Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
2.1.1 Definisi ISPA
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dibedakan menjadi dua, ISPA atas
dan bawah (Nelson, 2002: 1456-1483). Infeksi saluran pernapasan atas adalah
infeksi yang disebabkan oleh virus dan bakteri termasuk nasofaringitis atau
common cold, faringitis akut, uvulitis akut, rhinitis, nasofaringitis kronis,
sinusitis. Sedangkan infeksi saluran pernapasan akut bawah merupakan infeksi
yang telah didahului oleh infeksi saluran atas yang disebabkan oleh infeksi
bakteri sekunder, yang termasuk dalam penggolongan ini adalah bronkhitis akut,
bronkhitis kronis, bronkiolitis dan pneumonia aspirasi.
2.1.2 Jenis-Jenis ISPA
Penyakit Infeksi akut menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari
saluran nafas mulai hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah)
termasuk jaringan aksesoris seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura.
Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni antara lain :
1) Infeksi
Infeksi merupakan masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh
manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
2) Saluran pernapasan

Saluran pernapasan merupakan organ mulai dari hidung hingga alveoli


beserta organ aksesorinya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura.
3) Infeksi Akut
Infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari ditentukan
untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang
dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14
hari.
Penyakit ISPA secara anatomis mencakup saluran pernapasan bagian atas,
saluran pernafasan bagian bawah (termasuk paru-paru) dan organ aksesoris
saluran pernafasan. Berdasarkan batasan tersebut jaringan paru termasuk dalam
saluran pernafasan (respiratory tract).
Program pemberantasan penyakit (P2) ISPA dalam 2 golongan yaitu :
1) ISPA Non-Pneumonia
Merupakan penyakit yang banyak dikenal masyarakat dengan istilah batuk
dan pilek (common cold).
2) ISPA Pneumonia
Pengertian pneumonia sendiri merupakan proses infeksi akut yang
mengenai jaringan paru-paru (alveoli) biasanya disebabkan oleh invasi
kuman bakteri, yang ditandai oleh gejala klinik batuk, disertai adanya
nafas cepat ataupun tarikan dinding dada bagian bawah.
Berdasarkan kelompok umur, program-program pemberantasan ISPA (P2 ISPA)
mengklasifikasikan ISPA sebagai berikut :
1) Kelompok umur kurang dari 2 bulan, diklasifikasikan atas :

a) Pneumonia berat : apabila dalam pemeriksaan ditemukan adanya penarikan


yang kuat pada dinding dada bagian bawah ke dalam dan adanya nafas
cepat, frekuensi nafas 60 kali per menit atau lebih.
b) Bukan pneumonia (batuk pilek biasa) : bila tidak ditemukan tanda tarikan
yang kuat dinding dada bagian bawah ke dalam dan tidak ada nafas cepat,
frekuensi kurang dari 60 menit.
2) Kelompok umur 2 bulan - <5 tahun diklasifikasikan atas :
a) Pneumonia berat : apabila dalam pemeriksaan ditemukan adanya tarikan
dinding dada dan bagian bawah ke dalam.
b) Pneumonia : tidak ada tarikan dada bagian bawah ke dalam, adanya nafas
cepat, frekuensi nafas 50 kali atau lebih pada umur 2 - <12 bulan dan 40
kali per menit atau lebih pada umur 12 bulan-bulan - <5 tahun.
c) Bukan pneumonia : tidak ada tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam,
tidak ada nafas cepat, frekuensi kurang dari 50 kali per menit pada anak
umur 2- <12 bulan dan kurang dari 40 permenit 12 bulan - <5 bulan.
Penyakit ISPA pada balita dapat menimbulkan bermacam-macam tanda
dan gejala seperti batuk, kesulitan bernafas, sakit tenggorokan, pilek, sakit telinga
dan demam. Berikut gejala ISPA dibagi menjadi 3 antara lain sebagai berikut :
1) Gejala dari ISPA ringan
Seseorang balita dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan satu
atau lebih gejala-gejala sebagai berikut :
a) Batuk

b) Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (pada
waktu berbicara atau menangis)
c) Pilek, yaitu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung
d) Panas atau demam, suhu badan lebih dari 37C.
2) Gejala dari ISPA sedang
Seseorang balita dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala
dari ISPA ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut :
a) Pernapasan cepat (fast breathing) sesuai umur yaitu : untuk kelompok
umur kurang dari 2 bulan frekuensi nafas 60 kali per menit atau lebih
untuk umur 2-<12 bulan dan 40 kali per menit atau lebih pada umur 12
bulan - < 5 tahun.
b) Suhu tubuh lebih dari 39C
c) Tenggorokan berwarna merah
d) Timbul bercak-bercak merah pada kulit menyerupai bercak campak
e) Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga
f) Pernapasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur)
3) Gejala dari ISPA Berat
Seseorang balita dinyatakan menderita ISPA berat jika dijumpai gejalagejala ISPA ringan atau ISPA sedang disertai satu atau lebih gejala-gejala
sebagai berikut :
a) Bibir atau kulit membiru
b) Anak tidak sadar atau kesadaran menurun
c) Pernapasan berbunyi seperti mengorok dan anak tampak gelisah

10

d) Sela iga tetarik ke dalam pada waktu bernafas


e) Nadi cepat lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba
f) Tenggorokan berwarna merah
Dalam International Classification of Disease dalam bagian Diseasesof
the Respiratory System revisi yang kesepuluh, ISPA dibagi berdasar atas letak
anatomi saluran pernafasan serta penyebabnya. Pembagian ini meliputi :
(a) Infeksi saluran nafas atas akut, terdiri Nasopharingitis akut (commond cold),
Sinusitis akut, Pharingitis akut (pharingitis streptokokus dan pharingitis
karena sebab lain), Tonsilitis akut (tonsilitis streptokokus dan tonsilitis karena
sebab lain), Laringitis dan trakeitis akut, Epiglotitis dan laringitis obstruktif
akut (croup)
(b) Influensa dan Pneumonia, terdiri dari Influenza dengan virus yang
teridentifikasi, Influenza dengan virus tak teridentifikasi, Pneumonia viral
(Pneumonia karena adenovirus, Pneumonia oleh virus sinsitium saluran
pernafasan, Pneumonia oleh virus parainfluenza, Pneumonia oleh virus lain),
Pneumonia oleh streptokokus pneumonia, Pneumonia oleh karena Hemofilus
influenza, Pneumonia bakterial lainnya, Pneumonia oleh sebab organisme
lain
(c) Infeksi saluran bawah akut, terdiri dari Bronkitis akut, Bronkiolitis akut,
Infeksi saluran nafas bawah akut lain ( Heriyana, 2009 ).

2.1.3 Patofisiologi ISPA

11

Perjalanan klinis penyakit ISPA dimulai dengan berinteraksinya virus


dengan tubuh. Masuknya virus sebagai antigen ke saluran pernafasan
menyebabkan silia yang terdapat pada permukaan saluran nafas bergerak ke atas
mendorong virus ke arah pharing atau dengan suatu tangkapan refleks spasmus
oleh laring. Jika refleks tersebut gagal maka virus merusak lapisan epitel dan
lapisan mukosa saluran pernafasan. Iritasi virus pada kedua lapisan tersebut
menyebabkan timbulnya batuk kering. Kerusakan stuktur lapisan dinding saluran
pernafasan menyebabkan kenaikan aktifitas kelenjar mukus yang banyak terdapat
pada dinding saluran nafas, sehingga terjadi pengeluaran cairan mukosa yang
melebihi noramal. Rangsangan cairan yang berlebihan tersebut menimbulkan
gejala batuk (Rech,2009).
Adanya infeksi virus merupakan predisposisi terjadinya infeksi sekunder
bakteri. Akibat infeksi virus tersebut terjadi kerusakan mekanisme mukosiliaris
yang merupakan mekanisme perlindungan pada saluran pernafasan terhadap
infeksi bakteri sehingga memudahkan bakteri-bakteri patogen yang terdapat pada
saluran pernafasan atas seperti streptococcus pneumonia, haemophylus influenza
dan staphylococcus menyerang mukosa yang rusak tersebut (Rech,2009).
Infeksi sekunder bakteri ini menyebabkan sekresi mukus bertambah
banyak dan dapat menyumbat saluran nafas sehingga timbul sesak nafas dan juga
menyebabkan batuk yang produktif. Invasi bakteri ini dipermudah dengan adanya
fakor-faktor seperti kedinginan dan malnutrisi. Suatu laporan penelitian
menyebutkan bahwa dengan adanya suatu serangan infeksi virus pada saluran
nafas dapat menimbulkan gangguan gizi akut pada bayi dan anak(Rech,2009).

12

Dampak infeksi sekunder bakteripun bisa menyerang saluran nafas bawah,


sehingga bakteri-bakteri yang biasanya hanya ditemukan dalam saluran
pernafasan atas, sesudah terjadinya infeksi virus, dapat menginfeksi paru-paru
sehingga menyebabkan pneumonia bakteri (Rech,2009).
Penanganan penyakit saluran pernafasan pada anak harus diperhatikan
aspek imunologis saluran nafas terutama dalam hal bahwa sistem imun di saluran
nafas yang sebagian besar terdiri dari mukosa, tidak sama dengan sistem imun
sistemik pada umumnya. Sistem imun saluran nafas yang terdiri dari folikel dan
jaringan limfoid yang tersebar, merupakan ciri khas system imun mukosa. Ciri
khas berikutnya adalah bahwa IgA memegang peranan pada saluran nafas atas
sedangkan IgG pada saluran nafas bawah. Diketahui pula bahwa sekretori IgA
(sIgA) sangat berperan dalam mempertahankan integritas mukosa saluran nafas
(Siregar, 1994).
Dari uraian diatas, perjalanan klinis penyakit ISPA ini dapat dibagi
menjadi empat tahap, yaitu (1) Tahap patogenesis,penyebab telah ada tetapi
penderita belum menunjukkan reaksi apa-apa. (2) Tahap dini penyakit, dimulai
dari munculnya gejala penyakit. Timbul gejala demam dan batuk. (3) Tahap
inkubasi, virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa. Tubuh menjadi lemah
apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya memang sudah rendah. (4)
Tahap dini penyakit, dimulai dari munculnya gejala penyakit. Timbul gejala
demam dan batuk. (5) Tahap lanjut penyakit, dibagi menjadi empat, yaitu dapat
sembuh sempurna, sembuh dengan ateletaksis, menjadi kronis dan dapat
meninggal akibat pneumonia (Siregar,1994).

13

2.1.4 Penyebab ISPA


Penyakit ISPA dapat disebabkan oleh berbagai penyebab seperti bakteri,
virus, mycoplasma, jamur dan lain-lain. ISPA bagian atas umumnya disebabkan
oleh virus, sedangkan ISPA bagian bawah dapat disebabkan oleh bakteri, virus
dan mycoplasma. ISPA bagian bawah yang disebabkan oleh bakteri umumnya
mempunyai manifestasi klinis yang berat sehingga menimbulkan beberapa
masalah dalam penanganannya (Mennegethi,2009).
Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah dari genus streptcocus,
Stapilococcus, Pneumococcus, Hemofillus, Bordetella dan Corinebacterium.
Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan Miksovirus, Adenovirus,
Koronavirus,

Pikornavirus,

Mikoplasma,

Herpesvirus

dan

lain-lain

(Mennegethi,2009).
2.1.5

Cara Penularan ISPA


Penyebaran melalui kontak langsung atau tidak langsung dari benda yang

telah dicemari virus dan bakteri penyebab ISPA (hand to hand transmission) dan
dapat juga ditularkan melalui udara tercemar (air borne disease) pada penderita
ISPA yang kebetulan mengandung bibit penyakit melalui sekresi berupa saliva
atau sputum.

2.1.6 Faktor Risiko ISPA

14

Disamping penyebab, perlu juga diperhatikan faktor resiko, yaitu faktor


yang mempengaruhi atau mempermudah terjadinya ISPA. Secara umum ada 3
faktor yaitu:
1) Keadaan social ekonomi dan cara mengasuh atau mengurus anak.
2) Keadaan gizi dan cara pemberian makan.
3) Kebiasaan merokok dan pencemaran udara
Faktor-faktor yang berperan pada kejadian ISPA adalah sebagai berikut :
(1). Faktor host ( diri )
(a). Usia
Infeksi saluran pernafasan sering mengenai anak usia dibawah 3 tahun,
terutama bayi kurang dari 1 tahun. Beberapa penelitian menunjukkan
anak pada usia muda akan lebih sering menderita ISPA dari pada usia
yang lebih lanjut (Hidayat,2009).
(b). Jenis Kelamin
Meskipun secara keseluruhan di negara yang sedang berkembang seperti
Indonesia masalah ini tidak terlalu diperhatikan, namun banyak
penelitian yang menunjukkan adanya perbedaan prevelensi penyakit
ISPA terhadap jenis kelamin tertentu. Anak perempuan lebih tinggi dari
laki-laki di negara Denmark (Hidayat,2009).
(c). Status gizi
Interaksi antara infeksi dan Kekurangan Kalori Protein (KKP) telah lama
dikenal, kedua keadaan ini sinergistik, saling mempengaruhi, yang satu
merupakan predisposisi yang lainnya. Pada KKP, ketahanan tubuh

15

menurun dan virulensi pathogen lebih kuat sehingga menyebabkan


keseimbangan yang terganggu dan akan terjadi infeksi, sedangkan salah
satu determinan utama dalam mempertahankan keseimbangan tersebut
adalah status gizi anak (Hidayat,2009).
(d). Status imunisasi
Ketidakpatuhan imunisasi berhubungan dengan peningkatan penderita
ISPA walaupun tidak bermakna. Hal ini sesuai dengan penelitian lain
yang mendapatkan bahwa imunisasi yang lengkap dapat memberikan
peranan

yang

cukup

berarti

dalam

mencegah

kejadian

ISPA

(Hidayat,2009).
(e) Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
(f). Pemberian suplemen vitamin A
Pemberian vitamin A pada balita sangat berperan untuk masa
pertumbuhannya, daya tahan tubuh dan kesehatan terutama pada
penglihatan, reproduksi, sekresi mukus dan untuk mempertahankan sel
epitel yang mengalami diferensiasi.
(g). Pemberian ASI
ASI adalah makanan yang paling baik untuk bayi terutama pada bulanbulan pertama kehidupannya. ASI bukan hanya merupakan sumber
nutrisi bagi bayi tetapi juga sebagai sumber zat antimikroorganisme yang
kuat, karena adanya beberapa faktor yang bekerja secara sinergis
membentuk sistem biologis. ASI dapat memberikan imunisasi pasif

16

melalui penyampaian antibodi dan sel-sel imunokompeten ke permukaan


saluran pernafasan atas (Hidayat,2009).
(2). Faktor Lingkungan
(a). Rumah
merupakan stuktur fisik, dimana orang menggunakannya untuk tempat
berlindung yang dilengkapi dengan fasilitas dan pelayanan yang
diperlukan, perlengkapan yang berguna untuk kesehatan jasmani, rohani
dan keadaan sosialnya yang baik untuk keluarga dan individu (WHO,
1989). Anak-anak yang tinggal di apartemen memiliki faktor resiko lebih
tinggi menderita ISPA daripada anak-anak yang tinggal di rumah cluster
di Denmark (Hidayat,2009).
(b). Kepadatan Hunian
Seperti luas ruang per orang, jumlah anggota keluarga, dan masyarakat
diduga merupakan faktor risiko untuk ISPA. Penelitian oleh Koch et al
(2003) membuktikan bahwa kepadatan hunian (crowded) mempengaruhi
secara bermakna prevalensi ISPA berat.
(c). Status sosioekonomi
Telah diketahui bahwa kepadatan penduduk dan tingkat sosioekonomi
yang rendah mempunyai hubungan yang erat dengan kesehatan
masyarakat. Tetapi status keseluruhan tidak ada hubungan antara status
ekonomi dengan insiden ISPA, akan tetapi didapatkan korelasi yang
bermakna antara kejadian ISPA berat dengan rendahnya status
sosioekonomi (Hidayat,2009).

17

(d). Kebiasaan merokok


Pada keluarga yang merokok, secara statistik anaknya mempunyai
kemungkinan terkena ISPA 2 kali lipat dibandingkan dengan anak dari
keluarga yang tidak merokok. Selain itu dari penelitian lain didapat
bahwa episode ISPA meningkat 2 kalilipat akibat orang tua merokok
(Hidayat,2009).
2.1.7 Pencegahan
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit ISPA
pada anak antara lain :
1) Menjaga keadaan gizi anda dan keluarga agar tetap baik. Memberikan ASI
eksklusif pada bayi anda.
2) Menjaga pola hidup bersih dan sehat, istirahat/tidur yang cukup dan olah raga
teratur.
3) Membiasakan cuci tangan teratur menggunakan air dan sabun atau hand
sanitizer terutama setelah kontak dengan penderita ISPA. Ajarkan pada anak
untuk rajin cuci tangan untuk mencegah ISPA dan penyakit infeksi lainnya.
4) Melakukan imunisasi pada anak anda. Imunisasi yang dapat mencegah ISPA
diantaranya imunisasi influenza, imunisasi DPT-Hib /DaPT-Hib, dan
imunisasi PCV.
5) Hindari kontak yang terlalu dekat dengan penderita ISPA.
6) Hindari menyentuh mulut atau hidung anda setelah kontak dengan flu. Segera
cuci tangan dengan air dan sabun atau hand sanitizer setelah kontak dengan
penderita ISPA.

18

7) Apabila anda sakit, gunakanlah masker dan rajin cuci tangan agar tidak
menulari anak anda atau anggota keluarga lainnya.
8) Mencegah anak berhubungan terlalu dekat dengan saudaranya atau anggota
keluarga lainnya yang sedang sakit ISPA. Tindakan semi isolasi mungkin
dapat dilakukan seperti anak yang sehat tidur terpisah dengan anggota
keluarga lain yang sedang sakit ISPA.
9) Upayakan ventilasi yang cukup dalam ruangan / rumah.
2.1.8 Komplikasi
1) Asma
Asma adalah mengi berulang atau batuk persisten yang disebabkan oleh
suatu kondisi alergi non infeksi dengan gejala : sesak nafas, nafas berbunyi
wheezing, dada terasa tertekan, batuk biasanya pada malam hari atau dini hari.
2) Kejang demam
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu
tubuh (suhu rentan lebih dari 38Oc) dengan geiala berupa serangan kejang klonik
atau tonikklonik bilateral. Tanda lainnya seperti mata terbalik keatas dengan
disertai kejang kekakuan atau kelemahan, gerakan sentakan berulang tanpa
didahului kekakuan atau hanya sentakan kekauan fokal.
3) Tuli
Tuli adalah gangguan system pendengaran yang terjadi karena adanya
infeksi yang disebabkan oleh bakteri atau virus dengan gejala awal nyeri pada
telinga yang mendadak, persisten dan adanya cairan pada rongga telinga.

19

4) Syok
Syok merupakan kondisi dimana seseorang mengalami penurunan f'ungsi
dari system tubuh yang disebabkan oleh berbagai faktor antara lain : faktor
obstruksi contohnya hambatan pada system pernafasan yang mengakibatkan
seseorang kekurangan oksigen sehingga seseorang tersebut kekurang suplay
oksigen ke otak dan mengakibatkan syok.
5) Demam Reumatik, Penyakit Jantung Reumatik dan Glomerulonefritis, yang
disebabkan oleh radang tenggorokan karena infeksi Streptococcus beta
hemolitikus grup A (Strep Throat)
6) Sinusitis
7) Meningitis
8) Abses Peritonsiler
9) Abses Retrofaring
2.2 Pengetahuan
Pengetahuan adalah keseluruhan pemikiran, gagasan, ide, konsep dan
pemahaman yang dimiliki manusia tentang dunia dan isinya termasuk manusia
dan kehidupannya. Pengetahuan juga merupakan hasil dari tahu yang terjadi
setelah

orang

melakukan

penginderaan

terhadap

objek

tertentu

dan

pengetahuan hanya akan terwujud jika manusia tersebut adalah bagian dari
objek itu sendiri. Penginderaan tersebut terjadi melalui panca indera manusia
yang nantinya akan berperan penting dalam membentuk tindakan seseorang
(overt behavior).

20

Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6


tingkatan, yaitu:
1) Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai memanggil (recall) memori yang telah ada
sebelumnya setelah mengamati sesuatu. Sehingga tahu merupakan tahap
paling rendah dari pengetahuan.
2) Memahami (Comprehension)
Memahami

diartikan

sebagai

suatu

kemampuan

untuk

menginterpretasikan secara benar suatu objek tertentu. Orang yang


memahami

suatu

objek

dapat

menjelaskan,

menyebutkan,

dan

menyimpulkan objek yang telah dipelajari.


3) Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan atau
mengaplikasikan prinsip yang dipelajari pada situasi dan kondisi yang
sebenarnya. Setelah memahami suatu proses, juga harus dapat membuat
perencanaan untuk melaksanakan proses tersebut.
4) Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan dan memisahkan
suatu komponen, kemudian mencari hubungan antar komponen terkait.
5) Sintesis (Synthesis)
Sintesis merupakan suatu kemampuan untuk meletakkan atau merangkum
satu hubungan yang logis dari komponen pengetahuan yang dimiliki. Dengan
kata lain sintesis adalah menyusun formulasi baru dari formulasi yang

21

sudah ada sebelumnya


6) Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi yaitu kemampuaan untuk melakukan penilaian terhadap objek.
Penilaian didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma
yang berlaku di masyarakat.
2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Dalam teori Lawrence dan Green yang dikutip oleh Notoadmodjo,
perilaku manusia dianalisis dari tingkat kesehatan. Kesehatan seseorang atau
masyarakat dipengaruhi oleh 2 faktor pokok, yakni faktor perilaku
(behavior causes) dan faktor di luar perilaku (non-behaviour causes).
Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan oleh 3 faktor, yaitu :
1) Faktor-faktor predisposisi (predisposing

factors), yang terwujud

dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai, dan


sebagainya.
2)

Faktor-faktor pendukung (enabling factors), yang terwujud dalam


fasilitas atau sarana, peralatan medis dan nonmedis.

3) Faktor-faktor pendorong (renforcing factors) yang terwujud dalam sikap


dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain, yang merupakan
kelompok referensi dari perilaku masyarakat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan, sikap dan
praktik seseorang dapat dipengaruhi beberapa faktor, antara lain intelegensia,
pendidikan, pengalaman, usia, tempat tinggal, pekerjaan, tingkat ekonomi, sosial
budaya dan informasi.

22

1) Intelegensia
Intelegensia merupakan kemampuan yang dibawa sejak lahir, yang
memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara tertentu.
Tingkat intelegensia mempengaruhi seseorang dalam menerima suatu
informasi.Orang yang memiliki intelegensia tinggi akan mudah menerima
suatu pesan maupun informasi.
2)

Pendidikan
Pendidikan merupakan usaha mengembangkan kepribadian dan
kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur
hidup. Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan
seseorang makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi.
Dengan pendidikan tinggi maka seseorang akan cenderung untuk
mendapatkan informasi, baik dari orang lain maupun dari media massa.
Semakin

banyak

informasi

tentang kesehatan yang masuk semakin

banyak pula pengetahuan yang didapat tentang kesehatan. Pengetahuan


sangat erat kaitannya dengan pendidikan dimana diharapkan seseorang
dengan pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pula
pengetahuannya.
3) Pengalaman
Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk
memperoleh

kebenaran

pengetahuan

dengan

cara

mengulang

kembali pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang


dihadapi masa lalu. Misalnya seorang ibu yang berpengalaman tentang

23

suatu penyakit yang diderita anaknya akan lebih mendalami penyakit


tersebut sehingga di masa yang akan datang apabila kasus serupa terjadi lagi
mendapat penanganan yang tepat.
4) Usia
Usia dapat mempengaruhi seseorang, semakin cukup umur maka tingkat

kemampuan, kematangan seseorang akan lebih matang dalam berfikir


dan menerima informasi. Akan tetapi faktor ini tidak mutlak sebagai
tolak ukur misalnya seorang yang berumur lebih tua belum tentu memiliki
pengetahuan lebih baik mengenai demam berdarah dibandingkan dengan
seseorang yang lebih muda.
5) Tempat tinggal
Tempat tinggal adalah tempat menetap responden sehari-hari. Seseorang
yang tinggal di daerah endemis demam berdarah lebih sering menemukan
kasus demam berdarah di sekitar lingkungan tempat tinggalnya, sehingga
masyarakat di daerah tersebut seharusnya memiliki tingkat kewaspadaan
yang lebih tinggi dibandingkan wilayah non endemis.
6) Pekerjaan
Pekerjaan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi
dan menunjang kebutuhan hidup. Tujuannya adalah mencari nafkah.
Lingkungan

pekerjaan

dapat

menjadikan

seseorang

memperoleh

pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung dan tidak langsung.


Misalnya individu yang bekerja sebagai tenaga kesehatan mempunyai

24

pengetahuan yang lebih baik dibandingkan dengan orang lain yang bekerja
di luar bidang kesehatan.
7) Tingkat Ekonomi
Tingkat ekonomi berpengaruh terhadap tingkah laku seseorang. Individu
yang berasal dan keluarga yang berstatus sosial ekonominya baik
dimungkinkan lebih memiliki pengetahuan lebih baik karena mudah
mengakses berbagai informasi yang berasal dari keluarga berstatus ekonomi
rendah.
8) Sosial Budaya
Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa melalui
penalaran apakah yang dilakukan baik atau buruk. Sosial termasuk
pandangan agama, kelompok etnis dapat mempengaruhi pengetahuan
dan

sikap

memperkuat

khususnya dalam penerapan

nilai-nilai

keagamaan

untuk

kepribadiannya. Misalnya orang yang berasal dari suku

tertentu memiliki kecenderungan untuk bersikap lebih peduli atau acuh.


9) Informasi dan Media Massa
Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non formal

dapat memberikan pengaruh jangka pendek (immediate impact)


sehingga menghasilkan
Sebagai

perubahan

atau

peningkatan

pengetahuan.

sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti

televisi,radio, surat kabar, majalah, termasuk peyuluhan kesehatan


mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan

pengetahuan

25

seseorang. Semakin banyak seseorang menerima informasi mengenai


suatu

penyakit

maka

pengetahuannya

mengenai

penyakit

tersebut pun akan meningkat.


2.4 Pengetahuan Kesehatan
Pengetahuan tentang kesehatan adalah mencakup apa yang diketahui
seseorang terhadap cara memelihara kesehatan. Pengetahuan tentang cara-cara
memelihara kesehatan ini meliputi:
1) Pengetahuan tentang penyakit (jenis penyakit dan tanda-tandanya atau
gejalanya, penyebabnya, cara penularannya, cara mencegahnya, cara
mengatasi atau menangani sementara).
2) Pengetahuan tentang faktor-faktor yang terkait dan atau mempengaruhi
kesehatan, antara lain gizi makanan, pembuangan sampah, perumahan sehat,
dan lain-lain.
3) Pengetahuan tentang fasilitas pelayanan kesehatan.
4) Pengetahuan untuk menghindari kecelakaan (Mubarak, 2007)