Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN

TB PARU
A.Pengertian
Tuberculosis
mycobakterium

(TB)

adalah

tuberkulosis

penyakit
sistemis

akibat

kuman

sehingga

dapat

mengenai semua organ tubuh dengan lokasi terbanyak di


paru

paru

yang

biasanya

merupakan

lokasi

infeksi

primer (Arif Mansyur, 2000). Tuberculosis (TB) adalah


penyakit
paru.

infeksius

Tuberculosis

yang

terutama

dapat

juga

menyerang

ditularkan

parenkin

ke

bagian

tubuh lainnya, terutama meninges, ginjal, tulang, dan


nodus limfe (Brunner dan Suddat, 2003).
Tuberculosis

merupakan

penyakit

infeksi

saluran

napas bagian bawah yang menyerang jaringan paru atau


atau

parinkin

paru

oleh

basil

mycobakterium

tuberkulosis, dapat mengenai hampir semua organ tubuh


(meninges,
dengan

ginjal,

lokasi

tulang,

terbanyak

dan

nodus

diparu,

limfe,

yang

dll)

biasanya

merupakan lokasi primer.

B.Etiologi dan Klasifikasi


Mycobacterium

tuberculosis

dengan

bentuk

batang, panjang1,4m, diameter 0,3-0,6 m, bakteri ini


merupakan

bakjteri

tahan

asam

dan

bersifat

aerob

dengan pertumbuhan yang lamba (doubling time 2-24jam.


BAkteri

ini

hidup

intrasel

(dalam

makrofag)

maupun

ekstrasel (dalam kavitas) dan bakteri ini menyerang


berbagi

organ

terutama

paru-paru

(Silvia

A.

Price,1995)
Menurut

Admin

(2007)

kalsifikasi

penyakit

tuberculosis pada anak terdiri dari:


1. Infeksi Primer
Terjadi saat seseornag terpapar pertama kali dengan
kuman

TBC.

Droplet

yang

terhirup

sangat

kecil

ukurannya, sehingga dapat melewati system pertahanan


mukosilier bronkus, dan terus berjalan sehingga samapi
di alveoulus danmenetap disana.. infeksi dimulai saat

kuman

TBC

berhasil

berkembang

biak

dengan

cara

pembelahan diri di paru, yang mengakibatkan peradangan


di dalam paru. Saluran limfe akan membawa kuman TBC ke
kelenkar limfe disekitar hilus paru, dan ini disebut
sebagai kompleks primer predileksinya di semua lobur,
70% terletak subpleura. Fikus primer dapat mengalami
penyembuhan sempurna, penyebarab lebih lanjut. Waktu
antara terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks
primer adalah sekitar 4-6 minggu. Adanya infeksi dapat
dibuktikan

dengn

terjadinya

perubahan

rekasi

tuberculin dari negative menjadi positif.


Kelanjutan

setelah

infeksi

primer

tergantung

dari banyaknya kuman yang masuk dan besarnya respon


daya

tahan

tubuh

(imunitas

sekuker).

Pada

umumnya

reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan


perkembangan

kuman

TBC.

Meskipun

demikian,

ada

beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persisrer


atau domant (tidur). Kadang-kadang daya tahab tubuh
tidak mampu menghentikan perkembangan kuman, akibatnya
dalam beberaoa bulan, yang bersanngkutan akan menjadi
penderita

TBC.

diperlukan

Masa

mulai

inkubasi,

infeksi

yaitu

samapi

waktu

menjadi

yang
sakit,

diperkirakan sekitar 6 bulan.


2. TBC PAsca Oeimer (Post Primary TBC)
Tbc

pasca

beberapa

primer

bulan

primer,misalnya

biasanya

atau
karena

tahun
daya

terjafdi

setelah

sesudah

infeksi

tahan

tubuh

menurun

akibat terinfeksi virus HIV atau status gizi yang


buruk.

Cirri

khas

dari

TBC

pasca

primer

adalah

kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas


atau efusi pleura.

C.Patofisiologi
Berbeda dengan TBC pada orang dewasa, TBC pada
anak tidak menular. Pada TBC anak, kuman berkembang
biak di kelenjar paru-paru. Jadi, kuman ada di dalam
kelenjar, tidak terbuka. Sementara pada TBC dewasa,
kuman berada di paru-paru dan membuat lubang untuk

keluar

melalui

jalan

napas.

Nah,

pada

saat

batuk,

percikan ludahnya mengandung kuman. Ini yang biasanya


terisap

oleh

anak-anak,

lalu

masuk

ke

paru-paru

(Wirjodiardjo, 2008).
Proses penularan tuberculosis dapat melalui proses
udara atau langsung, seperti saat batuk. Terdapat dua
kelompok besar penyakit ini diantaranya adalah sebagai
berikut:

tuberculosis

paru

primer

dan

tuberculosis

post primer. Tuberculosis primer sering terjadi pada


anak,

proses

disebut

ini

dapat

droplet

dimulai

nuklei,

dari

yaitu

proses

statu

yang
proses

terinfeksinya partikel yang mengandung dua atau lebih


kuman

tuberculosis

yang

hidup

dan

terhirup

serta

diendapkan pada permukaan alveoli, yang akan terjadi


eksudasi dan dilatasi pada kapiler, pembengkakan sel
endotel dan alveolar, keluar fibrin serta makrofag ke
dalam alveolar spase. Tuberculosis post primer, dimana
penyakit

ini

terinfeksi

terjadi

oleh

pada

kuman

pasien

yang

Mycobacterium

sebelumnya
tuberculosis

(Hidayat, 2008).
Sebagian besar infeksi tuberculosis menyebar melalui
udara

melalui

terhirupnya

nukleus

droplet

yang

berisikan mikroorganisme basil tuberkel dari seseorang


yang

terinfeksi.

dikendalikan
oleh

sel

Tuberculosis

oleh

respon

dengan

sel

adalah

imunitas

elector

penyakit

yang

berupa

yang

diperantarai
makropag

dan

limfosit (biasanya sel T) sebagai sel imuniresponsif.


Tipe imunitas ini melibatkan pengaktifan makrofag pada
bagian

yang

terinfeksi

oleh

limfosit

dan

limfokin

mereka, responya berupa reaksi hipersentifitas selular


(lambat).

Basil

tuberkel

yang

mencapai

permukaan

alveolar membangkitkan reaksi peradangan yaitu ketika


leukosit
terlibat
akut,

digantikan
mengalami

yang

terdapat

makropag.

konsolidasi

dapat

sisa,

oleh
sembuh

atau

dan

timbal

sendiri

prosesnya

Alveoli

pneumobia

sehingga

dapat

yang

berjalan

tidak
terus

dengan bakteri di dalam sel-sel (Price dan Wilson,


2006).
Drainase

limfatik

basil

tersebut

juta

masuk

ke

kelenjar getah bening regional dan infiltrasi makrofag


membentuk

tuberkel

sel

epitelloid

yang

dikelilingi

oleh limfosit. Nekrosis sel menyebabkan gambaran keju

(nekrosis

gaseosa),

disekitarnya
dapat

pada

lebih

kolagenosa,

jeringan

sel-sel

grabulasi

epitelloid

berserat,

membentuk

menghasilkan

kapsul

dan

yang

fibroblas

jatingan
yang

parut

mengeliligi

tuberkel. Lesi primer pada paru dinamakan fokus ghon,


dan

kombinasi

antara

terlibat

dengan

lesi

Kompleks

ghon

yang

terlihat

dalam

kelenjar
primer

getah

disebut

mengalami

pemeriksaan

bening

kompleks

menunjukkan

anorexia,
nyeri

demam

penurunan

foto

thorax

dada

dan

tingkat

berat

batuk

dapat

rutin

rendah,

badan,

menetal.

ghon.

kalsifikasi

seseorang yang sehat (Price dan Wilson, 2006).


Tuberculosis paru termasuk insidias. Sebagian
pasien

yang

besar

keletihan,

berkeringat
Batuk

pada

pada

malam,
awalnya

mungkin nonproduktif, tetapi dapat berkembang ke arah


pembentukan

sputum

mukopurulen

dengan

hemoptisis.

Tuberculosis dapat mempunyai manifestasi atipikal pada


anak seperti perilaku tidak biasa dan perubahan status
mental, demam , anorexia dan penurunan berat badan.
Basil tuberkulosis dapat bertahan lebih dari 50 tahun
dalam keadaan dorman (Smeltzer dan Bare, 2002).
Menurut Admin (2007) patogenesis penyakit tuberkulosis
pada anak terdiri atas :
1.
Infeksi Primer
Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama
kali dengan kuman TBC. Droplet yang terhirup sangat
kecil

ukurannya,

pertahanan
sehingga
Infeksi
biak

sehingga

mukosilier
sampai

dimulai

dengan

di

bronkus,
kuman

melewati

dan

alveolus

saat

cara

dapat
dan

TBC

pembelahan

terus

sistem
berjalan

menetap

berhasil

diri

di

disana.

berkembang
paru,

yang

mengakibatkan peradangan di dalam paru. Saluran limfe


akan membawa kuman TBC ke kelenjar limfe di sekitar
hilus paru, dan ini disebut sebagai kompleks primer
predileksinya disemua lobus, 70% terletak subpelura.
Fokus

primer

dapat

mengalami

penyembuhan

sempurna,

kalsifikasi atau penyebaran lebih lanjut. Waktu antara


terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer
adalah

sekitar

dibuktikan

4-6

dengan

minggu.

Adanya

terjadinya

infeksi

perubahan

tuberkulin dari negatif menjadi positif.


Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung

dapat
reaksi
dari

banyaknya kuman yang masuk dan besarnya respon daya

tahan tubuh (imunitas seluler). Pada umumnya reaksi


daya

tahan

tubuh

perkembangan

tersebut

kuman

TBC2.

dapat

menghentikan

Meskipun

demikian,

ada

beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persister


atau dormant (tidur). Kadang kadang daya tahan tubuh
tidak mampu menghentikan perkembangan kuman, akibatnya
dalam beberapa bulan, yang bersangkutan akan menjadi
penderita

TBC.

diperlukan

Masa

mulai

inkubasi,

terinfeksi

yaitu

sampai

waktu

menjadi

yang
sakit,

diperkirakan sekitar 6 bulan.


2.
TBC Pasca Primer (Post Primary TBC)
TBC

pasca

bulan

primer

biasanya

terjadi

setelah

beberapa

tahun

sesudah

infeksi

primer,

misalnya

atau

karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV


atau status gizi yang buruk. Ciri khas dari TBC pasca
primer

adalah

kerusakan

paru

yang

luas

dengan

terjadinya kavitas atau efusi pleura.

E.Manifestasi klinis
Gejala utama TB paru adalah batuk lebih dari
4 minggu, dengan atau tanpa sputum, malaise, gejala
flu,
malam
Pasien

demam

derajat

hari,

rendah,

nyeri

dengan

TB

dada,
paru

anorexia,

anemia

dan

menampakkan

berkeringat
batuk

darah.

gejala

klinis

antara lain tahap asimptomatis, gejala TB paru yang


khas, kemudian stagnasi dan regresi, eksaserbasi yang
memburuk, gejala yang berulang dan menjadi kronik.
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan tanda-tanda
antara lain

tanda-tanda infiltrat

( redup,

ronkhi

basa, bronkhial dll ), tanda-tanda penarikan paru dan


mediastinum, secret disaluran nafas dan ronkhi, suara
nafas amforik karena adanya kafitas yang berhubungan
langsung dengan bronkus.
F. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan
termasuk
data

sebagai

perawat

laboratorium
bagian
harus

waspada

pemeriksaan signifikan
pada

dokter

dan

keperawatan khusus.

dari

dan

diagnostik

proses

pengumpulan

terhadap

yang membutuhkan

atau

melakukan

hasil

pelaporan
intervensi

Beberapa

pemeriksaan

digunakan

untuk

mendiagnosa penyakit, sementara yang lainnya sangat


berguna

dalam

penyesuaian
antara

mengikuti

terapi

perjalanan

pada

pemeriksaan

banyak

fisik

penyakit
kasus

dengan

atau

hubungan

patofisiologi

penyakit cukup jelas, tetapi pada kasus lain tidak


jelas, hal ini merupakan interelasi antara berbagai
organ dan sistem tubuh.
Pemeriksaan

dignostik

pada

penderita

tuberkulosis antara lain :


1.

Uji
paling

penting

Tuberkulin

untuk

merupakan

menentukan

apakah

uji
anak

sudah terinfeksi tuberkel basilus atau tidak.


Prosedur
yang

yang

dianjurkan

menggunakan

Purified

adalah

protein

derifat

Uji

protein

derifatif).

Mantoux,

murni

Dosis

(PPD,

standar

adalah 5 unit tuberkulin dalam 0,1 ml larutan,


di

injeksi

tuberkulin

secara

intradermal.

dilakukan

48-72

Pembacaan
jam

uji

setelah

penyuntikan dan di ukur diameter melintang dari


indurasi yang terjadi. Hasil dianggap positif
bila terdapat indurasi dengan 5 mm keatas, bila
4 mm negatif, 5-9 mm masih dianggap meragukan,
tetapi jika 10 mm keatas jelas positif.
b.

Pemeriksaan Radiologis
Pada

anak

dengan

uji

tuberkulin

positif

dilakukan pemeriksaan radiologis. Secara rutin


dilakukan foto rontgen paru, dan untuk diagnosis
tidak cukup hanya pemeriksaan radiologis tetapi
diperlukan juga data klinis.
c.

Pemeriksaan bakteriologis
Ditemukannya
memastikan

basil

diagnosis

tuberkulosis

tuberkulosis.

akan

Bahan-bahan

yang digunakan untuk pemeriksaan bakteriologis


ialah :
- Bilasan lambung
- Sekret bronkus
- Sputum (pada anak yang besar)
d.

Cairan pleura
Uji bcg
Di Indonesia BCG diberikan secara langsung

tanpa didahului uji tuberkulin. Bila ada anak


yang mendapat BCG langsung terdapat reaksi lokal
yang

besar

dalam

waktu

setelah

penyuntikan

adanya

tuberkulosis.

kurang

berarti

dari

perlu

Pada

hari

dicurigai

anak

dengan

tuberkulosis BCG akan menimbulkan reaksi lokal


yang

lebih

cepat

dan

besar

oleh

karena

itu,

reaksi BCG dapat dijadikan alat diagnostik.


Vaksin

BCG

diletakkan

pada

ruang/tempat

bersuhu 200C-80C serta pelindung dari cahaya.


Pemberian vaksin BCG biasanya dilakukan secara
injeksi intradermal atau intrakutan pada lengan
bagian

atas

alternatif

atau

bayi

injeksi

usia

muda

perkutan
yang

sebagai

mungkin

sulit

menerima injeksi terdermal. Dosis yang digunakan


sebagai berikut :
1) Untuk infant atau anak-anak kurang dari 12
bulan diberikan satu dosis vaksin BCG sebanyak
0,05 mg.
2) Untuk anak-anak di atas 12 bulan dan dewasa
diberikan satu dosis vaksin BCG sebanyak 0,1
mg
G. Penatalaksanaan :
Pengobatan yang diberikan sekarang ialah ;
a.Farmakologi
1. Rifampisin, dengan dosis 10-15 mg/kgBB/hari,
diberikan

satu

kali

sehari

per

oral,

diminum

dalam keadaan lambung kosong, diberikan selama


6-9 bulan
2.INH (isoniazid), bekerja bakterisidal terhadap
basil yang berkembang aktif ekstraseluler dan
basil

didalam

20/kgBB/hari

makrofag.

per

oral,

Dosis

lama

INH

pemberian

1018-24

bulan
3. Pirazinamid, bekerja bakterisidal terhadap basil
intraseluler, dosis 30-35 mg/kgBB/hari per oral,
2 kali sehari selama 4-6 bulan.
4. Etambutol, dosis 20 mg/kgBB/hari dalam keadaan
lambung kosong, 1 kali sehari selama 1 tahun.
5. Kortikosteroid,
obat

diberikan

antituberkulosis

bersama-sama

yang

masih

dengan

sensitif,

diberikan dalam bentuk kortison dengan dosis 1015

mg/kgBB/hari.

sebagai

Kortikosteroid

antiflogistik

tuberkulosis
tuberkulosa,

dan

milier,
pleuritis

di

berikan

ajuvan

pada

meningitis
tuberkulosa,

serosa
penyebaran

bronkogen, atelektasis, tuberkulosis berat atau


keadaan umum yang buruk.
b. Non farmakologi
1. Memberikan posisi ektensi ( kepala lebih tinggi
dari badan )
2. Melakukan postural drainase
3. Melakukan suction untuk mengeluarkan dahak

4. Pemberian nutrisi yang adekuat, untuk menjaga


daya

tahan

tubuh

klien

agar

tidak

terjadi

penyebaran infeksi ke organ tubuh yang lainnya

5. Memantau

kepatuhan

ibu

dalam

memberikan

obat

kepada anaknya
.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


I.

Pengkajian berdasarkan teori.


1. Identitas data:
Identitas Data Umum (selain identitas klien: nama

tempat tanggal lahir, usia, agama, jenis kelamin,


juga identitas orangtua; nama orangtua, pendidikan,
dan pekerjaan)
2. Riwayat keperawatan sekarang
1)Saat masuk Rumah Sakit
Keluhan Utama (penyebab klien sampai dibawa ke
rumah sakit).
2)Saat pengkajian
Keluhan utama : Keluhan yang dialami pasien saat
dilakukan pengkajian meliputi PQRST (palliative,
quantitatif, region, scale, timing)
3. Riwayat kehamilan dan kesehatan
1. Prenatal : (kurang asupan nutrisi , terserang
penyakit infeksi selama hamil)
2. Intranatal : Bayi terlalu lama di jalan lahir ,
terjepit

jalan

lahir,

bayi

menderita

caput

sesadonium, bayi menderita cepal hematom

3. Post

Natal:

kurang

asupan

nutrisi

bayi

menderita penyakit infeksi , asfiksia icterus


4. Riwayat masa lalu
1)Penyakit waktu kecil
Penyakit yang pernah diderita (tanyakan, apakah
klien pernah sakit batuk yang lama dan benjolan
bisul

pada

leher

serta

tempat

kelenjar

yang

lainnya dan sudah diberi pengobatan antibiotik


tidak

sembuh-sembuh?

Tanyakan,

apakah

pernah

berobat tapi tidak sembuh? Apakah pernah berobat


tapi tidak teratur?)
2)Pernah di rawat di Rumah Sakit
Tanyakan
kecil
sakit,

apakah

sampai
jika

sakit

membuat
ia,

apakah

yang

dialami

pasien

di

dirawat

keadaannya

waktu

dirumah

parah

atau

seperti apa.
3)Obat-obatan yang pernah digunakan
Obat-obatan yang pernah diberikan sangat penting
untuk

diketahui,

agar

kerja

obat

serta

efek

samping yang timbul dapat di ketahui. Pemberian


antibiotik

dalam

jangka

panjang

pernah

melakukan

perlu

di

identifikasi
4)Tindakan (operasi)
Apakah

sebelumnya

tindakan

operasi, pada bagian apa, atas indikasi apa


5)Alergi
Apakah mempunyai riwayat alergi terhadap obatobatan, udara atau makanan
6)Kecelakaan
Pernah mengalami kecelakaan ringan sampai hebat
sebelumnya, apabila mengalami kecelakaan apakah
langsung di beri tindakan, atau di bawa berobat
ke dokter atau hanya di diamkan saja
7)Imunisasi
a)Imunisasi
dilakukan

aktif

dengan

dalam

tubuh

akan

membuat

merupakan

cara

sehingga
zat

imunisasi

menyuntikkan
tubuh

antibody

anak

yang

antigen

sendiri

yang

akan

ke

yang

bertahan

bertahun-tahun lamanya. Imunisasi aktif ini akan


lebih bertahan lama daripada imunisasi pasif
b)Imunisasi pasif : disini tubuh tidak membuat
sendiri

zat

anti

mendapatkannya

dari

penyuntikkan
mengandung

bahan
zat

mendapatkannya

akan

tetapi

luar
atau

anti.
dari

dengan

cara

yang

telah

serum
Atau

ibu

tubuh

anak

pada

tersebut

saat

dalam

kandungan
1) Vaksin BCG ( Bacillus Calmet Guirnet )
2) Vaksin campak
3) Vaksin polio
4) Vaksin DPT ( Difetri Pertusis Tetanus )
5) Vaksin toxoid difetri
5. kebutuhan dasar (11 Pola Fungsi Gordon)
1) Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Subjektif:Nyeri

dada

meningkat

karena

batuk

berulang.
Obiektif:
prilaku

Berhati-hati

distraksi,

pada

area

yang

sakit,

gelisah,

nyeri

bisa

timbul

bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga


timbul pleuritis.
2)Pola nutrisi metabolic
Subjektif:Anoreksia, mual, tidak enak diperut,
penurunan berat badan.
Objektif:Turgor

kulit

jelek,

kulit

kering/bersisik, kehilangan lemak subkutan


3)Pola eliminasi
Perubahan karakteristik feses dan urine, nyeri
tekan pada kuadran kanan atas dan hepatomegali,
nyeri

tekan

pada

kuadran

kiri

atas

dan

splenomegali.
4) Pola tidur dan istirahat
Subjektif:

Nyeri

dada

meningkat

karena

batuk

berulang.
Obiektif:

Berhati-hati

pada

area

yang

sakit,

perilaku distraksi, gelisah, nyeri bisa timbul


bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga
timbul pleuritis.
5) Pola aktivitas dan latihan
Subjektif:

Rasa

lemah

cepat

lelah,

aktivitas

berat timbul. sesak (nafas pendek), sulit tidur,


demam, menggigil, berkeringat pada malam hari
Objektif:Tachicardi,
kerja,

tachipneu/dispneu

irritable,

sesak

(tahap,

saat
lanjut;

infiltrasi radang sampai setengah paru), demam


subfebris (40 -410C) hilang timbul
6) Pola persepsi kognitif
Subjektif:Perasaan

isolasi/penolakan

karena

penyakit menular
Objektif:Perubahan

pola

biasa

dalam

tahap/perubahan kapasitas fisik


7)Pola persepsi dan konsep diri
Subjektif:Faktor
hospitalisasi

yang

stres

lama,

mengakibatkan

proses

masalah

pada

anak
Objektif:ansietas,

ketakutan,

berontak,

rewel

dan menangis terus-menerus.


8)Pola peran hubungan dengan sesama
a.Yang mengasuh anak
Hubungan
kembang
secara

keluarga
anak.

dapat

Siapa

konstan

yang

mempengaruhi
lebih

menekankan

tumbuh

intensif

dan

perkembangan,

pertumbuhan si anak dapat mempengaruhi perilaku,


sikap dan pengontrolan emosi serta perkembangan
anak
b.Hubungan dengan anggota keluarga

Keluarga diharapkan untuk dapat lebih menekankan


perkembangan individu setiap anaknya, kemudian
orangtua akan lebih intensif dan secara konstan
menekankan harapan keluarga terhadap anaknya
c.Hubungan dengan teman sebaya
Terciptanya hubungan yang hangat dengan teman
sebayanya

akan

berpengaruh

besar

terhadap

perkembangan emosi, sosial dan intelektual anak


d.Lingkungan rumah
Lingkungan

tempat

tinggal

(Lingkungan

kurang

sehat (polusi, limbah), pemukiman yang padat,


ventilasi

rumah

yang

kurang,

jumlah

anggota

keluarga yang banyak), pola sosialisasi anak.


9)Pola koping dan toleransi terhadap stres
Subjektif:
hospitalisasi

Faktor

stres

lama,

yang

mengakibatkan

proses

masalah

pada

anak
Objektif: ansietas, ketakutan, berontak, rewel
dan menangis terus-menerus.
10)Pola reproduksi dan seksualitas
Anak biasanya dekat dengan ibu daripada ayah.
11)Pola nilai dan kepercayaan
Pada anak biasanya belum begitu paham, tapi bagi
orang tua biasnya akan menyerahkan pada Tuhan
dan selalu berdoa untuk kesembuhan keluarganya
6. Pemeriksaan fisik
1)Keadaan umum
Pada

umumnya

berobat

sering

pasien

tuberkulosis

ditemukan

sudah

anak

dalam

yang

keadaan

lemah, pucat, kurus dan tidak bergairah


2)Tanda-tanda vital
sering

demam

walaupun

tidak

terlalu

tinggi,

demam dapat lama atau naik turun, nafas cepat


dan pendek, saat badan demam atau panas biasanya
tekanan nadi anak menjadi tachicardi
3)Antropometri
Mengukur

lingkar

kepala,

lengan,

dada

dan

panjang badan serta berat badan.


4)Pemeriksaan fisik
a) Kepala
rambut

kaji

bentuk

kepala,

kebersihan

b) Mata : kaji bentuk mata, konjungtiva, sklera,


pupil
c) Hidung
ada

: terdapat cuping hidung atau tidak,

penumpukkan

sekret

atau

tidak,

simetris

tidak.
d) Mulut

: kaji kebersihan mulut, apakah ada

stomatitis, gigi yang tumbuh


e)

Telinga

kaji

kebersihan

telinga,

bentuk

sejajar dengan mata, ada cairan atau tidak, uji


pendengaran anak
f) Leher
leher

: Benjolan/pembesaran kelenjar pada

(servikal),

axilla,

inguinal

dan

sub

mandibula.
g) Dada

: Batuk: terjadi karena adanya iritasi

pada bronkus; batuk ini membuang/ mengeluarkan


produksi

radang,

dimulai

dari

batuk

kering

sampai batuk purulen (menghasilkan sputum).


1) Sesak nafas

terjadi

bila

sudah

lanjut, dimana infiltrasi radang sampai


setengah paru.
2) Nyeri dada

: ini jarang ditemukan,

nyeri

bila

timbul

infiltrasi

radang

ditemukan

berupa

sampai ke pleura.
3)

Malaise

anoreksia,
kepala,

berat

nyeri

badan

otot

dan

menurun,
kering

sakit

diwaktu

malam hari.
4) Perut

kaji bentuk

perut,

bising usus
5) Ekstermitas

kaji kekuatan

ekstermitas atas dan bawah, apakah ada


kelemahan
6) Kulit

: Pembesaran kelenjar

biasanya multipel.
7)

Benjolan/pembesaran

leher

(servikal),

kelenjar

axilla,inguinal

pada
dan

sub mandibula. Kadang terjadi abses.


8) Genetalia
disfungsi

pada

: kaji apakah ada


alat

genitalia,

kaji

bentuk, skrotum sudah turun atau belum,


apakah lubang ureter ditengah

7.

Pemeriksaan tingkat perkembangan untuk anak

usia < 6 tahun


a) Motorik kasar

: sudah bisa berjalan

sendiri tanpa bantuan orang lain


b) Motorik halus
cangkir,

: sudah bisa memegangi

memasukkan

jari

ke

lubang,

membuka

kotak, melempar benda


II.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Resiko

infeksi

&

penye-baran

infeksi

berhubu-ngan

dengan malnutrisi & riwayat infeksi.


2. Perubahan nutrisi: ku-rang dari kebutuhan berhubungan
dengan peningkatan kebutuhan kalori & kesulitan dalam
mencerna kalori
3. Gangguan mobilitas fi-sik berhubungan deng-an penurunan
kekuatan otot, terjadi kontraktur, efek tirah baring.
4. Kurang

pengetahuan

keluarga

tentang

kon-disi

klien,

pengobatan, prosedur diagnostik & prognosis


III.

RENCANA KEPERAWATAN

No

Diagnosa

1.

Keperawatan
Bersihan Jalan

Airway suction

Nafas

Respiratory

-Pastikan kebutuhan

efektif

NOC

tidak
b.d

NIC

status:Ventilation

produksi

sputum

Respiratory

oral

tracheal

suctioning
status

-Auskultasi
:Airway

suara

nafas sebelum dan


sesudah

patency

suctioning.

Aspiration Control

-Informasikan
klien

Kriteria Hasil :

dan

keluarga

Mendemonstrasikan

suctioning

batuk

efektif

suara

nafas

bersih,

yang

tidak

sianosis
dyspneu

dan -Minta

sputum,

tentang

klien

dalam
suction

dan

dilakukan.

(mampu -Berikan

O2

menggunakan
mampu

untuk

nafas

sebelum

ada

mengeluarkan

pada

dengan
nasal

bernafas
mudah,

dengan
tidak

ada

pursed lips)

memfasilitasi
suksion
nasotrakeal
-Gunakan

Menunjukkan
nafas

yang

jalan

steril

paten

melakukan

(klien tidak merasa


frekuensi

pernafasan
rentang
tidak

dalam
normal,

ada

suara

nafas abnormal)

tindakan
untuk
dan

pasien
istirahat

napas

setelah

dalam
kateter

dikeluarkan

dari

nasotrakeal
-Monitor

yang

sitiap

irama -Anjurkan

tercekik,
nafas,

alat

status

oksigen pasien

Mampu
mengidentifikasikan

-Ajarkan

keluarga

dan mencegah factor

bagaimana

yang

dapat

melakukan suksion

menghambat

jalan -Hentikan

nafas

cara
suksion

dan

berikan

oksigen

apabila

pasien
menunjukkan
bradikardi,
peningkatan
saturasi O2, dll.
Airway Management
-Buka

jalan

guanakan

nafas,
teknik

chin lift atau jaw


thrust bila perlu
-Posisikan

pasien

untuk
memaksimalkan
ventilasi
-Identifikasi
pasien

perlunya

pemasangan
jalan
buatan

alat
nafas

-Pasang

mayo

bila

fisioterapi

dada

perlu
-Lakukan
jika perlu
-Keluarkan

sekret

dengan batuk atau


suction
-Auskultasi

suara

nafas,

catat

adanya

suara

tambahan
-Lakukan

suction

pada mayo
-Berikan
bronkodilator
bila perlu
-Berikan

pelembab

udara Kassa basah


NaCl Lembab
-Atur

intake

untuk

cairan
mengoptimalkan
keseimbangan.
-Monitor
2.

respirasi

Nyeri

-Pain Level,

dan status O2
Pain Management

berhubungan

-Pain control,

-Lakukan pengkajian

dengan
injuri

agen -Comfort level

nyeri secara

Kriteria Hasil :
-Mampu
nyeri

mengontrol termasuk lokasi,


(tahu

penyebab karakteristik,

nyeri,

mampu durasi, frekuensi,

menggunakan

tehnik kualitas dan faktor

nonfarmakologi
mengurangi

untuk presipitasi
nyeri, -Observasi reaksi

mencari bantuan)
-Melaporkan
nyeri
dengan

komprehensif

nonverbal dari
bahwa ketidaknyamanan

berkurang -Gunakan teknik


menggunakan komunikasi

manajemen nyeri

terapeutik untuk

-Mampu

mengenali mengetahui

nyeri

(skala, pengalaman nyeri

intensitas, frekuensi pasien


dan tanda nyeri)
-Menyatakan
nyaman

setelah

berkurang
-Tanda

vital

rentang norm

-Kaji kultur yang


rasa mempengaruhi respon
nyeri nyeri
-Evaluasi
dalam pengalaman nyeri
masa lampau
-Evaluasi bersama
pasien dan tim
kesehatan lain
tentang
ketidakefektifan
kontrol nyeri masa
lampau
-Bantu pasien dan
keluarga untuk
mencari dan
menemukan dukungan
-Kontrol lingkungan
yang dapat
mempengaruhi nyeri
seperti suhu
ruangan,
pencahayaan dan
kebisingan
-Kurangi faktor
presipitasi nyeri
-Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
(farmakologi, non
farmakologi dan
inter personal)
-Kaji tipe dan
sumber nyeri untuk
menentukan
intervensi
-Ajarkan tentang
teknik non
farmakologi

-Berikan analgetik
untuk mengurangi
nyeri
-Evaluasi
keefektifan kontrol
nyeri
-Tingkatkan
istirahat
-Kolaborasikan
dengan dokter jika
ada keluhan dan
tindakan nyeri
tidak berhasil
-Monitor penerimaan
pasien tentang
manajemen nyeri
Analgesic
Administration
-Tentukan lokasi,
karakteristik,
kualitas, dan
derajat nyeri
sebelum pemberian
obat
-Cek instruksi
dokter tentang
jenis obat, dosis,
dan frekuensi
-Cek riwayat alergi
-Pilih analgesik
yang diperlukan
atau kombinasi dari
analgesik ketika
pemberian lebih
dari satu
-Tentukan pilihan
analgesik
tergantung tipe dan
beratnya nyeri
-Tentukan analgesik

pilihan, rute
pemberian, dan
dosis optimal
-Pilih rute
pemberian secara
IV, IM untuk
pengobatan nyeri
secara teratur
-Monitor vital sign
sebelum dan sesudah
pemberian analgesik
pertama kali
-Evaluasi
efektivitas
analgesik, tanda
dan gejala (efek
3.

Gangguan

samping)
-Respiratory Status : Airway Management

pertukaran gas Gas exchange

-Buka jalan nafas,

berhubungan

-Respiratory Status :

guanakan teknik

dengan

ventilation

chin lift atau

ketidakseimban

-Vital Sign Status

jaw thrust bila

gan perfusi.

perlu
Kriteria Hasil :

-Posisikan pasien

-Mendemonstrasikan

untuk

peningkatan ventilasi

memaksimalkan

dan

ventilasi

oksigenasi

yang

adekuat

-Identifikasi

-Memelihara
kebersihan

pasien perlunya
paru

paru

pemasangan alat

dan bebas dari tanda

jalan nafas

tanda

buatan

distress

pernafasan

-Pasang mayo bila

-Mendemonstrasikan
batuk

efektif

suara

nafas

bersih,

perlu
dan -Lakukan

yang

tidak

ada

sianosis

dan

(mampu

mengeluarkan

sputum,
bernafas

fisioterapi dada
jika perlu

dyspneu -Keluarkan sekret


mampu

dengan batuk atau


suction

dengan -Auskultasi suara

mudah,

tidak

ada

pursed lips)
-Tanda

tanda

nafas, catat
adanya suara

vital

dalam rentang normal

tambahan
-Lakukan suction
pada mayo
-Berika
bronkodilator
bial perlu
-Barikan pelembab
udara
-Atur intake untuk
cairan
mengoptimalkan
keseimbangan.
-Monitor respirasi
dan status O2
Respiratory
Monitoring
-Monitor rata
rata, kedalaman,
irama dan usaha
respirasi
-Catat pergerakan
dada,amati
kesimetrisan,
penggunaan otot
tambahan,
retraksi otot
supraclavicular
dan intercostal
-Monitor suara
nafas, seperti
dengkur
-Monitor pola nafas
: bradipena,
takipenia,
kussmaul,
hiperventilasi,
cheyne stokes,
biot

-Catat lokasi
trakea
-Monitor kelelahan
otot diagfragma
(gerakan
paradoksis)
-Auskultasi suara
nafas, catat area
penurunan / tidak
adanya ventilasi
dan suara
tambahan
-Tentukan kebutuhan
suction dengan
mengauskultasi
crakles dan
ronkhi pada jalan
napas utama
-auskultasi suara
paru setelah
tindakan untuk
mengetahui
hasilnya
4.

Ketidakseimban
gan

nutrisi

kurang

dari

-Nutritional Status : Nutrition


food

and

Fluid

Intake

-Kaji adanya alergi

kebutuhan

Kriteria Hasil :

tubuh

-Adanya

berhubungan

berat

dengan
biologis

makanan

peningkatan -Kolaborasi
badan

sesuai

faktor dengan tujuan


-Berat

badan

sesuai

ideal
dengan

tinggi badan

ahli

dengan

gizi

untuk

menentukan

jumlah

kalori

dan

nutrisi

yang

dibutuhkan

-Mampu

pasien.

mengidentifikasi
kebutuhan nutrisi
-Tidak

Management

ada

tanda

tanda malnutrisi
-Tidak
penurunan

-Anjurkan
untuk

meningkatkan
intake Fe

terjadi -Anjurkan
berat

pasien

untuk

pasien

badan yang berarti

meningkatkan
protein

dan

vitamin C
-Berikan

substansi

gula
-Yakinkan diet yang
dimakan
mengandung

tinggi

serat

untuk

mencegah
konstipasi
-Berikan

makanan

yang

terpilih

sudah

dikonsultasikan
dengan ahli gizi)
-Ajarkan

pasien

bagaimana

membuat

catatan

makanan

harian.
-Monitor

jumlah

nutrisi

dan

kandungan kalori
-Berikan
tentang

informasi
kebutuhan

nutrisi
-Kaji

kemampuan

pasien

untuk

mendapatkan
nutrisi

yang

dibutuhkan
Nutrition
Monitoring
-BB

pasien

dalam

batas normal
-Monitor

adanya

penurunan

berat

badan
-Monitor
jumlah

tipe

dan

aktivitas

yang

biasa

dilakukan
-Monitor

interaksi

anak

atau

orangtua

selama

makan
-Monitor lingkungan
selama makan
-Jadwalkan
pengobatan

dan

tindakan

tidak

selama jam makan


-Monitor

kulit

kering

dan

perubahan
pigmentasi
-Monitor

turgor

kulit
-Monitor
kekeringan,
rambut kusam, dan
mudah patah
-Monitor

mual

dan

muntah
-Monitor

kadar

albumin,
protein,

total
Hb,

dan

kadar Ht
-Monitor

makanan

kesukaan
-Monitor
pertumbuhan

dan

perkembangan
-Monitor
kemerahan,

pucat,
dan

kekeringan
jaringan
konjungtiva
-Monitor kalori dan
intake nuntrisi
-Catat

adanya

edema,

hiperemik,

hipertonik

papila

lidah dan cavitas


oral.
-Catat

jika

berwarna

lidah

magenta,

scarlet

DAFTAR PUSTAKA
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta:EGC.
Maryunani anik. 2010. ilmu kesehatan anak dalam kebidanan.
Jakarta : CV. trans info media.
Alimul. A. Aziz, Hidayat. 2008. Pengantar ilmu keperawatan
anak. Surabaya : salemba medika.
Departemen

Kesehatan

Republik

Indonesia.

2006.

Pedoman

Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Depkes RI : Jakarta.


ohnson,

M.,

et

all.

2000.

Nursing

Outcomes

Classification

(NOC) Second Edition. New Jersey: Upper Saddle River


Mc

Closkey,

C.J.,

et

all.

1996.

Nursing

Interventions

Classification (NIC) Second Edition. New Jersey: Upper Saddle


River
Tambayong, J. 2003. Patofisiologi untuk Keperawatan. EGC :
Jakarta.