Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap makhluk hidup memiliki hubungan kekerabatan dengan yang
lain, dapat dilihat dari kesamaan yang dimiliki antara kedua makhluk hidup.
Kastawi dkk. (2005) mengemukakan bahwa kemiripan struktur yang dimiliki
oleh suatu organisme dapat dipakai sebagai kriteria untuk menentukan
kekerabatan. Jika suatu struktur tidak dimiliki oleh suatu makhluk hidup
menunjukkan terpisahnya makhluk itu dengan makhluk yang lain.
Drosophila sp. memiliki spesies yang beragam, masing-masing
memiliki ciri dan karakteristik yang berbeda dan dapat diamati secara
morfologi. Beberapa ciri yang dimiliki ternyata juga dimiliki oleh spesies lain.
Oleh karena itu dapat diamati hubungan kekerabatannya sesuai pernyataan
Kastawi di atas. Hubungan kekerabatan dapat dinyatakan dengan metode
fenetik maupun filogenetik. Metode fenetik didasarkan pada kesamaan
karakter secara fenotip (morfologi, anatomi, embriologi, dan fitokimia)
sedangkan metode filogenetik lebih didasarkan pada nilai evolusi masingmasing karakter (Nurchayati, 2010). Berdasarkan hal tersebut maka
pengamatan secara morfologi termasuk dalam metode fenetik.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa masing-masing Drosophila
sp. di setiap daerah memiliki ciri dan karakter yang sama dan berbeda.
Berdasarkan fenomena tersebut maka disusunlah proyek untuk menentukan
hubungan kekerabatan Drosophila sp. dari beberapa daerah yaitu Malang,
Gresik, dan Mojokerto dengan judul Hubungan Kekerabatan Drosophila
sp. Tangkapan Daerah Malang, Mojokerto, dan Kediri berdasarkan Ciri
Morfologi Menggunakan Dendogram.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah berdasarkan latar belakang di atas yaitu
bagaimana hubungan kekerabatan Drosophila sp. tangkapan dari daerah
Malang, Mojokerto, dan Gresik?

C. Tujuan
Tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah di atas yaitu untuk
mengetahui hubungan kekerabatan Drosophila sp. tangkapan dari daerah
Malang, Mojokerto, dan Gresik.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
a. Dapat mengetahui ciri dan hubungan kekerabatan Drosophila sp.
tangkapan dari daerah Malang, Mojokerto, dan Gresik.
b. Melatih kemampuan dalam menganalisis hubungan kekerabatan
makhluk hidup yaitu Drosophila sp.
2. Bagi Pembaca
a. Memberikan informasi tentang hubungan kekerabatan Drosophila sp.
dari daerah Malang, Mojokerto, dan Gresik.
b. Memberikan informasi tambahan sebagai acuan untuk penelitian
selanjutnya tentang hubungan kekerabatan makhluk hidup.
E. Batasan Masalah
Batasan masalah pada peneiian ini yaitu
1. Drosophila sp. yang diteliti berasal dari 3 daerah berbeda dan saling
berdekatan yaitu Malang, Mojokerto, dan Gresik dan diambil dari tiga titik
yang berbeda.
2. Ciri yang diamati sebatas ciri morfologi pada bagian kepala, thorak,
abdomen, sayap, dan tungkai.
3. Ciri yang diamati minimal 50 ciri morfologi dari hasil persilangan F3
4. F3 diperoleh dari persilangan induk jantan dan betina yang memiliki ciri
dan jumlah ciri yang sama.
5. Analisis data menggunakan dendogram pada data hasil pengamatan 50 ciri
morfologi hasil anakan F3.

F. Asumsi Penelitian
Asumsi pada penelitian ini yaitu
1. Hasil anakan F3 yang merupakan hasil persilangan induk dengan ciri dan
jumlah ciri sama dianggap telah mencapai galu murni.
2. Kondisi lingkungan (suhu, cahaya, kelembaban, dan sebagainya) dianggap
sama.
3. Umur Drosophila yang disilangkan dianggap sama.
4. Kondisi medium pada tiap botol dari awal hingga akhir penelitian
dianggap sama.
G. Definisi Operasional
Definisi operasional pada penelitian ini yaitu
1. Identifikasi pada penelitian ini yaitu mengamati 50 ciri morfologi yang
dimiliki oleh Drosophila sp. dari daerah Malang, Mojokerto, dan Gresik.
2. Ciri morfologi merupakan ciri yang nampak pada luar tubuh meliputi
bagian kepala, thorax, abdomen, sayap, dan tungkai.
3. Galur murni pada penelitian ini yaitu hasil pemurnian dengan persilangan
hingga mendapatkan keturunan F3.
4. Menyilangkan pada penelitian ini yaitu mengawinkan Drosophila sp.
jantan dan betina yang memiliki ciri mofologi sama meliputi daerah
Malang, Mojokerto, dan Gresik.
5. Mengampul adalah cara mendapatkan individu yang belum kawin dengan
jalan mengambil pupa hitam dan memasukkannya pada selang yang berisi
pisang. Pada penelitian ini satu selang berisi 2 pupa hitam yang terpisah.
6. Peremajaan pada penelitaian ini yaitu memperbanyak stok dengan
mengawinkan 3 Drosophila sp. jantan dan betina pada botol yang berisi
medium.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Klasifikasi
Marga

Drosophila

mempunyai

jumlah

paling

besar

bila

dibandingkan dengan marga-marga yang lain dalam suku yang sama yaitu
Drosophilidae, Leucophelenga, Liodrosophila, Lissocephala, Microdrosophila,
Scaptomyza, Stegna, Styloptera dan Tambodrella (Bock,1976). Klasifikasi
Drosophila menurut Boror, Triplehorn, dan Johnson (1992) adalah sebagai
berikut.
Filum
Anak Filum
Induk Kelas
Kelas
Anak Kelas
Bangsa
Anak Bangsa
Induk Suku
Suku
Marga
Species

: Arthropoda
: Mandibulata
: Hexapoda
: Insecta
: Pterygota
: Dyptera
: Cyclorappa
: Ephydroidae
: Drosophilidae
: Drosophila
: Drosophila sp.

B. Deskripsi Drosophila
Drosophila merupakan spesies yang memiliki dimorfisme seksual,
jantan dan betina dapat dengan mudah dibedakan berdasarkan beberapa
perbedaan morflogis. Morfologi eksternal yang dapat digunakan sebagai
pembeda yaitu bentuk ujung abdomen, sex combs, ovipositor, dan genitalia
eksternal. Betina memiliki abdomen dengan ujung agak lancip sedangkan
ujung abdomen jantan membulat. Segmen tarsal pertama pada jantan terdapat
sex combs, sederet bristle gelap dan tebal (Chyb dan Gompel, 2013).
Bock (1976) membagi genus Drosophila menjadi beberapa subgenus
yang

meliputi

Scaptodrosophila,

Hirtodrosophila,

Drosophila,

dan

Sophophora. Pada subgenus Scaptodrosophila memiliki ciri 1, 2, atau


(biasanya) 3 karakter berikut: prescutellar acrostichal bristle membesar,
sternopleural bristle subequal (sama), terdapat propleural bristle. Subgenus
Hirtodrosophila memiliki ciri presutellar acrostichal bristle tidak membesar,
anterior dan middle sternopleural bristle dan anterior reclinate orbital bristle
biasanya sangat halus (kecil), tidak terdapat propleural bristle. Subgenus
4

Drosophila memiliki ciri apical band pada tergit abdominal anterior biasanya
terpotong (tidak tersambung) pada bagian midline, pipi biasanya lebar, femur
bagian depan pada beberapa spesies dengan femoral comb. Sedangkan pada
subgenus Sphophora memiliki ciri apical band pada tergit abdominal
bersambung, pipi sempit, femoral comb tidak pernah ada.
Contoh subgenus Scaptodrosophila D. inornata Malloch, D. Rabdote
Bock, D. obselettamalloch, D. Collesh Bock, D. barkeri Bock, D. Lovisae
Bock,

Person, D.cancellata Mather, D. Ellenae Bock, D. brunneipennis

Malloch, D. Notha Bock , D. brunea de Meijere, D. Cultello sp. Nov, D.


altera Bock, D. Anthermon dan lain-lain. Contoh subgenus Hirtodrosophila:
D. Borbosor Bock, D. Bannae Bock dan Person dan lain-lain. Contoh
subgenus Drosophila: D. funebris (fabrinus), D. replata Wollaston, D. hydei
Sturtevant. Contoh subgenus Sophopora: D. melanogaster Meigen, D.
Ananassae Doleschall, D. Debticulata Bock dan Wheller (Bock, 1976).
C. Ciri Morfologi
Ciri utama yang dipakai dalam identifikasi diptera ialah sungut,
tungkai, sayap, dan ketotaksi (susunan rambut bulu, terutama dari kepala dan
toraks (Borror, Triplehorn, dan Johnson 1992). Bock (1976) menambahkan
bahwa bagian tubuh yang dapat digunakan dalam kepentingan identifikasi
yaitu bagian kepala, toraks, sayap, dan tungkai. Dalam kepentingan
identifikasi dibantu dengan gambar, yang berfungsi untuk membantu dalam
proses identifikasi bagian-bagian tubuh organisme khususnya dalam rangka
menentukan 50 ciri morfologi.
1. Kepala
Kepala dengan 2 (biasanya) atau 3 (fronto-) orbital bristle, arista berbentuk
sisir atau berbentuk rambut (Bock, 1976).

Gambar 2.1. Bagian Kepala pada Drosophila (tampak anterior). Keterangan: PV (post
vertical bristle), OC (ocellar bristle), pOR (posterior orbital bristle), mOR
(midle orbital bristle), dan aOR (anterior orbital bristle) (Chyb dan Gompel,
2013).

Gambar 2.2. Bagian Kepala pada Drosophila (tampak lateral). Keterangan: aVT (anterior
vertical bristle), pVT (posterior vertical bristle) OC (ocellar bristle), pOR
(posterior orbital bristle), mOR (midle orbital bristle), dan aOR (anterior
orbital bristle) (Chyb dan Gompel, 2013).

2. Thorak
Thorak biasanya dengan 1 pasang humeral bristle, 2 notopleural, 1
presutural, 2 supra-alar dan 2 post-alar, margin scutelar dengan 4 bristle
(anterior dan posterior scutellars), pasangan anterior biasanya tereduksi
pada beberapa genera (Bock, 1976).

Gambar 2.3. Bagian Thorax pada Drosophila (tampak dorsal). Keterangan: HU (humeral
bristle), aNP (anterior notopleural), pNP (posterior notopleural), PS
(presutural bristle), aSA (anterior supra-alar bristle), pSA (posterior supraalar bristle), aDC (anterior dorso-central bristle), pDC (posterior dorsocetral bristle), aPA (anterior post-alar bristle), pPA (posterior post-alar
bristle), pST (posterior sternopleural), aSC (anterior scutelar beristle, dan
pSC (posterior scutelar bristle) (Chyb dan Gompel, 2013).

Gambar 2.4. Bagian Thorax pada Drosophila (tampak lateral). Keterangan: HU (humeral
bristle), aNP (anterior notopleural), pNP (posterior notopleural), PS

(presutural bristle), aSA (anterior supra-alar bristle), pSA (posterior supraalar bristle), aDC (anterior dorso-central bristle), pDC (posterior dorsocetral bristle), aPA (anterior post-alar bristle), pPA (posterior post-alar
bristle), aST (anterior sternopleural), mST (midle sternopleural), pST
(posterior sternopleural), aSC (anterior scutelar beristle, dan pSC (posterior
scutelar bristle) (Chyb dan Gompel, 2013).

3. Sungut
Sebuah arista mungkin telanjang, berambut, atau plumose (Borror,
Triplehorn, dan Johnson, 1992).
4. Sayap
Klasifikasi Drosophila sp. dilakukan dengan pengamtan ciri sayap
terutama perangka-sayap. Ruangan-ruangan yang tertutup sayap adalah
ruangan sayap (cell) yang tidak mencapai batas sayap. Bila penebalan tepi
anterior sayap (kosta) berakhir dekat ujung sayap, kosta dikatakan meluas
sampai ujung sayap. Pada beberapa Drosophila terdapat rangka-rangka
sayap pada kosta kelihatan patah. Tempat demikian disebut pematahan
kosta yang dapat terjadi di dekat ujung R1 atau rangka sayap melintag
humerus (Borror, Triplehorn, dan Johnson, 1992). Bock (1976) juga
menyatakan bahwa costa sayap dengan patahan proksimal dan distal. Di
belakang ujung R1 jika terdapat satu deret rambut-rambut panjang atau
bulu sepanjang kosta, disebut kosta berduri (Borror, Triplehorn, dan
Johnson, 1992). Menurut Bock (1976), costa mencapai ujung longitudinal
vein ke-3 atau ke-4. Longitudinal vein pertama erakhir pada distal costal.
Terdapat anterior dan posterior cross-vein. Discal dan basal sel kedua
dipisahkan oleh crossvein ketiga pada beberapa genera.

Gambar 2.5. Bagian Sayap pada Drosophila. Keterangan: L 1 (kosta), L2 (radial vein), L3
(medial vein), L4 (cubital vein), L5 (distal vein), L6 (vein L6), a-cv (anterior
cross-vein), p-cv (posterior cross-vein), axv (axillary vein), h-cv (humeral
cross-vein), C (costal cell), M (marginal cell), S (submarginal cell), B 1 (basal
cell 1), 1P (first posterior cell), B2 (basal cell 2), D (discal cell), 2P (second
posterior cell), A (anal cell), 3P (third posterior cell), A1 (alula), Ax (axillary
cell) (Chyb dan Gompel, 2013).

5. Tungkai
Ciri tugkai yang utama yang dipakai untuk memisahkan yaitu struktur
empodium, ada tidaknya taji-taji tibia dan adanya bulu rambut tertentu.
Empodium adalah suatu struntur yang timbul dari antara kuku pada ruas
tarsus terakhir. Empodium adalah seperti rambut atau tidak ada pada
kebanyakan famili. Pulvili adalah bantalan pada ujung ruas tasus yang
terakhir, satu pada dasar masing-masing kuku (Borror, Triplehorn, dan
Johnson, 1992). Bock (1976) menambahkan bahwa preapical bristle
biasanya terdapat pada tibia.

Gambar 2.6. Bagian Tungkai pada Drosophila (Chyb dan Gompel, 2013).

Gambar 2.7. Ujung Tarsus (bagian dorsal). A. Empodium berbentuk rambut dan B.
Empodium berbentuk Pulvili. Keterangan emp: empodium, pul: pulvili, tcl:
kuku tarsus, ts: tarsus yang terakhir (Boror, Triplehorn, dan Johnson, 1992).

6. Ketotaksi
Pada identifikasi lalat tertentu, penggunaan yang banyak dibuat dengan
jumlah, ukuran besarnya, letak, dan susunan rambut yang lebih besar pada
kepala dan toraks (Borror, Triplehorn, dan Johnson, 1992).
10

D. Persebaran Drosophila
Drosophila merupakan salah satu marga dalam ordo Diptera. Marga
Drosophila mempunyai jumlah anggota yang paling besar, bermacam-macam
dan habitatnya tersebar luas. Menurut Annisa (2013) genus Drosophila
memiliki penyebaran yang sangat luas. Drosophila yang tersebar luas di Asia
Tenggara diantaranya adlah Drosophila ananassae, Drosophila hypocausta,
Drosophila immigrans, dan lainnya, sedangkan Drosophila yang tertangkap di
Indonesia adalah jenis kosmopolitan. Menurut Wheeler dalam bukunya yang
berjudul The Genetic and Biology of Drosophila telah mencatat terdapat
sekitar 120 jenis lalat buah dari famili Drosophilidae sedangkan di Indonesia
tercatat sekitar 600 jenis.
Persebaran

Drosophila

di

Indonesia

tidak

merata,

diduga

persebarannya dipengaruhi oleh letak daerah dan jenis buah musiman yang
terdapat di daerah tersebut, selain itu faktor lingkungan juga mempengaruhi
keanekaragaman Drosophila seperti suhu, kelembaban, intensitas cahaya,
cuaca, dan musim. Tidak menutup kemungkinan Drosophila mengalami
penyebaran dan menyebabkan distribusi yang berbeda di setiap daerah
(Annisa, 2013).
E. Analisis Dendogram
Dendogram adalah suatu format sederhana untuk jarak genetik yang
ditampilkan dalam bentuk gambar pohon (Johari dkk, 2009). Dalam
sistematik, kekerabatan memiliki dua pengertian, kekerabatan fenetik dan
kekerabatan filogenetik. Menurut Indriwati (2009), dalam prakteknya lebih
umum digunakan kekerabatan fenetik dengan alasan: 1) untuk penerapan
klasifikasi secara filogenetik tidak tersedia bukti-bukti yang cukup sebagai
penunjang pelaksanaan sistem klasifikasi tersebut, 2) bila cukup banyak sifatsifat

yang

dipertimbangkan,

biasanya

kekerabatan

fenetik

akan

menggambarkan kekerabatan filogenetik.


Penentuan jauh-dekatnya hubungan kekerabatan fenetik antara
takson-takson organisme (tumbuhan/ hewan) satu sama lain, Indriwati (2009)
mengusulkan dengan cara menentukan kesamaan (resemblance atau

11

similarity) antara takson-takson organisme tersebut secara berpasangan. Tiga


cara menentukan kesamaan atau similaritas (Indriwati, 2009), yaitu dengan
mencari: 1) koefisein asosiasi, 2) koefisien korelasi, dan 3) jarak taksonomi.
Pada proyek kami menggunakan koefisein asosiasi.
F. Galur Murni
Galur murni adalah populasi yang merupakan turunan murni tanpa
adanya variasi genetik yang berarti. Galur murni didapatkan apabila seluruh
pasangan alela dalam keadaan homozigot (Corebima, 2013). Jika parental
heterozigot (Aa) mengalami fertilisasi sendiri, maka akan menghasilkan
keturunan AA, Aa,

aa. Frekuensi keturunan yang heterozigot adalah 0,5.

Jika fertilisasi sendiri terus berlangsung terus menerus hingga generasi


berikutnya, maka homozigot benar-benar diturunkan, sedangkan frekuensi
keadaan heterozigot akan berkurang menjadi 0,25. Fertilisasi sendiri yang
terus menerus berlangsung sampai beberapa generasi, akan memunculkan
frekuensi heterozigot yang menurun dari 50% menjadi 0,008 pada generasi
ke-7 dan 0,001 pada generasi ke-10. Pada tahap inilah populasi keturunan
homozigot mencapai 99,9% (Gardner, 1991). Diagram terbentuknya galur
muri dapat dilihat pada gambar 5.1. Namun pada penelitian ini untuk
memperoleh galur murni hanya sampai anakan dari keturunan ketiga (anakan
dari F3). Berdasarkan pernyataan Gardner di atas, kemungkinan persentase
heterozigot anakan F3 yaitu 6,25 % sehingga persentasse homozigotnya
adalah 93,75%. Hal tersebut mengindikasikan bahwa anakan F3 sudah dapat
dikatakan mencapai galur murni, disisi lain merujuk dari Corebima (2013)
bahwa keadaan homozigot sempurna diragukan dapat tercapai karena
bersangkut paut dengan peristiwa mutasi maupun adanya kecenderungan
segregasi untuk mempertahankan sejumlah kecil keadaan heterozigot dalam
sistem.

12

Gambar 2.8. Diagram terbentuknya galur murni (Peebles dkk, 2001)

G. Hubungan Kekerabatan
Hubungan kekerabatan tingkat taksonomi dapat ditinjau dari dua
sudut pandang yaitu fenetik dan filetik. Kekerabatan fenetik adalah
kekerabatan yang didasarkan pada kesamaan sifat menyeluruh. Kekerabatan
filetik adalah kekerabatan yang berdasarkan pada sifat filogenik. Semakin
banyak kesamaan ciri makin dekat tingkat kekerabatan pada spesies tersebut,
sedangkan makin sedikit persamaan ciri maka semakin jauh hubungan
kekerabatannya (Yatim,1991).
Dasar dari sistematika adalah deskripsi karakter. Ciri-ciri merupakan
perwujudan koordinasi sejumlah gen dan evolusi terjadi karena perubahan
satu atau lebih gen. Karakter luar hanya membedakan struktur dua taksa atau
lebih yang belum tentu mewakili perubahan genetik spesifik pada evolusi.
Struktur morfologi merupakan produksi akhir dari interaksi yang kompleks.
Hubungan kekerabatan dapat ditinjau dari beberapa aspek yaitu
tingkah laku, ciri morfologi, dan keturunan. Pendekatan yang umum dilakukan
untuk mengkaji hubungan kekerabatan dan klasifikasi adalah berdasarkan
kajian morfologi. Sistem klasifikasi data merupakan hal yang dominan karena
bentuk morfologi mempunyai keuntungan yaitu mudah diamati atau dilihat
dan keanekaragamannya sudah banyak dikenal dibanding data lainnya. Agar

13

diperoleh hasil penelitian yang memuaskan maka paling sedikit diperlukan 50


karakter atau ciri yang tidak mudah dipengaruhi oleh lingkungan (Sulasmi,
1997). Hubungan beberapa variabel kesamaan dapat dicari dengan
menghitung jarak antara variabel hingga mendapatkan suatu indeks,
selanjutnya diperoleh rerata indeks. Akhirnya dari rerata inilah akan
dipaparkan hubungan yang divisualisasikan melalui dendrogram.
H. Deskripsi Wilayah
1. Malang
Secara geografis wilayah kota Malang berada antara 074648084642 Lintang Selatan dan 1123142-1124848 Bujur Timur,
dengan luas wilayah 110,06 km2. Kota Malang terdiri dari 5 Kecamatan
yaitu Kedungkandang, Klojen, Blimbing, Lowokwaru, dan Sukun serta 57
kelurahan. Kota Malang memiliki ketinggian 300-1.694 di atas muka air
laut. Karena letaknya yang cukup tinggi, Kota Malang memiliki udara
yang sejuk dengan suhu rata-rata 24,13C dan kelembaban udara 72%
serta curah hujan rata-rata 1.883 milimeter per tahun (Dinas Kota Malang,
tanpa tahun)
2. Mojokerto
Secara geografis wilayah Kabupaten Mojokerto terletak antara
071835-074730 Lintang Selatan dan 1112013-1114047 Bujur
Timur. Secara geografis kabupaten Mojokerto tidak berbatasan dengan
pantai, hanya berbatasan dengan wilayah kabupaten lainnya. Luas wilayah
Kabupaten Mojokerto secara keseluruhan adalah 969.360 km2 atau 2,09%
dari luas Propinsi Jawa Timur. Secara administratif wilayah Kabupaten
Mojokerto terdiri dari 18 kecamatan, 229 desa, dan 5 kelurahan. Batas
sebelah utara yaitu Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Gresik, sebelah
timur adalah Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Pasuruan, sebelah selatan
adalah Kabupaten Malang dan Kota Batu, dan sebelah barat adalah
Kabupaten Jombang. Pada umumnya ketinggian di wilayah Mojokerto
rata-rata kurang dari 500 meter di atas permukaan air laut, dan hanya
kecamatan Pacet dan Trawas yang merupakan daerah terluas dan memiliki

14

daerah dengan ketinggian lebih dari 700 meter di atas permukaan air laut.
Suhu rata-rata di Kabupaten Mojokerto adalah 26,6C dengan curah hujan
sebesar 1783 mm per tahun (Pemerintah Kabupaten Mojokerto, 2013).
3. Gresik
Secara geografis wilayah Kabupaten Gresik terletak antara
071136 Lintang Selatan dan 1123311 Bujur Timur. Sebagian besar
wilayahnya merupakan dataran rendah dengan ketinggian 2-12 meter di
atas permukaan air laut kecuali kecamatan Panceng yang mempunyai
ketinggian 25 meter di atas permukaan air laut. Curah hujan relatif rendah
yaitu rata-rata 2.254 mm per tahun. Iklim Kabupaten Gresik termasuk
tropis dengan temperatur rata-rata 28,5C dan kelembaban udara rata-rata
75%. Hampir sepertiga bagian dari wilayah Kabupaten Gresik adalah
daerah pesisir pantai, yaitu sepanjang 140 km meliputi kecamatan
Kebonmas, Gresik, Manyar, Bungah, Sidayu, Ujungpangkah, dan Paceng
serta Kecamatan Tambak dan Sangkapura yang berada di pulau Bawean
(Bappeda Jatim, 2013).
I. Kerangka Konseptual
Penentuan hubungan kekerabatan dalam penelitian ini menggunkan
analisis dendogram. Grafik dendogram akan menggambarkan jauh dekatnya
hubungan Drosophila sp. dari 3 daerah pegambilan yang berbeda. Indeks
similaritas yang semakin mendekati 1 mengindikasikan bahwa hubungan
kekerabatannya semakin dekat begitu pula sebaliknya jika semakin mendekati
0 maka hubungan kekerabatannya semakin jauh.
Setiap makhluk hidup memiliki hubungan kekerabatan dengan yang lain
Hubungan kekerabatan dapat dinyatakan dengan metode fenetik yang
didasarkan pada kesamaan karakter secara fenotip yaitu morfologi
(Nurchayati, 2010)

Kemiripan struktur pada organisme dapat digunakan sebagai kriteria


untuk menentukan hubungan kekerabatan (Kastawi, 2003)
15

Drosophila sp. tangkapan dari Gresik, Malang, dan Mojokerto.


Identifikasi Drosophila sp. dilakukan terhadap galur murni yaitu F3
Persamaan ciri-ciri morfologi Drosophila sp.
Analisis data ciri-ciri morfologi melalui pembuatan dendogram

Persamaan ciri morfologinya

Persamaan ciri morfologinya

semakin banyak

semakin sedikit

Indeks similaritas mendekati 1

Indeks similaritas mendekati 0

Hubungan kekerabatan Drosophila

Hubungan kekerabatan

sp. dari Malang, Gresik, dan

Drosophila sp. dari Malang,

Mojokerto dekat

Gresik, dan Mojokerto jauh

J. Hipotesis
Drosophila sp. tangkapan dari Gresik, Malang, dan Mojokerto
memiliki hubungan kekerabatan yang dekat berdasarkan persamaan dan
perbedaan ciri-ciri morfologinya.

16

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian ekspos facto (expost facto
research). Penelitian ekspos facto ini meneliti hubungan sebab akibat yang
tidak dimanipulasi atau diberi perlakuan (dirancang dan dilaksanakan) oleh
peneliti (Taqiya, 2013). Dalam situasi ini peneliti hanya tinggal memilih
subjek dan mengukur efek variabel bebas terhadap variabel terikat yaitu
perbedaan lokasi (kota) yang mempengaruhi kekerabatan Drosophila sp.
antar kota, dengan cara mengamati ciri-ciri morfologi Drosophila tangkapan
dari masing-masing daerah yaitu Gresik, Malang, dan Mojokerto. Selanjutnya
dilakukan pemurnian hingga mendapatkan keturunan ketiga (F3). Kemudian
dilakukan analisis terhadap persamaan ciri yang diperoleh dengan indeks
similaritas dan menyajikannya dalam bentuk dendogram untuk mengetahui
tingkat kekerabatan antar jenis Drosophila dari ketiga daerah tersebut.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Tempat pengambilan sampel adalah di sekitar rumah peneliti di
daerah Gresik, daerah Malang, dan daerah Mojokerto. Pelaksanaan penelitian
di ruang Laboratorium Genetika (ruang 310) Jurusan Biologi FMIPA UM,
yang dilakukan pada bulan September sampai bulan November 2014.
C. Populasi dan Sampel Penelitian
Dalam penelitian ini populasi adalah seluruh Drosophila di Daerah
Gresik, Malang, dan Mojokerto sedangkan sampelnya adalah Drosophila
yang ditangkap di Kecamatan Balongpanggang untuk daerah gresik,
Kecamatan Mojosari untuk daerah Mojokerto dan Kecamatan Sukun untuk
daerah Malang. Setiap daerah diambil 3 titik sampel untuk bisa mewakili
Drosophila daerah masing-masing.
D. Variabel dalam Penelitian
Variabel Bebas

= Daerah tangkapan Drosophila


17

Variabel Terikat = Ciri morfologi yang diketemukan


Variabel kontrol = Medium, lingkungan peremajaan, alat dan bahan,
E. Alat dan Bahan
Alat:
- Botol selai

- Selang

- Gabus

- Kardus

- Gunting

- Kertas pupasi

- Spidol

- Kain kasa

- Stiker

- Kompor

- Panci

- Pengaduk

- Blender

- Mikroskop

- Plastik bening

- Pisau

- Kuas

- Cotton bud

Bahan:
- Pisang rajamala

- Tape

- Gula merah

- Yeast (fermipan)

- Air
F. Prosedur Kerja
1. Menangkap Drosophila sp.
a. Menentukan daerah penangkapan yaitu di sekitar rumah peneliti

(Gresik, Malang, dan Mojokerto).


b. Memasang perangkap dalam toples atau botol selai yang berupa

potongan buah (buah nangka dan buah pisang).


c. Meletakkan perangkap pada daerah yang dikehendaki.

d. Menutup toples atau botol selai yang sudah terisi lalat buah dengan kain
atau spons.
2. Membuat Medium (satu resep)
a. Menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan.
b. Mengupas pisang rajamala dan memotongnya, menimbang 700 gram.

18

c. Menimbang tape singkong sebanyak 200 gram.


d. Menimbang gula merah sebanyak 100 gram.
e. Memblender pisang dan tape singkong serta menambah air secukupnya.
f. Memasak hasil blenderan selama 45 menit.
g. Memasukkan ke botol selai.
h. Mendinginkan
i. Memberi kertas pupasi dan memberi yeast secukupnya
Catatan: perbandingan pisang: tape:gula merah 7 : 2 : 1
3. Pengamatan dan Peremajaan
a. Mengambil beberapa Drosophila sp. yang akan diamati dengan
menggunakan selang penyedot.
b. Memasukkan ke dalam plastic.
c. Drosophila sp. diambil dan diamati di bawah mikroskop stereo.
d. Mengamati ciri-ciri morfologi (kepala, badan, sayap, kaki) terutama ciri
pembeda antara jantan dan betina.
e. Memahami dan menggambar ciri pembeda Drosophila sp. jantan
dengan betina.
f. Meremajakan Drosophila sp. dari daerah yang sama, dengan cara
memasukkan beberapa pasang Drosophila sp. dalam botol selai berisi
medium yang telah disiapkan.
g. Peremajaan dilakukan sesuai keperluan untuk stok
4. Mengidentifikasi Drosophila
a. Menyiapkan dasar untuk pengamatan ciri morfologi berupa daftar
minimal 50 ciri Drosophila sp.
b. Mengidentifikasi ciri Drosophila sp. berdasarkan daftar minimal 50 ciri
tersebut dengan cara pengamatan menggunakan mikroskop stereo.
c. Mengambil beberapa Drosophila sp. yang akan diamati dengan
menggunakan selang penyedot.
d. Memasukkan ke dalam plastic.
e. Mengamati Drosophila sp. dengan mikroskop stereo.
f. Mengamati ciri-ciri morfologi (kepala, badan, sayap, kaki) berdasarkan
daftar minimal 50 ciri.
19

g. Mengelompokkan Drosophila sp. yang memiliki ciri-ciri sama pada


masing-masing daerah.
h. Mencatat dan menggambar hasil pengamatan berupa ciri-ciri morfologi
tersebut.
5. Melakukan Pemurnian
a. Mengawinkan Drosophila sp. dengan cara memasukkan Drosophila sp.
jantan dan betina dari satu daerah yang berciri sama dari hasil ampulan
ke dalam botol selai yang berisi medium, pada masing-masing botol
diisi satu pasang.
b. Setelah 2 hari, melepas jantan
c. Menunggu sampai bertelur, lalu menjadi larva.
d. Memindah betina ke botol B setelah ada larva (begitu seterusnya
sampai botol C)
e. Mengampul pupa yang sudah menghitam.
f. Setelah mejadi lalat dewasa, mengamati ciri-ciri morfologi.
g. Membandingkan ciri morfologi tersebut dengan induknya.
h. Memisahkan Drosophila sp. hasil persilangan tersebut (F1) jika ada
yang tidak sama dengan ciri induknya.
i. Menyilangkan (F1) yaitu hasil ampulan yang telah diamati tersebut
dengan langkah sama seperti persilangan pertama, begitu seterusnya
hingga didapatkan F3.
j. Setelah

mendapat

F3,

mengamati

ciri-ciri

morfologi

dan

membandingkan persamaan dan perbedaan ciri-ciri tersebut pada


masing-masing daerah sebagai data penelitian.
k. Data yang telah diperoleh digunakan untuk pembuatan dendogram
untuk mengetahui hubungan kekerabatan Drosophila sp. tangkapan dari
Gresik, Malang, dan Mojokerto.
G. Teknik Pengumpulan Data
Data diperoleh dari pengamatan ciri-ciri morfologi Drosophila sp.
tangkapan yang berasal dari Gresik, Malang, dan Mojokerto yang telah

20

terlebih dahulu dimurnikan hingga F3. Kemudian ciri-ciri morfologi tersebut


dibandingkan persamaan dan perbedaannya dan dianalisis.
Tabel 3.1 Pengamatan Ciri Morfologi Drosophila sp.

No

Ciri Morfologi

Malang
U1

U2

Mojokerto
U3

U1

U2

U3

Gresik
U1

U2

Kepala
1.

Terdapat ocellus

2.
3.
4.

Terdapat pseudopupil
Segmen antenna ketiga tanpa
tambahan rambut/ microchaeta
pada bagian bawah
Terdapat proboscis

5.
6.

Terdapat maxilarry palp


Terdapat ocellar bristle

7.

Terdapat interocellar bristle

8.
9.

Oral bristle kedua panjangnya lebih


dari setengah panjang oral bristle
pertama
Terdapat 3 fronto-orbital bristes

10.

Orbital bristle dengan rasio 2:1:2

11.

Terdapat anterior orbital bristle

12.

Terdapat middle orbital bristle

13.

Terdapat post orbital bristle

14.

Terdapat anterior vertical bristle

15.

Terdapat posterior vertical bristle

16.

Arista berbentuk rambut

17.

Bristle dan arista berwarna hitam

Thorax
18.

Terdapat sepasang humeral bristle

19.

Terdapat anterior notopleural

20.

Terdapat posterior notopleural

21.

Terdapat presutural bristle

22

Terdapat anterior supra-alar bristle

23.

Terdapat posterior supra-alar bristle

24.

Terdapat anterior dorsocentral

21

U3

25.

Terdapat posterior dorsocentral

26.

Terdapat anterior post-alar bristle

27.

Terdapat posterior post-alar bristle

28.
29.

Posterior scutelar bristle sama


panjang dengan anterior scutelar
bristle
Terdapat anterior sternopleural

30.

Terdapat middle sternopleural

31.

Terdapat posterior sternopleural

32.

Terdapat halter

Abdomen
33.

Terdapat 5 segmen pada bagian


dorsal

Sayap
34.
35.

Panjang sayap melebihi panjang


tubuh
Warna metalik

36.

Ujung sayap tumpul

37.

41.

Costa tidak bersambung pada


bagian proximal dan distal
Longitudinal vein yang pertama
berakhir pada distal costal
Costa mencapai longitudinal vein
ke-3 atau ke-4
Discal dan basal sel ke-2
dipisahkan oleh cross-vein ke-3
Terdapat costal-vein

42

Terdapat 5 longitudinal-vein

43

Terdapat anterior cross-vein

44.

Terdapat posterior cross-vein

45.

Costa berduri (berupa rambut


pendek) hampir sampai ujung
sayap

38.
39.
40.

Tungkai
46.
47.

Pada tibia terdapat pre-apical


bristle
Pada tibia terdapat apical bristle

48.

Pada tibia terdapat spur bristle

49.

Metatarsus lebih panjang dari pada


2 segmen tarsal yang pertama
22

50.

Terdapat femoral comb

51.

Terdapat kuku tarsus

52.

Terdapat empodium

53.

Empodium berbentuk pulvilliform

54.

Terdapat pulvillus

H. Teknik Analisis Data


Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian Drosophila
tangkapan ini yaitu dengan menghitung indeks similaritas ciri-ciri morfologi
(Indriwati, 2009) dengan rumus sebagai berikut.

S = koefisien asosiasi organisma (tumbuhan/hewan) yang satu terhadap yang


kedua atau yang lain.
Ns = Jumlah sifat yang sama
Nd = Jumlah sifat yang berbeda
Hasil perhitungan kekerabatan yang digambarkan oleh similaritas
sebagai

koefisien

asosiasi

digunakan

sebagai

dasar

pengelompokan

(clustering) takson-takson organisme. Berikut rumus untuk mencari korelasi


asosiasi taksonomi setelah pengelompokan (Indriwati, 2009).

rpq=
Dimana rpq

= koefisien asosiasi setelah pengelompokan

= pasangan tumbuhan/hewan pertama (P1+P2)

= pasangan tumbuhan/hewan kedua (Q1+Q2)

rPQ

= jumlah koefisien asosiasi

rp

= koefisien asosiasi pasangan hewan/tumbuhan pertama

rq

= koefisien asosiasi pasangan hewan/ tumbuhan kedua

23

BAB IV
DATA DAN ANALISIS DATA
A. Data Pengamatan
Pengamatan pada Drosophila sp. daerah Malang, Gresik, dan Mojokerto
meliputi pengamatan ciri morfologi. Data hasil pengamatan ciri morfologi
Drosophila sp. dari ketiga wilayah tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Data Pengamatan Ciri Morfologi Drosophila sp. dari Wilayah Malang, Gresik, dan
Mojokerto

No

Ciri Morfologi

Malang

Mojokerto

Gresik

U1

U2

U3

U1

U2

U3

U1

U2

U3

Kepala
1.

Terdapat ocellus

2.
3.

4.

Terdapat pseudopupil
Segmen antenna ketiga tanpa
tambahan rambut/ microchaeta
pada bagian bawah
Terdapat proboscis

5.
6.

Terdapat maxilarry palp


Terdapat ocellar bristle

7.

Terdapat interocellar bristle

8.

9.

Oral bristle kedua panjangnya lebih


dari setengah panjang oral bristle
pertama
Terdapat 3 fronto-orbital bristes

10.

Orbital bristle dengan rasio 2:1:2

11.

Terdapat anterior orbital bristle

12.

Terdapat middle orbital bristle

13.

Terdapat post orbital bristle

14.

Terdapat anterior vertical bristle

15.

Terdapat posterior vertical bristle

16.

Arista berbentuk rambut

17.

Bristle dan arista berwarna hitam

24

Thorax
18.

Terdapat sepasang humeral bristle

19.

Terdapat anterior notopleural

20.

Terdapat posterior notopleural

21.

Terdapat presutural bristle

22

Terdapat anterior supra-alar bristle

23.

Terdapat posterior supra-alar bristle

24.

Terdapat anterior dorsocentral

25.

Terdapat posterior dorsocentral

26.

Terdapat anterior post-alar bristle

27.

Terdapat posterior post-alar bristle

28.

29.

Posterior scutelar bristle sama


panjang dengan anterior scutelar
bristle
Terdapat anterior sternopleural

30.

Terdapat middle sternopleural

31.

Terdapat posterior sternopleural

32.

Terdapat halter

Terdapat 5 segmen pada bagian


dorsal

35.

Panjang sayap melebihi panjang


tubuh
Warna metalik

36.

Ujung sayap tumpul

37.

41.

Costa tidak bersambung pada


bagian proximal dan distal
Longitudinal vein yang pertama
berakhir pada distal costal
Costa mencapai longitudinal vein
ke-3 atau ke-4
Discal dan basal sel ke-2
dipisahkan oleh cross-vein ke-3
Terdapat costal-vein

42

Terdapat 5 longitudinal-vein

43

Terdapat anterior cross-vein

44.

Terdapat posterior cross-vein

45.

Costa

Abdomen
33.
Sayap
34.

38.
39.
40.

berduri

(berupa

rambut

25

pendek)
sayap

hampir

sampai

ujung

Tungkai
46.

47.

Pada tibia terdapat pre-apical


bristle
Pada tibia terdapat apical bristle

48.

Pada tibia terdapat spur bristle

49.

50.

Metatarsus lebih panjang dari pada


2 segmen tarsal yang pertama
Terdapat femoral comb

51.

Terdapat kuku tarsus

52.

Terdapat empodium

53.

Empodium berbentuk pulvilliform

54.

Terdapat pulvillus

B. Analisis Data
Berdasarkan data yang diperoleh kemudian ditransformasi dalam bentuk
matriks agar dapat dianalisis. Matriks ciri morfologi Drosophila sp dari ketiga
wilayah dapat dilihat pada tabel 4.2. Ciri morfologi yang sama diberi angka 1
sedangkan ciri morfologi yang berbeda diberi angka 0.
Tabel 4.2 Matriks Ciri Morfologi Drosophila sp. dari Malang, Gresik, dan Mojokerto

Ciri Morfologi
ke1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

A-B

A-C

B-C

1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1

1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
26

16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
Jumlah

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
51

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
52

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
53

Keterangan A: Wilayah Malang


B: Wilayah Mojokerto
C: Wilayah Gresik
1 : penanda ciri morfologi yang sama
27

0 : penanda ciri morfologi yang berbeda


Tabel 4.3 Jumlah Pasangan Satuan Taksonomi Operasional

Spesies
Gresik (C)
Mojokerto (B)
Malang (A)

Malang (A)
52
51
-

Mojokerto (B)
53
3*

Gresik (C)
1*
2*

Keterangan:
*

: Jumlah ciri morfologi yang tidak sama

Tanpa tanda *

: Jumlah ciri morfologi yang sama

Berdasarkan Tabel 4.3 dihitung indeks kesamaan dengan rumus:

Keterangan:
S = koefisien asosiasi organisme (tumbuhan/hewan) yang satu terhadap yang
kedua atau yang lain.
Ns = Jumlah sifat yang sama
Nd = Jumlah sifat yang berbeda
Drosophila sp. daerah Malang dan Mojokerto berbeda 3 ciri, daerah Malang
dan Gresik berbeda 2 ciri, dan daerah Mojokerto dan Gresik berbeda hanya 1
ciri. Berdasarkan rumus di atas diperoleh koefisien asosiasi dengan tingkat
kesamaan sebagai berikut.
S(AB) = 51/ 51 + 3 = 0,944
S(AC) = 52/ 52 + 2 = 0,963
S(BC) = 53/ 53 + 1 = 0,981
Hasil perhitungan koefisien asosiasi kemudian dimasukkan ke dalam tabel 4.4.
Tabel 4.4 Koefisien Asosiasi Ciri Morfologi Drosophila sp. dari Daerah Malang, Gresik, dan
Mojokerto

Organisme
Malang (A)
Mojokerto (B)

Malang (A)
1
0,944

Mojokerto (B)

Gresik (C)

1
28

Gresik (C)

0,963

0,981

Pasangan daerah yang paling erat kesamaannya adalah yang memiliki


koefisien similaritas tertinggi, yaitu pasangan daerah Mojokerto-Gresik
sebesar 0,981 sehingga koefisien similaritas setelah pengelompokan sebagai
berikut.

rAB + rAC

r(B+C).A =
(2 + 2 rBC)
0,944 + 0,963

=
(2 + 2 . 0,981)
= 1,907 / 1,99047733
= 0,958061652
= 0,958
Hasil perhitungan koefisien similaritas Malang dengan Mojokerto-Gresik
dimasukkan ke tabel 4.5
Tabel 4.5 Indeks Similaritas Drosophila sp. dari Daerah Malang, dengan Gresik-Mojokerto

Organisme

Malang (A)

Malang (A)
Mojokerto-Gresik
(B-C)

1
0,958

Mojokerto-Gresik
(B-C)
1

Hasil perhitungan koefisien asosiasi kemudian ditransformasikan dalam bentuk


dendogram, dapat dilihat pada gambar 4.1.

29

0,981

Mojokerto
Gresik

0,958

Malang

0,958 0,981 1,00


Gambar 4.1 Dendogram Pengelompokan Drosophila sp. Wilayah Malang, Mojokerto,
Gresik Berdasarkan Koefisien Asosiasi

dan

Berdasarkan diagram dendogram (dengan menggunakan metode fenetik) di atas


diketahui bahwa Drosophila sp. dari Daerah Mojokerto dan Gresik memiliki
hubungan kekerabatan yang lebih dekat dari pada Drosophila sp. daerah Malang
dengan Mojokerto-Gresik.

30

BAB V
PEMBAHASAN
A. Hubungan Kekerabatan Drosophila sp. Daerah Malang, Mojokerto, dan
Gresik
Drosophila memiliki penyebaran dan distribusi yang berbeda di
setiap daerah di Indonesia (Siburian, 2008), begitu pula dengan penyebaran
Drosophila antara daerah Malang, Gresik, dan Mojokerto. Setiap makhluk
hidup memiliki hubungan kekerabatan dengan yang lain, dapat dilihat dari
kesamaan yang dimiliki antara kedua makhluk hidup. Indriwati (2009)
menyatakan bahwa sifat-sifat morfologi dapat digunakan untuk pengenalan
dan menggambarkan kekerabatan tingkat jenis. Jumlah sifat yang digunakan
sebanyak mungkin, sekurangnya 40 sifat. Pada penelitian ini menggunakan 54
ciri morfologi. Penelitian ini mengkaji hubungan kekerabatan antara
Drosophila sp dari daerah Malang, Gresik, dan Mojokerto dengan mengamati
galur murninya. Galur murni adalah populasi yang merupakan turunan murni
tanpa adanya variasi genetik yang berarti (Corebima, 2013). Pada identifikasi
ciri morfologi Drosophila sebelumnya diperlukan pemurnian untuk mencapai
galur murni. Tujuan menggunakan galur murni berdasarkan pernyataan di atas
yaitu sifat yang terekspresikan merupakan sifat yang sebenarnya dan tidak
akan berubah. Galur murni didapatkan apabila seluruh pasangan alela dalam
keadaan homozigot. Homozigot adalah karakter yang dikontrol oleh dua gen
(sepasang) identik sedangkan heterozigot adalah karakter yang dikontrol oleh
dua gen (sepasang) tidak identik (berlainan). Dalam hubungan ini suatu
karakter yang berfenotip AA tergolong homozigot, dominan, sedangkan
berfenotip aa tergolong homozigot resesif, dan yang berfenotip Aa tergolong
bersifat heterozigot (Corebima, 2013).
Corebima (2013) menyatakan bahwa galur murni total merupakan
akibat dari inbreeding. Inbreeding merupakan proses fertilisasi sendiri yang
terjadi berulang-ulang mengakibatkan efek pada perkawinan yang tidak acak.
Lebih lanjut Corebima (2013) menyatakan bahwa pembuahan sendiri atau
perkawinan antara individu berkerabat dekat dalam banyak generasi

31

(inbereeding) biasanya menghasilkan satu populasi yang homozigot pada


hampir semua lokus.
Berdasarkan hasil analisis menggunakan dendogram memperlihatkan
bahwa hubungan kekerabatan berdasarkan metode fenetik antara Drosophila
dari daerah Mojokerto dan Gresik lebih dekat dibandingkan dengan
Drosophila dari daerah Malang terhadap daerah Mojokerto dan Gresik. Hasil
analisis menunjukkan bahwa indeks similaritas antara daerah Mojokerto dan
Gresik adalah 0,981 sedangkan indeks similaritas daerah Malang terhadap
kedua wilayah tersebut adalah 0,958. Jika ditinjau dari indeks similaritas,
nilai yang semakin mendekati 1 menunjukkan bahwa kekerabatannya semakin
dekat sedangkan indeks similaritas yang semakin mendekati 0 maka hubungan
kekerabatannya semakin jauh. Pramudi dkk. (2013) menyatakan bahwa
kedekatan kekerabatan telah menyebabkan berbaurnya organisme tersebut.
Drosophila sp. dari wilayah Mojokerto dan Gresik merupakan organisme
dengan perbedaan morfologi sangat kecil. Drosophila sp. dari wilayah tersebut
hanya memiliki perbedaan posterior scutelar bristle sama panjang atau tidak
jika dibandingkan dengan anterior scutelar bristle sedangkan ciri morfologi
lainnya sama (ciri morfologi yang sama berdasarkan daftar ciri pada tabel
pengamatan), hanya terdapat 1 perbedaan ciri morfologi pada Drosophila sp.
wilayah Mojokerto dan Gresik. Yatim (1991) menambahkan bahwa semakin
banyak kesamaan ciri makin dekat tingkat kekerabatan pada spesies tersebut,
sedangkan makin sedikit persamaan ciri maka semakin jauh hubungan
kekerabatannya. Hubungan kekerabatan berdasarkan metode fenetik antara
Drosophila sp. wilayah Malang dengan kedua wilayah yaitu Mojokerto-Gresik
dekat, dikarenakan indeks simililaritasnya mendekati 1 yaitu 0,958.
B. Faktor yang Mempengaruhi Hubungan Kekerabatan
Kedekatan hubungan kekerabatan Drosophila daerah Mojokerto dan
daerah Gresik dibandingkan dengan daerah Malang dengan Mojokerto dan
Gresik disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor eksternal dan faktor
internal. Faktor eksternal yang berpengaruh yaitu jarak atau kedekatan antar
kota dan ketinggian tempat sedangkan faktor internal yang berpengaruh adalah

32

gen yang terkait adanya mutasi dan rekombinasi. Ayala (1984) menyatakan
bahwa interaksi antara lingkungan dan faktor genetik akan menghasilkan
kerakteristik yang dapat diamati pada suatu individu.
a. Faktor Internal
1. Gen
Corebima (2013) menyatakan bahwa karakter ditentukan oleh
unit karakter yang disebut faktor (gen). Berdasarkan pernyataan
tersebut, ciri morfologi yang nampak merupakan hasil dari ekspresi
gen. Karakter yang dapat diamati pada suatu individu merupakan hasil
interaksi antara genotip dan tempat lingkungan tempat hidup dan
berkembang. Genotip diartikan sebagai keseluruhan jumlah informasi
genetik yang terkandung pada suatu makhluk hidup (Corebima, 2013).
Diantara gen dan lingkungan yang paling dominan mempengaruhi
karakter suatu organisme yaitu gen. Lebih lanjut Corebima (2013)
menyatakan bahwa gen dapat berubah menjadi bentuk alternatif oleh
proses mutasi.
2. Mutasi
Setiap mutasi yang terjadi dalam suatu gen tertentu akan
menghasilkan suatu bentuk baru atau alela baru dari gen tersebut
(Corebima, 2013). Dengan demikian ciri morfologi yang tampak akan
berbeda. Perubahan materi genetik DNA dan RNA itu dapat berupa
penambahan atau pengurangan unit penyusun, perubahan susunan,
perubahan jumlah, dan sebagainya. Secara umum penyebab mutasi
(yang spontan maupun yang tereduksi) adalah keadaan atau faktor
lingkungan, disamping keadaan atau faktor internal materi genetik.
Faktor lingkungan sebagai agen mutasi misalnya radiasi pengion,
radiasi ultraviolet, dan berbagai senyawa kimia (Gardner dkk., 1991).
Jika sinar UV mengenai atau menembus jaringan Drossophila sp. dan
mengakibatkan terjadinya mutasi maka kejadian tersebut juga akan
mempengaruhi

ekspresi

ciri

morfologinya.

Jika

ditinjau

dari

makanannya, Drosophila di alam dapat terpapar senyawa kimia yang


bersifat mutagen jika makanan yang dimakan ternyata mengandung

33

senyawa tersebut. Pewarna dan pemanis merupakan salah satu contoh


bahan yang dapat menyebabkan mutasi.
3. Rekombinasi
Rekombinasi

adalah

proses

terbentuknya

kombinasi-

kombinasi gen yang baru pada kromosom (Klug dan Cummings,


2012). Peristiwa rekombinasi dan mutasi sebenarnya tidak memiliki
hubungan, tetapi keduanya dapat menimbulkan perubahan materi
genetik. Selain itu sebagian peristiwa rekombinasi juga menimbulkan
perubahan fenotip yang lazimnya merupakan dampak mutasi (Gardner
dkk., 1991). Berdasarkan pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa
rekombinasi juga merupakan penyebab adanya perbedaan ciri
morfologi yang berdampak pada hubungan kekerabatan Drosophila sp.
b. Faktor Eksternal
1. Jarak antar kota
Jarak antara kota Malang ke Mojokerto 88,9 km, jarak
antara kota Malang ke Gresik 107 km, sedangkan jarak antara kota
Gresik ke Mojokerto 56 km. Berdasarkan analisis data menunjukkan
bahwa Drosophla sp. dari daerah Mojokerto-Gresik memiliki
hubungan kekerabatan yang lebih dekat. Kedekatan hubungan
kekerabatan tercermin dalam persamaan ciri morfologi. Situmorang
(2013) menyatakan bahwa persamaan karakter atau ciri morfologi
disebabkan karena jarak antara lokasi sampel tidak terlalu jauh
(berdekatan), sehingga individu tersebut saling bercampur. Lokasi
pengambilan sampel Mojokerto lebih dekat dengan daerah Gresik
dibandingkan daerah Malang - Mojokerto atau Malang Gresik.
Walaupun demikian, Fatimah (2013) menyatakan bahwa meskipun
suatu organisme berasal dari daerah yang sama namun apabila
lingkungan tempat tumbuh dan berkembangnya berbeda akan
mempengaruhi diversitas genetik. Berdasarkan pernyataan tersebut
faktor lingkungan lain seperti suhu, kelembaban, dan faktor sumber

34

makanan juga ikut berpengaruh terhadap perbedaan ciri morfologi


organisme.
Kedekatan hubungan kekerabatan jika ditinjau dari kedekatan
wilayah berkaitan dengan pesebaran Drosophila sp. Terdapat lebih dari
2000 spesies pada genus Drosophila, hanya beberapa yang tersebar di
seluruh dunia. Beberapa spesies dari Drosophila memiliki persebaran
yang mendunia, sebagian tersebar luas pada daerah tunggal dan yang
lain adalah unik, yaitu pada wilayah yang terbatas (Grossfield, 1971).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Barker dan Bock,
Drosophila yang ada di wilayah Malang adalah Drosophila ananassae
Doleschall, D. bipectina duda, dan D. hypocausta Osten-Sacken
(Novitski, 1974). Sedangkan menurut penelitian Takada, Momma dan
Shima, di daerah Jawa tersebar D. ustulata de Meijere (Takada dkk.,
1973). Di daerah Jawa juga tersebar D. takahashii Sturtevant, D.
eugracilis Bock and Wheeler, D. ananassae Doleschall, D.
melerkotliana Parshad and Paika, dan D. jambulina Parshad and Paika
(Hukai dkk., 1993). Berdasarkan penelitian di atas, diketahui bahwa
Drosophila yang tersebar di derah Jawa lebih dari satu spesies, ada
kemungkinan bahwa sampel yang terambil yang menunjukkan
kekerabatan yang jauh yaitu Malang dengan dua kota lainnya
(Mojokerto dan Gresik) adalah dua spesies yang berbeda namun masih
satu genus sedangkan hubungan kekerabatan yang dekat antara
Drosophila sp. daerah Mojokerto dan Gresik bisa jadi merupakan
spesies yang sama namun beda sub genus.
2. Perbedaan ketinggian
Perbedaan ketinggian suatu tempat berasosiasi dengan
perbedaan suhu di tempat tersebut. Semakin tinggi suhu suatu tempat
dari permukaan laut, suhu di tempat tersebut semakin rendah.
Ketinggian suatu tempat berkorelasi negatif dengan suhu. Variasi
fenotip pada suatu spesies serangga dapat terjadi akibat adanya
interaksi gen dengan lingkungan (Sartiami dkk., 2011). Lebih lanjut
Sulistiyo dkk. (2015) menyatakan bahwa variablitas dalam suatu sifat

35

(karakter) tertentu menggambarkan bagaimana sifat itu mampu


berubah-ubah untuk menanggapi pengaruh lingkungan dan genetik.
Berdasarkan pernyataan tersebut kemungkinan lingkungan tempat
hidup Drosophila sp. daerah Mojokerto dan

Gresik tidak terlalu

berbeda jauh sehingga hubungan kekerabatan diantara keduanya lebih


dekat dibandingkan dengan Malang dengan kedua wilayah tersebut.
Lokasi pengambilan sampel dari wilayah Malang yaitu Kecamatan
Lowokwaru, kecamatan ini memiliki ketinggian 500 mdpl (Dinas
Kota Malang, tanpa tahun). Lokasi pengambilan sampel dari wilayah
Mojokerto yaitu Kecamatan Mojosari, memiliki ketinggian 100 mdpl
(Pemerintah

Kabupaten

Mojokerto,

2013).

Sedangkan

lokasi

pengambilan sampel dari wilayah Gresik yiatu Balongpanggang,


memiliki ketinggian 2-12 mdpl (Bappeda Jatim, 2013).
Topografi atau ketinggian suatu tempat yang di ukur dari atas
permukaan laut yang terbagi menjadi tiga daerah yaitu dataran rendah,
dataran sedang, dan dataran tinggi. Dataran rendah yaitu dataran yang
berada di atas permukaan laut dengan ketinggiannya 0-450 mdpl.
Dataran sedang yaitu dataran yang berada di atas permukaan laut
dengan ketinggian yang ketinggiannya 500-1000 mdpl, sedangkan
dataran tinggi yaitu dataran yang berada di atas permukaan laut dengan
ketinggian >1000 mdpl (Pujiasmanto dkk., 2007). Berdasarkan
pembagian wilayah di atas, daerah pengambilan sampel Mojokerto dan
Gresik

termasuk

wilayah

dataran

rendah

sedangkan

wilayah

pengambilan sampel Malang termasuk dataran sedang. Persamaan


ketinggian tempat antara Mojokerto dan Gresik berpengaruh pada suhu
kedua daerah tidak berbeda secara signifikan. Suhu daerah Mojokerto
dan Gresik berturut-turut yaitu 26,6C dan 28,5C (Pemerintah
Kabupaten Mojokerto, 2013; Bappeda Jatim, 2013). Suhu yang tidak
terlalu berbeda secara signifikan menyebabkan lingkungan tempat
tinggal kedua wilayah tersebut hampir sama dan kemungkinan juga
mempengaruhi kedekatan kekrabatannya. Suhu daerah Malang yaitu
24,13C (Dinas Kota Malang, tanpa tahun). Jika dibandingkan dengan

36

kedua wilayah tersebut perbedaan suhunya lebih besar. Namun jika


dikaitkan dengan faktor internal, rentangan suhu ketiga wilayah tidak
termasuk ekstrim sehingga peluang mutasi yang disebabkan oleh suhu
sangat rendah. Perbedaan faktor lingkungan bukan merupakan faktor
utama penentu perbedaan hubungan kekerabatan, penentu utamanya
adalah gen yang terkait adanya mutasi dan rekombinasi.
Kedekatan hubungan kekerabatan pada Drosophila sp. juga akan
berpengaruh terhadap kecenderungan kawin. Menurut Ayala dkk. (1984)
dalam perkawinan antara populasi datu spesies terdapat kecenderungan
pemilihan terhadap padangan kawin yang berasal dari populasi yang sama
(homogami). Jika ditinjau dari pernyataan tersebut jantan akan lebih memilih
kawin dengan betina yang memiliki kemiripan ciri yang lebih banyak, dalam
hal ini hubungan kekerabatan antara keduanya sangat dekat.
Fokus utama dalam penelitian ini adalah faktor eksternal yaitu jarak
antar kota, walaupun demikian faktor yang paling berpengaruh adalah faktor
internal. Faktor internal meliputi faktor gen akan mengekspresikan ciri
morfologi. Perubahan susunan materi genetik juga dipengaruhi oleh
lingkungan terutama faktor yang menyebkan mutasi dan rekombinasi. Gen
nantinya akan mempengaruhi ekspresi fenotip organisme (Drosophila sp.)
yang meliputi perbedaan atau persamaan ciri morfologi. Sehingga dapat
dikatakan bahwa faktor lingkungan tidak berpegaruh secara langsung terhadap
ciri morfologi yang nampak. Faktor lingkungan dapat mempengaruhi adanya
mutasi atau rekombinasi.

37

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Kesimpulan berdasarkan pembahasan di atas yaitu berdasarkan
metode fenetik Drosophila sp. tangkapan dari daerah Mojokerto dan Gresik
memiliki hubungan kekerabatan yang lebih dekat dibandingkan daerah
Malang dengan Mojokerto dan Gresik, dengan nilai indeks similaritas antara
Drosophila sp. daerah Mojokerto dan Gresik sebesar 0,981 sedangkan nilai
indeks similaritas daerah Malang dengan Mojokerto dan Gresik yaitu 0,958.
Faktor utama yang mempengaruhi hubungan kekerabatan adalah gen yang
terkait adanya mutasi dan rekombinasi sedangkan faktor lingkungan
(kedekatan wilayah serta ketinggian tempat) juga berpengaruh namun tidak
terlalu signifikan dan pengaruhnya juga tidak secara langsung.
B. Saran
Saran berdasarkan penelitian ini yaitu
1. Untuk penelitian selanjutnya sebaiknya menggunakan ciri morfologi yang
lebih banyak sehingga data yang diperoleh lebih valid dan dapat
menggambarkan hubungan kekerabatan yang lebih baik.
2. Pengamatan ciri morfologi sebaiknya lebih teliti lagi agar data yang
diperoleh valid
3. Lebih meningkatkan kesabaran dan keuletan dalam melakukan penelitian
ini
4. Penelitian sebaiknya dilakukan dalam keadaan yang lebih aseptis sehingga
tidak terjadi kontaminasi oleh kutu.

38

DAFTAR RUJUKAN
Annisa, Visa. 2013. Keanekaragaman Drosophila di Kebun Botani UPI Bandung.
(Online), (https://www.academia.edu/5949323/Proposal_visa.pdf, diakses
tanggal 25 Oktober 2015).
Ayala, P.J. dkk. 1984. Modern Genetic. California: Benyamin/ Cummings Publishing
Company, Inc.
Bappeda

Jatim.
2013.
Kabupaten
Gresik.
(Online),
(http://bappeda.jatimprov.go.id/bappeda/wp-content/uploads/potensi-kabkota-2013/kab-gresik-2013.pdf, diakses tanggal 1 Desember 2015).

Bock, Ian R. 1976. Drosophlidae of Australia. Australian Journal of Zoology. 40: 1-105.
CSIRO Melbourne. (ebook).
Borror, Donald J., Charles A. Triplehorn, dan Norman F. Jhonson. 1992. Pengenalan
Pelajaran Serangga edisi ke enam. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Chyb, Sylwester dan Gompel, Nicolas. 2013. Atlas of Drosophila Morphology: Wild
Type and Classical Mutans. UK: Elsivier Inc. (ebook).
Corebima, A.D. 2013. Genetika Mendel. Surabaya: Universitas Airlangga Press.
Fatimah, Siti. 2013. Analisis Morfologi dan Hubungan Kekerabatan Sebelas Jenis
Tanaman Salak (Salacca zalacca (Gertner) Voss Bangkalan. Jurnal Agrovigor.
6(1):
1-15.
(Online),
(http://pertanian.trunojoyo.ac.id/wpcontent/uploads/2014/05/1.-Agrovigor-Maret-2013-Vol-6-No-1-AnalisisMorfologi-da-Hubungan-kekerabatab-Siti-Fatimah-.pdf, diakses tanggal 28
November 2015).
Gardner, Eldon John, Simmons M.J., dan Snustad D. P. 1991. Principle of Genetic Eight
Edition. New York: John Wiley & Sons, Inc.
Grossfield, Joe. 1971. Geographic Distribution and Light-Dependent Behavior in
Drosophila.
Zoology
journal.
68(11):
2669-2673.
(Online),
(http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC389497/pdf/pnas000860052.pdf, diakses tanggal 1 Desember 2015).
Hukai, Wen-Xia Zhang, dan H.L. Carson. 1993. Drosophilidae (Diptera) of Hainan
Island (China). Pasific Science Journal. 47(4): 319-327. (Online),
(http://scholarspace.manoa.hawaii.edu/bitstream/handle/10125/1861/v47n4319-327.pdf?sequence=1.pdf, diakses tanggal 1 Desember 2015).
Indriwati, Sri Endah. 2009. Suplemen Vertebrata. Malang: Universitas Negeri Malang.

39

Jarak tempuh. 2015. Jarak Gresik ke Malang dan Peta Lokasi. (Online),
(http://jaraktempuh.com/jarak-gresik-ke-mojokerto.html, diakses tanggal 28
November 2015).
Jarak tempuh. 2015. Jarak Gresik ke Mojokerto dan Peta Lokasi. (Online),
(http://jaraktempuh.com/jarak-gresik-ke-mojokerto.html, diakses tanggal 28
November 2015).
Jarak tempuh. 2015. Jarak Malang ke Mojokerto dan Peta Lokasi. (Online),
(http://jaraktempuh.com/jarak-malang-ke-mojokerto-jatim.html,
diakses
tanggal 28 November 2015).
Johari, S., Sutopo, dan Santi. 2009. Frekuensi Fenotipik Sifat-Sifat Kualitatif Ayam Kedu
Dewasa (Fenotype Frequency of The Qualitative Traits at Adult Kedu
Chicken). (Online), (http://core.ac.uk/download/pdf/11704558.pdf, diakses
tanggal 18 Oktober 2015).
Kastawi, Yusuf., dkk. 2003. Zoologi Avertebrata. Malang: Universitas Negeri Malang.
Klug, William S., Michael R. Cummings, Charlotte A. Spencer, dan Michael A.
Palladino. 2012. Concepts of Genetics. California: Pearson Education Inc.
(ebook).
Dinas

Novitski,

Kota Malang. Tanpa tahun.


Profil Kabupaten/Kota. (Online),
(http://malangkota.go.id/sekilas-malang/geografis/.pdf, diakses tanggal 1
Desember 2015).
E.
1974.
Drosophila.
(http://www.ou.edu/journals/dis/DIS51/DIS51.pdf,
diakses
Desember 2015).

(Online),
tanggal
1

Nurchayati. Nunuk. 2010. Hubungan Kekerabatan Beberapa Spesies Tumbuhan Paku


Familia Polypodiaceae Ditinjau dari Karakter Morfologi Sporofit dan
Gametofit. Jurnal Ilmiah Progresif. 7 (19): 9-18. (Online), (http://untagbanyuwangi.ac.id/attachments/article/339/HUBUNGAN%20KEKERABATAN
%20BEBERAPA%20SPESIES%20TUMBUHAN%20PAKU%20.pdf, diakses
tanggal 18 Oktober 2015).
Peebles, E. David, Sharon K. Whitmarsh, dan Matthew R.Burnham. 2001. Basic
Concepts in Drosophila melanogaster Genetics. Jurnal. (Online)
(www.poultry.msstate.edu/pdf/courses/po3103/fly3.pdf, diakses 25 November
2015).
Pemerintah Kabupaten Mojokerto. 2013. Kabupaten Mojokerto. (Online),
(http://bappeda.jatimprov.go.id/bappeda/wp-content/uploads/potensi-kabkota-2013/kab-mojokerto-2013.pdf, diakses tanggal 1 Desember 2015).

40

Pramudi, M. Indar, Retno Dyah Puspitarini, dan Bambang Tri Rahardjo. 2013.
Keanekaragaman dan Kekerabatan Lalat Buah (Diptera: Tephritidae) di
Kalimantan Selatan berdasarkan Karakter Morfologi dan Molekular (RAPDPCR dan Sekuensing DNA). Jurnal HPT Tropika. 13 (2): 191-202. (Online),
(http://journal.unila.ac.id/index.php/jhtrop/article/download/839/1174.pdf,
diakses tanggal 25 November 2015).
Pujiasmanto, Bambang, Supriyono, dan Eddy Triharyanto. 2007. Kajian Agroekologi
dan Kemelimpahan Tumbuhan Obat Herba Valeriana javanica L. di Kawasan
Lereng
Gunung
Lawu.
(Online),
(https://eprints.uns.ac.id/13233/1/Publikasi_Jurnal_%2888%29.pdf, diakses
tanggal 1 Desember 2015).
Sartiami, Dewi, Magdalena, dan Ali Nurmansyah. 2011. Thrips parvispinus
(Thysanoptera: Tetripidae) pada Tanaman Cabai: Perbedaan Karakter
Morfologi pada Tiga Ketinggian Tempat. Jurnal Entomol Indon. 8(2): 85-95.
(Online), (http://pei-pusat.org/jurnal/index.php/jei/article/download/82/pdf1,
diakses tanggal 18 Oktober 2015).
Siburian, Jodion. 2008. Studi Keanekaragaman Drosophila sp. di Kota Jambi. Jurnal
Biospecies.
1(2):
47-54.
(Online),
(http://download.portalgaruda.org/article.php?article=11763&val=861.pdf,
diakses tanggal 25 November 2015).
Situmorang, Frisilia, Nery Sofiyanti, dan Fitmawati. 2013. Analisis Hubungan
Kekerabatan Rambutan (Nephelium lappaceum) di Kabupaten Kampar
Provinsi
Riau
Berdasarkan
Karakter
Morfologi.
(Online),
(http://repository.unri.ac.id/xmlui/bitstream/handle/123456789/6000/KARYA
%20ILMIAH%20FRISILIA%20SITUMORANG.pdf?sequence=1.pdf, diakses
tanggal 28 November 2015).
Sulasmi, E.S. 1997. Kekerabatan Fenetik Jenis-Jenis Desmodium di Derah Istimewa
Yogjakarta.
Jurnal
Penelitian
Chimera.
(Online),
(http://isjd.pdii.lipi.go.id/index.php/Search.html?
act=tampil&id=14610&idc=8.pdf, diakses tanggal 18 Oktober 2015).
Sulistyo, Rico Hutama, Lita Soetopo, dan Damanhuri. 2015. Eksplorasi dan Identifikasi
Karakter Morfologi Porang (Amorphophalus muelleri B.) di Jawa Timur.
Jurnal
Produksi
Tanaman.
3(5):
353-361.
(Online),
(http://download.portalgaruda.org/article.php?
article=347378&val=6473&title=EKSPLORASI%20DAN
%20IDENTIFIKASI%20KARAKTER%20MORFOLOGI%20PORANG
%20(Amorphophallus%20muelleri%20B.)%20DI%20JAWA
%20TIMUR.pdf,diakses tanggal 28 November 2015).
Takada, Haruo, Eizi Momma, dan Toshio Shima. 1973. Distribution Population
Constitution of Drosophila in South East Asia and Oceania. Jurnal Zoologi.
19(1):
73-94.
(Online),
41

(http://eprints.lib.hokudai.ac.jp/dspace/bitstream/2115/27554/1/19(1)_P7394.pdf, diakses tanggal 1 Desember 2015).


Taqiya, Wirda. 2013. Pengaruh Intensitas Keikutsertaan Siswa SMA/SMK dalam Satuan
Karya Pramuka (Saka) Wanabakti Kabupaten Pekalongan terhadap
Kepedulian
Lingkungan
Hutan.
Skripsi.
(Online),
(http://eprints.walisongo.ac.id/1683/4/093811033_Bab3.pdf, diakses tanggal
24 November 2015).
Yatim, Wildan.1991. Embriologi Hewan. Jakarta: Baratarayaakselera.

42

LAMPIRAN 1
Drosophila sp. Tangkapan dari Daerah Malang, Mojokerto, dan Gresik

Gambar 8.1 Drosophila sp. daerah Malang (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Gambar 8.2 Drosophila sp. daerah Mojokerto (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Gambar 8.3 Drosophila sp. daerah Gresik (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

43

LAMPIRAN 2
Peta Lokasi daerah Malang, Mojokerto, dan Gresik

Gambar 9.1 Peta Lokasi Kota Malang ke Mojokerto (Jarak tempuh.com, 2015).

Gambar 9.2 Peta Lokasi Kota Malang ke Gresik (Jarak tempuh.com, 2015).

44

Gambar 9.3 Peta Lokasi Kota Mojokerto ke Gresik (Jarak tempuh.com, 2015).

45

Anda mungkin juga menyukai