Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Diperkirakan
menderita

sebanyak

arthritis,

40

350

persennya

juta

orang

berada

di

didunia
Amerika

Serikat , termasuk 250 ribu anak didunia. Arthritis adalah
kelainan sendi yang meliputi peradangan pada sendi, baik
satu sendi maupun lebih sehingga terjadi keterbatasan
gerak. Oleh karena itu, menentukan apa penyebab arthritis
tidaklah mudah, bergantung pada jenis arthritis. Secara
umum,

jenis-jenis

arthritis

yang

dikenal

antara

lain

osteoarthritis, rheumatoid arthritis, JRA, gout, infections
arthritis dan hemorrhagie arthritis.
Osteoarthritis adalah suatu penyakit sendi menahun
yang ditandai oleh adanya kelainan pada tulang rawan
(kartilago), sendi dan tulang didekatnya. Tulang rawan
(kartilago) merupakan bagian dari sendi yang melapisi ujung
dari tulang, yang memudahkan pergerakan dari sendi.
Kelainan

pada

kartilago

dapat

menyebabkan

tulang

bergesekan satu sama lain, akibatnya timbul kekakuan, nyeri
dan pembatasan gerakan pada sendi.
Osteoarthritis biasanya terjadi pada orang berusia 45
tahun keatas. Biasanya, wanita lebih sering terkena di
bandingkan pria karena bentuk pinggul mereka yang lebar
memberikan

tekanan

menahun

pada

sendi

lutut.

Apa

penyebabnya belum diketahui secara pasti. Namun faktor
resiko berhubungan dengan trauma atau mikrotrauma yang
berulang-ulang, obesitas, genetik, usia, olahraga berlebihan

yang melibatkan sendi, dan infeksi pada sendi dapat memicu
osteoarthritis.
Sampai saat ini belum ditemukan obat yang dapat
menyembuhkan osteoarthritis hingga tuntas. Pengobatan
yang ada hanya berfungsi untuk mengurangi nyeri dan
mempertahankan fungsi dari sendi yang terkena. (Akmal,M.,
2010)
Obat yang digunakan untuk mengurangi bengkak,
radang dan nyeri akibat penyakit arthritis. Ada dua kelompok
obat

yang

dipakai

yaitu

kortikosteroida

dan

non-

kortikosteroida (juga disebut antiflogistika non-steroida).
(Richard, 2011)

B. Rumusan Masalah
1. Apa defenisi Osteoarthrritis ?
2. Bagaimana patogenesis osteoarthritis ?
3. Apa klasifikasi dari osteoarthritis?
4. Apa patofisiologi dari osteoarthritis?
5. Bagaimana etiologi dari osteoarthritis?
6. Apa Manifestasi klinik dari osteoarthritis?
7. Apa Terapi dari osteoarthritis?
8. Bagaimana Diagnosis osteoarthritis?
9. Bagaimana Evaluasi hasil terapeutik dari osteoarthritis?
10 Apa Contoh kasus dari osteoarthritis?

C. Tujuan
1. Menambah

pengetahuan

penulis

tentang

hal

yang

berkaitan dengan penyakit osteoarthritis
2. Untuk mengembangkan rasa tanggung jawab penulis
akan tugas yang telah dibebankan.
3. Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Fartoks
II

Osteoarthritis merupakan kelainan sendi yang paling sering ditemukan keidakmampuan didiagnosis dan kerapkali (disabilitas). dan penyakit sendi degenerative. mestinya Osteoarthritis khususnya yang berusia lanjut. terhadap kualitas ditangani sebagai Dampak hidup mana fungsional penderitanya. dengan stress berulang seperti yang dialami oleh pelari jarak jauh atau ballerina. 2002) Yaitu penyakit yang ditandai adanya kartilago sebagai penyangga. kerapkali tidak dipedulikan.BAB II PEMBAHASAN A. yang juga dikenal sebagai osteoarthritis bipertopik. Individu yang mengalami . penyakit ini sering diobati secara berlebihan (overtreatment) atau kurang (undertreatment). atau berkaitan dengan deformitas congenital. yang menyebabkan degenerasi sendi.(Williams. 2011 ). merupakan bentuk arthritis yang paling umum. DEFINISI PENYAKIT Osteoarthritis. Osteoarthritis dapat terjadi secara idiopatik ( tanpa diketahui sebabnya) atau dapat terjadi setelah trauma. (Suzanne. tulang di bawahnya mengalami iritasi. osteoartrosis. secara berlebihan menimbulkan Osteoarthritis atau dianggap dapat remeh .

(Elisabeth. dapat mengalami osteoarthritis. KLASIFIKASI . Selanjutnya tulang rawan tumbuh terlalu banyak. yang bias dilihat dan bias dirasakan. sehingga sendi tidak lagi dapat bergerak secara halus. permukaan tulang rawan yang halus dan licin berubah menjadi kasar dan berlubang-lubang. Rongga kecil akan terbentuk didalam sumsum dari tulang sehingga yang tulang pertumbuhan terletak dibawah menjadi rapuh. PATOGENESIS Dalam keadaan normal. kapsul sendi. berlebihan dipinggiran kartilago Tulang dan tersebut. sendi memiliki derajat gesekan yang rendah sehingga tidak akan mudah aus. Benjolan ini mempengaruhi fungsi sendi yang normal dan menyebabkan nyeri. Semua komponen sendi (tulang. 2013) C. Osteoarthritis kemungkinan berawal ketika suatu kelainan terjadi pada sel-sel yang membentuk komponen tulang rawan. kecuali bila digunakan secara sangat berlebihan atau mengalami cedera. Pada akhirnya. 2009) B. seperti kolagen (serabut protein yang kuat pada jaringan ikat) dan proteoglikan (bahan yang membentuk daya lenting tulang rawan). jaringan synovial. mengalami menyebabkan benjolan (esteofit). tetapi pada akhirnya akan menipis dan membentuk retakan-retakan dipermukaan.hemophilia atau kondisi lain yang ditandai oleh pembengkakan sendi kronis dan edema.(Maloedin. tendon dan tulang rawan) mengalami kegagalan dan terjadi kelainan sendi.

Penigkatan dalam sintesis kolagen dan perubahan distribusi dan diameter serat dapat terlihat. Kandungan kolagen tidak berubah sampai penyakit menjadi parah. pertumbuhan. Seiring perkembang OA. dan selanjutnya memperoleh air. .Berdasarkan Patogenesisnya. kemungkinan melalui kerja metalloproteinase. kandungan proteoglikan kartilago menurun. Pada awal OA. 2. kandungan air pada kartilago meningkat. yaitu adanya abnormalias kolagen sehingga mudah rusak. Osteoarthritis Sekunder Osteoarthritis yang didasari oleh kelainan endokrin. dengan peningkatan keratin sulfat dan penurunan rasio kondroitin Perubahan 4-sulfat ini dapat terhadap kondroitin mengganggu interaksi 6-sulfat. Lebih sering dijumpai daripada osteoarthritis sekunder. PATOFISIOLOGI 1. kolgen proteoglikan pada kartilago. Osteoarthritis dikelompokkan menjadi dua. (Soeroto et al. 2009) D. 2. jejas makro dan mikro serta imobilisasi yang terlalu lama. inflamasi. kemungkinan sebagai akibat kerusakan jaringan kolagen yang tidak mampu untuk mendesak proteoglikan. yaitu osteoarthritis yang etiologinya tidak diketahui dan tidak ada hubungannya dengan penyakit sistemik maupun proses perubahan local pada sendi. yaitu : 1.. Penyebab osteoarthritis primer diduga karena faktor genetic. Perubahan dalam komposisi glikosaminiglikan juga terjadi. herediter. Osteoarthritis Primer Osteoarthritis primer disebut juga OA idiopatik. metabolic.

berakibat pada rasa sakit dan deformitas sendi. Terdapat hubungan antara pelepasan peptide vasoaktif dan matrix metalloproteinase. jauh dari area destruksi kartilago. Bagaimanapun. Peningkatan aktivitas metabolic yang ditandai dengan peningkatan sintesis matriks yang dikontrol oleh kondrosit. halus dan berkilau. mengekspos bagian dalam tulang sehingga dapat menyebabkan Selanjutnya. meninggalkan tulang subkondral yang ‘gundul’ dan menjadi padat. robeknya kartilago yang tidak mengandung kalsium. Osteofit dapat merupakan suatu usaha untuk menstabilkan sendi daripada suatu aspek yang destruktif dari OA. dengan peningkatan aktivitas osteoklast dan osteoblast. 7. tulang subkondral. mikrofaktur kartilago pada tererosi.3. (Kusnandar dkk. neovaskularisasi dan peningkatan permeabilitas kartilago yang berdekatan.. 2009) . Fibrilasi. dianggap merupakan suatu respon perbaikan terhadap kerusakan. 4. 5. Inflamasi. terjadi dan dapat diakibatkan dari pelepasan mediator inflamasi seperti prostaglandin dari kondrosit. Mikrofaktur berakibat pada produksi callus dan osteoid. Tulang baru (osteofit) terbentuk pada tepi sendi. Tulang subkondral yang berdekatatan dengan kartilago artikular juga mengalami pergantian tulang yang lebih capat. 6. Peristiwa ini selanjutnya mengakibatkan degredasi kartilago dan pada akhirnya hilangnya kartilago. merefleksikan kehilangan netto sebagai proses degredasi yang lebih cepat daripada sintesisnya. jika berlanjut menjadi hilang proteoglikan. dicatat secara klinis sebagai sinovitis.

Hal ini disebabkan karena adanya hubungan antara umur dengan penurunan kekuatan kolagen dan proteoglikan pada kartilago sendi. Genetik Faktor herediter juga berperan pada timbulnya osteoarthritis. Kegemukan dan penyakit metabolic Berat badan yang berlebih ternyata dapat meningkatkan tekanan mekanik pada sendi penahan beban tubuh. 3. proteoglikan berperan dalam timbunya kecenderugan familial pada osteoarthritis. Prevalensi. Umur Dari semua faktor untuk timbulnya Osteoarthritis. Usia kurang dari 45 tahun Osteoarthritis lebih sering terjadi pada pria daripada wanita. 5. hormone. 4. pravalensi terkenanya Osteoarthritis pada wanita lebih tinggi daripada pria. sex. dan beratnya Osteoarthritis semakin meningkat dengan bertambahnya umur. Jenis Kelamin Pada orang tua yang berumur 55 tahun lebih. penyakit otot. genetic. trauma. ETIOLOGI Faktor resiko Osteoarthritis antara lain umur. Kegemukan . 2. Adanya mutasi dalam gen prokolagen atau gen-gen structural lain untuk unsure-unsur tulang rawan sendi seperti kolagen.E. dan lebih sering menyebabkan osteoarthritis lutut. faktor ketuaan adalah yang terkuat. lingkungan : 1. Suku bangsa Osteoarthritis primer dapat menyerang semua ras meskipun terhadap perbedaan prevalensi pola terkenanya sendi pada osteoarthritis. Hal ini mungkin berkaitan dengan perbedaan cara hidup maupun perbedaan pada frekuensi pada kelainan congenital dan pertumbuhan.

2007) F. 6. Demikian juga cedera sendi dan olahraga yang sering menimbulkan cedera sendi berkaitan resiko osteoarthritis yang lebih tinggi. 2. Sendi yang paling umum dipengaruhi adalah sendi interfalangeal distal dan proksimal (DIP dan PIP) pada tangan. penggunaan berulang melalui pekerjaan atau aktivitas di waktu luang. pekerjaan dan olahraga Pekerjaan berat maupun dengan pemakaian suatu sendi yang terus menerus. rasa sakit mengiringi aktivitas persendian dan berkurang dengan istirahat. diduga terdapat faktor lain (metabolic) yang berperan pada timbulnya kaitan tersebut antara lain penyakit jantung koroner. lutut. tulang belakang serviks dan lumbar. Prevalensi dan keparahan OA meningkat seiring usia. dan hereditas. berkaitan dengan peningkatan resiko osteoarthritis tertentu. trauma persendian.ternyata tidak hanya berkaitan dengan osteoarthritis pada sendi yang menganggung beban tetapi juga dengan osteoarthritis sendi lainnya. dan hipertensi. Presentasi klinis tergantung pada durasi dan keparahan penyakit dan jumlah sendi yang dipengaruhi. Selanjutnya. 3. Cedera sendi (trauma). (Brunner dan Suddarth. Pada awal OA. diabetes mellitus. rasa sakit terjadi walaupun dengan aktivitas yang minimal atau pada saat istirahat. pinggul. . sendi karpometakarpal (CMC) pertama. MANIFESTASI KLINIK 1. dan sendi metatersofalangael (MTP) pertama pada jari kaki. Faktor resiko yang potensial meliputi obesitas. Gejala yang dominan adalah rasa sakit yang dalam dan terlokalisasi berhubungan dengan sendi yang dipengaruhi.

7. Adanya rasa hangat. 2. 2009) G. prognosis.. Deformitas sendi dapat terjadi pada tahap selanjutnya sebagai akibat subkondral. Langkah pertama adalah memberikan edukasi pada pasien tentang penyakit. (Kusnandar dkk.pembesaran sendi berhubungan dengan proliferasi tulang atau penebalan sinovium dan kapsul sendi.dengan pengobatan panas atau dingin dan program olahraga- mengembalikan membantu rentang menjaga pergerakan dan sendi dan mengurangi rasa sakit dan spasmus otot. ditandai atau dengan “pengempukkan” krepitasi. diperlukan konseling diet untuk pasien OA yang kelebihan berat badan. kemerahan dan sendi yang empuk mengesankan terjadinya inflamasi sinovitis. dan mungkin pembesaran sendi. Kekauan sendi berlangsung kurang dari 30 menit dan sembuh dengan bergerak. Pendekatan Umum TERAPI NON FARMAKOLOGI 1. dan depormitas dapat pula terjadi. Terapi fisik. Pemeriksaan fisik terhadap sendi tulang tulang. pembentukan kolaps-nya tonjolan pertumbuhan tulang berlebih. Selain itu. 5. 6. TERAPI A. crepitus. Pasien dengan lower extremity involment dapat melaporkan adanya suatu perasaan kelelahan atau ketidakstabilan. Selain rasa sakit. dan . Nodus heberden dan bouchard secara berturutturut merupakan pembesaran tulang (osteofit) dari sendi DIP dan PIP. kekakuan.4. dari subluxasi. Program olahraga dengan isometric memperbaiki didesain fungsi dengan untuk sendi menggunakan teknik menguatkan dan pergerakan. dan pendekatan manajemennya. keterbatasan pergerakan. otot.

2. heel cups. Terapi obat pada OA ditargetkan pada penghilangan rasa sakit. TERAPI FARMAKOLOGI 1. analgesic topical atau asetaminofen dapat digunakan. a) Golongan AINS Mekanisme Kerja Obat Dalam dosis tunggal inflamasi nonsteroid (AINS) mempunyai aktivitas analgesic yang setara dengan parasetamol. rasa sakit.osteotomi. Dalam dosis penuh yang lazim AINS sekaligus memperlihatkan efek analgesic yang bertahan lama . tetapi parasetamol lebih disukai terutama untuk pasien usia lanjut. Alat bantu dan ortotik seperti tongkat.menurunkan ketidakmampuan. alat pembantu berjalan. terhadap adalah penting (gambar 2-1). dan kebutuhan akan penggunaan analgesik. obat AINS dapat berguna. pengangkatan sendi. Ketika terapi obat dimulai. Prosedur operasi (mis. Untuk sakkit yang ringan atau sedang . Pendekatan individual kondisi untuk medis konservatif pengobatan lainnya. 4. terapi non-obat yang cocok harus diteruskan. Jika hal ini gagal atau terjadi inflamasi.alat bantu gerak. penghilangan osteofit. joint fusion) diindikasikan untuk pasien dengan rasa sakit parah yang tidak memberikan respon terhadap terapi konservatif atau rasa sakit yang menyebabkan ketidakmampuan fungsional substansi dan mempengaruhi gaya hidup. dan insole dapat digunakan selama olahraga atau aktivitas harian. artroplasti parsial atau total. 3. Karena OA sering terjadi pada individu yang lebih tua diperlukan yang memiliki suatu pendekatan pengobatan obat.

AINS lebih tepat daripada parasetamol atau analgesic opioid dalam arthritis meradang ( yaitu arthritis rematoid) dan pada osteoarthritis lanjut. Efek analgesic normalnya harus diperoleh dalam selang seminggu. walau parasetamol seringa mengatasi nyeri dengan baik pada osteoarthritis. Indikasi 1. asam mefenamat. dan asam mefenamat meredakan tanda-tanda dan gejala. Hanya sedikit perbedaan beberapa dalam kasus aktivitas antiinflamasi antara berbagai AINS. Oleh karena itu. Rematoid arthritis (RA) ( kecuali ketorolak. Sebelum pengobatan dimulai dokter yang meresepkan harus mempertimbangkan rasio manfaat dan risiko efek sampingnya. Sementara efek antiinflamasi mungkin belum tercapai. Dismenoria primer .yang membuatnya sangat berguna pada pengobatan nyeri berlanjut atau nyeri berulang akibat radang. Jika respon memadai belum diperoleh dalam selang waktu itu. 2. dan bereaksi baik terhadap yang lain. Nyeri ringan dan sedang 3. namun ada variasi yang cukup besar dalam respon pasien secara individual. Sekitar 60% pasien akan beraksi terhadap semua AINS. dan meloksikan ) dan osteoarthritis (OA) kecuali ketorolak. Sementara yang lainnya ada yang tidak bereaksi terhadap salah-satunya. harus dicoba AINS lain. Perbedaan utama antara berbagai AINS adalah kejadian dan jenis efek samping.

dan kadang pendarahan dan tukak. dibutuhkan kehati-hatian. Kadang timbul rasa tidak nyaman pada saluran cerna . angiodema. angiodema. diare. atau rinitisnya dipicu oleh asetosal dan AINS lainnya. mual. lebih baik menghindarinya dan menghentikannya jika muncul lesi saluran cerna. selama kehamilan dan menyusui. gangguan pendengaran seperti tinnitus. dosis harus dijaga serendah mungkin dan fungsi pasien yang mengidap tukak lambung aktif. pada gangguna alergi. dyspepsia bias ditekan dengan meminum obat ini bersama makanan atau susu. Efek samping lain termasuk reaksi hipersensitivitas (terutama ruam kulit. . Efek samping Efek samping beragam tingkat keparahan dan kekerapannya. vertigo. pusing. termasuk mereka yang serangan asma. Pada pasien gagal ginjal. sakit kepala. AINS sebaiknya tidak diberikan kepada pasien yang mengidap tukak lambung aktif. atau gagal hati. sebab penggunaan AINS bias mengakibatkan memburuknya fungsi ginjal (lihat juga pada efek samping). Pasien yang sebelumnya atau sedang mengidap tukak lambung atau pendarahan saluran cerna. payah jantung. urtikaria. dan bronkospasme).Kontraindikasi AINS dikontraindikasikan untuk pasien dengan riwayat hipersensitivitas terhadap asetpsal atau AINS lainnya. Peringatan AINS harus digunakan dengan hati-hati pada pasien usia lanjut. dan pada gangguan koagulasi.

meningkatnya reabsorpsi . efek glukogeogenesis.fotosensitivitas. metabolism Efek terhadap kesetimbangan air dan elektrolit. meningkatnya asal lemak. dan efek terhadap pemeliharaan fungsi berbagai system dalam tubuh. Sediaan beredar Tablet : Ketoprofen 50 mg. dan hematuria. Kortikosteroid bekerja melalui inreraksinya dengan protein reseptor yang untuk mengatur suatu spesifik di organ target. dan efek antiinflamasi. efek terhadap metabolism KH ( glukoneogenesis). ekspresi genetic yang selanjutnya akan menghasilkan perubahan dalam sintesis protein lain. Juga terjadi gangguan pada darah. Protein yang terakhir inilah yang akan mengubah fungsi seluler organ target sehingga diperoleh. efek protein. 100 mg Ibuprofen 100 mg. Namun. secara umum efeknya dibedakan atas efek retensi Na. Retensi cairan bias terjadi (jarang sampai mempercepat gagal jantung kongestif pada pasien usia lanjut). 200 mg Natrium diklofenat 50 mg Suspensi : Ibuprofen 100 mg/ 5 ml Suppositoria : Ketopren 100 mg Ketopren 125 mg Injeksi : Ketopren 100 mg/ampul b) Kortikosteroid Mekanisme Kerja Kortikosterid memiliki aktivitas glukokortikoid sehingga memperlihatkan efek yang sangat beragam yang meliputi karbohidrat. Kerja obat ini sangat rumit dan bergantung pada kondisi hormonal seseorang. misalnya. terhadap dan lipid.

4. pemfigus. Efek penekanan poros hipotalamus hipofisis adrenal lebih kuat dan lama bila obat diberikan malam hari sehingga betametason dan deksametason 1 mg pada malam hari cukup untuk supresi 24 jam. 5. Reaksi hipersensitif akut seperti angioudem dan shock anafilaksis memerlukan adrenalin sebagai . kortikosteroid digunakan dalam dosis yang beragam untuk berbagai penyakit dan beragam utnuk individu yang berbeda. misalnya pada leukima akut. Indikasi Sebagai antiiflamsi. dermatitis eksfoliatif. 2. 3. misalnya arthritis rematoid. Sebagai penyelamat jiwa atau memperpanjang hidup. reaksi terhadap cangkokan. Hiperplasia adrenal glukokortikoid congenital untuk kortikosteroid memerlukan menekan sekresi kortikotropin yang dosisnya disesuaikan dengan kadar androgen dan 17-α-hidroksi progesteron. penolakan maka akut kortikosteroid digunakan dalam dosis besar dalam jangka lama. meningkatnya reaktivitas pembuluh terhadap zat vasoaktif. Tetapi untuk penyakit yang relatif ringan. 1. Colitis ulserativ memerlukan sistemik dan topical.Na. dan efek antiinflamasi. penggunaan jangka lama manfaatnya tidak lebih besar daripada risikonya. Udem otak juga diobati dengan betametason dan deksametason yang tidak menambah resiko retensi cairan. agar dapat dijamin rasio manfaat dan risiko yang setinggitingginya.

v.v pada demam reumatik. dan sarkoidosis. misalnya prednisone 40-60 mg/hari yang kemudian diturunkan ke dosis terendah yang masih dapat mengendalikan penyakit. dihambat akhirnya keganasannya. Kortikosteroid merupakan obat tambahan. tetapi pada keadaan darurat. poliarteritis ini gejala menetap dihilangkan pengobatan dimulai dengan dosis cukup tinggi.antagonis faalan. anemia juga menyebabkan hemolitik. 8. sebagian nefrotik remisi kasus pada sindrom ( khususnya pada anak). dam pemberian penyakit tetapi walaupun kelainan Untuk dan dasarnya dapat kasus nodosa kostikosteroid. Kontraindikasi Infeksi systemic. diperbaiki dengan perjalanan dihambat. dan purpura trombositopenis. Peringatan . 6. kecuali bila diberikan antibiotic systemic. Prognosis SLE (systemic lupus erihematosus). dalam hal ini digunakan 100-300 mg hidrokortison i. 7. arteritis temporal. Asma bronchial lebih baik diobati topical. kortikosteroid diberikan bersama bronkodilator. Kortikosteroid efektif menekan radang i. hepatitis aktfi kronik. hindari vaksinasi dengan virus aktif pada pasien yang menerima dosis imunosupresif.

Efeknya terhadap reaksi jaringan dapat menyebabkan tanda klinik infeksi tidak muncul . Efek samping Penggunaan kortikosteroid jangka menimbulkan efek samping lama akibat akan khasiat glukokortikoid maupun khasiat mineralokortikoid. Dapat juga terjadi gangguan mental. Oleh karena itu. euphoria dan miopati. Pengurangan dosis yang tiba-tiba setelah penggunaan lama ( lebih dari 7 hari) dapat menyebabkan insufisiensi adrenal akut. dan kematian. tetapi tidak cocok untuk terapi asma bronchial. Efek sufresi ini juga dapat dikurangi dengan pemberian intermitten. sedangkan pada wanita hamil dapat mempengaruhi pertumbuhan adrenal anak.Supresi adrenal dapat terjadi pada penggunaan jangka lama dan bertahan beberapa tahun setelah pengobatan dihentikan. hipotensi. Pemberian dosis tinggi dapat menyebabkan nekrosis avvaskular dan sindrom Cushingyang sifatnya berpulih (reversible). Efek samping glukokortikoid meliputi diabetes dan osteoporosis yang terutama berbahaya bagi usian lanjut. kortikosteroid dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan. Pada anak. penghentian harus bertahap. Cara ini cocok untuk terapi arthritis rheumatoid. dosis total 2 hari sebaiknya diberikan sebagai dosis tunggal berselang sehari. Untuk mengurangi efek ini lebih lanjut. Efek sufresi adrenal ini paling kecil bila obat diberikan pagi hari. Hubungan penggunaan kortikosteroid dengan timbulnya tukak peptic tidak begitu jelas.

25 mg/mL (K) 4. 40 mg/mL (K) c) Golongan Analgesik 1.IM. Sediaan beredar Sirup : Parasetamol 120 mg/5 ml Tablet : Parasetamol 100 mg. demam Kontraindikasi Pasien dengan fenilketonuria (kekurangan homozigot fenilalanin hidroksilase) dan pasien yang harus membatasi masukan fenilalanin. asetaminofen manghambat sintesis prostaglandin pada SSP. Triamsinolon Kenacort-A.sehingga infeksi menyebar tanpa diketahui (efek samar). Efek samping Efek samping jarang. Cairan Inj. kecuali ruam kulit. Sediaan beredar 1. Golongan Analgesik Non Narkotik a. 5 mg/mL (K) Camideson (Lucas Djaya) cairan inj. Asetaminofen ( Analgesik oral) Mekanisme Kerja Belum jelas. Deksamethason Dexamethason(Generik) cairan Inj. Indikasi Nyeri ringan sampai sedang. kelainan darah. pancreatitis akut dilaporkan setelah penggunaan jangka panjang. Hidrokortison Silecort (prafa) serbuk inj. 100 mg/2 mL (K) 3. penting pada kerusakan hati (dan lebih jarang kerusakan ginjal) setelah overdosis. 500 mg Suspensi Eliksir : Calapol 120 mg/5 ml : Decadol 120 mg/5 ml . Kortison Cortison asetat (Generik) cairan Inj. 5 mg/mL (K) 2.

Analgesik narkotika Indikasi . Indikasi Bermanfaat dalam menghilangkan rasa sakit pada OA jika digunakan secara topical pada sendi yang digunakan dipengaruhi. sendiri atau Kapsaisin kombinasi analgesic oral atau AINS. 2. tetapi pada beberapa pasien mengalami rasa terbakar atau sengatan untuk sementara pada area yang dioleskan. c.Kapsul : Farmadol 500 mg b. Efek samping Ditoleransi dengan baik. Glukosamin dan kondroitin (Analgesik topical) Mekanisme kerja Glukosamin mengurangi penyempitan ruang sendi Indikasi Glukosamin dan kondroitin merupakan suplemen makanan yang telah menunjukkan hasil yang superior terhadap placebo dalam meredakan rasa sakit pada OA lutut atau pinggul pada 17 studi double-blind dengan control placebo. Kapsaisin (Analgesik topical) Mekanisme Kerja Suatu ekstrak dari lada menyebabkan pelepasan dan merah yang pengosongan substansi P dari serabut saraf. Peringatan Pasien harus diperingatkan untuk dapat dengan tidak mengoleskan krim ini pada mata atau mulut dan untuk mencuci tangan setelah penggunaan.

0. Efek samping . konstipasi.Nyeri sedang sampai berat. Cairan inj. hipotiroidisme. tablet 10 mg. hipertropi prostat. tetapi banyak pasien demikian dapat menerima morfin). asma (hindari selama serangan). dan turunnya cadangan pernapasan. terutama yang berasal dari visceral. Sediaan beredar Morphin HCL (Generik) sirup 5 mg/5 ml. 15 mg Fentanil. Kodein Fosfat (Generik) tablet 10 mg. dapat memicu koma pada kerusakan hati (kurangi dosis atau hindari. dan rasa mengantuk. tetapi banyak studi yang dilakukan dalam jangka waktu pendek dan dikontrol dengan baik dengan tingkat respon placebo yang tinggi. Dua agen intra-artikular yang mengandung asam hyaluronat tersedia untuk mengobati rasa sakit yang berkaitan dengan OA lutut. 30 mg. Indikasi Dilaporkan dapat menurunkan rasa sakit. muntah.05 mg/ml (N) Tramadol (Generik) Injeksi 50 mg/ml Petidin (Genetik) Injeksi 50 mg/ml d) Obat OA lainnya Injeksi Hialuronat Mekanisme kerja Injeksi asam hyaluronat dalam jumlah yang sedang dan sementara waktu dapat meningkatkan viskositas cairan synovial. Dosis yang lebih besar menimbulkan depresi nafas dan hipotensi. Peringatan Hipotensi. Efek samping Mual. wanita hamil dan menyesui.

Pembengkakan tulang f. Tergantung pada sendi yang dipengaruhi. (Kusnandar dkk. 4. Nyeri sendi 2. 2008) I. Sediaan beredar Sodium hyaluronat (Hyalgan). 2. Pengukuran lainnya meliputi clinician’s global assessment berdasarkan sejarah aktivitas dan keterbatasan pasien . Umur lebih dari 50 tahun b. dan rentang pergerakan sendi dapat dinilai dengan fleksi. (Dieppe. Berdasarkan criteria tersebut. secara berurutan. ecchymoses. Untuk memonitor efikasi. Nyeri tulang e. dan adduksi. sumber rasa sakit pasien dapat dinilai dengan menggunakan Visual analog scale (VAS).. Pengukuran radiograf dapat mendokmentasikan banyaknya sendi yang terlibat dan mengikuti perkembangan terapi penyakit. Memenuhi tiga criteria dari enam hal berikut : a. osteoarthritis dapat ditegakkan apabila : 1. Krepitasi d.Injeksi ditoleransi dengan baik tetapi pembengkakan sendi akut dan reaksi kulit local ( mis : rass. DIAGNOSIS Diagnosis osteoarthritis dapat ditegakkan berdasarkan criteria klinis menurut American college of Rheumatology (ACR). Tidak hangat/panas pada perabaan. EVALUASI HASIL TERAPEUTIK 1. Kaku sendi kurang dari 30 menit c. atau pruritus) talah dilaporkan. pengukuran gribstrength dan 50 kali jalan kaki dapat membantu menilai OA tangan dan pinggul/lutut. 2009) H. ekstensi. 3. abduksi. Hylan G-F 20 (Synvisc).

atau hipertensi akibat AINS. Ny. nyeri terasa hebat terutama saat pagi hari selama kurang lebih setengah jam. . Bengkak didaerah lutut (-). sebagaimana halnya dokumentasi penggunaan analgesic atau AINS. Riwayat jatuh atau trauma sebelumnya disangkal. kenaikan berat badan. nyeri berkurang atau hilang jika pasien istirahat. Awalnya nyeri pada lututnya tidak senyeri seperti sekarang. I Seorang ibu rumah tangga berusia 52 tahun dengan keluhan utama nyeri lutut sejak kurang lebih 8 bulan yang lalu. Kuosionar Quality of lite (QOL) spesifik penyakit arthritis berharga untuk menilai respon klinis terhadap intervensi. seperti ruam pada kulit. 7.. 5. 6. sakit kepala. Pasien sebaiknya ditanyakan apakah obat yang digunakan memiliki efek samping. Sekitar 8 bulan yang lalu pasien sudah mengeluhkan nyeri pada lutut kanan yang awalnya hilang timbul. Pengukuran kreatinin serum. CONTOH KASUS a. setelah obat habis biasanya nyeri mulai muncul kembali. hati. nyeri timbul jika pasien berjalan atau disaat pasien banyak bergerak. Mereka juga harus dimonitor untuk setiap tanda-tanda efek yang terkait obat. (Kusnandar dkk. Selama ini pasien berobat kepuskesmas dan diberi obat tablet. 2009) J.yang disebabkan OA. terasa panas didaerah lutut (-). nyeri saat ditekan pada daerah lutut (+). profil hematologi dan transaminase serum dengan interval 6 hingga 12 bulan berguna dalam mengidentifikasi terhadap ginjal. Pasien mengaku kebiasaan pasien dari dulu hingga sekarang jarang berolahraga. Nyeri juga dirasakan didaerah persendian. rasa kantuk. atau sumsum tulang. saluran toksisitas spesifik gastrointestinal.

Rheumatoid arthritis. Lutut kaku juga dirasakan bila pasien terlalu lama duduk di lantai. Pasien tidak mengeluh adanya keluhan serupa pada sendi lainnya. lutut dirasakan nyeri jika digerakkan. Pasien mengeluhkan nyeri semakin memberat ketika berjalan jauh. I 1.b. Kaku dirasakan selama kurang lebih 15 menit. memberikan saran kepada pasien agar berobat secara teratur. keluhan membaik setelah minum obat lalu kambuh lagi setelah obat habis. Sejak satu bulan terakhir. Usulan pemeriksaan Cek kadar asam urat dan photo rongtgen genu dextra AP/L (Jika pasien bersedia dilakukan di RSUD) 2. Walaupun pasien merasa ada sedikit gangguan dalam berjalan. namun pasien masih tidak membtuhkan alat bantu apapun untuk berjalan. Diangnosa banding Gout Arthritis. Sejak 3 bulan yang lalu pasien mengeluhkan lutut sebelah kiri kaku dan sulit untuk digerakkan terutama setelah bangun tidur. Arthritis psoriatic 4. Diangnosa kerja Ostearthritis Artikulasio Genu dextra 3. PENYELESAIAN KASUS a. K. Terhadap Ny. Ny. jika nyeri masih mengganggu dan menyebabkan keterbatasan gerak yang permanen dianjurkan agar . Pasien memeriksakan diri ke puskesmas. Promotif Menjelaskan kepada pasien tentang osteoarthritis. naik tangga dan jongkok. K seorang ibu rumah tangga berusia 61 tahun dengan keluhan utama nyeri lutut kiri. faktor resiko dan bahanya. Pasien merupakan konsulan dari bagian penyakit dalam dengan riwayat penyakit dahulu Diabetes mellitus sejak 2 tahun yang lalu dan tidak rutin control.

Semua bahan dicuci bersih. dapat dilakukan sekitar 30 menit setiap hari. 2) Latihan dirumah berupa latihan statis serta memperkuat otot-otot 3) Dapat mengompres dengan air hangat mengurangi nyeri disekitar lutut. b) Menyarankan pekerjaan atau tidak melakukan/mengurangi aktivitas berat yang dapat memperberat penyakit misalnya naik turun tangga (pekerjaan yang bertumpu pada lutut) c) Menyarankan menjaga berat badan mengurangi resiko penyakit. 5.pasien berobat ke RSUD dengan spesialis bedah Ortopedi. Semua bahan direbus dengan 600cc air. 90 g daun lidah buaya. b) Farmakologi Piroxicam tab 1 x 10 mg Ranitidin tab 2 x 150 mg Vit. Preventif a) Menyarankan melakukan latihan untuk memperluas gerak sendi untuk mencegah kekakuan yang dapat terjadi. 4) Dianjurkan kepada pasien agar makan dan minum yang sehat. B complex 3 x 50 mg c) Tradisional Bahan : 30 g jahe merah. Kuratif a) Non farmakologi 1) Istirahat yang teratur untuk untuk mengurangi penggunaan beban pada sendi. Latihan duduk dan berdiri secara perlahan setiap hari selama 15-20 menit untuk melatih otot agar tidak kaku. 25 g Kunyit tua. daun lidah buaya dikupas kulitnya. 6. Sampai mendidih hingga tersisa 250cc lalu disaring. . 1 jari kayu manis dan 5 g adas.

K 1.Kesimpulan Osteoarthritis (OA) merupakan penyakit sendi degenerative yang berkaitan dengan kerusakan kartilago sendi. 7. Vertebra.tunggu hingga dingin. panggul. Terhadap Ny.8 mg/dL Kesan : Osteoarthritis femurotibia femuropatella joint kiri 2. Rehabilitasi a) Menjaga berat badan tetap normal b) Minum obat secara teratur c) Melakukan olahraga ringan tanpa beban yang bersifat continue b. hereditas. Kemudian diminum dua kali sehari. Diagnosa penyakit Osteoarthritis Genu Sinistra 3. Terapi Meloxicam 1 x 15 mg 4. Rehabilitasi a) Menjaga berat badan tetap normal b) Minum obat secara teratur c) Melakukan olahraga ringan tanpa beban dan yang bersifat continue BAB III PENUTUP A. . lutut dan pergelangan kaki paling sering terkena OA. Faktor-faktor resiko terjadi OA yaitu faktor predisposisi umum (umur. jenis kelamin. kegemukan. Dengan hasil pemeriksaan : Fisik : Normal Asam urat : 5.

pembesaran sendi (depormitas). berjalan. bantuk sendi. densitas tulang.2002. hambatan gerakan sendi. B. EGC: Jakarta . sebaiknya pembaca mempelajari lebih lanjut tentang penyebab Osteoarthritis tersebut dan cara penanganan agar bisa lebih mengetahui dengan jelas. Ensiklopedi Kesehatan Untuk Umum. kaku pagi. penggunaan pekerjaan/aktivitas). merokok. terapi non- farmakologi. Pengelolaannya dan terdiri dari perubahan tiga hal gaya yaitu. hormonal dan penyakit reumatik kronik lainnya) dan faktor mekanik (trauma. sendi Gejala yang klinis berlebihan meliputi karena nyeri sendi. krepitasi. terapi farmakologis dan terapi bedah. DAFTAR PUSTAKA Akmal Mutaroh.hipermibilitas. Saran Sebagaimana uraian pada pokok pembahasan tersebut.

2008. Isbagio H. Andrajati R. Interaksi obat . Buku ajar Keperawatan medical bedah. EGC : Jakarta . Cerdas sehat : Jakarta Seoroso J. 2005. ITB : Bandung Lippincott Williams. EGC : Jakarta Corwin Elisabeth. Media Aesculapius : Jakarta Sitanggang maloedin. Indeks : Jakarta Mansjoer. 2009. Business Media : Jakarta Harkness Richard. Broto R. 13th. Adnyana I. Waspada 12 penyakit yang merusak tulang anda. Pusat penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI : Jakarta Sukandar E. S. 2011. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Primer on the rheumatic disease. Buku saku Patofisiologi.Brunner dan Suddarth. 2013. 2011. Arif. Sigit J. PT. ed.8. Kalim H. 5th edition. Nursing Memahami berbagai macam penyakit. Ed. 2007 . 2009.EGC: Jakarta Dieppe P. 3. Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia : Jakarta Smeltzer.2009. 2002. Kapita selekta kedokteran. ISO Farmakoterapi.Buku ajar Keperawatan medical bedah.