Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Diperkirakan
menderita

sebanyak

arthritis,

40

350

persennya

juta

orang

berada

di

didunia
Amerika

Serikat , termasuk 250 ribu anak didunia. Arthritis adalah


kelainan sendi yang meliputi peradangan pada sendi, baik
satu sendi maupun lebih sehingga terjadi keterbatasan
gerak. Oleh karena itu, menentukan apa penyebab arthritis
tidaklah mudah, bergantung pada jenis arthritis. Secara
umum,

jenis-jenis

arthritis

yang

dikenal

antara

lain

osteoarthritis, rheumatoid arthritis, JRA, gout, infections


arthritis dan hemorrhagie arthritis.
Osteoarthritis adalah suatu penyakit sendi menahun
yang ditandai oleh adanya kelainan pada tulang rawan
(kartilago), sendi dan tulang didekatnya. Tulang rawan
(kartilago) merupakan bagian dari sendi yang melapisi ujung
dari tulang, yang memudahkan pergerakan dari sendi.
Kelainan

pada

kartilago

dapat

menyebabkan

tulang

bergesekan satu sama lain, akibatnya timbul kekakuan, nyeri


dan pembatasan gerakan pada sendi.
Osteoarthritis biasanya terjadi pada orang berusia 45
tahun keatas. Biasanya, wanita lebih sering terkena di
bandingkan pria karena bentuk pinggul mereka yang lebar
memberikan

tekanan

menahun

pada

sendi

lutut.

Apa

penyebabnya belum diketahui secara pasti. Namun faktor


resiko berhubungan dengan trauma atau mikrotrauma yang
berulang-ulang, obesitas, genetik, usia, olahraga berlebihan

yang melibatkan sendi, dan infeksi pada sendi dapat memicu


osteoarthritis.
Sampai saat ini belum ditemukan obat yang dapat
menyembuhkan osteoarthritis hingga tuntas. Pengobatan
yang ada hanya berfungsi untuk mengurangi nyeri dan
mempertahankan fungsi dari sendi yang terkena. (Akmal,M.,
2010)
Obat yang digunakan untuk mengurangi bengkak,
radang dan nyeri akibat penyakit arthritis. Ada dua kelompok
obat

yang

dipakai

yaitu

kortikosteroida

dan

non-

kortikosteroida (juga disebut antiflogistika non-steroida).


(Richard, 2011)

B. Rumusan Masalah
1. Apa defenisi Osteoarthrritis ?
2. Bagaimana patogenesis osteoarthritis ?
3. Apa klasifikasi dari osteoarthritis?
4. Apa patofisiologi dari osteoarthritis?
5. Bagaimana etiologi dari osteoarthritis?
6. Apa Manifestasi klinik dari osteoarthritis?
7. Apa Terapi dari osteoarthritis?
8. Bagaimana Diagnosis osteoarthritis?
9. Bagaimana Evaluasi hasil terapeutik dari osteoarthritis?
10 Apa Contoh kasus dari osteoarthritis?

C. Tujuan
1. Menambah

pengetahuan

penulis

tentang

hal

yang

berkaitan dengan penyakit osteoarthritis


2. Untuk mengembangkan rasa tanggung jawab penulis
akan tugas yang telah dibebankan.
3. Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Fartoks
II

BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI PENYAKIT
Osteoarthritis, yang juga dikenal sebagai osteoarthritis
bipertopik, osteoartrosis, dan penyakit sendi degenerative,
merupakan bentuk arthritis yang paling umum.(Williams,
2011 ).
Osteoarthritis merupakan kelainan sendi yang paling
sering

ditemukan

keidakmampuan
didiagnosis

dan

kerapkali

(disabilitas).

secara

berlebihan

menimbulkan

Osteoarthritis
atau

dianggap

dapat
remeh

penyakit ini sering diobati secara berlebihan (overtreatment)


atau

kurang

(undertreatment).
terhadap

kualitas

ditangani

sebagai

Dampak
hidup

mana

fungsional

penderitanya,

mestinya

Osteoarthritis
khususnya

yang

berusia lanjut, kerapkali tidak dipedulikan. (Suzanne, 2002)


Yaitu penyakit yang ditandai adanya kartilago sebagai
penyangga, tulang di bawahnya mengalami iritasi, yang
menyebabkan degenerasi sendi. Osteoarthritis dapat terjadi
secara idiopatik ( tanpa diketahui sebabnya) atau dapat
terjadi setelah trauma, dengan stress berulang seperti yang
dialami oleh pelari jarak jauh atau ballerina, atau berkaitan
dengan deformitas congenital. Individu yang mengalami

hemophilia

atau

kondisi

lain

yang

ditandai

oleh

pembengkakan sendi kronis dan edema, dapat mengalami


osteoarthritis.(Elisabeth, 2009)
B. PATOGENESIS
Dalam keadaan normal, sendi memiliki derajat gesekan
yang rendah sehingga tidak akan mudah aus, kecuali bila
digunakan secara sangat berlebihan atau mengalami cedera.
Osteoarthritis kemungkinan berawal ketika suatu kelainan
terjadi pada sel-sel yang membentuk komponen tulang
rawan, seperti kolagen (serabut protein yang kuat pada
jaringan ikat) dan proteoglikan (bahan yang membentuk daya
lenting tulang rawan).
Selanjutnya tulang rawan tumbuh terlalu banyak, tetapi
pada akhirnya akan menipis dan membentuk retakan-retakan
dipermukaan. Rongga kecil akan terbentuk didalam sumsum
dari

tulang

sehingga

yang

tulang

pertumbuhan

terletak

dibawah

menjadi

rapuh.

berlebihan

dipinggiran

kartilago
Tulang
dan

tersebut,
mengalami

menyebabkan

benjolan (esteofit), yang bias dilihat dan bias dirasakan.


Benjolan ini mempengaruhi fungsi sendi yang normal dan
menyebabkan nyeri.
Pada akhirnya, permukaan tulang rawan yang halus
dan licin berubah menjadi kasar dan berlubang-lubang,
sehingga sendi tidak lagi dapat bergerak secara halus.
Semua komponen sendi (tulang, kapsul sendi, jaringan
synovial, tendon dan tulang rawan) mengalami kegagalan
dan terjadi kelainan sendi.(Maloedin, 2013)
C. KLASIFIKASI

Berdasarkan

Patogenesisnya,

Osteoarthritis

dikelompokkan menjadi dua, yaitu :


1. Osteoarthritis Primer
Osteoarthritis primer disebut juga OA idiopatik, yaitu
osteoarthritis yang etiologinya tidak diketahui dan tidak
ada hubungannya dengan penyakit sistemik maupun
proses

perubahan

local

pada

sendi.

Penyebab

osteoarthritis primer diduga karena faktor genetic, yaitu


adanya abnormalias kolagen sehingga mudah rusak. Lebih
sering dijumpai daripada osteoarthritis sekunder.
2. Osteoarthritis Sekunder
Osteoarthritis yang didasari oleh kelainan endokrin,
inflamasi, metabolic, pertumbuhan, herediter, jejas makro
dan mikro serta imobilisasi yang terlalu lama. (Soeroto et
al., 2009)
D. PATOFISIOLOGI
1. Pada awal OA, kandungan air pada kartilago meningkat,
kemungkinan sebagai akibat kerusakan jaringan kolagen
yang tidak mampu untuk mendesak proteoglikan, dan
selanjutnya memperoleh air. Seiring perkembang OA,
kandungan proteoglikan kartilago menurun, kemungkinan
melalui kerja metalloproteinase.
2. Perubahan dalam komposisi glikosaminiglikan juga terjadi,
dengan peningkatan keratin sulfat dan penurunan rasio
kondroitin
Perubahan

4-sulfat
ini

dapat

terhadap

kondroitin

mengganggu

interaksi

6-sulfat.
kolgen

proteoglikan pada kartilago. Kandungan kolagen tidak


berubah sampai penyakit menjadi parah. Penigkatan
dalam sintesis kolagen dan perubahan distribusi dan
diameter serat dapat terlihat.

3. Peningkatan aktivitas metabolic yang ditandai dengan


peningkatan

sintesis

matriks

yang

dikontrol

oleh

kondrosit, dianggap merupakan suatu respon perbaikan


terhadap

kerusakan.

Bagaimanapun,

jika

berlanjut

menjadi hilang proteoglikan, merefleksikan kehilangan


netto sebagai proses degredasi yang lebih cepat daripada
sintesisnya.
4. Tulang subkondral yang berdekatatan dengan kartilago
artikular juga mengalami pergantian tulang yang lebih
capat,

dengan

peningkatan

aktivitas

osteoklast

dan

osteoblast. Terdapat hubungan antara pelepasan peptide


vasoaktif dan matrix metalloproteinase, neovaskularisasi
dan peningkatan permeabilitas kartilago yang berdekatan.
Peristiwa

ini

selanjutnya

mengakibatkan

degredasi

kartilago dan pada akhirnya hilangnya kartilago, berakibat


pada rasa sakit dan deformitas sendi.
5. Fibrilasi, robeknya kartilago yang tidak mengandung
kalsium, mengekspos bagian dalam tulang sehingga dapat
menyebabkan
Selanjutnya,

mikrofaktur
kartilago

pada

tererosi,

tulang

subkondral.

meninggalkan

tulang

subkondral yang gundul dan menjadi padat, halus dan


berkilau.
6. Mikrofaktur berakibat pada produksi callus dan osteoid.
Tulang baru (osteofit) terbentuk pada tepi sendi, jauh dari
area destruksi kartilago. Osteofit dapat merupakan suatu
usaha untuk menstabilkan sendi daripada suatu aspek
yang destruktif dari OA.
7. Inflamasi, dicatat secara klinis sebagai sinovitis, terjadi
dan dapat diakibatkan dari pelepasan mediator inflamasi
seperti prostaglandin dari kondrosit. (Kusnandar dkk.,
2009)

E. ETIOLOGI
Faktor resiko Osteoarthritis antara lain umur, trauma,
genetic, hormone, sex, penyakit otot, lingkungan :
1. Umur
Dari semua faktor untuk timbulnya Osteoarthritis, faktor
ketuaan adalah yang terkuat. Prevalensi, dan beratnya
Osteoarthritis semakin meningkat dengan bertambahnya
umur. Hal ini disebabkan karena adanya hubungan antara
umur

dengan

penurunan

kekuatan

kolagen

dan

proteoglikan pada kartilago sendi.


2. Jenis Kelamin
Pada orang tua yang berumur 55 tahun lebih, pravalensi
terkenanya

Osteoarthritis

pada

wanita

lebih

tinggi

daripada pria. Usia kurang dari 45 tahun Osteoarthritis


lebih sering terjadi pada pria daripada wanita.
3. Suku bangsa
Osteoarthritis

primer

dapat

menyerang

semua

ras

meskipun terhadap perbedaan prevalensi pola terkenanya


sendi pada osteoarthritis. Hal ini mungkin berkaitan
dengan perbedaan cara hidup maupun perbedaan pada
frekuensi pada kelainan congenital dan pertumbuhan.
4. Genetik
Faktor

herediter

juga

berperan

pada

timbulnya

osteoarthritis. Adanya mutasi dalam gen prokolagen atau


gen-gen structural lain untuk unsure-unsur tulang rawan
sendi

seperti

kolagen,

proteoglikan

berperan

dalam

timbunya kecenderugan familial pada osteoarthritis.


5. Kegemukan dan penyakit metabolic
Berat badan yang berlebih ternyata dapat meningkatkan
tekanan mekanik pada sendi penahan beban tubuh, dan
lebih sering menyebabkan osteoarthritis lutut. Kegemukan

ternyata tidak hanya berkaitan dengan osteoarthritis pada


sendi yang menganggung beban tetapi juga dengan
osteoarthritis sendi lainnya, diduga terdapat faktor lain
(metabolic) yang berperan pada timbulnya kaitan tersebut
antara lain penyakit jantung koroner, diabetes mellitus,
dan hipertensi.
6. Cedera sendi (trauma), pekerjaan dan olahraga
Pekerjaan berat maupun dengan pemakaian suatu sendi
yang terus menerus, berkaitan dengan peningkatan resiko
osteoarthritis tertentu. Demikian juga cedera sendi dan
olahraga yang sering menimbulkan cedera sendi berkaitan
resiko osteoarthritis yang lebih tinggi. (Brunner dan
Suddarth, 2007)
F. MANIFESTASI KLINIK
1. Prevalensi dan keparahan OA meningkat seiring usia.
Faktor

resiko

yang

potensial

meliputi

obesitas,

penggunaan berulang melalui pekerjaan atau aktivitas di


waktu luang, trauma persendian, dan hereditas.
2. Presentasi klinis tergantung pada durasi dan keparahan
penyakit dan jumlah sendi yang dipengaruhi. Gejala yang
dominan adalah rasa sakit yang dalam dan terlokalisasi
berhubungan dengan sendi yang dipengaruhi. Pada awal
OA,

rasa

sakit

mengiringi

aktivitas

persendian

dan

berkurang dengan istirahat. Selanjutnya, rasa sakit terjadi


walaupun dengan aktivitas yang minimal atau pada saat
istirahat.
3. Sendi yang

paling

umum

dipengaruhi

adalah

sendi

interfalangeal distal dan proksimal (DIP dan PIP) pada


tangan, sendi karpometakarpal (CMC) pertama, lutut,
pinggul, tulang belakang serviks dan lumbar, dan sendi
metatersofalangael (MTP) pertama pada jari kaki.

4. Selain rasa sakit, keterbatasan pergerakan, kekakuan,


crepitus, dan depormitas dapat pula terjadi. Pasien
dengan lower extremity involment dapat melaporkan
adanya suatu perasaan kelelahan atau ketidakstabilan.
5. Kekauan sendi berlangsung kurang dari 30 menit dan
sembuh dengan bergerak.pembesaran sendi berhubungan
dengan proliferasi tulang atau penebalan sinovium dan
kapsul sendi. Adanya rasa hangat, kemerahan dan sendi
yang empuk mengesankan terjadinya inflamasi sinovitis.
6. Deformitas sendi dapat terjadi pada tahap selanjutnya
sebagai

akibat

subkondral,

dari

subluxasi,

pembentukan

kolaps-nya

tonjolan

pertumbuhan tulang berlebih.


7. Pemeriksaan fisik terhadap

sendi

tulang

tulang,
ditandai

atau
dengan

pengempukkan krepitasi, dan mungkin pembesaran


sendi. Nodus heberden dan bouchard secara berturutturut merupakan pembesaran tulang (osteofit) dari sendi
DIP dan PIP. (Kusnandar dkk., 2009)
G. TERAPI
A. Pendekatan Umum
TERAPI NON FARMAKOLOGI
1. Langkah pertama adalah memberikan edukasi pada
pasien tentang penyakit, prognosis, dan pendekatan
manajemennya. Selain itu, diperlukan konseling diet
untuk pasien OA yang kelebihan berat badan.
2. Terapi fisik- dengan pengobatan panas atau dingin dan
program

olahraga-

mengembalikan

membantu

rentang

menjaga

pergerakan

dan

sendi

dan

mengurangi rasa sakit dan spasmus otot. Program


olahraga

dengan

isometric
memperbaiki

didesain
fungsi

dengan
untuk
sendi

menggunakan

teknik

menguatkan
dan

pergerakan,

otot,
dan

menurunkan

ketidakmampuan,

rasa

sakit,

dan

kebutuhan akan penggunaan analgesik.


3. Alat bantu dan ortotik seperti tongkat, alat pembantu
berjalan,alat bantu gerak, heel cups, dan insole dapat
digunakan selama olahraga atau aktivitas harian.
4. Prosedur operasi (mis.osteotomi, pengangkatan sendi,
penghilangan osteofit, artroplasti parsial atau total,
joint fusion) diindikasikan untuk pasien dengan rasa
sakit parah yang tidak memberikan respon terhadap
terapi konservatif atau rasa sakit yang menyebabkan
ketidakmampuan

fungsional

substansi

dan

mempengaruhi gaya hidup.


TERAPI FARMAKOLOGI
1. Terapi obat pada OA ditargetkan pada penghilangan
rasa sakit. Karena OA sering terjadi pada individu yang
lebih

tua

diperlukan

yang

memiliki

suatu

pendekatan

pengobatan obat.
2. Pendekatan individual

kondisi

untuk

medis

konservatif
pengobatan

lainnya,
terhadap
adalah

penting (gambar 2-1). Untuk sakkit yang ringan atau


sedang , analgesic topical atau asetaminofen dapat
digunakan. Jika hal ini gagal atau terjadi inflamasi, obat
AINS dapat berguna. Ketika terapi obat dimulai, terapi
non-obat yang cocok harus diteruskan.
a) Golongan AINS
Mekanisme Kerja Obat
Dalam dosis tunggal inflamasi nonsteroid (AINS)
mempunyai aktivitas analgesic yang setara dengan
parasetamol,

tetapi

parasetamol

lebih

disukai

terutama untuk pasien usia lanjut.


Dalam dosis penuh yang lazim AINS sekaligus
memperlihatkan efek analgesic yang bertahan lama

yang membuatnya sangat berguna pada pengobatan


nyeri berlanjut atau nyeri berulang akibat radang.
Oleh

karena

itu,

walau

parasetamol

seringa

mengatasi nyeri dengan baik pada osteoarthritis,


AINS

lebih

tepat

daripada

parasetamol

atau

analgesic opioid dalam arthritis meradang ( yaitu


arthritis

rematoid)

dan

pada

osteoarthritis lanjut.
Hanya
sedikit
perbedaan

beberapa
dalam

kasus

aktivitas

antiinflamasi antara berbagai AINS, namun ada


variasi yang cukup besar dalam respon pasien
secara individual. Sekitar 60% pasien akan beraksi
terhadap semua AINS. Sementara yang lainnya ada
yang tidak bereaksi terhadap salah-satunya, dan
bereaksi baik terhadap yang lain. Efek analgesic
normalnya harus diperoleh dalam selang seminggu.
Sementara

efek

antiinflamasi

mungkin

belum

tercapai. Jika respon memadai belum diperoleh


dalam selang waktu itu, harus dicoba AINS lain.
Perbedaan utama antara berbagai AINS adalah
kejadian

dan

jenis

efek

samping.

Sebelum

pengobatan dimulai dokter yang meresepkan harus


mempertimbangkan rasio manfaat dan risiko efek
sampingnya.
Indikasi
1. Rematoid arthritis (RA) ( kecuali ketorolak, asam
mefenamat, dan meloksikan ) dan osteoarthritis
(OA) kecuali ketorolak, dan asam mefenamat
meredakan tanda-tanda dan gejala.
2. Nyeri ringan dan sedang
3. Dismenoria primer

Kontraindikasi
AINS dikontraindikasikan

untuk

pasien

dengan

riwayat hipersensitivitas terhadap asetpsal atau


AINS lainnya, termasuk mereka yang serangan
asma, angiodema, urtikaria, atau rinitisnya dipicu
oleh asetosal dan AINS lainnya. AINS sebaiknya
tidak diberikan kepada pasien yang mengidap tukak
lambung aktif. Pasien yang sebelumnya atau sedang
mengidap tukak lambung atau pendarahan saluran
cerna,

lebih

baik

menghindarinya

dan

menghentikannya jika muncul lesi saluran cerna.


Peringatan
AINS harus digunakan dengan hati-hati pada pasien
usia lanjut, pada gangguna alergi, selama kehamilan
dan menyusui, dan pada gangguan koagulasi. Pada
pasien gagal ginjal, payah jantung, atau gagal hati,
dibutuhkan kehati-hatian, sebab penggunaan AINS
bias mengakibatkan memburuknya fungsi ginjal
(lihat juga pada efek samping); dosis harus dijaga
serendah mungkin dan fungsi pasien yang mengidap
tukak lambung aktif.
Efek samping
Efek samping beragam

tingkat

keparahan

dan

kekerapannya. Kadang timbul rasa tidak nyaman


pada saluran cerna , mual, diare, dan kadang
pendarahan

dan

tukak,

dyspepsia

bias

ditekan

dengan meminum obat ini bersama makanan atau


susu.

Efek

samping

lain

termasuk

reaksi

hipersensitivitas (terutama ruam kulit, angiodema,


dan bronkospasme), sakit kepala, pusing, vertigo,
gangguan

pendengaran

seperti

tinnitus,

fotosensitivitas,

dan

hematuria.

Juga

terjadi

gangguan pada darah. Retensi cairan bias terjadi


(jarang

sampai

mempercepat

gagal

jantung

kongestif pada pasien usia lanjut).


Sediaan beredar
Tablet
:
Ketoprofen 50 mg, 100 mg
Ibuprofen 100 mg, 200 mg
Natrium diklofenat 50 mg
Suspensi :
Ibuprofen 100 mg/ 5 ml
Suppositoria
:
Ketopren 100 mg
Ketopren 125 mg
Injeksi
:
Ketopren 100 mg/ampul
b) Kortikosteroid
Mekanisme Kerja
Kortikosterid

memiliki

aktivitas

glukokortikoid

sehingga memperlihatkan efek yang sangat beragam


yang

meliputi

karbohidrat,

efek

protein,

terhadap

dan

lipid.

metabolism

Efek

terhadap

kesetimbangan air dan elektrolit; dan efek terhadap


pemeliharaan fungsi berbagai system dalam tubuh.
Kerja obat ini sangat rumit dan bergantung pada
kondisi hormonal seseorang. Namun, secara umum
efeknya

dibedakan

atas

efek

retensi

Na,

efek

terhadap metabolism KH ( glukoneogenesis), dan


efek antiinflamasi.
Kortikosteroid bekerja melalui inreraksinya dengan
protein reseptor yang
untuk

mengatur

suatu

spesifik di organ target,


ekspresi

genetic

yang

selanjutnya akan menghasilkan perubahan dalam


sintesis protein lain. Protein yang terakhir inilah
yang akan mengubah fungsi seluler organ target
sehingga diperoleh, misalnya, efek glukogeogenesis,
meningkatnya asal lemak, meningkatnya reabsorpsi

Na, meningkatnya reaktivitas pembuluh terhadap


zat vasoaktif, dan efek antiinflamasi.
Indikasi
Sebagai antiiflamsi, kortikosteroid digunakan dalam
dosis yang beragam untuk berbagai penyakit dan
beragam utnuk individu yang berbeda, agar dapat
dijamin rasio manfaat dan risiko yang setinggitingginya.
1. Sebagai penyelamat jiwa atau memperpanjang
hidup, misalnya pada leukima akut, pemfigus,
dermatitis

eksfoliatif,

reaksi

terhadap

cangkokan,

penolakan

maka

akut

kortikosteroid

digunakan dalam dosis besar dalam jangka lama.


Tetapi

untuk

penyakit

yang

relatif

ringan,

misalnya arthritis rematoid, penggunaan jangka


lama manfaatnya tidak lebih besar daripada
risikonya.
2. Colitis ulserativ

memerlukan

sistemik dan topical.


3. Hiperplasia adrenal
glukokortikoid

congenital

untuk

kortikosteroid
memerlukan

menekan

sekresi

kortikotropin yang dosisnya disesuaikan dengan


kadar androgen dan 17--hidroksi progesteron.
Efek

penekanan

poros

hipotalamus

hipofisis

adrenal lebih kuat dan lama bila obat diberikan


malam

hari

sehingga

betametason

dan

deksametason 1 mg pada malam hari cukup


untuk supresi 24 jam.
4. Udem otak juga diobati dengan betametason dan
deksametason

yang

tidak

menambah

resiko

retensi cairan.
5. Reaksi hipersensitif akut seperti angioudem dan
shock anafilaksis memerlukan adrenalin sebagai

antagonis faalan. Kortikosteroid merupakan obat


tambahan, dalam hal ini digunakan 100-300 mg
hidrokortison i.v.
6. Asma bronchial lebih baik diobati topical, tetapi
pada

keadaan

darurat,

kortikosteroid

diberikan bersama bronkodilator.


7. Kortikosteroid efektif menekan

radang

i.v
pada

demam reumatik, hepatitis aktfi kronik, dan


sarkoidosis,
anemia

juga

menyebabkan

hemolitik,

sebagian

nefrotik

remisi

kasus

pada

sindrom

( khususnya pada anak), dan

purpura trombositopenis.
8. Prognosis SLE (systemic lupus erihematosus),
arteritis

temporal,

diperbaiki

dengan

perjalanan
dihambat,

dam

pemberian

penyakit
tetapi

walaupun

kelainan

Untuk

dan

dasarnya

dapat
kasus

nodosa

kostikosteroid,

dihambat

akhirnya

keganasannya.

poliarteritis

ini

gejala
menetap

dihilangkan
pengobatan

dimulai dengan dosis cukup tinggi, misalnya


prednisone

40-60

mg/hari

yang

kemudian

diturunkan ke dosis terendah yang masih dapat


mengendalikan penyakit.

Kontraindikasi
Infeksi systemic, kecuali bila diberikan antibiotic
systemic; hindari vaksinasi dengan virus aktif pada
pasien yang menerima dosis imunosupresif.
Peringatan

Supresi adrenal dapat terjadi pada penggunaan


jangka lama dan bertahan beberapa tahun setelah
pengobatan dihentikan. Pengurangan dosis yang
tiba-tiba setelah penggunaan lama ( lebih dari 7
hari) dapat menyebabkan insufisiensi adrenal akut,
hipotensi,

dan

kematian.

Oleh

karena

itu,

penghentian harus bertahap. Efek sufresi adrenal ini


paling kecil bila obat diberikan pagi hari. Untuk
mengurangi efek ini lebih lanjut, dosis total 2 hari
sebaiknya diberikan sebagai dosis tunggal berselang
sehari.

Cara

ini

cocok

untuk

terapi

arthritis

rheumatoid, tetapi tidak cocok untuk terapi asma


bronchial. Efek sufresi ini juga dapat dikurangi
dengan pemberian intermitten.
Efek samping
Penggunaan kortikosteroid jangka
menimbulkan

efek

samping

lama

akibat

akan
khasiat

glukokortikoid maupun khasiat mineralokortikoid.


Efek samping glukokortikoid meliputi diabetes dan
osteoporosis yang terutama berbahaya bagi usian
lanjut. Pemberian dosis tinggi dapat menyebabkan
nekrosis

avvaskular

dan

sindrom

Cushingyang

sifatnya berpulih (reversible).


Dapat juga terjadi gangguan mental, euphoria dan
miopati.

Hubungan

penggunaan

kortikosteroid

dengan timbulnya tukak peptic tidak begitu jelas.


Pada

anak,

kortikosteroid

dapat

menimbulkan

gangguan pertumbuhan, sedangkan pada wanita


hamil dapat mempengaruhi pertumbuhan adrenal
anak.

Efeknya

terhadap

reaksi

jaringan

dapat

menyebabkan tanda klinik infeksi tidak muncul

sehingga infeksi menyebar tanpa diketahui (efek


samar).
Sediaan beredar
1. Deksamethason
Dexamethason(Generik) cairan Inj. 5 mg/mL (K)
Camideson (Lucas Djaya) cairan inj. 5 mg/mL (K)
2. Hidrokortison
Silecort (prafa) serbuk inj. 100 mg/2 mL (K)
3. Kortison
Cortison asetat (Generik) cairan Inj. 25 mg/mL
(K)
4. Triamsinolon
Kenacort-A- IM. Cairan Inj. 40 mg/mL (K)
c) Golongan Analgesik
1. Golongan Analgesik Non Narkotik
a. Asetaminofen ( Analgesik oral)
Mekanisme Kerja
Belum
jelas,
asetaminofen

manghambat

sintesis prostaglandin pada SSP.


Indikasi
Nyeri ringan sampai sedang; demam
Kontraindikasi
Pasien

dengan

fenilketonuria

(kekurangan

homozigot fenilalanin hidroksilase) dan pasien


yang harus membatasi masukan fenilalanin.
Efek samping
Efek samping jarang; kecuali ruam kulit;
kelainan darah; pancreatitis akut dilaporkan
setelah penggunaan jangka panjang; penting
pada

kerusakan

hati

(dan

lebih

jarang

kerusakan ginjal) setelah overdosis.


Sediaan beredar
Sirup
: Parasetamol 120 mg/5 ml
Tablet
: Parasetamol 100 mg, 500
mg
Suspensi
Eliksir

: Calapol 120 mg/5 ml


: Decadol 120 mg/5 ml

Kapsul

: Farmadol 500 mg

b. Kapsaisin (Analgesik topical)


Mekanisme Kerja
Suatu ekstrak dari lada
menyebabkan

pelepasan

dan

merah

yang

pengosongan

substansi P dari serabut saraf.


Indikasi
Bermanfaat dalam menghilangkan rasa sakit
pada OA jika digunakan secara topical pada
sendi

yang

digunakan

dipengaruhi.
sendiri

atau

Kapsaisin
kombinasi

analgesic oral atau AINS.


Peringatan
Pasien harus diperingatkan

untuk

dapat
dengan

tidak

mengoleskan krim ini pada mata atau mulut


dan

untuk

mencuci

tangan

setelah

penggunaan.
Efek samping
Ditoleransi dengan baik, tetapi pada beberapa
pasien mengalami rasa terbakar atau sengatan
untuk sementara pada area yang dioleskan.
c. Glukosamin dan kondroitin (Analgesik topical)
Mekanisme kerja
Glukosamin mengurangi penyempitan ruang
sendi
Indikasi
Glukosamin

dan

kondroitin

merupakan

suplemen makanan yang telah menunjukkan


hasil yang superior terhadap placebo dalam
meredakan rasa sakit pada OA lutut atau
pinggul pada 17 studi double-blind dengan
control placebo.
2. Analgesik narkotika
Indikasi

Nyeri

sedang

sampai

berat;

terutama

yang

berasal dari visceral.


Efek samping
Mual, muntah, konstipasi, dan rasa mengantuk.
Dosis yang lebih besar menimbulkan depresi
nafas dan hipotensi.
Peringatan
Hipotensi, hipotiroidisme, asma (hindari selama
serangan); dan turunnya cadangan pernapasan,
hipertropi prostat; wanita hamil dan menyesui;
dapat

memicu

koma

pada

kerusakan

hati

(kurangi dosis atau hindari; tetapi banyak pasien


demikian dapat menerima morfin).
Sediaan beredar
Morphin HCL (Generik) sirup 5 mg/5 ml, tablet
10 mg; 30 mg.
Kodein Fosfat (Generik) tablet 10 mg; 15 mg
Fentanil, Cairan inj. 0.05 mg/ml (N)
Tramadol (Generik) Injeksi 50 mg/ml
Petidin (Genetik) Injeksi 50 mg/ml
d) Obat OA lainnya
Injeksi Hialuronat
Mekanisme kerja
Injeksi asam hyaluronat dalam jumlah yang sedang
dan sementara waktu dapat meningkatkan viskositas
cairan synovial.
Indikasi
Dilaporkan dapat menurunkan rasa sakit, tetapi
banyak studi yang dilakukan dalam jangka waktu
pendek dan dikontrol dengan baik dengan tingkat
respon placebo yang tinggi. Dua agen intra-artikular
yang mengandung asam hyaluronat tersedia untuk
mengobati rasa sakit yang berkaitan dengan OA
lutut.
Efek samping

Injeksi ditoleransi dengan baik tetapi pembengkakan


sendi akut dan reaksi kulit local ( mis : rass,
ecchymoses, atau pruritus) talah dilaporkan.
Sediaan beredar
Sodium

hyaluronat

(Hyalgan),

Hylan

G-F

20

(Synvisc). (Kusnandar dkk., 2009)

H. DIAGNOSIS
Diagnosis osteoarthritis dapat ditegakkan berdasarkan
criteria klinis menurut American college of Rheumatology
(ACR). Berdasarkan criteria tersebut, osteoarthritis dapat
ditegakkan apabila :
1. Nyeri sendi
2. Memenuhi tiga criteria dari enam hal berikut :
a. Umur lebih dari 50 tahun
b. Kaku sendi kurang dari 30 menit
c. Krepitasi
d. Nyeri tulang
e. Pembengkakan tulang
f. Tidak hangat/panas pada perabaan. (Dieppe, 2008)
I. EVALUASI HASIL TERAPEUTIK
1. Untuk memonitor efikasi, sumber rasa sakit pasien dapat
dinilai dengan menggunakan Visual analog scale (VAS),
dan rentang pergerakan sendi dapat dinilai dengan fleksi,
ekstensi, abduksi, dan adduksi.
2. Tergantung pada sendi yang dipengaruhi, pengukuran
gribstrength dan 50 kali jalan kaki dapat membantu
menilai OA tangan dan pinggul/lutut, secara berurutan.
3. Pengukuran
radiograf
dapat
mendokmentasikan
banyaknya

sendi

yang

terlibat

dan

mengikuti

perkembangan terapi penyakit.


4. Pengukuran lainnya meliputi clinicians global assessment
berdasarkan sejarah aktivitas dan keterbatasan pasien

yang disebabkan OA, sebagaimana halnya dokumentasi


penggunaan analgesic atau AINS.
5. Kuosionar Quality of lite (QOL) spesifik penyakit arthritis
berharga untuk menilai respon klinis terhadap intervensi.
6. Pasien sebaiknya ditanyakan apakah obat yang digunakan
memiliki efek samping. Mereka juga harus dimonitor
untuk setiap tanda-tanda efek yang terkait obat, seperti
ruam pada kulit, sakit kepala, rasa kantuk, kenaikan berat
badan, atau hipertensi akibat AINS.
7. Pengukuran kreatinin serum, profil

hematologi

dan

transaminase serum dengan interval 6 hingga 12 bulan


berguna

dalam

mengidentifikasi

terhadap

ginjal,

hati,

saluran

toksisitas

spesifik

gastrointestinal,

atau

sumsum tulang. (Kusnandar dkk., 2009)


J. CONTOH KASUS
a. Ny. I Seorang ibu rumah tangga berusia 52 tahun dengan
keluhan utama nyeri lutut sejak kurang lebih 8 bulan
yang lalu. Sekitar 8 bulan yang lalu pasien sudah
mengeluhkan nyeri pada lutut kanan yang awalnya hilang
timbul. Awalnya nyeri pada lututnya tidak senyeri seperti
sekarang. Nyeri juga dirasakan didaerah persendian,
nyeri timbul jika pasien berjalan atau disaat pasien
banyak bergerak, nyeri terasa hebat terutama saat pagi
hari selama kurang lebih setengah jam, nyeri berkurang
atau hilang jika pasien istirahat. Bengkak didaerah lutut
(-), terasa panas didaerah lutut (-), nyeri saat ditekan
pada

daerah

lutut

(+).

Selama

ini

pasien

berobat

kepuskesmas dan diberi obat tablet, setelah obat habis


biasanya nyeri mulai muncul kembali. Riwayat jatuh atau
trauma sebelumnya disangkal. Pasien mengaku kebiasaan
pasien dari dulu hingga sekarang jarang berolahraga.

b. Ny. K seorang ibu rumah tangga berusia 61 tahun dengan


keluhan

utama

nyeri

lutut

kiri.

Pasien

merupakan

konsulan dari bagian penyakit dalam dengan riwayat


penyakit dahulu Diabetes mellitus sejak 2 tahun yang lalu
dan tidak rutin control. Sejak 3 bulan yang lalu pasien
mengeluhkan lutut sebelah kiri kaku dan sulit untuk
digerakkan terutama setelah bangun tidur. Lutut kaku
juga dirasakan bila pasien terlalu lama duduk di lantai.
Kaku dirasakan selama kurang lebih 15 menit.
Sejak satu bulan terakhir, lutut dirasakan nyeri jika
digerakkan.

Pasien

mengeluhkan

nyeri

semakin

memberat ketika berjalan jauh, naik tangga dan jongkok.


Walaupun pasien merasa ada sedikit gangguan dalam
berjalan, namun pasien masih tidak membtuhkan alat
bantu apapun untuk berjalan. Pasien memeriksakan diri
ke puskesmas, keluhan membaik setelah minum obat lalu
kambuh lagi setelah obat habis. Pasien tidak mengeluh
adanya keluhan serupa pada sendi lainnya.
K. PENYELESAIAN KASUS
a. Terhadap Ny. I
1. Usulan pemeriksaan
Cek kadar asam urat dan photo rongtgen genu
dextra AP/L (Jika pasien bersedia dilakukan di RSUD)
2. Diangnosa kerja
Ostearthritis Artikulasio Genu dextra
3. Diangnosa banding
Gout Arthritis, Rheumatoid arthritis, Arthritis
psoriatic
4. Promotif
Menjelaskan

kepada

pasien

tentang

osteoarthritis, faktor resiko dan bahanya, memberikan


saran kepada pasien agar berobat secara teratur, jika
nyeri

masih

mengganggu

dan

menyebabkan

keterbatasan gerak yang permanen dianjurkan agar

pasien berobat ke RSUD dengan spesialis bedah


Ortopedi.
5. Preventif
a) Menyarankan melakukan latihan untuk memperluas
gerak sendi untuk mencegah kekakuan yang dapat
terjadi.
b) Menyarankan
pekerjaan

atau

tidak

melakukan/mengurangi

aktivitas

berat

yang

dapat

memperberat penyakit misalnya naik turun tangga


(pekerjaan yang bertumpu pada lutut)
c) Menyarankan
menjaga
berat
badan
mengurangi resiko penyakit.
6. Kuratif
a) Non farmakologi
1) Istirahat
yang
teratur

untuk

untuk

mengurangi

penggunaan beban pada sendi.


2) Latihan dirumah berupa latihan statis serta
memperkuat otot-otot
3) Dapat
mengompres

dengan

air

hangat

mengurangi nyeri disekitar lutut, dapat dilakukan


sekitar 30 menit setiap hari. Latihan duduk dan
berdiri secara perlahan setiap hari selama 15-20
menit untuk melatih otot agar tidak kaku.
4) Dianjurkan kepada pasien agar makan

dan

minum yang sehat.


b) Farmakologi
Piroxicam tab
1 x 10 mg
Ranitidin tab
2 x 150 mg
Vit. B complex
3 x 50 mg
c) Tradisional
Bahan : 30 g jahe merah, 25 g Kunyit tua, 90 g daun
lidah buaya, 1 jari kayu manis dan 5 g adas. Semua
bahan dicuci bersih, daun lidah buaya dikupas
kulitnya. Semua bahan direbus dengan 600cc air.
Sampai mendidih hingga tersisa 250cc lalu disaring,

tunggu hingga dingin. Kemudian diminum dua kali


sehari.
7. Rehabilitasi
a) Menjaga berat badan tetap normal
b) Minum obat secara teratur
c) Melakukan olahraga ringan tanpa

beban

yang

bersifat continue
b. Terhadap Ny. K
1. Dengan hasil pemeriksaan :
Fisik
: Normal
Asam urat
: 5,8 mg/dL
Kesan
:
Osteoarthritis

femurotibia

femuropatella joint kiri


2. Diagnosa penyakit
Osteoarthritis Genu Sinistra
3. Terapi
Meloxicam 1 x 15 mg
4. Rehabilitasi
a) Menjaga berat badan tetap normal
b) Minum obat secara teratur
c) Melakukan olahraga ringan tanpa

beban

dan

yang

bersifat continue

BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Osteoarthritis

(OA)

merupakan

penyakit

sendi

degenerative yang berkaitan dengan kerusakan kartilago sendi.


Vertebra, panggul, lutut dan pergelangan kaki paling sering
terkena

OA. Faktor-faktor

resiko terjadi

OA

yaitu

faktor

predisposisi umum (umur, jenis kelamin, kegemukan, hereditas,

hipermibilitas, merokok, densitas tulang, hormonal dan penyakit


reumatik kronik lainnya) dan faktor mekanik (trauma, bantuk
sendi,

penggunaan

pekerjaan/aktivitas).

sendi
Gejala

yang
klinis

berlebihan
meliputi

karena

nyeri

sendi,

hambatan gerakan sendi, kaku pagi, krepitasi, pembesaran


sendi

(depormitas),

Pengelolaannya

dan

terdiri

dari

perubahan
tiga

hal

gaya
yaitu,

berjalan.

terapi

non-

farmakologi, terapi farmakologis dan terapi bedah.

B. Saran
Sebagaimana uraian pada pokok pembahasan tersebut,
sebaiknya pembaca mempelajari lebih lanjut tentang penyebab
Osteoarthritis tersebut dan cara penanganan agar bisa lebih
mengetahui dengan jelas.

DAFTAR PUSTAKA
Akmal Mutaroh.2002. Ensiklopedi Kesehatan Untuk
Umum. EGC: Jakarta

Brunner dan Suddarth. 2007 . Buku ajar Keperawatan


medical bedah. Ed.8. EGC : Jakarta
Corwin

Elisabeth.2009.

Buku

saku

Patofisiologi.EGC:

Jakarta
Dieppe P. 2008. Primer on the rheumatic disease. 13th.
Business Media : Jakarta
Harkness Richard. 2011. Interaksi obat . ITB : Bandung
Lippincott Williams. 2011. Nursing Memahami berbagai
macam penyakit. PT. Indeks : Jakarta
Mansjoer, Arif. 2005. Kapita selekta kedokteran. ed. 3.
Media Aesculapius : Jakarta
Sitanggang maloedin. 2013. Waspada 12 penyakit yang
merusak tulang anda. Cerdas sehat : Jakarta
Seoroso J, Isbagio H, Kalim H, Broto R. 2009. Buku ajar
ilmu penyakit dalam. 5th edition. Pusat penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI : Jakarta
Sukandar E, Andrajati R, Sigit J, Adnyana I. 2009. ISO
Farmakoterapi. Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia :
Jakarta
Smeltzer, S. 2002.Buku ajar Keperawatan medical bedah.
EGC : Jakarta