Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan pendidikan nasional Indonesia mendapatkan kekuatan dan
semangat baru dengan disahkannya Undang-undang Republik Indonesia Nomor
23 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Naja (2008) menyebutnya
sebagai roh baru dalam pembangunan pendidikan. Di samping itu, disahkannya
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2003 di atas juga membawa
konsekuensi atau implementasi terhadap pendidikan, termasuk terhadap guru. Di
antara konsekuensi atau implementasi itu, misalnya terkait dengan pasal 40 pada
undang-undang ini yang menyatakan bahwa pendidik (termasuk guru) dan tenaga
kependidikan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan
tugas dan hak atas hasil kekayaan intelektual.
Kekuatan dan semangat penyelenggaraan pendidikan juga makin
bertambah dengan telah diundangkannya Undang-undang Republik Indonesia
Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Undang-undang ini dianggap bisa
menjadi payung hukum unuk guru dan dosen tanpa adanya perlakuan yang
berbeda antara guru negeri dan swasta. Meskipun di beberapa bagian masih sangat
hangat diperbincangkan dan menjadi perdebatan yang sangat seru, undang-undang
ini secara gamblang dan jelas mengatur secara detail aspek-aspek yang selama ini
belum diatur secara rinci, misalnya kedudukan, fungsi dan tujuan dari guru, hak
dan kewajiban guru, kompetensi, dan lain-lain.
Sampai saat ini, beberapa kenyataan atau fenomena berikut banyak
dihadapi guru, sebagai bukti bahwa mereka belum sepenuhnya memperoleh
perlindungan profesi yang wajar. Penugasan guru yang tidak sesuai dengan bidang
keahliannya. Pengangkatan guru, khususnya guru bukan PNS untuk sebagian
besar belum didasari atas perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama.
Pembinaan dan pengembangan profesi serta pembinaan dan pengembangan karir
guru belum sepenuhnya terjamin. Adanya pembatasan dan penyumbatan atas
aspirasi guru untuk memperjuangkan kemajuan pendidikan secara akademik dan
profesional.
Bayaran gaji atau honorarium guru banyak yang tidak wajar. Di samping
itu, masih sering kita lihat arogansi terhadap guru, misalnya oleh oknum
1

pemerintahan, masyarakat, orang tua, bahkan siswa. Mutasi guru sering


berlangsung secara tidak adil dan atau semena-mena. Pemberian sanksi tindakan
disiplin terhadap guru karena guru berbeda pandangan dengan kepala sekolahnya.
Guru yang menjadi korban karena bertugas di wilayah konflik atau di sekolah
yang rusak (Administrator, 2008).
Fenomena nyata dikemukakan oleh Nugroho (2008) yang mengutip berita
dalam Kompas edisi 29 Juli 2008, bahwa perlindungan hukum terhadap guru
belum dilakukan sepenuhnya. Salah seorang guru yang juga Sekretaris Jenderal
Federasi Guru Independen (FGI), Iwan Hermawan, dijatuhi sanksi disiplin oleh
Wali Kota Bandung karena bersikap kritis terhadap penyelenggaraan pendidikan,
termasuk dalam penyelenggaraan ujian nasional. Sebelumnya, pada kasus
Kelompok Air Mata Medan dan Forum Guru Garut, mestinya guru mendapatkan
apreasiasi karena keberaniannya melaporkan adanya indikasi kecurangan dalam
ujian nasional tetapi yang diterima bukan penghargaan, melainkan sanksi berupa
dikurangi jam mengajar, bahkan ada dipecat. Hery Nugroho juga mengutip berita
Suara Merdeka edisi 26 Mei 2008, seorang guru dicopot dari jabatannya gara-gara
kuliah S2 di UGM.
Dalam situs resmi Kompas (http://cetak.kompas.com/) edisi 17 Juli 2008
juga dikemukakan bahwa perlindungan hukum terhadap guru, baik oleh
pemerintah, yayasan, maupun organisasi profesi guru, dirasakan masih rendah.
Akibatnya, posisi guru seringkali lemah saat berhadapan dengan pemerintah atau
yayasan ketika memiliki kasus atau memperjuangkan hak-hak mereka. Hal itu
terungkap dalam pertemuan pimpinan Pengurus Besar PGRI periode 2008-2013
dengan media massa di Jakarta, pada 16 Juli 2008. Menurut Sulistyo, Ketua
Umum PB PGRI, Pemerintah atau yayasan memosisikan dirinya lebih tinggi dari
guru sehingga menimbulkan sikap sewenang-wenang terhadap profesi guru.
Sulistyo mengaku, PGRI sebagai organisasi profesi guru yang beranggotakan 1,6
juta guru pegawai negeri dan swasta di seluruh Indonesia selama ini juga lemah
dalam memberikan perlindungan hukum kepada guru yang bermasalah.
Uraian di atas memberi gambaran kepada kita bahwa masih begitu banyak
permasalahan yang terjadi dalam dunia pendidikan, dalam hal ini berkaitan
dengan perlindungan hukum terhadap guru. Permasalahan-permasalahan di atas

perlu segera mendapatkan perhatian dari banyak pihak, baik pemerintah (termasuk
penegak hukum), legislatif, sekolah, masyarakat, maupun guru itu sendiri.
Mengingat banyaknya permasalahan yang ada, dalam makalah ini permasalahan
yang akan dibahas meliputi makna profesi dan profesionalisme guru serta tinjauan
yuridis perlindungan bagi guru dalam profesinya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian perlindungan profesi ?
2. Bagaimana sejarah perlindungan profesi guru ?
3. Apa pentingnya perlindungan profesi guru ?
4. Bagaimana perlindungan guru dalam profesinya secara yuridis ?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
- Untuk mengetahui pengertian perlindungan profesi secara umum dan
-

perlindungan profesi guru.


Untuk mengetahui sejarah terciptanya perlindungan profesi guru.
Untuk mengetahui pentingnya perlindungan profesi guru.

Untuk mengetahui perlindungan guru dalam profesinya secara yuridis.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Perlindungan Profesi


Perlindungan profesi mencakup perlindungan terhadap pemutusan
hubungan kerja yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan,
pemberian imbalan yang tidak wajar, pelecehan terhadap profesi serta pembatasan
lain yang dapat menghambat guru dalam melaksanakan tugas.
B. Sejarah Perlindungan Profesi Guru
Sejarah pendidikan di Indonesia menunjukkan bahwa perlakuan yang
cenderung diskriminatif terhadap sebagian guru telah berlangsung sejak zaman
pemerintah kolonial Belanda. Hal ini membangkitkan kesadaran untuk terus
mengupayakan agar guru mempunyai status atau harkat dan martabat yang jelas

dan mendasar. Hasilnya antara lain adalah terbentuknya UU No. 14 Tahun 2005
tentang Guru dan Dosen.
Diundangkannya UU No. 14 tahun 2005 merupakan langkah maju untuk
mengangkat harkat dan martabat guru, khususnya di bidang perlindungan hukum
bagi mereka. Materi perlindungan hukum terhadap guru mulai mengemuka dalam
UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. UU ini diperbaharui
dan kemudian diganti dengan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional.
Penjabaran pelaksanaan perlindungan hukum bagi guru itu pernah diatur
dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 38 Tahun 1992 tentang Tenaga
Kependidikan. Di dalam PP ini perlindungan hukum bagi guru meliputi
perlindungan untuk rasa aman, perlindungan terhadap pemutusan hubungan kerja,
dan perlindungan terhadap keselamatan dan kesehatan kerja.
Sejak lahirnya UU No. 14 Tahun 2005 dan PP No. 74 Tahun 2008, dimensi
perlindungan guru mendapatkan tidik tekan yang lebih kuat. Norma perlindungan
hukum bagi guru tersebut di atas kemudian diperbaharui, dipertegas, dan diperluas
spektrumnya dengan diundangkannya UU No. 14 tahun 2005. Dalam UU ini,
ranah perlindungan terhadap guru meliputi perlindungan hukum, perlindungan
profesi, serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja. Termasuk juga di
dalamnya perlindungan atas Hak atas Kekayaan Intelektual atau HaKI. Salah satu
hak guru adalah hak memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas dan
hak atas kekayaan intelektual. Pada Pasal 39 UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru
dan Dosen, Bagian 7 tentang Perlindungan, disebutkan bahwa banyak pihak wajib
memberikan perlindungan kepada guru

C. Pentingnya Perlindungan Profesi Guru


Agar proses pendidikan menjadi baik dan guru menjalankan tugasnya
dengan profesional maka diperlukan peran pemerintah baik pusat maupun daerah
4

serta masyarakat demi mewujudkan guru yang mempunyai martabat dan


terlindungi oleh hukum dalam menjalankan profesinya agar tercipta pencapaian
kualitas yang maksimal, hal ini sesuai dengan amanah UU Sisdiknas. Maka harus
ada regulasi yang mengatur tentang itu, salah satunya dengan membuat UU
tentang perlindungan terhadap profesi pendidik yang substansinya adalah agar
guru dalam menjalankan profesinya terlindungi dengan kekuatan hukum dan
harus ada pemahaman yang utuh bahwa dalam menjalani proses pendidikan. Guru
diberi hak otoritas dalam mendidik peserta didik, jika perlu ada fit and proper test
untuk menjadi seorang guru, agar dunia pendidikan tidak lagi disibukan dengan
ulah guru yang tidak mengerti esensi dalam mendidik.
Secara yuridis, UU Perlindungan Guru telah termuat dalam UU No
14/2005. Hal ini terlihat jelas pada Bab VII pasal 39 yang menyebutkan bahwa
Pemerintah, masyarakat, organisasi profesi, dan/atau satuan pendidikan wajib
memberikan perlindungan terhadap guru dalam pelaksanaan tugas.Adapun
maksud Perlindungan Profesi yang diamanatkan dalam UU No 14/2005 tentang
Guru adalah perlindungan terhadap Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang tidak
sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku, pemberian
imbalan yang tidak wajar, pembatasan dalam menyampaikan pandangan,
pelecehan terhadap profesi, dan pembatasan/pelarangan lain yang dapat
menghambat guru dalam melaksanakan tugasnya. Sementara perlindungan
keselamatan dan kesehatan kerja meliputi perlindungan terhadap risiko gangguan
keamanan kerja, kecelakaan kerja, kesehatan, dan/atau resiko lainnya.
Berangkat dari paparan di atas, terlihat bahwa eksistensi UU No 14/2005
telah memuat perlindungan terhadap guru atas profesinya. Namun, implementasi
terhadap UU tersebut masih belum terlaksana. UU tersebut lebih banyak disoroti
sebagai kekuatan hukum atas peningkatan kesejahteraan guru/dosen, sementara
perlindungan terhadap profesi guru/dosen seringkali lepas dari perhatian.
Kita tidak menutup mata terhadap tindakan oknum guru yang kurang
mendidik dengan memberikan hukuman di luar nilai pendidikan. Mereka

meletakkan peserta didiknya sebagai penjahat yang harus dihabisi, bukan sosok
yang perlu dibimbing dan diperbaiki. Demikian pula sikap orang tua/masyarakat
yang mulai mengalami pergeseran dalam memandang profesi guru. Mereka terlalu
banyak menuntut guru agar dapat mengahntarkan peserta didik sebagai
masyarakat terdidik, namun tidak seiring dengan penghargaan dan perlindungan
yang diberikan.
Ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan guru dalam menghadapi
murid yang bersalah, sebelum mereka menetapkan hukuman, yaitu; Pertama,
perlu memberikan laporan kepada orang tua murid perihal prilaku anak mereka
dengan cara pemanggilan secara langsung. Tahapan ini dilakukan sebanyak 2 kali
dengan ikut melibatkan guru BK. Kedua, bila selama 2 kali pemanggilan tidak
menunjukan perubahan dan kerjasama yang baik, seorang guru bisa memberikan
hukuman dengan syarat : (1). Hukuman tidak pada tempat yang vital. (2)
hukuman dilakukan dalam bentuk yang mendidik. (3) hukuman dilaksanakan
secara adil dan ikut mempertimbangkan aspek psikologis peserta didik.
Bila UU No 20/2003 menuntut pencapaian kualitas yang maksimal,
menuntut pendidik menjadi profesional, seyogyanya diiringi dengan adanya UU
Profesi Pendidik. Meskipun dalam UU No 14/2005 secara tegas telah melindungi
profesi guru dan dosen, namun dalam dataran implementasi kekuatan UU tersebut
masih tak terlihat berkontribusi terhadap nasib guru/dosen sebagai tenaga
pendidik. Untuk itu, sudah pada saat dan tempatnya jika guru/dosen membangun
kekuatan solidaritas untuk mendorong pemerintah memperbaiki kondisi kerja
guru dan melindungi profesi mereka dengan kekuatan hukum yang jelas.

D. Perlindungan Guru dalam Profesinya Secara Yuridis


Abduhzen (2008) mengemukakan bahwa sebagai sebuah profesi, dalam
bekerja guru memerlukan jaminan dan perlindungan perundang-undangan dan tata
aturan yang pasti. Hal ini sangat penting agar mereka selain memperoleh rasa
6

aman, juga memiliki kejelasan tentang hak dan kewajibannya, apa yang boleh dan
tidak boleh mereka lakukan, serta apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan
pihak lain kepada mereka, baik sebagai manusia, pendidik, dan pekerja.
Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen secara
keseluruhan pada dasarnya merupakan jaminan dan perlindungan bagi guru dan
dosen dalam menjalankan profesinya. Secara eksplisit dan khusus, perlindungan
bagi

guru

yang

dimaksud

di

atas

termaktub

dalam

pasal

39.

Dalam pasal 39 Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
dikemukakan:
(1) Pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, organisasi profesi, dan/atau
satuan pendidikan wajib memberikan perlindungan terhadap guru dalam
pelaksanaan

tugas.

(2) Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perlindungan


hukum, perlindungan profesi, serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja.
(3) Perlindungan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencakup
perlindungan

hukum

terhadap

tindak

kekerasan,

ancaman,

perlakuan

diskriminatif, intimidasi, atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang
tua

peserta

didik,

masyarakat,

birokrasi,

atau

pihak

lain.

(4) Perlindungan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencakup


perlindungan terhadap pemutusan hubungan kerja yang tidak sesuai dengan
peraturan perundang-undangan, pemberian imbalan yang tidak wajar, pembatasan
dalam

menyampaikan

pandangan,

pelecehan

terhadap

profesi,

dan

pembatasan/pelarangan lain yang dapat menghambat guru dalam melaksanakan


tugas.
(5) Perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) mencakup perlindungan terhadap risiko gangguan keamanan kerja,
kecelakaan kerja, kebakaran pada waktu kerja, bencana alam, kesehatan
lingkungan kerja, dan/atau risiko lain.

Frasa perlindungan hukum yang dimaksudkan di sini mencakup semua


dimensi yang terkait dengan upaya mewujudkan kepastian hukum, kesehatan,
keamanan, dan kenyamanan bagi guru dalam menjalankan tugas-tugas
profesionalnya.

Perlindungan hukum; Semua guru harus dilindungi secara hukum dari


segala anomali atau tindakan semena-mena dari yang mungkin atau berpotensi
menimpanya dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Perlindungan hukum
dimaksud meliputi perlindungan yang muncul akibat tindakan dari peserta didik,
orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi atau pihak lain, berupa: (a) tindak
kekerasan; (b) ancaman, baik fisik maupun psikologis; (c) perlakuan
diskriminatif; (d) intimidasi; dan (e) perlakuan tidak adil

Perlindungan profesi; Perlindungan profesi mencakup perlindungan


terhadap pemutusan hukubungan kerja (PHK) yang tidak sesuai dengan peraturan
perundang-undangan, pemberian imbalan yang tidak wajar, pembatasan dalam
penyampaian pandangan, pelecehan terhadap profesi dan pembatasan/pelarangan
lain yang dapat menghambat guru dalam melaksanakan tugas.
Secara rinci, subranah perlindungan profesi dijelaskan berikut ini.
a. Penugasan guru pada satuan pendidikan harus sesuai dengan bidang
keahlian, minat, dan bakatnya.
b. Penetapan salah atau benarnya tindakan guru dalam menjalankan tugastugas profesional dilakukan dengan mempertimbangkan pendapat Dewan
Kehormatan Guru Indonesia.
c. Penempatan dan penugasan guru didasari atas perjanjian kerja atau
kesepakatan kerja bersama.
8

d. Pemberian sanksi pemutusan hubungan kerja bagi guru harus mengikuti


prosedur sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan atau perjanjian
kerja atau kesepakatan kerja bersama.
e. Penyelenggara atau kepala satuan pendidikan formal wajib melindungi
guru dari praktik pembayaran imbalan yang tidak wajar.
f. Setiap guru memiliki kebebasan akademik untuk menyampaikan
pandangan.
g. Setiap guru memiliki kebebasan untuk: (1) mengungkapkan ekspresi;
(2) mengembangkan kreatifitas; dan (3) melakukan inovasi baru yang memiliki
nilai tambah tinggi dalam proses pendidikan dan pembelajaran.
h. Setiap guru harus terbebas dari tindakan pelecehan atas profesinya dari
peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi, atau pihak lain.
i. Setiap guru yang bertugas di daerah konflik harus terbebas dari pelbagai
ancaman, tekanan, dan rasa tidak aman.
j. Kebebasan dalam memberikan penilaian kepada peserta didik,
meliputi: (1) substansi; (2) prosedur; (3) instrumen penilaian; dan(4) keputusan
akhir dalam penilaian.
k. Ikut menentukan kelulusan peserta didik, meliputi: (1) penetapan taraf
penguasaan kompetensi; (2) standar kelulusan mata pelajaran atau mata
pelatihan; dan (3) menentukan kelulusan ujian keterampilan atau kecakapan
khusus.
l. Kebebasan untuk berserikat dalam organisasi atau asosiasi profesi,
meliputi: mengeluarkan pendapat secara lisan atau tulisan atas dasar keyakinan
akademik, memilih dan dipilih sebagai pengurus organisasi atau asosiasi profesi
guru, dan bersikap kritis dan obyektif terhadap organisasi profesi.

10

m. Kesempatan untuk berperan dalam penentuan kebijakan pendidikan


formal, meliputi: akses terhadap sumber informasi kebijakan; partisipasi dalam
pengambilan kebijakan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan formal, dan
memberikan masukan dalam penentuan kebijakan pada tingkat yang lebih tinggi
atas dasar pengalaman terpetik dari lapangan.

Perlindungan Kesehatan dan Keselamatan Kerja


mencakup perlindungan terhadap resiko gangguan keamanan kerja,
kecelakaan kerja, kebakaran pada waktu kerja, bencana alam, kesehatan
lingkungan kerja, dan/atau resiko lain. Beberapa hal krusial yang terkait dengan
perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja, termasuk rasa aman bagi guru
dalam bertugas, yaitu:
a. Hak memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam
melaksanakan tugas harus mampu diwujudkan oleh pengelola satuan pendidikan
formal, pemerintah dan pemerintah daerah.
b. Rasa aman dalam melaksanakan tugas, meliputi jaminan dari ancaman
psikis dan fisik dari peserta didik, orang tua/wali peserta didik, atasan langsung,
teman sejawat, dan masyarakat luas.
c. Keselamatan dalam melaksanakan tugas, meliputi perlindungan
terhadap: risiko gangguan keamanan kerja; risiko kecelakaan kerja; risiko
kebakaran pada waktu kerja; risiko bencana alam, kesehatan lingkungan kerja,
dan/atau risiko lain sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan
mengenai ketenagakerjaan.
d. Terbebas dari tindakan resiko gangguan keamanan kerja dari peserta
didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi, atau pihak lain.

10

11

e. Pemberian asuransi dan/atau jaminan pemulihan kesehatan yang


ditimbulkan akibat: kecelakaan kerja; kebakaran pada waktu kerja; bencana
alam; kesehatan lingkungan kerja, dan/atau resiko lain.
f. Terbebas dari multiancaman, termasuk ancaman terhadap kesehatan
kerja, akibat:
bahaya yang potensial, kecelakaan akibat bahan kerja, keluhan-keluhan
sebagai dampak ancaman bahaya, frekuensi penyakit yang muncul akibat kerja,
risiko atas alat kerja yang dipakai, dan risiko yang muncul akibat lingkungan atau
kondisi tempat kerja.

Perlindungan hukum terhadap guru diwujudkan dengan menyerahkan guru


yang diadukan atau diinformasikan menyimpang kepada dewan kehormatan
organisasi profesi guru terlebih dahulu. Jika terdapat unsur-unsur pidana,
organisasi profesi guru itu meneruskan laporan ke penyidik sesuai dengan
ketentuan hukum yang berlaku.
Beberapa kenyataan yang dihadapi guru, sebagai bukti bahwa mereka
belum sepenuhnya memperoleh perlindungan profesi yang wajar:
a.

Penugasan guru yang tidak sesuai dengan bidang keahliannya

b.

Pengangkatan guru, khususnya guru bukan PNS untuk sebagian besar

belum didasari atas perjanjian kerja atau kesepakatan kerjasama.


c.

Pembinaan dan pengembangan profesi serta pembinaan dan

pengembangan karir guru yang belum sepenuhnya terjamin.


d. Adanya pembatasan dan penyumbatan atas aspirasi guru untuk
memperjuangkan kemajuan pendidikan secara akademik dan profesional.
e.

Pembayaran gaji atau honorariurn guru yang tidak wajar.

f.

Arogansi oknum pemerintahan, masyarakat, orang tua, dan siswa

terhadap guru.
g. Mutasi guru secara tidak adil dan atau sermena-mena.
11

12

h. Pengenaan tindakan disiplin terhadap guru karena berbeda pandangan


dengan kepala sekolahnya.
i.

Guru yang menjadi korban karena bertugas di wilayah konflik atau di

tempat (sekolah) yang rusak.


Berdasarkan permasalahan guru yang terjadi, Direktorat Profesi Pendidik
bekerjasama dengan LKBH-PGRI Pusat dan Cabang LKBH-PGRI melakukan
beberapa upaya untuk keperluan sosialisasi, konsultasi, advokasi, mediasi,
dan/atau bantuan hukum kepada guru. Dengan adanya Subsidi Perlindungan
Hukum bagi Guru/Blockgrant untuk LKBH PGRI diharapkan:
a.

Bertindak aktif memberikan perlindungan hukum bagi guru, baik

diminta maupun tidak diminta.


b. Melaksanakan tugas perlindungan hukum sesuai dengan akad
kerjasama.
c.

Menyebarluaskan informasi dalam rangka meningkatkan kesadaran

atas hak dan kewajiban guru.


d. Memberi nasihat kepada guru yang membutuhkan.
e.

Bekerjasama dengan instansi terkait dalam upaya mewujudkan

perlindungan guru.
f.

Membantu guru dalam memperjuangkan haknya termasuk menerima

keluhan atau pengaduan guru.


Beberapa kepengurusan PGRI di daerah sudah mulai membentuk LKBHPGRI ini dan melaksanakan aktivitas perlindungan bagi guru dalam profesinya,
khususnya mengenai perlindungan hukum bagi guru.
Mengutip Baedhowi (2008), hak asasi manusia, termasuk hak-hak guru,
merupakan hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia, bersifat
universal dan langgeng. Oleh karena itu, hak-hak manusia, termasuk hak-hak guru
harus dilindungi, dihormati, dipertahankan dan tidak boleh diabaikan, dikurangi
atau dirampas oleh siapapun. Di samping itu, perlindungan hukum bagi guru
(Rudy, 2008) menjadi sangat signifikan agar guru dapat menjalankan perannya
12

13

tidak hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai pendidik. Hal ini memberi
pengertian bahwa perlindungan guru dalam profesinya memerlukan upaya dan
perjuangan yang sungguh-sungguh dan berkelanjutan.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen secara
keseluruhan pada dasarnya merupakan jaminan dan perlindungan bagi
guru dan dosen dalam menjalankan profesinya. Perlindungan bagi guru
termaktub dalam pasal 39, meliputi perlindungan hukum, perlindungan
profesi, serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja. Undangundang ini telah merumuskan lingkup perlindungan terhadap guru namun
secara yuridis-normatif konsep perlindungan tersebut mengandung
kelemahan, belumlah konkrit, tuntas, dan operasional atau aplikatif.
B. Saran
Beberapa pasal dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang
Guru dan Dosen memerlukan peraturan implementatif yang lebih rinci.
Beberapa kasus yang terjadi berkaitan dengan perlindungan terhadap guru
dalam profesinya memerlukan klarifikasi atau penjelasan hukum dalam
penyelesaiannya. PGRI, sebagai salah satu organisasi profesi guru, telah,
sedang, dan akan terus berjuang untuk membantu guru, termasuk
membantu memberikan perlindungan bagi guru dalam profesinya.
Melalui makalah ini diharapkan dapat menambah wawasan dan
pengetahuan mengenai Perlindungan Profesi Guru. Penulis berharap agar
pembaca dapat memperluas pengetahuan tentang materi dari makalah
ini. Dan penulis juga berharap pembaca dapat memahami semua
penjelasan yang diberikan dalam makalah ini, sehingga apabila ada yang
kurang jelas atau kesalahan dalam penyusunan makalah ini dapat diberikan
masukan demi sempurnanya penyusunan makalah ini.

13

14

DAFTAR PUSTAKA
Abduhzen, Mohammad. 2008. Makna Profesionalitas yang Melekat pada Guru.
Makalah pada Seminar Sehari Implementasi Perlindungan Hukum terhadap Guru
dalam Profesinya tanggal 12 Juli 2008 di Indralaya Ogan Ilir.
Sumber : http://pirdausm.blogspot.com/2008/12/perlindungan-guru-dalamprofesinya.html
Sumber : http://yana-anggraini.blogspot.com/2013/04/latar-belakang-pentingnyaprofesi.html

14