarian hutan
menjadi meningkat. Dengan semangat jiwa berbagi, baik berbagi peran,
berbagi pemanfaatan lahan atau ruang, maupun berbagi manfaat hasil
hutan dengan masyarakat sharing atau bagi hasil yang diberikan kepada
masyarakat yaitu 25% dari hasil produksi kayu dianggap sebagai wujud
kompensasi yang yang diberikan perhutani kepada masyarakat karena
telah berperan serta dalam bekerjasama mengelola hutan. Partisipasi
masyarakat dalam pelaksanaan sistem PHBM diwujudkan dalam
berbagai kegiatan yang berbasis lahan dan non-lahan. Dari partisipasi itu
telah di dapatkan hasil yang cukup signifikan seperti menurunnya tingkat
kerusakan hutan, menurunnya kasus pencurian, berkurangnya lahan kosong karena peran aktif masyarakat dalam mengolah lahan dan melakukan
kegiatan reboisasi. Dari semua kegiatan yang dilakukan dalam
kemitraan, maka kesadaran masyarakat yang tinggi untuk peran aktif dalam sistem PHBM menghasikan peningkatan kesejahteraan dan kualitas
ekologi serta hubungan sosial yang lebih baik. Hal itulah yang
menyebabkan semangat berpartisipasi masyarakat dalam kemitraan
melalui sistem PHBM ini tinggi, dan ini sejalan dengan konsep
partisipasi masyarakat pedesaan dalam pembangunan (Damayatanti,
2011).
Menurut UU No 18 tahun 2013 cara pencegahan perusakan hutan adalah

sebagai berikut.
Pasal 6

1
8

(1) Dalam rangka pencegahan perusakan hutan, Pemerintah membuat kebijakan


berupa:
a. koordinasi lintas sektor dalam pencegahan dan pemberantasan perusakan
hutan,
b. pemenuhan kebutuhan sumber daya aparatur pengamanan hutan,
c. insentif bagi para pihak yang berjasa dalam menjaga kelestarian hutan,
d. peta penunjukan kawasan hutan dan/atau koordinat geografis sebagai dasar
yuridis batas kawasan hutan, dan
e. pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana pencegahan dan pemberantasan
perusakan hutan.
(2) Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya menetapkan
sumber kayu alternatif dengan mendorong pengembangan hutan tanaman yang
produktif dan teknologi pengolahan.
Pasal 7
Pencegahan perusakan hutan dilakukan oleh masyarakat, badan hukum, dan/atau
korporasi yang memperoleh izin pemanfaatan hutan.

1
9

Pasal 61
Masyarakat berperan serta dalam pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan
dengan cara:
(1) membentuk dan membangun jejaring sosial gerakan anti perusakan hutan,
(2) melibatkan dan menjadi mitra lembaga pemberantasan perusakan hutan
dalam kegiatan pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan,
(3) meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kelestarian hutan dan dampak
negatif perusakan hutan,
(4) memberikan informasi, baik lisan maupun tulisan kepada pihak yang
berwenang berkaitan dengan pencegahan dan pemberantasan perusakan
hutan,
(5) ikut serta melakukan pengawasan dalam penegakan hukum pemberantasan
perusakan hutan, dan/atau
(6) melakukan kegiatan lain

yang

bertujuan

untuk

pencegahan

dan

pemberantasan perusakan hutan.


Pengelolaan sumberdaya alam pada sektor kehutanan yang dilakukan oleh
pemerintah ini bertujuan untuk memanfaatkan potensi hutan secara lebih efisien,
optimal, adil, dan berkelanjutan dengan mewujudkan unit-unit pengelolaan hutan
produksi lestari dan memenuhi kaidah sustainable forest management (SFM) serta

didukung oleh industri kehutanan yang kompetitif. Beberapa kegiatan pokok yang
tercakup dalam program ini antara lain sebagai berikut:
2.5.1
2.5.2
2.5.3

penetapan kawasan hutan,


penetapan kesatuan pengelolaan hutan khususnya di luar Jawa,
penatagunaan hutan dan pengendalian alih fungsi dan status kawasan

2.5.4
2.5.5
2.5.6
2.5.7

hutan,
pembinaan kelembagaan hutan produksi,
pengembangan sertifikasi pengelolaan hutan lestari,
pengembangan hasil hutan non-kayu dan jasa lingkungannya, dan
konservasi sumber daya hutan.

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Berdasarkan uraian pada bab II, diperoleh simpulan sebagai berikut :
3.1.1
sumber daya alam diklasifikasikan menjadi dua yaitu sumber daya
alam yang dapat diperbaharui dan yang tidak dapat diperbaharui,
3.1.2
masalah SDA yang sering terjadi yaitu kekeringan, tanah longsor,
banjir. Solusi pengelolaan SDA meliputi pengelolaan lahan, air, tanah yang
mempengaruhi kualitas hidup manusia,
3.1.3
macam-macam hutan diklasifikasikan sebagai berikut: hutan
negara, hutan hak, hutan adat, hutan produksi, hutan lindung, hutan
konservasi, kawasan hutan suaka alam, dan kawasan hutan pelestarian
alam,
3.1.4
penyebab kerusakan hutan antara lain karena penebangan liar
(illegal logging), penyelundupan kayu (illegal trade), kebakaran hutan
(forest fire),
3.1.5
memelihara kelestarian hutan dapat dilakukan dengan cara
reboisasi, melakukan tebang pilih, menetapkan daerah perlindungan alam,
dan menghindari kebakaran hutan.
3.2 Saran

Berdasarkan simpulan di atas, penulis menyarankan agar lebih berhatihati, tidak mengeskploitasi secara besar-besaran dalam pemanfaatan sumber daya
alam agar tidak merugikan kepentingan manusia pada masa kini dan masa yang
akan datang.

DAFTAR RUJUKAN
2
AP, Fedrik., Barkey, Roland A & Daniel.Faktor-Faktor
Penyebab Kerusakan
0
Hutan Dan Strategi Pengendaliannya (Studi Kasus Pada Cagar Alam
Pegunungan Cycloop) Kabupaten Jayapura Provinsi Papua. (Online),
(http://pasca.unhas.ac.id/jurnal/files/278b856264cbca435c0f476e571b1215.p
df ), diakses pada 25 Agustus 2015.
Damayatanti, P T. 2011. Upaya Pelestarian Hutan Melalui Pengelolaan Sumberdaya Hutan Bersama Masyarakat. Jurnal Komunitas, 3 (1): 70-82
Hemosilla, A. C. Fay Chip. 2006. Memperkokoh Hutan Indonesia Melalui
Pembaharuan Penguasaan Tanah. Bogor: World Agroforestry Centre.
(ebook).
Iskandar.U, Ngadiono & Nugraha.A, 2003. Hutan Tanaman Industri di
Persimpangan Jalan. Jakarta: Arivco Press.
Kartodiharjo, H. 2008. Pengelolaan Sumberdaya Alam : Krisis
Ekologi
Kuncoro, M. 2002. Ekonomika Pembangunan: Teori, Masalah, dan Kebijakan.
Yogyakarta: UPP STIM YKPN
Miller G.T, Spoolman S.E. 2011. Environmental Science. 14th edition.
Brooks/Cole, Cengane Learning. 20 Davis Drive, Bellmont USA
Nagel, P Julius F. 2011.Pelestarian Hutan dalam Hubungannya dengan
Lingkungan dan Potensi Ekonomi. Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi,
Sastra, Arsitektur dan Sipil) Vol 4.ISSN 1858-2559. Universitas Gunadarma:
Depok.(Online),(http://repository.gunadarma.ac.id/1466/1/Pelestarian
%20Hutan%20dalam%20Hubungannya%20Dengan%20Lingkungan%20dan
%20Potensi%20Ekonomi_UG.pdf ), diakses pada 25 Agustus 2015.

Sing, Y.K. 2006. Environmental


International(ebook).

Science.

New

Delhi:

New

Age

Sutikno & Maryunani. 2006. Ekonomi Sumberdaya Alam. Malang: Badan


Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya
Undang Undang No 18 Tahun 2013. Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan
Hutan
Undang-Undang No 23 Tahun 1997. Pengelolaan Lingkungan
Hidup
Undang-Undang No 32 Tahun
Pengelolaan Lingkungan Hidup

2
1

2009.

Perlindungan

dan

Anda mungkin juga menyukai