Anda di halaman 1dari 10

Penjabaran Makna Nama Allah Al-Kariim

Jika kita mencermati, nama Allah Al-Kariim dalam Al-Quran, nama Allah
yang mulia ini terulang sebanyak dua kali;
Pertama dalam surat An-Naml, ayat 40.

Maka, tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya,


iapun berkata, Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencobaku, apakah
aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa
yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan)
dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya
Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia.
Kedua dalam surat Al-Infithaar, ayat 6.

Wahai manusia, apa yang telah memperdaya kamu (berbuat durhaka)


terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.
Pada ayat surat An-Naml di atas, Allah menceritakan tentang perkataan
Nabi Sulaiman alaihissalam saat beliau melihat kehadiran istana Balqis
dihadapannya.

Pemberian

Allah

tersebut

dinilai

oleh

Nabi

Sulaiman alaihissalam sebagai ujian terhadap kesyukurannya pada Allah


atas segala nikmat yang diberikan kepadanya. Lalu ayat ini ditutup
dengan

dua

nama

Allah

yang

mulia Al-Ghany (Mahakaya)

danAl-

Kariim (Mahamulia). Kedua nama ini sangat erat dengan konteks awal
ayat tersebut. Barangsiapa yang mau bersyukur hal itu tidak akan
menambah

kekayaan

Allah,

karena

Allah

Mahakaya.

Sebaliknya,

barangsiapa yang tidak mau bersyukur, tidak akan mengurangi kekayaan


Allah. Demikian pula barangsiapa yang bersyukur akan mendapat balasan
dari Al-Kariim (Yang Maha Pemurah) balasan yang berlipat ganda. Dan
barangsiapa yang tidak bersyukur, Allah senantiasa memberinya rezeki
atas mereka.

Al-Kariim adalah yang mulia dalam segala hal, yang amat banyak
pemberian dan kebaikannya, baik ketika diminta, maupun tidak.
Jika kita cermati, makna Al-Kariim menunjukkan kesempurnaan kemulian
Allah dalam Zat dan segala sifat, serta perbuatan-Nya.

Allah Mahamulia dalam Zat-Nya, maka tidak ada cacat sedikitpun


dalam Zat Allah. Sesungguhnya Zat Allah Mahaindah.

Allah Mahamulia dalam segala sifat-Nya, maka tidak ada sifat


jelek terdapat pada Allah. Sesungguhnya, sifat-sifat Allah amat
sempurna dalam segala maknanya.

Allah juga Mahamulia dalam segala perbuatannya, maka tidak ada


kecacatan dalam perbuatan Allah. Sesungguhnya segala perbuatan
Allah penuh dengan berbagai hikmah yang luas.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Nama Allah Al-Kariim mencakup


makna kedermawanan, juga makna kemuliaan dan keluhuran, serta
bermakna

kelembutan

dan

memberi

kebaikan.

( Bayaan

Talbiis

Jahmiyah, 1/196).
Berkata Imam Ibnul Qayyim, Secara global, makna Al-Kariim adalah
Zat yang suka memberi kebaikan yang banyak dengan amat mudah dan
gampang. Lawannya adalah orang pelit yang amat sulit mengeluarkan
kebaikan dan jarang. (At-Tibyaan, 140).
Di antara makna Al-Kariim: Allah berbuat baik kepada seluruh makhluk
tanpa sebuah kewajiban yang mesti dilakukannya. Semua kebaikan yang
diberikan Allah kepada makhluk adalah semata-mata atas kemurahan
Allah kepada makhluk-Nya.
Kemudian sebagai bentuk ke-Karim-an Allah, Allah memaafkan sesuatu
hak yang wajib diserahkan kepada-Nya. Maka, Allah memaafkan dosa
para hamba yang lalai dalam menunaikan kewajiban kepada Allah. Karena
nama

Allah Al-Kariim digandengkan

dengan

nama

Allah Al-Afw sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa

sallam berikut,
Dari Aisyah radhiallahu anha ia berkata, Aku bertanya yang Rasulullah,
apa pendapatmu jika seandainya aku mengetahui malam (lailatu) al-qadar
apa yang aku ucapkan? Beliau bersabda, Ucapkanlah: Ya Allah

sesungguhnya engkau Maha Pemaaf lagi Mahamulia, engkau mencintai


sifat pemaaf, maka ampunilah aku.
Di samping itu jika seseorang bertaubat dari kesalahannya, Allah
mengahapus dosanya dan mengganti posisi kesalahan tersebut dengan
nilai kebaikan.
Sebagaimana Allah berfirman,



Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal


shaleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan
adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Furqaan:
70).
Begitu juga sebagai bentuk ke-karim-an Allah, Allah senantiasa
memberi, tidak pernah terhenti pemberian-Nya.
Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah,

Tidakkah kamu perhatikan, sesungguhnya Allah telah menundukkan


untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan
menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. (QS. Luqmaan:
20).

Demikian pula sebagai bentuk ke-karim-an Allah, Allah memberi nikmat


dari semenjak pertama meskipun tanpa diminta.
Sebagaimana terdapat dalam firman Allah,

Dan berapa banyak binatang yang tidak membawa rezekinya sendiri.


Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Ankabuut: 60).
Sebagai bentuk ke-karim-an Allah juga, Allah memberi berbagai
kebaikan tanpa mengharap pamrih, karena Allah bersifat Maha Pemurah
secara mutlak.
Sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah,

Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak
menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya, Allah
Dialah Maha Pemberi rezeki yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat
Kokoh. (QS. Adz-Dzaariyaat: 57-58).
Termasuk pula dalam makna Al-Kariim, Allah memerintahkan para
hamba-Nya

untuk

meminta

kepada-Nya

dan

berjanji

akan

memperkenankan permintaan mereka. Bahkan, memberikan bonus di luar


permintaan mereka. Sebaliknya, Allah marah kepada orang yang tidak
berdoa kepada-Nya. Karena Allah itu Maha Pemurah.
Sebagaimana disbutkan dalam firman Allah,

Dan

Tuhanmu

Kuperkenankan

berfirman,
bagimu.

Berdoalah

kepada-Ku,

Sesungguhnya

niscaya

orang-orang

akan
yang

menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam


dalam keadaan hina dina. (QS. Ghaafir: 60).
Maka, Al-Kariim adalah yang memiliki segala macam kebaikan dan
kemulian, serta keutaman (Shahih Al-Bukhary, 4/1713)
Allah menyebutkan bahwa kitab suci Al-Quran Kalamullah adalah kitab
yang Kariim (mulia), sebagamana terdapat dalam firman Allah,

Sesungguhnya, Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia. (QS. AlWaaqiah: 77).
Dijelaskan

oleh

para

adalah Kalamullah menggandung

ulama,
kebaikan

karena
yang

begitu

Al

Quran
banyak.

Di

dalamnya terdapat petunjuk yang lurus, keterangan yang jelas, ilmu


yang berguna dan hikmah yang banyak ( Tasiir Al-Baghawy, 8/22).
Segala kebaikan hanyalah dengan menjalankan isi Al-Quran tersebut.
Berkata Imam Ibnul Qayyim, Allah mneyebutkan sifat Al-Quran
dengan sesuatu yang menunjukkan akan keindahan dan banyaknya
kebaikan juga mamfaat serta keagungannya. Karena Al-Kariim adalah
sesuatu yang penuh dengan kebaikan yang amat banyak lagi agung

mamfaatnya. Dan ia dalam segala segi merupakan yang terbaik dan


paling afdhal. Maka, Allah mensifatkan diri-Nya dengan sifat Al-

Karam(kemulian), serta menyifatkan kalam-Nya dan Arasy-Nya dengan


sifat Karam pula. Dan menyifatkan dengannya sesuatu yang banyak
kebaikannya dan indah bentuknya dari tumbuh-tumbuhan dan lainnya.
Berkta Al-Azhary, Al-Quran disebut Al-Kariim karena di dalamnya
terkandung berbagai petunjuk, penjelasan, ilmu dan hikmah. ( At-

Tibyaan, 140).
Al-Quran yang mulia ini dibawa oleh malikat yang mulia pula yaitu
Jibril alaihissalam, sebagaimana terdapat dalam firman Allah,






Sesungguhnya, Al-Quran itu benar-benar firman (Allah yang dibawa


oleh) utusan yang mulia (Jibril). (QS. At-Takwiir: 19).
Kemudian, Al-Quran yang mulia tersebut disampaikan oleh malaikat yang
mulia kepada rasul yang mulia pula yaitu Nabi Muhammad shallallahu

alaihi wa sallam, sebagaimana terdapat dalam firman Allah,








Sesungguhnya, Al-Quran itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang


diturunkan kepada) rasul yang mulia. (QS. Al-Haaqah: 40).
Karena, Rasul shallallahu alaihi wa sallam memilki akhlak yang mulia,
membawa kitab yang mulia, mengajak manusia kepada sagala hal yang
mulia, baik dalam hal keyakinan maupun amalan.

Demikian pula Arasy Allah adalah makhluk yang mulia. Sebagaimana


disebutkan dalam firman Allah,








Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan selain
Dia, Tuhan (Yang meiliki) Arsy yang mulia. (QS. Al-Mukminuun: 116).
Karena Aray adalah merupakan makhluk yang paling besar dan paling
tinggi di atas seluruh makhluk.
Segala kemulian yang terdapat pada makhluk adalah atas pemberian
Allah Yang Mahamulia. Hal tersebut menunjukkan akan kemulian
makhluk tersebut disisi Allah, melebihi makhluk-makhluk yang lainnya.
Surga yang dipenuhi berbagai macam kenikmatan, segala nikmat yang
terdapat di dalamnya melebihi segala apa yang ada di dunia. Yang
disediakan bagi orang-orang yang memiliki sifat mulia. Sebagaimana
disebutkan dalam firman Allah,















Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang


kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu
(dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang
mulia (surga). (QS. An-Nisaa: 31).

Penerapan dalam kehidupan sehari-hari


Al - Karim yang berarti maha mulia, allah maha mulia lagi maha
dermawan, allah memberikan rezeki kepada setiap makhluknya, contoh

perilaku seperti membantu orang ang kesusahan, memberikan sedekah


kepada
yang
membutuhkan
DLL
Al - Mu'min yang berarti maha melindungi, allah maha
melindungi memberikan perlindungan dan ketenangan hati kepada
makhluknya, contoh perilaku seperti membantu dan memberikan
ketenangan hati kepada orang yang terkena musibah

Al-mu'min secara bahasa berasal dari kata amina yang berarti


pembenaran, ketenangan hati, dan aman. Allah SWT al-mu'min artinya
Dia Maha Pemberi rasa aman kepada semua makhluknya, terutama
manusia. Keamanan dan rasa aman yang kita peroleh tidak terlepas dari
kekuasaan Allah. Ketenangan hati hanya didapat bila kita dekat dengan
Allah, rajin membaca Al - Qur'an, rajin sholat, dan lain - lain. Ketidak
nyamanan bukan hanya akibat ulah manusia tapi bisa juga karena
binatang buas, bencana alam seperti banjir, gempa bumi, tanah longsor
dan lain - lain. Ada orang yang merasa tidak aman walaupun situasinya
aman dan tentram. Sebaliknya ada orang yang merasa, tenang, tidak
gelisah walaupun situasi dan keadaan genting dan kacau. Allah adalah almumin yang muthlaq, karena hanya kepada-Nyalah keamanan dapat
diraih dan Dia adalah pencipta keamanan, baik didunia maupun di
akhirat. Allah juga Maha tepercayadalam menepati janji-Nya. Allah SWT
bernama Al-Mumin yang artinya Yang Maha Memberikan Keamanan atau
Yang maha Terpercaya karena dalam mencantumkan wadun/janjijanjinya pasti tidak mungkin diingkari, pasti ditepati.

DALIL NAQLI : Al-An'am ayat 82











Artinya : Orang-orang yang beriman dan tidak

mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang
mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat
petunjuk. DALIL AQLI : Dalam hidup ini kita pasti menginginkan rasa
aman dari bencana alam ataupun dari kejahatan manusia yang ada di
dunia ini, dimana lagi kita meminta kecuali kepada Allah atau Allah SWT
pasti memiliki sifat maha terpercaya tidak mungkin Allah SWT bersifat
khianat. PERILAKU YANG DAPAT DITELADANI : Kita sebagai seorang

muslim hendaknya selalu berusaha menjadi orang yang dipercaya dengan


selalu bersifat jujur, tidak berdusta, selalu menjaga amanah, tidak
berkhianat. Selain itu kita kita berusaha untuk memberikan rasa aman,
membina kehidupan yang tenang dengan tidak membuat onar,
perkelahian, pertengkaran, tawuran, dan segala bentuk perbuatan yang
meresahkan masyarakat. ini merupakan pengaplikasian dari sifat Allah
Al-Mumin.
Sumber :http://didit-pekiringan.blogspot.com/2014/08/al-mumin-mahamemberi-keamanan-atau.html