Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Diabetes Melitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh
kenaikan kadar glukosa darah atau hiperglikemia (Brunner, 2001). Sedangkan menurut
WHO, diabetes mellitus adalah keadaan hiperglikemia kronis yang disebabkan oleh faktor
lingkungan dan keturunan secara bersama-sama, tidak dapat disembuhkan tetapi dapat
dikontrol. Data WHO, saat ini Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah
penderita diabetes Melitus di dunia. Pada tahun 2010 jumlah Diabetasi di Indonesia
mencapai 14 juta jiwa, tetapi hanya 30% yang berobat secara teratur ( Tjokroprawiro, 2012).
Neuropati perifer merupakan salah satu masalah serius yang dapat terjadi akibat
diabetes mellitus. Neuropati perifer menyerang hampir 50% pasien diabetes. Neuropati yang
terjadi bisa mengenai satu atau lebih ekstremitas. Penderita diabetes dapat merasakan
berbagai macam gejala neuropati -gejala yang dirasakan lebih dahulu dan lebih sering
terjadi- pada tungkai dan akan menjalar ke arah proksimal sesuai patologis diabetes mellitus
(DM). Nyeri bertambah berat ketika istirahat atau setelah melakukan aktifitas. Karakteristik
nyeri neuropati diabetik sangat kuat yaitu gejala seperti rasa kesemutan, terbakar, atau
seperti ditusuk serta tidak hilang hanya dengan merubah posisi sendi. Hingga dapat
mengakibatkan kelemahan otot dan akhirnya mati rasa. Neuropati dikaitkan oleh gangguan
metabolisme glukosa dan degenerasi pembuluh darah yang mengakibatkan kerusakan
serabut saraf (Tesfaye, 2012).
Pasien diabetes menghadapi berbagai macam tantangan dalam menjalani pegobatan,
selain dianjurkan untuk memantau kadar glukosa darah dan mengkonsumsi obat-obat anti
diabetes, pasien juga diwajibkan untuk memperhatikan asupan makanan dan melakukan
aktifitas fisik secara teratur. Hal tersebut lebih sulit bagi pasien DM dengan neuropati perifer
karena lebih mudah untuk merasa nyeri, terjatuh dan terluka yang dapat menjadi ulkus
hingga diamputasi. Terlepas dari kesulitan tersebut, dari hasil penelitian olah raga dapat
membantu memperbaiki kadar gula darah sehingga dapat memperlambat proses neuropati.
Olahraga yang dilakukan adalah olahraga yang terukur, teratur, terkendali dan
berkesinambungan. Frekuensi yang dianjurkan adalah 3-5 kali perminggu. Intensitas yang
dianjurkan sebesar 40-70% (ringan sampai sedang). Salah satu jenis olah raga, yang
dianjurkan terutama, pada penderita usia lanjut adalah senam kaki. Senam kaki adalah
1

kegiatan atau latihan yang dilakukan oleh pasien diabetes melitus untuk mencegah
terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran darah bagian kaki (Akhtyo, 2009).
Dari hasil rekam medik rata rata jumlah pasien yang berkunjung puskesmas Sidayu
pada tahun 2014 adalah sebanyak 580 orang, 15% diantaranya adalah penderita diabetes
mellitus. Dan dari apa yang terurai pada latar belakang, maka penulis ingin melakukan
intervensi senam kaki diabetik. Rencana intervensi mini project akan dilaksanakan di salah
satu desa wilayah kerja Puskesmas Sidayu yaitu Desa Sukorejo.
Tujuan intervensi ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan masyarakat
Desa Sukorejo mengenai senam kaki diabetik sekaligus memberikan pelatihan agar peserta
intervensi dapat melakukan senam kaki secara mandiri.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana tingkat pengetahuan masyarakat Desa Sukorejo mengenai senam kaki
diabetik dalam upaya pencegahan komplikasi dibetes pada kaki (diabetic foot)?
1.3 Tujuan Kegiatan
1.

Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan Puskesmas Sidayu

2. Meningkatkan pengetahuan mengenai senam kaki diabetes untuk pencegahan


komplikasi DM pada kaki.
3. Memberikan informasi mengenai manfaat dan teknik senam kaki agar masyarakat
dapat melakukan secara mandiri di rumah.
1.4 Manfaat Kegiatan
1. Meningkatkan pengetahuan serta keinginan untuk melakukan Senam kaki dan
merasakan manfaatnya.
2. Memperbaiki sirkulasi darah dan juga memperkuat otot-otot kecil kaki serta mencegah
terjadinya kelainan bentuk kaki.
3. Selain itu,

dapat meningkatkan kekuatan pada otot paha, betis, serta mengatasi

keterbatasan dalam pergerakan sendi.


4. Para peserta intervensi diharapkan mampu membagi ilmu yang diperoleh setelah
pelatihan kepada keluarga/kerabatnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Diabetes Melitus
Diabetes melitus merupakan penyakit endokrin akibat defek dalam sekresi dan kerja
insulin atau keduanya sehingga terjadi defisiensi insulin, dimana tubuh mengeluarkan terlalu
sedikit insulin atau insulin yang dikeluarkan resisten sehingga mengakibatkan kelainan
metabolisme kronis berupa hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat
gangguan hormonal yang menimbulkan komplikasi kronik pada sistem tubuh (Pinzur, 2008).
2.2 Klasifikasi
Klasifikasi Diabetes Melitus menurut American Diabetes Association (1997) sesuai
anjuran Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) adalah:
2.2.1 Diabetes Mellitus Tipe I : Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM)
Diabetes Melitus tipe ini dikenal sebagai diabetes yang tergantung insulin. Tipe ini
berkembang jika tubuh tidak mampu memproduksi insulin. Jenis ini biasanya muncul
sebelum usia 40 tahun. Menurut Suddarth & Brunner (2002) Diabets Melitus tipe ini
disebabkan oleh Faktor Genetik dimana penderita diabetes tidak mewarisi diabetes
tipe I itu sendiri, tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik kearah
terjadinya Diabetes Melitus tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu
yang memiliki tipe antigen HLA. Faktor Imunologi yaitu adanya respon autoimun
yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal
tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah
sebagai jaringan asing, yaitu autoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan
insulin endogen. Faktor lingkungan dimana Virus atau toksin tertentu dapat memicu
proses otoimun yang menimbulkan destruksi sel beta.
2.2.2 Diabetes Mellitus Tipe II : Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus
(NIDDM)
Diabetes Melitus yang tidak tergantung insulin dan terjadi akibat penurunan
sensitivitas terhadap insulin (resistensi insulin). Disebabkan karena turunnya kemampuan
insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk
3

menghambat produksi glukosa oleh hati. Sel tidak mampu mengimbangi resistensi insulin
ini sepenuhnya, artinya terjadi defisiensi relatif insulin. Ketidakmampuan ini terlihat dari
berkurangnya sekresi insulin pada rangsangan glukosa. Namun pada rangsangan glukosa
bersama bahan perangsang sekresi insulin lain, berarti sel pankreas mengalami
desensitisasi terhadap glukosa (Mansjoer dkk, 2001).
2.2.3 Diabetes Melitus Gestasional
Merupakan suatu gangguan toleransi karbohidrat yang terjadi atau diketahui
pertama kali saat kehamilan berlangsung (Nursemierva, 2001). Definisi ini juga
mencakup pasien yang sebetulnya masih mengidap Diabetes Melitus tetapi belum
terdeteksi, dan baru diketahui saat kehamilan berlangsung. Faktor resiko Diabetes
Melitus Gestasional ialah abortus berulang, riwayat melahirkan anak meninggal tanpa
sebab yang jelas, riwayat pernah melahirkan bayi dengan cacat bawaan, pernah
melahirkan bayi lebih dari 4000 gram, pernah pre-eklamsia, Polihidramion. Faktor
predisposisi Diabetes Melitus Gestasional adalah umur ibu hamil lebih dari 30 tahun,
riwayat Diabetes Melitus dalam keluarga, pernah mengalami diabetes melitus gestasional
pada kehamilan sebelumnya, infeksi saluran kemih berulang-ulang selama hamil
(PERKENI, 2002).
2.3 Gambaran Klinik
Gambaran klinis awal pada Diabetes Melitus adalah Poliuri (banyak kencing) disebabkan
karena kadar glukosa darah meningkat sampai melampaui daya serap ginjal terhadap glukosa
sehingga terjadi osmotik diuresis dimana gula banyak menarik cairan dan elektrolit sehingga
pasien mengeluh banyak kencing. Polidipsi (banyak minum) disebabkan pembakaran terlalu
banyak dan kehilangan cairan banyak karena poliuri sehingga untuk mengimbangi pasien
lebih banyak minum. Polifagi (banyak makan) disebabkan karena glukosa tidak sampai ke
sel-sel yang mengalami starvasi (lapar) sehingga untuk memenuhinya pasien akan terus
makan.
Walaupun pasien banyak makan, tetap saja makanan tersebut hanya akan berada sampai
pada pembuluh darah. Berat badan menurun, lemas, lekas lelah, tenaga berkurang disebabkan
karena kehabisan glikogen yang telah dilebur menjadi glukosa, maka tubuh mendapat
peleburan zat dari bagian tubuh yang lain yaitu lemak dan protein, karena tubuh terus
merasakan lapar, maka tubuh selanjutnya akan memecah cadangan makanan yang ada di
4

tubuh termasuk yang berada di jaringan otot dan lemak sehingga pasien dengan Diabetes
Melitus walaupun banyak makan akan tetap kurus. Mata kabur yang disebabkan oleh
gangguan lintas polibi (glukosa sarbitol fruktasi) karena insufisiensi insulin. Akibat terdapat
penimbunan sarbitol dari lensa, sehingga menyebabkan pembentukan katarak.
2.4 Faktor Resiko
Faktor resiko Diabetes Melitus dibagi menjadi faktor yang dapat diubah dan faktor yang
tidak dapat diubah. Faktor resiko yang dapat diubah yaitu Berat badan berlebih dan
obesitas. Obesitas berhubungan dengan besarnya lapisan lemak dan adanya gangguan
metabolik. Kelainan metabolik tersebut umumnya berupa resistensi terhadap insulin yang
muncul pada jaringan lemak yang luas. Sebagai kompensasi akan dibentuk insulin yang lebih
banyak oleh sel beta pankreas sehingga mengakibatkan hiperinsulinemia. Obesitas
berhubungan pula dengan adanya kekurangan reseptor insulin pada otot, hati, monosit dan
permukaan sel lemak. Hal ini akan memperberat resistensi terhadap insulin. Gula darah tinggi
yang tidak ditatalaksana dapat menyebabkan kerusakan saraf, masalah ginjal atau mata,
penyakit jantung, serta stroke (Harbuwono, 2008). Hal-hal yang dapat meningkatkan gula
darah dapat berupa; Makanan atau snack dengan karbohidrat yang lebih banyak dari biasanya,
kurangnya aktivitas fisik, infeksi atau penyakit lain, perubahan hormon, misalnya selama
menstruasi, dan stress. Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menilai gula darah tinggi
adalah pemeriksaan gula darah puasa (GDP). Seseorang dikatakan menderita diabetes apabila
kadar GDP =126 mg/dl (PERKENI, 2002).
Tekanan darah tinggi yang menyebabkan jantung akan bekerja lebih keras dan resiko
untuk penyakit jantung dan diabetes lebih tinggi. Kurangnya aktifitas fisik dapat diatasi cukup
dengan menambah kegiatan harian. Merokok, dapat meningkatkan resiko serangan jantung
dan peningkatan tekanan darah. Faktor resiko yang tidak dapat diubah (Harbuwono, 2008)
yaitu Usia, bertambahnya usia menyebabkan risiko diabetes dan penyakit jantung semakin
meningkat. Kelompok usia yang menjadi faktor risiko diabetes adalah usia lebih dari 45
tahun. Ras dan suku bangsa, dimana bangsa Amerika Afrika, Amerika Meksiko, Indian
Amerika, Hawaii, dan sebagian Amerika Asia memiliki risiko diabetes dan penyakit jantung
yang lebih tinggi. Hal itu sebagian disebabkan oleh tingginya angka tekanan darah tinggi,
obesitas, dan diabetes pada populasi tersebut. Jenis kelamin yang memungkinan pria
menderita penyakit jantung lebih besar daripada wanita. Namun, jika wanita telah menopause
maka kemungkinan menderita penyakit jantung pun ikut meningkat meskipun prevalensinya
5

tidak setinggi pria. Riwayat Keluarga yang salah satu anggota keluarganya menyandang
diabetes maka kesempatan untuk menyandang diabetes pun meningkat.
2.5 Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostic yang mendukung Diabetes Melitus adalah peningkatan
glukosa darah sesuai dengan kriteria diagnostik WHO, 1985 jika Glukosa plasma sewaktu
(random)>200mg/dl (11,1 mmol/L), Glukosa plasma puasa >126 mg/dl (7,8 mmol/L), dan
Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr
karbohidrat (2 jam post-prandial/ pp>200mg/dl). Pemeriksaan lain adalah aseton plasma
yang positif, asam lemak bebas (kadar lipid dan kolesterol) meningkat, elektrolit lebih
banyak dibandingkan pada keadaan yang normal yang berkaitan dengan poliuri, maka
peningkatan atau penurunan nilai elektrolit perlu dipantau melalui pemeriksaan
laboratorium.
Hubungannya adalah retensi air, Natrium dan Kalium mengakibatkan stimulasi
aldosteron dalam sistem sekresi urinarius. Natrium dapat normal, meningkat atau menurun.
Kalium dapat normal atau peningkatan semu, selanjutnya akan menurun. Sedangkan fosfor
lebih sering menurun. Gas darah arteri biasanya menunjukkan pH rendah dan penurunan
pada HCO3 (asidosis metabolik). Trombosit darah Ht mungkin meningkat (dehidrasi),
leukositosis. Pada urine, gula dan aseton positif. Berat jenis atau osmolalitas mungkin
meningkat. Kultur dan sensitifitas kemungkinan infeksi pada saluran kemih, infeksi
pernafasan dan infeksi pada luka.
2.6 Penatalaksanaan
-

Perencanaan makanan
Tahap pertama dalam perencanaan makan adalah mendapatkan riwayat diet untuk

mengidentifikasi kebiasaan makan pasien dan gaya hidupnya. Tujuan yang paling penting
dalam penatalaksanaan diet bagi penderita diabetes adalah pengendalian asupan kalori total
untuk mencapai atau mempertahankan berat badan yang sesuai dan pengendalian kadar
glukosa darah. Persentase kalori yang berasal dari karbohidrat, protein, dan lemak.
Distribusi kalori dari karbohidrat saat ini lebih dianjurkan dari pada protein dan lemak.

Sesuai dengan standar makanan berikut ini, makanan yang berkomposisi karbohidrat 606

70%, protein 10-15%, dan lemak 20-25% inilah makanan yang dianjurkan pada pasien
diabetes (Sukardji, 2004).
-

Perencanaan latihan jasmani


Latihan jasmani merupakan salah satu prinsip dalam penatalaksanaan penyakit

Diabetes Melitus. Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani teratur (3-4 kali
seminggu selama kurang lebih 30 menit) merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan
diabetes. Latihan jasmani yang dimaksud adalah berjalan, bersepeda santai, jogging senam
dan berenang. Latihan jasmani ini sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status
kesegaran jasmani. Batasi atau jangan terlalu lama melakukan kegiatan yang kurang
memerlukan pergerakan, seperti menonton televisi (PERKENI,2002).
-

Intervensi farmakologi
Menurut PERKENI, (2002) ada beberapa intervensi yang dapat diberikan kepada pasien

DM seperti obat Pemicu sekresi insulin; Sulfonilurea yang bekerja meningkatkan sekresi
insulin. Salah satu contohnya yaitu klorpropamid, biasanya dosis yang diberikan adalah
100-250 mg/tab. Adapun cara kerja sulfonilurea ini utamanya adalah meningkatkan sekresi
insulin oleh sel beta pancreas, meningkatkan performance dan jumlah reseptor insulin pada
otot dan sel lemak, meningkatkan efisiensi sekresi insulin dan potensiasi stimulasi insulin
transpor karbohidrat ke sel otot dan jaringan lemak, serta penurunan produksi glukosa oleh
hati. Cara kerja obat ini pada umumnya melalui suatu alur kalsium yang sensitif terhadap
ATP. Berikutnya adalah Glinid, merupakan obat generasi baru yang cara kerjanya sama
dengan sulfonilurea dengan meninngkatkan sekresi insulin fase pertama yang terdiri dari
dua macam obat, yaitu Repaglinid dan Nateglinid (Soegondo, 2004). Dosisnya, untuk
Repaglinid 0,5 mg/tab dan untuk Nateglinid 120 mg/tab (PERKENI, 2002). Selain obat
pemicu insulin diberikan juga obat penambah sensitifitas terhadap insulin, seperti
Methformin bekerja untuk mengurangi produksi glukosa hati, metformin ini tidak
merangsang sekresi insulin dan menurunkan kadar glukosa darah sampai normal
(euglikemia) dan tidak pernah menyebabkan hipoglikemia. Methformin menurunkan
glukosa darah dengan memperbaiki transport glukosa ke dalam sel otot. Methformin
menurunkan produksi glukosa hati dengan jalan mengurangi glikogenolisis dan
glukoneogenesis dan juga dapat menurunkan kadar trigliserida, LDL kolesterol dan
kolesterol total (Soegondo, 2004). Biasanya dosis yang digunakan adalah 500-850 mg/tab
(PERKENI, 2002). Thiazolindion dapat diberikan untuk mengurangi resistensi insulin
yang berikatan pada peroxisome proliferator activated receptor gamma, suatu reseptor inti
7

di sel otot dan sel lemak yang terbagi atas dua golongan yaitu pioglitazon dan rosiglitazon
yang memiliki efek menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah
pentranspor glukosa sehingga meningkatkan ambilan glukosa di perifer (Soegondo, 2004).
Dosisnya untuk pioglitazon adalah 15-30 mg/tab dan untuk rosiglitazon 4 mg/tab
(PERKENI, 2002). Pengobatan yang selanjutnya adalah Terapi insulin. Berdasarkan cara
kerjanya insulin ini dibagi tiga yaitu; Insulin yang kerja cepat contohnya insulin reguler
bekerja paling cepat dan KGD dapat turun dalam waktu 20 menit, insulin kerja sedang
contohnya insulin suspense, dan insulin kerja lama contohnya insulin suspensi seng
(PERKENI,2002)
2.7 Komplikasi
Diabetes dapat mematikan karena pengaruhnya menyebar ke sistem yang lain. Belum
lama ini ilmuwan di bidang medis memberikan perhatian lebih besar pada suatu keadaan yang
mereka sebut sebagai sindroma metabolisme. Sindroma metabolisme adalah gabungan
masalah yang bersama-bersama membentuk suatu keadaan berbahaya dan kemungkinan besar
dapat mematikan. Kondisi ini meliputi resistensi insulin, kadar gula darah tinggi, peningkatan
trigliserida, kadar kolesterol LDL tinggi, tekanan darah tinggi dan obesitas (Misnadiarly,
2006). Komplikasi yang terjadi dibagi atas Komplikasi Akut meliputi hipoglikemia,
hiperglikemia dan ketoasidosis. Hipoglikemia adalah keadaan klinik gangguan saraf yang
disebabkan oleh penurunan glukosa darah, sedangkan hiperglikemia yaitu secara anamnesis
ditemukan adanya masukan kalori yang berlebihan, penghentian obat oral maupun insulin
yang didahului stres akut. Ketoasidosis merupakan defisiensi insulin berat dan akut dari suatu
perjalanan diabetes mellitus (Subekti, 2004). Komplikasi Kronik meliputi Makrovaskular
yaitu komplikasi yang terjadi pada beberapa organ seperti adanya penyakit jantung koroner,
stroke (pada pembuluh darah otak dan gangguan pada pembuluh darah perifer misalnya pada
pembuluh darah kaki).
Sindroma metabolisme adalah gerbang bagi penyakit jantung. Sebagian besar
penderita diabetes memiliki kondisi tambahan dengan resiko terserang penyakit jantung.
Penderita diabetes menunjukkan gejala bahwa mereka memiliki tekanan darah yang lebih
tinggi. Hipertensi diderita oleh 63-70% penderita diabetes. Orang yang memiliki diabetes
biasanya memiliki kadar kolesterol yang tinggi/trigliserida yang tinggi pula. Penyakit jantung
adalah penyebab kematian terbesar bagi para penderita diabetes dan penyakit ini berkaitan
erat dengan faktor-faktor lain, seperti kadar kolesterol tinggi , tekanan darah tinggi, dan
tingkat trigliserida yang tinggi (Misnadiarly, 2006).
8

Para penderita diabetes, baik diabetes tipe 1 maupun diabetes tipe 2, memiliki resiko
terkena serangan jantung 2-4 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak
menderita diabetes karena gula darah yang tinggi lama kelamaan bisa menimbulkan
arteroskerosis pada pembuluh darah vaskular. Komplikasi kronik yang berikutnya adalah
Mikrovaskular yaitu terjadi pada retina retinopati dan pada ginjal nefropati.
Kadar gula darah yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Ginjal berfungsi
sebagai penyaring untuk membersihkan darah dari kotoran dan cairan yang berlebih. Bila
ginjal mengalami kerusakan, saringan ini menjadi rusak dan kotoran tercampur dalam darah.
Kerusakan ginjal sering kali merupakan kasus komplikasi yang fatal pada penderita diabetes
yang sudah lama dan parah. Kadar gula darah yang tinggi dapat merusak pembuluh darah
yang menyalurkan sari-sari makanan ke retina mata. Pada tahap awal, pembuluh darah mulai
bocor dan hal ini akan mengakibatkan penglihatan menjadi kabur dan terjadi pembengkakan.
Pada tahap yang lebih parah,
pembuluh darah yang abnormal akan tumbuh di retina dan menghalangi penglihatan dan buta.
Komplikasi mikrovaskuler berikutnya adalah neuropati yang dapat menyebabkan
penderita Diabetes Melitus rentan terhadap infeksi. Diabetes dapat juga menyebabkan
kerusakan saraf, yang menuju pada kerusakan aliran darah dan menyebabkan mati rasa pada
kaki. Penderita diabetes yang sudah lama atau sudah tua cenderung memiliki masalah
sirkulasi yang lebih serius karena kerusakan aliran darah yang melalui arteri kecil. Hal ini
menambah kerentanan terhadap luka-luka dikaki yang memerlukan waktu yang lama untuk
disembuhkan dan bahaya terkena infeksi.
2.8 Senam Kaki Diabetes
-

Defenisi
Senam adalah latihan fisik yang dipilih dan diciptakan dengan terencana, disusun

secara sistematik dengan tujuan membentuk dan mengembangkan pribadi secara harmonis
(probosuseno, 2007). Berdasarkan pengertiannya, senam adalah salah satu jenis olahraga
aerobik yang menggunakan gerakan sebagian otot-otot tubuh, dimana kebutuhan oksigen
masih dapat dipenuhi tubuh (karim, 2002).
Latihan fisik merupakan salah satu prinsip dalam penatalaksanaan penyakit Diabetes
Melitus. Kegiatan fisik sehari-hari dan latihan fisik teratur (3-4 kali seminggu selama
kurang lebih 30 menit) merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan diabetes.

Latihan fisik yang dimaksud adalah berjalan, bersepeda santai, jogging, senam, dan
berenang. Latihan fisik ini sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran
jasmani (PERKENI, 2002).
Senam kaki adalah kegiatan atau latihan yang dilakukan oleh pasien diabetes melitus
untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran darah bagian kaki.
(S,Sumosardjuno,1986). Senam kaki dapat membantu memperbaiki sirkulasi darah dan
memperkuat otot-otot kecil kaki dan mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki. Selain itu
dapat meningkatkan kekuatan otot betis, otot paha, dan juga mengatasi keterbatasan
pergerakan sendi (Wibisono, 2009).
-

Tujuan
Adapun tujuan yang diperoleh setelah melakukan senam kaki ini adalah memperbaiki

sirkulasi darah pada kaki pasien diabetes, sehingga nutrisi lancar kejaringan tersebut (Tara,
2003).
-

Indikasi dan Kontraindikasi


Indikasi dari senam kaki ini dapat diberikan kepada seluruh penderita Diabetes mellitus

dengan tipe 1 maupun 2. Namun sebaiknya diberikan sejak pasien didiagnosa menderita
Diabetes Melitus sebagai tindakan pencegahan dini. Senam kaki ini juga dikontraindikasi
pada klien yang mengalami perubahan fungsi fisiologis seperti dipsnnea atau nyeri dada.
Orang yang depresi, khawatir atau cemas. Keadaan-keadaan seperti ini perlu diperhatikan
sebelum dilakukan tindakan senam kaki. Selain itu kaji keadaan umum dan keadaaan
pasien apakah layak untuk dilakukan senam kaki tersebut, cek tanda-tanda vital dan status
respiratori (adakah Dispnea atau nyeri dada), kaji status emosi pasien (suasana hati/mood,
motivasi), serta perhatikan indikasi dan kontraindiikasi dalam pemberian tindakan senam
kaki tersebut.
-

Prosedur
Alat yang harus dipersiapkan adalah : Kursi (jika tindakan dilakukan dalam posisi

duduk), prosedur pelaksanaan senam. Sedangkan persiapan untuk klien adalah Kontrak
topik, waktu, tempat dan tujuan dilaksanakan senam kaki. Perhatikan juga lingkungan
yang mendukung, seperti lingkungan yang nyaman.

10

Langkah-langkah pelaksanaan senam kaki:


1. Jika dilakukan dalam posisi duduk maka posisikan pasien duduk tegak diatas
bangku dengan kaki menyentuh lantai.

Gambar 1. Pesien duduk di atas kursi

2. Dengan meletakkan tumit di lantai, jari-jari kedua belah kaki diluruskan ke atas lalu
dibengkokkan kembali ke bawah seperti cakar ayam sebanyak 10 kali. Pada posisi
tidur, jari-jari kedua belah kaki diluruskan ke atas lalu dibengkokkan kembali ke
bawah seperti cakar ayam sebanyak 10 kali

Gambar 2. Tumit kaki di lantai dan jari-jari kaki diluruskan ke atas

3. Dengan meletakkan tumit salah satu kaki dilantai, angkat telapak kaki ke atas. Pada
kaki lainnya, jari-jari kaki diletakkan di lantai dengan tumit kaki diangkatkan ke atas.
Dilakukan pada kaki kiri dan kanan secara bergantian dan diulangi sebanyak 10 kali.
Pada posisi tidur, menggerakkan jari dan tumit kaki secara bergantian antara kaki kiri
11

dan kaki kanan sebanyak 10 kali.

Gambar 3. Tumit kaki di lantai sedangkan telapak kaki di angkat


4. Tumit kaki diletakkan di lantai. Bagian ujung kaki diangkat ke atas dan buat
gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali.
Pada posisi tidur, kaki lurus ke atas dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan
pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali

Gambar 4. Ujung kaki diangkat ke atas


5. Jari-jari kaki diletakkan dilantai. Tumit diangkat dan buat gerakan memutar dengan
pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali. Pada posisi tidur kaki harus
diangkat sedikit agar dapat melakukan gerakan memutar pada pergelangan kaki
sebanyak 10 kali.

Gambar 5. Jari-jari kaki di lantai

12

6. Luruskan salah satu kaki dan angkat, putar kaki pada pergelangan kaki, tuliskan pada
udara dengan kaki dari angka 0 hingga 10 lakukan secara bergantian (Akhtyo, 2004).
Gerakan ini sama dengan posisi tidur.

Gambar 6. Kaki diluruskan dan diangkat


7. Letakkan sehelai koran di lantai. Bentuklah koran tersebut menjadi seperti bola
dengan kedua kaki. Kemudian, buka bola itu menjadi lembaran seperti semula
menggunakan kedua kaki. Cara ini dilakukan hanya sekali saja.
a. Lalu sobek koran menjadi dua bagian, pisahkan kedua bagian koran.
b. Sebagian koran disobek menjadi kecil dengan kedua kaki.
c. Pindahkan kumpulan sobekan tersebut dengan kedua kaki lalu letakkan
sobekan koran pada bagian kertas yang utuh.
d. Bungkus semuanya dengan kedua kaki menjadi bentuk bola.

Gambar 7. Koran dirobek menjadi bagian kecil lalu dibentuk menjadi bola

BAB III
METODE
13

3.1

Metode Penelitian
Mini Project Peningkatan Pengetahuan masyarakat mengenai senam kaki
diabetik dalam upaya pencegahan komplikasi dibetes pada kaki (diabetic foot) di Desa
Sukorejo Kecamatan Sidayu Kabupaten Gresik ini menggunakan metode penelitian
deskriptif, dengan menggunakan rancangan One Group Pretest Postest yaitu
rancangan penelitian yang melihat pengaruh perlakuan yang diberikan kepada satu
kelompok subjek, kelompok subjek tersebut diobservasi sebelum diberikan perlakuan,
kemudian diobservasi lagi setelah diberikan perlakuan.

3.2

Pelaksanaan
3.2.1. Lokasi dan Waktu
Lokasi bertempat di Desa Sukorejo, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik,
Jawa Timur pada hari Rabu, 27 Mei 2015.
3.2.2. Populasi Sampel
Populasi sampel adalah sebanyak 40 orang masyarakat Desa Sukorejo.
3.2.3. Teknik Pengambilan Sampel
Tekhnik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah purposive
sampling, yaitu pemilihan sampel sesuai dengan tujuan peneliti dari populasi
yang memenuhi kriteria penelitian (Nursalam, 2003).
Adapun kriteria sampel yang ditentukan dalam penelitian ini adalah (1)
peserta yang dapat diajak komunikasi, (2) Penderita DM di Desa Sukorejo
yang mendapat undangan oleh bidan desa (3) Peserta yang bersedia
berpartisipasi menjadi responden.
Berdasarkan kriteria tersebut didapatkan jumlah peserta intervensi mini
project ini adalah sebanyak 40 orang. Peserta intervensi diberikan soal pre-test
untuk mengetahui tingkat pengetahuan mengenai senam kaki diabetik sebelum
intervensi, dan 40 orang tersebut diberikan soal post-test setelah intervensi
dilakukan untuk mengetahui keefektifitasan pemberian materi dalam
meningkatkan pengetahuan peserta.

3.2.4. Pengumpulan Data


Data yang dikumpulkan dalam intervensi senam kaki diabetik, meliputi:
14

Penilaian terhadap hasil pre-test

Penilaian terhadap hasil post-test

3.2.5. Kegiatan Intervensi


Kegiatan intervensi/penyuluhan dibagi menjadi beberapa tahap:
1. Tahap orientasi selama sepuluh menit, yang berisi memperkenalkan diri dan
menjelaskan tujuan kegiatan ini serta tidak lupa mengucapkan terima kasih atas
kehadiran peserta dalam penyuluhan dan pelatihan senam kaki.
2. Tahap pengerjaan soal pre-test oleh 40 peserta sebelum intervensi
3. Pemberian materi pelatihan senam kaki pada peserta intervensi dalam upaya
pencegahan komplikasi diabetes pada Kaki (Diabetes Foot). Yang meliputi
pengertian senam kaki diabetik, manfaat serta tujuan, indikasi dan
kontraindikasi serta tekhnik senam kaki diabetik.
4. Tahap pengerjaan soal post test oleh 40 peserta setelah intervensi.
3.2.6. Interpretasi Hasil
Interpretasi hasil dengan membandingkan nilai pre-test dan post-test
menggunakan skala prosentase (%) yang dibagi menjadi 3 kategori :
Nilai naik
Nilai tetap
Nilai turun
3.2.7. Waktu Pengumpulan Data
Waktu pengumpulan data dari pre-test dan post-test pada hari Rabu, 27
Mei 2015 di Desa Sukorejo, Kecamatan Sidayu, Gresik.
3.2.8. Tenaga Pengumpul Data
Tenaga pengumpul data adalah :
Bidan serta kader di Desa Sukorejo
Tim Dokter Internsip/ tenaga kesehatan dari puskesmas

BAB IV
15

HASIL
4.1.

Data Dasar
4.1.1 Geografis, Administrasi, Batas Wilayah
Wilayah Kecamatan Sidayu berada di Kabupaten Gresik bagian utara,
mempunyai wilayah yang berbatasan langsung Selat Madura yang merupakan
bagian dari Laut Jawa sehingga termasuk sebagai daerah Pantura.

Adapun batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut :


SebelahUtara

:Kecamatan Ujung Pangkah

SebelahTimur

:Selat Madura

SebelahSelatan

:Kecamatan Bungah

SebelahBarat

:Kecamatan Dukun dan Panceng

Luas Wilayah

: 4.795,291 Ha yang terdiri dari

Perumahan

: 225,885 Ha

Sawah

: 1.765,740 Ha

Tambak

: 1.370,665 Ha

Tegal

: 1.097,290 Ha

Lain-lain

: 211,800 Ha

Kecamatan Sidayu secara administratif meliputi 21 desa, yaitu :


1.

Desa Bunderan

2.

Desa Purwodadi

3.

Desa Srowo

4.

Desa Sedagaran

5.

Desa Pengulu

6.

Desa Kauman

7.

Desa Sidomulyo

8.

Desa Mriyunan

9.

Desa Asempapak

10.

Desa Mojoasem

11.

Desa Ngawen

12.

Desa Randuboto

13.

Desa Racikulon

14.

Desa Racitengah

15.

Desa Golokan
16

16.

Desa Sambipondok

17.

Desa Wadeng

18.

Desa Gedangan

19.

Desa Sukorejo

20.

Desa Lasem

21.

Desa Kertosono
Ketinggian tanah wilayah Kecamatan Sidayu rata-rata 2,95 meter

dari permukaan air laut dengan iklim tropis dan curah hujan rata-rata 117 mm
pertahun. Kecamatan Sidayu merupakan dataran rendah dengan wilayah pantai,
sungai, sawah, dan tambak. Tidak memiliki wilayah gunung dan hutan.

Wilayah kecamatan sidayu dilewati oleh sungai Bengawan Solo


yaitu desa Randuboto, Ngawen, dan Srowo.

Wilayah kecamatan Sidayu dilewati oleh Jalan Propinsi yang


menghubungkan Kabupaten Gresik dengan Kabupaten Lamongan

JaraktempuhdariPuskesmaskedesa :
3-5 km

: 16 desa

0-2 km

: 5 desa

Jarak Puskesmas ke Kabupaten : 25 km

4.1.2 Demografi
Pertumbuhan Penduduk (tahun 2014)
-

Jumlah Penduduk

Jumlah KK

Jumlah Anggota gakin

: 18,650

Jumlah Bayi 0-1 tahun

: 668

Jumlah Balita 0-5 tahun : 3.167

Jumlah Anak Prasekolah : 1.452

Jumlah PUS

: 23.043

Jumlah WUS

: 11.588

Jumlah Ibu Hamil

Jumlah Bulin

: 40.844
: 10.247

:707
:663

4.1.3 PendidikanMasyarakat
Sarana Pendidikan
17

TK

: 22

SD / MI

: 18 / 20

SLTP / MTs

:6 / 7

SMU / MA

:5 / 5

JumlahPonpes

:9

4.2 Hasil Survey


Karakteristik responden intervensi senam kaki diabeti di Desa Sukorejo adalah 34
responden berjenis kelamin wanita dan 6 responden berjenis kelamin pria. 20 orang
responden wanita berusia diatas 40 tahun, dan 14 lainnya berusia diatas 50 tahun.
Keseluruhan responden pria berusia diatas 50 tahun.
40 orang responden mengerjakan 5 soal pre-test, mendapatkan intervensi pelatihan
senam kaki diabetik dan setelahnya kembali mengerjakan 5 soal post-test. Hasil penilaian
pre dan post-test seperti dalam tabel berikut:
Tabel 1. Hasil nilai pre-test & post-test materi senam kaki diabetik di Desa Sukorejo
Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik dalam prosentase (%)

18

No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
No.
13
14
15
16

Nama Peserta Intervensi


Ny. Uliyah
Ny. Anna
Ny. Nikmatus S
Ny. Lilik H
Ny. Lilis
Ny. Muzayannah
Ny. Ismawati
Ny. Shokhlifatin
Ny. Sari
Ny. Sukaeni
Ny. Nur Afifah
Nama Peserta Intervensi
Ny. Yanti
Ny. Sriwati
Ny. Sumani
Ny. Nur Salamah

18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40

Ny. Ari Triamarwati


Ny. Istikhorini
Ny. Siti Fauziyah
Ny. Syanti
Tn. Hari
Tn. Dulkanan
Ny. Yati
Ny. Titik N.
Ny. Tri Ginanti
Ny. Lilik M
Ny. Tutik
Ny. Nur Aini
Ny. Nuri
Ny. Mukhawaroh
Ny. Kastinik
Tn. Kastija
Ny. Etik Khusnawati
Ny. Ervi
Ny. Baidah
Tn. Abdul Rahman
Tn. Achmad Saudin
Tn. Ade Musalim
Ny. Alfiyah

Nilai Pre-test
70
70
70
60
70
80
80
80
50
90
80
Nilai Pre-test
70
60
60
80

Nilai Post-test
100
100
100
100
100
100
80
80
100
90
100
Nilai Post-test
90
100
100
100

40
70
70
80
60
50
40
90
70
40
80
90
80
80
90
80
80
40
80
80
80
90
80

70
100
100
100
100
80
90
100
100
80
100
100
100
100
100
100
100
80
100
100
100
100
100

19

Interpretasi hasil materi senam kaki diabetik Desa Sukorejo Kecamatan Sidayu:
a. Prosentase nilai naik : 38 peserta

38/40 x 100%

= 95%

b. Prosentase nilai tetap : 2 peserta

2/40 x 100%

= 5%

c. Prosentase nilai turun : 0 peserta

0/40 x 100%

= 0%

Dari hasil pre-test dan post-test tentang materi senam

kaki diabetik Desa Sukorejo

Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik didapatkan nilai yang naik sebanyak 95%, nilai yang
tetap sebanyak 5% dan nilai yang turun sebanyak 0%.

20

BAB V
PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian, data karakteristik responden menunjukkan bahwa


sebanyak 50% dari keseluruhan responden berusia di atas 50 tahun. Seseorang yang berusia
lebih dari 50 tahun memiliki peningkatan risiko terhadap terjadinya DM dibandingkan
seseorang yang berusia kurang dari 40 tahun. Hal tersebut dikarenakan adanya resistensi
insulin dan intoleransi glukosa oleh karena faktor degeneratif yaitu menurunnya fungsi tubuh
untuk memetabolisme glukosa dalam darah. Usia sangat erat kaitannya dengan terjadinya
kenaikan kadar glukosa darah, sehingga semakin meningkat usia maka prevalensi diabetes
dan gangguan toleransi glukosa semakin tinggi (Sudoyo, 2009).
Data karakteristik responden menunjukkan bahwa sebanyak 58% dari responden
berjenis kelamin perempuan berusia di atas 40 tahun. Perempuan pada usia lebih dari 40 tahun
lebih beresiko menderita penyakit DM tipe 2 setelah mengalami menopause, kadar gula dalam
darah lebih tidak terkontrol dikarenakan terjadi penurunan produksi hormon esterogen dan
progesteron. Berkurangnya produksi hormon esterogen dan progesteron tersebut dapat
mempengaruhi sel-sel tubuh dalam merespon insulin (Nirvana, 2012).
Berdasarkan hasil penilaian pre-test dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagian besar
responden belum mengetahui senam kaki diabetik dan manfaat yang bisa dirasakan jika
melakukan senam kaki secara rutin. Sebanyak 95% responden intervensi mengalami
peningkatan nilai post-test dibandingkan dengan nilai pre-test. Hal tersebut menggambarkan
adanya peningkatan pengetahuan responden mengenai senam kaki diabetik. Pemberian
informasi selama dilakukannya intervensi merupakan upaya yang tidak hanya untuk
meningkatkan pengetahuan serta keterampilan senam kaki diabetik tetapi juga responden
dapat mengubah perilakunya menjadi rutin melakukan senam kaki. Sehingga responden akan
dapat mengendalikan kondisi penyakitnya dan memperlambat progresifitas neuropati
diabetikum.
Pemberian intervensi diperlukan karena penyakit diabetes adalah penyakit yang
berhubungan dengan gaya hidup. Pengobatan diabetes memerlukan keseimbangan antara
beberapa kegiatan yang merupakan bagian integral dari kegiatan rutin sehari-hari seperti
21

makan, tidur, bekerja, dan lain-lain. Pengaturan jumlah, jenis makanan dan olahraga juga
sebaiknya dilakukan oleh penderita DM. Berhasilnya pengobatan diabetes tergantung pada
kerja sama antara petugas kesehatan, penderita DM beserta keluarganya.
Dalam hal antisipasi untuk pencegahan DM ini, penyuluhan kesehatan dalam hal ini
intervensi senam kaki pada penderita diabetes mellitus merupakan salah satu bentuk
pencegahan untuk menghambat munculnya komplikasi neuropati perifer yang ditakuti oleh
penderita. Senam kaki diabetes bekerja dengan melancarkan sirkulasi darah, menurunkan
kekakuan sendi serta melatih otot-otot kaki. Senam kaki diabetik merupakan jenis olahraga
sederhana yang cocok untuk penderita DM dan menunjukkan efektifitas jika dilakukan secara
rutin. Senam kaki dilakukan 3-4 kali seminggu untuk mendapatkan hasil yang efektif. Peran
tenaga kesehatan adalah membimbing penderita DM untuk melakukan senam kaki agar
penderita dapat melakukan senam kaki secara mandiri.

22

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
1.1 Kesimpulan
1. Pemberian intervensi diperlukan karena penyakit diabetes adalah penyakit yang
berhubungan dengan gaya hidup. Pengobatan diabetes memerlukan keseimbangan
antara terapi, pengaturan makanan dan olahraga.
2. Senam kaki diabetik merupakan jenis olahraga sederhana yang cocok untuk penderita
DM untuk mencegah progresifitas neuropati diabetikum jika dilakukan secara rutin.
3. Peningkatan pengetahuan mengenai materi senam kaki diabetik cukup signifikan pada
responden di Desa Sukorejo, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik.
4. Peran tenaga kesehatan adalah membimbing penderita DM untuk melakukan senam
kaki agar penderita dapat melakukan senam kaki secara mandiri.

1.2 Saran
1. Pelatihan senam kaki sebaiknya tidak berhenti sampai disini namun diadakan
pembinaan/pelatihan lebih lanjut.
2. Pengadaan pelatihan senam kaki diabetik bisa ditularkan ke Desa desa wilayah
kerja Puskesmas Sidayu yang lain.
3. Pembuatan dan pemasangan poster, pembuatan leaflet/booklet yang siap dibagikan
sehingga senam kaki diabetik dapat lebih dikenal oleh masyarakat.

23

DAFTAR PUSTAKA
Atun. 2010. Diabetes Melitus. Bantul: Kreasi Wacana
Kushariyadi & Setyoadi. 2011. Terapi Modalitas Keperawatan pada Klien Psikogeriatrik.
Jakarta: Salemba Medika.
PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia). (2002). Pengelolaan Diabetes
Melitus Tipe 2 di Indonesia. Jakarta : CV.Aksara Buana.
Potter, P.A., dan A.G. Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep,
Proses, dan Praktik. Edisi 4. Jakarta: EGC
Regensteiner, J.G. 2009. Diabetes and Exercise. New York: Humana Press.
Wibisono. (2009). Senam Khusus Untuk
http://senamkaki.com 23 Mei 2015.

Penderita

Diabetes.

Diakses

dari

24

Lampiran
TERIMA KASIH ATAS KESEDIAAN BAPAK/IBU UNTUK MENGISI KUESIONER
BERIKUT INI.
JAWABAN YANG DIBERIKAN BAPAK/IBU AKAN MEMBANTU SAYA UNTUK
MENGETAHUI APAKAH WARGA DI DESA SUKOREJO SUDAH MENGETAHUI
ATAU BELUM MENGENAI PENTINGNYA SENAM KAKI PADA PENDERITA
KENCING MANIS
Silahkan mengisi pertanyaan berikut :
1. Apa yang bapak/ibu ketahui tentang senam kaki pada penderita
kencing manis?

2. Apa yang bapak/ibu ketahui tentang manfaat senam kaki pada


penderita kencing manis?
a. Memperbaiki sirkulasi darah, memperkuat otot-otot kecil
kaki, dan mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki.
b. Memperbaiki sirkulasi darah, memperkuat otot-otot tangan,
dan mencegah kekakuan sendi di jari- jari tangan.
3. Kapan senam kaki ini mulai dilakukan oleh penderita kencing manis?
a. Sebaiknya segera setelah pasien dinyatakan oleh dokter
menderita kencing manis.
b. Jika sudah terjadi komplikasi pada kaki penderita kencing
manis
4. Senam kaki ini tidak boleh dilakukan oleh ?
a. Semua pasien kencing manis
b. Pasien kencing manis dengan disertai keluhan sesak nafas
dan nyeri dada
5. Bagaimana teknik senam kaki kencing manis?
a. Sambil duduk di kursi dan melatih bagian kaki
b. Dengan cara berbaring atau duduk selonjor

25

Lampiran

Lampiran

26