Anda di halaman 1dari 26
EXPOSURE DRAFT STANDAR PERIKATAN AUDIT (“SPA”) 705 MODIFIKASI TERHADAP OPINI DALAM LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN
EXPOSURE DRAFT
STANDAR PERIKATAN AUDIT
(“SPA”) 705
MODIFIKASI TERHADAP OPINI DALAM
LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN
Exposure draft ini diterbitkan oleh
Dewan Standar Profesi Institut Akuntan Publik Indonesia
Tanggapan tertulis atas exposure draft ini diharapkan
dapat diterima paling lambat tanggal 20 Mei 2012 ke
Sekretariat IAPI Jl. Kapten P. Tendean No. 1 Lt. 1 Jakarta
12710 atau melalui fax (021) 2525-175 atau email
ke
info@iapi.or.id atau divisi.standar_teknis@iapi.or.id
INSTITUT AKUNTAN PUBLIK INDONESIA
Indonesian Institute of Certified Public Accountants
EXPOSURE DRAFT

INSTITUT AKUNTAN PUBLIK INDONESIA

DEWAN STANDAR PROFESI

2008 2012

Kusumaningsih Angkawidjaja Ketua Handri Tjendra Wakil Ketua Dedy Sukrisnadi Anggota Fahmi Anggota Godang Parulian
Kusumaningsih Angkawidjaja
Ketua
Handri Tjendra
Wakil Ketua
Dedy Sukrisnadi
Anggota
Fahmi
Anggota
Godang Parulian Panjaitan
Anggota
Johannes Emile Runtuwene
Anggota
Lolita R. Siregar
Anggota
Renie Feriana
Anggota
Yusron Fauzan
Anggota

STANDAR PERIKATAN AUDIT 705

MODIFIKASI TERHADAP OPINI DALAM LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN (Berlaku efektif bagi audit atas laporan keuangan untuk
MODIFIKASI TERHADAP OPINI DALAM LAPORAN AUDITOR
INDEPENDEN
(Berlaku efektif bagi audit atas laporan keuangan untuk periode yang dimulai dari atau setelah
tanggal 1 Januari 2013)
DAFTAR ISI
Paragraf
Pendahuluan
Ruang Lingkup SPA Ini
……………
…………….………………………
1
Tipe Opini Modifikasian
………….……………….……………….………
2
Tanggal Efektif
…………….…………….…………….……………………
3
Tujuan
…………….…………….…………….…………….………………
4
Definisi
…………….…………….…………….…………….………………
5
Ketentuan
Kondisi Ketika Modifikasi terhadap Opini Auditor harus Dilakukan
………
6
Penentuan Tipe Modifikasi terhadap Opini Auditor harus Dilakukan
………
7-15
Bentuk dan Isi Laporan Auditor Ketika Opini Dimodifikasi
………….…….
16-17
Komunikasi dengan Pihak yang Bertanggung Jawab atas Tata Kelola
……
28
Materi Penerapan dan Penjelas Lain
Tipe Opini Modifikasian
………….…………….…………….……………
A1
Sifat Kesalahan Penyajian Material
………….…………….…………….….
A2-A7

Sifat Ketidakmampuan untuk Memperoleh Bukti Audit

yang Cukup dan Tepat

………….……………….……………….………

A8-A12

Konsekuensi dari Ketidakmampuan untuk Memperoleh Bukti Audit

yang Cukup dan Tepat yang Disebabkan oleh Pembatasan yang

Dilakukan oleh Manajemen setelah Auditor Menerima Perikatan

………

A13-A15

Pertimbangan Lain yang Berkaitan dengan Opini Tidak Wajar atau

Opini Tidak Menyatakan Pendapat

……….………….………….………

A16

Bentuk dan Isi Laporan Auditor Ketika Opini Dimodifikasi

………………

A-17-A24

Komunikasi dengan Pihak yang Bertanggung Jawab atas Tata Kelola ……… A25 Lampiran: Ilustrasi Laporan Auditor
Komunikasi dengan Pihak yang Bertanggung Jawab atas Tata Kelola
………
A25
Lampiran: Ilustrasi Laporan Auditor dengan Modifikasi terhadap Opini
Standar Perikatan Audit (“SPA”) 705, “Modifikasi terhadap Opini dalam Laporan
Auditor Independen” harus dibaca bersama dengan SPA 200, “Tujuan Keseluruhan
Auditor Independen dan Pelaksanaan Audit Berdasarkan Standar Perikatan Audit.”

Pendahuluan

Ruang Lingkup SPA Ini

1. Standar Perikatan Audit (“SPA”) ini mengatur tanggung jawab auditor untuk menerbitkan suatu laporan yang tepat dalam kondisi ketika, dalam merumuskan suatu opini berdasarkan SPA 700, 1 auditor menyimpulkan bahwa suatu modifikasi terhadap opini auditor atas laporan keuangan diperlukan.

Tipe Opini Modifikasian 2. (a) (b) Tanggal Berlaku Efektif 3. Tujuan 4. (a) (b) Definisi
Tipe Opini Modifikasian
2.
(a)
(b)
Tanggal Berlaku Efektif
3.
Tujuan
4.
(a)
(b)
Definisi
5. Untuk tujuan SPA ini, istilah-istilah di bawah ini memiliki makna sebagai berikut:

SPA ini menetapkan tiga tipe opini modifikasian, yaitu opini wajar dengan pengecualian,

opini tidak wajar, dan opini tidak menyatakan pendapat. Keputusan tentang ketepatan penggunaan tipe opini modifikasian bergantung pada: (Ref: Para. A1).

Sifat dari hal-hal yang menyebabkan dilakukannya modifikasi, yaitu, apakah laporan keuangan mengandung kesalahan penyajian material atau, dalam hal ketidakmampuan untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat, kemungkinan mengandung kesalahan penyajian material; dan Pertimbangan auditor tentang seberapa pervasifnya pengaruh hal-hal atau pengaruh hal-hal yang mungkin timbul terhadap laporan keuangan.

SPA ini efektif untuk audit atas laporan keuangan untuk periode dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2013.

Tujuan auditor adalah untuk menyatakan dengan jelas suatu opini yang dimodifikasi dengan tepat atas laporan keuangan, yang diperlukan ketika::

Auditor menyimpulkan, berdasarkan bukti audit yang diperoleh, bahwa laporan keuangan secara keseluruhan tidak bebas dari kesalahan penyajian material; atau Auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat untuk menyimpulkan bahwa laporan keuangan secara keseluruhan bebas dari kesalahan penyajian material.

(a) PervasifSuatu istilah yang digunakan, dalam konteks kesalahan penyajian, untuk menggambarkan pengaruh kesalahan penyajian terhadap laporan keuangan atau pengaruh kesalahan penyajian yang mungkin timbul terhadap laporan keuangan, jika ada, yang tidak dapat terdeteksi karena ketidakmampuan untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat. Pengaruh yang pervasif terhadap laporan keuangan adalah pengaruh yang, menurut pertimbangan auditor.

(i)

Tidak terbatas pada unsur, akun, atau pos tertentu laporan keuangan;

(ii)

Jika dibatasi, merupakan atau dapat merupakan suatu proporsi yang substansial dalam laporan keuangan; atau

1 SPA 705, “Modifikasi Terhadap Opini Dalam Laporan Auditor Independen.”

.”

(iii) Dalam hubungannya dengan pengungkapan, adalah fundamental bagi pemahaman pengguna laporan keuangan.

(b) Opini modifikasianSuatu opini wajar dengan pengecualian, suatu opini tidak wajar, atau suatu opini tidak menyatakan pendapat.

Ketentuan

Kondisi Ketika Suatu Modifikasi terhadap Opini Auditor Harus Dilakukan 6. Auditor harus memodifikasi opini dalam
Kondisi Ketika Suatu Modifikasi terhadap Opini Auditor Harus Dilakukan
6. Auditor harus memodifikasi opini dalam laporan auditor ketika:
(a)
(b)
Penentuan Tipe Modifikasi terhadap Opini Auditor
Opini Wajar dengan Pengecualian
7. Auditor harus menyatakan opini wajar dengan pengecualian ketika::
(a)
(b)
Opini Tidak Wajar
8.
Opini Tidak Menyatakan Pendapat
9.

Auditor menyimpulkan bahwa, berdasarkan bukti audit yang diperoleh, laporan keuangan secara keseluruhan tidak bebas dari kesalahan penyajian material; atau (Ref: Para. A2-A7) Auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat untuk menyimpulkan bahwa laporan keuangan secara keseluruhan bebas dari kesalahan penyajian material. (Ref: Para. A8-A12)

Auditor, setelah memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat, menyimpulkan bahwa kesalahan penyajian, baik secara individual maupun secara agregasi, adalah material, tetapi tidak pervasif, terhadap laporan keuangan; atau Auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat yang mendasari

opini, tetapi auditor menyimpulkan bahwa pengaruh kesalahan penyajian yang tidak terdeteksi yang mungkin timbul terhadap laporan keuangan, jika ada, dapat menjadi material, tetapi tidak pervasif.

Auditor harus menyatakan suatu opini tidak wajar ketika auditor, setelah memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat, menyimpulkan bahwa kesalahan penyajian, baik secara

individual maupun secara agregasi, adalah material dan pervasif terhadap laporan keuangan.

Auditor harus tidak menyatakan pendapat ketika auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat yang mendasari opini, dan auditor menyimpulkan bahwa pengaruh kesalahan penyajian yang tidak terdeteksi yang mungkin timbul terhadap laporan keuangan, jika ada, dapat bersifat material dan pervasif.

10. Auditor harus tidak menyatakan pendapat ketika, dalam kondisi yang sangat jarang melibatkan banyak ketidakpastian, auditor menyimpulkan bahwa, meskipun telah memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat tentang setiap ketidakpastian tersebut, adalah tidak mungkin untuk merumuskan suatu opini atas laporan keuangan karena interaksi yang potensial dari ketidakpastian tersebut dan pengaruh kumulatif ketidakpastian tersebut yang mungkin timbul terhadap laporan keuangan.

Konsekuensi dari Ketidakmampuan untuk Memperoleh Bukti Audit yang Cukup dan Tepat yang Disebabkan oleh Pembatasan yang Dilakukan oleh Manajemen setelah Auditor Menerima Perikatan

11. Jika, setelah menerima perikatan, auditor menyadari bahwa manajemen telah melakukan pembatasan terhadap ruang lingkup audit yang menurut auditor kemungkinan akan menyebabkan auditor menyatakan opini wajar dengan pengecualian atau opini tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan, maka auditor harus meminta manajemen untuk mencabut pembatasan tersebut.

12. 13. Para. A13-A14) (i) (ii)
12.
13.
Para. A13-A14)
(i)
(ii)

Jika manajemen menolak untuk mencabut pembatasan yang dirujuk dalam paragraf 11, maka auditor harus mengomunikasikan hal tersebut kepada pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola, kecuali pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola terlibat dalam pengelolaan entitas, 2 dan menentukan apakah terdapat kemungkinan untuk melakukan prosedur alternatif untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat.

Jika auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat, maka auditor harus menentukan implikasinya sebagai berikut:

(a) Jika auditor menyimpulkan bahwa pengaruh kesalahan penyajian yang tidak terdeteksi yang mungkin timbul terhadap laporan keuangan, jika ada, adalah material, tetapi tidak pervasif, maka auditor harus menyatakan opini wajar dengan pengecualian; atau (b) Jika auditor menyimpulkan bahwa pengaruh kesalahan penyajian yang tidak terdeteksi yang mungkin timbul terhadap laporan keuangan, jika ada, adalah material dan pervasif sehingga suatu opini wajar dengan pengecualian tidak akan memadai untuk mengomunikasikan signifikansi kondisi tersebut, maka auditor harus: (Ref:

Menarik diri dari audit, jika diperkenankan dan memungkinkan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku; atau Jika penarikan diri dari audit sebelum menerbitkan laporan auditor tidak diperkenankan atau tidak memungkinkan, maka auditor harus tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan

14. Jika auditor menarik diri seperti yang dijelaskan dalam paragraf 13(b)(i), sebelum menarik diri, auditor harus mengomunikasikan kesalahan penyajian yang teridentifikasi selama audit yang dapat menyebabkan modifikasi terhadap opini dengan pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola. (Ref: Para. A15)

Pertimbangan Lain yang Berkaitan dengan Opini Tidak Wajar atau Opini Tidak Menyatakan Pendapat 15. Ketika menurut auditor suatu opini tidak wajar atau opini tidak menyatakan pendapat perlu dinyatakan atas laporan keuangan secara keseluruhan, laporan auditor juga tidak diperkenankan untuk mencantumkan opini tanpa modifikasian, berdasarkan kerangka pelaporan keuangan yang sama, atas suatu laporan keuangan tunggal atau satu atau lebih unsur, akun, atau pos tertentu laporan keuangan. Pencantuman opini tanpa modifikasian tersebut dalam laporan yang sama 3 dalam kondisi tersebut akan bertentangan dengan

2 SPA 260, “Komunikasi dengan Pihak yang Bertanggung Jawab atas Tata Kelola,” paragraf 13.

3 SPA 805, “Pertimbangan Khusus—Audit atas Laporan Keuangan Tunggal dan Unsur Spesififk, Akun atau Pos Suatu Laporan Keuangan,” berhubungan dengan keadaan yang di dalamnya auditor diikat untuk menyatakan suatu opini terpisah atas satu atau lebih unsur, akun atau pos suatu laporan keuangan.

opini tidak wajar atau opini tidak menyatakan pendapat ataslaporan keuangan secara keseluruhan. (Ref: Para. A16)

Bentuk dan Isi Laporan Auditor Ketika Opini Dimodifikasi

Basis untuk Paragraf Modifikasi

16.

Ketika auditor memodifikasi opini atas laporan keuangan, auditor harus, sebagai tambahan terhadap unsur tertentu yang diharuskan SPA 700, mencantumkan suatu paragraf dalam laporan auditor yang menyediakan suatu penjelasan tentang hal-hal yang menyebabkan modifikasi tersebut. Auditor harus menempatkan paragraf tersebut persis sebelum paragraf opini dalam laporan auditor dan menggunakan judul “Basis untuk Opini Wajar dengan Pengecualian”, “Basis untuk Opini Tidak Wajar,” atau “Basis untuk Opini Tidak Menyatakan Pendapat,” sesuai dengan kondisinya. (Ref: Para. A17).

17. 18. 19.
17.
18.
19.

Jika terdapat suatu kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan yang berkaitan dengan jumlah tertentu dalam laporan keuangan (termasuk pengungkapan kuantitatif), maka auditor harus mencantumkan suatu penjelasan dan kuantifikasi tentang dampak keuangan yang diakibatkan oleh kesalahan penyajian tersebut dalam paragraf basis untuk modifikasi, kecuali tidak praktis. Jika tidak praktis untuk mengkuantifikasi dampak keuangan, maka auditor harus menyatakan hal tersebut dalam paragraf basis untuk untuk modifikasi. (Ref: Para. A18)

Jika terdapat suatu kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan yang berkaitan dengan pengungkapan kualitatif (naratif), maka auditor harus mencantumkan suatu penjelasan tentang bagaimana terjadi kesalahan penyajian dalam pengungkapan tersebut dalam paragraf basis untuk modifikasi.

Jika terdapat suatu kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan yang berkaitan dengan tidak diungkapkannya informasi yang seharusnya diungkapkan, maka auditor harus:

(a) Mendiskusikan informasi yang tidak diungkapkan tersebut dengan pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola; (b) Menjelaskan dalam paragraf basis untuk modifikasi tentang sifat informasi yang dihilangkan; dan (c) Kecuali dilarang oleh peraturan perundang-undangan, mencantumkan pengungkapan yang dihilangkan, apabila dianggap praktis dan auditor telah memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat tentang informasi yang dihilangkan tersebut (Ref: Para. A19)

20. Jika modifikasi dihasilkan dari ketidakmampuan untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat, maka auditor harus mencantumkan alasan ketidakmampuan tersebut dalam paragraf basis untuk modifikasi.

21. Bahkan ketika auditor telah menyatakan suatu opini tidak wajar atau tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan, auditor harus menjelaskan dalam paragraf basis untuk modifikasi alasan untuk setiap hal lain yang disadari oleh auditor yang memerlukan modifikasi terhadap opini, dan pengaruh yang diakibatkannya. (Ref: Para. A20)

Paragraf Opini

22. Ketika auditor memodifikasi opini audit, auditor harus menggunakan judul “Opini Wajar

dengan Pengecualian,” “Opini Tidak Wajar,” atau “Opini Tidak Menyatakan Pendapat,” sesuai dengan kondisinya, untuk paragraf opini. (Ref: Para. A21, A23-A24)

23. (a) (b) 24. (a) (b) 25. (a) (b) Penjelasan Tanggung Jawab Auditor Ketika Auditor
23.
(a)
(b)
24.
(a)
(b)
25.
(a)
(b)
Penjelasan Tanggung Jawab Auditor Ketika Auditor Menyatakan suatu
Opini Wajar dengan Pengecualian atau Opini Tidak Wajar

Ketika auditor menyatakan suatu opini wajar dengan pengecualian karena terdapat kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan, auditor harus menyatakan dalam paragraf opini bahwa, menurut opini auditor, kecuali untuk dampak hal-hal yang dijelaskan dalam paragraf Basis untuk Opini Wajar dengan Pengecualian:

Laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku, ketika melaporkan berdasarkan kerangka penyajian wajar; atau Laporan keuangan telah disusun, dalam semua hal yang material, sesuai dengan

kerangka pelaporan keuangan yang berlaku, ketika melaporkan berdasarkan kerangka kepatuhan. Ketika modifikasi timbul sebagai akibat dari ketidakmampuan untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat, auditor harus menggunakan frasa “kecuali untuk dampak yang mungkin terjadi dari hal-hal… ” untuk opini yang dimodifikasi. (Ref: Para. A22)

Ketika auditor menyatakan suatu opini tidak wajar, auditor harus menyatakan dalam paragraf opini bahwa, menurut opini auditor, karena signifikansi hal-hal yang dijelaskan dalam paragraf Basis untuk Opini Tidak Wajar:

Laporan keuangan tidak menyajikan secara wajar sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku, ketika melaporkan berdasarkan kerangka penyajian wajar; atau Laporan keuangan tidak disusun, dalam semua hal yang material, sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku, ketika melaporkan berdasarkan kerangka kepatuhan.

Ketika auditor tidak menyatakan pendapat karena ketidakmampuannya untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat, auditor harus menyatakan dalam paragraf opini bahwa:

karena signifikansi hal-hal yang dijelaskan dalam paragraf Basis untuk Opini Tidak Menyatakan Pendapat, auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat untuk menyediakan suatu basis bagi opini audit; dan oleh karena itu, auditor tidak menyatakan opini atas laporan keuangan.

26. Ketika auditor menyatakan suatu opini wajar dengan pengecualian atau opini tidak wajar, auditor harus mengubah penjelasan tentang tanggung jawab auditor untuk menyatakan bahwa auditor yakin bahwa bukti audit yang diperoleh auditor adalah cukup dan tepat untuk menyediakan suatu basis bagi opini modifikasian.

Penjelasan tentang Tanggung Jawab Auditor Ketika Auditor Tidak Menyatakan Pendapat

27.

Ketika auditor tidak menyatakan pendapat karena ketidakmampuan auditor untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat, auditor harus mengubah paragraf pendahuluan dalam laporan auditor untuk menyatakan bahwa auditor ditugasi untuk mengaudit laporan keuangan. Auditor juga harus mengubah penjelasan tentang tanggung jawab auditor dan ruang lingkup audit untuk menyatakan sebagai berikut: “Tanggung jawab kami adalah untuk menyatakan suatu opini atas laporan keuangan berdasarkan pelaksanaan audit yang sesuai dengan Standar Perikatan Audit yang ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia. Namun, oleh karena hal-hal yang dijelaskan dalam paragraf Basis untuk Opini Tidak Menyatakan Pendapat, kami tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat untuk menyediakan suatu basis untuk opini audit.”

Komunikasi dengan Pihak yang Bertanggung Jawab atas Tata Kelola 28. ≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ Materi
Komunikasi dengan Pihak yang Bertanggung Jawab atas Tata Kelola
28.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Materi Penerapan dan Penjelasan Lain
Sifat Hal-hal yang
Menyebabkan
Modifikasi
Pertimbangan Auditor tentang Seberapa Pervasif
Pengaruh atau Pengaruh yang mungkin Timbul
terhadap Laporan Keuangan
Material Tetapi Tidak
Pervasif
Material dan Pervasif
Laporan keuangan
mengandung kesalahan
penyajian material
Opini wajar dengan
pengecualian
Opini tidak wajar
Ketidakmampuan untuk
memperoleh bukti audit
yang cukup dan tepat
Opini wajar dengan
pengecualian
Opini tidak menyatakan
pendapat

Ketika auditor berharap untuk memodifikasi opininya dalam laporan auditor, auditor harus berkomunikasi dengan pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola tentang kondisi yang menuntun pada modifikasi yang diharapkan tersebut dan usulan susunan kata-kata atas modifikasi tersebut. (Ref: Para. A25)

Tipe Opini Modifikasian (Ref: Para. 2) A1 Tabel di bawah ini mengilustrasikan bagaimana pertimbangan auditor tentang sifat hal-hal yang menimbulkan modifikasi, dan seberapa pervasif pengaruhnya atau pengaruh yang mungkin timbul terhadap laporan keuangan, memengaruhi tipe opini yang akan dinyatakan.

Sifat Kesalahan Penyajian Material (Ref: Para. 6(a)) A2. SPA 700 mengharuskan auditor, untuk merumuskan suatu opini atas laporan keuangan, untuk menyimpulkan apakah keyakinan memadai telah diperoleh tentang apakah laporan keuangan secara keseluruhan bebas dari kesalahan penyajian material. 4 Kesimpulan ini

4 SPA 700, paragraf 11.

memperhitungkan pengevaluasian auditor atas kesalahan penyajian yang tidak dikoreksi, jika ada, dalam laporan keuangan berdasarkan SPA 450. 5

A3. SPA 450 yang mendefinisikan suatu kesalahan penyajian sebagai suatu selisih antara angka, klasifikasi, penyajian, atau pengungkapan dari suatu pos yang dilaporkan dalam laporan keuangan beserta angka, klasifikasi, penyajian, atau pengungkapan yang diharuskan untuk pos tersebut sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku. Oleh karena itu, suatu kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan dapat timbul dalam kaitannya dengan:

(a) Ketepatan kebijakan akuntansi yang dipilih; (b) Penerapan kebijakan akuntansi yang dipilih; atau (c) Ketepatan
(a)
Ketepatan kebijakan akuntansi yang dipilih;
(b)
Penerapan kebijakan akuntansi yang dipilih; atau
(c)
Ketepatan atau kecukupan pengungkapan dalam laporan keuangan.
Ketepatan Kebijakan Akuntansi yang Dipilih
A4.
(a)
(b)
(a)
(b)
Ketepatan atau Kecukupan Pengungkapan dalam Laporan Keuangan

Dalam hubungannya dengan ketepatan kebijakan akuntansi yang dipilih oleh manajemen, kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan dapat timbul ketika:

Kebijakan akuntansi yang dipilih tidak konsisten dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku; atau Laporan keuangan, termasuk catatan atas laporan keuangan , tidak mencerminkan transaksi dan peristiwa dalam suatu cara untuk mencapai penyajian wajar

A5. Kerangka pelaporan keuangan seringkali mengandung ketentuan akuntansi untuk, dan pengungkapan tentang, perubahan dalam kebijakan akuntansi. Ketika entitas telah mengubah kebijakan akuntansi signifikan yang dipilihnya, suatu kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan dapat timbul ketika entitas tidak mematuhi ketentuan tersebut.

Penerapan Kebijakan Akuntansi yang Dipilih A6 Dalam hubungannya dengan penerapan kebijakan akuntansi yang dipilih, kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan dapat timbul:

Ketika manajemen tidak menerapkan kebijakan akuntansi yang dipilih secara konsisten sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan, termasuk ketika manajemen tidak menerapkan kebijakan akuntansi yang dipilih secara konsisten antar periode atau terhadap transaksi dan peristiwa serupa (konsistensi dalam penerapan); atau Karena metode penerapan kebijakan akuntansi yang dipilih (seperti suatu kesalahan dalam penerapan yang tidak disengaja).

A7. Dalam kaitannya dengan ketepatan atau kecukupan pengungkapan dalam laporan keuangan, kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan dapat timbul ketika:

(a)

Laporan keuangan tidak mencantumkan seluruh pengungkapan yang diharuskan oleh kerangka pelaporan keuangan yang berlaku;

(b)

Pengungkapan dalam laporan keuangan tidak disajikan sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku; atau

5 SPA 450, “Pengevaluasian atas Salah Saji yang Diidentifikasi Selama Audit,” paragraf 11.

(c) Laporan keuangan tidak menyajikan pengungkapan yang diperlukan untuk mencapai penyajian wajar.

Sifat Ketidakmampuan untuk Memperoleh Bukti Audit yang Cukup dan Tepat (Ref: Para.

6(b))

A8.

Ketidakmampuan auditor untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat (juga disebut sebagai pembatasan ruang lingkup audit) dapat timbul dari:

(a)

Kondisi di luar pengendalian entitas; Kondisi yang berkaitan dengan sifat atau waktu dari pekerjaan auditor; atau Pembatasan yang dilakukan oleh manajemen.

(b) (c) A10. Contoh-contoh kondisi di luar pengendalian entitas mencakup sebagai berikut: A11. Contoh-contoh kondisi
(b)
(c)
A10. Contoh-contoh kondisi di luar pengendalian entitas mencakup sebagai berikut:
A11. Contoh-contoh
kondisi
yang
berkaitan
dengan
sifat
atau
waktu
pekerjaan
mencakup:

A9. Ketidakmampuan untuk melakukan suatu prosedur tertentu bukan merupakan suatu pembatasan ruang lingkup audit jika auditor dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat dengan melakukan prosedur alternatif. Jika hal ini tidak dimungkinkan, maka ketentuan dalam paragraf 7(b) dan 10 diterapkan sesuai dengan kondisinya. Pembatasan yang dilakukan oleh manajemen mungkin memiliki implikasi bagi audit, seperti penilaian auditor atas risiko kecurangan dan pertimbangan atas keberlanjutan perikatan.

Catatan akuntansi entitas telah musnah Catatan akuntansi suatu komponen signifikan disita oleh otoritas pemerintah hingga waktu yang tidak dapat ditentukan.

auditor

Entitas diharuskan untuk menggunakan metode akuntansi ekuitas untuk suatu entitas terasosiasi, dan auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat tentang informasi keuangan entitas terasosiasi tersebut untuk mengevaluasi apakah metode ekuitas tersebut telah diterapkan dengan tepat. Waktu penunjukan auditor menyebabkan auditor tidak dapat mengobservasi penghitungan fisik persediaan. Auditor menentukan bahwa pelaksanaan prosedur substantif saja adalah tidak cukup, tetapi pengendalian entitas tidak efektif.

A12. Contoh-contoh ketidakmampuan untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat yang timbul dari pembatasan ruang lingkup audit yang dilakukan oleh manajemen mencakup:

Manajemen mencegah auditor untuk mengobservasi penghitungan fisik persediaan. Manajemen mencegah auditor untuk melakukan konfirmasi eksternal atas saldo akun-akun tertentu.

Konsekuensi dari Ketidakmampuan untuk Memperoleh Bukti Audit yang Cukup dan Tepat yang Diakibatkan oleh Pembatasan yang Dilakukan oleh Manajemen setelah Auditor Menerima Perikatan (Ref: Para. 13(b)-14) A13. Kepraktisan penarikan diri dari audit dapat tergantung dari tingkat penyelesaian perikatan ketika manajemen melakukan pembatasan ruang lingkup. Jika auditor telah menyelesaikan audit secara substansial, maka auditor dapat memutuskan untuk menyelesaikan audit sejauh mungkin, tidak menyatakan pendapat, dan menjelaskan pembatasan ruang lingkup tersebut dalam paragraf Basis untuk Opini Tidak Menyatakan Pendapat sebelum menarik diri.

A14. Dalam kondisi tertentu, pengunduran diri dari audit adalah tidak mungkin jika auditor diharuskan oleh peraturan perundang-undangan untuk melanjutkan perikatan audit. Hal ini mungkin merupakan kasus untuk auditor yang ditunjuk untuk mengaudit laporan keuangan entitas sektor publik. Hal ini juga menjadi kasus dalam yurisdiksi tempat auditor ditunjuk untuk mengaudit laporan keuangan yang mencakup suatu periode spesifik, atau ditunjuk untuk suatu periode spesifik dan tidak diperbolehkan untuk mengundurkan diri sebelum penyelesaian audit atas laporan keuangan atau sebelum akhir periode tersebut. Auditor dapat juga mempertimbangkan bahwa perlu untuk memasukkan paragraf Hal Lain dalam laporan auditor. 6

Bentuk dan Isi Laporan Auditor Bila Opini Dimodifikasi
Bentuk dan Isi Laporan Auditor Bila Opini Dimodifikasi

A15. Bila auditor menyimpulkan bahwa pengunduran diri dari audit adalah tepat karena pembatasan terhadap ruang lingkup, mungkin terdapat ketentuan profesional, peraturan perundang-undangan bagi auditor untuk mengkomunikasikan hal-hal yang berkaitan dengan pengunduran dirinya dari perikatan kepada regulator atau pemilik entitas.

Pertimbangan Lain yang Berkaitan dengan Opini Tidak Wajar atau Opini Tidak Menyatakan Pendapat (Ref: Para. 15) A16. Berikut adalah contoh-contoh kondisi pelaporan yang tidak akan bertentangan dengan opini Tidak Wajar atau opini Tidak Menyatakan Pendapat:

Pernyataan suatu opini yang tidak dimodifikasi atas laporan keuangan yang disusun sesuai dengan suatu kerangka pelaporan keuangan dan, dalam laporan yang sama, pernyataan opini tidak wajar terhadap laporan keuangan yang sama menurut kerangka pelaporan keuangan yang berbeda. 7 Pernyataan opini tidak menyatakan pendapat terhadap kinerja keuangan, dan arus kas, jika relevan, dan opini yang tidak dimodifikasi terhadap posisi keuangan (lihat SPA 510 8 ). Dalam hal ini, auditor tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan.

Paragraf Basis untuk Modifikasi (Ref: Para. 16-17, 19, 21) A17. Konsistensi dalam laporan auditor membantu mendorong pemahaman pemakai dan untuk mengidentifikasi kondisi yang tidak biasa ketika hal itu terjadi. Oleh karena itu, meskipun keseragaman dalam susunan kata-kata suatu opini yang dimodifikasi dan penjelasan tentang basis untuk memodifikasi dapat tidak dimungkinkan, konsistensi dalam bentuk dan isi laporan auditor sangat diperlukan.

A18. Sebuah contoh dampak keuangan dari kesalahan penyajian material yang dapat dijelaskan oleh auditor dalam paragraf basis untuk modifikasi dalam laporan auditor adalah kuantifikasi atas dampak terhadap pajak penghasilan, laba sebelum pajak, laba bersih, dan ekuitas, jika nilai persediaan dicatat terlalu tinggi dari yang seharusnya.

6 SPA 706, “Paragraf Penekanan Suatu Hal dan Paragraf Hal Lain dalam Laporan Auditor Independen,” paragraf

A5.

7 Lihat paragraf A32 SPA 700 untuk penjelasan tentang keadaan ini.

8 SPA 510, “Perikatan Audit Awal—Saldo Awal,” paragraf 10.

A19. Pengungkapan informasi yang dihilangkan dalam paragraf basis untuk modifikasi tidak praktis jika:

(a)

Pengungkapan tidak disiapkan oleh manajemen atau pengungkapan tidak tersedia bagi auditor; atau

(b)

Menurut pertimbangan auditor, pengungkapan akan menjadi sangat berlebihan dalam kaitannya dengan laporan auditor.

A20. Suatu opini tidak wajar atau opini tidak menyatakan pendapat yang berkaitan suatu dengan hal tertentu yang dijelaskan dalam paragraf basis untuk modifikasi bukan merupakan pengganti penghilangan suatu penjelasan tentang hal-hal lain yang teridentifikasi yang seharusnya akan menyebabkan dilakukannya modifikasi terhadap opini auditor. Dalam hal ini, pengungkapan hal-hal lain tersebut yang disadari oleh auditor mungkin relevan bagi pengguna laporan keuangan.

Komunikasi dengan Pihak yang Bertanggung Jawab atas Tata Kelola (Ref: Para. 28)
Komunikasi dengan Pihak yang Bertanggung Jawab atas Tata Kelola (Ref: Para. 28)

Paragraf Opini (Ref: Para. 22-23) A21. Pencantuman judul paragraf ini membuat jelas bagi pengguna laporan auditor bahwa opini auditor dimodifikasi dan mengindikasikan tipe modifikasi yang dilakukan.

A22. Ketika auditor menyatakan suatu opini wajar dengan pengecualian, akan menjadi tidak tepat jika menggunakan frasa seperti “dengan penjelasan tersebut di atas” atau “tergantung dari” dalam paragraf opini, karena frasa-frasa tersebut tidak cukup jelas atau tidak tegas.

Ilustrasi Laporan Auditor A23. Ilustrasi 1 dan Ilustrasi 2 dari Lampiran SPA ini berisi laporan-laporan auditor dengan opini wajar dengan pengecualian dan opini tidak wajar, karena terdapat kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan.

A24. Ilustrasi 3 dari Lampiran SPA ini berisi suatu laporan auditor dengan opini wajar dengan pengecualian, karena auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat. Ilustrasi 4 dari Lampiran SPA ini berisi suatu opini tidak menyatakan pendapat karena ketidakmampuan auditor untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat tentang suatu unsur tunggal laporan keuangan. Ilustrasi 5 dari Lampiran SPA ini berisi suatu opini tidak menyatakan pendapat karena ketidakmampuan auditor untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat tentang banyak unsur laporan keuangan. Dalam Ilustrasi 4 dan 5, dampak ketidakmampuan tersebut terhadap laporan keuangan yang mungkin timbul bersifat material dan pervasif.

A25. Pengomunikasian dengan pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola tentang kondisi yang menuntun pada suatu modifikasi yang diharapkan terhadap opini auditor dan susunan kata yang diusulkan atas modifikasi tersebut memungkinkan:

Auditor untuk memberitahukan pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola modifikasi yang dimaksud dan alasan (atau kondisi) untuk modifikasi tersebut;

(b) Auditor untuk mencari persetujuan dari pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola tentang fakta-fakta dari hal-hal yang menimbulkan modifikasi tersebut, atau mengonfirmasikan hal-hal yang terkait dengan ketidaksepakatan dengan manajemen; dan

(a)

(c) Pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola memperoleh kesempatan, jika relevan, untuk menyediakan bagi auditor informasi dan penjelasan lebih lanjut sehubungan dengan hal-hal yang menimbulkan modifikasi tersebut.

bagi auditor informasi dan penjelasan lebih lanjut sehubungan dengan hal-hal yang menimbulkan modifikasi tersebut.

Lampiran (Ref: Para. A23-24)

Ilustrasi Laporan Auditor dengan Modifikasi Terhadap Opini Ilustrasi 1: Laporan auditor yang berisi opini wajar dengan pengecualian karena kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan. Ilustrasi 2: Laporan auditor yang berisi opini tidak wajar karena kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan. Ilustrasi 3: Laporan auditor yang berisi opini wajar dengan pengecualian karena ketidakmampuan auditor untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat. Ilustrasi 4: Laporan auditor yang berisi opini tidak menyatakan pendapat karena ketidakmampuan auditor untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat tentang suatu unsur tunggal dalam laporan keuangan. Ilustrasi 5: Laporan auditor yang berisi opini tidak menyatakan pendapat karena ketidakmampuan auditor untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat tentang banyak unsur dalam laporan keuangan.

ketidakmampuan auditor untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat tentang banyak unsur dalam laporan keuangan.
ketidakmampuan auditor untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat tentang banyak unsur dalam laporan keuangan.
ketidakmampuan auditor untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat tentang banyak unsur dalam laporan keuangan.

Ilustrasi 1:

Kondisi yang melingkupinya mencakup hal-hal berikut:

Audit atas suatu laporan keuangan lengkap bertujuan umum yang disusun oleh manajemen entitas sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia. Syarat-syarat perikatan audit mencerminkan penjelasan tentang tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan dalam SPA .
sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia . Syarat-syarat perikatan audit mencerminkan penjelasan Syarat-syarat perikatan audit mencerminkan penjelasan tentang tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan dalam SPA 210. 9
jawab manajemen atas laporan keuangan dalam SPA 210. 9 Persediaan disajikan salah. Kesalahan penyajian dipandang Persediaan disajikan salah. Kesalahan penyajian dipandang material namun tidak pervasif terhadap laporan keuangan. Sebagai tambahan untuk audit atas laporan keuangan, auditor memiliki tanggung jawab pelaporan lain yang disyaratkan oleh ketentuan hukum tertentu.

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN [Pihak yang dituju]
LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN
[Pihak yang dituju]

Laporan atas Laporan Keuangan 10 Kami telah mengaudit laporan keuangan Entitas ABC, yang terdiri atas laporan posisi keuangan tanggal 31 Desember 20X1, laporan laba-rugi komprehensif, dan laporan perubahan ekuitas, serta laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, serta ringkasan kebijakan akuntansi signifikan dan informasi penjelasan lain.

Tanggung Jawab Manajemen 11 atas Laporan Keuangan Manajemen bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian wajar laporan keuangan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia, dan atas pengendalian internal yang ditentukan perlu oleh manajemen untuk penyusunan laporan keuangan yang bebas dari kesalahan penyajian material, yang disebabkan oleh kecurangan atau kesalahan.

Tanggung Jawab Auditor Tanggung jawab kami terletak pada pernyataan opini atas laporan keuangan berdasarkan audit kami. Kami melaksanakan audit berdasarkan Standar Perikatan Audit. Standar tersebut mengharuskan kami untuk mematuhi ketentuan etika dan merencanakan serta melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari kesalahan penyajian material.

Suatu audit mencakup pelaksanaan prosedur untuk memperoleh bukti audit tentang jumlah- jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Prosedur yang dipilih tergantung pada pertimbangan auditor, termasuk penilaian risiko kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan yang disebabkan oleh kecurangan atau kekeliruan. Dalam melakukan penilaian risiko, auditor mempertimbangkan pengendalian internal yang relevan dengan penyusunan dan penyajian laporan keuangan entitas secara wajar yang bertujuan untuk merancang prosedur audit yang tepat sesuai dengan kondisinya, namun bukan untuk tujuan menyatakan opini tentang efektivitas pengendalian internal entitas. Audit juga mencakup penilaian atas ketepatan kebijakan akuntansi yang digunakan dan kewajaran estimasi akuntansi yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan.

9 SPA 210, “Menyetujui Syarat-syarat Perikatan.” 10 Subjudul “Laporan atas Laporan Keuangan” diperlukan dalam keadaan ketika subjudul kedua “Laporan atas Ketentuan Perundang-undangan Lain” tidak berlaku.

11 Atau istilah lain yang tepat dalam konteks kerangka hukum dalam yurisdiksi tertentu.

Kami yakin bahwa bukti audit yang kami peroleh adalah cukup dan tepat untuk menyediakan basis untuk opini audit wajar dengan pengecualian.

Basis untuk Opini Wajar dengan Pengecualian Persediaan Entitas di laporan posisi keuangan dicantumkan sebesar Rpxxx. Manajemen tidak menyajikan persediaan tersebut pada nilai yang lebih rendah antara jumlah tercatat dan jumlah terpulihkan namun menyajikannya semata-mata pada jumlah tercatat, yang merupakan penyimpangan dari Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia. Catatan entitas menunjukkan bahwa seandainya manajemen menyajikan persediaan pada nilai yang lebih rendah antara jumlah tercatat dan jumlah terpulihkan, jumlah Rpxxx semestinya diakui untuk menurunkan nilai persediaan ke jumlah terpulihkan. Oleh karena itu, harga pokok penjualan semestinya meningkat sebesar Rpxxx, dan pajak penghasilan, laba bersih serta ekuitas pemegang saham semestinya turun masing-masing sebesar Rpxxx, Rpxxx, dan Rpxxx.

[Tanda tangan auditor] [Tanggal laporan auditor] [Alamat auditor]
[Tanda tangan auditor]
[Tanggal laporan auditor]
[Alamat auditor]

Opini Wajar dengan Pengecualian Menurut opini kami, kecuali dampak dari hal yang telah kami jelaskan dalam paragraf Basis untuk Opini Wajar dengan Pengecualian, laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan Entitas ABC pada 31 Desember 20X1, dan kinerja keuangan, serta arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia.

Laporan atas Ketentuan Peraturan Perundang-undangan Lain [Bentuk dan isi bagian laporan auditor ini akan bervariasi tergantung dari sifat tanggung jawab pelaporan lain auditor]

Ilustrasi 2:

Kondisi yang melingkupinya mencakup hal-hal berikut:

Audit atas laporan keuangan konsolidasian bertujuan umum yang disusun oleh manajemen entitas induk sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia. Syarat-syarat perikatan audit mencerminkan tentang tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan dalam SPA 210. Laporan
Syarat-syarat perikatan audit mencerminkan tentang tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan dalam SPA 210. induk sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia. Laporan keuangan mengandung kesalahan penyajian material
Laporan keuangan mengandung kesalahan penyajian material karena tidak mengkonsolidasikan suatu entitas anak. Kesalahan penyajian material dipandang pervasif terhadap laporan keuangan. Dampak kesalahan penyajian terhadap laporan keuangan tidak dapat ditentukan karena hal tersebut tidak praktis untuk dilakukan. Sebagai tambahan audit atas laporan keuangan konsolidasian, auditor bertanggung jawab atas pelaporan lain yang diharuskan oleh ketentuan hukum tertentu.Syarat-syarat perikatan audit mencerminkan tentang tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan dalam SPA 210.

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN [Pihak yang dituju]
LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN
[Pihak yang dituju]

Laporan atas Laporan Keuangan Konsolidasian 12 Kami telah mengaudit laporan keuangan konsolidasian Entitas ABC dan Entitas Anak, yang terdiri atas laporan posisi keuangan konsolidasian tanggal 31 Desember 20X1, dan laporan laba-rugi komprehensif, laporan perubahan ekuitas, serta laporan arus kas konsolidasian untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, serta ringkasan kebijakan akuntansi signifikan dan catatan penjelasan lain.

Tanggung Jawab Manajemen 13 atas Laporan Keuangan Manajemen bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian wajar laporan keuangan konsolidasian sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia, dan atas pengendalian internal yang ditentukan perlu oleh manajemen untuk memungkinkan penyusunan laporan keuangan konsolidasian bebas dari kesalahan penyajian material, yang disebabkan oleh kecurangan atau kesalahan.

Tanggung Jawab Auditor Tanggung jawab kami terletak pada pernyataan opini atas laporan keuangan konsolidasian berdasarkan audit kami. Kami melaksanakan audit berdasarkan Standar Perikatan Audit. Standar tersebut mengharuskan kami mematuhi ketentuan etika dan merencanakan serta melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan konsolidasian bebas dari kesalahan penyajian material.

Suatu audit mencakup pelaksanaan prosedur untuk memperoleh bukti audit tentang jumlah- jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan konsolidasian. Prosedur yang dipilih tergantung pada pertimbangan auditor, termasuk penilaian risiko kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan yang disebabkan oleh kecurangan atau kesalahan. Dalam melakukan penilaian risiko, auditor mempertimbangkan pengendalian internal yang relevan dengan penyusunan dan penyajian laporan keuangan konsolidasian entitas secara wajar yang bertujuan untuk merancang prosedur audit yang tepat sesuai dengan kondisinya, namun tidak untuk tujuan menyatakan opini tentang efektivitas pengendalian internal entitas. Audit juga

12 Subjudul “Laporan atas Laporan Keuangan Konsolidasian” diperlukan dalam keadaan ketika subjudul kedua “Laporan atas Ketentuan Perundang-undangan Lain” tidak berlaku.

13 Atau istilah lain yang tepat dalam konteks kerangka hukum dalam yurisdiksi tertentu.

mencakup penilaian atas ketepatan kebijakan akuntansi yang digunakan dan kewajaran estimasi akuntansi yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian atas penyajian laporan keuangan konsolidasian secara keseluruhan.

Kami yakin bahwa bukti audit yang kami peroleh cukup dan tepat untuk menyediakan basis untuk opini tidak wajar.

Basis untuk Opini Tidak Wajar Seperti yang dijelaskan pada Catatan X, Entitas tidak mengkonsolidasikan laporan keuangan Entitas Anak XYZ yang diakuisisi dalam tahun 20X1 karena Entitas tidak dapat memastikan nilai wajar aset dan liabilitas material tertentu Entitas Anak pada tanggal akuisisinya. Oleh karena itu investasi ini dicatat dengan basis harga perolehan. Menurut Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia, Entitas Anak harus dikonsolidasikan karena telah dikendalikan oleh Entitas. Jika Entitas XYZ dikonsolidasikan, banyak unsur dalam laporan keuangan terlampir akan terpengaruh secara material. Dampak terhadap laporan keuangan karena tidak melakukan konsolidasian tidak dapat ditentukan.

[Tanda tangan auditor] [Tanggal laporan auditor] [Alamat auditor]
[Tanda tangan auditor]
[Tanggal laporan auditor]
[Alamat auditor]

Opini Tidak Wajar Menurut opini kami, karena signifikannya hal yang telah dibahas dalam paragraf Basis untuk Opini Tidak Wajar, laporan keuangan konsolidasian terlampir tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan Entitas ABC dan Entitas Anak pada 31 Desember 20X1, dan kinerja keuangan serta arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia.

Laporan atas Ketentuan Peraturan Perundang-Undangan Lain [Bentuk dan isi bagian laporan auditor ini akan bervariasi tergantung dari sifat tanggung jawab pelaporan lain auditor]

Ilustrasi 3:

Kondisi yang melingkupinya mencakup hal-hal berikut:

Audit atas suatu laporan keuangan lengkap bertujuan umum yang disusun oleh manajemen sesuai dengan Standar akuntansi Keuangan di Indonesia. Syarat-syarat perikatan audit mencerminkan tentang tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan dalam SPA 210. Auditor
Syarat-syarat perikatan audit mencerminkan tentang tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan dalam SPA 210. sesuai dengan Standar akuntansi Keuangan di Indonesia. Auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan
Auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat berkaitan dengan investasi dalam suatu afiliasi asing. Dampak yang mungkin timbul dari ketidakmampuan untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat dipandang material namun tidak pervasif terhadap laporan keuangan. Sebagai tambahan atas audit laporan keuangan, auditor bertanggung jawab atas pelaporan lainnya yang diharuskan oleh ketentuan hukum tertentu.Syarat-syarat perikatan audit mencerminkan tentang tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan dalam SPA 210.

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN [Pihak yang dituju]
LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN
[Pihak yang dituju]

Laporan atas Laporan Keuangan 14 Kami telah mengaudit laporan keuangan Entitas ABC terlampir, yang terdiri atas laporan posisi keuangan tanggal 31 Desember 20X1, dan laporan laba-rugi komprehensif, laporan perubahan ekuitas, serta laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, serta ringkasan kebijakan akuntansi signifikan dan catatan penjelasan lain.

Tanggung Jawab Manajemen 15 atas Laporan Keuangan Manajemen bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian wajar laporan keuangan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia, dan atas pengendalian internal yang ditentukan perlu oleh manajemen untuk penyusunan laporan keuangan yang bebas dari kesalahan penyajian material yang disebabkan oleh kecurangan atau kesalahan.

Tanggung Jawab Auditor Tanggung jawab kami terletak pada pernyataan opini atas laporan keuangan berdasarkan audit kami. Kami melaksanakan audit berdasarkan Standar Perikatan Audit. Standar tersebut mengharuskan kami mematuhi ketentuan etika dan merencanakan serta melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari kesalahan penyajian material.

Suatu audit mencakup pelaksanaan prosedur untuk memperoleh bukti audit tentang jumlah- jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Prosedur yang dipilih tergantung pada pertimbangan auditor, termasuk penilaian risiko kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan yang disebabkan oleh kecurangan atau kesalahan. Dalam melakukan penilaian risiko, auditor mempertimbangkan pengendalian internal yang relevan dengan penyusunan dan penyajian secara wajar laporan keuangan yang bertujuan untuk merancang prosedur audit yang tepat sesuai dengan kondisinya, namun tidak untuk tujuan untuk menyatakan opini atas efektivitas pengendalian internal entitas. Suatu audit juga meliputi penilaian atas ketepatan kebijakan akuntansi yang digunakan dan kewajaran estimasi akuntansi yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan.

14 Subjudul “Laporan atas Laporan Keuangan” diperlukan dalam keadaan ketika subjudul kedua “Laporan atas Ketentuan Perundang-undangan Lain” tidak berlaku.

15 Atau istilah lain yang tepat dalam konteks kerangka hukum dalam yurisdiksi tertentu.

Kami yakin bahwa bukti audit yang kami peroleh cukup dan tepat untuk menyediakan basis bagi opini audit wajar dengan pengecualian.

Basis untuk Opini Wajar dengan Pengecualian Investasi Entitas ABC dalam Entitas XYZ, suatu entitas asosiasi asing yang diakuisisi dalam tahun 20X1dan dicatat dengan metode ekuitas sebesar Rpxxx di laporan posisi keuangan tanggal 31 Desember 20X1, dan bagian ABC dalam laba bersih XYZ sebesar Rpxxx dimasukkan dalam laba ABC untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Kami tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat tentang jumlah tercatat investasi ABC dalam XYZ tanggal 31 December 20X1 dan bagian ABC dalam laba bersih XYZ untuk tahun tersebut karena kami tidak diperbolehkan untuk mengakses informasi keuangan, manajemen, dan auditor XYZ. Sebagai konsekuensinya, kami tidak dapat menentukan apakah diperlukan penyesuaian terhadap jumlah-jumlah tersebut atau tidak.

[Tanda tangan auditor] [Tanggal laporan auditor] [Alamat auditor]
[Tanda tangan auditor]
[Tanggal laporan auditor]
[Alamat auditor]

Opini Wajar dengan Pengecualian Menurut opini kami, kecuali dampak yang mungkin timbul dari hal yang telah dijelaskan dalam paragraf Basis Opini Wajar dengan Pengecualian, laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan Entitas ABC tanggal 31 Desember 20X1, dan kinerja keuangan, serta arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia.

Laporan atas Ketentuan Peraturan Perundang-Undangan Lain [Bentuk dan isi bagian laporan auditor ini akan bervariasi tergantung dari sifat tanggung jawab pelaporan lain auditor]

Ilustrasi 4:

Kondisi yang melingkupinya mencakup hal-hal berikut:

Audit atas suatu set laporan keuangan lengkap bertujuan umum yang disusun oleh manajemen entitas sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia. Syarat-syarat perikatan audit mencerminkan tentang tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan dalam SPA 210. Auditor
Syarat-syarat perikatan audit mencerminkan tentang tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan dalam SPA 210. sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia. Auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan
Auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat tentang suatu unsur tunggal laporan keuangan. Yaitu, auditor tidak dapat memperoleh bukti audit tentang informasi keuangan dari suatu ventura bersama (jawab manajemen atas laporan keuangan dalam SPA 210. joint venture) yang mencerminkan lebih dari 90% dari joint venture) yang mencerminkan lebih dari 90% dari aset bersih perusahaan. Dampak yang mungkin timbul dari ketidakmampuan untuk memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat dipandang material dan pervasif terhadap laporan keuangan. Sebagai tambahan terhadap audit atas laporan keuangan, auditor memiliki tanggung jawab lain atas pelaporan yang diharuskan oleh ketentuan hukum tertentu.

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN [Pihak yang dituju]
LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN
[Pihak yang dituju]

Laporan atas Laporan Keuangan 16 Kami telah melakukan perikatan untuk mengaudit laporan keuangan Entitas ABC, yang terdiri dari laporan posisi keuangan tanggal 31 Desember 20X1, dan laporan laba-rugi komprehensif, laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, dan ringkasan kebijakan akuntansi signifikan serta informasi penjelasan lain.

Tanggung Jawab Manajemen 17 atas Laporan Keuangan Manajemen bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian wajar laporan keuangan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia, dan atas pengendalian internal yang ditentukan perlu oleh manajemen untuk penyusunan laporan keuangan yang bebas dari kesalahan penyajian material karena kecurangan atau kesalahan.

Tanggung Jawab Auditor Tanggung jawab kami terletak pada pernyataan opini atas laporan keuangan berdasarkan audit kami. Kami melaksanakan audit berdasarkan Standar Perikatan Audit. Namun, oleh karena hal yang dijelaskan dalam paragraf Basis untuk Opini Tidak Menyatakan Pendapat, kami tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat untuk menyediakan basis bagi opini audit.

Basis untuk Opini Tidak Menyatakan Pendapat Investasi perusahaan dalam ventura bersama XYZ (yang terletak di Negara X) dicantumkan sebesar Rpxxx dalam laporan posisi keuangan Entitas, yang mencerminkan lebih dari 90% aset bersih Entitas pada tanggal 31 Desember 20X1. Kami tidak diperbolehkan mengakses manajemen dan auditor XYZ, termasuk dokumentasi audit auditor XYZ. Sebagai akibatnya, kami tidak dapat menentukan apakah penyesuaian diperlukan atau tidak terhadap bagian proporsional kepemilikan Entitas atas aset XYZ yang dikendalikan bersama, bagian proporsional atas liabilitas XYZ yang menjadi tanggung jawab bersama, bagian proporsional

16 Subjudul “Laporan atas Laporan Keuangan” diperlukan dalam keadaan ketika subjudul kedua “Laporan atas Ketentuan Perundang-undangan Lain” tidak berlaku.

17 Atau istilah lain yang tepat dalam konteks kerangka hukum dalam yurisdiksi tertentu.

atas pendapatan dan beban XYZ dalam tahun tersebut, dan unsur-unsur yang membentuk laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas.

Opini Tidak Menyatakan Pendapat Oleh karena signifikannya hal-hal yang kami jelaskan dalam paragraf Basis untuk Opini Tidak Menyatakan Pendapat, kami tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat untuk menyediakan basis bagi suatu opini audit. Oleh karena itu, kami tidak menyatakan suatu opini atas laporan keuangan tersebut.

[Tanda tangan auditor] [Tanggal laporan auditor] [Alamat auditor]
[Tanda tangan auditor]
[Tanggal laporan auditor]
[Alamat auditor]

Laporan atas Ketentuan Peraturan Perundang-Undangan Lain [Bentuk dan isi bagian laporan auditor ini akan bervariasi tergantung dari sifat tanggung jawab pelaporan lain auditor]

Ilustrasi 5:

Kondisi yang melingkupinya mencakup hal-hal berikut:

Audit atas suatu set laporan keuangan lengkap bertujuan umum yang disusun oleh manajemen entitas sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia. Syarat-syarat perikatan audit mencerminkan tentang tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan dalam SPA 210. Auditor
Syarat-syarat perikatan audit mencerminkan tentang tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan dalam SPA 210. sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia. Auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan
Auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat tentang beberapa unsur laporan keuangan. Yaitu, auditor tidak dapat memperoleh bukti audit tentang persediaan entitas dan piutang usaha. Dampak yang mungkin timbul dari ketidakmampuan untuk mendapatkan bukti audit yang cukup dan tepat dipandang material dan pervasif terhadap laporan keuangan. Sebagai tambahan terhadap audit atas laporan keuangan, auditor memiliki tanggung jawab pelaporan lain yang diharuskan oleh ketentuan hukum tertentu.Syarat-syarat perikatan audit mencerminkan tentang tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan dalam SPA 210.

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN [Pihak yang dituju]
LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN
[Pihak yang dituju]

Laporan atas Laporan Keuangan 18 Kami telah melakukan perikatan untuk mengaudit laporan keuangan Entitas ABC terlampir, yang terdiri dari laporan posisi keuangan tanggal 31 Desember 20X1, dan laporan laba-rugi komprehensif, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, dan ringkasan kebijakan akuntansi signifikan serta informasi penjelasan lain.

Tanggung Jawab Manajemen 19 atas Laporan Keuangan Manajemen bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian wajar laporan keuangan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia, dan atas pengendalian internal yang ditentukan perlu oleh manajemen untuk memungkinkan penyusunan laporan keuangan yang bebas dari kesalahan penyajian material karena kecurangan atau kesalahan.

Tanggung Jawab Auditor Tanggung jawab kami terletak pada pernyataan opini atas laporan keuangan berdasarkan audit kami. Kami melaksanakan audit berdasarkan Standar Perikatan Audit. Namun, oleh karena hal yang dijelaskan dalam paragraf Basis untuk Opini Tidak Menyatakan Pendapat, kami tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat untuk menyediakan basis bagi opini audit.

Basis untuk Opini Tidak Menyatakan Pendapat Kami belum ditunjuk sebagai auditor Entitas hingga setelah tanggal 31 December 20X1 dan dengan demikian kami tidak dapat mengobervasi perhitungan persediaan fisik pada awal dan akhir tahun. Kami tidak dapat meyakinkan diri kami dengan prosedur alternatif lain yang berkaitan dengan kuantitas persediaan yang ada pada 31 Desember 20X0 dan 20X1 yang dicantumkan di laporan posisi keuangan masing-masing sebesar Rpxxx dan Rpxxx. Di samping itu, pengenalan sistem baru komputerisasi piutang usaha dalam bulan September 20X1 menghasilkan sejumlah kekeliruan dalam akun piutang usaha. Sejak tanggal laporan audit, manajemen masih tetap dalam proses memperbaiki defisiensi sistem dan mengoreksi

18 Subjudul “Laporan atas Laporan Keuangan” diperlukan dalam keadaan ketika subjudul kedua “Laporan atas Ketentuan Perundang-undangan Lain” tidak berlaku.

19 Atau istilah lain yang tepat dalam konteks kerangka hukum dalam yurisdiksi tertentu

kekeliruan. Kami tidak dapat melakukan konfirmasi atau tidak dapat melakukan verifikasi piutang usaha yang tercantum dalam laporan posisi keuangan sebesar Rpxxx pada 31 Desember 20X1 melalui prosedur alternatif. Sebagai akibatnya, kami tidak dapat menentukan apakah diperlukan penyesuaian terhadap persediaan dan piutang, baik yang tercatat maupun yang tidak tercatat, dan unsur-unsur yang memengaruhi laporan laba-rugi komprehensif, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas.

Opini Tidak Menyatakan Pendapat Oleh karena signifikansi hal-hal yang dijelaskan dalam paragraf Basis untuk Opini Tidak Menyatakan Pendapat, kami tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat untuk menyediakan suatu basis bagi opini audit. Oleh karena itu, kami tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan.

[Tanda tangan auditor] [Tanggal laporan auditor] [Alamat auditor]
[Tanda tangan auditor]
[Tanggal laporan auditor]
[Alamat auditor]

Laporan atas Ketentuan Peraturan Perundang-Undangan Lain [Bentuk dan isi bagian laporan auditor ini akan bervariasi tergantung dari sifat tanggung jawab pelaporan lain auditor]